• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. HALAMAN SAMPUL... i. HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM... ii. LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING/PENGESAHAN... iii. KATA PENGANTAR...

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. HALAMAN SAMPUL... i. HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM... ii. LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING/PENGESAHAN... iii. KATA PENGANTAR..."

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

i

HALAMAN PERSYARATAN GELAR SARJANA HUKUM ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING/PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

HALAMAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... ix

DAFTAR ISI ... x

ABSTRAK ... xiii

ABSTRACT ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 6

1.3 Ruang Lingkup Masalah ... 6

1.4 Orisinalitas Penelitian ... 7 1.5 Tujuan Penelitian ... 8 1.5.1 Tujuan Umum ... 8 1.5.2 Tujuan Khusus ... 9 1.6 Manfaat Penelitian ... 9 1.6.1 Manfaat Teoritis ... 9 1.6.2 Manfaat Praktis ... 10 1.7 Landasan Teoritis ... 10

(2)

ii

1.8.3 Sifat Penelitian ... 15

1.8.4 Sumber Data ... 16

1.8.5 Teknik Pengumpulan Data ... 17

1.8.6 Teknik Analisis Data ... 17

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KOPERASI, PRINSIP-PRINSIP DASAR KOPERASI DAN PEMBEKUAN KOPERASI ... 18

2.1 Koperasi ... 18

2.1.1 Pengertian Koperasi dan Dasar Hukum Koperasi ... 18

2.1.2 Tujuan koperasi ... 19

2.1.3 Sifat koperasi ... 20

2.1.4 Jenis koperasi ... 21

2.2 Prinsip-prinsip Dasar Koperasi ... 22

2.2.1. Asas koperasi ... 22

2.2.2. Fungsi dan peran koperasi ... 22

2.2.3. Keanggotaan koperasi ... 27

2.2.4. Struktur organisasi koperasi ... 29

2.3 Pembekuan Koperasi ... 33

2.3.1 Pembekuan koperasi ... 33

(3)

iii

Koperasi ... 36

3.2 Hal-hal yang menyebabkan Badan Hukum Koperasi dibekukan oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali ... 44

BAB IV AKIBAT HUKUM TERHADAP KOPERASI YANG SUDAH DILAKUKAN PEMBEKUAN OLEH DINAS KOPERASI DAN UKM PROVINSI BALI ... 48

4.1 Status Badan Hukum setelah Koperasi dibekukan ... 48

4.2 Pencabutan Badan Hukum Koperasi yang dibekukan oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali ... 53

BAB V PENUTUP ... 58 5.1 Kesimpulan ... 58 5.2 Saran ... 59 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR INFORMAN LAMPIRAN RINGKASAN

(4)

iv

yang sangat signifikan bagi kemajuan perekonomian bangsa Indonesia. Pasang surut perkembangan perekonomian Indonesia seakan tidak lepas dari kemajuan yang dilakukan oleh Koperasi. Skripsi ini mengangkat permasalahan yang juga menjadi tujuan tentang penulisan skripsi ini tentang bagaimana faktor-faktor yang menyebabkan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali dalam melakuan tindakan pembekuan serta akibat hukumnya jika terjadi pembekuan koperasi yang bernaung di bawah Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali. Penyusunan skripsi ini dilakukan dengan metode empiris sehingga mendapatkan kesimpulan bahwa Pemerintah tidak serta merta langsung membubarkan Koperasi yang telah melanggar Peraturan Perundang-Undangan, tetapi melihat faktor-faktor dari mengapa Koperasi melanggar Peraturan Perundang-Undangan dengan status Koperasi dibekukan/ Koperasi dalam pengawasan khusus jika sudah benar-benar melanggar Peraturan Perundang-Undangan. Dimana Koperasi yang telah berstatus dibekukan harus melakukan pembenahan diri untuk membangkitkan kembali Koperasinya, tetapi Koperasi yang berstatus dibekukan tidak boleh beroperasi dikarenakan harus membenahi kembali Koperasinya dengan Badan Hukum di tahan oleh Pemerintah.

(5)

v

role for the progress of the Indonesian economy. The tide of economic development of Indonesia as if not separated from the progress made by the Cooperative. This paper raises the problem which also become the purpose of this thesis writing about how the factors causing the Office of Cooperatives and SMEs Bali Province in the conduct of freezing and legal consequences if there is a freezing cooperative under the Department of Cooperatives and SMEs Bali Province. The preparation of this thesis is done by empirical method to get the conclusion that the Government does not necessarily immediately dissolve the Cooperative which has violated the Regulation of the Law, but see the factors of why the Cooperative violates the Regulation of the Law with the status of the Cooperative is frozen / Cooperative in special supervision if it has Totally violate the Laws and Regulations. Where a Co-operative which has been frozen status must make a correction to revive the Cooperation, but the Co-operative with frozen status shall not operate due to the need to re-establish its Cooperation with the Legal Entity held by the Government.

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Koperasi sebagai organisasi masyarakat berasaskan kebersamaan, kerakyatan serta kemandirian telah memainkan peranan yang sangat signifikan bagi kemajuan perekonomian bangsa Indonesia. Pasang surut perkembangan perekonomian Indonesia seakan tidak lepas dari kemajuan yang dilakukan oleh Koperasi.1

Koperasi berasal dari kata Co dan Operation. Co berarti bersama dan Operation yang berarti bekerja. Oleh sebab itu definisi dapat diberikan sebagai suatu perkumpulan yang beranggotakan orang atau badan-badan yang memberikan kebersamaan masuk dan keluar sebagai anggota, dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha serta untuk meningkatkan kesejahteraan peran anggotannya.2

Dalam menegakkan perekonomian rakyat sebagaimana yang tercantum dalam Pembukuan UUD NRI 1945, maka Perkoperasian adalah wadah yang sangat strategis dalam meggalang kekuatan ekonomi rakyat. Oleh karena itu, sudah seyogyanyalah pemerintah bertanggung jawab, baik secara langsung maupun tidak langsung

1 Baga, L.M, 2003, “Foolisiasi” Koperasi, Kompas, 12 Mei 2017.

2 U. Purwanto, “Petunjuk Praktis Tentang Cara Mendirikan dan Mengelola Koperasi di Indonesia”, Semarang:Aneka Ilmu, 1989, h.1.

(7)

memberikan dukungan kepada wadah perekonomian yang tumbuh di tengah masyarakat sebagaimana yang dicita-citakan.

Dalam Pasal 33 ayat (1) UUD NRI 1945 tersebut disebutkan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal tersebut disebutkan juga asas demokrasi, yaitu produksi dikerjakan oleh semua dibawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat sehingga dengan demikian kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran beberapa pihak.

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian dinyatakan bahwa Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-perseorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.

Merujuk pada ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian tersebut bahwa Koperasi berperan sebagai badan usaha yang berperan untuk memperbaiki tingkat kehidupan ekonomi orang-orang yang ekonominya lemah dimana dalam konteks ini Koperasi menganut prinsip democratic

(8)

demokratis yang dikontrol oleh anggotanya yang aktif berpartisipasi dalam merumuskan kebujakan dan membuat keputusan.3

Jadi jelas bahwa Koperasi Indonesia adalah kumpulan dari orang-orang secara bersama-sama bergotong royong berdasarkan persamaan kerja untuk memajukan kepentingan perekonomian anggota dan masyarakat umum.4 Koperasi benar-benar

merupakan pendemokrasian yang harus menjamin bahwa Koperasi adalah milik anggota dan diatur sesuai dengan keinginan para anggota dikarenakan hak tertinggi dalam Koperasi ditentukan oleh rapat anggota. Dalam menjalankan usahannya Koperasi Indonesia tidak boleh meninggalkan asasnya, yaitu asas kekeluargaan dan asas gotong royong.

Koperasi didirikan untuk melakukan usaha perbaikan tingkat kehidupan ekonomi dari orang-orang yang berasal dari kelompok pekerja atau orang-orang yang jatuh miskin sebagai akibat pelaksanaa sistem kapitalisme.5 Koperasi dipandang

sebagai usaha yang dapat membantu perbaikan tingkat kehidupan ekonomi dikarenakan pada hakikatnya Koperasi membantu berdasarkan asas tolong menolong.

Salah satu masalah hukum dalam Koperasi adalah pembubaran Badan Hukum

(recht person) sebagai subjek hukum pendukung hak dan kewajiban. Pembubaran

3 Andjar Pacht W, Myra Rosana Bachtiar, Nanda Maulisa Banemay, 2005, Hukum Koperasi Indonesia, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, h.23.

4 Chaniago Arifinal, Tanpa Tahun, Pendidikan Peekonomian Indonesia, Cet. II 5 Ibid, h.14.

(9)

Badan Hukum berkaitan erat dengan penyelesaian hak dan kewajiba subjek hukum tersebut. Koperasi memiliki karakteristik yang membedakannya dengan badan usaha yang lain, dan mempunyai dua sisi yaitu lembaga ekonomi yang menerapkan asas ekonomi yaitu dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dengan menerapkan prinsip-prinsip ekonomi dalam berusaha dan sebagai lembaga hukum yaitu menerapkan semua prinsip-prinsip hukum dalam usaha yang berbadan hukum.6

Ropke menjelaskan “Koperasi suatu organisasi bisnis yang para pemiliknya/anggotanya adalah pelanggan utama perusahaan tersebut”. Koperasi sebagai bisnis juga memerlukan modal jika mau berusaha dan berhasil, dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing.7 Aturan mengenai permodalan ini tidak diatur

secara detail seperti halnya pengaturan modal dalam sebuah Perseroan Terbatas (PT), namun secara prinsip sangat jelas asal usul pengumpulan modal dalam sebuah Koperasi seperti ditentukan oleh Pasal 41 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian dimana Modal Koperasi terdiri dari modal sendiri dan modal pinjaman.

Jika suatu Koperasi menerima tabungan dari anggotanya (marketing) dan juga menyediakan pinjaman kepada anggotannya (purcahsing) Koperasi ini disebut Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Secara umum ruang lingkup Koperasi kegiatan

6Op.cit, h.81.

7 Munker Hans, Co-Operaive Principles & Co-Operative Law Membangun Undang-Undang Koperasi Berdasarkan Peinsip-Peinsip Koperasi, Jakarta; Reka Desa, 2011, h. 125.

(10)

usaha KSP adalah penghimpunan dana dan penyaluran dana yang berbentuk penyaluran pinjaman terutama dari dan untuk anggota. Pada perkembangan KSP melayani tidak saja anggota tetapi juga masyarakat luas. Untuk bisa menjalankan usahannya Kopersi Simpan Pinjam harus melakukan penghimpunan dana.

usaha KSP mirip dengan perbankan, yaitu menerima simpanan dan memberikan pinjaman, bahkan KSP berani memberikan bunga yang lebih tinggi kepada para penyimpan dana serta menawarkan kemudahan bagi para pihak yang akan meminjam uang. Usaha ini mampu menarik minat anggota masyarakat baik untuk menyimpan maupun meminjam dana, namun kejayaan KSP ini hanya berlaku hingga tahun 2006-2007. Mulai tahun 2005 satu persatu KSP mengalami kebangkrutan diikuti dengan pembubaran, hal ini berjalan terus hingga pada tahun 2007 banyak KSP yang bubar karena tidak mampu memenuhi kewajibannya kepada para penyimpan dana. Pembubaran KSP biasanya diawali dengan adanya gugatan yang dilakukan oleh pihak penyimpanan dana yang bunga atau simpanannya tidak dibayar oleh Koperasi.8

Pembubaran Koperasi merupakan suatu pranata hukum yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian dan diikuti likuidasi untuk membereskan hak dan kewajiban Koperasi adalah mengembalikan pinjaman modal kepada pemilik dana simpanan baik yang bersumber dari anggota maupun dari pihak lain. Modal pinjaman Koperasi yang tidak mampu dikembalikan debitur (Koperasi) kepada pemilik dana simpanan maupun pihak ketiga merupakan ciri-ciri dari kebangkrutan secara ekonomi, dan akan membawakan kosekuensi kebangkrutan secara hukum.

8 Widiastuti, Tanggung Jawab Pengurus Koperasi Simpan Pinjam Berbadan Hukum Terhadap Peyimpan Dana, ejournal.unisri.ac.id, Wacana Hukum, Vol VIII No. 2 Oktober 2009, h. 79 diakses tanggal 2 Februari 2017.

(11)

Koperasi yang dibubarkan selanjutnya akan dilakukan tindakan hukum likuidasi (koprasi dalam penyelesaian) untuk penyelesaian hak dan kewajibannya yang menyangkut kepentingan anggota dan pihak ketiga atau kreditor Koperasi. Pembubaran Koperasi sejatinya merupakan penghapusan identitas hukum sebagai subjek hukum. Persoalan yang muncul dengan pembubaran Koperasi adalah bagaimana nasib aktiva dan pasiva Koperasi tersebut.

Sebelum terjadinya pembubaran Koperasi, tindakan pertama yang di lakukan oleh Pemerintah yaitu Pembekuan Koperasi. Pembekuan Koperasi adalah pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali kepada Koperasi yang Badan Hukumnya telah dibekukan artinya Koperasi tersebut tidak boleh melakukan transaksi apapun. Putusan hukum antara Pemerintah dengan Koperasi dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah, dimana atas pertanggungjawaban tersebut Koperasi tidak bisa di aktifkan kembali dan/atau Koperasi tersebut dibubarkan dan/atau Koperasi tersebut dileburkan dan/atau digabungkan dengan Koperasi yang di tunjuk oleh pihak Koperasi. Disamping itu terdapat Peraturan Menteri Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah Republik Indonesia Nomor 10/Per/M.KUKM/IX/2015 Tentang Kelembagaan Koperasi yang menyatakan Peleburan adalah penyatuan dua Koperasi atau lebih, menjadi satu Koperasi. Namun dalam prakteknya terdapat 9 (sembilan) Koperasi yang dibawah pengawasan Dinas Koperasi dan UMK Provinsi Bali dibekukan Badan Hukumnya, sehingga Koperasi yang bersangkutan menyelesaikan permasalahan yang terdapat di Koperasinya.

(12)

Berdasarkan permasalahan diatas, dibuatlah penelitian dengan judul: “PEMBEKUAN

BADAN HUKUM KOPERASI OLEH DINAS KOPERASI DAN UKM PROVINSI BALI”.

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang di atas, dapat diuraikan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan dilakukannya tindakan pembekuan Koperasi oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali?

2. Apa akibat hukum apabila koperasi yang sudah dilakukan pembekuan oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Untuk menghindari pembahasan yang menyimpang dan keluar dari permasalahan yang dibahas maka perlulah adanya pembatasan dalam ruang lingkup masalah, adapum pembatasannya adalah sebagai berikut:

1. Terhadap permasalahan yang pertama, ruang lingkupnya meliputi faktor-faktor yang menyebabkan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali dalam melakukan tindakan pembekuan terhadap Koperasi.

2. Terhadap permasalahan yang kedua, ruang lingkupnya meliputi akibat hukum yang diterima oleh Koperasi jika telah terjadinya pembekuan.

(13)

1.4 Orisinalitas Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan 2 (dua) contoh skripsi ilmu hukum terdahulu yang didapat melalui penelusuran Skripsi. Dimana hal ini dimaksudkan sebagai referensi penelitian dan untuk menghindari terjadinya plagiasi serta menyatakan bahwa tulisan ini memang hasil karya dan pemikiran sendiri, adapun skripsi yang dimaksud yaitu:

No .

Judul Penulis Rumusan Masalah

1.

2.

Akibat hukum tindakan pengurus Koperasi

yang melampaui

anggaran dasar (ultra vires).

Penyelesaian Kredit Macet dengan Jaminan pada Koperasi Simpan Pinjam di Denpasar. I Gede Parama Iswara (Fakultas Hukum Universitas Udayana) Amalia Yustika Febriani (Fakultas Hukum Universitas Udaya) 1. Bagaimanakah konsep hukum tindakan pengurus Koperasi yang melampaui anggaran dasar?

2. Bagaimanakah akibat hukum dari tindakan pengurus Koperasi yang melampaui anggaran dasar?

1. Bagaimana penyelesaian kredit macet dengan jaminan pada Koperasi Simpan Pinjam di Denpasar?

2. Bagaimana kendala-kendala yang dihadapi oleh Koperasi simpan pinjam dalam melakukan eksekusi terhadap jaminan kredit?

(14)

Tujuan penelitian merupakan rumusan kalimat yang menunjukkan adanya hasil yang diperoleh setelah penelitian selesai dilakukan. Tujuan penelitian dibedakan menjadi dua macam, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

Tujuan umum (het doel van her onderzoek) mengandung uraian secara garis besar tentang upaya penelitian dalam rangka pengembangan ilmu hukum terkait dengan paradigma ilmu sebagai proses (science as a process) agar pembahasan mengenai bidang obyeknya masing-masing tidak pernah final dalam pengendalian kebenarannya.9 Tujuan khusus (het doel in het onderzoek) mengandung uraian tentang

upaya peneliti membahas rumusan masalah yang terdapat dalam pembahasan rumusan permasalahan penelitian. Selanjutnya tujuan umum dan tujuan khusus tersebut akan dirumuskan sebagai berikut.

1.5.1 Tujuan umum

Tujuan umum dari penulisan skripsi ini adalah secara umum bertujuan untuk mengetahui bagaimana faktor-faktor yang menyebabkan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali dalam melakuan tindakan pembekuan serta akibat hukumnya jika terjadi pembekuan koperasi yang bernaung di bawah Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali.

1.5.2 Tujuan khusus

9 Universitas Udayana, 2013, Buku Pedoman Pendidikan Fakultas Hukum Universitas Udayana, Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar, h.75.

(15)

Adapun tujuan khusus dari penulisan skripsi ini adalah:

a. Untuk memahami lebih mendalam faktor-faktor yang menyebabkan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali dalam melakukan pembekuan Koperasi.

b. Untuk memahami lebih mendalam akibat hukum apabila koperasi yang sudah dilakukan pembekuan oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali.

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan dalam Penulisan Skripsi ini selain memiliki manfaat teoritis juga memiliki manfaat praktis sesuai dengan tujuan penelitian ini. Manfaat penelitian ini:

1.6.1 Manfaat teoritis

1.6.1.1 Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam perkembangan ilmu hukum khususnya hukum Koperasi yaitu upaya penyelesaian ijin koperasi dalam pembekuan koperasi oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali.

1.6.1.2 Menambah kepustakaan ilmu hukum, khususnya dalam ilmu hukum perdata dan hukum bisnis tentang Koperasi.

(16)

1.6.2 Manfaat praktis

1.6.2.1 Bagi penulis, penulis skripsi ini sebagai pengamatan untuk mengamati dan memperdalam pengetahuan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali melakukan tindakan pembekuan dan akibat hukum apabila koperasi sudah dibekukan oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali.

1.6.2.2 Diharapkan melalui penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan pikiran serta dapat dijadikan referensi dalam melakukan penelitian mengenai Koperasi.

1.7 Landasan Teoritis

Ada asumsi yang menyatakan, bahwa bagi suatu penelitian, maka teori mempunyai beberapa kegunaan yaitu sebagai berikut:

a. Teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya.

b. Teori sangat berguna di dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan definisi-definsi.

c. Teori biasanya merupakan suatu ikhtisar dari pada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang diteliti.

(17)

d. Teori memberikan kemungkinan di prediksi fakta mendatang, dikarenakan telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mungkin faktor-faktor tersebut akan timbul lagi pada masa-masa mendatang.

e. Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada pengetahuan peneliti.10

Maka berdasarkan kegunaan tersebut teori sangat diperlukan dalam suatu penelitian agar tercapainya kesimpulan yang kongkrit dan baik. Landasan teori merupakan butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis yang mungkin disetujui ataupun tidak disetujui. Adapun dalam penelitian ini tidak hanya teori yang digunakan untuk mencari kesimpulan yang sebaik-baiknya, terdapat pula asas-asas, konsep-konsep hukum, serta doktrin yang memiliki korelasi yang erat dengan permasalahan yang dibahas yaitu Tinjauan Yuridis Upaya Pencabutan Badan Hukum Koperasi dalam Pembekuan Koperasi di Provinsi Bali.

Untuk mewujudkan tujuan nasional yaitu tercapainya masyarakat adil dan makmur seperti tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonedia Tahun 1945, salah satu sarananya adalah Koperasi. Sebagai sarana untuk mencapai masyarakat adil dan makmur, Koperasi tidak lepas pula dari landasan-landasan hukum sebagai landasan-landasan berpijaknya koperasi di Indonesia.

(18)

Sebagai organisasi ekonomi yang bertujuan memperjuangkan kepentingan ekonomi anggotanya, dan masyarakat pada umumnya, kehadiran Koperasi sangat dibutuhkan oleh masyarakat ekonomi lemah. Tetapi kenyataannya, justru masyarakat golongan ekonomi lemah masih banyak yang belum memahami arti pentingnya Koperasi bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi mereka.

Dalam mendirikan koperasi maupun membubarkan Koperasi haruslah mengikuti aturan-aturan yang telah di buat oleh Pemerintah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian maupun aturan yang telah di buat oleh departemen Koperasi.

Suatu Koperasi hanya dapat didirikan bila memenuhi persyaratan dalam mendirikan Koperasi. Syarat-syarat pembentukan Koperasi berdasarkan Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia Nomor: 104.1/Kep/M.Kukm/X/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar Koperasi, adalah sebagai berikut :

a. Koperasi primer dibentuk dan didirikan oleh sekurang-kurangnya dua puluh orang yang mempunyai kegiatan dan kepentingan ekonomi yang sama;

b. Pendiri Koperasi primer sebagaimana tersebut pada huruf a adalah Warga Negara Indonesia, cakap secara hukum dan maupun melakukan perbuatan hukum;

(19)

c. Usaha yang akan dilaksanakan oleh Koperasi harus layak secara ekonomi, dikelola secara efisien dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi anggota;

d. Modal sendiri harus cukup tersedia untuk mendukung kegiatan usaha yang akan dilaksanakan oleh Koperasi;

e. Tenaga terampil dan mampu untuk mengelola Koperasi.

Selain persyaratan diatas, perlu juga diperhatikan beberapa hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pembentukan Koperasi antara lain sebagai berikut:

a. Orang-orang yang akan mendirikan Koperasi dan yang nantinya akan menjadi anggota Koperasi hendaknya mempunyai kegiatan dan kepentingan ekonomi yang sama. Artinya tidak setiap orang dapat mendirikan dan atau menjadi anggota Koperasi tanpa didasarkan pada adanya kejelasan mengenai kegiatan atau kepentingan ekonomi yang akan dijalankan. Kegiatan ekonomi yang sama diartikan memiliki profesi atau usaha yang sama, sedangkan kepentingan ekonomi yang sama diartikan memiliki kebutuhan ekonomi yang sama.

b. Usaha yang akan dilaksanakan oleh Koperasi harus layak secara ekonomi. Layak secara ekonomi diartikan bahwa usaha tersebut akan dikelola secara efisien dan mampu menghasilkan keuntungan usaha dengan memperhatikan faktor-faktor tenaga kerja, modal dan teknologi.

(20)

c. Modal sendiri harus cukup tersedia untuk mendukung kegiatan usaha yang akan dilaksanakan oleh Koperasi. Hal tersebut dimaksudkan agar kegiatan usaha Koperasi dapat segera dilaksanakan tanpa menutup kemungkinan memperoleh bantuan, fasilitas dan pinjaman dari pihak luar.

d. Kepengurusan dan manajemen harus disesuaikan dengan kegiatan usaha yang akan dilaksanakan agar tercapai efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan Koperasi. Perlu diperhatikan mereka yang nantinya ditunjuk/ dipilih menjadi pengurus haruslah orang yang memiliki kejujuran, kemampuan dan kepemimpinan, agar Koperasi yang didirikan tersebut sejak dini telah memiliki kepengurusan.

Dalam Penulisan Skripsi ini mengangkat mengenai Pembekuan Koperasi. Pembekuan Koperasi dilaksanakan jika ada Koperasi yang telah melakukan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Dimana sebelum dilaksanakannya Pembubaran Koperasi Pemerintah tidak serta merta membubarkan Koperasi tersebut, tetapi melaksanakan Pembekuan Koperasi dimana yang dibekukan adalah Badan Hukumnya serta Koperasi tersebut tidak diperbolehkan melakukan transaksi dalam bentuk apapun.

(21)

Agar suatu tulisan memenuhi kriteria ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana mestinya, maka dalam mengkaji penyusunan diperlukan suatu metode penulisan ilmiah. Adapun metode yang dimaksud adalah:

1.8.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian karya ilmiah ini jenis penelitian yang dipergunakan yaitu penelitian hukum empiris. Penelitian hukum empiris (applied-lawresearch) adalah penelitian hukum mengenai pemberlakuan atau implementasi ketentuan hukum normatife (kodifikasi, Undang-Undang, atau kontrak) secara in-action pada setiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam masyarakat.11

Focus penelitian hukum yuridis-empiris adalah pada penerapan atau implementasi ketentuan hukum normatif (in-abstracto) pada peristiwa hukum tertentu

(in-concreto) dan hasilnya.

Khusus dalam penyusunan skripsi ini dilakukan penelitian dengan mengkaji dasar-dasar Peraturan Perundang-Undangan yang mengatur mengenai Koperasi dengan permasalahan yang terjadi yaitu faktor-faktor yang menyebabkan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali untuk melakukan tindakan pembekuan dan akibat hukum apabila koperasi sudah dibekukan oleh Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali.

11 Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h.134.

(22)

1.8.2 Jenis Pendekatan

Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fakta, yaitu penelitian dengan mengumpulkan fakta-fakta yang terdapat langsung di lapangan yang penulis cari dan amati sendiri secara metodis untuk dijadikan bahan dalam menunjang penulisan skripsi ini.12

Pendekatan fakta digunakan berdasarkan pada fakta atau kenyataan aktual yang terjadi dalam lingkungan Koperasi terkait dengan upaya penyelesaian ijin koperasi dalam pembekuan koperasi. Pendekatan analisis konsep hukum digunakan untuk memahami konsep-konsep aturan tentang Pembekuan Koperasi.

1.8.3 Sifat Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan sifat penelitian eksploratif dan sifat penelitian deskriptif. Penelitian yang sifatnya deskriptif merupakan penelitian secara umum, termasuk di dalamnya penelitian ilmu hukum yang bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau untuk menentukan penyebab suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat. Dengan penelitian yang bersifat deskriptif ini, diharapkan dapat mengetahui efektivitas berlakuya Undang-Undang Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian dan Kitab

12 Sunggono Bambang, 2011, Metodologi Penelitian Hukum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, (selanjutnya disingkat Bambang Sunggono II), h.36.

(23)

Undang-Undang Hukum Perdata sebagai dasar pelaksanaan pinjaman uang melalui Koperasi Simpan Pinjam.

1.8.4 Sumber data

a. Sumber bahan hukum primer

Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mempunyai otoritas (autotitatif), terdiri atas:

1) Undang-Undang NRI 1945.

2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

3) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Tentang PerKoperasian.

4) Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1994 tentang Pembubaran Koperasi.

5) Peraturan Menteri Koperasi dan UKM No. 15/Per/M.KUKM/IX/2015 tentang Usaha Simpam Pinjam oleh Koperasi.

b. Sumber bahan hukum sekunder

Bahan hukum sekunder yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer.13 Bahan hukum sekunder dalam penelitian ini terdiri atas:

13 Amiruddin dan Asikin Zainal, 2016, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, h.30.

(24)

1) Buku-buku hukum mengenai Koperasi.

2) Jurnal-jurnal hukum, Skripsi, Tesis, Artikel dan karya tulis ilmiah yang dimuat di internet.

c. Bahan-bahan hukum Tersier

Bahan hukum tersier yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder.14

1.8.5 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini digunakan teknik pengumpulan bahan hukum berupa studi kepustakaan yang merupakan bahan hukum utama penelitian yang dikumpulkan melalui metode sistematis dengan dicatat melalui sistem kartu (card system) guna untuk lebih memudahkan analisis permasalahan. Adapun bahan-bahan tersebut yang dicatat dalam kartu antara lain permasalahannya, asas-asas, argumentasi, implementasi yang ditempuh, alternatif pemecahannya dan lain sebagainya. Kemudian mengenai kepustakaan yang dominan dipergunakan adalah kepustakaan dalam bidang hukum perdata khususnya Hukum Perdata dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia.

1.8.6 Teknik Analisis Data

14 Mahmud Marzuki Peter, 2011, Penelitian Hukum, Kencana Prenanda Media Grup, Jakarta, h. 93.

(25)

Analisis data sebagai tindak lanjut proses pengolahan data merupakan kerja seorang peneliti yang memerlukan ketelitian.15 Data yang berhasil dikumpulkan baik

data primer maupun data sekunder selanjutnya diolah secara kualitatif yaitu bahan-bahan yang diperoleh dari beberapa sumber dikumpulkan untuk mendapatkan data yang relevan dengan masalah yang diangkat dan disajikan secara deksriptif analisis.

15 Waluyo Bambang, 2008, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Cetakan IV, Sinar Grafika, Jakarta, h.77.

Referensi

Dokumen terkait

Teknik pengumpulan bahan hukum diperoleh dari bahan-bahan hukum kepustakaan dengan cara mencatat bahan-bahan hukum yang berhubungan dengan akta perjanjian kawin dan

Dalam penelitian hanya digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan fakta (the fact approach) yang dilakukan dengan mengkaji dan menganalisa fakta-fakta yang yang

Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah , menguraikan penjelasannya mengenai upah yakni “suatu penerimaan sebagai imbalan dari pengusaha

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 83 tahun 2015 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa, Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 5

Skripsi ini mengangkat masalah tentang tanggung jawab maskapai penerbangan terhadap ganti kerugian atas hilangnya barang bagasi milik penumpang ditinjau

Untuk mengetahui Kendala-kendala mengenai upaya hukum yang dipergunakan dalam mengatasi permasalahan yang timbul apabila terjadi wanprestasi dalam pelaksanaan

Serta dalam penulisan hukum ini tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 tentang

Penulisan skripsi yang berjudul Pelaksanaan “Perjanjian Jual Beli Sepeda Motor Secar Perusahaan Pembiayaan Konsumen Di PT. Adira Finance Denpasar”. Dimana dalam perjanjian Jual