1 Dr. Fatchurrohman, M.Pd
COMMUNICATING AND PARENTING
2 KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas selesainya penulisan buku
Communicating and Parenting (Mengembangkan Komunikasi dengan Orang tua siswadalam mengasuh Anak).
Sebagaimana dipahami bahwa sekolah adalah institusi pendidikan kedua
setelah orang tua. Sekolah menerima pelimpahan tanggung jawab mendidik, karena
orang tua memiliki berbagai keterbatasan sehingga tidak bisa melaksanakan tugas
mendidik anak sepenuhnya.
Dalam melaksanakan tugas mendidik, sekolah tidak bisa berjalan dengan
sendirinya. Sekolah harus senantiasa menjalin komunikasi dengan orang tua sebagai
stakeholder utama pendidikan. Jalinan komunikasi dengan orang tua ini dimaksudkan
untuk menginformasikan kondisi anak di sekolah dan mencari dukungan agar kegiatan
pendidikan berjalan optimal.
Komunikasi dengan orang tua juga dimaksudkan untuk „mendidik‟ orang tua tentang bagaimana cara mendidik anak di rumah. Pengetahuan orang tua tentang cara
mendidik dan mengasuh anak di rumah sangat penting agar dapat melakukan kegiatan
yang mensupport kegiatan pendidikan di sekolah. Kini, sekolah tidak hanya mendidik
anak, tetapi yang tidak kalah penting adalah memahamkan kepada orang tua tentang
bagaimana cara mendampingi anak di rumah.
Buku ini hadir untuk mengingatkan bahwa sekolah perlu menjalin komunikasi
dengan orang tua seintens mungkin. Orang tua perlu memahami juga bagaimana cara
mengasuh anak di rumah dengan baik. Hal ini penting karena sekolah tidak akan dapat
dapat melaksanakan tugas pendidikan dengan baik tanpa keterlibatan aktif dari orang
tua pesera didik.
Semoga komitmen, dedikasi, dan kepedulian kita dalam mengembangkan
pendidikan semakin meningkat.
Salatiga, November 2016
3 Daftar Isi
Hal
Halaman judul ……….. i
Kata Pengantar ……….. ii
Daftar Isi ……….. iii
Bagian Satu : PENDAHULUAN ……… 1
Bagian Dua : KOMUNIKASI SEKOLAH DENGAN ORANG TUA ………. 3
A. Komunikasi Pendidikan ……… 3
B. Tipe Komunikasi ……… 8
C. Komunikasi berkala ……… 13
D. Komunikasi hasil belajar ……… 17
E. Mengkomunikasikan jaminan keamanan ……… 23
F. Home visit ……… 32
Bagian Tiga : PENGASUHAN ANAK ……….. 36
A. Pengertian ……… 36
B. Teori parenting ……… 36
C. Gaya pengasuhan ……… 45
D. Membantu mengatasi masalah anak ……… 47
E. Hukuman dan ganjaran yang efektif ……… 54
F. Peningkatan kemampuan orang tua ……… 60
G. Menciptakan lingkungan kondusif ……… 63
H. Pengaturan konsumsi nutrisi ……… 69
I. Liburan ……… 80
4 Bagian Satu
Pendahuluan
Sekolah merupakan salah satu elemen pendidikan yang ada dalam masyarakat.
Keberaaan sekolah akan dapat berfungsi dengan baik manakala mampu memfungsikan
elemen-elemen pendidikan lain yang ada, seperti keluarga, dan lembaga sosial lainnya.
Semua elemen tersebut memberi pengaruh kepada anak didik, baik pengaruh positif
maupun pengaruh negatif. Sekolah can do nothing, manakala tidak mengorganizing pengaruh-pengaruh institusi-institusi lain di luar dirinya dengan baik.
Salah satu elemen penting dalam pendidikan anak adalah institusi keluarga.
Keluarga berperan penting dan dominan dalam pendidikan anak. Sekolah sebagai
second institution bagi pendidikan anak harus mampu menjalin relasi baik dengan
sekolah melalui komunikasi yang efektif. Sejalan dengan pemikiran tersebut, menurut
John Dewey (dalam Knight, 2007:18), jalinan relasi dan komunikasi pendidikan antara
sekolah, keluarga, dan institusi pendikan lainnya merupakan perwujudan bahwa
pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah dan masyarakat.
Selain itu, pembangunan relasi tersebut juga merupakan upaya mempersiapkan anak
memasuki dunia kerja atau masyarakat yang sesungguhnya sekaligus sebagai bukti
bahwa pendidikan adalah bagian dari kehidupan anak bermasyarakat.
Sekolah, orang tua, dan masyarakat merupakan institusi yang bertanggung jawab
atas pendidikan anak. Ketiganya memiliki bobot yang sama dalam tanggung jawab
pendidikan. Dalam hal ini sekolah adalah pelaksana formal dalam pendidikan untuk
mendidik anak-anak agar nanti dapat kembali kepada keluarga dan masyarakat sesuai
harapan bersama. Sekolah tidak akan bisa mewujudkan visi misi pendidikannya tanpa
melibatkan kedua institusi yang lainnya. Kalau sekolah merasa „bisa‟ mencapai visi dan
misinya sendiri, maka hasilnya tidak akan sesuai dengan harapan keluarga dan
masyarakat.
Menurut Tilaar (2002:353), di dalam membangun masyarakat demokratis, maka
peran serta masyarakat perlu diberdayakan dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga
masyakat memiliki kesadaran akan peran dan tanggung jawabnya dalam kehidupan.
5 satu pihak belum memiliki kesadaran akan perannya dalam pendidikan, maka sekolah
akan sulit mewujudkan pendidikan yang bermutu.
Dalam konteks kehidupan keluarga (family), individu dapat mengaktualisasikan
diri manusia sebagai makhluk sosial. Dalam family system theory yang dikembangkan oleh Bertalanffy‟s (dalam Grant,2010:27), disebutkan bahwa setiap anggota keluarga saling berhubungan dan masing-masing anggota saling mempengaruhi antar satu dan
lainnya. Dalam konteks pembelajaran di sekolah, penerapan family system theory ini dalam kegiatan pembelajaran, para pendidik tidak hanya terfokus pada peserta didik
secara individual, namun mereka harus melihat peserta didik dalam konteks
keluarganya untuk memahami mengapa dia bertingkah laku seperti itu di kelas. Untuk
memahami system secara lebih baik, apa itu sistem keluarga dan bagaimana sistem keluarga mempengaruhi perilaku anak di kelas, perlu dilihat karakteristik relasi dalam
keluarga secara keseluruhan dan kondisi kelas. Cara ini dapat dicapai melalui penjalinan
hubungan antara sekolah dan orang tua.
Orang tua dan anggota keluarga memainkan peranan yang integral dalam
membantu belajar peserta didik. Bantuan keterlibatan keluarga dan para pendidik akan
mampu mendorong suksesnya pembelajaran peserta didik. Hasil penelitian Thorkildsen
and Stein (dalam Grant, 2010:216), menunjukan bahwa jika dihitung, keterliban orang
tua berkisar antara 10-20% dalam berbagai prestasi anak, dan harapan orang tua
terhadap keberhasilan anaknya di sekolah secara terus menerus memberi pengaruh yang
besar terhadap performa anak.
Komunikasi sekolah dengan orang tua atau keluarga sangat penting bagi kepentingan pengasuhan anak. Sekolah perlu „mengendalikan‟ orang tua agar sejalan dengan sekolah dalam membentuk performa anak didik. Orang tua dalam mengasuh
anak di rumah juga perlu memperhatikan aspek-aspek didaktik agar hasilnya
sebagaimana yang diharapkan. Keetidaktahuan orang tua dalam didaktik menjadi
tanggung jawab sekolah untuk mensosialisaikannya. Dengan demikian, tanggung jawab
pendidikan sekolah tidak hanya membentuk kepribadian dan mengembangkan potensi
anak didiknya, melainkan juga mengajari orang tua tentang bagimana cara
6 Bagian Dua
Komunikasi Sekolah dengan Orang tua
A. Komunikasi pendidikan
Komunikasi (communication) antara sekolah dan orang tua merupakan upaya
membangun jalinan hubungan antara sekolah dan orang tua peserta didik dalam
rangka penyebaran informasi pendidikan kepada stakeholder dan atau untuk
pemecahan masalah. Sekolah perlu menjalin komunikasi dengan orang tua peserta
didik agar orang tua mengetahui bebagai informasi di sekolah yang pada akhirnya
mampu meningkatkan perhatian dan kepedualian terhadap pendidikan anaknya.
Komunikasi antara sekolah (kepala sekolah, guru, karyawan) dengan orang
tua/wali merupakan salah satu realisasi dari akuntabilitas sekolah. Meskipun para
guru di sekolah memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan mempengaruhi
kehidupan peserta didik, pada akhirnya mereka akan kembali ke lingkungan
keluarga atau ke pangkuan orang tuannya. Jika kita gagal dalam menjaga
komunikasi dengan orang tua tentang kemajuan anak mereka di sekolah, maka kita
akan kehilangan kesempatan untuk membuat jembatan komunikasi yang sangat
penting dalam kehidupan peserta didik.
Komunikasi antara orang tua dan guru untuk memastikan bahwa anak-anak
belajar secara efektif dan mendapatkan yang terbaik bagi pertumbuhan dan
perkembangan pribadi/karakter mereka. Salah satu cara untuk memastikan bahwa
kita sebagai guru bisa berkomunikasi secara efektif dengan orang tua adalah
menggunakan formulir dan catatan yang dikirim ke rumah secara berkala untuk
memberikan kesempatan kepada orang tua memantau sekaligus melaporkan
perkembangan anak mereka di sekolah.
Dalam komunikasi ini kedua belah pihak berkepentingan untuk saling
berbagai informasi, baik sekolah maupun orang tua. Namun, jika orang tua tidak
memiliki inisiatif untuk berkomunikasi atau berkonsultasi dengan sekolah, maka
sekolah harus mendesain program sedemikian rupa sehingga ada jalinan
komunikasi antara sekolah dan orang tua. Menurut Nurjanah (2015:1), ada
7 dengan orang tua yaitu : 1) lakukanlah sesering mungkin; 2) jangan biarkan bulan
berlalu tanpa kabar dari sekolah; 3) bersikaplah jujur; 4) panggillah orang tua
ketika anak mereka memiliki perilaku atau kesulitan belajar di kelas; 5)
menyenangkan; 6) adakan kesepakatan tentang waktu.
Sekolah sebaiknya melakukan komunikasi sesering mungkin, semakin sering
semakin bagus. Sekolah yang sering melakukan komunikasi dengan orang tua, akan
terhindar dari kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Selain itu,
masalah-masalah yang dirasakan sekolah atau orang tua terkait dengan pendidikan anaknya
dapat segera di atasi, sehingga tidak terjadi penumpukan masalah.
Dalam menjalin komunikasi dengan orang tua, sekolah perlu mengedepankan
prinsip kejujuran; artinya informasi yang diberikan kepada orang tua harus
informasi yang mengandung kejujuran. Sekolah tidak boleh merekayasa informasi
untuk kepentingan tertentu, misalnya menarik simpatik orang tua. Informasi yang
tidak jujur akan mengakibatkan relasi yang dibangun adalah relasi pura-pura, dan
ini berbahaya bagi sekolah. Sekiranya ada informasi yang harus disembunyikan
karena berdampak negatif jika disampaikan apa adanya kepada orang tua, maka
kebijakan ini harus diketahui pihak lain dan bersifat sementara. Sekolah mengambil
langkah tersebut semata-mata untuk mencari pemecahan masalah secara efektif.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengemasan informasi kepada orang tua
harus memperhatikan kelogisan informasi sehingga informasi yang disampaikan
tidak bombastis atau penuh kejanggalan.
Komunikasi sekolah dan orang tua juga dilakukan dalam suasana yang
menyenangkan, artinya sekolah menyediakan forum yang menyenangkan, orang tua
tidak merasa tertekan, tidak dipaksa, dan pihak sekolah menunjukkan ekspresi yang
menyenangkan juga menyambut orang tua peserta didik. Guru dan pihak sekolah
juga perlu menunjukkan bahwa mereka senang mendidik anak-anak di sekolah,
guru tidak boleh menunjukkan sikap benci kepada anak-anak mereka apalagi
menunjukkan sikap negatif peserta didik secara berlebihan.
Guru terkadang menyampaikan kepada orang tua tentang keadaan
anak-anaknya di sekolah. Guru melaporkan keadaan negatif anak kepada orang tua
8 orang tua lebih memperhatikan anaknya di rumah agar lebih baik. Namun, jika guru
salah dalam mengkomunikasikan kenakalan anak di sekolah justru akan membuat
orang tua kecewa. Kekecewaan orang tua ini terjadi karena mereka sudah merasa
menyerahkan sepenuhnya anak mereka kepada sekolah, namun ternyata anaknya
tidak semakin baik.
Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa komunikasi antara sekolah dan
orang tua mesti dilakukan secara teratur, dua arah, dan penuh makna. Jika keluarga
dan sekolah dapat berkomunikasi secara efektif, maka hubungan positif akan dapat
berkembang, masalah-masalah yang muncul dapat dengan mudah terselesaikan dan
para peseta didik akan dapat mencapai kemajuan lebih baik. Komunikasi antara
sekolah dan orang tua ini dimaksudkan untuk menciptakan bentuk komunikasi yang
efektif dari sekolah ke rumah dan dari rumah ke sekolah terkait dengan program
sekolah dan kemajuan anak.
Menurut Epstein (2009:16), beberapa bentuk kegiatan yang dapat dilakukan
dalam komunikasi antara sekolah dan orang tua adalah: 1) mengadakan pertemuan
berkala dengan orang tua peserta didik dan menindaklanjuti setiap hasil pertemuan
dengan orang tua; 2) menyediakan penerjemah bagi orang tua jika diperlukan; 3)
mengirim hasil kerja siswa kepada orang tua agar direview dan dikomentari; 4)
membuat kartu laporan pelajar kepada orang tua setiap minggu; 5) membuat
bulletin, newsletter tentang kegiatan di sekolah untuk disampaikan kepada orang tua; 6) menyampaikan informasi dan seluruh program kegiatan di sekolah kepada
orang tua secara jelas; 7) menyampaikan informasi kepada orang tua bahwa
anak-anaknya belajar di sekolah secara aman.
Sekolah dapat menjadwalkan pertemuan berkala dengan orang tua, baik
mingguan atau bulanan. Pertemuan berkala ini sangat penting bagi sekolah dan
orang tua dalam upaya menciptakan pendidikan yang efektif, tanpa masalah. Dalam
pertemuan ini tentunya dibahas hal-hal terkait dengan pendidikan anak, baik
permasalahan yang muncul maupun usulan dari orang tua demi kebaikan
pendidikan anak mereka di sekolah. Terkadang, orang tua dan sekolah
mengabaikan pertemuan berkala. Mereka berpikir apa yang mau dibahas dalam
9 banyak sekali persoalan yang muncul dalam forum dan menarik untuk dibahas
pihak sekolah dan orang tua. Hasil yang disepakati dalam pertemuan berkala ini,
sekolah perlu mengagendakan secara sungguh-sungguh untuk menindaklanjuti pada
waktu yang akan datang. Sekiranya hasil pertemuan tidak ditindaklanjuti, maka
orang tua tidak lagi mau datang jika diundang ke sekolah.
Sekolah dapat mengadakan pertemuan untuk menerjemahkan
informasi-informasi yang belum jelas, misalnya ada regulasi baru dari pemerintah tekait
dengan pendidikan di sekolah. Dalam keadaan demikian, sekolah dapat
menjelaskan sendiri atau mengundang dinas terkait, misalnya Disdikpora sebagai
penjelas bagi regulasi yang baru dalam dunia pendidikan. Penjelasan ini sangat
penting bagi orang tua peserta didik, agar suatu saat regulasi tersebut diberlakukan
sudah memahami maksud dan tujuannya. Orang tua tidak lagi protes atau tidak
menyetujui aturan baru karena sudah menerima sosialisasi.
Sekolah perlu mengirim hasil kerja siswa kepada orang tua untuk diketahui
dan direview. Orang tua perlu mengetahui hasil belajar anaknya di sekolah sebagai
imbal balik atas usahanya menyekolahkan anaknya. Sekolah berkepentingan untuk
mengirim hasil kerja siswa kepada orang tua sebagai bentuk pertanggung jawaban
atas kepercayaan yang diberikan orang tua kepada pihak sekolah. Dalam hal ini,
sekolah harus menjaga prinsip kejujuran dan objektivitas ketika melaporkan hasil
kerja siswa kepada orang tua mereka.
Objektivitas laporan hasil kerja siswa kepada orang tua perlu dijaga karena
pelaporan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan feed back dari orang tua. Orang tua akan memberi respond atau feedback sesuai dengan laporan yang
diterimanya. Sekolah tidak perlu khawatir terhadap kemarahan orang tua sekiranya
laporan hasil belajar anaknya kurang memuaskan. Hal tersebut mungkin saja
terjadi, dimana orang tua merasa tidak puas, marah atas hasil kerja anaknya di
sekolah yang tidak memuaskan. Dalam hal ini sebaiknya memang laporan tersebut
memuaskan orang tua, karena orang tua sudah susah payah menyediakan berbagai
hal untuk kepentingan pendidikan anaknya di sekolah. Sekolah sudah semestinya
10 peserta didik yang signifikan ke arah yang lebih baik. Jadi sudah sewajarnya orang
tua mengharapkan laporan hasil belajar anaknya yang baik dari sekolah.
Sekolah dapat juga membuat semacam bulletin atau news berkala untuk
orang tua. Bulletin atau news tersebut berisi reportase kegiatan anak-anak di
sekolah, baik kegiatan pengembangan kognitif, afektif, psikomotorik, hoby,
kreativitas, religi, dan lainnya. Bulletin atau news ini sangat berguna untuk
menginformasikan kepada para orang tua tentang dinamika anak-anak mereka di
sekolah. Sekolah dapat melibatkan anak-anak dalam membuat bulletin atau news
sekolah jika memungkinkan.
Gambar : Contoh bulletin sekolah
(Sumber : http://doniepunya.blogspot.co.id/2010/11/layout-buletin-super-gaul-p.html)
Sekolah perlu mengkomunikasikan kepada orang tua tentang seluruh kegiatan
sekolah secara jelas baik kegiatan intra maupun ekstrakurikuler. Informasi ini
sangat berguna bagi orang tua untuk meyakinkan dirinya bahwa program di sekolah
11 program sekolah, orang tua dapat mempersiapkan diri dalam memenuhi
kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan bagi pendidikan anaknya di sekolah di hari-hari
mendatang. Bagi sekolah, informasi kegiatan sekolah kepada orang tua ini untuk
menunjukkan bahwa pihak sekolah sungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas
pendidikan. Informasi ini juga sebagai bentuk transparansi yang nantinya akan
dipertanggung jawabkan sekolah pada periode tertentu, semesteran atau tahunan.
Bagi keduanya, sekolah dan orang tua, program kegiatan sekolah merupakan
ikatan perjanjian antara sekolah dan orang tua berkait dengan pendidikan anak di
sekolah. Program kegiatan sekolah juga dapat disebut sebagai garansi bagi orang
tua, bahwa anaknya di sekolah akan mendapatkan perlakuan yang baik dan
bermutu.
B. Tipe Komunikasi
Menurut Olsen&Fuller (2012:110), ada beberapa tipe komunikasi yang dapat
dipilih oleh sekolah dalam hubungannya dengan orang tua siswa, yaitu: 1) verbal,
lisan; 2) wawancara awal; 3) kunjungan ke rumah (home visit); 4) komunikasi informal ; 5) konferensi guru dan orang tua.
Komunikasi verbal adalah komunikasi searah dari sekolah kepada orang tua
untuk memberikan pengarah atau penjelasan beberapa kebijakan sekolah.
Komunikasi verbal ini dapat dilakukan secara kolektif maupun perorangan.
Komunikasi kolektif dilakukan sekolah dalam forum pertemuan bersama
antara sekolah dan orang tua. Dalam forum ini dipaparkan berbagai kebijakan
sekolah oleh kepala sekolah dan komite sekolah. Forum ini akan lebih baik,
manakala pihak sekolah mampu mengembangkan komunikasi dua arah, dialog
antara sekolah dan orang tua.
Komunikasi perorangan dilakukan oleh pihak sekolah kepada orang tua
peserta didik secara khusus untuk membicarakan hal-hal yang khusus pula.
Biasanya sekolah melakukah komunikasi personal ini karena ada hal-hal yang perlu
dibahas secara khusus dengan orang tua, bisa berupa hal yang menyangkut prestasi
12 Dalam berkomunikasi verbal dengan orang tua, pihak sekolah perlu
mengembangkan komunikasi yang lugas dengan bahasa yang mudah dipahami
orang tua. Sekolah juga dapat menggunakan bahasa daerah guna mempermudah
pemahaman orang tua terhadap informasi yang disampaikan oleh pihak sekolah.
Hindari istilah-istilah yang tidak dipahami oleh orang tua.
Kunjungan ke rumah adalah kegiatan kunjungan ke rumah siswa yang
bertujuan : 1) untuk memahami mereka lebih baik dan sebagai bentuk empati
terhadap keluarga mereka; 2) karena alasan keterpaksaan (ada sesuatu yang
mengharuskan kunjungan). Komunikasi informal adalah komunikasi yang
dilakukan guru dan orang tua dalam suasana keluargaan, tidak formal, santai, tidak
terpaku pada tempat yang khusus.
Komunikasi informal ini dilakukan dengan tetap saling menghormati dan niat
yang alami dari orang tua dan pihak sekolah untuk membicarakan hal-hal yang
dianggap penting terkait dengan anak di sekolah. Komunikasi informal dapat
berlangsung lama dalam suasana sederhana. Hal ini cocok untuk wali murid yang
usianya sudah tua, sibuk atau sering bepergian ke luar kota. Komunikasi informal
ini dapat dilakukan langsung maupun tidak langsung melalui perangkat
komunikasi, misalnya handphone, telephone, e-mail.
Model komunikasi informal yang dikembangkan para guru dalam
berkomunikasi dengan orang tua, ternyata lebih efektif. Orang tua siswa tidak
sungkan lagi untuk bertanya kepada para guru tentang anaknya di sekolah di
manapun berada. Orang tua bertanya secara langsung kepada guru, melalui sms
atau telephone. Hubungan di antara mereka bukan lagi hubungan formal kedinasan,
namun hubungan informal, kekeluargaan. Dengan cara ini, guru dan orang tua
merasa nyaman.
Berns (2004:237) mengemukakan bahwa hubungan baik antara sekolah dan
orang tua ini dapat diwujudkan keluarga dalam bentuk: 1) menciptakan lingkungan
yang mendorong pembelajaran anak; 2) menunjukkan pengharapan yang tinggi atas
anak-anak mereka, baik pretasi sekarang maupun masa depannya; 3) terlibat dalam
kehidupan anak-anak mereka, baik di sekolah maupun di masyarakat. Anak-anak
13 biaya yang sebanding untuk menyamakan diri dengan kelas sosial yang ada di
sekitarnya.
Menurut Laily (2011:1), sekolah sebagai sebuah institusi mempunyai
kewajiban yang besar terhadap orang tua, demikian juga orang tua juga punya
kewajiban yang besar pula kepada sekolah. Apabila kewajiban dan tanggung jawab
itu dapat dijalankan dengan baik, maka sekolah akan dapat memfungsikan dirinya
secara maksimal karena dukungan orangtua.
Banyak riset yang membuktikan bahwa keterlibatan orang tua dalam
pendidikan anaknya sekolah, terbukti membawa pengaruh yang baik dalam
kehidupan akademik anaknya. Dengan demikan, hubungan yang harmonis antar
orangtua dan sekolah harus diciptakan dan dijaga. Beberapa upaya untuk
menciptakan hubungan komunikasi yang harmonis antara sekolah dan orang tua
adalah.
1. Sekolah selalu berkomuniksi dengan orangtua selalu dalam nuansa yang positif.
2. Sekolah bisa membuat buku penghubung komunikasi untuk menginformasikan
apa yang telah dipelajari siswa, pemberitahuan mengenai PR, memberikan
pujian serta pemberitahuan lain mengenai anak-anak mereka
3. Mengadakan pertemuan dengan orangtua seluruhnya pada awal tahun ajaran
baru dimulai, kenalkan diri dan biarkan orangtua menyampaikan kekhawatiran
serta harapan mereka kepada sekolah, kaitannya dengan proses pendidikan
anak-anak mereka.
4. Sekolah mesti memahami kesibukan orangtua peserta didik, agar ketika
mengundang mereka ke sekolah dapat menyesuaikan jadwal kesibukan
tersebut.
5. Mengajak orangtua untuk menjadi relawan di kelas, menjadi bintang tamu saat
pembelajaran mengenai topik atau yang lainnya.
6. Menjadikan orangtua juga sebagai sumber belajar.
7. Mengadakan pelatihan mengenai pendidikan anak. Hal ini penting agar ada
kesinambungan antara pola asuh di rumah dan di sekolah.
8. Mengadakan workshop mengenai peningkatan akademis anak-anak mereka,
14 9. Menjadikan situasi pengambilan rapor anak sebagai forum untuk merayakan
keberhasilan dan pencapaian prestasi anak.
Pelibatan orang tua di sekolah ini perlu didukung dengan pengembangan
jalinan komunikasi secara intensif dan proaktif. Untuk menjalin komunikasi intensif
dan proaktif ini, juga dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas praktis di sekolah,
yaitu: 1) ucapan selamat datang dan bergabung dengan sekolah; 2) rapat secara
rutin; 3) mengirimkan berita sekolah secara periodik; 4) membagikan nomor telpon
dan alamat guru dan karyawan; 5) mengundang orang tua dalam rangka
mengembangkan kreativitas dan prestasi peserta didik; 6) home visit; 7) mengadakan pembagian tugas dan tanggung jawab antara sekolah dengan orang
tua; 8) melibatkan orang tua dalam kegiatan sosial di sekolah dan pengambilan
keputusan; 9) memberdayakan orang tua sebagai sumber belajar.
Ucapan selamat datang kepada orang tua dilakukan pada saat anaknya masuk
ke sekolah. Ketika sekolah mengadakan pertemuan awal dengan orang tua, jangan
segan-segan mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung dengan sekolah.
Ucapan tersebut dapat dilakukan langsung ketika berjabat tangan, melalui spanduk
(MMT), melalui sms sekolah ke orang tua, atau melalui forum pertemuan rapat
orang tua. Ucapan ini sangat penting artinya bagi orang tua sebagai titik awal
keterlibatan mereka dengan berbagai aktivitas sekolah.
Setelah memberi ucapan selamat datang dan selamat bergabung, sekolah
segera melakukan pertemuan awal dengan orang tua. Dalam pertemuan ini sekolah
dapat menyampaikan berbagai hal yang terkait dengan sekolah, misalnya
perkenalan, visi, misi, program unggulan, keuangan sekolah, kegiatan
pengembangan diri, dan lainnya. Pada pertemuan ini orang tua juga diberi
kesempatan untuk menyampaikan usulan-usulan konstruktif demi kemajuan
sekolah.
Dalam pertemuan tersebut, sekolah dapat membagikan nomor telephone
seluruh sivitas akademik sekolah kepada orang tua peserta didik. Pemberian nomor
telephone ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada
orang tua dalam berkomunikasi dengan pihak sekolah. Pembagian nomor telephone
15 hal-hal khusus yang ingin disampaikan orang tua kepada pihak sekolah. Selain itu,
penyampaian nomor telephone ini juga menunjukkan bahwa pihak sekolah siap
melayani pengaduan, saran, masukan atau informasi dari berbagai pihak sepanjang
waktu.
Sekolah juga bisa mengundang orang tua ke sekolah dalam rangka
pengembangan kreativitas dan bakat anak. Orang tua yang memiliki berbagai latar
belakang dan profesi tentunya memiliki ragam potensi juga yang dapat
dimanfaatkan sekolah untuk mengembangkan kreativitas dan bakat anak. Misalnya,
orang tua yang berkiprah dalam bidang seni budaya, tentunya memiliki pengalaman
yang dapat ditularkan kepada anak didik di sekolah dalam pengembangan seni
budaya; orang tua yang berprofesi sebagai pengusaha dapat berbagi pengalaman
kepada sekolah dan peserta didik tentang kiat-kiat berwirausaha; orang tua yang
menjadi pegawai negeri atau birokrat dapat berbagi pengalaman dengan anak didik
tentang seluk beluk birokrasi. Dalam hal ini, orang tua dapat diminta untuk berbagi
pengalaman sekaligus menjadi voluntir di sekolah untuk program pengembangan
diri anak.
Rapat rutin juga dapat dilakukan sekolah dalam rangka membangun
komunikasi dengan orang tua. Rapat rutin dapat dilakukan bulanan, dua bulanan
atau tiga bulanan. Rapat rutin ini sangat bermanfaat untuk saling bertukar informasi
dan dalam rangka pemecahan masalah. Dalam rapat rutin, sekolah dapat memberi
tambahan berupa motivasi kepada orang tua baik melalui motivator, pengajian rutin
atau isian lainnya. Tujuannya adalah agar orang tua memperoleh manfaat ganda.
Namun, terkadang tidak semua orang tua tertarik terlibat dalam urusan
sekolah anak mereka. Beberapa di antara mereka tidak suka anak mereka dan
mencegah mereka dari keinginan mereka untuk berkomunikasi dengan gurunya.
Beberapa orang tua merasa bahwa mereka dipanggil oleh sekolah kalau ada
masalah dengan anak mereka di sekolah. Sebagian di antara mereka sibuk dengan
urusan kerja dan karir, mereka telah kelelahan bekerja, atau bisa jadi di antara
mereka merasa tidak dapat berbahasa dengan baik dan merasa kurang nyaman
16 C. Komunikasi berkala
Menurut Olsen&Fuller (2012:116), pertemuan sekolah dengan orang tua
dapat dilaksanakan pada awal tahun, tengah tahun dan akhir tahun. Pertemuan awal
tahun ajaran dapat dilaksanakan pada minggu pertama masuk sekolah. Pertemuan
ini terutama dilakukan untuk mensosialisasikan visi, misi, tujuan,
program-program sekolah, dan cara mencapainya. Dalam pertemuan ini dirumuskan
tanggung jawab masing-masing yang hadir, yaitu guru, orang tua, komite, dan
ditulis dijadikan acuan melaksanakan kegiatan di masa mendatang. Pada pertemuan
ini juga dimungkinkan untuk dibuat kesepatan bersama tentang
pertemuan-pertemuan di waktu mendatang.
Pada pertemuan awal tahun ajaran ini, orang tua diminta mengisi formulir
tentang informasi lengkap mengenai anak dan orang tuanya, dan harapan orang tua
kepada sekolah. Olsen&Fuller (2012:117-118), menyebut formulir tersebut dengan
istilah welcoming letter. Welcoming letter ini sangat penting untuk memulai komunikasi antara guru dengan orang tua. Welcoming letter yang diberikan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, akan memberikan gambaran kepada orang
tua tentang persekolahan, sehingga mereka tertarik untuk hadir pertemuan orang tua
dengan sekolah di hari-hari mendatang, membantu orang tua memahami proses
pendidikan di kelas, dan menginformasikan kepada orang tua tentang keterlibatan
yang bisa dilakukan.
Welcoming letter setidaknya memuat tentang: 1. Profil Guru
a. Informasi tentang latar belakang dan pengalaman.
Informasi ini meliputi latar belakang keluarga, sosial, ekonomi,
pendidikan, pengalaman kerja, pengalaman organisasi. Informasi ini sangat
penting diketahui orang tua agar orang tua mengetahui performa pribadi guru
secara lengkap, karena dialah yang nantinya akan mendampingi pendidikan
putra-putrinya. Orang tua semakin mantap menyekolahkan anaknya dengan
bimbingan guru-guru yang terpercaya.
17 Orang tua perlu diberi tahu cara mengontak gurunya secara mudah.
Informasi yang perlu disampaikan kepada orang tua misalnya nomor
telephone, nomor handphone, Watshaps, alamat e-mail, alamat tinggal.
Informasi ini perlu disampaikan kepada orang tua agar mereka dapat
berkomunikasi dengan guru sewaktu-waktu diperlukan. Bagi guru, dia harus
siap setiap saat manakala orang tua perlu berkomunikasi dengannya.
2. Sekolah, pusat-pusat studi, kelas
a. Visi, misi, pusat-pusat kajian
Visi misi sekolah harus disampaikan kepada para orang tua sedini
mungkin, bahkan setiap ada kesempatan, sekolah perlu mensosialisasikan visi
misinya. Kepala sekolah perlu mensosialisasikan visi misi kepada stakeholder
agar mereka memahami arah dan kebijakan sekolah dikemudian hari. Di
samping itu, sosialisasi ini dimaksudkan agar mereka juga mendukung dan
memberi kontribusi yang nyata bagi pencapaian visi misi sekolah.
Selan itu, sekolah perlu menginformasikan pusat-pusat kajian atau
sumber-bumber belajar yang dapat dimanfaaatkan oleh siswa dalam kegiatan
pembelajaran. Pusat-pusat kajian merupakan sentra-sentra yang menyediakan
informasi atau sumber belajar dalam rangka memenuhi kebutuhan belajar
peserta didik. Para orang tua diminta mendorong anak-anak mereka agar
memanfaatkan pusat-pusat kajian di sekolah dalam rangka meningkatkan
kualitas diri.
Informasi tentang kelas juga perlu disampaikan sekolah kepada orang
tua, meliputi kelas regular, kelas unggulan, moving class, kelas tambahan, atau kelas program khusus. Setiap sekolah memiliki kebijakan yang berbeda
dalam pengaturan kelas bagi peserta didik. Orang tua perlu memahami
kebijakan sekolah tentang pembagian kelas di sekolah agar dia dapat
mengkondisikan anaknya di rumah sesuai dengan kelasnya.
b. Kalender pendidikan (Kaldik)
Kalender pendidikan perlu disosialisasikan kepada berbagai pihak yang
18 mengetahui kalender pendidikan, diharapkan orang tua dapat menyesuaikan
diri dalam mengatur pikiran, kegiatan, tenaga dan keuangan untuk anaknya di
sekolah. Orang tua dapat menyusun jadwal liburan dan acara keluarga lainnya
dengan memperhatikan kalender pendidikan anaknya. Dengan demikian,
diharapkan anak tidak terganggu kegiatan belajarnya di sekolah. Kalender
pendidikan tersebut setidaknya memuat tentang hari KBM efektif, hari libur
nasional, cuti bersama, jadwal ulangan tengah semester, jadwal ulangan akhir
semester, jadwal ujian akhir, jadwal remidi, jadwal daftar ulang, jadwal class
meeting, jadwal libur semesteran, dan hari-hari penting lainnya yang perlu
diketahui oleh stakeholder.
c. Kebijakan sekolah tentang kehadiran, tata tertib
Kebijakan sekolah tentang kehadiran peserta didik berbeda-beda, ada
sekolah yang menjadikan kehadiran siswa sebagai sarat bagi yang
bersangkutan untuk dapat mengikuti ujian, namun ada juga yang tidak. Orang
tua perlu mengetahui kebijakan tentang kehadiran ini agar dapat mengontrol
tingkat kehadiran peserta didik ke sekolah. Orang tua dapat cross check
kegiatan anak dengan kalender pendidikan yang ada, sehingga orang tua
dapat mengingatkan anaknya manakala tidak hadir ke sekolah.
Orang tua juga perlu mendapat informasi tentang tata tertib sekolah.
Tata tertib sekolah ini meliputi tata tertib berpakaian, kerkapian, tata tertib
kehadiran, pulang sekolah, kewajiban dan larangan, dan juga termasuk
mekanisme hukuman atas pelanggaran tata tertib. Dalam hal ini, orang tua
perlu diminta pendapatnya mengenai tata tertib sekolah, apakah merka setuju
ataukah keberatan. Jika mereka keberatan sekolah dapat mendiskusikan
dengan mereka untuk mencari jalan tengah yang terbaik. Sekolah tidak boleh
memaksakan tata tertib sekolah secara sepihak tanpa sepengetahuan dan
persetujuan dari orang tua.
Jika orang tua belum menyetujui dan sekolah memaksakan tata tertib
diberlakukan, maka yang akan terjadi adalah disharmoni antara sekolah dan
19 berwajib manakala menghukum anaknya atas pelanggaran tata tertib; sekolah
dianggap melakukan tindak kekerasan fisik.
3. Orang tua
a. Cara orang tua berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan anaknya di sekolah
Orang tua peserta didik perlu mendapat informasi tentang cara mereka
berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah dalam rangka peningkatan mutu
pendidikan. Partisipasi orang tua pada kegiatan di sekolah dapat berupa
sumbangan pemikiran, tenaga, maupun material. Orang tua perlu mendapat
kejelasan bagaimana mekanisme partisipasi tersebut.
b. Undangan sukarela bagi orang tua untuk berdiskusi dengan sekolah,
mengunjungi kelas, dan memberi dorongan kepada anaknya dan juga guru di
sekolah.
Sekolah juga perlu menginformasikan kepada para orang tua akan
kemungkinan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Orang tua perlu diberi
tahu bahwa sekolah adalah lembaga milik bersama, di mana setiap orang
dapat berkontribusi untuk kemajuan sekolah. Orang tua dapat berpartisipasi di
sekolah, baik dalam kegiatan intra maupun ekstrakurikuler. Oleh karenanya,
sekolah perlu menginformasikan kepada orang tua tentang mekanisme
partisipasi tersebut.
4. Umpan balik
Umpan balik berupa formulir dimana orang tua dapat mengekspresikan
harapannya kepada guru dan sekolah, petunjuk yang mengarahkan mereka ingin
terlibat dalam kegiatan di sekolah, harapan-harapan mereka terhadap anaknya
yang sekolah. Umpan balik orang tua ini dapat dilakukan melalui formulir, via
email, sms, telephone, atau kotak saran, maupun kontak yang tersedia di web
sekolah. Umpan balik ini sangat penting bagi sekolah dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
Jika sekolah mendapat umpan balik dari orang tua peserta didik harus
segera ditindaklanjuti. Hal ini sangat penting untuk menunjukkan bahwa sekolah
sangat sportif dalam menerima saran perbaikan dari berbagai pihak. Setelah
20 kepada orang tua bahwa saran feedback sudah ditindaklanjuti. Cara demikian
dapat meningkatkan trust public kepada sekolah.
Pertemuan tengah tahun, diselenggarakan untuk mengevaluasi secara kolektif
tingkat keberhasilan pencapaian tujuan yang telah disampaikan pada awal tahun
ajaran sebelumnya. Pada pertemuan ini dapat juga dilakukan
penyesuaian-penyesuaian terhadap pencapaian tujuan dan penanggung jawab jika diperlukan.
Hal mungkin terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara penanggung jawab
dengan bidang tugas yang diembannya pada semester yang telah berjalan, atau ada
persoalan lain yang menghambat pencapaian tujuan yang telah direncanakan.
Sementara itu, pada pertemuan akhir tahun dimanfaatkan untuk melihat
perkembangan pencapaian tujuan utama dan tujuan yang telah dimodifikasi pada
pertemuan semester berjalan. Pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk mengevaluasi
progress tahunan atas seluruh program yang telah ditetapkan. Pertemuan akhir
tahun merupakan waktu yang tepat bagi orang tua, guru dan peserta didik untuk
mengetahui keberhasilan atas segala usaha yang telah dilakukan pada tahun yang
bersangkutan (Olsen&Fuller, 2012:116).
D. Komunikasi hasil belajar siswa
Menurut Olsen&Fuller (2012:121), banyak sekali media yang dapat
digunakan untuk mengkomunikasikan hasil kerja siswa, kegiatan siswa, atau
keadaan siswa di sekolah kepada orang tua, misalnya folders, journals, report card, narrative report ataupun newsletter.
Guru dapat menciptakan media komunikasi mingguan dengan orang tua
dalam bentuk folders, dimana para siswa dapat membawanya pulang kemudian dikembalikan ke sekolah lagi. Guru biasanya memilih satu hari dalam seminggu
untuk mengirimkan folders tersebut kepada orang tua. Folders ini dapat berisi tugas
PR, pekerjaan di kelas, feed back dari dan untuk orang tua, pengumuman kegiatan yang akan datang, catatan-catatan untuk orang tua, atau materi lain yang dianggap
penting. Komunikasi jenis ini juga mengembangkan rasa tanggung jawab siswa di
sekolah karena orang tuanya akan membaca apa yang terjadi dengan dirinya selama
21 Bentuk komunikasi tertulis dua arah yang sering digunakan anak untuk
kepentingan khusus dapat juga menggunakan jurnal sekolah – rumah (home school
journal). Jurnal ini khusus untuk membantu manakala orang tua tidak dapat datang ke sekolah setiap hari untuk memantau perkembangan anaknya. Jurnal ini berupa
catatan, dimana guru memberikan komentar tentang anaknya ketika di sekolah
secara rutin; jurnal ini kemudian dikirimkan anaknya untuk disampaikan kepada
orang tua, selanjutnya orang tua memberi tanggapan atas uraian yang diberikan
oleh gurunya.
Report card adalah media yang biasanya digunakan untuk berbagi informasi tentang kemajuan akademik peserta didik. Guru mengevaluasi dan melaporkan
catatan kemajuan siswa, kelebihan dan kekurangan anak kepada orang tua di
rumah.
Contoh Report card
Media lainnya adalah dengan narrative report, yang berupa uraian detail mengenai keadaan anak di sekolah. Guru yang bersedia menulis narrative report perlu diapresiasi atas kesediaan waktunya dan upayanya untuk meningkatkan
22 yang bisa menggambarkan hanya satu anak secara detail dan diuraikan dalam
bahasa yang ringan, komunikatif atas segala aktivitas kelas anak-anak sehingga
menjadi hidup di hadapan pembaca. Dalam narrative report ini diuraikan tentang performa anak secara keseluruhan dan detail, baik performa kognitif, afektif,
psikomotorik, sikap sosial dan sikap spiritual. Narrative report merupakan deskripsi nilai kuantitatif yang biasanya ditulis dalam penskoran hasil evaluasi.
Baik report card atau narrative report, guru harus menulisnya dengan jelas sehingga dapat dipahami oleh orang tua siswa, dan memberi kesempatan orang tua
untuk memberikan feed back atas laporan tersebut. Dalam keduanya, perlu ada kolom yang disediakan memberi kesempatan kepada orang tua untuk memberi
feedback.
Media lain yang dapat digunakan juga adalah recognition card, certificate atau happy gram, dimana cara ini dilakukan oleh guru dengan menulis singkat nama siswa dan performanya. Guru dapat menyimpannya dan dapat mengirim
kepada yang bersangkutan jika diperlukan, guru juga dapat memanfaatkannya
sebagai media untuk mengucapkan terima kasih kepada orang tua atas usahanya.
Kartu ini dibuat yang menarik berwarna-warni sehingga anak merasa senang dan
bangga kalau diberinya.
Media lain yang dapat digunakan untuk komunikasi antara guru dan orang tua
adalah newsletter. Newsletter termasuk written communication, yaitu berupa publikasi tertulis yang terbit berkala yang sangat penting untuk menginformasikan
kepada orang tua tentang berbagai aktivitas di kelas dan kegiatan sebelumnya
sehingga pembaca dapat mengikuti dinamika kegiatan yang terjadi di sekolah
(Olsen&Fuller, 2012:118). Newletter biasanya dikirim dua mingguan atau bulanan
tergantung pada guru dan sekolah masing-masing.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun newsletter, yaitu:
1. Materi berorientasi untuk siswa
a. Sampel aktivitas siswa (artikel, puisi, karikatur, gambar,dsb)
b. Kutipan-kutipan yang relevan dari siswa tentang aktivitas mereka dan
pengalaman di kelas (berita dari siswa, pengalaman camping, outbond,
23 c. Gambar aktivitas siswa.
Gambar aktivitas siswa ini dimuat untuk melengkapi uraian pengalaman
siswa di atas.
2. Materi berisi tentang keterlibatan keluarga / orang tua
a. Materi dapat diminta dari orang tua sesuai kebutuhan, misalnya :
kewirausahaan, ketokohan, orang tua yang butuh bantuan, orang tua yang
berprestasi, dan lainnya.
b. Sumber daya di luar kelas yang berhubungan dengan aktivitas kelas yang
actual. Misalnya tempat-tempat pelatihan, kursus
c. Cara melakukan latihan pendalaman materi pelajaran di rumah. Misalnya : kita mudah belajar matematika, kiat mudah baca al Qur‟an, belajar bahasa Inggris yang mengasikkan.
d. Materi terdiri dari berbagai topik. Misalnya saintifik, olahraga dan kesehatan,
seni budaya, profil, karikatur, puisi, cerpen, kisah inspiratif, dll.
3. Materi yang berisi informasi, misalnya:
a. Tanggal-tanggal yang perlu diingat
b. Pengumuman dari sekolah dan masyarakat
c. Artikel pendek yang mungkin menarik bagi orang tua
d. Ucapan terima kasih kepada orang tua yang telah terlibat dalam berbagai
kegiatan sekolah
e. Buku-buku bacaan atau alamat web yang disarankan perlu dibaca oleh orang
tua dan anak
f. Hal-hal yang disarankan perlu dikerjakan bersama antara anak dan orang tua
g. Ucapan selamat datang pada siswa kelas baru dan keluarganya
h. Sinopsis singkat tentang apa yang harus dikerjakan siswa di kelas
i. Artikel atau catatan dari orang tua untuk orang tua lainnya
Newsletter juga dapat dipergunakan sebagai alat pembelajaran, yaitu dengan mencantumkan berbagai aktivitas, buku-buku referensi, websites, dan sumber materi lain dalam masyarakat, peserta didik memiliki kesempatan untuk
memperluas pembelajaran dan minat mereka, tidak hanya sekedar di dalam ruang
24 newsletter, oleh karena itu guru dapat melibatkan siswa untuk pengelolaan newsletter.
Sebelum guru melibatkan peserta didik dalam pengelolaan newsletter,
sekolah perlu melakukan pelatihan jurnalistik bagi mereka. Sekolah bisa juga
menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler Jurnalistik atau Majalah Sekolah.
Wadah ini disediakan bagi peserta didik yang memiliki hoby menulis dan dalam
bidang jurnalistik sekaligus dapat membantu sekolah mengelola newsletter yang
diterbitkan berkala.
Selain hal di atas, menurut Davern (dalam Olsen&Fuller,2012:120-121), satu
hal penting setelah dilakukan progress report melalui berbagai media tersebut adalah perencanaan kegiatan tatap muka dengan orang tua secara langsung.
Pertemuan ini secara langsung dengan orang tua akan dapat menjelaskan hal-hal
yang masih diragukan dalam informasi tertulis yang disampaikan guru kepda orang
tua secara berkala. Dari sekian banyak media komunikasi yang dapat digunakan
sekolah dalam berkomunikasi dengan orang tua, biasanya sekolah baru
menggunakan, telephone, majalah, dan raport; sementara itu media yang lain belum
digunakan. Namun, secara perlahan media-media komunikasi lain tersebut mulai
diberlakukan oleh kementerian pendidikan. Misalnya dalam laporan hasil belajar
akhir semester, sekarang tidak lagi hanya berupa angka-angka kuantiatif saja,
melainkan disertai dengan deskripsi naratif bagi setiap anak.
Faktor yang menyebabkan para guru belum memanfaatkan berbagai media
tersebut adalah karena beban kerja guru yang berat dan cara pandang guru yang
pesimis terhadap para orang tua siswa. Beban guru yang dirasa berat menyebabkan
mereka tidak sempat mengembangkan berbagai instrument interaksi komunikatif
dengan para orang tua siswa. Waktu dan pikiran para guru dihabiskan untuk
menyelesaikan beban kerja yang diembannya, misalnya mengembangkan materi
ajar, mengembangkan media dalam pembelajaran, mengembangkan metode
pembelajaran aktif variatif, membuat perencanaan pembelajaran, mengoreksi hasil
kerja siswa. Guru lebih memikirkan bagaimana mengajar di kelas yang baik,
mendongkrak nilai siswa dan menyelesaikan persoalan siswa sendiri atau dengan
25 anak didik setiap semester sekali, karena dipandang simpel dan tidak terlalu
merepotkan kerja guru. Sementara di luar jam kerja sekolah, para guru harus
melakukan aktivitas lain untuk kepentingan keluarga dan urusan sosial
kemasyarakatan di daerahnya.
Guru memandang bahwa komunikasi berkala dengan orang tua, harian,
mingguan atau dua mingguan tidak akan berdampak bagi performa anak. Para guru
menganggap bahwa orang tua tidak memiliki kesempatan untuk mencermati media
komunikasi yang dikembangkan guru setiap hari atau setiap minggu; sehingga
seandainya dikembangkan komunikasi tersebut tidak akan berjalan dengan
maksimal. Hanya beberapa orang tua yang diangap memiliki kesempatan dan
waktu untuk merespon komunikasi sekolah dan orang tua secara baik.
Para guru juga menganggap bahwa orang tua siswa tidak memiliki waktu
yang cukup untuk merespond seandainya sekolah mengembangkan komunikasi
berkala dengan mereka. Para orang tua harus bekerja sepenuh waktu untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Profesi tersebut membuat para orang tua lebih
memikirkan pekerjaannya dari pada pendidikan anaknya.
Cara pandang guru tersebut harus dirubah sekarang, karena pada masa
sekarang telah terjadi pergeseran kesadaran orang tua dalam pendidikan
anak-anaknya. Perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya kini telah membaik,
terbukti banyaknya orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya di
sekolah-sekolah unggulan yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak kecil. Bagi
mereka, biaya pendidikan bukan lagi jadi pesoalan selama berbanding lurus dengan
kualitas sekolah yang besangkutan. Kini, orang tua berebut agar anak-anaknya menjadi „orang hebat‟ dengan menyekolahkan anaknya di sekolah unggulan.
Orang tua yang tergolong demikian tentunya memiliki perhatian besar
terhadap pendidikan anaknya. Sekolah yang mengembangkan komunikasi dengan
berbagai media tersebut, tentunya mendapat respond yang positif dari orang tua.
Mereka tidak sekedar membayar uang sekolah yang mahal, namun juga memberi
26 E. Mengkomunikasikan Jaminan Keamanan
Menurut Decker&Virgin, (2003:214), sekolah yang aman adalah sekolah
yang secara fisik, tata letak dan prosedur-prosedur dirancang untuk meminimalisir
gangguan-gangguan pada peserta didik dan menghambat sekolah dalam mencapai
misi utamanya. Decker&Virgin (2003:210) menambahkan bahwa, untuk
menciptakan sekolah yang aman membutuhkan lokasi yang mampu mencegah dari
tindakan-tindakan yang membahayakan keselamatan anak baik secara fisik maupun
emosional dengan menggunakan pendekatan yang komprehensif sehingga mampu
mengindentifikasi sedini mungkin tindakan-tindakan yang mengarah pada hal-hal
yang menjadikan anak tidak nyaman secara fisik dan emosional. Dengan demikian
sekolah yang aman adalah sekolah yang membuat warga sekolah nyaman secara
fisik dan emosional.
Center for Effective Collaboration and Practice (dalam Decker&Virgin,2003:210-212), memaparkan karakteristik sekolah dalam suatu
masyarakat yang dianggap mampu memberikan pencegahan, tidak mengintervensi,
dan responsive terhadap hal-hal yang mengganggu kenyamanan peserta didik. Karakteristik sekolah aman tersebut adalah:
1. Fokus pada prestasi akademik
Sekolah yang fokus pada prestasi akademik membuat anak nyaman
karena segala aktivitas bermuara pada peningkatan prestasi akademik peserta
didik. Anak senantiasa dikondisikan dalam suasana akademik apapun bentuk
kegiatannya. Orang tua menjadi tidak khawatir dengan sekolah ini karena
anaknya akan senantiasa mendapatkan pengalaman akademik.
2. Melibatkan keluarga, orang tua dalam berbagai kegiatan yang bermakna
Sekolah yang dapat melibatkan keluarga dan orang tua dalam
kegiatannya menunjukkan bahwa sekolah tersebut memahami tanggung jawab
dan kewenangan pendidikan. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang
holistik, yaitu melibatkan seluruh pihak yang terkait dalam penanganan anak
didik. Pelibatan orang tua tersebut juga sebagai bentuk transparansi sekolah
27 3. Mengembangkan jaringan dengan masyarakat
Selain dengan orang tua, sekolah juga mengembangkan jaringan dengan
masyarakat seluas-luasnya. Sekolah yang mengembangkan jaringan dengan
masyarakat luas akan mendaptkan sumber belajar yang banyak. Hal ini
memungkinkan terjaminnya materi pembelajaran yang cukup memadai bagi
anak didik.
4. Menekankan hubungan positif antara pelajar dan para pegawai
Sekolah perlu membangun relasi emosi yang positif antara para pegawai
dengan peserta didik. Relasi emosi yang positif ini menjadikan peserta didik
merasa nyaman dan aman di sekolah. Peserta didik terhindar dari rasa was-was,
rasa takut, dan merasa ada tempat untuk berbagi masalah.
5. Mendiskusikan masalah-masalah keamanan sekolah secara terbuka
Sekolah yang aman perlu terbuka dengan pihak terkait. Dalam hal
keamanan sekolah, para guru perlu mensosialisasikan kepada berbagai pihak
sehingga semua pihak akan mendukung dalam pengamanan sekolah. Sekolah
tidak perlu mengembangkan rasa curiga dan was-was secara berlebihan.
6. Memperlakukan siswa dengan hormat
Peserta didik adalah subjek dalam pendidikan, oleh karean itu dia harus
diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Anak didik adalah individu yang sedang
memasuki tahapan perkembangan tertentu. Sekolah bertugas menggali dan
mengembangkan potensi yang dimilikinya agar tumbuh berkembang secara
maksimal. Para guru harus menghargai apapun potensi yang dimiliki setiap
peserta didik, para guru tidak boleh memperlakukan secara istimewa terhadap
peserta didik yang memiliki bakat atau potensi tertentu. Jika hal demikian
terjadi, maka guru tidak lagi dapat mengembangkan potensi anak melainkan
justru membunuh potensi anak. Setiap anak berhak untuk mengembangkan diri
sesuai dengan bakat dan potensi yang dimilikinya, dan tugas guru adalah
mendampinginya.
28 Setiap anak cenderung memiliki masalah, namun ada peserta didik yang
beranin mengungkapkan kepada gurunya dan ada yang kurang berani. Sekolah
mestinya menyediakan fasilitas yang memungkinkan dirinya menyampaikan
perasaan dan pikirannya. Fasilitas tersebut bisa melalui media tulis, lisan
maupun yang lainnya yang menjadikan anak aman dan nyaman menyampaikan
unek-uneknya tadi. Hal ini sangat penting agar anak dapat belajar secara
maksimal tanpa diganggu oleh perasaan dan pikiran yang tidak enak.
8. Membantu para siswa merasa aman dan mengekspresikan perasaan mereka
Siswa juga perlu diberi fasilitas untuk menyampaikan ide dan
gagasannya secara bebas, terbuka dan aman. Pernyataan perasaan ini dapat
berupa coretan, gambar, karikatur, puisi, cerpen, karya ilmiah, gesture, musik,
bernyanyi, dan lainnya. Sekolah yang aman sebaiknya menyediakan fasilitas
agar masing-masing siswa dapat mengekspresikan perasaannya secara bebas.
Sekolah dapat membuat majalah dinding, majalah sekolah, panggung terbuka
dan corner-corner pengembangan diri siswa.
9. Memiliki sistem yang tepat untuk menangani peserta didik yang mengalami
gangguan atau merasa diabaikan
Yang dimaksud gangguan adalah hal-hal yang dapat mengganggu
kenyamanan anak belajaar. Gangguan ini dapat berupa masalah psikologis,
fisiologis, sosial, masalah di sekolah, masalah di rumah, maupun masalah
pergaulan di luar sekolah. Sekolah dapat menyediakan fasilitas klinik
psikologis atau BK dan klinik kesehatan guna membantu anak yang mengalami
gangguan-ganggan tersebut. Agar anak tidak mengalami masalah yang
berkelanjutan, sekolah dapat mengadakan kegiatan pemeriksaan kesehatan
berkala mingguan atau bulanan baik kesehatan fisik maupun psikhis.
10. Mendorong peserta didik untuk senantiasa menjadi warga negara yang baik dan
berkarakter
Setiap anak harus didorong agar menjadi warga negara yang baik. Untuk
menjadi warga negara yang baik, harus dimulai dari sekolah yaitu menjadi
warga sekolah yang baik. Jika setiap anak menjadi warga sekolah yang baik
29 melanggar tata tertib sekolah, berperilaku yang tidak baik akan membuat anak
lain menjadi ketakutan dan tidak nyaman dalam belajar.
Untuk pembentukan karakter anak yang baik di sekolah, maka seluruh
civitas akademik di sekola harus senantiasa berusaha untuk dapat menegakkan
tata tertib sekolah. Kepatuhan pada tata tertib sekolah merupakan upaya dini
untuk membuat anak sadar hukum dalam kehidupan sosial. Pelanggaran
sekecil apapun di sekolah, harus diberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
Pembentukan karakter anak juga perlu dilakukan di sekolah agar anak
memiliki kesadaran berbuat dan berkarakter baik. Karakter baik ini sangat
diperlukan sebagai modal bagi kehidupan dia mendatang. Anak yang
berkarakter baik di sekolah akan berkarakter baik pula kelak dalam kehidupan
di masyarakat. Oleh karena itu pembentukan karakter anak di sekolah
sangatlah penting.
11. Mengidentifikasi masalah dan memantau kemajuan penyelesaian masalah
Sebagaimana telah diuraikan di muka bahwa setiap anak memiliki
masalah dalam kadar yang berbeda-beda. Sekolah harus mampu
mengidentifikasi dan berupaya memberikan bantuan penyelesaian masalah
tersebut. Setelah diselesaikan, maka sekolah perlu memantau bagaimana
perkembangan anak yang bermasalah. Tujuannya adalah untuk memastikan
bahwa anak benar-benar terselesaikan masalahnya. Dengan demikian, anak
akan merasa nyaman dalam belajar.
12. Mendorong peserta didik menghadapi masa transisi dari sekolah menuju
kehidupan dewasa dan memasuki dunia kerja.
Sekolah yang aman dan efektif senantiasa memiliki program yang
mempersiapkan peserta didik memasuki dunia dewasa atau dunia kerja. Peserta
didik perlu memiliki kesiapan mental emosional agar tidak kaget ketika
memasuki dunia yang berbeda, mereka segera dapat beradaptasi dengan
suasana yang baru.
Selain hal tersebut di atas, untuk menjamin keamanan dan kenyamanan siswa
30 seluruh siswa, baik dalam kegiatan di dalam kelas maupun di luar kelas. Berikut
disajikan contoh tata tertib SMA Negeri 1 Salatiga.
Tata tertib siswa SMA Negeri 1 Salatiga:
UMUM:
1. Setiap siswa wajib menjadi anggota OSIS SMA Negeri 1 Salatiga
2. Setiap siswa wajib menjaga nama baik sekolah selama menjadi siswa SMA
Negeri 1 Salatiga
3. Setiap siswa SMA Negeri 1 Salatiga berkewajiban mengetahui, memahami dan
menjalankan tata tertib sebagaimana yang telah ditentukan
4. Setiap siswa dilarang terlibat perkelahian dan tindakan kriminal seperti
pencurian, penyalahgunaan obat-obatan terlarang (Narkoba), pemerasan, serta
tindakan kerusuhan lain.
5. Siswa dilarang membawa dan menggunakan barang-barang yang tidak terkait
dengan proses pembelajaran seperti senjata tajam, senjata api,
buku/cetakan/VCD porno, rokok dan lain-lain
6. Selama menjadi siswa SMA Negeri 1 Salatiga setiap siswa dilarang keras
menikah, hamil/menghamili atau melakukan perbuatan zina
7. Setiap orang tua / wali siswa wajib ikut mendukung kelancaran pelaksanaan tata
tertib sekolah
8. Siswa dilarang mengendarai kendaraan bermotor sebelum memiliki SIM
KEGIATAN INTRA KURIKULER
1. Siswa sudah harus berada di sekolah sepuluh menit sebelum jam pertama
dimulai
2. Siswa harus berada dalam lingkungan sekolah selama kegiatan intra kurikuler
3. Siswa harus berdo‟a serta memberi hormat pada guru sebelum dan sesudah
kegiatan intra kurikuler
4. Siswa yang terlambat, harus minta surat izin kepada guru piket dan
menunjukkan surat tersebut kepada guru yang mengajar pada jam pelajaran
5. Siswa yang tidak masuk sekolah wajib dimintakan izin oleh orang tua / wali
31 6. Siswa yang terpaksa meninggalkan jam pelajaran wajib meminta izin kepada
guru yang mengajar dan guru piket. Bila karena keperluan keluarga harus
dibuktikan dengan surat pemberitahuan orang tua / wali, dan siswa wajib
menyerahkan kembali surat izin yang sudah ditandatangani oleh orang tua /
wali saat kembali ke sekolah
7. Siswa wajib menjaga ketenangan, ketertiban, kebersihan, kerapian dan
keindahan kelas
8. Siswa wajib menjaga keutuhan barang-barang / inventaris kelas
9. Siswa wajib berada di luar kelas pada jam istirahat
10. Ketua kelas wajib melapor kepada guru piket apabila guru berhalangan hadir
11. Siswa dilarang membawa dan menggunakan barang-barang yang tidak
diperlukan dalam kegiatan intra kurikuler
12. Siswa dilarang menggunakan HP selama KBM berlangsung tanpa seizin guru
13. Siswa dilarang mengenakan jaket/jemper pada saat KBM dan kegiatan di
lingkungan sekolah
PAKAIAN SERAGAM SEKOLAH
1. Siswa wajib mengenakan seragam sekolah beserta kelengkapan sesuai ketentuan
2. Siswa wajib mengenakan pakaian olah raga yang telah ditentukan
3. Siswa tidak dibenarkan memakai perhiasan / bersolek secara berlebihan
4. Siswa wajib mengatur rambutnya dengan rapi dan tidak dicat selain warna hitam
(putra tidak menyentuh kerah baju dan telinga)
5. Siswa wajib mengenakan sepatu (warna hitam, tali hitam) dan ikat pinggang
hitam serta kaos kaki putih
KEGIATAN EKSTRA KURIKULER
Siswa wajib mengikuti minimal 1 (satu) kegiatan ekstrakurikuler yang
diselenggarakan oleh sekolah, kecuali siswa kelas X ditambahkan ekstrakurikuler
kegiatan Pramuka
UPACARA BENDERA
1. Setiap siswa wajib mengikuti upacara bendera yang diselenggarakan oleh
32 2. Ketua kelas bertanggung jawab atas kesiapan dan ketertiban kelasnya dalam
mengikuti upacara bendera
3. Ketua kelas wajib melaporkan segala kekurangan tentang barisannya pada wali
kelas masing-masing
SANKSI
Setiap pelanggaran tata tertib sebagaimana tersebut di atas akan dikenakan sanksi
sebagai berikut.
SANKSI UMUM
1. Peringatan.
2. Skorsing di lingkungan sekolah.
3. Diserahkan kembali ke orang tua / wali siswa (dikeluarkan).
4. Kecuali pelanggaran no.6 tanpa a, b, c langsung dikembalikan ke orang tua /
wali siswa.
5. Pelanggaran no.8 tidak boleh parkir di lingkungan sekolah.
6. Satu kali pelanggaran A no.4 (perkelahian) peringatan keras dan memanggil
orang tua.
7. Dua kali pelanggaran A no.4 (perkelahian) dikembalikan ke orang tua.
8. Satu kali pelanggaran A no.4 (tindakan kriminal, perampokan, pencurian,
penyalahgunaan obat terlarang, pemerasan, dan tindakan kerusuhan lain)
dikembalikan ke orang tua.
9. Satu kali pelanggaran merokok diperingatkan dan pemanggilan orang tua.
10. Dua kali pelanggaran dikembalikan ke orang tua.
11. Satu kali pelanggaran A no.5 disita dan pemanggilan orang tua.
12. Dua kali pelanggaran dikembalikan ke orang tua.
SANKSI KHUSUS
1. Sanksi pelanggaran intrakurikuler.
a. Pelanggaran pada tata tertib nomor 1,2,3 dan mengacu pada sanksi umum.
b. Satu kali sampai dua kali keterlambatan, siswa diberikan peringatan dan
padanya wajib melaksanakan tugas kebersihan sebelum jam pelajaran
berikutnya. Dan pada keterlambatan yang ketiga dikenakan sanksi tertulis
33 c. Pelanggaran tata tertib no.5 (lima) siswa diberi peringatan dan wajib
menyerahkan surat izin orang tua / wali siswa pada hari berikutnya
d. Pelanggaran tata tertib no.6 (enam) mengacu pada sanksi umum dan tanpa
permohonan orang tua / wali siswa siswa tidak diizinkan meninggalkan
sekolah.
e. Pelanggaran tata tertib no.7 (tujuh) mengacu pada sanksi umum, dan siswa
dituntut untuk mengembalikan kerapian, keindahan, dan kebersihan kelas.
f. Pelanggaran tata tertib no.8 (delapan) siswa dituntut untuk mengembalikan
keutuhan barang inventaris kelas.
g. Pelanggaran no.9 (Sembilan) dan 10 (sepuluh) siswa dikenakan tindakan
peringatan mengacu pada sanksi umum.
h. Satu kali pelanggaran tata tertib no.11 (sebelas) siswa diberi peringatan yang
disertai pemanggilan orang tua / wali siswa.
i. Satu kali pelanggaran no.12 siswa diperingatkan dan HP disita.
1) Dua kali pelanggaran no.12 HP disita dan hanya orang tua yang boleh
mengambil.
2) Tiga kali pelanggaran no.12 HP disita dan boleh diambil pada awal tahun
pelajaran baru.
j. Satu kali pelanggaran B no.13 diminta melepas.
1. Dua kali pelanggaran B no.13 disita dan tidak dikembalikan.
2. Sanksi pelanggaran seragam sekolah
a. Satu kali pelanggaran tata tertib no 1 (satu) siswa diberi peringatan lisan dan
wajib melengkapi segala kekurangannya.
Dua kali pelanggaran tata tertib no.1 (satu) siswa diberi peringatan tertulis.
Tiga kali pelanggaran tata tertib no.1 (satu) dilakukan pemanggilan orang tua /
wali siswa.
b. Pelanggaran tata tertib no.2 (dua) siswa tidak diperkenankan mengikuti
pelajaran olah raga.
c. Pelanggaran tata tertib no.3 (tiga) siswa diberi peringatan secara lisan.
34 Dua kali pelanggaran tata tertib no.4 (empat) siswa dipotong rambutnya di
sekolah.
e. Satu kali pelanggaran tata tertib no.5 (lima) siswa diberi peringatan secara
lisan dan melepas sepatunya di ruang piket selama pelajaran berlangsung.
Dua kali pelanggaran tata tertib no.5 (lima) siswa melepas sepatu dan tidak
dikembalikan selama 1 semester.
Tiga kali pelanggaran tata tertib no.5 (lima) sepatu diambil dan tidak
dikembalikan.
3. Sanksi pelanggaran upacara bendera.
Pelanggaran yang dilakukan pada tata tertib no.1,2,3 sanksi mengacu pada
sanksi umum.
4. Sanksi ekstrakurikuler.
Setiap pelanggaran tata tertib siswa diberikan peringatan dan kepadanya tidak
diberikan nilai ekstrakurikuler.
(Sumber: Tata Tertib Siswa SMA Negeri 1 Salatiga, dikeluarkan tanggal 14 Juli 2014)
Mencermati contoh tata tertib dari SMA Negeri 1 Salatiga tersebut,
tergambarkan bahwa siswa terjamin keamanannya, baik kemanan fisik, sosial,
maupun emosional. Penyebaran tata tertib tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
No Aspek Keamanan Bab Point
1 Fisik Tata Tertib Umum d, e, f, h Kegiatan Intra kurikuler b, e, f, g,
h, k, l Pakaian seragam a, b, c, e Upacara Bendera A
2 Sosial Tata Tertib Umum A
Kegiatan Intra kurikuler a, b, c Upacara Bendera A 3 Emosional Tata Tertib Umum b, f
Pakaian seragam sekolah a, b, c, d Kegiatan intra kurikuler a, c, d, g,
i, l Upacara Bendera A
35 Sementara itu sanksi-sanksi yang dituangkan dalam tata tertib sekolah
tersebut adalah bagian dari upaya untuk menjamin tegaknya tata tertib di sekolah,
dalam rangka menciptakan keamanan fisik, sosial dan emosional peserta didik di
sekolah.
F. Home visit
Home visit merupakan kegiatan kunjungan ke rumah peserta didik yang dilakukan dalam rangka untuk mendekatkan hubungan sekolah dan orang tua
peserta didik. Kalau setiap anak yang sekolah mendapat kesempatan dikunjungi
gurunya, maka hal tersebut mampu membangkitkan rasa bangga dan perhatian yang
lebih bagi orang tua. Orang tua yang dikunjungi pihak sekolah, merasa bangga dan
tersanjung.
Home visit yang dilakukan oleh sekolah biasanya memiliki tujuan dan alasan tertentu. Tujuan dan alasan home visit tersebut diantaranya adalah : 1) untuk
memahami peserta didik dan keluarganya lebih baik dan sebagai salah satu wujud
empati sekolah terhadap keluarga mereka; 2) karena alasan keterpaksaan, yaitu ada
sesuatu yang mengaharuskan sekolah melakukan kunjungan ke rumah karena orang
tua sulit dihadirkan ke sekolah; 3) untuk mengimplementasikan program
pendidikan keluarga di rumah. Misalnya sekolah perlu memantau program
pembelajaran di rumah bagi anak-anak yang memerlukan bimbingan khusus.
Sekolah tidak akan bisa memahami anak secara menyeluruh hanya dengan
melihat performa mereka di sekolah. Performa anak di sekolah hanyalah tampilan
luar, sementara tampilan keadaan yang sebenarnya dapat diketahui manakala guru
mengetahui pula latar kehidupan anak yang sebenarnya. Home visit akan
membantu guru mengetahui latar belakang keluarga anak, baik latar belakang
ekonomi, sosial budaya, geografis, dan lainnya. Informasi ini sangat penting bagi
guru, agar bisa memperlakukan anak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Home visit juga diperlukan bagi sekolah untuk menyelesaikan masalah
pendidikan anak, manakala orang tua sangat sulit dihadirkan ke sekolah. Orang tua