Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 1 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
PUTUSAN
Nomor 318/B/PK/PJK/2017
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG
Memeriksa permohonan peninjauan kembali perkara pajak telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:
DIREKTUR JENDERAL PAJAK, tempat kedudukan di Jalan
Jenderal Gatot Subroto No. 40-42, Jakarta 12190, dalam hal ini memberikan kuasa kepada:
1. Dadang Suwarna, Direktur Keberatan dan Banding, Direktorat Jenderal Pajak;
2. Dayat Pratikno, Kasubdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan Banding;
3. Farchan Ilyas Kepala Seksi Peninjauan Kembali, Subdit Peninjauan Kembali dan Evaluasi Direktorat Keberatan dan Banding;
4. Kusumo Pratiwiningrum, Penelaah Keberatan, Subdit
Peninjauan Kembali dan Evaluasi, Direktorat Keberatan dan banding;
Kesemuanya berkantor di Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 40- 42, Jakarta, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-1983/PJ./2015 tanggal 3 Juni 2015;
Pemohon Peninjauan Kembali dahulu Terbanding;
melawan:
PT. TAPIAN NADENGGAN, beralamat di Plaza BII Lantai 30,
Menara 2, Jl. MH. Thamrin Kav 22 No.51, Gondangdia, Jakarta Pusat;
Termohon Peninjauan Kembali dahulu Pemohon Banding; Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Terbanding, telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.59669/PP/M.IA/16/2015 tanggal 23 Februari 2015 yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon banding, dengan posita perkara sebagai berikut:
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 2 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
Bahwa sehubungan dengan telah diterbitkannya Keputusan Terbanding Nomor KEP-1846/WPJ.19/2013 tanggal 16 Desember 2013 tentang Keberatan Pemohon Banding atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) PPh Pasal 23/26 Final Nomor : 00003/245/08/092/13 tanggal 31 Januari 2013 untuk Masa Pajak Juli 2008 yang diterima oleh Pemohon Banding pada tanggal 20 Desember 2013 maka sesuai dengan Pasal 27 UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Pemohon Banding
mengajukan banding atas Keputusan Terbanding Nomor :
KEP-1846/WPJ.19/2013 tanggal 16 Desember 2013 yang diterbitkan kepada Pemohon Banding;
Ketentuan Formal Banding
1. Sesuai dengan Pasal 35 ayat (1) dan (2) UU Nomor 14 tahun 2002 menyebutkan :
(1) Banding diajukan dengan Surat Banding dalam Bahasa Indonesia kepada Pengadilan Pajak;
(2) Banding diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterima Keputusan yang dibanding, kecuali diatur lain dalam peraturan perundangundangan perpajakan.
2. Sesuai dengan Pasal 36 ayat (1), (2), (3), dan (4) UU Nomor 14 tahun 2002 menyebutkan:
(1). Terhadap 1 (satu) Keputusan diajukan 1 (satu) Surat Banding;
(2). Banding diajukan dengan disertai alasan-alasan yang jelas, dan dicantumkan tanggal diterima surat keputusan yang dibanding.
(3). Pada Surat Banding dilampirkan salinan Keputusan yang dibanding (dalam lampiran);
(4). Selain dari persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) serta Pasal 35, dalam hal Banding diajukan terhadap besarnya jumlah Pajak yang terutang, Banding hanya dapat diajukan apabila jumlah pajak yang terutang yang dimaksud telah dibayar sebesar 50% (lima puluh persen);
Bahwa untuk memenuhi persyaratan formal banding sesuai Pasal 36 ayat (4) maka, Pemohon Banding telah membayar jumlah pajak yang terutang sebesar Rp 4.440.000.000,00; Di samping itu Surat Banding Pemohon Banding juga telah memenuhi Pasal 35 ayat (1) dan (2) serta Pasal 36 ayat (1), (2) dan ayat (3);
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 3 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
3. Sesuai dengan Pasal 37 ayat (1) bahwa Banding hanya dapat diajukan oleh pengurus yaitu Direksi. Dalam hal ini Surat Banding Pemohon Banding juga ditandatangani oleh Ferdianto Wawolangi;
Kronologis Dan Dasar Koreksi Pemeriksa
1. Bahwa pada tanggal 31 Januari 2013, Kantor Pelayanan Wajib Pajak Besar Dua menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar PPh Pasal 23/26 Final untuk masa pajak Juli 2008 Nomor 00003/245/08/092/13 tanggal 31 Januari 2013 dengan perincian sebagai berikut:
No
Uraian
Jumlah Rupiah menurut Terbanding
1 Penghasilan Kena Pajak /DPP 29.593.044.708
2 PPh Pasal 23/26 Final yang terutang 5.918.608.942
3
Kredit Pajak:
a. PPh ditanggung Pemerintah b. Setoran Masa
c. STP (kurang bayar)
d. Kompensasi kelebihan dari Masa Pajak e. Lain-lain
f. Kompensasi kelebihan pajak
g. Jumlah Pajak yang dapat dkreditkan
4 Pajak yang tidak / kurang dibayar 5.918.608942
5 Sanksi Administrasi:
a. Bunga Pasal 13 (2) KUP b. Kenaikan Pasal 13 (3) KUP c. Bunga Pasal 13 (5) KUP d. Kenaikan Pasal 13A KUP e. Jumlah sanksi administrasi
2.840.932.292
2.840.932.292
6 Jumlah PPh yang masih harus dibayar 8.759.541.234
2. Bahwa selanjutnya, Pemohon Banding telah mengajukan permohonan keberatan atas SKPKB PPh 23/26 Final Nomor : 00003/245/08/092/13 tanggal 31 Januari 2013 untuk Masa Pajak Juli 2008 melalui Surat Nomor : 030/TND6-PJK/IV/2013 tanggal 8 April 2013 yang diterima oleh KPP Wajib Pajak Besar Dua pada tanggal 12 April 2013 dimana Pemohon Banding tidak setuju atas koreksi yang dilakukan oleh Pemeriksa;
3. Bahwa menanggapi Surat Keberatan Pemohon Banding, pada tanggal 16 Desember 2013 Terbanding menerbitkan Keputusan Terbanding Nomor : KEP-1846/WPJ.19/2013, yang isinya menolak permohonan keberatan Pemohon Banding, dengan rincian sebagai berikut:
Uraian Semula (Rp) Ditambah/(Dikurangi) (Rp) Menjadi (Rp) DPP 29.593.044.708 - 29.593.044.708
PPh Pasal 23/26 final terutang 5.918.608.942 - 5.918.608.942
Kredit Pajak - - -
PPh kurang lebih Bayar 5.918.608.942 - 5.918.608.942
Sanksi Administrasi 2.840.932.292 2.840.932.292
Jumlah PPh ymh (lebih) dibayar 8.759.541.234 8.759.541.234
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 4 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
Permohonan Banding
Bahwa Pemohon Banding mengajukan banding atas keputusan Terbanding nomor KEP-1846/WPJ.19/2013 tanggal 16 Desember 2013 atas koreksi Terbanding dengan alasan sebagai berikut:
Perincian Menurut SPT/WP Menurut Peneliti Koreksi DPP - 29.593.044.708 29.593.044.70 8 PPh Pasal 23/26 final terutang - 5.918.608.942 5.918.608.942
Kredit Pajak - - -
PPh kurang lebih Bayar - 5.918.608.942 5.918.608.942 Sanksi Administrasi - 2.840.932.292 2.840.932.292 Jumlah PPh 23/26 ymh dibayar - 8.759.541.234 8.759.541.234
Bahwa menurut Pemohon Banding, jumlah PPh Pasal 23/26 final yang masih harus dibayar untuk Masa Pajak Juli 2008 adalah nihil, dengan penjelasan sebagai berikut:
Bahwa Pemeriksa melakukan koreksi atas Objek PPh Pasal 26 sebesar Rp29.593.044.708 untuk masa Juli 2008 dengan dasar koreksi Pemeriksa berdasarkan Pasal 26 ayat (1) huruf d Undang-undang PPh, dan P3B antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Belanda terhadap pembayaran bunga pinjaman kepada GFBV yang berkedudukan di Belanda;
Bahwa Pemohon Banding tidak setuju atas koreksi obyek PPh Pasal 26 tersebut diatas dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) antara Indonesia dan Belanda sudah disetujui dan ditandatangani oleh kedua belah pihak yaitu Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Negara Belanda. P3B ini pun telah diberlakukan melalui Keputusan Presiden (KEPPRES) No. 92 Tahun 2003;
2. Berdasarkan Pasal 11 P3B antara Indonesia dan Belanda menyatakan tentang :
Pasal 11 Bunga
(1) Bunga yang timbul di salah satu Negara dan dibayarkan kepada penduduk Negara lainnya dapat dikenakan pajak di Negara lainnya; (2) Namun demikian, bunga tersebut dapat juga dikenakan pajak di Negara di
mana bunga tersebut berasal dan sesuai dengan perundang-undangan negara tersebut; akan tetapi, apabila pemilik manfaat dari bunga tersebut adalah penduduk Negara lainnya, maka pajak yang dikenakan tidak akan melebihi 10% (sepuluh persen) dari jumlah bruto bunga;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 5 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
(3) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam ayat (2), bunga yang timbui di salah satu Negara hanya akan dikenakan Pajak di Negara lainnya sepanjang bunga tersebut diperoleh:
i. Pemerintah Negara lainnya, termasuk bagian ketatanegaraanya dan Pemerintah daerahnya; atau
ii Bank Sentral Negara lainnya; atau
iii. Lembaga keuangan yang dimiliki atau dikendalikan oleh Pemerintah Negara lainnya, termasuk bagian ketatanegaraannya dan pemerintah daerahnya; atau
iv Setiap Penduduk Negara lainnya sehubungan dengan Piutang yang
dijamin oleh Pemerintah Negara lainnya termasuk bagian
ketatanegraannya dan Pemerintah daerahnya, Bank Sentral Negara lainnya, atau setiap Lembaga Keuangan yang dimiliki atau dikendalikan oleh Pemerintah tersebut”;
(4) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam ayat (2), bunga yang timbul di salah satu Negara hanya akan dikenakan pajak di Negara lainnya jika pemilik manfaat dari bunga tersebut merupakan penduduk Negara lainnya dan jika bunga tersebut dibayarkan atas hutang yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari 2 (dua) tahun atau yang dibayarkan sehubungan dengan penjualan kredit perlengkapan industri, dagang, atau ilmu pengetahuan. (5) Pejabat yang betwenang dari kedua Negara melalui persetujuan bersama
akan mengatur cara-cara untuk menerapkan ayat (2), (3), dan (4).
3. Sedangkan tatacara penerapan P3B diatur oleh Direktur Jenderal Pajak dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-03/PJ.101/1996 tanggal 29 Maret 1996 mengenai Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) yang menyebutkan bahwa:
“...untuk memberikan kemudahan bagi semua pihak, penerapan PPh Pasal 26 sesuai dengan P38 dilaksanakan sebagai berikut:
a. Wajib Pajak luar negeri wajib menyerahkan asli Surat Keterangan Domisili kepada pihak yang berkedudukan di Indonesia yang membayar penghasilan dan menyampaikan fotokopi Surat Keterangan Domisili tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat pihak yang membayar penghasilan terdaftar;
b. Asli Surat Keterangan Domisili tersebut menjadi dasar bagi pihak yang membayar penghasilan untuk menerapkan PPh Pasal 26 sesuai dengan yang ditegaskan dalam P3B yang berlaku antara Indonesia dengan negara tempat kedudukan (residence) dari Wajib Pajak luar negeri tersebut ..."
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 6 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
4. Bahwa berdasarkan Surat Keterangan Domisili dari Goederhand Finance B.V. (GFBV) yang telah Wajib Pajak sampaikan pada saat proses
pemeriksaan, secara tegas dinyatakan bahwa GFBV merupakan
penduduk/residen di Negara Belanda. Berikut adalah kutipan dari Surat Keterangan Domisili tersebut:
GOEDERHAND FINANCE B.V. Claude Debussylaan 25 1082 MD AMSTERDAM
is a resident of the Netherlands within the meaning of article 4 of the agreement between the Netherland and the Republik of Indonesia for the avoidance of double taxation...
5. Selain itu, berdasarkan sistem perpajakan di Indonesia, Tax Treaty adalah merupakan lex specialis dari UU PPh. Sesuai dengan asas lex specialis derogat legi generalis disebutkan bahwa ketentuan di dalam Tax Treaty meniadakan ketentuan yang sama dengan yang terdapat di dalam UU PPh. Dengan demikian, ketentuan material mengenai pemajakan terhadap Wajib Pajak Luar Negeri mengikuti ketentuan Tax Treaty yang berlaku;
6. bahwa selanjutnya berdasarkan bukti perjanjian dengan GFBV, disebutkan bahwa jangka waktu peminjaman lebih dari 2 tahun. Berdasarkan keterangan di atas dan mengacu pada Pasal 11 P3B Indonesia - Belanda, maka hak pemajakan atas penghasilan bunga pinjaman tersebut ada di Negara Belanda. Hal ini sudah sesuai dengan Tax Treaty yang telah disahkan di kedua belah negara. Maka Hak pemajakannya berada di belanda bukan di Indonesia;
7. bahwa oleh karena itu menurut Pemohon Banding, koreksi Pemeriksa atas biaya bunga Belanda tersebut seharusnya dibatalkan;
Bahwa sesuai dengan uraian di atas, menurut Pemohon Banding jumlah PPh 23/26 final yang masih harus dibayar untuk Masa Oajak Juli 2008 adalah sebagai berikut:
No Uraian Jumlah Rupiah menurut Terbanding
1 Penghasilan Kena Pajak /DPP -
2 PPh Pasal 23/26 Final yang terutang -
3
Kredit Pajak:
a. PPh ditanggung Pemerintah b. Setoran Masa
c. STP (kurang bayar)
d. Kompensasi kelebihan dari Masa Pajak e. Lain-lain
f. Kompensasi kelebihan pajak
g. Jumlah Pajak yang dapat dkreditkan
4 Pajak yang tidak / kurang dibayar -
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 7 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
5 Sanksi Administrasi:
a. Bunga Pasal 13 (2) KUP b. Kenaikan Pasal 13 (3) KUP c. Bunga Pasal 13 (5) KUP d. Kenaikan Pasal 13A KUP e. Jumlah sanksi administrasi
-
-
6 Jumlah PPh yang masih harus dibayar -
Menimbang, bahwa amar Putusan Pengadilan Pajak Nomor
Put.59669/PP/M.IA/16/2015 tanggal 23 Februari 2015 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut:
Mengabulkan seluruhnya Banding Pemohon Banding terhadap
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP-1846/WPJ.19/2013 tanggal 16 Desember 2013, tentang keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Pajak Penghasilan Pasal 23/26 Final Masa Pajak Juli 2008 Nomor: 00003/245/08/092/13 tanggal 31 Januari 2013, atas nama : PT. Tapian
Nadenggan, NPWP: 01.213.180.1-092.000, beralamat di Plaza BII Menara 2
Lt.30, Jl. MH. Thamrin No.51, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, 10350, sehingga jumlah pajak yang harus dibayar menjadi nihil, dengan perhitungan sebagai berikut :
Penghasilan Kena Pajak / Dasar Pengenaan Pajak Rp. 0,00
PPh Pasal 26 yang terutang Rp. 0,00
Kredit Pajak Rp 0,00
Jumlah Pajak yang masih harus dibayar Rp. 0,00
Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap yaitu Putusan Pengadilan Pajak Nomor
Put.59669/PP/M.IA/16/2015 tanggal 23 Februari 2015, diberitahukan kepada Pemohon Peninjauan Kembali pada Tanggal 23 Maret 2015, kemudian terhadapnya oleh Pemohon Peninjauan Kembali dengan perantaraan kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus Nomor SKU-1983/PJ./2015 tanggal 3 Juni 2015, diajukan permohonan peninjauan kembali secara tertulis di Kepaniteraan Pengadilan Pajak pada tanggal 15 Juni 2015, dengan disertai alasan-alasannya yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 15 Juni 2015
Menimbang, bahwa tentang permohonan peninjauan kembali tersebut telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama pada tanggal 23 September 2016, kemudian terhadapnya oleh pihak lawannya diajukan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 8 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
Jawaban yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Pajak tersebut pada tanggal 25 Oktober 2016;
Menimbang, bahwa permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan-alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, juncto Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak, maka permohonan peninjauan kembali tersebut secara formal dapat diterima;
ALASAN PENINJAUAN KEMBALI
Menimbang, bahwa Pemohon Peninjauan Kembali telah mengajukan alasan Peninjauan Kembali yang pada pokoknya sebagai berikut:
I. Tentang Alasan Pengajuan Peninjauan Kembali
Bahwa putusan Pengadilan Pajak Nomor: Put.59669/PP/M.IA/13/2015 tanggal 23 Pebruari 2015 telah dibuat dengan tidak memperhatikan ketentuan yuridis formal atau mengabaikan fakta yang menjadi dasar pertimbangan dalam koreksi yang dilakukan Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding), sehingga menghasilkan putusan yang tidak adil dan tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku di Indonesia. Oleh karenanya Putusan Pengadilan Pajak Nomor: Put.59669/PP/M.IA/13/2015 tanggal 23 Pebruari 2015 diajukan Peninjauan Kembali berdasarkan ketentuan Pasal 91 huruf e Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak :
Permohonan Peninjauan Kembali dapat diajukan berdasarkan alasan sebagai berikut: e. Apabila terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
II. Tentang Formal Jangka Waktu Pengajuan Memori Peninjauan Kembali;
1. Bahwa Salinan Putusan Pengadilan Pajak Nomor
Put.59669/PP/M.IA/13/2015 tanggal 23 Pebruari 2015, atas nama PT. Tapian Nadenggan (Termohon Peninjauan Kembali/semula Pemohon Banding), telah diberitahukan secara patut dan dikirimkan oleh Pengadilan Pajak kepada Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) dengan surat nomor P.363/PAN/2015 tanggal 16 Maret 2015 yang disampaikan secara langsung kepada Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) pada tanggal 27 Maret
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 9 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
2015 sesuai Tanda Terima Surat TPST Direktorat Jenderal Pajak
Nomor Dokumen 201503270325.
2. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 91 huruf e dan Pasal 92 ayat (3)
juncto Pasal 1 angka 11 UU Pengadilan Pajak, maka pengajuan
Memori Peninjauan Kembali atas Putusan Pengadilan Pajak Nomor: Put.59669/PP/M.IA/13/2015 tanggal 23 Pebruari 2015 ini ini masih dalam tenggang waktu yang diijinkan oleh Undang-undang Pengadilan Pajak atau setidak-tidaknya antara tenggang waktu pengiriman/pemberitahuan Putusan Pengadilan Pajak tersebut dengan Permohonan Peninjauan Kembali ini belum lewat waktu sebagaimana telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, sudah sepatutnyalah Memori Peninjauan Kembali ini diterima oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia.
III. Tentang Pokok Sengketa Pengajuan Peninjauan Kembali
Bahwa yang menjadi pokok sengketa dalam permohonan Peninjauan Kembali ini adalah sebagai berikut:
Tentang Koreksi Positif Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 26 Masa Pajak Juli 2008 Sebesar Rp29.593.044.708,00 yang Tidak Dapat Dipertahankan Oleh Majelis Hakim Pengadilan Pajak.
IV. Tentang Pembahasan Pokok Sengketa Peninjauan Kembali
Bahwa setelah Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) membaca, memeriksa dan meneliti Putusan Pengadilan Pajak Nomor: Put.59669/PP/M.IA/13/2015 tanggal 23 Pebruari 2015, maka dengan ini menyatakan sangat keberatan atas putusan Pengadilan Pajak tersebut, karena pertimbangan hukum yang keliru dan telah mengabaikan fakta-fakta hukum (rechtsfeit) dan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dalam pemeriksaan Banding di Pengadilan Pajak atau setidak-tidaknya telah membuat suatu kekhilafan baik berupa error facti
maupun error juris dalam membuat pertimbangan-pertimbangan
hukumnya, sehingga pertimbangan hukum dan penerapan dasar hukum yang telah digunakan menjadi tidak tepat serta menghasilkan putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan
(contra legem), khususnya peraturan perundang- undangan perpajakan
yang berlaku;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 10 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
1. Bahwa pertimbangan hukum dan pendapat Majelis Hakim
Pengadilan Pajak atas sengketa a quo ini sebagaimana tertuang
dalam putusan a quo yang antara lain menyatakan sebagai berikut:
bahwa Majelis berpendapat, yang menjadi pokok sengketa adalah penerapan Pasal 11 P3B antara Indonesia dengan Belanda, menurut Terbanding pembayaran bunga tersebut harus dikenakan PPh pasal 26 berdasarkan ketentuan pasal 11 ayat (2) P3B, sedangkan menurut Pemohon Banding tidak dapat dikenakan PPh Pasal 26 sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (4) P3B;
bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 11 P3B antara Indonesia dengan Belanda, diatur sebagai berikut:
(1) Bunga yang timbul di salah satu Negara dan dibayarkan kepada penduduk Negara lainnya dapat dikenakan pajak di Negara lainnya.
(2) Namun demikian, bunga tersebut dapat juga dikenakan pajak di Negara di mana bunga tersebut berasal dan sesuai dengan perundang-undangan Negara tersebut; akan tetapi apabila pemilik manfaat dari bunga tersebut adalah penduduk Negara lainnya, maka pajak yang dikenakan tidak akan melehihi 10% (sepuluh persen) danjumlah bruto bunga.
(3) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam ayat 2, bunga yang timbul di salah satu Negara hanya akan dikenakan pajak di Negara lainnya sepanjang bunga tersebut diperoleh:
(a) Pemerintah Negara lainnya, termasuk bagian ketatanegaraannya dan pemerintah daerahnya; atau
(b) Bank Sentral Negara lainnya; atau
(c) Lembaga keuangan yang dimiliki atau dikendalikan oleh Pemerintah Negara lainnya termasuk bagian ketatanegaraannya dan pemerintah daerahnya; atau
(d) setiap penduduk Negara lainnya sehubungan dengan piutang yang dijamin oleh Pemerintah Negara lainnya termasuk bagian ketatanegaraannya dan pemerintah daerahnya, Bank Sentral Negara lainnya, atau setiap lembaga keuangan yang dimiliki atau dikendalikan oleh Pemerintah tersebut.
(4) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam ayat 2, bunga yang timbul di salah satu Negara hanya akan dikenakan pajak di Negara lainnya jika pemilik manjaat dari bunga tersebut
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 11 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
merupakan penduduk Negara lainnya dan jika bunga tersebut dibayarkan atas hutang yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari 2 (dua) tahun atau yang dibayarkan sehubungan dengan penjualan kredit perlengkapan industri, dagang, atau ilmu pengetahuan.
(5) Pejabat yang berwenang dari kedua Negara melalui persetujuan bersama akan mengatur cara-cara untuk menerapkan ayat 2, 3, dan 4.
bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 11 ayat (5) P3B Indonesia - Belanda secara tegas mengatur bahwa pejabat yang berwenang dari kedua negara melalui kesepakatan bersama menyusun tata cara (mode) penerapan ayat 2, 3 dan 4, namun sampai dengan sengketa ini disidangkan, tata cara tersebut belurn dapat disusun;
bahwa karena tata cara sebagaimana ketentuan Pasal 11 ayat (5) tersebut belum disusun, maka secara sepihak Terbanding membuat suatu aturan sendiri, antara lain berupa:
- Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor :SE-04/P 34/2005 tanggal 7 Juli 2005 tentang Petunjuk Penetapan Kriteria Beneficial Owner sebagaimana tercantum dalam P3B antara Indonesia dengan negara lainnya;
- Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER-62?PJ/2009 tentang Pencegahan Penyalahgunaan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda;
bahwa berdasarkan Surat Edaran dan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut Terbanding menyimpuikan bahwa Goederhand Finance BV bukan merupakan penerima manfaat yang sebenarnya (Beneficial Owner), sehingga bunga yang dibayarkan oleh Pemohon Banding harus dikenakan Pajak Penghasilan Pasal 26 sebesar 20%, sebagaimana diatur dalam Pasal 11 ayat (2) P3B Indonesia - Belanda;
bahwa Majelis berpendapat, pengaturan sepihak oleh Terbanding dalam menerapkan ketentuan Pasal 11 ayat (2) P3B Indonesia - Belanda bertentangan atau menyimpang dari ketentuan yang diatur dalam Pasal 11 ayat (5) P3B itu sendiri, dan tindakan sepihak tersebut dapat mengakibatkan terjadinya pemungutan pajak ganda, yang sehamsnya dihindarkan sebagaimana telah disepakati oleh kedua negara;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 12 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
bahwa berdasarkan Declaration of Residence, yang diterbitkan oleh Inspector of the Tax Administration Rijnmond/Kantor Rotterdam tanggal 7 Desember 2012 yang ditandatangani oleh H.H Dissel, dinyatakan sebagai berikut:
“From Januari 1, 2005, till date of the letter was and is a residendent of the Netherlands within the meaning of article 4 of Convention for the avoidance of double taxation between the Netherlands and Republic of Indonesia.
The place of effective management of Goederhand Finance BV is in the Netherlands and the interest income received by Goederhand Finance BV on the loan provided is included in the Dutch taxable income of Goederhand Finance BV";
bahwa berdasarkan surat pernyataan tersebut dinyatakan bahwa sejak tanggal 1 Januari sampai dengan 7 Desember 2012 managemen Goederhand Finance BV berkedudukan di Belanda dan pendapatan atas bunga pinjaman yang diberikan merupakan pendapatan yang dikenakan pajak di Belanda;
bahwa Majelis berpendapat pengenaan pajak oieh Pemerintah Belanda atas bunga yang diterima oleh Goederhand Finance BV dari Pemohon Banding telah sesuai dengan ketentuan Pasal 11 ayat (1) P3B Indonesia - Belanda, yang penerapannya tidak memerlukan persetujuan lebih lanjut dari Pemerintah Indonesia;
bahwa berdasarkan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor: SE-03/PJ. 101/1996 tanggal 29 Maret 1996 tentang Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) antara lain diatur:
“...untuk memberikan kemudahan bagi semua pihak, penerapan PPh Pasal 26 sesuai dengan P38 dilaksanakan sebagai berikut: a. Wajib Pajak luar negeri wajib menyerahkan asli Surat Keterangan
Domisili kepada pihak yang berkedudukan di Indonesia yang membayar penghasilan dan menyampaikan fotokopi Surat Keterangan Domisili tersebut kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat pihak yang membayar penghasilan terdaftar; b. Asli Surat Keterangan Domisili tersebut menjadi dasar bagi pihak
yang membayar penghasilan untuk menerapkan PPh Pasal 26 sesuai dengan yang ditegaskan dalam P3B yang berlaku antaraIndonesia dengan negara tempat kedudukan (residence) dari Wajib Pajak luar negeri tersebut..."
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 13 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
bahwa P3B Indonesia-Belanda telah ditandatangani oleh kedua negara, oleh karena itu P3B merupakan undang-undang yang harus dipatuhi oleh kedua negara, sebagaimana diatur dalam konvensi Wina, oleh karena itu peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku pada masing-masing negara tidak dapat diterapkan secara sepihak apabila bertentangan dengan P3B yang telah disepakati;
bahwa berdasarkan uraian tersebut Majelis berpendapat, pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 26 berdasarkan Undang-undang Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 merupakan tindakan sepihak Terbanding, yang bertentangan dengan ketentuan Pasal 11 ayat (5) P3B Indonesia - Belanda, sehingga mengakibatkan terjadinya pemungutan pajak secara ganda;
bahwa atas kasus yang sama untuk tahun pajak 2006, Mahkamah Agung Republik Indonesia telah memutus perkara Peninjauan Kembali atas Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.32083/PP/M.V/13/2011 yang diajukan oleh Direktur Jenderal Pajak selaku Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) melawan PT Tapian Nadenggan selaku Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding);
bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor: 860/B/PK/PJK/2012 tanggal 25 Maret 2013, Majelis Hakim Mahkamah Agung RI memutuskan menolak Permohonan Peninjauan Kembali Direktur Jenderal Pajak selaku Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) atas koreksi DPP PPh Pasal 26 atas pembayaran bunga kepada Goederhand Finance BV yang tidak dipertahankan oleh Majelis Hakim Pengadilan Pajak;
bahwa berdasarkan uraian di atas serta memperhatikan bukti-bukti yang diserahkan dalam persidangan, Majelis berpendapat atas pembayaran bunga yang dilakukan Pemohon Banding ke Goederhand Finance B.V yang berkedudukan di Belanda, hak pemajakannya ada di negara Belanda sebagaimana ketentuan yang diatur dalam Pasal II ayat (1) dan ayat (4) P3B Indonesia -Belanda, Jo Surat edaran Dirjen Pajak Nomor : SE-03/PJ.101/1996 tanggal 29 Maret 1996 tentang Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B);
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 14 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut, Majelis berkesimpulan koreksi Terbanding atas DPP PPh Pasal 26 Masa Pajak Juli 2008 sebesar Rp29.593.044.708,00 tidak dapat dipertahankan sehingga harus dibatalkan;
2. Bahwa ketentuan perundang-undangan yang terkait dengan pokok
sengketa yang digunakan sebagai dasar hukum peninjauan kembali antara lain sebagai berikut:
2. 1. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (UU Pengadilan Pajak), yang antara lain menyebutkan :
Pasal 76:
Hakim menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian beserta penilaian pembuktian dan untuk sahnya pembuktian diperlukan paling sedikit 2 (dua) alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1);
Memori penjelasan Pasal 76 menyebutkan:
Pasal ini memuat ketentuan dalam rangka menentukan kebenaran materiil, sesuai dengan asas yang dianut dalam Undang-undang perpajakan;
Oleh karena itu, Hakim berupaya untuk menentukan apa yang harus dibuktikan, beban pembuktian, penilaian yang adil bagi para pihak dan sahnya bukti dari fakta yang terungkap dalam persidangan, tidak terbatas pada fakta dan hal-hal yang diajukan oleh para pihak;
Pasal 78:
Putusan Pengadilan Pajak diambil berdasarkan hasil penilaian pembuktian, dan berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang bersangkutan, serta berdasarkan keyakinan hakim;
Memori penjelasan Pasal 78 menyebutkan:
Keyakinan Hakim didasarkan pada penilaian pembuktian dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan.
2. 2. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 (UU PPh), yang antara lain mengatur sebagai berikut :
Pasal 26 ayat (1) huruf b
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 15 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
Atas penghasilan tersebut di bawah ini, dengan nama dan dalam bentuk apapun, yang dibayarkan atau yang terutang oleh badan pemerintah, Subjek Pajak dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia, dipotong pajak sebesar 20% (dua puluh persen) dari jumlah bruto oleh pihak yang wajib membayarkan bunga, termasuk premium, diskonto, premi swap dan imbalan sehubungan dengan jaminan pengembalian utang
Pasal 32A
Pemerintah berwenang untuk melakukan perjanjian dengan pemerintah negara lain dalam rangka penghindaran pajak berganda dan pencegahan pengelakan pajak
2. 3. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) Indonesia-Belanda, yang antara lain mengatur sebagai berikut:
Pasal 11
Ayat (1)
Bunga yang timbul di salah satu Negara dan dibayarkan kepada penduduk Negara lainnya dapat dikenakan pajak di Negara lainnya.
Ayat (2)
Namun demikian, bunga tersebut dapat juga dikenakan pajak di Negara di mana bunga tersebut berasal dan sesuai dengan perundang-undangan Negara tersebut; akan tetapi, apabila pemilik manfaat dari bunga tersebut adalah penduduk Negara lainnya, maka pajak yang dikenakan tidak akan melebihi 10% (sepuluh persen) dan jumlah bruto bunga.
Ayat (4)
Menyirnpang dari ketentuan-ketentuan dalam ayat 2, bunga yang timbul di salah satu Negara hanya akan dikenakan pajak di Negara lainnya jika pemilik manfaat dari bunga tersebut merupakan penduduk Negara lainnya dan jika bunga tersebut dibayarkan atas hutang yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari 2 (dua) tahun atau yang dibayarkan sehubungan dengan penjualan kredit perlengkapan industri, dagang, atau ilmu pengetahuan.
Ayat (5)
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 16 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
Pejabat yang berwenang dari kedua Negara melalui persetujuan bersama akan mengatur cara-cara untuk menerapkan ayat 2, 3, dan 4
2. 4. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE- 17/PJ./2005 tentang Petunjuk Perlakuan Pajak Penghasilan Pasal 11 tentang Bunga pada Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) antara Indonesia dengan Belanda, yang antara lain mengatur:
1) Terhadap ketentuan Pasal 11 ayat (2), tidak diperlukan tatacara pelaksanaannya, sehubungan dengan tidak terdapat permasalahan dalam pelaksanaannya. Wajib Pajak Indonesia yang mempunyai utang atau pinjaman kepada penduduk Belanda baik perorangan maupun badan, diwajibkan melakukan pemotongan PPh Pasal 26 dengan tarif 10% (sepuluh perseratus) dari jumlah bruto bunga yang dibayarkan.
2) Terhadap ketentuan Pasal 11 ayat (4), mengingat tatacara pelaksanaannya belum dibicarakan antara "Pejabat yang Berwenang" Indonesia dan Belanda, maka berlaku ketentuan sebagaimana tercantum dalam butir 1 tersebut di atas yaitu wajib pajak Indonesia yang mempunyai utang atau pinjaman kepada penduduk Belanda baik perorangan maupun badan, diwajibkan untuk melakukan pemotongan PPh Pasal 26 dengan tarif 10% (sepuluh perseratus) dari jumlah bruto bunga yang dibayarkan.
2. 5. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-04/PJ.34/2005 tanggal 07 Juli 2005 tentang Petunjuk Penetapan kriteria “Beneficial Owner” sebagaimana Tercantum dalam Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda antara
Indonesia dengan Negara Lainnya, yang antara lain
menyatakan:
a) Yang dimaksud dengan "beneficial owner" adalah pemilik yang sebenarnya dari penghasilan berupa Dividen, Bunga dan atau Royalti baik Wajib Pajak Perorangan maupun Wajib pajak Badan, yang berhak sepenuhnya untuk menikmati secara langsung manfaat penghasilan-penghasilan tersebut;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 17 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
b) Dengan demikian, maka "special purpose vehicles" dalam bentuk "conduit company", "paper box company","pass-through company" serta yang sejenis lainnya, tidak termasuk dalam pengertian "beneficial owner" tersebut di atas;
c) Apabila terdapat pihak-pihak lain yang bukan merupakan "beneficial owner" sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b tersebut, yang menerima pembayaran Dividen, Bunga dan atau Royalti yang bersumber dari Indonesia, maka pihak yang membayarkan Dividen, Bunga dan atau Royalti tersebut diwajibkan melakukan pemotongan PPh Pasal 26 sesuai Undang-Undang Pajak Penghasilan Indonesia dengan tarif 20% (dua puluh perseratus) dari jumlah bruto yang dibayarkan;
3. Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding)
melakukan koreksi DPP PPh Pasal 26 sebesar Rp29.593.044.708,00 masa pajak Juli 2008 karena terdapat pembayaran bunga kepada Goederhand Finance B.V (GFBV) yang berdomisili di Belanda yang belum dipotong pajaknya oleh Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding);
4. Bahwa Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding)
tidak setuju dengan koreksi tersebut karena pembayaran bunga yang dilakukan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) kepada GFBV tidak dikenakan PPh Pasal 26 sesuai dengan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) Indonesia-Belanda;
5. Bahwa dengan demikian materi sengketa adalah sengketa yuridis
atas pembayaran bunga yang dilakukan Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) kepada GFBV sebesar Rp29.593.044.708,00 apakah dikenakan PPh Pasal 26.
6. Bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan
yang berlaku dan berdasarkan hasil pemeriksaan sengketa banding di Pengadilan Pajak sebagaimana yang telah dituangkan dalam Putusan Pengadilan Pajak a quo serta berdasarkan hasil penelitian atas dokumen-dokumen milik Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding) dan fakta-fakta yang nyata-nyata terungkap pada persidangan, maka Pemohon Peninjauan Kembali (semula
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 18 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
Terbanding) menyatakan sangat keberatan dengan putusan Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang tidak mempertahankan
Koreksi Positif DPP PPh Pasal 26 Masa Pajak Juli 2008 sebesar Rp29.593.044.708,00 sebagaimana diuraikan pada point V.1 di atas
dengan argumentasi sebagai berikut:
6.1. Bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan sebagaimana telah dinyatakan pada point V.2 di atas, maka dapat diuraikan sebagai berikut:
6.1.1. Bahwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32A Undang-Undang PPh dan penjelasannya, semangat dibentuknya P3B adalah dalam rangka penghindaran pajak berganda dan pencegahan pengelakan pajak; 6.1.2. Bahwa sesuai ketentuan Pasal 11 ayat (2) dan ayat (4)
P3B Indonesia-Belanda, dengan adanya Surat Keterangan Domisili (resident) dari pihak penerima bunga tidak dapat diartikan bahwa pihak penerima bunga tersebut adalah sebagai beneficial owner dari penghasilan bunga. Pengaturan beneficial owner berbeda dengan resident. Hai ini dimaksudkan untuk mencegah pengelakan pajak dari pihak-pihak yang tidak berhak memanfaatkan fasilitas/ketentuan P3B antar negara;
6.1.3. Bahwa disamping itu, ketentuan Pasal 11 ayat (4) P3B Indonesia - Belanda hanya dapat dilaksanakan apabila telah diatur mode of application sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 11 ayat (5) P3B Indonesia-Belanda, dimana sampai dengan saat ini pejabat yang berwenang dari kedua negara masih dalam tahap perundingan untuk mengatur mode of application. Oleh karena itu dalam hal pejabat yang berwenang belum mengatur mode of application, maka ketentuan Pasal 11 ayat (4) P3B Indonesia-Belanda tidak dapat berlaku, sehingga Indonesia berhak mengenakan PPh Pasal 26 dengan tarif 20% sesuai dengan Undang-Undang PPh sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 11 ayat (2)
P3B Indonesia-Belanda. Namun demikian jika
Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 19 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
Banding) berpendapat bahwa ketentuan Pasal 11 ayat (4) P3B Indonesia-Belanda tetap dapat dilaksanakan walaupun pejabat yang berwenang dari kedua negara belum mengatur mode of application, maka diperlukan penelitian lebih lanjut terkait pemenuhan syarat pelaksanaannya, yaitu:
a. Bahwa pihak penerima bunga adalah pemilik sebenarnya (beneficial owner) atas bunga yang diperoleh dari Termohon Peninjauan Kembali (semula Pemohon Banding);
b. Bahwa bunga dibayarkan atas utang yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari 2 (dua) tahun;
6.1.4. Bahwa dengan demikian, untuk dapat menerapkan fasilitas tarif atas pembayaran bunga yang dilakukan oleh Wajib Pajak kepada penduduk Belanda sesuai ketentuan Pasal 11 P3B Indonesia-Belanda, maka harus dilakukan pengujian apakah pihak penerima bunga merupakan Beneficial Owner (pemilik manfaat) atau bukan. Dalam hal penerima bunga bukan merupakan Beneficial Owner, maka diberlakukan ketentuan tarif berdasarkan Pasal 26 UU PPh;
6.2. Bahwa pengertian benerficial owner belum diatur dalam agreement, maka dalam rangka menentukan beneficial owner dapat diperoleh dari sumber hukum berupa:
6.2.1. OECD Model, mengingat Belanda adalah anggota OECD dan tunduk pada OECD model
a. Berdasarkan commentary dari Pasal 11 OECD Model Tax Convention on Income and on Capital July 2005, antara lain diatur sebagai berikut :
3.2.1.1. Paragraf 9
"The requirement of beneficial ownership was introduced in paragraph 2 of Article 11 to clarify the meaning of the words "paid to a resident" as they are used in paragraph 1 of the Article. It makes plain that the State of source is not obliged to give up taxing rights over interest income merely because that income was
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 20 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
immediately received by a resident of a State with which the State of source had concluded a convention. The term "beneficial owner" is not used in a narrow technical sense, rather, it should be understood in its context and in light of the object and purposes of the Convention, including avoiding double taxation and the prevention of fiscal evasion and avoidance ". 3.2.1.2. Paragraf 10
"Relief or exemption in respect of an item of income is granted by the State of source to a resident of the other Contracting State to avoid in whole or in part the double taxation that would otherwise arise from the concurrent taxation of that income by the State of residence. Where an item of income is received by a resident of a Contracting State acting in the capacity of agent or nominee it would be inconsistent with the object and purpose of the Convention for the Slate of source to grant relief or exemption merely on account of the status of the immediate recipient of the income as a resident of the other Contracting State. The immediate recipient of the income in this situation qualifies as a resident but no potential double taxation arises as a consequence of that status since the recipient is not treated as the owner of the income for tax purposes in the State of residence. It would be equally inconsistent with the object and purpose of the Convention for the State of source to grant relief or exemption where a resident of a Contracting State, otherwise than through an agency or nominee relationship, simply acts as a conduit for another person who in fact receives the benefit of the income concerned. For these reasons, the report from the Committee on Fiscal Affairs
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 21 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
entitled "Double Taxation Conventions and the Use of Conduit Companies" concludes that a conduit company cannot normally be regarded as the beneficial owner if though the formal owner, it has, as a practical matter, very narrow powers which render it, in relation to the income concerned, a mere fiduciary or administrator acting on account of the interested parties; 3.2.2. Bahwa berdasarkan ketentuan pada
paragraph 10, maka dapat disampaikan:
1) Negara tempat penghasilan bersumber (dalam hal ini Indonesia) tidak berkewajiban untuk menyerahkan hak pemajakan atas penghasilan bunga tersebut, yaitu dengan tidak menerapkan tarif pajak 20% sesuai dengan Pasal 26 ayat (1) Undang-undang Pajak Penghasilan, hanya oleh sebab penghasilan bunga tersebut diterima oleh
resident Belanda, yang menurut Pasal 11 ayat
(2) P3B Indonesia - Belanda, Indonesia sebagai negara sumber dapat mengenakan pajak atas penghasilan bunga dengan tarif pajak tidak melebihi 10%. Dengan demikian, meskipun bunga diterima oleh penduduk suatu negara dalam perjanjian, tidak berarti bahwa penduduk
tersebut dapat Iangsung menikmati
pengurangan tarif yang terdapat dalam P3B. Penelitian harus dilakukan untuk menentukan apakah penerima bunga merupakan beneficial
owner atau bukan."
2) Mengacu kepada laporan dari Committee on
Fiscal Affairs yang berjudul "Double Taxation Conventions and the Use of Conduit Companies" yang juga diadopsi di dalam Commentary tersebut di atas, disebutkan bahwa conduit company tidak dapat secara normal
menjadi beneficial owner, meskipun merupakan pemilik penghasilan secara formal, jika dalam
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Halaman 22 dari 35 halaman. Putusan Nomor 318/B/PK/PJK/2017
prakteknya ia mempunyai kekuasaan yang sempit atas penghasilan tersebut, hanya sebagai orang yang diberi kepercayaan belaka, atau sebagai pengadministrasi yang bertindak untuk pihak-pihak yang berkepentingan
6.2.2. Doktrin, antara lain Klaus Vogel
a. Bahwa dalam buku berjudul “Beneficial Ownership
of Royalties in Bilateral Tax Treaties yang ditulis oleh Carl P. du Toit, antara lain dikutip tulisan Klaus Vogel (Klaus Vogel on Double Taxation Conventions, 1997) yang menyatakan sebagai berikut:
"Treaty benefits should not be granted with a view to a formaltitle to dividends, interest, or royalties, but to the "real" title. In other words, the dispute of "form versus substance" should be decided in favour of "substance"... The "substance" of the right to receive certain yields has a dual aspect. The first is the right to decide whether or not a yield should be realized -i.e., whether the capital or assets should be used or made available for use - the second is the right to dispose of the yield. Ownership is merely formal, if the owner is fettered in regard to both aspects either in or in fact. On the other hand, recourse to the treaty is justified - i.e. is not improper - if he who is entitled under the private law is free to wield at least one of the powers referred to. Hence, the "beneficial owner" is he who free to decide (1) whether or not the capital or other assets should be used or made available for use by others or (2) on how the yields therefrom should be used or (3) both;
b. Bahwa dari tulisan Vogel tersebut dapat
disampaikan bahwa manfaat P3B tidak dapat
diberikan hanya dengan mengacu kepada
kepemilikan formal dari penghasilan dividen, bunga, dan royalti, namun manfaat P3B harus diberikan kepada pemilik yang sebenarnya dari penghasilan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]