• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1. Teknik Industri

Definisi teknik industri menurut institute of industrial engineers (IIE) adalah suatu rekayasa yang berkaitan dengan desain, pembaruan, dan instalasi dari sistem terintegrasi yang meliputi manusia, material, peralatan (mesin), energi dan informasi. Serta mencakup pengetahuan khusus dan keahlian dalam matematika, fisika, dan studi sosial bersama dengan prinsip dan metode analisa teknik dan desain untuk menspesifikasi, memprediksi, dan evaluasi hasil yang ingin dicapai dari sistem.

2.2. Konsep Supply chain

Menurut Pujawan (2005, p5), supply chain adalah jaringan perusahaan – perusahaan yang secara bersama – sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir, kegiatan dari supply chain ini dimulai dari pasokan bahan baku dari supplier, kegiatan produksi hingga pendistribusian produk hingga ke konsumen akhir. Pada suatu supply chain biasanya terdapat tiga macam yaitu aliran barang yang mengalir dari hulu atau upstream menuju ke hilir atau yang disebut downstream. Contohnya adalah bahan baku yang dikrim dari supplier ke pabrik, setelah itu diproduksi yang kemudian dikirim ke distributor, ke pengecer dan akhirnya ke konsumen akhir. Aliran kedua yaitu aliran uang dari hilir ke hulu. Untuk aliran ketiga yaitu aliran informasi yang terjadi dari hilir ke hulu atau sebaliknya.

(2)

Gambar 2.1 Contoh Jaringan Supply chain

Menurut pujawan (2005, p9), terdapat empat bagian utama dalam sebuah manufaktur yang biasa terkait dengan fungsi – fungsi utama supply chain.

Tabel 2.1 Cakupan fungsi utama Supply chain

Bagian Cakupan kegiatan

Pengembangan produk (Product development)

Melakukan riset pasar, merancang produk baru, melibatkan supplier dalam perancangan produk baru.

Pengadaan (Procurement) Meimilih supplier, mengevaluasi kinerja supplier, melakukan pembelian, memonitor supply, membina dan memelihara hubungan dengan supplier.

Perencanaan dan

pengendalian (Planning and control)

Demand planning, peramalan permintaan, perencanaan kapasitas, perencanaan produksi dan persediaan

Produksi (Production) Ekseskusi produksi, pengendalian kualitas

(3)

pengiriman, mencari dan memelihara hubungan dengan perusahaan jasa pengiriman, memonitor service level di tiap pusat distirbusi.

2.3. Multi Criteria Decision Making

Multi-criteria decision making (MCDM) merupakan teknik analisa dan pengambilan keputusan dari beberapa pilihan alternatif yang ada. Di dalam MCDM ini mengandung unsur attribute, obyektif, dan tujuan.

Attribute menerangkan, memberi ciri kepada suatu obyek. Misalnya tinggi,

panjang dan sebagainya.

• Obyektif menyatakan arah perbaikan atau kesukaan terhadap attribute, misalnya memaksimalkan umur, meminimalkan harga, dan sebagainya. Obyektif dapat pula berasal dari attribute yang menjadi suatu obyektif jika pada attribute tersebut diberi arah tertentu.

• Tujuan ditentukan terlebih dahulu. Misalnya suatu proyek mempunyai obyektif memaksimumkan profit, maka proyek tersebut mempunyai tujuan mencapai profit 10 juta/bulan.

Kriteria merupakan ukuran, aturan-aturan ataupun standar-standar yang memandu suatu pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dilakukan melalui pemilihan atau memformulasikan atribut-atribut, obyektif-obyektif, maupun tujuan-tujuan yang berbeda, maka atribut, obyektif maupun tujuan dianggap sebagai kriteria. Kriteria dibangun dari kebutuhan-kebutuhan dasar manusia serta nilai-nilai yang diinginkannya. Ada dua macam kategori dari Multi-criteria decision making (MCDM), yaitu :

(4)

1. Multiple Objective Decision Making (MODM)

Multiple Objective Decision Making (MODM) menyangkut masalah perancangan (design), di mana teknik-teknik matematik optimasi digunakan, untuk jumlah alternative yang sangat besar (sampai dengan tak berhingga) dan untuk menjawab pertanyaan apa (what) dan berapa banyak (how much).

2. Multiple Attribute Decision Making (MADM)

Multiple Attribute Decision Making (MADM), menyangkut masalah pemilihan, di mana analisa matematis tidak terlalu banyak dibutuhkan atau dapat digunakan untuk pemilihan hanya terhadap sejumlah kecil alternatif saja. Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan bagian dari teknik MADM.

2.4. Analytical Hierarchy Process

Analytical Hierarchy Process (AHP) merupakan satu model yang fleksibel yang memungkinkan orang per orang atau kelompok untuk membentuk gagasan-gagasan dan membatasi masalah dengan asumsi mereka sendiri dan menghasilkan solusi yang bagi mereka (Saaty L. Thomas, Decision Making for Leaders; The Analytical Hierarchy Process for Decision in Complex World, 1988). Metode AHP dikembangkan pada awal tahun 1970-an oleh Dr. Thomas L. Saaty dan telah digunakan untuk membantu para pembuat keputusan dari berbagai negara dan perusahaan. Menurut Saaty (1993, p23) AHP adalah suatu model yang luwes yang memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok untuk membangun gagasan-gagasan dan mendefinisikan persoalan dengan cara membuat asumsi mereka masing-masing dan memperoleh pemecahan yang diinginkan darinya. AHP memasukkan pertimbangan dan nilai-nilai seacara logis.

(5)

Proses ini bergantung pada imajinasi, pengalaman dan pengetahuan untuk menyusun hierarki suatu masalah dan pada logika, intuisi, pengalaman, dan pengetahuan untuk memberi pertimbangan. Setelah diterima dan diikuti, AHP menunjukkan bagaimana menghubungkan elemen-elemen dari satu bagian masalah dengan elemen-elemen dari bagian lain untuk memperoleh hasil gabungan. Prosesnya adalah mengidentifikasi, memahami, dan menilai interaksi-interaksi dari suatu sistem sebagai satu keseluruhan.

Gambar 2.2 Contoh problem hierarchy pada AHP Ada tiga prinsip dasar dari AHP yaitu :

1. Menggambarkan dan menguraikan secara hierarkis yang kita sebut menyusun secara hierarki – yaitu, memecah-mecah persoalan menjadi unsur-unsur atau kriteria – kriteria yang yang lebih kecil.

2. Penetapan prioritas dan sintesis, yang kita sebut penetapan prioritas, yaitu menentukan peringkat prioritas elemen - elemen menurut relativitas kepentingnya. Konsistensi logis – yaitu, menjamin bahwa semua elemen

(6)

dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis.

Prinsip kerja AHP adalah menyederhanakan masalah kompleks yang tidak terstruktur, strategik dan dinamik menjadi bagian-bagiannya, serta menata variabel dalam suatu hierarki (tingkatan). Kemudian tingkat kepentingan variabel diberi nilai numerik secara subyektif tentang arti pentingnya secara relatif dibandingkan dengan variabel lain. Dari berbagai pertimbangan tersebut kemudian dilakukan sintesa untuk menetapkan variabel yang memiliki prioritas tertinggi dan berperan untuk mempengaruhi hasil pada sistem tersebut. Perbedaan antara model AHP dengan model pengambilan keputusan lainnya terletak pada jenis inputnya Model AHP memakai presepsi manusia yang dianggap ‘ekspert atau ahli’ sebagai input utamanya. Kriteria ekspert disini orang yang mengerti benar permasalahan yang dilakukan, merasakan akibat suatu masalah atau punya kepentingan terhadap masalah tersebut. Pengukuran hal-hal kualitatif merupakan hal yang sangat penting mengingat makin kompleksnya permasalahan didunia dan tingkat ketidakpastian yang makin tinggi. Selain itu dalam AHP diuji konsistensi penilaiannya. Bila terjadi penyimpangan yang terlalu jauh dari nilai konsistensi sempurna maka penilaian perlu diperbaiki atau hierarki harus distruktur ulang.

Manfaat dan keuntungan dari AHP : • Kesatuan

AHP memberi satu model tunggal yang mudah dimengerti dan ini merupakan satu kesatuan, luwes untuk aneka ragam persoalan tak terstruktur

(7)

• Kompleksitas

AHP memadukan ancangan deduktif dan ancangan berdasarkan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks.

• Saling ketergantungan

AHP dapat menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalam suatu sistem dan tak memaksakan pemikiran linear.

• Penyusunan hierarki

AHP mencerminkan kecendrungan alami pikiran untuk memilah-milah elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa dalam setiap tingkat.

• Pengukuran

AHP memberikan suatu skala untuk mengatur hal-hal dan wujud suatu metode untuk menetapkan prioritas.

• Konsistensi

AHP melacak konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas.

• Sintesis

AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap alternatif.

• Tawar menawar

AHP mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor system dan memungkinkan orang memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan-tujuan mereka.

(8)

• Penilaian dan konsensus

AHP tidak memaksakan konsensus tetapi mensintesis suatu hasil yang representatif dari berbagai penilaian yang berbeda-beda.

• Pengulangan proses

AHP memungkinkan orang memperhalus definisi mereka pada suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian mereka melalui pengulangan.

2.5. Fuzzy AHP

Alat bantu pengambilan keputusan biasanya bertujuan untuk dapat mengakomodir konflik pendapat dan subjektivitas dari penilaian beberapa orang yang berbeda. Tidak seperti pengambilan keputusan sederhana (yang hanya terdiri dari satu kriteria), pada dunia nyata pastilah banyak kriteria dan altenatif yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Hal ini membuat proses pengambilan keputusan semakin rumit karena terjadinya konflik pendapat seperti ketidak samaan pendapat mengenai tingkat prioritas dari setiap kriteria. Oleh karena itu AHP yang mampu memecah masalah kompleks menjadi elemen – elemen yang lebih kecil dalam bentuk hierarki yang lebih sederhana dinilai dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dengan jumlah kriteria yang lebih dari satu atau yang sering disebut multi criteria decision making.

Namun pada perkembangan selanjutnya AHP dinilai masih memiliki beberapa kelemahan yaitu ketidakmampuan untuk meng-capture kesamaran (vagueness), ketidakpastian, ketidaktepatan dan subjektivitas pada penilaian yang dilakukan oleh beberapa orang. M Buckley (dalam Hsieh,2004) mengembangkan konsep Fuzzy AHP (FAHP) yaitu pengembangan dari AHP dengan

(9)

mengintegrasikan AHP dengan fuzzy synthectic evaluation (FSE). Pada FAHP menggunakan rasio fuzzy untuk menggantikan rasio eksak pada AHP dan juga digunakan operasi dan logika matematika fuzzy untuk menggantikan operasi matematika biasa pada AHP. Pengguna rasio fuzzy pada FAHP karena ketidakmampuan AHP untuk mengakomodir faktor ketidaktepatan (imprecision) dan subjektivitas pada proses pairwise comparison atau perbandingan berpasangan untuk setiap kriteria dan altenatif. Oleh karena itu digunakanlah rasio fuzzy yang terdiri dari tiga nilai yaitu nilai tertinggi (nilai atas), nilai rata – rata (nilai tengah) dan nilai terendah (nilai bawah). Rasio fuzzy yang terdiri dari tiga nilai keanggotaan biasanya disebut triangural fuzzy number (TFN).

Terdapat beberapa variasi FAHP dan berikut merupakan beberapa jenis FAHP yang telah dikembangkan :

1. Var Laarhoven dan Pedrycz (1983) menerapkan triangural fuzzy number pada rasio perbandingan berpasangan. Hal ini yang mengawali munculnya metode Fuzzy AHP.

2. Kristianto (2002) mengajukan suatu model FAHP yang berbasis pada Fuzzy quantification theory dimana aspirasi para evaluator yang berbentuk crisp diubah menjadi bentuk fuzzy untuk dicari fungsi keanggotaannya. Model ini masih menganggap aspirasi evaluator crisp dan metode pengkuantisiran melibatkan operasi komputasi yang rumit.

3. Rahardjo (2002) mengajukan model FAHP dengan model pembobotan

non-additive yang merupakan gabungan dari bobot prior dan bobot informasi.

(10)

pembobotan fuzzy entropy. Model tersebut menggunakan satu evaluator dan pembobotan fuzzy-nya melibatkan operasi komputasi yang rumit.

4. Singgih (2005) mengajukan model FAHP yang merupakan pengembangan dari Rahardjo (2002) dimana dapat menggunakan lebih satu evaluator.

2.5.1. Triangural Fuzzy Number

Triangural fuzzy number (TFN) merupakan dasar dari metode FAHP, dimana TFN akan digunakan pada semau rasio perbandingan pada FAHP. TFN adalah sebuah fuzzy subset dari bilangan real, menyatakan pengembangan ide interval kepercayaan. TFN ini terdiri dari tiga fungsi keanggotaannya yaitu yang menyatakan nilai terendah, nilai tengah dan nilai tertinggi yang dinotasikan dengan (l;m;u). Fungsi keanggotaan dari fuzzy number adalah sebagai berikut :

0, ( ) / ( ), , ( ) ( ) / ( ), , 0, x l x l m l l x m µ x u x u m m x u x u < ⎧ ⎪ − − ≤ ≤ ⎪ = ⎨ ≤ ≤ ⎪ ⎪ >

Dimana l adalah nilai terendah atau batas bawah, u nilai tertinggi atau batas atas dan m adalah nilai tengah. Untuk lebih jelas dapat dilihat gambar dibawah ini.

(11)

Terdapat juga satu variasi dari TFN yang sering dipakai yaitu symmetric

triangular fuzzy number. Symmetric TFN memiliki prinsip yang sama dengan

TFN dimana terdiri dari tiga keanggotaan (l ; m ; u) yang membedakan adalah rentang antara nilai tertinggi dan nilai tengah sama besar dengan rentang antara nilai bawah dan nilai dengan notasi matematis sebagai berikut (m - l) = (u - m). Untuk lebih jelas dapat dilihat gambar dibawah ini.

Gambar 2.4 Rasio fungsi keanggotaan Symmetric Triangular Fuzzy Number 2.5.2. Operasi Matematika Triangular Fuzzy Number

Berikut merupakan operasi matematika untuk notaso TFN. Untuk 1 1 1

( ; ; )

A% = l m u dan B%=( ;l m u2 2; )2 maka operasi matematikanya ada sebagai berikut :

1. Penjumlahan bilangan fuzzy 1 1 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 ( ; ; ) ( ; ; ) ( ; ; ) A B l m u l m u l l m m u u + = + = + + + % %

2. Perkalian bilangan fuzzy 1 1 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 ( ; ; ) ( ; ; ) ( ; ; ) A B l m u l m u l l m m u u ⊗ = ⊗ = ⊗ ⊗ ⊗ % %

(12)

3. Pengurangan bilangan fuzzy 1 1 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 ( ; ; ) ( ; ; ) ( ; ; ) A B l m u l m u l u m m u l − = − = − − − % %

4. Pembagian bilangan fuzzy 1 1 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 / ( ; ; ) ( ; ; ) ( / ; / ; / ) 0, 0 0 i i i A B l m u l m u l u m m u l untuk l m dan u = − = > > > % %

5. Inversi bilangan fuzzy

1 1 1 1 1 1 1 1 ( ; ; ) (1 ;1 ;1 ) 0, 0 0 i i i A l m u u m l untuk l m dan u= − = > > > % 2.5.3. Variabel linguistik

Variabel linguistik adalah sebuah variabel dimana nilainya berupa kata-kata atau kalimat dalam bahasa alami atau buatan. Disini akan digunakan pernyataan untuk membandingkan dua kriteria dengan lima istilah lingustik dasar diantaranya “paling penting”, “sangat penting”, “lebih penting”, “sedikit lebih penting”, dan “sama penting” yang mengacu pada lima level skala fuzzy (gambar 2.5). Teknik komputasinya didasarkan pada bilangan fuzzy yang didefinisikan oleh Mon (Hsieh, 2004) seperti pada tabel 2.2. Setiap fungsi keanggotaan (skala bilangan fuzzy) didefinisikan oleh tiga parameter TFN simetris, titik kiri, titik tengah dan titik kanan pada interval dimana fungsi tersebut didefinisikan. Penggunaan variabel linguistik disini ditujukan untuk mengkaji prioritas linguistik yang diberikan oleh evaluator. Selain itu variabel linguistik juga dipergunakan untuk mengukur nilai performansi alternatif untuk kriteria dengan

(13)

istilah linguistik “sangat baik”, “baik”, “biasa”, “jelek”, dan “sangat jelek” seperti pada gambar 2.5.

Tabel 2.2 Keanggotaan variable lingustik Skala Bilangan Skala Lingustik Skala Bilangan Fuzzy 1 ~ Sama Penting (SmP) (1 ; 1 ; 3) 3

~ Sedikit Lebih Penting (SdP) (1 ; 3 ; 5) 5

~ Lebih Penting (LbP) (3 ; 5 ; 7)

7

~ Sangat Penting (SaP) (5 ; 7 ; 9)

9

~ Paling Penting (PaP) (7 ; 7 ; 9)

1

3

~− ~Sedikit Lebih Penting (~SdP) (1/5 ; 1/3 ; 1/1)

1

5

~− ~Lebih Penting (~LbP)` (1/7 ; 1/5 ; 1/3)

1

7

~− ~Sangat Penting (~SaP) (1/9 ; 1/7 ; 1/5)

1

9

~− ~Paling Penting (~PaP) (1/9 ; 1/7 ; 1/7)

Gambar 2.5 Fungsi keanggotaan variabel linguistik untuk membandingkan dua kriteria

Gambar 2.6 Contoh fungsi keanggotaan variable lungistik untuk nilai pengukuran alternatif

(14)

2.5.4. Metodologi Fuzzy AHP

Metodologi untuk menjelaskan bobot kriteria evaluasi dengan fuzzy AHP dapat diterangkan sebagai berikut:

1. Decomposition

Decompositionsi yaitu tahap memecah probel menjadi elemen – elemen yang lebih kecil sehingga problem yang kompleks menjadi lebih sederhana. Jika ingin mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan juga dilakukan terhadap unsur - unsurnya sampai tidak mungkin dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan tadi. Karena alasan ini, maka proses analisis ini dinamakan hierarki (Hierarchy). Ada dua jenis hierarki, yaitu lengkap dan tak lengkap. Dalam hierarki lengkap, semua elemen pada suatu tingkat memiliki semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya. Jika tidak demikian maka dinamakan hierarki tidak lengkap.

2. Matrix Comparison

Menyusun matrix perbandingan berpasangan diantara semua elemen atau kriteria dalam dimensi sistem hierarki.

12 1 21 2 1 2 1 1 1 n n n n a a a a A a a ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ % K % % K % % M M O M % % K 12 1 21 2 1 2 1 1 1 1 1 1 n n n n a a a a A a a ⎡ ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ % K % % K % % M M O M % % K dimana

(15)

1 1 1 1 1 1,3,5,7,9

1

1 ,3 ,5 ,7 ,9 ij

Kriterai i lebih penting terhadap kriteria j

a i j

Kriterai j lebih penting terhadap kriteria i

− − − − − ⎧ ⎪ = = ⎪ ⎩ %

3. Dari matrix comparison atau PCM yang dihasilkan, akan di hitung consistency ratio (CR) untuk mengetahui apakah hasil pembobotan PCM telah konsisten atau belum. Dimana PCM dikatakan konsisten dengan syarat CR < 0,1. Perhitungan CR dapat menggunakan rumus matematik

max 1 n CI n λ − =

− ... (1) rumus dari consistency index (CI) CI

CR RI

= ... (2) rumus dari consistency ratio (CR),

RI : random consistency index

Tabel 2.3 Tabel random consistency index

n 3 4 5 6 7 8

RI 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 4. Konversi dari PCM skala bilangan menjadi PCM skala fuzzy. 5. Menghitung elemen matriks synthetic pairwise comparison.

(

n

)

n ij ij ij ij a a a a 1 2 1/ ~ = × ×L× 6. Fuzzy Weight

Mendefinisikan rata-rata geometris fuzzy dan bobot fuzzy setiap kriteria dengan rata-rata menggunakan metoda Buckley (1985) sebagai berikut:

1 2 i i i in r% =a% ⊗a% ⊗ ⊗L a% 1 1 ( ) i n w% = ⊗r% r% + +L r% −

(16)

dimana a%in adalah nilai synthetic pairwise comparison fuzzy dari kriteria i ke kriteria n, r%i adalah rata-rata geometris dari nilai perbandingan fuzzy kriteria i terhadap setiap kriteria, dan w%i adalah bobot fuzzy dari kriteria ke i, n adalah jumlah kriteria yang dibandingkan dan dapat diindikasikan dengan TFN

( ; ; )

i i i i

w% = lw mw uw .lwi, mwi,dan uwi masing-masing adalah nilai bawah, tengah, dan atas dari bobot fuzzy kriteria ke i.

7. Alternative Assesment

Mengukur variabel linguistik untuk menunjukkan performansi kriteria dengan ungkapan “sangat baik”, “baik”, “biasa”, “jelek”, dan “sangat jelek” yang merupakan penilaian subyektif dari evaluator, dan setiap variabel linguistic diindikasikan dengan TFN dalam skala 0-100 seperti pada gambar 2.5. Evaluator juga dapat menetapkan skala variabel linguistiknya berdasarkan subjektifitasnya yang dapat mengindikasikan fungsi keanggotaan nilai yang dinyatakan oleh masing-masing evaluator. Jika k

ij

E% adalah nilai performansi fuzzy dari evaluator k terhadap alternatif i pada kriteria j maka kriteria evaluasi dinyatakan dalam k ( k; k; k)

ij ij ij ij

E% = lE mE uE% % % . Jika terdapat n evaluator maka integrasi nilai keputusan fuzzy-nya adalah:

1 2

(1 ) ( n)

ij ij ij ij

E% = nE% +E% + +L E%

ij

E% menunjukkan rata-rata nilai fuzzy dari penilaian pengambil keputusan yang dapat dinyatakan dengan TFN sebagai E%ij =(lE mE uE%ij; %ij; %ij) yang

(17)

1 ( m k) ij ij k lE lE n = =

% % 1 ( m k) ij ij k mE mE n = =

% % 1 ( ) m k ij ij k uE uE n = =

% %

8. Fuzzy Synthetic Decision

Bobot setiap kriteria dan nilai performansi fuzzy harus diintegrasikan dengan perhitungan bilangan fuzzy untuk dijadikan nilai performansi fuzzy. Berdasarkan bobot setiap kriteria w%j yang diperoleh dari pembobotan fuzzy dan matriks performansi fuzzy dapat diperoleh matriks fuzzy synthetic decision sebagai berikut R%= ⊗E% w%. Pendekatan nilai fuzzy R%i terwakili oleh

( ; ; ) i i i i R% = lR mR uR , dimana : n i ij j j i lR lE lw = =

⊗ , n i ij j j i mR mE mw = =

⊗ , n i ij j j i uR uE uw = =

⊗ . 9. Fuzzy Ranking

Hasil fuzzy synthetic decision yang dicapai oleh setiap alternatif merupakan bilangan fuzzy. Oleh karena itu diperlukan metoda pe-ranking-an nonfuzzy pada bilangan fuzzy yang diterapkan pada perbandingan setiap alternatif. Dengan kata lain prosedur de-fuzzy-fikasi untuk memperoleh nilai Best

(18)

Nonfuzzy Performance (BNP). Berbagai metoda de-fuzzy-fikasi dapat diterapkan antara lain mean of maxima (MOM), center of area (COA), dan α-cut. Penggunaan metoda COA untuk memperoleh BNP lebih sederhana dan praktis, tidak memerlukan preferensi evaluator. Nilai BNP dari bilangan fuzzy R%idapat diperoleh dengan persamaan berikut:

[( ) ( )] / 3

i i i i i

BNP = uRlR + mRlR

Dari BNP maka pe-ranking-an setiap alternatif dilakukan berdasarkan BNP dari setiap alternatif. BNP yang paling tinggi merupakan nilai performa tertinggi.

2.6. Sistem

Sistem menurut McLeod, Jr (2001, p11) adalah sekelompok elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan menurut Mathiassen (2000, p9) mengatakan bahwa sistem adalah kumpulan komponen yang mengimplementasikan kebutuhan fungsi dan antar muka permodelan.Pendapat lain mengenai sistem dikemukakan oleh Romney dan Steinbart (2006, p2), yakni rangkaian dari dua atau lebih komponen-komponen yang saling berhubungan, yang berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu.Dari definisi-definisi tersebut dapat diketahui bahwa sistem merupakan sekumpulan komponen-komponen yang terintegrasi dan berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu.

2.7. Informasi

Menurut Romney dan Steinbart (2006, p11), informasi adalah data yang telah diatur dan diproses untuk memberikan arti. Informasi menurut O’Brien

(19)

(2003, p13) adalah data yang telah diubah bentuknya menjadi lebih berarti dan berguna bagi pengguna-pengguna khusus. Kalau menurut McLeod, Jr (2001, p4), informasi adalah suatu data yang telah diproses, atau data yang telah memiliki arti.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa informasi adalah sekumpulan data yang telah diatur dan diproses sehingga menghasilkan suatu arti bagi pemakainya.

Ada tiga buah dimensi atribut dari kualitas informasi menurut O’Brien (2003, p16), yaitu:

1. Dimensi Waktu (Time Dimension)

Informasi harus disediakan ketika dibutuhkan, harus up-to-date ketikadisajikan, harus disajikan sesering mungkin ketika dibutuhkan dan harus dapat menyajikan data masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.

2. Dimensi Isi (Content Dimension)

Informasi harus dapat disajikan secara akurat, harus relevan, dan harus dapat disediakan secara lengkap sesuai kebutuhan

3. Dimensi Bentuk (Form Dimension)

Informasi harus dapat disajikan dengan cara yang mudah dipahami, bisa ditampilkan dalam bentuk tulisan, angka, grafik dan bentuk-bentuk lainnya, informasi dapat disajikan pada media kertas, video atau media lainnya. 2.8. Sistem Informasi

Menurut Turban (2001, p17), sistem informasi adalah mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisa dan menyebarkan informasi untuk tujuan tertentu. Menurut O’Brien (2003, p7) sistem informasi adalah kombinasi yang terorganisir dari orang, hardware, software, jaringan komunikasi dan sumber-sumber data yang mengumpulkan, mengubah dan menyebarkan informasi dalam

(20)

suatu organisasi. Menurut Mcleod (2001, p4), sistem informasi adalah suatu kombinasi yang terorganisasi dari manusia, perangkat lunak, perangkat keras, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang mengumpulkan, mentransformasikan, serta menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem informasi adalah kombinasi yang terorganisir dari orang, hardware, software yang mengumpulkan, memproses dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu dalam suatu organisasi.

Terdapat empat jenis sistem informasi, yaitu :

1. Transaction Processing System (TPS)

2. Management Information System (MIS)

3. Decision Suppoert System (DSS)

4. Executive Information System (EIS)

5. Expert System (ES)

6. Enterprise Information System (EIS) 2.9. Management Information System

Management Information System (MIS) atau sering sistem informasi

manajemen (SIM) dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan pendapat Mcleod (2001, p4) sistem informasi manajemen dapat didefinisikan sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi pemakainya sesuai dengan kebutuhan. Para pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal (perusahaan atau subunit dibawahnya). Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang telah terjadi di masa lalu, apa yang sedang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Informasi

(21)

tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus, dan keluaran dari simulasi matematika. Keluaran informasi tersebutlah yang akan digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah.

2.10. Decision Support System

Decision Support System (DSS) sering didefinisikan sebagai suatu sistem informasi yang digunakan untuk membantu manajer untuk membuat suatu keputusan. Penggunaan DSS lebih banyak digunakan pada tingkat manajerial dimana DSS hanya memberikan informasi dimana keputusan tetap di tangan manajer. Menurut Haag (2005, p183) DSS merupakan suatu sistem teknologi informasi yang sangat fleksibel dan interaktif, yang didesain untuk mendukung proses pengambilan keputusan pada saat menghadapi masalah yang semi terstuktur dan tidak terstruktur.

Menurut Turban (2000, p99), DSS memiliki kapabilitas dan karakteristik yaitu :

1. Sistem pendukung keputusan mendukung pengambilan keputusan khususnya pada situasi semi-terstruktur dan tidak terstruktur dengan memadukan antara pertimbangan manusia dengan informasi komputer.

2. Dukungan disediakan untuk berbagai level manajerial, mulai dari top eksekutif sampai manajer lini.

3. Dukungan disediakan baik untuk individual maupun group.

4. Sistem pendukung keputusan mendukung pengambilan keputusan yang berurutan maupun saling bergantungan.

(22)

5. Sistem pengambilan keputusan mendukung semua tahapan pada proses pengambilan keputusan, yaitu intelligence, design, choice, dan implementation.

6. Sistem pendukung keputusan mendukung berbagai macam proses dan gaya pembuatan keputusan.

7. Sistem pendukung keputusan dapat diadaptasi sesuai keadaan. Pembuat keputusan sebaiknya reaktif, mampu menghadapi kondisi yang berubah-ubah dengan cepat, dan mampu mengadaptasi SPK sesuai dengan situasi yang ada. 8. Sistem pendukung keputusan memiliki sifat user-friendly, kemampuan grafis

yang tinggi, dan interface yang dapat meningkatkan efektivitasnya.

9. Sistem pendukung keputusan berusaha untuk meningkatkan efektivitas dari pembuatan keputusan (akurat, cepat, dan berkualitas tinggi) daripada efisiensi (biaya untuk pembuatan keputusan).

10.Pembuat keputusan mempunyai kontrol penuh pada semua tahapan proses pembuatan keputusan dalam memecahkan masalah. Sistem pendukung keputusan bertujuan untuk mendukung pembuat keputusan, bukan untuk menggantikan pembuat keputusan.

11.End user seharusnya dapat membangun dan memodifikasi sistem sederhana

sendiri.

12.Sistem pendukung keputusan menggunakan model untuk menganalisa situasi pembuatan keputusan. Kemampuan modeling memungkinkan untuk bereksperimen dengan strategi yang berbeda.

13.Akses disediakan untuk berbagai sumber data, format dan tipe, mulai dari sistem informasi geografis (GIS) sampai sistem berorientasi objek.

(23)

14. Dapat dioperasikan pada perangkat stand alone (PC) atau dalam jaringan (distributed).

Gambar 2.7 Karakteristik DSS 2.11. Analisa dan Perancangan Sistem Informasi

2.11.1. Unified Modeling Language (UML)

Menurut Jones dan Rama (2003, p68), UML adalah sebuah bahasa permodelan yang digunakan untuk spesifikasi, visualisasi, konstruksi, dan mendokumentasikan sistem informasi.

Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa UML adalah sebuah alat yang digunakan untuk mendesain dokumentasi data.

Empat aktivitas utama dalam membuat UML class diagram yaitu: a. Menempatkan transaction table yang dibutuhkan pada UML class diagram. b. Menempatkan master table yang dibutuhkan pada UML class diagram. c. Menentukan hubungan yang dibutuhkan antar masing-masing table

(24)

d. Menentukan atribut yang dibutuhkan. 2.11.2. Object Oriented Analysis and Design

Menurut Mathiassen (2000, p135) Object-Oriented Analysis and

Design (OOAD) adalah metode untuk menganalisis dan merancang sistem

dengan pendekatan berorientasi object. Object (2000, p4) diartikan sebagai suatu entitas yang memiliki identitas, state, dan behaviour. Pada analisa, identitas sebuah object menjelaskan bagaimana seorang user membedakannya dari object lain, dan behaviour object digambarkan melalui event yang dilakukannya. Pada perancangan, identitas sebuah object digambarkan dengan cara bagaimana object lain mengenalinya sehingga dapat diakses, dan

behaviour object digambarkan dengan operation yang dapat dilakukan object

tersebut yang dapat mempengaruhi object lain dalam sistem. Aktivitas utama dalam OOAD terdiri dari empat aktivitas utama, yaitu : problem domain analysis, application domain analysis, architectural design, dan component design.

(25)

2.11.2.1. Problem Domain Analysis

Menurut Mathiassen ( 2000, p6 ), Problem domain adalah bagian dari sebuah konteks yang diadministrasi, dimonitor atau dikontrol oleh sebuah sistem. Problem-domain analysis dimulai dari system definition dengan tujuan untuk mengidentifikasikan dan memodel sebuah problem domain. Aktivitas dalam problem-domain modeling terdiri dari: classes, structure, dan behavior.

Gambar 2.9 Aktivitas pada Problem Domain

Aktivitas – aktivitas pada analisis problem domain digambarkan oleh gambar 2.9, yang terdiri dari :

1. Class

Menurut Mathiassen (2000, p45) class adalah deskripsi sekumpulan object yang memiliki struktur, pola behavioural dan atribut yang sama. Object adalah kesatuan identity, state, dan behavior. Sedangkan event (2000, p51) adalah proses yang dilakukan atau dialami oleh satu atau lebih object. Dari pengertian class dan event, dapat disimpulkan class dan event akan memiliki hubungan yang akan digambarkan oleh event table. Dalam penentuan class dan event terdapat beberapa kegiatan yang harus dilakukan yang digambarkan pada gambar 2.10.

(26)

Gambar 2.10 Tahap-tahap dalam menentukan Class dan Event

2. Behaviour

Aktivitas behavior bertujuan untuk memodel dinamika problem domain dengan berfokus pada urutan waktu yang terjadi pada event. Behavior sebuah object ditentukan dari event trace. Menurut Mathiassen (2000, p90) event trace adalah urutan event yang melibatkan suatu object tertentu.

Behavioral pattern (2000, p91) menjelaskan behavior yang umum pada semua object dalam class tertentu. Ada tiga tipe notasi behavioral pattern yang menjelaskan kemungkinan kejadian dalam siklus sebuah object, yaitu :

Sequence: event dalam urutan terjadi satu demi satu

Selection :hanya satu event dari urutan yang terjadi Iteration : event tidak terjadi atau terjadi berulang kali

Dari sudut pandang hidup suatu object dari awal hingga akhir, behavioral patern dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

(27)

Bentuk tidak terstruktur, berisi event-event iteration dan selection. Orang yang terlibat dalam problem doman dan class yang berada pada bagian atas di class diagram biasanya termasuk dalam tipe ini.

Bentuk terstruktur, yang dikarakterisasi dengan event sequence yang meliputi semua event utama antara pembentukan dan penghapusan object. 3. Structure

Structure merupakan suatu gambaran yang mencerminkan bagaimana bagaimana secara konseptual class – class saling berhubungan.

Gambar 2.11 Langkah - langkah dalam menyusun structure Class Structure terdiri dari dua,jenis yaitu :

Generalization: adalah hubungan antara super class dengan class

turunannya yang menyatakan “is a”. Contoh hubungan antara class manusia dengan class mahluk hidup menyatakan manusia adalah mahluk hidup. Pada generalization super class menguraikan property umum ke sebuah grup dari class yang dispesialisasi

Cluster, yaitu sekumpulan class yang saling berhubungan.

Object Structure, dibagi menjadi dua, yaitu :

Aggregation, dimana sebuah object superior terdiri dari beberapa

(28)

superior tersebut. Aggregation menyatakan “part of” atau bagian dari. Contoh hubungan antara class mobil dengan class roda menyatakan roda merupakan bagian dari mobil.

Association structure juga merupakan relasi antara dua atau lebih

object, tetapi berbeda dari aggregation dalam object yang berasosiasi tersebut yang bukan merupakan property yang didefinisikan dari sebuah object. Association: relasi yang memiliki arti di antara sejumlah object. Association structure digambarkan sebagai sebuah garis sederhana antara class yang berhubungan. Association

multiplicity diuraikan dalam cara yang sama seperti menguraikan

aggregation. Karena association structure tidak tercantum ranking, maka dapat meletakkan class yang berhubungan dimana saja dalam class diagram.

2.11.2.2. Application Domain Analysis

Menurut Mathiassen (2000, p115) tujuan dari analisis application domain adalah untuk menentukan kebutuhan penggunaan sistem. Application domain adalah organisasi yang mengatur, memonitor, dan mengontrol sistem. Application domain berfokus pada fungsi dan interface sistem dan bagaimana sistem akan digunakan oleh user. Kebutuhan sistem dibedakan dalam tiga bagian utama yaitu usage, function, dan interface.

(29)

Gambar 2.12 Aktivitas – aktivitas dari analisis Application Domain Aktivitas – aktivitas utama dari analisis application domain adalah :

1. Usage

Menggambarkan bagaimana sistem berinteraksi dengan manusia dan system yang berada di dalam context. Terdapat tiga sub aktivitas pada usage yaitu :

a. Find actors and use cases b. Explore Pattern

c. Evaluate systematically

(30)

Menurut Mathiassen (2000, p119), usage terdiri dari dua konsep, yaitu :

Use Case, sebuah pattern untuk interaksi antara sistem dan aktor di application domain.

Actor, abstrak dari user atau sistem lain yang berinteraksi dengan system target.

2. Function

Menurut Mathiassen (2000,137) Function adalah sebuah fasilitas untuk membuat sebuah model yang berguna untuk actor. Untuk membantu menganalisis, Mathiassen ( 2000, p138 ) membagi function ke dalam beberapa tipe yang berbeda, antara lain:

Update

Function yang diaktifkan oleh suatu event problem-domain dan menghasilkan perubahan didalam model state.

Signal

Function yang diaktifkan oleh perubahan dalam model state dan

menghasilkan reaksi dalam context, reaksi ini mungkin dapat dimunculkan kepada actor dalam application-domain, atau langsung intervensi dalam problem-domain.

Read

Function yang diaktifkan oleh suatu kebutuhan akan informasi

didalam tugas actor dan menghasilkan sistem yang mempertunjukkan bagian – bagian dari model yang relevan.

(31)

Compute

Function yang diaktifkan oleh suatu kebutuhan akan informasi

didalam tugas actor dan terdiri dari suatu perhitungan termasuk informasi yang disajikan oleh seorang actor atau model, hasilnya adalah sebuah tampilan mengenai hasil perhitungan.

Menurut Mathiassen (2000,p141), terdapat beberapa cara mencari function yaitu :

• Mencari function dengan memeriksa class, event dan use case. • Analisis sistematis dengan menggunakan empat tipe function. • Termasuk didalamnya name, type dan assessement dari

kompleksitas dari function : simple, medium, complex or very complex.

3. Interface

Menurut Mathiassen (2000, p151) interface adalah fasilitas yang membuat model dan functions sistem tersedia bagi actor. Interface dibedakan menjadi dua menurut penggunaannya, yaitu :

User interface, yaitu sebuah tampilan yang akan menjadi media

komunikasi antara user dengan sistem.

System interface, yaitu suatu media yang menhubungkan suatu

(32)

Gambar 2.14 Aktivitas-aktivitas pada Interface 2.11.2.3. Architectural Design

Menurut Mathiassen (2000,p173), di dalam architectural design terdapat 3 aktivitas yaitu criteria, arsitektur component dan arsitektur process. Tujuan dari architectural design adalah untuk membentuk sistem yang berdasarkan criteria design tertentu.

2.11.2.3.1. Criteria

Criteria adalah faktor pemilihan property dari sebuah arsitektur, dimana didalamnya berisikan semua syarat – syarat atau kondisi untuk menciptakan architectural design yang baik. Menurut Mathiassen (2000, p178) kriteria untuk desain yang baik terdiri dari :

Usable

Kemampuan beradaptasi sistem dalam organisasi, hubungan kerja dan secara teknik

(33)

Secure

Kemampuan untuk menanggulangi bahaya dari akses tak berwenang terhadap data dan fasilitas.

Efficient

Eksploitasi secara ekonomi dari fasilitas teknik platform.

Correct

Sistem dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang ada.

Reliable

Sistem dapat memenuhi kebutuhan eksekusi fungsi-fungsi program.

Maintainable

Biaya yang digunakan untuk mengalokasikan dan memperbaiki kerusakan sistem.

Testable

Biaya yang digunakan untuk meyakinkan bahwa sistem yang dikembangkan melakukan fungsi sesuai dengan yang diharapkan.

Flexible

Biaya yang digunakan untuk memodifikasi sistem yang telah dikembangkan.

Comprehensible

Usaha yang dibutuhkan agar user dapat memahami sistem dengan mudah.

Reusable

(34)

Portable

Biaya untuk memudahkan sistem pada platform teknikal lainnya.

Interoperatable

Biaya untuk merangkaikan sistem pada sistem lain. 2.11.2.3.2. Component

Menurut Mathiassen (2000, p189) component adalah kumpulan dari program yang mempunyai sejumlah tanggung jawab yang telah dirumuskan dengan baik. Component Architecture adalah sebuah struktur sistem yang terdiri dari component yang saling berhubungan. Tujuannya adalah untuk mendefinisikan struktur sistem secara keseluruhan, membuat sistem lebih mudah dimengeri, mengorganisasikan desain kerja dan mempengaruhi stabilitas dari konteks sistem. Pola arsitektur terdiri dari : • Pola Arsitektur Layer

Arsitektur layer terdiri dari komponen-komponen yang berbentuk layer.

• Arsitektur Umum • Arsitektur Client-Server

Component pada arsitektur ini adalah sebuah server yang mempunyai

suatu set operasi yang dapat diakses oleh clients.

Tabel 2.4 Keanggotaan variable lingustik Client Server Arsitektur U U + F + M Distributed Presentation U F + M Local Presentation

(35)

U + F F + M Distributed Functionality

U + F M Centralized Data

U + F + M M Distributed Data U = User Interface, F = Function, M = Model 2.11.2.3.3. Process

Menurut Mathiassen (2000, p209) arsitektur proses bertujuan untuk mendefinisikan struktur fisik dari suatu sistem. Di dalam arstitektur proses dikenal istilah prosesor dan active object. Prosesor adalah suatu alat yang menjalankan komponen-komponen yang muncul dari aktivitas model dan function. Active object adalah objek yang ada dalam sebuah proses atau objek yang telah melakukan kegiatan dalam proses.

2.11.2.4. Design Component 2.11.2.4.1. Model Component

Menurut Mathiassen (2000, p235) tujuan dari model component adalah untuk menyampaikan data-data yang ada ke dalam bentuk

functions, interfaces untuk user dan sistem lainnya. Model

menggambarkan problem domain dengan menggunakan classes, objects, structure, dan behavior. Tugas utama dari desain komponen model adalah untuk merepresentasikan event-event dengan menggunakan mekanisme yang ada pada bahasa pemrograman berorientasi object.

Model component adalah bagian dari sistem yang mengimplementasikan model problem domain Dalam analisis, model digambarkan sebagai class diagram yang dikombinasikan dengan

(36)

statechart diagram untuk tiap classnya. Statechart diagram menggambarkan atribut yang terdapat di setiap event. Statechart diagram menentukan event trace yang sah untuk class object. Jika tidak sah, sistem melakukan tindakan. Event trace berakhir dengan penutupan, dimana event trace juga mempunyai waktu spesifik yang dilampirkan.

2.11.2.4.2. Revised Class

Menurut Mathiassen (2000, p238) private event adalah event yang hanya dimiliki oleh satu object. Event yang terjadi hanya satu kali pada private event dianggap sebagai class attribute. Event yang terjadi berulang kali pada private event memerlukan class baru. Petunjuk untuk menampilkan private events :

• Jika event tersebut adalah sequence dan selection maka digambarkan sebagai state attribute di dalam class yang berkaitan dengan event tersebut.

• Jika event tersebut adalah iteration maka digambarkan sebagai class baru.

Common event berpengaruh terhadap beberapa objek yang bersangkutan, oleh karenanya perlu ditambahkan koneksi struktural agar objek lain dapat mengakses atribut yang relevan. Petunjuk untuk menampilkan common events :

• Bila event berkaitan di dalam statechart diagram dengan cara yang berbeda, gambarkan relasi ke class yang menyediakan representasi paling sederhana.

(37)

• Bila event berkaitan di dalam statechart diagram dengan cara yang sama, maka dipertimbangkan kemungkinan representasi yang berlawanan terhadap satu sama lain.

Tiga cara menyederhanakan revised class diagram yang telah diperoleh yaitu:

• Generalisasi, dua class yang berbeda dengan atribut yang sama disederhanakan dengan penggabungan dua class tersebut menjadi satu class baru dengan atribut yang sama.

• Asosiasi, ketika menambahkan class dan struktur baru, struktur lama juga harus dipertimbangkan agar tidak terjadi pengulangan (redundancy).

• Iterasi, untuk menghasilkan struktur analisis model yang lebih baik dengan desain model yang lebih terstruktur dan sederhana.

2.11.2.5. Function Component

Menurut Mathiassen (2000,p232), function component adalah bagian dari system yang mengimplementaiskan kebutuhan fnugsional. Menurut Mathiassen (2000, p254) ada empat macam tipe fungsi dalam analisa application domain yaitu :

Update

Fungsi update secara langsung menghubungkan ke problem domain event. Fungsi update menerima input data dari event yang terjadi dan hasilnya akan dikembalikan ke tempat dimana fungsi tersebut diaktifkan.

(38)

Read

Fungsi read menunjukkan kebutuhan user atau sistem lain untuk memperoleh informasi dari model yang berupa database.

Compute

Fungsi compute menunjukkan bahwa user atau sistem lain perlu untuk melakukan pengolahan data, yang melibatkan proses read ke model. Proses penghitungan sering dikombinasikan dengan fungsi update.

Signal

Fungsi signal menyampaikan syarat tentang pengawasan atau kontrol. Fungsi signal harus mengikuti pola aktif atau pasif. Fungsi aktif signal bisa diimplementasikan oleh operasi yang aktif secara permanen dan mengevaluasi secara rutin. Fungsi pasif signal bisa diimplementasikan oleh operasi yang pada dasarnya tidak aktif setelah diaktifkan oleh event tertentu.

2.11.3. Manajemen Pengadaan

Manajemen pengadaan merupakan salah satu komponen utama supply chain management. Menurut Pujawan (2005, p137) tugas dari manajemen pengadaan adalah menyediakan input, berupa barang maupun jasa, yang dibutuhkan dalam kegiatan produksi maupun kegiatan lain dalam perusahaan. Pada perusahaan manufaktur, barang yang harus dibeli oleh bagian pengadaan bisa diklasifikasikan secara umum menjadi (i).bahan baku dan komponen untuk produksi, (ii).capital equipment seperti mesin dan peralatan jangka panjang lainnya, dan (iii).suku cadang mesin, alat tulis kantor, dan sebagainya yang

(39)

bisanya dinamakan maintenance, repair, and operating (MRO) supplies. Di samping bagian pengadaan juga biasanya bertugas menyediakan jasa seperti jasa transportasi dan pergudangan, jasa konsultasi, dan sebagainya. Secara Umum, tugas-tugas yang dilakukan mencakup :

• Merancang dan menjaga hubungan yang baik dengan supplier

Hubungan dengan supplier bisa bersifat kemitraan jangka panjang maupun hubungan transaksional jangka pendek. Model hubungan mana yang tepat tentunya tergantung pada banyak hal, termasuk diantaranya kritis tidaknya barang yang dibeli dari supplier yang bersangkutan dan besar tidaknya nilai pembelian. Bagian pengadaanlah yang punya tugas untuk merancang relationship portfolio untuk semua supplier. Disamping itu, bagian pengadaan juga perlu menetapkan berapa jumlah supplier yang harus dipelihara untuk tiap jenis item. Perusahaan mungkin memiliki supplier utama dan supplier pendamping (cadangan) untuk setiap item.

• Memilih supplier

Kegiatan memilih supplier bisa memakan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit apabila supplier yang dimaksud adalah supplier kunci. Kesulitan akan lebih tinggi kalau supplier-supplier yang akan dipilih berada di mancanegara (global suppliers). Untuk supplier-supplier kunci yang berpotensi untuk menjalin hubungan jangka panjang, proses pemilihan ini bisa melibatkan evaluasi awal, mengundang mereka untuk presentasi, kunjungan lapangan (site visit) dan sebagainya. Proses yang seperti ini tentu memakan waktu dan biasa yang besar.

(40)

• Memilih dan mengimplementasikan teknologi yang cocok

Kegiatan pengadaan selalu membutuhkan bantuan teknologi. Teknologi yang lebih tradisional dan lumrah digunakan adalah telepon dan fax. Dengan munculnya Internet, teknologi pengadaan mengalami perkembangan yang sangat dramatis. Dewasa ini banyak perusahaan yang menggunakan lectronic procurement (e-procurement) yakni aplikasi internet untuk kegiatan pengadaan. Dengan e-procurement, perusahaan bisa memiliki catalog elektronik yang bisa mengakses berbagai data supplier dan barang yang bisa dipasok. Electronic procurement bisa juga membantu perusahaan untuk memilih supplier melalui proses e-auction atau e-bidding. • Memelihara data item yang dibutuhkan dan data supplier

Bagian pengadaan harus memiliki data lengkap tentang item-item yang mereka dibutuhkan maupun data tentang supplier-supplier mereka. Beberapa data supplier yang penting adalah nama dan alamat masing-masing supplier, item apa saja yang mereka pasok, harga per unit, lead time pengiriman, kinerja masa lalu, serta kualifikasi supplier. Kualifikasi yang dimaksud disini bisa berupa kualifikasi umum seperti sertifikasi ISO 9000 / ISO 14000 maupun kualifikasi khusus yang ditetapkan perusahaan.

• Melakukan proses pembelian

Proses pembelian bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya pembelian rutin dan pembelian dengan melalui tender atau lelang (auction).

(41)

Hasil dari penilaian ini digunakan sebagai masukan bagi supplier untuk meningkatkan kinerja mereka. Bagi perusahaan pembeli, kinerja supplier bias digunakan sebagai dasar untuk menentukan volume pembelian (kalau ada lebih dari satu supplier untuk item sejenis) maupun untuk menentukan peringkat supplier.

Pada tahun 1980-an kegiatan pengadaan baru dianggap sebagai kegiatan yang strategis. Pandangan ini tentu saja didorong oleh persaingan yang semakin ketat sehingga pelaku bisnis mulai sadar bahwa efisiensi dan valus creation tidak hanya perlu dilakukan di bagian produksi, namun juga di bagian-bagian lain termasuk salah satunya bagian pengadaan. Bagian pengadaan tentu tidak hanya bisa berperan secara strategis dalam menciptakan keunggulan dari segi ongkos (dengan mendapatkan sumber-sumber bahan baku, komponen, MRO, dll, dengan harga yang murah). Bagian pengadaan juga punya peran dari aspek competitive advantage yang lain. Kualitas produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan manufaktur akan sangat ditentukan oleh kemampuan bagian pengadaan untuk mendapatkan sumber-sumber bahan baku dan komponen yang berkualitas dan / atau menjadi jembatan dalam membina supplier-supplier yang ada dengan berbagai program peningkatan kualitas.

2.11.4. Proses Pembelian

Menurut Pujawan (2005, p141), proses pembelian yang merupakan fungsi dari manajemen pengadaan bisa dilakukan melalui proses tender atau pembelian rutin. Proses pembelin rutin biasanya berlaku untuk item-item yang suppliernya sudah jelas karena ada kesepakatan jangka panjang antara supplier

(42)

dengan perusahaan. Sedangkan proses tender (dan juga lelang) dilakukan untuk item – item yang suppliernya masih harus dipilih.

Pembelian rutin dilakukan untuk item-item yang kebutuhannya berulang (repetitive). Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

1. Bagian yang membutuhkan mengirimkan permintaan pembelian ke bagian pengadaan. Dokumen permintaan pembelian ini biasanya dinamakan purchase requisition (PR) atau material requisition (MR).

2. Bagian pengadaan akan mengevaluasi MR / PR yang diterima. Kemudian bagiaan pengadaan akan mengirimkan purchase order (PO) ke supplier yang dianggap tepat.

3. Begitu supplier sepakat untuk memenuhi PO tersebut, bagian pengadaan harus secara proaktif memonitor perkembangan pengirimannya agar tidak terjadi keterlambatan.

4. Pada saat pesanan datang, bagian gudang berkewajiban untuk mengecek benar atau tidaknya item yang dikirim serta jumlah dan kualitasnya.

5. Bagian akuntansi kemudian akan menyelesaikan proses pembayaran sesuai dengan term pembayaran yang berlaku.

(43)

Gambar 2.15 Langkah - langkah pada proses pembelian

Pembelian dengan metode tender atau lelang dilakukan apabila tidak memungkinkan untuk langsung mengirim PO ke supplier setelah ada PR atau MR dari bagian yang membutuhkan barang atau jasa. Tender sedikit berbeda dengan lelang. Pada proses tender, tidak ada kesempatan bagi para peserta (supplier) untuk merevisi harga yang telah ditawarkan. Harga penawaran biasanya bersifat rahasia dan tidak diperlihatkan ke peserta yang lain. Sedangkan pada proses lelang, perserta diundang untuk datang (secara fisik atau lewat internet) untuk mengikuti proses lelang. Pada saat lelang berlangsung, peserta bisa melihat harga yang ditawarkan oleh peserta yang lain dan mereka boleh merevisi (menurunkan) harga sampai pada batas waktu lelang yang ditetapkan. Secara umum proses tender mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

1. Bagian yang membutuhkan barang atau jasa (user) mendefinisikan kebutuhan secara umum

(44)

2. Bagian yang bersangkutan (user) mengirimkan sejenis Purchase Requisition (PR) ke bagian pengadaan.

3. Bagian pengadaan akan mengirimkan request for quotation (RFQ) atau request for proposal (RFP) ke supplier yang potensial. Untuk barang atau jasa yang sudah cukup jelas spesifikasinya biasanya perusahaan meminta penawaran harga (RFQ). Sedangkan untuk barang / jasa yang spesifikasinya belum jelas, RFP yang dikirim oleh perusahaan. Jadi dalam hal ini supplier akan diminta membuat proposal dan salah satu yang dinilai nantinya adalah spesifikasi yang diajukan oleh supplier.

4. Secara pararel dengan langkah di atas, bagian pengadaan dan bagian yang membutuhkan barang / jasa tadi membuat kriteria penilaian penawaran (quotation) atau proposal yang masuk.

5. Untuk kasus-kasus tertentu, perusahaan terkadang harus mengundang calon - calon supplier untuk menjelaskan secara rinci tentang barang / jasa yang dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa calon-claon supplier mengerti apa yang dibutuhkan perusahaan sehingga bisa membuat proposal yang berkualiatas dan obyektif.

6. Setelah penawaran / proposal terkumpul, perusahaan akan melakukan proses seleksi. Seleksi tahap pertama digunakan untuk memilih beberapa calon yang aspek teknisnya memenuhi syarat. Pada tahap kedua seleksi didasarkan atas harga yang ditawarkan. Untuk proses tender, penawaran harga bersifat statis, sedangkan pada proses lelang, supplier diminta untuk hadir pada suatu periode tertentu utnuk mengajukan harga serta merevisinya secara dinamis seperti yang sudah dijelaskan diatas.

(45)

7. Setelah pemenang ditentukan, bagian pengadaan akan membuat kontrak dengan supplier.

8. Bagian pengadaan selanjutnyan akan mengirimkan PO untuk secara formal meminta pasokan barang atau jasa sejumlah tertentu dengan harga dan waktu yang disepakati.

9. Proses selanjutnya berupa pemantauan pengiriman atau penyampaian jasa, pembayaran, dan lain-lain tidak jauh berbeda dengan pembelian rutin.

(46)

2.11.5. Electronic Procurement

Menurut Pujawan (2005, p163) kata electronic procurement (e-procurement) secara umum didefinisikan sebagai aplikasi internet untuk keperluan proses pengadaan. Aplikasi internet untuk proses pengadaan bisa dalam berbagai wujud. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan ayng meraup berbagai manfaat dengan mengaplikasikan electronic procurement ini. Menurut hasil studi di Amerika tahun 2003 menunjukkan bahwa lebih dari 50% dari 160 perusahaan yang menjadi responden menyatakan telah mengaplikasikan e-procurement dalam berbagai bentuk yang berbeda. Dengan internet perusahaan bisa mengirim RFO dan PO ke supplier, melakukan lelang secara elektronik (online), membagi informasi-informasi yang kritis, dan sebagainya.

Dalam kenyataannya, aplikasi e-procurement bisa bermacam-macam danb masing-masing punya fitur yang berbeda. Jenis aktivitas yang didukung oleh internet juga berbeda-beda. Secara umum ada beberapa jenis aplikasi eprocurement yaitu :

1. e-catalogue

Secara tradisional katalog biasanya tercetak dalam bentuk buku atau brosur. Dengan adanya internet, perusahaan bisa memiliki katalog elektronik. Di sini perusahaan mengumpulkan informasi supplier atau calon supplier dengan segala produk atau jasa yang mereka bisa pasok. E-catalogue biasanya dilengkapi dengan fasilitas pencarian (search) sehingga perusahaan akan dengan mudah mendapatkan informasi ten tan produk atau jasa yang diinginkan.

(47)

2. e-auction

Ini adalah aplikasi untuk membantu proses lelang. Pada proses pembelian, lelang dilakukan oleh pembeli dengan mengumpulkan calon-calon supplier. Mereka sebelumnya sudah diberi tahu oleh pembeli tentang jumlah, spesifikasi, dan waktu kebutuhan suatu barang atau jasa. Mereka akan mengajukan penawaran (secara elektronik) dan selama proses lelang mereka bisa merevisi (menurunkan) harga penawarannya. Supplier yang memberikan penawaran terendah pada akhir periode lelang akan keluar sebagai pemenang.

3. B2B market exchange

Aplikasi ini memungkinkan banyak pembeli dan banyak penjual bertemu secara virtual. Pada kebanyakan kasus, aplikasi ini dimiliki dan dikelola oleh pihak ketiga. Item-item yang ditransaksikan disini bisa spesifik untuk industri tertentu seperti baja (www.steel.com, www.chemical.com), maupun yang lebih umum seperti MRO (www.mro.com). B2B market exchange tidak hanya ada di negara-negara maju, tetapi juga di negara-negara industri baru seperti China (misalnya Chemchine.com, echinachem.com), Korea (cyberdisy.com), India (seperti Chemvalue.com, Indiamarkets.com, Indiachemicalportal.com), Middle East (MEsteel.com), dan Amerika Latin (ActiMart.com).

4. B2B private exchange

Aplikasi ini bisa digunakan untuk membantu proses transaksi rutin dengan supplier. Perusahaan bisa mengirimkan PO secara elektronik, mengecek

(48)

status pengiriman, melakukan transaksi pembayaran, dan sebagainya. Disamping itu perusahaan mungkin bisa menggunakan aplikasi ini untuk berbagai informasi tentang rencana produksi dan informasi lainnya dengan

supplier. Supplier juga bisa membagi informasi ketersediaan stok dan

kapasitas produksi mereka.

Banyak manfaat yang bisa direalisasikan dengan mengaplikasikan eprocurement dalam proses pengadaan. Beberapa keuntungan tersebut antara lain:

1. Proses-proses administratif bisa dilangsungkan lebih cepat, akurat, dan murah. Mengundang supplier untuk memasukkan proposal atau penawaran tidak lagi dilakukan lewat surat atau fax, tetapi bisa dilakukan dengan fasilitas web. Calon-calon supplier bisa mendapatkan pesan tersebut dengan cepat dan akurat dimanapun mereka berada asalkan tersambung dengan jaringan internet.

2. Perusahaan yang menggunakan sistem lelang bisa mendapatkan keuntungan berupa harga yang jauh lebih murah karena supplier akan sedapat mungkin menurunkan harga penawaran agar bisa menjadi pemenang.

3. Perusahaan bisa mendapatkan calon-calon supplier yang lebih banyak dari berbagai tempat sehingga berpeluang untuk melakukan transaksi dengan supplier yang lebih berkompeten.

4. Perusahaan maupun supplier bisa melacak transaksi maupun proses-proses fisik (pengiriman, dll) sehingga kedua belah pihak cepat mengetahui kalau ada masalah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

(49)

5. Pihak perusahaan maupun supplier bisa melakukan proses-proses tersebut dari mana saja asalkan terhubung dengan jaringan internet.

2.11.6. Business to Business (B2B) Commerce

Menurut Efraim(2004, p237) business-to-business e-commerce atau eB2B adalah transaksi antara bisnis-bisnis yang dilakukan secara elektronik melalui internet, intranet, ekstranet, atau jaringan privat. Business-to-business

e-commerce memungkinkan perusahaan untuk menyederhanakan jalur

pengadaan, distribusi, dan fisik, mengurangi dokumen dalam hubungan pelanggan dan supplier, pengurangan inventory, dan outsourcing. Tipe business-to-business e –commerce ada empat macam yaitu :

1. Sell-SideB2B, satu penjual dan banyak pembeli. Contoh : Boeing, Cisco. 2. Buy-Side B2B, satu pembeli dari banyak penjual. Contoh : General Electric.

3. Electronic (NET) Marketplace of Exchange,banyak penjual dan banyak

pembeli. Contoh : Hyundai, BASF.

4. Collaborative Commerce, komunikasi dan pembagian informasi, desain,

dan rencana antar rekan bisnis.

Tipe Sell-Side dan Buy-Side mempunyai kontrol penuh pada yang berpartisipasi dalam transaksi penjualan dan pembelian. Hal ini menjadikan tipe Sell-Side dan Buy-Side diklasifikasikan sebagai private e-marketplace. Dalam

electronic (NET) Marketplace or Exchange banyak pembeli dan penjual yang

akan bertransaksi, agar transaksi mudah dilakukan maka akan ada pihak ketiga yang mengatur hal tersebut. Tipe Electronic (NET) Marketplace of Exchange terbuka untuk semua penjual dan pembeli. Hal ini menjadikan tipe electronic

(50)

(NET) Marketplace or Exchange diklasifikasikan sebagai public e-marketplace. Collaborative Commerce adalah kerjasama antar perusahaan dalam hal komunikasi, desain, rencana, dan informasi. Jadi untuk disebut Collaborative

commerce aktivitas yang diberikan ke rekan bisnis tidak hanya transaksi

keuangan. Hal ini menjadikan tipe Collaborative commerce diklasifikasikan sebagai public emarketplace.

2.11.7. Database

Menurut Britton dan Doake (2001, p266), database adalah semua data yang dibutuhkan untuk mendukung operasi organisasi. Di dalamnya meliputi aktivitas mengumpulkan, mengorganisasi dan merawat secara tersentralisasi. Menurut Whitten, Bentley dan Dittman (2000, p470) database adalah suatu koleksi files yang saling berhubungan. Jadi dapat disimpulkan database adalah sekumpulan data dan file yang saling berhubungan dan dibutuhkan untuk mendukung operasi organisasi.

Menurut Connolly (2003, p15) DBMS (Database Management Systems) adalah suatu software yang memampukan penggunanya untuk membuat, memelihara dan mempunyai kontrol untuk mengakses database. Umumnya DBMS menyediakan fasilitas – fasilitas berikut ini :

1. DBMS mengijinkan penggunanya untuk mendefinisikan database, biasanya

melalui Data Definition Language (DDL). DDL ini mengijinkan penggunanya untuk menspesifikasikan struktur dan tipe data serta batasan – batasan dari data yang akan disimpan dalam database.

(51)

2. DBMS mengijinkan penggunanya untuk memasukkan, menghapus dan mengupdate data dari database melalui query.

3. DBMS menyediakan kontrol akses terhadap database. Contohnya :

• Sistem integrity, yang menjaga konsistensi dari data yang disimpan. • Sistem keamanan, yang mencegah pengguna yang tidak mempunyai hak

akses untuk mengakses database.

• Sistem concurrency control, yang memperbolehkan pembagian hak akses dari database.

• Sistem kontrol recovery, yang mengembalikan database ke keadaan sebelumnya.

• Sistem user accessible catalog, yang berisi deskripsi dari data dalam database.

Menurut Connoly & Begg (2002, p281-282) perancangan database dibagi menjadi 3 (tiga) tahapan utama sebagai berikut:

1. Conceptual Database Design

Conceptual Database Design merupakan proses membangun sebuah model

data dari informasi yang diperoleh dalam suatu organisasi, tetapi bebas dari segala pertimbahan fisik.

2. Logical Database Design

Logical Database Design merupakan proses membangun sebuah model informasi yang diperoleh dari sebuah organisasi berdasarkan modal data

(52)

khusus, tetapi bebas dari hal yang berkaitan dengan Database Management Systems (DBMS) dan pertimbangan fisik lainnya.

3. Physical Database Design

Physical Database Design merupakan proses pembuatan gambaran suatu implementasi database pada media penyimpanan kedua.

2.11.8. Internet

Secara harafiah, internet (kependekan daripada perkataan 'inter-network') ialah rangkaian komputer yang berhubung menerusi beberapa rangkaian. Manakala Internet (huruf 'I' besar) ialah sistem komputer umum, yang berhubung secara global dan menggunakan TCP/IP sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol). Rangkaian internet yang terbesar dinamakan Internet. Cara menghubungkan rangkaian dengan kaedah ini dinamakan internetworking.

Protokol-protokol internet yang sering digunakan adalah seperti, IP, TCP,UDP, DNS, PPP, SLIP, ICMP, POP3, IMAP, SMTP, HTTP, HTTPS, SSH, Telnet, FTP, LDAP, dan SSL. Beberapa layanan populer di internet yang menggunakan protokol di atas, ialah email/surat_elektronik, Usenet, Newsgroup, perkongsian file (File Sharing), WWW (World Wide Web), Gopher, akses sesi (Session Access), WAIS, finger, IRC, MUD, dan MUSH. Di antara semua ini, email/surat_elektronik dan World Wide Web lebih kerap digunakan, dan lebih banyak servis yang dibangun berdasarkannya, seperti milis (Mailing List) dan Weblog.

Internet memungkinkan adanya servis terkini (Real-time service), seperti web radio, dan webcast, yang dapat diakses di seluruh dunia. Selain itu melalui

(53)

internet dimungkinkan untuk berkomunikasi secara langsung antara dua pengguna atau lebih melalui program pengirim pesan instan seperti Camfrog, Yahoo! Messenger, MSN Messenger dan Windows Live Messenger.

2.11.9. Hyper Text Transfer Protocol

HyperText Transfer Protocol (HTTP) adalah protokol yang

dipergunakan untuk mentransfer dokumen dalam World Wide Web (WWW). Protokol ini adalah protokol ringan, tidak berstatus dan generik yang dapat dipergunakan berbagai macam tipe dokumen.

HTTP adalah sebuah protokol meminta atau menjawab antara client dan

server. Sebuh client HTTP seperti web browser, biasanya memulai permintaan

dengan membuat hubungan TCP/IP ke port tertentu di tuan rumah yang jauh (biasanya port 80).

2.11.10. World Wide Web

World Wide Web (WWW), atau singkatnya web adalah suatu ruang

informasi di mana sumber-sumber daya yang berguna diidentifikasi oleh pengenal global yang disebut Uniform Resource Identifier (URI) atau biasa sering disebut juga Uniform Resource Locator (URL). WWW sering dianggap sama dengan Internet secara keseluruhan, walaupun sebenarnya ia hanyalah bagian daripadanya. Hiperteks dilihat dengan sebuah program bernama web browser yang mengambil informasi (disebut "dokumen" atau "halaman web") dari server web dan menampilkannya, biasanya di sebuah monitor. Kita lalu dapat mengikuti pranala di setiap halaman untuk pindah ke dokumen lain atau bahkan mengirim informasi kembali kepada server untuk berinteraksi dengannya. Ini disebut "surfing" atau "berselancar" dalam bahasa Indonesia.

(54)

Halaman web biasanya diatur dalam koleksi material yang berkaitan yang disebut "situs web". Semua hal yang berhubungan WWW telah diatur dalam sebauj konsorsium internasional yaitu W3C (World Wide Web Consortium) yang mana bertujuan untuk mengatur standarisasi yang ada didalam WWW supaya perkembangan dari WWW dapat berjalan dengan cepat selain itu juga untuk dapat digunakan secara universal karena WWW yang sudah mendunia.

Web server adalah sebuah perangkat lunak server yang berfungsi

menerima permintaan HTTP atau HTTPS dari client yang dikenal dengan web browser dan mengirimkan kembali hasilnya dalam bentuk halaman-halaman web yang umumnya berbentuk dokumen HTML. web server yang terkenal diantaranya adalah Apache dan Microsoft Internet Information Service (IIS). Apache merupakan server web antar-platform, sedangkan IIS hanya dapat beroperasi di sistem operasi Windows. web server juga dapat berarti komputer yang berfungsi seperti definisi di atas.

Hyper Text Markup Language (HTML) adalah bahasa hypertext standar yang digunakan pada web yang memformat dokumen dan link ke dokumen lain yang disimpan pada computer yang sama atau berbeda (Efraim, 2001, p223). HTML merupakan turunan dari standart generalized markup language (SGML), bahasa berbasiskan teks untuk menjelaskan isi dan struktur komponen digital. HTML adalah subset dari SGML yang lebih sederhana dan menggabungkan tabel, applet, teks pada image, superscripts, dan subscripts. Dengan menggunakan hypertext links, users mengklik dokumen yang dipilih, kemudian akan dipindahkan ke dokumen yang lain.

Gambar

Gambar 2.1 Contoh Jaringan Supply chain
Gambar 2.2 Contoh problem hierarchy pada AHP  Ada tiga prinsip dasar dari AHP yaitu :
Gambar 2.3 Rasio fungsi keanggotaan Triangural Fuzzy Number
Gambar 2.4 Rasio fungsi keanggotaan Symmetric Triangular Fuzzy Number  2.5.2.  Operasi Matematika Triangular Fuzzy Number
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan identifikasi masalah diatas mengingat kemampuan peneliti, maka masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini dibatasi pada bagaimana hubungan

Wawancara semi terstruktur merupakan kombinasi antara wawancara terstruktur dan wawancara tak terstruktur, dimana dalam melaksanakan wawancara pewawancara

Target UCI merupakan tujuan antara (Intermediate Goal), yang berarti cakupan imunisasi untuk BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B harus mencapai 80% baik di tingkat

Bila tanah pondasi pada kedalaman normal p p tidak mampu mendukung beban, sedangkan tanah keras terletak pada kedalaman yang p y g sangat dalam.. Bila pondasi terletak pada

Dosis pupuk nitrogen (N) yang diterapkan oleh petani pada sentra produksi sayuran di dataran tinggi Kabupaten Wonosobo sangat tinggi yaitu lebih dari 500 kg

Bagi peneliti lain yang melakukan penelitian yang sama seperti ini, diharapkan dapat membandingkan dengan hasil penelitian saya serta memberikan kritik dan saran

Media Plan adalah sebuah rencana rekomendasi dalam penyebaran materi iklan yang akan di tempatkan dalam posisi dan media yang tepat dalam memperkenalkan produk atau jasa yang

Berdasarkan informasi tentang kelompok tani di Kampung Rimba Jaya peneliti ingin melihat proses komunikasi dan efektivitas komunikasi kegiatan penyuluh seperti apa yang