• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISA PERMASALAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III ANALISA PERMASALAHAN"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

ANALISA PERMASALAHAN

3.1 Sejarah Perkembangan Asuransi di Indonesia

Asuransi mulai masuk ke Indonesia pada waktu penjajahan Belanda dan negara kita pada waktu itu disebut Nederland Indie. Adanya asuransi di negara kita ini akibat dari berhasilnya bangsa Belanda dalam sektor perkebunan dan perdagangan di negeri jajahannya, sehingga untuk memenuhi kebutuhan akan jaminan kehilangan usahanya mereka mutlak memerlukan asuransi. Diperkirakan masuknya asuransi ke Indonesia adalah sesaat setelah berdirinya sebuah perusahaan asuransi di Belanda yang bernama De Nederland Van 1845. Pada saat itu juga pemerintahan Belanda mendirikan sebuah perusahaan asuransi jiwa bernama Nederlandsh Indisch Leven Verzekering En Liefrente Maatschappij yang berdomisili di Indonesia, dimana kemudian perusahaan ini diambil alih oleh pemerintahan RI dan sekarang bernama PT Asuransi Jiwasraya. Pada tahun 1853 terdapat perusahaan asuransi kerugian yang pertama yang beroperasi di Indonesia, yaitu Bataviasche Zee En Brand Asurantie bernama ‘Boemi Poetra 1912’, yang dimiliki dan dipimpin sendiri oleh tenaga-tenaga bangsa Indonesia.

Setelah praktek asuransi terhenti antara tahun 1942-1945 karena banyaknya revolusi, maka pada tahun 1950 mulai tumbuh kembali dimana pada periode ini bangsa Indonesia mulai membangun perekonomian sendiri. Perusahaan-perusahaan asuransi yang tadinya dibekukan mulai dibuka kembali, namun karena adanya

(2)

kebijakan pemerintah RI yang pada saat itu menguasai semua jalur perekonomian, dan masa perjuangan mengembalikan wilayah Irian Barat dari tangan penjajah, maka pada saat itu semua perusahaan asing diambil alih oleh negara(termasuk perusahaan asuransi). Untuk kesejahteraan rakyat, pemerintah juga mendirikan perusahaan-perusahaan asuransi sosial yang melaksanakan kegiatannya berdasarkan ketentuan perundang-undangan, seperti : Perum Jasa Rahardja (sekarang Persero), Perum Taspen, Perum Asabri dan Perum Astek (Jamsostek).

Dengan lahirnya Pemerintahan Orde Baru (1966), maka sektor swasta ditumbuhkan kembali dengan jalur perekonomian yang dikuasai oleh perusahaan-perusahaan negara. Dan sejalan dengan pesatnya pembangunan di Indonesia, pemerintah Orde Baru melakukan pembangunan di segala bidang termasuk asuransi.

Dalam upaya menertibkan dan meningkatkan mutu dari Industri Asuransi di Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijaksanaan berupa ketentuan dan perundangan. Ketentuan perundangan yang penting dalam menertibkan usaha bidang perasuransian ini adalah Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 214 dan 215/KMK 013/1988 yang dikenal dengan Paket Desember. Tidak lama kemudian setelah itu lahirlah undang-undang khusus mengenai usaha perasuransian sebagai yang pertama kali sejak Republik Indonesia merdeka, yaitu Undang-Undang No.2 tahun 1992 berikut dengan Peraturan Pemerintah No.73 tahun 1992 dengan KMK No.223 sampai 226 yang mengatur sangat rinci mengenai langkah-langkah usaha perasuransian dalam dunia asuransi.

(3)

3.2 Latar Belakang Perusahaan

PT. BMI adalah salah satu anak perusahaan dari PT. Olympia Group, sebuah perusahaan induk yang mempunyai beberapa anak perusahaan dibidang jasa pendanaan, penjualan kendaraan bermotor, reparasi kendaraan bermotor dan juga asuransi kerugian. PT. BMI sendiri didirikan pada tanggal 31 Desember 1996 dan bergerak dalam bidang jasa asuransi kerugian yang bisnis utamanya pada saat ini lebih spesifik kepada asuransi kendaraan bermotor roda empat. Untuk asuransi kebakaran, pertumbuhannya mengalami stagnasi dan tidak menjadi fokus perusahaan pada saat ini. Untuk jasa angkutan kapal (marine cargo) belum dijalankan oleh perusahaan sampai saat ini.

Jenis asuransi kendaraan bermotor yang disediakan oleh PT. BMI pada saat ini hanyalah pertanggungan Total Loss Only (TLO), dimana penggantian kerugian akan diberikan jika mobil hilang atau mengalami kerusakan dengan nilai melebihi 75% dari harga mobil tersebut di pasaran (kerusakan termasuk terbakar, kecelakaan, dll). Para nasabah/tertanggung yang diperoleh oleh PT. BMI berasal dari nasabah perusahaan pendanaan yang bernama PT. Olympindo Multi Finance (mulai saat ini disebut PT. OMF), yang menyediakan fasilitas kredit untuk kepemilikan kendaraan bermotor maupun jasa leasing. PT. OMF memiliki cabang di 18 kota besar di Indonesia, antara lain di pulau Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Cabang-cabang PT. OMF lebih tersentralisasi di pulau Jawa, antara lain di Jabotabek, Bandung, Cirebon, Semarang, Solo, Purwakarta, Malang, Kediri, dan Surabaya. Untuk pulau Sumatra, cabang PT. OMF hanya berada di kota Medan dan Pekanbaru.

(4)

Untuk pulau Sulawesi, cabangnya berada pada kota Makassar, sedangkan cabang untuk pulau Kalimantan berada di kota Banjarmasin.

Nasabah yang mengambil Kredit Pemilikan Mobil(KPM) atau leasing melalui PT. OMF akan langsung terdaftar menjadi tertanggung pada asuransi PT. BMI, dimana hal tersebut merupakan salah satu kewajiban dalam pengajuan kredit. Selain melalui perusahaan pendanaan, PT. BMI juga memperoleh tertanggung dari salah satu Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan cara yang sama, yaitu KPM. Sumber lainnya adalah dari pusat penjualan mobil (showroom) yang berafiliasi dengan PT. OMF. Perusahaan pendanaan, BPR, dan showroom yang disebutkan diatas merupakan afiliasi dari PT. BMI dalam mencari tertanggung dan semua lembaga tersebut berada dalam satu grup yang sama dibawah naungan PT. Olympia Group sebagai perusahaan induk (termasuk PT. BMI).

3.3 Analisa Eksternal Industri Asuransi Di Indonesia

Pembahasan yang dilakukan bertujuan untuk melihat pengaruh lingkungan eksternal terhadap kelangsungan bisnis suatu perusahaan dan berguna untuk menentukan langkah ke depan apa yang perlu diambil sehubungan dengan adanya kondisi tersebut. Analisa eksternal yang dilakukan oleh penulis mencakup tinjauan dari segi sosial-ekonomi, politik, hukum, teknologi, pelanggan dan persaingan yang sedang berjalan di industri asuransi kendaraan bermotor saat ini.

(5)

3.3.1 Tinjauan Politik Dan Hukum

Hukum dan kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan bisnis akan sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan hampir semua jenis industri yang bermain di suatu negara. Hukum sangat terkait dengan politik, dimana pemerintahan hasil politik yang nantinya akan membuat keputusan atau kebijakan mengenai peraturan yang digunakan untuk mengatur industri atau usaha yang berjalan didalam negaranya. Jika hukum atau kebijakan yang dibuat mendukung atau dapat memberikan iklim yang cerah bagi berusaha, maka banyak perusahaan yang akan masuk, berdiri dan berkembang.

Industri asuransi seperti layaknya industri perbankan, berada dalam pengawasan hukum yang ketat oleh pemerintah karena menyangkut dengan dana masyarakat yang dipercayakan kepada mereka untuk dijadikan common pool dalam menanggung risiko. Tanpa hukum dan regulasi yang kuat dan jelas, jika hanya bermodalkan kepercayaan dan pelayanan yang dapat dihandalkan saja, belum tentu semua perusahaan asuransi dapat berjalan pada jalur yang benar. Peranan dan keseriusan pemerintah amat dibutuhkan untuk memberikan regulasi yang rasional dan kondusif bagi perusahaan asuransi agar dapat berkembang namun tetap sesuai jalur.

Pengaruh hukum yang begitu besar terhadap industri asuransi dapat kita lihat pada kasus yang baru terjadi belakangan ini yang menimpa PT. Prudential Life Assurance. Kendati keputusan Pengadilan Niaga Jakarta memailitkan PT. Prudential Life dan PT. Manulife Indonesia dibatalkan oleh Mahkamah Agung, bukan berarti ancaman pailit tidak datang lagi. Menurut Kornelius Simanjuntak, asuransi jiwa lebih

(6)

rentan terhadap pemailitan ketimbang asuransi kerugian umum dan sampai Juli 2004 DPR belum juga meng-amandemen UU kepailitan, sehingga sengeketa yang terjadi di internal perusahaan asuransi berpotensi untuk digugat pailit. Ketua AAUI Frans Y Suhusilawane tetap optimistis revisi UU Kepailitan bisa dituntaskan DPR pada tahun ini juga. Revisi itu antara lain memuat pasal krusial, yaitu kepailitan perusahaan asuransi harus melalui menteri keuangan.

Direktur Biro Riset Majalah InfoBank, Eko B Supriyanto, menyebutkan prospek usaha asuransi secara umum masih suram. Ditandai oleh pertumbuhan premi yang diperkirakan melambat hingga tahun 2006. Selain itu, kelambanan restrukturisasi industri asuransi beberapa waktu ke depan diperkirakan akan membuat babak belur. Tekanan modal, gejolak pasar uang, dan ketidakpastian berusaha yang menghambat ekspansi usaha membuat industri asuransi nasional terhambat. Secara kelembagaan industri asuransi hanya didominasi oleh 10 asuransi baik asuransi jiwa maupun umum. Skala industrinya juga sangat timpang. "Ada perusahaan yang memiliki premi bruto Rp 4,2 triliun, tapi ada juga yang tidak lebih dari Rp 1 miliar," tuturnya. Dia berpendapat perlu dipikirkan exit policy bagi perusahaan asuransi yang sakit dan pembentukan lansekap asuransi agar tidak terjadi persaingan tak sehat dan saling mematikan. Perusahaan-perusahaan asuransi yang tidak memenuhi ketentuan rasio risiko terhadap modal atau risk based capital (RBC) sebesar 100% perlu didorong melakukan mandatory merger atau akuisisi dengan perusahaan yang lebih sehat dari sisi modal.

(7)

Kerapuhan industri asuransi ditandai pula oleh makin banyak perusahaan asuransi yang masuk dalam daftar Pembatasan Kegiatan Usaha (PKU), ditambah rencana pemerintah melalui Dirjen Lembaga Keuangan Sub Direktorat Asuransi untuk mengadakan uji kepatutan terhadap para direksi dan komisaris perusahaan asuransi. Industri jasa keuangan tersebut kini memasuki masa konsolidasi. Perusahaan yang memiliki kekuatan modal memadai akan mampu bersaing di pasar asuransi yang tidak kondusif. Perusahaan asuransi besar akan kian besar, sedangkan yang kecil mengalami kemunduran, apalagi jika tak ada kekuatan modal baru dan kepastian hukum mengenai bisnis asuransi.

Hingga akhir tahun 2003 masih ada lima perusahaan asuransi yang memiliki RBC di bawah 100%. Yakni, Asuransi Republik (minus 156%), Asuransi Tugu Indo (minus 93%), Asuransi Raya (minus 71%), Pasaraya General Insurance (14%), dan Asuransi Dharma Bangsa (41,60%). Perusahaan asuransi yang masuk kategori PKU bertambah menjadi 12 perusahaan yang terdiri atas dari lima perusahaan asuransi umum dan tujuh asuransi jiwa.

Sikap pemerintah dalam menangani hal ini masih cenderung tidak tegas dan membingungkan. Sikap Departemen Keuangan yang membiarkan perusahaan asuransi dalam status PKU berlarut-larut mengindikasikan institusi itu masih bingung menentukan sikap. Berdasarkan hasil riset InfoBank jumlah perusahaan asuransi yang akan masuk PKU diperkirakan makin banyak. Ada empat faktor yang membuat kinerja perusahaan asuransi merosot. Pertama, kondisi makroekonomi, misalnya suku bunga rendah dan gejolak kurs, yang membuat imbal (yield) hasil investasi asuransi merosot. Portofolio deposito dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) perusahaan

(8)

asuransi saat ini masih cukup besar sehingga suku bunga SBI yang rendah membuat hasil investasi kian kecil. Diperkirakan hingga pertengahan tahun 2004 porsi obligasi dan saham mulai membesar. Namun hal itu tidak otomatis membuat hasil investasi meningkat karena bunga obligasi mengikuti bunga SBI. Apalagi sudah ada beberapa obligasi yang gagal bayar. Kedua, kepastian hukum dan lingkungan usaha yang tidak mendukung. Kasus pemailitan PT Prudential Life Assurance dinilai dapat berdampak pada bisnis asuransi. Kasus tersebut selain menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap asuransi, membuat ciut investor yang akan masuk ke sektor asuransi.

Ketiga, ketimpangan struktur perusahaan asuransi membuat persaingan berat sebelah

karena perusahaan asuransi kecil berhadapan dengan perusahaan asuransi besar pada risiko pasar yang sama. Apalagi sekarang perusahaan asuransi besar mulai melakukan kerja sama dengan bank lewat produk bancassurance dan lebih berhasil. Akibatnya, yang besar makin besar dan yang kecil mulai terdesak di pasar yang sempit akibat krisis yang belum benar-benar pulih. Ketentuan hukum mengenai pegawai bank yang menjual asuransi harus memiliki sertifikat keagenan asuransi dinilai kalangan perbankan kian menghambat gerak asuransi dalam bisnis bancassurance.

3.3.2 Tinjauan Sosial dan Ekonomi

Kondisi perekonomian nasional turut mempengaruhi pasang surut industri asuransi. Jika ekonomi tumbuh dengan dukungan investasi maka hal itu akan berdampak bagus untuk industri asuransi, karena proses masuknya investasi biasanya dimulai dari perencanaan hingga proses produksi berlangsung, dimana hal itu banyak

(9)

melibatkan asuransi sebagai bentuk perlindungan terhadap investasi. Mulai dari perencanaan investasi misalnya, orang membutuhkan asuransi untuk perjalanan dan personal accident. Sesudah itu, membangun pabrik membutuhkan asuransi untuk konstruksi, kemudian pemesanan alat-alat produksi, juga memerlukan asuransi. Asuransi juga diperlukan pada saat produksi, misalnya karyawan dan mobil operasional.

Menurut M. Hidayat (pengamat ekonomi dan properti), perekonomian Indonesia untuk tahun 2004 tampaknya masih suram karena laju pertumbuhan penduduk saat ini 1,7% per tahun, sedangkan tingkat kenaikan pendapatan per kapita hanya 2,5%. Menurutnya, akan membutuhkan waktu sampai 4 tahun lagi agar pertumbuhan ekonomi Indonesia akan pulih pada tingkat 6-7%. Berdasarkan data yang didapat dari situs ‘Sinar Harapan’, hingga tahun 2003, pendapatan per kapita penduduk Indonesia baru mencapai US$ 760 bandingkan dengan tahun 1996 yang mencapai US$ 1.200. Sementara itu, ketua Pelaksana deklarator Lembaga Kemitraan Pekerja dan Pengusaha (LKPP), Oke F. Supit, mengemukakan bahwa perekonomian nasional pada 2004 tetap suram karena sebagian besar dalam RAPBN-nya hanya dipakai untuk membayar bunga pinjaman dan pokoknya, baik utang dalam negeri maupun asing. Upaya privatisasi BUMN juga tidak mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dan menyerap tenaga kerja baru. Daya beli masyarakat kian menurun, sedang beban masyarakat semakin berat karena kenaikan berbagai tarif seperti listrik dan telepon serta jasa lainnya.

(10)

Gambar 3.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 1980-2003

Pengaruh pertumbuhan ekonomi masyarakat di Indonesia juga sangat menentukan kelangsungan usaha perusahaan asuransi. Asuransi di Indonesia dikategorikan sebagai kebutuhan tersier dimana penentu masyarakat Indonesia dalam memutuskan mengambil asuransi adalah besarnya pendapatan yang tersisa setelah digunakan untuk kebutuhan pokok. Apabila masyarakat tidak memiliki kelebihan pendapatan yang dapat disisihkan tentunya mereka tidak akan berpikir untuk mengambil asuransi. Kurangnya edukasi dari pemerintah mengenai pentingnya asuransi dan rendahnya tingkat pendapatan per kapita penduduk Indonesia dapat menjadi penghambat penetrasi asuransi ke Indonesia mengingat premi asuransi yang harus dibayarkan tidaklah murah.

(11)

maupun asuransi umum- mau tidak mau-harus menerima keadaan ini dengan penuh optimisme yang tinggi. Optimisme untuk meningkatkan kinerja perusahaan agar tetap memperoleh kepercayaan dan loyalitas dari masyarakat terhadap kebutuhan dan manfaat perlindungan finansial yang telah diberikan oleh perusahaan asuransi.

Para pelaku bisnis asuransi di Indonesia tidak perlu merasa gerah dengan masuknya para pemain asing. Mereka belum tentu memiliki kemampuan yang lebih baik karena perusahaan asuransi jiwa nasional memiliki kelebihan pengetahuan tentang karakteristik pasar di Indonesia. Bahkan, sebaliknya perusahaan asuransi nasional yang memiliki kinerja perusahaan yang bagus dan memperoleh kepercayaan dan loyalitas di dalam negeri perlu memperluas jaringan distribusi ke negara ASEAN dan kawasan Asia Pasifik berpotensi pasar cukup bagus. Dengan kelebihan yang dimiliki, maka diharapkan para pelaku bisnis asuransi jiwa di Tanah Air tetap memiliki optimisme dan komitmen yang tinggi untuk tetap berjuang secara sinergis dalam mengembangkan bisnis asuransi jiwa. Dengan demikian diharapkan eksistensi asuransi jiwa akan memiliki kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi negara serta keberadaannya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Selain kondisi ekonomi, kondisi sosial masyarakat juga memiliki pengaruh yang besar dalam kemajuan industri asuransi di Indonesia. Penentu keputusan seseorang dalam mengambil asuransi, selain tingkat kemapanan ekonomi-nya, juga dipengaruhi oleh cara pikir seseorang terhadap asuransi di Indonesia. Apabila seseorang mempunyai penghasilan yang besar, tetapi ia belum menyadari manfaat asuransi, tentunya ia tidak akan mengambil produk tersebut. Secara sosial masyarakat Indonesia belum sadar akan pentingnya asuransi (insurance minded), namun setelah

(12)

kejadian kerusuhan Mei 1998 dan kebanjiran yang melanda Jakarta, kesadaran tersebut mulai meningkat. Selain itu, sejak maraknya teror bom di Indonesia, semakin banyak perusahaan asuransi yang mulai membuka pertanggungan untuk aksi terorisme.Salah satu perusahaan yang mengaku kebanjiran permintaan penutupan risiko atas Terorisme dan Sabotase (TS) adalah PT Asuransi Bintang Tbk. Menurut presdir PT Asuransi Bintang, Arianti Suliyanto, satu minggu setelah ledakan bom Kuningan, pihaknya telah menerima 31 penutupan risiko TS, sementara 20 permintaan lainnya sedang dalam proses. Dari 31 yang telah mereka terima, perolehan preminya mencapai Rp2,5 miliar.

Semaraknya industri sektor otomotif juga turut membantu perkembangan asuransi, khususnya dengan semakin banyak dibukanya perusahaan pendanaan atau leasing yang memberikan kredit kepemilikan kendaraan bermotor dengan paket asuransi yang wajib diambil oleh debitur. Kewajiban asuransi dalam syarat pengajuan kredit kendaraan bermotor, nampaknya dapat membantu kesadaran masyarakat Indonesia terhadap asuransi, walaupun terkesan adanya unsur paksaan.

3.3.3 Tinjauan Teknologi

Sistem teknologi informasi (TI) ibarat nyawa dalam industri jasa keuangan, termasuk bagi perusahaan asuransi. Walaupun asuransi hanya 6% dari nilai total industri keuangan di Tanah Air, peran sistem TI di sektor ini tak kalah penting dari perbankan. Masalahnya, nilai aset dan perputaran dana perusahaan asuransi tidak

(13)

sebesar perbankan sehingga investasi TI pun masih tergolong minim untuk rata-rata perusahaan asuransi di Indonesia saat ini.

Minimnya investasi TI terlihat dari data Dewan Asuransi Indonesia (DAI) terhadap pos aktiva perangkat komputer tahun buku 2003 sejumlah perusahaan asuransi. Dari data itu, terungkap investasi perusahaan asuransi hanya berkisar Rp434 juta - Rp11,182 miliar. Jumlah tersebut tergolong minim menurut Hotbonar Sinaga (Ketua Umum DAI), karena perusahaan asuransi dengan nilai aset diatas Rp1 triliun idealnya memiliki investasi TI senilai Rp15 miliar - Rp25 miliar (belum termasuk perangkat lunak). Keterbatasan daya beli bukanlah menjadi penyebab untuk tidak berinvestasi di TI, karena industri asuransi pun menganut asas “Know Your Customer (KYC)”. Asuransi harus tahu benar siapa dan bagaimana pemegang polis serta resiko yang dibawanya. Artinya, asuransi harus mengelola dengan benar data dan informasi pemegang polis. Hal ini tentunya membutuhkan bantuan sistem TI karena mustahil dilakukan secara manual. Selain pengelolaan informasi, beberapa proses bisnis rutin perusahaan asuransi seperti penagihan, perpanjangan polis hingga pelaporan juga memerlukan sistem TI.

TI tidak hanya berperan di lingkungan internal asuransi tetapi juga eksternal dengan lembaga keuangan yang lain. Belakangan ini semakin banyak tuntutan dari pemegang polis agar pembayaran premi bisa dilakukan melalui ATM (anjungan tunai mandiri) bank atau lewat kartu kredit. Dengan tuntutan ini berarti sistem TI perusahaan asuransi harus mampu berintegrasi dengan sistem TI bank atau penyelenggara kartu kredit untuk memberikan value added baik bagi pelanggan maupun perusahaan sendiri. Tuntutan pemegang polis ini akhirnya bermuara pada

(14)

bagaimana meningkatkan pelayanan dari perusahaan asuransi. Seperti diketahui, lembaga keuangan terutama bank kini mulai menyediakan produk yang customer centric, yakni sesuai dengan karakteristik nasabahnya. Asuransi mungkin belum mencapai tahap itu, tetapi untuk meningkatkan pelayanan, diperlukan informasi yang cukup rinci mengenai pemegang polis, sehingga peran sistem TI mutlak diperlukan.

Menurut Hotbonar Sinaga, peran sistem TI semakin penting bagi perusahaan asuransi yang membidik segmen ritel dibandingkan mereka yang berfokus di korporasi, bahkan, salah satu indikator menilai kualitas perusahaan asuransi ritel adalah investasi sistem TI-nya.

Gambar

Gambar 3.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 1980-2003

Referensi

Dokumen terkait

Pada sequence diagram daftar absen dan daftar lembur, kasir yang telah masuk kedalam sistem dapat menambah, menghapus, mengubah data absen karyawan dan lembur

Perihal : Undangan Pembuktian Kualifikasi Jasa Rencana Bisnis Kawasan Industri Palu Dengan ini kami beritahukan bahwa perusahaan saudara masuk dalam Calon Daftar Pendek

Gambar 3.4 Rancangan halaman info dan biaya sms Home Syarat/daftar Info&biaya sms Daftar harga FAQ Live Chat On line Contact Banner Informasi Logo Operator Disclaimer

Aktor memilih tombol masuk Sistem akan menampilkan textbox untuk mengisi nama pengguna dan password Kondisi akhir Jika perintah sesuai maka sistem akan. masuk kedalam

Deskripsi Singkat Manajer memilih menu overtime kemudian aplikasi akan menampilkan tampilan overtime list dimana di tampilan tersebut terdapat daftar-daftar pegawai yang

Deskripsi singkat Admin dan user membuka aplikasi, melakukan login, apabila tidak diterima username dan password tidak akan bisa masuk, apabila diterima masuk kehalaman

Sistem Simpan Pinjam yang diusulkan adalah mengubah cara pengarsipan data, pengecekan dana koperasi, daftar pinjaman, dan pembuatan laporan daftar angsuran pinjaman

Dermatophytosis ditandai dengan gejala kulit terlihat kemerahan, bulu rontok berlebihan, terdapat kebotakan pada daerah tubuhnya, bercak putih seperti ketombe, luka/lesi berbentuk