PAPDI 122-145 Geriatri

178 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)
(2)

122

PROSES

MENUA DAN

IMPLIKASI

KLINIKNYA

SitiSetiati,

Kuntjoro Harimufti,

Arya Govinda R

PENDAHULUAN

Pembahasan tentang proses menua semakin sering muncul

seiring dengan semakin bertambahnya populasi usia

lanjut

di berbagai belahan dunia. Penelitian-penelitian mengenai perubahan yang terkait usia merupakan areayang menarik dan

penting

belakangan

ini.

Berbagai aspek mengenai

proses menua

banyak

dibahas

seperti

aspek

sosial, psikologi, ekonomi, atau

fisik.

Telah banyak dikemukakan bahwa proses menua amat

dipengaruhi

oleh interaksi

antara

faktor genetik

dan lingkungan. Usia kronologi yang diukur dengan tahun dan

usia

fisiologi

yang diukur

dengan kapasitas fungsional

tidaklah

selalu

seiring

sejalan. Seseorang dapat

terlihat

lebih

muda atau

lebih tua dari

umurnya, dan

mungkin

memiliki

kapasitas fungsional yang lebih besar atau lebih

kecil dari yang diperkirakan dimilikinya pada umur tertentu. Proses menua

bukanlah

sesuatu

yang terjadi

hanya pada orang berusia lanjut, melainkan suatu proses normal yang berlangsung sejak maturitas dan

berakhir

dengan

kematian. Namun demikian, efek

penuaan tersebut

umunnya

menjadi lebih terlihat setelah usia 40 tahun.

Proses menua

seyogianya dianggap

sebagai suatu proses

normal

dan

tidak

selalu menyebabkan gangguan

fungsi organ atau penyakit. Berbagai faktor seperti faktor

genetik, gaya hidup, dan lingkungan, mungkin lebih besar mengakibatkan gangguan fungsi, daripada penambahan usia

itu

sendiri.

Di

sisi lain, hubungan antara usia dan penyakit

amatlah

erat. Laju

kematian

untuk

banyak penyakit

meningkat seiring dengan menuanya seseorang, terutama disebabkan oleh menurunnya kemampuan orang usia lanjut

berespons terhadap stres, baik stres fisik maupun psikologik.

Secara umum dapat dikatakan terdapat kecenderungan menurunnya kapasitas fungsional baik pada tingkat selular maupun pada tingkat organ sejalan dengan proses menua.

Akibat

penurunan kapasitas

fungsional

tersebut, orang

berusia lanjut umumnya tidak berespons terhadap berbagai rangsangan, internal atau eksternal, seefektif yang dapat

dilakukan oleh

orang yang

lebih

muda. Menurunnya

kapasitas

untuk

berespon terhadap

lingkungan

internal

yang berubah cenderung membuat orang usia

lanjut

sulit untuk memelihara kestabilan status

fisikawi

dan

kimiawi

di

dalam tubuh,

atau

memelihara

homeostasis tubuh. Gangguan terhadap homeostasis tersebut menyebabkan disfungsi berbagai sistem organ lebih mungkin tedadi dan

juga

toleransi terhadap obat-obatan menurun.

Perlu disadari bahwa amat sulit membedakan apakah proses menua yang terjadi pada seseorang

mumi

semata-mata karena proses menua itu sendiri atau akibat penyakit

yang menyertai usia tua

tersebut.

Amat

dibutuhkan

penelitian yang

dapat membedakan penurunan

fungsi

akibat penyakit atau proses menua

nornal

yang tentunya

tidak

mudah, karena proses menua normal

belum

dapat

sepenuhnya

dijelaskan

dan kebanyakan

oftIng

berusia

lanjut

juga

sudah mengalami beragam

penyakit ketika

mereka bertambah

tua.

Penelitian yang

sudah

ada,

sebenarnya

lebih

banyak

menggunakan

disain

potong

lintang

dimana

parameter

yang

diteliti,

diukur

dan

dibandingkan

pada saat

yang

sama

untuk

berbagai

kelompok umur.

Kelemahan

penelitian

dengan disain

tersebut

adalah

amat

sulit untuk

menetapkan apakah perubahan-perubahan fungsi organ yang terjadi disebabkan karena usia atau perubahan akibat sejumlah faktor sosial

dan lingkungan, karena semuanya

diuku

pada satu saat yang sama dan tidak

diikuti

dari waktu ke waktu (kohort).

Sebuah penelitian

kohort

besar, Framingham Study, yang melibatkan sekitar 5000 orang sejak tahun 1950-an,

atau biasa disebut

studi longitudinal

Framingham, dan

Baltimore Longitudinal

Study

of

Aging (BLSA)

yang dimulai pada tahun 1958 dan melibatkan lebih

dari

1000

subyek, mencoba

mengikuti

berbagai perubahan pada manusia dari waktu ke waktu seiring dengan penuaan.

(3)

758

GERI'TIRI

Penelitian-penelitian

mengenai perubahan akibat

proses menua

menjadi

semakin

populer

dan dirasakan penting pada tahun-tahun belakangan

ini

seiring dengan

semakin bertambahnya populasi usia

lanjut

di

berbagai belahan dunia. Berbagai artikel ihniah danpopuler semakin

banyak membincangkan masalah proses menua tersebut dari berbagai aspek, baik sosial, psikologi, ekonomi, atau

fisik.

Tulisan

ini

akan

lebih

banyak

membahas aspek

biologi

proses menua,

yakni

berbagai perubahan pada

tubuh akibat proses menua padatataranmikroskopik dan makro skopik. Selanjutnya fisiolo gi pro ses menua disertai

dengan

implikasi kliniknya

akan dibicarakan lebih jauh,

dan

akhirnya

konsep menua

yang

sukses/sehat akan dikemukakan

untuk

melengkapi pembahasan mengenai proses menua mr.

DEFINISI

DAN

TERMINOLOGI

Menua

didefinisikan

sebagai

proses yang

mengubah

seorang dewasa sehat menjadi seorang yan g

frail

' (lemah, rentan) dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem

fisiologis

dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian secara eksponensial. Menua

juga

didefinisikan sebagai pemrmnan seiring-waktu yang

terjadi pada sebagian besar makhluk hidup, yang berupa kelemahan, meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan

perubahan

lingkungan, hilangnya mobilitas

dan

ketangkasan, serta perubahan fi siologis yang terkait-usia.

Terdapat beberapa

istilah

yang digunakan

oleh

gerontologis ketika membicarakan proses menua:

l.

aging @errarrrbahnya umur): menunjukkan efek waktu;

suatu proses perubahan, biasanya

bertahap

dan spontan

2.

senescence (menjadi tua): hilangnya kemampuan sel

untuk membelah dan berkembang (dan seiring waktu

akan menyebabkan kematian)

3.

homeostenosls: penyempitan/berkurangnya cadangan homeostatis yang

terjadi

selama penuaan pada setiap sistem organ

lstilah

aging yang

hanya menunjukkan

efek

waktu, dianggap

tidak mewakili

apa

yang terjadi

pada proses menua. Sebab berbagai proses yang terjadi seiring waktu,

seperti perkembangan (development), istilah yang sering

digunakan

di

bidang pediatri,

dapat disebut

sebagai

aging.

Aging

merupakan proses yang terus berlangsung

(continuum), yang

dimulai

dengan perkembangan

(development)

yaitu

proses generatif seiring waktu yang

dibutuhkan

untuk

kehidupan, dan

dilanjutkan

dengan senescence

yaitu

proses degeneratif

yang

inkompatibel dengan

kehidupan.

Istilah

senescence

juga

digunakan

untuk

menggambarkan

turunnya

fungsi efisien

suatu

organisme sejalan dengan penuaan dan meningkatnya kemungkinankematian

Membedakan antara

aging

dan senescence dianggap

perlu, karena banyak perubahan selama

aging

mung)<in

tidak

merusak dan

mungkin

suatu perubahan yang

diharapkan. Sebagai

contoh, kebijakan (wisdom)

yarrg meningkat seiring usia tidak dianggap sebagai senescence melainkan su att aging,walaupun hal itu merupakan bagian

dari

proses menua. Sebaliknya, gangguan memori yang

terjadi selama aging merupakan manifestasi senescence.

Sementara

konsep

homeostenosis menunjukkan

bahwa seiring dengan bertambahnya usia maka makin kecil

kapasitas seorapg tua untuk membawa dirinya ke keadaan homeostasis setelah

terjadinya

stattt

'challenge'

(di

sni

yang dimaksud 'challenge'adalah kondisi atau perubahan

yang

mengganggu homeostasis). Penjelasan mengenai konsep homeostenosis

ini

akan diuraikan pada bagian

lain

dari tulisan

ini.

Beberapa

istilah

lain yang perlu dikemukakan terkait dengan proses menua adalah

gerontologi, geriatri,

dan

longevitlt. Gerontologi

adalah

ilmu

yang

mempelajari proses menua dan semua aspek

biologi,

sosiologi,

dan

sejarah- yang

terkait

dengan penuaan.

Geriatri

merujuk pada pemberian pelayanan kesehatan

untuk

usia lanjut.

Geriatri

merupakan

cabang

ilmu

kedokteran

yang

mengobati

kondisi

dan

penyakit

yang

dikaitkan

dengan proses menua dan usia lanjut. Pasien geriaki adalah pasien

usia lanjut

dengan

multipatologi (penyakit

ganda).

Sementara longevity

merujuk

pada Tama

hidup

seorang

individu.

Dua aspek longevity adalah mean longevity dan

maximum

longevity. Mean longevity

mertpakan

longevity

rata-rata suatu

populasi,

disebut

pula

usia

harapan hidup

(life

expectancy). Mean longevif,, dihitung

berdasarkan penjumlahan

umur

semua anggota populasi

saat meninggal dibagi

jumlah

anggota populasi tersebut.

Maximum longevity (ltfe span)

merupakan

usia

saat

meninggal

dari

anggota

populasi

yang

hidup

paling

lama. Pada manusia, maximum longevity

diyakini

sekitar 110-l20tahun.

TEORI MENGENAI PROSES MENUA

Berbagai

teori

mengenai proses penuaan telah diajukan, namun

hingga

20

tahun yang

lalu teori-teori

tersebut

kelihatannya sama dengan teori-teori penuaan yang pernah diajukan 200 tahun bahkan 2000 tahun yang lalu. Beberapa

teori mengenai proses menua yang telah ditinggalkan dan

ditolak antara lain adalah: (1)

Model "error

catastrophe"

yang diperkenalkan oleh Orgel; (2) Teori "laju kehidupan" atau

"rate

of living"

yang

diajukan oleh Pearl; dan (3)

Hipotesis "

glukokortikoid".

Suatu

teori

mengenai penuaan dapat dikatakan

valid

bila ia dapat memenuhi tiga kriteria umum berikut:

(l)

teori yang dikemukakan tersebut harus terjadi secara umum

di

seluruh anggota spesies yang dimaksud', (2) proses yang

(4)

PROSES MENUA DAt{ IMPLII(ATTI KLINIKNYA

759

seiring dengan

waktu,

dan

(3)

proses yang

terjadi

harus

menghasilkan perubahan

yang

menyebabkan disfungsi

atau kegagalan suatu organ/ sistem tubuh tertentu.

Berbagai

penelitian

eksperimental

di

bidang

gerontologi

dasar selama

20 tahtn

terakhir

ini

berhasil

memunculkan teori-teori baru mengenai proses menua yang mencoba memenuhi ketiga

kriteria di

atas.

Dari

berbagai penelitian tersebut, terdapat tiga hal mendasar

(fundamen-tal) yang didapatkan dan kemudian dipergunakan sebagai dasar untuk menyusun berbagai

teori

menua. Ketiga hal

fundamental tersebut adalah: (1) pola penuaan pada hampir

semua spesies mamalia diketahui sama, (2) laju penuaan

ditentukan

oleh

gen

yang

sangat bervariasi pada setiap spesies, dan

(3) laju

penuaan dapat diperlambat dengan pembatasan

kalori

(calor

ic

r es

triction),

setidaknya pada hewan tikus.

Beberapa

teori

tentang proses menua

yang

dapat diterima saat ini, antara lain:

1.

Teori

"radikal

bebas"

yang

menyebutkan bahwa

produk hasil metabolisme oksidatif yang sangat

reaktif

(radikal

bebas) dapat

bereaksi

dengan berbagai

komponen penting selular, termasuk pr6tein,

DNA,

dan

lipid, dan menjadi molekul-molekul yang tidak berfungsi

namun bertahan

lama

dan mengganggu

fungsi

sel lainnya.

Teori radikal bebas (Free

Radical

Theory of Ageing)

diperkenalkan pertama kali oleh Denham Harman pada

tahun

1956, yang menyatakan bahwa proses menua

normal merupakan akibat kerusakan

jaringan

akibat

radikal bebas. Harman menyatakan bahwa mitokondria sebagai

generator

radikal

bebas,

juga

merupakan

target kerusakan

dai

radikal bebas tersebut.

Radikal bebas adalah senyawa kimia yang berisi elektoon

tidak

berpasangan

yang terbentuk

sebagai

hasil

sampingan berbagai proses selular atau metabolisme normal yang melibatkan oksigen. Sebagai contoh adalah

reactive oxygen species (ROS) dan reactive nitrogen species

(RNS) yang

dihasilkan selama metabolisme normal. Karena elektronnya tidak berpasangan, secara

kimiawi

radikal bebas akan mencari pasangan elektron

lain

dengan bereaksi dengan substansi

lain

terutama dengan protein dan lemak tidak jenuh.

Melalui

proses

oksidasi,

radikal

bebas

yang dihasilkan

selama

fosforilasi oksidatif

dapat

menghasilkan

berbagai

modifikasi

makromolekul.

Sebagai

contoh,

karena membran sel mengandung sejumlah lemak,

ia

dapat bereaksi dengan radikal bebas sehingga membran sel mengalami perubahan. Akibat perubahan pada struktur

membran tersebut membran sel menjadi lebih permeabel

terhadap beberapa substansi dan memungkinkan

substansi tersebut

melewati

membran secara bebas.

Struktur

di

dalam sel seperti mitokondria dan lisosom

juga diselimuti oleh membran yang mengandung lemak sehingga mudah diganggu oleh radikal bebas. Radikal

bebasjuga dapat bereaksi dengan

DNA,

menyebabkan mutasi kromosom dan karenanya merusak mesin genetik normal dari sel. Radikal bebas dapat merusak fungsi sel dengan merusak membran sel atau kromosom sel. Lebih

jauh, teori

radikal bebas menyatakan bahwa terdapat akumulasi radikal bebas secara bertahap

di

dalam sel

sejalan

dengan

waktu,

dan

bila

kadarnya melebih

konsentrasi

ambang

maka mereka

mungkin

berkontribusi pada perubahan-perubahan

yang

seringkali dikaitkan dengan penuaan.

Sebenarnya

tubuh

diberi

kekuatan

untuk

melawan radikal bebas berupa antioksidan yang diproduksi oleh

tubuh sendiri, namun pada tingkat tertentu antioksidan tersebut

tidak

dapat melindungi tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas yang berlebihan.

Teori "glikosilasi"

yang

menyatakan bahwa proses

glikosilasi nonenzimatik yang menghasilkan pertautan

glukosa-protein yang disebut

sebagai advanced

glycation

end

products (AGEs)

dapat menyebabkan

penumpukan

protein

dan

makromolekul

lain

yang

termodifikasi

sehingga menyebabkan disfungsi pada

hewan

atau

manusia yar'g menua.

Protein

glikasi

menunjukkan perubahan

fungsional,

meliputi

menurunnya akitivitas enzim dan menurunnya degradasi

protein

abnormal. Manakala rnanusia menua, AGEs berakumulasi di berbagai jaringan, termasuk kolagen, hemoglobin, dan lensa mata. Karena muatan kolagennya

tinggi,

jaringan ikat

menjadi kurang elastis dan lebih

kaku. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi elastisitas dinding pembuluh darah. AGEs didugajuga berinteraksi dengan

DNA

dan karenanya

mungkin

mengganggu

kemampuan sel

untuk

memperbaiki perubahan pada

DNA.

Bukti-bukti terbaru yang memrnjukkan tikus-tikus yang dibatasi kalorinya mempunyai gula darah yang rendah

dan menyebabkan perlambatan penumpukan produk

glikosilasi

(AGEs), merupakan

hal

yang mendukung hipotesis glikosilasi

ini.

Teori "DNA

repair"

yang dikemukakan oleh Hart dan Setlow. Mereka menunjukkan bahwa adanya perbedaan pola

laju'

repair'

kerusakan

DNA

yang diinduksi sinar

ultraviolet

(fV)

padaberbagai fibroblas yang dikultur.

Fibroblas pada

spesies

yang mempunyai umur

maksimum terpanjang menunjukkan

laju

'DNA

repair'

terbesar,

dan

korelasi

ini

dapat

ditunjukkan

pada berbagai mamalia dan primata. Teori

'DNA repai'

, alau

tepatnya'mitochondrial

DNA repair'

ini

terkait

erat dengan teori radikal bebas yang sudah diuraikan di atas, karena sebagian besar radikal bebas (terutama ROS)

dihasilkan melalui fosforilasi oksidatif yang terjadi

di

mitokondria. Mutasi

DNA

mitokondria

(mtDNA)

dan pembentukan ROS di mitokondria saling mempengaruhi satu sama lain, membenfuk "vicious cycle" yang secara eksponensial memperbanyak kerusakan oksidatif dan

(5)

760

GERIITTRI

disfungsi

selular, yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel. Mutasi mtDNA di manusiaterutama terjadi setelah

umur

pertengahan tigapuluhan, terakumulasi seiring pertambahan umur, dan jarang

melebihi

1%. R.endahnya jumlah mutasi

mtDNA

yang terakumulasi

ini

diakibatkan proses

repair

yang

terjadi

di

tingkat

mitokondria. Bukti-bukti menunjukkan gangguan repair pada kerusakan oksidatif

ini

menyebabkan percepatan proses penuaan (accelerated aging). Selain itu, mutasi

mtDNA

akibat gangguan repair ini juga terkait dengan

munculnya keganasan, diabetes melitus dan penyakit-penyakit neurodegeneratif.

Selain teori-teori di atas, beberapa teori

lainjuga

telah

dikemukakan

untuk

menjelaskan

proses

yang terjadi

selama penuaan, antara

lain:

'aging

by

program',

teori

gen dan

mutasi

gen, cross-linkage theory,

cellular

gar-bage theory, wear-and-tear theory, dan

teori

autoimun.

Yang pasti,

tidak

ada satu

teori

tunggal pun yang dapat

menjelaskan seluruh proses menua. Semua

teori-teori

tersebut saling mengisi dan

mencoba menjelaskan

berbagai

sebab

dan perubahan

akibat

proses menua, walaupun belum dapat menjelaskan seluruh proses yang terjadi..

FISIOLOGIPROSES

MENUA

Seiring

dengan

bertambahnya

usia, terjadi

berbagai

perubahan

fisiologis yang tidak

hanya

berpengaruh

terhadap penampilan

fisik,

namun

juga

terhadap fungsi

dan responsnya pada kehidupan sehari-hari. Namun harus

dicermati, bahwa setiap

individu

mengalami

perubahan-perubahan

tersebut

secara

berbeda

pada

beberapa individu, laju penurunannya mungkin cepat dan dramatis;

sementara

untuk lainnya,

perubahannya

lebih tidak

bermakna.

Membicarakan

fisiologi

proses penuaan

tidak

dapat

dilepaskan dengan pengenalan konsep homeostenosis. Konsep ini -diperkenalkan oleh Walter Cannon pada tahun

1940-

yang telah disinggung di atas, terjadi pada seluruh

sistem organ

pada

individu

yang

menua. Pengenalan

terhadap konsep

ini

penting

untuk

memahami berbagai

perubahan

yang

terjadi

pada

proses

penuaan.

Homeostenosis

yang

merupakan

karakteristik

fisiologi

penuaan adalah keadaan

penyempitan

(berkurangnya)

cadangan homeostasis yang terjadi seiring meningkatnya

usia

pada setiap sistem organ.

Konsep

homeostenosis

dapat

lebih

mudah dipahami

dengan memperhatikan

Gambarl.

Pada

gambar

di

atas

dapat

dilihat

bahwa seiring

bertambahnya

usia

jumlah

cadangan

fisiologis

untuk

menghadapi berbagai perubahan

yang

mengganggu

homeostasis (challenge) berkurang. Setiap " challenge

"

terhadap homeostasis merupakan pergerakan menjauhi

keadaan dasar (b as e I ine), dan semakin besar " c ha I I en g e

"

yang terjadi maka semakin besar cadangan fisiologis yang

diperlukan untuk kembali ke

homeostasis.

Di

sisi

lain

dengan

makin

berkurangnya cadangan

fisiologis,

maka seorang

usia lanjut lebih

mudah

untuk

mencapai suatu ambang (yang disebut sebagai

"precipice"),

yang dapat berupa keadaan

sakit

atau kematian

akibat "challenge"

tersebut.

Penerapan konsep homeostenosis

ini

tergambar pada sistem skoring

APACHE

(Acute Physiology and Chronic

Health

Evaluation),

suatu skala

penilaian

beratnya

penyakit. Penilaian perubahan fisiologis akut yang terjadi dinyatakan dengan semakin besarnya deviasi

dari nilai

homeostatis

pada 12

variabel,

antara

lain

tanda

vital,

oksigenasi, pH, elektrolit, hematokrit, hitung leukosit, dan

kreatinin.

Seorang

normal

pada keadaan homeostasis mempunyai

nilai nol.

Semakin besar penyimpangan dari

homeostasis

skornya semakin besar. Pada

awal

penerapannya, skoring

APACHE

ini

tidak

memasukkan

variabel usia sebagai salah satu faktor penilaian. Namun ketika diterapkan pada pasien-pasien yang dirawat karena

kondisi

akut,

terdapat perbedaan

nilai

yang signifikan

antara kelompok usia muda dan kelompok usia tua pada

satu

kondisi penyakit yang

sama; skor

APACHE

pada

kelompok usia tua cenderung lebih rendah. Terlihat bahwa dengan penyimpangan yang lebih

kecil

dari keadaan

ho-meostasis, seorang usia tua

lebih

rentan

untuk

menjadi

sakit

atau

meninggal dibandingkan

orang

muda.

Oleh

karena itu penggagas sistem skoring APACHE kemudian memasukkan

variabel usia

sebagai

'nilai

bonus'

pada

skoring

itu,

sehingga skor total untuk satu keadaan sakit

tidak berbeda antara usia muda dan usia tua.

Dengan mengingat bahwa mempertahankan keadaan homeostasis merupakan proses

yang

aktif

dan dinamis, konsep homeostenosis yang digambarkan pada

Gambar

1

dapat

direinterpretasi seperti

apa yar.g

terlihat

pada

Gambar

2.

Seorang

usia

lanjut tidak

hanya

memiliki

cadangan fisiologis yang makin berkurang, namun mereka

juga memakai atau menggunakan cadangan

fisiologis itu

hanya

untuk

mempertahankan homeostasis.

Akibatnya

akan semakin

sedikit

cadangan

yang

tersedia untuk

menghadapi

"challenge".

Homeostasis

Gambar 1. Skema standar homeostenosis yang menunjukkan bahwa seiring dengan meningkatnya usia maka cadangan fisiologis semakin berkurang, sehingga seorang usia lanjut lebih

mudah untuk menjadi sakit atau meninggal (Modifikasi dari Taffet

(6)

PROSES MENUA DAI{ IMPLIKASI KLINIKI'IYA

761

---_____

Precipice

Gambar 2. Skema revisi konsep homeostenosis.pada gambar

ini ditunjukkan bahwa selain cadangan fisiologis yang makin berkurang seiring meningkatnya usia, juga ternyata cadangan fisiologis yang ada sudah terpakai hanya untuk mempertahankan homeostasis (Modifikasi dari Taffet cE, 2003).

Konsep homeostenosis inilah yang dapat menjelaskan berbagai perubahan

fisiologis

yang terjadi selama proses

menua dan

efek yang ditimbulkannya.

Walaupun

merupakan suatu proses

fisiologis,

perubahan dan efek

penuaan

te{adi

sangat bervariasi dan variabilitas ini makin meningkat seiring peningkatan usia. Variasi

terjadi

antaru satu

individu

dengan

individu

lain pada umur yang sama, antara safu sistem organ dengan organ

lain,

bahkan dari

satu

sel

terhadap

sel lain

pada

individu yang

sama.

Tabel 1 merangkum berbagai perubahan utama b erbagai sistem organ pada proses menua.

Sistem endokrin

Toleransi glukosa terganggu (gula darah puasa meningkat

1 mg/dl/dekade; gula darah postprandial meningkat 10

mg/dl/dekade

lnsulin serum meningkat, HbAIC meningkat, IGF-1

berkurang

Penurunan yang bermakna pada dehidroepiandrosteron (DHEA)

Penurunan testosteron bebas maupun yang bioavailable Penurunan horman T3

Peningkatan hormon paratiroid (PTH) Penurunan produksi vitamin D oleh kulit

'Ovaian failure' diserlai menurunnya hormon ovarium Peninqkatan kadar homosistein serum

Kardiovaskular

Tidak ada perubahan frekuensi jantung saat istirahat, penurunan frekuensi jantung maksimum

Berkurangnya pengisian ventrikel kiri

Berkurangnya sel pacu jantung (pacemaker) di nodus SA Hipertrofi atrium kiri

Kontraksi dan relaksasi ventrikel kiri bertambah lama Menurunnya respons inotropik, kronotropik, lusitropik

terhadap stimulasi beta adrenergik Menurunnya curah jantung maksimal

Menurunnya hipertrofi sebagai respons terhadap peningkatan volume dan tekanan

Peningkatan atrial natriuretic peptide (ANP) serum Lapisan subendotel menebal dengan jaringan ikat Ukuran dan bentuk yang iregular pada sel-sel endotel Fragmentasi elastin pada lapisan media dinding arteri Peninokatan resistensi vaskular oerifer

Tekanan Darah

Peningkatan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik tidak berubah

Berkurangnya vasodilatasi yang dimediasi beta-adrenergik Vasokonstriksi yang dimediasi alfa-adrenergik tidak berubah

Terganggunya perfusi autoregulasi otak Paru-paru

Penurunan FEVI dan FVC Meningkatnya volume residual Berkurangnya efektivitas batuk Berkurangnya efektivitas fungsi silia

'V e nti I ation-peiu sion mi smatch ing' yang menyebabkan

PaO2 menurun seiring bertambahnya usia: 100

-

(0,32 x umur)

Peningkatan diameter trakea dan saluran napas utama Membesarnya duktus alveolaris akibat berkurangnya

elastisitas struktur penyangga parenkim paru,

menyebabkan berkurangnya area permukaan Penurunan massa jaringan paru

Ekspansi toraks

Penurunan tekanan maksimum inspirasi dan ekspirasi Berkurangnya kekuatan otot-otot pernapasan Kekakuan dinding dada

Berkurangnya difusi CO

Berkurangnya respons ventilasi akibat hiperkapnia Hematologi

Berkurangnya cadangan sumsum tulang akibat kebutuhan yang meningkat

aftenuated retikulosis terhadao oemberian eritroooietin Ginjal

Menurunnya bersihan kreatinin (creatinin clearance) dan laju filtrasi glomerulus (GFR) 10 ml/dekade

Penurunan massa ginjal sebanyak 25%, terutama dari korteks dengan peningkatan relatif perfusi nefron yukstamedular

Menurunnya ekskresi dan konservasi natrium Menurunnya ekskresi dan konservasi kalium Menurunnya kapasitas konsentrasi dan dilusi Berkurangnya sekresi akibat pembebanan asam Aksentuasi pelepasan ADH sebagai respons terhadap

dehidrasi

Berkurangnya produksi nitrit oksida

Meningkatnya ketergantungan prostaglandin ginjal untuk mempertahankan perfusi

Menurunnya aktivasi vitamin D

Regulasi Suhu Tubuh

Berkurangnya vasokonstriksi dan vasodilatasi pembuluh darah kutaneus

Berkurangnya produksi keringat

Meningkatnya temperatur inti untuk mulai berkeringat Otot

Massa otot berkurang secara bermakna (sarkopenia) karena berkurangnya serat otot

Efek penuaan paling kecil pada otot diafragma, lebih pada otot tungkai dibandingkan lengan

Berkurangnya sintesis rantai berat miosin

Berkurangnya inervasi, meningkatnya jumlah miofibril per unit otot

lnfiltrasi lemak ke berkas otot Peningkatan fatigabilitas

Berkurangnya laju metabolisme basal (berkurang 4o/o

/dekade setelah usia 50)

Tulang

Melambatnya penyembuhan fraktur

Berkurangnya massa tulang pada pria dan perempuan, baik pada tulang trabekular maupun kortikal Berkurangnya formasi osteoblas tulang

(7)

762

GERIATRI

Sistem Saraf Perifer

Hilangnya neuron motor spinal

Berkurangnya sensasi getar, terutama di kaki

Berkurangnya sensitivitas termal (hangat-dingin) Berkurangnya amplitudo aksi potensial saraf sensorik Berkurangnya ukuran serat yang termielinasi Meningkatnya heterogenitas selaput akson mielin

Sistem saraf pusat

Berkurangnya sedikit massa otak

Berkurangnya aliran darah otak dan terganggunya autoregulasi perfusi

Proliferasi astrosit

Berkurangnya densitas koneksi dendritik Berkurangnya mielin dan total lipid otak

Berubahnya neurotransmiter, termasuk dopamin dan serotonin

Meningkatnya aktivitas monoamin oksidase Berkurangnya reseptor glukokortikoid hipokampal Melambatnya proses sentral dan waktu reaksi

Gastrointestinal

Berkurangnya ukuran dan aliran darah hati

Terganggunya clearance obat oleh hati sehingga membutuhkan metabolisme fase I yang lebih ekstensif

Terganggunya responb terhadap cedera pada mukosa lambung

Berkurangnya massa pankreas dan cadangan enzimatik Berkurangnya kontraksi kolon yang efektif

tserkurangnya absorpsi kalsium Penglihatan

Terganggunya adaptasi gelap Pengeruhan pada lensa

Ketidakmampuan untuk fokus pada benda-benda jarak dekat (presbiopia)

Berkurangnya sensitivitas terhadap kontras Berkurangnya lakrimasi

Penghidu

Deteksi penghidu berkurang 50%

Haus

Berkurangnya rasa haus

Terganggunya kontrol haus oleh endorfin Keseimbangan

Meningkatnya respons ambang vestibuler Berkurangnya jumlah sel rambut pada organ Corti

Pendengaran

Hilangnya nada berfrekuensi tinggi secara bilateral

Defisit pada proses sentral

Kesulitan untuk membedakan sumber bunyi

Terganggunya kemampuan membedakan target dari noise Jaringan Adiposa

Meningkatnya aktivitas aromatase Peningkatan kemungkinan lipolisis Sistem lmun

Berkurangnya imunitas yang dimediasi sel

Rendahnya afi nitas produksi antibodi

Meningkatnya autoantibodi

Banyaknya nonresponder terhadap vaksinasi Berkurangnya hipersensitivitas tipe lambat Terganggunya fungsi makrofag

Atrofi timus dan hilangnya hormon timus Meningkatnya lL-6 dalam sirkulasi

Berkurangnya produksi sel B oleh sumsum tulang Fungsi Kognitif

Kemampuan meningkatkan fungsi intelektual berkurang Berkurangnya efisiensi transmisi saraf di otak, menyebabkan

proses informasi melambat dan banyak informasi hilang

selama transmisi

dan mengambil informasi dari memori

Kemampuan mengingat kejadian masa lalu lebih baik dibandingkan kemampuan mengingat kejadian yang baru

saia teriadi

APAKAH

PROSES MENUA DAPAT

DIPERLAMBAT?

Pertanyaan ini masih menjadi tantangan bagi para peneliti

di bidang gerontologi dasar untuk dijawab, dan penelitian

mengenai hal ini telah banyak dilakukan. Bila merujukpada

berbagai

teori

mengenai

proses menua

yang

telah

disebutkan

di

atas,

maka

memperlambat atau bahkan

mencegah proses penuaan nampaknya

bukan hal

yang

tidak mungkin.

Beberapa penelitian telah menunjukkan hasil yang menjanjikan, walaupun sampai saat

ini

belum

didapatkan hasil yang

konklusif

terutama

bila

diterapkan pada

mamaliadanpimata,

juga pada manusia.

Berikut

ini

beberapa

konsep

dan

penelitian

yang

telah dilakukan untuk

mencoba menjawab pertanyaan

di

atas.

RESTRIKSIKALORI

Sudah sekitar 70 tahun yang

lalu, McKay

menunjukkan

bahwa restriksi kalori yang dilakukan seumur hidup pada

hewan

tikus

(roden) dapat

secara

bermakna

memperpanjang usia sampai dengan

40%

dibandingkan

pada hewan

tikus yang diberi

akses

bebas

terhadap

makanan dan minuman.

Efek restriksi

kalori ini

menyebabkan kadar glukosa dan insulin menurun, sedikit

peningkatan

pada

kadar

serum

glukokortikoid

bebas,

menurunnya suhu

tubuh

basal

sebesar

0,5-loC,

dan

meningkatnya

proteksi

sel terhadap kerusakan

yang

disebabkan radikal bebas. Efek-efek inilah yang dipercaya

dapat memperlambat proses penuaan, dan nampaknya

sesuai

bila

dihubungkan dengan

teori

mengenai proses

menua. Restriksi

kalori juga terbukti

dapat mengurangi

produksi ROS

di

mitokondria otak dan

ginjal,

dan menurunkan berbagai petanda-petanda

(markers)

shes

oksidatif.

Saat

ini

ada

3

penelitian

besar

yang

sedang

berlangsung dengan menggunakan hewan

monyet

dan

tupai, untuk mengetahui efek restriksi kalori tersebut pada hewan selain tikus. Hasil definitif mungkin masih akan lama

didapatkan, karena sebagian besar hewan tersebut akan

hidup lebih dari

30 tahun, namun

beberapa

hasil

pendahuluan seperti perubahan pada

otot,

sistem imun,

dan fungsi

kognitif

mungkin akan didapatkan tidak lama lagi.

Saat

ini

isu

mengenai

restriksi

kalori

dalam

hubungarurya dengan upaya memperpanjang usia pada

(8)

PROSES MENUA DAN IMPLIKASI KLINIKNYA

763

manusia

masih menjadi

perdebatan,

mulai

dari

mendefinisikan restriksi

kalori

dan menerapkannya ke

manusia dalam konteks

fisiologi

dan evolusi.

Pemanjangan Telomer

Setiap sel mempunyai kemampuan untuk membelah

diri

untuk

mempertahankan

fungsinya

dan memperlambat kematian. Kemampuan

untuk

membelah

diri ini

terjadi

sampai sel-sel tersebut cukup padat untuk saling bertemu

satu sama lain, untuk kemudian berhenti untuk membelah

diri,

suatu fenomena

yang disebut

'contact

inhibition'.

Bila sel-sel yang sudah berhenti membelah diri ini kemudian

'diencerkan' (diluted), maka sel kembali akan membelah

diri. Hal ini dapat diulang sampai kira-kira 50 kali, saat

sel-sel sudah kehilangan kemampuan

untuk

membelah

diri

kembali. Sel-sel yang sudah tidak membelah ini kemudian

akan membesar, bertahan beberapa lama, unfuk kemudian

perlahan-lahan akan mati.

Terbatasnya sel-sel untuk membelah

diri

setelah 50

kali

dikenal dengan fenomena

Hayflick

ata.o

'Hayflick

limit'.

Fenomena

Hayflick

ini

ternyata

berhubungan dengan panjang telomer -suatu sekuensi

DNA

pada ujung setiap kromosom manusia. Setiap kali sel membelah, maka telomer

ini

akan semakin pendek, sampai suatu saat telomer

tidak

dapat memendek lagi (yaitu setelah sel membelah 50

kali).

Walaupun belum dapat dibuktikan, nampaknya dengan

memodifikasi panjang telomer melalui enzim telomerase,

maka

proses penuaan

khususnya kematian

sel

dapat

diperlambat.

Dengan membuat

telomer menjadi lebih

panjang, kemampuan sel untuk membelah

diri

tidak lagi

dibatasi oleh fenomena

Hayflick.

Pengaruh Aksis

GH/lGF-1

Berbagai

penelitian pada

tikus

dan

cacing

(Caenorhabditis elegans) menunjukkan bahwa keadaan

panhipopituarisme dengan defisiensi jelas pada hormon

tirotropin, prolaktin,

dan

growth

hormone

(GH)

akan

memperpanjang

usia pada hewan-hewan tersebut

dibandingkan

kontrol. Dibuktikan juga

bahwa

insulin-like

growthfactor-l (IGF-l)

yang

rendah

di

sirkulasi

juga

mempengaruhi

usia

pada

cacing.

Satu

penelitian

kohort pada tikus yang telah dilakukan mutasi sehingga

terjadi

pengurangan

jumlah

reseptor

IGF-1

sebanyak

500/o, menunjukkan usia

yang lebih

panjang 33o/o pada

tikus betina

(bermakna secara

statistik)

dan

l6oh

pada

tikus jantan (tidak

bermakna) dibandingkan

dengan tikus

kontrol.

Pemeriksaan

kimia

darah yang

dilakukan

secara

berkala menunjukkan

bahwa

tikus mutan

sama

sehatnya dengan

tikus

kontrol,

dan

hasil

pemeriksaan nekropsi menunjukkan

patologi

yang terjadi

juga

sama

pada

kedua

kelompok.

Walaupun

ada

penelitian lain

yang menunjukkan bahwa semakin panjang usia

berhubungan dengan rendahnya

fertilitas, penelitian

ini

mendapatkan bahwa

tingkat

fertilitas

kedua

kelompok

tidak

berbeda.

Tikus

mutan yang rendah

jumlah

reseptor

IGF-lnya

menunjukkan konsumsi makanan dan energt expenditure

yang lebih rendah dibandingkan tikus kontrol. Tikus mutan

juga lebih tahan terhadap stres

oksidatifakibat

pemberian bahan oksidan

(radikal

bebas), sehingga kerusakan pada

DNA,

protein, dan

lipid

lebih rendah dibandingkan tikus

kontrol. Hal-hal

ini

nampaknya

juga

sesuai dengan teori

penuaan yang telah diuraikan

di

atas.

Strategi

pencegahan penuaan secara

ilmiah

dan

rasional bertujuan untuk memperlambat

penuaan,

mencegah dan memperlambat penurunan

fisiologis,

dan

mengembalikan kemampuan fungsional

y ang

hilang.

Seyogianya upaya-upaya tersebut mengacu pada

bukti-bukti ilmiah

yang didapat dari berbagai penelitian dasar

mengenai proses menua.

Namun penelitian-penelitian

dengan hasil yang memuaskan belum ada, khususnya pada

manusia, maka kemudian

muncul

upaya-upaya

yang

bersifat

coba-coba.

Upaya yang

dilakukan antaralain

dengan suplementasi hormonal seperti

growth

hormone, d ehy dr o ep i andr o s t er o ne

(DHEA),

melatonin, dan

estro-gen, serta suplemen

nutrisi

dengan antioksidan sintetik

maupun natural yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau

binatang.

Beberapa pendekatan

di

atas

menunjukkan

manfaat

klinis

pada pengobatan berbagai penyakit pada

usia

lanjut,

namun

tidak

ada

yang benar-berar

dapat

mengubah proses penuaan tersebut.

Klaim

yang

menyatakan bahwa

asupan

vitamin

dosis

tinggi

dan berbagai antioksidan mempunyai efek anti-penuaan dan

memperpanjang

hidup

ternyata masih

belum

didukung

buktiilmiah.

IMPLIKASI KLINIK

PROSES MENUA

Mengelola orang berusia

lanjut

berbeda

dengan

mengelola orang muda untuk beberapa alasan, antara

lain

karena

adanya perubahan-perubahan

yang terjadi di

dalam proses menua. Perbedaan

yangjelas

antara proses

menua

normal

dan perubahan-perubahan yang

bersifat

patologis sebenarnya penting dipahami dalam mengelola

dan mengasuh orang

usia lanjut.

Dengan demikian

diharapkan dapat dicegah

patologi

yang menyertai usia

lanjut

yang

sebenarnya dapat

diobati,

dan

dapat

pula

dihindari

pengobatan masalah kesehatan

yang

sebenarnya merupakan

bagian dari

proses menua

nor-mal

akan tetapi dianggap sebagai suatu penyakit.

Setiap individu tidak menua secara seragam, baik cara

maupun

laju

kecepatannya.

Belakangan

ini

perhatian

ditujukan

pada adanya

variasi

dalam proses

menua, dengan

perhatian besar

ditujukan

pada

mereka

yang mengalami proses menua dengan sukses,

yakni

hanya mengalami penurunan minimal pada status frrngsionalnya.

Banyak

perubahan

yang dikaitkan

dengan proses

(9)

764

GERIATRI

bertahap (gradual /oss). Berdasarkan perbandingan yang

diamati secara potong

lintang

antar kelompok usia yang

berbeda, sebagian

besar

organ tampaknya mengalami

kehilangan fungsi sekitar

I

persen per tahun, dimulai pada

usia sekitar 30 tahun. Namun demikian, data lain

menyatakan perubahanpada orang usia lanjut yang

diikuti

secara longitudinal kurang dramatis dan baru mulai pada usia 70-an.

Hilangnya

fungsi organ tidak bermakna

sampai

melampaui tingkat tertentu. Jadi

kine{a

firngsional sebuah organ pada orang berusia lanjut

tergantungpada2 faktor

penting

yakni:

laju

penurunan dan

tingkat kinerja

yang

dibutuhkan.

Tidaklah

mengherankan

bahwa

sebagian besar orang usia

lanjut

akan

memiliki

hasil laboratorium

dengan

nilai

normal. Perbedaan penting, yang merupakan kekhususan proses menua, bukan terletak pada level kine{ a

saat

istirahat,

akan

tetapi

pada bagaimana

organ

atau

organisme beradaptasi terhadap stres eksternal. Sebagai

contoh, orang usia

lanjut mungkin

memiliki

kadar gula

darah puasa normal, tetapi

tidak

dapat mempertahankan kadar gula darah dalam

nilai

normal dengan pembebanan glukosa. Contoh lain, seorang usia lanjut mungkin

memiliki

denyut nadi dan curah jantung yang normal saat istirahat,

tetapi

tidak

dapat mencapai peningkatan

yang

adekuat pada saat latihan jasmani.

Kadang

perubahan-perubahan pada proses menua

berlangsung

bersamaan sehingga

menghasilkan

nilai

normal unhrk beberapa parameter

lain.

Sebagai contoh,

walaupun

filtrasi

glomerulus dan

aliran

darah ginjal:

menurun sejalan dengan usia, banyak orang usia

lanjut

memiliki

kadar

kreatinin

serum normal karena pada saat

yang bersamaan massa

otot

bebas

lemak

dan produksi

kreatinin

juga

mengalami penurunan.

Oleh

karena

itu,

kreatinin

serum bukan

indikator

yang

baik untuk

fungsi ginjal orang usia lanjut. Dalam pemberian obat-obatan pada orang usia lanjut, bukan kreatinin semm yang digunakan untuk menentukan dosis obat melainkan klirens kreatinin yang dapat diestimasi berdasarkan

nilai kreatinin

serum.

Salah

satu formula yang cukup terkenal

untuk

memperkirakan klirens kreatinin adalah rumus Cockcroft

dan Gault.

Perlu disadari

pula

adanya

variasi individu

dalam

menetapkan

kinerja

seorang pasien yang ditentukan oleh

kine{a

pasien tersebut sebelumnya. Seorang pelari berusia

75 tahun

mungkin

memiliki

fungsi kardiovaskular yang

lebihbaik

dibandingkan dengan seorang dokteryang lebih

muda tapi tidak pernah berolah raga.

Proses menua

juga

bukan

semata serangkaian

perubahan

biologis.

ProSes menua merupakan sebuah

waktu untuk berbagai kehilangan, kehilangan peran sosial akibat pensiun, kehilangan mata pencahariaan, kehilangan teman dan keluarga. Proses menua,

juga

sebuah wakfu

dengan banyak ketakutan atau kecemasan; cemas akan

keamanan

pribadi,

cemas akan

tidak

adanya

jaminan

finansial, dan cemas akan ketergantungan.

Di

sisi lain, sebagian besar orang usia

lanjutjuga

telah

mengembangkan mekanisme

untuk

mengatasi berbagai

keterbatasan dan terus mampu melaksanakan aktivitas

hidupnya dengan

baik.

Peran petugas

kesehatan,

khususnya para dokter adalah meningkatkan kemampuan

copying tersebut dengan mengidentifikasi dan mengobati masalah yangdapat diobati, dan memfasilitasi perubahan

lingkungan

untuk

memaksimalkan

fungsi

dalam

menghadapi masalah yang menetap.

Salah satu masalah

yang

sering

dihadapi oleh

para

dokter

adalah

sulitnya

memperoleh

riwayat

penyakit

dengan baik.

Hal ini

disebabkan karena pasien seringkali

sudah beradaptasi dengan masalah atau

penyakit

yang

dialami.

Pada

kondisi

tersebut, pasien umumnya

beradaptasi

dengan

penyakitnya

melalui

mekanisme

pengabaian, penyangkalan atau adaptif terhadap masalah

atau

penyakitnya tersebut.

Sebagai

contoh,

seseorang

yang

mengalami

gangguan pendengaran

justru

akan

banyak bicara

untuk

menyembunyikan defisit

pendengarannya.

Salah satu cara

untuk

mencegah

tidak

terdeteksinya

gangguan firngsi

kognitif

pada pasien, direkomendasikan

evaluasi yang seksama menggunakan pengkajian paripuma

geriatri

yang

memasukkan penapisan

formal

terhadap frrngsi

kognitif

dan mental.

Proses menua juga ditandai oleh berkurangnya respons

terhadap stres termasuk stres terhadap penyakit.

Intensitas gejala

mungkin tertutup oleh

menurunnya

respons tubuh pada orang berusia lanjut.

Tanggung jawab dokter adalah menatalaksana pasien,

mengobati penyakit

atau masalah

yang

dapat

diobati.

Setelah memperbaiki kemampuan pasien secara

fisiologi

dan

psikologi

semaksimal

mungkin, tugas

selanjutnya

adalah mengelola lingkungan yang

memfasilitasi

fungsi

pasien

dengan

ototnomi

yang maksimal.

Tugas yang

terakhir

ini

tidaklah

semata-mata merupakan tanggung jawab dokter, tetapi juga berbagai profesi kesehatan yang

lain.

Lingkungan dapat menyebabkan teg'adinya disfungsi, menyebabkan terjadinya

jatuh

dan mengakibatkan pula dekompensasi. Sebagai

contoh,

seorang pasien dengan sesak napas pada saat aktivitas, dapat tetap beraktivitas bila tinggal di lantai bawah, tetapi menjadi tidak berfungsi

bila tinggal di

lantai atas atau harus naik turun tangga.

Pasien

juga

bisa mengalami imobilisasi akibat

ketidakpahaman keluarga atau pengasuhnya. Pada banyak

keluarga

atau pengasuh

cukup

sering

terjadi

pasien

mengalami imobilisasi

karena

keluarga

atau pengasuh khawatir pasien mengalami jatuh atau celaka. Tugas dokter atau petugas kesehatan adalah

melatih

dan meyakinkan keluarga atau pengasuh

untuk

mengelola pasien dengan benar, dengan

tidak

membatasi pasien beraktivitas, akan

tetapi

juga

tetap menjaga agar pasien

tidak

mengalami kondisi yang membahayakan.

(10)

PROSES MENUA DAN IMPLIKASI KLINIKIiTYA

765

menceritakan masalah pasien secara utuh, diperlukan pula

penetapan masalah kesehatan yang muncul pada pasien.

Beberapa masalah kesehatan

yang

sering

muncul

pada

pasien

geriatri

adalah:

imobilisasi,

instabilitas,

inkontinensia,

gangguan

intelektual,

infeksi,

gangguan pendengaran dan penglihatan, isolasi, inanisi (malnutrisi), iatrogenesis, insomnia, defisiensi

imun,

dan impotensi.

Masalah-masalah tersebut penting untuk diketahui karena

beberapa alasan. Pada

usia

lanjut, timbulnya

masalah

mungkin bukan merupakan suatu tanda

etiologi,

namun masalah dapat

timbul

karena beberapa sebab. Sebagai contoh, seseorang menderita imobilisasi dapat disebabkan

fraktur panggul, angina berat, atau karena artritis. Namun

pasien juga dapat menderita imobilisasi karena adanya rasa

takut.

Seorang

usia lanjut

yang

telah diobati fraktur

panggulnya

mungkin tidak

berkeinginan

untuk

dapat berjalan kembali karena takut

jatuh kembali yang

dapat menimbulkan fraktur lainnya. Dokter dan tenaga kesehatan harus mendapatkan informasi riwayat penyakit yang cukup

untuk memahami

etiologi

dari masalah yang

timbul

jika

akan melakukan

tata laksana dengan tepat untuk

menyembuhkan masalah y ang ada.

Faktor

lain

yar,g

menyebabkan timbulnya

ketergantungan adalah biaya. Seringkali lebih mudah dan

lebih murah melakukan suatu hal untuk seseorang dengan keterbatasan fungsional daripada melakukan sesuatu yang diperlukan untuk memotivasi mereka untuk melakukannya

untuk

diri

sendiri. Namun, sayangnya hal tersebut hanya

akan berlangsung dalam

jangka waktu

pendek, karena

tingkat ketergantungan mereka akan semakin

tinggi

dan memerlukan perawatan yang lebih besar.

Diantara masalah pada pasien

geriatri

yang penting

untuk

diperhatikan adalah iahogenesis. Dalam beberapa kasus, terdapat beberapa

risiko

sebagai konsekwensi dari perawatan

yang

dapat memperburuk kesehatan pasien.

'Perhitungan

keuntungan sebagai salah satu

dasar melakukan

tata

laksana terhadap

kondisi

pasien harus

dilakukan dengan hati-hati pada pasien usia lanjut.

Risiko

biasanya terdapat pada pemberian obat-obatan sebagai

akibat dari tata laksana yang

mungkin

sebenarnya

tidak

terlalu diperlukan.

Petugas kesehatan

yang tiba-tiba

menambahkan

obat

kepada

pasien

geriatri

dengan

polifarmasi

sebenarnya berhadapan dengan set

kimia

hidup. Penurunan laju metabolisme obat dan ekskresi pada usia lanjut akan memperburuk masalah interaksi obat.

Hal

yang

lebih

bahaya adalah ketidakhati-hatian, penetapan

label

klinis

yang

tergesa-gesa. Pasien

yang

menjadi

disorientasi

dan kebingungan

di

rumah sakit mungkin

bukan disebabkan karena menderita defnensia. Seseorang yang mengalami masalah berkemih belum tentu menderita inkontinensia urin. Menetapkan pasien menderita demensia atau inkontinensia urin mungkin terlalu dini sebagai alasan menempatkan mereka di nursing homes. Petugas kesehatan harus lebih hati-hati dalam mengevaluasi dan menetapkan diagnosis pada pasien usia lanjut.

MENUAYANG SUKSES DAN SEHAT (SUCCESSFUT

AGTNG)

Konsep

menua sukses (successful

aging)

sebenarnya

masih

dalam perkembangan

dan

pencarian

jati

diri.

Walaupun menua sukses/sehat

diyakini

dapat dicapai,

namun definisi dan faktor-faktor yang

berperan

di

dalamnya

belum

sepenuhnya

disepakati.

Penelitian-penelitian besar yang mencoba mengikuti perjalanan hidup sekelompok manusia menuju usia tua mendapati bahwa

sulit sekali menentukan faktor-faktor yang dapat dijadikan

indikator

suksesnya suatu proses menua.

Belum

lagi

perbedaan sudut pandang mengenai

indikator-indikator

tersebut antara peneliti dan para usia lanjut yang menjadi

subyek penelitian.

Walaupun demikian, secara umum dapat disimpulkan sementara

bahwa seluruh segi kehidupan

seharusnya

dipertimbangkan

ketika

membicarakan konsep menua

sukses.

Walaupun sering

diidentikkan

dengan menua

yang

sehat, konsep menua sukses temyata

tidak

hanya

terpaku pada kesehatan (baik

fisik

maupun mental) saja,

namun

juga faktor intelektual,

emosional, sosial,

dan

-

kultural juga penting

dan

terbukti

berpengaruh pada

terciptanya menua yang sukses.

Dari

segi kesehatan

fisik

pun, ternyata didapatkan bahwa bukan penyakit (disease)

yang

paling berperan tetapi lebih

pada bebas

dari

keterbatasan (hendaya, dis

abilitas)fisik.

Suatu

penelitian

besar,

MacArthur Longitudinal

Study on Successful

Aging,menyimpulkan

bahwa menua yang sukses

terdiri

dari 3 komponen, yaitu: (1) rendahnya risiko untuk mengalami sakit dan disabilitas akibat penyakit,

(2)

kapasitas

kognitif

dan

fisik

yang

tinggi,

dan (3)

kehidupan yang selalu

aktif, terdiri

atas hubungan

inter-personal yang

baik

serta

aktivitas yang produktif.

Walaupun terdapat beberapa perbedaan pada definisi dan operasionalisasi, penelitian-penelitian lain umunmya secara konsisten mendapatkan bahwa komponen kesehatan

fisik

yang baik, yang disertai dengan kemandirian (bebas dari disabilitas), fungsi

kognitif

yang teqaga, hubungan sosial

yang terbina dengan

baik,

serta kehidupan spiritual yang

kuat

merupakan

indikator-indikator

menua sukses yang

penting.

BAGAIMANA MENCAPAI

MENUA YANG SU

KSES?

Atas

dasar temuan-temuan

ilmiah

yang

secara khusus

dirancang

untuk

mengidentifikaSi

faktor-faktor

apa saja

yang

berperan pada

terwujudnya

menua

yang

sukses,

berikut

adalah langkah-langkah

yang

dapat

dilakukan

untuk mencapainya:

l.

Upayakan

fisik

dan mental selalu

sehat

Lakukan

latihan-latihar'

atau

kegiatan

fisik

yang

teratur.

Walaupun dianjurkan dilakukan sejakusia muda, latihan

(11)

766

GERI'TIRI

memberikan banyak manfaat. Dalam melakukan latihan

fisik

seyogyanya disertai dengan kontak yang erat dan

sehat dengan

lingkungan/orang-orang

disekitar.

Dengan bermain dan bercengkrama dengan cucu-cucu,

selain bermanfaat secara

fisik,

hubungan sosial dan kondisi mentalpun akan tetap terjaga bahkan meningkat sampai pada tahap optimal.

Nikmati

berbagai aktivitas yang menjaga ketajaman

pikiran,

seperti membaca, menulis, bermain musik, dan terlibat dalam pembicaraan atau diskusi yang santai atau serius. Jangan dilupakan tidur yang cukup sangat dibutuhkan tubuh untuk tetap sehat secara

fisik

maupun psikis.

Upayahan

nutrisi yang

baik. Walaupun status nutrisi

yang buruk lebih mudah didapatkan pada mereka yang berusia lanjut, namun bukan hal tidak mungkin mereka mampu mendapatkan nutrisi yang cukup dan seimbang

untuk

mempertahan kesehatan dan kebugaran

fisik.

Pemenuhan

kebutuhan

nutrisi tidak

semata-mata

terbatas pada

jenis

dan

jumlah

makanan, tetapi yang

tidak kalah penting adalah aktivitas makan yang tentu

melibatkan hubungan sosial dan rekresi

yang

manfaatnya

juga

akan sangat dirasakan.

Perhatikan keinginan

hati

(heart's desire).

Dalam menjalani hidup, seyogyanya keinginan yang berasal

dari lubuk hati yang paling dalam harus diperhatikan;

tidak memaksakan kehendak dan j angan biarkan apapun

menganggu keinginan

hati.

Manusia yang diketahui berumur

paling

panjang,

Ms.

Jeanne Calment yang

meninggal pasa usia 122

tahwpada

1997 , mempunyai

motto:

"If

you

can\

do anything about it,

just

accept

il."

Tingkatkan kesejahteraan

material.

Walaupun

kekayaan dan kesejahteraan material bukan merupakan

hal paling penting

dalam kehidupan,

kemampuan

pemenuhan kebutuhan material baik untuk diri maupun

keluarga

berdampak pada

tingkat

kesehatan

fisik,

mental,

maupun

sosial. Bagi

seorang

yang

akan

memasuki

usia pensiun,

adalah

sangat

tepat

dan

bermanfaat

bila

dapat merencanakan

masa-masa

pensiunnya tanpa harus kekurangan materi.

Hubungan sosial

yang

sehat. Sahabat-sahabat sejati

serta anggota keluarga yang mendukung tentu

merupakan obat yang mujarab, terutama pada masa

akhir-akhir

kehidupan. Dengan membina hubungan

yang

positif

dengan berbagai pihak, kita akan semakin sehat, semakin panjang umur, dan

makin

menikmati

hidup.

Di kultur

masyarakat

kita,

sebenarnya peran

sosial orang tua sudah sangat

jelas.

Sebagai seorang

yang dituakan, umumnya seorang berusia

tua

selalu

diminta

nasehat dan pemikiran-pemikirannya dalam berbagai masalah. Perasaan telah memberikan manfaat bagi orang lain temyata sangat membantu baik dari segi mental maupun kesehatan

fisik.

Sikap yang

positif.

Dalam perjalanan

hidup

menjadi

tua, tentu banyak tantangan dan kehilangan yang terjadi

yang mendera seorang tua. Tetapi jangan berkecil hati,

karena berbagai masalah

yang

selama

ini

dihadapi tersebut merupakan pelajaran berharga agar dapat

bersikap

positif

terhadap kehidupan. Seorang yang

bersikap

positif

umumnya

lebih

mudah menerima berbagai

peristiwa

apapun yang

terjadi,

serta dapat mengendalikan emosi pada keadaan apapun. Bersikap

positif diyakini

akan memberikan manfaat yang lebih

dalam kehidupan seorang usia lanjut yang berkualitas.

7.

Tingkatkan

vitalitas

spiritual.

Kehidupan spiritual

yang baik, di masyarakat dan kultur kita, telah

diyakini

dapat memberikan makna

lebih

dalam menjalani

kehidupan, terutama

bagi

mereka yang menuju usia senja. Hal yang sama pun juga

te{adi

di

negaraBarat

yang selamaini terkesan cenderung memisahkan agama dari kehidupan. Larry Dossey, seorang peneliti, dokter,

dan

penulis buku

terkemuka, setelah

mengamati

berbagai studi menyimpulkan bahwa: "Terdapat paling tidak 250 studi yang menunjukkan bahwa mereka yang taat menjalankan ajaran agarnanya lebih sehat selama

kehidupannya

dibanding yang

tidak.

Mereka lebih

jarang ke dokter. Mereka lebih sedikit membelanjakan uang untuk biaya kesehatan. Dan mereka lebih jarang

sakit."

PENUTUP

Proses menua hingga saat

ini

masih merupakan misteri

yang belum

banyak

terj

awab.

Perubahan-perubahan

fisiologis

yang

terjadi

pada proses menua,

yang

erat

kaitannya

dengan

berkurangnya

cadangan

fisiologis

seiring bertambahnya usia, sangat mempengaruhi seorang usia

lanjut

dalam mempertahankan kondisi homeostasis.

Perubahan-perubahan

yang

terjadi

serta kemampuan

mempertahankan homeostasis ini terjadi secara individual,

walaupun

terjadi

pada seluruh

individu

yang

menua.

Konsep mengenai memperlambat proses menua

dan memperpanjang usia serta penelitian-penelitian di bidang

itu

masih

merupakan

kontroversi,

terlebih lagi

untuk

penerapannya di manusia. Masih banyak hal yang belum te{awab dan membutuhkanpenelitian lanjutan, yang tentu

membutuhkan

waktu,

dana, dan sumber daya

lain

yang

tidak sedikit.

Pemahaman mengenai proses menua serta perubahan-perubahan yang

terjadi

akan sangat mempengaruhi cara pandang

kita

bila

menghadapi seorang usia

lanjut

yang sakit, dan pada akhirnya mempengaruhi penatalaksanaan-nya. Implikasi klinis akibat proses menua yang tef adi harus diwaspadai, baik oleh dokter dan tenaga kesehatan, maupun oleh keluarga dan care giver yang merawat pasien usia lanjut

sehari-hari. Sehingga diharapkan seorang usia lanjut tidak

mengalami pengabaian masalah kesehatan yang dialaminya,

sementara

di

lain pihak tidak terjadi

diagnosis

dan

(12)

PROSES MENUA DAI\I IMPLIKASI KLINIKI{YA

767

overtreatment) terhadap

hal-hal yang

fisiologis

akibat

proses menua.

Akhirnya,

menjadi tua

(menua) dengan sukses dan

sehat

bukanlah suatu

angan-angan

lagi. Menjadi

tua

tidaklah

identik

dengan

banyak

penyakit

dan

ketidakberdayaan. Banyak hal yang dapat dilakukan sejak

usia muda, bahkan

setelah

usia

tua pun, yang

dapat

menuntun

kita

untuk menjadi tua dengan

sukses.

Kesehatan fisik dan tidak adanya disabilitas, bersama-sama

dengan kesehatan

mental, hubungan

sosial,

dan

kehidupan

spiritual yang baik

merupakan

indikator-indikator utama keberhasilan proses menua yang sukses.

REFERENSI

1.

Alexander P Spence. Biology of human aging. Second Edition. New York: Prentice Hall Inc., 1999. p. l-37.

2.

Depp CA, Jeste DV. Definition and predictors of successful aging: a comprehensive review of larger quantitative studies.

Am J Geriatr Psychiatry. 2006;14:6-20.

3.

Druzhyna NM, Wilson GL, LeDoux SP. Mitochondrial DNA repair in aging and disease. Mech Ageing Dev. 2008;129:383-90.

4.

Halliwell B, Gutteridge JMC. Free radicals in biology and

medi-cine. Oxford: University Press, 1999. p. 784-859.

5.

Harman D. The aging process: major risk factor for disease and

death. Proc Natl Acad Sci USA. 1991;88:5360-3.

6.

Holzenberger M. The GH/IGF-I axis and longevity. Eur J

Endo-crinology. 2004 ;1 5 1 :523 -27 .

7.

Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. Clinical implica-tions of the aging process. Dalam: Essential of Clinical Geritrics.

6'h Edition. USA: McGraw-Hill Companies, 2009.

8.

Mobbs C. Molecular and biologic factors in aging. In: Cassel AK, Leipzig RM, et al. Geriatric Medicine: An Evidence-Based Ap-proach. Fourth edition. New York: Springer-Verlag New York, Inc. 2003. p. 15-25.

9.

Martell RE, Cohen HJ. The science of neoplasia and its rela-tionship to aging. In: Cassel AK, Leipzig RM, et al. Geriatric Medicine: An Evidence-Based Approach. Fourth edition. New York: Springer-Verlag New York, Inc. 2003. p.363-73. 10. Miller RA. The biology of aging and longevity. In: Hazard WR,

Blass JP, Halter JB, Ouslander JG Tinetti ME. Principles of

Geriatric Medicine and Gerontology.

Fifth

edition. USA: McGraw-Hill Companies, Inc., 2003. p. 3.

1 1. Rowe JW, Kahn RL. Human aging: usual and successful. Science.

1987;137:.143-9.

12. Rusell RM. The aging process as a modifier of metabolism. Am J Clin Nutr 2000;72(suppl):529S-32S.

13. Scharlach AE, Robinson B. Curriculum module on the aging process. University of California Barkeley. Diunduh dari http:

www.moduleprocessaging. com. diakses pada tanggal

ll

-3 -2004.

14. Taffett GE. Physiology of aging. Cassel AK, Leipzig RM, et al.

Geriatric Medicine: An Evidence-Based Approach. Fourth

edi-tion. New York: Springer-Verlag New York, Inc., 2003. p.27'

35.

15. Quick S, Hesseldenz P, Hayhoe C, et al. Aging gracefully: Mak-ing the most of your later life adventure. Available from http:/ /www.ca.ukv.edu/fcs/aging Cited at July 10. 2008.

(13)

t23

Parameter Demografi

4.7

4,1

112

71

Catatan : TFR = total fertility rate (angka kelahiran total) ; IMR = infant mortality rate (angka kematian bayi / 1000 kelahiran) Sumber: Biro Pusat Statistik, 1 998

Akibat populasi usia lanjutyang meningkat maka akan

terjadi transisi epidemiologi, yaitu

bergesernya

pola

penyakit dari penyakit infeksi dan gangguan gizi merrjadi

penyakit-penyakit degeneratif,

diabetes, hipertensi,

neoplasma, penyakit

jantung

koroner. Selain perubahan

pola

morbiditas, penyebab kematianpun berubah

;

pada

tahun 1980, 25

%o

dari

semua penyebab kematian

diakibatkan oleh penyakit

infeksi

saluran pernapasan,

sedangkan penyebab

kematian oleh

neoplasma

dan penyakit sistem sirkulasi masing-masing adalah 3,0%o dan

7,5

yo. Pada

tahun

1995,

infeksi

saluran

pernafasan

merupakan 14 Yo

dai

semua penyebab kematian, sementara neoplasma dan penyakit sistem sirkulasi masing-masing

adalah6,0Yodar23,0%(dataSKRIl995untukJawa-Bali).

Faktor yang turut berperan pada transisi epidemiologi

ini

adalah keberhasilan mengatasi infeksi dengan penggunaan

antibiotika

serta

majunya

sistem penanggulangan dan pencegahan penyakit infeksi di bawah pengarahan WHO.

Konsekuensi lain dari peningkatan

jumlah

warga usia

lanjut adalah meningkatnya jumlah pasien geriatri. Pasien

geriatri

pada

hakikatnya

adalah warga

usia lanjut juga

namun karena karakteristiknya maka perlu dibedakan dari

mereka yang

sekadar

berusia

lanjut

namun

sehat.

Karakteristik pasien geriatri yang pertama

adalah

multipatologi, yaitu

pada satu pasien terdapat

lebih

dari satu

penyakit yang umumnya penyakit bersifat kronik

degeneratif.

Kedua

adalah menurunnya daya cadangan

faali; yang menyebabkan pasien geriatri amat mudah

jatuh

dalam kondisi gagal

pulih (failure

to thrive). Ketiga,

yaitu

berubahnya gejala dan tanda penyakit

dari

yang klasik. Keempat adalah terganggunya status fungsional pasien

geriatri;

status fungsional adalah kemampuan seseorang

untuk melakukan aktivitas

hidup

sehari-hari. Keadaan status fungsional

ini

menggambarkan kemampuan umum

'1971

1980

1985

1990 1997 TFR IMR

3,3

2,6

70

50 5,6 142

PENGIG"IIAN

PARIPURNA

PADA PASIEN

GERIATRI

Czeresna H Soejono

PENDAHULUAN

Tidak

dapat

dipungkiri

bahwa

saat

ini

sedang

terjadi

perubahan

proporsi

kelompok

umur

penduduk dunia

termasuk Indonesia.

Perubahan

proporsi

kelompok-kelompok

umur

di

dalam penduduk dapat

terjadi

antara

lain

sebagai

akibat

menurunnya

tingkat fertilitas

dan mortalitas (Tabel 1 dan Tabel2). Menurut dataPerserikatan

Bangsa-Bangsa,

Indonesia diperkirakan

mengalami

peningkatan jumlah warga berusia lanjut yang tertinggi

di

dunia, yaitu 4l4o/o, hanya dalam waktu 35 tahun (1990

-2025);

sedangkan

di

tahun 2020 diperkirakan

jumlah

pendudukusia lanjut akan mencapai25,5 jutajiwa. Menurut Lembaga

Demografi Universitas

Indonesia, persentase

jumlah

penduduk berusia lanjut tahun 1985 adalah3,4o/o dari total penduduk, tahun 1990 meningkat menjadi 5,\Yo dan di tahun 2000 mencapaiT ,4o/o.

Persentase Usia

lanjut

5,8 0/o 7,4

Yo

8,O %

Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan

Rt,2004

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :