Kabupaten Bangka Barat merupakan salah satu kabupaten pemekaran di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung yang disahkan dengan UU RI Nomor 5 Tahun 2003 tanggal 25 Feruari 2003. Menurut BPS (2007) luas wilayah daratan Kabupaten Bangka Barat adalah 2,820.61 km2 dan luas laut 1,541.29 km2 terhitung 4 mil dari batas terluar pantai. Berdasarkan UU RI Nomor 5 Tahun 2003, Kabupaten Bangka Barat mempunyai batas wilayah sebagai berikut:
- Sebelah utara : Laut Natuna
- Sebelah Timur : Teluk Kelabat, Kecamatan Bakam, Puding Besar, dan Mendo Barat Kabupaten Bangka
- Sebelah Selatan : Selat Bangka
- Sebelah Barat : Selat Bangka, Laut Natuna
Kabupaten Bangka Barat terdiri dari 5 kecamatan yang kesemuanya memiliki desa pesisir, yaitu Kecamatan Muntok, Kecamatan Simpang Teritip, Kecamatan Kelapa, Kecamatan Jebus dan Kecamatan Tempilang. Desa-desa yang tercakup dalam wilayah administrasi Kabupaten Bangka Barat disajikan dalam Tabel 11 dan Gambar 8.
Tabel 11 Wilayah administrasi Kabupaten Bangka Barat
No Kecamatan Desa
1 Muntok Air Belo, Air Limau, Air Putih, Belo Laut, Sungai Baru, Sungai Daeng dan Tanjung
2 Simpang Teritip
Air Nyatoh, Berang, Ibul, Kundi, Mayang, Pelangas, Peradong, Rambat, Simpang Gong dan Simpang Tiga
3 Kelapa Air Bulin, Dendang, Kacung, Kayu Arang, Kelapa, Mancung, Pusuk, Tebing, Tugang dan Tuik
4 Jebus Air Gantang, Bakit, Cupat, Jebus, Kapit, Kelabat, Ketap, Limbung, Ranggi, Rukam, Semulut, Sungai Buluh, Telak, Teluk Limau dan Tumbak Petar
5 Tempilang Air Lintang, Benteng Kota, Buyan Kelumbi, Penyampak, Sangku, Simpang Yul, Sinar Surya, Tanjung Niur dan Tempilang
5 2 0 0 0 0 5 2 0 0 0 0 5 4 0 0 0 0 5 4 0 0 0 0 5 6 0 0 0 0 5 6 0 0 0 0 5 8 0 0 0 0 5 8 0 0 0 0 9 7 8 0 0 0 0 9 7 8 0 0 0 0 9 8 0 0 0 0 0 9 8 0 0 0 0 0 9 8 2 0 0 0 0 9 8 2 0 0 0 0 Jalan Propinsi Jalan Kabupaten Jalan Desa Sungai Ds. Kayu Arang (36) Ds. Kelabat (37) Ds. Kelapa (38) Ds. Ketap (39) Ds. Kundi (40) Ds. Limbung (41) Ds. Mancung (42) Ds. Mayang (43) Ds. Pelangas (44) Ds. Penyampak (45) Ds. Peradong (46) Ds. Pusuk (47) Ds. Rambat (48) Ds. Ranggi (49) Ds. Rukam (50) Ds. Sangku (51) Ds. Semulut (1) Ds. Simpang Gong (2) Ds. Simpang Tiga (3) Ds. Simpang Yul (4) Ds. Sinar Surya (5) Ds. Sungai Baru (6) Ds. Sungai Daeng (8) Ds. Tanjung (9) Ds. Tanjung Niur (10) Ds. Tebing (11) Ds. Telak (12) Ds. Teluk Limau (13) Ds. Tempilang (14) Ds. Tugang (15) Ds. Tuik (16) Ds. Tumbak Petar (17) Ds. Air Belo (18) Ds. Air Bulin (19) Ds. Air Gantang (20) Ds. Air Limau (21) Ds. Sungai Buluh (7) LEGENDA : Ds. Air Nyatoh (23) Ds. Air Putih (24) Ds. Bakit (25) Ds. Belo Laut (26) Ds. Air Lintang (22) Ds. Cupat (30) Ds. Dendang (31) Ds. Ibul (32) Ds. Jebus (33) Ds. Kacung (34) Ds. Buyan Kelumbi (29) Ds. Kapit (35) Ds. Berang (28) Ds. Benteng Kota (27) Teluk Kampa Teluk Kelabat Laut Natuna Selat Bangka N Kilometer 10 0 10 Amini / A 156070244 Program Studi Ilmu Perencanaan W ilayah
Sekolah Pascasarjana IPB 2009
PETA BATAS ADMINISTRASI KABUPATEN BANGKA BARAT
KABUPATEN BANGKA
Sumber: Hasil Analisis Data:
Peta Administrasi Kab. Babar skala 1:50.000 (Bappeda 2005)
P. Bangka Lokasi Penelitian 1 2 3 4 5 6 7 8 9 12 13 14 15 26 40 34 10 22 27 43 18 24 51 29 45 21 48 44 32 28 46 19 36 31 11 38 23 17 41 47 16 50 25 49 35 39 20 30 37 33 42 Kependudukan
Jumlah penduduk Kabupaten Bangka Barat pada Tahun 2007 adalah 142,574 jiwa yang tersebar di 5 kecamatan dengan kepadatan penduduk rata-rata 45 jiwa/km2. Data luas lahan dan jumlah penduduk di lima kecamatan selengkapnya disajikan pada Tabel 12. Dari data tersebut terlihat bahwa kepadatan
tertinggi 79 jiwa/km2 terdapat di Kecamatan Muntok dan kepadatan penduduk terendah 18 jiwa/km2 terdapat di Kecamatan Tempilang.
Tabel 12 Luas lahan dan Kepadatan Penduduk di 5 Kecamatan Kabupaten Bangka Barat Tahun 2007
No Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa) Luas Lahan (Ha) Kepadatan Penduduk (jiwa/Km2) 1 Muntok 36,294 46,400 79 2 Simpang Teritip 23,715 73,764 33 3 Kelapa 25,186 60,498 42 4 Tempilang 24,214 138,917 18 5 Jebus 33,165 68,509 49 Total 142,574 388,088 45
Sumber: Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kab. Bangka Barat dan BPS
Berdasarkan umur, struktur penduduk Kabupaten Bangka Barat didominasi oleh usia produktif (15-55 tahun). Berdasarkan data kependudukan yang diperoleh dari Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bangka Barat pada Tahun 2007 usia produktif sebesar 69.11% dari total jumlah penduduk. Besarnya jumlah penduduk pada usia produktif ini berimplikasi pada ketersediaan tenaga kerja, yang berarti pula beresiko munculnya pengangguran jika tidak disertai dengan ketersediaan lapangan kerja.
Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar penduduk Kabupaten Bangka Barat mempunyai tingkat pendidikan rendah. Dari data jumlah penduduk menurut pendidikan Tahun 2007, diketahui bahwa tingkat pendidikan penduduk masih didominasi oleh Sekolah Dasar (lebih dari 50%). Data tingkat pendidikan penduduk di lima kecamatan di Kabupaten Bangka Barat selengkapnya disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13 Data tingkat pendidikan di 5 Kecamatan Kabupaten Bangka Barat (%)
Kecamatan SD SLTP SLTA D1/D2 D3/ AKADEMI S1/D4 S2 S3 Total Muntok 50.46 22.17 23.64 1.03 1.13 1.54 0.03 0.01 100.00 Simpang Teritip 69.68 17.10 11.32 0.91 0.21 0.74 0.03 0.00 100.00 Kelapa 66.42 16.63 14.92 0.90 0.37 0.71 0.04 0.00 100.00 Tempilang 69.04 16.02 12.79 0.99 0.98 0.14 0.03 0.00 100.00 Jebus 61.79 21.91 14.26 0.85 0.46 0.71 0.00 0.01 100.00
Keadaan Iklim
Secara umum iklim di Kabupaten Bangka Barat berdasarkan klasifikasi iklim Scmidth-Ferguson termasuk ke dalam iklim tropis tipe A. Menurut data dari Dinas Pertanian Bangka Barat Tahun 2007 yang berasal dari tiga stasiun di Kabupaten Bangka Barat curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari yaitu sebesar 285.17 mm dengan hari hujan terbanyak terjadi pada bulan November, Desember dan Januari yaitu 17 hari hujan. Curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus yaitu 2.5 mm dengan hari hujan terendah juga terjadi pada bulan Agustus yaitu 1 hari hujan.
Jumlah rata-rata curah hujan dari tiga stasiun di Kabupaten Bangka Barat selama 3 tahun (2004-2006) adalah 1,760.64 mm/th dengan jumlah hari hujan rata-rata 116 hari/tahun. Pada Gambar 9 ditampilkan grafik rata-rata jumlah curah hujan selama tahun 2004-2006. Data curah hujan lengkap pada tahun tersebut disajikan pada Lampiran 20 .
Gambar 9 Rata-rata curah hujan bulanan di Kabupaten Bangka Barat Tahun 2004-2006 (Dinas Pertanian Kab. Bangka Barat 2007)
Berdasarkan Gambar 9 tampak bahwa Kabupaten Bangka Barat memiliki kurang lebih 3 bulan kering, yaitu curah hujan dibawah 60 mm sebanyak kurang lebih 3 bulan dalam satu tahun. Menurut kriteria Departemen Kalautan dan Perikanan (2001), diacu dalam Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007) daerah yang mempunyai bulan kering 2-3 bulan cukup sesuai untuk budidaya pertambakan.
Sungai-sungai besar yang terdapat di Kabupaten Bangka Barat adalah Sungai Kampak, Sungai Antan, Sungai Jering dan Sungai Kotawaringin. Sungai-sungai tersebut belum dimanfaatkan untuk pertanian dan perikanan karena nelayan lebih cenderung mencari ikan ke laut. Adapun aktifitas sehari-hari penduduk cenderung menggunakan sarana perhubungan darat melalui jalan raya. Di Kabupaten Bangka Barat tidak terdapat danau alam, hanya ada bekas penambangan bijih timah yang luas hingga menjadikannya seperti danau buatan yang disebut kolong.
Jalan di Kabupaten Bangka Barat yang berada di bawah pengawasan Dinas PU Kabupaten Bangka Barat sampai dengan Tahun 2007 adalah sepanjang 421.42 km. Berdasarkan jenis permukaannya terdiri dari jalan aspal sepanjang 259.26 km (61.52%), jalan kerikil 17.10 km (4.06%) dan jalan tanah sepanjang 145.06 km (34.42%). Berdasarkan kondisinya terdiri dari kondisi jalan baik 229.69 km (54.50%), kondisi jalan sedang 105.15 km (24.95%), jalan rusak 31.10 (7.38%) dan jalan dengan kondisi rusak berat sepanjang 55.48 km (13.17%).
Struktur Perekonomian
Data PDRB Tahun 2006 menunjukkan bahwa struktur perekonomian Kabupaten Bangka Barat didominasi oleh sektor sekunder (sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih, serta sektor bangunan) yaitu sebesar 54.5%. Sektor primer (sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian) menempati urutan kedua sebesar 28.38%. Sedangkan sektor tersier (sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa) pada urutan ketiga sebesar 17.12%.
Dilihat dari kontribusinya dalam PDRB Kabupaten Bangka Barat pada tahun 2006 menurut harga konstan, sektor pertanian merupakan kontributor terbesar kedua dengan total Rp397,285,000 (17.84%). Subsektor perikanan hanya memberikan sumbangan sebesar 2.90 % terhadap PDRB Kabupaten Bangka Barat seperti disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14 Data PDRB Kabupaten Bangka Barat Th 2006 berdasarkan harga konstan
LAPANGAN USAHA PDRB (juta rupiah) Persentase
1. Pertanian 397,285 17.84
a. Tanaman Bahan Makanan 40,717
b. Tanaman Perkebunan 273,921
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 9,745
d. Kehutanan 8,267
e. Perikanan 64,635 2.90
2. Pertambangan dan Penggalian 277,920 12.48
3. Industri dan Pengolahan 1,072,088 48.14
4. Listrik, Gas dan Air Bersih 4,746 0.21
5. Bangunan 65,712 2.95
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 305,690 13.73
7. Pengangkutan dan Komunikasi 20,888 0.94
8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 29,958 1.35
9. Jasa-jasa 52,649 2.36
TOTAL 2,226,936 100.00
Sumber: BPS Kabupaten Bangka Barat
Tanah
Menurut Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Barat, di wilayah Kabupaten Bangka Barat secara eksisting dijumpai 9 (sembilan) jenis tanah yang tersebar di 5 (lima) kecamatan. Deskripsi dari masing-masing jenis tanah disajikan pada Tabel 15 dan peta sebaran jenis tanah tersebut disajikan pada Lampiran 3.
Tabel 15 Deskripsi jenis tanah di Kabupaten Bangka Barat SP T Jenis Tanah Deskripsi Luas Ha % 1 Podsolik Merah Kuning
Dataran, batuan induk batuan plutonik masam (granit), warna merah kekuningan sampai kedalaman < 50 cm, tanpa pengaruh reduksi, tekstur tanah lempung sampai lempung berpasir, struktur berkembang dengan solum dalam. Kemiringan lereng berkisar 3 – 8% dan ketinggian tempat antara 10 – 80 m dpl.
9,663 3.43
2 Podsolik Coklat
Dataran dan perbukitan, batuan induk batuan plutonik masam (granit), warna coklat kekuningan sampai kedalaman 60 cm, tanpa pengaruh reduksi, tekstur tanah lempung berpasir kasar, struktur berkembang dengan solum dalam. Kemiringan 3-50 %, ketinggian tempat 10 -235 m dpl
SPT Jenis Tanah Deskripsi Luas Ha % 3 Podsolik Kuning
Dataran, perbukitan dan sedikit pegunungan, batuan induk batuan plutonik masam (granit) tak terbedakan, warna kuning kecoklatan pada kedalaman >15 cm, tanpa pengaruh reduksi, tekstur tanah lempung sampai lempung berpasir halus, struktur berkembang dengan solum dalam. Kemiringan 3-15% dan 25-75%, ketinggian tempat 5-100 m dpl dan 125-450 m dpl
37,742 13.95
4 Asosiasi Podsolik Regosol
Dataran dan sedikit pegunungan, batuan induk asosiasi batuan sedimen kasar masam dengan batuan plutonik masam (granit) tak terbedakan, warna kuning kecoklatan pada kedalaman sampai 50 cm, tanpa pengaruh reduksi, tekstur tanah lempung berpasir kasar, solum dalam. Kemiringan 3-8% dan 15-60%, ketinggian tempat 10-65 m dpl dan 75-220 m dpl
39,165 13.89
5 Asosiasi Podsolik Litosol
Perbukitan kecil sampai sedang, torehan mengikuti struktur tektonik, batuan induk batuan plutonik masam (granit), kekuningan sampai kedalaman < 35 cm, tanpa pengaruh reduksi, tekstur tanah lempung, kedalaman solum dangkal. Kemiringan 3-60%, ketinggian tempat 40-235 m dpl
6,244 1.64
6 Regosol Dataran, bahan induk batuan sedimen kasar masam, warna kekuningan sampai kecoklatan sampai kedalaman < 50 cm, tanpa pengaruh reduksi, tekstur tanah lempung berpasir kasar sampai pasir berlempung, solum dalam, struktur belum berkembang. Kemiringan 3-25%, ketinggian tempat 10-120 m dpl
5,294 1.88
7 Gleisol Rawa belakang pantai dan dataran pasang surut, bahan induk sedimen halus, warna kelabu sampai kelabu tua sampai kedalaman 60 cm, sering mendapat pengaruh reduksi akibat sering tergenang, ketebalan gambut di permukaan bervariasi tetapi kurang dari 25 cm, struktur belum berkembang, solum agak dalam dan teksturnya lempung berdebu. Kemiringan <3%, ketinggian tempat 0-6 m dpl
Tabel 15 (lanjutan)
SPT Jenis
Tanah Deskripsi
Luas
Ha %
8 Aluvial Lembah dan punggung sungai dibelakang dataran banjir dari sungai yang bermeander dengan banyak alur-alur drainase, bahan induk sedimen homogen tidak dibedakan, warna coklat terang, kekuningan sampai kuning kekelabuan sampai kedalaman 50 cm, struktur belum berkembang, tekstur tanah lempung berpasir halus, solum agak dalam. Kemiringan <5%, ketinggian tempat 3-30 m dpl
18,796 6.66
9 Asosiasi Aluvial Regosol
Beting pantai, cekungan muda, dataran banjir bermeander dari rawa belakang, bahan induk sedimen kasar masam tidak dibedakan (homogen), warna kuning coklat kelabu pada kedalaman < 50 cm, ada pengaruh reduksi sedikit tetapi belum masuk pada kategori hydromorfik, tekstur tanah lempung berpasir kasar, struktur belum berkembang. Kemiringan <5%, ketinggian tempat 2-10 m dpl
9,840 3.49
Jumlah 282,061 100.00
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Bangka Barat 2007 Kondisi Perairan (Laut)
Secara umum jika dilihat dari letak Kabupaten Bangka Barat di antara pulau-pulau sekitarnya tampak bahwa perairan laut Kabupaten Bangka Barat terdiri atas perairan yang merupakan selat (antara Sumatera dan Pulau Bangka), perairan laut lepas yang merupakan bagian dari laut Natuna dan perairan teluk (Teluk Kelabat). Perbedaan kondisi ini menyebabkan perbedaan karakteristik masing-masing perairan tersebut.
Perairan selat umumnya dicirikan oleh aliran arus yang kuat dan pola arus menyerupai perairan laut lepas. Kecepatan arusnya sangat dipengaruhi oleh bentuk bentuk geometri selat, musim, topografi perairan dan kondisi batas lainnya (Pond & Pickard 1983, diacu dalam Nurhayati 2007). Secara umum sirkulasi pola arus di perairan selat sebagian besar tergantung pada kondisi lokal, walaupun proses fisika oseonografi sudah menjadi hal yang umum. Selat Bangka yang terletak di bagian timur Sumatera merupakan perairan yang dicirikan sebagai perairan sambungan antara estuari lokal dan laut lepas yaitu Laut Jawa.
Kondisi geografis perairan dapat menyebabkan massa air Selat Bangka menjadi lebih tawar, hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya sejumlah besar masukan air sungai ke perairan ini. Disamping itu selat ini areanya cukup panjang dan arus pasutnya juga sangat kuat, seperti halnya di daerah selat pada umumnya (Nurhayati 2007).
Perairan sebelah utara dan sebagian sebelah barat yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna merupakan perairan terbuka. Karakteristik perairannya lebih dipengaruhi oleh perairan Laut Natuna, dimana pola arus lebih dipengaruhi oleh faktor musim.
Perairan yang merupakan teluk adalah Teluk Kelabat dan Teluk Kampa. Menurut LIPI (2006), Teluk Kelabat merupakan perairan semi tertutup dan memiliki potensi bagi pengembangan kota tepi pantai (water front city). Sistem arus yang berkembang terutama dipengaruhi oleh pasang surut disamping oleh musim dan topografi perairan, sedangkan karakteristik massa air di dalam Teluk sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar, massa air dari sungai dan penyinaran matahari. Sedangkan Teluk Kampa lebih terbuka dibandingkan dengan Teluk Kelabat.