• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bimbingan UKMPPD (UKDI) - Neurologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bimbingan UKMPPD (UKDI) - Neurologi"

Copied!
248
0
0

Teks penuh

(1)

dr. Gandhi A. Febryanto dr. Anindya K. Zahra dr. Akhmad Suryonurafif

dr. Erwin Widi Nugraha dr. Alexey Fernanda N dr. M. Dzulfikar Lingga QM

Neurologi

(2)
(3)

Glasgow Coma Scale (GCS)

Glasgow Coma Scale (GCS) merupakan penilaian status kesadaran secara kuantitatif. Skor maksimal adalah GCS=15, skor minimal adalah GCS=3

(4)
(5)
(6)

Derajat Kesadaran Secara Kualitatif

Di dalam neurologi, secara kualitatif kesadaran

dibagi menjadi :

Compos mentis

= sadar penuh, respon terhadap

semua jenis rangsangan (+)

Somnolen

= kondisi penurunan kesadaran dimana

pasien masih bisa merespon terhadap rangsangan

verbal dan nyeri

Stupor

= kondisi penurunan kesadaran dimana pasien

tidak merespon terhadap rangsangan verbal, namun

masih merespon terhadap rangsangan nyeri

Coma

=

unarousable unresponsiveness state

, tidak

ada respon terhadap rangsangan apapun

• Coma ≠ brain death. Pada coma, refleks batang otak masih bisa ada.

(7)

Etiologi Gangguan Kesadaran

1. Proses Difus dan Multifokal

– Metabolik (hipo atau hiperglikemia, gagal hati, gagal ginjal, keracunan (obat-obatan, alkohol)

– Infeksi

– Konkusio dll.

2. Lesi Supratentorial

– Hemoragik (EDH, SDH, ICH)

– Infark (embolus, trombus).

– Tumor (primer, sekunder, abses).

3. Lesi Infratentorial.

– Hemoragik (serebelum, pons).

– Infark batang otak.

– Tumor serebelum. – Abses serebelum.

Lateralisasi

-> TTS

T

rauma

T

umor

S

troke/Sirkulasi

(8)

Etiologi Gangguan Kesadaran

Mneumonic = “

SEMENITE

S

Sirkulasi = gangguan pembuluh darah otak (infark

atau perdarahan)

E

Ensefalitis = infeksi sistem saraf pusat oleh

bakteri, virus, atau fungi

M

Metabolik = gangguan metabolik sistemik yang

menekan kerja otak, misal : koma hipoglikemia, koma

uremikum, koma hepatikum

E

Elektrolit = gangguan keseimbangan elektrolit

(misal hiponatremia)

N

Neoplasma = tumor primer atau tumor sekunder

I 

Intoksikasi, misal intoksikasi opiat

T

Trauma = cedera kepala

(9)

Pendekatan diagnostik pada pasien

tidak sadar

Membedakan secara cepat faktor penyebab

apakah kerusakan stuktural atau metabolik

dan penatalaksanannya.

Komponen yang harus diperiksa pada tingkat

kesadaran meliputi

Pola pernafasan

Ukuran dan reaksi pupil

Pergerakan mata dan respon okulovestibuler

Respon motorik

(10)
(11)

Additional note :

Biot's respiration breathin-g characterized by irrebreathin-gular periods of apnea alternati ng with periods in which4 or 5 breaths of identical depth are taken;

(12)
(13)
(14)
(15)
(16)
(17)

Epilepsy

Bangkitan (Seizure)

terjadinya tanda/gejala

yang bersifat sesaat akibat

aktivitas neuronal

yang abnormal dan berlebihan di otak

Epilepsi

penyakit otak yang ditandai dengan

kondisi/gejala berikut :

Minimal terdapat 2 bangkitan tanpa provokasi

atau

2

bangkitan reflex

dengan jarak waktu antar bangkitan

pertama dan kedua

lebih dari 24 jam

Bangkitan reflex : bangkitan yang muncul akibat induksi oleh faktor pencetus spesifik e.g stimulasi visual, auditorik, somatosensorik, somatomotorik

(18)
(19)
(20)
(21)

Simpe Partial VS Complex Partial

Seizures

(22)

Grand Mal (Generalized Tonic Clonic

Seizure)

(23)
(24)

Absensce vs Complex Partial Seizure

Atypical absence seizures are similar to typical absence seizures, except they tend to begin more slowly, last longer (up to a few

minutes), and can include slumping or falling down.The person may also feel confused for a short time after regaining consciousness (post-ictal confusion)

(25)

Status Epilepticus

Suatu keadaan kejang atau serangan epilepsi

yang terus-menerus disertai kesadaran

menurun selama >30 menit; atau kejang

beruntun tanpa disertai pemulihan kesadaran

yang sempurna

(26)
(27)
(28)

OAE (Obat Anti Epilepsi) Lini Pertama

(PERDOSSI)

(VPA=Asam valproat; LTG=Lamotrigine; CBZ=carbamazepin; PHT=phenytoin; PB=phenobarbital)

(29)
(30)
(31)
(32)

Treatment Recommendation

“If complete seizure control is accomplished

by an anticonvulsant,

a minimum of 2

seizure-free years

is an adequate and safe period of

treatment for a patient with no risk factors”

“When the decision is made to discontinue

the drug, the weaning process should occur

for 3-6 months, because abrupt withdrawal

may cause status epilepticus ”

National Institute of Health and Clinical Excellence. The diagnosis and management of the epillepsies in adults and children in primary and secondary care. 2012

(33)

Efek Samping Obat Antiepilepsi

Obat Efek Samping

Fenitoin Mual , ruam, bicara cadel, kebingungan, insomnia, sakit kepala, penyakit gusi, anemia defisiensi folat

Fenobarbital Adiktif, mengantuk, pingsan, penyimpangan memori Ethosuximide Autoimmune / lupus

Carbamazepine Ataxia,nystagmus, dysarthria, vertigo, sedatif

Asam valproat Iritasi saluran cerna, mual, nafsu makan dan BB meningkat, tremor, rambut rontok, bengkak, trombositopenia, gangg. Fungsi hati

(34)
(35)

Stroke

• Stroke

adalah

gangguan fungsional

otak

fokal

maupun

global akut

,

lebih dari 24 jam

,

berasal dari

gangguan aliran darah

otak

dan

bukan

disebabkan oleh gangguan peredaran

darah otak sepintas, tumor otak,

stroke

sekunder karena trauma maupun infeksi

(WHO MONICA, 1986)

(36)

Klasifikasi Stroke

Stroke non-perdarahan/ischemik/infark (SNH)

Berdasarkan arteri yang terlibat :

• Large artery stroke

• Lacunar stroke

Berdasarkan tipe penyumbatan :

• Thrombotic stroke

• Embolic stroke  paling sering disebabkan cardiac emboli dari gangguan irama jantung (e.g : atrial fibrillation)

Stroke perdarahan (SH)

Intracerebral hemorrhage (ICH)

(37)

Terminologi dalam Serangan Iskemik

Transient Ischemic Attack (TIA) / mini stroke

= defisit

neurologis fokal akut yang timbul karena gangguan aliran

darah otak sepintas dimana kemudian defisit neurologis

menghilang secara lengkap dalam waktu

<24 jam

Reversible Ischemic Neurological Deficits (RIND)

= defisit

neurologis fokal yang timbul karena gangguan aliran darah

otak dimana kemudian defisit neurologis menghilang

secara lengkap dalam waktu

>24 jam dan <72 jam

Prolonged Reversible Ischemic Neurological Deficits

(PRIND)

defisit neurologis fokal yang timbul karena

gangguan aliran darah otak dimana kemudian defisit

neurologis menghilang secara lengkap dalam waktu

>72

jam dan <7hari

(38)

Terminologi dalam Stroke Iskemik

Stroke In Evolution (Progressing Stroke)

=

defisit neurologis karena gangguan aliran

darah otak yang terus memburuk setelah 48

jam

Completed Stroke

= defisit neurologis karena

gangguan aliran darah otak yang secara cepat

menjadi stabil / menetap dan tidak

(39)
(40)
(41)
(42)
(43)

Stroke Ischemik (~80%)

• Infark akut (4 jam)

• Gambaran gray-white junction hampir tidak

kelihatan dan sulcus tidak tampak (edema cerebri fokal)

Infark sub-akut (4 hari)

Perubahan zona gelap

(hipodensitas) tampak

jelas & “mass effect”

(kompresi ventrikel)

CT SCAN pada stroke ischemik bukan merupakan gold standard, namun merupakan pemeriksaan penunjang awal untuk menyingkirkan adanya perdarahan

(44)

Intracerebral Hemorrhage (ICH)

• Dapat disebabkan karena trauma atau spontan.

ICH spontan merupakan stroke hemorrhagik dan paling sering disebabkan oleh hypertensive hemorrhage pada deep penetrating branches dari

(45)

Subarachnoid Hemorrhage (SAH)

• Aneurisma arteri-arteri pada circulus arteriosus Willis

• Thunderclap headache  nyeri kepala terhebat yang pernah dirasakan pasien • Muntah, kaku kuduk

• Tanda-tanda iritasi meninges (meningismus)

(46)

SINDROM

VASKULAR PADA

STROKE

(47)
(48)
(49)

Lobus dan Area (Broadmann) FRONTAL

Gyrus precentralis (4) Area Broca (44,45) Area premotoris (6) Frontal eye field (8) Prefrontal (9-12) PARIETAL

Gyrus postcentralis (1-3) Area asosiasi somatik (5,7) TEMPORAL

Korteks auditori

primer/Heschl (41,42)

Gyrus temporalis media dan inferior

OKSIPITAL

Korteks visual primer (17) Korteks asosiasi visual (18,19), tinggi (39)

Fungsi

Pusat motoris primer Pusat bahasa motoris Gerakan manipulatif Scanning bola mata Kepribadian, inisiatif Pusat sensoris primer Stereognosis Pusat pendengaran Memori dan pembelajaran Pusat penglihatan Asosiasi visual

(50)
(51)
(52)
(53)

Manajemen Stroke Ischemik Akut

Trombolisis r-TPA (recombinat tissue plasminogen

activator)

Rekomendasi kuat untuk diberikan sesegera mungkin

setelah diagnosis stroke ischemik akut ditegakkan

Trombolitik dengan t-PA intravena, bila diberikan dalam

3

jam paska onset

, dapat memberikan benefit untuk stroke

ischemik ( stroke atherothombotik/atheroembolik,

cardioembolik, dan lacunar

Dosis r-TPA- =

0,9 mg/Kg,

10% sebagai bolus inisial, 90%

dalam infus selama 60 menit

Antikoagulan atau antiplatelet tidak boleh diberikan dalam

24 jam

(54)
(55)

Trombolitik

Onset < 3 jam - jika diberikan segera outcome lebih baik

Stroke onset = dari saat terakhir tampak normal

Jangan diberikan jika glukosa darah <50 mg% Jangan diberikan jika tekanan darah >185/110

Risiko kecacatan  30% walaupun ~5% risiko ICH simtomatik

< 3 jam

 Merupakan batas mutlak  Tidak ada batasan luas lesi  Dapat diberikan pada pasien

yg sebelumnya riwayat

penggunaan warfarin dan INR < 1.7

3 - 4.5 jam

Jangan diberikan jika: • Usia > 80 tahun

• NIHSS > 25

• DM, riwayat stroke sebelumnya

(56)

Manajemen Stroke Ischemik Akut

Antihipertensi

Pada stroke ischemik,

TD diturunkan 15%

(sistolik

maupun diastolik) dalam 24 jam pertama

apabila

TDS>220 mmHg atau TDD>120 mmHg

Pada pasien stroke ischemik akut yang akan

mendapat trombolitik

, tekanan darah

diturunkan

hingga TDS<185 mmHg dan TDD<110 mmHg

.

Selanjutnya, tekanan darah harus dipantau hingga

TDS<180 mmHg dan TDD<105 mmHg selama 24 jam

paska pemberian rTPA.

Obat antihipertensi yang dapat digunakan : labetalol,

nitropaste, nitroprusid, nikardipin, atau diltiazem IV

(57)

Manajemen Stroke Ischemik Akut

Antiplatelet

Aspirin dosis awal 325 mg dalam 24-48 jam

setelah onset dianjurkan untuk setiap stroke

ischemik akut

Jika akan dilakukan trombolitik, tunda pemberian

antiplatelet

Antikoagulan

Secara umum, pemberian heparin, LMWH, dan

heparinoid tidak bermanfaat pada stroke ischemik

akut

(58)
(59)

Manajemen Stroke Perdarahan

Intracerebral Akut

Antihipertensi

Bila

TDS>200 mmHg

atau

MAP>150 mmHg

,

tekanan darah diturunkan

dengan menggunakan

obat antihipertensi IV secara kontinyu dengan

pemantauan tekanan darah setiap 5 menit

Bila

TDS>180 mmHg

atau

MAP>130 mmHg

disertai

dengan

tanda dan gejala peningkatan TIK

,

tekanan

darah diturunkan

dengan menggunakan obat

antihipertensi IV secara kontinyu atau intermiten

dengan pemantauan CPP≥60 mmHg

(60)

Manajemen Stroke Perdarahan

Intracerebral Akut

Antihipertensi

Bila

TDS>180 mmHg

atau

MAP>130 mmHg tanpa

disertai dengan tanda dan gejala peningkatan TIK

,

tekanan darah diturunkan secara hati-hati dengan

menggunakan obat antihipertensi IV secara

kontinyu atau intermiten dengan pemantauan

tekanan darah setiap 15 menit hingga

MAP 110

mmHg atau tekanan darah 160/90 mmHg

Bila TDS<180 mmHg dan TDD<105 mmHg, tunda

pemberian antihipertensi

(61)

Manajemen Stroke Perdarahan

Subarachnoid (PSA)

Antihipertensi

Untuk mencegah terjadinya perdarahan

subaraknoid berulang, pada pasien stroke

perdarahan subaraknoid akut,

tekanan darah

diturunkan hingga TDS 140-160 mmHg

.

Sedangkan TDS 160-180 mmHg sering digunakan

sebagai target TDS dalam mencegah resiko

terjadinya vasospasme

Calcium Channel Blocker (

nimodipin

) telah diakui

dalam berbagai panduan penatalaksanaan PSA

karena dapat memperbaiki keluaran fungsional

pasien apabila vasospasme serebral telah terjadi.

(62)
(63)

SECONDARY PREVENTION

Lifestyle Modification Blood Pressure Lowering

• Semua pasien stroke/TIA mendapat antihipertensi kecuali terdapat hipotensi simptomatik Antiplatelet Therapy

• Long-term antiplatelet therapy diberikan pada semua penderita stroke iskemik/TIA yang tidak mendapat terapi antikoagulan

• Dapat diberikan Aspirin+dipyridamole (atau aspirin saja pada pasien yang alergi dipyridamole) ATAU Clopidogrel

Anticoagulant Therapy

• Diberikan pada penderita stroke iskemik/TIA yang memiliki atrial fibrilation/cardioembolic stroke

(64)

JNC VII : PROGRESS study

For

secondary stroke prevention

, a

diuretic

(indapamide) and

ACE inhibitor

(perindopril

or ramipril) are effective and complementary

to other antiatherogenic and

antithrombogenic therapies, including aspirin.

For primary stroke prevention, all major

(65)

JNC VII : HOPE study

Control of hypertension in diabetics and

treatment of high-risk diabetic patients with

the

ACE inhibitor

ramipril

prevent stroke

Ramipril, at a dose of 10 mg/day, achieved a

significant 32% reduction in

total stroke

, and

(66)

Management of TIA

Evaluation within hours after onset of

symptoms

CT scan is necessary in all patients

Antiplatelet therapy with aspirin (50-325

mg/d), consider use of clopidogrel, ticlopidine,

or aspirin-dipyridamole in patients who are

intolerant to aspirin or those who experience

TIA despite aspirin use

(67)
(68)

Cilostazol EBM

Cilostazol (100 mg) 2 kali sehari menunjukkan efek yang

signifikan terhadap kejadian stroke berulang dibandingkan

plasebo (41,7% p= 0,0150;

event rate/year

cilostazol 3,37% vs

plasebo 5,78%) dan efektif untuk mencegah lakunar infark

pada

differential analysis.

(

Japanese Guidelines, Class I, Level

of evidence A

)

Rasio terjadinya stroke serta rasio terjadinya perdarahan

pada cilostazol secara signifikan lebih rendah bila

dibandingkan aspirin

. Penurunan relatif risiko terjadinya

stroke, cilostazol vs aspirin adalah 25,7% p= 0,0357 (

yearly

late of cerebral infarction cilostazol 2,76% vs aspirin 3,37%

).

Penurunan risiko relative terjadinya perdarahan pada

cilostazol terhadap aspirin sebesar 54,2% (p= 0,0004). Insiden

perdarahan pertahun untuk cilostazol 0,77%, sedangkan

aspirin 1,78% (

Japanese Guidelines, Class I, Level of evidence

A

)

(69)

Dose :

Manitol 20% : initial bolus of 0.25–1 g/kg (the higher dose for more urgent reduction of ICP) followed by 0.25–0.5 g/kg boluses repeated every 2– 6 h as per requirement.

(70)
(71)

MEMORI

Proses pengolahan informasi yang melibatkan

struktur - struktur otak

Jenis-jenis memori

Short-term memory = e.g working memory

Long-term memory = declarative memory

(explicit) VS non-declarative memory (implicit)

Proses yang terlibat dalam memori :

encoding

,

(72)

ENCODING

Terjadi di area-area asosiasi neocortex

Informasi dari berbagai reseptor didaftarkan

di area sensorik tinggi dan diasosiasikan satu

sama lain

Working memory

cortex prefrontal

dorsolateral

(73)

CONSOLIDATION

• Penerimaan input dari area asosiasi neocortex dan area sensorik tinggi

neocortex lainnya ke dalam cortex asosiasi limbik

Cortex asosiasi limbik  gyrus subcallosus, gyrus parahippocampalis (cortex entorhinal, cortex perirhinal, cortex

parahippocampalis), gyrus orbitofrontal, gyrus cingulate

Cortex entorhinal  pintu masuk utama

• Informasi dari cortex asosiasi limbik (cortex entorhinal) di masukkan ke dalam formatio hippocampus

Formatio hippocampus = gyrus dentatus, hippocampus, subiculum.

Formatio hippocampus penting dalam konsolidasi short-term memory menjadi long-term memory

(74)
(75)
(76)
(77)

KONTROL GERAKAN BOLA MATA

Inervasi

LR6(SO4)3

Otot-otot extraocular

SR = superior rectus

MR = medial rectus

LR = lateral rectus

IR = inferior rectus

SO = superior oblique

IO = inferior oblique

(78)
(79)

UMN VS LMN weakness

Tanda-tanda Lesi UMN Lesi LMN

Reflex fisiologis Hiper-reflex Hipo-reflex , areflexia

Reflex patologis Positif Negatif Tonus Hipertoni, clasp

knife rigidity

Hipotoni, atoni

Trofi Eutrofi Atrofi

Fasikulasi Negatif Positif

(80)

Kekuatan Otot

(81)
(82)

Klasifikasi trauma medulla spinalis ditegakkan dalam

waktu 72 jam – 7 hari post trauma.

Klasifikasi berdasarkan

American Spinal Injury

Association

(ASIA) :

Trauma Medulla Spinalis

Grade Tipe Gangguan Medulla Spinalis

A Komplit Tidak ada fungsi motorik & sensorik sampai S4-S5 B Inkomplit Fungsi sensorik masih baik, tapi motorik terganggu

sampai S4-S5

C Inkomplit Fungsi motorik terganggu di bawah level, tetapi otot-otot motorik utama masih punya kekuatan < 3

D Inkomplit Fungsi motorik terganggu di bawah level, tetapi otot-otot motorik utama masih punya kekuatan > 3

(83)

Complete spinal cord injury

(grade A)

Unilevel

Multilevel

Incomplete spinal cord injury

(grade B, C, D)

Cervico medullary syndrome

Central cord syndrome

Anterior cord syndrome

Posterior cord syndrome

Brown Sequard syndrome (Hemicord syndrome)

Conus medullary syndrome

Complete cauda equina injury

(grade A)

Incomplete cauda equina injury

(grade B, C, D)

(84)

Semua fungsi motorik dan sensorik di bawah lesi hilang atau terganggu parsial

• Spastisitas pada otot-otot yang diinervasi oleh segmen di

bawah lesi (kecuali pada syok spinal)

• Reflex tendon dalam dan

autonom yang berpusat pada segmen di bawah lesi tetap ada (kecuali pada syok spinal)

• Penyebab : trauma, tumor, multiple sclerosis, mielitis transversa

Transverse Cord Syndrome

(85)
(86)
(87)

Trauma Medulla Spinalis - Manajemen

Tatalaksana di IGD

Stabilisasi ABCDEs

Analgetik kuat bila perlu (e.g tramadol, morfin sulfat)

Pemberian kortikosteroid

• Diagnosis ditegakkan < 3 jam paska trauma  Metilprednisolon 30 mg/kgBB bolus IV selama 15 menit. Tunggu 45 menit. Kemudian berikan infus metilprednisolon 5,4 mg/kgBB/jam selama 23 jam

• Diagnosis ditegakkan 3-8 jam paska trauma  metilprednisolon 30 mg/kgBB bolus IV selama 15 menit. Tunggu 45 menit. Kemudian berikan infus metilprednisolon 5,4 mg/kgBB/jam selama 47 jam

• Diagnosis ditegakkan > 8 jam paska trauma  tidak dianjurkan pemberian kortikosteroid

(88)
(89)

Lesi Perifer atau Sentral?

Perifer

Atas Bawah

Ipsilateral

Sentral

Bawah

Kontralateral

(90)

Dimanakah letak lesi?

(91)

Bell’s Palsy

Paralisis nervus facialis (VII) akut, unilateral,

perifer, dan mempengaruhi LMN.

Idiopathic

facial paralysis

Etiologi

masih kontroversial. Diduga

neuritis akibat virus (reaktivasi HSV-1 &

(92)

Bell’s Palsy

Manifestasi Klinis

Paralisis akut motorik otot wajah pada bagian atas

dan bawah unilateral (dalam periode 48 jam)

• Hilangnya lipatan nasolabilal dan dahi pada sisi yang lumpuh

• Ketika pasien mengangkat alis, sisi yang terkenan tetap rata

• Ketika pasien tersenyum, wajah menjadi distorsi dan terjadi lateralisasi ke sisi berlawanan terhadap sisi yang lumpuh

Nyeri retroaurikular, otalgia, hiperakusis

Nyeri okular, dry eyes (akibat penurunan produksi air

mata), lagoftalmus

Gangguan pengecapan pada 2/3 anterior lidah

(93)

Bell’s Palsy

Prognosis baik

Terapi steroid

(dalam 72 jam paska onset)

prednison

1 mg/kgBB/hari atau 60 mg/hari

selama 5 hari diikuti

tapering off

10 mg/hari

,

dengan durasi total pemberian

steroid adalah 10 hari

Terapi antiviral

e.g = asiklovir, valasiklovir, diberikan

pada kecurigaan etiologi virus.

Asiklovir (PO) 5x400 mg, selama 10 hari (HSV-1) atau 5x800

mg (Varicella Zoster)

Valasiklovir 3x100 mg, selama 7 hari

Pemberian antiviral tanpa disertai terapi steroid terbukti

tidak memberikan benefit

(94)

RAMSAY HUNT SYNDROME

(Herpes zoster oticus)

polycranial neuropathy”

Reaktivasi VZV yang dormant di ganglion

geniculatum

(95)
(96)

MOVEMENT DISORDERS

Insufficient movements

• Akinesia/Bradykinesia = melambatnya gerakan volunter yang terjadi • Hypokinesia = berkurangnya jumlah gerakan yang normalnya terjadi • Rigiditas = tonus otot meningkat, kontraksi otot involunter yang

dipertahankan

Too much movements (Hyperkinesia, Dyskinesia)

• Jerky movements • Myoclonus • Chorea • Tic • Non-jerky movements • Dystonia • Tremor

(97)

Parkinson’s Disease (PD)

Penyakit Parkinson = bagian dari Parkinsonism yang secara patologis ditandai oleh degenerasi neuron dopaminergik pada substantia nigra pars kompakta yang disertai adanya inklusi sitoplasma eosinofilik (Lewy Body)

Parkinsonism= suatu sindrom yang ditandai dengan resting tremor, rigiditas,

bradikinesia, dan hilangnya refleks postural akibat penurunan kadar dopamin otak oleh berbagai sebab

(98)

Parkinson’s Disease

“TRAP”

T

remor,

R

igiditas,

A

kinesia / bradykinesia, dan

P

ostural instability

Tremor

= resting “pill-tolling” tremor, 3-5 Hertz, terlihat

saat extremitas dalam keaaan istirahat dan berkurang atau

berhenti saat extremitas digerakkan.

Rigiditas

= cogwheel rigidity (adanya interupsi tonus otot

yang terputus-putus seperti gigi roda ketika extremitas

digerakkan secara pasif.)

– Rigiditas pada gangguan ganglia basal cenderung kontinyu dan terus ada sehingga disebut lead pipe rigidity. Cogwheel rigidity adalah salah satu tipe dari lead pipe rigidity

– Berbeda dengan rigiditas pada gangguan corticospinal yang disebut clasp knife rigidity  Tonus resistif awalnya meningkat ketika otot-otot extremitas digerakkan, tetapi kemudian

(99)

Parkinson’s Disease

Akinesia / Bradykinesia,

bermanifestasi sebagai

berkurangnya dan melambatnya gerakan spontan.

– Masked face / hypomimia  ekspresi wajah yang minimal

– Micrographia tulisan menjadi kecil-kecil

– Hypophonia  suara menjadi lirih, bergumam

– Aprosodia  pembicaraan monoton

– Festinating gait / small shuffling gait / Parkinsonian gait 

langkah berjalan yang kecil, tanpa disertai ayunan lengan normal

– En bloc turning  gerakan seperti robot yang kaku pada truncus saat pasien berbelok

Postural Instability

berkurangnya kemampuan untuk

membuat reflex postural untuk menjaga keseimbangan

(100)

Lewy Body

Lewy bodies are

concentric, eosinophilic

cytoplasmic inclusions

(SCI) with peripheral halos

and dense cores.

Present within

pigmented

neurons of substantia

nigra.

Characteristic of Parkinson

Disease but not

(101)

Imbalance between Dopamine and

Acetylcholine

(102)
(103)
(104)

Agents that Increase Dopamine

Functions

Increasing the synthesis of dopamine =

levodopa

Inhibiting the catabolism of dopamine (MAO-B

inhibitor) =

selegiline

Stimulating the release of dopamine =

amphetamine

Stimulating the receptor sites directly (Dopamine

agonist) =

bromocriptine & pramipexole

Blocking the uptake and enhancing the release of

dopamine =

amantadine

(105)

Parkinson’s Disease

“On” time

– Suatu periode dimana medikasi dengan levodopa efektif dan gejala-gejala Parkinson tidak ada (dapat terkontrol)

“Off” time

– Suatu periode ketika gejala-gejala Parkinson muncul kembali setelah “On” time karena efek dari levodopa yang tidak berlangsung lama

Wearing off phenomenon / end-of-dose akinesia

– Gejala Parkinson muncul kembali dan menyebabkan pasien menjadi sulit atau tidak bisa bergerak (freezing) dan terjadi pada akhir waktu di antara pemberian interval dosis

– Menyebabkan pasien ingin mengkonsumsi dosis levodopa berikutnya lebih awal dari waktu seharusnya

Delayed on

– Adanya jeda yang lebih lama untuk memunculkan efek terapi setelah mengkonsumsi levodopa

On-off phenomenon

– Perubahan gejala-gejala Parkinson secara mendadak dan tidak dapat diprediksi. Perubahan tersebut meliputi fluktuasi gerakan-gerakan involunter (diskinesia) / “On” phase, bergantian dengan gejala akinesia Parkinson / “Off” phase

(106)

Ganglia Basalis Disorders (ABC)

A. Athetosis

- Lesi padaPUTAMEN

- Dyskinesia, gerakan menggeliat, memutar, lambat

- Melibatkan otot-otot extremitas, wajah, dan batang tubuh

B. Ballismus

- Lesi padaNUCLEUS SUBTHALAMICUS - Biasanya unilateral = hemiballismus - Gerakan involunter seperti memukul

/ mencambuk dengan keras. - Melibatkan otot-otot proksimal

extremitas

C. Chorea

- Lesi pada striatum - “Menari”

- Gerakan cepat, jerky

- Melibatkan otot extremitas, wajah, batang tubuh, hingga otot-otot pernapasan

Striatum Chorea Athetosis

(107)

Chorea (Striatum Lesion)

Chorea Huntington (pada Huntington Disease)

• Atrofi padastriatum

Herediter autosomal dominan

• Chorea progresif kronik disertai gangguan kognitif hingga dementia, dan gangguan psikiatrik • Manifestasi di umur 30-an, semakin tua semakin parah

Chorea Sydenham (pada Demam Rematik Akut)

• Cross reaction (autoimmune)post infeksi GABHS (Group A Beta Hemolyticus Streptococcus)

Chorea vascular

• Berhubungan denganlesi iskemik atau hemorrhagikpada ganglia basal atau white matter di dekatnya. Sering bermanifestasi sebagai hemichorea

Chorea metabolik

• Disebabkan oleh berbagai faktor : hipoglikemia, hipertiroidism, gagal ginjal, diet ketogenik

Drug-induced chorea

• Disebabkan oleh levodopa (paling sering), antipsikotik, antiemetik, antiepilepsi (asam valproat, lamotrigine, hidantoin), calcium channel blocker (flunarizine, cinnarizine)

(108)
(109)

Non-jerky Movement Disorders

Dystonia

• Kontraksi otot yang terus menerus menyebabkan

gerakan berputar dan berulang atau

menyebabkan sikap/postur tubuh yang abnormal

Tremor

• Physiological Tremor

• Pathological Tremor

(110)
(111)
(112)
(113)
(114)

Movement Disorders

Ataxia (“

lack of order

”)

Kondisi

tidak adanya koordinasi otot

yang menyebabkan

gangguan dalam keseimbangan, postur tubuh, koordinasi

otot, kontrol bicara, dan gerakan mata

Ataxia cerebellar

karena

disfungsi cerebellum

.

Manifestasi klinis : hipotonia antagonis, asinergi, dismetria,

disdiakokinesia. Bisa bilateral atau unilateral

Ataxia sensorik

karena

hilangnya input propriosepsi

.

Manifestasi klinis : unsteady "stomping" gait with heavy

heel strikes, postural instability

Ataxia vestibular

disfungsi sistem vestibular yang mana

pada kasus akut dan unilateral terdapat vertigo, mual, dan

muntah

(115)
(116)

Tardive Dyskinesia

Gerakan-gerakan involunter

repetitif, ritmis

Melibatkan otot-otot lidah,

rahang, pipi, bibir, truncal,

ekstremitas atas, ekstremitas

bawah, wajah, dan sistem

respirasi

Buccolingual-facial-mastication

syndrome

merupakan

manifestasi paling umum

Biasanya terjadi karena

(117)
(118)
(119)

Acute Flaccid Paralysis (AFP)

defined as

sudden

onset of

weakness

and

floppiness

in any part of the body in a child

less than 15

years of age

Guidance of the global polio eradication

-

identification

of all potential cases of AFP, the

most obvious manifestation of polio infection

-

laboratory evaluation of stools

from these cases

(120)
(121)
(122)

Inapperent(sub-clinical) Infection

This occurs approximately in 95 per cent of poliovirus infection. There are no presenting symptoms. Recognition only by isolation.

Abortive Polio or Minor Illness

Occurs approximately in 4-8 per cent of the infection. It causes only a mild or self limiting illness due to viraemia. The patient recovers quickly.

Non paralytic polio

Occurs approximately in one per cent of all infections. The presenting features are stiffness and pain in neck and back. The disease lasts for two to ten days. Recovery is rapid.

Paralytic polio

Occurs in less then one per cent of infections. The virus enters the brain and causes varying degree of disability.

(123)

Diagnosis of Polio

Paralisis flaccid

(Lower Motor

Neuron),

Asimetris

Progresi yang cepat

dari paralisis

(1-2 hari)

Tidak ada defisit sensorik atau

hilangnya sensasi propriosepsi

Kontrol autonom dan volunter dari

bladder dan usus tidak terganggu

Biasanya ada riwayat demam

Hyperesthesia atau paresthesia

pada ekstremitas and nyeri otot

umum ditemukan. Terkadang ada

nyeri tekan otot

(124)
(125)
(126)
(127)

Myasthenia Gravis (MG)

Myasthenia (dari bahasa Yunani) berarti “kelemahan

otot” dan gravis (Latin) berarti “serius”

Merupakan

penyakit autoimun pada neuromuscular

junction

yang dicirikan oleh

kelemahan dan mudah

lelahnya beberapa kelompok otot skelet yang

bersifat fluktuatif

(biasanya memburuk pada sore

hari)

Adanya

antibodi IgG yang menempel pada reseptor

acetylcholine (ACh)

di neuromuscular junction

Acetycholine (ACh) merupakan neurotransmitter

penting yang menstimulasi otot untuk kontraksi

(128)
(129)

Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala utama :

mudah lelahnya otot-otot skelet

selama aktivitas

(

membaik setelah adanya periode

istirahat

)

Otot-otot yang terlibat :

mata dan kelopak mata (90%)

,

wajah, otot-otot mastikasi, otot-otot menelan, otot-otot

bicara, dan otot-otot pernapasan

Kelemahan fluktuatif : biasanya otot akan semakin

lemah ketika adanya ativitas dan memburuk saat

siang-sore

Tidak adanya defisit sensorik atau hilangnya refleks

Dapat

dipicu

oleh

stress

emosional,

kehamilan,

mesntruasi, penyakit sekunder, trauma, temperatur yang

ekstrim, hipokalemia, ingesti obat-obatan yang memblok

neuromuskular, bedah

(130)

Hallmark Signs & Symptoms of

Myasthenia Gravis

Eye lid drooping (

ptosis

)

Blurred/Double Vision (

diplopia

)

Impaired speech (

dysarthria

)

Difficulty Swallowing (

dysphagia

)

Voice impairment (

dysphonia

)

Easily fatigued, quick recovery with rest

(131)

Diagnostic Studies

Assessment:

Wartenberg Test

Have patient look up for 2-3 minutes; if MG, patient will have increased drop of eyelids

Tensilon Test

In patient with MG, there is improved muscle contractility after IV

administration of

acetylcholineesterase inhibitor agent

edrophonium chloride (tensilon).

Keep atropine on hand to counteract effects of tensilon

Prostigmin / Neostigmin Test

Prostigmin 0,5-1mg + SA 0,1 mg via IM/SC

EMG may show muscle fatigue

Serologic testing, presence of

autoantibodies against the acetylcholine receptor (AChR-Ab), or against a receptor-associated protein, muscle specific tyrosine kinase (MuSK-Ab)

(132)

Diagnostic studies

Ice pack test

Can be used in patients with ptosis, particularly those in whom the edrophonium test is considered too risky.

– Not helpful for those with extraocular muscle weakness.

Improving neuromuscular transmission at lower muscle

temperatures

– In the ice pack test, a bag (or surgical glove) is filled with ice and placed on the closed lid for two minutes. The ice is then

removed and the extent of ptosis is immediately assessed. The sensitivity appears to be about 80 percent in those with

(133)

Therapeutic management

Symptomatic

Anticholinesterase inhibitors

- prevents

anticholinesterase

from

breaking

down

ACh;

helps

neurotransmission. Monitor dose.

– Examples : Edrophonium, Neostigmine, and Pyridostigmine

Chronic Immunomodulator

Immunosuppressants

such

as azathioprine and prednisone used to treat generalized

MG when other medications fail to reduce symptoms

Rapid Immunomodulator

Plasmapheresis and IVIG

-removes ACh autoantibodies and short-term improvement.

Surgical

Thymectomy

. Thymectomy is a widely accepted

option for peripubertal and postpubertal children with

generalized MG who have positive acetylcholine receptor

antibodies or who are seronegative

(134)

UNDER MEDICATION

Exacerbation of disease = SEVERE generalized muscle weakness

and respiratory failure + HTN

Severe bulbar (oropharyngeal) muscle weakness often

accompanies the respiratory muscle weakness, or may be the predominant feature in some patients. When this results in upper airway obstruction or severe dysphagia with aspiration, intubation and mechanical ventilation are necessary.

 Medical Emergency requiring a ventilator / assisted ventilation.

GIVE anticholinesterase medications.

(135)

OVER MEDICATION

Too high a dose of cholinergic treatment medications

Muscles stop responding to the bombardment of ACh, leading

to

flaccid paralysis and respiratory failure

and

LOW BP

Cholinergic Signs & Symptoms

: hypersecretions/hypermotility

STOP all anticholinesterase meds

Treat with Atropine

(anticholinergic)

(136)
(137)

Contrasting Features of

Dementia and Delirium

(138)
(139)

Alzheimer’s Disease

Hipotesis mengatakan pada Alzheimer terjadi defisiensi Asetilkolin.

Berkurangnya Asetilkolin ini dikaitkan pd pembentukan B Amyloid yang mengganggu pembentukan dan pelepasan asetilkolin

(140)

Treatment of Alzheimer’s disease

Patients with Alzheimer disease (AD) have reduced

cerebral content of choline acetyl transferase, which

leads to a decrease in acetylcholine synthesis and

impaired cortical cholinergic function.

Cholinesterase inhibitors increase cholinergic

transmission by inhibiting cholinesterase at the synaptic

cleft.

Four

cholinesterase inhibitors, tacrine,

donepezil,

rivastigmine, and galantamine

are currently approved

for use in AD by the US Food and Drug Administration

(FDA).

Tacrine, the first cholinesterase inhibitor approved, is

essentially no longer used due to hepatic toxicity and

severe, predominantly gastrointestinal side effects.

(141)

Vascular Dementia

(142)
(143)
(144)
(145)

INFEKSI SISTEM SARAF PUSAT

Meningitis

•Demam

•Nyeri kepala

•Kaku kuduk

Encephalitis

•Demam

•Penurunan

kesadaran

•Kejang

(146)

Meningitis vs Encephalitis

Encephalitis

– Inflammation of brain parenchyma (white and gray matter)

– It is almost always associated with inflammation of the

meninges (meningoencephalitis) and may involve the spinal cord (encephalomyelitis)

– Encephalitis will affect normal brain functions such as altered mental status, motor or sensory deficits, behavior or personality changes, speech or movement disorders.

Meningitis

– Inflammation of the meninges

– Cerebral functions intact  no focal neurological deficits

– Can be lethargic

Seizures can be present in both

Seizures and postictal states can be seen with meningitis alone and should not be construed as definitive evidence of encephalitis

(147)
(148)
(149)

Meningeal signs

Kernig’s sign  (+) bila ditemukan spasme dan resistensi harmstring saat dilakukan ekstensi pada sendi lutut saat panggul dan sendi lutut berada pada posisi fleksi 90 derajat

Brudzinki’s sign

– Brudzinki’s Neck sign (1) (+) bila ditemukan fleksi sendi lutut saat dilakukan fleksi pasif pada leher pasien

– Brudzinki’s contralateral leg sign (2)  (+)bila ditemukan fleksi sendi lutut kontralateral saat dilakukan fleksi pasif sendi panggul dengan sendi lutut berada pada posisi ekstensi

– Brudzinki’s Cheek sign (3)  (+) bila ditemukan fleksi pada sendi siku dengan “upward jerking” pada lengan saat diberikan penekanan pada zygoma

– Brudzinki’s Symphisis sign (4) (+) bila ditemukan fleksi sendi lutut bilateral saat simfisis pubis ditekan

(150)

LUMBAR PUNCTURE

A horizontal line joining

the highest points of the

iliac crests

passes

through the tip of the L4

spinous process and the

L4-L5 IV disc. This is a

useful landmark when

performing a lumbar

puncture to obtain a

sample of cerebrospinal

fluid.

(151)

Indication of Lumbal Puncture

To verify suspected

infection

of the

CNS

(meningitis, encephalitis)

To determine whether there is hemorrhage

within the central nervous system, that is, for the

diagnosis of

subarachnoid hemorrhage

if

there is a high index of suspicion on clinical

grounds and when computed tomography

scanning is negative or unavailable

To obtain cells for cytologic examination when

carcinomatous meningitis

(seeding of the

meninges with neoplastic cells) is a diagnostic

possibility.

(152)

Contraindication of Lumbal Puncture

In patients in whom there is

increased intracranial

pressure

—or when there is the possibility of an

intracranial mass

, especially in the posterior fossa—

spinal puncture must be done extremely carefully or

not at all

Infection

(or suspected infection) at the site of lumbar

puncture

Coagulation disorders

in patients with

thrombocytopenia, hemophilia, vitamin K deficiency,

and so forth can be followed by subdural or epidural

bleeding at the site of lumbar puncture.

(153)

Cerebrospinal Fluid Analysis

Peningkatan protein pada CSF juga dapat dilihat denganNonne Test / Nonne-Apelt Test danPandy Test. Kedua tes ini memiliki prinsip yang sama yaitu mendeteksi peningkatan kadar protein dalam CSF. Nonne Test dapat mendeteksi globulin, menggunakan reagen ammonium suphate. Pandy Test dapat mendeteksi albumin dan globulin, menggunakan carbolic acid atau phenol (Pandy reagent)

(154)
(155)

Encephalitis

Develops as a result of infections (viruses,

bacteria, ricketsia, etc)

Encephalitis will

affect normal brain functions

such as

altered mental status, motor or sensory deficits, behavior

or personality changes, speech or movement disorders

Not usually demonstrable by CT

Diffuse swelling of cerebral tissue (hypodense zones

poorly demarcated)

Compression of fluid spaces

(156)

ENCEPHALITIS

(157)
(158)
(159)

CNS TOXOPLASMA INFECTION

Congenital toxoplasmosis

Diffuse hydrocephalus

Multiple calcification at

periventricular area and

choroid plexus

Toxoplasmosis HIV

Nodular lesion ≥1

Ring enhancement

Cerebral edema

75% at basal ganglia

(160)

CEREBRAL ABSCESS

• Brain abscess is a focal

collection within the brain parenchyma, which can arise as a complication of a variety of infections, trauma, or surgery

(161)
(162)

CEREBRAL ABSCESS

• In the early stage only irregular zone of low density and irregular enhancement are seen

Lesion develops a capsule, a ring of high density will be seen to surround the low density area

• A ring-like enhancement appears in the same area after contrast medium administration

• Mass effect causing midline shift and compression of the ventricle is marked

(163)
(164)

International Headache Society Classification

Klasifikasi Nyeri Kepala:

Primary headache (benign disorders)

Migraine (with or without aura)

Tension (episodic or chronic)

Cluster headache

Other benign headaches

Drug rebound headache

Post traumatic

Secondary headache

(165)
(166)
(167)

Tipe Tempat Karakteristik

klinik Pola Profil

Migren tanpa aura Migren dengan aura Frontotempora l, uni/bilateral Berdenyut, berat di belakang mata/telinga, menjadi nyeri tumpul dan menyeluruh Saat bangun pagi/lebih siang, durasi 4-24 jam Irreguler, interval minggu sampai bulan Cluster headache Orbitotemporal, unilateral

Nyeri hebat, tidak berdenyut

Malam hari, 1-2 jam setelah jatuh tidur

Setiap hari untuk beberapa minggu /bulan, berulang setelah beberapa minggu/tahun Tension headache

Menyeluruh Menekan, tidak berdenyut Terus menerus Intensitas berubah dalam hari, minggu, bulan Satu/lebih periode dari bulan sampai tahun Iritasi mening Menyeluruh/bif rontal/bioksipit al Nyeri dalam menetap, hebat Berulang, berkembang menit sampai jam Episode tunggal Tumor otak Menyeluruh/un ilateral Intensitas berubah, saat bangun, nyeri menetap Menit sampai jam, memburuk pada pagi Sekali, minggu sampai bulan Arteritis temporal Biasanya temporal Berdenyut kemudian menetap nyeri dan panas, arteri menebal dan lunak Berselang kemudian terus menerus Menetap untuk minggu sampai bulan

(168)
(169)
(170)

Migraine Without Aura (Common Migraine)

Most common cause of migraine

(80%)

A. At least five attacks with the criteria B,C,D, and E

B. Attack lasts

4 to 72 hours

with or without

treatment

C. Has two of the following:

unilateral location

,

pulsating quality

, and moderate to severe

intensity,

aggravated by activity

D. During headache associated with

nausea

/

vomiting

or

photophobia

/

phonophobia

E. History, physical and diagnostic tests that

exclude related organic disease

(171)

Migraine With Aura (Classic Migraine)

A. At least two attacks that fulfill criterion B

B. At least three of the four characteristics:

1. one or more reversible aura symptoms indicating

focal cerebral or brainstem dysfunction

2. at least one aura develops gradually over more

than 4 minutes and no single aura lasts longer

than 60 minutes

3. headache begins during aura or follows with a

symptom-free interval of less than 60 minutes

C. An appropriate history, physical, and diagnostic tests

(172)

Migraine Therapy

Abortive Therapy

causative

NSAID, opioid

nonspecific

• NSAID pilihan = Asam asetilsalisilat 1000 mg (PO/IV), Diklofenak 50-100 mg, paracetamol 1000 mg (PO/supp), ibuprofen 200-800 mg

Ergot alkaloids, triptans

specific

• Ergot alkaloids = Ergotamin tartrat 2 mg (PO/supp)

• Triptans = Sumatriptan 25, 50, 100 mg (PO), 25 mg (supp), 10 & 20 mg (nasal spray), 6 mg (SC), Zolmitriptan, Naratriptan, Rizatriptan, etc

Prophylactic Therapy

preventive

Beta blockers (propanolol, atenolol, bisoprolol, metoprolol)

Tricyclic antidepressants (amitriptilin)

Calcium channel blockers (flunarizin, diltiazem)

anticonvulsant (valproic acid, topiramate)

(173)

Migraine Prophylactic Therapy

Should be started if

patients have one of the

following alone or in

combination:

a high frequency of

migraine attacks,

≥ 2/

month

Their abortive medications

are not reliably effective,

or

they have a high level of

disability

Frequent, very long, or

uncomfortable auras occur

(174)

Tension-type Headache (TTH)

The current pathophysiologic model of TTH

peripheral activation

or

sensitization of myofascial

nociceptors

episodic TTH

sensitization of pain pathways in the central nervous

system

due to prolonged nociceptive stimuli from

pericranial myofascial tissues

conversion of episodic

(175)

Tension-type Headache (TTH)

©International Headache Society 2003/4 ICHD-II. Cephalalgia 2004; 24 (Suppl 1)

2.1 Infrequent episodic TTH

A. At least 10 episodes occurring on <1 d/mo (<12 d/y) and fulfilling criteria B-D

B. Headache lasting from 30 min to 7 d

C. Headache has 2 of the following characteristics: 1. bilateral location

2. pressing/tightening (non-pulsating) quality 3. mild or moderate intensity

4. not aggravated by routine physical activity D.Both of the following:

1. no nausea or vomiting (anorexia may occur)

2. no more than one of photophobia or phonophobia E. Not attributed to another disorder

(176)

Tension-type Headache (TTH)

©International Headache Society 2003/4 ICHD-II. Cephalalgia 2004; 24 (Suppl 1)

2.2 Frequent episodic TTH

As 2.1 except:

A. At least 10 episodes occurring on 1 but <15 d/mo for

(177)

Tension-type Headache (TTH)

©International Headache Society 2003/4 ICHD-II. Cephalalgia 2004; 24 (Suppl 1)

2.3 Chronic TTH

A. Headache occurring on 15 d/mo (180 d/y) for >3 mo and fulfilling criteria B-D

B. Headache lasts hours or may be continuous

C. Headache has 2 of the following characteristics: 1. bilateral location

2. pressing/tightening (non-pulsating) quality 3. mild or moderate intensity

4. not aggravated by routine physical activity D.Both of the following:

1. not >1 of photophobia, phonophobia, mild nausea 2. neither moderate or severe nausea nor vomiting E. Not attributed to another disorder

(178)

Tension-type Headache Therapy

Abortive therapy

Simple analgesics

: NSAID (Ibuprofen 400 mg, naproxen

220 mg or 550 mg, aspirin 650-100 mg), paracetamol

1000 mg

Combination simpe analgesic

(paracetamol 250 mg,

aspirin 250 mg, ibuprofen)

with caffeine 65

mg

Combination with opioid and butalbital not

recommended as initial therapy for TTH

Muscle relaxant, There are no adequate controlled

trials evaluating muscle relaxants for the treatment of

TTH

Preventive therapy

Referensi

Dokumen terkait

Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala dan tanda

Gangguan vaskular pembuluh darah otak perlu dicurigai, bila dijumpai gejala pusing progresif pada lokasi tertentu, muntah, kejang fokal atau umum serta kelumpuhan lengan yang

Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa stroke merupakan suatu defisit neurologis mendadak yang disebabkab oleh menurunnya aliran darah ke otak akibat adanya sumbatan

Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah otak yang terjadi secara mendadak dan dapat menimbulkan cacat