PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF KI HAJAR DEWANTARA SKRIPSI

146  Download (0)

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF

KI HAJAR DEWANTARA

SKRIPSI

Diajukan untuk memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)

OLEH

NUR ANISAH

NIM 111 11 141

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

(2)
(3)

KEMENTERIAN AGAMA RI

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

Jl. Tentara Pelajar 02 Phone (0298) 323706 Salatiga 50721

Wibsite : www.iainsalatiga.ac.id Email : administrasi@iainsalatiga.ac.id

Maslikhah, S.Ag., M.Si Dosen IAIN Salatiga

NOTA PEMBIMBING

Lamp : 4 eksemplar Hal : Naskah skripsi

: Saudari Nur Anisah

Kepada

Yth. Rektor IAIN Salatiga Di Salatiga

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Setelah kami meneliti dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini, kami kirimkan naskah skripsi saudara :

Nama : Nur Anisah Nim : 111 11 141

Fakultas : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Jurusan : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Judul : Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara

Dengan ini kami mohon skripsi saudara tersebut diatas supaya segera dimunaqosahkan.

Demikian agar menjadi perhatian.

Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Salatiga, September 2015

Hj. Maslikhah, S.Ag., M.Si NIP. 19700529 2000003 2 001

(4)
(5)
(6)

MOTTO

“Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri

handayani” (Tamansiswa. Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama Pendidikan. 1977 : 31)

(7)

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan skripsi ini untuk:

1. Kedua orang tuaku Kusnan dan Surinah tercinta yang selalu memberi kasih sayang, perhatian, dan selalu mendoakanku, doaku semoga senantiasa diberikan kesehatan dan umur yang panjang dan barokah.

2. Kakakku Sri Wahyuni dan adiku tersayang Salvia Dara yang selalu memberikan semangat dan motivasi untuk mengerjakan skripsiku.

3. Kakek nenekku Ariyadi dan Ngatilah yang selalu mendoakanku, semoga senantiasa berada dilindungan Allah Swt.

(8)

KATA PENGANTAR

Asslamu’alaikum Wr. Wb

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji dan syukur senantiasa penulis haturkan kepada Allah SWT. Atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat diberikan kemudahan dalam menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah Saw, keluarga, sahabat dan para pengikut setianya.

Skripsi ini dibuat untuk memenuhi persyaratan guna untuk memperoleh gelar kesarjanaan dalam Ilmu Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Dengan selesainya skripsi ini tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga.

2. Hj. Siti Rukhayati, M.Ag. selaku ketua jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).

3. Ibu Hj. Maslikhah, S.Ag., M.Si sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah dengan ikhlas mencurahkan pikiran dan tenaganya serta pengorbanan waktunya dalam upaya membimbing penulis untuk menyelesaikan tugas ini. 4. Ibu Eva Palupi, M.Si selaku pembimbing akademik yang senantiasa

membimbing dan memotivasi dari awal masuk perkuliahan hingga akhir perkuliahan.

(9)

5. Bapak dan Ibu Dosen serta karyawan IAIN Salatiga yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

6. Bapak dan ibu di rumah yang telah mendoakan dan membantu dalam bentuk materi untuk membiayai penulis dalam menyelesaikan studi di IAIN Salatiga dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.

7. Teman-teman seperjuang angkatan 2011 di IAIN Salatiga khususnya jurusan PAI dan anggota Ya Bissmilah 2011.

Harapan penulis, semoga amal baik dari beliau mendapatkan balasan yang setimpal dan mendapatkan ridho Allah SWT.

Akhirnya dengan tulisan ini semoga bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca umumnya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb Salatiga, September 2015 Penulis NUR ANISAH NIM: 111 11 141

(10)

ABSTRAK

Anisah. Nur. 2015 Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara. Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Dosen Pembimbing: Maslikhah, S.Ag., M.Si

Kata kunci: pendidikan karakter, konsep pendidikan, Ki Hajar Dewantara

Moral remaja masa kini berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan, dimana aum remaja mengalami degradasi moral yang terus-menerus dan tampak semakin tidak terkendali. Penurunan kualitas moral generasi penerus bangsa ini terjadi dalam segala aspek, mulai dari tutur kata, cara berpakaian hingga perilaku. Faktor modernisasi dan globalisasi sangat berpengaruh pada degradasi moral remaja saat ini, globalisasi menuntut kesiapan mental dari masyarakat, ketika masyarakat lemah bahaya akan menerjang. Berdasarkan latar belakang di atas, pentingnya pendidikan moral guna membentuk karakter remaja agar terciptanya generasi penerus bangsa yang tidak hanya memilki kecerdasan ilmu, tetapi juga cerdas akhlak dan perilakunya. KHD sebagai tokoh fenomenal di dunia pendidikan mengatakan bahwa pendidikan merupakan sebuah tuntunan, sehingga dalam pembelajaran peserta didik harus memiliki tokoh yang dijadikan contoh. Dalam penelitian ini diungkapkan konsep pendidikan menurut KHD dalam pendidikan karakter bagi peserta didik. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep pendidikan karakter dalam perspektif KHD serta implikasinya dalam dunia pendidikan saat ini.

Penelitian ini termasuk penelitian literer yang berfokus pada referensi buku dan sumber-sumber yang relevan. Pencarian data dicari dengan jenis penelitian

library research dan pendekatan kualitatif literatur yaitu suatu penelitian

kepustakaan murni, menggunakan metode dokumentasi yang mencari data mengenai hal-hal atau variable-variabel yang berupa catatan seperi buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen harian, catatan rapat, jurnal dan sebagainya.

Dari hasil penelitian yang penulis lakukan adalah KHD seorang pejuang yang dihormati rakyat dan disegani musuh, karena memiliki pengetahuan yang luas dan keunikan berfikir dimana KHD memberikan harapan bagi kaum bawah untuk dapat mengenyam pendidikan serta semangat kebangsaan yang beraliran kebudayaan pada konsep pendidikanya. Konsep yang diusung KHD adalah sistem

among, dimana pendidik memiliki peran sangat penting yaitu sebagai teladan dan

pembimbing bagi anak didiknya, sehingga orang tua dan guru wajib untuk berperilaku baik dihadapan anak didiknya. Sebagaimana disampaikan diatas, perlu kiranya penulis memberikan sumbangsih berupa saran-saran antara lain, konsep pemikiran KI Hajar Dewantara memiliki konsep tujuan yang relevan diterapkan dalam pendidikan karakter hingga saat ini.

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

LEMBAR BERLOGO... ii

HALAMAN NOTA PEMBIMBING... iii

PENGESAHAN KELULUSAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... v

MOTTO... vi

PERSEMBAHAN... vii

KATA PENGANTAR ... viii

ABSTRAK... x

DAFTAR ISI... xii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Fokus Masalah... 11 C. Tujuan Penelitian ... 11 D. Kegunaan Penelitian... 11 E. Metode Penelitian... 12 F. Penegasan Istilah ... 13 G. Sistematika Penulisan ... ... 14

BAB II BIOGRAFI KI HAJAR DEWANTARA... 16

A. Riwayat Hidup Ki Hajar Dewantara... 16

1. Lahir ... ... 16

2. Masa Muda... 16

3. Masa Dewasa... 20

4. Karir Ki Hajar Dewantara... 20

B. Peran Ki Hajar Dewantara... 21

1. Peran Politik Ki Hajar Dewantara... 21

2. Peran Sosial Ki Hajar Dewantara... 26

C. Karya-karya Ki Hajar Dewantara... 29

BAB III PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA DAN TOKOH PENDIDIKAN TENTANG PENDIDIKAN KARAKTER... 48 A. Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan Karakte... 48

1. Pengertian Pendidikan Karakter... 48

2. Konsep Pendidikan Karakter ... 51

a. Tujuan Pendidikan... 53

b. Dasar Pendidikan... 54

c. Pokok Ajaran... 56

d. Metode Pendidikan... 59

(12)

B. Pemikiran Tokoh Pendidikan tentang Pendidikan Karakter ... 65

1. Pengertian Pendidikan Karakter... 65

2. Konsep Pendidikan Karakter ... 70

a. Tujuan Pendidikan Karakter... 70

b. Dasar Pendidikan Karakter ... 73

c. Prinsip Pendidikan Karakter ... 73

d. Metode Pendidikan Karakter... 75

e. Materi Pendidikan Karakter ... 78

BAB IV RELEVANSI PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA DENGAN TOKOH PENDIDIKAN TENTANG PENDIDIKAN KARAKTER... 84 A. Analisis Data ... 84 B. Implikasi ... 90 BAB V PENUTUP... 107 A. Kesimpulan ... 107 B. Saran... 111 DAFTAR PUSTAKA... 113 LAMPIRAN-LAMPIRAN... 116

(13)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bangsa Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945, akan tetapi hingga saat ini kondisi bangsa Indonesia masih mengkhawatirkan. Kurang lebih sudah hampir 70 tahun bangsa Indonesia menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara bebas dari penjajah tetapi Indonesia memiliki kondisi yang unik dilihat dari perkembangannya sampai saat ini. Bangsa Indonesia memiliki banyak sekali konteks sosial dan budaya yang terus berkembang sampai saat ini, dilihat dari kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia dapat dikategorikan sangat melimpah disertai dengan letak kepulauan yang berada di garis khatulistiwa, tanah subur, air melimpah, udara segar, kekayaan sumber energi dan mineral melimpah di dalam tanah dan laut semuanya memberikan keunikan terhadap bangsa ini.

Keunikan lainnya dapat kita lihat dari kondisi yang ada, dirasakan, dan telah menjadi ciri khas bangsa ini. Seharusnya dengan kondisi sosial budaya dan kekayaan alam yang melimpah, rakyat Indonesia dapat merasakan kehidupan yang makmur dan sejahtera dari waktu ke waktu. Kenyataan yang dialami oleh bangsa ini menunjukkan kondisi yang berbeda dengan logika kekayaan sosial, budaya dan alam. Kondisi yang dialami menunjukan bahwa kekayaan alam tereksploitasi besar-besaran, pembangunan industri terjadi terus-menerus, dan pergantian pemerintahan terus berlangsung dari waktu ke

(14)

waktu secara damai, tetapi kebanyakan rakyat Indonesia belum mendapatkan dan mengalami kehidupan yang makmur dan sejahtera.

Bukan musuh bersenjata yang menjadi lawan bangsa ini, akan tetapi pribadi bangsa dalam menghadapi arus globalisasi yang menerjang bangsa ini. Kekuatan globalisasi menurut para ahli bertumpu pada empat kekuatan global, yaitu: kemajuan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni (IPTEKS), terutama dalam bidang informasi dan inovasi-inovasi baru di dalam teknologi yang mempermudah kehidupan manusia, perdagangan bebas yang ditunjang oleh kemajuan IPTEKS, kerjasama regional dan internasional yang telah menyatukan kehidupan bersama dari bangsa-bangsa tanpa mengenal batas negara, meningkatnya kesadaran terhadap hak-hak asasi manusia serta kewajiban manusia di dalam kehidupan bersama, dan sejalan dengan itu semakin meningkatnya kesadaran bersama dalam demokrasi.

Era globalisasi sekarang, bangsa Indonesia dihadapkan pada fakta yang tidak dapat diingkari yaitu revolusi teknologi, transportasi, informasi, dan komunikasi. Kata kunci globalisasi adalah kompetisi, dalam kompetisi yang keluar sebagai pemenang adalah yang terbaik dari sisi pengetahuan, teknologi, jaringan, kualitas produk, pelayanan, dan integritas (Azizy, 2004: 26). Indonesia dalam konteks pengetahuan dan teknologi masih berada jauh di bawah negara-negara maju, Indonesia menjadi bangsa konsumen yang senang menikmati produk globalisasi. Globalisasi di Indonesia telah mengubah berbagai aspek kehidupan dalam berbagai bidang, perubahan

(15)

tersebut mendatangkan berbagai dampak baik positif maupun negatif dalam bidang pendidikan.

Salah satu contoh, peran pemuda dalam masa kini sangat berbeda jauh dengan peranan pemuda pada era sebelumnya. Pemuda masa kini hidup dalam dunia yang serba pragmatis sebagai dampak dari globalisasi yang memasuki budaya Indonesia melalui perkembangan teknologi dan informasi yang sangat memikat. Globalisasi tidak selalu mendatangkan dampak negatif seperti tersebut di atas, akan tetapi globalisasi di Indonesia lebih banyak mendatangkan dampak negatif seperti pola hidup masyarakat yang menjadi lebih konsumtif, hedonis, dan matrealistik. Akibatnya pemuda masa kini belajar hanya untuk meraih hasil yang baik dengan mengandalkan segala cara tidak terkecuali mencontek yang sudah menjadi budaya bagi siswa yang hanya mementingkan nilai dari pada ilmu, hal tersebut menunjukan akhlak generasi muda Indonesia yang bobrok. Faktanya Indonesia menrupakan salah satu negara yang mana penduduknya mayoritas beragama Islam, dan dalam Islam terkandung semua tata cara hidup termasuk pedoman berperilaku dan bersikap.

Dasar pendidikan akhlak adalah al-Qur’an dan al-Hadits, karena akhlak merupakan sistem moral yang bertitik pada ajaran Islam. Al-Qur’an dan al-Hadits sebagai pedoman hidup umat Islam menjelaskan kriteria baik dan buruknya suatu perbuatan. Al-Qur’an sebagai dasar akhlak menjelaskan tentang kebaikan Rasulullah SAW sebagai teladan bagi seluruh umat manusia. maka selaku umat Islam sebagai penganut Rasulullah SAW sebagai

(16)

teladan bagi seluruh umat manusia, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. 33/Al-Ahzab : 21

ْوَيْلا َو َالله اوُج ْرَي َناَك نَمِ ل ٌةَنَسَح ٌة َوْسُأ ِالله ِلوُس َر يِف ْمُكَل َناَك ْدَقَّل

َر َِِأَْا َم

{ ا ًريِثَك َالله َرَكَذ َو

12

}

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Perilaku dan sikap bangsa Indonesia di kalangan generasi muda, khususnya anak didik perlu terus diperkuat sehingga dapat melahirkan generasi muda yang handal dan memiliki karakter yang kuat, salah satunya dengan menumbuhkan minat baca untuk menambah pengetahuan. Hal itu penting agar bangsa Indonesia dapat berkembang dan sejajar dengan bangsa-bangsa asing dalam pergaulan internasional, namun tidak larut dalam arus globalisasi. Bangsa Indonesia membutuhkan lima karakter untuk dapat menampilkan jati dirinya dan bersaing dengan bangsa lain.

Karakter bangsa yang bermoral (religius). Bangsa ini harus sarat dengan nilai-nilai moral dan etika keagamaan sebagai sebuah pandangan dan praktik, karakter bangsa yang beradab. Beradab dalam arti luas, menjadi suatu bangsa yang memiliki karakter berbudaya dan berperikemanusiaan. Karakter bangsa yang bersatu, dimana didalamnya termasuk menegakkan toleransi, tidak mungin Indonesia dapat bersatu tanpa adanya toleransi, keharmonisan, dan persaudaraan. Karakter bangsa yang berdaya, dalam arti yang luas berdaya berati menjadi bangsa yang berpengetahuan, terampil, berdaya saing secara mental, pemikiran maupun teknis. Daya saing bukan hanya sekedar

(17)

dalam arti materi dan mekanik, melainkan dalam makna secara mental, hati dan pikiran. Karakter bangsa yang berpartisipasi. Partisipasi amat diperlukan untuk menghapus sikap masa bodoh, mau enaknya saja, dan tidak pernah peduli dengan nasib bangsa Indonesia. Karakter partisipasi ditandai dengan penuh peduli, rasa dan sikap bertanggung jawab yang tinggi serta komitmen yang tumbuh menjadi karakter dan watak bangsa Indonesia (Ismadi. 2014: 29).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan dalam pidatonya menyinggung minat baca masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah, yakni 0,001 persen dari data United Nations Educational, Scientific, and

Cultural Organization (UNESCO). Melalui persoalan minat baca tersebut,

Anies Baswedan juga menyayangkan Indonesia tidak belajar dari buku berjudul “Sekolah Taman Siswa” karangan Ki Hajar Dewantara. Bapak

Menteri kecewa karena buku Ki Hajar Dewantara tersebut telah dujadikan referensi di Finlandia akan tetapi di Indonesia buku tersebut tidak dibaca, dalam buku tersebut salah satunya Ki Hajar Dewantara telah menuliskan tentang kondisi belajar yang menyenangkan. Bung Anies mengatakan bahwa pemerintah Finlandia telah mengikuti pandangan Ki Hajar Dewantara dengan mengubah sistem belajar dan situasi di sekolah menjadi lebih nyaman dan menggembirakan, berbeda dengan sekolah dan instansi pendidikan di Indonesia yang peserta didiknya lebih banyak merasa stres saat belajar (Belarminus. 2014: 2).

(18)

Kementrian Pendidikan Nasional (KEMENDIKNAS) sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan di Indonesia memandang pendtingnya pendidikan karakter dalam diri anak didik agar dapat menjadi bekal kelak di masa depan dalam menggapai cita-cita anak bangsa. Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi :

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

UU SISDIKNAS No 20 tahun 2003, menerangkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk “mengembangkan kemampuan dan membentuk watak yang bermartabat”, dimana dalam proses pendidikan harus

ditanamkan nilai-nilai moral. Penanaman nilai moral tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah tetapi juga keluarga dan lingkungan masyarakat, karena dalam proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di sekolah. Ki Hajar Dewantara membedakan lingkungan pendidikan menjadi tiga, yang dikenal dengan Tri Pusat Pendidikan, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Lingkungan keluarga jika ditinjau dari ilmu sosiologi, keluarga adalah bentuk masyarakat kecil yang terdiri dari beberapa individu yang terikat oleh suatu keturunan, yakni kesatuan dari bentuk-bentuk kesatuan masyarakat. Keluarga tempat anak diasuh dan

(19)

dibesarkan, berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangannya baik secara fisik maupun mental.

Lingkungan sekolah memegang peranan penting dalam pendidikan karena pengaruhnya sangat besar pada jiwa anak. Maka disamping keluarga sebagai pusat pendidikan, sekolah pun mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan pribadi anak. Sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama untuk kecerdasannya. Lingkungan masyarakat adalah lingkungan tempat tinggal anak, juga meliputi teman-teman anak di luar sekolah. Kondisi orang-orang di lingkungan desa atau kota tempat tinggal anak juga turut mempengaruhi perkembangan jiwanya (Yuwono, 2015: 3).

Konsep Ki Hajar Dewantara tentang Tri Pusat Pendidikan yang menunjukan bahwa proses pembelajaran tidak harus berlangsung di sekolah, akan tetapi dapat dilakukan dimana pun dan oleh siapa pun. Dalam pembelajaran ditekankan pentingnya penanaman nilai moral dan karakter agar dapat membentuk kemampuan dan watak peradaban bangsa yang bermartabat sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Ki Hajar Dewantara dengan sistem among, menegaskan bahwa dalam pembelajaran tidak melulu harus mengedepankan hasil akan tetapi prosesnya. Sistem among menuntut

pamong (pendidik) untuk menjadi seorang teladan bagi peserta didiknya,

karena anak didik lebih cenderung mencontoh apa yang dilihatnya dari pada apa yang didengarnya.

(20)

Cara mengajar dengan menggunakan metode among berarti mengajar dengan terbuka, penuh kasih sayang, bebas dan melindungi siswa dengan kenyamanan pikiran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Teknik mengajar dalam sistem among lebih cenderung menggunakan permainan, Ki Hajar Dewantara menganjurkan para pamong untuk mengajak siswanya belajar sambil bermain agar suasana belajar tidak terlalu serius dan pikiran anak dapat terbuka sehingga materi ajar dapat tersampaian dengan sukses.

Ki Hajar Dewantara menyatakan sistem pendidikan di Indonesia mencontoh sistem pendidikan barat, yang dasar-dasarnya adalah perintah, hukuman dan ketertiban. Sebagai penopang pendidikan, dasar-dasar tersebut akan memunculkan kehidupan yang penuh perkosaan atas kehidupan batin anak-anak. Dampaknya terhadap anak-anak adalah rusaknya budi pekerti yang disebabkan selalu hidup dalam paksaan dan hukuman (Belamirnus, 2014: 1). Dampak lainnya adalah turunnya semangat berkreasi dan berinovasi dalam kompetisi yang ketat, kemudian dikalahkan oleh semangat konsumerisme, hedonisme, dan permisifisme yang instan dan menenggelamkan. Untuk itu dibutuhkannya generasi penerus yang beriman, bertaqwa, berilmu pengetahuan luas, bertanggung jawab dan mempunyai keinginan untuk memperbaiki dan menyumbangkan sesuatu yang bisa dia berikan untuk negara yang dicintainya.

Pemaparan di atas menunjukan pentingnya pendidikan karakter bagi anak baik di keluarga, sekolah maupun di lingkungan masyarakat secara intensif dengan keteladanan, kearifan, dan kebersamaan. Pentingnya

(21)

pendidikan karakter untuk diserukan dengan dahsyat agar lahir kesadaran bersama untuk membangun karakter generasi muda bangsa yang kokoh. Sehingga, generasi penerus bangsa ini tidak terombang-ambing oleh modernisasi yang menjanjikan kenikmatan sesaat serta mengorbankan kenikmatan masa depan yang panjang dan abadi. Pioner dalam kesadaran pendidikan karakter adalah lembaga pendidikan, dikarenakan lembaga pendidikan lebih dahulu mengetahui dekadansi moral dan bahaya modernisme yang ada di depan mata generasi masa depan bangsa. Terlebih, untuk masyarakat yang tidak siap menghadapi keduanya, khususnya dalam aspek moral, mental, dan kepribadian, selain aspek pengetahuan dan teknologi.

Kesadaran pendidikan karakter dari sekolah diharapkan menyebar kepada keluarga, masyarakat, media massa, dan seluruh lapisan bangsa ini. Sehingga, terjadi kesinambungan kekuatan dalam membangun bangsa ini demi lahirnya kader-kader masa depan yang berkarakter, serta berkepribadian kuat dan cermat. Salah satu tokoh yang memiliki semangat pendidikan karakter adalah Ki Hajar Dewantara, terlahir dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta, Ki Hajar Dewantara merupakan keturunan dari bangsawan Yogyakarta. Perjuangan Ki Hajar Dewantara sarat akan nilai-nilai karakter yang dibutuhkan oleh bangsa ini, mulai dari pergantian namanya dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara, semata-mata agar beliau lebih mudah diterima di lingkungan masyarakat biasa. Asas Tamansiswa yang dia bawa, serta

(22)

konsep dan pemikiran pendidikan yang ia ajarkan di bumi pertiwi. Ki Hajar Dewantara melihat pendidikan mampu mengubah watak dan sikap bangsa untuk menjadi bangsa yang mempunyai derajat yang tinggi dan sejajar dengan bangsa lain. Artinya Ki Hajar Dewantara sudah memandang pentingnya pendidikan karakter saat belum ada yang mempublikasikan nilai karakter sebagaimana sekarang ini, beliau sudah melangkah disepan kita membawa konsep pendidikan karakter.

Berdasarkan ulasan di atas, pentingnya pendidikan karakter yang ditekankan oleh Ki Hajar Dewantara bagi anak agar dapat menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki prinsip, tidak mudah goyah jika dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang melanda negeri Indonesia tercinta. Sanggup memegang teguh nilai-nilai luhur dan taat pada agama, sehingga akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan sejahtera. Pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan karakter sejalan dengan sistem pendidikan yang sedang digadang-gadang oleh pemerintah, yang tidak mengedepankan nilai akademik saja. Maka penulis tertarik untuk mengangkatnya sebagai bahan penulisan skripsi yang berjudul “Pendidikan

Karakter dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara” B. Fokus Penelitian

1. Bagaimana konsep pendidikan karakter?

2. Bagaimana konsep pendidikan karakter menurut Ki Hajar Dewantara? 3. Bagaimana implikasi konsep pendidikan karakter menurut Ki Hajar

(23)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1. Konsep pendidikan karakter menurut para ahli;

2. Konsep pendidikan karakter menurut Ki Hajar Dewantara;

3. Konsep pendidikan karakter dalam perspektif Ki Hajar Dewantara.

D. Kegunaan Penelitian 1. Teoretis

Penelitian ini secara teoretis bermanfaat untuk memperkaya wacana keilmuan khususnya kajian pendidikan karakter bagi perpustakaan Institut Agama Islam Negeri Salatiga.

2. Praktis

a. Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang pembelajaran yang sarat akan nilai-nilai karakter secara umum.

b. Lembaga

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai wacana untuk lebih meningkatkan pembinaan terhadap guru, kepala sekolah maupun pengawas agar pendidikan karakter pada anak dapat terwujud sesuai dengan apa yang diharapkan.

c. Peneliti

Hasil penelitian ini dapat dijadikan untuk menambah pengalaman penelitian dalam penelitian terkait dengan pendidikan karakter.

(24)

E. Metode Penelitian

Metode penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kajian pustaka atau sering disebut penelitian pustaka, yaitu menghimpun data dengan cara menggunakan bahan-bahan tertulis, seperti : buku, artikel, surat kabar, majalah dan dokumen lainya, yang sekiranya memiliki hubungan dengan tema penelitian.

Data-data yang diambil dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.

1. Data Primer

Data primer adalah data pokok yang digunakan sebagai bahan utama dalam kajian penelitian ini, berupa data-data yang berhubungan langsung dengan materi yang diteliti yaitu pendidikan karakter dalam perspektif Ki Hajar Dewantara.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data informasi yang diperoleh dari sumber-sumber lain selain data primer, yang secara tidak langsung bersinggungan dengan tema penelitian yang peneliti lakukan. Diantaranya buku-buku literatur, internet, majalah atau jurnal ilmiah, arsip, dokumen pribadi, dan dokumen resmi lembaga-lembaga yang terkait dengan penelitian ini.

F. Penegasan Istilah

Penegasan istilah dalam penelitian ini sangat diperlukan agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda dengan maksud penulis, maka penulis akan

(25)

menjelaskan istilah-istilah lain adalah didalam judul ini. Istilah yang perlu penulis jelaskan sebagai berikut :

1. Pendidikan merupakan upaya yang dilakukan dengan sadar untuk mendatangkan perubahan sikap dan perilaku seseorang melalui pengajaran dan latihan (Ensiklopedi Nasional Indonesia: 365). Proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dan usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 263).

2. Karakter memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan dan perilaku atau bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional).

3. Pendidikan karakter dalam penelitian ini merupakan suatu usaha yang direncanakan secara bersama yang bertujuan menciptakan generasi penerus yang memiliki dasar-dasar pribadi yang baik, baik dalam pengetahuan, perasaan, dan tindakan. Pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengarahkan peserta didik pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan pada suatu nilai-nilai keluhuran. Ajaran yang berupa hal positif yang dilakukan guru dan berpengaruh kepada peserta didik yang diajarnya (Samani, 2012: 243).

(26)

G. Sistematika Penulisan

1. Bagian Awal

Bagian awal ini, meliputi: sampul, lembar berlogo, judul (sama dengan sampul), persetujuan pembimbing, pengesahan kelulusan, pernyataan keaslian tulisan, motto, persembahan, kata pengantar, abstrak, daftar isi, dan daftar lampiran.

2. Bagian Inti

BAB I :PENDAHULUAN memuat latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian, penegasan istilah, dan sistematika penulis skripsi. BAB II :BIOGRAFI memuat riwayat hidup Ki Hajar Dewantara,

pemikiran Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan, karya-karya Ki Hajar Dewantara, pandangan para pakar terhadap Ki Hajar Dewantara.

BAB III :DESKRIPSI PEMIKIRAN memuat pemikiran Ki Hajar Dewantara dan pendidikan karakter menurut para ahli

BAB IV :PEMBAHASAN memuat uraian konsep pendidikan karakter menurut para ahli, konsep pendidikan karakter menurut Ki Hajar Dewantara, konsep pendidikan karakter menurut para ahli dalam perspektif Ki Hajar Dewantara.

(27)

Bagian akhir dari skripsi ini, memuat: Daftar Pustaka, Lampiran-lampiran, dan Daftar Riwayat Hidup Penulis.

(28)

BAB II

BIOGRAFI KI HAJAR DEWANTARA A. Riwayat Hidup Ki Hajar Dewantara

1. Lahir

Ki Hajar Dewantara lahir pada Kamis Legi, tanggal 2 Mei 1889, ayahnya bernama Kanjeng Pangeran Haryo Suryaningrat, putera Kanjeng Gusti Hadipati Haryo Suryosasraningrat yang bergelar Sri Paku Alam III (Soeratman, 1981: 8). Ki Hajar Dewantara merupakan putra ke-lima dari sembilan bersaudara, Ki Hajar Dewantara terlahir dengan nama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat (Ensiklopedi Nasional Indonesia. 1989: 330).

Ki Hajar Dewantara berasal dari keluarga keturunan Keraton Yogyakarta, sehingga Ki Hajar Dewantara dididik dengan latar belakang keluarga yang masih religius dan juga budaya jawa yang kental karena masih merupakan keluarga keraton Yogyakarta sekaligus masih berada dalam garis keturunan Sunan Kalijaga sehingga membuatnya menjadi keturunan bangsawan dan juga ulama (Desmon, 2007: 219).

2. Masa Muda

Masa muda Ki Hajar Dewantara diisi dengan kegiatan untuk menambah pengetahuan dan wawasannya, karena Ki Hajar Dewantara termasuk anak yang sangat haus akan pengetahuan. Ki Hajar Dewantara menerima pendidikan yang beraneka macam baik dari keluarga maupun

(29)

di sekolah, pendidikan keluarga yang diajarkan melalui pendidikan kesenian, adat sopan santun, dan pendidikan agama yang dijadikan fondasi kokoh pribadi Ki Hajar Dewantara.

Pada tanggal 4 November 1907 dilangsungkan “Nikah Gantung” antara R.M. Soewardi Soeryaningrat dengan R.A. Soetartinah. Keduanya adalah cucu dari Sri Paku Alam III. Pada akhir Agustus 1913 beberapa hari sebelum berangkat ke tempat pengasingan di negeri Belanda. Pernikahannya diresmikan secara adat dan sederhana di Puri Suryaningratan Yogyakarta (Soeratman, 1989: 9).

Pengetahuan Ki Hajar Dewantara berasal dari kerajinan menutut ilmu di sekolah dan juga pengalaman yang beraneka ragam dari lingkungan sekitar. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, beliau belajar di School Tot Opvoeding Van Indische Artsen (STOVIA), tetapi tidak menamatkannya karena sakit. BeIiau kemudian bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, antara lain De Express, Utusan Hindia,dan Kaum Muda. Sebagai penulis yang handal, tulisannya mampu membangkitkan semangat antikolonialisme rakyat Indonesia.

Selain mendapat pendidikan formal di lingkungan Istana Paku Alam tersebut. Ki Hajar Dewantara juga mendapat pendidikan formal di luar antara lain:

a. ELS (Europeesche Legere School).

Sekolah dasar pada zaman kolonial Belanda di Indonesia. ELS menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. ELS atau

(30)

Sekolah Rendah Eropa tersebut diperuntukkan bagi keturunan Eropa, keturunan timur asing atau pribumi dari tokoh terkemuka (Desmon, 2007: 211).

b. Kweek School (Sekolah Guru) di Yogyakarta.

Kweek School merupakan salah satu jenjang pendidikan resmi

untuk menjadi guru pada zaman Hindia Belanda dengan pengantar bahasa Belanda.

c. STOVIA (School Tot Opvoeding Van Indische Artsen)

STOVIA yaitu sekolah kedokteran yang berada di Jakarta. Pendidikan di STOVIA ini tak dapat diselesaikannya, karena Ki Hajar Dewantara sakit (Poerbakawatja. 1970: 217).

3. Masa Dewasa

Ki Hajar Dewantara sering bergaul dengan masyarakat dari kalangan menengah ke bawah, sehingga pada usia 40 tahun Ki Hajar Dewantara merubah namanya dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hajar Dewantara. Dibuangnya gelar kebangsawanan di depan namanya mengantarkan Ki Hajar Dewantara lebih dekat dengan lingkungan disekitarnya yang mayoritas adalah orang biasa. Ki Hajar Dewantara dengan mengubah namanya ingin menunjukkan perubahan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yang berarti dari pahlawan yang berwatak guru spiritual

(31)

ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara (Djumhur, 1974: 169). Nama Ki Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan. Pendidik atau sang hajar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Sebagai pendidik yang merupakan perantara Yang Maha Kuasa maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak pandhita yaitu yang mampu menyampaikan kehendak-Nya dan membawa keselamatan (Soebono, 2012: 7).

Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat kreatif, inovatif, dinamis, jujur, sederhana, konsisten, konsekuen, berani dan bertanggung jawab, sehingga disegani oleh banyak orang baik itu kawan maupun lawan. Pengetahuan beliau sangatlah luas dan senantiasa bertambah terus guna membela bangsa dan negaranya, perjuangannya dilandasi dengan rasa ikhlas semata-mata hanya untuk mencerdaskan bangsanya agar kelak menjadi bangsa yang merdeka dan bebas dari penjajah. Beliau memilih berjuang secara total dalam bidang pendidikan guna melahirkan generasi penerus bangsa yang memiliki integritas tinggi dan juga cinta tanah air.

Tanggal lahir Ki Hajar Dewantara 2 Mei kemudian dijadikan Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Ki Hajar Dewantara wafat pada 26

(32)

April 1959 pada umur 69 tahun dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta (Desmon. 2007: 219).

4. Karir Ki Hajar Dewantara

a. Wartawan Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara (Dewantara, 1981: 48);

b. Pendiri National Onderwijs Instituut Tamansiswa (Perguruan Nasional Tamansiswa) pada 3 Juli 1922 (Dewantara. 1977: 66); c. Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama; d. Boedi Oetomo 1908 (Soeratman. 1989 :19);

e. Syarekat Islam cabang Bandung 1912;

f. Pendiri Indische Partij (partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia) 25 Desember 1912.

B. Peran Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara adalah pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Ki Hajar Dewanatara mendirikan perguruan Taman Siswa yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Tulisan Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli Ask ik eens Nederlander was,

dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Artikel itu ditulis dalam konteks rencana pemerintah Belanda untuk

(33)

mengumpulkan sumbangan dari Indonesia, yang saat itu masih belum merdeka untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis (Soeratman. 1989: 43).

Pada tanggal 28 November 1959 Ki Hajar Dewantara ditetapkan sebagai “Pahlawan Nasional”, karena pengabdian dan perjuangan beliau bagi

bangsa dan negara Indonesia dalm meraih kemerdekaan, dan pada tanggal 16 Desember 1959, pemerintah menetapkan tanggal lahir Ki Hajar Dewantara tanggal 2 Mei sebagai “Hari Pendidikan Nasional” berdasarkan keputusan

Presiden RI Nomor : 316 tahun 1959 (Tamansiswa, 1977: XIII). Ki Hajar Dewantara meninggal pada tanggal 26 April 1959 di rumahnya Mujamuju Yogyakarta dan pada tanggal 29April 1959 jenazahnya dipindahkan ke pendopo Taman Siswa. Dari pendopo Taman Siswa kemudian diserahkan kepada Majelis Luhur Taman Siswa, dari situ jenazah diberangkatkan ke makam Wijaya Brata Yogyakarta. Dalam upacara pemakaman Ki Hajar Dewantara dipimpin oleh Panglima Kodam Diponegoro Kolonel Soeharto. (Tamansiswa. 1977: 13).

1. Peran Politik Ki Hajar Dewantara

a. Ki Hajar Dewantara sebagai Pejuang Bangsa

Kurang berhasilnya Ki Hajar Dewantara dalam menempuh pendidikan tidak menjadi hambatan untuk berkarya dan berjuang. Perhatian Ki Hajar Dewantara dalam bidang jurnalistik inilah yang menyebabkan beliau berkenalan dengan Douwes Dekker dan menjadi rekanan dalam mengelola harian De Expres. Melalui De Expres inilah

(34)

Soewardi Soeryaningrat mengasah ketajaman penanya, mengalirkan pemikirannya yang progesif dan mencerminkan kekentalan semangat kebangsaannya. Tulisan demi tulisan terus mengalir dari pena Soewardi Soeryaningrat dan puncaknya adalah Sirkuler yang mengemparkan pemerintah Belanda yaitu Als Ik Eens Nederlander

Was!( Andaikan aku seorang Belanda!), tulisan ini pula yang

mengantar Soewardi Soeryaningrat ke pintu penjara pemerintah Kolonial Belanda, untuk kemudian bersama-sama dengan Cipto Mangun Kusumo dan Douwes Dekker di asingkan ke negeri Belanda (Soeratman. 1989 : 41). Tulisan tersebut sebagai reaksi terhadap rencana pemerintah Belanda untuk mengadakan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penindasan Perancis yang akan dirayakan pada tanggal 15 November 1913, dengan memungut biaya secara paksa kepada rakyat Indonesia.

Setelah tulisan tersebut menyebar, pemerintah Belanda mengamuk, kemudian Belanda memanggil panitia De Expres untuk diperiksa. Dalam suasana seperti itu, Cipto Mangun Kusumo menulis dalam harian De Expres 26 Juli 1913. Untuk menyerang Belanda, yang berjudul Kracht of Vress (Kekuatan atau ketakutan). Selanjutnya Ki Hajar Dewantara kembali menulis dalam harian De Expres tanggal 28 Juli 1913 yang berjudul Een Voor Allen, Maar Ook Allen Voor Een (Satu untuk semua, tetapi juga semua untuk satu) (Soeratman, 1981: 45).

(35)

Tanggal 30 Juli 1913 Soewardi Soeryaningrat dan Cipto Mangunkusumo ditangkap, seakan-akan keduanya orang yang paling berbahaya di wilayah Hindia Belanda. Setelah diadakan pemeriksaan singkat keduanya secara resmi dikenakan tahanan sementara dalam sel yang tepisah dengan seorang pengawal di depan pintu. Douwes Dekker yang baru datang dari Belanda, menulis pembelaannya terhadap kedua temannya melalui harian De Expres, 5 Agustus 1913 yang berjudul Onze Heiden: Tjipto Mangoenkoesoemo En R.M. Soewardi Soeryaningrat” (Dia pahlawan kita: Tjipto

Mangoenkoesoemo dan R.M. Soewardi Soeryaningrat).

Atas putusan pemerintah Hindia Belanda tanggal 18 Agustus 1913 Nomor: 2, ketiga orang tersebut dijatuhi hukuman pengasingan. Ki Hajar Dewantara ke Bangka, Cipto Mangunkusuma ke Banda, dan Douwes Dekker ke Timur Kupang. Namun ketiganya menolak dan mengajukan tawaran untuk merubah tempat tujuan pengasingan ke Belanda meski dengan biaya perjalanan sendiri. Dalam perjalanan menuju pengasingan Ki Hajar Dewantara menulis pesan untuk saudara dan kawan seperjuangan yang ditinggalkan dengan judul:

Vrijheidsherdenking end Vrijheidsberoowing (Peringatan kemerdekaan perampasan kemerdekaan). Tulisan tersebut dikirim melalui kapal Bullow tanggal 14 September 1913 dari teluk Benggala Moch (Tauhid, 1963: 22). Sewaktu di Belanda Ki Hajar Dewantara, Dr. Cipto Mangunkusuma, dan Douwes Dekker langsung aktif dalam

(36)

kegiatan politik. Di Denhaag Ki Hajar Dewantara mendirikan

Indonesische Persbureau (IPB), yang merupakan badan pemusatan

penerangan dan propaganda pergerakan nasional Indonesia (Soeratman. 1989 :45).

Sekembalinya dari pengasingan, Ki Hajar Dewantara tetap aktif dalam berjuang. Oleh partainya Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai sekretaris kemudian sebagai pengurus besar NIP (National Indische Partij) di Semarang. Ki Hajar Dewantara juga menjadi redaktur “De Beweging”, majalah partainya yang berbahasa Belanda, dan “Persatuan Hindia” dalam bahasa Indonesia. Kemudian juga

memegang pimpinan harian De Expres yang diterbitkan kembali. Karena ketajaman pembicaraan dan tulisannya yang mengecam kekuasaan Belanda selama di Semarang, Ki Hajar Dewantara dua kali masuk penjara (Tauhid, 1963 : 27).

Berbekal pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari pengasingan di negeri Belanda. Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta (Djumhur, 1974: 169). Bidang pendidikan adalah jalan yang Ki Hajar Dewantara pilih untuk berjuang melawan penjajah kolonial Belanda. Pihak kolonial Belanda juga mengadakan usaha bagaimana cara melemahkan perjuangan gerakan politik yang dipelopori oleh Taman Siswa. Tindakan Kolonial tersebut adalah

(37)

dicanangkan oleh Gubernur Jendral tanggal 17 September 1932, pada tanggal 15-16 Oktober 1932 MLPTS mengadakan Sidang Istimewa di Tosari Jawa Timur untuk merundingkan Ordinansi tersebut (Soeratman. 1989 : 118).

Menjelang kemerdekaan RI, yakni pada pendudukan Jepang (1942-1945) Ki Hajar Dewantara duduk sebagai anggota “Empat Serangkai” yang terdiri dari Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hajar

Dewantara dan Kyai Mansur. Pada bulan Maret 1943, Empat Serangakai tersebut mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) yang bertujuan untuk memusatkan tenaga untuk menyiapkan kemerdekaan RI. Akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia dapat diproklamasikan oleh Ir. Soekarno dan Moh. Hatta. Pada hari minggu pon tanggal 17 Agustus 1945, pemerintah RI terbentuk dengan Ir. Soekarno sebagai Presiden RI dan Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden. Disamping itu juga mengangkat Menteri-Menterinya. Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Tamansiswa S, 1989: 111). Pada tahun 1946 Ki Hajar Dewantara menjabat sebagai Ketua Panitia Penyelidikan Pendidikan dan Pengajaran RI, ketua pembantu pembentukan undang-undang pokok pengajaran dan menjadi Mahaguru di Akademi Kepolisian. Tahun 1947, Ki Hajar Dewantara menjadi Dosen Akademi Pertanian. Tanggal 23 Maret 1947, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI

(38)

dan menjadi anggota Majlis Pertimbangan Pengajaran Agama Islam di Sekolah Rakyat (Tamansiswa, 1989: 119).

Pada tahun 1948, Ki Hajar Dewantara dipilih sebagai ketua peringatan 40 tahun Peringatan Kebangkitan Nasional, pada kesempatan itu beliau bersama partai-partai mencetuskan pernyataan untuk menghadapi Belanda. Pada peringatan 20 tahun ikrar pemuda (28 Oktober 1948), Ki Hajar Dewantara ditunjuk sebagai ketua pelaksana peringatan Ikrar Pemuda. Setelah pengakuan kedaulatan di negeri Belanda Desember 1949 Ki Hajar Dewantara menjabat sebagai anggota DPR RIS yang selanjutnya berubah menjadi DPR RI. Pada tahun 1950, Ki Hajar Dewantara mengundurkan diri dari keanggotaan DPR RI dan kembali ke Yogyakarta untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Taman Siswa sampai akhir hayatnya (Soeratman. 1989: 149).

b. Ki Hajar Dewantara sebagai Pemimpin Rakyat

Ki Hajar Dewantara sebagai pemimpin rakyat tidak diragukan lagi, dalam memimpin rakyatnya Ki Hajar Dewantara menggunakan teori kepemimpinan yang dikenal dengan “Trilogi Kepemimpinan”

yang telah berkembang dalam masyarakat. Trilogi kepemimpinan tersebut adalah Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa,

Tutwuri Handayani maksudnyadi depan seorang pemimpin harus

dapat menjadi teladan dan contoh bagi anak buahnya, ditengah (dalam masyarakatnya) seorang pemimpin harus mampu membangkitkan

(39)

semangat dan tekad anak buah. Dan dibelakang harus mampu memberikan dorongan dan semangat anak buah.

Ki Hajar Dewantara adalah seorang demokrat yang sejati, tidak senang pada kesewenang-wenangan dari seorang pemimpin yang mengandalkan pada kekuasannya tanpa dilandasi oleh rasa cinta kasih. Dalam hal ini, kita merasakan betapa demokratis dan manusiawinya Ki Hajar Dewantara memperlakukan orang lain. Ki Hajar Dewantara selalu bersikap menghargai dan menghormati orang lain sesuai dengan harkat dan martabatnya. Dengan sikap yang arif beliau menerima segala kekurangan dan kelebihan orang lain, untuk saling mengisi, memberi dan menerima demi sebuah keharmonisan dari lembaga yang dipimpinnya.

Pelaksanaan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dapat berlangsung dalam berbagai tempat yang oleh Ki Hajar Dewantara diberi nama Tri Sentra Pendidikan, yaitu alam keluarga, alam perguruan dan alam pergerakan pemuda. Konsep Ki Hajar Dewantara dalam mendidik peserta didik yakni menggunaan teori among metode yang dianggap paling sesuai. Sistem among yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah, dan asuh (peduli dan kasih sayang). Pendidikan sistem among bersendikan pada dua hal yaitu, kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya, dan kemerdekaan sebagai syarat

(40)

untuk menghidupkan dan menggerakan kekuatan lahir dan batin anak hingga dapat hidup mandiri (Soeratman. 1989: 7).

Sistem among sering dikaitkan dengan asas Ki Hajar Dewantara yang berbunyi : Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa,

Tut Wuri Handayani. Asas ini telah banyak dikenal masyarakat dari

pada sistem among sendiri, karena banyak dari anggota masyarakat yang belum memahaminya. Sistem among berasal dari bahasa jawa yaitu momong yang artinya mengasuh anak. Para pendidik baik guru maupun dosen disebut pamong yang bertugas untuk mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu dengan kasih sayang. Dalam sikap

momong, among, dan ngemong terkandung nilai yang sangat

mendasar yaitu pendidikan tidak memaksa namun bukan berarti membiarkan ank berkembang bebas tanpa arah. Metode among memiliki pengertian menjaga, membina dan mendidik dengan kasih sayang.

Pendidikan merupakan sarana untuk memperbaharui diri, tanpa pendidikan manusia akan terperangkap hidup pada masa lalu. Jika hingga saat ini pendidikan hanya dimengerti sebagai pengajaran sebagaimana telah terjadi selama ini, maka manusia juga tidak akan pernah berubah. Akibatnya kita akan selalu menjadi produk masa lalu yang tidak beruntung.

Ki Hajar Dewantara membedakan antara sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan”. Menurut Ki Hajarr Dewantara pengajaran bersifat

(41)

memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Manusia merdeka itu adalah manusia yang hidupnya secara lahir dan batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi ia mampu bersandar dan berdiri di atas kakinya sendiri. Artinya sistem pendidikan itu mampu menjadikan setiap individu hidup mandiri dan berani berpikir sendiri. Pendidikan dan pengajaran dalam arti yang luas adalah bagaimana memerdekakan manusia sebagai anggota dari sebuah persatuan (rakyat). Kemerdekaan yang dimaksud adalah kemerdekaan yang bersifat dewasa dan menjunjung tinggi nilai-nilai hidup bersama. Oleh karena itu, setiap orang merdeka harus memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia hidup (Tamansiswa. 1977: 16).

2. Peran Sosial Ki Hajar Dewantara

a. Ki Hajar Dewantara sebagai Pendidik

Dr. Montessori adalah pembongkar dunia pendidikan lama, Montessori menganggap bahwa pendidikan dan pengajaran di Eropa sangat menyuburkan intelektual, tetapi sebaliknya mematikan perasaan dan membalikan jiwa manusia dari yang memiliki rasa menjadi mesin belaka. Dasar pendidikan Montessori adalah kemerdekaan belajar, dan kedisiplinan tidak datang dari hukuman dan hadiah, tetapi dari dalam diri anak-anak itu sendiri karena pekerjaanya

(42)

(Barnadib, 1983: 140). Rabindranath Tagore yang sempat menganggap sekolah seakan-akan sebuah penjara (Suparlan. 1984 :101), kemudian disebut sebagai “siksaan yang tertahankan”.

Sebagai tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara tidak seperti Dr. Montessori atau Rabrindranath Tagore yang sempat menganggap sekolah sebagai siksaan yang harus segera dihindari. Ki Hajar berpandangan bahwa melalui pendidikan akan terbentuk kader yang berpikir, berperasaan, dan berjasad merdeka serta percaya akan kemampuan sendiri. Arah pendidikannya bernafaskan kebangsaan dan berlanggam kebudayaan (Zannoism, 2015: 3).

Kepeloporan Ki Hajar Dewantara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa yang tetap berpijak pada budaya bangsanya diakui oleh bangsa Indonesia. Perannya dalam mendobrak tatanan pendidikan kolonial yang mendasarkan pada budaya asing untuk diganti dengan sistem pendidikan nasional menempatkan Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan nasional yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional (Navis. 1996 : 76).

Sistem pendidikan kolonial yang ada dan berdasarkan pada budaya barat, jelas-jelas tidak sesuai dengan kodrat alam bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Ki Hajar Dewantara memberikan alternatif lain yaitu kembali ke jalan Nasional Pendidikan untuk rakyat Indonesia harus berdasarkan pada budaya bangsanya sendiri. Sistem pendidikan kolonial yang menggunakan cara paksaan dan ancaman

(43)

hukuman harus diganti dengan jalan kemerdekaan yang seluas-luasnya kepada anak didik dengan tetap memperhatikan tertib damainya hidup bersama (Tamansiswa II. 1994 : 73).

Reorientasi perjuangan Ki Hajar Dewantara dari dunia politik ke dunia pendidikan mulai disadari sejak berada dalam pengasingan di negeri Belanda. Ki Hajar Dewantara mulai tertarik pada masalah pendidikan, terutama terhadap aliran yang dikembangkan oleh Maria Montessori dan Robindranat Tagore. Kedua tokoh tersebut merupakan pembongkar dunia pendidikan lama dan pembangunan dunia baru. Selain itu juga tertarik pada ahli pendidikan yang bernama Freidrich Frobel. Frobel adalah seorang pendidik dari Jerman. Ia mendirikan perguruan untuk anak-anak yang bernama Kindergarten (Taman Kanak-kanak). Oleh Frobel diajarkan menyanyi, bermain, dan melaksanakan pekerjaan anak-anak. Bagi Frobel anak yang sehat badan dan jiwanya selalu bergerak. Maka ia menyediakan alat-alat dengan maksud untuk menarik anak-anak kecil bermain dan berfantasi. Berfantasi mengandung arti mendidik angan anak atau mempelajari anak-anak berfikir (Tamansiswa, 1977: 131).

Ki Hajar Dewantara juga menaruh perhatian pada metode Montessori yang merupakan sarjana wanita dari Italia, yang mendirikan taman kanak-kanak dengan nama “Case De Bambini”. Dalam teori pendidikannya Montessori mementingkan hidup jasmani anak-anak dan mengarahkannya pada kecerdasan budi. Dasar utama

(44)

dari pendidikan menurut Montessori adalah adanya kebebasan dan spontanitas untuk mendapatkan kemerdekaan hidup yang seluas-luasnya (Barnadib, 1983: 142). Berdasarkan hal tersebut berarti bahwa anak-anak sebenarnya dapat mendidik dirinya sendiri menurut lingkungan masing-masing. Kewajiban pendidik hanya mengarahkan saja, lain pula dengan pendapat Tagore, seorang ahli ilmu jiwa dari India. Pendidikan menurut Tagore adalah semata-mata hanya merupakan alat dan syarat untuk memperkokoh hidup kemanusiaan dalam arti yang sedalam-dalamnya, yaitu menyangkut keagamaan. Manusia harus bebas dan merdeka. Bebas dari ikatan apapun kecuali terikat pada alam serta zaman, dan merdeka untuk mewujudkan suatu ciptaan (Tamansiswa. 1977:133).

Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa kemerdekaan nusa dan bangsa untuk mengejar keselamatan dan kesejahteraan rakyat tidak hanya dicapai melalui jalan politik, tetapi juga melalui pendidikan. Oleh karenanya timbullah gagasan untuk mendirikan sekolah sendiri yang akan dibina sesuai dengan cita-citanya. Untuk merealisasikan tujuannya, Ki Hajar Dewantara mendirikan perguruan Taman Siswa. Cita-cita perguruan tersebut adalah Saka, saka adalah singkatan dari “Paguyuban Selasa Kliwonan” di Yogyakarta, dibawah pimpinan Ki

Ageng Sutatmo Suryokusumo. Paguyuban ini merupakan cikal bakal perguruan taman siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara di YogyakartaTamansiswa. 1977: 15). Yakni: mengayu-ayu sarira

(45)

(membahagiakan diri), mengayu-ayu bangsa (membahagiakan bangsa) dan mengayu-ayu manungsa (membahagiakan manusia). Untuk mewujudkan gagasannya tentang pendidikan yang dicita-citakan tersebut. Ki Hajar Dewantara menggunakan metode Among yaitu Tut

wuri Handayani. Among berarti asuhan dan pemeliharaan dengan suka

cita, dengan memberi kebebasan anak asuh bergerak menurut kemauannya, berkembang menurut kemampuannya. Tu twuri

Handayani berarti pemimpin mengikuti dari belakang, memberi

kebebasan dan keleluasaan bergerak yang dipimpinnya. Tetapi adalah

handayani, mempengaruhi dengan daya kekuatannya dengan

pengaruh dan wibawanya (Sukiman. 2004: 2).

Metode Among merupakan metode pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan dilandasi dua dasar, yaitu kodrat alam dan kemerdekaan (Anshori, 2008: 76 ). Metode among menempatkan anak didik sebagai subyek dan sebagai obyek sekaligus dalam proses pendidikan. Metode among mengandung pengertian bahwa seorang pamong/guru dalam mendidik harus memiliki rasa cinta kasih terhadap anak didiknya dengan memperhatikan bakat, minat, dan kemampuan anak didik dan menumbuhkan daya inisiatif serta kreatifitas anak didiknya. Pamong tidak dibenarkan bersifat otoriter terhadap anak didiknya dan bersikap Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing

(46)

b. Ki Hajar Dewantara sebagai Budayawan

Teori pendidikan taman siswa yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara sangat memperhatikan dimensi-dimensi kebudayaan serta nilai-nilai yang terkandung dan digali dari masyarakat dilingkungannya. Sebagaimana disampaikan oleh Darsiti Soeratman (1989) bahwa “Trikon” nya Ki Hajar Dewantara adalah:

“Bahwa dalam mengembangkan dan membina kebudayaan nasional, harus merupakan kelanjutan dari budaya sendiri (kontuinitas) menuju kearah kesatuan kebudayaan dunia (konvergensi) dan tetap terus mempunyai sifat kepribadian dalam lingkungan kemanusian sedunia (konsentrisitas). Dengan demikian jelas bagi kita bahwa terhadap pengaruh budaya asing, kita harus terbuka, disertai sikap selektif adaptif dengan pancasila sebagai tolak ukurnya” (Tamansiswa. 1977 : 206).

Selektif adaptif berarti dalam mengambil nilai-nilai tersebut harus memilih yang baik dalam rangka usaha memperkaya kebudayaan sendiri, kemudian disesuaikan dengan situasi dan kondisi bangsa dengan menggunakan pancasila sebagai tolak ukurnya. Semua nilai budaya asing perlu diamati secara selektif, manakala ada unsur kebudayaan yang bisa memperindah, memperhalus, dan meningkatkan kualitas kehidupan hendaknya diambil, tetapi jika unsur budaya asing tersebut berpengaruh sebaliknya, sebaiknya ditolak. Cara seseorang berpikir dilatar belakangi oleh adanya kenyataan mereka hidup dalam suatu lingkungan budaya setempat (Budiningsih. 2004: 18). Nilai kebudayaan yang sudah kita terima kemudian perlu disesuaikan dengan kondisi dan psikologi rakyat kita, agar masuknya unsur

(47)

kebudayaan asing tersebut dapat menjadi penyambung bagi kebudayaan nasional.

Demikian luas dan intensnya Ki Hajar Dewantara dalam memperjuangkan dan mengembangkan kebudayaan bangsanya, sehingga karena jasanya itu, M Sarjito Rektor Universitas Gajah Mada menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa (DR-Hc) dalam ilmu kebudayaan kepada Ki Hajar Dewantara pada saat Dies Natalis yang ketujuh tanggal 19 Desember 1956 (Tamansiswa, 1989: 76), pengukuhan tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Soekarno.

C. Karya-karya Ki Hajar Dewantara 1. Taman Siswa

Karya pertama Ki Hajar Dewantara yang diwariskan sampai sekarang adalah Taman Siswa yang menjadi representasi institusi pendidikan pribumi pada masa kolonial dan tetap eksis sampai hari ini.Taman siswa sebuah lembaga pendidikan nasional yang dididirikan oleh Ki Hajar Dewantara atau Soewardi Soeryaningrat di Yogyakarta pada tanggal 3 Juni 1922. Taman Siswa bukan suatu badan perkumpulan yang terdiri dari anggota-anggota, dan bukan milik pribadi. Taman Siswa adalah satu badan perguruan yang sudah diatur dengan kepentingan dan keperluan rakyat, yang diserahkan kepada rakyat umum. Guru-gurunya adalah orang-orang anak bangsa kita sendiri, yang dengan rela dan keikhlasan hatinya bersedia dan menyerahkan diri untuk keperluan rakyat dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Dengan prinsip yang

(48)

sedemikian rupa, maka Taman Siswa sudah dapat berkembang dan tersebar diseluruh Indonesia.

Lembaga yang berdiri dengan nama National Onderwijs Istituut

Taman Siswa ini dikenal sebagai perguruan nasional yang bertujuan

mengganti sistem pendidikan dan pengajaran terdahulu yang dipakai pada masa penjajahan Belanda dengan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebudayaan Indonesia. Ketika dibuang ke Belanda pada tahun 1913 oleh pemerintah jajahan, Soewardi Soeryaningrat mulai mengenal dan mempelajari pendidikan modern Dr. Maria Montessori dan Jan Lichthart, tokoh pendidikan modern Belanda. Sekembalinya ke Indonesia, sebelum mendirikan Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara menjadi guru di sekolah swasta milik kakaknya, R.M. Soejopranoto dan kemudian mendirikan taman kanak-kanak “Taman Indrya” serta sebuah khursus guru (Surjomihardjo. 1986: 147).

Lembaga pendidikan Taman Siswa kemudian berkembang menjadi dua bagian, yakni Taman Muda (sekolah dasar 6 tahun) dan Taman Dewasa atau Mulo Kweekschool yang merangkap taman guru. Meskipun pendidikan tingkat Taman Dewasa mendapat tentangan dari pemerintah jajahan, banyak lulusannya yang berhasil meneruskan pendidikan ke AMS (Algemene Middlebare School). Pada saat Jepang masuk ke Indonesia, tahun 1942, Taman Siswa telah mempunyai cabang 199 tempat yang tersebar di seluruh Pulau Jawa, Bali, Sumatra, Kalimantan,

(49)

Sulawesi, Ternate, dan Maluku. Pada saat itu jumlah pengajarnya mencapai 650 orang (Soeratman. 1989: 145).

Cita-cita pendidikan Taman Siswa, yang dikenal sebagai Pancadharma, adalah memberikan kebebasan kepada anak didik dalam perkembangannya tanpa perintah atau paksaan pendidik; mengembangkan jasmani dan rohani ke peradaban dan kebudayaan; mengusahakan pengaruh yang baik bagi kodrat alam anak; mengembangkan rasa kebangsaan dan hidup berbangsa; menumbuhkan dan memupukdasar-dasar perikemanusiaan yang merupakan sifat kebangsaan (Surjomihardjo. 1986: 10).

Semboyan pendidikan Taman Siswa adalah Tut Wuri Handayani, ungkapan bahsa Jawa yang berarti mengikuti dari belakang dan memberi kekuatan. Untuk menanamkan rasa kekeluargaan antara guru dan murid , perguruan Taman Siswa mengubah sebutan guru yang pada jaman penjajahan adalah meneer dan juffrouw menjadi bapak dan ibu. Perrguruan ini memiliki Majelis Luhur, yang pada awal berdirinya dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara, yang juga disebut Bapak Taman Siswa. Pada tahun 1990 Taman Siswa bekerja sama dengan yayasan milik ABRI mendirikan sekolah calon pemimpin bangsa di Magelang yang disebut Sekolah Menengah Atas (SMA) Taruna Nusantara (Ensiklopedi Nasional Indonesia. 2004: 52).

Dengan mendirikan sekolah Taman Siswa yang pertama, maka pada masa itu berarti Suwardi Suryaningrat mengesampingkan

(50)

pendekatan politik. Ki Hajar Dewantara dapat mewujudkan keinginan bangsanya, karena usaha untuk mendidik angkatan muda dalam jiwa kebangsaan sesuai dan merupakan bagian penting pergerakan kemerdekaan Indonesia dan dianggap merupakan dasar perjuangan meninggikan derajat rakyat. Banyak perkumpulan dan partai-partai memasukan hal itu dalam programnya.

Sejarah Taman Siswa adalah sejarah kebangsaan Indonesia. Kelahirannya pada tanggal 3 Juli 1922 dinilai oleh seorang penulis asing tentang Indonesia sebagai titik balik dalam pergerakan Indonesia. Karena kaum revolusioner yang mencoba menggerakan rakyat dengan semboyan-semboyan asing dan ajaran-ajaran Marxis terpaksa memberikan tempat untuk gerakan baru, yang benar-benar berasas kebangsaan dan bersikap non kooperatif dengan pemerintah jajahan, seperti tercermin dalam pernyataan Asas Taman Siswa.

Pernyataan Asas Taman Siswa tahun 1922 itu berisi 7 pasal yang dapat diringkas sebagai berikut :

a. Pasal 1 dan 2 mengandung dasar kemerdekaan bagi tiap-tiap orang untuk mengatur dirinya sendiri. Bila diterapkan kepada pelaksanaan pengajaran, maka hal itu merupaan usaha mendidik murid-murid supaya dapat berperasaan, berpikiran dan bekerja merdeka di dalam batas-batas tujuan mencapai tertib-damainya hidup bersama. Di dalam pasal 1 juga terdapat dasar kodrat alam, yang diterangkan perlunya, agar kemajuan sejati dapat diperoleh dengan perkembangan kodrat,

(51)

yang terkenal sebagai evolusi. Dasar ini mewujudkan sistem among, yang salah satu seginya adalah mewajibkan guru-guru untuk berperan sebagai “pemimpin yang berdiri di belakang tetapi mempengaruhi” dengan memberi kesempatan kepada anak-anak didik untuk mewujudkan diri sendiri. Inilah yang disebut dengan semboyan Tut

Wuri Handayani. Di samping itu guru diharapkan dapat

membangkitkan pikiran murid, bila berada di tengah-tengah mereka dan memberi contoh bila di depan murid.

b. Pasal 3 menyinggung kepentingan-kepentingan sosial, ekonomi dan politik. Kecenderungan bangsa kita untuk menyesuaikan diri dengan hidup dan penghidupan kebarat-baratan akan menimbulkan berbagai kekacauan. Sistem pengajaran yang timbul dianggap terlampau mementingkan kecerdasan pikiran, yang melanggar dasar-dasar kodrati yang terdapat dalam kebudayaan sendiri sehingga tidak menjamin keserasian dan dapat memberi kepuasan. Inilah yang disebut dasar kebudayaan.

c. Pasal 4 mengandung dasar kerakyatan. Pernyataan “Tidak ada engajaran bagaimanapun tingginya, dapat berguna, apabila hanya diberikan kepada sebagian kecil orang dalam pergaulan hidup. Daerah pengajaran harus diperluas”, menjadi dasar pelaksanaan dan wajib

belajar bagi segenap mereka yang sudah waktunya mendapat pengajaran.

(52)

d. Pasal 5 merupakan asas yang sangat penting bagi semua orang yang ingin mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuh-penuhnya. Pokok dari asas ini adalah percaya kepada kekuatan diri sendiri untuk tumbuh dan berkembang.

e. Pasal 6 berisi persyaratan dalam mengejar kemerdekaan diri dengan jalan keharusan untuk membelanjai sendiri segala usaha.

f. Pasal 7 mengharuskan adanya keikhlasan lahir batin bagi guru untuk mendekati anak didiknya (Surjomihardjo. 1986: 37).

Pernyataan asas berisi tujuh pasal itu disebut oleh Dr. Gunning sebagai “manifest yang penting”. Salah seorang pemimpin Taman Siswa,

Sarmidi Mangunsarkoro menyebutkan pernyataan asas itu sebagai “lanjutan cita-cita Ki Hajar Dewantara dan kawan-kawannya yang

tergabung dalam Gerombolan Selasa Kliwon, sebagai anak rohani gerakan politik kiri dan gerakan kebatinan yang menganjurkan kebebasan”. Selama delapan tahun sejak berdirinya Taman Siswa,

Suwardi Suryaningrat dan pembantu-pembantunya bekerja secara diam-diam. Dalam arti tidak melayani kritik-kritik dari masyarakat kita sendiri maupun dari pihak Belanda, yang bernada meremehkan usaha pendidikan itu. Namun secara teratur gagasan dan usaha pendidikan yang hidup itu dijelaskan melalui majalah pendidikan umum yang diterbitkan, yaitu

Wasita.

Banyak sekolah yang telah berdiri terlebih dulu kemudian menyerahkan sekolahnya kepada Taman Siswa, seperti sekolah Budi

(53)

Utomo di Jatibaru Jakarta, dan Sekolah Rakyat di Bandung. Menjelang kongresnya yang pertama, maka penerbitan resmi pemerintah Hindia Belanda mencatat pada tahun 1930, bahwa di Jawa terdapat pusat-pusat kegiatan pemeliharaan kesejahteraan penduduk yang diusahakan oleh bangsa sendiri. Disebutnya ada tiga pusat kegiatan, yaitu yang diusahakan oleh Muhammadiyah, Indonesische Studieclub Surabaya dan Taman Siswa.

Mengenai Taman Siswa penerbitan pemerintah Hindia Belanda itu menguraikan antara lain sebagai berikut:

Pertama, semula didirikan pada tahun 1922 di Yogyakarta,

sekarang ini perguruan Taman Siswa meliputi 40 cabang, tiga diantaranya di Sumatra Timur dan empat di Kareridenan Kalimantan Selatan dan Timur dengan jumlah murid 5.140 orang. Ibu Pawiyatan di Yogyakarta terdiri dari sebuah MULO dengan 238, sekolah rendah dengan 362 murid dan Schakelschool dengan 97 murid. Sejak tahun 1925, pada waktu sekolah rendah untuk pertama kali meluluskan muridnya, rata-rata 70 persen dari mereka telah lulus ujian pegawai negeri rendah dan ujian masuk MULO atau sekolah teknik. Banyak diantaranya yang melanjutkan pelajaran ke MULO-Kweekschool, yang didirikan pada tahun 1924.

Kedua, lulusan MULO pada tahun 1928, dari lima diantara

sembilan, dan pada tahun 1929, enam diantara 14 telah lulus ujian masuk AMS atau rata-rata berarti 45 persen, sedangkan 24 lulusan Taman Guru

(54)

(MULO ditambah satu tahun teori dan satu tahun pendidikan praktek) sekarang semuanya bekerja sebagai guru pada Taman Siswa atau lembaga pendidikan partikelir lainnya. Pada tahun 1929 yang mendaftarkan diri sebagai murid MULO begitu besar sehingga banyak yang ditolak. Para ahli telah memberikan penilaian yang baik terhadap Taman Siswa di Yogyakarta (Tamansiswa. 1977 : 506).

2. Tulisan Ki Hajar Dewantara yang dibukukan

Tulisan-tulisan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara kemudian dikumpulkan dan diterbitkan oleh Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa Yogyakarta diantaranya ;

a. Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama Pendidikan pada tahun 1977: tentang Pendidikan Buku ini khusus membicarakan gagasan dan pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan di antaranya tentang hal ihwal Pendidikan Nasional. Tri Pusat Pendidikan, Pendidikan Kanak-Kanak, Pendidikan Sistem Pondok, Adab dan Etika, Pendidikan dan Kesusilaan.

b. Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Kedua Kebudayaan pada tahun 1994: tentang Kebudayaan Dalam buku ini memuat tulisan-tulisan mengenai kebudayaan dan kesenian di antaranya: Asosiasi Antara Barat dan Timur, Pembangunan Kebudayaan Nasional, Perkembangan Kebudayaan di Jaman Merdeka, Kebudayaan nasional, Kebudayaan Sifat Pribadi Bangsa, Kesenian Daerah dalam

Figur

Memperbarui...

Related subjects :