MAKALAH
MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN POST OP PADA ANAK A
ASUHAN KEPERAWATAN POST OP PADA ANAK A
DENGAN SPINA BIFIDA
DENGAN SPINA BIFIDA
OLEH
OLEH
NAMA
NAMA
:
: ADRIANUS
ADRIANUS MAKU
MAKU
NIM
NIM
:
: 11100059
11100059
KELAS
KELAS
:
: K2.2
K2.2
PRODI
PRODI
:
: S1
S1 KEPERAWATA
KEPERAWATA
PEMBIMBING
PEMBIMBING
:
: ENY
ENY PURWANINGSI
PURWANINGSIH
H S.Kep,Ns
S.Kep,Ns
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
GUNA BANGSA YOGYAKARTA
GUNA BANGSA YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2012
2012
KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan
Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
Yang Maha Esa, karena atas
bimbingan-Ny
bimbingan-Nya penulis
a penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
tepat waktu.
Makalah ini berjudul “
Makalah ini berjudul “ Asuhan Keper
Asuhan Keperawatan Pos
awatan Post Op Pada A
t Op Pada Anak A Dengan Spina
nak A Dengan Spina
Bifida
Bifida” .
” . Penulisan makalah ini merupakan salah satu
Penulisan makalah ini merupakan salah satu persyaratan menyelesa
persyaratan menyelesaikan
ikan
mata kuliah system neurobehaviour.
mata kuliah system neurobehaviour.
Penulisan makalah ini penulis
Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan
merasa masih banyak kekurangan-kekurangan
terutama materi yang ditulis.mengingat akan kurangnya sumber-sumber yang
terutama materi yang ditulis.mengingat akan kurangnya sumber-sumber yang
dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari
dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangatlah penulis
semua pihak sangatlah penulis
harapkan demi penyempurnaan makalah ini.
harapkan demi penyempurnaan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam
terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
menyelesaikan makalah ini.
Yogyakarta,November
Yogyakarta,November
2012
2012
Penulis
Penulis
BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG 1.1.LATAR BELAKANGSpina bifida adalah penutupan salah satu kolumna vertebralis tanpa tingkatan protusi Spina bifida adalah penutupan salah satu kolumna vertebralis tanpa tingkatan protusi jaringan
jaringan melalui cemelalui celah tulang ( Dlah tulang ( Donna L.wononna L.wong,2003). Peg,2003). Penyakit spinnyakit spina bifida ata bifida atau seringau sering
dikenal dengan sumbing tulang belakang adalah salah satu penyakit yang banyak terjadi pada dikenal dengan sumbing tulang belakang adalah salah satu penyakit yang banyak terjadi pada bayi. Penyakit ini menyerang melalui medulla spinalis dimana ada suatu celah pada tulang bayi. Penyakit ini menyerang melalui medulla spinalis dimana ada suatu celah pada tulang belakang (vertebra). Hal ini terjadi karena ada satu atau beberapa bagian dari vertebara gagal belakang (vertebra). Hal ini terjadi karena ada satu atau beberapa bagian dari vertebara gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh dan dapat menyebabkan cacat berat pada
menutup atau gagal terbentuk secara utuh dan dapat menyebabkan cacat berat pada
bayi,ditambah lagi penyebab utama dari penyakit ini masih belum jelas. Hal ini jelas akan bayi,ditambah lagi penyebab utama dari penyakit ini masih belum jelas. Hal ini jelas akan menyebabkan gangguan pada sistem saraf karena medula spinalis termasuk sistem saraf menyebabkan gangguan pada sistem saraf karena medula spinalis termasuk sistem saraf pusat yang tentunya memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem saraf manusia. Jika pusat yang tentunya memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem saraf manusia. Jika medulla spinalis mengalami gangguan,system-sistem lain yang diatur oleh medulla spinalis medulla spinalis mengalami gangguan,system-sistem lain yang diatur oleh medulla spinalis pasti juga akan terpengaruh dan akan mengalami gangguan pula. Hal ini akan semakin pasti juga akan terpengaruh dan akan mengalami gangguan pula. Hal ini akan semakin memperburuk kerja organ dalam tubuh manusia , apalagi pada bayi yang system tubuhnya memperburuk kerja organ dalam tubuh manusia , apalagi pada bayi yang system tubuhnya belum berfungsi secara maksimal.
belum berfungsi secara maksimal.
Fakta mengataka dari 3 kasus yang sering terjadi pada bayi yang baru lahir di Indonesia Fakta mengataka dari 3 kasus yang sering terjadi pada bayi yang baru lahir di Indonesia yaitu ensefalus,anensefali, dan spina bifida. Sebanyak 65% bayi baru lahir terkena spina yaitu ensefalus,anensefali, dan spina bifida. Sebanyak 65% bayi baru lahir terkena spina bifida. Sementara itu fakta lain mengatakan 4,5% dari 10.000 bayi yang lahir di Belanda bifida. Sementara itu fakta lain mengatakan 4,5% dari 10.000 bayi yang lahir di Belanda menderita penyakit ini atau sekitar 100 bayi setiap tahunnya. Bayi
menderita penyakit ini atau sekitar 100 bayi setiap tahunnya. Bayi – – bayi tersebut butuhbayi tersebut butuh perawatan medis yang intensif sepanjang hidup mereka. Biasanya mereka menderita lumpuh perawatan medis yang intensif sepanjang hidup mereka. Biasanya mereka menderita lumpuh kaki, dan dimasa kanak-kanak harus dioperasi berulang kali.
kaki, dan dimasa kanak-kanak harus dioperasi berulang kali. 1.2.RUMUSAN MASALAH
1.2.RUMUSAN MASALAH 1.Defenisi dari spina bifida 1.Defenisi dari spina bifida 2.Etiologi dari spina bifida 2.Etiologi dari spina bifida 3.Klasifikasi dari spina bifida 3.Klasifikasi dari spina bifida
4.Manifestasi klinis dari spina bifida 4.Manifestasi klinis dari spina bifida
5.Patofisiologi dan Pathway dari spina bifida 5.Patofisiologi dan Pathway dari spina bifida 6.Pemeriksaan penunjang dari spina bifida 6.Pemeriksaan penunjang dari spina bifida
7.Penatalaksanaan dan Pencegahan dari spina bifida 7.Penatalaksanaan dan Pencegahan dari spina bifida 8.Komplikasi dan faktor resiko dari spina bifida 8.Komplikasi dan faktor resiko dari spina bifida 9.Diagnosa keperawatan dari spina bifida
9.Diagnosa keperawatan dari spina bifida 10.Askep
1.3.TUJUAN 1.3.TUJUAN
1.
1. Tujuan UmumTujuan Umum
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang konsep penyakit spina bifida sertaMahasiswa mampu menjelaskan tentang konsep penyakit spina bifida serta
pendekatan asuhan keperawatannya. pendekatan asuhan keperawatannya.
Sebagai persyaratan pemenuhan mata kuliah system neurobehaviour.Sebagai persyaratan pemenuhan mata kuliah system neurobehaviour.
2.
2. Tujuan KhususTujuan Khusus
Mahasiswa mampu mengidentifikasikan defenisi dari spina bifidaMahasiswa mampu mengidentifikasikan defenisi dari spina bifida
Mahasiswa mampu mengidentifikasikan etiologi dan klasifikasi dari spina bifidaMahasiswa mampu mengidentifikasikan etiologi dan klasifikasi dari spina bifida
Mahasiswa mapu mengidentifikasi tanda dan geja penyakit spina bifidaMahasiswa mapu mengidentifikasi tanda dan geja penyakit spina bifida
Mahasiswa mampu memngidentifikasi dan menguraikan patofisiologi danMahasiswa mampu memngidentifikasi dan menguraikan patofisiologi dan
pathway spina bifida pathway spina bifida
Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang dari penyakit spina bifidaMahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang dari penyakit spina bifida
Mahasiswa mampu mengetahui penatalksanaan dan pencegahan penyakit spinaMahasiswa mampu mengetahui penatalksanaan dan pencegahan penyakit spina
bifida bifida
Mahasiswa bisa mengetahui faktor resiko dan kompliksasi dari penyeakit iniMahasiswa bisa mengetahui faktor resiko dan kompliksasi dari penyeakit ini
Mahasiswa dapat mengetahui diagnosa dan konsep askep dari spina bifida.Mahasiswa dapat mengetahui diagnosa dan konsep askep dari spina bifida.
1.4.MANFAAT 1.4.MANFAAT
Mahasiswa mampu memahami tentang konsep penyakit neurologis spina bifida serta mampu Mahasiswa mampu memahami tentang konsep penyakit neurologis spina bifida serta mampu menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan spina bifida.
BAB II
BAB II
TINJAUAN PUSTUKA
TINJAUAN PUSTUKA
2.1. Defenisi 2.1. DefenisiSpina bifida adalah defek pada penutupan kolumna vertebralis dengan aatau tanpa Spina bifida adalah defek pada penutupan kolumna vertebralis dengan aatau tanpa tingkatan protusi jaringan melalui celah tulang (Donna L, Wong,2003). Spina bifida tingkatan protusi jaringan melalui celah tulang (Donna L, Wong,2003). Spina bifida (sumbing tulang belakang) adalah suatu celah pada tulang belakang (vertebra) yang (sumbing tulang belakang) adalah suatu celah pada tulang belakang (vertebra) yang
terjadi karena bagian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk terjadi karena bagian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh (http : //WWW.medicastore.com)
secara utuh (http : //WWW.medicastore.com)
Spina bifida adalah kegagalan arkus vertebralis untuk berfusi di posterior (Rosa M Spina bifida adalah kegagalan arkus vertebralis untuk berfusi di posterior (Rosa M Sacharin, 1996)
Sacharin, 1996)
Spina bifida merupakan suatu kelainan bawaan berupa defek pada arkus posterior tulang Spina bifida merupakan suatu kelainan bawaan berupa defek pada arkus posterior tulang belakang akibat kegagalan penutupan elemen saraf dari kanalis pada perkembangan awal belakang akibat kegagalan penutupan elemen saraf dari kanalis pada perkembangan awal dari embrio (Chairuddin Rasyad, 1998).
dari embrio (Chairuddin Rasyad, 1998).
Keadaan ini biasanya terjadi pada minggu ke empat masa embrio. Derajat dan lokalisasi Keadaan ini biasanya terjadi pada minggu ke empat masa embrio. Derajat dan lokalisasi defek bervariasi, pada keadaan yang ringan mungkin hanya ditemukan kegagalan fungsi defek bervariasi, pada keadaan yang ringan mungkin hanya ditemukan kegagalan fungsi satu atau lebih dari satu arkus pascaerior vertebra pada daerah lumosakral.
satu atau lebih dari satu arkus pascaerior vertebra pada daerah lumosakral. 2.2.Etiologi
2.2.Etiologi
Penyebab spesifik dari spina bifida tidak diketahui,tetapi di duga akibat: Penyebab spesifik dari spina bifida tidak diketahui,tetapi di duga akibat:
Genetik Genetik
Kekurangan asam folat pada masa kehamilanKekurangan asam folat pada masa kehamilan
LingkunganLingkungan
Kekurangan kadar vitamin maternalKekurangan kadar vitamin maternal
2.3.Klasifikasi 2.3.Klasifikasi
Spina bifida okultaSpina bifida okulta
Merupaka spina bifida yang paling ringan satu atau beberapa vertebra tidak Merupaka spina bifida yang paling ringan satu atau beberapa vertebra tidak
terbentuk secara normal, tetapi korda spinalis dan selaput otak ( meningitis ) tidak terbentuk secara normal, tetapi korda spinalis dan selaput otak ( meningitis ) tidak menonjol. Gejalanya:
menonjol. Gejalanya:
Seberkas rambut pada daerah sakral (panggul bagian belakang)Seberkas rambut pada daerah sakral (panggul bagian belakang)
Lekukan pada daerah sacrum .Lekukan pada daerah sacrum .
Spina bifida apertaSpina bifida aperta
Bentuk
Bentuk cacat cacat tabung tabung saraf saraf tempat tempat kantong kantong selaput otak selaput otak menonjol menonjol melaluimelalui lobang. Kulit diatas pembengkakan biasanya tipis, tekanan pada kantong
lobang. Kulit diatas pembengkakan biasanya tipis, tekanan pada kantong
menyebabkan fontanella menonjol. Spina Bifida Aperta dapat terjadi 2 keadaan : menyebabkan fontanella menonjol. Spina Bifida Aperta dapat terjadi 2 keadaan :
MeningokelMeningokel
Adalah ketika kantung berisi cairan cerebro-tulang belakang Adalah ketika kantung berisi cairan cerebro-tulang belakang (cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang) dan (cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang) dan meninges (jaringan yang meliputi sumsum tulang belakang), tidak ada meninges (jaringan yang meliputi sumsum tulang belakang), tidak ada keterlibatan saraf. meningens menonjol melalui vertebra yang tidak utuh keterlibatan saraf. meningens menonjol melalui vertebra yang tidak utuh dan teraba sebagai suatu benjolan dari cairan dibawah kulit.
dan teraba sebagai suatu benjolan dari cairan dibawah kulit.
Meningokel melibatkan meningen, yaitu selaput yang bertanggung Meningokel melibatkan meningen, yaitu selaput yang bertanggung jawab un
jawab untuk menuttuk menutup dan meliup dan melindungi otandungi otak dan sumsuk dan sumsum tulang bem tulang belakang.lakang. Meningokel memiliki gejala lebih ringan daripada myelomeningokel Meningokel memiliki gejala lebih ringan daripada myelomeningokel karena korda spinalis tidak keluar dari tulang pelindung, Meningocele karena korda spinalis tidak keluar dari tulang pelindung, Meningocele adalah meningens yang menonjol melalui vertebra yang tidak utuh dan adalah meningens yang menonjol melalui vertebra yang tidak utuh dan teraba sebagai suatu benjolan berisi cairan di bawah kulit dan ditandai teraba sebagai suatu benjolan berisi cairan di bawah kulit dan ditandai dengan menonjolnya meningen, sumsum tulang belakang dan cairan dengan menonjolnya meningen, sumsum tulang belakang dan cairan serebrospinal. Meningokel seperti kantung di pinggang, tapi disini tidak serebrospinal. Meningokel seperti kantung di pinggang, tapi disini tidak terdapat tonjolan saraf corda spinal. Seseorang dengan meningocele terdapat tonjolan saraf corda spinal. Seseorang dengan meningocele biasanya mempunyai kemampuan fisik lebih baik dan dapat mengontrol biasanya mempunyai kemampuan fisik lebih baik dan dapat mengontrol saluran
saluran kencing kencing ataupun ataupun kolon.kolon.
MyelomeningokelMyelomeningokel
Myelomeningokel ialah jenis spina bifida yang kompleks dan Myelomeningokel ialah jenis spina bifida yang kompleks dan paling berat, dimana korda spinalis menonjol dan keluar dari tubuh, kulit paling berat, dimana korda spinalis menonjol dan keluar dari tubuh, kulit diatasnya tampak kasar dan merah. Penaganan secepatnya sangat di diatasnya tampak kasar dan merah. Penaganan secepatnya sangat di perlukan untuk mengurangi kerusakan syaraf dan infeksi pada tempat perlukan untuk mengurangi kerusakan syaraf dan infeksi pada tempat tonjolan tesebut. Jika
tonjolan tesebut. Jika pada tonjolan pada tonjolan terdapat syaraf yterdapat syaraf yang mempersyarafiang mempersyarafi otot atau extremitas, maka fungsinya dapat terganggu, kolon dan ginjal otot atau extremitas, maka fungsinya dapat terganggu, kolon dan ginjal bisa juga
bisa juga terpengaruh. Jenis myelomeningocale ialah terpengaruh. Jenis myelomeningocale ialah jenis yang jenis yang palingpaling sering dtemukan pada kasus spina bifida. Kebanyakan bayi yang lahir sering dtemukan pada kasus spina bifida. Kebanyakan bayi yang lahir dengan jenis spina bifida juga memiliki hidrosefalus, akumulasi cairan di dengan jenis spina bifida juga memiliki hidrosefalus, akumulasi cairan di dalam dan di sekitar otak.
dalam dan di sekitar otak. 2.4.Manifestasi Klinis
2.4.Manifestasi Klinis
Gejala bervariasi tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda spinalis dan akar Gejala bervariasi tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda spinalis dan akar saraf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sedangkan saraf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sedangkan yang lainnya mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis yang lainnya mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis maupun nakar saraf yang terkena.
maupun nakar saraf yang terkena. Gejalanya dapat berupa :
Gejalanya dapat berupa :
Penonjolan seperti kantung di punggung tengah sampai bawah pada bayi baruPenonjolan seperti kantung di punggung tengah sampai bawah pada bayi baru
lahir. lahir.
Jika disinari, kantung tersebut tidak tembus cahaya.Jika disinari, kantung tersebut tidak tembus cahaya.
Kelumpuhan / kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki.Kelumpuhan / kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki.
Seberkas rambut pada daerah sakral (panggul bagian belakang).Seberkas rambut pada daerah sakral (panggul bagian belakang).
2.5.Patofisiologi 2.5.Patofisiologi
Spina bifida disebabkan oleh kegagalan dari tabung saraf untuk menutup selama bulan Spina bifida disebabkan oleh kegagalan dari tabung saraf untuk menutup selama bulan pertama embrio pembangunan (sering sebelum ibu tahu dia hamil). Biasanya penutupan pertama embrio pembangunan (sering sebelum ibu tahu dia hamil). Biasanya penutupan tabung saraf terjadi pada sekitar 28 hari setelah pembuahan. Namun, jika sesuatu yang tabung saraf terjadi pada sekitar 28 hari setelah pembuahan. Namun, jika sesuatu yang mengganggu dan tabung gagal untuk menutup dengan baik, cacat tabung saraf akan mengganggu dan tabung gagal untuk menutup dengan baik, cacat tabung saraf akan terjadi. Obat seperti beberapa Antikonvulsan, diabetes, setelah seorang kerabat dengan terjadi. Obat seperti beberapa Antikonvulsan, diabetes, setelah seorang kerabat dengan spina bifida, obesitas, dan peningkatan suhu tubuh dari demam atau sumber-sumber spina bifida, obesitas, dan peningkatan suhu tubuh dari demam atau sumber-sumber eksternal seperti bak air panas dan selimut listrik dapat meningkatkan kemungkinan eksternal seperti bak air panas dan selimut listrik dapat meningkatkan kemungkinan seorang wanita akan mengandung bayi dengan spina bifida. Namun, sebagian besar seorang wanita akan mengandung bayi dengan spina bifida. Namun, sebagian besar wanita yang melahirkan bayi dengan spina bifida tidak punya faktor risiko tersebut, wanita yang melahirkan bayi dengan spina bifida tidak punya faktor risiko tersebut, sehingga meskipun banyak penelitian, masih belum diketahui apa yang menyebabkan sehingga meskipun banyak penelitian, masih belum diketahui apa yang menyebabkan mayoritas kasus.
mayoritas kasus. Beragam spina bifida prevalensi dalam populasi manusia yang berbedaBeragam spina bifida prevalensi dalam populasi manusia yang berbeda dan bukti luas dari strain tikus dengan spina bifida menunjukkan dasar genetik untuk dan bukti luas dari strain tikus dengan spina bifida menunjukkan dasar genetik untuk kondisi. Seperti manusia lainnya penyakit seperti kanker, hipertensi dan aterosklerosis kondisi. Seperti manusia lainnya penyakit seperti kanker, hipertensi dan aterosklerosis (penyakit arteri koroner), spina bifida kemungkinan hasil dari interaksi dari beberapa gen (penyakit arteri koroner), spina bifida kemungkinan hasil dari interaksi dari beberapa gen dan faktor lingkungan. Penelitian telah menunjukkan bahwa kekurangan asam folat
dan faktor lingkungan. Penelitian telah menunjukkan bahwa kekurangan asam folat (folat) adalah faktor dalam patogenesis cacat tabung saraf, termasuk spina bifida. (folat) adalah faktor dalam patogenesis cacat tabung saraf, termasuk spina bifida.
2.6.Pathway 2.6.Pathway
Kekurangan
Kekurangan Asam Asam folat folat faktor faktor genetik genetik
Mempengaruhi Perkembangan awal embrio Mempengaruhi Perkembangan awal embrio
Kelainan Kongenital Kelainan Kongenital
Defek penutupan kanalis vertebra Defek penutupan kanalis vertebra Defek pada arkus pascaerior tulang belakang Defek pada arkus pascaerior tulang belakang Kegagalan fungsi arkus pada lumbal dan sacral Kegagalan fungsi arkus pada lumbal dan sacral
Spina
Spina bifida bifida Okulta Okulta Spina Spina bifida bifida apertaaperta
Paralisis
Paralisis spatik spatik Peningkatan Peningkatan TIK TIK terlibatnya terlibatnya struktur struktur saraf saraf
Resiko
Resiko tinggi tinggi cedera Resiko cedera Resiko herniasi herniasi Defisit Defisit neurologisneurologis Paralisis
Paralisis visera visera paralisis paralisis motorik motorik paralisis paralisis sensorik sensorik Gg.
Gg. Inkontinesia Inkontinesia urine urine paralisisis paralisisis anggota anggota grk grk bwah bwah kehlngan kehlngan snsri snsri angg.grk angg.grk bwhbwh hambatan
hambatan mobilitas mobilitas fisik fisik pemebedahan
pemebedahan insisi insisi luka luka opresi opresi resiko resiko infeksiinfeksi injuri fisik
injuri fisik nyeri akut nyeri akut
2.7.Pemeriksaan Penunjang 2.7.Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada trimester Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pada trimester pertama wanita hamil menjalani pemeriksaan darah yang disebut Triple Screen. Tes ini pertama wanita hamil menjalani pemeriksaan darah yang disebut Triple Screen. Tes ini merupakan tes penyaringan untuk spina bifida, sindroma down dan kelainan bawaan merupakan tes penyaringan untuk spina bifida, sindroma down dan kelainan bawaan lainnya. 85 % wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida akan memiliki kadar lainnya. 85 % wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida akan memiliki kadar serum alfa feytoprotein yang tinggi. Tes ini memiliki angka positif palsu yang tinggi, serum alfa feytoprotein yang tinggi. Tes ini memiliki angka positif palsu yang tinggi, karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat diagnosis. Dilakukan USG yang biasanya dapat menemukan adanya spina bifida.
diagnosis. Dilakukan USG yang biasanya dapat menemukan adanya spina bifida. Kadang dilakukan amniosentesis (analisa cairan ketuban)
Kadang dilakukan amniosentesis (analisa cairan ketuban) Setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan berikut :
Setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan berikut :
Rontgen tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan.Rontgen tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan.
USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalisUSG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalis
maupun vertebra. maupun vertebra.
CT-Scan atau MRI tulang belakang kadang dilakukan untuk menentukan lokasiCT-Scan atau MRI tulang belakang kadang dilakukan untuk menentukan lokasi
dan luasnya kelainan. dan luasnya kelainan. 2.8.Penatalaksanaan
2.8.Penatalaksanaan
Penatalaksanaan MedisPenatalaksanaan Medis
Pembedahan mielomeningokel dilakukan pada periode neonatal untuk mencegah Pembedahan mielomeningokel dilakukan pada periode neonatal untuk mencegah ruptur. Perbaikan dengan pembedahan pada lesi spinal dan pirau CSS pada bayi ruptur. Perbaikan dengan pembedahan pada lesi spinal dan pirau CSS pada bayi hidrocefalus dilakukan pada saat kelahiran. Pencangkokan pada kulit diperlukan hidrocefalus dilakukan pada saat kelahiran. Pencangkokan pada kulit diperlukan bila lesinya besar. Antibiotic profilaktik diberikan untuk mencegah meningitis. bila lesinya besar. Antibiotic profilaktik diberikan untuk mencegah meningitis. Intervensi keperawatan yang dilakukan tergantung ada tidaknya disfungsi dan Intervensi keperawatan yang dilakukan tergantung ada tidaknya disfungsi dan berat ringannya disfungsi tersebut pada berbagai sistem tubuh.
berat ringannya disfungsi tersebut pada berbagai sistem tubuh. Berikut ini adalah obat-obat yang dapat diberikan :
Berikut ini adalah obat-obat yang dapat diberikan :
Antibiotic digunakan sebagai profilaktik untuk mencegah infeksi saluranAntibiotic digunakan sebagai profilaktik untuk mencegah infeksi saluran kemih (seleksi tergantung hasil kultur dan sensitifitas).
kemih (seleksi tergantung hasil kultur dan sensitifitas).
.Antikolinergik digunakan untuk meningkatkan tonus kandung kemih..Antikolinergik digunakan untuk meningkatkan tonus kandung kemih.
. Pelunak feces dan laksatif digunakan untuk melatih usus dan pengeluaran. Pelunak feces dan laksatif digunakan untuk melatih usus dan pengeluaran feces.
feces.
(Cecily L Betz dan Linda A Sowden, 2002, halaman 469) (Cecily L Betz dan Linda A Sowden, 2002, halaman 469)
Penatalaksanaan KeperawatanPenatalaksanaan Keperawatan
PrePre – – operasioperasi
Segera setelah lahir daerah yang terpapar harus dikenakan kasa steril yang Segera setelah lahir daerah yang terpapar harus dikenakan kasa steril yang direndam salin yang ditutupi plastik, atau lesi yang terpapar harus ditutupi direndam salin yang ditutupi plastik, atau lesi yang terpapar harus ditutupi
kasa yang tidak melekat, misalnya telfa untuk mencegah jaringan syaraf kasa yang tidak melekat, misalnya telfa untuk mencegah jaringan syaraf yang terpapar menjadi kering.
yang terpapar menjadi kering.
- Perawatan prabedah neonatus rutin dengan penekanan khusus pada - Perawatan prabedah neonatus rutin dengan penekanan khusus pada mempertahankan suhu tubuh yang dapat menurun dengan cepat. Pada mempertahankan suhu tubuh yang dapat menurun dengan cepat. Pada beberapa pusat tubuh bayi ditempatkan dalam kantong plastik untuk beberapa pusat tubuh bayi ditempatkan dalam kantong plastik untuk
mencegah kehilangan panas yang dapat terjadi akibat permukaan lesi yang mencegah kehilangan panas yang dapat terjadi akibat permukaan lesi yang basah.
basah.
- Suatu catatan aktivitas otot pada anggota gerak bawah dan spingter anal - Suatu catatan aktivitas otot pada anggota gerak bawah dan spingter anal akan dilakukan oleh fisioterapist.
akan dilakukan oleh fisioterapist.
- Lingkaran oksipito-frontalis kepala diukur dan dibuat grafiknya. - Lingkaran oksipito-frontalis kepala diukur dan dibuat grafiknya.
Pasca operasiPasca operasi
- Perawatan pasca bedah neonatus umum - Perawatan pasca bedah neonatus umum
- Pemberian makanan peroral dapat diberikan 4 jam setelah pembedahan. - Pemberian makanan peroral dapat diberikan 4 jam setelah pembedahan. - Jika ada drain penyedotan luka maka harus diperiksa setiap jam untuk - Jika ada drain penyedotan luka maka harus diperiksa setiap jam untuk menjamin tidak adanya belitan atau tekukan pada saluran dan terjaganya menjamin tidak adanya belitan atau tekukan pada saluran dan terjaganya tekanan negatif dalam wadah. Cairan akan berhenti berdrainase sekitar 2 tekanan negatif dalam wadah. Cairan akan berhenti berdrainase sekitar 2 atau 3 hari pasca bedah, dimana pada saat ini drain dapat diangkat.
atau 3 hari pasca bedah, dimana pada saat ini drain dapat diangkat. Pembalut luka kemungkinan akan dibiarkan utuh, dengan inspeksi yang Pembalut luka kemungkinan akan dibiarkan utuh, dengan inspeksi yang teratur, hingga jahitan diangkat 10
teratur, hingga jahitan diangkat 10 – – 12 hari setelah pembedahan.12 hari setelah pembedahan.
- Akibat kelumpuhan anggota gerak bawah, maka rentang gerakan pasif - Akibat kelumpuhan anggota gerak bawah, maka rentang gerakan pasif yang penuh dilakukan setiap hari. Harus dijaga agar kulit di atas perinium yang penuh dilakukan setiap hari. Harus dijaga agar kulit di atas perinium dan bokong tetap utuh dan pergantian popok yang teratur dengan
dan bokong tetap utuh dan pergantian popok yang teratur dengan
pembersihan dan pengeringan yang seksama merupakan hal yang penting. pembersihan dan pengeringan yang seksama merupakan hal yang penting. - Prolaps rekti dapat merupakan masalah dini akibat kelumpuhan otot - Prolaps rekti dapat merupakan masalah dini akibat kelumpuhan otot dasar panggul dan harus diusahakan pemakaian sabuk pada bokong . dasar panggul dan harus diusahakan pemakaian sabuk pada bokong . - Lingkaran kepala diukur dan dibuat grafik sekali atau dua kali seminggu. - Lingkaran kepala diukur dan dibuat grafik sekali atau dua kali seminggu. Seringkali terdapat peningkatan awal dalam pengukuran setelah penutupan Seringkali terdapat peningkatan awal dalam pengukuran setelah penutupan cacad spinal dan jika peningkatan ini berlanjut dan terjadi perkembangan cacad spinal dan jika peningkatan ini berlanjut dan terjadi perkembangan hidrosefalus maka harus diberikan terapi yang sesuai.
hidrosefalus maka harus diberikan terapi yang sesuai. (Rosa.M.Sacharin,1996).
(Rosa.M.Sacharin,1996). 2.9.Pencegahan
2.9.Pencegahan
Resiko terjadinya spina bifida bisa dikurangi dengan mengkonsumsi asam folat.Resiko terjadinya spina bifida bisa dikurangi dengan mengkonsumsi asam folat.
Kekurangan asam folat pada seorang wanita harus ditangani sebelum wanitaKekurangan asam folat pada seorang wanita harus ditangani sebelum wanita
tersebut hamil, karena kelainan ini terjadi sangat dini. tersebut hamil, karena kelainan ini terjadi sangat dini.
Pada wanita hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi asam folat sebanyak 0,4Pada wanita hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi asam folat sebanyak 0,4
mg/hari. Kebutuhan asam folat pada wanita hamil adalah 1 mg/hari. mg/hari. Kebutuhan asam folat pada wanita hamil adalah 1 mg/hari. 2.10.
2.10. KomplikasiKomplikasi
Komplikasi lain dari spina bifida yang berkaitan yang berkaitan dengan kelahiran antara Komplikasi lain dari spina bifida yang berkaitan yang berkaitan dengan kelahiran antara lain adalah :
lain adalah :
Retardasi MentalRetardasi Mental
Atrofi OtotAtrofi Otot
OsteoporosisOsteoporosis
Fraktur (akibat penurunan massa otot).Fraktur (akibat penurunan massa otot).
2.11.
2.11. Faktor ResikoFaktor Resiko
Umur (bayi baru lahir)Umur (bayi baru lahir)
Kekurangan asam folatKekurangan asam folat
2.12.
2.12. Diagnosa KeperawatanDiagnosa Keperawatan
Ganguan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan tekanan intracranialGanguan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan tekanan intracranial
Inkontinensia urin berhubungan dengan ketidakmampuan mengontrol keinginanInkontinensia urin berhubungan dengan ketidakmampuan mengontrol keinginan
berkemih berkemih
Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit dan penanganan penyakitKurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit dan penanganan penyakit
anaknya berhubungan dengan kurang terpajan informasi anaknya berhubungan dengan kurang terpajan informasi
Resiko tinggi cedera berhubungan dengan peningkatan intra kranial (TIK)Resiko tinggi cedera berhubungan dengan peningkatan intra kranial (TIK)
Berduka b.d kelahiran anak dengan spinal malformationBerduka b.d kelahiran anak dengan spinal malformation
ASUHAN K
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK EPERAWATAN ANAK DENGAN DENGAN SPINA BIFIDASPINA BIFIDA A. PENGKAJIAN
A. PENGKAJIAN
1. Riwayat kesehatan keluarga. 1. Riwayat kesehatan keluarga.
Adakah yang menderita penyakit sejenis, bagaimana kondisi kehamilan ibu (demam Adakah yang menderita penyakit sejenis, bagaimana kondisi kehamilan ibu (demam selama kehamilan, epilepsi, mengkonsumsi obat-obat tertentu, dsb), kaji kehamilan selama kehamilan, epilepsi, mengkonsumsi obat-obat tertentu, dsb), kaji kehamilan sebelumnya (angka kejadian semakin meningkat jika pada kehamilan dua sebelumnya sebelumnya (angka kejadian semakin meningkat jika pada kehamilan dua sebelumnya menderita meningomielokel atau anencefali).
menderita meningomielokel atau anencefali). 2. Riwayat kesehatan sekarang.
2. Riwayat kesehatan sekarang.
Apa keluhan utama (kelumpuhan, gangguan eliminasi, dsb), adakah penderita yang sama Apa keluhan utama (kelumpuhan, gangguan eliminasi, dsb), adakah penderita yang sama di lingkungan penderita, sudah berapa lama menderita, kapan gejala terasa dan keluhan di lingkungan penderita, sudah berapa lama menderita, kapan gejala terasa dan keluhan lain apa yang mengikutinya.
lain apa yang mengikutinya. 3. Pengkajian fisik
3. Pengkajian fisik
Pada pengkajian fisik didapat data-data sebagai berikut : Pada pengkajian fisik didapat data-data sebagai berikut : - Aktivitas/istirahat
- Aktivitas/istirahat
Tanda : kelumpuhan tungkai tanpa terasa atau refleks pada bayi. Tanda : kelumpuhan tungkai tanpa terasa atau refleks pada bayi. Gejala : dislokasi pinggul.
Gejala : dislokasi pinggul. - Sirkulasi
- Sirkulasi
Tanda : pelebaran kapiler dan pembuluh nadi halus, hipotensi, ekstremitas dingin atau Tanda : pelebaran kapiler dan pembuluh nadi halus, hipotensi, ekstremitas dingin atau sianosis.
sianosis. - Eliminasi - Eliminasi
Tanda : diurnal ataupun nocturnal, inkontinensia urin/alfi, konstipasi kronis. Tanda : diurnal ataupun nocturnal, inkontinensia urin/alfi, konstipasi kronis. - Nutrisi
Tanda : distensi abdomen, peristaltic usus lemah/hilang (ileus paralitik). Tanda : distensi abdomen, peristaltic usus lemah/hilang (ileus paralitik). - Neuromuskuler
- Neuromuskuler
Tanda : gangguan sensibilitas segmental dan gangguan trofik paralisis kehilangan refleks Tanda : gangguan sensibilitas segmental dan gangguan trofik paralisis kehilangan refleks asimetris termasuk tendon dalam, kehilangan tonus otot/vasomotor ; kelumpuhan lengan asimetris termasuk tendon dalam, kehilangan tonus otot/vasomotor ; kelumpuhan lengan tungkai dan otot bawah.
tungkai dan otot bawah. - Pernapasan
- Pernapasan
Tanda : pernapasan dangkal, periode apneu, penurunan bunyi napas. Tanda : pernapasan dangkal, periode apneu, penurunan bunyi napas. Gejala : napas pendek, sulit bernapas.
Gejala : napas pendek, sulit bernapas. - Kenyamanan
- Kenyamanan
Gejala : suhu yang berfluktuasi. Gejala : suhu yang berfluktuasi. 4. Pemeriksaan diagnostic 4. Pemeriksaan diagnostic - MRI, CT scan, X-ray - MRI, CT scan, X-ray
- Tes serum alfa fetoprotein (AFP) - Tes serum alfa fetoprotein (AFP) - Ultrasound
- Ultrasound
(Cecily L Betz dan Linda A Sowden, 2002) (Cecily L Betz dan Linda A Sowden, 2002) B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN Pre Operasi
Pre Operasi
1. Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskuler 1. Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskuler
2. Resiko kerusakan integritas kulit b.d inkontinensia ani dan alvi 2. Resiko kerusakan integritas kulit b.d inkontinensia ani dan alvi
3. Perubahan proses keluarga b.d krisis situasi (anak dengan defek fisik) 3. Perubahan proses keluarga b.d krisis situasi (anak dengan defek fisik) Post Operasi
Post Operasi
4. Nyeri akut b.d Agen cedera fisik (luka post operasi) 4. Nyeri akut b.d Agen cedera fisik (luka post operasi) 5. Resiko tinggi infeksi b.d prosedur pembedahan. 5. Resiko tinggi infeksi b.d prosedur pembedahan.
BAB III BAB III
KASUS DAN PEMBAHASAN KASUS DAN PEMBAHASAN Skenario
Skenario
Bayi Ny. H lahir dengaan kelainan tulang belakang. Dokter mengataka An.A menderita Bayi Ny. H lahir dengaan kelainan tulang belakang. Dokter mengataka An.A menderita penyakit Spina Bifida,dan harus segera dioperasi.Keluarga Ny. H sangat cemas dengan penyakit Spina Bifida,dan harus segera dioperasi.Keluarga Ny. H sangat cemas dengan tindakan tersebut.
tindakan tersebut.
ANALISA DATA ANALISA DATA Nama
Nama : : An. An. AA Umur
Umur : : 1 1 bulanbulan No
No Data Data Fokus Fokus Etiologi Etiologi ProblemProblem 1.
1. Ds: Ds: - - keluarga keluarga Ny. Ny. HH mengatakan cemas mengatakan cemas dengan tindakan dengan tindakan operasi terhadap operasi terhadap anaknya. anaknya.
Do: tampak wajah Do: tampak wajah Ny. H bingung dan Ny. H bingung dan ketakutan ketakutan Spina bifida Spina bifida Di lakukan Di lakukan tindakan tindakan pembedahan pembedahan Cemas Cemas 2. 2. Ds Ds : : - - Ny. Ny. HH mengatakan An.A mengatakan An.A menangis terus setelah menangis terus setelah operasi
operasi
Do: - tampak anak A Do: - tampak anak A menangis kesakitan menangis kesakitan Skla nyeri:
Skla nyeri: P
P : : luka luka operasioperasi Q : seperti di tusuk Q : seperti di tusuk jarum jarum R : belakang R : belakang S : 7 S : 7 T
T : : setiap setiap saatsaat
Agen injuri Agen injuri fisik fisik (prosedur (prosedur pembedahan) pembedahan) Nyeri akut Nyeri akut 3. 3. Ds Ds : : - - Ny. Ny. HH mengatakan anak A mengatakan anak A Prosedur Prosedur invasife,luka invasife,luka Resiko Resiko tinggi tinggi
menangis terus setelah menangis terus setelah operasi operasi Do : - anak tampak Do : - anak tampak nangis nangis
-- Ada bekas luka operasiAda bekas luka operasi di tulang belakang di tulang belakang insisi post insisi post operasi operasi infeksi infeksi 4.
4. Ds Ds : : keluarga keluarga Ny. Ny. HH tidak mengetahui tidak mengetahui tentang penyakit tentang penyakit anaknya anaknya
Do: keluarga ny. H Do: keluarga ny. H bingung ketika bingung ketika ditanya tentang ditanya tentang penyakit anaknya penyakit anaknya Kketerbatasan Kketerbatasan kognitif dan kognitif dan kurangnya kurangnya informasi informasi tentang tentang penyakit penyakit Kurang Kurang pengetahuan pengetahuan Diagnosa Prioritas Diagnosa Prioritas 1.
1. Nyeri akut Nyeri akut berhubungan dengan berhubungan dengan agen injuri fisik agen injuri fisik (proses pemebedahan)(proses pemebedahan) 2.
2. Cemas berhubungan dengan akan dilaukan tindakan pembedahanCemas berhubungan dengan akan dilaukan tindakan pembedahan 3.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif dan kurangnyaKurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif dan kurangnya informasi tentang penyakit
informasi tentang penyakit 4.
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive,luka insisi postResiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive,luka insisi post pemebedahan.
pemebedahan.
RENCANA KEPERAWATAN RENCANA KEPERAWATAN 1
1 Nyeri Nyeri akut akut b/d b/d injuri injuri fisik fisik (proses (proses pembedahan) pembedahan) Setelah Setelah dilakukan dilakukan tindakantindakan keperawatan selama 1x24 jam masalah nyeri dapat hilang
keperawatan selama 1x24 jam masalah nyeri dapat hilang KH:
KH:
-anak tidak menangis -anak tidak menangis -TTV normal
-TTV normal 1.
1. Kaji Kaji skala skala nyerinyeri
2. Atur posisi klien yang nyaman 2. Atur posisi klien yang nyaman
3. Lakukan teknik pijat bayi yang benar 3. Lakukan teknik pijat bayi yang benar
4.Lakukan pergantian perban dan pengawasan pada luka operasi 4.Lakukan pergantian perban dan pengawasan pada luka operasi 5. kolaborasi dengan tim medis dalam pemebrian obat analgetik 5. kolaborasi dengan tim medis dalam pemebrian obat analgetik rasional
rasional
1. Mengevaluasi skala nyeri dan menetapkan intervensi selanjutnya. 1. Mengevaluasi skala nyeri dan menetapkan intervensi selanjutnya. 2. menurunkan tegangan dan mengurani nyeri
2. menurunkan tegangan dan mengurani nyeri 3. meningkatkan relaksasi
3. meningkatkan relaksasi
4.untuk mengetahui akan terjadi infeksi 4.untuk mengetahui akan terjadi infeksi 5.sebagai agen anti nyeri
2 Cemas
2 Cemas b/d b/d akan dilakukan akan dilakukan tindakan pembedahantindakan pembedahan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x4 jam masalah cemas dapat teratasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x4 jam masalah cemas dapat teratasi KH:
KH:
-eksepresi wajah ceria -eksepresi wajah ceria
-klien mengatakan tidak cemas -klien mengatakan tidak cemas 1.
1. Bina Bina hubungan hubungan saling saling percayapercaya 2.
2. .Observsi .Observsi TTVTTV 3.
3. Libatkan Libatkan semua semua anggota anggota KeluargaKeluarga 4.
4. Jelaskan Jelaskan bahwa bahwa penyakitnya penyakitnya bisa bisa di di sembuhkansembuhkan 5.
5. Berikan Berikan reinfocement reinfocement untuk untuk menggunakan menggunakan Sumber Sumber Coping Coping yang yang efektif.efektif. Rasional:
Rasional: 1.
1. Mempermudah Mempermudah intervensiintervensi 2.
2. Mengetahui Mengetahui tekanan tekanan darah darah dan dan denyut denyut nadi nadi meningkatmeningkat 3.
3. Mengurangi Mengurangi kecemasankecemasan 4.
4. Dengan Dengan tindakan tindakan operasi operasi penyakinya penyakinya bisa bisa disembuhkandisembuhkan 5.
5. Dukungan Dukungan akan akan memberikan memberikan keyakina keyakina terhadap terhadap pernyataan pernyataan harapan harapan untuk untuk sembuh
sembuh
3 Kurang pengetahuan b/d keterbatasan kognitif dan kurangnya informasi tentang 3 Kurang pengetahuan b/d keterbatasan kognitif dan kurangnya informasi tentang penyakit
penyakit Setelah Setelah dilakukan dilakukan tindakan tindakan keperawata keperawata 1x3 1x3 jam jam diharapkan diharapkan keluarga keluarga klienklien mengerti proses penyakit dan perawatan yang diberikan
mengerti proses penyakit dan perawatan yang diberikan KH:
KH: -
- Menjelaskan kembali tentang proses penyakit, mengenal kebutuhan perawatan danMenjelaskan kembali tentang proses penyakit, mengenal kebutuhan perawatan dan pengobatan tanpa cemas
pengobatan tanpa cemas -
- Ekspresi wajah ceria Ekspresi wajah ceria dan rileksdan rileks 1.
1. Jelaskan Jelaskan proses proses penyakitpenyakit 2.
2. Jelaksn Jelaksn tentang tentang program program pengobatanpengobatan 3.
3. Jelaskan Jelaskan tindakan tindakan untuk untuk untuk untuk mencegah mencegah komplikasikomplikasi 4.
4. Tanyakan Tanyakan kembali kembali pengetahuan pengetahuan keluarga keluarga pasien pasien tentang tentang penyakit penyakit dan dan programprogram perawatan
perawatan Rasional: Rasional: 5.
5. Berikan Berikan reinforcementreinforcement 1.
1. Meningaktkan Meningaktkan pengetahuan pengetahuan dan dan mengurangi mengurangi cemascemas 2.
2. Mempermudah Mempermudah intervensiintervensi 3.
3. Mencegah Mencegah keperahan keperahan penyakitpenyakit 4.
4. Memastikan Memastikan pengetahuan pengetahuan keluarga keluarga tentang tentang penyakitpenyakit 5.
5. Memberikan Memberikan semangat semangat untuk untuk keluarga.keluarga.
4 Resiko infeksi b/d prosedur invasive,insisi luka post pembedahan Setelah dilakukan 4 Resiko infeksi b/d prosedur invasive,insisi luka post pembedahan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selam 2x24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi
KH: KH: -
- Tidak terdapat tanda-tanda infeksi Tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradangandan peradangan 1.
1. Kaji Kaji TTVTTV 2.
2. Observasi Observasi tanda-tanda tanda-tanda infksiinfksi 3.
3. Lakukan Lakukan perawatan perawatan luka luka dengan dengan teknik teknik septik septik dan dan aseptik aseptik 4.
4. Observasi Observasi luka luka insisiinsisi rasional
rasional 1.
1. Untuk Untuk mendeteksi mendeteksi secara secara dini dini gejala gejala awal awal infeksiinfeksi 2.
2. Deteksi Deteksi dini dini terhadap terhadap infeksi infeksi akan akan mudahmudah 3.
3. Menurunkan Menurunkan terjdinya terjdinya infeksi infeksi dan dan penyebaran penyebaran bakteribakteri 4.
4. Mendeteksi Mendeteksi perkembangan perkembangan lukaluka
BAB IV BAB IV PENUTUP PENUTUP A.KESIMPULAN A.KESIMPULAN
Spina bifida merupakan suatu kelainan bawaan berupa defek pada arkus pascaerior tulang Spina bifida merupakan suatu kelainan bawaan berupa defek pada arkus pascaerior tulang belakang akibat kegagalan penutupan elemen saraf dari kanalis spinalis pada
belakang akibat kegagalan penutupan elemen saraf dari kanalis spinalis pada
perkembangan awal dari embrio. Penyebab dari spina bifida belum diketahui secara perkembangan awal dari embrio. Penyebab dari spina bifida belum diketahui secara
pasti,tetapi diduga akibat faktor genetik dan kekurangan asam folat pada masa kehamilan. pasti,tetapi diduga akibat faktor genetik dan kekurangan asam folat pada masa kehamilan. Gejala bervariasi tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda spinalis dan akar Gejala bervariasi tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda spinalis dan akar saraf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sedangkan saraf yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sedangkan yang lainnya mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis yang lainnya mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis maupun nakar saraf yang terkena.
maupun nakar saraf yang terkena.
Pembedahan mielomeningokel dilakukan pada periode neonetal untuk mencegah ruptur. Pembedahan mielomeningokel dilakukan pada periode neonetal untuk mencegah ruptur. Perbaikan dengan pembedahan pada lesi spinal dan pirau CSS pada bayi hidrosefalus Perbaikan dengan pembedahan pada lesi spinal dan pirau CSS pada bayi hidrosefalus dilakukan pada saat kelahiran. Pencangkokan pada kulit diperlukan bila lesinya besar. dilakukan pada saat kelahiran. Pencangkokan pada kulit diperlukan bila lesinya besar. Pembedahan dilakukan untuk menutup lubang yang terbentuk dan untuk mengobati Pembedahan dilakukan untuk menutup lubang yang terbentuk dan untuk mengobati hidrosefalus. Kelainan ginjal dan kandung kemih serta kelainan bentuk fisik yang sering hidrosefalus. Kelainan ginjal dan kandung kemih serta kelainan bentuk fisik yang sering menyertai spina bifida.
menyertai spina bifida. B.SARAN
B.SARAN
Deteksi dini dan pencegahan pada awal kehamilan dianjurkan untuk semua ibu yang telah Deteksi dini dan pencegahan pada awal kehamilan dianjurkan untuk semua ibu yang telah melahirkan anak dengan gangguan ini dan dan pemeriksaan ditawarkan bagi semua
melahirkan anak dengan gangguan ini dan dan pemeriksaan ditawarkan bagi semua wanita hamil.
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA 1.
1. Catzel, Pincus. 1994. Kapita Selekta Pediatri. Edisi II. Editor : Adrianto, Petrus. Jakarta :Catzel, Pincus. 1994. Kapita Selekta Pediatri. Edisi II. Editor : Adrianto, Petrus. Jakarta : EGC.
EGC. 2.
2. Betz, Cecily L,dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC.Betz, Cecily L,dkk. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC. 3.
3. Rendle, John Dkk. 1994. Ikhtisar Penyakit Anak Edisi 6 Jilid 2. Bina Rupa Aksara:Rendle, John Dkk. 1994. Ikhtisar Penyakit Anak Edisi 6 Jilid 2. Bina Rupa Aksara: Jakarta
Jakarta 4.
4. Sacharin, Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Editor : Ni Luh Yasmin. Jakarta:Sacharin, Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Editor : Ni Luh Yasmin. Jakarta: EGC.
EGC. 5.
5. Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi IV. Jakarta: EGC.Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi IV. Jakarta: EGC. 6.
6. Doenges Marillyn E,dkk. 2000 Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk Doenges Marillyn E,dkk. 2000 Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3..Jakarta: EGC. perencanaan pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3..Jakarta: EGC. 7.
7. Nelson. Ilmu Kesehatan Anak Bag. 3. EGC: Jakarta.Nelson. Ilmu Kesehatan Anak Bag. 3. EGC: Jakarta. 8.
8. Sacharin, Rosa M.1986.Prinsip Kepeawatan Pediatrik.Jakarta:EGCSacharin, Rosa M.1986.Prinsip Kepeawatan Pediatrik.Jakarta:EGC 9.
9. http://medicastore.com/penyakit/915/Spina_Bifida_Sumbinhttp://medicastore.com/penyakit/915/Spina_Bifida_Sumbin
10.
10. Rizqi Hajar Dewi. 2010. Asuhan Keperawatan Anak Spina Bifida DenganRizqi Hajar Dewi. 2010. Asuhan Keperawatan Anak Spina Bifida Dengan
Meningokel.http://www.scribd.com/doc/30381861/Asuhan-Keperawatan-Spina-Bifida-Dengan-Meningokel?secret_password=&autodown=docx. 01 Mei 201