82
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Pembelajaran Sejarah di MAN Yogyakarta III 1. Penggunaan Media Pembelajaran sejarah di MAN Yogyakarta IIIPenelitian dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta III di bawah pimpinan Nur Wahyudin Al Azis, S.Pd, yang bertindak sebagai kepala sekolah. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPS 3 yang berjumlah 24 siswa. Alasan pemilihan MAN Yogyakarta III karena peneliti ingin memberikan variasi media pembelajaran Sejarah supaya siswa tidak cepat merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran dan sekolah telah memiliki fasilitas yang mendukung untuk menerapkan media yang dikembangkan oleh peneliti. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan secara kolaborasi dengan guru mata pelajaran Sejarah yaitu Rita Setyowati, S.Pd yang membantu dalam melaksanakan observasi dan refleksi.
Guru mata pelajaran Sejarah di MAN Yogyakarta III bernama Rita Setyowati, S.Pd, beliau sudah mengajar mata pelajaran Sejarah di MAN Yogyakarta III sejak tahun 2007 sehingga sudah 8 tahun mengajar. Beliau lulusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Berdasarkan hasil wawancara, beliau tidak pernah mengalami kendala dalam pembelajaran sejarah, karena pada dasarnya beliau menyukai dan tertarik dengan Sejarah.
Proses kegiatan belajar mengajar di MAN Yogyakarta III, sudah berjalan dengan cukup baik. Sekolah telah memberikan fasilitas yang cukup menunjang bagi kegiatan belajar mengajar. Dengan fasilitas tersebut guru commit to user
dapat menyampaikan materi pelajarannya dengan cukup baik. Guru telah menggunakan media pembelajaran PowerPoint dan ceramah sehingga cukup untuk menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran.
2. Sikap Patriotisme Siswa MAN Yogyakarta III
Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta III berlokasi di Jalan Magelang KM. 4 Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta sebagai MAN model, salah satunya memiliki karakteristik Combine School yang menyelenggarakan program pendidikan dengan (1) Mengkombinasikan antara program pendidikan umum, pendidikan agama dan keterampilan/ kejurusan, (2) Mengkombinasikan pendidikan umum dengan penekanan pada keunggulan program dan prestasi di bidang tertentu, (3) Mengkombinasikan pendidikan agama Islam dengan kemampuan pendidikan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab serta keterampilan komputer. Karakteristik ini dapat diwujudkan apabila didukung dengan adanya sikap patriotisme siswa MAN Yogyakarta III yaitu sikap yang berani, pantang menyerah, dan rela berkorban.
Kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan di dimulai pukul 07.00 sampai pukul 14.00 WIB. Sedangkan untuk hari Jumat dimulai pukul 07.00 sampai pukul 11.15 WIB dan melakukan sholat Jumat bersama-sama yang kemudian dilanjutkan kegiatan Mayoga English Club (MEC) dan MSSC (Karya Ilmiah Remaja) hingga pukul 14.00. Berbagai kegiatan pembelajaran yang padat ini diperlukan sikap rela berkorban dari diri siswa. Namun, beberapa siswa meminta izin untuk tidak mengikuti kegiatan
pembelajaran tersebut karena adanya keperluan pribadi, semisal acara keluarga. Hal ini menunjukkan rendahnya sikap rela berkorban.
Potensi dan minat belajar siswa MAN Yogyakarta III cukup baik. Sebagian siswa memanfaatkan waktu belajar mereka dengan cukup baik, misalnya waktu istirahat digunakan sebagian siswa untuk membaca buku di perpustakaan. Sedangkan sebagian besar siswa yang lain memanfaatkan waktu istirahat di kantin. Namun, sikap pantang menyerah terlihat kurang ketika siswa mendengar bel masuk dan tidak segera bergegas untuk masuk kelas. Siswa terlihat kurang memiliki kegigihan dalam menuntut ilmu karena masih tetap berada di luar kelas dan baru masuk kelas setelah 15 menit dari bel tanda mulai pelajaran berbunyi.
Siswa MAN Yogyakarta III memiliki kedisiplinan dan kerapian yang cukup baik. Namun, sebagian masih ada siswa yang datang terlambat ke sekolah dan lebih memilih untuk membolos pelajaran dari pada meminta izin masuk kelas. Kondisi ini menunjukkan kurangnya sikap yang berani pada siswa untuk masuk kelas. Apabila siswa memiliki sikap yang berani, tentu pada saat datang terlambat ke sekolah akan lapor ke guru piket dan meminta izin untuk masuk kelas.
Berdasarkan hasil observasi studi pendahuluan, terdapat indikasi rendahnya sikap patriotisme siswa MAN Yogyakarta III. Rendahnya sikap patriotisme ditandai dengan kurangnya sikap yang berani pada siswa, rendahnya sikap rela berkorban, dan lemahnya sikap pantang menyerah. Kondisi ini harus segera di tindak lanjuti supaya tidak merugikan siswa.
3. Bentuk Kebutuhan Media yang Diinginkan Guru Sejarah MAN Yogyakarta III
Sesuai dengan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti di MAN Yogyakarta III, diperoleh gambaran pada proses pembelajaran yang berlangsung khususnya dalam kurikulum KTSP pada standar kompetensi, menganalisis perjuangan bangsa Indonesia sejak proklamasi hingga lahirnya orde baru pada kompetensi dasar menganalisis perkembangan ekonomi- keuangan dan politik pada masa awal kemerdekaan sampai tahun 1950 yang dilakukan guru sudah cukup bervariasi dan menarik.
Setiap kelas di MAN Yogyakarta III telah difasilitasi dengan adanya seperangkat proyektor sehingga guru dapat menerapkan pembelajaran yang menarik berupa penayangan slide PowerPoint. Selain itu guru juga dapat memutar film sejarah. Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran Sejarah tidak hanya sebatas itu saja. Guru Sejarah MAN Yogyakarta III juga menggunakan media dari miniatur benda bersejarah dan juga maket lokasi bersejarah. Dalam membuat media pembelajaran, guru dapat membuatnya sendiri atau menjadikan salah satu tugas kepada siswanya.
MAN Yogyakarta III belum menerapkan media pembelajaran komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman. Alasannya karena media pembelajaran komik digital masih tergolong baru. Selain itu guru tidak memiliki banyak waktu untuk mempelajari dan menyusun media pembelajaran sejarah berbasis komik digital. Hal ini disebabkan karena dalam menyusun komik digital diperlukan kepiawaian menggambarkan peristiwa yang hendak diangkat menjadi media pembelajaran. commit to user
4. Bentuk Awal Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Komik Digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman
Studi pendahuluan merupakan langkah awal yang dilakukan oleh peneliti dalam menyusun komik digital. Pada tahap studi pendahuluan terdapat dua kegiatan yang harus dilakukan, yakni studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka yang dilakukan peneliti merupakan tahap pertama dalam penelitian ini yang dimaksudkan untuk mengumpulkan landasan teoritik guna pengembangan media. Dalam studi pustaka peneliti mencari keterangan faktual tentang materi yang disajikan dalam pembelajaran sejarah melalui RPP dan silabus (RPP dan Silabus akan disertakan dalam
lampiran). RPP dan silabus yang digunakan guru mata pelajaran Sejarah
MAN Yogyakarta III menggunakan RPP kurikulum KTSP. Materi sejarah
yang diteliti oleh peneliti adalah materi tentang perjuangan
mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945-1949.
Peneliti mencari sumber pustaka mengenai Perjuangan
Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia pada Tahun 1945-1949, dan menemukan beberapa sumber pustakanya, di antaranya yaitu dalam buku berjudul “Panglima Besar Jenderal Soedirman: Mengenang Tentara Humanis Religius” yang ditulis oleh Herukusdianto dan di terbitkan oleh Bigraf Publising di Yogyakarta. Buku tersebut berisi tentang riwayat perjuangan Jenderal Soedirman beserta deskripsi tentang sosoknya yang humanis yaitu memanusiakan manusia dan juga religius.
Sumber pustaka yang lainnya berupa laporan khusus majalah Tempo yang berjudul “Soedirman Seorang Panglima, Seorang Martir” yang ditulis commit to user
dan diterbitkan oleh Tempo. Laporan khusus tersebut mendeskripsikan secara lengkap tentang Perang Gerilya Jenderal Soedirman beserta rute perang gerilya yang dilalui Jenderal Soedirman. Selain dua buku tersebut masih banyak buku-buku yang lainnya tentang Perang Gerilya Jenderal Soedirman yang diperuntukkan dalam pembuatan media komik digital.
B. Pengembangan Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Komik Digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman
1. Draf Pengembangan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah
mengidentifikasi dan mengumpulkan materi tentang Perang Gerilya Jenderal Soedirman yaitu berupa draf dengan mencari data dari berbagai sumber pustaka. Data dikumpulkan sesuai dengan standar kompetensi pelajaran yang kemudian dirangkum sehingga diperoleh draf gambaran apa saja yang akan dimasukkan dalam komik digital. Selanjutnya, peneliti membuat storyboard yang akan digunakan sebagai panduan dalam pembuatan komik digital.
a. Desain Media
Konsep desain media komik digital Perang gerilya Jenderal dibuat oleh peneliti. Konsep tersebut meliputi penentuan alur cerita, narasi dan dialog. Namun untuk proses penggambaran peneliti bekerja sama dengan seorang seniman. Untuk kesesuaian gambar dan narasi peneliti turut serta bekerja sama dengan seniman supaya media yang dihasilkan menjadi lebih baik dan sesuai dengan tujuan pengembangan yaitu meningkatkan sikap patriotisme siswa. commit to user
Tabel 5. Tampilan Media Komik Digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman yang Dikembangkan
No Visual Narasi Keterangan
1. Petunjuk penggunaan komik digital Petunjuk Penggunaan 2. Berisi tentang keterangan singkat komik digital Tentang Komik Digital 3. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar 4. Daftar Isi 5. Perkenalan Narator Orientasi 6. Pembukaan materi dari narator 7. Penjelasan singkat dari narator
2. Hasil Validasi Media Pembelajaran Sejarah oleh Tim Ahli
Tahap selanjutnya adalah uji validasi oleh ahli materi dan ahli media pembelajaran. Kemudian dilanjutkan dengan tahap uji coba untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran komik digital yang dikembangkan. Uji coba dilakukan terhadap siswa dengan tiga tahapan, yaitu uji coba satu-satu (One-to-one Test), uji coba kelompok kecil
(Small Group Test), dan uji lapangan (Opentional Field Test). Setelah
melalui rangkaian uji coba, kemudian memasukkan saran dan revisi dari ahli materi dan ahli media pembelajaran serta siswa. Akhirnya produk media pembelajaran komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman dapat dihasilkan.
a. Validasi Ahli Materi
Uji coba produk pengembangan dilakukan terhadap ahli materi, ahli media pembelajaran, dan siswa. Data yang diperoleh pada langkah uji coba ini mengacu pada komponen subjek uji coba dan akan disajikan secara berurutan sebagai berikut:
1) Data validasi ahli materi
Sebelum uji kompetensi dilakukan, terlebih dahulu media perlu divalidasi oleh ahli materi. Tujuan validasi untuk meminimalkan kesalahan pada saat diterapkan dalam proses pembelajaran. Evaluasi dari ahli media akan dijadikan sebagai panduan dalam memperbaiki materi selanjutnya. Ahli materi dalam media pembelajaran sejarah berbasis komik digital ini
adalah Dr. Aman, M.Pd, dosen program studi magister Pendidikan Sejarah, sekaligus Ketua Program Studi Magister Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta. Beliau sebagai dosen pengampu mata kuliah Evaluasi Pembelajaran dan Sejarah Indonesia, maka beliau sangat menguasai materi Sejarah khususnya tentang Perang Gerilya Jenderal Soedirman.
Validasi ahli materi meliputi aspek penilaian komunikasi, desain teknis, dan format tampilan. Hasil evaluasi oleh ahli materi berupa nilai dengan menggunakan skala Likert rentang 1 sampai 5. Evaluasi keserasian berupa saran dan atau komentar tentang produk media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman yang dikembangkan. Pada tabel di bawah ini dapat dilihat penilaian oleh ahli materi.
Tabel 6. Pedoman Pengubahan Data Kuantitatif Menjadi Kualitatif
Nilai Data Kuantitatif Data Kualitatif
A X > 4,21 Sangat Baik B 3,40 < X ≤ 4,21 Baik C 2,60 < X ≤ 3,40 Cukup D 1,79 < X ≤ 2,60 Kurang E X≤1,79 Sangat Kurang Sumber: Titin, 2013: 44
Tabel 7. Hasil Validasi Ahli Materi
No. Nama Jumlah
Nilai
Rata-rata
Keterangan
1. Dr. Aman, M.Pd 64 4,57 Sangat Baik
2. Rita Setyowati, S.Pd 61 4,36 Sangat Baik
Total 125 4,47 Sangat Baik
Sumber: Kuesioner Uji Coba Ahli Materi Pembelajaran
Hasil validasi dari ahli materi media pembelajaran ini mempunyai jumlah nilai dari Dr. Aman, M.Pd adalah 64 dengan rata-rata 4,57, sedangkan jumlah nilai validasi dari ahli materi Rita Setyowati, S.Pd adalah 61 dengan rata-rata 4,36, sehingga jumlah total nilai kedua materi adalah 125 dengan rata-rata 4,47. Berdasarkan tabel pedoman pengubahan data kuantitatif menjadi kualitatif maka secara keseluruhan materi media pembelajaran ini dinyatakan sangat baik.
Menurut ahli materi media pembelajaran sudah baik mencakup keseluruhan dan dapat diaplikasikan dalam kegiatan pembelajaran, namun masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, yaitu meningkatkan ketepatan kronologi, dialog, dan teks cerita dengan materi.
2) Analisis Data Hasil Validasi Ahli Materi
Mengetahui kelayakan media yang akan diterapkan merupakan tujuan dari analisis data oleh ahli materi. Berdasarkan penilaian dari aspek pembelajaran, aspek materi dan aspek media dengan 14 indikator diperoleh rata-rata 4,47. Ini menunjukkan media pembelajaran yang dikembangkan mempunyai kategori Sangat Baik. Berikut adalah penilaian ahli materi berdasarkan skala 5 dalam distribusi frekuensi penilaian oleh ahli materi yang dapat dilihat pada tabel beserta diagramnya sebagai gambaran keseluruhan.
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Penilaian Ahli Materi
No. Kriteria Frekuensi Persentase
1. Sangat Kurang 0 0% 2. Kurang 0 0% 3. Cukup 0 0% 4. Baik 15 48% 5. Sangat Baik 13 52%
Gambar 1. Diagram Distribusi Frekuensi Penilaian Ahli Materi.
Berdasarkan pada validasi ahli materi, media
pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman dinyatakan layak sebagai media pembelajaran. Untuk perbaikan-perbaikan dapat ditinjau pada bagian revisi produk. 3) Revisi Ahli Materi
Melihat hasil dari validasi ahli materi terhadap media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman yang dikembangkan, perbaikan perlu dilakukan pada bagian sebagai berikut:
Tabel 9. Saran-saran Perbaikan dari Ahli Materi
Media sebelum revisi Media setelah revisi
Kurangnya ketepatan kronologi, dialog, dan teks cerita dengan materi.
Meningkatkan ketepatan kronologi, dialog, dan teks cerita dengan materi 0% 20% 40% 60% sangat kurang
kurang cukup baik sangat
baik p re se n ta se kriteria
Distribusi Frekuensi Penilaian Ahli Materi
b. Validasi Ahli Media Pembelajaran
1) Penilaian Ahli Media Pembelajaran
Evaluasi produk media pembelajaran oleh ahli media dilakukan untuk memperoleh informasi sebagai masukan revisi kualitas produk. Ahli media yang melakukan validasi atau evaluasi atas produk media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman adalah Prof. Herman Dwi Surjono, Ph.D. dosen sekaligus Ketua Program Studi Teknologi Pendidikan Pascasarjana UNY. Beliau mengampu mata kuliah Multimedia Pembelajaran, Media Pendidikan, dan Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi, maka beliau menguasai tentang pengembangan media pembelajaran.
Validasi ahli media meliputi aspek penilaian komunikasi, desain teknis, dan format tampilan. Evaluasi keserasian berupa saran dan atau komentar tentang media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman yang dikembangkan. Pada tabel di bawah ini dapat dilihat gambaran penilaian oleh ahli media.
Tabel 10. Hasil Validasi Ahli Media
No. Nama Jumlah
Nilai
Rata-rata
Keterangan
1. Prof. Herman Dwi
Surjono, Ph.D
55 4,23 Sangat Baik
2. Dr. Dyah Kumalasari,
M.Pd
55 4,23 Sangat Baik
Total 110 4,23 Sangat Baik
Hasil validasi dari ahli media, media pembelajaran ini mempunyai jumlah total nilai 110 dengan rata-rata 4,23 dan bila dikonversikan data kuantitatif menjadi kualitatif maka secara keseluruhan dinyatakan sangat baik dan layak diterapkan dalam proses pembelajaran dengan revisi sesuai saran ahli media. Menurut ahli media secara keseluruhan sudah bagus, namun ada hal yang harus diperbaiki yaitu tampilan pertama (Title page) harus berupa identitas penting dari media: judul/topik, target
user, pengembang.
2) Analisis Data Hasil Validasi Ahli Media
Analisis data ahli media Prof. Herman Dwi Surjono, Ph.D bertujuan untuk mengetahui kelayakan media yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan penilaian dari aspek penilaian komunikasi, desain teknis, dan format tampilan dengan 13 indikator diperoleh rata-rata dari para ahli adalah 4,23. Ini menunjukkan media pembelajaran yang dikembangkan mempunyai kategori Sangat baik.
Berikut adalah penilaian ahli media dapat dilihat pada tabel dan diagram sebagai gambaran keseluruhan.
Tabel 11. Distribusi Frekuensi Penilaian Ahli Media
No. Kriteria Frekuensi Persentase
1. Sangat Kurang 0 0%
2. Kurang 0 0%
3. Cukup 0 0%
4. Baik 40 73%
Gambar 2. Diagram Distribusi Frekuensi Penilaian Ahli Media Berdasarkan validasi dari ahli media, media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman yang dikembangkan untuk mata pelajaran sejarah dinyatakan layak dijadikan media pembelajaran dengan keterangan baik. Saran dari ahli media nantinya digunakan sebagai acuan dalam perbaikan media pembelajaran yang dikembangkan pada revisi produk.
3) Revisi Ahli Media
Hasil validasi ahli media terhadap produk media pembelajaran yang dikembangkan menunjukkan media tersebut layak untuk diterapkan dalam proses pembelajaran dengan revisi dan saran yang diberikan oleh ahli media. Saran revisi yang diberikan adalah sebagai berikut:
Tabel 12. Saran-saran Perbaikan dari Ahli Media Pembelajaran
Media Sebelum Revisi Media Setelah Revisi
Tampilan pertama (Title Page) berupa Panduan Penggunaan komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman.
Tampilan pertama (Title
Page) berupa identitas
penting dari media: judul/topik, target user, pengembang. 0% 20% 40% 60% 80% Sangat Kurang
Kurang Cukup Baik Sangat
Baik Pres en ta se Kriteria
Distribusi Frekuensi Penilaian Ahli Media
3. Penilaian Uji Coba pada Siswa
a. Data Uji Coba Satu-satu (One-to-one Test)
Uji Coba Satu-satu (One-to-one Test) dilakukan terhadap tiga siswa kelas XII IPS 4 MAN Yogyakarta III, dengan kriteria 1 siswa berkemampuan tinggi, 1 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah. Gambaran karakteristik siswa pada Uji Coba Satu-satu (One-to-one Test) terlihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 13. Hasil Uji Coba Satu-satu (One-to-one Test)
No . Nama Kriteria Kemampuan Jumla h Nilai Rata-rata Keterangan
1. CEMARA S. Tinggi 48 3,69 Baik
2. ROIS BAGUS Sedang 46 3,54 Baik
3. ADITYA F. Rendah 45 3,46 Baik
Total 139 3,56 Baik
Sumber: Kuesioner Uji Coba Satu-satu (One-to-one Test)
Berdasarkan data hasil Uji Coba Satu-satu (One-to-one Test), secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman yang peneliti kembangkan adalah Cukup menurut siswa. Hal ini dilihat dari jumlah rata-rata penilaian yang dikonversikan ke dalam data kuantitatif yaitu 3,56. Saran dan revisi produk yang diberikan siswa adalah untuk menambah musik latar belakang (Soundtrack), karena musik dapat membantu meningkatkan konsentrasi.
Berikut adalah tabel data distribusi frekuensi penilaian pada aspek pembelajaran, aspek materi, dan aspek media dalam Uji Coba Satu-satu (One-to-one Test) yang dilakukan oleh 3 orang siswa:
Tabel 14. Distribusi Frekuensi Penilaian Tiap Aspek pada Uji Coba Satu-satu (One-to-one Test)
No Kriteria
Aspek
Pembelajaran Materi Media Fre-kuensi % Fre-kuensi % Fre-kuensi % 1. Sangat Kurang 0 0% 0 0% 0 0% 2. Kurang 3 33,3% 2 16,7% 3 16,7% 3. Cukup 1 11,1% 4 33,3% 3 16,7% 4. Baik 2 22,2% 4 33,3% 10 55,5% 5. Sangat baik 3 33,3% 2 16,7% 2 11,1% Jumlah total 9 100% 12 100% 18 100%
Mengacu pada tabel di atas dapat dibuat diagram persentase frekuensi penilaian siswa dari ketiga aspek Uji Coba Satu-satu
(One-to-one Test) berdasarkan skala 5. Berikut dipaparkan diagramnya:
Gambar 3. Diagram Persentase Frekuensi Penilaian Siswa dari Ketiga Aspek Uji Coba Satu-satu (One-to-one Test)
b. Penilaian Uji Coba Kelompok Kecil (Small Group Test)
Uji Coba Kelompok Kecil (Small Group Test) dilakukan terhadap 5 orang siswa kelas XII IPS 4 MAN Yogyakarta III dengan kriteria 2 siswa berkemampuan tinggi, 2 siswa berkemampuan sedang, dan 1 siswa berkemampuan rendah. Di bawah ini merupakan tabel siswa pada Uji Coba Kelompok Kecil (Small Group Test).
0% 20% 40% 60%
Sangat Kurang Kurang Cukup Baik Sangat Baik
Presentase Frekuensi Penilaian Siswa dari Ketiga Aspek Uji Coba Satu-satu
pembelajaran materi media
Tabel 15. Hasil Uji Coba Kelompok Kecil (Small Group Test)
No. Nama Kriteria
Kemampuan Jumlah Nilai Rata-rata Keterangan
1. AQILA S. Tinggi 50 3,85 Baik
2. ZAHRA ALFIA Tinggi 49 3,77 Baik
3. FARHAN ZAIN Sedang 48 3,69 Baik
4. NURUL D. Sedang 48 3,69 Baik
5. SUSILO H. Rendah 46 3,54 Baik
Total 241 3,71 Baik
Sumber: Kuesioner Uji Coba Kelompok Kecil (Small Group Test) Berdasarkan data hasil Uji Coba Kelompok Kecil (Small
Group Test), secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa media
pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman yang peneliti kembangkan adalah baik. Hal ini terlihat dari jumlah rata-rata 3,71. Saran dan revisi produk yang diberikan siswa ialah menambahkan suara efek sehingga dapat lebih meresapi suasana yang digambarkan pada komik digital.
Berikut adalah data distribusi frekuensi penilaian pada aspek pembelajaran, aspek materi, dan aspek media dalam Uji Coba Kelompok Kecil (Small Group Tcest) yang dilakukan oleh 5 siswa. Tabel 16. Distribusi frekuensi penilaian pada Uji Coba Kelompok Kecil (Small Group Test)
No Kriteria
Aspek
Pembelajaran Materi Media Fre-kuensi % Fre-kuensi % Fre-kuensi % 1. Sangat Kurang 0 0% 0 0% 0 0% 2. Kurang 0 0% 1 5% 3 10% 3. Cukup 8 53,3% 4 20% 12 40% 4. Baik 7 46,7% 9 45% 8 26,7% 5. Sangat baik 0 0% 6 30% 7 23,3%
Mengacu pada tabel di atas dapat dibuat diagram persentase frekuensi penilaian siswa dari ketiga aspek Uji Coba Kelompok Kecil (Small Group Test) berdasarkan skala 5. Di bawah ini merupakan pemaparan diagramnya.
Gambar 4. Diagram Persentase Frekuensi Penilaian Siswa dari Ketiga Aspek Uji Coba Kelompok Kecil (Small Group Test)
c. Penilaian Uji Lapangan (Opentional Field Test)
Uji Lapangan (Opentional Field Test) berdasarkan masukan dari tinjauan ahli media pembelajaran, ahli materi, Uji Coba Satu-satu (One-to-one Test), dan Uji Coba Kelompok Kecil (Small Group
Test), maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan Uji Lapangan (Opentional Field Test) terhadap 27 siswa kelas XII IPS 2 MAN
Yogyakarta III. Hasil Uji Lapangan (Opentional Field Test) dipaparkan dalam bentuk tabel tanggapan yang memuat skor dan rata-rata skor. Deskripsi tanggapan siswa dalam Uji Lapangan
(Opentional Field Test) dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60%
Sangat Kurang Kurang Cukup Baik Sangat Baik
Presentase Frekuensi Penilaian Siswa dari Ketiga Aspek Uji Coba Kelompok Kecil
pembelajaran materi media
Tabel 17. Hasil Uji Lapangan (Opentional Field Test)
No. Nama Jumlah
Nilai
Rata-rata
Keterangan
1 DEVA ADE DWI S. 53 4,08 Baik
2 DEVINA RATNA S. 50 3,85 Baik
3 DYAH AJENG K. 51 3,92 Baik
4 DYAH PUSPITASARI 51 3,92 Baik
5 FARADILA RIZKI D. 55 4,23 Baik
6 FERIKA DWI AYU L. 55 4,23 Baik
7 FITRI UTAMI NURUL 51 3,92 Baik
8 GANDES NAFA A. 50 3,85 Baik
9 HANINDRA Y. 51 3,92 Baik
10 HUDAYEB ALI B. 53 4,08 Baik
11 ICHA RAHMA O. 54 4,15 Baik
12 JUNINE RHAPSODY 54 4,15 Baik
13 KHUSNI NASTITI K. 51 3,92 Baik
14 KSATRIA TAHTA P. 50 3,85 Baik
15 MAULANA IRFAN A. 51 3,92 Baik
16 MAYSA MAHARANI 50 3,85 Baik
17 M. LUKMAN IRVANI 51 3,92 Baik
18 NABILA PRIANDEWI 51 3,92 Baik
19 REZKI A. 50 3,85 Baik
20 RIZKA KHOIRUNISA 50 3,85 Baik
21 SABDA ELVAN A. 50 3,85 Baik
22 SENDITA PUTRI W. 50 3,85 Baik
23 SYARIFA W. 51 3,92 Baik
24 UMI FATONAH 50 3,85 Baik
25 UMMU ANNAFILAH 50 3,85 Baik
26 VANDI ARDIAN H. 50 3,85 Baik
27 ZUFAR A. 51 3,92 Baik
Total 1384 3,94 Baik
Sumber: Kuesioner Uji Lapangan (Opentional Field Test)
Berdasarkan data hasil Uji Lapangan (Opentional Field Test), secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman yang peneliti kembangkan adalah baik menurut siswa. Hal ini dilihat dari jumlah rata-rata penilaian yang dikonversikan ke dalam data kuantitatif yaitu 3,94.
Tabel di bawah ini memaparkan data distribusi frekuensi penilaian aspek pembelajaran, aspek materi, dan aspek media dalam Uji Lapangan (Opentional Field Test) yang dilakukan oleh 27 siswa. Tabel 18. Distribusi frekuensi penilaian pada Uji Lapangan
(Opentional Field Test)
No Kriteria
Aspek
Pembelajaran Materi Media
Fre-kuensi % Fre-kuensi % Fre-kuensi % 1. Sangat Kurang 0 0% 0 0% 0 0% 2. Kurang 5 6,17% 2 1,85% 10 6,17% 3. Cukup 23 28,40% 28 25,93% 42 25,93% 4. Baik 39 48,15% 44 40,74% 51 31,48% 5. Sangat baik 14 17,28% 34 31,48% 59 36,42% Jumlah total 81 100% 108 100% 162 100%
Mengacu pada tabel di atas dapat dibuat diagram persentase penilaian siswa dari ketiga aspek Uji Lapangan (Opentional Field
Test) berdasarkan skala 5. Berikut ini dipaparkan diagramnya.
Gambar 5. Diagram persentase penilaian siswa dari ketiga aspek Uji Lapangan (Opentional Field Test)
Uji Lapangan (Opentional Field Test) bertujuan untuk menentukan apakah penggunaan produk hasil pengembangan
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60%
Sangat Kurang Kurang Cukup Baik Sangat Baik
Presentase Penilaian Siswa dari Ketiga Aspek Uji Coba Lapangan
pembelajaran materi media
memiliki dampak positif terhadap hasil pengembangan yang diharapkan dan untuk memperbaiki kualitas produk sehingga produk siap untuk diterapkan dalam lapangan yang lebih luas.
4. Bentuk Final Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Komik Digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman
Tabel 19. Bentuk Final Media Pembelajaran
No . Visual Narasi Efek Suara Keterangan 1. Halaman awal Suara Alunan Musik Latar Halaman Judul 2. Petunjuk penggunaan komik digital Suara Alunan Musik Latar Petunjuk Penggunaan 3. Berisi tentang keterangan singkat komik digital Suara Alunan Musik Latar Tentang Komik Digital 4. Suara Alunan Musik Latar Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar 5. Suara Alunan Musik Latar Daftar Isi 6. Orientasi mengenai perjuangan mempertahan kan kemerdekaan hingga kedatangan NICA Suara Alunan Musik Latar
5. Rangkuman Pengembangan Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Komik Digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman
Bagan 5. Rangkuman Prosedur Pengembangan Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Komik Digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman
STUDI PENDAHULUAN
Observasi, wawancara, penyebaran angket, dan studi pustaka 1. Menyusun media Pembelajaran
2. Mengumpulkan bahan draft komik digital 3. Membuat storyboard komik digital
PROSES PRODUKSI VALIDASI PRODUK Validasi Ahli Materi dan Ahli Media Analisi s Revisi 1 Analis is Uji Coba Satu- satu Revisi 2 Uji Coba Kelompok Kecil Analis is Analisi s Revisi 3 Uji Lapangan Analis is Revisi 4
Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Komik Digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman untuk meningkatkan Sikap Patriotisme
Menyusun materi sesuai dengan SK & KD Menyusun draft yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber Membuat story board yang berisi
materi sesuai dengan script yang
telah disusun Pengetesan
produk secara internal
Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode penelitian dan pengembangan (R&D). Metode tersebut merupakan metode yang dipergunakan untuk menghasilkan suatu produk serta untuk menguji keefektifan produk sesuai dengan tujuan pengembangan. Prosedur atau langkah penelitian meliputi: 1) survei lapangan, 2) menetapkan kebutuhan, 3) memproduksi media pembelajaran, dan 4) uji coba produk. Prosedur pengembangan diadaptasi mengikuti langkah-langkah dalam desain ADDIE.
Data yang dikumpulkan terdiri dari data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari ahli materi, ahli media pembelajaran dan peserta didik (siswa). Data kuantitatif untuk menilai kelayakan serta efektivitas media pembelajaran yang dikembangkan. Sedangkan data kualitatif diperoleh dari penelitian awal tentang sumber belajar dan media pembelajaran yang terdapat dalam sekolah tersebut.
Sumber data dalam penelitian pengembangan media pembelajaran sejarah berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman, yaitu sumber data penelitian awal dan sumber data penelitian uji coba. Sumber data penelitian awal adalah analisis kebutuhan guru dan siswa, mengidentifikasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta indikator sebagai bahan untuk menyusun materi belajar.
Sumber data penelitian uji coba berasal dari ahli materi dan ahli media. Subjek ahli media pembelajaran diambil dari unsur perguruan tinggi dengan pendidikan minimal S3 (Doktor). Ahli materi berasal dari
bidang Pendidikan Sejarah, sedangkan ahli media pembelajaran dari bidang Teknologi Pendidikan. Subjek peserta didik diambil dari MAN Yogyakarta III kelas XII IPS. Sebagai kelompok uji coba ialah kelas XII IPS 2, kelompok eksperimen ialah kelas XII IPS 3 dan kelompok kontrol ialah kelas XII IPS 1.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data kondisi awal, data penilaian ahli materi, data penilaian ahli media pembelajaran, data uji coba yang dilakukan peserta didik meliputi uji coba satu-satu, uji coba kelompok kecil dan Uji Lapangan (Opentional Field Test). Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah dengan teknik observasi dan wawancara, kuesioner/ angket, dan tes. Teknik observasi dan wawancara dipergunakan untuk mengumpulkan data kondisi awal
tentang proses pembelajaran dan media pembelajaran yang
dipergunakan guru untuk mengajar. Teknik kuesioner atau angket digunakan untuk mengumpulkan data kelayakan media menurut pendapat pakar (ahli materi dan ahli media), pendapat siswa, dan guru
sebagai pengguna media. Teknik tes dipergunakan untuk
mengumpulkan data tentang efektivitas media pembelajaran.
Lembar observasi, kuesioner, dan lembar soal tes merupakan instrumen yang dipergunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini. Lembar observasi dipergunakan untuk mencatat informasi dari lapangan dalam penelitian awal, serta mencatat kejadian-kejadian penting selama observasi di lapangan. Kuesioner dipergunakan untuk
mengukur kelayakan produk media pembelajaran yang dikembangkan. Soal tes dipergunakan untuk mengumpulkan data efektivitas media pembelajaran. Instrumen pengumpulan data meliputi aspek materi, aspek media, dan aspek pembelajaran.
Data yang telah dikumpulkan pada penelitian awal, penilaian ahli materi dan media pembelajaran, uji coba satu-satu, uji coba kelompok kecil, dan Uji Lapangan serta uji efektivitas kemudian dianalisis dan dideskripsikan. Teknik analisis data yang dilakukan meliputi: a) analisis data kondisi awal, berupa penggunaan media pembelajaran yang digunakan di sekolah disajikan secara deskriptif naratif, b) analisis data kelayakan produk menurut pendapat ahli materi, ahli media pembelajaran dan siswa dianalisis yang kemudian dideskripsikan secara kualitatif. Data disajikan dalam bentuk tabel, gambar diagram serta deskripsi naratif, c) analisis data efektivitas dilakukan secara statistik kuantitatif dengan uji normalitas, uji homogenitas dan uji t.
C. Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah di MAN Yogyakarta III 1. Implementasi Media Pembelajaran Sejarah Berbasis Komik Digital
Perang Gerilya Jenderal Soedirman
a. Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah Kelas XII IPS 1 (Kelas Kontrol) di MAN Yogyakarta III
Pelaksanaan pembelajaran kelas kontrol yaitu dengan
menggunakan media PowerPoint berlangsung selama satu kali pertemuan dengan dua jam pelajaran yang berarti 2 x 45 menit. Pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar dan
sikap patriotisme. Berikut ini langkah-langkah pembelajaran pada kelas Kontrol yang menggunakan media PowerPoint:
1) Persiapan Pembelajaran
Peneliti melakukan persiapan berupa pembuatan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan digunakan untuk melaksanakan pembelajaran.
2) Pelaksanaan Pre-Test
Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran PowerPoint diadakan Pre-Test terlebih dahulu. Hal ini digunakan untuk mengetahui Prestasi Belajar siswa sebelum menerima materi pembelajaran, dengan jumlah soal 25 butir pilihan ganda. Pre-Test ini dilakukan pada tanggal 13 November 2015.
3) Pelaksanaan Pembelajaran kelas Kontrol
Pelaksanaan pembelajaran pada tanggal 13 November 2015 dilakukan pada kelas kontrol, kelas yang menggunakan media
PowerPoint, dan menggunakan model diskusi. 4) Pelaksanaan Post Test
Tes akhir atau Post Test dilakukan setelah kelas kontrol diberikan perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan media PowerPoint. Post Test dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diberikan selama proses pembelajaran dengan model pembelajaran PowerPoint. Post Test ini dilakukan pada tanggal 13 November 2015.
b. Pelaksanaan Pembelajaran Sejarah Kelas XII IPS 3 (Kelas Eksperimen) di MAN Yogyakarta III
Pelaksanaan pembelajaran kelas eksperimen yaitu dengan menggunakan media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman ini berlangsung satu kali pertemuan dengan dua jam pelajaran yang berarti 2 x 45 menit. Pertemuan diawali dengan dilakukan Pre-Test, dilanjutkan menyampaikan materi menggunakan media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman, dan diakhiri dengan melakukan Post-Test. Dalam proses pelaksanaan pembelajaran dengan media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman ini menggunakan model pembelajaran diskusi yang menunjang keaktifan siswa. Pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar dan kesadaran sejarah siswa. Berikut ini langkah-langkah pada kelas Eksperimen yang menggunakan media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman.
1) Persiapan Pembelajaran
Peneliti melakukan persiapan berupa pembuatan silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan digunakan untuk melaksanakan pembelajaran.
2) Pelaksanaan Pre-Test
Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman diadakan Pre-Test terlebih dahulu. Pre-Test ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa sebelum menggunakan media commit to user
pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman dengan jumlah soal 25 butir pilihan ganda. Pre-Test ini dilakukan pada tanggal 7 November 2015.
3) Pembelajaran Sejarah Kelas Eksperimen
Pelaksanaan pembelajaran pada tanggal 7 November 2015 dilakukan pada kelas eksperimen, kelas yang menggunakan media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman. Sebelum memulai pembelajaran peneliti mengenalkan kepada siswa tentang media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman. Pembelajaran di kelas eksperimen ini menggunakan model pembelajaran Diskusi. Pembelajaran dimulai dengan memberikan apersepsi kepada siswa tentang Perjuangan Bangsa Indonesia Setelah Proklamasi yaitu mempertahankan kemerdekaan yang dilakukan Jenderal Soedirman. Selanjutnya pembelajaran dimulai dengan menggunakan media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman sebagai sumber belajar.
4) Pelaksanaan Post-test
Tes akhir atau Post-Test dilakukan setelah kelas eksperimen diberikan perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman. Post Test dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diberikan selama proses
pembelajaran berlangsung menggunakan media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman. Pelaksanaan Post Test ini dilakukan pada tanggal 7 November 2015.
c. Evaluasi Pembelajaran Sejarah Kelas XII IPS 1 (Kelas Kontrol) dan kelas XII IPS 3 (Kelas Eksperimen) di MAN Yogyakarta III
Penilaian hasil belajar siswa dilakukan dengan menggunakan teknik pengumpulan data berupa tes. Dalam penelitian ini, tes dilakukan dua kali yakni pada saat sebelum pembelajaran (Pre Test) dan sesudah pembelajaran (Post Test). Soal tes yang diberikan kepada siswa adalah soal pilihan ganda dengan jumlah soal sebanyak 25 butir. Hasil dari tes tersebut kemudian di analisis secara deskriptif maupun secara statistik.
1) Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol
Hasil belajar siswa kelas kontrol sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran menggunakan media PowerPoint dapat dilihat pada Tabel 22. Terlihat dari Tabel 22 tersebut rata-rata nilai Pre Test kelas kontrol sebesar 70,8 dengan nilai tertinggi 88 dan nilai terendah 56. Sedangkan untuk rata-rata nilai Post Test kelas eksperimen sebesar 73,8 dengan nilai tertinggi 92 dan nilai terendah sebesar 60. Hasil belajar kelas kontrol tersebut menunjukkan adanya peningkatan antara Pre Test dan Post Test.
Tabel 20. Hasil Belajar Kelas Kontrol
No Test Nilai
Maksimum Minimum Rata-Rata
1. Pre Test 88 56 70,8
2. Post Test 92 60 73,8
2) Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen
Hasil belajar siswa kelas eksperimen sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran menggunakan media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman dapat dilihat pada Tabel 21. Terlihat dari Tabel 21 tersebut rata-rata nilai Pre Test kelas eksperimen sebesar 68 dengan nilai tertinggi 88 dan nilai terendah 52. Sedangkan untuk rata-rata nilai Post Test kelompok eksperimen sebesar 85,2 dengan nilai tertinggi 96 dan nilai terendah sebesar 68. Prestasi belajar kelas eksperimen tersebut menunjukkan adanya peningkatan antara Pre Test dan Post Test.
Tabel 21. Hasil Belajar Kelas Eksperimen
No Test Nilai
Maksimum Minimum Rata-Rata
1. Pre Test 88 52 68
2. Post Test 96 68 84,7
d. Kendala Pembelajaran Sejarah Kelas XII IPS 3 (Kelas Eksperimen) di MAN Yogyakarta III
Kegiatan pembelajaran sejarah di Kelas XII IPS 3 mengalami beberapa kendala. Kendala yang pertama adalah, proyektor di kelas eksperimen tidak pada kondisi yang prima, sehingga pada saat kegiatan pembelajaran sejarah menggunakan komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman, proyektor berhenti beroperasi karena diakibatkan terputusnya sinyal dari kabel penghubung antara laptop dengan proyektor. Akibatnya, pengajar harus mengeset ulang proyektor supaya dapat digunakan.
Kendala yang kedua adalah, pada saat pembelajaran sejarah
kecepatan membaca tiap siswa tidak sama sehingga ada beberapa siswa harus bersabar menunggu temannya membaca komik digital yang sedang ditampilkan di layar. Namun, kendala ini dapat di atasi oleh pengajar dengan memberikan informasi tambahan pada peristiwa yang sedang ditampilkan pada layar proyektor.
2. Efektivitas Media Pembelajaran Sejarah Berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman
a. Uji Kesetaraan Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 1) Test Prestasi
Uji efektivitas merupakan perbandingan media antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Kelas eksperimen merupakan kelas penerima materi dengan ditambahi media pembelajaran, sedangkan kelas kontrol merupakan kelas penerima materi tanpa ditambahi dengan media pembelajaran. Sebelum menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol, maka perlu diadakan uji tingkat kesetaraan melalui uji t. Adapun syarat-syarat yang digunakan untuk menghitung hasil statistiknya adalah sebagai berikut:
a) Hipotesis
- H0: Adanya kesetaraan kemampuan dari nilai prestasi siswa antara kelas XII IPS 1 dan XII IPS 3
- H1: tidak adanya kesetaraan kemampuan dari nilai prestasi siswa antara kelas XII IPS 1 dan XII IPS 3
b) Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan tingkat signifikasnsi
c) Keputusan uji
- H0 diterima jika signifikansi > 0,05 - H0 ditolak jika signifikansi < 0,05
Hasil nilai prestasi siswa kelas XII IPS 1 dan XII IPS 3 ditampilkan dalam nilai pretest seperti di bawah ini:
Tabel 22. Hasil Nilai Prestasi Pre-Test Kelas Eksperimen
Kelas Eksperimen (XII IPS 3) Interval Frekuensi 55-59 4 60-64 5 65-69 6 70-74 5 75-79 0 80-84 3 85-89 1 Rata-rata nilai 68
Gambar 6. Grafik Nilai Prestasi Pre-Test Kelas Eksperimen Tabel 23. Hasil Nilai Prestasi Pre-Test Kelas Kontrol
Kelas Kontrol (XII IPS 1) Interval Frekuensi 55-59 2 60-64 7 65-69 5 70-74 4 75-79 3 80-84 5 85-89 1 Rata-rata 70,8 0 2 4 6 8 55-59 60-65 65-69 70-75 75-79 80-85 85-89 Kelas Eksperimen (XI IPS 3)
Gambar 7. Grafik Hasil Nilai Prestasi Pre-Test Kelas Kontrol
Perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat peningkatannya melalui uji t dengan menggunakan Independent
Samples t test yang diolah dengan menggunakan program SPSS Versi
22. Namun dalam melakukan uji t harus dipenuhi persyaratan data berdistribusi normal dan homogen, sehingga perlu dilakukan lebih dahulu uji normalitas dan homogenitas.
Uji normalitas yang digunakan disini adalah uji normalitas menggunakan uji-t. Uji-t dilakukan pada suatu variabel yang memilik dua atau lebih kelompok data. Jadi, pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tiap-tiap kelompok data berasal dari populasi normal atau tidak (Priyatno, 2008). Dengan ketentuan jika nilai sig > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Sedangkan uji homogenitas digunakan untuk mengetahui varians populasi sama atau tidak. Uji ini juga merupakam syarat pengguna uji-t, varians populasi tidak sama maka uji-t tidak dapat digunakan sebagai alat analisis.
0 2 4 6 8 55-59 60-65 65-69 70-75 75-79 80-85 85-89
Kelas Kontrol (XI IPS 1)
Hasil uji normalitas dan homogenitas yang diperoleh dari kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan menggunakan program SPSS 22 seperti di bawah ini:
Tabel 24. Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Hasil Uji Normalitas Jumlah Siswa
Rata-rata
Signifikansi
Pre-Test Kelas Eksperimen 24 68 0,138
Pre-Test Kelas Kontrol 27 70,81 0,114
Hasil uji normalitas dengan menggunakan One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test pada SPSS 22, dapat dilihat bahwa nilai
signifikansi pre-test pada 24 siswa kelas eksperimen dengan rata-rata 68 adalah 0,138 dan signifikansi pre-test pada 27 siswa kelas kontrol dengan rata-rata 70,81 adalah 0,114. Karena nilai signifikansi > dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data nilai pre-test kelas eksperimen dan data nilai pre-test kelas kontrol berdistribusi normal Tabel 25. Hasil Uji Homogenitas Pre-Test Prestasi Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Hasil Uji Signifikansi
Homogenitas 0,764
Berdasarkan hasil perhitungan uji homogenitas diketahui bahwa hasil nilai signifikansi sebesar 0,764, hal ini menyatakan jika nilai sig > 0,05 maka data dapat dikatakan homogen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data nilai pre-test kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah homogen.
Berdasarkan keadaan data yang berdistribusi normal dan homogen, maka data tersebut dihitung menggunakan uji t Independent
Tabel 26. Hasil Uji t Pre-Test Prestasi Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Hasil Uji t Signifikansi Independent Sample Test 0,242
Berdasarkan hasil uji t tersebut, diketahui bahwa nilai sig 0,242>0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima, maka prestasi kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kesetaraan nilai prestasi.
2) Test Sikap
Selanjutnya akan dilakukan uji kesetaraan skor angket pre-test. Perhitungan yang dipakai adalah uji t. Sebagaimana data di atas maka perlu dilakukan uji normalitas dan homogenitas, tentu dengan persyaratan seperti di bawah ini:
a) Hipotesis
- H0: Adanya kesetaraan kemampuan dari skor angket siswa diantara kelas XII IPS 1 dengan kelas XII IPS 3
- H1: Tidak adanya kesetaraan kemampuan dari skor angket siswa diantara kelas XII IPS 1 dengan kelas XII IPS 3
b) Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan tingkat signifkansi α = 0,05
c) Keputusan Uji
- H0 diterima jika signifikansi > 0,05 - H0 ditolak jika signifikansi < 0,05
Hasil skor angket pretest yang didapat dari kelas Eksperimen dan kelas kontrol seperti di bawah ini:
Tabel 27. Hasil Skor Angket Pretest Kelas Eksperimen
Kelas Eksperimen (XII IPS 3) Interval Frekuensi 80-84 1 85-89 3 90-94 3 95-99 3 100-104 5 105-109 7 110-114 2 Rata-rata 99,58
Gambar 8. Grafik Hasil Skor Angket Pretest Kelas Eksperimen Tabel 28. Hasil Skor Angket Pretest Kelas Kontrol
Kelas Kontrol (XII IPS 1) Interval Frekuensi 75-79 2 80-84 0 85-89 3 90-94 1 95-99 6 100-104 4 105-109 3 110-114 4 115-119 4 Rata-rata 101,30
Gambar 9. Grafik Hasil Skor Angket Pretest Kelas Kontrol 0 2 4 6 8 80-84 85-89 90-94 95-99 100-104 105-109 110-114
Kelas Eksperimen (XI IPS 3)
0 2 4 6 8 75-79 80-84 85-89 90-94 95-99 100-104 105-109 110-114 115-119 Kelas Kontrol (XI IPS 1)
Perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat peningkatannya melalui uji t dengan menggunakan Independent
Samples t test yang diolah dengan menggunakan program SPSS Versi
22. Namun dalam melakukan uji t harus dipenuhi persyaratan data berdistribusi normal dan homogen, sehingga perlu dilakukan lebih dahulu uji normalitas dan homogenitas. Di bawah ini merupakan hasil uji normalitas angket pretest kelas eksperimen dan kontrol dengan menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test pada SPSS 22: Tabel 29. Hasil Uji Normalitas Angket Pre-Test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol.
Hasil Uji Normalitas Jumlah Siswa
Rata-rata
Signifikansi
Pre-Test Kelas Eksperimen 24 99,58 0,134
Pre-Test Kelas Kontrol 27 101,30 0,112
Hasil uji normalitas dengan menggunakan One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test pada SPSS 22, dapat dilihat bahwa nilai
signifikansi angket pre-test pada 24 siswa kelas eksperimen dengan rata-rata 99,58 adalah 0,134 dan signifikansi pre-test pada 27 siswa kelas kontrol dengan rata-rata 101,30 adalah 0,112. Karena nilai signifikansi > dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data angket pre-test kelas eksperimen dan data angket pre-test kelas kontrol berdistribusi normal.
Tabel 30. Tabel Hasil Uji Homogenitas Angket Pre-Test Kelas Eksperimen Dan Kelas Kontrol.
Hasil Uji Signifikansi
Homogenitas 0,140
Hasil dari perhitungan uji homogenitas yang menggunakan program SPSS 22, di atas dapat diketahui nilai sig 0,140. Hal ini menyatakan bahwa apabila nilai sig >0,05, maka data dapat dikatakan homogen. Sehingga dapat disimpulkan data angket pre-test kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah homogen.
Berdasarkan data yang normal dan homogen tersebut, maka selanjutnya data dapat dihitung dengan menggunakan uji t. Adapun hasil perhitungan uji t adalah seperti di bawah ini:
Tabel 31. Hasil Perhitungan Uji t Angket Pre-test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol.
Hasil Uji t Signifikansi Independent Sample Test 0,557
Berdasarkan hasil uji t Independent Sample Test tersebut dapat diketahui bahwa nilai signifikansinya adalah 0,557>0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima, maka skor angket kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kesetaraan kemampuan.
b. Uji Kelas Eksperimen 1) Tes Prestasi
Pengukuran peningkatan penggunaan sebuah media di kelas sangan diperlukan dalam model pengembangan media. Pengukuran ini dilakukan di kelas eksperimen sebagai tempat penggembangan media pembelajaran berbasis komik digital dengan menggunakan pre-test dan post-test. Adapun syarat-syarat yang digunakan untuk mengitung hasil statistiknya seperti di bawah ini:
a) Hipotesis
- H0 : adanya persamaan nilai prestasi siswa diantara sebelum diberi media dengan setelah diberi media
- H1 : tidak adanya persamaan dari nilai prestasi siswa diantara sebelum diberi media dan setelah diberi media
b) Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan tingkat signifikansi α = 0,05
c) Keputusan uji
- H0 diterima jika signifikansi > 0,05 - H0 ditolak jika signifikansi < 0,05
Hasil yang diperoleh dari kelas Eksperimen pada pre-test sebelum penggunaan media dan post-test setelah penggunaan media di dalam kelas akan ditampilkan seperti di bawah ini:
Tabel 32. Hasil Nilai Pre-Test Kelas Eksperimen
Pre-Test Kelas Eksperimen (XII IPS 3) Interval Frekuensi 55-59 4 60-65 5 65-69 6 70-75 5 75-79 0 80-85 3 85-89 1 Rata-rata nilai 68
Gambar 10. Grafik Hasil Nilai Pre-Test Kelas Eksperimen 0 2 4 6 8 55-59 60-65 65-69 70-75 75-79 80-85 85-89
Pre-Test Kelas Eksperimen (XI IPS 3)
Tabel 33. Hasil Nilai Post-test Kelas Eksperimen
Post-test Kelas Eksperimen (XII IPS 3) Interval Frekuensi 71-75 2 76-80 6 81-85 7 86-90 2 91-95 4 96-100 3 Rata-rata nilai 84,67
Gambar 11. Grafik Hasil Nilai Post-test Kelas Eksperimen
Perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat peningkatannya melalui uji t dengan menggunakan paired sample t
test lewat bantuan program SPSS 22. Namun dalam melakukan uji t
harus dipenuhi dahulu persyaratan data berdistribusi normal dan homogen, sehingga terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Hasil uji normalitas yang diperoleh dari kelas eksperimen yang diuji menggunakan SPSS 22, adalah sebagai berikut: Tabel 34. Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen
Hasil Uji Normalitas Rata-rata
Signifikansi
Pre-Test Prestasi Kelas Eksperimen 68 0,138
Post-Test Prestasi Kelas Eksperimen 84,67 0,108
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai prestasi pre-test kelas Eksperimen dengan rata-rata 68 memiliki nilai
0 2 4 6 8 71-75 76-80 81-85 86-90 91-95 96-100
Post-Test Kelas Eksperimen (XI IPS 3)
signifikansi 0,138>0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh berdistribusi normal. Sedangkan nilai post-test kelas Eksperimen dengan rata-rata 84,67 memiliki nilai signifikansi 0,108>0,05, sehingga disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Tabel 35. Hasil Uji Homogenitas Kelas Eksperimen
Hasil Uji Signifikansi
Homogenitas 0,735
Hasil perhitungan uji homogenitas di atas diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,735. Hal ini menyatakan jika nilai sig >0,05 maka data dapat dikatakan homogen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data nilai pre-test kelas eksperimen dan post-test kelas eksperimen adalah homogen. Berdasarkan data yang berdistribusi normal dan homogen, maka data tersebut dapat dihitung menggunakan uji t, dengan hasil seperti di bawah ini:
Tabel 36. Hasil Uji t Kelas Eksperimen
Hasil Uji t Signifikansi Paired Sample Test 0,000
Berdasarkan hasil uji t di atas maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak. Hal ini diketahui dari nilai sig 0,000 sehingga kurang dari 0,05. Maka dapat dikatakan telah terdapat peningkatan yang baik dari nilai prestasi siswa antara sebelum diberi media dengan setelah diberi media pembelajaran sejarah berbasis komik digital.
2) Tes Sikap
Pengukuran peningkatan penggunaan sebuah media di kelas
dilakukan di kelas eksperimen sebagai tempat penggembangan media pembelajaran berbasis komik digital Perang Gerilya Jenderal Soedirman dengan menggunakan pre-test dan post-test. Adapun syarat-syarat yang digunakan mengitung statistiknya sebagai berikut: a) Hipotesis
- H0 : adanya persamaan dari nilai sikap siswa diantara sebelum diberi media dengan setelah diberi media
- H1 : tidak adanya persamaan dari nilai sikap siswa diantara sebelum diberi media dan setelah diberi media
b) Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan tingkat signifikansi α = 0,05
c) Keputusan uji
- H0 diterima jika signifikansi > 0,05 - H0 ditolak jika signifikansi < 0,05
Hasil yang diperoleh dari kelas Eksperimen pada pre-test sebelum penggunaan media dan post-test setelah penggunaan media di dalam kelas akan ditampilkan seperti di bawah ini:
Tabel 37. Hasil Nilai Pre-Test Kelas Eksperimen
Pre-Test Kelas Eksperimen (XII IPS 3) Interval Frekuensi 80-84 1 85-89 3 90-94 3 95-99 3 100-104 5 105-109 7 110-114 2
Gambar 12. Grafik Hasil Nilai Pre-Test Kelas Eksperimen Tabel 38. Hasil Nilai Post-test Kelas Eksperimen
Post-test Kelas Eksperimen (XII IPS 3) Interval Frekuensi 95-99 1 100-104 4 105-109 4 110-114 8 115-119 7 Rata-rata 110,3
Gambar 13. Grafik Hasil Nilai Post-test Kelas Eksperimen
Perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat peningkatannya melalui uji t dengan menggunakan paired sample t
test lewat bantuan program SPSS 22. Namun dalam melakukan uji t
harus dipenuhi dahulu persyaratan data berdistribusi normal dan homogen, sehingga terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas. 0 2 4 6 8 80-84 85-89 90-94 95-99 100-104 105-109 110-114 Pre-Test Kelas Eksperimen (XI IPS 3)
0 5 10 15
101-105 106-110 111-115 116-120
Post-Test Kelas Eksperimen (XI IPS 3)
Hasil uji normalitas yang diperoleh dari kelas eksperimen yang diuji menggunakan program SPSS 22 adalah seperti di bawah ini: Tabel 39. Hasil Uji Normalitas Angket Kelas Eksperimen
Hasil Uji Normalitas Rata-rata
Signifikansi
Pre-Test Angket Kelas Eksperimen 99,58 0,134
Post-Test Angket Kelas Eksperimen 110,88 0,145
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa angket pre-test kelas eksperimen dengan rata-rata 99,58 memiliki nilai signifikansi 0,134 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh berdistribusi normal. Sedangkan angket post-test kelas eksperimen dengan rata-rata 110,88 memiliki nilai signifikansi 0,145 > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh berdistribusi normal.
Tabel 40. Hasil Uji Homogenitas Angket Kelas Eksperimen
Hasil Uji Signifikansi
Homogenitas 0,057
Berdasarkan hasil perhitungan uji homogenitas di atas diketahui bahwa nilai signifikan sebesar 0,057, hal ini menyatakan bahwa jika nilai sig >0,05 maka data dapat dikatakan homogen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data skor angket pre-test kelas eksperimen dan skor angket post-test kelas eksperimen adalah homogen. Berdasarkan keadaan data yang berdistribusi normal dan homogen, maka data tersebut dapat dihitung dengan menggunakan uji t. Adapun hasil nya adalah seperti di bawah ini:
Tabel 41. Hasil Uji t Angket Kelas Eksperimen
Hasil Uji t Signifikansi Paired Sample Test commit to user 0,000
Berdasarkan hasil di atas maka dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak. Hal ini diketahui dari nilai sig 0,000 sehingga kurang dari 0,05. Maka dapat dikatakan telah terdapat peningkatan yang baik dari skor angket siswa antara sebelum diberi media dengan setelah diberi media pembelajaran sejarah berbasis komik digital.
c. Uji Efektivitas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol 1) Tes Prestasi
Uji efektivitas dihitung melalui perbandingan hasil dari post-test yang diraih oleh kelas eksperimen dan kontrol dengan menggunakan uji t. Dalam proses perhitungannya harus memiliki beberapa persyaratan, yaitu :
a) Hipotesis
- H0 : adanya persamaan pengaruh terhadap prestasi siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol
- H1 : tidak adanya persamaan pengaruh terhadap prestasi siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol
b) Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan taraf signifikansi α = 0,05
c) Keputusan uji
- H0 diterima jika signifikansi > 0,05 - H0 ditolak jika signifikansi < 0,05
Di bawah ini adalah hasil prestasi post test yang didapatkan dari kelas eksperimen dan kelas kontrol:
Tabel 42. Hasil Prestasi Post-test Kelas Eksperimen
Post-test Kelas Eksperimen (XII IPS 3) Interval Frekuensi 71-75 2 76-80 6 81-85 7 86-90 2 91-95 4 96-100 3 Rata-rata nilai 84,67
Gambar 14. Grafik Hasil Prestasi Post-test Kelas Eksperimen Tabel 43. Hasil Prestasi Post-test Kelas Kontrol
Post-test Kelas Kontrol (XII IPS 1) Interval Frekuensi 40-49 1 50-59 5 60-69 11 70-79 10 80-89 4 Rata-rata nilai 65,87
Gambar 15. Grafik Hasil Prestasi Post-test Kelas Kontrol 0 2 4 6 8 71-75 76-80 81-85 86-90 91-95 96-100
Post-test Kelas Eksperimen (XII IPS 3)
0 2 4 6 8 10 12 40-49 50-59 60-69 70-79 80-89
Post-Test Kelas Kontrol (XI IPS 1)
Perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat peningkatannya melalui uji t dengan menggunakan Independen
Sample t test lewat bantuan program SPSS 22. Namun dalam
melakukan uji t harus dipenuhi dahulu persyaratan data berdistribusi normal dan homogen, sehingga terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas. Hasil uji normalitas yang diperoleh dari kelas eksperimen dan kelas kontrol yang diuji menggunakan program SPSS 22 adalah sebagi berikut :
Tabel 44. Hasil Uji Normalitas Post-test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Hasil Uji Normalitas Jumlah Siswa
Rata-rata
Signifikansi
Post-test Kelas Eksperimen 24 84,67 0,108
Post-test Kelas Kontrol 27 73,78 0,176
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai prestasi post-test 24 siswa kelas eksperimen dengan rata-rata 84,67 memiliki nilai signifikansi 0,108 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh berdistribusi normal. Sedangkan nilai prestasi post-test 27 siswa kelas kontrol dengan rata-rata 73,78 memiliki nilai signifikansi 0,176 > 0,05, yang dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh berdistribusi normal.
Tabel 45. Hasil Uji Homogenitas Post Test Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Hasil Uji Signifikansi
Homogenitas 0,653
Berdasarkan hasil perhitungan uji homogenitas di atas diketahui bahwa nilai signifikan sebesar 0,653, hal ini menyatakan bahwa jika
nilai sig >0,05 maka data dapat dikatakan homogen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data nilai prestasi post-test kelas eksperimen dan nilai prestasi post-test kelas kontrol adalah homogen. Berdasarkan keadaan data yang berdistribusi normal dan homogen, maka data dapat dihitung menggunakan uji t dengan hasil sebagai berikut: Tabel 46. Hasil Uji t Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Hasil Uji t Signifikansi Independent Sample Test 0,000
Berdasarkan hasil uji t tersebut dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak. Hal ini diketahui dari nilai sig 0,000 sehingga kurang dari 0,05. Maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan pengaruh terhadap nilai prestasi siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Melalui hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dengan penggunaan media pembelajaran berbasis komik digital dapat memberikan pengaruh terhadap prestasi.
Jika dengan menggunakan kriteria penelitian koefisien thit lebih
besar dari nilai koefisien ttab maka hasil yang diperoleh adalah thit =
4,980 dibandingkan pada t tab 2,009 (taraf signifikansi 5%), sehingga
dapat dikatakan bahwa t hit > t tabel atau 4,980 > 2,009. Maka dengan
demikian diperoleh kesimpulan bahwa penggunaan media
pembelajaran komik digital lebih efektif daripada penggunaan media
PowerPoint pada siswa kelas XII IPS di MAN Yogyakarta III.
Media pembelajaran memiliki peranan yang sangat penting dalam sebuah kegiatan belajar mengajar. Menurut Gerlach dan Ely,
pengertian media adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap (Arsyad, 2011: 3). Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk memproses dan menyusun kembali informasi visual dan verbal.
Dalam melangkah menuju suatu tujuan pembelajaran, media pembelajaran sangatlah diperlukan. Pada media pembelajaran, di dalamnya terkandung banyak informasi yang dapat disampaikan kepada orang lain. Informasi tersebut diperoleh dari sumber-sumber seperti dari buku-buku, rekaman suara atau video, internet, film, peninggalan-peninggalan sejarah yang masih ada, dan lain-lain. Semua yang disebutkan tersebut merupakan media pembelajaran karena memuat informasi yang dapat disampaikan kepada siswa.
Media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa
dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat
mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Ada beberapa alasan, mengapa media dapat mempertinggi proses belajar siswa (Sudjana dan Rivai, 2011: 2). Melalui media pembelajaran, mata pelajaran sejarah yang semula membosankan dapat dibuat menarik sehingga sekaligus dapat meningkatkan sikap patriotisme. Sikap patriotisme merupakan cara berpikir, bersikap, berbuat yang menunjukkan kesetiaan,
kepedulian, penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa (Hidayatullah, 2010: 45)
Komik sebagai media pembelajaran sejarah terbukti mampu meningkatkan prestasi siswa. Hal ini sesuai dengan definisi komik sebagai gambar yang berbentuk kartun, mempunyai sifat yang sederhana dalam penyajiannya dan memiliki unsur urutan cerita yang memuat pesan yang besar tetapi disajikan secara ringkas dan mudah dicerna (Yudi Munadi, 2013: 100). Sehingga komik merupakan media alternatif yang tepat untuk pembelajaran, karena keterlibatan emosi pembacanya akan sangat mempengaruhi daya ingat materi pelajaran.
2) Tes Sikap
Sebelum melakukan uji t maka akan di ketahui persyaratannya sebagai berikut:
a) Hipotesis
- H0 : adanya persamaan pengaruh terhadap sikap patriotisme antara kelas eksperimen dan kelas kontrol
- H1 : tidak adanya persamaan pengaruh terhadap sikap patriotisme antara kelas Eksperimen dan kelas kontrol
b) Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan taraf signifikansi α = 0,05
c) Keputusan uji
- H0 diterima jika signifikansi > 0,05 - H0 ditolak jika signifikansi < 0,05
Berikut ini adalah hasil post-test skor angket sikap patriotisme siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasilnya seperti di bawah: Tabel 47. Hasil Post-test Skor Angket Sikap Patriotisme Kelas Eksperimen
Angket Post-test Kelas Eksperimen (XII IPS 3) Interval Frekuensi 95-99 1 100-104 4 105-109 4 110-114 8 115-119 7 Rata-rata 110,3
Gambar 16. Grafik Hasil Post-test Skor Angket Sikap Patriotisme Kelas Eksperimen
Tabel 48. Hasil Post-test Angket Sikap Patriotisme Kelas Kontrol
Angket Post-test Kelas Kontrol (XII IPS 1)
Interval Frekuensi 91-95 5 96-100 6 101-105 3 106-110 8 111-115 5 Rata-rata 103,30
Gambar 17. Grafik Hasil Post-test Skor Angket Sikap Patriotisme Kelas Kontrol
0 10 20
101-105 106-110 111-115 116-120
Angket Post-test Kelas Eksperimen (XI IPS 3)
0 10
91-95 96-100 101-105 106-110 111-115
Angket Post-test Kelas Kontrol (XI IPS 1)