SEPERTIGA
(STUDI PUTUSAN NO 11/PDT.P/2008/PA.KDL)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Progaram Strata 1 (S 1)
Program Ahwalus Syahsiah Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo
Oleh :
MUH. SAEHUDIN ANWAR N I M : 0 6 2 1 1 1 0 4 9
JURUSAN AL-AHWAL ASY-SYAKHSIYAH
FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
ﻢﻴﻠﻋ ﻪﹺﺑ َﷲﺍ ﱠﻥﹺﺈﹶﻓ ٍﺀﻲﺷ ﻦﻣ ﺍﻮﹸﻘﻔﻨﺗ ﺎﻣﻭ ﹶﻥﻮﺒﺤﺗ ﺎﻤﻣ ﺍﻮﹸﻘﻔﻨﺗ ﻰﺘﺣ ﺮﹺﺒﹾﻟﺍ ﺍﻮﹸﻟﺎﻨﺗ ﻦﹶﻟ
Artinya:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang
sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta
yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan,
maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”(Q.S. Ali
Imran: 92)
11
Saya persembahkan untuk :
Ibunda dan Ayahanda tercinta dan tersayang
Kasih sayang, tuntunan, dukungan dan do’a dari kalian
Selalu menerangi langkah penuh cita dan cinta putramu.
Para Kiai, Guru, Dosen dan Asatiid
Ilmu dan bimbingan dari kalian menuntun saya untuk
menjadi insan yang ta’at dan berbakti.
Kakek dan Nenek yang saya ta’dzimi
Nasehat dan do’amu mengobarkan semangat cucumu.
Seluruh keluarga
Dukungan kalian tak akan pernah saya sia-siakan.
Dan untuk teman-teman yang selalu menemani
Bersama kita raih cita-cita kita.
Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab, penulis menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain atau diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran-pikiran orang lain kecuali informasi yang terdapat dalam referensi yang dijadikan bahan rujukan.
Semarang, 13 Juni 2011 Deklarator
M. SAEHUDIN ANWAR NIM: 62111049
mempersempit kesenjangan sosial serta menumbuhkan rasa kesetiakawanan dan kepedulian sosial adalah hibah atau pemberian. Hibah, dilihat dari aspek vertikal (hubungan antara manusia dengan Tuhan) memiliki dimensi taqarrub, artinya dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan seseorang. Semakin banyak berderma dan bershadaqah akan semakin memperkuat dan memperkokoh keimanan dan ketakwaan, inilah aspek vertikal hibah. Yang menjadi perumusan masalah, bagaimana dasar penetapan hakim dalam putusan No.11/ Pdt.P/2008/PA.Kdl kebolehan hibah yang lebih dari sepertiga?. Bagaimana tinjauan hukum Islam tentang Putusan No. 11/ Pdt.P/2008/PA.Kdl
Dalam menyusun skripsi ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kepustakaan dengan data primer, yaitu berkas Putusan Pengadilan Agama Kendal No. 11/ Pdt.P/2008/PA.Kdl, sedangkan data sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan permasalahan yang dikaji. Teknik pengumpulan data berupa teknik dokumentasi atau studi dokumenter yaitu dengan meneliti sejumlah kepustakaan (library research). Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan metode deskriptif analitis yakni menggambarkan dan menganalisis Dasar Penetapan Hakim Dalam Putusan No. 11/ Pdt.P/2008/PA.Kdl Terhadap Hibah Yang Lebih Dari Sepertiga.
Pada dasarnya hibah tidak ada kaitannya dengan kewarisan kecuali nyata bahwa hibah itu mempengaruhi hak ahli waris, maka dalam hal ini perlu adanya pembatasan maksimal hibah tidak melebihi sepertiga. Dalam permasalahan ini bahwa alm Romdo tidak mempunyai ahli waris yang mana saudara laki-lakinya dan istri telah meninggal sehingga yang ada hanya anak angkatnya saja (pemohon) yang kemudian separuh tanah pekarangan beserta rumah di atasnya dihibahkan kepada pemohon, karena pihak Pemohon (anak angkat) semasa hidupnya telah mengabdikan dirinya kepada bapak Romdo hingga akhir hayatnya. Karena dalam permasalahan ini hibah tidak mempengaruhi hak-hak ahli waris maka hibah tersebut menurut penulis sah menurut hukum Islam. Bahwa kalau ternyata hibah itu mempengaruhi kepentingan dan hak-hak ahli waris maka perlu ada batas maksimal hibah tidak melebihi sepertiga harta seseorang. Akan tetapi bila menyangkut hak-hak ahli waris maka hibah perlu ada batasan.
Hasil pembahasan menunjukkan, sebagaimana yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 210 bahwa Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun berakal sehat tanpa adanya paksaan dapat menghibahkan sebanyak-banyaknya 1/3 (sepertiga) Kompilasi Hukum Islam memberikan batasan dalam pemberian hibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari hartanya penghibah.
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt, Yang Maha pengasih lagi maha penyayang yang telah menyinari jalan-jalan orang yang bertauhid, menunjukkan hati orang-orang mukmin kepada kebenaran dan kebaikan. Sehingga pada akhirnya skripsi ini bisa hadir di hadapan kita, adapun motivasi mendasar yang mendorong bagi penulis untuk berusaha keras menyelesaikan skripsi ini selain dari pada kewajiban yang harus dilaksanakan dan merupakan tugas akhir untuk memperoleh gelar sarjana adalah semata-mata karena ingin berperan dan ikhtiar membangun hari esok yang lebih baik lagi, sekalipun hasilnya ternyata hanya sekedar mampu menawarkan sebutir pasir pada pantai lautan.
Dengan ini tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. Prof. DR. H.Muhibin, M.Ag. selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang. 2. Dr. H.Imam Yahya, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo
Semarang.
3. Ibu Dra,Hj.Endang Rumaningsih M.Hum, selaku Pembimbing I, dan ibu Nur Hidayati setyani SH,MH, selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan kepada penulis selama proses penulisan skripsi ini.
4. Segenap dosen Fakultas Syari'ah yang telah membekali pengetahuan kepada penulis pada jenjang pendidikan sarjana ( S-1 )
5. Segenap karyawan Fakultas Syari'ah, pegawai perpustakaan IAIN, perpustakan Fakultas Syari'ah yang telah memberikan layanan yang baik kepada penulis.
6. Bapak Drs.Syarifudin, SH, selaku Hakim pembimbing di Pengadilan Agama Kendal yang telah meluangkan waktunya dengan tulus ikhlas kepada penulis selama proses penelitian ini.
7. Segenap staf pegawai di Pengadilan Agama Kendal yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.
8. Keluarga penulis, Bapak, Ibu, dan adik-adik penulis yang telah memberikan dorongan baik materiil maupun moril dalam mengarungi lautan keilmuan ini.
dalam proses penyusunan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Semoga Allah SWT, membalas semua amal kebaikan mereka dengan balasan yang lebih dari mereka berikan. Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi materi, metodologi, dan analisisnya. Karennya, kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya hanya kepada Allah penulis berharap semoga apa yang tertulis dalam skripsi ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis dan bagi para pembaca pada umumnya. Amin
Semarang, 13 Juni 2011 Penulis,
M. SAEHUDIN ANWAR NIM: 62111049
HALAMAN JUDUL... ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...ii
HALAMAN PENGESAHAN ...iii
HALAMAN MOTTO ...iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ...v
HALAMAN DEKLARASI ... ...vi
HALAMAN ABSTRAK ...vii
HALAMAN KATA PENGANTAR ...viii
HALAMAN DAFTAR ISI ...ix
BAB I : PENDAHULUAN A.Latar Belakang ...1
B. Pokok Permasalahan ...9
C. Tujuan Penulisan Skripsi ...9
D. Tela'ah Pustaka ...10
E. Metode Penulisan Skripsi ...13
F. Sistematika Penulisan Skripsi ...17
BAB II :TINJAUAN UMUM TETANG HIBAH A.Pengertian Hibah ...19
B. Dasar Hukum Hibah ...23
C. Rukun dan Syarat-syarat Hibah ...26
1. Rukun hibah………...28
2. Syarat Hibah………...30
11/Pdt.P/2008/PA.K.dl
A. Profil Pengadilan Agama Kendal ...42
1.Sekilas tentamg Pengadilan Agama Kendal….. ...42
2.Tugas dan Wewenang Pengadilan Agama Kendal...48
3.Hakim Pengadilan Agama...51
B. Dasar Penetapan Hakim Dalam Memutus Perkara No 11/Pdt.P/2008/Pa.Kdl…...53
1.Putusan Pengadilan Agama Kendal No 11/Pdt.P/2008/Pa.Kdl ...53
2. Dasar Pertimbangan Dan Penetapan Hakim Memutus PerkaraNo11/Pdt.P/2008/Pa.Kdl...63
BAB IV : ANALISIS TERHADAP PUTUSAN NOMOR 11/Pdt.P/2008/PA.Kdl TENTANG HIBAH A. Analisis Terhadap Dasar penetapan Hakim Dalam Putusan Perkara Nomor 11/Pdt.P/2008/PA.Kdl ...68
B. B. Tinjauan Hukum Islam Putusan Perkara Nomor 11/Pdt.P/2008/PA.Kdl...73 BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ...81 B. Saran-saran... ...82 C.Penutup ...83 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
1 A. Latar Belakang Masalah
Hibah merupakan fenomena yang umum dan lazim terjadi dalam masyarakat, tetapi fenomena ini menarik ketika dihadapkan pada permasalah baru di masyarakat, misalnya pemberian hibah yang lebih dari sepertiga dimana para ulama berbeda pendapat mengenai kadar pemberian hibah, begitu juga dalam hukum positif Indonesia (Kompilasi Hukum Islam) yang mengatur tegas pada pasal 210, bahwa pada dasarnya besarnya hibah itu maksimal adalah sepertiga dari milik penghibah.
Kata hibah berasal dari kata “hubuuburriib” yang berarti (muruuruha)
perjalanan angin. Kemudian kata hibah dengan maksud ialah memberikan sesuatu kepada orang lain,baik harta ataupun lainnya.1 Secara pengertian syara’ hibah berarti pemberian harta milik seeorang kepada orang lain saat ia masih hidup tanpa adanya imbalan.Secara umum pengertian hibah adalah
a) Ibraa, yakni menghibahkan utang kepada yang berhutang;
b) Sedekah, yakni menghibahkan sesuatu dengan mengharapkan pahala di akhirat;
c) Hadiah yakni pemberian yang menurut orang yang diberi itu untuk memberi
1
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah Juz 4.terjemahan,(Jakarta:Pena pundit aksara, 2006),hlm 435
imbalan.2
Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih hidup untuk dimiliki. Setiap orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat dan tidak adanya paksaan dalam menghibahkan sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta bendanya kepada orang lain atau kepada suatu lembaga untuk dimiliki.3 Hibah harus dilakukan dihadapan dua orang saksi dan harta yang dihibahkan itu haruslah barang-barang milik pribadi (hak milik) orang yang memberi hibah.
Dalam Al-qur’an, penggunaan kata hibah digunakan dalam konteks pemberian anugerah Allah kepada utusan-utusanNya, doa-doa yang dipanjatkan oleh hamba-hambaNya, terutama para nabi, dan menjelaskan sifat Allah Yang Maha memberi Karunia. Untuk itu mencari dasar hukum tentang hibah seperti yang dimaksud dalam kajian ini secara ekplisit tidak ditemukan. Namun dapat digunakan petunjuk dan anjuran secara umum, agar seseorang memberikan sebagian rezekinya kepada orang lain, misalnya QS. Al baqarah, 2:2624
t Ï%©!$# t βθà)ÏΖムö Νßγs9≡uθøΒr& ’Îû È ≅‹Î6y™ «!$# § ΝèO Ÿ ω t βθãèÎ7÷Gム!$tΒ (#θà)xΡr& $xΨtΒ I ωuρ “]Œr& ö Νçλ°; ö Νèδãô_r& y‰ΨÏã
ö
Ν
Î
γ
În
/u‘
Ÿ
ω
u
ρ
ì
∃
ö
θ
yz
ó
Ο
Î
γ
ø
Š
n
=
tæ
Ÿ
ω
u
ρ
ö
Ν
è
δ
š
χθ
ç
Ρ
t“
ó
st
ƒ
2 Ibid, hlm.437 3
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam, (Jakarta: Akademika Presindo, 2008) hlm 164 4
Ahmad Rofiq, Hukum Islam Di Indonesia,( Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1998)hlm 467
Artinya: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhanmereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Menurut mayoritas ulama bahwa seseorang dibolehkan untuk menghibahkan semua yang dimilikinya kepada orang lain. Muhammad Ibnu Hasan dan sebagian kalangan Hanafi berkata, “tidak sah menghibahkan semua harta meskipun dengan tujuan kebaikan.” Mereka menganggap bahwa orang yang berbuat demikian itu sebagai orang bodoh yang wajib dibatasi tindakannya. Dalam masalah ini orang yang mampu bersabar atas kemiskininan dan kekurangan harta, maka tidak mengapa baginya menyedekahkan sebagian besar atau bahkan semua hartanya. Barangsiapa yang besar kemungkinan meminta-minta kepada manusia pada saat memerlukan, maka tidak dibolehkan menyedekahkan semua atau atau sebagian besar hartanya.5
Islam memperbolehkan seseorang memberikan atau menghadiahkan sebagian atau seluruhnya harta kekayaan ketika masih hidup kepada orang lain. Pemberian semasa hidup itu lazim dikenal dengan sebutan ”hibah”. Di dalam Hukum Islam jumlah harta seseorang yang dapat dihibahkan itu tidak terbatas. Berbeda halnya dengan pemberian seseorang melalui surat wasiat yang terbatas pada sepertiga dari harta peninggalan yang bersih.
5
Hibah pada dasarnya memang tidak ada kaitannya dengan kewarisan, karena berdasarkan pelaksanaan sudah jauh berbeda. Hibah diberikan ketika si penghibah masih hidup sedangkan kewarisan dilakukan setelah adanya kematian. Namun dengan adanya permasalahan yang ada yaitu, ketika terdapat seseorang yang menghibahkan seluruh hartanya kepada orang lain, agar hartanya bisa bermanfaat, karena si pemberi hibah takut hartanya kelak akan jatuh ke tangan ahli warisnya yang tak bisa di pertanggung jawabkan nantinya, dan kelak harta tersebut akan sia-sia. Dan andainya perbuatanya itu (menghibahkan seluruh harta) menyebabkan sanak keluarganya dalam keadaan tidak mempunyai harta (miskin) maka sama halnya ia menjerumuskan sanak keluarganya ke gerbang kefakiran, sebab fakir itu merupakan salah satu penyebab kekafiran. Sehingga pemberian hibah harus ada batasan dalam pemberiannya, dengan maksud agar sanak keluarga sejahtera. Selain itu batasan hibah juga melindungi hak-hak ahli waris supaya tidak ada yang dirugikan dalam hal pewarisan, dan juga menghindari dari timbulnya perselisihan.
Mengutip pendapat Muhammad Ibnu Hasan, bahwa seseorang boleh menghibahkan hartanya kepada selain ahli waris, namun tidak sah jika ia menghibahkan seluruh hartanya walaupun untuk kebaikan. meskipun secara kepemilikan itu adalah harta si penghibah, yang dia bisa bebas melakukan apa saja dengan hartanya. ketika ia menghibahkan seluruh hartanya, maka ia tak memiliki lagi harta untuk dibagikan kepada ahli warisnya, dan bisa berakibat pula
pada perselisihan antar keluarga, maka disini mafsadahnya lebih besar daripada maslahatnya. Meskipun dalam masalah tadi si pemberi hibah berniat baik agar kelak hartanya terkelola dengan baik,dan Allah telah memerintahkan kita untuk menyedekahkan harta kita dalam firman Nya 6
Surat Al-Baqarah:195
(#θ
à
)
Ï
Ρ
r&u
ρ
’
Î
û
È
≅‹
Î
6y™
«!$#
Ÿ
ω
u
ρ
(#θ
à
)
ù
=
è
?
ö
/
ä
3ƒ
Ï
‰
÷
ƒ
r'
Î
/
’
n
<
Î
)
Ï
π
s
3
è
=
ö
κ
−
J9
$#
¡
(#
þ
θ
ã
Ζ
Å
¡
ô
mr&u
ρ
¡
¨
β
Î
)
©!$#
=
Ï
t
ä
†
t
Ï
Ζ
Å
¡
ó
s
ß
ϑ
ø
9
$#
Artinya: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. “
Dengan kemaslahatan pihak keluarga dan ahli warisnya, sungguh tidak dibenarkan sebab didalam syariat Islam diperintahkan agar setiap pribadi untuk menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka. Dalam konteks ini ada kewajiban pada diri masing-masing untuk menyejahterakan keluarga. Apabila perbuatan itu dilakukan dan menyebabkan keluarganya jatuh dalam keadaan miskin, maka samalah halnya ia menjerumuskan sanak keluarganya ke gerbang kekafiran.
6
Pemikiran yang mengatakan bahwa tidak ada salahnya memberikan semua harta yang dimilikinya kepada siapa saja yang dikehendakinya sebagaimana yang dikemukakan oleh jumhur fuqoha’ bukanlah pendapat seluruhnya salah. Para praktisi hukum dilingkungan Peradilan Agama juga memperhatikan apa yang dikemukakan oleh Muhammad Ibnu Hasan dan sebagian pentahkik mazhab Hanafi bahwa tidak sah menghibahkan semua harta meskipun dalam kebaikan, orang yang berbuat demikian adalah orang yang dungu dan patut dibatasi hukumnya. Pendapat ini adalah sejalan dengan apa yang dibenarkan dalam Kompilasi Hukum Islam yang mengatakan bahwa hibah itu sepertiga dari seluruh harta yang dimilkinya. Apabila ada kelebihan dari hibah yang diterima itu, maka dapat dijadikan bagian warisan yang diterima para ahli waris. Jadi manusia diperintahkan oleh Allah untuk menginfakkan hartanya di jalan Allah dengan cukup sekedarnya saja.
Selain itu ayat Al Qur’an Surat Ali-Imran:92 yang berbunyi:
s
9
(#
θ
ä
9
$o
Ψ
s?
§
É
9
ø
9
$#
4
®
Lym
(#
θ
à
)
Ï
Ζ
è
?
$
£
ϑ
Ï
Β
š
χθ
™
6
Ï
t
é
B
4
$t
Β
u
ρ
(#
θ
à
)
Ï
Ζ
è
?
Ï
Β
&
ó
x«
¨
β
Î
*sù
©!$#
Ï
µ
Î
/
Ò
ΟŠ
Î
=
tæ
Artinya: ”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”
Pada lingkungan hukum adat di Indonesia, diakui bahwa proses pewarisan harta seorang pewaris dapat mulai dilaksanakan sejak pewaris masih
hidup. Meskipun secara umum pembagian harta warisan dilakukan setelah pewaris meninggal, tidak jarang terjadi pembagian tersebut dilaksanakan jauh sebelum pewaris meninggal. Penyerahan harta warisan kepada ahli waris atau seorang yang tidak termasuk ahli waris sebelum pewaris meninggal, disebut hibah.
Dalam hal pewaris menghibahkan hartanya kepada bukan ahli waris, penghibahan dibatasi sepanjang tidak merugikan hak para ahli waris. Walaupun hibah terhadap selain ahli waris dibatasi sebanyak- banyaknya 1/3, maka bukan berarti hibah kepada anak-anak si pemberi hibah itu diperbolehkan lebih dari sepertiga. Justru dalam hal ini aspek keadilan kepada semua anak- anaknya harus diperhatikan.
Ketika antara umat berbeda pendapat dalam satu hal maka hendaknya manusia menilik kembali firmannya, karena Allah SWT telah meletakkan prinsip-prinsip dasar pokok keutamaan agama Islam sebagai agama terakhir yang menjadi naungan umat, dengan ibarat dan ungkapan yang jelas disertai nash-nash yang tegas yang tidak bisa diselewengkan.7 Semua itu dimuat dalam Al-Qur’an sebagai sumber dari segala sumber hukum
Ketentuan KHI ( Kompilasi Hukum Islam) dalam hal ini tampak sekali mengakomodasi realitas empiris sebagaimana dikandung dalam nilai-nilai hukum
7
Ahmad Qadri Azizi, Islam dan Permasalahan Social, (Yogyakarta: LKIS, 1997), hlm. 33
adat yang telah hidup dan mapan di tengah masyarakat. Ketentuan KHI (Kompilasi Hukum Islam) tentang hibah, disamping mempertimbangkan tujuan dan motifnya, yaitu nilai-nilai kemaslahatan, keadilan dan kedamaian tanpa saling cemburu secara sosial dalam pembagian tersebut, juga melakukan revisi sistem aturannya dengan memasukkan sistem pembagian tidak melebihi sepertiga dari keseluruhan harta penghibah.8
Pada putusan penetapan dalam perkara permohonan pengesahan hibah lebih dari sepertiga oleh Pengadilan Agama Kendal yang tertuang dalam putusan no 11/Pdt.p/2008/PA.Kdl menetapkan, menyatakan sah menurut hukum dan hal ini tidak bertentangan dengan hukum Islam atau maksud dari ketentuan pasal 210 Kompilasi Hukum Islam tersebut.
Hukum Islam yang berbentuk keputusan Pengadilan Agama adalah keputusan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama atas permohonan penetapan atau gugatan yang diajukan oleh seseorang atau lebih dan /atau lembaga kepadanya. Keputusan dimaksud, bersifat mengikat pihak-pihak yang berperkara. Selain itu, keputusan pengadilan agama dapat bernilai sebagai yurisprudensi, yang dalam kasus –kasus tertentu dapat dijadikan oleh hakim sebagai referensi hukum.9
8
Mahsun Fuad, Hukum Islam Indonesia Dari Nalar Partisipatoris Hingga Emansipatoris, ,(Yogyakarta : lkis, 2005 ) hlm 273
9
Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika, 2006), hlm .5
Berdasarkan pemaparan kasus dan informasi di atas serta berbagai kontroversi yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk mengangkat dalam bentuk skripsi dengan judul “Analisis Terhadap Putusan Pengadilan Agama Kendal Tentang Hibah Lebih Dari Sepertiga (Studi Putusan No 11/Pdt.P/2008/Pa.Kdl Di Pengadilan Agama Kendal)”
B. Permasalahan
Dari latar belakang masalah di atas, maka penulis memfokuskan penelitian ini dengan merumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana dasar penetapan hakim dalam memutus perkara no 11/pdt.p/2008/PA/kdl
2. Bagaimana tinjauan hukum islam terhadap putusan hibah lebih dari sepertiga no 11/pdt.p/2008/PA/kdl
C. Tujuan penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis dala penelitian ini adalah : 1. Tujuan
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulisan skripsi ini bertujuan: a. Menjelaskan dasar penetapan yang dilakukan hakim dalam
memutus perkara hibah lebih dari sepertiga no 11/pdt.p/2008/PA/kdl
b. Untuk mengetahui tinjauan Hukum Islam terhadap hibah lebih dari sepertiga terhadap putusan no 11/pdt.p/2008/PA/kdl
Setiap permasalahan membutuhkan kajian secara tuntas dan mendasar agar dapat di peroleh kegunaan dari permasalahan tersebut, yaitu:
a. Secara akademik
Penulisan ini diharapkan dapat menciptakan pengembangan Ilmu Hukum, sebagai suatu sarana pengendalian masyarakat maupun sebagai sarana perencanaan masyarakat dan menambah hazanah keilmuan mengenai upaya hukum dapat ditempuh apabila terjadi persengketaan terhadap Hibah oleh ahli waris. Maka dengan itu dapat dijadikan salah satu bahan untuk melakukan kajian atau penelitian lanjutan bagi akademis atau penelitian berikutnya. b. Secara praktis
Dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara sengketa tentang pembatasan Hibah oleh ahli waris yang mungkin terjadi dikemudian hari. Bagi praktisi hukum, hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan untuk menemukan aspek-aspek hukum dari hibah yang lebih dari sepertiga.
D. Telaah pustaka
Pemberian hibah yang lebih dari sepertiga para ulama berbeda pendapat mengenai kadar pemberiannya, begitu juga dalam hukum positif Indonesia (Kompilasi Hukum Islam) yang mengatur tegas pada pasal 210, bahwa pada dasarnya besarnya hibah itu maksimal adalah sepertiga dari milik penghibah.
1.Buku Karya Ahmad Rofiq “Hukum Islam Di Indonesia “ yang menerangkan bahwa pembatasan yang dilakukan Kompilasi Hukum Islam, baik dari usia maupun sepertiga dari harta pemberi hibah, berdasar pertimbangan bahwa usia 21 tahun telah dianggap cakap untuk memiliki hak untuk menghibahkan benda miliknya itu. Demikian juga batasan sepertiga harta, kecuali jika ahli waris menyetujuinya. Selain itu beliau juga membahas pengertian hibah, dasar hukum hibah, dan hibah hubungannya dengan warisan, hibah dari orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan (KHI ps.211), masalah penarikan kembali hibah yang menjelaskan tercelanya menarik kembali hibahnya, menunjukan keharaman penarikan kembali hibah atau sadaqah yang lain yang telah diberikan kepada orang lain. Kebolehan menarik kembali hibah hanya berlaku bagi orang tua yang menghibahkan sesuatu kepada anaknya. Kendatipun demikian, menurut hemat penulis kebolehan menarik kembali, dimaksudkan agar orang tua dalam memberikan hibah kepada anak-anaknya memperhatikan nilai-nilai keadilan.10
2.Buku karya Abdul Manan “Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia” menerangkan yang berhubungan kewenangan Peradilan Agama yang sebagaima diatur dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama. Dalam undang undang ini kewenangan Pengadilan di lingkungan Peradilan Agama diperluas yang sebelumnya hanya pada lingkup
10
perkawinan, perwakafan, kewarisan, wasiat, hibah, shodaqoh, hal ini sesuai dengan perkembangan hukum dan kebutuhan hukum masyarakat, khususnya masyarakat muslim. Perluasan tersebut antara lain meliputi ekonomi syariah.11 3.Skripsi Karya Abdul Khamid, Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Walisongo
Semarang yang berjudul “Analisis Pendapat Imam Syafi’i Tentang Serah Terima Sebagai Syarat Sah Hibah” kontekstualitas pendapat Imam Syafi’i tentang serah terima sebagai syarat hibah dengan praktek hibah saat ini masih relevan. Serah terima sebagai salah satu syarat hibah menjadi unsur penting dalam menjaga nilai kekuatan dan pembuktian hibah saat ini. Dalam kontekstualitas dengan praktek hibah saat ini bahwa hibah dilakukan dengan serah terima dihadapan notaris atau pejabat pembuat akta tanah.
4.Skripsi karya Muhammad Munir mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang yang berjudul “Analisis Pendapat Imam Syafi’i Tentang Hukum Pencabutan Kembali Hibah “ pembahasan Imam Syafi’i tentang hukum pencabutan kembali hibah. Menurut Imam Syafi’I, Dalam analisisnya bahwa Imam Syafi’i berpendapat bahwa hibah tidak boleh dicabut kembali manakala si penghibah memberi hibah dengan sukarela tanpa mengharap imbalan. Sedangkan bila si penghibah memberi hibah dengan maksud mendapat imbalan maka hibah boleh dicabut kembali. Karena hibah merupakan pemberian yang mempunyai akibat hukum perpindahan hak milik, maka pihak pemberi hibah tidak boleh
11
Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media, 2006) hlm 2
meminta kembali harta yang sudah dihibahkannya, sebab hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip hibah.
Berdasarkan pemaparan pustaka di atas, maka dapat diketahui bahwasannya pustaka-pustaka di atas secara substansi objek kajian memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan penulis laksanakan yang berkaitan dengan hibah, akan tetapi jika dikaji secara khusus maka terdapat perbedaan masalah yaitu Putusan Pengadilan Agama Kendal Terhadap Hibah Lebih Dari Sepertiga, sebagai objek kajian penulis yang akan membedakan antara pustaka-pustaka di atas dengan penelitian yang akan penulis laksanakan.
E. Metode penelitian 1. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kepustakaaan (library reseach) penelitian yang dilakukan untuk menelaah bahan-bahan dari buku utama yang berkaitan dengan masalah, dan buku penunjang berupa sumber lainnya yang relevan dengan topik yang dikaji. Sedangkan dalam penelitian ini menitikberatkan kepada dokumen. Penelitian dokumen adalah Penelitian yang dilakukan dengan melihat data yang bersifat praktek, meliputi: data arsip, data resmi pada institusi Pengadilan Agama Kendal, data yang dipublikasikan (putusan pengadilan, yurisprudensi, dan sebagainya).12
12
P. Joko Subagyo, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1991), hlm 109
Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah putusan Pengadilan Agama Kendal No: 11/Pdt.P/2008/PA.Kdl tentang hibah lebih dari sepertiga.
2. Sumber Data Penelitian
Sumber data penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. a. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber yang memberikan informasi secara langsung, serta sumber data tersebut memiliki hubungan dengan pokok penelitian sebagai bahan informasi yang dicari.13 Data primer dalam penelitian ini adalah data yang diambil dari data-data dalam bentuk dokumen putusan Pengadilan yaitu putusan Pengadilan Agama Kendal No: 11/Pdt.P/2008/PA.Kdl b. Sumber data sekunder
Sumber data sekunder dalam penelitian ini meliputi sumber data yang memuat tentang hibah dalam bentuk buku maupun jurnal. Adapun data sekunder atau data pendukung yaitu wawancara dengan hakim Pengadilan Agama Kendal dan literatur yang digunakan dalam menjelaskan tentang pokok permasalahan yaitu buku-buku yang ada relevansinya dengan penelitian. Antara lain Sayyid Sabiq (Fiqh Sunah), Chairuman Pasaribu ( Hukum Perjanjian Dalam Islam ), Rachmat syafe’I ( Fiqh Muamalah), M. Idris Ramulyo (Perbandingan, Perbandingan Pelaksanaan
13
Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Menurut Hukum perdata), Cik Hasan Bisri ( Peradilan Agama Di Indonesia)
Dari sini setiap data atau informasi yang diperoleh dari masalah demi masalah akan dibandingkan dengan informasi lain yang ada, sehingga mendapatkan hasil yang diharapkan untuk kemudian dapat diambil suatu kesimpulan sebagai hasil akhir dari permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini.
3. Metode Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang akurat, penulis akan menempuh atau menggunakan beberapa metode pengumpulan data, yaitu sebagai berikut :
a. Metode Dokumen (Documentation)
Yaitu metode yang dilakukan dengan cara mencari dan mempelajari data-data dari catatan-catatan, transkip, berkas, surat, majalah, surat kabar dan sebagainya yang berkaitan dengan penelitian ini.14 Pengumpulan data berupa sumber data tertulis, bentuk tulisan ini adalah tulisan yang diarsipkan atau dikumpulkan. Diantara dokumen yang penulis gunakan adalah putusan Pengadilan Agama Kendal No: 11/Pdt.P/2008/PA.Kdl hibah lebih dari sepertiga
b. Metode Wawancara (Interview)
14
Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,( Rineka Cipta,: Jakarta, 2006), hlm 202
Yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mewawancarai atau memberikan pertanyaan kepada responden yang berkaitan dengan penelitian penulis.15 Dalam penelitian ini, interview dilakukan dengan berbagai pihak yang berkompeten dan terkait dengan penelitian. Yaitu hakim yang menangani masalah Putusan Hibah Lebih Dari Sepertiga di lingkungan Pengadilan Agama Kendal dengan menggunakan koesioner sebagai metode yang dipilih untuk mengumpulkan data. Adapun wawancara dengan Hakim Pengadilan Agama Kendal sebagai data pendukung.
4. Metode Analisis Data
Data-data yang telah diperoleh tersebut dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif analitatif, yaitu suatu metode yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang keadaan nyata sekarang (sementara berlangsung). Adapun tujuan dari metode tersebut adalah untuk menggambarkan sifat suatu yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan.16
Jadi analisis deskriptif adalah analisis data yang dilakukan terhadap seluruh data yang diperoleh untuk mengembangkan dan menemukan teori, kemudian hasil analisis tersebut disajikan secara keseluruhan tanpa menggunakan rumusan statistik.
15
Ibid, Hlm. 148 16
Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dalam dua tahap dengan dua teknik yang berbeda. Analisis yang pertama dilakukan pada data yang telah didapat oleh penulis dari lapangan (hasil wawancara, dan dokumentasi) yang belum diolah. Pengolahan data bedasar pada kaidah deskriptif yakni pengolahan yang meliputi seluruh data yang telah diperoleh yang dilakukan dengan mendasar pada teknik kategorisasi. Maksud dari teknik kategorisasi adalah penulis akan menempatkan data-data yang telah diperoleh sesuai dengan kategori data yang telah dirancang. Hasil dari analisis ini adalah data yang dipaparkan dan menjadi bab III.
Sedangkan analisa yang kedua dilakukan dengan mendasar pada kaidah kualitatif. Metode kualitatif yaitu menganalisisnya dengan pemikiran logis, teliti dan sistematis terhadap semua data yang berhasil dikumpulkan untuk memperoleh kesimpulan, dalam penelitian ini penulis menggunakannya untuk menganalisis buku-buku, literatur-literatur dan berkas putusan Pengadilan Agama Kendal.
F. Sistematika Penulisan
Secara garis besar penulisan skripsi ini terdiri atas 5 bab, dalam setiap bab terdapat sub-sub bab permasalahan; yaitu :
BAB I : Pendahuluan.
Bab ini memuat tentang latar belakang permasalahan, pokok permasalahan, tujuan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : Ketentuan Umum Tentang Hibah
Dalam Bab ini membahas pengertian hibah, dasar hukum hibah, rukun hibah, syarat hukum hibah dan ketentuan hibah menurut ulama dan KHI
BABIII : Putusan Pengadilan Agama Kendal tentang hibah lebih dari sepertiga
Pada pemaparan bab ini terdapat tiga sub bab A) ulasan mengenai profil Pengadilan Agama Kendal meliputi, sekilas tentang Pengadilan Agama Kendal, Hakim Pengadilan Agama Kendal, tugas dan kewenangan Pengadilan Agama, B) membahas mengenai Bagaimana Dasar Penetapan Hakim dalam memutus perkara no 11/pdt.p/2008/PA/kdl yang meliputi deskripsi putusan hibah lebih sepertiga No. 11/Pdt.P/2008/PA.Kdl dan dasar penetapan hakim dalam putusan No. 11/Pdt.P/2008/PA.Kdl C) Tinjauan Hukum Islam Terhadap Putusan Hibah lebih lebih dari sepertiga no 11/pdt.p/2008/PA/ kdl
BAB IV : Bab ini merupakan pokok dari pembahasan penulisan skripsi ini yakni meliputi:
A. Analisis Terhadap putusan hakim mengenai putusan perkara hibah lebih dari sepertiga No 11/Pdt.P/2008/PA.Kdl ditinjau dari Hukum Islam
B. Analalisis tinjauan Hukum Islam terhadap putusan No. 11/Pdt.P/2008/PA.Kdl tetang hibah lebih dari sepertiga. BAB V : Penutup hasil akhir dari penelitian ini sekaligus merupakan
akhir dari rangkaian penulisan skripsi yang akan berisi kesimpulan dan saran dan penutup.
20
A. Pengertian hibah
Secara etimologi kata hibah adalah bentuk masdar dari kata wahaba,
yang berarti pemberian. Secara terminologis, hibah adalah pemilikan suatu benda melalui transaksi atau akad tanpa mengharap imbalan apa pun dari
orang yang diberi ketika si pemberi masih hidup.1 Dalam hal ini, rumusan
Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam Pasal 171 huruf (g)
mendefinisikan hibah bahwa “Hibah adalah pemberian suatu benda secara
sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang kepada orang lain yang masih
hidup untuk dimiliki”.2
Adapun pengertian hibah menurut para ulama yang dihimpun dalam
Kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, karyaAbdurrahman Al Jaziri
a) Menurut Mazhab Hanafi adalah pemberian benda dengan tanpa ada
syarat harus mendapat imbalan ganti, pemberian mana dilakukan pada saat si pemberi masih hidup. Benda yang dimiliki yang akan
diberikan itu adalah sah milik si pemberi.3
1
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah juz IV, (Beirut Dar Fath, 2004), 435
2
Mahsun Fuad, Hukum Islam Indonesia dari nalar Partisipatoris Hingga Emansipatoris,(Yogyakarta : Lkis, 2005 ) hlm 271
3
Abd al-Rahman al-Jaziri,, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Beirut: Dar
b) Menurut Mazhab Maliki, adalah memberikan suatu zat materi tanpa mengharap imbalan, dan hanya ingin menyenangkan orang yang diberinya tanpa mengharap imbalan dari Allah. Hibah menurut Maliki ini sama dengan hadiah. Dan apabila pemberian itu semata-mata untuk meminta ridha Allah dan mengharapkan pahala
maka ini dinamakan sedekah.4
c) Menurut Madzhab Hambali, adalah memberikan hak memiliki
sesuatu oleh seseorang yang dibenarkan tasarrufnya atas suatu
harta baik yang dapat diketahui atau, karena susah untuk mengetahuinya. Harta itu ada wujudnya untuk diserahkan. Pemberian yang mana tidak bersifat wajib, dan dilakukan pada waktu si pemberi masih hidup dengan tanpa syarat adanya
imbalan.5
d) Menurut Madzhab Syafi’i, hibah mengandung dua pengertian:
1) Pengertian khusus, yaitu pemberian hanya sifatnya sunnah yang
dilakukan dengan ijab qabul pada waktu si pemberi masih hidup.
Pemberian yang tidak dimaksudkan untuk menghormati atau memuliakan seseorang dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan pahala dari Allah atau karena menutup kebutuhan orang yang
4
Ibid, hlm 113 5
diberikanya.6
2) Pengertian umum, yaitu hibah dalam arti umum mencakup hadiah dan sedekah.
Walaupun rumusan definisi yang dikemukakan oleh keempat madzhab tersebut berlainan redaksinya namun intinya tetaplah sama.
Hibah adalah memberikan hak memilik sesuatu benda kepada orang lain yang dilandasi oleh ketulusan hati atas dasar saling membantu kepada sesama manusia dalam hal kebaikan.
Adapun pengertian hibah dapat dipedomani definisi-definisi yang diberikan oleh para Ahli hukum Islam, antara lain
Sayyid Sabiq mengemukakan bahwa definisi hibah adalah akad yang pokok persoalannya pemberian harta milik seseorang kepada orang lain
diwaktu dia hidup, tanpa adanya imbalan.7
Menurut Saleh Al Fauzan hibah adalah pemberian secara sukarela dari
orang yang boleh bertasharruf 8 ketika masih hidup kepada orang lain dengan
jumlah yang diketahui.9
6
Ibid 7
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 5, terjemahan ( Jakarta : Cakrawala Publishing, 2009) hlm
547
8
Tasyararruf maksudnya mempunyai kemampuan untuk membelajakan harta dan
merupakan pemilik dari harta tersebut
9
Sedangkan Sulaiman Rasyid memberikan definisi sebagai berikut : hibah ialah memberikan barang dengan tidak ada tukaranya dan tidak ada
sebabnya.10
Dari beberapa definisi yang disampaikan oleh para ahli hukum di atas, dapat disimpulkan bahwa hibah merupakan sesuatu pemberian yang bersifat sukarela (tidak ada sebab musababnya) tanpa adanya imbalan dari pihak penerima pemberian, dan pemberian itu dilangsungkan pada saat si pemberi masih hidup, inilah yang membedakannya dengan wasiat, yang mana wasiat diberikan sesudah si pewasiat meninggal dunia.
Dalam istilah hukum perjanjian yang seperti ini dinamakan juga
dengan perjanjian sepihak ( perjanjian unilateral) sebagai lawan dari
perjanjian bertimbal balik (perjanjian bilateral).11
Jadi hibah merupakan pemindahan langsung hak milik itu sendiri oleh seseorang kepada orang yang lain tanpa pemberian balasan. Dalam hibah yang diberikan, ialah harta yang menjadi milik dari orang yang menghibahkan,
bukan hasil dari harta itu.12
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa hibah merupakan suatu perbuatan yang terpuji karena memberikan harta dengan sukarela tanpa
10
Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam Hukum Fiqh Lengkap, (Bandung: PT Sinar Baru Algensindo, 1994) hlm 326
11
Chairuman Pasaribu, Hukum Perjanjian, ( Jakarta: sinar grafika, 1994) hlm 114
12
Ilmu Fiqh. (Proyek Pembinaan Prasarana Dan Sarana Perguruan Tinggi Agama
Islam/Iain Di Jakarta Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen
mengharapkan balasan, tidak tergantung dan tidak disertai dengan persyaratan apapun juga.
B. Dasar Hukum Hibah
Dalam Al-qur’an, penggunaan kata hibah digunakan dalam konteks pemberian anugrah Allah kepada utusan-utusan-Nya, doa yang dipanjatkan oleh hamba-hambaNya, terutama para nabi, dan menjelaskan sifat Allah yang Maha Memberi Karunia. Untuk itu mencari dasar hukum hibah seperti yang dimaksud dalam kajian ini, dapat digunakan petunjuk dan anjuran secara umum, agar seseorang dapat membagikan sebagian rizki kepada orang lain.
Misalnya, QS. Al baqarah, 2:262: t
Ï
%
©
!
$#
t
βθ
à
)
Ï
Ζ
ã
ƒ
ö
Ν
ß
γ
s
9≡
u
θ
ø
Β
r&
’
Î
û
È
≅‹
Î
6y™
«!$#
§
Ν
è
O
Ÿ
ω
t
βθ
ã
è
Î
7
÷
G
ã
ƒ
!$t
Β
(#θ
à
)
xΡ
r&
$
x
Ψ
t
Β
I
ω
u
ρ
“
]
Œr&
ö
Ν
ç
λ
°
;
ö
Ν
è
δ
ã
ô
_r&
y‰
Ψ
Ï
ã
ö
Ν
Î
γ
În
/u‘
Ÿ
ω
u
ρ
ì
∃
ö
θ
yz
ó
Ο
Î
γ
ø
Š
n
=
tæ
Ÿ
ω
u
ρ
ö
Ν
è
δ
š
χθ
ç
Ρ
t“
ó
st
ƒ
Artinya: “Orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Kemudian
mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidakbersedih hati”.13
13
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahanya, Disempurnakan Oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-qur’an Departemen Agama RI, Sinar Baru Algensindo, Bandung, 2006 34
Firman Allah juga dalam surat (QS. Al Munnafiqun 63, ayat 10):
(#θ
à
)
Ï
Ρ
r&u
ρ
Ï
Β
$
¨
Β
Ν
ä
3≈oΨ
ø
%y
—
u
‘
Ïi
Β
È
≅
ö
6
s%
βr
&
š
†
Î
A
ù
'
tƒ
ã
Ν
ä
.y
‰
t
n
r
&
ß
N
ö
θyϑ
ø
9$
#
tΑθ
à
)u‹s
ù
Éb
>
u
‘
Iω
ö
θs9
û
Í
_
s
?
ö
¨
z
r
&
#
’
n
<
Î
)
9
≅
y
_
r
&
5
=
ƒ
Ì
s
%
š
X
£
‰
¢
¹
r
'
s
ù
ä
.
r
&
u
ρ
z
Ïi
Β
t
Å
s
Î
=≈
¢
Á
9
$
#
Artinya: “Dan infakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan
kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata (menyesali) “Ya Tuhanku, sekiranya engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh?”.14
Hibah disyariatkan dan dihukumi mandhub (sunat) dalam Islam
berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma.15 Dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa
: 4 yang berbunyi
4
β
Î
*
s
ù
t
÷
Ï
Û
ö
Ν
ä
3
s
9
t
ã
&
ó
x
«
ç
µ
÷
Ζ
Ïi
Β
$
T
¡
ø
t
Ρ
ç
νθ
è
=
ä
3
s
ù
$
\
↔
ÿ
‹
Ï
Ζ
y
δ
$
\
↔
ÿ
ƒ
Í
÷
£
∆
Artinya: Kemudian mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari
maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambilah) pemberian itu dengan (sebagai hadiah) yang sedap lagi baik akibatnya.(QS.An-Nisa’)16
Adapun dasar hibah menurut Islam adalah firman Allah yang menganjurkan kepada umat Islam agar berbuat baik kepada sesamanya, saling mengasihi dan sebagainya. Islam menganjurkan agar umatnya suka memberi karena memberi lebih baik daripada menerima. Namun pemberian itu harus ikhlas, tidak ada pamrih
14
Ibid., hlm. 443
15
Racmat Syafe’i, Fiqh Muamalah ( Bandung: Pustaka Setia, 2001) Hlm 242
16
apa kecuali mencari ridha Allah dan mempererat tali persaudaraan, sebagaimana dalam firman Allah
’
t
A#
u
u
ρ
…tΑ
$
yϑ
ø
9$
#
4’n?t
ã
Ï
µ
Îm
6
ã
m
“
Í
ρs
Œ
4
†
n
1
ö
à
)
ø
9$
#
4’yϑ≈t
G
uŠ
ø
9$
#
uρ
t
Å
3≈|
¡
yϑ
ø
9$
#
uρ
t
ø
⌠$
#
uρ
È
≅‹
Î
6
¡
¡
9$
#
…
Artinya: “…dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim dan orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir)…”. (QS Al-baqarah ayat 177).17
(
#
θ
è
?#
uuuuuρρρρ
u!
$
|
¡
Ïi
Ψ9$
#
£
Í
κ
É
J
≈s%
ß
‰
|
¹
\
'
s
#
ø
t
Ï
Υ
4
β
Î
*
s
ù
t
÷
Ï
Û
ö
Ν
ä
3s9
t
ã
&
ó
x
«
ç
µ
÷
Ζ
Ïi
Β
$
T
¡
ø
tΡ
ç
νθ
è
=
ä
3s
ù
$
\
↔
ÿ
‹
Ï
Ζyδ
$
\
↔
ÿ
ƒƒƒƒ
ÍÍÍÍ
÷÷÷÷
££££
∆∆∆∆
Artinya: “Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada peremruan yang kamu
nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati”. (QS. Annisa, ayat 4).
Di dalam Al–Qur’an maupun Hadist, tidak dapat ditemui perintah yang secara langsung memerintahkan seseorang untuk berhibah. Namun dari ayat-ayat dan hadist di atas dapat dipahami, bahwa Allah dan Rasul-Nya menganjurkan umat Islam untuk suka menolong sesama, melakukan infaq, sedekah dan pemberian-pemberian lain termasuk hibah. Karena itu Hibah dapat meneguhkan rasa kecintaan antara manusia, oleh karena itu Islam mengantar dan memberikan keselamatan secara utuh memiliki ajaran yang sangat lengkap dalam segala aspek kehidupan. Hibah atau pemberian
merupakan salah satu bentuk Taqarrub kepada Allah SWT, dalam rangka
mempersempit kesenjangan antara hubungan keluarga serta menumbuhkan rasa setia
17
kawanan dan juga kepedulian sosial. Al-Qur’an menganjurkan kepada manusia untuk tolong menolong dalam kebajikan dan taqwa dan melarang tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan,
Hibah dalam Hukum Islam dapat dilakukan secara tertulis maupun lisan, bahkan telah ditetapkan dengan tegas bahwa dalam Hukum Islam, pemberian harta berupa harta tidak bergerak dapat dilakukan dengan lisan tanpa mempergunakan suatu dokumen tertulis.
Mengenai bukti-bukti yang cukup tentang terjadinya peralihan hak milik, maka pemberian itu dapatlah dinyatakan dalam tulisan. Jika pemberian tersebut dilakukan dalam bentuk tertulis tersebut terdapat 2 (dua) macam, yaitu :
1. Bentuk tertulis yang tidak perlu didaftarkan, jika isinya hanya
menyatakan telah terjadinya pemberian.
2. Bentuk tertulis yang perlu didaftarkan, jika surat itu merupakan alat
dari penyerahan pemberian itu sendiri, artinya apabila pernyataan penyerahan benda yang bersangkutan kemudian disusul oleh dokumen
resmi tentang pemberian, maka yang harus didaftarkan.18
C. Rukun dan Syarat – Syarat Hibah
Hibah adalah salah satu bentuk pemberian yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dengan adanya akad, dan dalam hal akad pasti terdapat ikatan-ikatan penjanjian yang disepakati antara seorang dengan orang lain. Dan dalam hal ini hibah mempunyai rukun-rukun serta syarat-syarat yang harus ada, yang menjadi sahnya hibah.
18
Dalam melaksanakan suatu perikatan, terdapat syarat dan rukun yang harus dipenuhi. Secara bahasa rukun adalah “yang harus dipenuhi untuk sah
suatu pekerjaan”19, sedangkan syarat adalah “ketentuan (peraturan, petunjuk)
yang harus diindahkan dan dilakukan”.20 Dalam syari’ah, rukun dan syarat
sama-sama menentukan sah atau tidaknya suatu transaksi. Secara definisi rukun adalah suatu unsur yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu perbuatan atau lembaga yang menentukan sah atau tidaknya perbuatan
tersebut dan ada atau tidak adanya sesuatu itu.21 Definisi syarat adalah sesuatu
yang bergantung pada keberadaan hukum syar’i, dan ia berada di luar hukum
itu sendiri, yang ketiadaannya menyebabkan hukum pun tidak ada.22
Perbedaan antara rukun dan syarat menurut ulama ushul fiqh, bahwa rukun merupakan sifat yang kepadanya tergantung keberadaan hukum dan ia termasuk dalam hukum itu sendiri, sedangkan syarat merupakan sifat yang kepadanya tergantung keberadaan hukum, tatapi ia berada di luar hukum itu
sendiri.23
19
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005, Edisi III. Cet. III, hlm 966
I, hlm. 436
20
Ibid 1114.
21
Abdul Aziz Dahlan, et.al., Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: PT Ichtiar van Hoeve, 1996, hlm. 540.
22
Ibid, hlm1691
23
1. Rukun Hibah
Hibah adalah salah satu bentuk pemberian yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dengan adanya akad, dan dalam hal akad pasti terdapat ikatan-ikatan penjanjian yang disepakati antara seorang dengan orang lain. Dan dalam hal ini hibah mempunyai rukun-rukun serta syarat-syarat yang harus ada, yang menjadi sahnya hibah.
Menurut ulama Hanafiyah, rukun hibah adalah ijab dan qobul sebab
keduanya termasuk akad seperti halnya jual-beli. Selain itu sebagian ulama
Hanafiyah berpendapat bahwa qobul dari penerima hibah bukanlah rukun,
dengan demikian dicukupkan dengan adanya ijab dari pemberi. Hal hibah
menurut bahasa adalah sekedar pemberian dan qobul hanyalah dampak dari
adanya hibah, yakni pemindahan hak milik.24
Menurut jumhur ulama, rukun hibah ada empat.25
a. Wahib (pemberi hibah)
Wahib adalah pemberi hibah, yang menghibahkan barang miliknya. Jumhur ulama berpendapat, jika orang yang sakit memberikan hibah kemudian ia meningal maka hibah yang
dikeluarkan adalah sepertiga dari harta peninggalan (tirkah)
b. Mauhub lah (penerima)
24
Fiqh Muamalah, Op. Cit hml 244
25
Penerima hibah adalah seluruh manusia. Ulama sepakat bahwa seseoarang dibolehkan menghibahkan seluruh harta.
c. Mauhub
Mauhub adalah barang yang dihibahkan
d. Shighat (ijab dan qobul)
Shighat hibah adalah segala sesuatu yang dapat dikatakan ijab
dan qobul, seprti dengan lafazh hibah, athiyah (pemberian),
dan sebagainya. Ijab dapat dilakukan secara sharih seperti
seseorang berkata “ saya hibahkan benda ini kepadamu”,
Dalam kitab Bidayatul Mujtahid Karya Ibnu Rusyd disebutkan bahwa rukun hibah Ada Tiga Macam, Yaitu:
a. Pemberi hibah (Al wahib),
b. Penerima hibah (al mauhub lahu),
c. Benda yang dihibahkan.26
Sayyid Sabiq berpendapat hibah dinyatakan sah dengan adanya ijab
dan Kabul dengan ungkapan apapun yang bermakna penyerahan kepemilikan harta tanpa imbalan. Yaitu pihak yang bermakna memberikan hibah mengucapkan; aku hibahkan kepadamu. Atau aku memberikan kepadamu. Dan ungkapan semacamnya. Dan pihak yang menerimanya mengucapkan;
26
Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid juz 3 (Kairo:Musthafa Al-Babi Al Halbiy, 1990) hlm 346
aku terima. Malik dan Syafi’I berpendapat bahwa dengan penerimaan maka
hibah sudah dapat dinyatakan sah.27
Sebagian penganut mazhab Hanafi berpendapat bahwa ijab saja sudah
cukup. Inilah pendapat yang paling shahih. Penganut mazhab Hanabali
mengatakan, “hibah dinyatakan sah dengan adanya pemberian dan penerimaan yang menunjukkan maksud hibah. Sebab, Rosulullah SAW memberi hadiah dan menerima hadiah, demikian pula yang dilakukan para
sahabat beliau ( tanpa ungkapan ijab dan Kabul). Dan tidak ada riwayat
mereka yang menyatakan bahwa mereka menetapkan syarat ijab dan Kabul
serta syarat semacamnya.28
Para fuqaha sependapat bahwa setiap orang dapat memberikan hibah
kepada orang lain, jika barang yang di hibahkan itu sah miliknya. Kemudian fuqaha berselisih pendapat mengenai hal pemberi hibah itu dalam keadaan
sakit, bodoh, atau pailit. Mengenai orang yang sakit, jumhur fuqaha
berpendapat bahwa ia boleh menghibahkan sepertiga hartanya, karena dipersamakan dengan wasiat. Hibah yang lengkap dengan syarat-syaratnya.
27
Sayyid Sabiq, Op. cit hlm 550
28
2. Syarat Hibah
Hibah terjadi dengan adanya pihak yang memberi, pihak yang menerima hibah, dan barang yang dihibahkan. Masing –masing dari nilai
semua memiliki syarat-syarat sebagai berikut :29
a. Shighat hibah
Shighat hibah, ialah kata-kata yang diucapkan oleh orang – orang yang melakukan hibah. Karena hibah semacam akad, maka
shighat hibah terdiri atas ijab dan qobul. Ijab, ialah kata- kata yang
diucapkan oleh penghibah, sedangkan qobul diucapkan oleh orang
yang menerima hibah.
Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa setiap hibah
harus ada ijab dan qobulnya, tidak sah suatu hibah tanpa ada kedua
macam shighat hibah itu.
b. Syarat – syarat yang berkaitan dengan pemberi hibah
Pemberi hibah adalah pemilik sah barang yang dihibahkan yang pada saat pemberian itu dilakukan berada dalam keadaan sehat,
baik sehat jasmani maupun rohani.30Barang yang dapat dihibahkan
ialah segala sesuatu yang dapat dimiliki oleh sebab itu hukum Islam mengatur persyaratan bagi pemberi hibah yang diantaranya sebagai berikut:
29
Ibid,hlm 551
30
Zainudin Ali, Hukum Perdata Islam Di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2006) Hlm 138
a) Pemberi hibah harus sebagai pemilik barang yang dihibahkan.
b) Dia tidak berada dalam kondisi dibatasi kewenangannya
lantaran suatu sebab yang menjadikan kewenangannya dibatasi.
c) Dia harus berusia baliq, karena anak kecil belum layak untuk
melakukan akad hibah.
d) Hibah merupakan akad yang ditetapkan padanya syarat ridha
terkait keabsahannya.
c. Syarat-syarat yang berkaitan dengan penerima hibah
Penerima hibah adalah setiap orang, baik perorangan maupun
badan hukum serta layak untuk memiliki barang yang dihibahkan.31
Terhadap pihak yang menerima hibah, ditetapkannya syarat-syarat sebagai berikut:
Penerima hibah harus benar-benar ada secara fisik saat pemberian hibah. Jika secara fisik dia tidak ada ditempat atau dia dinyatakan ada tetapi masih dalam keadaan prediksi, yaitu misalnya dia masih berupa janin, maka hibah tidak sah. Ketika pihak yang diberi hadiah ada ditempat pada saat pemberian hibah, namun dia masih dikategorikan sebagai anak kecil, atau gila, maka walinya, atau orang yang mendapat wasiat darinya, atau orang yang mengasuhnya,
31
meskipun dia pihak lain ( yang tidak terikat hubungan kekerabatan),
maka orang itu boleh mewakilinya untuk menerima hadiah.32
d. Syarat syarat yang berkaitan dengan barang yang dihibahkan
Barang hibah sesuatu atau harta yang dihibahkan, syarat-syaratnya ialah:
a) Barang hibah itu telah ada dalam arti yang sebenarnya waktu
hibah itu dilaksanakan. Tidak sah dihibahkan seperti rumah yang belum dibangun, atau tanah yang belum selesai dibalik nama atas nama penghibah dan sebagainya.
b) Barang yang dihibahkan itu adalah barang yang boleh dimiliki
secara sah oleh ajaran Islam.
c) Harta yang dihibahkan itu dalam keadaan tidak terikat pada
suatu perjanjian dengan pihak lain, seperti harta itu dalam keadaan digadaikan atau dibankkan
d) Harta yang dihibahkan itu telah terpisah dari harta penghibah,
seperti penghibah mempunyai sebidang tanah, yang akan dihibahkan ialah seperempat dari seluruh tanah itu. Di waktu menghibahkan tanah yang seperempat itu telah dipecah atau ditentukan dan tempatnya.
e) Barang itu telah menjadi milik sah dari penghibah dalam arti
yang sebenarnya. Tidak boleh dihibahkan barang yang belum
32
jelas pemiliknya, seperti menghibahkan ikan dalam sungai dan
burung yang masih berterbangan di udara.33
D. Ketentuan Hibah Lebih Dari Sepertiga Menurut Ulama Dan KHI
Dalam Hukum Islam tidak ada larangan memberikan atau menghibahkan sebagian harta atau seluruh harta kepada orang lain tanpa ada batasan secara pasti. Mengenai kadar atau ukuran pemberian hibah ini memang tidak dijelaskan secara mendalam dalam nash, sehingga jumlah harta yang dapat dihibahkan tidak terbatas. Hanya saja, ulama berbeda pendapat tentang kebolehan seseorang menghibahkan seluruh hartanya kepada orang lain. Menurut Jumhur ulama, seseorang dapat menghibahkan seluruh hartanya (tanpa batas) kepada orang lain, karena hibah tidak dijelaskan dalam nash. 34
Muhammad Ibnu Hasan dan sebagian pentahqiq madzhab Hanafi berpendapat, tidak sah menghibahkan semua harta meskipun dalam kebaikan. Menurut mereka, orang yang melakukan hal semacam itu termasuk orang dungu dan harus dibatasi tindakannya.
Mengenai ketentuan besaran hibah yang boleh diberikan oleh penghibah antara para ulama maupun KHI ( Kompilasi Hukum Islam) memang berbeda, perbedaan tersebut tidak hanya terjadi antara KHI (Kompilasi Hukum Islam) dan ulama saja. Dikalangan ulama sendiri juga terjadi perbedaan mengenai seberapa besar barang yang dapat dihibahkan.
33
Ilmu Fiqh, Op.Cit hlm 205
34
Menurut Muhammad Daud Ali dalam bukunya Sistem Ekonomi Islam, Zakat dan Wakaf, beliau mencantumkan syarat-syarat hibah, yang salah satunya adalah: pada dasarnya, hibah adalah pemberian yang tidak ada kaitannya dengan kewarisan kecuali kalau ternyata bahwa hibah itu, akan mempengaruhi kepentingan dan hak-hak ahli waris. Dalam hal demikian, perlu ada batas maksimal hibah, tidak melebihi sepertiga harta seseorang,
selaras dengan batas wasiat yang tidak melebihi sepertiga harta peninggalan.35
Dalam masalah ini, bahwa orang yang mampu bersabar dalam hal kekurangan materi dan minimnya penghasilan, maka tidak masalah bila menyedekahkan sebagian besar hartanya atau keseluruhan. Sedangkan orang yang meminta-minta kepada orang lain jika terdesak kebutuhan, maka dia tidak boleh menyedekahkan seluruh hartanya tidak pula sebagian besar hartanya. Inilah kesimpulan yang dapat mempertemukan antara hadist-hadist yang menunjukkan bahwa pemberian yang melebihi bagian sepertiga tidak sesuai dengan ketentuan syariat, dengan dalil- dalil yang menunjukkan diperkenankannya bersedekah dengan besaran melebihi bagian sepertiga.
Mayoritas pakar hukum Islam sepakat tidak ada batasnya, tetapi jika hibah itu diberikan kepada anak-anak pemberi hibah, menurut Imam Malik dan Ahlul Zahir tidak memperbolehkannya, sedangkan fuqaha’ Amsar menyatakan makruh. Sehubungan dengan tindakan rasulullah SAW.
35
Muhammad Daud Ali. Sistem Ekonomi Islam, zakat dan WAkaf. UI-Press. 1988. hal 25
Terhadap kasus Nu’man Ibnu Basyir menunjukkan bahwa hibah orang tua terhadap anaknya haruslah disamakan bahkan banyak hadist lain yang redaksinya berbeda menjelaskan ketidakbolehan membedakan pemberian orang tua kepada anaknya secara berbeda, yang satu lebih banyak dari yang
lain.36
Menurut pendapat Imam Ahmad Ishaq, Tsauri, dan beberapa pakar hukum Islam yang lain bahwa hibah batal apabila melebihkan satu dengan yang lain, tidak diperkenankan menghibahkan hartanya kepada salah seorang anaknya, haruslah bersikap adil diantara anak-anaknya. Kalau sudah terlanjur
dilakukan maka harus dicabut kembali. 37
Prinsip pelaksanaan hibah orang tua terhadap anaknya haruslah sesuai petunjuk Rasulullah SAW. Dalam berberapa hadist dikemukakan bahwa bagian mereka supaya disamakan dan tidak dibenarkan memberi semua harta kepada salah seorang anaknya. Jika hibah yang diberikan orang tua kepada anaknya melebihi dari ketentuan bagian waris, maka hibah tersebut dapat diperhitungkan sebagai warisan.
Sikap seperti ini didasarkan pada kebiasaan yang dianggap positif oleh masyarakat. Karena bukan suatu hal yang aneh apabila bagian waris yang dilakukan tidak adil akan menimbulkan penderitaan bagi pihak tertentu, lebih-lebih kalau penyelesaiannya sampai ke pengadilan agama tentu akan terjadi
36
Ibnu Rusyd, Op.Cit Hlm 348 37
perpecahan keluarga. Sehubungan dengan hal ini Umar Ibnul Khattab pernah mengemukakan bahwa kembalikan putusan itu diantara sanak keluarga, sehingga mereka membuat perdamaian karena sesungguhnya putusan
pengadilan itu sangat menyakitkan hati dan menimbulkan penderitaan.38
Ulama Malikiyah menetapkan dalam syarat orang yang yang
menghibahkan adalah Ahlan li tabarru’ yaitu orang yang berhak berderma dan
bersedekah. Yang dimaksud dengan ahli tabarru’ diantaranya adalah
a) bukan seorang isteri. Jika harta yang dihibahkan melebihi dari
sepertiga harta, karena ketika seorang isteri ketika
menghibahkan harta melebihi sepertiga harta harus mendapat izin dari suaminya
b) bukan orang yang sakit, yang sudah mendekati kematian. Syarat
ini berlaku jika harta yang dihibahkan melebihi dari sepertiga. Jika menghibahkan lebih dari sepertiga maka harus
mendapatkan persetujuan ahli waris.39
Sebagaimana diketahui bahwa di Indonesia terdiri atas berbagai macam suku, bahasa, budaya serta agama. Dan sesuai dengan hal tersebut hukum yang berlaku di Indonesia pun menyesuaikan atas keragaman itu. Diantaranya ada dua macam hukum yang digunakan yaitu hukum Islam dan
38
Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia ( Jakarta: Kencana Media Prenada Group, 2006) hlm 13
39
hukum positif atau hukum yang di bawah Belanda yang masih diberlakukan sampai saat ini.
Dalam ketentuannya pemindahan hak suatu barang atau benda menjadi hak kepemilikan seseorang yang ada di Indonesia ada berbagai macam ketentuan, dan hal tersebut sesuai hukum yang berlaku atau digunakan dalam suatu negara. Karena walau bagaimanapun bangsa Indonesia mempunyai ketentuan hukum yang berlaku yaitu hukum Islam dan hukum positif. Dan dalam pembahasan kali ini hibah merupakan pemindahan hak atas suatu barang atau benda yang dilakukan secara suka rela dan cuma-cuma kepada orang lain yang diatur sesuai dengan ketentuan Perundang-Undangan yang berlaku di Indonesia. Ketentuan hukum yang pertama adalah hibah menurut ketentuan hukum Islam.
Dalam hukum Islam hibah merupakan pemberian hak memiliki suatu benda kepada orang lain yang dilandasi oleh ketulusan hati atas dasar saling membantu kepada sesama manusia dalam hal kebaikan. Hukum Islam merupakan salah satu ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia karena sebagaian besar penduduk Indonesia menganut agama Islam serta tunduk pada hukum Islam
Dalam Kompilasi Hukum Islam tersebut disyaratkan selain harus merupakan hak penghibah, penghibah telah berumur 21 tahun sebagaimana dalam pasal 210 yang berbunyi: “Orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun berakal sehat tanpa adanya paksaan dapat menghibahkan