Jurnal Ilmiah
Minggu, 29 Desember 2013
Perubahan Kebudayaan Indonesia Karena Globalisasi
Oleh Darsiyah
Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang [email protected]
Abstrak
Kebudayaan Indonesia dari zaman ke zaman selalu mengalami perubahan, perubahan ini terjadi karena faktor masyarakat yang memang menginginkan perubahan kebudayaan, dan perubahan kebudayaan yang terjadi sangat pesat yaitu karena masuknya unsur-unsur globalisasi ke dalam kebudayaan Indonesia. Unsur globalisasi juga masuk ke dalam kebudayaan lokal, kebudayaan nasional, dan juga kebudayaan global, karena masuknya unsur-unsur tersebut maka ada upaya dalam melestarikan dan upaya pemanfaatan kebudayaan di Indonesia serta pemanfaatan dari kebudayaan-kebudayaan yang ada. Disamping itu juga penanganan terhadap dampak era globalisasi yang membawa dampak positif
maupun dampak negatif. Pola hidup masyarakat masa kini dengan masa dahulu sangatlah berbeda hal ini juga dikarenakan akibat globalisasi. Selain itu dampak karena globalisasi yaitu berkembangnya teknologi-teknologi canggih yang sangat membantu manusia namun juga dapat merusak mental dan moral generasi muda, oleh karena itu semua unsur globalisasi perlu dikaji terlebih dahulu sebelum menerapkan unsur tersebut.
Kata kunci : dampak globalisasi, kebudayaan global, kebudayaan lokal, kebudayaan nasional, nilai-nilai baru.
Negara Indonesia merupakan negara kepulauan yang besar yang saling sambung menyambung dari sabang sampai merauke dan masing-masing daerahnya memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, dan kebudayaan yang berbeda-beda tersebut yang menjadi ciri khas setiap daerahnya masing-masing. Indonesia terkenal negara yang memiliki budaya yang beranekaragam, selain itu juga dikenal sebagai negara dengan lingkungan sosial budaya yang ditandai dengan nilai-nilai kehidupan yang ramah, orang-orang yang memegang sopan santun, dan juga masyarakat yang damai.
Di Indonesia juga banyak peninggalan-peninggalan budaya yang beraneka ragam baik dalam wujud sesuatu yang kompleks seperti aktivitas manusia, tradisi maupun sebagai wujud benda, dan semua itu perlu dilestarikan, dijaga dan dimanfaatkan.
Namun seiring berkembangnya zaman dan masuknya dunia kebudayaan kedalam era globalisasi, telah membawa perubahan yang sangat signifikan dan perubahan tersebut dapat menuju arah yang positif maupun kearah negatif. Semua perubahan tersebut harus diwaspadai apabila perubahan tersebut menuju kearah yang negatif, dampak positif yang dapat dirasakan dari adanya globalisasi adalah kemajuan teknologi yang saat ini telah memberi kemudahan pada setiap orang untuk berkomunikasi. Sedangkan dampak negatifnya yaitu seperti nilai-nilai budaya Indonesia saat ini telah terkontaminasi dengan budaya barat, sehingga hal ini sangat berdampak kepada pola kehidupan manusia, misalnya tatacara berpakaian, sopan santun, pergaulan yang bebas, makanan dan minuman terlarang dan yang paling disayangkan adalah mulai lunturnya kepedulian terhadap kebudayaan daerah yang merupakan sesuatu yang turun temurun seperti adat istiadat, tari-tarian tradisional, lagu-lagu tradisional.
Kepedulian dan kesadaran masyarakat telah menurun dan cenderung masa bodoh terhadap budaya tradisional, upaya untuk melestarikan dan menjaga kebudayaan telah menurun sehingga banyak beberapa kebudayaan yang diklaim oleh negara lain seperti lagu rasa sayang e, tari pendet dari bali, batik, tari reog ponorogo, wayang kulit dan masih banyak lagi (Nani Tuloli, 2003). Hal ini dikarenakan kurang dihargainya dan kurang diperhatikannya kebudayaan daerah tersebut.
Kebudayaan dalam masyarakat selalu mengalami perubahan dan perubahan tersebut terjadi ketika suatu kebudayaan melakukan kontak atau hubungan dengan kebudayaan asing. Dampak globalisasi terhadap perubahan pola kehidupan masyarakat Indonesia sangatlah besar, terutama pada kebudayaan daerah yang mengalami perubahan dan tentunya perubahan kebudayaan yang terjadi saat ini tidak lepas dari peran masyarakat (Nani Tuloli, 2003).
Semua hal-hal yang menyangkut tentang globalisasi perlu dikaji, bagaimana dampak globalisasi tehadap budaya lokal, nasional maupun global? Bagaimana cara melestarikan warisan kebudayaan yang telah ada? Semua pertanyaan itu harus ditelaah dan dicari jawabannya untuk menjaga kebudayaan Indonesia dengan nilai-nilai budaya yang asli.
dan melestarikannya, karena pada dasarnya perubahan yang terjadi adalah karena hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin berubah untuk mendapatkan sesuatu yang baru.
Untuk menangani dampak globalisasi yang terjadi, terlebih dahulu harus dikaji secara rinci unsur-unsur baru yang masuk agar di dalamnya menemukan mana unsur kebudayaan yang bersifat positif dan mana unsur kebudayaan yang bersifat negatif. Karena apabila globalisasi tidak diseimbangi dengan kepedulian dan kepekaan masyarakat terhadap unsur-unsur kebudayaan yang masuk, dan dengan hanya menerima dan menerapkan unsur-unsur dan nilai-nilai globalisasi yang ada, maka Indonesia akan berada pada situasi yang memprihatinkan, unsur-unsur kebudayaan yang asli akan tergeser dan lama kelamaan kebudayaan Indonesia akan kehilangan jati dirinya.
2. Kebudayaan Lokal Sebagai Ciri Khas Daerah
Indonesia adalah negara yang memiliki kebudayaan yang sangat beragam dan selain itu juga memiliki suku yang berbeda-beda, setiap suku bangsa membangun dan mengembangkan kebudayaannya itu melalui pengalaman-pengalaman yang pernah dialaminya dan juga melalui pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya (Nani Tuloli, 2003), sehingga suku bangsa selalu berkembang seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman. Adanya pengaruh dari kebudayaan lain terhadap kebudayaan lokal akan membuat adanya perubahan, baik perubahan yang bersifat mendukung maupun perubahan yang justru membawa dampak negatif.
Masuknya unsur kebudayaan asing sebenarnya sudah terjadi sejak zaman dahulu, contoh kehadiran Hindu dan Islam telah berpengaruh terhadap kebudayaan-kebudayaan suku bangsa yang ada di Indonesia bagian barat seperti Jawa dan Sumatera, selain itu kebudayaan bangsa-bangsa lain yang datang ke Indonesia seperti bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda juga mempengaruhi budaya-budaya asli daerah-daerah di Indonesia, banyaknya kebudayaan asing yang masuk membuat budaya lokal berada dalam situasi yang baru dan membingungkan, dimana situasi tersebut menuntut peran masyarakat, apakah akan tetap mempertahankan kebudayaan lokal dengan nilai-nilai lokal yang asli ataukah justru kebudayaan asing akan membawa hal buruk bagi kebudayaan lokal (Nani Tuloli, 2003).
Dimasing-masing kebudayaan memiliki nilai-nilai sendiri yang harus dipatuhi dan nilai-nilai ini juga digunakan sebagai dasar dalam bertindak dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai nilai budaya yang terkandung dalam kebudayaan dijaga dan dilestarikan melalui hal-hal pembudidayaan, perlindungan yang dilakukan oleh keluarga dan seluruh lapisan masyarakat. Dan apabila mengabaikan semua nilai-nilai kebudayaan bangsa atau daerahnya itu dianggap sebagai suatu perlawanan dan pegkhianatan terhadap leluhur yang telah mewariskannya (Nani Tuloli, 2003).
Tempat dan pola kehidupan antara masyarakat desa dan masyarakat kotapun membawa pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan, masyarakat kota yang cenderung acuh dan
mengabaikan nilai-nilai kebudayaan daerah dan justru lebih mengedepankan sifat modernisasi (Nani Tuloli, 2003), hal ini juga dikarenakan pengaruh budaya global yang saat ini telah melanda dunia
pedesaan masih menggunakan bahasa tradisional sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, dengan demikian masing-masing anggota masyarakat akan mengidentifikasikan dirinya dengan unsur-unsur kebudayaan yang ada sebagai sesuatu yang harus dijunjung sehingga dari sinilah nilai-nilai primordial dari kebudayaan dibangun dan dikembangkan (Nani Tuloli, 2003).
3. Kebudayaan Nasional yang Merupakan Kebudayaan Pemersatu
Negara Indonesia adalah negara yang memilki kebudayaan yang sangat beragam dan juga suku bangsa yang berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah yang lain, akan tetapi semua perbedaan ini tidaklah sesuatu yang harus dipermasalahkan, akan tetapi hal tersebut justru merupakan sesuatu yang harus dipersatukan seperti semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu dan seperti isi dalam sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang setelah itu maka semua elemen rakyat Indonesia bersatu walaupun dalam keadaan budaya yang berbeda-beda (Karel Phil Erari, 2003).
Menurut J.W Ajawaila (dalam Nani Tuloni dkk, 2003 : 27) menyatakan pedoman untuk membangun dan mengembangkan budaya nasional adalah tercantum dalam UUD 45 (pasal 23 dan penjelasannya). Dikatakan bahwa :
Kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai hasil buah usaha budi daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan itu harus menuju kepada kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan dan memperkaya kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.
Dari kutipan di atas bahwa dasar-dasar dalam pengembangan suatu kebudayaan adalah melibatkan seluruh elemen yang saling bekerja sama dan saling berhubungan untuk mencapai suatu yang diinginkan.
membangun kesadaran bahwa budaya nasional adalah budaya milik semua masyarakat Indonesia sehingga dengan cara ini diharapkan akan bersama-sama menjaga budaya nasional negara Indonesia dan merasa bahwa budaya tersebut adalah budaya sendiri yang harus dijaga dan dilestarikan (J.W Ajawaila, 2003).
4.Kebudayaan Global yang Masuk ke Indonesia
Pada saat kebudayaan lokal berkembang menjadi bagian dari kebudayaan nasional, kebudayaan global muncul dengan sangat pesatnya. Kebudayaan global dengan mudah dapat langsung disaksikan dan dinik mati oleh masyarakat sehingga hal ini dalam waktu dekat dapat membawa pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat, pengaruh kebudayaan global tersebut dapat berdampak positif dapat juga berdampak negatif.
Kebudayaan global yang memberi dampak positif misalnya kemajuan teknologi yang canggih sehingga memberikan kemudahan bagi manusia dalam berkomunikasi dengan orang lain tanpa
mengenal waktu dan tempat, selain itu juga manfaat kemudahan yang sering kita gunakan dan nikmati setiap hari. Namun selain dampak positif ada juga dampak negatif yang berhubungan dengan fenomena sosial budaya antara lain seperti rusaknya lingkungan akibat dari kemajuan teknologi sehingga digunakan dalam eksploitasi sumberdaya alam dalam jumlah yang besar dan hal ini sangat merugikan masyarakat, terutama masyarakat yang masih gagap teknologi.
Perbedaan pola dan kebiasaan masyarakat desa dan masyarakat kota adalah adanya
hedonisme atau keinginan untuk menguasai hal-hal yang berbau dunia dan konsumerisme terutama di kota-kota besar yang sering terjadi perselisihan antara mereka yang kaya dengan yang tidak kaya sehingga hal ini mengakibatkan kesenjangan sosial dalam masyarakat. Pembangunan ekonomi yang hanya untuk mengejar eksistensi diri. Bahkan masyarakat merasa gengsi dengan
kebudayaan-kebudayaan tradisional daerah, terutama masyarakat yang hidup dan tinggal di kota. Mereka mengaggap hal tersebut adalah sesuatu yang tidak model untuk diikuti bahkan dianggap sebagai kebudayaan yang primitif.
Karena dalam budaya global ada 2 macam sisi yang ditawarkan yaitu sisi positif dan sisi negatif, maka dalam menerima unsure kebudayaan tersebut harus benar-benar pintar dalam mengkajinya, memilah milih dampak mana yang membawa sisi positif, dengan demikian masyarakat Indonesia akan tetap dapat menjaga kebudayaan bangsa.
5. Globalisasi Memperkenalkan Nilai Baru dalam Lingkungan Tradisi
Masuknya zaman era globalisasi dalam konteks budaya dalam tradisi di Indonesia telah memperkenalkan nilai-nilai baru, nilai-nilai baru tersebut dapat mempengaruhi kehidupan individu, masyarakat,
lingkungan sosial maupun lingkungan tradisi.
Seperti contoh dalam kehidupan sehari-sehari tata cara berpakaian ornag Indonesia meniru cara berpakaian orang-orang barat, bahasa yang dipelajari juga bahasa asing hal ini karena ada sebagian orang yang beranggapan bahwa belajar bahasa asing lebih keren dibanding mempelajari bahasa daerah yang dianggapnya sudah ketinggalan zaman dan gengsi.
Hal ini mengakibatkan kurangnya pengetahuan generasi baru terhadap bahasa daerahnya bahkan tidak sedikit orang-orang yang saat ini banyak yang tidak bisa menggunakan bahasa daerah, seperti bahasa jawa, saat ini jarang sekali orang-orang muda yang menggunakan bahasa jawa halus apabila berbicara dengan orang yang lebih tua, hal ini dikarenakan terbatasnya pengetahuan mengenai bahasa jawa halus yang dikuasainya, selain itu tari-tarian daerahpun saat ini cenderung diabaikan karena menurunnya kemauan generasi muda untuk ikut serta dalam melestarikannya dan hal ini dikarenakan bagi generasi muda tari-tarian tradisional tersebut sangatlah tidak trend untuk zaman sekarang sehingga mereka lebih memilih dan menyukai tari modern. Hal-hal seperti ini yang apabila tidak secepat mungkin diatasi maka semua kebudayaan yang ada akan luntur serta tidak ada pelestarian dan pengelolaan apabila tidak ada orang yang sadar akan pentingnya kebudayaan bangsa kita.
6. Dampak Globalisasi Terhadap Perkembangan Kebudayaan di Indonesia
Setiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan yang berbeda-beda, kebudayaan adat dan tradisi merupakan hal yang menjadi ciri khas dari daerahnya masing-masing, dan hal ini mencakup aturan hidup bersama dalam masyarakat, sebagai dasar dalam pergaulan, dan yang paling penting adalah bagaimana kita dapat mempertahankan nilai kebudayaan di tengah pengaruh globalisasi. Pada zaman nenek moyang, Indonesia terkenal dengan masyarakat yang saling tolong menolongnya tinggi, menghormati sesama, sopan santun yang dijunjung tinggi seperti apabila seorang anak muda atau yang lebih muda berbicara dengan orang yang lebih tua menggunakan bahasa yang halus dan dengan penuh kesopanan selain itu negara Indonesia terkenal dengan keramahan orang-orangnya, namun untuk sekarang ini semua keadaan dan kondisi ini sangatlah berubah secara signifikan.
Perubahan ini terjadi dalam konteks yang sederhana maupun dalam konteks yang sangat kompleks, contoh yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah cara berpakaian, cara berpakaian yang dulunya sopan, tertutup dan tidak glamor namun keadaan sekarang telah berbeda.
Menurut Jennifer Lindsay dalam bukunya yang berjudul ‘Cultural Policy And The Performing Arts In South-East Asia’, mengungkapkan kebijakan kultural di Asia Tenggara saat ini secara efektif mengubah dan merusak seni-seni pertunjukan tradisional, baik dalam campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan-kebijakan tanpa arah, dan tidak ada perhatian yang diberikan pemerintah kepada kebijakan kultural atau konteks kultural (Rendhi, 2009).
Dalam kutipan ini memaparkan bahwa kebijakan kebudayaan yang ada bukannya merupakan salah satu jalan untuk melestraikan nilai-nilai budaya justru malah mengabaikan nilai-nilai kebudayaan yang ada, peran pemerintah yang seharusnya menjadi pihak wajib yang berwenang akan tetapi justru mengabaikannya. Sehingga lama kelamaan nilai-nilai kebudayaan akan luntur.
Memang kemajuan teknologi yang canggih telah memberikan kemudahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, namun disamping itu hal ini juga memiliki sisi negatif yang sangat fatal contohnya dengan mudahnya mengakses informasi menggunakan internet dapat di salahgunakan untuk mengakses hal-hal yang negatif seperti pornografi, pornoaksi yang hal ini sangat merusak kepribadian moral apalagi kalau yang mengakses adalah anak-anak, akan sangat berdampak buruk kepada calon-calon generasi penerus bangsa.
Selain itu melalui televisi juga dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap semua lapisan masyarakat, baik pengaruh negatif maupun pengaruh positif. Apalagi televisi menjadi sesuatu yang mengglobal dalam kehidupan sehari-hari dan hal ini dapat disaksikan oleh semua kalangan secara langsung sehingga dampak yang terjadipun akan cepat menyebar, untuk saat ini mengglobalnya institusi-institusi televisi bersamaan dengan peredaran global yang terjadi seperti adanya iklan, promosi. Selain itu akibat globalisasi jaringan-jaringan televisi banyak yang menayangkan dari jaringan asing, hal ini akan sangat memberi pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan.
Namun sebesar apapun dampak globalisasi tergantung pada bagaimana masyarakat dalam menerima dampak tersebut, apabila unsur dan nilai yang masuk diterima begitu saja tentunya hal ini tidak ada penyaringan dan akan melunturkan nilai-nilai budaya asli, namun apabila dampak globalisaisi ini sebelum menerima untuk diterapkan terlebih dahulu disaring dengan berdasarkan nilai-nilai pancasila (Rafael Raga Maran, 2000), maka apabila sesuai dengan nilai-nilai pada pancasila akan membawa sisi positif yaitu akan berkembangya nilai budaya yang kemudian akan membuat kebudayaan menjadi sesuatu yang lebih bervariasi selain itu akan menambah wawasan dalam berfikir untuk pengembangan kebudayaan.
7. Melestarikan Kebudayaan dan Pemanfaatan Warisan Budaya
Wujud warisan kebudayaan dapat meliputi warisan fisik maupun warisan nonfisik, warisan tersebut pada dasarnya memiliki ciri yang khas untuk daerahnya masing-masing. Oleh karena itu setiap warisan
Indonesia karena dalam kehidupan bermasyarakat kebudayaan merupakan sesuatu yang kompleks tidak berjalan dengan sendirinya melainkan melibatkan semua anggota masyarakat, dengan demikian semakin kuat kebudayaan dalam suatu masyarakat maka keharmonisan dan kedamaian akan tercapai dalam lingkungan masyarakat tersebut, contohnya dalam masyarakat masih dipelihara sistem budaya gotong royong dan apabila budaya ini tetap terjaga maka dalam masyarakat akan terjalin keselarasan dan tidak adanya kesenjangan dan kecemburuan sosial.
Dalam upaya melestarikan kebudayaan pastinya ada komponen yang menjadi pelaksana (Nani Tuloli, 2003), komponen pelaksana tersebut dapat meliputi masyarakat. Kebudayaan merupakan hal yang mendasar bagi masyarakat sehingga diharapkan semua lapisan masyarakat dapat berpartisipasi, selain masyarakat ada juga pemerintah yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan, selain itu para pendidik, politisi, wartawan juga harus berpartisipasi dengan cara berperan sesuai dengan perannya masing-masing.
Seperti contoh seorang guru harus dapat mendidik siswanya untuk menumbuhkan rasa peduli terhadap kebudayaan bangsa. Dengan cara ini apabila rasa kepedulian sudah tertanam di jiwa-jiwa generasi penerus bangsa maka untuk kedepan kebudayaan akan terjaga dan akan terbenahi. Apabila semua lapisan masyarakat sudah menerapkan kepedulian dan kesadaran terhadap kebudayaan bangsa, maka diharapkan kebudayaan akan dijaga dan dilestarikan dengan baik (Nani Tuloli, 2003).
Selain adanya komponen yang menjadi pelaksana juga ada tindakan yang dilaksanakan (Nani Tuloli,2003), dalam tindakan pelestarian hal yang dapat dilaksanakan adalah harus mengetahui terlebih dahulu kebudayaan-kebudayaan yang dimiliki, baik itu kebudayaan yang menjadi adat istiadat dan tradisi maupun kebudayaan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Setelah itu menerima nilai-nilai kebudayaan akibat globalisasi dengan terbuka akan tetapi bukan berarti langsung menerima nilai-nilai tersebut dan menerapkannya dalam kebudayaan, melainkan terlebih dahulu menyaringnya mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk.
Hal yang masih nyata dalam kehidupan sekarang ini adalah pelestarian kebudayaan dengan berdakwah menggunakan gamelan seperti yang dilakukan oleh Emha Ainun Najib atau yang lebih dikenal dengan nama Cak Nun, Cak Nun selain seorang dakwah juga seorang budayawan oleh karena itu selain berdakwah menyebarkan agama Islam beliau juga melestarikan kebudayaan jawa yaitu gamelan yang digunakan sebagai perantara dalam dakwahnya. Hal ini sebagai contoh dalam pelestarian kebudayaan sekaligus menjadi ciri khas kebudayaan dari daerahnya masing-masing.
Menurut Effendi (dalam Nani Tuloni dkk, 2003 : 18) mengemukakan bahwa “Warisan budaya sangat tepat kalau dimanfaatkan untuk pembinaan sumber daya manusia”
Kebudayaan juga memilki fungsi disetiap unsur-unsur yangdikandungnya, dan fungsi ini ada keterkaitan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain, oleh karena itu apabila ada perubahan dalam satu unsur maka unsur yang lain juga akan mengalami perubahan juga.
Menurut Radcliffe-Brown dan Kaplan (dalam Nani Tuloli dkk, 2003 : 10) adalah sistem budaya memiliki syarat-syarat tertentu untuk memungkinkan eksistensinya, atau sistem budaya itu memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi agar dapat hidup terus, dan bila tidak terpenuhi maka sistem itu akan mengalami disintegrasi dan mati.
Dari kutipan ini fungsi kebudayaan dapat dipertahankan apabila ada kondisi dan pihak-pihak yang mendukung berlangsungnya kebudayaan tersebut, karena dalam pelestarian kebudayaan yang sangat berperan penting adalah orang-orang atau masyarakat yang memiliki kebudayaan itu, dan fungsi kebudayaan dapat dipertahankan apabila dapat menyelaraskan dengan perkembangan dan kemajuan zaman akan tetapi kalau tidak bisa menyelaraskannya maka yang terjadi adalah akan terjadi perubahan fungsi yang tidak seharusnya.
8. Kesimpulan
Berdasarkan semua hal-hal yang telah dipaparkan di atas, kebudayaan selalu mengalami perubahan dalam setiap saat dan perubahan ini tidak lepas dari peran masyarakat yang memegang kebudyaan tersebut. Sealin itu adanya perubahan juga karena masuknya unsur-unsur budaya luar akibat dari globalisasi, unsur-unsur budaya yang sangat mempenagruhi terhadap kebudayaan yang sudah ada baik positif maupun negatif. Maka dari itu globalisasi harus ditanggapi secara kritis karena unsur-unsur yang ditawarkan begitu banyak sehingga harus ada penyaringan dalam memilih dan menerapkan unsur tersebut.
tentunya ditangan kitalah perubahan akan terjadi menuju bangsa Indonesia yang lebih baik dengan kebudayaan daerah yang merupakan kekayaan yang perlu dibanggakan.
Daftar Pustaka
Maran, Raga Rafael. (2000). Manusia & Kebudayaan dalam PerspektifIlmu Budaya Dasar. Jakarta : PT Rineka.
Tulolli, Nani dkk. (2003). Dialog Budaya Wahana Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Bangsa. Jakarta : CV. Mitra Sari. Undang Undang Dasar 45 pasal 23 tentang Kebudayaan Nasional.
Rendhi. (2009). “Permasalahan Kebudayaan Akibat dari Globalisasi” diunduh dari
(http://rendhi.wordpress.com/makalah-pengaruh- globalisasi-terhadap-eksistensi-kebudayaan-daerah/), pada 10 Oktober 2013.
PENGARUH BERPAKAIAN BUDAYA BARAT TERHADAP PENINGKATAN KRIMINALITAS DI INDONESIA
Daftar Isi Halaman Judul Kata Pengantar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Manfaat Penelitian 1.5 Metode Penelitian 1.6 Sistematika
BAB II KERANGKA TEORI 2.1 Pakaian Kebudayaan Barat 2.2 Kriminalitas
2.3 Pakaian Budayaan Barat dan Kriminalitas BAB III PEMBAHASAN
3.1 Pengaruh pakaian budaya barat terhadap tingkat kriminalitas di Indonesia 3.2 Cara meminimalisir Kriminalitas yang disebabkan oleh pakaian budaya barat BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan 4.2 Saran Daftar Pustaka
Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
Budaya berpakaian orang barat sangatlah minim bertentangan dengan budaya berpakaian orang Indonesia, budaya berpakaian orang barat cenderung minim , pendek dan terbuka, sedangkan budaya Indonesia sangatlah kental dengan adat istiadat apalagi mayoritas agama di Indonesia adalah Agama Islam yang memiliki budaya berpakaian yang cenderung tertutup(menutupi aurat) berjilbab dan lain lain.
Budaya berpakaian Orang barat secara tidak sadar sudah merambat ke Indonesia dan korbannya adalah Generasi muda kita di Indonesia, budaya tersebut sudah mempengaruhi pola pikir anak muda apalagi dalam hal berpakaian , anak muda sekarang lebih berani berpakaian minim tanpa takut akan dampak yang terjadi, padahal dengan berpakaian minim bagi muda mudi di Indonesia akan mengundang nafsu dan akan meningkatkan tingkat kriminalitas di Indonesia.
Bahasan ini berkaitan dengan pengaruh berpakaian kebudayaan barat terhadap peningkatan kriminalitas di Indonesia.Saat ini banyak sekali kriminalitas yang diakibatkan karena cara berpakaian anak muda yang minim dan pendek.Oleh karena itu, dalam makalah ini dipaparkan analisis bahwa budaya berpakaian orang barat menjadi salah satu sebab meningkatnya jumlah kriminalitas yang ada di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, masalah dapat dirumuskan seperti berikut ini :
1. Apakah Budaya berpakaian orang barat dapat meningkatkan Tingkat kriminalitas di Indonesia ? 2. Bagaimana cara untuk Meminimalisir kriminalitas yang disebabkan oleh cara berpakaian anak muda yang minim ?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, tujuan yang dicapai dalam penelitian sebagai berikut : 1. Mendeskripsikan pengaruh berpakaian budaya barat terhadap tingkat kriminalitas
2. Mendeskripsikan cara meminimalkan dampak negatif budaya berpakaian barat terhadap jumlah kriminalitas
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi generasi muda, agar lebih berhati hati dalam berpakaian.Generasi muda bisa memilah milah budaya barat yang masuk dalam negara kita dan lebih berhati hati dalam memilih dan memakai pakaian , harus sopan dan beretika.
2. Bagi Orang tua, agar lebih waspada terhadap anaknya dalam berpakaian, bergaul.Orang tua bisa mengontrol pola pikir anaknya dan harus lebih selektif terhadap pakaian yang dipakai oleh anaknya. 3. Bagi pemerintah, agar bisa mengontrol budaya yang masuk dalam negara indonesia.Pemerintah bisa membentuk undang undang tentang cara berpakaian dan memberikan pesan kepada toko toko agar menjual pakaian yang tidak terlalu minim.
4. Bagi Peneliti, agar bisa dijadikan acuan bahwa harus lebih selektif dalam memilih dan memakai pakaian , harus lebih sopan dan menutup aurat kalau bisa berjilbab.
1.5 Metode Penelitian 1. Studi kepustakaan
Dalam rangka penelitian studi kepustakaan ini penulis memilih sumber-sumber dari internet, Buku yang dijadikan referensi untuk pembuatan karya tulis ini.
1.6 Sistematika
Pada Karya tulis ini terdapat IV BAB yang meliputi Pendahuluan pada BAB I , Kerangka teori pada BAB II, Pembahasan pada BAB III dan Kesimpulan pada BAB IV .
Pada BAB I Pendahuluan terdapat 5 point yang meliputi Latar belakang pembuatan karya tulis ini, Rumusan Masalah yang mendasari latar belakang pembuatan karya tulis ini, Tujuan penelitian dari karya tulis ini, Manfaat penenitian dari karya tulis ini , Sistematika dari keseluruhan karya tulis ini dan Metode penelitian yang digunakan untuk membuat karya tulis ini.
Pada BAB II Kerangka Teori berisi mengenai kajian pustaka dari variabel judul karya tulis ini yang meliputi 2 topik yaitu Pakaian budaya barat yang berisikan pengertian dan dampak serta Kriminalitas yang berisikan pengertian, Macam, Dampak dan Sebab . dan ditambah dengan gabungan dari 2 Variabel tersebut yaitu Pakaian budaya barat dan Kriminalitas.
Pada BAB III Pembahasan terdapat 2 pembahasan yang merupakan jawaban dari rumusan masalah yang telah ada sebelumnya.
BAB II
Kerangka Teori
2.1 Pakaian Budaya Barat 2.1.1 Pengertian
Pakaian menurut kamus besar bahasa Indonesia merupakan barang yang dipakai (baju, celana, dan sebagainya) .(Kamus Bahasa Indonesia hlm. 1105 - tahun 2008).
Budaya : Pikiran , akal budi, hasil .(Kamus Bahasa Indonesia hlm. 225 – tahun 2008).
Barat : 1 nama mata angin, arah tempat matahari terbenam; 2 Eropa. (Kamus Bahasa Indonesia hlm.138 – tahun 2008).
Pakaian Budaya Barat : Pakaian yang dipakai oleh orang barat atau yang dikenakan oleh orang eropa .Banyak orang orang zaman sekarang memakai baju yang dipakai budaya barat, yang terbuka sana sini. Menurut mereka itu adalah salah satu model pada masa yang modern ini, menurut mereka tidak pakai baju seperti itu adalah kampungan dan tidak modern.
2.1.2 Dampak
Dampak negative apabila kita mengikuti gaya berpakaian budaya barat adalah :
a. Semakin hilangnya budaya kesopanan kita dalam berpakaian, apalagi kita dari dulu sangat sopan dalam berpakaian.
b. Hasil penjualan baju buatan local pun menjadi menurun drastis karna menurunnya peminat baju local, mereka lebih memilih baju import
c. Semakin banyaknya kriminalitas, contohnya apabila kita memakai baju yang tidak sopan atau terlalu terbuka. Itu mungkin akan membuat orang semakin berpikiran kotor dan melakukan tindak kejahatan.
2.2 Kriminalitas 2.2.1 Pengertian
1Muhammad Mustafa. 2007. Kriminologi. Depok: FISIP UI PRESS. hal :16
kriminalitas adalah segala macam bentuk tindakan dan perbuatan yang merugikan secara ekonomis dan psikologis yang melanggar hukum yang berlaku dalam negara Indonesia serta norma-norma sosial dan agama.
2.2.2 Macam macam a. Pencurian b. Pembunuhan c. Perampokan d. Teroris e. Pemerkosaan
f. Penculikan , dan lain sebagainya 2.2.3 Dampak
1. Kerugian materi
Hal ini bisa terjadi jika tindakan kriminalitas masih dalam tahap agak berat. Seperti pencopetan,penipuan penjambretan, pencurian dll, yang tanpa di sertai dengan tindak kekerasan
2. Trauma
Trauma bisa terjadi pada seseorang yang mengalami tindakan kriminal yang biasanya di sertai dengan ancaman seperti dengan membawa benda-benda tajam seprti pisau, clurit, pistol dan lain lain. 3. Cacat tubuh dan tekanan mental
Hal ini bisa saja terjadi jika suatu tindakan kriminal di sertai dengan tindakan kriminal yang lainnya atau jika seseorang melakukan tindakan kriminal itu sudah memasuki tahap tindakan kriminal yang berat. Contohnya jika suatu tindakan pencurian disertai dengan penganiayaan, atau pemerkosaan dan lain sebagainya.
4. Kematian
Kematian terjadi jika tindakan kriminal yang di lakukan oleh seseorang kelompok sudah memasuki tingkat sangat berat seperti pembunuhan, mutilasi dan lain-lain. Biasanya hal ini didasari oleh beberapa motif.
2.2.4 Sebab Kriminalitas
1) Pendapat bahwa kriminalitas itu disebabkan karena pengaruh yang terdapat di luar diri pelaku. 2) Pendapat bahwa kriminalitas merupakan akibat dari bakat jahat yang terdapat di dalam diri pelaku sendiri.
3) Pendapat yang menggabungkan, bahwa kriminalitas itu disebabkan baik karena pengaruh di luar pelaku maupun karena sifat atau bakat si pelaku.
b. Tindak kriminal juga dapat terjadi karena : 1) Pertentangan dan persaingan kebudayaan. 2) Perbedaan ideologi politik.
3) Kepadatan dan komposisi penduduk. 4) Perbedaan distribusi kebudayaan. 5) Perbedaan kekayaan dan pendapatan. 6) Mentalitas yang labil.
7) faktor dasar seperti faktor biologi, psikologi, dan sosioemosional.
2.3 Pakaian Budaya Barat dan Kriminalitas
Pakaian budaya barat dapat mempengaruhi tingkat kriminalitas di Indonesia dikarenakan pakaian barat yang terbuka dan senonoh mengakibatkan daya tarik seksual bagi yang memandang yang bisa
mengakibatkan kerugian bagi korbannya meskipun ia tidak berniat untuk menggoda tapi secara tidak langsung dengan cara berpakaian yang senonoh dan pendek dapat menarik perhatian lawan jenis dan akan berakibat fatal jadinya .
Dizaman yang serba modern ini banyak sekali informasi atau kebudayaan dari barat yang masuk ke Indonesia dengan mudahnya tanpa adanya keselektifan dari masyarakat indonesia, misalnya cara atau model berpakaian budaya barat yang mulai merambah dan mempengaruhi pola berpakaian anak muda di Indonesia yang berseberangan dengan kodrat berpakaian kaum wanita pada umumnya , anak muda zaman sekarang lebih berani berpakaian pendek, minim dan senonoh , hal itu yang mengakibatkan tingkat kriminalitas di Indonesia bertambah dari tahun ke tahun.Hal itu dapat disebabkan karena kurangnya perhatian dari orang tua , pemerintah dan anak muda yang memakai pakaian itu sendiri
3.1 Pengaruh pakaian budaya barat terhadap tingkat kriminalitas di Indonesia
Berpakaian dengan model budaya barat dapat mempengaruhi tingkat kriminalitas di Indonesia, demikian itu disebabkan karena pakaian budaya barat yang terbuka , senonoh dan bersimpangan dengan adat di indonesia, yang menjadikan kriminalitas seksual meningkat seperti meningkatnya kasus pemerkosaan di Indonesia , dikarenakan kesalahan kaum wanita yang memilih pakaian yang ia kenakan. Pada tahun ini tingkat pemerkosaan terhadap kaum wanita sangat tinggi , dan kebanyakan korbannya adalah anak muda.
Penyebab dari kaum wanita mengikuti cara berpakaian orang barat dikarenakan mereka mengikuti trend berpakaian yang sedang populer pada era ini , kurangnya rasa percaya diri sehingga kaum wanita
berusaha membuat dirinya sempurna dengan mengikuti model pakaian yang sedang populer, kurangnya pendidikan moral pada anak muda zaman sekarang.
3.2 Cara meminimalisir Kriminalitas yang disebabkan oleh pakaian budaya barat
Tingkat kriminalitas yang disebabkan oleh cara berpakaian yang mengadopsi model pakaian budaya barat dapat diminimalisir dengan cara :
a. Menanamkan perilaku moral yang baik.
b. Memberi pendidikan moral tentang cara berpakaian yang baik dan benar menurut kaidah islam. c. Menyaring setiap kebudayaan yang masuk kedalam negara sebagai upaya pencegahan preventif. d. Menanamkan rasa percaya diri.
e. Tidak mudah terjerat dengan sesuatu yang baru dan bersifat menjerumuskan kedalam dunia gelap. f. Orang tua memberikan saran untuk anak dalam memilih baju yang ia kenakan.
g. Dan lain sebagainya .
BAB IV PENUTUP 4.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut , terkait dengan pengaruh pakaian budaya barat terhadap meningkatnya kriminalitas di Indonesia, maka simpulan dapat diuraikan sebagai berikut .
2. Pengaruh berpakaian yang mencerminkan budaya barat berdampak negaitif pada pola pikir anak remaja sekarang misalnya : berkurangnya pendidikan moral yang tertanam pada anak muda, pola pikir anak muda yang menyeleweng dari atauran dan norma yang ada , kehidupan anak muda yang bebas , dan lain sebagainya .
3. Salah satu upaya untuk mengurangi masalah tersebut yaitu dengan peran Orang tua yang selalu membimbing anaknya dengan cara menanmkan perndidikan moral , akhlak dan perilaku yang baik sesuai dengan nilai atau norma yang berlaku serta pada masalah ini bukan hanya peran orang tua tetapi juga peran teman pergaulan dan lingkungan dapat meminimalisir pengaruh yang diakibatkan oleh pakaian budaya barat dengan cara memilih teman yang baik , yang sopan dan beretika dengan begitu kita akan ikut menjadi orang yang sopan dan beretika juga begitupun dengan lingkungan tempat kita berada. 4.2 Saran
Berdasarkan bahasan tersebut , saya sebagai penulis menyarankan agar kita sebagai anak muda harus lebih selektif dalam memilih sesuatu untuk diri kita baik itu dari segi pakaian, makanan, teman, lingkungan pergaulan dan lain senbagainya. Saran tersebut saya sampaikan dikarenakan pada zaman yang semakin modern ini banyak anak muda yang salah dalam memilih tindakan untuk dirinya sendiri , itu disebabkan kecerobohan pada anak muda sendiri.
Oleh karena itu ,peran orang tua sangat dibutuhkan untuk mengawasi tingkah laku anak dan
perkembangan pola pikir anak.Sebaiknya orang tua memberikan bekal pendidikan moral dan akhlak baik serta etika dan sopan santun dalam berpakaian sehingga kriminalitas akan berkurang.
Daftar Pustaka
Anonim.2002.Kriminalitas, Modernitas dan Identitas Dalam Sejarah Indonesia.Yogyakarta:Pustaka Pelajar. Daradjat ,Zaiah.1985.Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia .Cet. IV. Jakarta: PT. Bulan Bintang.
Doedireja, Sidik.1995.Kriminalitas .Bogor: Pelita.
Poerwadarminta, W.J.S. 1978. Kamus Umum Bahasa Indonesia .Cet. IV.Jakarta: Balai Pustaka. Soma,Syafari dan Hajaruddin.1995.Menaggulangi Remaja Kriminal Islam Sebagai Alternatif. Bandung:Nuansa
http://waesiiz.blogspot.com/2011/02/pengaruh-budaya-barat-terhadap-remaja.html http://dheaaandra.blogspot.com/2012/05/budaya-berpakaian.html
Pengaruh Kebudayaan Barat Terhadap Remaja Indonesia (Valentine Dan Halloween) PENDAHULUAN
Seiring dengan masuknya era globalisasi saat ini, turut mengiringi budaya-budaya asing yang masuk ke Indonesia. Di zaman yang serba canggih ini, perkembangan kemutahiran tekhnologi tidak dibarengi dengan budaya-budaya asing positif yang masuk. Budaya asing masuk ke negeri kita secara bebas tanpa ada filterisasi. Pada umumnya masyarakat Indonesia terbuka dengan inovasi-inovasi yang hadir dalam kehidupannya, tetapi mereka belum bisa memilah mana yang sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku dan mana yang tidak sesuai dengan aturan serta norma yang berlaku di negara Republik Indonesia.
Negara Indonesia mempunyai norma-norma yang harus dipatuhi oleh masyarakatnya, norma tersebut meliputi norma agama, norma hukum, norma sosial, norma kesopanan. Setiap butir norma memiliki peranan masing-masing dalam mengatur hidup manusia. Norma merupakan suatu ketetapan yang ditetapkan oleh manusia dan wajib dipatuhi oleh masyarakat dan memiliki manfaat positif bagi kelangsungan hidup khalayak. Setiap peraturan yang telah ditetapkan pasti ada sanksi bagi yang melanggar, hal itu serupa dengan norma, apapun jenis norma ada di Indonesia, pasti ada sanksi bagi yang melanggarnya.
Pada umumnya masyarakat Indonesia sekarang seakan tidak menghiraukan lagi norma-norma yang ditetapkan. Terbukti dengan banyaknya penyimpangan prilaku yang dilakukan oleh banyak orang, seperti perbuatan korupsi, mencuri, menistakan agama, dan sebagainya. Kasus-kasus seperti itu menandakan bobroknya mental bangsa ini. Sehingga generasi muda yang mendatang bisa diperkirakan dapat lebih buruk dari masa sekarang jika mental mundur tersebut masih ditularkan pada kaum remaja saat ini.
Hal tersebut sudah mulai terjadi sekarang, kenyataan yang terjadi saat ini banyak remaja yang melakukan penyimpangan-penyimpangan yang sudah tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di Indonesia. Mereka tidak menghiraukan lagi norma-norma yang ada. Kemudahan mengakses budaya asing serta kemudahan masuknya budaya asing tanpa ada filterisasi membuat usia muda rawan tergoda dengan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya. Seperti banyaknya blue film yang masuk ke Indonesia,
yang tidak seharusnya di coba jadi ingin dicoba. Jika sudah seperti ini siapa yang harus di salahkan? Permasalahan ini hanyalah satu contoh kasus yang sekarang sering terjadi di Indonesia.
EFEK DARI PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Perubahan kebudayaan dalam masyarakat merupakan gejala perubahan pola hidup, kebiasaan dan struktur sosial dalam masyarakat yang disebabkan oleh beberapa faktor. Perubahan kebudayaan ini merupakan hal alami yang terjadi di masyarakat dikarenakan sifat alami manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Menurut sumber dari Wikipedia, perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat yang terjadi karena adanya perubahan komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Menurut Hirschman, kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
Seperti yang telah disebutkan di atas, perubahan jumlah penduduk merupakan salah satu penyebab perubahan kebudayaan secara intern, baik itu dikarenakan kelahiran, kematian ataupun perpindahan (migrasi). Perpindahan penduduk merupakan salah satu penyebab yang patut diperhitungkan. Biasanya masyarakat pendatang cenderung membawa kebudayaan asalnya. Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran kebudayaan masyarakat asal dan terjadi pembauran kebudayaan. Hal ini diperkuat jika kebudayaan yang dibawa tampak lebih modern dan lebih menarik. Sebagai contoh masyarkat ibu kota yang melakukan migrasi ke daerah, cenderung memamerkan hal – hal baru yang dimiliki dan membawa kebudayaan kota yang biasa dilakukan ke daerah. Hal ini ditunjang oleh kemajuan teknologi, sehingga masyarakat daerah tertarik dan cenderung mengikuti pola, kebiasaan dan kebudayaan tersebut. Akan tetapi, tidak semua kebudayaan yang di bawa membawa pengaruh positif. Contoh lain yaitu adanya penemuan baru merupakan salah salah satu penyebab perubahan kebudayaan secara internal.
HARI HALLOWEEN
Halloween atau Hallowe’en adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober, dan terutama dirayakan di Amerika Serikat. Tradisi ini berasal dari Irlandia, dan dibawa oleh orang Irlandia yang beremigrasi ke Amerika Utara. Halloween dirayakan anak-anak dengan memakai kostum seram, dan berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau cokelat sambil berkata “Trick or treat!” Ucapan tersebut adalah semacam “ancaman” yang berarti “Beri kami (permen) atau kami jahili.” Di zaman sekarang, anak-anak biasanya tidak lagi menjahili rumah orang yang tidak memberi apa-apa. Sebagian anak-anak masih menjahili rumah orang yang pelit dengan cara menghiasi pohon di depan rumah mereka dengan tisu toilet atau menulisi jendela dengan sabun.
Halloween identik dengan setan, penyihir, hantu goblin dan makhluk-makhluk menyeramkan dari kebudayaan Barat. Halloween disambut dengan menghias rumah dan pusat perbelanjaan dengan simbol-simbol Halloween.
Halloween berasal dari festival Samhain (dari bahasa Irlandia Kuno samain) yang dirayakan orang Kelt zaman kuno. Festival Samhain merupakan perayaan akhir musim panen dalam kebudayaan orang Gael, dan kadang-kadang] disebut “Tahun Baru Kelt”. Orang Kelt yang menganut paganisme secara turun temurun menggunakan kesempatan festival untuk menyembelih hewan ternak dan menimbun makanan untuk persiapan musim dingin. Bangsa Gael kuno percaya bahwa tanggal 31 Oktober, pembatas dunia orang mati dan dunia orang hidup menjadi terbuka. Orang mati membahayakan orang hidup dengan membawa penyakit dan merusak hasil panen. Sewaktu merayakan festival, orang Gael menyalakan api unggun untuk membakar tulang-tulang dari hewan yang mereka sembelih. Orang Gael mengenakan kostum dan topeng untuk berpura-pura sebagai arwah jahat atau berusaha berdamai dengan mereka
HARI VALENTINE
Hari Valentine yang jatuh tepat setiap 14 Februari menjadi hari tatkala setiap pasangan dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan perasaannya. Asal muasal Valentine sendiri sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan
Hari Valentine juga merupakan sebuah hari ketika para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Asal-muasalnya yang gelap sebagai sebuah hari raya Katolik Roma juga dikaitkan dengan Santo Valentinus. Hari raya ini tidak mungkin diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir Abad Pertengahan ketika konsep-konsep macam ini diciptakan.
Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk “valentines”. Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Cupido (Inggris: cupid) bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi
pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine. Sedangkan di Romawi kuno, 15 Februari adalah Hari Raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, Dewa Kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.
Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jalanan Kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama, wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.
Lalu siapakah Valentinus? Cerita yang beredar ia adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ketiga. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut, dan ia bukan satu-satunya. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semuapria di kerajaannya bergabung di dalamnya. Namun sayangnya keinginan ini
bertepuk sebelah tangan. Para pria enggan terlibat dalam perang. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Hal ini membuat Claudius sangat marah, ia pun segera memerintahkan
bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara. Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta itu adalah putri sipir penjara. Sang ayah mengizinkannya untuk mengunjungi Santo Valentine di penjara. Tak jarang mereka berbicara selama berjam-jam. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta itu. Ia setuju bahwa Santo Valentine telah melakukan hal yang benar.
Di hari saat Valentine dipenggal, yaitu 14 Februari, ia menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis itu atas semua perhatian, dukungan dan bantuannya selama dipenjara. Di akhir pesan itu, ia menuliskan: “Dengan Cinta, dari Valentine-mu.”
Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini, setiap 14 Februari, orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai Hari Kasih Sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat Santo Valentine sebagai pejuang cinta, sementara Kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.
Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan. Sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah relasi serius. Sebenarnya valentine itu Merupakan hari Percintaan, bukan hanya kepada Pacar ataupun kekasih, Valentine
merupakan hari terbesar dalam soal Percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta. Di Amerika Serikat hari raya ini lalu diasosiasikan dengan ucapan umum cinta platonik “Happy
Valentine’s”, yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, ataupun, teman pria kepada teman prianya dan teman wanita kepada teman wanitanya.(dari berbagai sumber/ASW)
PENGARUH TERHADAP REMAJA
di dapatkan. Seperti budaya Valentine Day’s yang di kalangan remaja lebih di kenal dengan sebutan Hari Kasih Sayang, ini sebenarnya bukan budaya orang indonesia melainkan adalah budaya orang
mancanegara yang kemudian masuk ke Indonesia dan di sambut baik oleh kalangan anak-anak muda kemudian menjadi budaya di kalangan para remaja (anak-anak muda).
Para remaja di Indonesia kata Valentine Day’s itu sudah tidak asing bagi dunia remaja, mereka lebih mengenal dan memahami di karenakan Valentine Day’s identik dengan remaja serta mereka juga ikut merayakan. Biasanya Valentine Day’s (Hari Kasih Sayang) dirayakan kepada kekasih atau pasangan masing-masing dengan memberikan hadiah berupa Coklat yang di jadikan simbol kasih sayang, serta memberikan selamat kepada kekasih (Pasangan masing-masing) berupa kata-kata indah yang berisikan bait-bait kata yang romantis sehingga membuat pasangan kita menjadi lebih sayang. Selain itu juga ada yang menjadikan Valentine Day’s (Hari Kasih Sayang) sebagai saat yang tepat untuk mengutarakan perasaan kepada cewek yang ingin di jadikan pacar atau kekasih dengan mengungkapkan isi hati tentang perasaanya kepada si cewek tersebut.
Sebenarnya Valentine Day’s (Hari Kasih Sayang) itu baik dan bagus apabila di lakukan dengan benar, karena didalamnya terdapat pesan-pesan yang baik yaitu mempererat dan menyatukan rasa kasih sayang terhadap pasangan kita masing-masing. Sehingga memiliki peran yang penting bagi keharmonisan dengan kekasih atau pasangan kita masing-masing, cuma kita juga harus mengetahui asal mula dari Valentine Day’s tersebut sehingga kita tidak memahami kata Valentine Day’s secara mentah (Salah) atau dalam artian menyamakan dengan negara asalnya yang apabila di telusuri mempunyai perbedaan budaya serta tradisi yang ada di masing-masing negara. maka bagi para remaja yang masih dalam tahap pencarian identitas diri harus dapat menyaring segala informasi yang masuk dan berkembang sehingga tidak salah dalam pemahaman informasi tersebut.
Sebagai para remaja yang masih haus akan informasi dan pengalaman sebagai identitas mereka hendaknya mengerti betul apa yang mereka lakukan, seperti halnya Valentine Day’s (Hari Kasih Sayang) sehingga mereka tidak terjemurus dalam kebudayaan asing yang tentu saja berbeda dengan kebudayaan di Indonesia yang mencerminkan adat ketimuran.
Source:
http://showbiz.liputan6.com/read/511096/sejarah-valentine-persembahan-dewa-zeus-untuk-sang-dewi
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/04/efek-dari-berubahnya-budaya/