BAB II A. KAJIAN TEORI

43  Download (0)

Full text

(1)

12

1. Prespektif Perkembangan

Perkembangan adalah suatu proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ kearah keadaan yang semakin terorganisir dan terspesialisasi. Semakin terorganisir artinya organ-organ tubuh semakin bisa dikendalikan sesuai dengan kehendak. Sedangkan semakin terspesialisasi merupakan kemampuan organ-organ tubuh semakin dapat berfungsi sesuai dengan fungsinya masing-masing. Perkembangan dapat terjadi dalam bentuk perubahan kuantitatif, perubahan kualitatif atau perubahan pada kedua-duanya secara serempak. Perubahan kuantitatif merupakan perubahan yang dapat diukur atau di hitung. Sedangkan perubahan kualitatif adalah perubahan dalam bentuk semakin baik, semakin teratur, semakin lancar, dan sebagainya yang ada dasarnya merupakan perubahan yang tidak bisa atau sukar diukur. (Sugiyanto, 1998:14).

Perkembangan individu mencakup berbagai aspek yang ada di dalam dirinya, yang berpengaruh terhadap perkembangan itu meliputi berbagai faktor, baik yang berada di dalam dirinya maupun yang berada diluar dirinya. Berbagai aspek yang berkembang dan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan perlu dipadukan dalam membentuk konsep perkembangan secara menyeluruh. Di dalam membahas konsep perkembangan diperlukan kerangka acuan. Teori-teori perkembangan yang sudah berkembang lebih awal digunakan sebagai acuan dalam studi perkembangan gerak. Secara umum perkembangan dikaji dari prespektif atau sudut pandang biologi dan psikologis. Dalam prespektif biologis, keterbentukan dan perkembangan bagian-bagian dan sistem tubuh dipelajari pada level seluler dan pada level organismik. Pada level seluler dipelajari perkembangan sel yang membentuk organ-organ tubuh manusia, sedangkan pada level organismik dipelajari perkembangan organ-organ tubuh manusia. Dalam prespektif psikologis individu dipelajari dalam segi berfikir, emosi dan perasaanya (Sugiyanto, 1998:18).

(2)

Perkembangan individu bersifat individual dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang secara umum dapat dikelompokkan sebagai faktor internal dan eksternal individu. Masing-masing individu memiliki tingkat kecepatan pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda sesuai dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan individu tersebut. Aspek genetis dan aspek lingkungan baik fisik maupun sosial secara bersama memberikan pengaruh pada pola perkembangan.

Perkembangan individu mencakup seluruh aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam perkembangnnya seluruh aspek dalam diri individu berkembang secara berkesinambungan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Keserasian antar masing-masing aspek perkembangan memberikan kualitas perkembangan individu yang optimal.

Walaupun perkembangan individu bersifat individual tetapi secara umum menunjukkan pola perkembangan-perkembangan yang sama. Perkembangan individu memiliki korelasi yang sangat erat dengan umur namun tidak tergantung dengan umur. Dalam proses perkembangan individu sebagai proses berkelanjutan yang berlangsung seumur hidup terdapat periode-periode perkembangan individu yang menunjukkan karakteristik perkembangan yang sama untuk semua individu secara umum perubahan yang terjadi pada awalnya bersifat peningkatan dan kemudian mengalami penurunan.

Karakteristik perkembangan individu secara umum menunjukkan fase-fase yang sama pada periode unsur tertentu. Fase-fase perkembangan berdasarkan umur secara umum dibagi menjadi beberapa fase seperti dibawah ini:

(3)

Tabel .1. Periodisasi perkembangan berdasarkan umur (Haywood Kathleen M, 1986:8)

Periode perkembangan Perkiraaan umur kronologis Sebelum lahir:

Awal Embrio Janin

Pembuahan sampai dua minggu 2-8 minggu

8 sampai akhir Bayi:

Neonatal

Sejak lahir sampai 2 tahun Sejak lahir sampai 4 minggu Anak-anak:

Anak kecil Anak besar

1 atau 2 sampai 10 atau 12 tahun 1 atau 2 sampai 6 tahun sampai 10 atau 12 tahun

Adolesensi : Perempuan Laki-laki

10 sampai 18 tahun 12 tahun sampai 20 tahun Dewasa:

Dewasa muda Dewasa madya Dewasa tua

18 atau 20 sampai 40 tahun 40 sampai 60 tahun

60 tahun lebih

2. Perkembangan Adolesensi Usia 13 Sampai 18 Tahun

Perkembangan kebugaran remaja (adolesensi) terkait kesehatan dan terkait performa mengalami perubahan-perubahan yang drastis dari awal masa remaja sampai akhir masa remaja (sekitar usia 11 sampai 21 tahun). Secara umum, anak laki-laki dan anak perempuan hampir sama pada masa kanak-kanak pada sebagian besar ukuran kebugaran. Permulaan ledakan pertumbuhan pra remaja menandai permulaan percepatan yang cepat pada nilai kebugaran untuk laki-laki. Hal ini dapat dikaitkan dengan berbagai faktor fisik serta sosial dan budaya. Di lain pihak, laki-laki tidak memperlihatkan peningkatan yang cepat sama seperti teman-teman laki-lakinya. Ada sebuah kecenderungan yang nyata bagi

(4)

perempuan remaja untuk meningkat pada tingkat yang lebih rendah pada usia sekitar 15 dimana mereka seringkali mulai mencapai masa stabil dan kadang-kadang mengalami kemunduran pada performa mereka.

Kebanyakan, walaupun laki-laki dapat diharapkan melampaui performa perempuan pada ukuran kekuatan dan ketahanan karena kelebihan anatomi, fisiologi, dan biomekanik, namun tidak ada penjelasan biologis yang memadai tentang perbedaan-perbedaan pada jangkauan usia dimana peningkatan relatif dapat dilihat. Sebuah penjelasan yang masuk akal dapat ditemukan dalam perbedaan sosial dan budaya dan perbedaan pola asuh anak antara laki-laki dan perempuan.

Ukuran terkait kebugaran rentan terhadap peningkatan yang besar pada laki-laki maupun perempuan. Ketika pola-pola aktivitas berubah, yang diharapkan untuk yang lebih baik, kita dapat mengantisipasi perubahan-perubahan pada lerengan kurva performa baik untuk laki-laki maupun perempuan. Orang-orang yang sangat termotivasi memiliki skor yang secara signifikan lebih baik pada semua ukuran kebugaran daripada rerata skor performa yang dilaporkan untuk sampel-sampel populasi.

Kesuksesan program-program yang dirancang untuk meningkatkan keadaan kesehatan remaja yang positif melalui peningkatan kegiatan jasmani tergantung kepada sebuah pendekatan multidisipliner. Pendekatan semacam itu secara aktif mencoba membekali pemuda dengan informasi yang baru dan relevan tentang bagaimana dan mengapa tentang peningkatan kegiatan jasmani dan nutrisi yang tepat. Hal ini harus dilakukan dengan cara yang meningkatkan kenikmatan pembelajaran serta tanggung jawab pribadi dan pengambilan keputusan. Peluang-peluang kegiatan jasmani yang terstruktur empat sampai lima kali per minggu, dengan dorongan dan insentif untuk kegiatan-kegiatan sesudah sekolah merupakan suatu keharusan. Sebuah pendekatan tim, dengan keikutsertaan perawat sekolah, pembimbing, pengawas ruang makan siang, dan guru pendidikan jasmani, penting, serta keterlibatan orang tua, untuk mencapai keberlanjutan (kontinuitas) dan untuk mengkoordinasi dukungan dari rumah bagi perkembangan perilaku baru.

(5)

Karena pengetahuan kita yang relatif terbatas mengenai hal ini, maka tidak mudah untuk memiliki pedoman-pedoman khusus mengenai populasi remaja umum mengenai jumlah dan jenis kegiatan jasmani yang dibutuhkan untuk menghasilkan manfaat kesehatan yang positif. Sebagai akibatnya, para peserta dalam Konferensi Konsensus Internasional terkini tentang Pedoman Kegiatan Jasmani untuk Remaja membuat dua pedoman umum yang diyakini akan meningkatkan beberapa hasil kesehatan bagi semua remaja, sekaligus meminimalisir resiko yang diketahui.

Semua remaja seharusnya aktif secara jasmani setiap hari, atau hampir setiap hari, sebagai bagian dari permainan, game, olahraga, pekerjaan, transportasi, rekreasi, pendidikan jasmani, atau olahraga yang direncanakan, dalam konteks keluarga, sekolah, dan aktivitas masyarakat. (Gallahue dan Ozmun, 1998:393)

Selanjutnya remaja seharusnya terlibat dalam tiga sesi kegiatan atau lebih per minggu yang berlangsung selama 20 menit, atau lebih pada satu waktu dan yang memerlukan tingkat pengerahan yang sedang hingga giat. (Gallahue dan Ozmun, 1998:394)

Hal diatas sejalan dengan perkembangan minat adolesensi atau remaja dalam aktivitas yang paling diminati, terlihat dalam gambar 1 dan gambar 2 bahwa aktivitas olahraga untuk lali-laki dan perempuan meningkat dari umur kurang lebih 6 tahun sampai dengan umur 18 tahun. Terlihat secara jelas keinginan untuk beraktivitas olahraga meningkat secara drastis pada masa adolesensi.

(6)

Gambar. 1` .Minat aktivitas laki-laki (Eckert and Espenschade, 1980:209)

Gambar. 2. Minat aktivitas Perempuan (Eckert and Espenschade, 1980:210)

(7)

a). Perkembangan Komposisi Tubuh Adolesensi

Komposisi tubuh (prosentase lemak tubuh) sekarang oleh banyak orang dianggap sebagai salah satu aspek kebugaran yang terkait dengan kesehatan. Sebelumnya, perusahaan-perusahaan asuransi menggunakan berat badan total sebagai indikator kesehatan fungsional. Akan tetapi, berat badan total merupakan indikator yang kurang baik untuk komposisi tubuh karena hal ini tidak merefleksikan distribusi dan komposisi berat badan seseorang. Berat badan total adalah jumlah massa otot, massa rangka, massa organ dan massa lemak. Untuk menilai komposisi tubuh seseorang secara akurat, prosentase lemak tubuh perlu dipisahkan dengan komponen-komponen lain dari berat badan total seseorang.

Penimbangan hidrostatis saat ini merupakan metode yang paling akurat untuk menentukan prosentase lemak tubuh. Hal ini meliputi merendam seseorang dibawah air dan menghitung beratnya dibawah air yang dari situ sebuah perkiraan tentang prosentase lemak tubuh yang akurat dapat dihitung. Penimbangan hidrostatis yang akurat bukan merupakan sebuah ukuran yang praktis untuk penilaian komposisi tubuh berbasis lapangan. Teknik-teknik impedansi listrik memiliki janji yang besar untuk masa depan. Teknik-teknik tersebut lebih sulit dibandingkan dengan penimbangan hidrostatis, tetapi mereka melibatkan peralatan yang mutakhir yang seringkali tidak tersedia di kebanyakan lingkungan lapangan. Maka dari itu, meskipun mereka memiliki keterbatasan, namun skinfold calipers (jangka lengkung lipatan kulit) telah menjadi metode pilihan untuk menghitung prosentase lemak tubuh di lapangan. Reliabilitas teknik caliper telah seringkali ditantang, tetapi apabila diberikan oleh petugas yang terlatih, hal ini dapat memberikan hasil yang cukup akurat. Data komposisi tubuh dari NCYFS (1985) didasarkan kepada penggunaan skinfold calipers. Dibawah ini merupakan grafik hasil pengukuran komposisi tubuh.

(8)

Gambar. 3. Grafik Komposisi Tubuh Laki-Laki dan Perempuan (Gallahue dan Ozmun 1998:385)

Berdasarkan gambar grafik diatas dapat di simpulkan bahwa:

1) Perempuan memilik prosentase lemak tubuh yang lebih tinggi daripada laki-laki pada semua usia.

2) Prosentase lemak tubuh perempuan meningkat dengan cepat pada awal dan pertengahan masa remaja yang diikuti dengan sebuah masa stabil pada akhir masa remaja.

3) Laki-laki mengalami peningkatan prosentase lemak tubuh pada akhir masa kanak-kanak dan periode sebelum remaja.

4) Laki-laki mengalami penurunan pada prosentase lemak tubuh pada awal masa remaja dan mempertahankan kadar lemak yang rendah pada masa remaja.

(9)

b). Perkembangan Kelenturan Sendi Adolesensi

Gambar. 4. Grafik Perkembangan Kelenturan Sendi Adolesensi (Gallahue dan Ozmun 1998:379)

Berdasarkan gambar grafik diatas dapat di simpulkan bahwa: 1) Perempuan melampaui laki-laki pada semua usia

2) Perempuan membuat peningkatan tambahan tahunan hingga akhir masa remaja.

3) Laki-laki mengalami kemunduran pada awal masa remaja, yang diikuti dengan peningkatan yang cepat.

(10)

Gambar. 5. Grafik Perkembangan Kekuatan Otot Adolesnsi (Gallahue dan Ozmun 1998:379)

Berdasarkan gambar grafik diatas maka dapat di simpulkan bahwa:

1) Perempuan mengalami peningkatan pada laju yang lebih lambat daripada laki-laki

2) Perempuan cenderung mencapai masa stabil pada performa pada pertengahan masa remaja.

3) Laki-laki melampaui performa perempuan pada semua usia. 4) Perempuan rata-rata kurang dari satu pull-up pada masa remaja.

5) Laki-laki menunjukkan pencapaian yang lambat sebelum masa pubertas yang diikuti dengan pencapaian yang cepat pada masa remaja.

(11)

6) Laki-laki secara signifikan melampaui performa perempuan pada semua usia.

d). Perkembangan Daya Tahan Aerobik Adolesensi

Gambar.6. Grafik Daya Tahan Aerobik Adolesensi (Gallahue dan Ozmun 1998:377)

Berdasarkan gambar grafik diatas maka dapat di simpulkan bahwa: 1) Laki-laki dan perempuan meningkat pada kecepatan yang hampir

sejajar.

2) Laki-laki lebih cepat dari pada perempuan pada semua usia. 3) Laki-laki terus meningkat hingga akhir masa remaja.

4) Perempuan mengalami kemunduran dan mencapai masa stabil ari pertengahan masa remaja sampai seterusnya.

(12)

5) Laki-laki menunjukkan penambahan yang cepat setiap tahun hingga akhir masa remaja

3. Perkembangan Adolesensi Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis kelamin dalam bahasa Inggris adalah sex, merupakan kelas atau kelompok yang terbentuk dalam suatu spesies sebagai sarana atau akibat digunakannya peoses reproduksi seksual untuk mempertahankan keberlangsungan spesies itu. Seks berkaitan dengan tubuh laki-laki dan perempuan yang mana laki-laki memproduksi sperma, sementara perempuan menghasilkan sel telur dan secara biologis mampu untuk menstruasi, hamil dan menyusui. Perbedaan biologis dan fungsi biologis laki-laki dan perempuaan tidak dapat dipertukarkan diantara keduanya, dan fungsi tetap dengan laki-laki dan perempuan pada segala ras yang ada di bumi ini.

Masalah jenis kelamin cenderung untuk memperlihatkan perbedaan individu. Setiap orang adalah individu yang unik dengan timeable (jadwal) perkembangan masing-masing. Timeable merupakan suatu perpaduan antara keturunan individu tertentu dengan pengaruh lingkungan. Walaupun urutan penampilan karakteristik perkembangan dapat diprediksikan, tingkat penampilan mungkin benar-benar sangat berbeda. Maka dari itu, kepatuhan yang kuat terhadap klasifikasi kronologis perkembangan menurut usia adalah tanpa dukungan atau pembenaran.

Perbedaan perkembangan antara laki-laki dan perempuan meliputi komponen-komponen kebugaran motorik yang terdiri atas kecepatan, kekuatan, ketangkasan, keseimbangan dan koordinasi secara umum dianggap sebagai komponen kebugaran terkait performa atau terkait keterampilan. Hal ini sangat berbeda dengan komponen-komponen kebugaran terkait kesehatan dimana mereka secara genetika berhubungan, yang resisten terhadap perubahan-perubahan lingkungan (pengalaman) yang besar, dan relatif stabil. Sifat-sifat ini juga terkait erat dengan performa terampil pada berbagai cabang olahraga.

(13)

a) Perkembangan Kemampuan Kecepatan Adolesensi Laki-Laki dan Perempuan

Berdasarkan tes dash 30 sampai 60 yard pada laki-laki dan perempuan dihasilkan kesimpulan sebagai berikut: (Gallahue dan Ozmun 1998:387) 1) Anak laki-laki dan anak perempuan hampir sama pada masa kanak-kanak. 2) Anak laki-laki memiliki performa melebihi anak perempuan pada semua

usia.

3) Laki-laki membuat peningkatan yang lebih cepat setelah masa pubertas daripada perempuan.

4) Laki-laki membuat pencapaian tahunan yang signifikan pada masa kanak-kanak dan remaja.

5) Perempuan cenderung mengalami masa stabil pada pertengahan masa remaja

(14)

Gambar. 7. Grafik Perkembangan Kecepatan Adolesensi (Gallahue dan Ozmun 1998:388)

b) Perkembangan Kemampuan Kekuatan Otot Bagian Bawah Adolesensi Laki-Laki dan Perempuan

Berdasarkan tes lompat horizontal pada laki-laki dan perempuan dihasilkan kesimpulan sebagai berikut: (Gallahue dan Ozmun 1998:387)

1) Anak laki-laki dan anak perempuan hampir sama pada masa kanak-kanak. 2) Anak laki-laki memiliki performa yang sedikit melebih performa anak

perempuan pada masa kanak-kanak, tetapi kesenjangan melebar secara signifikan pada masa pubertas laki-laki

(15)

Gambar. 8. Perkembangan Kekuatan Otot Bagian Bawah Adolesensi (Gallahue dan Ozmun 1998:390)

c) Perkembangan Kemampuan Kekuatan Otot Bagian Atas Adolesensi Laki-Laki dan Perempuan

Berdasarkan tes lompat vertikal pada laki-laki dan perempuan dihasilkan kesimpulan sebagai berikut: (Gallahue dan Ozmun 1998:387)

1) Laki-laki membuat penambahan tahunan yang signifikan pada masa remaja. 2) Perempuan mulai mencapai masa stabil pada awal masa remaja dan

(16)

Gambar. 9. Grafik Perkembangan Kekuatan Otot Bagian Atas Adolesensi (Gallahue dan Ozmun 1998:392)

d) Perkembangan Kemampuan Keseimbangan Statis Laki-Laki dan Perempuan

Berdasarkan tes keseimbangan dengan stabillometer, keseimbangan tongkat dan keseimbangan satu pada laki-laki dan perempuan dihasilkan kesimpulan sebagai berikut: (Gallahue dan Ozmun 1998:387)

1) Laki-laki dan perempuan membuat peningkatan kualitatif dan kuantitatif yang signifikan dengan bertambahnya usia.

(17)

e) Perkembangan Kemampuan Keseimbangan Dinamis Laki-Laki dan Perempuan

Berdasarkan tes keseimbangan berjalan diatas balok pada laki-laki dan perempuan dihasilkan kesimpulan sebagai berikut: (Gallahue dan Ozmun 1998:387)

1) Laki-laki membuat peningkatan yang cepat pada semua usia tetapi khususnya setelah masa pubertas.

2) Perempuan dan laki-laki meningkat dengan bertambahnya usia pada masa kanak-kanak dan remaja.

3) Perempuan cenderung melebihi performa laki-laki pada masa kanak-kanak baik pada ukuran statis maupun dinamis.

4) Laki-laki dan perempuan hampir sama baik pada ukuran statis maupun dinamis pada masa remaja tanpa kelebihan yang jelas untuk salah satu diantaranya.

4. Ketinggian Wilayah Tempat Tinggal

Ketinggian wilayah merupakan suatu patokan yang digunakan untuk menunjukkan ketinggian suatu tempat, yang dijadikan patokan adalah permukaan laut 0 meter. Ketinggian wilayah ditinjau ketinggian tempat tinggal dari permukaan laut dapat dibagi menjadi dua yaitu, dataran rendah dan dataran tinggi. Dataran rendah didefinisikan sebagai suatu tempat yang berada pada ketinggian 0 sampai 200 meter dari permukaan laut. Sedangkan dataran tinggi didefinisikan sebagai suatu tempat yang berada pada ketinggian 200 sampai 1200 meter dari permukaan laut.

a. Aklimatisasi Penduduk yang Tinggal di Tempat Tinggi.

Menurut Guyton (1983:73), hubungan proses aklimatisasi dengan kapasitas kerja. Orang yang mengalami aklimatisasi pada dataran tinggi memiliki kapasitas kerja yang lebih baik dibandingkan dengan orang lain yang tinggal dan dilahirkan di dataran rendah. Hal ini dapat dilihat dari persentase kapasitas kerja dan nilai maksimum setinggi permukaaan laut untuk orang normal dan dengan orang pada ketinggian 17.000 kaki adalah

(18)

sebagai berikut : orang yang belum beraklimatisasi memiliki kapasitas kerja sebesar 50%, orang yang mengalami aklimatisasi selama dua bulan memiliki kapasitas kerja sebesar 68%, dan penduduk asli yang hidup pada ketinggian 13.200 kaki tetapi bekerja pada ketinggian 17.000 kaki memiliki kapasitas kerja sebesar 87%.

Penduduk asli yang beraklimatisasi secara alamiah dapat mencapai hasil kerja sehari-hari lebih baik dengan orang yang dilahirkan dan tinggal di dataran rendah, dan dengan orang asli dataran rendah yang pindah ke pegunungan dan kemudian mengalami aklimatisasi, masih dikalahkan kapasitas kerjanya dibandingkan dengan penduduk asli, yang lahir dan bertempat tinggal di dataran tinggi.

Adapun cara tubuh menyesuaikan diri (aklimatisasi) menghadapi tekanan oksigen (PO2) yang rendah pada tempat yang tinggi adalah : (a) meningkatkan ventilasi paru-paru, (b) meningkatkan hemoglobin (Hb) dalam darah, (c) meningkatnya difusi paru-paru, (d) meningkatnya vaskularisasi jaringan, (e) aklimatisasi sel untuk menggunakan oksigen meskipun tekanan parsial rendah.

b. Pengaruh Ketinggian Terhadap Perkembangan

Ketinggian tempat tinggal berpengaruh terhadap perkembangan individu khususnya perkembangan kemampuan koordinasi, power otot tungkai dan kelincahan. Terdapat perbadaan perkembangan antara tempat tinggal tinggi dan tempat tinggal rendah. kondisi ini dapat dilihat dari lingkungan dan letak geografis, dimana kedua daerah tersebut diketahui memiliki ketinggian tempat dan tingkat perkembangan sosial ekonomi masyarakat yang berbeda. Daerah pegunungan dengan ketingian tempatnya menjadikan masyarakatnya beradaptasi dengan lingkungan daerah pegunungan yang cenderung berbukit-bukit, begitu juga daerah dataran rendah menjadikan masyarakatnya beradaptasi dengan lingkungan yang berpasir.

Perbedaan yang dapat dilihat antara daerah pegunungan dan daerah pesisir, adalah pola aktivitas yang dilakukan oleh masyarakatnya. Daerah pegunungan dengan medan yang berbukit, tidak datar, tanjakan dan turunan

(19)

yang curam serta suhu yang dingin menuntut masyarakatnya untuk bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Aktivitas keseharian yang dilakukan di daerah pegunungan adalah berkebun atau bertani. Mayoritas penduduk pegunungan memiliki mata pencaharian bertani atau berkebun yang letak kebunnya berada di lereng gunung. Aktivitas anak-anak yang tinggal di daerah pegunungan lebih suka yang berhubungan dengan aktivitas yang bersifat petualangan. Bahkan untuk menuju kesuatu tempat mereka tempuh dengan berjalan kaki melewati medan yang terjal, naik dan turun. Sehingga secara tidak langsung melatih kemampuan power otot tungkai dengan baik. Sedangkan aktivitas pada dataran rendah relatif ringan dibandingkan dataran tinggi, karena ditinjau dari relief datarannya yang datar. Untuk aktivitas pada anak-anak datararan rendah atau pesisir adalah berenang, menangkap ikan, menyelam atau bermaian di atas pasir. Semua aktivitas tersebut memberikan kesempatan untuk melatih kemampuan fisik mereka.

5. Perkembangan Kekuatan a. Macam – Macam Kekuatan

Kekuatan merupakan salah satu komponen fisik yang mendasar.Sebagai unsur yang mendasar dalam kemampuan fisik, untuk meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan sebaiknya kekuatan dimiliki lebih dahulu. Dalam menjalankan aktivitas fisik, beban atau tahanan dalam latihan setiap orang berbeda-beda. Tahanan atau beban dalam kegiatan olahraga tersebut menuntut adanya kekuatan otot yang bermacam-macam pula. Berdasarkan beban yang harus dihadapi atau diatasi, maka kekuatan yang harus dikerahkan disesuaikan dengan kegiatan olahraga tersebut. Menurut Suharno HP. (1993:40) membedakan kekuatan menjadi tiga jenis yaitu:

1) Kekuatan maksimal adalah kemampuan otot dalam kontraksi maksimal serta dapat melawan/menahan beban yang maksimal pula.

(20)

2) Explosive power (kekuatan daya ledak) adalah kemampuan sebuah otot atau segerombolan otot untuk mengatasi suatu tahanan beban denan kecepaan tinggi dalam satu gerakan yang utuh.

3) Daya tahan kekuatan otot (power endurance) adalah kemampuan tahan lamanya kekuatan otot untuk melawan tahanan beban dengan intensitas tinggi.

Menurut Harre yang dikutip Nossek (1982:46) bahwa, “Kekuatan dibagi menjadi kekuatan maksimum, kekuatan kecepatan dan daya tahan kekuatan”. Perbedaan jenis kekuatan tersebut didasarkan pada jenis beban yang harus diatasi dan dihadapi.

Selain jenis kekuatan diatas, kekuatan dapat dibedakan atas jenis kontraksi otot. Sudjarwo (1993:26) menyatakan bahwa “Sesuai dengan cara atau tipe kontraksi otot, maka dapat dibedakan dua macam kekuatan yaitu, kontraksi isotonik dan kontraksi isometrik. Dalam kontraksi isotonik ini akan terlihat adanya perubahan sikap atau gerakan-gerakan dari anggota tubuh yang disebabkan memanjang dan memendeknya otot". Kekuatan dinamis (isotonis) merupakan kekuatan otot yang dikembangkan oleh otot dalam kelangsungan gerak terhadap suatu tahanan, dengan ditandai adanya perubahan memanjang dan memendeknya otot. Sedangkan kekuatan statis atau isometrik merupakan kekuatan otot yang dapat dikembangkan oleh otot-otot atau sekelompok otot terhadaptahanan yang tetap. Jenis kekuatan yang banyak digunakan dalam olahraga adalah kekuatan dinamis.

Bompa (1994:268-270) membagi tipe kekuatan menjadi beberapa jenis kekuatan, antara lain:

a. Kekuatan umum

Kekuatan umum mengacu pada kekuatan sistem otot secara keseluruhan. karena aspek ini adalah dasar dari program kekuatan keseluruhan, hal ini harus sangat berkembang dengan upaya terpusat selama tahap persiapan, atau selama beberapa tahunpertama atlet pemula pelatihan.

(21)

Tingkat rendah kekuatan umum dapat menjadi faktor pembatas bagi kemajuan keseluruhan atlet.

b. Kekuatan khusus

Kekuatan khusus dianggap sebagai kekuatan otot-otot yang khusus untuk gerakan olahraga yang dipilih. Tipe dari kekuatan ini merupakan karakteristik untuk setiap jenis olahraga, karena setiap perbandingan antara tingkat kekuatan atlet yang terlibat dalam olahraga yang berbeda tidak sesuai. Kekuatan khusus harus dikembangkan ke tingkat maksimal yang harus secara progresif dimasukkan menjelang akhir dari fase persiapan untuk semua atlet kelas elite.

c. Kekuatan maksimum

Kekuatan maksimum mengacu pada kekuatan tertinggi yang dapat dilakukan oleh sistem neuromuskular selama kontraksi secara maksimal. Hal ini ditunjukkan oleh beban terberat yang seorang atlet dapat mengangkat beban tersebut sekali waktu.

d. Dayatahan otot

Daya tahan otot biasanya diartikan sebagai kemampuan otot untuk mempertahankan pekerjaan dalam jangka waktu yang lama. Hal ini merupakan produk dari penekanan pada kedua latihan yaitu kekuatan dan daya tahan.

e. Power

Power merupakan produk dari dua kemampuan yaitu kekuatan dan kecepatan dan dianggap sebagai kemampuan untuk melakukan kekuatan maksimum dalam periode waktu terpendek.

f. Kekuatan absolut (AS)

Kekuatan absolut mengacu pada kemampuan seorang atlet untuk mengerahkan gaya maksimum terlepas dari berat badan sendiri (BW). Dalam tujuan supaya sukses dalam beberapa olahraga seperti angkat besi, gulat, tolak peluru, kekuatan absolut sangat dibutuhkan untuk meraih level yang tinggi.

(22)

g. Kekuatan relatif

Kekuatan relatif ditunjukkan sebagai perbandingan antara kekuatan absolut atlet dan berat badannya sendiri.

Kekuatan relatif sangat penting dalam olahraga dimana atlet membutuhkan penampilan tubuh.

h. Kekuatan cadangan

Kekuatan cadangan dianggap sebagai perbedaan antara kekuatan mutlak atlet dan jumlah kekuatan yang diperlukan untuk melakukan

keterampilan di bawah kondisi kompetitif. b. Latihan Kekuatan

Salah satu komponen kondisi fisik untuk mendukung komponen lain adalah kekuatan otot. Kekuatan otot merupakan kondisi fisik yang dapat ditingkatkan sampai batas submaksimal sesuai dengan cabang olahraga. Setiap cabang olahraga memiliki karakteristik berbeda pada kebutuhan kekuatan. Kekuatan dapat meningkat dengan melakukan sebuah latihan. Latihan yang disusun harus sesuai dengankarakteristik atau ciri dari kekuatan otot. O’Shea dalam M. Sajoto berpendapat bahwa “program latihan peningkatan kekuatan otot yang paling efektif adalah program latihan dengan memakai beban atau weighttraining program”.

Menurut Brooks dan Fahey (1984:397) latihan kekuatan dibagi menjadi 3 kategori yaitu isometrik, isotonik dan isokinetik. Latihan isometrik melibatkan penerapan gaya tanpa menggunakan gerak, latihan isotonik penggunaan gayadengan melakukan gerakan, dan isokinetik menggunakan pengerahan gaya dengankecepatan yang stabil.

1) Latihan isometrik

Latihan isometrik tidak meningkatkan kekuatan sepanjang rentang gerak sendi melainkan khusus untuk sudut sendi di mana latihan sedang dilakukan. Dengan kata lain, latihan isometrik tidak memperbaiki pengerahan kemampuan gaya secara cepat. Menurut Sajoto (1988:147) bahwa otot yang berkontraksi secara isometrik adalah

(23)

menegang, tetapi tidak ada perubahan panjang pada serabut otot. Sebagian besar manfaat dari isometrik tampak terjadi selama tahap awal latihan. Kontraksi maksimal sangat penting untuk efek yang optimal dan durasi kontraksi harus cukup panjang untuk menambah serabut otot sebanyaknya dalam kelompok otot. Peningkatan terbesar ketika menggunakan latihan isometrik dilakukan dalam beberapa kali dalam sehari.

2) Latihan isotonik

Latihan isotonik merupakan latihan kekuatan yang paling sering digunakan oleh pelatih dan atlet. Metode pembebanan isotonik termasuk konstan, variabel, eksentrik, plyometric dan ketahanan kecepatan. Dalam latihan tahanan tetap, beban tetap konstan, tetapi kesulitannya dalam mengatasi beban bervariasi dengan sudut sendi. Sajoto (1988:117) mengatakan bahwa kontraksi isotonik adalah suatu otot dimana serabut otot memendek selagi terjadi tegangan dalamotot tersebut. Seperti mengangkat beban dipundak kemudian melakukan gerakan jongkok berdiri beberapa kali.

3) Latihan isokinetik

Latihan isokinetik mengontrol laju pemendekan otot. Fox, Bowers dan Foss (1993:164) berpendapat selama kontraksi isokinetik, ketegangan dikembangkan oleh otot karena lebih pendek (iso) kecepatan (kinetik) maksimal di semua sudut sendi. Kontraksi semacam ini umum selama pada penampilan olahraga, contohnya adalah stroke lengan selama berenang gaya bebas. Penerapan ketegangan penuh baik dalam pengaturan kinerja olahraga atau selama uji klinis atau laboratorium adalah tergantung pada tingkat motivasi pelaku. Untuk melakukan kontraksi isokinetik, memerlukan peralatan khusus yang diperlukan.Pada dasarnya, peralatan harus memiliki pengatur kecepatan sehingga kecepatan gerakan konstan tidak masalah berapa banyak tegangan yang dihasilkan kontraksi otot.

(24)

Dalam latihan dengan menggunakan beban sebaiknya bersifat khusus sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. Brooks dan Fahey (1984:11) menyatakan bahwa “latihan hendaknya dapat merangsang sistem fisiologi tubuh”. Dimana rangsang tersebut disebut dengan stressatau tekanan dan tanggapan sebagai rangsang disebut denganstrainatautegangan. Dan pada tujuan dalam latihan secara fisiologis dapat memberikan tekanan pada tubuh sehingga terjadi adaptasi pada fungsi tubuh. Fox dalam Sajoto menyatakan bahwa program latihan beban berpedoman pada empat prinsip dasar yaitu:

a) Prinsip penambahan beban lebih (overload)

Prinsip latihan ini merupakan latihan yang mendasar yang harus dipahami oleh pelatih dan atlet. Menurut Harsono (1998:103) “Beban latihan yang diberikan kepada atlet haruslah cukup berat dan cukup bengis, serta harus diberikan berulang-ulang kali dengan intensitas yang cukup tinggi”. Dengan melakukan latihan secara periodik dan sistematis, maka tubuh atlet akan mampu beradaptasi menerima beban latihan yang diberikan. Sehingga beban latihan akan dapat ditingkatkan pada tingkat yang maksimal terhadap latihan yang lebih berat.

Selain itu, Fox, Bowers dan Foss (1993:170) menerangkan bahwa secara prinsip fisiologi pada kekuatan dan daya tahan dapat berkembang tergantung dengan apa yang disebut prinsip beban lebih (overload).Prinsip ini secara mendasar menyatakan bahwa kekuatan, daya tahan danhypertrophyotot akan meningkat hanya jika otot menerima dalam beberapa jangka waktu dengan mendekati beban kekuatan maksimal dan kapasitas daya tahan.

b) Prinsip peningkatan beban terus menerus

Peningkatan beban secara progresif merupakan peningkatan beban secara teratur dan bertahap sedikit demi sedikit. Menurut Suharno HP (1993:14) “peningkatan beban jangan dilakukan setiap kali latihan, sebaiknya dilakukan dua atau tiga kali latihan, bagi atlet masalah ini

(25)

sangat penting karena ada kesempatan untuk beradaptasi terhadap beban latihan sebelumnya yang memerlukan waktu paling sedikit duapuluh empat jam agartimbul superkompensasi”.Pada saat permulaan latihan dengan beban latihan yang berat, atlet akan mengalami kesulitan karena tubuh belum mampu beradaptasi. Dengan melakukan latihan yang berulang-ulang, maka beban latihan yang dirasa berat semakin lama akan menjadi ringan. Pada saat beban latihan terasa ringan maka beban latihan harus ditambah. Hal yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah memberikan beban latihan yang berat dengan meningkatkan beban secara teratur. Dengan memberikan beban latihan yang terlalu berat mengakibatkan tubuh atlet tidak mampu beradaptasi sehingga prestasi tidak mungkin bisa diraih.

c) Prinsip urutan pengaturan latihan

Latihan diatur sehingga kelompok otot besar mendapat latihan dahulu sebelum kelompok otot kecil. Pengaturan ini dilakukan supaya otot kecil tidak mengalami kelelahan terlebih dahulu. Pengaturan latihan harus disesuaikan sehingga tidak terjadi dua bagian otot yang sama mendapat dua giliran latihan secara berurutan.

d) Prinsip kekhususan program latihan

Latihan dengan suatu beban harus bersifat khusus. Latihan dengan beban merupakan peningkatan pada kekuatan sehingga program yang digunakan harus sesuai dengan nomor cabang olahraga yang bersangkutan. Dalam aktivitas berbagai cabang olahraga, meskipun dalam kelompok otot yang sama gerakannya, dalam gerak motorikmemerlukan hubungan penerapan kekuatan, dengan kecepatan yangberbeda sifat kekhususannya.

(26)

c. Definisi Kekuatan Otot Tungkai

Kekuatan otot merupakan salah satu komponen kondisi fisk yang penting dalam mendukung aktivitas olahraga. Selain itu, kekuatan otot merupakan unsur penting dalam mencapai prestasi yang maksimal dalam olahraga. Berkaitan dengan kekuatan, Sajoto (1988:58) menyatakan bahwa “Kekuatan (strength) adalah “Komponen kondisi fisik yang menyangkutmasalah kemampuan seorang atlet pada saat mempergunakan otot-ototnya untuk menerima beban dalam waktu kerja tertentu. Sedangkan menurut Harsono (1988:176) “strength adalah kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan”. Kemudian, yang dimaksud dengan kekuatan otot menurut Fox, Bowers dan Foss (1993:160) menyebutkan bahwa “daya atau tegangan pada otot atau lebih tepatnya sekelompok otot yang dapat digunakan untuk menahan beban dalam sekali usaha maksimal”. Dari pengertian tersebut dapat dikemukakan pengertian kekuatan otot tungkai adalah kemampuan otot atau sekelompok otot tungkai untuk mengatasi suatu beban atau tahanan dalam menjalankan suatu aktivitas secara maksimal.

d. Komponen Otot Tungkai

Otot tungkai bawah meliputi kaki, betis dan paha, ini merupakan porsi tubuh yang digunakan paling luas dalam daya grak dan mendukung tubuh dalam beberapa posisi tegak. Menurut Satimin Hadiwijaya (2002:80) tungkai pada manusia terdiri dari dua yaitu tungkai bawah dan tungkai atas. Tungkai bawah (extremitas inferior) digunakan sebagai penahan dan digunakan untuk segala aktivitas. Tungkai atas atau paha ( os femoris/femur). Tulang tungkai bawah yang terdiri dari tulang kering (os tibia) dan tulang betis (os fibula) dan tulang kaki (ossa pedis/foot bones). Otot tungkai merupakan bagian dari otot anggota gerak bawah. Otot gerak bawah dapat dibedakan atas otot pangkal paha, otot tungkai atas, otot tungkai bawah, dan otot kaki. Secara rinci, otot-otot yang terdapat pada tungkai manusia adalah sebagi berikut:

(27)

1) Otot-otot tungkai atas (paha)

Otot tensor fasialata, otot abductor dari paha, otot vastus laterae, otot rectus femoris, otot satrorius, otot vastus medialis, otot abductor, otot gluteus maxsimus, otot paha lateral dan medial.

2) Otot tungkai bawah

Otot tibialis anterior. Otot ekstensor digotorum longus, otot gastroknemius, otot tendon aciles, otot soleus, otot maleolus medialis, otot retinakula bawah.

e. Faktor – Faktor Penentu Kekuatan Otot Tungkai

Kekuatan otot merupakan komponen yang penting untuk meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan maupun prestasi. Untuk meningkatkan prestasi dalam olahraga renang, kekuatan otot yang dimiliki atlet harus ditingkatkan. Kekuatan otot dapat meningkat bila melakukan latihan secara sistematis dan teratur dengan program latihan yang tepat.Dalam memberikan latihan kekuatan otot, pelatih harus dapat membuat program latihan yang tepat. Selain latihan yang baik dan benar, kekuatan dapat meningkat tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Seorang pelatih harus memahamifaktor-faktor yangmempengaruhikekuatan otot.Menurut Suharno HP (1993:39-40) bahwa faktor-faktor penentu baik tidaknya kekuatan seseorang antara lain:

1) Besar kecilnya potongan melintang otot (potongan morfologis yang tergantung dari proses hypertropy otot).

2) Jumlah fibril otot yang turut bekerja dalam melawan beban, makin banyak fibril otot yang bekerja berarti kekuatan bertambah besar.

3) Tergantung besar kecilnya rangka tubuh, makin besar skelet makin besar kekuatan.

4) Innervasi otot baik pusat maupun perifer. 5) Keadaan zat kimia dalam otot (glycogen, ATP).

6) Keadaan tonus otot saat istirahat, tonus makin rendah berartikekuatan otot tersebut pada saat bekerja makin besar.

(28)

7) Umur dan jenis kelamin juga menentukan baik dan tidaknya kekuatan otot. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa besarnya potongan melintang fibril otot dan banyaknya fibril otot merupakan faktor utama yang mempengaruhi kekuatan otot. Semakin besar ukuran fibrilnya dan semakin banyak fibrilnya, maka otot tersebut semakin besar sehingga semakin kuat pula kemampuannya.

Faktor umur dan jenis kelamin juga sangat menentukan baik dan tidaknya kekuatan. Semakin banyak latihan yang dilakukan, maka semakin baik pula pembesaran fibril otot. Pembesaran fibril ototlah yang menyebabkan meningkatnya kekuatan otot.

Pada anak kecil normal, otot dan tulang akan tumbuh mengimbangi satu dengan yang lain. Selama pada masa pubertas, otot tumbuh dengan cepat khusus pada anak remaja. Peningkatan pada jaringan otot biasanya terjadi setelah peningkatan dan penambahan tinggi badan. Pada anak laki-laki peningkatan ukuran otot relatif pada peningkatan kekuatan. Brooks dan Fahey (1984:672) mengatakan “rata-rata peningkatan cepat dimulai dari usia 14 tahun sampai pada masa adolesen”. Namun perbedaan individual menjadi perbedaan pada pencapaian tingkat kedewasaan.

Perkembangan dan penampilan otot tergantung pada kematangan sistem saraf. Level tinggi dari kekuatan, power, dan kemampuan tidak mungkin terjadi jika anak belum mencapai pada kematangan saraf. Kematangan dari saraf tidak tercapai hingga pada kematangan secara seksual. Sehingga anak yang belum matang atau dewasa tidak dapat menerima respon pada latihan atau mencapai level yang sama dengan orang dewasa.

Sajoto (1988:108) mengemukakan selain faktor fisiologis, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan otot.Faktor tersebut adalah biomekanik, sistem pengungkit, ukuran otot, jenis kelamin dan faktor umur.

1) Faktor biomekanik

Dilihat dari faktor biomekanik, sangat mungkin bila dua orang yang mempunyai jumlah tegangan otot yang sama akan berbeda dalam mengangkat beban. Sebagai contoh A dan B dapat mengangkat beban

(29)

dengan gaya 200 pound. Keduanya memiliki panjang lengan bawah 12 cm. Tetapi A memiliki panjang jarak antara titik insersio dengan sudut siku 1,5 cm. B memiliki titik insersio dengan sudut siku 2 cm. Maka benda yang dapat diangkat dengan flexi sudut pada siku 900 berbeda jumlahnya. A = 25 Pound

A = 33.3 Pound

2) Faktor pengungkit

Setiap gaya yang ada hubungannya dengan pengungkit dapat dihitung secara mekanik, sehingga letak gaya yang berbeda akan menghasilkan kekuatan yang berbeda. Menurut Sajoto (1988:109) pengungkit dikelompokkan dalam 3 kelas yaitu dibagi menurut letak sumbu pengungkit, gaya beban, dan gaya gerak mengangkat.

- Kelompok III : letak gaya angkat berada diantara sumbu dengan gaya beban

- Kelompok II : letak beban diantara sumbu dengan gaya angkat - Kelompok I : letak sumbu diantara gaya beban dan gaya angkat.

Gambar 10. Sistem pengungkit M Sajoto (1988:110) 200 x 2

(30)

3) Faktor ukuran

Besar kecilnya suatu otot berpengaruh pada kekuatan tersebut. Semakin besar serabut otot seseorang, maka semakin kuat pula otot tersebut. Dan semakin panjang ukuran ototnya, semakin kuat juga ototnya. Pembesaran otot disebabkan karena bertambah luasnyaserabut otot akibat dari suatu latihan dan bukan akibat dari pecahnya serabut per serabut otot. Pembesaran pada otot disebut dengan hypertrophy otot dan mengecilnya otot disebut dengan atrophy.

4) Faktor jenis kelamin

Meskipun wanita yang mengikuti program latihan beban akan berkembang kekuatannya sama dengan perkembangan pada pria. Dan kekuatan otot laki-laki dan perempuan tiap centimeter sama besar. Namun fakta menunjukkan bahwa pada akhir masa puber, anak laki- laki mulai memiliki ukuran otot yang lebih besar dibanding dengan wanita.

f. Perkembangan Kekuatan Otot Tungkai Pada Adolesensi Usia 13 sampai 18 Tahun

Perkembangan otot tungkai pada adolesensi berkembang dengan pesat karena merupakan otot yang paling penting dalam gerak manusia. Untuk mengetahui perkembangan otot tungkai pada adolesensi maka dapat melihat grafik perkembangan otot tungkai pada tes lompat horizontal pada laki-laki dan perempuan dihasilkan kesimpulan sebagai berikut: (Gallahue dan Ozmun 1998:390)

1) Anak laki-laki dan anak perempuan hampir sama pada masa kanak-kanak. 2) Anak laki-laki memiliki performa yang sedikit melebih performa anak

perempuan pada masa kanak-kanak, tetapi kesenjangan melebar secara signifikan pada masa puberta laki-laki

(31)

Gambar. 11. Perkembangan Kekuatan Otot Bagian Bawah Adolesensi (Gallahue dan Ozmun 1998:390)

g. Definisi Kekuatan Otot Lengan

Kekuatan merupakan salah satu unsur kondisi fisik yang bisa disebut juga sebagai dasar semua gerakan manusia.. Menurut Ismaryati (2011:111) menyatakan bahwa kekuatan adalah tenaga kontraksi otot yang dicapai dalam sekali usaha maksimal. Usaha maksimal ini dilakukan oleh otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu tahanan. Kekuatan merupakan unsur yang sangat penting dalam aktivitas olahraga, karena kekuatan merupakan daya penggerak dan mencegah cidera. Johnshon and Nelson (1986:103)

(32)

menyatakan bahwa kekuatan sebagai kemampuan otot mengeluarkan daya untuk melawan obyek yang bergerak atau tidak bergerak.

Sedangkan lengan merupakan anggota badan dari pergelangan tangan sampai ke bahu. Secara anatomis lengan adalah anggota gerak bebas pada tubuh bagian atas yang dimulai dari persendian bahu sampai persendian tangan. Lengan terdiri dari dua bagian yaitu, lengan atas dan lengan bawah. Lengan atas terdiri dari bagian yang berawal dari persendian bahu sampai siku, sedangkan lengan bawah terdiri dari bagian yang berawal dari siku sampai pergelangan tangan.

Berdasarkan pendapat diatas maka kekuatan otot lengan adalah kemampuan otot lengan untuk melawan atau menahan beban secara maksimal melalui proses kontraksi otot atau sekelompok otot dalam mengatasi tahanan.

h. Perkembangan Kekuatan Otot Lengan Pada Adolesensi Usia 13 Sampai 18 Tahun.

Otot lengan merupakan otot yang berada pada extremitas bagian atas , berfungsi sebagai penggerak alat gerak tangan. Lengan terdiri dari lengan atas dan lengan bawah. Perkembangan otot lengan sudah dimulai pada anak-anak dan mulai pesat pada masa adolesensi. Untuk mengetahui perkembangan kekuatan otot lengan dapat dilihat grafik perkembangan kekuatan otot lengan pada tes lompat vertikal pada laki-laki dan perempuan dihasilkan kesimpulan sebagai berikut: (Gallahue dan Ozmun 1998:387)

1) Laki-laki membuat penambahan tahunan yang signifikan pada masa remaja. 2) Perempuan mulai mencapai masa stabil pada awal masa remaja dan

(33)

Gambar. 12. Grafik Perkembangan Kekuatan Otot Bagian Atas Adolesensi (Gallahue dan Ozmun 1998:392)

6. Perkembangan Ketahanan Cardiovaskuler

a) Perkembangan Ketahanan CardiovaskulerPada Adolesensi Usia 13 Sampai 18 Tahun

Ketahanan cardiovaskuler atau aerobik terkait dengan keberfungsian jantung, paru-paru, dan sistem vaskuler. Kapasitas aerobik seseorang dapat dievaluasi di laboratorium melalui berbagai tes stress yang menuntut subyek untuk mengerahkan sebuah usaha sekuat tenaga (all-out) untuk masuk kedalam utang oksigen (oxygen debt). Tes-tes “maks”, seperti yang diketahui, dilakukan secara paling umum diatas treadmill atau ergometer sepeda. Skor VO2maks diperoleh sebagai hasil dari latihan yang melelahkan. Walaupun

mengukur VO2maks merupakan metode yang lebih dipilih untuk menentukan

kapasitas aerobik, belum ada penelitian populasi longitudinal besar yang mengunakan tes ergometer. Penelitian justru telah terfokus kepada sampel populasi antar usia dengan menggunakan perkiraan ketahanan aerobik tes lapangan. Sebagai akibatnya, jalan/lari satu mil telah muncul sebagai soal tes lapangan yang paling popular dengan para remaja. Pada sebuah studi

(34)

retrospektif selama sepuluh tahun tentang berbagai komponen kebugaran Updyke dan Willet (1989) dan Updyke (1992) dalam Gallahue dan Ozmun 1998, menemukan bahwa kebugaran aerobik turun setiap tahun pada sampel cross-sectional convenience yang terdiri atas anak-anak dan pemuda.

Gambar.13. Grafik Daya Tahan Aerobik Adolesensi (Gallahue dan Ozmun 1998:377)

Berdasarkan Penelitian Kebugaran Anak-anak dan Pemuda Nasional (NCYFS) seperti yang digambarkan diatas pada gambar 13. laki-laki rata-rata terus meningkat pada ketahanan aerobik hingga usia 16 tahun, dimana mereka mengalami sedikit kemunduran hingga usia 18 tahun. Hasil-hasil ini hampir sama dengan rerata berapa kali mil lari/jalan pada Tes Kebugaran Jasmani Terkait Kesehatan tahun 1980 (HRPFT). Akan tetapi, laki-laki yang diuji pada HRFT mengalami sedikit kemunduran antara usia 10 dan 11, yang

(35)

diikuti dengan peningkatan hingga usia 14 tahun. Hal ini nantinya diikuti dengan skor umum yang mencapai masa stabil hingga usia 17 tahun.

Gambar.14. Grafik Daya Tahan Aerobik Adolesensi Laki-Laki (Gallahue dan Ozmun 1998:378)

Sulit untuk dijelaskan perbedaan pada lerengan kedua kurva tersebut (gambar 14) pada usia 11 tahun, tetapi hal ini mungkin merupakan sebuah fungsi teknik pengambilan sampel yang dipergunakan. (HRPFT menggunakan sebuah teknik convenience sampling, sedangkan NYCFS memanfaatkan sebuah teknik pengambilan sampel acak terstratifiksi). Meskipun demikian, lerengan yang serupa pada kedua kurva menunjukkan bahwa laki-laki pada NCYFS yang terus membaik hingga hingga usia 16 mungkin merefleksikan perbedaan pada pola-pola aktivitas aerobik pada anak laki-laki antara mereka yang dijadikan sampel pada HRPFT dengan mereka pada NCYFS. Akan tetapi, ingat bahwa untuk kedua tes tersebut, laki-laki, seiring dengan bertambahnya usia, cenderung mencapai masa stabil setelah usia 16 tahun pada performa mereka pada tes jalan/lari mil. Hal ini seharusnya diperhatikan

(36)

dengan seksama dimana hal ini merefleksikan sebuah kecenderungan kearah pola-pola aktivitas yang lebih banyak duduk (sendentary) pada remaja yang lebih tua. Menarik untuk diingat bahwa penurunan skor bertepatan dengan usia dimana kebanyakan anak laki-laki memenuhi syarat untuk mengemudi dan bekerja.

Dalam kaitannya dengan performa perempuan pada tes ketahanan aerobik jalan/lari mil, hasilnya sama-sama mengkhawatirkan. Walaupun kita berharap bahwa laki-laki akan memiliki performa yang melebihi performa perempuan karena berbagai variabel anatomi dan psikologi, namun kita berharap untuk melihat lerengan yang menurun (yaitu masa-masa yang lebih rendah) pada sebuah periode waktu yang panjang. Berdasarkan hasil NCYFS, perempuan paling mendekati rekan laki-lakinya pada jalan/lari mil pada usia 10 tahun, dan kesenjangan antara laki-laki dengan perempuan kira-kira masih tetap sejajar hingga usia 14 tahun. Akan tetapi kesenjangan ini melebar pada angka yang drastis sejak saat itu (gambar 13). Walaupun perempuan yang tampil pada NCYFS dan HRPFT cenderung meningkat seiring bertambahnya usia hingga sekitar 13 sampai 14 tahun, namun ada sebuah kecenderungan untuk mengalami kemunduran dan mencapai masa stabil pada performa. Perempuan usia 18 tahun berada pada level yang hampir sama seperti anak laki-laki usia 12 tahun.

(37)

Gambar.15. Grafik Daya Tahan Aerobik Adolesensi Perempuan (Gallahue dan Ozmun 1998:379)

Data dari HRPFT cenderung mendukung data yang diterbitkan dalam NCYFS. Akan tetapi, laki-laki pada HRPFT mencapai puncaknya pada usia lebih dini dan mengalami kemunduran pada tingkat yang lebih cepat daripada mereka yang diuji pada NCYFS (gambar 15). mungkin ada ruang untuk optimism yang berhati-hati dimana perbandingan antara kedua lerengan dapat mengindikasikan kecenderung perempuan yang lebih lambat pada tahun 1980an untuk lebih aktif secara aerobik daripada teman sebayanya pada dekade tersebut. Kenaikan yang cepat dan popularitas kelas tari aerobik dan latihan (senam) berirama lainnya yang bertahan setidaknya sebagian mungkin bertanggung jawab atas tingkat kemunduran yang tidak terlalu parah.

(38)

B. Penelitian yang Relevan

Berdasarkan pada penelitian sebelumnya dari Gede Doddy Tisna MS yang berjudul “Perkembangan Kemampuan Loncat Jauh Tanpa Awalan dan Lari 600 Yard Pada Anak-Anak Usia 6 Sampai Dengan 12 Tahun Ditinjau dari Ketinggian Wilayah Tempat Tinggal Dan Jenis Kelamin Di Propinsi Bali”. Subyek penelitian 420 anak lak-laki dan perempuan di dataran rendah dan 420 anak laki-laki dan perempuan di dataran tinggi. Hasil dari penelitian itu adalah terdapat perkembangan kemampuan loncat tanpa awalan dan lari 600 yard pada lali laki dan perempuan usia 6 samapai 12 tahun pada dataran tinggi dan dataran rendah. Terdapat perbedaan kemampuan loncat tanpa awalan dan lari 600 yard, anak laki-laki dan prempuan usia 6 sampai 12 tahun yang tinggal di dataran rendah dan dataran tinggi.

Selain itu, penelitian dari Abdul Aziz Hakim, yang berjudul “Kapasitas Aerobik dan Anaerobik Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Usia Dini ditinjau dari Ketinggian Wilayah Tempat Tinggal Di Provinsi Jawa Timur”. Subyek penelitian 60 siswa, 30 orang siswa di dataran rendah dan 30 orang di dataran tinggi dengan taraf siginifikansi 5%. Dari hasil penelitian itu menunjukkan kapasitas aerobik dan kapasitas anaerobik anak yang tinggal di dataran tinggi lebih bagus dengan anak yang tinggal di dataran rendah. Di samping itu dpat di tarik kesimpuln bahwa anak laki-laki lebih superior dibandingkan anak perempuan.

(39)

C. Kerangka Pemikiran

Ganbar 16. Kerangka Pemikiran

Gambar 16. Kerangka Pemikiran. Kondisi Geografis Kabupaten Pati

Dataran Tinggi Dataran Rendah

Adolesensi laki-laki dan perempuan

Adolesensi laki-laki dan perempuan

Terjadi Adaptasi Fisiologis

Perkembangan kekuatan otot tungkai, kekuatan otot lengan dan ketahanan cardiovaskulerpada adolesensi usia 13-18 tahun lali-laki dan perempuan di dataran tinggi dan dataran rendah di Kabupaten Pati

(40)

1. Perkembangaan Kekuatan Otot Tungkai, Kekuatan Otot Lengan dan Ketahanan Cardiovaskuler Ditinjau dari Ketinggian Tempat Tinggal.

Faktor lingkungan ini yang erat kaitannya dengan letak geografis, ketinggian suatu tempat (dataran rendah dan dataran tinggi), suhu suatu tempat, cuaca dan iklim. Kondisi lingkungan khusunya tempat tinggal berpengaruh pada kondisi fisik baik itu secara fisiologis dan anatomis manusia dan ini dapat dilihat dengan adanya perbedaan kondisi lingkungan berupa letak geografis baik itu dataran tinggi dan dataran rendah, dapat dilihat berikut ini :

a. Kondisi Medan Dataran Tinggi dan Dataran Rendah.

Daerah pegunungan dan pantai dilihat dari kondisi lingkungan dan letak geografis jelas berbeda, dimana kedua daerah tersebut diketahui memiliki ketinggian tempat dan tingkat perkembangan sosial ekonomi masyarakat yang berbeda. Daerah pegunungan dengan ketingian tempatnya menjadikan masyarakatnya beradaptasi dengan lingkungan daerah pegunungan yang cenderung berbukit-bukit, begitu juga daerah dataran rendah menjadikan masyarakatnya beradaptasi dengan lingkungan yang berpasir.

Perbedaan yang dapat dilihat antara daerah pegunungan dan daerah pesisir, adalah pola aktivitas yang dilakukan oleh masyarakatnya. Daerah pegunungan dengan medan yang berbukit, tidak datar, tanjakan dan turunan yang curam serta suhu yang dingin menuntut masyarakatnya untuk bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Aktivitas keseharian yang dilakukan di daerah pegunungan adalah berkebun atau bertani. Mayoritas penduduk pegunungan memiliki mata pencaharian bertani atau berkebun yang letak kebunnya berada di lereng gunung. Aktivitas anak-anak yang tinggal di daerah pegunungan lebih suka yang berhubungan dengan aktivitas yang bersifat petualangan. Bahkan untuk menuju kesuatu tempat mereka tempuh dengan berjalan kaki melewati medan yang terjal, naik dan turun. Sehingga secara tidak langsung melatih kondisi fisik yang baik.

Sedangkan aktivitas pada dataran rendah relatif ringan dibandingkan dataran tinggi, karena ditinjau dari relief datarannya yang datar. Untuk aktivitas pada anak-anak datararan rendah atau pesisir adalah berenang, menangkap ikan,

(41)

menyelam atau bermaian di atas pasir. Semua aktivitas tersebut memberikan kesempatan untuk melatih kemampuan fisik mereka.

b. Adaptasi Fisiologis.

Ketinggian tempat tinggal, baik dataran rendah maupun dataran tinggi selain berpengaruh terhadap kemampuan fisik, berpengaruh juga pada fisiologis anak yang tinggal di dataran tinggi.

Dapat diuraikan bahwa anak yang tinggal di dataran tinggi akan mengalami adaptasi fisiologis yang terjadi semenjak lahir, ini disebabkan tekanan parsial oksigen yang ada di dataran tinggi rendah, dibandingkan di dataran rendah. Tekanan parsial pada alveolus mengalami penurunan, bahkan lebih besar penurunannya dengan tekanan parsial oksigen pada atmosfer, yang disebabkan karena efek karbondioksida dan uap air. Karbondioksida akan diekskresikan dari darah pada paru-paru ke alveolus. Air juga akan menguap kedalam rongga alveolus dari permukaan saluran pernapasan, oleh karena itu kedua gas ini akan mengencerkan kandungan oksigen. Sedangkan pada tempat yang rendah tekanan parsial oksigen pada alveolus tidak mengalami penurunan sedemikian besar seperti tekanan parsial oksigen pada atmosfer. Dengan adanya penurunan tekanan parsial rendah maka penduduk yang tinggal di dataran tinggi, akan mengalami penyesuaian diri terhadap penurunan tekanan oksigen yang rendah. Adapun cara tubuh menyesuaikan diri beradaptasi menghadapi tekanan oksigen yang rendah pada tempat yang tinggi adalah: 1) meningkatnya ventilasi paru-paru, 2) meningkatnya hemoglobin dalam darah, 3) meningkatnya difusi paru-paru, 4) bertambahnya jumlah mitokondria dan enzim oksidatif menggunakan oksigen meskipun tekanan parsial oksigen rendah.

Sehingga kondisi letak geografis, baik dataran rendah maupun dataran tinggi akan berpengaruh terhadap perkembangan kekuatan otot tungkai,kekuatan otot lengan dan ketahanan cardiovaskuler pada adolesensi laki-laki dan perempuan usia 13 sampai 18 tahun.

2. Perkembangaan Kekuatan Otot Tungkai, Kekuatan Otot Lengan dan Ketahanan Cardiovaskuler Ditinjau dari Jenis Kelamin.

(42)

Perkembangan kekuatan otot tungkai, kekuatan otot lengan dan ketahanan cardiovaskuler pada adolesensi laki-laki dan perempuan cenderung mengalami perbedaan. Ini dapat dilihat dengan perbedaan antara pola pertumbuhan adolesensi laki-laki dan perempuan dapat diketahui bahwa keduanya mempunyai pertumbuhan lengan dan tungkai yang sudah berkembang dengan pesat sehingga sudah siap untuk melakukan aktivitas yang optimal. Akan tetapi adanya kecenderungan laki-laki memiliki kaki dan lengan yang panjang dan lebih tinggi selama masa anak-anak. Seperti halnya adolesensi perempuan memiliki pinggul yang lebih lebar, dan paha yang besar selama periode ini. Perbedaan pola perkembangan adolesensi laki-laki dan perempuan akan berpengaruh terhadap Perkembangan kekuatan otot tungkai, kekuatan otot lengan dan ketahanan cardiovaskuler.

(43)

Figure

Tabel .1. Periodisasi perkembangan berdasarkan umur (Haywood Kathleen  M,  1986:8)

Tabel .1.

Periodisasi perkembangan berdasarkan umur (Haywood Kathleen M, 1986:8) p.3
Gambar 10. Sistem pengungkit  M Sajoto (1988:110)

Gambar 10.

Sistem pengungkit M Sajoto (1988:110) p.29
Gambar 16. Kerangka Pemikiran.

Gambar 16.

Kerangka Pemikiran. p.39

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in