• Tidak ada hasil yang ditemukan

COMMUNICATING AND PARENTING Mengembangkan Komunikasi dengan Orang tua siswa dalam mengasuh Anak - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "COMMUNICATING AND PARENTING Mengembangkan Komunikasi dengan Orang tua siswa dalam mengasuh Anak - Test Repository"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

1 Dr. Fatchurrohman, M.Pd

COMMUNICATING AND PARENTING

(2)

2 KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas selesainya penulisan buku

Communicating and Parenting (Mengembangkan Komunikasi dengan Orang tua siswadalam mengasuh Anak).

Sebagaimana dipahami bahwa sekolah adalah institusi pendidikan kedua

setelah orang tua. Sekolah menerima pelimpahan tanggung jawab mendidik, karena

orang tua memiliki berbagai keterbatasan sehingga tidak bisa melaksanakan tugas

mendidik anak sepenuhnya.

Dalam melaksanakan tugas mendidik, sekolah tidak bisa berjalan dengan

sendirinya. Sekolah harus senantiasa menjalin komunikasi dengan orang tua sebagai

stakeholder utama pendidikan. Jalinan komunikasi dengan orang tua ini dimaksudkan

untuk menginformasikan kondisi anak di sekolah dan mencari dukungan agar kegiatan

pendidikan berjalan optimal.

Komunikasi dengan orang tua juga dimaksudkan untuk „mendidik‟ orang tua tentang bagaimana cara mendidik anak di rumah. Pengetahuan orang tua tentang cara

mendidik dan mengasuh anak di rumah sangat penting agar dapat melakukan kegiatan

yang mensupport kegiatan pendidikan di sekolah. Kini, sekolah tidak hanya mendidik

anak, tetapi yang tidak kalah penting adalah memahamkan kepada orang tua tentang

bagaimana cara mendampingi anak di rumah.

Buku ini hadir untuk mengingatkan bahwa sekolah perlu menjalin komunikasi

dengan orang tua seintens mungkin. Orang tua perlu memahami juga bagaimana cara

mengasuh anak di rumah dengan baik. Hal ini penting karena sekolah tidak akan dapat

dapat melaksanakan tugas pendidikan dengan baik tanpa keterlibatan aktif dari orang

tua pesera didik.

Semoga komitmen, dedikasi, dan kepedulian kita dalam mengembangkan

pendidikan semakin meningkat.

Salatiga, November 2016

(3)

3 Daftar Isi

Hal

Halaman judul ……….. i

Kata Pengantar ……….. ii

Daftar Isi ……….. iii

Bagian Satu : PENDAHULUAN ……… 1

Bagian Dua : KOMUNIKASI SEKOLAH DENGAN ORANG TUA ………. 3

A. Komunikasi Pendidikan ……… 3

B. Tipe Komunikasi ……… 8

C. Komunikasi berkala ……… 13

D. Komunikasi hasil belajar ……… 17

E. Mengkomunikasikan jaminan keamanan ……… 23

F. Home visit ……… 32

Bagian Tiga : PENGASUHAN ANAK ……….. 36

A. Pengertian ……… 36

B. Teori parenting ……… 36

C. Gaya pengasuhan ……… 45

D. Membantu mengatasi masalah anak ……… 47

E. Hukuman dan ganjaran yang efektif ……… 54

F. Peningkatan kemampuan orang tua ……… 60

G. Menciptakan lingkungan kondusif ……… 63

H. Pengaturan konsumsi nutrisi ……… 69

I. Liburan ……… 80

(4)

4 Bagian Satu

Pendahuluan

Sekolah merupakan salah satu elemen pendidikan yang ada dalam masyarakat.

Keberaaan sekolah akan dapat berfungsi dengan baik manakala mampu memfungsikan

elemen-elemen pendidikan lain yang ada, seperti keluarga, dan lembaga sosial lainnya.

Semua elemen tersebut memberi pengaruh kepada anak didik, baik pengaruh positif

maupun pengaruh negatif. Sekolah can do nothing, manakala tidak mengorganizing pengaruh-pengaruh institusi-institusi lain di luar dirinya dengan baik.

Salah satu elemen penting dalam pendidikan anak adalah institusi keluarga.

Keluarga berperan penting dan dominan dalam pendidikan anak. Sekolah sebagai

second institution bagi pendidikan anak harus mampu menjalin relasi baik dengan

sekolah melalui komunikasi yang efektif. Sejalan dengan pemikiran tersebut, menurut

John Dewey (dalam Knight, 2007:18), jalinan relasi dan komunikasi pendidikan antara

sekolah, keluarga, dan institusi pendikan lainnya merupakan perwujudan bahwa

pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah dan masyarakat.

Selain itu, pembangunan relasi tersebut juga merupakan upaya mempersiapkan anak

memasuki dunia kerja atau masyarakat yang sesungguhnya sekaligus sebagai bukti

bahwa pendidikan adalah bagian dari kehidupan anak bermasyarakat.

Sekolah, orang tua, dan masyarakat merupakan institusi yang bertanggung jawab

atas pendidikan anak. Ketiganya memiliki bobot yang sama dalam tanggung jawab

pendidikan. Dalam hal ini sekolah adalah pelaksana formal dalam pendidikan untuk

mendidik anak-anak agar nanti dapat kembali kepada keluarga dan masyarakat sesuai

harapan bersama. Sekolah tidak akan bisa mewujudkan visi misi pendidikannya tanpa

melibatkan kedua institusi yang lainnya. Kalau sekolah merasa „bisa‟ mencapai visi dan

misinya sendiri, maka hasilnya tidak akan sesuai dengan harapan keluarga dan

masyarakat.

Menurut Tilaar (2002:353), di dalam membangun masyarakat demokratis, maka

peran serta masyarakat perlu diberdayakan dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga

masyakat memiliki kesadaran akan peran dan tanggung jawabnya dalam kehidupan.

(5)

5 satu pihak belum memiliki kesadaran akan perannya dalam pendidikan, maka sekolah

akan sulit mewujudkan pendidikan yang bermutu.

Dalam konteks kehidupan keluarga (family), individu dapat mengaktualisasikan

diri manusia sebagai makhluk sosial. Dalam family system theory yang dikembangkan oleh Bertalanffy‟s (dalam Grant,2010:27), disebutkan bahwa setiap anggota keluarga saling berhubungan dan masing-masing anggota saling mempengaruhi antar satu dan

lainnya. Dalam konteks pembelajaran di sekolah, penerapan family system theory ini dalam kegiatan pembelajaran, para pendidik tidak hanya terfokus pada peserta didik

secara individual, namun mereka harus melihat peserta didik dalam konteks

keluarganya untuk memahami mengapa dia bertingkah laku seperti itu di kelas. Untuk

memahami system secara lebih baik, apa itu sistem keluarga dan bagaimana sistem keluarga mempengaruhi perilaku anak di kelas, perlu dilihat karakteristik relasi dalam

keluarga secara keseluruhan dan kondisi kelas. Cara ini dapat dicapai melalui penjalinan

hubungan antara sekolah dan orang tua.

Orang tua dan anggota keluarga memainkan peranan yang integral dalam

membantu belajar peserta didik. Bantuan keterlibatan keluarga dan para pendidik akan

mampu mendorong suksesnya pembelajaran peserta didik. Hasil penelitian Thorkildsen

and Stein (dalam Grant, 2010:216), menunjukan bahwa jika dihitung, keterliban orang

tua berkisar antara 10-20% dalam berbagai prestasi anak, dan harapan orang tua

terhadap keberhasilan anaknya di sekolah secara terus menerus memberi pengaruh yang

besar terhadap performa anak.

Komunikasi sekolah dengan orang tua atau keluarga sangat penting bagi kepentingan pengasuhan anak. Sekolah perlu „mengendalikan‟ orang tua agar sejalan dengan sekolah dalam membentuk performa anak didik. Orang tua dalam mengasuh

anak di rumah juga perlu memperhatikan aspek-aspek didaktik agar hasilnya

sebagaimana yang diharapkan. Keetidaktahuan orang tua dalam didaktik menjadi

tanggung jawab sekolah untuk mensosialisaikannya. Dengan demikian, tanggung jawab

pendidikan sekolah tidak hanya membentuk kepribadian dan mengembangkan potensi

anak didiknya, melainkan juga mengajari orang tua tentang bagimana cara

(6)

6 Bagian Dua

Komunikasi Sekolah dengan Orang tua

A. Komunikasi pendidikan

Komunikasi (communication) antara sekolah dan orang tua merupakan upaya

membangun jalinan hubungan antara sekolah dan orang tua peserta didik dalam

rangka penyebaran informasi pendidikan kepada stakeholder dan atau untuk

pemecahan masalah. Sekolah perlu menjalin komunikasi dengan orang tua peserta

didik agar orang tua mengetahui bebagai informasi di sekolah yang pada akhirnya

mampu meningkatkan perhatian dan kepedualian terhadap pendidikan anaknya.

Komunikasi antara sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan) dengan orang

tua/wali merupakan salah satu realisasi dari akuntabilitas sekolah. Meskipun para

guru di sekolah memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan mempengaruhi

kehidupan peserta didik, pada akhirnya mereka akan kembali ke lingkungan

keluarga atau ke pangkuan orang tuannya. Jika kita gagal dalam menjaga

komunikasi dengan orang tua tentang kemajuan anak mereka di sekolah, maka kita

akan kehilangan kesempatan untuk membuat jembatan komunikasi yang sangat

penting dalam kehidupan peserta didik.

Komunikasi antara orang tua dan guru untuk memastikan bahwa anak-anak

belajar secara efektif dan mendapatkan yang terbaik bagi pertumbuhan dan

perkembangan pribadi/karakter mereka. Salah satu cara untuk memastikan bahwa

kita sebagai guru bisa berkomunikasi secara efektif dengan orang tua adalah

menggunakan formulir dan catatan yang dikirim ke rumah secara berkala untuk

memberikan kesempatan kepada orang tua memantau sekaligus melaporkan

perkembangan anak mereka di sekolah.

Dalam komunikasi ini kedua belah pihak berkepentingan untuk saling

berbagai informasi, baik sekolah maupun orang tua. Namun, jika orang tua tidak

memiliki inisiatif untuk berkomunikasi atau berkonsultasi dengan sekolah, maka

sekolah harus mendesain program sedemikian rupa sehingga ada jalinan

komunikasi antara sekolah dan orang tua. Menurut Nurjanah (2015:1), ada

(7)

7 dengan orang tua yaitu : 1) lakukanlah sesering mungkin; 2) jangan biarkan bulan

berlalu tanpa kabar dari sekolah; 3) bersikaplah jujur; 4) panggillah orang tua

ketika anak mereka memiliki perilaku atau kesulitan belajar di kelas; 5)

menyenangkan; 6) adakan kesepakatan tentang waktu.

Sekolah sebaiknya melakukan komunikasi sesering mungkin, semakin sering

semakin bagus. Sekolah yang sering melakukan komunikasi dengan orang tua, akan

terhindar dari kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Selain itu,

masalah-masalah yang dirasakan sekolah atau orang tua terkait dengan pendidikan anaknya

dapat segera di atasi, sehingga tidak terjadi penumpukan masalah.

Dalam menjalin komunikasi dengan orang tua, sekolah perlu mengedepankan

prinsip kejujuran; artinya informasi yang diberikan kepada orang tua harus

informasi yang mengandung kejujuran. Sekolah tidak boleh merekayasa informasi

untuk kepentingan tertentu, misalnya menarik simpatik orang tua. Informasi yang

tidak jujur akan mengakibatkan relasi yang dibangun adalah relasi pura-pura, dan

ini berbahaya bagi sekolah. Sekiranya ada informasi yang harus disembunyikan

karena berdampak negatif jika disampaikan apa adanya kepada orang tua, maka

kebijakan ini harus diketahui pihak lain dan bersifat sementara. Sekolah mengambil

langkah tersebut semata-mata untuk mencari pemecahan masalah secara efektif.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengemasan informasi kepada orang tua

harus memperhatikan kelogisan informasi sehingga informasi yang disampaikan

tidak bombastis atau penuh kejanggalan.

Komunikasi sekolah dan orang tua juga dilakukan dalam suasana yang

menyenangkan, artinya sekolah menyediakan forum yang menyenangkan, orang tua

tidak merasa tertekan, tidak dipaksa, dan pihak sekolah menunjukkan ekspresi yang

menyenangkan juga menyambut orang tua peserta didik. Guru dan pihak sekolah

juga perlu menunjukkan bahwa mereka senang mendidik anak-anak di sekolah,

guru tidak boleh menunjukkan sikap benci kepada anak-anak mereka apalagi

menunjukkan sikap negatif peserta didik secara berlebihan.

Guru terkadang menyampaikan kepada orang tua tentang keadaan

anak-anaknya di sekolah. Guru melaporkan keadaan negatif anak kepada orang tua

(8)

8 orang tua lebih memperhatikan anaknya di rumah agar lebih baik. Namun, jika guru

salah dalam mengkomunikasikan kenakalan anak di sekolah justru akan membuat

orang tua kecewa. Kekecewaan orang tua ini terjadi karena mereka sudah merasa

menyerahkan sepenuhnya anak mereka kepada sekolah, namun ternyata anaknya

tidak semakin baik.

Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa komunikasi antara sekolah dan

orang tua mesti dilakukan secara teratur, dua arah, dan penuh makna. Jika keluarga

dan sekolah dapat berkomunikasi secara efektif, maka hubungan positif akan dapat

berkembang, masalah-masalah yang muncul dapat dengan mudah terselesaikan dan

para peseta didik akan dapat mencapai kemajuan lebih baik. Komunikasi antara

sekolah dan orang tua ini dimaksudkan untuk menciptakan bentuk komunikasi yang

efektif dari sekolah ke rumah dan dari rumah ke sekolah terkait dengan program

sekolah dan kemajuan anak.

Menurut Epstein (2009:16), beberapa bentuk kegiatan yang dapat dilakukan

dalam komunikasi antara sekolah dan orang tua adalah: 1) mengadakan pertemuan

berkala dengan orang tua peserta didik dan menindaklanjuti setiap hasil pertemuan

dengan orang tua; 2) menyediakan penerjemah bagi orang tua jika diperlukan; 3)

mengirim hasil kerja siswa kepada orang tua agar direview dan dikomentari; 4)

membuat kartu laporan pelajar kepada orang tua setiap minggu; 5) membuat

bulletin, newsletter tentang kegiatan di sekolah untuk disampaikan kepada orang tua; 6) menyampaikan informasi dan seluruh program kegiatan di sekolah kepada

orang tua secara jelas; 7) menyampaikan informasi kepada orang tua bahwa

anak-anaknya belajar di sekolah secara aman.

Sekolah dapat menjadwalkan pertemuan berkala dengan orang tua, baik

mingguan atau bulanan. Pertemuan berkala ini sangat penting bagi sekolah dan

orang tua dalam upaya menciptakan pendidikan yang efektif, tanpa masalah. Dalam

pertemuan ini tentunya dibahas hal-hal terkait dengan pendidikan anak, baik

permasalahan yang muncul maupun usulan dari orang tua demi kebaikan

pendidikan anak mereka di sekolah. Terkadang, orang tua dan sekolah

mengabaikan pertemuan berkala. Mereka berpikir apa yang mau dibahas dalam

(9)

9 banyak sekali persoalan yang muncul dalam forum dan menarik untuk dibahas

pihak sekolah dan orang tua. Hasil yang disepakati dalam pertemuan berkala ini,

sekolah perlu mengagendakan secara sungguh-sungguh untuk menindaklanjuti pada

waktu yang akan datang. Sekiranya hasil pertemuan tidak ditindaklanjuti, maka

orang tua tidak lagi mau datang jika diundang ke sekolah.

Sekolah dapat mengadakan pertemuan untuk menerjemahkan

informasi-informasi yang belum jelas, misalnya ada regulasi baru dari pemerintah tekait

dengan pendidikan di sekolah. Dalam keadaan demikian, sekolah dapat

menjelaskan sendiri atau mengundang dinas terkait, misalnya Disdikpora sebagai

penjelas bagi regulasi yang baru dalam dunia pendidikan. Penjelasan ini sangat

penting bagi orang tua peserta didik, agar suatu saat regulasi tersebut diberlakukan

sudah memahami maksud dan tujuannya. Orang tua tidak lagi protes atau tidak

menyetujui aturan baru karena sudah menerima sosialisasi.

Sekolah perlu mengirim hasil kerja siswa kepada orang tua untuk diketahui

dan direview. Orang tua perlu mengetahui hasil belajar anaknya di sekolah sebagai

imbal balik atas usahanya menyekolahkan anaknya. Sekolah berkepentingan untuk

mengirim hasil kerja siswa kepada orang tua sebagai bentuk pertanggung jawaban

atas kepercayaan yang diberikan orang tua kepada pihak sekolah. Dalam hal ini,

sekolah harus menjaga prinsip kejujuran dan objektivitas ketika melaporkan hasil

kerja siswa kepada orang tua mereka.

Objektivitas laporan hasil kerja siswa kepada orang tua perlu dijaga karena

pelaporan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan feed back dari orang tua. Orang tua akan memberi respond atau feedback sesuai dengan laporan yang

diterimanya. Sekolah tidak perlu khawatir terhadap kemarahan orang tua sekiranya

laporan hasil belajar anaknya kurang memuaskan. Hal tersebut mungkin saja

terjadi, dimana orang tua merasa tidak puas, marah atas hasil kerja anaknya di

sekolah yang tidak memuaskan. Dalam hal ini sebaiknya memang laporan tersebut

memuaskan orang tua, karena orang tua sudah susah payah menyediakan berbagai

hal untuk kepentingan pendidikan anaknya di sekolah. Sekolah sudah semestinya

(10)

10 peserta didik yang signifikan ke arah yang lebih baik. Jadi sudah sewajarnya orang

tua mengharapkan laporan hasil belajar anaknya yang baik dari sekolah.

Sekolah dapat juga membuat semacam bulletin atau news berkala untuk

orang tua. Bulletin atau news tersebut berisi reportase kegiatan anak-anak di

sekolah, baik kegiatan pengembangan kognitif, afektif, psikomotorik, hoby,

kreativitas, religi, dan lainnya. Bulletin atau news ini sangat berguna untuk

menginformasikan kepada para orang tua tentang dinamika anak-anak mereka di

sekolah. Sekolah dapat melibatkan anak-anak dalam membuat bulletin atau news

sekolah jika memungkinkan.

Gambar : Contoh bulletin sekolah

(Sumber : http://doniepunya.blogspot.co.id/2010/11/layout-buletin-super-gaul-p.html)

Sekolah perlu mengkomunikasikan kepada orang tua tentang seluruh kegiatan

sekolah secara jelas baik kegiatan intra maupun ekstrakurikuler. Informasi ini

sangat berguna bagi orang tua untuk meyakinkan dirinya bahwa program di sekolah

(11)

11 program sekolah, orang tua dapat mempersiapkan diri dalam memenuhi

kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan bagi pendidikan anaknya di sekolah di hari-hari

mendatang. Bagi sekolah, informasi kegiatan sekolah kepada orang tua ini untuk

menunjukkan bahwa pihak sekolah sungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas

pendidikan. Informasi ini juga sebagai bentuk transparansi yang nantinya akan

dipertanggung jawabkan sekolah pada periode tertentu, semesteran atau tahunan.

Bagi keduanya, sekolah dan orang tua, program kegiatan sekolah merupakan

ikatan perjanjian antara sekolah dan orang tua berkait dengan pendidikan anak di

sekolah. Program kegiatan sekolah juga dapat disebut sebagai garansi bagi orang

tua, bahwa anaknya di sekolah akan mendapatkan perlakuan yang baik dan

bermutu.

B. Tipe Komunikasi

Menurut Olsen&Fuller (2012:110), ada beberapa tipe komunikasi yang dapat

dipilih oleh sekolah dalam hubungannya dengan orang tua siswa, yaitu: 1) verbal,

lisan; 2) wawancara awal; 3) kunjungan ke rumah (home visit); 4) komunikasi informal ; 5) konferensi guru dan orang tua.

Komunikasi verbal adalah komunikasi searah dari sekolah kepada orang tua

untuk memberikan pengarah atau penjelasan beberapa kebijakan sekolah.

Komunikasi verbal ini dapat dilakukan secara kolektif maupun perorangan.

Komunikasi kolektif dilakukan sekolah dalam forum pertemuan bersama

antara sekolah dan orang tua. Dalam forum ini dipaparkan berbagai kebijakan

sekolah oleh kepala sekolah dan komite sekolah. Forum ini akan lebih baik,

manakala pihak sekolah mampu mengembangkan komunikasi dua arah, dialog

antara sekolah dan orang tua.

Komunikasi perorangan dilakukan oleh pihak sekolah kepada orang tua

peserta didik secara khusus untuk membicarakan hal-hal yang khusus pula.

Biasanya sekolah melakukah komunikasi personal ini karena ada hal-hal yang perlu

dibahas secara khusus dengan orang tua, bisa berupa hal yang menyangkut prestasi

(12)

12 Dalam berkomunikasi verbal dengan orang tua, pihak sekolah perlu

mengembangkan komunikasi yang lugas dengan bahasa yang mudah dipahami

orang tua. Sekolah juga dapat menggunakan bahasa daerah guna mempermudah

pemahaman orang tua terhadap informasi yang disampaikan oleh pihak sekolah.

Hindari istilah-istilah yang tidak dipahami oleh orang tua.

Kunjungan ke rumah adalah kegiatan kunjungan ke rumah siswa yang

bertujuan : 1) untuk memahami mereka lebih baik dan sebagai bentuk empati

terhadap keluarga mereka; 2) karena alasan keterpaksaan (ada sesuatu yang

mengharuskan kunjungan). Komunikasi informal adalah komunikasi yang

dilakukan guru dan orang tua dalam suasana keluargaan, tidak formal, santai, tidak

terpaku pada tempat yang khusus.

Komunikasi informal ini dilakukan dengan tetap saling menghormati dan niat

yang alami dari orang tua dan pihak sekolah untuk membicarakan hal-hal yang

dianggap penting terkait dengan anak di sekolah. Komunikasi informal dapat

berlangsung lama dalam suasana sederhana. Hal ini cocok untuk wali murid yang

usianya sudah tua, sibuk atau sering bepergian ke luar kota. Komunikasi informal

ini dapat dilakukan langsung maupun tidak langsung melalui perangkat

komunikasi, misalnya handphone, telephone, e-mail.

Model komunikasi informal yang dikembangkan para guru dalam

berkomunikasi dengan orang tua, ternyata lebih efektif. Orang tua siswa tidak

sungkan lagi untuk bertanya kepada para guru tentang anaknya di sekolah di

manapun berada. Orang tua bertanya secara langsung kepada guru, melalui sms

atau telephone. Hubungan di antara mereka bukan lagi hubungan formal kedinasan,

namun hubungan informal, kekeluargaan. Dengan cara ini, guru dan orang tua

merasa nyaman.

Berns (2004:237) mengemukakan bahwa hubungan baik antara sekolah dan

orang tua ini dapat diwujudkan keluarga dalam bentuk: 1) menciptakan lingkungan

yang mendorong pembelajaran anak; 2) menunjukkan pengharapan yang tinggi atas

anak-anak mereka, baik pretasi sekarang maupun masa depannya; 3) terlibat dalam

kehidupan anak-anak mereka, baik di sekolah maupun di masyarakat. Anak-anak

(13)

13 biaya yang sebanding untuk menyamakan diri dengan kelas sosial yang ada di

sekitarnya.

Menurut Laily (2011:1), sekolah sebagai sebuah institusi mempunyai

kewajiban yang besar terhadap orang tua, demikian juga orang tua juga punya

kewajiban yang besar pula kepada sekolah. Apabila kewajiban dan tanggung jawab

itu dapat dijalankan dengan baik, maka sekolah akan dapat memfungsikan dirinya

secara maksimal karena dukungan orangtua.

Banyak riset yang membuktikan bahwa keterlibatan orang tua dalam

pendidikan anaknya sekolah, terbukti membawa pengaruh yang baik dalam

kehidupan akademik anaknya. Dengan demikan, hubungan yang harmonis antar

orangtua dan sekolah harus diciptakan dan dijaga. Beberapa upaya untuk

menciptakan hubungan komunikasi yang harmonis antara sekolah dan orang tua

adalah.

1. Sekolah selalu berkomuniksi dengan orangtua selalu dalam nuansa yang positif.

2. Sekolah bisa membuat buku penghubung komunikasi untuk menginformasikan

apa yang telah dipelajari siswa, pemberitahuan mengenai PR, memberikan

pujian serta pemberitahuan lain mengenai anak-anak mereka

3. Mengadakan pertemuan dengan orangtua seluruhnya pada awal tahun ajaran

baru dimulai, kenalkan diri dan biarkan orangtua menyampaikan kekhawatiran

serta harapan mereka kepada sekolah, kaitannya dengan proses pendidikan

anak-anak mereka.

4. Sekolah mesti memahami kesibukan orangtua peserta didik, agar ketika

mengundang mereka ke sekolah dapat menyesuaikan jadwal kesibukan

tersebut.

5. Mengajak orangtua untuk menjadi relawan di kelas, menjadi bintang tamu saat

pembelajaran mengenai topik atau yang lainnya.

6. Menjadikan orangtua juga sebagai sumber belajar.

7. Mengadakan pelatihan mengenai pendidikan anak. Hal ini penting agar ada

kesinambungan antara pola asuh di rumah dan di sekolah.

8. Mengadakan workshop mengenai peningkatan akademis anak-anak mereka,

(14)

14 9. Menjadikan situasi pengambilan rapor anak sebagai forum untuk merayakan

keberhasilan dan pencapaian prestasi anak.

Pelibatan orang tua di sekolah ini perlu didukung dengan pengembangan

jalinan komunikasi secara intensif dan proaktif. Untuk menjalin komunikasi intensif

dan proaktif ini, juga dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas praktis di sekolah,

yaitu: 1) ucapan selamat datang dan bergabung dengan sekolah; 2) rapat secara

rutin; 3) mengirimkan berita sekolah secara periodik; 4) membagikan nomor telpon

dan alamat guru dan karyawan; 5) mengundang orang tua dalam rangka

mengembangkan kreativitas dan prestasi peserta didik; 6) home visit; 7) mengadakan pembagian tugas dan tanggung jawab antara sekolah dengan orang

tua; 8) melibatkan orang tua dalam kegiatan sosial di sekolah dan pengambilan

keputusan; 9) memberdayakan orang tua sebagai sumber belajar.

Ucapan selamat datang kepada orang tua dilakukan pada saat anaknya masuk

ke sekolah. Ketika sekolah mengadakan pertemuan awal dengan orang tua, jangan

segan-segan mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung dengan sekolah.

Ucapan tersebut dapat dilakukan langsung ketika berjabat tangan, melalui spanduk

(MMT), melalui sms sekolah ke orang tua, atau melalui forum pertemuan rapat

orang tua. Ucapan ini sangat penting artinya bagi orang tua sebagai titik awal

keterlibatan mereka dengan berbagai aktivitas sekolah.

Setelah memberi ucapan selamat datang dan selamat bergabung, sekolah

segera melakukan pertemuan awal dengan orang tua. Dalam pertemuan ini sekolah

dapat menyampaikan berbagai hal yang terkait dengan sekolah, misalnya

perkenalan, visi, misi, program unggulan, keuangan sekolah, kegiatan

pengembangan diri, dan lainnya. Pada pertemuan ini orang tua juga diberi

kesempatan untuk menyampaikan usulan-usulan konstruktif demi kemajuan

sekolah.

Dalam pertemuan tersebut, sekolah dapat membagikan nomor telephone

seluruh sivitas akademik sekolah kepada orang tua peserta didik. Pemberian nomor

telephone ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada

orang tua dalam berkomunikasi dengan pihak sekolah. Pembagian nomor telephone

(15)

15 hal-hal khusus yang ingin disampaikan orang tua kepada pihak sekolah. Selain itu,

penyampaian nomor telephone ini juga menunjukkan bahwa pihak sekolah siap

melayani pengaduan, saran, masukan atau informasi dari berbagai pihak sepanjang

waktu.

Sekolah juga bisa mengundang orang tua ke sekolah dalam rangka

pengembangan kreativitas dan bakat anak. Orang tua yang memiliki berbagai latar

belakang dan profesi tentunya memiliki ragam potensi juga yang dapat

dimanfaatkan sekolah untuk mengembangkan kreativitas dan bakat anak. Misalnya,

orang tua yang berkiprah dalam bidang seni budaya, tentunya memiliki pengalaman

yang dapat ditularkan kepada anak didik di sekolah dalam pengembangan seni

budaya; orang tua yang berprofesi sebagai pengusaha dapat berbagi pengalaman

kepada sekolah dan peserta didik tentang kiat-kiat berwirausaha; orang tua yang

menjadi pegawai negeri atau birokrat dapat berbagi pengalaman dengan anak didik

tentang seluk beluk birokrasi. Dalam hal ini, orang tua dapat diminta untuk berbagi

pengalaman sekaligus menjadi voluntir di sekolah untuk program pengembangan

diri anak.

Rapat rutin juga dapat dilakukan sekolah dalam rangka membangun

komunikasi dengan orang tua. Rapat rutin dapat dilakukan bulanan, dua bulanan

atau tiga bulanan. Rapat rutin ini sangat bermanfaat untuk saling bertukar informasi

dan dalam rangka pemecahan masalah. Dalam rapat rutin, sekolah dapat memberi

tambahan berupa motivasi kepada orang tua baik melalui motivator, pengajian rutin

atau isian lainnya. Tujuannya adalah agar orang tua memperoleh manfaat ganda.

Namun, terkadang tidak semua orang tua tertarik terlibat dalam urusan

sekolah anak mereka. Beberapa di antara mereka tidak suka anak mereka dan

mencegah mereka dari keinginan mereka untuk berkomunikasi dengan gurunya.

Beberapa orang tua merasa bahwa mereka dipanggil oleh sekolah kalau ada

masalah dengan anak mereka di sekolah. Sebagian di antara mereka sibuk dengan

urusan kerja dan karir, mereka telah kelelahan bekerja, atau bisa jadi di antara

mereka merasa tidak dapat berbahasa dengan baik dan merasa kurang nyaman

(16)

16 C. Komunikasi berkala

Menurut Olsen&Fuller (2012:116), pertemuan sekolah dengan orang tua

dapat dilaksanakan pada awal tahun, tengah tahun dan akhir tahun. Pertemuan awal

tahun ajaran dapat dilaksanakan pada minggu pertama masuk sekolah. Pertemuan

ini terutama dilakukan untuk mensosialisasikan visi, misi, tujuan,

program-program sekolah, dan cara mencapainya. Dalam pertemuan ini dirumuskan

tanggung jawab masing-masing yang hadir, yaitu guru, orang tua, komite, dan

ditulis dijadikan acuan melaksanakan kegiatan di masa mendatang. Pada pertemuan

ini juga dimungkinkan untuk dibuat kesepatan bersama tentang

pertemuan-pertemuan di waktu mendatang.

Pada pertemuan awal tahun ajaran ini, orang tua diminta mengisi formulir

tentang informasi lengkap mengenai anak dan orang tuanya, dan harapan orang tua

kepada sekolah. Olsen&Fuller (2012:117-118), menyebut formulir tersebut dengan

istilah welcoming letter. Welcoming letter ini sangat penting untuk memulai komunikasi antara guru dengan orang tua. Welcoming letter yang diberikan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, akan memberikan gambaran kepada orang

tua tentang persekolahan, sehingga mereka tertarik untuk hadir pertemuan orang tua

dengan sekolah di hari-hari mendatang, membantu orang tua memahami proses

pendidikan di kelas, dan menginformasikan kepada orang tua tentang keterlibatan

yang bisa dilakukan.

Welcoming letter setidaknya memuat tentang: 1. Profil Guru

a. Informasi tentang latar belakang dan pengalaman.

Informasi ini meliputi latar belakang keluarga, sosial, ekonomi,

pendidikan, pengalaman kerja, pengalaman organisasi. Informasi ini sangat

penting diketahui orang tua agar orang tua mengetahui performa pribadi guru

secara lengkap, karena dialah yang nantinya akan mendampingi pendidikan

putra-putrinya. Orang tua semakin mantap menyekolahkan anaknya dengan

bimbingan guru-guru yang terpercaya.

(17)

17 Orang tua perlu diberi tahu cara mengontak gurunya secara mudah.

Informasi yang perlu disampaikan kepada orang tua misalnya nomor

telephone, nomor handphone, Watshaps, alamat e-mail, alamat tinggal.

Informasi ini perlu disampaikan kepada orang tua agar mereka dapat

berkomunikasi dengan guru sewaktu-waktu diperlukan. Bagi guru, dia harus

siap setiap saat manakala orang tua perlu berkomunikasi dengannya.

2. Sekolah, pusat-pusat studi, kelas

a. Visi, misi, pusat-pusat kajian

Visi misi sekolah harus disampaikan kepada para orang tua sedini

mungkin, bahkan setiap ada kesempatan, sekolah perlu mensosialisasikan visi

misinya. Kepala sekolah perlu mensosialisasikan visi misi kepada stakeholder

agar mereka memahami arah dan kebijakan sekolah dikemudian hari. Di

samping itu, sosialisasi ini dimaksudkan agar mereka juga mendukung dan

memberi kontribusi yang nyata bagi pencapaian visi misi sekolah.

Selan itu, sekolah perlu menginformasikan pusat-pusat kajian atau

sumber-bumber belajar yang dapat dimanfaaatkan oleh siswa dalam kegiatan

pembelajaran. Pusat-pusat kajian merupakan sentra-sentra yang menyediakan

informasi atau sumber belajar dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar

peserta didik. Para orang tua diminta mendorong anak-anak mereka agar

memanfaatkan pusat-pusat kajian di sekolah dalam rangka meningkatkan

kualitas diri.

Informasi tentang kelas juga perlu disampaikan sekolah kepada orang

tua, meliputi kelas regular, kelas unggulan, moving class, kelas tambahan, atau kelas program khusus. Setiap sekolah memiliki kebijakan yang berbeda

dalam pengaturan kelas bagi peserta didik. Orang tua perlu memahami

kebijakan sekolah tentang pembagian kelas di sekolah agar dia dapat

mengkondisikan anaknya di rumah sesuai dengan kelasnya.

b. Kalender pendidikan (Kaldik)

Kalender pendidikan perlu disosialisasikan kepada berbagai pihak yang

(18)

18 mengetahui kalender pendidikan, diharapkan orang tua dapat menyesuaikan

diri dalam mengatur pikiran, kegiatan, tenaga dan keuangan untuk anaknya di

sekolah. Orang tua dapat menyusun jadwal liburan dan acara keluarga lainnya

dengan memperhatikan kalender pendidikan anaknya. Dengan demikian,

diharapkan anak tidak terganggu kegiatan belajarnya di sekolah. Kalender

pendidikan tersebut setidaknya memuat tentang hari KBM efektif, hari libur

nasional, cuti bersama, jadwal ulangan tengah semester, jadwal ulangan akhir

semester, jadwal ujian akhir, jadwal remidi, jadwal daftar ulang, jadwal class

meeting, jadwal libur semesteran, dan hari-hari penting lainnya yang perlu

diketahui oleh stakeholder.

c. Kebijakan sekolah tentang kehadiran, tata tertib

Kebijakan sekolah tentang kehadiran peserta didik berbeda-beda, ada

sekolah yang menjadikan kehadiran siswa sebagai sarat bagi yang

bersangkutan untuk dapat mengikuti ujian, namun ada juga yang tidak. Orang

tua perlu mengetahui kebijakan tentang kehadiran ini agar dapat mengontrol

tingkat kehadiran peserta didik ke sekolah. Orang tua dapat cross check

kegiatan anak dengan kalender pendidikan yang ada, sehingga orang tua

dapat mengingatkan anaknya manakala tidak hadir ke sekolah.

Orang tua juga perlu mendapat informasi tentang tata tertib sekolah.

Tata tertib sekolah ini meliputi tata tertib berpakaian, kerkapian, tata tertib

kehadiran, pulang sekolah, kewajiban dan larangan, dan juga termasuk

mekanisme hukuman atas pelanggaran tata tertib. Dalam hal ini, orang tua

perlu diminta pendapatnya mengenai tata tertib sekolah, apakah merka setuju

ataukah keberatan. Jika mereka keberatan sekolah dapat mendiskusikan

dengan mereka untuk mencari jalan tengah yang terbaik. Sekolah tidak boleh

memaksakan tata tertib sekolah secara sepihak tanpa sepengetahuan dan

persetujuan dari orang tua.

Jika orang tua belum menyetujui dan sekolah memaksakan tata tertib

diberlakukan, maka yang akan terjadi adalah disharmoni antara sekolah dan

(19)

19 berwajib manakala menghukum anaknya atas pelanggaran tata tertib; sekolah

dianggap melakukan tindak kekerasan fisik.

3. Orang tua

a. Cara orang tua berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan anaknya di sekolah

Orang tua peserta didik perlu mendapat informasi tentang cara mereka

berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah dalam rangka peningkatan mutu

pendidikan. Partisipasi orang tua pada kegiatan di sekolah dapat berupa

sumbangan pemikiran, tenaga, maupun material. Orang tua perlu mendapat

kejelasan bagaimana mekanisme partisipasi tersebut.

b. Undangan sukarela bagi orang tua untuk berdiskusi dengan sekolah,

mengunjungi kelas, dan memberi dorongan kepada anaknya dan juga guru di

sekolah.

Sekolah juga perlu menginformasikan kepada para orang tua akan

kemungkinan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Orang tua perlu diberi

tahu bahwa sekolah adalah lembaga milik bersama, di mana setiap orang

dapat berkontribusi untuk kemajuan sekolah. Orang tua dapat berpartisipasi di

sekolah, baik dalam kegiatan intra maupun ekstrakurikuler. Oleh karenanya,

sekolah perlu menginformasikan kepada orang tua tentang mekanisme

partisipasi tersebut.

4. Umpan balik

Umpan balik berupa formulir dimana orang tua dapat mengekspresikan

harapannya kepada guru dan sekolah, petunjuk yang mengarahkan mereka ingin

terlibat dalam kegiatan di sekolah, harapan-harapan mereka terhadap anaknya

yang sekolah. Umpan balik orang tua ini dapat dilakukan melalui formulir, via

email, sms, telephone, atau kotak saran, maupun kontak yang tersedia di web

sekolah. Umpan balik ini sangat penting bagi sekolah dalam rangka

meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

Jika sekolah mendapat umpan balik dari orang tua peserta didik harus

segera ditindaklanjuti. Hal ini sangat penting untuk menunjukkan bahwa sekolah

sangat sportif dalam menerima saran perbaikan dari berbagai pihak. Setelah

(20)

20 kepada orang tua bahwa saran feedback sudah ditindaklanjuti. Cara demikian

dapat meningkatkan trust public kepada sekolah.

Pertemuan tengah tahun, diselenggarakan untuk mengevaluasi secara kolektif

tingkat keberhasilan pencapaian tujuan yang telah disampaikan pada awal tahun

ajaran sebelumnya. Pada pertemuan ini dapat juga dilakukan

penyesuaian-penyesuaian terhadap pencapaian tujuan dan penanggung jawab jika diperlukan.

Hal mungkin terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara penanggung jawab

dengan bidang tugas yang diembannya pada semester yang telah berjalan, atau ada

persoalan lain yang menghambat pencapaian tujuan yang telah direncanakan.

Sementara itu, pada pertemuan akhir tahun dimanfaatkan untuk melihat

perkembangan pencapaian tujuan utama dan tujuan yang telah dimodifikasi pada

pertemuan semester berjalan. Pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk mengevaluasi

progress tahunan atas seluruh program yang telah ditetapkan. Pertemuan akhir

tahun merupakan waktu yang tepat bagi orang tua, guru dan peserta didik untuk

mengetahui keberhasilan atas segala usaha yang telah dilakukan pada tahun yang

bersangkutan (Olsen&Fuller, 2012:116).

D. Komunikasi hasil belajar siswa

Menurut Olsen&Fuller (2012:121), banyak sekali media yang dapat

digunakan untuk mengkomunikasikan hasil kerja siswa, kegiatan siswa, atau

keadaan siswa di sekolah kepada orang tua, misalnya folders, journals, report card, narrative report ataupun newsletter.

Guru dapat menciptakan media komunikasi mingguan dengan orang tua

dalam bentuk folders, dimana para siswa dapat membawanya pulang kemudian dikembalikan ke sekolah lagi. Guru biasanya memilih satu hari dalam seminggu

untuk mengirimkan folders tersebut kepada orang tua. Folders ini dapat berisi tugas

PR, pekerjaan di kelas, feed back dari dan untuk orang tua, pengumuman kegiatan yang akan datang, catatan-catatan untuk orang tua, atau materi lain yang dianggap

penting. Komunikasi jenis ini juga mengembangkan rasa tanggung jawab siswa di

sekolah karena orang tuanya akan membaca apa yang terjadi dengan dirinya selama

(21)

21 Bentuk komunikasi tertulis dua arah yang sering digunakan anak untuk

kepentingan khusus dapat juga menggunakan jurnal sekolah – rumah (home school

journal). Jurnal ini khusus untuk membantu manakala orang tua tidak dapat datang ke sekolah setiap hari untuk memantau perkembangan anaknya. Jurnal ini berupa

catatan, dimana guru memberikan komentar tentang anaknya ketika di sekolah

secara rutin; jurnal ini kemudian dikirimkan anaknya untuk disampaikan kepada

orang tua, selanjutnya orang tua memberi tanggapan atas uraian yang diberikan

oleh gurunya.

Report card adalah media yang biasanya digunakan untuk berbagi informasi tentang kemajuan akademik peserta didik. Guru mengevaluasi dan melaporkan

catatan kemajuan siswa, kelebihan dan kekurangan anak kepada orang tua di

rumah.

Contoh Report card

Media lainnya adalah dengan narrative report, yang berupa uraian detail mengenai keadaan anak di sekolah. Guru yang bersedia menulis narrative report perlu diapresiasi atas kesediaan waktunya dan upayanya untuk meningkatkan

(22)

22 yang bisa menggambarkan hanya satu anak secara detail dan diuraikan dalam

bahasa yang ringan, komunikatif atas segala aktivitas kelas anak-anak sehingga

menjadi hidup di hadapan pembaca. Dalam narrative report ini diuraikan tentang performa anak secara keseluruhan dan detail, baik performa kognitif, afektif,

psikomotorik, sikap sosial dan sikap spiritual. Narrative report merupakan deskripsi nilai kuantitatif yang biasanya ditulis dalam penskoran hasil evaluasi.

Baik report card atau narrative report, guru harus menulisnya dengan jelas sehingga dapat dipahami oleh orang tua siswa, dan memberi kesempatan orang tua

untuk memberikan feed back atas laporan tersebut. Dalam keduanya, perlu ada kolom yang disediakan memberi kesempatan kepada orang tua untuk memberi

feedback.

Media lain yang dapat digunakan juga adalah recognition card, certificate atau happy gram, dimana cara ini dilakukan oleh guru dengan menulis singkat nama siswa dan performanya. Guru dapat menyimpannya dan dapat mengirim

kepada yang bersangkutan jika diperlukan, guru juga dapat memanfaatkannya

sebagai media untuk mengucapkan terima kasih kepada orang tua atas usahanya.

Kartu ini dibuat yang menarik berwarna-warni sehingga anak merasa senang dan

bangga kalau diberinya.

Media lain yang dapat digunakan untuk komunikasi antara guru dan orang tua

adalah newsletter. Newsletter termasuk written communication, yaitu berupa publikasi tertulis yang terbit berkala yang sangat penting untuk menginformasikan

kepada orang tua tentang berbagai aktivitas di kelas dan kegiatan sebelumnya

sehingga pembaca dapat mengikuti dinamika kegiatan yang terjadi di sekolah

(Olsen&Fuller, 2012:118). Newletter biasanya dikirim dua mingguan atau bulanan

tergantung pada guru dan sekolah masing-masing.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun newsletter, yaitu:

1. Materi berorientasi untuk siswa

a. Sampel aktivitas siswa (artikel, puisi, karikatur, gambar,dsb)

b. Kutipan-kutipan yang relevan dari siswa tentang aktivitas mereka dan

pengalaman di kelas (berita dari siswa, pengalaman camping, outbond,

(23)

23 c. Gambar aktivitas siswa.

Gambar aktivitas siswa ini dimuat untuk melengkapi uraian pengalaman

siswa di atas.

2. Materi berisi tentang keterlibatan keluarga / orang tua

a. Materi dapat diminta dari orang tua sesuai kebutuhan, misalnya :

kewirausahaan, ketokohan, orang tua yang butuh bantuan, orang tua yang

berprestasi, dan lainnya.

b. Sumber daya di luar kelas yang berhubungan dengan aktivitas kelas yang

actual. Misalnya tempat-tempat pelatihan, kursus

c. Cara melakukan latihan pendalaman materi pelajaran di rumah. Misalnya : kita mudah belajar matematika, kiat mudah baca al Qur‟an, belajar bahasa Inggris yang mengasikkan.

d. Materi terdiri dari berbagai topik. Misalnya saintifik, olahraga dan kesehatan,

seni budaya, profil, karikatur, puisi, cerpen, kisah inspiratif, dll.

3. Materi yang berisi informasi, misalnya:

a. Tanggal-tanggal yang perlu diingat

b. Pengumuman dari sekolah dan masyarakat

c. Artikel pendek yang mungkin menarik bagi orang tua

d. Ucapan terima kasih kepada orang tua yang telah terlibat dalam berbagai

kegiatan sekolah

e. Buku-buku bacaan atau alamat web yang disarankan perlu dibaca oleh orang

tua dan anak

f. Hal-hal yang disarankan perlu dikerjakan bersama antara anak dan orang tua

g. Ucapan selamat datang pada siswa kelas baru dan keluarganya

h. Sinopsis singkat tentang apa yang harus dikerjakan siswa di kelas

i. Artikel atau catatan dari orang tua untuk orang tua lainnya

Newsletter juga dapat dipergunakan sebagai alat pembelajaran, yaitu dengan mencantumkan berbagai aktivitas, buku-buku referensi, websites, dan sumber materi lain dalam masyarakat, peserta didik memiliki kesempatan untuk

memperluas pembelajaran dan minat mereka, tidak hanya sekedar di dalam ruang

(24)

24 newsletter, oleh karena itu guru dapat melibatkan siswa untuk pengelolaan newsletter.

Sebelum guru melibatkan peserta didik dalam pengelolaan newsletter,

sekolah perlu melakukan pelatihan jurnalistik bagi mereka. Sekolah bisa juga

menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler Jurnalistik atau Majalah Sekolah.

Wadah ini disediakan bagi peserta didik yang memiliki hoby menulis dan dalam

bidang jurnalistik sekaligus dapat membantu sekolah mengelola newsletter yang

diterbitkan berkala.

Selain hal di atas, menurut Davern (dalam Olsen&Fuller,2012:120-121), satu

hal penting setelah dilakukan progress report melalui berbagai media tersebut adalah perencanaan kegiatan tatap muka dengan orang tua secara langsung.

Pertemuan ini secara langsung dengan orang tua akan dapat menjelaskan hal-hal

yang masih diragukan dalam informasi tertulis yang disampaikan guru kepda orang

tua secara berkala. Dari sekian banyak media komunikasi yang dapat digunakan

sekolah dalam berkomunikasi dengan orang tua, biasanya sekolah baru

menggunakan, telephone, majalah, dan raport; sementara itu media yang lain belum

digunakan. Namun, secara perlahan media-media komunikasi lain tersebut mulai

diberlakukan oleh kementerian pendidikan. Misalnya dalam laporan hasil belajar

akhir semester, sekarang tidak lagi hanya berupa angka-angka kuantiatif saja,

melainkan disertai dengan deskripsi naratif bagi setiap anak.

Faktor yang menyebabkan para guru belum memanfaatkan berbagai media

tersebut adalah karena beban kerja guru yang berat dan cara pandang guru yang

pesimis terhadap para orang tua siswa. Beban guru yang dirasa berat menyebabkan

mereka tidak sempat mengembangkan berbagai instrument interaksi komunikatif

dengan para orang tua siswa. Waktu dan pikiran para guru dihabiskan untuk

menyelesaikan beban kerja yang diembannya, misalnya mengembangkan materi

ajar, mengembangkan media dalam pembelajaran, mengembangkan metode

pembelajaran aktif variatif, membuat perencanaan pembelajaran, mengoreksi hasil

kerja siswa. Guru lebih memikirkan bagaimana mengajar di kelas yang baik,

mendongkrak nilai siswa dan menyelesaikan persoalan siswa sendiri atau dengan

(25)

25 anak didik setiap semester sekali, karena dipandang simpel dan tidak terlalu

merepotkan kerja guru. Sementara di luar jam kerja sekolah, para guru harus

melakukan aktivitas lain untuk kepentingan keluarga dan urusan sosial

kemasyarakatan di daerahnya.

Guru memandang bahwa komunikasi berkala dengan orang tua, harian,

mingguan atau dua mingguan tidak akan berdampak bagi performa anak. Para guru

menganggap bahwa orang tua tidak memiliki kesempatan untuk mencermati media

komunikasi yang dikembangkan guru setiap hari atau setiap minggu; sehingga

seandainya dikembangkan komunikasi tersebut tidak akan berjalan dengan

maksimal. Hanya beberapa orang tua yang diangap memiliki kesempatan dan

waktu untuk merespon komunikasi sekolah dan orang tua secara baik.

Para guru juga menganggap bahwa orang tua siswa tidak memiliki waktu

yang cukup untuk merespond seandainya sekolah mengembangkan komunikasi

berkala dengan mereka. Para orang tua harus bekerja sepenuh waktu untuk

memenuhi kebutuhan mereka. Profesi tersebut membuat para orang tua lebih

memikirkan pekerjaannya dari pada pendidikan anaknya.

Cara pandang guru tersebut harus dirubah sekarang, karena pada masa

sekarang telah terjadi pergeseran kesadaran orang tua dalam pendidikan

anak-anaknya. Perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya kini telah membaik,

terbukti banyaknya orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya di

sekolah-sekolah unggulan yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak kecil. Bagi

mereka, biaya pendidikan bukan lagi jadi pesoalan selama berbanding lurus dengan

kualitas sekolah yang besangkutan. Kini, orang tua berebut agar anak-anaknya menjadi „orang hebat‟ dengan menyekolahkan anaknya di sekolah unggulan.

Orang tua yang tergolong demikian tentunya memiliki perhatian besar

terhadap pendidikan anaknya. Sekolah yang mengembangkan komunikasi dengan

berbagai media tersebut, tentunya mendapat respond yang positif dari orang tua.

Mereka tidak sekedar membayar uang sekolah yang mahal, namun juga memberi

(26)

26 E. Mengkomunikasikan Jaminan Keamanan

Menurut Decker&Virgin, (2003:214), sekolah yang aman adalah sekolah

yang secara fisik, tata letak dan prosedur-prosedur dirancang untuk meminimalisir

gangguan-gangguan pada peserta didik dan menghambat sekolah dalam mencapai

misi utamanya. Decker&Virgin (2003:210) menambahkan bahwa, untuk

menciptakan sekolah yang aman membutuhkan lokasi yang mampu mencegah dari

tindakan-tindakan yang membahayakan keselamatan anak baik secara fisik maupun

emosional dengan menggunakan pendekatan yang komprehensif sehingga mampu

mengindentifikasi sedini mungkin tindakan-tindakan yang mengarah pada hal-hal

yang menjadikan anak tidak nyaman secara fisik dan emosional. Dengan demikian

sekolah yang aman adalah sekolah yang membuat warga sekolah nyaman secara

fisik dan emosional.

Center for Effective Collaboration and Practice (dalam Decker&Virgin,2003:210-212), memaparkan karakteristik sekolah dalam suatu

masyarakat yang dianggap mampu memberikan pencegahan, tidak mengintervensi,

dan responsive terhadap hal-hal yang mengganggu kenyamanan peserta didik. Karakteristik sekolah aman tersebut adalah:

1. Fokus pada prestasi akademik

Sekolah yang fokus pada prestasi akademik membuat anak nyaman

karena segala aktivitas bermuara pada peningkatan prestasi akademik peserta

didik. Anak senantiasa dikondisikan dalam suasana akademik apapun bentuk

kegiatannya. Orang tua menjadi tidak khawatir dengan sekolah ini karena

anaknya akan senantiasa mendapatkan pengalaman akademik.

2. Melibatkan keluarga, orang tua dalam berbagai kegiatan yang bermakna

Sekolah yang dapat melibatkan keluarga dan orang tua dalam

kegiatannya menunjukkan bahwa sekolah tersebut memahami tanggung jawab

dan kewenangan pendidikan. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang

holistik, yaitu melibatkan seluruh pihak yang terkait dalam penanganan anak

didik. Pelibatan orang tua tersebut juga sebagai bentuk transparansi sekolah

(27)

27 3. Mengembangkan jaringan dengan masyarakat

Selain dengan orang tua, sekolah juga mengembangkan jaringan dengan

masyarakat seluas-luasnya. Sekolah yang mengembangkan jaringan dengan

masyarakat luas akan mendaptkan sumber belajar yang banyak. Hal ini

memungkinkan terjaminnya materi pembelajaran yang cukup memadai bagi

anak didik.

4. Menekankan hubungan positif antara pelajar dan para pegawai

Sekolah perlu membangun relasi emosi yang positif antara para pegawai

dengan peserta didik. Relasi emosi yang positif ini menjadikan peserta didik

merasa nyaman dan aman di sekolah. Peserta didik terhindar dari rasa was-was,

rasa takut, dan merasa ada tempat untuk berbagi masalah.

5. Mendiskusikan masalah-masalah keamanan sekolah secara terbuka

Sekolah yang aman perlu terbuka dengan pihak terkait. Dalam hal

keamanan sekolah, para guru perlu mensosialisasikan kepada berbagai pihak

sehingga semua pihak akan mendukung dalam pengamanan sekolah. Sekolah

tidak perlu mengembangkan rasa curiga dan was-was secara berlebihan.

6. Memperlakukan siswa dengan hormat

Peserta didik adalah subjek dalam pendidikan, oleh karean itu dia harus

diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Anak didik adalah individu yang sedang

memasuki tahapan perkembangan tertentu. Sekolah bertugas menggali dan

mengembangkan potensi yang dimilikinya agar tumbuh berkembang secara

maksimal. Para guru harus menghargai apapun potensi yang dimiliki setiap

peserta didik, para guru tidak boleh memperlakukan secara istimewa terhadap

peserta didik yang memiliki bakat atau potensi tertentu. Jika hal demikian

terjadi, maka guru tidak lagi dapat mengembangkan potensi anak melainkan

justru membunuh potensi anak. Setiap anak berhak untuk mengembangkan diri

sesuai dengan bakat dan potensi yang dimilikinya, dan tugas guru adalah

mendampinginya.

(28)

28 Setiap anak cenderung memiliki masalah, namun ada peserta didik yang

beranin mengungkapkan kepada gurunya dan ada yang kurang berani. Sekolah

mestinya menyediakan fasilitas yang memungkinkan dirinya menyampaikan

perasaan dan pikirannya. Fasilitas tersebut bisa melalui media tulis, lisan

maupun yang lainnya yang menjadikan anak aman dan nyaman menyampaikan

unek-uneknya tadi. Hal ini sangat penting agar anak dapat belajar secara

maksimal tanpa diganggu oleh perasaan dan pikiran yang tidak enak.

8. Membantu para siswa merasa aman dan mengekspresikan perasaan mereka

Siswa juga perlu diberi fasilitas untuk menyampaikan ide dan

gagasannya secara bebas, terbuka dan aman. Pernyataan perasaan ini dapat

berupa coretan, gambar, karikatur, puisi, cerpen, karya ilmiah, gesture, musik,

bernyanyi, dan lainnya. Sekolah yang aman sebaiknya menyediakan fasilitas

agar masing-masing siswa dapat mengekspresikan perasaannya secara bebas.

Sekolah dapat membuat majalah dinding, majalah sekolah, panggung terbuka

dan corner-corner pengembangan diri siswa.

9. Memiliki sistem yang tepat untuk menangani peserta didik yang mengalami

gangguan atau merasa diabaikan

Yang dimaksud gangguan adalah hal-hal yang dapat mengganggu

kenyamanan anak belajaar. Gangguan ini dapat berupa masalah psikologis,

fisiologis, sosial, masalah di sekolah, masalah di rumah, maupun masalah

pergaulan di luar sekolah. Sekolah dapat menyediakan fasilitas klinik

psikologis atau BK dan klinik kesehatan guna membantu anak yang mengalami

gangguan-ganggan tersebut. Agar anak tidak mengalami masalah yang

berkelanjutan, sekolah dapat mengadakan kegiatan pemeriksaan kesehatan

berkala mingguan atau bulanan baik kesehatan fisik maupun psikhis.

10. Mendorong peserta didik untuk senantiasa menjadi warga negara yang baik dan

berkarakter

Setiap anak harus didorong agar menjadi warga negara yang baik. Untuk

menjadi warga negara yang baik, harus dimulai dari sekolah yaitu menjadi

warga sekolah yang baik. Jika setiap anak menjadi warga sekolah yang baik

(29)

29 melanggar tata tertib sekolah, berperilaku yang tidak baik akan membuat anak

lain menjadi ketakutan dan tidak nyaman dalam belajar.

Untuk pembentukan karakter anak yang baik di sekolah, maka seluruh

civitas akademik di sekola harus senantiasa berusaha untuk dapat menegakkan

tata tertib sekolah. Kepatuhan pada tata tertib sekolah merupakan upaya dini

untuk membuat anak sadar hukum dalam kehidupan sosial. Pelanggaran

sekecil apapun di sekolah, harus diberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang

berlaku.

Pembentukan karakter anak juga perlu dilakukan di sekolah agar anak

memiliki kesadaran berbuat dan berkarakter baik. Karakter baik ini sangat

diperlukan sebagai modal bagi kehidupan dia mendatang. Anak yang

berkarakter baik di sekolah akan berkarakter baik pula kelak dalam kehidupan

di masyarakat. Oleh karena itu pembentukan karakter anak di sekolah

sangatlah penting.

11. Mengidentifikasi masalah dan memantau kemajuan penyelesaian masalah

Sebagaimana telah diuraikan di muka bahwa setiap anak memiliki

masalah dalam kadar yang berbeda-beda. Sekolah harus mampu

mengidentifikasi dan berupaya memberikan bantuan penyelesaian masalah

tersebut. Setelah diselesaikan, maka sekolah perlu memantau bagaimana

perkembangan anak yang bermasalah. Tujuannya adalah untuk memastikan

bahwa anak benar-benar terselesaikan masalahnya. Dengan demikian, anak

akan merasa nyaman dalam belajar.

12. Mendorong peserta didik menghadapi masa transisi dari sekolah menuju

kehidupan dewasa dan memasuki dunia kerja.

Sekolah yang aman dan efektif senantiasa memiliki program yang

mempersiapkan peserta didik memasuki dunia dewasa atau dunia kerja. Peserta

didik perlu memiliki kesiapan mental emosional agar tidak kaget ketika

memasuki dunia yang berbeda, mereka segera dapat beradaptasi dengan

suasana yang baru.

Selain hal tersebut di atas, untuk menjamin keamanan dan kenyamanan siswa

(30)

30 seluruh siswa, baik dalam kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas. Berikut

disajikan contoh tata tertib SMA Negeri 1 Salatiga.

Tata tertib siswa SMA Negeri 1 Salatiga:

UMUM:

1. Setiap siswa wajib menjadi anggota OSIS SMA Negeri 1 Salatiga

2. Setiap siswa wajib menjaga nama baik sekolah selama menjadi siswa SMA

Negeri 1 Salatiga

3. Setiap siswa SMA Negeri 1 Salatiga berkewajiban mengetahui, memahami dan

menjalankan tata tertib sebagaimana yang telah ditentukan

4. Setiap siswa dilarang terlibat perkelahian dan tindakan kriminal seperti

pencurian, penyalahgunaan obat-obatan terlarang (Narkoba), pemerasan, serta

tindakan kerusuhan lain.

5. Siswa dilarang membawa dan menggunakan barang-barang yang tidak terkait

dengan proses pembelajaran seperti senjata tajam, senjata api,

buku/cetakan/VCD porno, rokok dan lain-lain

6. Selama menjadi siswa SMA Negeri 1 Salatiga setiap siswa dilarang keras

menikah, hamil/menghamili atau melakukan perbuatan zina

7. Setiap orang tua / wali siswa wajib ikut mendukung kelancaran pelaksanaan tata

tertib sekolah

8. Siswa dilarang mengendarai kendaraan bermotor sebelum memiliki SIM

KEGIATAN INTRA KURIKULER

1. Siswa sudah harus berada di sekolah sepuluh menit sebelum jam pertama

dimulai

2. Siswa harus berada dalam lingkungan sekolah selama kegiatan intra kurikuler

3. Siswa harus berdo‟a serta memberi hormat pada guru sebelum dan sesudah

kegiatan intra kurikuler

4. Siswa yang terlambat, harus minta surat izin kepada guru piket dan

menunjukkan surat tersebut kepada guru yang mengajar pada jam pelajaran

5. Siswa yang tidak masuk sekolah wajib dimintakan izin oleh orang tua / wali

(31)

31 6. Siswa yang terpaksa meninggalkan jam pelajaran wajib meminta izin kepada

guru yang mengajar dan guru piket. Bila karena keperluan keluarga harus

dibuktikan dengan surat pemberitahuan orang tua / wali, dan siswa wajib

menyerahkan kembali surat izin yang sudah ditandatangani oleh orang tua /

wali saat kembali ke sekolah

7. Siswa wajib menjaga ketenangan, ketertiban, kebersihan, kerapian dan

keindahan kelas

8. Siswa wajib menjaga keutuhan barang-barang / inventaris kelas

9. Siswa wajib berada di luar kelas pada jam istirahat

10. Ketua kelas wajib melapor kepada guru piket apabila guru berhalangan hadir

11. Siswa dilarang membawa dan menggunakan barang-barang yang tidak

diperlukan dalam kegiatan intra kurikuler

12. Siswa dilarang menggunakan HP selama KBM berlangsung tanpa seizin guru

13. Siswa dilarang mengenakan jaket/jemper pada saat KBM dan kegiatan di

lingkungan sekolah

PAKAIAN SERAGAM SEKOLAH

1. Siswa wajib mengenakan seragam sekolah beserta kelengkapan sesuai ketentuan

2. Siswa wajib mengenakan pakaian olah raga yang telah ditentukan

3. Siswa tidak dibenarkan memakai perhiasan / bersolek secara berlebihan

4. Siswa wajib mengatur rambutnya dengan rapi dan tidak dicat selain warna hitam

(putra tidak menyentuh kerah baju dan telinga)

5. Siswa wajib mengenakan sepatu (warna hitam, tali hitam) dan ikat pinggang

hitam serta kaos kaki putih

KEGIATAN EKSTRA KURIKULER

Siswa wajib mengikuti minimal 1 (satu) kegiatan ekstrakurikuler yang

diselenggarakan oleh sekolah, kecuali siswa kelas X ditambahkan ekstrakurikuler

kegiatan Pramuka

UPACARA BENDERA

1. Setiap siswa wajib mengikuti upacara bendera yang diselenggarakan oleh

(32)

32 2. Ketua kelas bertanggung jawab atas kesiapan dan ketertiban kelasnya dalam

mengikuti upacara bendera

3. Ketua kelas wajib melaporkan segala kekurangan tentang barisannya pada wali

kelas masing-masing

SANKSI

Setiap pelanggaran tata tertib sebagaimana tersebut di atas akan dikenakan sanksi

sebagai berikut.

SANKSI UMUM

1. Peringatan.

2. Skorsing di lingkungan sekolah.

3. Diserahkan kembali ke orang tua / wali siswa (dikeluarkan).

4. Kecuali pelanggaran no.6 tanpa a, b, c langsung dikembalikan ke orang tua /

wali siswa.

5. Pelanggaran no.8 tidak boleh parkir di lingkungan sekolah.

6. Satu kali pelanggaran A no.4 (perkelahian) peringatan keras dan memanggil

orang tua.

7. Dua kali pelanggaran A no.4 (perkelahian) dikembalikan ke orang tua.

8. Satu kali pelanggaran A no.4 (tindakan kriminal, perampokan, pencurian,

penyalahgunaan obat terlarang, pemerasan, dan tindakan kerusuhan lain)

dikembalikan ke orang tua.

9. Satu kali pelanggaran merokok diperingatkan dan pemanggilan orang tua.

10. Dua kali pelanggaran dikembalikan ke orang tua.

11. Satu kali pelanggaran A no.5 disita dan pemanggilan orang tua.

12. Dua kali pelanggaran dikembalikan ke orang tua.

SANKSI KHUSUS

1. Sanksi pelanggaran intrakurikuler.

a. Pelanggaran pada tata tertib nomor 1,2,3 dan mengacu pada sanksi umum.

b. Satu kali sampai dua kali keterlambatan, siswa diberikan peringatan dan

padanya wajib melaksanakan tugas kebersihan sebelum jam pelajaran

berikutnya. Dan pada keterlambatan yang ketiga dikenakan sanksi tertulis

(33)

33 c. Pelanggaran tata tertib no.5 (lima) siswa diberi peringatan dan wajib

menyerahkan surat izin orang tua / wali siswa pada hari berikutnya

d. Pelanggaran tata tertib no.6 (enam) mengacu pada sanksi umum dan tanpa

permohonan orang tua / wali siswa siswa tidak diizinkan meninggalkan

sekolah.

e. Pelanggaran tata tertib no.7 (tujuh) mengacu pada sanksi umum, dan siswa

dituntut untuk mengembalikan kerapian, keindahan, dan kebersihan kelas.

f. Pelanggaran tata tertib no.8 (delapan) siswa dituntut untuk mengembalikan

keutuhan barang inventaris kelas.

g. Pelanggaran no.9 (Sembilan) dan 10 (sepuluh) siswa dikenakan tindakan

peringatan mengacu pada sanksi umum.

h. Satu kali pelanggaran tata tertib no.11 (sebelas) siswa diberi peringatan yang

disertai pemanggilan orang tua / wali siswa.

i. Satu kali pelanggaran no.12 siswa diperingatkan dan HP disita.

1) Dua kali pelanggaran no.12 HP disita dan hanya orang tua yang boleh

mengambil.

2) Tiga kali pelanggaran no.12 HP disita dan boleh diambil pada awal tahun

pelajaran baru.

j. Satu kali pelanggaran B no.13 diminta melepas.

1. Dua kali pelanggaran B no.13 disita dan tidak dikembalikan.

2. Sanksi pelanggaran seragam sekolah

a. Satu kali pelanggaran tata tertib no 1 (satu) siswa diberi peringatan lisan dan

wajib melengkapi segala kekurangannya.

Dua kali pelanggaran tata tertib no.1 (satu) siswa diberi peringatan tertulis.

Tiga kali pelanggaran tata tertib no.1 (satu) dilakukan pemanggilan orang tua /

wali siswa.

b. Pelanggaran tata tertib no.2 (dua) siswa tidak diperkenankan mengikuti

pelajaran olah raga.

c. Pelanggaran tata tertib no.3 (tiga) siswa diberi peringatan secara lisan.

(34)

34 Dua kali pelanggaran tata tertib no.4 (empat) siswa dipotong rambutnya di

sekolah.

e. Satu kali pelanggaran tata tertib no.5 (lima) siswa diberi peringatan secara

lisan dan melepas sepatunya di ruang piket selama pelajaran berlangsung.

Dua kali pelanggaran tata tertib no.5 (lima) siswa melepas sepatu dan tidak

dikembalikan selama 1 semester.

Tiga kali pelanggaran tata tertib no.5 (lima) sepatu diambil dan tidak

dikembalikan.

3. Sanksi pelanggaran upacara bendera.

Pelanggaran yang dilakukan pada tata tertib no.1,2,3 sanksi mengacu pada

sanksi umum.

4. Sanksi ekstrakurikuler.

Setiap pelanggaran tata tertib siswa diberikan peringatan dan kepadanya tidak

diberikan nilai ekstrakurikuler.

(Sumber: Tata Tertib Siswa SMA Negeri 1 Salatiga, dikeluarkan tanggal 14 Juli 2014)

Mencermati contoh tata tertib dari SMA Negeri 1 Salatiga tersebut,

tergambarkan bahwa siswa terjamin keamanannya, baik kemanan fisik, sosial,

maupun emosional. Penyebaran tata tertib tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

No Aspek Keamanan Bab Point

1 Fisik Tata Tertib Umum d, e, f, h Kegiatan Intra kurikuler b, e, f, g,

h, k, l Pakaian seragam a, b, c, e Upacara Bendera A

2 Sosial Tata Tertib Umum A

Kegiatan Intra kurikuler a, b, c Upacara Bendera A 3 Emosional Tata Tertib Umum b, f

Pakaian seragam sekolah a, b, c, d Kegiatan intra kurikuler a, c, d, g,

i, l Upacara Bendera A

(35)

35 Sementara itu sanksi-sanksi yang dituangkan dalam tata tertib sekolah

tersebut adalah bagian dari upaya untuk menjamin tegaknya tata tertib di sekolah,

dalam rangka menciptakan keamanan fisik, sosial dan emosional peserta didik di

sekolah.

F. Home visit

Home visit merupakan kegiatan kunjungan ke rumah peserta didik yang dilakukan dalam rangka untuk mendekatkan hubungan sekolah dan orang tua

peserta didik. Kalau setiap anak yang sekolah mendapat kesempatan dikunjungi

gurunya, maka hal tersebut mampu membangkitkan rasa bangga dan perhatian yang

lebih bagi orang tua. Orang tua yang dikunjungi pihak sekolah, merasa bangga dan

tersanjung.

Home visit yang dilakukan oleh sekolah biasanya memiliki tujuan dan alasan tertentu. Tujuan dan alasan home visit tersebut diantaranya adalah : 1) untuk

memahami peserta didik dan keluarganya lebih baik dan sebagai salah satu wujud

empati sekolah terhadap keluarga mereka; 2) karena alasan keterpaksaan, yaitu ada

sesuatu yang mengaharuskan sekolah melakukan kunjungan ke rumah karena orang

tua sulit dihadirkan ke sekolah; 3) untuk mengimplementasikan program

pendidikan keluarga di rumah. Misalnya sekolah perlu memantau program

pembelajaran di rumah bagi anak-anak yang memerlukan bimbingan khusus.

Sekolah tidak akan bisa memahami anak secara menyeluruh hanya dengan

melihat performa mereka di sekolah. Performa anak di sekolah hanyalah tampilan

luar, sementara tampilan keadaan yang sebenarnya dapat diketahui manakala guru

mengetahui pula latar kehidupan anak yang sebenarnya. Home visit akan

membantu guru mengetahui latar belakang keluarga anak, baik latar belakang

ekonomi, sosial budaya, geografis, dan lainnya. Informasi ini sangat penting bagi

guru, agar bisa memperlakukan anak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Home visit juga diperlukan bagi sekolah untuk menyelesaikan masalah

pendidikan anak, manakala orang tua sangat sulit dihadirkan ke sekolah. Orang tua

Gambar

Gambar : Contoh bulletin sekolah
Tabel. Penyebaran jaminan keamanan sekolah melalui tata tertib sekolah

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dan respon siswa terhadap penggunaan media animasi dalam pembelajaran Biologi pada materi sistem pernapasan manusia

The research is focused on the development a tool for converting IOTNE into IOTED and apply the tool to obtain EDM in the Indonesian industrial sector based on the 2008

Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora

Pada saat form Cetak Laporan Data Peminjaman di aktifkan, user diminta untuk memasukkan pilihan cetak data, yaitu: Berdasarkan Nomer Anggota, Berdasarkan Kode Buku, dan

Adanya kekhasan dalam konstelasi geografis dan keragaman suku, ras, budaya, agama dan bahasa dalam negara, menjadikan bangsa Indonesia harus memiliki sikap dan cara pandang

Saya merasa tidak perlu mengikuti bimbingan agama Islam karena sudah biasa dilakukan.. Saya merasa ibadah saya biasa saja, walaupun sudah mengikuti bimbingan

Secara sederhana penilaian hasil belajar berbasis Higher Order Thinking Skills, merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir