Laporan Kasus
Laporan Kasus
SPONDILITIS TB
SPONDILITIS TB
Oleh
Oleh
Insaani Mukhlisah
Insaani Mukhlisah
0808113150
0808113150
Pembimbing:
Pembimbing:
dr. Agus Tri Joko, Sp.S
dr. Agus Tri Joko, Sp.S
KEPANITERA
KEPANITERAAN
AN KLINIK
KLINIK
BAGIAN ILMU P
BAGIAN ILMU PENYAKIT SAR
ENYAKIT SARAF
AF RSUD ARIFI
RSUD ARIFIN ACHMAD
N ACHMAD
FAKULTAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
KEDOKTERAN UNIVERSITAS
UNIVERSITAS RIAU
RIAU
PEKANBARU
PEKANBARU
2013
RSUD
RSUD ARIFIN
ARIFIN ACHMAD
ACHMAD
Fakultas Kedokteran UNRI
Fakultas Kedokteran UNRI
SMF/ BAGIAN SARAF
SMF/ BAGIAN SARAF
Sekretariat : SMF Saraf – Irna Medikal Lantai 3
Sekretariat : SMF Saraf – Irna Medikal Lantai 3
Jl. Diponegoro No. 2 Telp. (0761) 7026225
Jl. Diponegoro No. 2 Telp. (0761) 7026225
P E K A N B A R U
P E K A N B A R U
STATUS PASIEN
STATUS PASIEN
Nama
Nama Koass
Koass ::
Insaani Mukhlisah
Insaani Mukhlisah
N I
N I M / N
M / N U K
U K ::
0808113150
0808113150
Tanggal :
Tanggal :
Mei 2013
Mei 2013
II..
IID
DE
EN
NT
TIIT
TA
AS P
S PA
AS
SIIE
EN
N
Nama
Nama
Ny. J
Ny. J
U
Um
mu
urr
2
20
0
ttaah
hu
un
n
JJeen
niis
s k
keellaam
miin
n
P
Peerreem
mp
pu
uaan
n
A
Allaam
maatt
D
Du
ussu
un
n 3
3 B
Been
nccaah
h p
pu
un
nd
daak
k p
peerrm
maai
i R
RT
T 6
6 R
RW
W 4
4 P
Peek
kaan
nb
baarru
u
A
Ag
gaam
maa
IIssllaam
m
S
Sttaattu
us
s p
peerrk
kaaw
wiin
naan
n
K
Kaaw
wiin
n
P
Peek
keerrjjaaaan
n
IIb
bu
u R
Ru
um
maah
h T
Taan
ng
gg
gaa
T
Taan
ng
gg
gaal
l M
Maassu
uk
k R
RS
S
6
6 M
Meei
i 2
20
01
13
3
Medical
Medical Record
Record
810323
810323
II. ANAMNESIS
II. ANAMNESIS
(autoanamnesa dan alloanamnesa dari:
(autoanamnesa dan alloanamnesa dari: isteri pasien)
isteri pasien) 11 Mei 2013
11 Mei 2013
Keluhan Utama
Keluhan Utama
Kepala pusing
Kepala pusing
Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat Penyakit Sekarang
--
1
1 ja
jam
m se
sebe
belu
lum
m ma
masu
suk
k ru
ruma
mah
h sa
saki
kit, pas
t, pasie
ien
n me
mene
negel
geluh
uhkan kepa
kan kepala pusi
la pusing berp
ng berput
utar
ar,,
sebelumnya pasien mengalami kecelakaan lalu lintas sepeda motor-sepeda motor,
sebelumnya pasien mengalami kecelakaan lalu lintas sepeda motor-sepeda motor,
terjatuh dalam keaddan kepala samping kiri membentur jalan aspal, pasien sadar,
terjatuh dalam keaddan kepala samping kiri membentur jalan aspal, pasien sadar,
mual (+), muntah (-), muntah proyektil (-), keluar darah dari telinga kiri (+) warna
segar (+), terus menerus, telinga terasa tersumbat (+), nyeri kepala (-), kejang (-),
penurunan kesadaran (-), suara berdengung di telinga (-), keluar darah dari hidung (-)
tungkai dan anggota gerak atas masih bisa digerakkan dan tidak ada keluhan.
-
BAB 1 kali/ hari, konsistensi BAB lunak, warna kuning tidak ada keluhanBAK tidak
ada keluhan, nyeri saat BAK (-), tidak lampias (-), Nyeri pinggang saat BAK (-),
BAK berdarah (-)
-
. Tidak ada keluhan nyeri saat BAK, tidak lampias, nyeri pinggang (-) sebelumnya
-
Pasien dibawa ke RSUD AA dalam keadaan sadar
Riwayat Penyakit Dahulu
-
Riwayat penyakit telinga sebelumnya disangkal
-
Riwayat trauma sebelumnya (-)
-
Riwayat trauma telinga sebelumnya (-)
-
Riwayat infeksi telinga (-)
-
Riwaya hipertensi (-), stroke (-), DM (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Infeksi telinga
RESUME ANAMNESIS
-
Pasien Ny R, 20 tahun, masuk RSUD AA dengan kepala pusing setalah kecelakaan
lalu lintas dengan posisi kepala samping kiri membentur jalan aspal. pasien sadar,
mual (+), muntah (-),keluar darah dari telinga kiri (+) warna segar (+), terus menerus,
telinga terasa tersumbat (+), tanpa disertai darah dari hidung, tungkai dan anggota
gerak atas masih bisa digerakkan dan tidak ada keluhan. BAB dan BAK tidak ada
keluhan
A. KEADAAN UMUM
Tampak sakit sedang
Tekanan darah
:
kanan : 120/70 mmHg,
kiri : 120/70 mmHg
Denyut nadi
:
kanan : 84 x /mnt, teratur, isi cukup.
kiri
: 82 x /mnt, teratur, isi cukup.
Jantung
:
HR
: 84 x /mnt, irama : teratur
Paru
:
Respirasi : 18 x/mnt
Inspeksi
:
Simetris kiri=kanan
Palpasi
:
Fremitus kiri=kanan
Perkusi
:
Sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi
:
Vesikuler normal kiri = kanag, ronkhi (-), Wheezing (-)
Status Gizi
:
kesan gizi cukup
Tinggi badan: 150 cm Berat Badan: 55 kg
B. STATUS NEUROLOGIK
1)
KESADARAN
:
Komposmentis
GCS
: E4
M6
V5
2)
FUNGSI LUHUR
:
normal
3)
KAKU KUDUK
:
tidak ada
4)
SARAF KRANIAL
:
1. N. I (Olfactorius )
Kanan
Kiri
Keterangan
Daya pembau
N
N
Tidak ada kelainan
2.
N.II (Opticus)
Kanan
Kiri
Keterangan
Daya penglihatan
Lapang pandang
Pengenalan warna
N
N
N
N
N
N
Tidak ada kelainan
3. N.III (Oculomotorius)
Kanan
Kiri
Keterangan
Ptosis
Pupil
Bentuk
Ukuran
Gerak bola mata
Refleks pupil
Langsung
Tidak langsung
Bulat
3 mm
N
(+)
(+)
Bulat
3 mm
N
(+)
(+)
4.
N. IV (Trokhlearis)
Kanan
Kiri
Keterangan
Gerak bola mata
N
N
Tidak ada kelainan
5.
N. V (Trigeminus)
Kanan
Kiri
Keterangan
Motorik
Sensibilitas
Refleks kornea
N
N
(+)
N
N
(+)
Tidak ada kelainan
6. N. VI (Abduscens)
7. N. VII (Facialis)
Kanan
Kiri
Keterangan
Tic
Motorik
Daya perasa
Tanda chvostek
(-)
(-)
N
(-)
(-)
(-)
N
(-)
Tidak ada kelainan
8.
N. VIII (Akustikus)
Kanan
Kiri
Keterangan
Pendengaran
Tes
Rhine
9.
N. IX (Glossofaringeus)
Kanan
Kiri
Keterangan
Arkus farings
Daya perasa
Refleks muntah
N
N
Tidak
dinilai
N
N
Tidak
dinilai
Tidak ada kelainan
10. N. X (Vagus)
Kanan
Kiri
Keterangan
Arkus farings
Dysfonia
N
(-)
N
(-)
Tidak ada kelainan
11. N. XI (Assesorius)
Motorik
Trofi
N
E
N
E
Tidak ada kelainan
12.
N. XII (Hipoglossus)
Kanan
Kiri
Keterangan
Motorik
Trofi
Tremor
N
E
(-)
N
E
(-)
Tidak ada kelainan
IV. SISTEM MOTORIK
Kanan
Kiri
Keterangan
Ekstremitas atas
Kekuatan
Distal
Proksimal
Tonus
Trofi
Ger.involunter
5
5
N
E
(-)
5
5
N
E
(-)
Tidak ada kelainan
Ekstremitas bawah
Kekuatan
Distal
Proksimal
Tonus
Trofi
Ger.involunter
0
0
Flaccid
A
(-)
0
0
Flaccid
A
(-)
Paraplegia
Badan
Trofi
Ger. involunter
Ref.dinding perut
Refleks kremaster
E
(-)
(+)
E
(-)
(+)
Tidak ada kelainan
V. SISTEM SENSORIK
Kanan
Kiri
Keterangan
Raba
Nyeri
Suhu
Propioseptif
Terdapat
kelainan
Terdapat
kelainan
Tidak
dinilai
Terdapat
kelainan
Terdapat
kelainan
Tidak
dinilai
hipestesi setinggi thoracal II
VI. REFLEKS
Kanan
Kiri
Keterangan
Biseps
Triseps
KPR
APR
(+)
(+)
(-)
(-)
(+)
(+)
(-)
(-)
Patologis
Babinski
Chaddock
Hoffman Tromer
Reflek primitif :
Palmomental
Snout
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
Reflek patologis (-)
VII. FUNGSI KORDINASI
Kanan
Kiri
Keterangan
Test telunjuk hidung
Test tumit lutut
Gait
Tandem
Romberg
N
(-)
N
(-)
Pemeriksaan gait, tandem
dan romberg tidak dapat
dilakukan.
VIII. SISTEM OTONOM
Miksi
: (+), terpasang kateter
Defaekasi
: terganggu
IX. PEMERIKSAAN KHUSUS/LAIN
a. Laseque
: tidak terbatas
b. Kernig
: tidak terbatas
c. Patrick
: (-) / (-)
d. Kontrapatrick : (-) / (-)
e. Valsava test
: (-)
f. Brudzinski
: (-) / (-)
Keadaan umum
Kesadaran
: Komposmenstis
Tekanan darah
: 120/70 mmHg
Pernafasan
: 18 x/menit, tipe abdominotorakal
Fungsi luhur
: Normal
Saraf kranial
: DBN
Motorik
:ka
ki
5
5
0
0
Sensorik
: Normal
Koordinasi
: Sulit dinilai
Otonom
: Inkontinesia alvi
Refleks
Fisiologis
: (+)
(+)
(-)
(-)
Patologis
: Refleks babinski (-) / (-) chadock (-) / (-)
Pemeriksaan lain
: Patrick (-), Kontrapatrick (-), Valsava test (-),
Brudzinski (-)
Pemeriksaan leher: KGB colli (-), Struma (+)
Inspeksi
: masa sewarna kulit, merah (-), pus (-), darah (-)
Palpasi
: soliter, ukuran 4x3 cm, konsistensi lunak, batas tegas, tidak
terfiksir, nyeri tekan (-), ikut bergerak saat menelan
Pemeriksaan abdomen : darm contour (-)
Pemeriksaan Costovetebra angle:
Kiri
Kanan
Scar
-
- Nyeri tekan
-
- Nyeri Ketok
-
-Ballotement
-
-Pemeriksaan Rectal Toucher: Tonus sphincter ani (-), mukosa licin, massa (-),
handschoon: feses (+), darah (-)
D. DIAGNOSIS
DIAGNOSIS KLINIS
:
Mielopati thoracal + Struma
DIAGNOSIS TOPIK
:
Segmen thoracal II medulla spinalis
DIAGNOSIS ETIOLOGIK :
Susp spondilitis TB
DIAGNOSIS BANDING
:
Susp spondilitis piogenik
Susp tumor medula spinalis
E. ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Pemeriksaan laboratorium darah rutin: Hb, Ht, Leuko, Trombo
- Pemeriksaan laboratorium kimia darah: GDS, Profil lipid (kolesterol total, LDL dan
HDL), Ureum-kreatinin, Asam Urat
-
Rontgen thorax PA
-
Rontgen vertebrae thoracal AP-lateral
-
MRI vertebrae thoracal (bila perlu menggunakan kontras)
-
Pemeriksaan Tumor Marker
-
Serologi IgG Anti Tb
F. HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan darah rutin (13 April 2013)
Hb
:
9.5
g/dl
Ht
:
28,9
%
Leukosit
: 12.900 /µl
Trombosit
: 356.400 /µl
Pemeriksaan kimia darah (15 April 2013)
Glu
: 122 mg/dL
Cholesterol
: 159 mg/dL
HDL
: 37,4 mg/dL
LDL
: 77,3 mg/dL
Trigliserida
: 145 mg/dL
D Bil
: 0,5 mg/dL
T Bil
: 0,1 mg/dL
BUN
: 58 mg/dl
Ureum
: 124, 8 mg/dl
Creatinin S
: 1,89 mg/dl
Alb
: 3.0 mg/dL
(
18/4/2013)
Total T3
:0,80 mmol/ L (0.02 2.33 mmol/ L)
Total T4
: 56.44 mmol/ L ( 60-120 nmol/ L)
Free T4
: 8,64 mmol/L (9-20 nmol/ L)
LED
: 79/jam
Retikuluosit
: 0.9 %
Pemeriksaan Imunulogi (23/4/2013)
CRP
: Reaktif Titer 156 mg/ L
Pemeriksaan Elektrolit (14/4/2013)
Na
: 130 mmol/L (135-145 mmol/ L)
K
: 3,47 mmol/L (3.5-5.5 mmol/L
Cl
: 91.9 mmol/L (97-107 mmol/L)
Pemeriksaan Urinalisis (20/4/2013)
Warna
: kuning
Kejernihan
: Keruh
Protein
: (-)
Glukosa
: (-)
Bilirubin
: (-)
Urobilinogen : (0-2)
PH
:
6.0
Bj
:
1.010
Darah
: (-)
Keton
: (-)
Nitrit
: (-)
Eritrosit
: 1-3
Leukosit
: 5-6
Foto Thorak PA:
Cor : CTR < 50%, Elongasi aorta dan mediastinum superior tidak melebar, corakan
bronkovaskuler kedua paru baik, kedua hilus paru tidak menebal, tidak tampak infiltrate
dikedua lapang paru, sinus dan diafragma dextra sinistra normal, tulang dan jaringan
dinding dada baik, trakea ditengah,
Kesan: Elongasi aota
Pemeriksaan EKG
Sinus rhythm
Frekuensi 85 kali permenit
Left axis deviation
Pemeriksaan Tumor Marker
CEA
: 2,86 ng/ml (0.00-3.00 ng/ ml)
Ca125
: 24.00 U/ml (0.00-36.00 U/ml)
Ca 19.9
: 16.27 U/ml (0-19 U/ ml)
AFP
: 1.68 IU/ ml (0-2 IU/ml)
Hasil bacaan MRI Thoracal
-
Kedudukan tulang vertebra thoracal spine baik-tak tampak spondylolisthesis
-
Tampak destruksi pada corpus Th 2 yang disertai bone edema pada corpus Th 1, Th2, Th
3, Th 4
-
Pembentukan para vertebrae masa pada corpus th 2 sebesar 5x4 cm yang meluas ke
epidural yang menyebabkan penyempitan derajat sedang dan berat pada level tersebut
-
Discus relative baik
-
Medula spinalis tampak lesi hyperintense ringan pada level th 2
-
Pada pemberian kontras tampak enhance pada daerah corpus th 1-2-3-4, tak tampak
enhance medulla spinalis
Kesan :
-
Spondilitis TB pada th 1,2,3,4 terutama pada corpus th2 yang menyebabkan destrulsi
corpus th-2 dan pembentukan para vertebrae abses yang menyebabkan canalis stenosis
dan pembentuka para vertebral abses yang menyebabkan canalis stenosis derajat sedang
berat pada level tersebut
G. PENATALAKSANAAN
a. Umum
-
Tirah baring
-
Kontrol vital sign
-
Kontrol neurologis
b. Khusus
-
IVFD RL 20 gtt/menit
-
Ceftriaxon 2 x 1 gr
-
Ranitidine 2 x 1 ampul
-
Inj Methyl prednisolon 125 mg/ 6 jam
-
Inj Metilcoba 1amp/ 12 jam
FOLLOW UP
Tanggal Subjective Objective Assessment Planning
Rabu 24/4/13
- Anggota gerak bawah tidak dapat digerakkan - BAB (+) tidak bisa ditahan -Batuk (-) Sesak (-) -Kesadaran: komposmentis -GCS : E4M6V5 - Vital Sign : • TD : 120/80 mmHg • Nadi : 88 x/menit,
teratur, isian kuat
• RR : 18 x/menit • T : 36,50C •Motorik Lengan ka 5, ki 5 Tungkai ka 0, ki 0 Kateter terpasang .-Paraplegia ec susp spondilitis TB + Insufisiensi Renal + Struma non toksis IVFD RL 20 gtt/menit Ceftriaxon 2 x 1 gr Ranitidine 2 x 1 ampul terapi OAT
Konsul bedah onkologi
Kamis 25/4/13
- Anggota gerak bawah tidak dapat digerakkan - BAB (+) tidak bisa ditahan, - Batuk (-), sesak (-), demam -Kesadaran: komposmentis -GCS : E4M6V5 - Vital Sign : • TD : 120/70 mmHg • Nadi : 84 x/menit • RR : 18 x/menit • T : 36,60C •Motorik Lengan ka 5, ki 5 Tungkai ka 0, ki 0 Kateter terpasang Paraplegia ec susp spondilitis TB +Insufisiensi renal + Struma Non toksik IVFD RL 20 gtt/menit Ceftriaxon 2 x 1 gr Ranitidine 2 x 1 ampul terapi OAT lanjut
Pasien alih rawat bedah orthopedi
Jumat 26/4/13
- Anggota gerak bawah tidak dapat digerakkan - BAB (-) - Batuk (-), sesak (-), demam (-) -Kesadaran: komposmentis -GCS : E4M6V5 - Vital Sign : • TD : 120/70 mmHg • Nadi : 84 x/menit • RR : 20 x/menit • T : 36,80C •Motorik Lengan ka 5, ki 5 Tungkai ka 0, ki 0 Keteter terpasang Paraplegia ec susp spondilitis TB + Insufisiensi renal + Struma Non toksik IVFD RL 20 gtt/menit Ceftriaxon 2 x 1 gr Ranitidine 2 x 1 ampul terapi OAT lanjut konsul paru R/ operasi
Sabtu 27/4/2013
- Anggota gerak bawah tidak dapat digerakkan - BAB (+) frtekuensi 6 x/ hari ,konsistensi cair, Badan lemas - Batuk (-), sesak (-), demam (-) -Kesadaran: komposmentis -GCS : E4M6V5 - Vital Sign : • TD : 120/70 mmHg • Nadi : 84 x/menit • RR : 22 x/menit • T : 36,60C •Motorik Lengan ka 5, ki 5 Tungkai ka 0, ki 0 Keteter terpasang Paraplegia ec susp spondilitis TB + Insufisiensi renal + Struma Non toksik
IVFD Nacl 20 gtt/menit Ceftriaxon 2 x 1 gr Ranitidine 2 x 1 ampul Loperamid 3 x1 tab terapi OAT lanjut Konsul paru:
Ro thorak tidak tampak kelainan, terapi OAT lanjut, Pemeriksaan sputum sps
R/ operasi Senin
29/4/2013\ 13.00
- Anggota gerak bawah tidak dapat digerakkan - BAB (+) frtekuensi 10x/ hari ,konsistensi, cair,
-Badan lemas
- Batuk (+), dahak (+), warna putih (+) sesak (+), demam (+) --Kesadaran: komposmentis -GCS : E4M6V5 - Vital Sign : • TD : 110/70 mmHg • Nadi : 94 x/menit,
teratur, isian lemah
• RR : 25 x/menit • T : 36,90C
•Bibir kering, mata cekung, •Motorik Paraplegia ec susp spondilitis TB + Insufisiensi renal + Struma Non toksik
IVFD Nacl 0,9 % 20 g tt/menit O2 nasal kanul 3l/menit Ceftriaxon 2 x 1 gr Paracetamol 3x1 Ranitidine 2 x 1 ampul Loperamid 3x1 tab terapi OAT,\ lanjut R/ Operasi
PEMBAHASAN
I.
Paraplegia
a. Definisi
Paraplegia adalah kondisi dimana bagian bawah tubuh (extremitas bawah) mengalami
kelumpuhan atau paralysis yang disebabkan karena lesi transversal pada medulla spinalis.
1b. Epidemiologi
Diperkirakan terjadi sekitar 10.000
kasus cedera medulla spinalis dalam
setahun di Amerika Serikat, terutama
pada pria muda yang belum menikah.
Dari jumlah di atas, penyebab terbanyak
karena kecelakaan mobil. Diikuti karena
terjatuh, luka tembak dan cedera olah
raga. Penyebab non traumatik yang paling
sering menyebabkan paraplegi adalah
Spondilitis TB, tumor tulang belakang.
1c. Etiologi
Paraplegia dapat disebabkan oleh satu
dari beberapa penyebab berikut
2:
-
trauma
-
stroke
-
genetik
-
penyakit autoimun
-
tumor
II. Spondilitis TB
1.
Definisi
Spondilitis tuberkulosa (TB) adalah infeksi granulomatosis dan bersifat kronis destruktif
yang di sebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosa
yang mengenai tulang vertebra. Dikenal juga
dengan istilah
Vertebral Osteomyelitis
.
32.
Gambaran Umum
Spondilitis tuberkulosa (TB) merupakan infeksi granulomatosis dan bersifat kronis
destruktif yang di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu
Mycobacterium tuberculosa
yang
mengenai tulang vertebra.
Di beberapa negara berkembang, TB spinal masih menjadi manifestasi pada kasus TB anak
maupun dewasa, dan merupakan perhatian cukup serius karena dapat menimbulkan komplikasi
yang berat berupa gangguan neurologis berupa paraplegi. Hal ini disebabkan karena penderita
spondilitis TB biasanya datang terlambat untuk mendapatkan pengobatan dan pada pemeriksaan
klinis serta radiologis sudah ditemukan adanya kerusakan tulang belakang yang sudah lanjut dan
disertai gangguan neurologis.
Tuberkulosa sebagai suatu penyakit sistemik dapat menyerang berbagai organ termasuk
tulang dan sendi. Lesi pada tulang dan sendi disebabkan oleh penyebaran hematogen dari lesi
primer pada bagian tubuh yang lain.
Pada spondilitis TB, vertebra torakalis bagian bawah lebih sering terkena dan biasanya akan
melibatkan struktur diskus intervertebralis dan menyebar ke korpus vertebra. Manifestasi klinis
yang terjadi merupakan gejala dan tanda TB secara umum, disertai dengan gejala dan tanda
neurologis sesuai dengan level radiks spinal yang terkena.
3. Patogenesis
Infeksi
Mycobacterium tuberculosis
pada tulang selalu merupakan infeksi sekunder.
Berkembangnya kuman dalam tubuh tergantung pada keganasan kuman dan ketahanan tubuh
penderita. Reaksi tubuh setelah terserang kuman tuberkulosis dibagi menjadi lima stadium, yaitu:
1. Stadium I (Implantasi) Stadium ini terjadi awal, bila keganasan kuman lebih kuat dari daya
tahan tubuh. Pada umumnya terjadi pada daerah torakal atau torakolumbal soliter atau beberapa
level.
2. Stadium II (Destruksi awal) Terjadi 3 – 6 minggu setelah implantasi. Mengenai diskus
intervertebralis.
3. Stadium III (Destruksi lanjut dan Kolaps) Terjadi setelah 8-12 minggu dari stadium II. Bila
stadium ini tidak diterapi maka akan terjadi destruksi yang hebat dan kolaps dengan
pembentukan bahan-bahan pengejuan dan pus (
cold abscess
).
4. Stadium IV (Gangguan Neurologis) Terjadinya komplikasi neurologis, dapat berupa gangguan
motoris, sensoris dan otonom.
5. Stadium V (Deformitas dan Akibat) Biasanya terjadi 3-5 tahun setelah stadium I. Kiposis atau
gibus tetap ada, bahkan setelah terapi
4.
Diagnosis
1.
Riwayat penyakit dan gambaran klinis :
Onset penyakit biasanya beberapa bulan – tahun berupa kelemahan umum, nafsu makan
menurun, berat badan menurun, keringat malam hari, suhu tubuh meningkat sedikit pada sore
dan malam hari. Nyeri pada punggung merupakan gejala awal dan sering ditemukan. Gibus.
Cold abscess
. Abnormalitas neurologis terjadi pada 50% kasus dan meliputi kompresi
spinal
cord
berupa gangguan motoris, sensoris maupun autonom sesuai dengan beratnya destruksi
tulang belakang, kifosis dan abses yang terbentuk.
Tuberkulosis vertebra servikal jarang ditemukan tetapi mempunyai kondisi lebih serius
karena adanya komplikasi neurologis berat. Kondisi ini khususnya diikuti dengan nyeri dan
kaku. Pasien dengan penyakit vertebra servikal bawah ditemukan dengan disfagia atau stridor.
Gejala juga meliputi tortikolis, serak dan defisit neurologis.
2.
Pemeriksaan penunjang
-
Tuberkulin skin test : positif
-
Laju endap darah : meningkat
-
Mikrobiologi (dari jaringan tulang atau abses) : basil tahan asam (+)
-
X-ray :
-
destruksi korpus vertebra bagian anterior peningkatan
wedging
anteriorkolaps korpus
vertebra
-
CT scan :
menggambarkan tulang lebih detail dengan lesi
lytic
irregular, kolaps disk dan kerusakan tulang
resolusi kontras rendah menggambarkan jaringan lunak lebih baik, khususnya daerah paraspinal
mendeteksi lesi awal dan efektif untuk menggambarkan bentuk dan kalsifikasi dari abses
jaringan lunak
-
MRI
standar untuk mengevaluasi infeksi
disk space
dan paling efektif dalam menunjukkan perluasan
penyakit ke dalam jaringan lunak dan penyebaran debris tuberkulosis di bawah ligamen
longitudinalis anterior dan posterior paling efektif untuk menunjukkan kompresi neural
-
IgG anti TB
merupakan suatu pemeriksaan immunoassay kromatografi, yang spesifik untuk mendeteksi
Antigen Mycobacterium tuberculosis di dalam serum manusia atau plasma dapat dideteksi
keberadaanya pada serum penderita pada 1-2 bulan setelah infeksi bakteri Mycobacterium
tuberculosis. Test ini memiliki tingkat sensitivitas yang rendah dan spesifisitas yang cukup baik
untuk mendeteksi penyakit tuberculosis Sensitivitas pemeriksaan ICT TB adalah 53,6%, artinya
kemampuan pemeriksaan ICT TB dalam diagnosis pasien dengan hasil positif dan benar
menderita TB Paru adalahsebesar 53,6%. Spesifisitas pemeriksaan ICT TB adalah 100%, artinya
kemampuan pemeriksaan ICT TB dalam diagnosis pasien dengan hasil negatif dan benar
tidakmenderita TB paru adalah sebesar 100%.
4.
Penanganan
1.
Terapi konservatif :
•
Medikamentosa :
- Rifampisin 10-20 mg/kgBB, maksimum 600 mg/hari
- Etambutol 15 mg/kgBB, maksimum 1200 mg/hari
- Piridoksin 25 mg/kgBB
- INH 5-10 mg/kgBB, maksimum 300 mg/har
- Etambutol diberikan dalam 3 bulan, sedangkan yang lain diberikan dalam 1 tahun.
Semua obat diberikan sekali dalam sehari.
•
Imobilisasi
•
Pencegahan komplikasi imobilisasi lama
-
turning
tiap 2 jam untuk menghindari ulkus dekubitus
- latihan luas gerak sendi untuk mencegah kontraktur
- latihan pernapasan untuk memperkuat otot-otot pernapasan dan mencegah terjadinya
orthostatik pneumonia
- latihan penguatan otot
- bladder training dan bowel training bila ada gangguan
- mobilisasi bertahap sesuai dengan perkembangan penyakit
- Program aktivitas hidup sehari-hari sesuai perkembangan penyakit
2. Operasi
Indikasi operasi :
- adanya abses paravertebra
- deformitas yang progresif
- gangguan fungsi paru yang progresif
- kegagalan terapi konservatif dalam 3 bulan
- terjadi paraplegia dan spastisitas hebat yang tidak dapat dikontrol
Kontra-indikasi operasi : kegagalan pernapasan dengan kelainan jantung yang membahayakan
operasi Secara garis besar tindakan operatif dibagi menjadi :
a. Debridement
Dilakukan evaluasi pus, bahan kaseous dan sekuestra tanpa melakukan tindakan apapun pada
tulangnya.
b. Operasi radikal
Eksisi dilakukan dari atas sampai ke bawah meliputi seluruh tulang belakang yang rusak, hingga
mencapai daerah yang sehat dan posterior mencapai duramater. Dilanjutkan dengan
grafting
yang diambil dari kosta atau tibia. Pada umumnya meliputi
anterior radical focal debridement
dan stabilisasi dengan instrumentasi.
Prognosis spondilitis tuberculosis dengan terapi pengobatan ataupun pembedahan cukup efektif
disertai dengan deformitas yang berat atau deficit neurologis. Resistensi pengobatan merupakan
factor yang signifikan dalam menentukan keluaran pasien. Paraplegi yang diakibatkan oleh
kompresi korda spinalis biasanya memberikan respon yang baik terhadap kemoterapi tidak
memberikan perbaikan, operasi dekompresi dapat membantu memperbaiki kondisi keluaran
pasien. Paraplegi dapat terjadi selama prose penye\mbuhan karena kerusakan permanen. Untuk
spondilitis dengan paraplegia awal, prognosis untuk kesembuhan saraf lebih baik sedangkan
spondilitis denganparaplegia akhir, prognosis biasanya kurang baik. Apabila paraplegia
disebabkan oleh mielitis tuberkulosa prognosisnya ad functionam juga buruk (Lindsay, 2008)..
III. Vertebral Metastases
Metastasis ke tulang belakang adalah masalah umum dalam onkologi. Antara 5% dan
10% dari semua pasien kanker menunjukkan metastasis tulang belakang selama perjalanan
penyakitnya. Intervensi terapi dapat mengurangi rasa sakit, memelihara atau meningkatkan
fungsi neurologis, mencapai stabilitas mekanik, mengoptimalkan kontrol tumor lokal, dan
Diagnosis dini metastasis tulang belakang penting karena hasil fungsional tergantung
pada kondisi neurologis pada saat awal ditemukan. Nyeri punggung, merupakan gejala paling
umum pada pasien dengan tumor metastasis ke tulang atau ruang epidural, yang sering
mendahului perkembangan gejala neurologis lainnya. Nyeri punggung bahkan ditemukan dalam
hitungan tahun setelah diagnosis kanker ditegakkan.
4Gejala neurologis dan tanda-tanda sering dimulai dengan radiculopathy (gejala akar
saraf) dan diikuti oleh mielopati (kompresi sumsum tulang belakang). Radiculopathy di tulang
belakang leher atau lumbar menyebabkan nyeri atau kelemahan pada ekstremitas atas atau
bawah.
4Myelopathy dimulai dengan hyperreflexia, refleks Babinski dan clonus, namun
berkembang menjadi kelemahan, kehilangan sensori proprioseptif, dan hilangnya rasa sakit dan
suhu di bawah tingkat kompresi sumsum tulang belakang. Disfungsi otonom mungkin akibat dari
kompresi saraf tulang belakang atau cauda equina kompresi. Terisolasi hilangnya fungsi usus
dan kandung kemih tanpa adanya motor atau gejala sensorik paling sering hasil dari kompresi di
conus medullaris (ujung dari sumsum tulang belakang di sekitar L1) atau tumor sakral. Di
segmen lain dari sumsum tulang belakang, hilangnya fungsi otonom sering merupakan temuan
akhir.
4MRI telah berkembang sebagai metode diagnostik pilihan pada pasien ini karena kontras
jaringan yang sangat baik pada tulang belakang. Kemajuan ini sangat bermakna dalam
penegakan diagnosis yang akurat untuk pengobatan yang tepat dan penentuan prognosis.
5Pengobatan pilihan untuk tumor tulang metastatik meliputi terapi radiasi, operasi, dan
kemoterapi.
4Dosis radioterapi standar untuk paliatif pada metastasis tulang belakang adalah
fraksi cGy sehari 300 dengan dosis total 3.000 cGy. Dosis tinggi radioterapi dapat meningkatan
risiko mielopati patologis. Peran pembedahan dalam pengobatan metastasis tulang belakang
masih sedang diperdebatkan. Laminektomi sebagai terapi awal maupun dengan radiasi adjuvant
menghasilkan hasil yang kurang memuaskan. Kemoterapi memiliki peran penting dalam
pengobatan tumor chemosensitive, seperti neuroblastoma, sarkoma Ewing (PNET), sarkoma
utama untuk pasien dengan tumor bahkan dengan kompresi epidural. Bedah dan radioterapi
dapat digunakan sebagai terapi tambahan untuk tumor sisa radiografi.
5IV Spinale Shock
Spinale Shock adalah transeksi neural axis pada spinal cord ( medulla spinalis ) dengan
gejala semua reflex spinal hilang, potensial membran istirahat dari neuron motorik spinal naik 2
– 6 mv, berhenti impuls – impuls excitasi dari central yg lebih tinggi dengan durasi shock spinal
pada manusia lebih kurang 2 minggu – 3 bulan
A. Dasar diagnosis
a. Dasar diagnosis klinis:
- Mielopati thoracal + Insufisiensi renal + Struma non Toksik
Mielopati thoracal ditegakkan karena dari anamnesis didapatkan adanya nyeri pada
punggung pasien yang mendahului adanya gangguan motorik dan otonom. Kemudian
didapatkan adanya rasa lemah dan berat pada tungkai yang secara progresif menyebabkan
tidak dapat digerakkannya kedua anggota gerak bawah pasien. Dari pemeriksaan fisik
juga tidak ditemukan adanya paraplegia UMN yang dibuktikan dengan adanya reflek
patologis yang negatif, tidak ditemukannya reflek fisiologis pada tungkai bawah dan
tonus yang menurun pada tungkai pasien. Juga didapatkan adanya ganguan sensorik
setinggi thoracal II. Pasien belum mengeluhkan adanya tanda-tanda gagal ginjal tetapi
dari pemeriksaan faal ginjal terdapat peningkatan kadar ureum darah. Di leher pasien
juga ditemukan pembengkakan pada kelenjar tiroid yang dari riwayat pembesarannya
telah sejak kecil homon, pemeriksaan homon tiroid normal rendah
b. Dasar diagnosis topik:
Segmen thoracal II medulla spinalis
Pada pasien tidak ditemukan paraplegia UMN, klinis yang didapatkan adalah reflek
patologis yang negative. Tidak ditemukan gejala UMN pada pasien dikarenakan adanya
c. Dasar diagnosis etiologik:
Spondilitis TB
Manifestasi klinis nyeri pada punggung, adanya penurunan berat badan yang bermakna,
dan adanya paraplegia akibat kompresi medulla spinalis juga dapat disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis. Perlu pemeriksaan serologis Anti Ig G Tuberkulosis pada
pasien ini untuk memastikan etiologinya
d. Dasar diagnosis banding:
Keganasan karena pada pasien didapatkan adanya mielopati thoracal.
Diagnosis akhir
Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, tumor marker dan MRI thoracal, ditegakkan
diagnosis akhir:
-
spondilitis Tb
B. Dasar anjuran pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium darah rutin
: untuk mengetahui keadaan umum pasien.
b. Pemeriksaan laboratorium kimia darah
: untuk menilai fungsi organ-organ lain.
c. Rontgen thorax
: pasien usia tua, untuk mendukung kecurigaan etiologic dan melihat
progresivitas dari penyakit pasien (metastasis).
d. Rontgen thoracal AP-lateral
: mendukung kecurigaan etiologic pada segmen thoracal
termasuk menilai struktur tulang.
e. Pemeriksaan tumor marker
: untuk mendeteksi protein spesifik tumor. Karena dari
gejala klinis mengarah ke tumor ekstramedular.
f. MRI thoracal (bila perlu dengan kontras): untuk mendukung kecurigaan etiologi
penyakit pada pasien (keganasan).
h. Pemeriksaan IgG Anti TB
: untukk mendukung etiologi dari mielopati pada pasien. Jika
positif berarti ditemukan penyebab dari mielopati pada pasien berupa infeksi yang di
sebabkan kuman M. Tuberkulosis
Senin 29/4/ 2013
Pasien meninggal dunia dengan keluhan diare sejak 3 hari sebelumnya, BAB > 5
x hari, dengan intake cairan yang kurang
Terapi cairan yang diberikan hanya RL dan Nacl 0,9% 20 gtt/ mnt seharusnya
diberikan resusitasi cairan adekuat
Caian maintenance + Insisible lost pada pasien
BB> 20 kgè
1500 + 20 cc x 65 kg (BB)/ 24 jam
è2800/ 24 jam
Diare 10 x /hari x 50 cc= 500 cc/24 jam