• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA DI SEKOLAH NOVAN ARDY WIYANI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA DI SEKOLAH NOVAN ARDY WIYANI"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

MANAJEMEN PENDIDIKAN

MANAJEMEN PENDIDIKAN

MANAJEMEN PENDIDIKAN

MANAJEMEN PENDIDIKAN

KARAKTER

KARAKTER

KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA DI SEKOLAH

(2)

Penulis: Penulis:

y NOVAN ARDY WIYANI

Penerbit :

PEDAGOGIA

Jl K M h

y Jl. Kenanga, Maguwoharjo,

Depok, Sleman Yogyakarta 55232 Telp 0274 4332394 4332397 y Telp. 0274-4332394, 4332397, Fax. 0274-4332395 y Email: redaksi@insanmadani com [email protected] y Website : www.insanmadani.com Tebal: 176 halaman

(3)

Daftar

Daftar Isi

Isi

Kata Pengantar Daftar Isi

Bab 1 KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER

BAB 4 KOMPONEN GURU (KOMITMEN GURU DALAM PENDIDIKAN KARAKTER)

A. Peran Guru dalam Pelaksanaan Pendidikan Karakter di

sekolah

A. Latar Belakang Pendidikan Karakter B. Target Pendidikan Karakter

C. Pengaruh Pendidikan Karakter D. Landasan Pendidikan Karakter

B. Wujud Komitmen Guru dalam Pelaksanaan Pendidikan

Karakter di Sekolah

BAB 5 KOMPONEN KURIKULUM (RACIKAN KURIKULUM PENDIDIKAN KARAKTER)

E. Pendekatan Pendidikan Karakter

Bab 2 SEKOLAH SEBAGAI ENTITAS STRATEGIS DALAM IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

A Tanggung Jawab dan Kewajiban sekolah

A. Kurikulum Pendidikan Karakter

B. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Karakter

BAB 6 KOMPONEN PEMBIAYAAN (PEMBIAYAAN YANG BERPIHAK PADA

A. Tanggung Jawab dan Kewajiban sekolah

B. Sekolah di era Teknologi Informasi dan Komunikasi C. Sekolah sebagai Wahana Pendidikan Karakter

Bab 3 KONSEP MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER)

A. Pengertian Pembiayaan Pendidikan Karakter B. Sumber Dana Pendidikan Karakter

C. Merencanakan Anggaran Pelaksanaan Pendidikan

KARAKTER DI SEKOLAH

A. Pengertian Manajemen Pendidikan Karakter

B. Fungsi dan Tujuan Manajemen Pendidikan Karakter di

Sekolah

C. Merencanakan Anggaran Pelaksanaan Pendidikan

Karakter di Sekolah

BAB 7 KOMPOSISI PENGELOLAAN (BUDAYA SEKOLAH BERBASISI PENDIDIKAN KARAKTER)

A. Pembiasaan Keteladanan C. Pilar-pilar Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah

D. Metode Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah E. Strategi Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah

B. Pembiasaan Spontan C. Pembiasaan Rutin D. Pengondisian

El B d S k l h B b P d d k K k

(4)

Bab

Bab II

Bab

Bab II

KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER

KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER

A. Latar Belakang Pendidikan Karakter

Salah satu upaya untuk memperbaiki kualitas

p y

p

sumber daya manusia adalah munculnya

gagasan pendidikan karakter dalam dunia

pendidikan di Indonesia. Gagasan yang muncul

karena proses pendidikan yang selama ini

dil k k

di il i b l

h

b h il

dilakukan dinilai belum sepenuhnya berhasil

dalam membangun manusia Indonesia yang

berkarakter atau bahkan bisa dikatakan

berkarakter atau bahkan bisa dikatakan

pendidikan Indonesia telah gagal dalam

membangun karakter bangsa.

(5)

B. Target Pendidikan Karakter

Beberapa masalah yang dihadapi bangsa

Indonesia ini antara lain:

1.

Kemiskinan dan Keterbelakangan

2

Konfik SARA

2.

Konfik SARA

3.

Budaya Pembodohan oleh Televisi

K

i

ki

l

4.

Korupsi yang semakin meluas

5.

Kerusakan alam

(6)

C. Pengaruh Pendidikan Karakterg

Buku yang disusun oleh Joseph Zins, dkk tersebut menegaskan bahwa kecerdasan emosional, yang g , y g

didalamnya terkait erat dengan pendidikan karakter, ternyata berpengaruh sangat kuat dengan

keberhasilan belajar. Faktor-faktor tersebut ternyata bukan terletak pada kecerdasan intelektual,

melainkan pada karakter sebagai berikut:

1. Rasa percaya diri

2. Kemampuan bekerja sama 3. Kemampuan bergaulp g

4. Kemampuan berempati

5 Kemampuan berkomunikasi 5. Kemampuan berkomunikasi

(7)

D. Landasan Pendidikan Karakter

1.

Landasan filsafat manusia

2

Landasan filsafat Pancasila

2.

Landasan filsafat Pancasila

3.

Landasan filsafat pendidikan umum

L d

li i

4.

Landasan religius

5.

Landasan sosiologi

6.

Landasan psikologis

7.

Landasan teoretik

7.

Landasan teoretik

(8)

E. Pendekatan Pendidikan Karakter

1 P d k t K h if d l P didik K kt

1. Pendekatan Komprehensif dalam Pendidikan Karakter

Istilah komprehensif yang digunakan dalam pendidikan karakter mencakup beberapa aspek.

karakter mencakup beberapa aspek.

‰ Pertama, isinya harus komprehensif, meliputi semua

permasalahan yang berkaitan dengan pilihan nilai-nilai yang besifat pribadi sampai pertanyaan-pertanyaan mengenai etika secara umum.

‰ Kedua metodenya harus komprehensif ‰ Kedua, metodenya harus komprehensif.

‰ Ketiga, pendidikan karakter hendaknya terjadi dalam

keseluruhan proses pendidikan di kelas, kegiatanp p , g ekstrakulikuler, proses bimbingan dan penyuluhan, upacara-upacara pemberian penghargaan, dan semua aspek kehidupan

aspek kehidupan.

‰ Keempat, pendidikan karakter hendaknya terjadi

melalui kehidupan dalam masyarakat. melalui kehidupan dalam masyarakat.

(9)

2. Pembelajaran terintegrasi

P b l j i i b ik l

Pembelajaran terintegrasi memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik, karena mereka memahami konsep-konsep, keterampilan-p p, p

keterampilan dan nilai-nilai yang mereka pelajari dengan menghubungkannya dengan konsep dan keterampilan lain yang sudah mereka pahami keterampilan lain yang sudah mereka pahami.

Ada berbagai model pembelajaran terpadu, tiga di antaranya adalah model terhubung (connected), y g ( ) model jaring laba-laba (webbed), dan model

terintegrasi (integrated).

3 Pengembangan Kultur Sekolah 3. Pengembangan Kultur Sekolah

Menciptakan kultur yangbermoral perlu diupayakan lingkungan sosial yang dapat mendorong subjekg g y g p g j

didik memiliki moralitas yangbaik/karakter yang terpuji.

(10)

Bab

Bab II

Bab

Bab II

SEKOLAH SEBAGAI ENTITAS STRATEGI DALAM

SEKOLAH SEBAGAI ENTITAS STRATEGI DALAM

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER

A.

Tanggung Jawab dan Kewajiban sekolah

S k l h b

j

b

k

Sekolah bertanggung jawab menanamkan

pengetahuan-pengetahuan baru yang

reformatif dan transformatif dalam

reformatif dan transformatif dalam

membangun bangsa yang maju dan berkualitas.

Sekolah juga bertanggung jawab

Sekolah juga bertanggung jawab

mentransformasikan nilai-nilai luhur kepada

siswa. Dengan demikian peran sekolah sangat

g

p

g

besar dalam menentukan arah dan orientasi

bangsa ke depan.

(11)

B. Sekolah di Era Teknologi Informasi dan Komunikasi

1 Fenomena Masyarakat Informasi 1. Fenomena Masyarakat Informasi

Dalam era informasi, eksistensi keluarga sebagai bagian dari masyarakat juga memberikan implikasi penting

b i i b didik M R i l h d

bagi sistem baru pendidikan. Menurut Reigeluth dan Garfinkel, model karakteristik masyarakat informasi tersebut antara lain:

‰ Tujuan dan model berkisar pada proses

pengorganisasian iptek mengenai informasi dan pengembangan pengetahuan.

pengembangan pengetahuan.

‰ Dasar kekuatannya adalah perluasan kekuatan kognitif

dengan teknologi tinggi.

P di d l h b fiki i ik l

‰ Paradigmanya adalah berfikir sistematik, munculnya

hubungan sebab akibat (causality), kompleksitas yang dinamis, orientasi ekologi.

(12)

‰

Berkembangnya teknologi; proses pengumpulan,

i

i

i

i f

i

pengorganisasian, penyimpanan informasi,

jaringan komunikasi, sistem perencanaan dan

rancangan.

‰

Komoditi pokok

‰

Pola konsumsi lebih kecil dan lebih efisien.

‰

Karakteristik organisasi; terpadu, sinergi,

g

;

p

,

g ,

(13)

2. Tantangan dan Peluang Sekolah di era teknologi

D i

ki

l b l k

i i

Dunia semakin mengglobal sekarang ini,

bergerak dan berubah semakin cepat dan

kompetitif Pemanfaatan komputer internet atau

kompetitif. Pemanfaatan komputer, internet, atau

multimedia untuk pendidikan harus sudah

dimulai sejak dari sekolah dasar. Namun dibalik

u a seja

a se o a

asa . a u

ba

kemajuan tersebut, terdapat beberapa tantangan.

Bagaimanapun majunya teknologi informasi dan

komunikasi, teknologi tersebut tidak dapat

menggantikan peran guru dalam pendidikan.

P

i

b h

bi

Peran strategis guru tersebut harus bisa

dimanfaatkan dengan optimal untuk

meminialisasi efek negatif yang ada

meminialisasi efek negatif yang ada.

(14)

C. Sekolah sebagai Wahana Pendidikan karakter

Di sekolah berlangsung proses transformasi nilai-nilai Di sekolah, berlangsung proses transformasi nilai nilai

luhur melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan kata kunci dari proses transformasi nilai nilai luhur di sekolah Fungsi transformasi nilai-nilai luhur di sekolah. Fungsi

transformasi nilai-nilai luhur yang dilaksanakan oleh sekolah mencakup lima dimensi, yaitu:

1. Pendidikan tidak hanya mencakup pengetahuan

dan keterampilan semata tetapi juga sikap, nilai, dan kepekaan pribadi

dan kepekaan pribadi.

2. Peran seleksi sosial (mencakup tidak hanya

pemberian sertifikat, tetapi juga melakukan seleksi

p p j g

terhadap peluang kerja).

3. Fungsi indoktrinasi

F i lih k

4. Fungsi pemeliharaan anak 5. Aktivitas kemasyarakatan.

(15)

Bab

Bab III

III

Bab

Bab III

III

KONSEP MANAJEMEN PENDIDIKAN

KONSEP MANAJEMEN PENDIDIKAN

KARAKTER DI SEKOLAH

KARAKTER DI SEKOLAH

KARAKTER DI SEKOLAH

KARAKTER DI SEKOLAH

A.

Pengertian manajemen Pendidikan Karakter

g

j

1.

Pengertian Manajemen Pendidikan

Kata manajemen berasal dari bahasa Inggris

Kata manajemen berasal dari bahasa Inggris,

yaitu management dari kata kerja to manage,

diartikan secara umum sebagai mengurusi

diartikan secara umum sebagai mengurusi,

mengelola.

(16)

Menurut Wikipedia, kata manajement berasal dari bahasa

Perancis kuno, yaitu management, yang artinya melaksanakany g y g y dan mengatur.

2. Pengertian Pendidikan Karakter

Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia karakter diartikan Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, tabiat, watak, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Pendidikan karakter dalam setting sekolah merupakan Pendidikan karakter dalam setting sekolah merupakan pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan

pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah Definisi pada suatu nilai tertentu yang dirujuk oleh sekolah. Definisi ini mengandung makna:

‰ Pendidikan karakter adalah pendidikan yang terintegrasi

dengan pembelajaran yang terjadi pada semua mata pelajaran dengan pembelajaran yang terjadi pada semua mata pelajaran. ‰ Pendidikan karakter diarahkan pada pengembangan perilaku

anak secara utuh.

‰ P d b il k d l didik

‰ Penguatan dan pengembangan perilaku dalam pendidikan karakter didasari oleh nilai yang dirujuk sekolah.

(17)

3. Pengertian Manajemen Pendidikan Karakter

M j didik k k d l h i

Manajemen pendidikan karakter adalah strategi yang diterapkan dalam pengembangan pendidikan

karakter yang diselenggarakan dengan hasrat dan karakter yang diselenggarakan dengan hasrat dan niat untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai luhur untuk mewujudkan misi sosial sekolah melalui kegiatan manajemen.

Komponen-komponen yang terdapat dalam j didik k k di k l h

manajemen pendidikan karakter di sekolah antara lain: ‰Komponen kurikulum ‰Komponen kurikulum ‰Komponen pengelolaan ‰Komponen pembiayaanp p y ‰Komponen guru ‰Komponen siswa

(18)

B. Fungsi dan Tujuan Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah

1. Fungsi Manajemen Pendidikan

Unsur-unsur manajemen dapat dibagi menjadi 10 b bagian, yaitu: ‰ Forecasting ‰ Planning ‰ Planning ‰ Organizing

‰ Staffing atau Assembling Resources ‰ Staffing atau Assembling Resources ‰ Directing/Commanding ‰ Leading ‰ Leading ‰ Coordinating ‰ Motivatingg ‰ Controlling ‰ Reporting

(19)

2. Tujuan Pendidikan Karakter

S i l j didik k k di

Secara operasional, tujuan pendidikan karakter di sekolah adalah sebagai berikut:

‰Menguatkan dan mengembangkan nilai nilai ‰Menguatkan dan mengembangkan nilai-nilai

kehidupan yang dianggap penting dan perlu sehingga menjadi kepribadian kepemilikan peserta didik yang j p p p y g khas sebagaimana nilai-nilai yang dikembangkan.

‰Mengoreksi perilaku peserta didik yang tidakg p p y g

bersesuaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan oleh sekolah.

M b k k h d k l

‰Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga

dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab karakter bersama

(20)

Tujuan pertama pendidikan karakter adalah

memfasilitasi penguatan dan pengembangan

memfasilitasi penguatan dan pengembangan

nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam

perilaku anak, baik ketika proses sekolah

perilaku anak, baik ketika proses sekolah

maupun setelah proses sekolah (lulus sekolah).

Tujuan kedua pendidikan karakter di sekolah

ujua

e ua pe

a

a a te

se o a

adalah mengoreksi perilaku peserta didik yang

tidak bersesuaian dengan nilai-nilai yang

dikembangkan sekolah.

Tujuan ketiga dalam pendidikan karakter setting

sekolah adalah membangun koneksi yang

harmoni dengan keluarga dan masyarakat

d

k

t

j

b

didik

dengan memerankan tanggung jawab pendidikan

karakter secara bersama.

(21)

3. Fungsi dan Tujuan Manajemen Pendidikan

Karakter

Perencanaan

Perencanaan manajemen pendidikan karakter

mempunyai 2 fungsi, yaitu:

p y

g , y

1. Forecasting

2 Planning

2. Planning

3. Pengawasan

4. Pembinaan

(22)

C. Pilar-pilar Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah 1 Pilar-pilar Manajemen Pendidikan

1. Pilar pilar Manajemen Pendidikan ‰ Division of work

‰ Autority and responsibility ‰ Discipline

‰ Unity of command ‰ Unity of direction ‰ Unity of direction

‰ Subordination of individual interest to general interest ‰ Remuneration of personnel ‰ Centralization ‰ Scalar chain ‰ Order ‰ Order ‰ Equity

‰ Stability of tonure of personnel ‰ Initiative

(23)

2. Pilar-pilar Pendidikan Karakter

Heritage Foundation merumuskan sembilan

karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan

k

kt K

bil

k

kt t

b t d l h

karakter. Kesembilan karakter tersebut adalah:

‰Cinta kepada Tuhan dan semesta beserta isinya.

‰Tanggung jawab disiplin dan mandiri

‰Tanggung jawab, disiplin, dan mandiri.

‰Jujur

‰Hormat dan santun

‰Hormat dan santun

‰Kasih sayang, peduli, dan kerja sama.

‰Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang

‰Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah.

‰Keadilan dan kepemimpinan.

‰Baik dan rendah hati.

(24)

Sedangkan enam pilar karakter berdasarkan The

six Pillar of Character yang dikeluarkan oleh

Character Counts Coalition (A Project of The Joseph

Institute of Ethics) adalah sebagai berikut:

‰

Trustworthiness

‰

Fairness

‰

Caring

‰

Caring

‰

Respect

‰

Ci i

hi

‰

Citizenship

‰

Responsibility

(25)

Ari Ginanjar dengan teori ESQ menyodorkan

pemikiran bahwa setiap karakter positif

sesungguhnya akan merujuk pada sifat-sifat

mulia Allah swt., yaitu Asmaul Husna.

‰

Jujur

‰

Tanggung jawab

‰

Disiplin

‰

Disiplin

‰

Visioner

‰

Adil

‰

Adil

‰

Peduli

‰

Kerja sama

(26)

3. Pilar-pilar Manajemen Pendidikan Karakter K l k l h d l h l d A l d

Kepala sekolah adalah leader. Agar peran leader sekaligus sebagai manajer dapat dimainkan secara maksimal maka kepala sekolah dan guru harus maksimal, maka kepala sekolah dan guru harus memainkan pilar-pilar manajemen di bawah ini:

‰Cinta kepada Tuhan, warga sekolah, dan masyarakat.p , g , y ‰Visioner, inisiatif, kreatif, adil dan tulus dalam

bekerja.j

‰Kerja keras, pantang menyerah dan tanggung jawab

dalam bekerja.

‰Mendahulukan kepentingan sekolah di atas

kepentingan pribadi

D l l d b k

‰Disiplin, toleran dan mampu bekerja sama.

(27)

D. Metode Manajemen Pendidikan Karakter di S k l h

Sekolah

1. Metode Manajemen Pendidikan

Kepala sekolah dan guru bekerja me-manage sekolah dengan 7 metode di bawah ini:

‰ Tidak sembarangan dalam bekerja ‰ Komitmen secara efektif dan efisien. ‰ Sungguh-sungguh dan teliti.

‰ Memiliki dinamika yang tinggi. ‰ Memiliki dinamika yang tinggi.

‰ Berkomitmen terhadap masa depan.

‰ Memiliki kepekaan terhadap perkembangan ‰ Memiliki kepekaan terhadap perkembangan

masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

‰ Bersikap istiqomah ‰ Bersikap istiqomah

(28)

2. Metode Pendidikan Karakter di Sekolah

Untuk mencapai pertumbuhan dalam pendidikan

karakter perlu dipertimbangkan berbagai

macam metode. Paling tidak ada lima unsur yang

perlu dipertimbangkan.

‰

Mengajarkan

‰

Keteladanan

‰

Keteladanan

‰

Menentukan prioritas

‰

P k i

i i

‰

Praksis prioritas

‰

Refleksi

(29)

3. Metode Manajemen Pendidikan Karakter

Metode manajemen pendidikan karakter harus Metode manajemen pendidikan karakter harus

bertolak dari dunia empiris sebagaimana terwujud dalam fenomena dari dunia empiris sebagaimana

d d l f k k d l k

terwujud dalam fenomena praktik dan pelaksanaan operasional manajemen pendidikan karakter pada komponen kurikulum, pengelolaan, pembiayaan, p , p g , p y , guru dan siswa.

a. Metode deduksi

Metode deduksi dimulai dari menentukan nilai-nilai luhur(menentukan praksis prioritas)

kemudian mengajarkannya kepada peserta didik. kemudian mengajarkannya kepada peserta didik.

b. Metode induksi konsultasi

Metode induksi konsultasi dilakukan dengan carag kepala sekolah dan guru memberikan motivasi

kepada peserta didik untukmelaksanakan nilai-nilai luhur

(30)

E. Strategi Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah Penerapan pendidikan karakter di sekolah dapat

ditempuh melalui empat alternatif strategi secara d

terpadu.

1. Mengintegrasi konten pendidikan karakter yang

telah dirumuskan ke dalam seluruh mata pelajaran

2. Mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam

kegiatan sehari-hari di sekolah.

3. Mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam

kegiatan yang diprogramkan atau direncanakan.

4. Membangun komunikasi dan kerja sama antara

(31)

Bab

Bab IV

IV

KOMPONEN GURU (KOMITMEN GURU

KOMPONEN GURU (KOMITMEN GURU

KOMPONEN GURU (KOMITMEN GURU

KOMPONEN GURU (KOMITMEN GURU

DALAM PENDIDIKAN KARAKTER)

DALAM PENDIDIKAN KARAKTER)

A. Peran Guru dalam Pelaksanaan Pendidikan Karakter di

Sekolah

Peran diartikan sebagai perangkat tingkah atau sikap yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di

diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan di masyarakat.

Sehubungan dengan peran sebagai pembimbing seorang guru harus:

guru harus:

1. Mengumpulkan data tentang siswa.

2. Mengamati tingkah laku siswadalam situasi sehari-hari. 3. Mengenal para siswa yang memerlukan bentuan khusus. 4. Mengadakan pertemuan atau hubungan dengan orang tua

siswa, baik secara individu maupun secara kelompok, untukp p memperoleh saling pengertian tentang pendidikan anak. 5. Bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga-lembaga

(32)

6.

Membuat catatan pribadi siswa serta

menyiapkannya dengan baik.

7.

Menyelenggarakan bimbingan kelompok atau

individu.

8.

Bekerja sama dengan petugas-petugas

j

g

p

g p

g

bimbingan lainnya untuk membantu

memecahkan masalah siswa.

9.

Menyusun program bimbingan sekolah

bersama-sama dengan petugas bimbingan

bersama sama dengan petugas bimbingan

lainnya.

10

Meneliti kemajuan siswa baik di sekolah

10.

Meneliti kemajuan siswa, baik di sekolah

(33)

Peran guru dalam pelaksanaan pendidikan

karakter di seklah antara lain:

1.

Keteladanan

2.

Inspirator

3

Motivator

3.

Motivator

4.

Dinamisator

E l

5.

Evaluator

(34)

B. Wujud Komitmen Guru dalam Pelaksanaan P didik K k di S k l h

Pendidikan Karakter di Sekolah

Perwujudan komitmen guru dalam pelaksanaan d d k k k d k l h l

pendidikan karakter di sekolah antara lain:

1. Melaksanakan sosialisasi pendidikan karakter dan

melakukan komitmen bersama antara seluruh komponen warga sekolah (tenaga pendidik dan k didik t k it k l h)

kependidikan serta komite sekolah).

2. Membuat komitmen dengan semua stakeholders

( l h k l h t i k it (seluruh warga sekolah, orang tua siswa, komite, dan tokoh masyarakat setempat) untuk

mendukung pelaksanaan pendidikan karakter mendukung pelaksanaan pendidikan karakter.

3. Melakukan analisis konteks terhadap kondisi

sekolah (internal dan eksternal) sekolah (internal dan eksternal).

(35)

4. Menyusun rencana aksi sekolah berkaitan

dengan penetapan nilai-nilai pendidikan karakter.

5. Membuat perencanaan dan program

pelaksanaan pendidikan karakter.

6. Melakukan pengondisian seperti:

p g

p

Penyediaan sarana Keteladanan

Keteladanan

Penghargaan dan pemberdayaan

7 Melakukan penilaian keberhasilan dan supervisi

7. Melakukan penilaian keberhasilan dan supervisi

(36)

Bab

Bab V

V

Bab

Bab V

V

KOMPONEN KURIKULUM (RACIKAN

KOMPONEN KURIKULUM (RACIKAN

KURIKULUM PENDIDIKAN KARAKTER)

KURIKULUM PENDIDIKAN KARAKTER)

KURIKULUM PENDIDIKAN KARAKTER)

KURIKULUM PENDIDIKAN KARAKTER)

A.Kurikulum Pendidikan Karakter

Kurikulum merupakan ruh sekaligus guide dalam

praktik pendidikan di lingkungan satuan sekolah.

Karenanya, kurikulum yang dirancang harus

mencerminkan visi, misi dan tujuan sekolah yang

berkomitmen terhadap pendidikan karakter.

(37)

B. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Karakter Nil i il i b k k b b d i Nilai-nilai pembangunan karakter bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional nasional. 1. Agama 2 Pancasila 2. Pancasila 3. Budaya

4 Tujuan Pendidikan Nasional 4. Tujuan Pendidikan Nasional

Kemudian, nilai-nilai luhur minimal yang harus dikembangkan antara lain:

dikembangkan antara lain:

1. Tangguh 2. Jujur 2. Jujur 3. Cerdas 4. Peduli 4. Peduli

Referensi

Dokumen terkait

Faktor dorongan tersebut pada umumnya berkaitan dengan ciri habitat: ini termasuklah kebergantungan mereka kepada persekitaran fizikal sehingga membentuk kearifan

Untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu kompetensi Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, secara berkala dilaksanakan pertemuan ilmiah oleh PDPI baik

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kitosan yang didapat dari cangkang bekicot, dan mengetahui kemampuan adsorben kitosan dalam uji adsorpsi yang menggunakan sampel

This study was aimed to discuss how a set of writing instructional materials using mind mapping for the eighth grade students of SMPN 1 Kalikotes Klaten is designed and what

Di dalam %undo!n terdapat kolom-kolom penting yang umum digunakan, misalnya1 nama  pembaca berita 'anchor), judul berita 'slug), durasi (* dan *raphic. Dengan sistem ini

[r]

transfusi tukar/transfusi masif, transfusi intrauterin, pasien dengan anti-IgA atau pasien dengan defisiensi IgA dengan sejarah reaksi alergi yang parah ketika sel darah merah

Pasien kusta yang teridentifikasi pertama kali dalam satu keluarga disebut sebagai pasien primer (primary leprosy) dan narakontak dalam satu rumah yang