• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Permukiman ada sejak manusia hidup berkelompok di muka bumi.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Permukiman ada sejak manusia hidup berkelompok di muka bumi."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Permukiman ada sejak manusia hidup berkelompok di muka bumi. Keberadaan permukiman tidak lain adalah sebagai tempat tinggal dan berkumpulnya suatu kelompok. Di Indonesia permukiman mengalami perkembangan dari masa ke masa dan dimulai saat manusia memutuskan untuk tinggal menetap di suaatu daerah. Peradaban manusia dan semakin banyaknya jumlah penduduk menjadikan permukiman di Indonesia menjadi bervariasi. Lahan yang semakin sempit membuat manusia melakukan berbagai cara untuk tetap tinggal di suatu daerah, bagi orang yang memiliki dana cukup akan memilih untuk bertempat tinggal dengan membeli bentuk hunian yang merupakan inovasi-inovasi baru dari permukiman, sedangkan mereka yang memiliki keterbatasan secara finansial akan mencoba bertahan dengan membentuk permukiman sendiri di tempat-tempat yang sebenarnya terlarang seperti pinggiran sungai, pinggiran rel kereta, ataupun di tanah-tanah illegal tanpa pemilik.

Permukiman pinggir sungai merupakan sebuah permukiman yang sampai sekarang masih eksis di Indonesia walaupun banyak kasus yang sudah terjadi terkait penggusuran ataupun bencana alam yang terjadi di permukiman sejenis itu. Walaupun memiliki banyak sekali resiko untuk tinggal di permukiman pinggir sungai, masyarakat setempat tetap mempertahankan hal tersebut karena memang sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi ataupun

(2)

2 memang karena sudah menetap disana sejak lama. Permukiman pinggir sungai seolah saat ini sudah melekat dengan nama Indonesia karena hampir di semua kota yang tersebar di Indonesia terdapat permukiman yang sejenis.

Berkembangnya zaman dan modernisasi terhadap hunian tempat tinggal pada saat ini, permukiman pinggir sungai sama sekali tidak mengalami perubahan yang berarti, saat ini banyak sekali gedung-gedung tinggi yang tersebar dan hunian-hunian mewah yang dibangun sementara permukiman pinggir sungai masih dalam kondisi yang sama dengan problematikanya juga. Permukiman pingir sungai seolah menjadi fenomena sosial berupa cerminan masyarakat berekonomi kurang dan sering kali disebut sebagai sebuah permukiman kumuh ataupun slum area. Paradigma masyarakat saat ini juga selalu memandang sebelah mata orang yang tinggal di permukiman tersebut seolah permukiman pinggir sungai memang tidak layak huni walaupun memang ada beberapa rumah yang tergolong bagus yang didirikan disana, tapi yang dilihat masyrakat pada umumnya adalah secara keseluruhan.

Sesuai dengan kemajuan pola pikir manusia dan beberapa fenomena yang ada, perumahan pinggir sungai mengalami sebuah inovasi yang membuat permukiman tersebut menjadi sudut pandang yang berbeda yaitu lebih dari sekedar hunian yang kumuh. Fenomena hunting foto di suatu tempat yang unik membuat suatu pemikiran baru untuk merubah permukiman pinggir sungai yang memang memiliki struktur letak berbeda dengan permukiman biasa menjadi suatu tempat yang benar-benar unik sebagai suatu upaya untuk menghilangkan paradigma masyarakat terkait keidentikan permukiman pinggir sungai dengan suatu hal yang kumuh dan juga lusuh.

(3)

3 Inovasi baru dengan mewarnai permukiman pinggir sungai menggunakan cat warna-warni di kota Malang, terjadi pada permukiman pinggir kali brantas di kampung Jodipan Pinggir Brantas yang sekarang berubah penyebutan menjadi “Kampung Warna-Warni” dan merupakan salah satu akibat perubahan pola pikir manusia yang dituangkan dalam Proyek CSR PT. Indana Paint dengan kerja sama dan gagasan ide dari Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Program yang digagas sejak bulan Juni 2016 ini telah mampu memberikan dampak sosial yang positif terhadap warga Kampung Jodipan yang merasakan program tersebut (Armanda, dkk, 2017:31). Hal tersebut, juga membuat permukiman pinggir sungai yang sebelumnya kelihatan tidak menarik sama sekali dan masyarakat enggan datang kesana, menjadi terlihat sangat menarik dengan warna-warna yang ada dan membuat orang-orang pensaran datang kesana untuk sekedar berkunjung atau melakukan foto. Permukiman pinngir sungai sebagai simbol permukiman kumuh kini berubah menjadi keunikan dan sorotan banyak masyarakat bukan hanya di Kota Malang, tapi juga di seluruh Indonesia.

Proses munculnya Kampung Warna-Warni mulai dari tahun 2016 sampai sekarang pun masih menjadi fenomena yang menarik dan banyak diamati masyarakat. Tidak sedikit juga banyak daerah di kota lain yang mengadaptasi proyek pewarnaan kampung walaupun tidak dilakukan pada permukiman pinggir sungai. Hal tersebut menandakan bahwa perubahan sosial budaya tidak hanya dialami oleh masyarakat sekitar saja tetapi juga masyarakat secara umum. Selain itu proses munculnya Kampung Warna-Warni ini bisa dibilang sangat cepat dengan proses pengerjaan yang singkat tapi membawa dampak

(4)

4 yang begitu besar dan menarik perhatian banyak masyarakat karena konsep perubahannya yang unik. Walapun pada awalnya menurut berita online BBC (16 Oktober 2016), masyarakat yang tinggal di pinggir sungai kawasan Kampung Jodipan berencana digusur dan warganya dipindahkan ke rusun sewa di kelurahan Buring, Kedungkandang, Kota Malang, tetapi hal tersebut batal dilakukan karena justru sekarang ini Wali Kota Malang menetapkan kawasan tersebut sebagai obyek wisata melihat potensi kawasan tersebut.

Perubahan perumahan pinggir sungai di kawasan Jodipan juga menjadi simbol pergeseran cara pandang masyarakat terhadap hunian kumuh dan mengakibatkan pergeseran fungsi juga terhadap permukiman tersebut. Permukiman pinggir sungai yang dulu hanya sebatas sebagai tempat tinggal, kini berubah layaknya kampung pecinan yang banyak pengunjung dan bisa jadi dapat digunakan sebagai tempat perbelanjaan. Penduduk setempat sekarang dapat membanggakan dimana mereka tinggal yang sekarang jauh dari kesan kumuh karena permukiman mereka sudah terawat dengan baik. Hal ini tentunya juga membuat pergeseran budaya yang ada pada masyarakat pinggiran sungai yang sebelumnya hanya menjadi ruang bagi masyarakat setempat menjadi ruang-ruang yang lain juga untuk oknum yang terlibat dalam pengembangannya.

Perubahan dalam solidaritas dan ketidakharmonisan masyarakat pun mulai muncul. Keterkaitan antar masyarakat setempat dan pengunjung juga menyebabkan adanya interaksi-interaksi baru dalam permukiman pinggir sungai yang sekarang berubah nama menjadi Kampung Jodipan Pinggir Brantas.

(5)

5 Gejala-gejala sosial juga mulai timbul karena adanya penganak emasan terhadap permukiman pinggir sungai yang dijadikan kampung warna dan hal ini tentunya mengakibatkan kesenjangan sosial antara permukiman pinggir kali sekitar dan obsesi untuk menjadi sama seperti kampung warna. Kondisi ini tentunya selain hal positif juga mengakibatkan hal negatif seperti bergesernya tempat tinggal yang sepi menjadi ada beberapa warga yang terusik dan tidak bisa istirahat dengan nyaman di rumah mereka akibat pengunjung yang terus berdatangan setiap harinya.

Dampak-dampak lain yang diakibatkan adanya kampung warna juga diantaranya adalah aksi-aksi foto ekstream yang dilakukan oleh pengunjung yang dapat membahayakan nyawa mereka. Belum lagi sebenarnya juga ada UU terkait pembangunan rumah disekitar sungai yang membatasi berapa jarak pembangunan sungai dengan DAS sehingga hal ini juga akan menimbulkan kontoroversi nantinya apalagi untuk pihak yang merasa ingin mengambil kesempatakan ketika adanya kontroversi dari hal-hal semacam ini.

Pemerintah kota Malang sendiri sebenarnya telah mendukung adanya perubahan permukiman ini menjadi Kampung Warna-Warni sekaligus sebagai salah satu icon baru di kota Malang dan menjadikan kampung ini menjadi cikal bakal dalam pembuatan kampung Tematik lainnya seperti Kampung Putih, Kampung Biru Arema, Kampung Tridi, dan Kampung Hijau. Banyak pihak juga yang sudah mengapresiasi kampung warna yang digagas oleh mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi UMM ini, hanya saja memang harus tetapa ada yang namanya perkembangan berkala agar kampung warna ini tetap terjaga keeksisannya dan supaya tidak tenggelam seiring berjalannya waktu karena

(6)

6 jika sampai hal itu terjadi tentunya akan membuat image kampung warna kembali seperti semula.

Permasalahan yang rumit tentunya juga akan tetap timbul seiring berkembangnya kampung warna yang pastinya berdampak pada masyarakat setempat sendiri. Meskipun demikian masyarakat setempat hanyalah sebuah agen yang dibentuk untuk mengubah pandangan masyarakat akan permukiman pinggir sungai yang selama ini dianggap kumuh. Apapun resiko yang akan dihadapi merupakan sebuah konsekuensi atas sebuah pilihan yang sudah diambil untuk melakukan adanya sebuah perubahan.

Pergeseran permukiman pinggir sungai menjadi kampung warna ini tentunya juga dapat menimbulkan beberapa implikasi. Sisi-sisi sosial yang sangat menarik untuk dikaji menimbulkan berbagai dinamikan dalam kehidupan masyarakat. Keterlibatan aktor perubahan-dalam hal ini masyarakat setempat, penggagas, dan pihak sponsor-memberikan nuansa tersendiri dalam proses perubahan. Untuk itu dirasa perlu melakukan suatu penelitian guna mengungkap aspek-aspek lain yang dialami masyarakat setempat terkait pergeseran tersebut. Latar belakang di atas tentunya bisa sedikit menuai gambaran atas topik penelitian ini dan berdasarkan hal tersebut maka penulis mengangkat judul “Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Permukiman Pinggir Sungai (Studi di Kampung Jodipan Pinggir Brantas Kota Malang)” dengan harapan mampu menjabarkan kondisi dari perubahan sosial budaya yang dialami oleh masyarakat pinggir sungai yang telah mengalami modifikasi lingkungan.

(7)

7 1.2 Rumusan Masalah

Merubah permukiman pinggir sungai menjadi kampung warna-warni dan pencetus lahirnya kampung tematik tentunya banyak faktor yang mempengaruhi. Apalagi perubahan tersebut terjadi di daerah Jodipan Malang yang notabennya ada di pusat kota dan langsung menjadi sebuah pusat perhatian tersendiri dalam masyarakat. Hal tersebut tentunya juga merubah pola pikir masyarakat terhadap permukiman pinggir kali yang biasanya diidentikan dengan kata kumuh. Untuk itu, berdasarkan urain yang telah disampaikan dari latar belakang, maka dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

1.2.1 Bagaimana perubahan sosial budaya masyarakat permukiman pinggir sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas?

1.2.2 Bagaimana dampak perubahan sosial budaya pada masyarakat permukiman pinggir sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti dalam penelitian ini adalah :

1.3.1 Untuk mengetahui dan memahami perubahan sosial budaya masyarakat permukiman pinggir sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas yang berkaitan dengan bagaimana kehidupan sosial budaya masyarakat sekitar sebelum dan sesudah adanya perubahan.

1.3.2 Untuk mengetahui dan memahami dampak perubahan sosial budaya masyarakat permukiman pinggir sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas

(8)

8 1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Manfaat yang diharapkan secara umum oleh peniliti dari penelitian yang dilakukan adalah untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan sosial terutama cabang sosiologi, penelitian ini diharapkan akan mampu memberikan konstribusi dalam kajian perubahan sosial, khususnya teori “Diferensiasi Struktural” oleh Neil J. Smelser.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil dari penelitian ini diharapkan memberi banyak manfaat bagi banyak kalangan dalam menunjang referensi untuk kajian-kajian terkain. Manfaat secara praktis dapat penulis uraikan sebagai berikut.

1) Peneliti

Hasil penelitian tentang perubahan sosial budaya pada masyarakat permukiman pinggir sungai di Kampung Jodipan ini dapat dijadikan sebagai rujukan dan data pendukung untuk peneliti-peneliti selanjutnya dalam melakukan peneliti-penelitian yang serupa. 2) Pemerintah

Hasil dari penelitian tersebut dapat dijadikan sebagai rujukan, pertimbangan, dan dasar bagi pihak pemerintahan dari tingkat RT sampai Kota dalam melakukan analisis perubahan sosial budaya pada masyarakat permukiman pinggir sungai serta dalam pembentukan kampung tematik selanjutnya sehingga dalam perencanaannya lebih matang lagi dan dapat meminimalisir dampak negatif yang terjadi.

(9)

9 3) Civitas Akademik

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi referensi baru bagi mahasiswa maupun dosen, sebagai penunjang keilmuan dan mempertajam analisis yang berkaitan dengan topik-topik yang diangkat dalam penelitian. Terutama dalam tema perubahan sosial budaya pada masyarakat permukiman pinggir sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas.

4) Masyarakat Permukiman Pinggir Sungai Kampung Jodipan Pinggir Brantas.

Hasil penelitian tentang perubahan sosial budaya pada masyarakat permukiman pinggir sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas ini dapat dijadikan rujukan dan pertimbangan bagi masyarakat setempat sehingga masyarakat dapat memahami dan menilai perubahan sosial budaya yang ada pada masyarakat Kampung Jodipan Pinggir Brantas.

1.5 Definisi Konsep

1.5.1 Perubahan Sosial Budaya

Perubahan sosial budaya merupakan terjadinya suatu gejala dari perubahan struktur sosial dan pola budaya yang ada pada suatu masyarakat dan juga gejala umum yang berlangsung sepanjang masa pada setiap lapisan masyarakat karena hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin membuat perubahan (Baharuddin, 2015:191). Perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat tidak akan dapat dihindari sehingga setiap segmen lapisan masyarakat diharapkan

(10)

10 fleksibel dan menyikapi dengan bijak adanya perubahan yang akan terjadi, baik perubahan yang bersifat cepat atau lambat agar masyarakat dapat meminimalisir tingkat pengaruh negatif dari perubahan yang berasal dari dalam dan luar.

1.5.2 Masyarakat

Masyarakat adalah adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan dan mereka mempunyai kesamaan wilayah, identitas, mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan (Selo Soemardjan dalam Soekanto, 2010:22). Masyarakat sebagai kumpulan individu dalam satu kelompok yang menghasilkan budayaa dan juga sebagai pengguna budaya yang dihasilkan, memiliki peran untuk mempertahankan eksistensi budaya yang ada sehingga budaya tersebut dapat diteruskan kepada turunannya. Hal yang paling mendasar adalah tidak ada kebudayaan tanpa adanya masyarakat dan tidak ada masyarakat danpa kebudayaan karena keduanya berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Masyarakat menjadi suatu tatanan yang penting dalam suatu kehidupan.

1.5.3 Permukiman Pinggir Sungai

Permukiman Pinggir Sungai adalah suatu kawasan yang berada di tepi sungai dan difungsikan sebagai tempat tinggal oleh suatu masyarakat. Permukiman pinggir sungai yang dihuni oleh masyarakat terkadang sebagian merupakan lahan yang illegal dan identik dengan konsep pemukiman kumuh karena lingkungannya yang dekat dengan sungai yang mudah tercemar. Menurut Drakakakis-Smith dan Grimes

(11)

11 (Dalam Muta’ali dan Nugroho 2016) permukiman kumuh adalah kompleks permukiman yang secara fisik daerah kumuh, ditandai oleh bentuk rumah yang kecil dengan kondisi lingkungan yang buruk, pola settlement yang tidak teratur, kualitas lingkungan yang rendah, serta minimnya fasilitas umum. Definisi tersebut sudah jelas secara langsung mengambarkan mayoritas kondisi permukiman pinggir sungai yang ada di Indonesia dengan kondisi-kondisi yang disebutkan tersebut karena permukiman pinggir sungai kebanyakan memiliki bentuk rumah yang kecil, kondisi yang kurang memadai dan tidak aman karena terletak di pinggir sungai, pola settlement yang tidak teratur karena kondisi pijakan bangunan tidak rata sehingga polanya akan cenderung bertingkat-tingkat, kualitas lingkungan yang rawan terkena penyakit akibat dampak dari sungai tempat tinggal sekitar, dan juga minimnya fasilitas umum yang ditempatkan pemerintah di permukiman pinggir sungai.

1.6 Metode Penelitian

1.6.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode pendekatan penelitian kualitatif dimana dalam penelitian ini lebih menekankan pada makna proses daripada hasil suatu aktivitas. Moleong (2011:6) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah peleitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, presepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik dan juga dengan cara deskripsi dalam bentuk bahasa, pada suatu konteks

(12)

12 khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai macam metode alamiah.

Penggunaan pendekatan penelitian kualitatif tersebut ditujukan untuk memahami fenomena secara keseluruhan terkait perubahan sosial budaya pada masyarakat yang tinggal di pemukiman pinggir sungai Kampung Jodipan Pinggir Brantas dan sesuai untuk menggambarkan bagaimana permasalahan penelitian yang terjadi sehingga dengan pendekatan kualitatif nantinya dapat dideskripsikan hasil penelitian yang menyeluruh dan mendalam.

1.6.2 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif berjenis deskriptif. Menurut Arikunto (2010:3), penelitian deskriptif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal lain-lain yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian. Metode deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk memaparkan atau menggambarkan perubahan sosial budaya pada masyarakat permukiman pinggir sungai diKampung Jodipan Pinggir Brantas.

Selain itu menurut Sukmadinata (2012:54) metode deskriptif adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung pada saat ini atau saat yang lampau. Berkaitan dengan hal-hal yang dikaji dalam penelitian deskriptif, Sukmadinata (2012:72) juga menjelaskan bahwa penelitian deskriptif mengkaji bentuk aktifitas, karakteristik, perubahan, hubungan,

(13)

13 kesamaan dan perbedaannya dengan fenomena lain sehingga berdasarkan hal tersebut perubahan sosial budaya pada masyarakat permukiman pinggir sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas sudah sesuai untuk dikaji menggunakan penelitian deskriptif.

Metode penelitian deskriptif digunakan dalam penelitian ini juga dengan harapan agar hasil penelitian dapat diungkap dan dijabarkan secara detail serta dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca karena tidak terdiri dari angka-angka melainkan berisi informasi deskriptif yang terdiri dari kata-kata, table serta gambar yang membantu memperjelas deskripsi yang ada.

1.6.3 Lokasi Penelitian

Penelitian tersebut dilaksanakan pada masyarakat yang tinggal di pinggir sungai yang berada di Gang 1, Jodipan, Blimbing, Kota Malang yang dulu dikenal dengan nama Kampung Jodipan Pinggir Brantas dan sekarang lebih popouler dengan nama Kampung Warna-Warni Jodipan. Kampung Warna-Warni ini adalah sebuah proyek hasil kerja sama praktikum mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang dan kegiatan CSR (Corporate social Responsibility) oleh PT. Indana Paint Malang. Dalam beberapa tahun terakhir, pemukiman pinggir sungai yang sebelumnya tidak dilirik oleh masyarakat ini berubah secara signifikan hingga dijadikan sebagai ikon kampung wisata di Kota Malang. Penelitian akan berfokus pada masyarakat setempat untuk mengetahui secara langsung bagaimana perubahan sosial budaya yang terjadi saat ini.

(14)

14 1.6.4 Teknik Penentuan Subjek Penelitian

Penentuan subjek penelitian menjadi bagian peneting dalam suatu penelitian karena penentuan subjek mempengaruhi keakuratan data dan informasi yang diperoleh dalam penelitian. Penetuan subjek dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2010:85), purposive sampling merupakan suatu teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Hal tersebut berarti dalam penelitian ini, sampel diambil bukan secara acak melain secara sengaja dengan tujuan dan pertimbangan yang sesuai dengan data yang ingin diperoleh.

Tujuan dan pertimbangan pengambilan subjek/sampel penelitian ini adalah sampet tersebut berkaitan dan mengetahu sekaligus merasakan perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat yang tinggal di pemukiman pinggir sungai Kampung Jodipan Pinggir Brantas. Subjek penelitian yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dalam penelitian ini adalah:

1) Birokrasi setempat sebagai orang yang secara administratif berperan dalam pengelolaan permukiman dan mengetahui kondisi masyarakat setempat.

2) Tokoh Masyarakat Setempat sebagai orang yang berpengaruh di Kampung Jodipan Pinggir Brantas dengan kriteria memahami seluk beluk permukiman dari jaman dulu hingga sekarang.

(15)

15 3) Mayarakat setempat yang merasakan perubahan sosial budaya setelah berubahnya permukiman pinggir sungai biasa menjadi Kampung ikonik di Kota Malang.

Alasan dipilihnya subyek penelitian tersebut adalah subyek yang sudah ditentukan dengan purposive sampling tersebut memiliki keterkaitan informasi satu sama lain dalam mendukung diperolehnya data dalam penelitian Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Permukiman Pinggir Sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas Malang. Sampel penelitian lebih lanjut dipaparkan pada BAB IV.

1.6.5 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini dikelompokan menjadi dua tipe data yaitu data primer dan data sekunder.

1) Data Primer

Data primer diperoleh peneliti tanpa melalui perantara atau sumber lainnya. Data primer dalam penelitian ini didapat melalui pengamatan secara langsung/observasi terkait keadaan Kampung Jodipan Pinggir Brantas pada masa kini dan bagaimana perubahan sosial budaya yang terjadi serta wawancara dengan subyek penelitian yang berkaitan dengan permasalahan pada penelitian ini untuk menggali data sedalam-dalamnya.

2) Data Sekunder

Data sekunder diperoleh peneliti dengan cara tidak langsung ataupun melalui perantara media atau sumber informasi terkait. Data sekunder dalam penelitian ini memuat hasil penelitian terdahulu,

(16)

16 berita, foto, dan dokumen resmi pemerintah atau pribadi yang berkaitan dengan informasi Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Permukiman Pinggir Sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas Malang yang bersifat masa lampau sebelum perubahan dan masa sekarang setelah mengalami perubahan untuk menunjang hasil penelitian agar dapat digambarkan sejelas-jelasnya.

1.6.6 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan tiga teknik untuk mendapatkan data penelitian, yaitu : (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) dokumentasi.

a. Observasi

Observasi merupakan pengamatan secara langsung terhadap subjek penelitian termasuk kondisi sekitar yang berkaitan dengan penelitian. Pengertian observasi menurut Supriyati (2011:46) adalah suatu cara untuk mengumpulkan data penelitian yang mempunyai sifat dasar naturalistik dan berlangsung dalam konteks natural, pelakunya berpartisipasi secara wajar dalam interaksi. Pelaku yang dimaksud tersebut adalah peneliti, dimana penelitian mengamati dengan cara tidak mencolok seolah-olah tindak kentara sedang melakukan penelitian.

Peneliti dalam melakukan observasi pada penelitian ini menggunakan teknik observasi tidak langsung dan observasi secara langsung. Observasi tidak langsung dilakukan ketika mengamati kondisi Kampung Jodipan Pinggir Brantas dan aktivitas masyarakatnya secara keseluruhan disekitar lokasi penelitian

(17)

17 sementara observasi secara langsung dilakukan kepada beberapa subyek penelitian yaitu masyarakat sekitar dan turut serta secara langsung dalam mengikuti kegiatan yang dilakukan subyek di sekitar lokasi penelitian. Tujuan dari kedua observasi ini adalah untuk memperoleh data yang berkaitan dengan Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Permukiman Pinggir Sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas Malang yang bersifat masa lampau sebelum mengalami perubahan dan masa sekarang setelah mengalami perubahan.

b. Wawancara

Wawancara adalah salah satu teknik dan instrument dalam memperoleh data dengan cara berinteraksi secara langsung dengan responden. Menurut Sugiyono (2010:194), wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti hendak melaksanakan studi pendahuluan yang bertujuan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit.

Wawancara yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini dilakukan kepada seluruh subyek penelitian yang sebelumnya sudah disebutkan. Wawancara terstruktur dilakukan kepada pihak birokrasi setempat sehingga diperoleh data secara rinci dan runtut dengan pedoman wawancara yang sudah ada, sedangkan penelitian secara tidak terstruktur/ secara alamiah dilakukan kepada tokoh masyarakat

(18)

18 dan masyarakat sekitar guna diperoleh data yang bersifat alami dari pertanyaan dan jawaban yang mengalir begitu saja melalui perbincangan yang mendalam tanpa adanya pedoman wawancara yang disusun terlebih dahulu.

c. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan kegiatan untuk menggali data melalui dokumen berupa foto, teks, video, atau audio. Menurut Hamidi (2004:72), metode dokumentasi mengambil informasi yang berasal dari catatan penting baik dari lembaga atau organisasi dan juga dari perorangan. Dokumentasi, peneliti lakukan dalam penelitian ini untuk memperkuat hasil penelitian.

Data dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data-data yang mendukung tema penelitian ini, yaitu Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Permukiman Pinggir Sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas Malang yang bersifat masa lampau sebelum mengalami perubahan dan masa sekarang setelah mengalami perubahan. Data dokumetasi tersebut seperti foto-foto dokumenter terkait kondisi secara fisik maupun sosial Kampung Jodipan Pinggir Brantas sebelum dan sesudah perubahan, film dokumenter yang menyajikan kondisi pemukiman pinggir sungai Jodipan, berita-berita baik online atau secara fisik seperti koran terkait pemberita-beritaan Kampung Jodipan Pinggir Brantas, dan data-data terkait kependudukan di kantor pemerintahan setempat yang dapat mendukung penelitian.

(19)

19 1.6.7 Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini mencangkup pengumpulan sampai penyusunan data yang dilakukan secara sistematis dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang telah diperoleh akan dianalisis secara kualitatif serta diuraikan dalam bentuk deskriptif.

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh Burhan Bungin, yaitu sebagai berikut:

1) Pengumpulan Data (Data Collection)

Pengumpulan data merupakan bagian umum dan integral dari kegiatan analisis data (Bungin, 2008:94). Kegiatan pengumpulandata pada penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi sehingga diperoleh data-data yang diinginkan terkait tema penelitian ini yaitu Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Permukiman Pinggir Sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas Kota Malang.

2) Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi data, diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan (Bungin, 2008:94). Reduksi pada penelitian ini dilakukan sejak pengumpulan data dimulai dengan membuat ringkasan atau rangkuman data yang di dapat, menelusur tema yang sesuai, menulis memo yang berkaitan dengan permasalahn penelitian yang dimaksudkan untuk menyisihkan data/informasi yang

(20)

20 tidak relevan sehingga data yang berhubungan dengan tema yaitu Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Permukiman Pinggir Sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas Malang ini didapat secara lebih jelas dan mempermudah dalam pengumpulan data selanjutnya atau mencari data yang belum ada tapi diperlukan.

3) Penyajian Data (Display Data)

Penyajian data adalah pendeskripsian kumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan (Bungin, 2008:94). Data dalam penelitian ini akan disajikan dalam bentuk teks naratif yang menggambarkan bagaimana kondisi perubahan sosial budaya masyarakat permukiman pinggir sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas Malang. Penyajiannya data lainnya dalam penelitian ini juga dapat berbentuk matrik, diagram, tabel dan bagan yang berkaitan dengan masalah penelitian.

4) Verifikasi dan Penegasan Kesimpulan (Conclution Drawing and Verification)

Verifikasi dan penegasan kesimpulan merupakan kegiatan akhir dari analisis data dalam penelitian ini. Penarikan kesimpulan berupa kegiatan interpretasi, yaitu menemukan makna data yang telah disajikan (Bungin, 2008:94). Penarikan kesimpulan pada penelitian ini dilakukan dengan menemukan makna data yang sudah disajikan pada tahap penyajian data. Antara penyajian data dan penarikan kesimpulan dalam penelitian ini terdapat aktivitas analisis data yang telah ada. Selanjutnya data yang telah dianalisis, dijelaskan dan dimaknai dalam bentuk kalimat

(21)

21 deskriptif untuk mendiskripsikan fakta di lapangan yang telah ditemukan peneliti terkait perubahan sosial budaya masyarakat permukiman pinggir sungai di Kampung Jodipan Pinggir Brantas Malang. Fakta yang sudah dijabarkan dan dimaknai tersebutlah yang menjadi penegasan kesimpulan dalam penelitian ini.

1.6.8 Uji Keabsahan Data

Uji keabsahan data atau uji validitas data merupakan suatu pengujian dalam penelitian untuk mengetahui kesesuaian antar data yang terjadi pada obyek penelitian dengan data yang dipaparkan oleh peneliti. Penelitian ini menggunakan triangulasi dalam melakukan uji kredibilitas data yang merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan sumber data lain diluar data yang telah didapatkan untuk melakukan pengecekan data atau melakukan perbandingan data. Triangulasi yang dilakukan dalam penelitian ini ada tiga macam yaitu berdasarkan Sugiyono (2010:273) yang diantaranya adalah (1) triangulasi sumber, (2) triangulasi teknik pengumpulan data, dan (3) triangulasi waktu.

1) Triangulasi Sumber

Peneliti melakukan pengujian kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data dari beberapa sumber selain sumber yang sudah didapat tetapi masih menjadi kategori subjek yaitu masyarakat setempat Kampung Jodipan Pinggir Brantas, tokoh masyarakat, dan pihak birokrasi setempat Kampung Jodipan Pinggir Brantas. Subjek masyarakat setempat akan dipilih yang lokasi tempat tinggalnya agak berjauhan dengan subjek sebelumnya, pengujian terhadap tokoh

(22)

22 masyarakat akan dilakukan jika ada tokoh masyarakat lainnya, dan untuk subjek birokrasi peneliti akan melakukan pengecekan terhadap sekertaris RT/RW atau mantan ketua RT/RW yang man sebelumnya subjek adalah ketua R/RW. Teknik yang digunakan dalam melakukan triangulasi data tersebut adalah wawancara terhadap tokoh masyarakat dan pihak birokrasi sedangkan pada masyarakat setempat dilakukan dengan cara wawancara sekaligus observasi.

2) Triangulasi Teknik Pengumpulan Data

Peneliti melakukan uji kredibilitas data dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama tetapi dengan teknik yang berbeda yaitu mengecek kesesuaian hasil wawancara yang dilakukan kepada masyarakat sekitar, tokoh masyarakat, dan pihak birokrasi dengan hasil dokumantasi berupa berita dari media yang diterbitkan secara online atau dalam bentuk surat kabar karena sudah banyak media yang sudah meliput berita mengenai Kampung Jodipan Pinggir Brantas yang saat ini lebih populer dengan nama Kampung Warna-Warni Jodipan sehingga hasil wawancara yang sudah dipublikasikan di media bisa dibandingkan dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti. 3) Triangulasi Waktu

Triangulasi yang dilakukan peneliti yaitu melakukan uji kredibilitas data dengan cara mengumpulkan hasil observasi dan wawancara di pagi, siang, dan malam hari atau pada situasi yang berbeda supaya data yang dipaparkan lebih valid dan kredibel. Kemudian untuk teknik wawancara, pada penelitian ini penulis akan

(23)

23 cenderung melakukan penelitian pada malam hari dimana masyarakat permukiman rata-rata sudah tidak melakukan aktivitas lagi sehingga dapat melakukan wawancara secara leluasa, kemudian dilakukan uji kredibilitas secara tiba-tiba pada siang hari terhadap subyek yang diwawancara pada siang hari.

Referensi

Dokumen terkait

Arsip merupakan sendi bagi keberadaan suatu organisasi, baik organisasi pemerintah, swasta maupun perorangan. Setiap manusia pasti mempunyai arsip mengingat arsip

Data dan informasi yang terkait dengan penelitian berasal dari hasil wawancara dengan informan penelitian dan hasil dokumentasi terkait dengan perilaku konsumsi

Explicit knowledge seperti ketersedian dan kelengkapan dokumentasi-dokumentasi dari asisten terdahulu sangat dibutuhkan oleh para asisten yang baru dalam proses

[2] Berisikan kode Kementerian Negara/Lembaga diikuti dengan uraian nama Kementerian Negara/Lembaga. [3] Berisikan kode Unit Organisasi diikuti dengan uraian Unit

(2004), mengemukakan bahwa kualitas pendidikan dan jasa yang ditawarkan oleh lembaga pendidikan signifikan dengan ketetapan mahasiswa untuk memilih lembaga

Menurut Jufrizen (2017) Budaya organisasi berkaitan dengan bagaimana karyawan mempersiapkan karakteristik dari budaya suatu organisasi. Budaya organisasi dapat

Menurut Roberts (2004), dalam Kurniawan, 2014, mengatakan bahwa GNSS merupakan suatu sistem navigasi dan penentuan posisi geospasial (bujur, lintang, dan

Dokumentasi, pengumpulan data dan informasi yang diperoleh bertujuan untuk dipakai sebagai tanda bukti atau keterangan, baik sesuatu yang tertulis dalam bentuk