• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI TAHUN 2016 LAPORAN TUGAS AKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DI TAHUN 2016 LAPORAN TUGAS AKHIR"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEPENTINGAN INDONESIA DALAM

MENGAKTIFKAN KEMBALI PERUNDINGAN

KERJA SAMA IA-CEPA (INDONESIA-AUSTRALIA

COMPREHENSIVE ECONOMIC PARTNERSHIP

AGREEMENT) DI TAHUN 2016

LAPORAN TUGAS AKHIR

Oleh:

Kirana Rindu Chrismonita 106216004

FAKULTAS KOMUNIKASI DAN DIPLOMASI

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

UNIVERSITAS PERTAMINA

2019

(2)
(3)
(4)
(5)

iv

ABSTRAK

Kirana Rindu Chrismonita. 106216004. Analisis Kepentingan Indonesia dalam Mengaktifkan Kembali Perundingan Kerja Sama IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement) di Tahun 2016

Indonesia sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif banyak melakukan kerja sama dengan berbagai negara di berbagai bidang seperti keamanan pertahanan, ekonomi, hingga sosial budaya tergantung dari kepentingan apa yang ingin diraih oleh negara Indonesia selama menjalani kerja sama dengan negara tersebut. Indonesia dan Australia membentuk suatu kerja sama komprehensif di bidang ekonomi dengan Australia pada tahun 2010 bernama IA-CEPA (Indonesia Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement). Namun, di tahun 2013 hingga tahun 2016 terdapat dinamika politik antar keduanya sehingga perundingan terkait IA-CEPA ini dibekukan secara sementara oleh kedua belah pihak. Kemudian di pertengahan tahun 2016, Indonesia menyetujui ajakan Perdana Menteri Australia untuk melanjutkan kembali perundingan IA-CEPA yang sempat terhenti tersebut. Meskipun telah adanya dinamika politik yang cukup panas sebelumnya antara Indonesia dan Australia namun Indonesia tetap ingin melanjutkan kerja sama ekonomi komprehensif dengan Australia kembali. Oleh karena itu, pertanyaan penelitian dalam tulisan ini yakni “Apa kepentingan nasional Indonesia dalam mengaktifkan kembali perundingan perjanjian IA-CEPA di tahun 2016”. Tujuan dari penelitian adalah penulis ingin mengetahui lebih lanjut terkait dengan kepentingan Indonesia dalam suatu kerja sama yang dijalankan oleh Indonesia. Penulis akan menjawab pertanyaan penelitian tersebut dengan menggunakan Foreign Policy Decision Making dan model aktor rasional. Pada akhirnya hasil dari penelitian ini menunjukkan kepentingan nasional serta tujuan yang ingin diraih yang menjadi pertimbangan Indonesia dalam mengeluarkan kebijakan luar negeri tersebut.

(6)
(7)

v

ABSTRACT

Kirana Rindu Chrismonita. 106216004. Analisis Kepentingan Indonesia dalam Mengaktifkan Kembali Perundingan Kerja Sama IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement) di Tahun 2016

Indonesia is a country which used free and active as their international politics has done many of substantial cooperation with another countries in some sectors such as defense and security, economic, and social culture as well depending on which interest that Indonesia wanted to achieve in the course of doing the cooperation with each countries. Indonesia and Australia configure a comprehensive cooperation in economic sector around 2010 named IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement). Unfortunately, in 2013 until in the middle of 2016 there was a political dynamic between them with the result then any of meeting and discussion regarding IA-CEPA was being freeze. After that, in the middle of 2016, Indonesia agreed the request from prime minister of Australia to continue the discussion of IA-CEPA. Although there was a serious political dynamic in years before between them, but Indonesia is still willing to continue the comprehensive economic cooperation with Australia once again. Because of that, the writer comes to a research question “What is the national interest of Indonesia in reactivate the agreement’s discussion of IA-CEPA in 2016?”. The purpose of this research is to understand the national interest of Indonesia in any cooperation it held. The writer would like to answer the research question using the Foreign Policy Decision Making and Rational Actor Model. In the end, the result of this research is to indicate national interest and goals which being considered of foreign policy in Indonesia.

(8)
(9)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan penulis rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Analisis Kepentingan Indonesia dalam Mengaktifkan Kembali Perundingan Kerja Sama IA-CEPA di Tahun 2016” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Pertamina.

Tersusunnya skripsi ini dapat diselesaikan tidak lepas dari dukungan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Diri penulis sendiri yang sudah berjuang dan berhasil dalam melalui periode pengerjaan skripsi serta bekerja di waktu yang sama.

2. Allah SWT karena atas segala kehendak-Nya, penulis diberi kesabaran dan kemampuan untuk dapat menyelesaikan laporan kerja praktek ini.

3. Orang tua penulis yang telah memberikan doa dan dukungan baik moral maupun materiil selama pengerjaan skripsi.

4. Indra Kusumawardhana, S. Hum, M.Hub.Int., selaku Kepala Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Komunikasi dan Diplomasi Universitas Pertamina.

5. Dian Novikrisna, M.IS., selaku dosen pembimbing skripsi penulis yang telah membimbing penulis selama pengerjaan skripsi.

6. Aninda Annisa yang telah memberikan inspirasi dan masukan kepada penulis selama penulis mengerjakan skripsi

7. Mayang, Dewa Ratih, Fisa, Rachel, Trias, Annisa Asti, Viona, Hugo, Rara, Rafly dan segenap angkatan pertama Hubungan Internasional Universitas Pertamina yang telah memberikan semangat kepada penulis selama mengerjakan skripsi.

8. Yudha, Lukita, Amel Karlina, Flo, Rafrah, Adi, dan bimbingan Mba Dian lainnya yang telah mengingatkan penulis untuk mengerjakan skripsi dan melakukan bimbingan selama penulisan skripsi.

9. Nindi, Shangita, Abel, Melly, Divya, Aulia, Aurel, Fauziyyah, Intan, Jasmine, dan Anifa yang memberi semangat selama penulis mengerjakan skripsi.

10. Rekan kerja penulis di PT. Sembilan Kreasi meliputi Della, Amira, Devi, Yusuf, Ringgo, Mita, Vivi, Sirin, Reza, Caesar, Osha, Rezky dan Oggy yang telah memberikan kesempatan dan memaklumi penulis dalam bekerja sambil mengerjakan skripsi.

11. Ghalib yang telah meninggalkan penulis secara tiba-tiba pada saat ditengah-tengah penulis sedang mengerjakan skripsi.

12. Andre, Bram, Januar, Kevin, Yuda, Ludwig, Agung, Brian, Farhan dan teman bercerita penulis yang telah memberikan semangat dan mengingatkan penulis untuk mengerjakan skripsi.

Penulis akan dengan senang hati menerima kritik dan saran yang bersifat membangun, demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua.

Jakarta, 25 Desember 2019

(10)
(11)

vii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i LEMBAR PERNYATAAN ... ii ABSTRAK ... iii ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I ... 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1Latar Belakang ... 1 1.2 Pertanyaan Penelitian ... 7 1.3 Tinjauan Pustaka ... 8 1.4 Kerangka Pemikiran ... 14 1.4.1 Teori ... 14 1.4.2 Model Analisis ... 21 1.5 Metode Penelitian ... 22 1.5.1 Tipe Penelitian ... 22 1.5.2 Sumber Data ... 23

1.5.3 Teknik Pengumpulan Data ... 23

1.6 Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 24

1.6.1 Tujuan Penulisan ... 24

1.6.2 Manfaat Penulisan ... 24

1.7 Sistematika Penulisan ... 24

BAB II ... 26

GAMBARAN UMUM KERJA SAMA IA-CEPA ... 26

2.1 Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement ... 26

2.1.1 Tujuan dan Manfaat IA-CEPA ... 26

2.1.2 Hasil Utama dan Peluang IA-CEPA ... 27

2.1.3 Sektor-Sektor IA-CEPA ... 29

2.1.4 Linimasa IA-CEPA ... 31

2.2 Perundingan IA-CEPA di Tahun 2010 Hingga 2013 ... 34

2.2.1 Perundingan IA-CEPA Pertama Tahun 2010 ... 34

2.2.2 Perundingan IA-CEPA Kedua Tahun 2013 ... 37

2.3 Hubungan Bilateral Indonesia-Australia Semasa Penonaktifkan IA-CEPA Tahun 2013-2016 ... 38

2.3.1 Hubungan Bilateral Indonesia-Australia Bidang Perdagangan 2013-2016 ... 38

2.4 Perundingan IA-CEPA Pasca Diaktifkannya Kembali pada Tahun 2016 ... 42

2.4.1 Perundingan IA-CEPA Putaran Ketiga Tahun 2016 ... 42

2.4.2 Perundingan IA-CEPA Putaran Keempat Tahun 2016 ... 42

2.4.3 Perundingan IA-CEPA Putaran Kelima Tahun 2016 ... 43

(12)
(13)

viii

BAB III ... 47

ANALISIS ... 47

3.1 Keuntungan dan Kerugian Indonesia dalam Mengaktifkan Kembali Perundingan Kerja Sama IA-CEPA 2016 ... 47

3.1.1 Keuntungan Indonesia dalam Mengaktifkan Kembali Perundingan Kerja Sama IA-CEPA di Tahun 2016 ... 48

3.1.1.1 Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ... 48

3.1.1.2 Australia Menjadi Pasar Baru Ekspor Minyak Kelapa Sawit Indonesia ... 51

3.1.1.3 Meningkatkan Aliran Investasi dari Australia ke Indonesia ... 56

3.1.1.4 Dukungan Politik dari Australia ... 60

3.1.2 Kerugian Indonesia dalam Mengaktifkan Kembali Perundingan Kerja sama IA-CEPA di Tahun 2016 ... 61

3.2 Kepentingan Nasional Indonesia dalam Kerja sama IA-CEPA ... 63

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ... 69

4.1 Kesimpulan ... 69

4.2 Saran ... 71

(14)
(15)

ix DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Diagram Komoditas Ekspor Indonesia-Australia 2005 ... 32 Tabel 2. 2 Diagram Komoditas Impor Indonesia-Australia 2005 ... 32 Tabel 2. 4 Total Perdagangan Indonesia-Australia 2013-2016 ... 39 Tabel 3. 2 Nilai Ekspor Minyak Sawit dan Netto Ekspor Non Migas Indonesia (US$ Miliar)………...53 Tabel 3. 3 Investasi Australia di Indonesia 2013-2016 ... 58

(16)
(17)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Nilai Ekspor Australia ke Indonesia (Juta US$) ... 3

Gambar 1. 2 Nilai Ekspor Indonesia ke Australia (Juta US$) ... 3

Gambar 1. 3 Nilai Ekspor-Impor Indonesia-Australia 2012-2016 (Juta US$). ... 7

Gambar 1. 4 Model Analisis Penelitian ... 21

Gambar 2. 1 Timeline IA-CEPA………...31

Gambar 3. 1 Rasio Ekspor-Impor Negara-Negara ASEAN Terhadap PDB Masing-Masing Negara Tahun 2016 ……….50

Gambar 3. 2 Impor Daging Indonesia dari Negara Importir dari Tahun 2010-2016 (kg) ... 62

(18)
(19)

xi

DAFTAR SINGKATAN

Lambang / Singkatan Arti Keterangan

AANZFTA Asean-Australia-New Zealand Free Trade Area

ACFS Australian Centre for Financial Studies

BPS Badan Pusat Statistik

BTAs Bilateral Trade Agreements

CEPA Comprehensive Economic Partnership Agreement

DFAT Department of Foreign Affair and Trade

FDI Foreign Direct Investment

FTA Free Trade Agreement

GATS General Agreement on Trade in Service

GATT General Agreement on Tariffs and Trade

IABPG Indonesia-Australia Business Partnership Group

IA-CEPA Indonesia-Australia Comprehensive Economic

Partnership Agreement

JSEPA Japan-Singapore Economic Partnership Agreement

MoU Memorandum of Understanding

NPT Non- Proliferation Treaty

NZSCEP New Zealand-Singapore Closer Economic

Partnership Agreement

OJK Otoritas Jasa Keuangan

PAF Pre-Agreement Facility

PDB Produk Domestik Bruto

SEZ Special Economic Zone

UKM Usaha Kecil dan Menengah

(20)
(21)

Universitas Pertamina - 1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Hubungan internasional secara tradisional bermulai dan berfokus pada negara sebagai aktor utamanya. Hal tersebut dikarenakan negara sendiri dipandang memiliki kekuatan, baik dalam militer maupun ekonomi (Barkin, 2013:39). Selain itu, negara juga memiliki kedaulatan dimana negara memiliki kewenangan untuk menjalankan pemerintahannya sendiri (Fowler&Bunck, 1996:400). Negara berhak menentukan bentuk hubungan yang akan dijalin dengan negara lain. Bentuk dari hubungan antar negara sendiri dapat berbentuk konflik dan atau kerja sama. Namun, setelah abad ke 21, negara-negara lebih memilih untuk melakukan kerja sama sebagai bentuk dari resolusi konflik. Kerja sama tersebut dapat berbentuk

kerja sama bilateral maupun multilateral tergantung dari banyaknya jumlah negara yang terlibat di dalamnya. Sektor di dalam kerja sama pun tidak hanya di sektor keamanan melainkan juga di sektor ekonomi bahkan sosial dan budaya.

Indonesia sendiri merupakan negara yang menganut politik bersifat bebas-aktif yang berarti di dalam kebijakan luar negerinya, Indonesia akan berperan secara aktif dan bebas untuk menjalin hubungan kerja sama dengan negara manapun. Kerja sama yang dilakukan oleh Indonesia juga bergerak di banyak sektor seperti keamanan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga pariwisata. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di Asia Tenggara serta menduduki urutan ketiga di dunia setelah China dan India, Indonesia dilirik sebagai partner ekonomi yang cukup strategis oleh sebagian besar negara di dunia. Selain jumlah penduduk yang besar, sumber daya alam yang dimiliki oleh

(22)

Universitas Pertamina - 2

Indonesia juga melimpah serta beragam. Indonesia membutuhkan negara lain dalam pengelolaan maupun mengolah sumber daya tersebut. Oleh karena itu, banyak kerja sama yang telah dijalani oleh Indonesia untuk mencapai kepentingan negara yang dimana salah satu kerja samanya adalah kerja sama ekonomi. Kerja sama ekonomi yang dijalani oleh Indonesia sendiri ada yang bersifat bilateral maupun multilateral. Namun, seiring berjalannya waktu, Indonesia lebih cenderung melakukan kerja sama yang bersifat bilateral dirasa lebih memberikan dampak positif dan menguntungkan terhadap negara Indonesia sendiri.

Salah satu mitra dagang Indonesia adalah Australia. Letak geografis Austalia yang berbatasan langsung dengan wilayah selatan negara Indonesia menjadikan salah satu alasan Australia menjadi mitra dagang Indonesia yang cukup strategis dikarenakan dalam melakukan transaksi perdagangan yakni ekspor dan impor tidak mengeluarkan terlalu banyak biaya logistik jika dibandingkan dengan melakukan transaksi tersebut dengan negara yang berada di benua Eropa atau negara lainnya yang letak geografisnya jauh dari Indonesia. Hubungan kerja sama di bidang ekonomi khususnya perdagangan antara Indonesia dan Australia telah berlangsung lama. Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia sendiri telah terjalin sejak tahun 1949 dimana Indonesia membuka kantor kedutaannya di Canberra, Australia, secara penuh di tahun 1950 (Kementerian Luar Negeri Indonesia, n.d). Sedangkan di bidang ekonomi, pada tahun 1994, total perdagangan Indonesia-Australia mencapai 3.050 juta dolar dimana ekspor Australia ke Indonesia sebesar 2.100 juta dolar dan impor Australia dari Indonesia 1.040 juta dolar. Indonesia merupakan pasar terbesar bagi Australia untuk mengekspor hasil

(23)

Universitas Pertamina - 3 pertaniannya jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya (DFAT Australia, n.d).

Gambar 1. 1 Nilai Ekspor Australia ke Indonesia (Juta US$) (BPS, 2010)

Dari bagan diatas dapat dilihat bahwasanya volume ekspor Australia ke Indonesia cenderung bersifat fluktuatif. Indonesia sendiri merupakan negara tujuan ekspor terbesar ketiga dari Australia diantara negara ASEAN lainnya yakni setelah Singapura dan Thailand. Selanjutnya, Indonesia juga mengalami peningkatan volume ekspor di tahun 2008 dimana total ekspor di bidang barang dan jasa dari Indonesia ke Australia mencapai lebih dari empat juta dolar AS. Ekspor utama Indonesia sendiri ke Australia adalah minyak bumi, emas, kayu, dan barang-barang mebel lainnya.

Gambar 1. 2 Nilai Ekspor Indonesia ke Australia (Juta US$) (BPS, 2010) 0 2000 4000 6000 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Nilai Ekspor Australia ke Indonesia (Juta US$)

0 2000 4000 6000

2005 2006 2007 2008 2009 2010

(24)

Universitas Pertamina - 4

Australia merupakan mitra dagang Indonesia urutan ke delapan sedangkan Indonesia adalah mitra dagang Australia ke dua belas (DFAT, n.d). Melihat sebenarnya banyak peluang jual beli di bidang barang, jasa, hingga pariwisata antara Indonesia maupun Australia yang dapat terus dikembangkan, oleh karena itu kedua belah pihak sepakat untuk membuat suatu perjanjian kerja sama ekonomi yang lebih erat lagi guna untuk terus meningkatkan volume perekonomian kedua negara melalui IA-CEPA yakni Indonesia-Australia Comprehensive Economic

Partnership Agreement. Dengan adanya IA-CEPA ini diharapkan Indonesia dan

Australia dapat meningkatkan hubungan ekonominya. IA-CEPA sendiri bukanlah suatu FTA (Free Trade Agreement) biasa dimana perjanjian kerja sama ekonomi

yang terjalin tidak hanya berkaitan dengan transaksi ekonomi jual beli atau ekspor-impor dari kedua belah negara saja, namun juga mengatur kerja sama yang lebih luas yakni di bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan sumber daya manusia, hingga pariwisata.

Di tahun 2005 lalu, Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Perdana Menteri Australia, John Howard, mendeklarasikan untuk meningkatkan hubungan perdagangan dengan pembentukan suatu perjanjian kerja sama. Di tahun 2007-2009 kedua negara melakukan studi kelayakan mengenai FTA yang melibatkan pemerintah, swasta, serta akademisi. Di akhir tahun 2010, Presiden RI dan Perdana Menteri Australia memulai perundingan terkait IA-CEPA. Tahun 2012 sampai dengan 2013, dilaksanakan perundingan IA-CEPA putaran pertama dan kedua. Kemudian di tahun 2013 hingga 2016, perundingan antar dua negara ini dibekukan sementara dikarenakan adanya dinamika politik. Tahun 2013, Pemerintah Australia melakukan penyadapan ponsel Presiden Susilo Bambang

(25)

Universitas Pertamina - 5 Yudhoyono. Penyadapan sendiri termasuk ke dalam kejahatan spionase yang dikecam oleh Indonesia. Hal tersebut akhirnya mengikis kepercayaan Indonesia ke Australia dan menanggapi perlakuan spionase Australia, Indonesia menghentikan kerja sama militer hingga menarik kedutaan besarnya di Australia dan membekukan perundingan IA-CEPA di tahun 2013. Kemudian di tahun 2014, terdapat pergantian kepemimpinan di Indonesia. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono berganti menjadi pemerintahan Joko Widodo.

Hubungan antar kedua negara ini mulai memanas kembali pada masa pemerintahan Joko Widodo tepatnya saat eksekusi mati para pengedar narkoba yang berasal dari Australia dan berjumlah sembilan orang atau yang lebih dikenal sebagai eksekusi mati DuoBali Nine. Keputusan Joko Widodo saat itu tidak hanya

menggemparkan masyarakat di Australia melainkan menjadi perbincangan hangat di kancah internasional. Para pengedar narkoba tersebut ditangkap saat berada di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Pada bulan September 2005, Kejaksaan Tinggi Bali memutuskan kesembilan warga negara Australia dikenakan tuduhan kepemilikan dan perdagangan heroin dengan ancaman maksimal adalah hukuman mati. Kemudian di tahun 2014, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa dirinya tidak akan memberikan grasi kepada terpidana kejahatan narkotika (CNN Indonesia, 2015). Perlakuan Indonesia terhadap Bali Nine tersebut tidak dapat

diterima oleh Australia. Oleh karena itu, setelah Indonesia menarik duta besarnya pada tahun 2013 silam, Australia menyusul menarik Duta Besar Australia untuk Indonesia di bulan April 2015. Tidak hanya menarik duta besarnya, Perdana Menteri Australia, Tony Abbott menyatakan bahwa negaranya akan menurunkan bantuan asing Australia ke Indonesia. Australia sendiri adalah negara pemberi

(26)

Universitas Pertamina - 6

bantuan asing terbesar ke dua di Indonesia setelah Jepang. Selain itu, di kalangan masyarakat Australia terdapat pula upaya pemboikotan destinasi wisata favorit ke wilayah di Indonesia meskipun pada akhirnya hal tersebut tidak terlalu berdampak signifikan kepada para wisatawan Australia ke Indonesia (Lisbet, 2015: 7).

Dengan adanya tensi yang cukup tinggi antara Australia dan Indonesia mengakibatkan perundingan terkait kerja sama IA-CEPA dihentikan sementara waktu, namun Indonesia di pemerintahan Joko Widodo pada akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kembali perundingan IA-CEPA yang sempat terhenti selama tiga tahun tersebut. Hal tersebut dimulai dari saat Perdana Menteri Australia yang baru, Malcolm Turnbull melakukan kunjungan pertamanya ke Indonesia pada bulan November 2015. PM Australia bertemu dengan Presiden Indonesia, Joko Widodo untuk kemudian membahas mengenai ekonomi (BBC, 2015). Lebih spesifiknya lagi, Turnbull meminta Indonesia untuk mengaktifkan kembali perundingan IA-CEPA yang sempat terhenti. Kemudian, empat bulan setelah kunjungan PM Australia, Indonesia mengeluarkan keputusan untuk menyetujui melanjutkan perundingan IA-CEPA dan diaktifkan kembali oleh kedua menteri perdagangan Indonesia maupun Australia (Ditjen PPI Kementerian Perdagangan Indonesia, n.d). Setelah itu, pada bulan Mei 2016, IA-CEPA melanjutkan perudingannya putaran ketiga yang berlokasi di Yogyakarta (DFAT Australia, n.d).

Lalu bagaimana dengan nilai perdagangan ekspor dan impor antar Indonesia dan Australia pada saat masa-masa ketegangan kedua negara berlangsung hingga pada akhirnya hubungan mereka mulai membaik di tahun 2016? Menurut data yang ada di Badan Pusat Statistik Indonesia (2016) terkait dengan nilai ekspor dan impor Indonesia-Australia, sebelum adanya konflik di tahun 2012 total nilai ekspor dan

(27)

Universitas Pertamina - 7 impor kedua negara yakni 10.203 juta dolar AS. Namun, setelah adanya isu penyadapan, total nilainya turun menjadi 9.409 juta dolar AS. Di tahun selanjutnya, nilai perdagangan cukup meningkat karena tidak adanya suatu isu politik yang berarti seperti yang terjadi di tahun sebelumnya.

Gambar 1. 3 Nilai Ekspor-Impor Indonesia-Australia 2012-2016 (Juta US$) (BPS, 2016).

1.2 Pertanyaan Penelitian

Oleh karena itu berdasarkan dari latar belakang diatas muncul pertanyaan yang kemudian menjadi rumusan masalah penulis di dalam penilitian ini, yaitu “Apa kepentingan nasional Indonesia dalam mengaktifkan kembali perundingan perjanjian IA-CEPA di tahun 2016?”. Penulis ingin mencoba untuk mencari tahu mengenai kepentingan nasional Indonesia yang kemudian menjadi alasan bagi Indonesia mengeluarkan kebijakan luar negeri menyetujui untuk melanjutkan kembali perundingan terkait kerja sama antara Indonesia dan Australia yakni IA-CEPA.

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 2012 2013 2014 2015 2016

(28)

Universitas Pertamina - 8 1.3 Tinjauan Pustaka

Di dalam bagian tinjauan pustaka ini, penulis akan menyertakan beberapa penulisan yang terkait dengan kerja sama internasional dan kepentingan negara di dalamnya, hubungan antara Indonesia dan Australia serta melihat kebijakan luar negeri Indonesia yang terkait dengan kerja sama ekonomi bersifat bilateral di era Joko Widodo dan juga terkait IA-CEPA itu sendiri.

Di dalam tulisan Kawai dan Wignaraja (2011:5) yang berjudul “Asian

FTAs: Trends, Prospects, and Challenges” mencoba untuk memaparkan tren utama

dari perdagangan bebas di kawasan Asia. Pada awalnya, ekonomi di negara-negara berkembang wilayah Asia sangat kurang padahal mereka memiliki sumber daya alam yang cukup banyak. Tidak hanya itu, level kemiskinan di negara wilayah Asia juga sangat tinggi. Seiring berjalannya waktu, adanya dorongan pasar untuk melakukan ekspansi perdagangan yang kemudian diikuti dengan adanya investasi asing langsung (foreign direct investment) yang membuat Asia kini menjadi pusat

dari produksi dengan kapabilitas teknologi yang beragam. Kemudian dengan adanya peningkatan dari perekonomian Asia, memicu tumbuhnya industrialisasi secara cepat. Adanya industrialisasi tersebut kemudian memicu negara untuk terus melebarkan pasarnya. Salah satu caranya yaitu dengan melakukan perjanjian perdagangan bebas dengan negara lain.

Setelah adanya industrialisasi dan mulai menyadari perjanjian perdagangan bebas memberikan keuntungan bagi negara, akhirnya banyak negara khususnya di wilayah Asia Pasifik yang kemudian aktif melakukan kerja sama perdagangan bebas yang bersifat bilateral. Seperti contohnya Japan-Singapore Economic

(29)

Universitas Pertamina - 9

Partnership Agreement (NZSCEP). Tulisan ini mendukung tulisan yang akan

penulis kaji yakni khususnya negara-negara di kawasan Asia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mereka melakukan kerja sama yang sifatnya bilateral dengan negara lain.

Dengan maraknya negara di Asia Pasifik yang membangun kerja sama bilateral perdagangan bebas, Dent (2003:24-25) di dalam jurnalnya yaitu “Networking The Region? The Emergence and Impact of Asia-Pacific Bilateral

Trade Agreement Projects” menjelaskan mengenai kerja sama bilateral

perdagangan bebas ini menciptakan suatu perubahan tatanan di hubungan ekonomi wilayah Asia Pasifik yaitu adanya “networking the region” atau kawasan yang

terhubung satu sama lain. Kontribusi yang diberikan dari adanya kerja sama bilateral perdagangan bebas ini dilihat oleh Dent dari dua perspektif. Yang pertama adalah terkait dengan substansi FTA bilateral yang dinegosiasikan. Biasanya kerja sama FTA bilateral ini lebih dari sekedar perdagangan bebas antar dua negara, melainkan investasi dan kerja sama ekonomi lainnya yang dapat dikembangkan lebih luas lagi. Fungsi dari kerja sama FTA bilateral yang kedua yaitu memperluas hubungan bilateral menjadi ke multi-level yang kemudian dapat membentuk suatu kerja sama yang bersifat sub-regional. Tulisan dari Dent ini menunjukkan bahwasanya kerja sama FTA bersifatnya bilateral dilihat dari substansi yang dinegosiasikan menyakinkan penulis akan adanya perihal yang didorong oleh negara di meja negosiasi guna dapat mencapai kepentingannya dan perihal lainnya yang dapat mengganggu ataupun menghambat kepentingan negara akan dihindari. Terkait dengan hubungan yang terjalin antara Indonesia dan Australia, menurut tulisan dari Troath (2019:6) berjudul “Bonded but not Embedded: Trust in

(30)

Universitas Pertamina - 10

Australia-Indonesia Relations, Keating&Suharto to Turnbull&Joko Widodo”

dalam mengelola suatu peningkatan strategis yang tidak menentu di dalam kawasan, Australia dan Indonesia membutuhkan hubungan yang kuat dan rasa kepercayaan yang tinggi. Tumbuhnya kepercayaan juga akan memberikan alasan rasional yang mendasari penilaian umum lain dari hubungan tersebut. Ikatan dan kepercayaan yang melekat dibutuhkan agar suatu hubungan dapat bertahan dengan lama meskipun terjadi perihal yang sifatnya sensitif.

Berdasarkan dari skripsi yang ditulis oleh Pranantha (2016), mahasiswa Universitas Gadjah Mada jurusan Hubungan Internasional yang berjudul “Perubahan Kebijakan Nulir Amerika Serikat terhadap India: U.S-India Civil

Nuclear Deal”, peneliti membicarakan terkait dengan tindakan Amerika Serikat

yang melakukan kerja sama nuklir dengan India padahal Amerika Serikat adalah salah satu negara yang meratifikasi Non-Proliferation Treaty (NPT) yang dimana

di dalamnya terdapat larangan untuk melakukan kerja sama nuklir dengan negara non-NPT. Selain itu, pada awalnya Amerika Serikat menerapkan embargo terhadap ekspor bahan nuklir ke India sebelum kemudian Amerika Serikat bermitra dengan India untuk mengembangkan nuklir.

Untuk mengetahui alasan Amerika Serikat mengubah kebijakannya tersebut, peneliti menggunakan teori yang sama dengan penulis yakni model aktor rasional yang dikemukakan oleh Graham T. Allison. Di dalam tulisannya, peneliti memaparkan tiga pilihan utama yang dimiliki oleh Amerika Serikat yaitu mempertahankan politik isolasionis terhadap nuklir India, melakukan tindakan yang bersifat koersif agar India tidak lagi menggunakan kapasitas nuklirnya, atau menjalin kerja sama nuklir dengan India. Kemudian, peneliti memaparkan

(31)

Universitas Pertamina - 11 keuntungan dan kerugian apa saja yang akan didapatkan oleh Amerika Serikat apabila memilih untuk melakukan tindakan yang koersif serta keuntungan atau kerugian apabila memilih untuk menjalin kerja sama dengan India. Skripsi ini sama juga dengan skripsi yang ditulis oleh Nurhalizah (2019), mahasiswi Universitas Islam Negeri Jakarta yang berjudul “Kebijakan Luar Negeri Turki Terhadap Israel Pada Masa Kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan Tahun 2014-2018. Di dalam skripsinya, Nurhalizah ingin mengetahui kebijakan luar negeri Turki terhadap Israel saat dipimpin oleh Erdogan di tahun 2014-2018. Turki memiliki pilihan untuk melakukan kebijakan yang bersifat positif atau negatif terhadap Israel. Peneliti kemudian menjelaskan keuntungan dan kerugian dari masing-masing pilihan tersebut sehingga pada akhirnya penulis dapat mengetahui bahwa pilihan yang dipilih oleh negara memang lebih banyak memiliki keuntungan dan sejalan dengan tujuan negara yaitu kepentingan nasional. Oleh karena itu, peneliti menggunakan teori yang sama dengan penulis yakni model rasional aktor dari Allison. Penulis melihat bahwasanya model pemikiran yang dimiliki oleh Nurhaliza sama dengan penulis namun membicarakan terkait dengan isu yang berbeda yang dimana penulis membicarakan kerja sama ekonomi Indonesia dengan Australia, IA-CEPA.

Dipaparkan dalam tulisan Chandra (2005) yang berjudul “Indonesia and

Bilateral Trade Agreements (BTAs)” menyatakan bahwa secara umum kerja sama

bilateral akan lebih mudah untuk dinegosiasikan dibandingkan dengan kerja sama yang bersifat multilateral. Seperti yang kita ketahui, sifat kebijakan luar negeri Indonesia adalah bebas aktif oleh karena itu sifat kebijakan perdagangan bilateral Indonesia yakni terbuka dan ekonomi neo-liberal. Hal tersebut kemudian

(32)

Universitas Pertamina - 12

menyebabkan Indonesia banyak melakukan hubungan kerja sama perdagangan bilateral dengan banyak negara lainnya khususnya di kawasan Asia Pasifik.

Meskipun dipimpin oleh pemimpin yang berbeda, namun kebijakan luar negeri Indonesia yang bersifat ekonomi politik dapat dilihat polanya yakni mementingkan kepentingan domestik yang dimana cenderung bersifat politik maupun ekonomi tergantung dari pemimpin yang sedang menjabat. Hal ini kemudian dapat mempengaruhi Indonesia terlibat atau membentuk suatu hubungan kerja sama bilateral dengan negara lainnya. Selain itu, dalam menanggapi suatu perjanjian kerja sama bilateral, Indonesia bersifat terbuka dan ekonomi neo-liberal yang menyebabkan Indonesia dapat memilih siapa saja mitra kerja sama perdagangannya yang lebih memberikan keuntungan bagi Indonesia sendiri demi memenuhi kepentingan domestiknya.

Jurnal “Implikasi Perjanjian Kemitraan EkonomiKomprehensif

Indonesia-Australia (IA-CEPA) terhadap Perdagangan Luar Negeri Indonesia” yang ditulis

oleh Andriani dan Andrea (2017) menyatakan bahwa kerja sama IA-CEPA merupakan kerja sama yang bersifat komplementer antara Indonesia dan Australia. Cara IA-CEPA memudahkan dan mengembangkan akses pasar Indonesia yaitu melalui: 1) Mempermudah aktivitas ekspor Indonesia ke Australia terkait dengan proses distribusi dan kondisi transportasi, 2) Adanya pemasukan investasi Australia ke Indonesia sehingga Indonesia dapat memperluas pasar dan mengembangkan sektor perdagangannya, 3) Mengurangi hamabatan tarif dari produk ekspor dan impor, 4) Melakukan alih teknologi, 5) Saling melengkapi guna untuk menciptakan suatu ketahanan pangan bagi kedua negara. Tulisan ini dapat membantu penulis

(33)

Universitas Pertamina - 13 untuk mengetahui keuntungan apa saja yang didapatkan oleh Indonesia apabila melanjutkan perundingan kerja sama IA-CEPA.

Terkait dengan kerja sama IA-CEPA itu sendiri, terdapat beberapa mahasiswa yang pernah menulis skripsi dengan topik IA-CEPA. Yang pertama adalah skripsi dari Ramandisyah (2018), mahasiswa Universitas Lampung, yang berjudul “Kepentingan Australia Mengaktifkan Kembali Perundingan

Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) Tahun

2016”. Skripsi yang ditulis oleh Ramandisyah melihat dari sisi kepentingan Australia mengaktifkan kembali perundingan IA-CEPA yang sempat terhenti dari tahun 2013 hingga 2016 sedangkan penulis melihat dari sisi Indonesia. Selain itu, peneliti menggunakan teori liberalisme dengan konsep interdepensi ekonomi untuk mengetahui kepentingan Australia mengaktifkan kembali perundingan kerja sama IA-CEPA. Berbeda dengan penulis saat ini yang menggunakan model aktor rasional untuk mengetahui kepentingan Indonesia mengaktifkan perundingan ini. Selain Ramandisyah, mahasiswi Universitas Parahyangan bernama Martha juga menulis skripsi tentang IA-CEPA di tahun 2017 dengan judul skripsinya yaitu “Perjanjian Kerja sama Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Australia”. Di dalam skripsinya, Martha memiliki rumusan masalah apa saja hambatan yang terjadi dalam penyelesaian perundingan IA-CEPA dalam kurun waktu perundingan putaran pertama hingga putaran ke sembilan? Martha menggunakan teori Neoliberalisme untuk dapat menjawab rumusan masalahnya tersebut. Skripsi Martha menjelaskan hambatan-hambatan yang terjadi selama proses perundingan kerja sama IA-CEPA, hal tersebut sangat berbeda dengan rumusan masalah yang penulis miliki serta teori atau konsep yang juga digunakan. Namun, skripsi Martha

(34)

Universitas Pertamina - 14

dapat membantu penulis untuk mengetahui hambatan dalam perundingan kerja sama IA-CEPA yang dapat menghambat kepentingan dari pihak Indonesia itu sendiri.

1.4 Kerangka Pemikiran

1.4.1 Teori

Untuk melihat kepentingan suatu negara di dalam kerja sama internasional yang bersifat bilateral, penulis akan melihat menggunakan salah satu model pengambilan keputusan dari kebijakan luar negeri untuk membantu penulis menganalisis kerja sama IA-CEPA ini yaitu model aktor rasional dengan menggunakan pendekatan opportunity cost.

Setiap negara memerlukan politik luar negeri untuk melakukan interaksi dengan negara lain di dalam sistem internasional. Kebijakan luar negeri sendiri merupakan alat bagi negara untuk memenuhi kepentingan nasional serta sebagai suatu strategi negara untuk mendapatkan keuntungan dari lingkup internasional (Perwita & Yani, 2005:33). Menurut Amstutz (1998:175), politik luar negeri yakni sebagai aksi secara eksplisit maupun implisit dari pemerintahan suatu negara untuk mencapai kepentingan-kepentingan nasionalnya di dalam suatu dunia internasional.

Rosenau (1976: 27), mendefinisikan kebijakan luar negeri sebagai suatu keputusan individu, musyawarah mufakat, hasil dari proses pembuatan kebijakan, produk dari aspirasi masyarakat, maupun suatu respons terhadap peluang maupun tantangan yang ada di tatanan global. Negara sendiri merupakan suatu aktor rasional dalam pembuatan kebijakan luar negeri. Di dalam prosesnya, negara dihadapkan pada beberapa pilihan dimana masing-masing dari pilihan kebijakan tersebut memiliki konsekuensi yang akan ditanggung oleh negara. Negara seperti

(35)

Universitas Pertamina - 15 yang dikatakan sebelumnya, aktor rasional, akan memilih kebijakan yang tingkat keuntungannya paling tinggi dalam mencapai tujuan dan kepentingan negaranya (goals and objectives) (Allison, 1971:29-30). Pemimpin dari suatu negara

memutuskan untuk berperang, membuat aliansi, menjalin kerja sama dengan negara lain bahkan melakukan ratifikasi atas suatu perjanjian internasional terkait lingkungan misalnya akan melewati proses dalam pengambilan keputusan kebijakan luar negeri terlebih dahulu.

Dalam mengeluarkan keputusan kebijakan luar negeri, suatu negara memiliki kepentingan nasional yang menjadi dasar atau pedoman untuk memilih kebijakan yang tepat. Menurut H.J Morgenthau (1952: 972), kepentingan nasional adalah seperangkat tujuan yang dimiliki oleh negara untuk memaksimalkan potensi negara untuk mendapatkan hasil maksimal. Terdapat empat kepentingan dasar yang merupakan kepentingan nasional suatu negara, yatiu kepentingan tanah air, kepentingan kesejahteraan ekonomi, tatanan dunia, dan promosi nilai-nilai. Kepentingan tanah air terkait dengan cara negara untuk dapat melindungi kedaulatan negaranya dari gangguan yang bersifat internal maupun eksternal. Kepentingan ekonomi terkat dengan cara negara untuk dapat membantu meningkatkan perekonomian di negara tersebut. Kepentingan tatanan dunia adalah usaha negara untuk menciptakan suatu perdamaian antar negara di dunia. Kemudian kepentingan promosi nilai-nilai lebih berkaitan dengan cara negara menunjukkan kepada masyarakat internasional mengenai nilai-nilai yang dianut oleh negaranya. Kepentingan nasional yang menjadi tujuan dari suatu negara dapat diimplementasikan melalui kebijakan luar negeri. Oleh karena itu, kepentingan nasional dengan kebijakan luar negeri tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.

(36)

Universitas Pertamina - 16

Proses dan dinamika-dinamika yang terjadi pada saat pengambilan keputusan kebijakan luar negeri itu lah yang pada akhirnya menuntun negara untuk menentukan pilihan yang tepat. Suatu negara dapat menghasilkan kebijakan yang berbeda terkait dengan suatu kasus tergantung dari proses pengambilan keputusannya. Jika kita memahami bagaimana keputusan tersebut diambil, maka kita akan lebih memahami suatu bias, persepsi, maupun motivasi atau niat dari negara tersebut (Mintz & Jr. DeRouen, 2010:9). Pengambilan kebijakan luar negeri sendiri memiliki empat komponen penting di dalam prosesnya menurut Robinson dan Synder (1965: 453), yaitu: i) Mengidentifikasi permasalahan yang ada; ii) mencari cara dan membuat beberapa pilihan untuk menyelesaikan masalah; iii) memilih salah satu cara dari beberapa pilihan yang telah ada; iv) melakukan eksekusi terhadap cara yang telah dipilih. Selama proses pengambilan kebijakan luar negeri tersebut, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi serta menentukan alternatif mana yang kemudian dipilih oleh negara sehingga menghasilkan suatu kebijakan luar negeri, beberapa penstudi membaginya menjadi dua faktor utama dimana kedua faktor ini saling bergantung serta saling mempengaruhi satu sama lain yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal sendiri terdiri dari (Bojang, 2018:2-3; Khara, 2018:109; Mintz & Jr. DeRouen, 2010:121):

a) Kondisi Global

b) Organisasi Internasional

Selain faktor eksternal, faktor internal juga tidak kalah pentingnya. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa tujuan dari dikeluarkannya suatu kebijakan luar negeri adalah untuk mencapai kepentingan nasional sehingga scara

(37)

Universitas Pertamina - 17 tidak langsung maka faktor internal atau domestik juga dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara seperti (Bojang, 2018:2-3; Khara, 2018:109; Mintz & Jr. DeRouen, 2010:121):

a) Letak Geografis dan Populasi

b) Perkembangan Ekonomi dan Sumber Daya Alam

c) Kapabilitas Militer d) Sistem Politik Domestik e) Karakter Pemimpin

Penulis akan menggunakan model atau pendekatan dalam pengambilan keputusan kebijakan luar negeri dijalankan berdasarkan asumsi-asumsi aktor rasional. Model aktor rasional itu sendiri yakni kumpulan dari beberapa asumsi yang dimana dapat menjelaskan lingkup yang luas terkait dengan keputusan kebijakan luar negeri dan tindakannya (Powell, 1987: 722). Ada beberapa tahapan dalam model aktor rasional menurut Greg Cashman (1993:77-78), yaitu: i) Identifikasi masalah; ii) Identifikasi dan mengurutkan tujuan yang ingin dicapai; iii) Pengumpulan informasi; iv) Identifikasi alternatif untuk dapat mencapai tujuan; v) Analisis alternatif dengan memperhatikan konsekuensi serta keefektifan (memperhitungkan untung dan ruginya) dari tiap-tiap alternatif yang ada serta diasosiasikan dengan peluang kesuksesannya; vi) Memilih alternatif yang ada yang menghasilkan peluang paling besar; vii) Mengimplementasikan pilihan tersebut; viii) Mengawasi serta melakukan evaluasi. Di dalam model aktor rasional, terdapat tiga bagian asumsi yang bersifat rasional yaitu: i) Purposive Actions, aktor

diasumsikan melakukan tindakan yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Seorang pembuat keputusan harus dapat mengidentifikasikan tujuan prioritasnya

(38)

Universitas Pertamina - 18

dan melakukan tindakan yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai; ii)

Consistent Preferences, aktor menunjukkan preferensi yang konsisten untuk

kemudian diurutkan preferensinya; iii) Utility Maximation, aktor akan memilih

alternatif yang memberikan keuntungan paling besar (MacDonald, 2003: 560 & Allison, 1971:30).

Konsep dasar dari model aktor rasional menurut Allison (1971:29-33) adalah:

1. Tujuan dan Objektif

Tujuan dan objektif diartikan sebagai suatu fungsi payoff atau utilitas yang

merepresentasikan suatu nilai tertentu. Dalam hal untuk memilih suatu pilihan, aktor memiliki kegunaan untuk menyusun konsekuensi dari setiap kemungkinan preferensi yang dapat terjadi dalam hal nilai dan tujuannya. Setiap konsekuensi yang ada akan memberikan beberapa dampak. Meskipun begitu, suatu aktor yang rasional harus dapat mengetahui tingkatan preferensi dengan setiap konsekuensi yang ada sehingga dapat menghasilkan perlakuan yang berbeda. Adanya tujuan dan objektif digunakan sebagai poin utama untuk menentukan preferensi sehingga nantinya preferensi-prefensi yang ada dan dipilih dapat mengakomodir untuk mencapai tujuan tersebut. Keamanan nasional serta kepentingan nasional merupakan prinsip tujuan dari suatu negara.

2. Alternatif atau Pilihan

Aktor yang rasional harus dapat memilih dari pilihan-pilihan yang telah tersedia di dalam situasi tertentu. Di dalam teori pilihan kebijakan, alternatif ini biasa direpresentasikan sebagai pohon keputusan. Suatu alternatif bisa menjadi suatu tindakan yang sederhana, namun harus ada spesifikasi tindakan yang

(39)

Universitas Pertamina - 19 membedakannya dari alternatif lain. Aktor rasional akan memilih pilihan dengan memaksimalkan keuntungan yang didapatkannya.

3. Konsekuensi

Tiap-tiap alternatif berisi konsekuensi dari pilihan apabila alternatif tertentu sudah dipilih oleh aktor. Konsekuensi tersebut diketahui berdasarkan dari pengetahuan yang dimiliki dari pembuat keputusan.

Pengambilan keputusan pada kebijakan luar negeri diambil atas dasar rasionalitas dimana di dalam pemikiran yang rasional terdapat perhitungan atau kalkulasi terkait untung dan rugi (cost and benefit calculations) (Mas’oed, 1998:4).

Definisi dari rasionalitas dalam model aktor rasional mengacu pada suatu aktor yang mengidentifikasikan tindakan yang sesuai dengan pencapaian tujuannya serta melakukan evaluasi terhadap pilihan keputusan yang ada baik dari sisi biaya maupun sisi keuntungan yang diharapkan sesuai dengan probabilitas keberhasilannya (Bekemans, 1980: 33). Ketika manusia berpikir secara rasional maka akan muncul analisis terkait pertimbangan untung dan rugi. Pertimbangan untung dan rugi sendiri tidak hanya terfokus pada hal-hal yang dapat dihitung secara nominal, melakukan juga pada shadow price dan opportunity cost. Ketika

manusia dianggap berpikir secara rasional dalam mempertimbangkan pilihan maka setiap orang akan melihat pada keuntungan terbesar yang dapat diperoleh sesuai dengan kemampuan yang dimiliki (Rosenberg, 2012: 68). Keuntungan yang dimaksudkan dapat berbentuk seperti pecuniary objectives; memaksimalkan

pendapatan, profit laba; tangible objectives; memaksimalkan konsumsi barang;

non-tangible objectives; memaksimalkan tujuan seperti martabat, keamanan;

(40)

Universitas Pertamina - 20

(Bakemans, 1980: 34). Selain ada keuntungan, ada pula unsur biaya (costs) yang

menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan dengan menggunakan model aktor rasional.Dengan demikiran, kerja sama antar negara hanyalah akan terbentuk jikalau menguntungkan, kalau tidak ada perihal yang menguntungkan maka kemungkinan besar kerja sama tersebut tidak akan terjadi.

Model ekonomi opportunity cost merupakan suatu model yang menjelaskan

bagaimana mitra dagang saling berinteraksi di dalam suatu situasi yang melibatkan suatu konflik maupun kepentingan serta model tersebut juga harus menggabungkan efek-efek interaksi antara interdependensi ekonomi dengan kinerja diplomatik.

Opportunity cost dalam kerja sama internasional di bidang ekonomi juga erat

hubungannya dengan adanya penurunan volume dagang, pengaruh dari berbagai aktor domestik yang memiliki kepentingan untuk meningkatkan perdagangan dan kemampuan para politisi untuk dapat mempengaruhi keputusan suatu negara, peran dari pemerintahan untuk mendorong volume perdagangan. Pendekatan ini juga harus berkaitan dengan adanya kepentingan strategis yang bersengketa antara pihak lain dan dampak dari interdependensi ekonomi dalam dinamika perilaku sekutu. Mekanisme dalam opportunity cost yaitu diperkuat pada level domestik. Suatu

perdagangan meningkatkan pengaruh dari kelompok ekonomi yang secara garis besar diuntungkan dari adanya aktivitas perdagangan ini serta menjadi entitas yang memiliki kemampuan untuk memberikan tekanan kepada pemerintah untuk menjaga lingkup perdagangan tetap aman dan damai. Semakin besar keuntungan dari suatu kerja sama ekonomi yang dijalankan oleh suatu negara dengan negara lain maka akan semakin kecil pula kemungkinan negara tersebut untuk berkonflik dengan mitra dagangnya (Levy, 2003).

(41)

Universitas Pertamina - 21 Pendekatan foreign policy decision making dengan menggunakan model

aktor rasional akan penulis gunakan untuk menganalisis kepentingan nasional Indonesia yang ingin diraih apabila kerja sama Indonesia dan Australia ini (IA-CEPA) berjalan dengan efektif dan sesuai dengan yang diharapkan. Kepentingan nasional tersebut yang kemudian menjadi tujuan Indonesia sehingga akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kembali perundingan IA-CEPA.

1.4.2 Model Analisis

Dengan adanya asumsi yang dimiliki oleh penulis, maka model analisis yang akan penulis pada untuk menjawab pertanyaan “Apa kepentingan nasional Indonesia dalam mengaktifkan kembali perundingan kerja sama IA-CEPA di tahun 2016?” sebagai berikut:

Gambar 1. 4 Model Analisis Penelitian Kepentingan Indonesia dalam Mengaktifkan Kembali Kerja Sama IA-CEPA di Tahun 2016

Dapat dilihat dari model analisis diatas bahwasanya di dalam model aktor rasional terdapat kalkulasi untung dan rugi yang menjadi pertimbangan negara

(42)

Universitas Pertamina - 22

untuk menentukan pilihan mana yang akan diambil. Di dalam kasus perundingan kerja sama IA-CEPA ini, Indonesia memiliki dua pilihan yakni menolak untuk mengaktifkan kembali perundingan kerja sama IA-CEPA atau pilihan kedua menyetujui pengaktifan kembali perundingan kerja sama IA-CEPA. Kedua pilihan ini memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing di Indonesia. Selain itu, dalam model aktor rasional juga memiliki 3 indikator penting yaitu tujuan yang dimana tujuannya adalah untuk mencapai kepentingan negara, pilihan yang dipilih dengan mempertimbangkan maksimalisasi keuntungan yang akan di dapat serta konsekuensi untuk memilih salah satu pilihan dengan menanggung kerugian dari pilihan yang telah dipilih tersebut. Dengan mengetahui keuntungan-keuntungan apa saja yang akan didapatkan oleh Indonesia dari pilihan yang telah dipilih, maka hal tersebut akan membantu penulis untuk menentukan kepentingan nasional yang Indonesia ingin capai di dalam kerja sama tersebut.

1.5 Metode Penelitian 1.5.1 Tipe Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis akan menggunakan tipe penelitian deskriptif yang dikaji secara kualitatif. Penelitian deskriptif sendiri adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran maupun suatu kelas yang ada pada masa sekarang (Nazir, 1983). Menurut Hadari Nawawi (1983), sifat dari penelitian deskriptif yaitu sebuah penjelasan dari suatu masalah yang diselidiki dengan menggambarkan kondisi subjek maupun objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.

(43)

Universitas Pertamina - 23 Metode kualitatif dilakukan dengan mengidentifikasi, memaparkan, serta mendalami kasus yang telah dipilih. Dalam hal ini, metode kualitatif dilakukan untuk menjelaskan secara rinci kepentingan ekonomi dan politik Indonesia terhadap kerja sama IA-CEPA sehingga Indonesia memutuskan untuk mengaktifkan kembali perundingan kerja sama IA-CEPA di tahun 2016.

1.5.2 Sumber Data

Metode pengumpulan data yang akan digunakan dalam penulisan penelitian ini yakni melalui studi pustaka dan media tracking dengan menggunakan analisis

data sekunder. Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung atau melalui perantara. Data sekunder biasanya berupa bukti, catatan, ataupun laporan historis yang tersusun di dalam arsip yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data sekunder yang diperoleh dari buku-buku, jurnal, artikel, laporan, website pemerintahan, maupun berita yang berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan politik Indonesia.

1.5.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang akan digunakan adalah studi dokumenter dimana penulis akan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar, atau elektronik. Dokumen yang telah penulis kumpulkan kemudian dipadukan sehingga membentuk suatu kajian yang bersifat sistematis. Setelah membetuk kajian yang sistematis, maka penulis akan melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen tersebut (Sevilla, 1993).

(44)

Universitas Pertamina - 24

1.6 Tujuan dan Manfaat Penulisan

1.6.1 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui isi dari perundingan kerja sama IA-CEPA dari tahun 2013 – 2016. 2. Mengetahui keuntungan dan kerugian Indonesia dalam suatu kerja sama IA-CEPA.

3. Menganalisis kepentingan nasional Indonesia yang mempengaruhi Indonesia untuk mengaktifkan kembali perundingan kerja sama IA-CEPA di tahun 2016. 1.6.2 Manfaat Penulisan

1. Untuk memberikan sumbangsih pemikiran kepada para penstudi Hubungan Internasional.

2. Untuk memberikan pemahaman terhadap kepentingan nasional Indonesia dalam suatu kerja sama.

1.7 Sistematika Penulisan

Pada penelitian ini, penulis akan membagi menjadi enam bab yang dijabarkan secara sistematis sebagai berikut:

Bab 1 adalah pendahuluan yang terdiri dari latar belakang permasalahan, rumusan penelitian, studi pustaka, kerangka penelitian, metode penelitian, dan tujuan serta signifikansi penulisan.

Bab 2 akan membahas terkait gambaran umum kerja sama IA-CEPA seperti tujuan utama dan manfaat dari kerja sama IA-CEPA untuk kedua pihak, hasil utama dan peluang yang ada dalam kerja sama IA-CEPA, sektor-sektor di dalam kerja sama IA-CEPA, serta timeline kerja sama IA-CEPA dari tahun 2005 hingga 2016. Perundingan yang telah dilakukan oleh kedua pihak sebelum dinonaktifkan

(45)

(2010-Universitas Pertamina - 25 2013) dan sesudah dinonaktifkan (2016), hubungan bilateral perdagangan antara Indonesia dan Australia pada masa penonaktifan perundingan IA-CEPA, dan diplomasi ekonomi Indonesia di tahun 2016.

Bab 3 merupakan pembahasan mengenai analisis menggunakan model aktor rasional dengan menjelaskan keuntungan serta kerugian yang akan diperoleh Indonesia mengaktifkan kembali perundingan kerja sama IA-CEPA dan menjawab kepentingan nasional Indonesia yang dijadikan sebagai dasar dalam menentukan pilihan yang ada.

Bab 4 adalah sebagai bab penutup yang terdiri atas kesimpulan yang dapat dilihat dari penelitian penulis dimana pada akhirnya merupakan jawaban dari pertanyaan penlitian yang ada. Kemudian penulis juga akan memberikan saran dan rekomendasi bagi penelitian selanjutnya.

(46)

Universitas Pertamina - 26 BAB II

GAMBARAN UMUM KERJA SAMA IA-CEPA

2.1 Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement

2.1.1 Tujuan dan Manfaat IA-CEPA

Indonesia dan Australia telah menjalin banyak kerja sama salah satunya adalah kerja sama IA-CEPA. Pembentukan kerja sama IA-CEPA ini sebagai bentuk integrasi perekonomian Indonesia maupun Australia secara bilateral dan juga regional. Tujuan kerja sama ini yakni untuk membentuk pondasi yang kokoh di berbagai sektor seperti keamanan, lingkungan, pendidikan, hingga isu-isu transnasional dan pada nantinya diharapkan dapat menciptakan iklim yang apik untuk pengembangan bisnis dan investasi di kedua negara. Hal tersebut mengakibatkan pelaku usaha dan investor selalu ikut andil selama perundingan berlangsung sebagai pihak yang memberikan masukan dan pilihan-pilihan alternatif kepada pemerintah. Kerja sama IA-CEPA ini dipandang bukanlah sebagai FTA biasa melainkan kearah kemitraan yang bersifat lebih komprehensif. Kemitraan antara Indonesia dan Australia ini diarahkan untuk dapat menjadi economic

powerhouse yang merupakan kolaborasi dari kekuatan ekonomi untuk menjadi

pendorong produktivitas sehingga dapat meningkatkan volume dasar ke pasar negara lainnya.

Selanjutnya manfaat dari adanya IA-CEPA secara keseluruhan yaitu:

1. Memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing bagi produk-produk pertanian, perikanan, industri, dan kehutanan.

2. Memperluas pasar serta meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia agar berstandar internasional.

(47)

Universitas Pertamina - 27

3. Meningkatkan investasi dua arah antara Indonesia dan Australia. Indonesia menjadi tujuan bagi investor Australia sedangkan investor Indonesia akan dipermudah untuk menanamkan modalnya di Australia.

4. Meningkatkan kerja sama yang lebih luas untuk mengoptimalkan pemanfaatan perjanjian.

2.1.2 Hasil Utama dan Peluang IA-CEPA

Selain memiliki tujuan dan manfaat untuk kedua negara, di dalam IA-CEPA juga terdapat hasil utama yang langsung dapat dirasakan oleh para pelaku bisnis kedua belah pihak mengingat aktor yang berperan di dalam kerja sama ini tidak hanya pemerintah saja melainkan pelaku bisnis juga berperan sama pentingnya. Melalui IA-CEPA, Indonesia sebagai manufacturing powerhouse (pusat

pengolahan) dapat dengan mudah memiliki akses terhadap bahan baku yang terbilang murah dan berkualitas dari Australia sehingga ke depannya para pelaku bisnis di kedua negara dapat berkontribusi besar pada global value chains sebagai

pemasok kebutuhan global. Selain itu, akses pasar juga menjadi lebih mudah. Pasalnya, Australia telah memotong seluruh tarifnya yang pada awalnya sebesar 5% menjadi 0%. Alhasil, potensi produk-produk Indonesia diekspor ke Australia menjadi lebih tinggi. Produk-produk bertarif 0% seperti tekstil, permadani, pipa saluran migas, furnitur berbahan kayu, produk otomotif (khususnya kendaraan hybrid dan elektrik), herbisida dan pestisida, karet dan turunannya, kopi, coklat, serta peralatan elektronik. Visa kerja dan berlibur (work and holiday visa) antara

Indonesia dan Australia juga dinaikkan kuotanya sebesar 5% per tahun. Visa kerja dan berlibur ini cukup diminati oleh masyarakat Indonesia karena selain berlibur ke

(48)

Universitas Pertamina - 28 Australia, mereka juga mendapatkan pengalaman bekerja di Australia (Direktorat Perundingan Perdagangan Internasional, 2018).

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya antara Indonesia dengan Australia aspek sumber daya dan fasilitas yang dimiliki oleh masing-masing negara saling melengkapi satu sama lain. Oleh karena itu, dengan adanya kemitraan ekonomi ini, maka peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan, yaitu (IABC, 2016):

1. Mengembangkan batas negara, integrasi pada industri dan rantai pasok pada barang dan jasa yang diperlukan oleh kedua negara untuk melengkapi suplai domestik dan pasar-pasar internasional lainnya.

2. Membangun investasi dua arah, yakni meningkatkan investasi Australia di Indonesia dan mendorong Indonesia untuk melakukan investasi jangka panjang di Australia. Investasi-investasi ini dapat dicapai melalui pengembangan pasar yang kompetitif, mereduksi resiko, serta melakukan usaha bersama (joint venture).

3. Meningkatkan berbagi pengetahuan dan teknologi melalui harmonisasi standar dan regulasi, mengetahui kualifikasi kedua pihak, membuat mekanisme resolusi atas suatu kemungkinan permasalahan, membangun kerja sama di bidang edukasi, pelatihan, maupun pengembangan profesional, serta mendorong perpindahan orang-orang yang terlatih di bidangnya antar dua negara tersebut.

4. Memfasilitasi kerja sama ekonomi melalui program bantuan pengembangan yang berfokus pada membangun kapasitas ekonomi, mengembangkan kemampuan, berbagi informasi pasar, dan meningkatkan kerja sama antara

(49)

Universitas Pertamina - 29

kegiatan bantuan pengembangan yang diberikan oleh pemerintah dengan sektor privat.

5. Meningkatkan kesadaran adanya hubungan langsung antara investasi dalam sektor jasa dengan pembangunan kapasitas melalui pengadaan pendidikan formal dan pelatihan, pemberian teknologi dan penyebaran pengetahuan yang didapatkan dari keberadaan firma jasa internasional.

6. Mendorong adanya kolaborasi bisnis dan kemitraan yang lebih mendalam lagi antara Indonesia dan Australia di sektor-sektor yang penting.

7. Perawatan yang istimewa. Antara Indonesia dan Australia sebaiknya menyediakan suatu perawatan istimewa yang sama dalam sektor perdagangan dan investasi yang dimana kedua negara mendeklarasikan dan berperan secara aktif pada perdagangan dan investasi pilihan yang dioperasikan diatas susunan preferensi lainnya.

8. Mendapatkan manfaat dari Zona Ekonomi Spesial (SEZ) Indonesia. Melalui IA-CEPA, SEZ Indonesia dapat berkembang dan diimplementasikan sebagai suatu cara untuk mempercepat liberalisasi di sektor-sektor maupun wilayah yang menjadi prioritas. Indonesia sendiri merupakan suatu arena dalam melakukan investasi serta kolaborasi yang tidak dibatasi oleh peraturan yang berlaku di tempat lain di Indonesia.

2.1.3 Sektor-Sektor IA-CEPA

Oleh karena itu, sektor yang menjadi perhatian tidak hanya ekspor dan impor barang antar kedua negara melainkan juga pelatihan tenaga kerja, pendidikan, hingga sektor kesehatan publik. Sektor-sektor yang menjadi bagian

(50)

Universitas Pertamina - 30 dalam kerja sama IA-CEPA adalah sebagai berikut (Kementerian Perdagangan, 2018):

1. Peningkatan produktivitas SDM (Sumber Daya Manusia) dan teknis di bidang pertanian dan industri

2. Peningkatan daya saing melalui promosi dan inovasi 3. Penguatan karantina dan biosecurity

4. Harmonisasi standar produk

5. Peningkatan kapasitas UKM (Usaha Kecil dan Menengah)

6. Komunikasi dan koordinasi terkait fasilitas di bidang ekspor-impor 7. Pertumbuhan sektor pariwisata

8. Peningkatan kapasitas pendidikan

9. Peningkatan standar dan daya saing tenaga kesehatan profesional

Dalam meningkatkan hubungan ekonomi dan mengembangkan lintas batas negara dimana keuntungan yang akan didapatkan hanya memerlukan periode waktu yang singkat, terdapat enam sektor yang menjadi perhatian cukup penting bagi kedua negara, yakni: i) Pariwisata dan perhotelan; ii) Ketersediaan makanan domestik dan partisipasi dalam suplai makanan global; iii) Pengembangan sumber daya manusia; iv) Peningkatan kesehatan dan kualitas kehidupan; v) Ekonomi digital, e-commerce, dan industri kreatif; vi) infrastruktur dan energi.

(51)

Universitas Pertamina - 31 2.1.4 Linimasa IA-CEPA

Gambar 2. 1 Linimasa IA-CEPA (Kementerian Perdagangan, 2018)

Pada bulan April 2005, kepala negara Indonesia maupun Australia sama-sama sepakat terhadap pembentukan Joint Declaration of Comprehensive

Partnership. Kedua pihak menyadari bahwa hubungan antara Indonesia maupun

Australia telah terjalin sejak lama dan banyak juga kerja sama-kerja sama yang berjalan positif diantara keduanya. Selain itu, komoditas perdagangan ekspor-impor antara kedua negara juga cukup luas seperti tekstil, produk otomotif, hasil pertanian, hasil peternakan, hingga kedatangan wisatawan yang juga berperan dalam peningkatan pendapatan kedua negara.

(52)

Universitas Pertamina - 32 Tabel 2. 1 Diagram Komoditas Ekspor Indonesia-Australia 2005 (WITS World Bank, 2019)

Tabel 2. 2 Diagram Komoditas Impor Indonesia-Australia 2005 (WITS World Bank, 2019)

Kemudian di tahun 2007 kedua negara melakukan studi kelayakan terkait dengan Free Trade Agreement. Studi kelayakan tersebut berfungsi untuk

mengevaluasi probabilitas dilaksanakannya negosiasi yang bersifat bilateral sehingga isi dari studi kelayakan ini adalah analisis manfaat serta dampak bagi Indonesia maupun Australia mengenai pelaksanaan suatu perjanjian bilateral. Pertimbangan implikasi, nilai dari suatu perjanjian bilateral dalam mengatasi masalah perdagangan kedua negara, hingga preferensi kegiatan-kegiatan yang

Komoditas Ekspor Indonesia-Australia 2005

All Products Capital Goods Consumer Goods Intermediate Goods Raw Materials Animal

Komoditas Impor Indonesia-Australia 205

All Products Capital Goods Consumer Goods Intermediate Goods Raw Materials Animal

(53)

Universitas Pertamina - 33

dapat dilakukan oleh kedua negara untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalisir biaya yang ditimbulkan dari FTA juga dibahas di dalam studi kelayakan ini (Kementerian Perdagangan, 2007).

Studi kelayakan ini tidak hanya melibatkan pemerintah Indonesia dan Australia, melainkan turut melibatkan para pelaku bisnis karena sektor investasi juga akan dibahas di dalam kerja sama kedua negara. Pada akhirnya, studi kelayakan FTA selesai di tahun 2009. Hasilnya yakni skema FTA yang komprehensif akan memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara, mempercepat dan memperdalam tingkat integrasi ekonomi Australia dan Indonesia dimana kedua negara ini merupakan negara dengan perekonomian besar khususnya di wilayah Asia Pasifik. Setelah studi kelayakan telah dilaksanakan, kedua negara langsung memulai perundingan untuk mendiskusikan terkait dengan segala perihal di bidang ekonomi yang akan diatur dalam kerja sama ini. Perundingan IA-CEPA secara resmi dapat dimulai pada tahun 2010, putaran pertama perundingan di tahun 2012, serta putaran kedua di tahun 2013. Pada tahun 2013 hingga 2016, perundingan IA-CEPA diberhentikan. Namun, di tahun 2016, perundingan tersebut direaktivasi dan memasuki perundingan ketiga, keempat, kelima, dan keenam langsung dilaksanakan disepanjang tahun 2016.

Selama perundingan dari tahun 2010-2013, perundingan telah berjalan sebanyak tiga kali. Perundingan pertama, kedua negara sepakat untuk membentuk suatu kerja sama yang sifatnya komprehensif dan komersial dan fokus pada panduan dasar untuk melaksanakan perjanjian selanjutnya serta susunan negosiasi. Kemudian di pertemuan kedua yang merupakan negosiasi pertama, mulai mempertimbangkan position paper yang diajukan oleh Indonesia-Australia

(54)

Universitas Pertamina - 34

Business Partnership Group (IABPG) yang salah satunya adalah mengadakan

proyek percobaan pertukaran keterampilan tenaga kerja serta kerja sama di bidang pertanian. Di perundingan pertama juga, kedua pihak mempublikasikan dokumen yang telah disepakati pada putaran pertama sebagai bentuk transparansi publik. Perundingan putaran kedua yang dilaksanakan saat pertemuan ketiga, yaitu tepat saat kedua negara sepakat untuk melanjutkan kembali kerja sama IA-CEPA perihal yang langsung menjadi kesepakatan kedua pihak adalah terkait dengan keamanan makanan dan standar makanan yang akan diekspor oleh Indonesia ke Australia. Putaran selanjutnya fokus pada pembahasan kembali kesepakatan awal IA-CEPA seperti laporan dari IABPG, pertukaran keterampilan tenaga kerja, peningkatan pendidikan, pelatihan, dan terkait dengan keamanan dan standar makanan. Hasil dari perundingan keempat adalah kedua negara menyetujui untuk adanya keterlibatan para pelaku usaha di berbagai sektor secara langsung guna untuk memperluas informasi serta dapat memberikan pertimbangan yang efektif.

2.2 Perundingan IA-CEPA di Tahun 2010 Hingga 2013

2.2.1 Perundingan IA-CEPA Pertama Tahun 2010

Pada bulan November 2010, di Jakarta, kepala negara Indonesia dan Australia bertemu dan menyetujui kerja sama IA-CEPA. Pada pertemuan ini juga mereka setuju bahwa IA-CEPA akan mengatur mengenai kerja sama ekonomi dan perdagangan hingga perihal terkait investasi dengan tujuan adanya kontribusi yang lebih besar dan aktif lagi dari kedua pihak untuk membangun suatu kemitraan yang tingkatannya lebih tinggi dan saling menguntungkan satu sama lain. Oleh karena

(55)

Universitas Pertamina - 35

itu, pada pertemuan ini juga menghasilkan suatu panduan yang berisi prinsip-prinsip dan objektif di dalam negosiasi IA-CEPA selanjutnya, yakni (DFAT, 2013):

1. Negosiasi akan ditujukan untuk kemajuan bersama, mempercepat

pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan meningkatkan standar hidup. 2. Kedua negara akan melakukan negosiasi dengan cara yang positif dan

dengan pemahaman yang setara.

3. Negosiasi yang akan terjadi berdasarkan pada; i) Laporan pada tahun 2009 mengenai studi kelayakan kerja sama FTA antara Indonesia dan Australia, ii) position paper dari pihak Indonesia-Australia Business Partnership

Group (IABPG) tahun 2012, iii) serta hasil yang dicapai dalam kesepakatan

ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA).

4. Kedua negara mengakui bahwa untuk mencapai suatu keuntungan bersama, maka ruang lingkup IA-CEPA akan bersifat komprehensif dan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan perekonomian, melainkan untuk memfasilitasi arus barang, investasi dan jasa, dengan mengurangi hambatan perdagangan (tarif, non tarif, dan perihal lintas batas lainnya), menangani langkah-langkah investasi yang berefek menghambat, serta meningkatkan kerjasma teknis lainnya di sektor tertentu yang diidentifikasikan dapat menjadi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi.

5. Lingkup dan cakupan negosiasi akan sebagai berikut: a) Kerja sama ekonomi

b) Perdagangan Barang c) Perdagangan Jasa d) Investasi

(56)

Universitas Pertamina - 36 e) Perpindahan Masyarakat

f) Isu-isu lain seperti hak kekayaan intelektual, lingkungan, pengadaan pemerintah, dan isu lain yang relevan dengan realitas bisnis

g) Ketentuan kelembagaan dan kerangka kerja seperti transparansi, ketentuan kelembagaan, prosedur penyelesaian sengketa, ketentuan umum dan pengecualian, serta ketentuan penutup.

6. Karena adanya perbedaan tingkat pertumbuhan ekonomi antar kedua negara, maka IA-CEPA harus dapat mencakup ketentuan fleksibilitas yang akan mempertimbangkan isu-isu pembangunan sehingga keseluruhan IA-CEPA adalah berorientasi pada pembangunan.

7. Dalam komitmen IA-CEPA, termasuk pembagian kerangka waktu harus ditandatangani pada tahap awal negosiasi.

8. Terminologi AI-CEPA akan ditinjau secara berkala sehingga memudahkan revisi ketentuan dalam perjanjian dengan memperhitungkan perkembangan yang terjadi di kedua negara.

9. IA-CEPA akan tetap konsisten dengan perjanjian WTO (World Trade

Organization), termasuk GATT (General Agreement on Tariffs and Trade)

pasal XXIV dan GATS (General Agreement on Trade in Services) pasal V.

Negosiasi IA-CEPA juga akan berusaha untuk mencapai hasil yang komprehensif dan seimbang melalui negosiasi parallel di semua bidang negosiasi.

10.Negosiasi dalam aspek kerja sama ekonomi akan dilakukan bersamaan dengan negosiasi pada ketentuan lain dalam rangka mengakomodasi masukan yang berasal dari negosiasi dari aspek lainnya.

Gambar

Tabel 2. 1 Diagram Komoditas Ekspor Indonesia-Australia 2005 ........................ 32  Tabel 2
Gambar 1.  1 Nilai Ekspor Australia ke Indonesia (Juta US$)   (BPS, 2010)
Gambar 1.  4 Model Analisis Penelitian Kepentingan Indonesia dalam  Mengaktifkan Kembali Kerja Sama IA-CEPA di Tahun 2016
Gambar 2. 1 Linimasa IA-CEPA   	 (Kementerian Perdagangan, 2018)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Membuat usulan perbaikan postur kerja untuk mengurangi keluhan MSDs yang dialami pekerja tenun dan meredesain stasiun kerja yang dapat memudahkan operator dalam

Dalam melakukan kuliah kerja media penulis mengetahui tugas dan peran dari social media executive di PT Maxima Indonesia, penulis mendapatkan banyak sekali pengalaman dan tugas

SPM-LS Gaji induk bulan Januari 2017 dikirimkan ke KPPN paling lambat pada Hari Selasa tanggal 13 Desember 2016 pada jam kerja, Dalam hal aplikasi gaji dan/atau DIPA belum ada

Pimpinan dan rekan kerja Ogilvy Indonesia, yang telah menerima saya sebagai peserta magang juga membimbing saya untuk belajar hal-hal baru tentang ilmu public

Permasalahannya adalah : (1) bagaimana cara mendayagunakan limbah organik menjadi bahan untuk membuat pakan ternak sapid an ayam, (2) Apakah teknologi cara pembuatan

Permasalahannya adalah : (1) bagaimana cara mendayagunakan limbah pertanian yakni sekam padi menjadi bahan bakar alternatif dan pupuk organik yang ramah

Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka yaitu dengan cara mempelajari teori-teori literature dan buku-buku yang berhubungan dengan objek kerja praktek

Laporan keuangan konsolidasian perusahaan tahun 2017 dan 2016 lengkap dengan catatan dan laporan auditor independen dalam bahasa