• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORITIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORITIK"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORITIK

2.1 Landasan Teori dan Konsep

Penilaian performance atau kinerja suatu sistem komputer adalah hal yang

relatif karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda untuk hal ini . Secara umum penilaian performance suatu sistem dapat langsung dilihat dari beberapa hal antara lain:

• Response time untuk user interaktif

• Total waktu yang diperlukan untuk batch job • Jumlah laporan yang dapat diselesaikan setiap hari

• Waktu yang diperlukan sistem untuk stabil kembali setelah terjadi kerusakan • Tidak ada keluhan mengenai kinerja yang buruk

• Tidak perlu dilakukan perubahan pada sistem untuk memperbaiki kinerjanya Pendefinisian yang jelas mengenai kinerja sistem yang diharapkan sangat mutlak diperlukan sebelum melakukan sizing sistem. Evaluasi sistem hardware mutlak diperlukan sebelum kita menentukan sistem yang akan dipakai. Untuk mencapai performance yang baik suatu sistem harus dapat memenuhi tiga persyaratan yaitu :

1. Sistem hardware tersebut harus memiliki kapasitas yang memadai untuk menjalankan suatu aplikasi, referensi kapasitas hardware tersebut dapat

(2)

dilihat dari kebutuhan minimum hardware yang terdapat pada petunjuk installasi suatu aplikasi, server-proven matrix dan sumber-sumber lainnya. 2. Sistem hardware tersebut harus dipersiapkan untuk menampung kapasitas

maksimum dari sumber-sumber yang akan dijalankan. Sumber-sumber yang dimaksud di sini dapat berupa data, aplikasi dan user.

3. Secara berkala dilakukan monitoring, tuning serta upgrade sistem jika diperlukan (Understanding IBM pSeries Performance and Sizing, 2000). 2.1.1 Kinerja server

Memperkirakan dan mengevaluasi kinerja server yang efektif dapat mengikuti langkah-langkah dari panduan umum analisa dan tuning server. Meskipun tidak ada buku atau panduan yang benar-benar sesuai untuk semua situasi, ada beberapa langkah yang dapat dijadikan dasar untuk sebuah analisa dan tuning server. Tidak semua langkah-langkah tersebut dapat diterapkan pada semua situasi bahkan beberapa saran dan petunjuk yang tidak mungkin dilakukan pada sistem yang sudah ada. Sebagai contoh , kita harus memisahkan beban kerja yang saling berbenturan untuk tiap transaksi. Hal ini akan sangat sulit dilakukan karena aplikasi yang menjalankan transaksi tersebut berada dalam satu server yang sama.

Untuk mengantisipasi masalah di atas, ketika akan membuat

performance-management , tentukan terlebih dahulu tujuan utama yang akan kita capai. Berikut

ini adalah beberapa hal yang sering dijadikan tujuan utama, di antaranya : • Respons-time yang cepat untuk user interaktif

(3)

• Kinerja sistem yang optimal performance tanpa harus membeli hardware tambahan.

Pengukuran performance sistem atau server yang sering dilakukan saat ini

adalah dengan cara Benchmarking. Jika diartikan secara umum, benchmarking adalah suatu proses membandingkan dua atau lebih server atau komponen server untuk menentukan performance terbaik atau tercepat. Terdapat dua tipe benchmark yang umum yaitu Synthetic dan Real World.

Synthetic Benchmark tidak menampilkan penggunaan resource sesungguhnya Whetstone dan Dhrystone merupakan contoh benchmark sintetis yang banyak digunakan untuk mengukur kinerja komputer. Benchmark sintetis berupa program pendek yang dibuat menyerupai tingkah-laku program aplikasi yang ada.

Melalui kajian mendalam terhadap berbagai program aplikasi yang ada, dibuat suatu program pendek yang merupakan gabungan dari berbagai komputasi matematis, kalang (loop), pemanggilan fungsi, dan sebagainya.

Real World Benchmark mengacu pada pengukuran performance sistem

berdasarkan beban kerja pada kondisi sebenarnya. Penerapan benchmark ini yaitu dengan cara mengoperasikan server yang akan diukur performancenya dalam operasional harian lalu diamati apa yang akan terjadi dengan server tersebut. Secara umum kegunaan benchmark adalah untuk mengukur performance, namun benchmark juga dapat digunakan untuk pegujian bagian hardware atau aplikasi yang baru diproduksi.

(4)

Jika kita sudah terbiasa bekerja dalam sebuah transaction-oriented system yang besar tentunya kita pernah mendengar TPC Benchmark atau TPC test. TPC Benchmark telah menjadi standard de facto dalam pengukuran performance sistem yang besar dan kompleks. Ada empat jenis TPC test yaitu:

• TPCa : digunakan untuk pengukuran transaksi on-line . • TPCb : digunakan untuk pengukuran server database.

• TPCc : merupakan versi update dari On-line Transaction Process. • TPCd : digunakan untuk Decision Support Test.

Berikut ini akan diulas salah satu benchmark yang banyak dipergunakan, yakni SPEC, yang dikembangkan oleh System Performance Evaluation Corporation. Uraian tentang benchmark SPEC ini dimaksudkan untuk menjelaskan cara pengukuran kinerja komputer dengan membandingkan waktu eksekusi yang diperlukan oleh suatu komputer untuk satu program tertentu dengan waktu eksekusi pada komputer rujukan. Pada bagian berikutnya diuraikan mengenai kelemahan pengukuran kinerja berbasis 'waktu eksekusi program' tersebut dan alternatif lain yang dapat dilakukan untuk memperbaiki pengukuran kinerja komputer tersebut.

Sebagai upaya untuk mendapatkan tolok-ukur baku agar dapat membandingkan kinerja berbagai sistem komputer, sekelompok perusahaan besar antara lain: DEC, Hewlett-Packard, IBM, Intel, dan Sun sepakat membentuk lembaga non-profit yang diberi nama System Performance Evaluation Corporation. Lembaga ini ditugasi untuk mengembangkan dan memberi dukungan terhadap pembakuan benchmark kinerja komputer.

(5)

Sebelum membuat program untuk mengukur kinerja komputer, SPEC telah mempelajari sejumlah program yang umum dipakai, menganalisis algoritma dan bahasa mesinnya, menentukan cara mengukur kinerja komputer, dan menentukan rumusan untuk membuat rerata skor kinerja komputer dari skor-skor yang diperoleh masing-masing elemen benchmark. Benchmark SPEC terdiri atas dua kelompok

program. Satu kelompok merupakan program-program yang dititik-beratkan pada operasi atas bilangan integer dan satu kelompok lainnya dititik-beratkan pada operasi atas bilangan floating-point.

Perangkat benchmark pertama yang dibuat diperkenalkan pada tahun 1989,

karenanya disebut SPEC89. Pada tahun 1992 dimunculkan versi baru, dan dengan demikian SPEC89 tidak digunakan lagi. SPEC92 terdiri atas 20 program yang terbagi menjadi dua kelompok, yakni untuk operasi bilangan integer dan untuk operasi bilangan floating-point. Saat ini, SPEC92 juga sudah tidak digunakan lagi karena telah dimunculkan perangkat benchmark baru yakni SPEC95. Pada SPEC95 ini, komputer rujukan yang digunakan sebagai pembanding berubah dari semula VAX-11/780 menjadi Sun SPARCstation 10/40. Dengan demikian, bila dikatakan skor SPECint95 adalah 5.0, maka berarti sistem yang diuji 5 kali lebih cepat dibanding Sun SPARCstation 10/40.

SPEC95, yang diperkenalkan pada bulan Agustus 1995, merupakan perangkat benchmark yang terdiri atas dua bagian, yakni CINT95 (ditulis dalam bahasa C) dan CFP95 (ditulis dalam bahasa Fortran). CINT95 merupakan bagian dari perangkat SPEC95 yang mengukur kinerja komputer terhadap operasi bilangan

(6)

integer, yang diasumsikan mewakili program aplikasi bisnis. Bagian lain, yakni

CFP95, mengukur kinerja komputer terhadap operasi bilangan floating-point yang diasumsikan mewakili program aplikasi ilmiah-numerik (Reilly, Jeff . 1995. SPEC Describes SPEC95 Products and Benchmarks).

Tabel 2.1.Elemen-elemen CINT95

Nama Program Deskripsi Waktu Referensi

(Detik)

099.go Program kecerdasan buatan, menjalankan

program permainan Go melawan dirinya sendiri

4600

124.m88ksim Simulator cip mikroprosesor Motorola 88100,

menjalankan program uji Dhrystone dan program uji memori

1900

126.gcc Melakukan kompilasi untuk bahasa mesin

prosesor SPARC berbasis kompilator GNU C versi 2.5.3.

1700

129.compress Program pemampat (compress) dan pengurai

(decompress) file teks sebesar 16 MB yang bekerja dalam-memori (in-memory), dengan metode pengkodean Limpel-Ziv adaptif

1800

130.li Interpreter bahasa LISP 1900

132.ijpeg Program pemampat dan pengurai citra

(image) dengan berbagai parameter, yang bekerja dalam-memori.

2400

134.perl Melakukan manipulasi numerik dan teks

(anagram dan pemfaktoran bilangan prima)

1900

147.vortex Membuat dan memanipulasi tiga basis data

yang saling berkaitan

2700

Tabel 2.2.Elemen-elemen CFP95

Nama Program Deskripsi Waktu Referensi

(Detik)

101.tomcatv Mewakili program bidang dinamika fluida/

translasi geometris. Membangkitkan sistem koordinat dua-dimensi pada domain geometris umum.

(7)

102.swim Model perairan dangkal dengan 1024x1024 kisi

8600

103.su2cor Simulasi Monte Carlo, bidang fisika kuantum.

Melakukan perhitungan massa partikel elementer berdasarkan teori Quark-Gluon

1400

104.hydro2d Bidang astrofisika, menyelesaikan persamaan

hidrodinamik Navier Stokes untuk menghitung semburan galaktik

2400

Bidang elektromagnetis, memecahkan

persoalan medan potensial 3 dimensi multikisi (multigrid)

2500

110.applu Bidang dinamika fluida/matematika,

menyelesaikan sistem matriks dengan pivoting

2200

125.turb3d Simulasi turbulensi homogen isotropik dalam

kubus

4100

Pemecahan persoalan berkaitan dengan temperatur, angin, serta kecepatan dan distribusi polutan

2100

Menyelesaikan derivasi multielektron , bidang kimia kuantum

9600

146.wave5 Penyelesaian persamaan Maxwell pada jaring

Cartesian

3000 107.mgrid

141.apsi

145.fppp

Bencmark SPEC95 mengukur dan membandingkan kinerja komputer dalam tiga kategori pilihan:

1. Kinerja terhadap bilangan integer versus floating point

2. Kinerja dengan kompilasi agresif versus kompilasi konservatif 3. Kecepatan versus throughput

Berdasarkan pilihan-pilihan tersebut, SPEC95 memungkinkan dibuatnya ukuran komposit sebagai berikut:

(8)

Tabel 2.3. Pilihan Ukuran Kinerja Komposit Metode Kompilasi Kecepatan Throughput SPECint95 SPECint_rate95 Kompilasi Agresif SPECfp95 SPECfp_rate95 SPECint_base95 SPECint_rate_base95 Kompilasi Konservatif SPECfp_base95 SPECfp_rate_base95

Yang dimaksud ukuran komposit adalah bahwa skor indivual dihitung untuk tiap-tiap elemen program (8 elemen pada CINT95 dan 10 elemen pada CFP95) dalam CINT95 atau CFP95 dan hasilnya digunakan untuk menghitung ukuran komposit ini. Untuk pengukuran kecepatan, setiap elemen benchmark memiliki SPECratio. SPECratio adalah referensi waktu SPEC dibagi dengan waktu-pelaksanaan (runtime) tiap-tiap elemen program pada sistem yang diukur. Ukuran komposit kecepatan dapat dihitung sebagai berikut:

Tabel 2.4. Ukuran komposit kecepatan

1 SPECint95 Rerata geometris dari 8 buah SPECratio (satu untuk tiap elemen program CINT95) bila masing-masing elemen program dikompilasi dengan optimisasi agresif.

2 SPECint_base95 Rerata geometris dari 8 buah SPECratio (satu untuk tiap elemen program CINT95) bila masing-masing elemen program dikompilasi dengan optimisasi konservatif

(9)

3 SPECfp95 Rerata geometris dari 10 rasio ternormalisasi (satu untuk tiap elemen program CFP95) bila masing-masing elemen program dikompilasi dengan optimisasi agresif.

SPECfp_base95 Rerata geometris dari 10 rasio ternormalisasi (satu untuk tiap elemen program CFP95) bila masing-masing elemen program dikompilasi dengan optimisasi agresif.

4

Sumber: Reilly, Jeff . 1995. SPEC Describes SPEC95 Products and Benchmarks

Benchmark lainnya

Selain SPEC95, berbagai benchmark dikembangkan untuk mengukur kinerja komputer. Berikut ini disajikan beberapa contoh beserta deskripsi singkatnya untuk memberikan gambaran mengenai perbedaan masing-masing.

Whetstone merupakan benchmark sintetik yang dikembangkan oleh Curnow

dan Wichman pada tahun 1976 (Sharp dan Bacon, 1994). Benchmark ini

dimaksudkan untuk mengukur kinerja komputer dalam mengolah bilangan floating point dan digunakan untuk membandingkan arsitektur maupun kompilator teroptimisasi yang dijalankannya. Program semula dibuat dalam bahasa

Algol dengan kompilator Algol 60 yang menterjemahkannya menjadi instruksi untuk mesin Whetstone imajiner (Sill, 1996). Kelemahan benchmark Whetstone adalah

kecilnya ukuran modul/program benchmark sehingga sistem memori di luar cache tidak teruji, dan dengan optimisasi kompilator dengan mudah didapatkan skor benchmark tinggi tanpa mengubah sistem yang diuji (Sill, 1996).

(10)

Dhrystone juga merupakan benchmark sintetik yang dikembangkan oleh

Reinhold Weicker pada awal tahun 1980-an dan difokuskan untuk mengukur kinerja komputer atas bilangan integer dan string (Sharp dan Bacon, 1994:68). Program asli ditulis dalam bahasa Ada, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain. Sama seperti Whetstone, program benchmark Dhrystone memiliki ukuran yang terlalu kecil (sekitar 1,5 KB) sehingga tidak dapat menguji sistem di luar cache. Optimisasi kompilator juga dapat dilakukan untuk mempertinggi skor perolehan (Sill, 1996).

Benchmark iCOMP dikembangkan oleh Intel untuk membandingkan kinerja

prosesor-prosesor yang ada di pasaran. Ketika prosesor generasi 486 diperkenalkan, di pasaran muncul berbagai versi mulai 486SX, 486DX2, dan sebagainya. Agar calon pembeli memiliki gambaran ringkas kinerja prosesor, Intel mengembangan angka indeks yang merupakan angka kinerja prosesor dibandingkan dengan kinerja prosesor rujukan. Benchmark ini khusus mengukur kinerja prosesor dan tidak mencerminkan kinerja komputer secara keseluruhan (Sharp dan Bacon, 1994:68). Popularitas iCOMP terutama karena benchmark ini hampir selalu menjadi ukuran kinerja prosesor-prosesor Intel dalam iklan-iklannya (setidaknya sampai generasi Pentium).

Kritik terhadap Benchmark

Pengukuran kinerja komputer dengan benchmark yang ada saat ini banyak dikritik karena seperti orang buta meraba gajah. Bergantung pada bagian yang dipegang, gajah bisa didefinisikan sebagai tinggi seperti pohon kelapa, panjang dan

(11)

kecil seperti ular, atau lebar dan tipis seperti kipas (Gustafson dan Todi, 1998). Benchmark yang ada cenderung mengukur satu aspek dari kinerja komputer dan hasilnya digunakan untuk menggeneralisasi kinerja keseluruhan.

Menyadari masalah itu, benchmark Perfect Club dan SPEC mengembangkan apa yang disebut suite aplikasi (yakni sekumpulan aplikasi terdiri atas elemen-elemen program yang masing-masing mengukur berbagai aspek perilaku sistem agar diperoleh gambaran sistem lebih lengkap). Suite semacam itu biasanya sulit dipangkalkan (porting) ke komputer lain, terutama komputer paralel, dan bila berhasil dipangkalkan diperlukan waktu berjam-jam untuk mengeksekusinya (Gustafson dan Todi, 1998).

Menurut Gustafson dan Todi (1998) aplikasi semacam itu tetaplah hanya mengukur satu titik sampel dari kinerja komputer sementara yang diperlukan adalah mengukur seluruh rentang kinerja komputer. Benchmark-benchmark tersebut memiliki satu karakteristik yang sama, yakni ukuran masalahnya dibuat tetap. Komputer-komputer dibandingkan dari segi berapa lama diperlukan waktu untuk menyelesaikan masalah tersebut. Karena benchmark harus dapat dieksekusi pada banyak jenis komputer, maka ukuran masalah dipilih sedemikian rupa sehingga diharapkan semua komputer sasaran uji dapat menjalankan benchmark dengan baik.

Benchmark dengan Pendekatan Lain

Benchmark dengan pendekatan lain juga dibuat oleh peneliti di Ames Laboratory, dikenal dengan nama HINT (Hierarchial INTegration). HINT tidak mematok ukuran masalah (problem size) maupun waktu komputasi. QUIPS

(12)

merupakan satuan yang digunakan untuk mengukur banyaknya usaha yang dilakukan komputer pada rentang waktu tertentu. Gustafson, peneliti yang mengembangkan HINT, tidak menginginkan waktu yang terlalu singkat untuk melakukan pengukuran karena kebanyakan komputer bekerja sangat cepat pada awalnya, lalu mulai menurun kecepatannya setelah banyak terjadi kemelesetan (miss) cache dan mulai menggunakan memori utama atau bahkan harus mengakses data pada harddisk (Gustafson dan Snell, 1997).

Meskipun belum sepopuler benchmark lain, misalnya SPEC95, HINT

diklaim sebagai benchmark yang memungkinkan pembandingan yang adil terhadap perbedaan-perbedaan ekstrim dalam hal arsitektur komputer, kineja absolut, kapasitas memori, dan taraf presisi komputasi. Saat ini HINT masih belum

banyak diuji dan belum cukup populer untuk digunakan sebagai tolok-ukur kinerja komputer universal. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan benchmark antara lain:

• Pastikan bahwa segala sesuatu yang akan diukur up to date. • Tentukan jenis pengujian yang akan dilakukan.

• Pengujian yang dilakukan harus konsisten.

• Ulangi pengujian beberapa kali untuk memastikan akurasi pengukuran. • Lakukan monitoring terhadap server, network dan benchmark.

• Pahami apa yang dilakukan dalam benchmark.

(13)

Komputer sistem merupakan suatu hal yang kompleks, meskipun sebuah server kecil dengan sebuah prosesor tetapi server tersebut terdiri dari banyak komponen yang memerlukan pengoperasian khusus. Ketika melakukan benchmark pastikan bahwa operating system, application drivers, server-specific firmware dan

driver merupakan versi terbaru. Selain itu kita juga perlu melakukan monitoring

tidak hanya pada sistem operasiu dan aplikasi yang dijalankan pada server tersebut tetapi juga perlu dilakukan monitoring terhadap komponen-komponen hardwarenya. Memahami apa yang dilakukan dalam benchmark adalah merupakan kunci keberhasilan evaluasi server yang diujikan. Lakukan benchmark terhadap sistem atau komponen yang diuji beberapa kali dan amati perubahan performance-nya hal ini akan mempermudah dalam menganalisa kemungkinan adanya bottleneck pada server yang kita uji.

Monitoring Tools

Beberapa alat bantu (tools) yang ada dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya masalah atau bottleneck pada sistem. Setiap sistem operasi komersial menyediakan fasilitas ini. Sebagai contoh , Windows NT atau 2000 memiliki Performance Monitoring, Netware memiliki Monitor NLM. Untuk sistem operasi UNIX, para administrator menggunakan tools yang tersedia dalam core

operating system. Utility seperti ps dan vmstat adalah utility yang sering digunakan

(14)

2.1.2 Panduan Pemilihan Server

Pemilihan sistem yang tepat sangat penting dilakukan agar kita mendapatkan skalabilitas dan pengembangan kapasitas yang cukup untuk masa yang akan datang. Meskipun demikian banyak faktor non-teknis yang turut berperan dan bahkan menjadi bahan pertimbangan yang cukup menentukan dalam pemilihan sistem terutama faktor finansial. Dalam pemilihan sistem hardware ada beberapa komponen yang harus diperhatikan yaitu:

• Prosesor Pilihlah prosesor yang dapat menampung beban kerja maksimal ditambah

batas toleransi yang cukup aman. Pastikan kita memiliki upgrade option untuk prosesor tersebut jika suatu saat kita akan melakukan pengembangan sistem.

• Memory

Perkirakan kebutuhan memory untuk semua aplikasi yang digunakan karena memory tidak dapat diupgrade jika sudah mendekati batas kapasitas tertingginya. Jadi dengan memperkirakan kebutuhan memory sejak awal akan memudahkan kita untuk melakukan penambahan memory jika diperlukan. • Storage (disk dan tape)

Perkirakan besar keseluruhan data yang digunakan untuk menentukan jumlah dan kapasitas harddisk yang dibutuhkan dan tape untuk melakukan backup data

(15)

• Jumlah slot

Pilihlah sistem hardware yang masih memiliki expansion-slot yang tersisa. Hal ini berguna untuk pengembangan system pada masa mendatang, misalnya untuk penambahan adapter, harddisk dan sebagainya.

• Network

Pilihlah network adapter yang memiliki kapasitas memadai, hal ini untuk menghindari kemungkinan bottleneck sewaktu melakukan komunikasi data dalam jaringan.

Masalah komunikasi data sering terlupakan dalam prosedur pemilihan hardware, tapi bagian ini merupakan bagian yang penting, khususnya sejak

bandwidth suatu jaringan menjadi bagian yang cukup menentukan dalam suatu

system secara keseluruhan. Layaknya user atau aplikasi, tuntutan terhadap kualitas perangkat komunikasi data menjadi faktor yang menentukan dalam melakukan

capacity planning (IBM White Paper, RS/6000 and IBM eServer pSeries- Performance and Sizing, 2001).

2.1.3 Konsep Sizing Sistem 1. Workload (Beban kerja)

Workload dapat memiliki beberapa arti yang berbeda, tergantung pada konteksnya. Dalam benchmarks, workload merupakan suatu kesatuan tes eksekusi terhadap suatu bagian aplikasi.

Dalam pembahasan ini, workload diartikan sebagai beban kerja dari suatu sistem yang menjalankan satu atau beberapa aplikasi.

(16)

Karakteristik dan jenis workload harus diidentifikasi sebelum perencanaan sizing system dilakukan. Workload dapat dikategorikan sebagai berikut:

• Interaktif

Pada workload interaktif user memiliki live-session pada suatu sistem, artinya seorang user bekerja langsung pada sistem menggunakan terminal text-based atau grafikal. Contoh aktivitasnya adalah input data secara on-line atau klien komputer untuk mengontrol jaringan. Untuk pekerjaan pekerjaan jenis ini diperlukan respons-time yang cepat karena data yang dimasukkan bisa saja akan langsung digunakan oleh bagian lain dalam suatu unit kerja.

• Background

Jenis workload ini memerlukan identifikasi user selama user tersebut bekerja. Jenis identifikasi yang dibutuhkan biasanya User-ID dan Password . Tetapi jenis pekerjaan ini tidak memerlukan interaksi langsung dengan user. Background workload biasanya terbentuk dari proses dan subsistem interaktif service yang dilakukan oleh user seperti printer spool daemon, TCP/IP, SNA daemon atau database server proses.

• Batch

Cara kerja workload jenis ini hampir sama dengan background workload, tetapi user tidak perlu memasukan kode autorisasi atau identifikasi untuk melakukan proses ini.

Jenis pekerjaan ini tidak memerlukan interaksi langsung dengan user sewaktu melakukan proses input dan output. Pekerjaan yang biasanya dilakukan

(17)

dengan batch proses antara lain database file updates, report yang dibuat dalam format teks files, packet yang dikirim dalam jaringan dan lain sebagainya.

2. Aplikasi

Satu hal terpenting yang harus diperhatikan sebelum melakukan sizing sistem untuk server dan workstation adalah mengetahui dengan pasti jenis dan karakteristik aplikasi yang akan dijalankan pada sistem tersebut.

Pengelompokan aplikasi dapat didasarkan pada konstruksi dan cara interaksi dengan program tersebut. Konstruksi dan interaksi yang dimaksud adalah sebagai berikut: • Monolithic • Modular • Intensive computing • Interactive • Batch

• Clients of a local or remote server • Servers of local or remote clients

Aplikasi Monolithic dapat menjalankan dirinya sendiri. Aplikasi ini tidak memerlukan interaksi dari luar, contohnya proses pembuatan dan kompilasi program C-language atau Cobol.

Aplikasi Modular adalah seperangkat program spesifik yang diaktifkan hanya sekali dalam satu waktu. Setiap program memiliki kaitan dengan sebuah modul, dan

(18)

setiap modul bertugas untuk setiap tugas spesifik yang sedang dilakukan user. Contohnya aplikasinya adalah data entry dan laporan operasi modul pada saat yang bersamaan.

3. Concurrent user

Dalam melakukan sizing harus dipahami perbedaan antara user yang memiliki autorisasi untuk log-on ke dalam sistem, connected user dan concurrent

user yang akan bekerja dengan suatu sistem. Dalam melakukan sizing kita harus

mengacu pada workload maksimum yang akan dijalankan oleh sistem berdasarkan concurrent user bukan berdasarkan jumlah total user. Sedangkan untuk melakukan sizing harddisk dan memory kita harus mengacu pada jumlah maksimum user yang akan terhubung ke sistem (connected user).

Ketika membicarakan concurrent user, asumsikan bahwa user-user tersebut memiliki pola kerja yang sama agar memudahkan kita dalam menentukan workload. Atau dengan cara lain yaitu kita melakukan pengelompokan user menjadi beberapa kelompok lalu kita melakukan sizing workload secara individual, lalu kita gabungkan kembali menjadi satu sistem secara keseluruhan.

4. Response time

Response time merupakan salah satu faktor yang sering dijadikan tolok ukur

baik dalam melakukan sizing ataupun benchmarking. Secara umum response time berarti waktu yang diperlukan oleh sistem untuk menyelesaikan suatu tugas atau instruksi.

(19)

Response time sangat bergantung pada konfigurasi hardware, arsitektur hardware, sistem manajemen dan workload.

Response time akan menurun ketika beban kerja sistem mendekati 100 % untuk mengatasi hal ini harus dilakukan pengurangan tugas-tugas aktif untuk mengembalikan sistem ke kondisi kinerja yang semestinya.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk melakukan sizing sistem antara lain: A. Melakukan sizing untuk tiap aplikasi dengan menggunakan metode sizing

yang umum. Lakukan juga sizing prosesor, memory, network dan storage. Kemudian gabungkan semua hasil sizing tersebut untuk memperoleh hasil keseluruhan.

B. Tambahkan perkiraan CPU, memory, dan storage yang diperlukan untuk sistem operasi. Kemudian beri buffer sehingga sistem masih dapat mengatasi beban kerja yang makin meningkat.

C. Tentukan alokasi prosesor, memory dan disk I/O workload yang disizing termasuk karakteristik aplikasi yang akan dijalankan. Workload manager tidak melakukan control terhadap bandwidth network, sehingga kita harus benar-benar menjaga kondisi bandwidth network untuk tiap aplikasi dan sistem secara keseluruhan.

5. Konsep Queuing (antrian)

Internal physical resources dari sebuah komputer diatur dengan konsep antrian (prosesor, I/O adapter, fisikal disk drive). Masalah sering muncul ketika sebuah sistem yang memiliki kapasitas yang sangat terbatas harus menjalankan

(20)

banyak tugas dengan antrian yang melebihi daya tampung sistem tersebut. Ketika hal ini terjadi antrian akan bertambah mengikuti model exponensial. (IBM Redbook - System Management, 2000).

2.2 Perangkat Pendukung yang dipakai

2.2.1 Software Konfigurator

Dalam melakukan evaluasi hingga menghasilkan suatu konfigurasi server yang ideal untuk suatu aplikasi peneliti menggunakan perangkat pendukung yaitu Server Konfigurator. Server konfigurator ini adalah software utility untuk mendisain konfigurasi server sehingga sesuai dengan kebutuhan customer, tidak

over-specification atau under-over-specification sehingga masih mampu untuk mendukung

operasional perusahaan hingga tiga tahun kemudian. A. Intel-base Server Konfigurator :

1. IBM Solution Sizing Tools

Solution Sizing Tools digunakan pada tahap awal sebelum kita membuat

konfigurasi. Selama menggunakan tools ini kita harus tetap terhubung dengan internet. Setelah kita memberikan informasi jenis aplikasi yang akan dijalankan pada server tersebut serta beberapa estimasi lainnya misalkan jumlah user, quota tiap user maka kita akan mendapat jawaban berupa konfigurasi minimal yang harus dipenuhi untuk aplikasi tersebut. (Sumber: IBM Server Proven Portal)

(21)

2. IBM xSeries Configurator

Setelah memperoleh informasi konfigurasi minimal yang diperlukan untuk suatu aplikasi, langkah berikutnya yang kita lakukan adalah membuat konfigurasi server dengan bantuan hardware konfigurator. Dalam hal ini Peneliti menggunakan

IBM xSeries Configurator sebagai alat bantu dalam membuat konfigurasi hardware

server. Untuk mengantisipasi kemungkinan perkembangan data dan user sebaiknya kita memberikan toleransi berupa penambahan kapasitas hardware dari konfigurasi minimal yang disarankan.

(22)

Gambar 2.2. IBM xSeries Configurator wizard Sumber: IBM eServer xSeries Configurator Ver.7Bb

B. UNIX-base Server Konfigurator:

IBM eConfig – Configurator for e-business

Berbeda dengan konfigurator untuk Intel-base yang telah dijelaskan sebelumnya, konfigurator untuk base sifatnya lebih kompleks karena

UNIX-base server umumnya digunakan untuk aplikasi spesifik atau yang sudah berskala

enterprise. Karakteristik dan arsitektur hardwarenya pun sangat berbeda begitupula sistem operasinya. Untuk membuat konfigurasi UNIX-base server kita juga dapat menggunakan referensi dari Solution Sizing Tools atau berdasarkan analisa kebutuhan user secara langsung berdasarkan workload dan jumlah usernya.

(23)

Gambar 2.3. SCPortfolio session window

Sumber: IBM e-Config for e-Business Configurator

(24)

Sumber: IBM e-Config for e-Business Configurator

2.2.2 Teks Literatur

IBM Configuration & Option Guide

IBM Configuration & Option Guide adalah teks literatur yang dapat kita jadikan referensi untuk melihat contoh konfigurasi untuk aplikasi-aplikasi umum, misalkan konfigurasi untuk Mail Server, Database Server termasuk optional peripheral untuk meningkatkan performa dan utilisasi server yang akan kita buat konfigurasinya.

Gambar 2.5. Configuration & Option Guide

(25)

Gambar

Tabel 2.1.Elemen-elemen CINT95
Gambar 2.3. SCPortfolio session window
Gambar 2.5.  Configuration & Option Guide

Referensi

Dokumen terkait

Keunggulan dari topologi tipe Star ini adalah bahwa dengan adanya kabel tersendiri untuk setiap workstation ke server, maka bandwidth atau lebar jalur komunikasi dalam kabel

Application Framework adalah layer untuk melakukan pengembangan pembuatan aplikasi yang akan dijalankan di sistem operasi Android, karena pada layer inilah aplikasi dapat

Untuk mengetahui jenis-jenis kesulitan belajar yang dialami siswa maka dapat diketahui dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal. Oleh

Jika tidak ada, name server lokal akan melakukan query kepada root server dan mereferensikan name server untuk TLD (Top Level Domain) .com, kemudian root server akan

Untuk terhubung dengan internet suatu aplikasi harus terhubung dengan server , nantinya server akan berfungsi sebagai komputer yang akan mengirim data dari dan

Application Frameworks adalah layer di mana para pembuat aplikasi melakukan pengembangan atau pembuatan aplikasi yang akan dijalankan di sistem operasi android,

dikirim via email, juga digunakan pada bitnet untuk menyediakan layanan serupa FTP.Mail server merupakan perangkat terpenting dalam pembuatan webmail yang menjadi tempat dari

Menurut Sadeli (2014:3) “IIS (Internet Information Service) adalah sebuah HTTP web server yang digunakan dalam sistem operasi server Windows, mulai dari Windows NT 4.0 Server,