• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

51

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan selama tiga kali pertemuan (3 x 100 menit), pada pertemuan pertama dilaksanakan kegiatan pretest disposisi dan kemampuan berpikir kritis, sikap ilmiah, dan penguasaan konsep mekanisme evolusi. Selain itu, dilaksanakan pula orientasi atau pengenalan kegiatan praktikum virtual mekanisme evolusi yang akan dilaksanakan untuk menarik perhatian mahasiswa, dan pembagian print-out LKM ke setiap kelompok yang sudah dibentuk di awal perkuliahan.

Pada pertemuan kedua, peneliti memberikan pengarahan sehingga setiap kelompok dapat langsung melakukan kegiatan praktikum virtual mekanisme evolusi sesuai dengan prosedur LKM yang tersedia. Setiap kelompok melakukan tiga kegiatan praktikum virtual variasi genetik, hukum kesetimbangan Hardy-Weinberg, dan mikroevolusi pada komputer/laptop/netbook. Sebelum kegiatan praktikum virtual dilaksanakan, mahasiswa mengemukakan pengetahuan awalnya dengan menjawab pertanyaan yang terdapat pada simulasi praktikum.

Pada setiap kegiatan praktikum virtual terdapat masalah berupa pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan melakukan kegiatan praktikum virtual. Masalah tersebut di antaranya “dari mana munculnya variasi genetik dalam suatu populasi?”, “bagaimanakah proporsi genotip dan alel akan berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya ketika terjadi perkawinan random namun tidak

(2)

terjadi seleksi alam?”, “bagaimanakah proporsi alel akan berubah jika alel resesif atau dominan merugikan, atau alel heterozigot menguntungkan?”. Pada setiap tahap kegiatan praktikum virtual juga terdapat kegiatan pengamatan , membuat prediksi, mengumpulkan data, menganalisis, melakukan interpretasi, membandingkan, dan mengaplikasikan pada konteks kehidupan sehari-hari. Selain itu, di akhir kegiatan terdapat pertanyaan yang harus didiskusikan dalam kelompok.

Pada pertemuan ketiga, tiga perwakilan kelompok memimpin kegiatan diskusi kelas sekaligus mendemonstrasikan setiap kegiatan praktikum virtual, sehingga terdapat persepsi dan pembentukan konsep mekanisme evolusi yang sama. Pertemuan ketiga ditutup dengan kegiatan posttest disposisi dan kemampuan berpikir kritis, sikap ilmiah, penguasaan konsep, dan angket tanggapan mahasiswa terhadap pembelajaran evolusi berbantuan praktikum virtual sehingga diperoleh data penelitian.

Data penelitian yang diperoleh menggunakan seluruh instrumen penelitian dikelompokan menjadi lima data utama, yaitu disposisi berpikir kritis (skala 0-4), kemampuan berpikir kritis (skala 0-100), sikap ilmiah (skala 0-4), penguasaan konsep (skala 0-100), serta tanggapan dosen dan mahasiswa terhadap pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual (skala 0-100%).

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui peningkatan disposisi dan kemampuan berpikir kritis, sikap ilmiah, dan penguasaan konsep. Selain itu, dapat pula diketahui persentase disposisi dan kemampuan berpikir kritis, sikap ilmiah,

(3)

serta penguasaan konsep untuk setiap komponenya. Berikut ini penjelasan data utama yang diperoleh pada penelitian ini.

1. Disposisi Berpikir Kritis

Disposisi/watak berpikir kritis yang diukur pada penelitian ini menurut Facione, et al (1995), terdiri atas tujuh komponen disposisi berpikir kritis yang diuraikan menjadi indikator-indikator watak/disposisi berpikir kritis, dan dinilai menggunakan 30 pernyataan skala Likert watak/disposisi berpikir kritis yang telah diuji coba.

Peningkatan disposisi berpikir kritis mahasiswa calon guru pada pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, diperoleh dari

pretest dan posttest selama pembelajaran, data selengkapnya pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Rekapitulasi Perhitungan Skor Disposisi Berpikir Kritis Faktor yang dihitung Pretest Posttest Gain

Skor N-Gain Rata-rata skor (x) 2.15 2.52 0.36 0.20

Standar Deviasi 0.15 0.21

Perolehan skor maksimum 2.47 2.97 0.63 0.35 Perolehan skor minimum 1.87 2.03 0.56 0.04

Dari Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan disposisi berpikir kritis pada mahasiswa calon guru. Skor rerata pretest sebesar 2.15, setelah pembelajaran meningkat menjadi 2.52, sehingga perolehan skor disposisi berpikir kritis posttest lebih baik dari pretest.

Peningkatan tersebut ditunjukkan pula oleh terdapatnya gain dari pretest dan posttest, dengan demikian disposisi berpikir kritis setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual mengalami peningkatan dengan

(4)

rerata perolehan gain skor sebesar 0.36, namun dengan rerata N-gain sebesar 0.20 (kategori rendah) pada Tabel 4.1. Rendahnya rerata N-gain disebabkan oleh beberapa faktor yang akan diuraikan dalam pembahasan.

Data disposisi berpikir kritis yang mencakup skor pretest dan posttest dianalisis menggunakan SPSS versi 19.0, untuk mengetahui distribusi normalitas data (uji normalitas) menggunakan one sample Kolmogorov-Smirnov test, hasil uji statistika tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Uji Normalitas Disposisi Berpikir Kritis Pretest Posttest N-Gain

N 72 72

Rata-rata skor (x) 2.15 2.52 0.20 Kolmogorov Smirnov 0.2 0.069 0.2

Kesimpulan Normal

Dari Tabel 4.2 menunjukkan bahwa hasil uji normalitas skor pretest,

posttest, dan N-gain data disposisi berpikir kritis mahasiswa calon guru diperoleh

signifikansi > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pretest, posttest, dan N-gain data disposisi berpikir kritis berdistribusi normal.

Data disposisi berpikir kritis berdistribusi normal, maka pengujian hipotesis untuk disposisi berpikir kritis dilakukan dengan uji parametrik, yaitu uji-z (n ≥ 30). Uji uji-z dimaksudkan untuk melihat signifikansi peningkatan disposisi berpikir kritis mahasiswa calon guru. Hasil pengujian dengan uji-z selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Hasil Analisis Uji-z Disposisi Berpikir Kritis Sumber data Skor rerata Std. deviasi z-test Sign. kurva Keputusan

(5)

Dari Tabel 4.3 analisis uji z disposisi berpikir kritis menunjukkan pada taraf signifikansi (α = 0.05), nilai Zhitung > zTabel sehingga tolak H0 dan terdapat

peningkatan disposisi berpikir kritis yang signifikan pada mahasiswa calon

guru setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum

virtual.

Disposisi berpikir kritis yang diukur dalam penelitian ini difokuskan pada tujuh komponen disposisi berpikir kritis menurut Facione, et al (1995), yang diuraikan menjadi 17 indikator. Perolehan skor rerata pretest dan posttest untuk setiap komponen disposisi berpikir kritis dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Grafik Nilai Pretest dan Posttest untuk Setiap Komponen Disposisi Berpikir Kritis

Berdasarkan Gambar 4.1 nilai posttest setiap komponen disposisi berpikir kritis berada di atas nilai tengahnya dan lebih tinggi dibandingkan nilai pretest, namun belum ada yang mencapai nilai maksimum menurut skala Likert (0-4). Nilai N-gain diperoleh dari nilai pretest dan posttest, nilai gain skor dan N-gain untuk setiap komponen disposisi berpikir kritis dapat dilihat pada Tabel 4.4.

0 1 2 3 4

Mencari Kebenaran Berpikir Terbuka Kemampuan Menganalisis Kemampuan Bekerja Sistematis Kepercayaan Diri Rasa Ingin Tahu Kedewasaan Berpikir

Posttest Pretest

(6)

Tabel 4.4 Perolehan Skor Rerata Pretest, Posttest, dan N-gain Tiap Komponen Disposisi Berpikir Kritis

Komponen Disposisi Rerata Skor Gain skor

N-Gain Ket Pretest Posttest

Mencari kebenaran 1.83 2.59 0.76 0.35 Sedang Berpikiran terbuka 2.06 2.38 0.31 0.16 Rendah Kemampuan menganalisis 2.34 2.65 0.31 0.19 Rendah Kemampuan bekerja sistematis 2.23 2.61 0.38 0.22 Rendah Kepercayaan diri 2.33 2.97 0.64 0.38 Sedang Rasa ingin tahu 3.00 3.16 0.16 0.16 Rendah Kedewasaan berpikir 2.89 3.01 0.13 0.11 Rendah

Berdasarkan Tabel 4.4 terdapat peningkatan untuk setiap komponen disposisi berpikir kritis yang diukur pada penelitian ini, komponen mencari kebenaran (truth seeking) dan kepercayaan diri (self confident) berada pada kategori skor N-gain sedang, sedangkan komponen disposisi berpikir kritis lainnya berada pada kategori rendah.

2. Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis yang diukur pada penelitian ini menurut Ennis, (1985), terdiri atas lima komponen kemampuan berpikir kritis yang diuraikan menjadi sepuluh sub kemampuan berpikir kritis, dan dinilai menggunakan instrumen hasil uji coba berupa 10 pertanyaan kemampuan berpikir kritis bentuk

open-ended essay yang telah diuji coba.

Peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru pada pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, diperoleh dari

pretest dan posttest selama pembelajaran. Data selengkapnya dapat dilihat pada

(7)

Tabel 4.5 Rekapitulasi Perhitungan Skor Kemampuan Berpikir Kritis Faktor yang dihitung Pretest Posttest Gain

Skor N-Gain Rata-rata skor (x) 38.14 56.08 17.94 0.30 Standar Deviasi 10.14 10.72

Perolehan skor maksimum 64 86 38 0.61

Perolehan skor minimum 16 30 6 0.10

Dari Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis pada mahasiswa calon guru. Skor rerata pretest sebesar 38.14 berdasarkan Arikunto (2002:245) termasuk kategori sangat kurang, setelah pembelajaran meningkat menjadi 56.08 (kategori cukup), sehingga perolehan skor kemampuan berpikir kritis posttest lebih baik dari pretest.

Peningkatan tersebut ditunjukkan pula oleh terdapatnya gain skor sebesar 17.94, dengan rerata N-gain sebesar 0.30 (kategori sedang) pada Tabel 4.5, dengan demikian kemampuan berpikir kritis setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual mengalami peningkatan.

Data kemampuan berpikir kritis yang mencakup skor pretest dan posttest dianalisis menggunakan SPSS versi 19.0, untuk mengetahui distribusi normalitas data (uji normalitas) menggunakan one sample Kolmogorov-Smirnov test, hasil uji statistika tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6 Uji Normalitas Kemampuan Berpikir Kritis Pretest Posttest N-Gain

N 72 72

Rata-rata skor (x) 38.14 56.08 0.26 Kolmogorov Smirnov 0.2 0.19 0.00

Kesimpulan Normal Tidak

(8)

Dari Tabel 4.6 menunjukkan bahwa hasil uji normalitas skor pretest, dan

posttest data kemampuan berpikir kritis mahasiswa diperoleh signifikansi > 0.05,

sehingga data skor pretest dan posttest kemampuan berpikir kritis berdistribusi normal. Sedangkan signifikansi data N-gain kemampuan berpikir kritis < 0.05, sehingga data N-gain kemampuan berpikir kritis tidak berdistribusi normal.

Pengujian hipotesis untuk kemampuan berpikir kritis dilakukan dengan uji-z (n ≥ 30). Uji z dimaksudkan untuk melihat signifikansi peningkatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa calon guru. Hasil pengujian dengan uji-z selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Hasil Analisis Uji-z Kemampuan Berpikir Kritis Sumber data Skor rerata Std. deviasi z-test Sign. Kurva Keputusan

N-Gain 0.30 0.11 23.08 1.96 Zhitung > zTabel, tolak H0

Dari Tabel 4.7 analisis uji z kemampuan berpikir kritis menunjukkan pada taraf signifikansi (α = 0.05) nilai Zhitung > zTabel sehingga tolak H0 dan terdapat

peningkatan kemampuan berpikir kritis yang signifikan pada mahasiswa

calon guru setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum

virtual.

Kemampuan berpikir kritis yang diukur dalam penelitian ini difokuskan pada lima komponen kemampuan berpikir kritis menurut Ennis (1985), yang diuraikan menjadi delapan sub kemampuan berpikir kritis. Perolehan skor rerata

pretest dan posttest untuk setiap sub komponen kemampuan berpikir kritis dapat

(9)

Gambar 4.2 Grafik Nilai Rerata Pretest dan Posttest untuk Setiap sub Kemampuan Berpikir Kritis

Berdasarkan Gambar 4.2 nilai rerata posttest untuk setiap sub kemampuan berpikir kritis lebih tinggi daripada pretest, namun belum mencapai nilai maksimumnya yaitu 100. Perolehan nilai gain skor dan N-gain untuk setiap sub komponen kemampuan berpikir kritis dapat dilihat pada Tabel 4.8.

Tabel 4.8 Perolehan Skor Rerata Pretest, Posttest, dan N-gain Tiap Sub Kemampuan Berpikir Kritis

Sub Kemampuan Berpikir Kritis Rerata Skor Gain skor

N-Gain Ket Pretest Posttest

Mengidentifikasi dan merumuskan pertanyaan 43.06 51.39 8.33 0.15 Rendah Mengidentifikasi alasan/argumen telah

dikemukakan 43.06 58.33 15.28 0.27 Rendah

Menanyakan dan menjawab pertanyaan

klarifikasi/tantangan 39.44 58.89 19.44 0.32 Sedang Mengumpulkan data dan menilai informasi 37.50 54.17 16.67 0.27 Rendah Menarik dan menilai kesimpulan 39.44 59.44 20.00 0.33 Sedang Melakukan dan menilai induksi 44.44 48.89 4.44 0.08 Rendah Mengidentifikasi asumsi 21.67 44.17 22.50 0.29 Rendah Memutuskan tindakan 34.17 67.50 33.33 0.51 Sedang

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 Mengidentifikasi dan Merumuskan

Pertanyaan

Mengidentifikasi Alasan/argumen yang telah dikemukakan

Menanyakan dan Menjawab pertanyaan klarifikasi atau tantangan Mengumpulkan data dan Menilai

informasi

Menarik dan Menilai Kesimpulan Melakukan dan Menilai Induksi Mengidentifikasi asumsi Memutuskan Tindakan

Posttest Pretest

(10)

Berdasarkan Tabel 4.8 terdapat peningkatan untuk setiap sub kemampuan berpikir kritis yang diukur pada penelitian ini, mengidentifikasi dan merumuskan pertanyaan, menarik dan menilai kesimpulan, serta memutuskan tindakan berada pada kategori skor N-gain sedang, sedangkan sub kemampuan berpikir kritis lainnya berada pada kategori rendah.

3. Sikap Ilmiah

Sikap ilmiah yang diukur pada penelitian ini menurut Carin (1997), terdiri atas lima komponen sikap ilmiah yaitu mengutamakan bukti, menerima perbedaan, bersikap skeptis, memiliki rasa ingin tahu, dan bersikap positif terhadap kegagalan. Sikap ilmiah mahasiswa calon guru pada pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual dinilai menggunakan 15 pernyataan skala Likert sikap ilmiah.

Peningkatan sikap ilmiah mahasiswa calon guru pada pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, diperoleh dari pretest dan

posttest selama pembelajaran. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.9.

Tabel 4.9 Rekapitulasi Perhitungan Skor Sikap Ilmiah Faktor yang dihitung Pretest Posttest Gain

Skor N-Gain

Rerata skor (x) 2.34 2.63 0.29 0.18

Standar Deviasi 0.24 0.27

Perolehan skor maksimum 2.73 3.20 0.07 0.43 Perolehan skor minimum 1.87 2.07 0.67 0.03

Dari Tabel 4.9 dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan sikap ilmiah pada mahasiswa calon guru. Skor rerata pretest sebesar 2.34, setelah pembelajaran

(11)

meningkat menjadi 2.63, sehingga perolehan skor sikap ilmiah posttest lebih baik dari pretest.

Peningkatan tersebut ditunjukkan pula oleh terdapatnya gain dari pretest dan posttest, dengan demikian sikap ilmiah setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual mengalami peningkatan dengan rerata perolehan gain skor sebesar 0.29, namun dengan rerata N-gain sebesar 0.18 (kategori rendah) pada Tabel 4.9. Rendahnya rerata N-gain disebabkan oleh beberapa faktor yang akan diuraikan dalam pembahasan.

Data sikap ilmiah yang mencakup skor pretest dan posttest dianalisis menggunakan SPSS versi 19.0, untuk mengetahui distribusi normalitas data (uji normalitas) menggunakan one sample Kolmogorov-Smirnov test, hasil uji statistika tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Uji Normalitas Sikap Ilmiah Pretest Posttest N-Gain

N 72 72

Rerata skor (x) 2.34 2.63 0.18

Kolmogorov Smirnov 0.20 0.20 0.064

Kesimpulan Normal

Dari Tabel 4.10 menunjukkan bahwa hasil uji normalitas skor pretest,

posttest, dan N-gain data sikap ilmiah mahasiswa calon guru diperoleh

signifikansi > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pretest, posttest, dan N-gain data sikap ilmiah berdistribusi normal.

Data sikap ilmiah berdistribusi normal, maka pengujian hipotesis untuk sikap ilmiah dilakukan dengan uji parametrik, yaitu uji-z (n ≥ 30). Uji z dimaksudkan untuk melihat signifikansi peningkatan sikap ilmiah mahasiswa

(12)

calon guru. Hasil pengujian dengan uji-z sikap ilmiah selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.11.

Tabel 4.11 Hasil Analisis Uji-z Sikap Ilmiah Sumber data Skor rerata Std. deviasi z-test Sign. kurva Keputusan

N-Gain 0.18 0.10 15 1.96 Zhitung > zTabel, tolak H0

Dari Tabel 4.11 analisis uji z sikap ilmiah menunjukkan bahwa pada taraf signifikansi (α = 0.05), nilai Zhitung > zTabel sehingga tolak H0 dan terdapat

peningkatan sikap ilmiah yang signifikan pada mahasiswa calon guru setelah

pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual.

Sikap ilmiah yang diukur dalam penelitian ini difokuskan pada lima komponen sikap ilmiah menurut Carin (1997). Perolehan skor rerata pretest dan

posttest untuk setiap komponen sikap ilmiah dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar. 4.3 Grafik Nilai Pretest dan Posttest untuk Setiap Komponen Sikap Ilmiah

Berdasarkan Gambar 4.3 nilai posttest setiap komponen sikap ilmiah berada di ata nilai tengahnya dan lebih tinggi dibandingkan nilai pretest, namun

0 1 2 3 4

Mengutamakan Bukti Menerima Perbedaan Bersikap Skeptis Memiliki Rasa Ingin Tahu Bersikap Positif terhadap

Kegagalan

Posttest Pretest

(13)

belum ada yang mencapai nilai maksimum menurut skala Likert (0-4). Nilai N-gain diperoleh dari nilai pretest dan posttest, nilai N-gain skor dan N-N-gain untuk setiap komponen sikap ilmiah dapat dilihat pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12 Perolehan Skor Rerata Pretest, Posttest, dan N-gain Tiap Komponen Sikap Ilmiah

Komponen Sikap Ilmiah Rerata Skor Gain skor

N-Gain Ket Pretest Posttest

Mengutamakan bukti 2.71 2.96 0.25 0.19 Rendah Menerima perbedaan 2.69 2.91 0.22 0.17 Rendah Bersikap skeptis 1.88 2.39 0.51 0.24 Rendah Memiliki rasa ingin tahu 2.91 3.10 0.19 0.17 Rendah Bersikap positif terhadap

kegagalan 1.92 2.64 0.72 0.35 Sedang

Berdasarkan Tabel 4.12 terdapat peningkatan untuk setiap komponen sikap ilmiah yang diukur pada penelitian ini, komponen bersikap positif terhadap kegagalan berada pada kategori skor N-gain sedang, sedangkan komponen sikap ilmiah lainnya berada pada kategori rendah.

4. Penguasaan Konsep

Penguasaan konsep yang diukur pada penelitian ini menurut taksonomi Bloom, terdiri atas jenjang kognitif C2 – C6 dengan dimensi pengetahuan faktual dan konseptual. Penguasaan konsep mekanisme evolusi pada mahasiswa calon guru melalui pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual dinilai menggunakan instrumen yang telah diuji coba, berupa 25 pernyataan

multiple choice untuk menilai jenjang kognitif C2-C4 dan lima pertanyaan open-ended essay untuk menilai jenjang kognitif C5-C6.

(14)

Peningkatan penguasaan konsep mekanisme evolusi pada mahasiswa calon guru melalui pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, diperoleh dari nilai pretest dan posttest selama pembelajaran. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.13.

Tabel 4.13 Rekapitulasi Perhitungan Skor Penguasaan Konsep Mekanisme Evolusi

Faktor yang dihitung Pretest Posttest Gain

Skor N-Gain Rerata skor (x) 37.11 58.69 21.58 0.35

Standar Deviasi 8.89 13.08

Perolehan skor maksimum 56 80 44 0.63

Perolehan skor minimum 16 20 0 0.00

Dari Tabel 4.13 dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan penguasaan konsep mekanisme evolusi pada mahasiswa calon guru. Skor rerata pretest sebesar 37.11 berdasarkan Arikunto (2002:245) termasuk kategori sangat kurang, setelah pembelajaran meningkat menjadi 58.69 (kategori cukup), sehingga perolehan skor penguasaan konsep posttest lebih baik dari pretest.

Peningkatan tersebut ditunjukkan pula oleh terdapatnya gain dari pretest dan posttest, dengan demikian penguasaan konsep mekanisme evolusi setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual mengalami peningkatan dengan rerata perolehan gain skor sebesar 21.58, dengan rerata N-gain sebesar 0.35 (kategori sedang) pada Tabel 4.13.

Data penguasaan konsep yang mencakup skor pretest dan posttest dianalisis menggunakan SPSS versi 19.0, untuk mengetahui distribusi normalitas data (uji normalitas) menggunakan one sample Kolmogorov-Smirnov test, hasil uji statistika tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.14.

(15)

Tabel 4.14 Uji Normalitas Penguasaan Konsep Mekanisme Evolusi Pretest Posttest N-Gain

N 72 72

Rerata skor (x) 37.11 58.69 0.35

Kolmogorov Smirnov 0.2 0.2 0.2

Kesimpulan Normal

Dari Tabel 4.14 menunjukkan bahwa hasil uji normalitas skor pretest,

posttest, dan N-gain data penguasaan konsep mekanisme evolusi pada mahasiswa

calon guru diperoleh signifikansi > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pretest, posttest, dan N-gain data penguasaan konsep mekanisme evolusi berdistribusi normal.

Data penguasaan konsep mekanisme evolusi berdistribusi normal, maka pengujian hipotesis untuk penguasaan konsep mekanisme evolusi dilakukan dengan uji parametrik, yaitu uji-z (n ≥ 30). Uji z dimaksudkan untuk melihat signifikansi peningkatan penguasaan konsep mekanisme evolusi pada mahasiswa calon guru. Hasil pengujian dengan uji-z pengusaan konsep mekanisme evolusi selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.15.

Tabel 4.15 Hasil Analisis Uji-z Penguasaan Konsep Mekanisme Evolusi Sumber data Skor rerata Std. deviasi z-test Sign. kurva Keputusan

N-Gain 0.35 0.16 18.42 1.96 Zhitung > zTabel, tolak H0

Dari Tabel 4.15 analisis uji z penguasaan konsep mekanisme evolusi menunjukkan bahwa pada taraf signifikansi (α = 0.05), Zhitung > zTabel sehingga

(16)

mahasiswa calon guru setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan

praktikum virtual.

Penguasaan konsep yang diukur dalam penelitian ini difokuskan pada jenjang kognitif dan dimensi pengetahuan menurut taksonomi Bloom revisi. Perolehan skor rerata pretest dan posttest untuk setiap jenjang kognitif yang diukur dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4 Grafik Nilai Pretest dan Posttest untuk Setiap Jenjang Kognitif Penguasaan Konsep Mekanisme Evolusi

Berdasarkan Gambar 4.4 nilai posttest setiap jenjang kognitif penguasaan konsep mekanisme evolusi berada di atas nilai tengahnya, kecuali pada jenjang kognitif C6 konseptual. Nilai posttest setiap jenjang kognitif penguasaan konsep mekanisme evolusi lebih tinggi dibandingkan nilai pretest, namun belum ada yang mencapai nilai maksimum yaitu 100. Nilai N-gain diperoleh dari nilai pretest dan

posttest, nilai gain skor dan N-gain untuk setiap jenjang kognitif penguasaan

konsep mekanisme evolusi dapat dilihat pada Tabel 4.16.

0 20 40 60 80 100 C2 Faktual C2 Konseptual C3 Faktual C3 Konseptual C4 Konseptual C5 Faktual C6 Faktual C6 Konseptual Posttest Pretest

(17)

Tabel 4.16 Perolehan Skor Rerata Pretest, Posttest, dan N-gain Tiap Jenjang Kognitif Penguasaan Konsep Mekanisme Evolusi

Jenjang Kognitif Rerata Skor Gain skor N-Gain Ket Pretest Posttest C2 Faktual 31.94 59.03 27.08 0.27 Rendah C2 Konseptual 31.79 58.79 27.00 0.27 Rendah C3 Faktual 54.17 71.29 17.13 0.17 Rendah C3 Konseptual 51.58 62.04 10.46 0.10 Rendah C4 Konseptual 38.89 55.83 16.94 0.17 Rendah C5 Faktual 43.47 59.31 15.83 0.16 Rendah C6 Faktual 43.06 67.5 24.44 0.24 Rendah C6 Konseptual 35.00 49.17 14.17 0.14 Rendah

Berdasarkan Tabel 4.16 terdapat peningkatan untuk setiap jenjang kognitif penguasaan konsep yang diukur pada penelitian ini, namun dengan N-gain kategori rendah. Jenjang kognitif C2 baik dimensi pengetahuan faktual maupun konseptual memiliki N-gain tertinggi yaitu 0.27 (kategori rendah) dibandingkan dengan nilai N-gain untuk jenjang kognitif dan dimensi pengetahuan lainnya.

5. Respon/tanggapan Dosen dan Mahasiswa terhadap Pembelajaran Mekanisme Evolusi Berbantuan Praktikum Virtual

Pendapat dosen dan mahasiswa terhadap pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, diperoleh melalui analisis terhadap angket. Berdasarkan aspeknya, angket dosen dan mahasiswa dibedakan menjadi enam aspek. Respon mahasiswa dan dosen dibedakan menjadi respon positif dan respon negatif beralasan, terdiri atas pilihan ya dan tidak. Persentase setiap aspek respon mahasiswa terhadap pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual terdapat pada Gambar 4.5, adapun respon dosen terhadap pembelajaran evolusi berbantuan praktikum virtual terdapat di bagian Lampiran C.2.

(18)

Gambar 4.5 Grafik Persentase Respon Mahasiswa terhadap Pembelajaran Mekanisme Evolusi Berbantuan Praktikum Virtual

Berdasarkan Gambar 4.5 menunjukkan persentase tertinggi respon mahasiswa berupa ketertarikan terhadap pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual yaitu sebesar 79%, sedangkan persentase terkecil respon mahasiswa terdapat pada pengalaman terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang berbantuan praktikum virtual sebesar 12%.

B. Pembahasan

Pembahasan terhadap hasil penelitian dilakukan berdasarkan analisis data dan temuan-temuan selama di lapangan. Berdasarkan data hasil penelitian, berikut ini akan dipaparkan pembahasan tentang disposisi dan kemampuan berpikir kritis, sikap ilmiah, penguasaan konsep, serta tanggapan mahasiswa dan dosen terhadap

0% 20% 40% 60% 80% 100%

Pernah terlibat dalam vlab Ketertarikan Mahasiswa terhadap vlab

mekanisme evolusi

Repon positif Mahasiswa terhadap vlab mekanisme evolusi

Hambatan selama kegiatan vlab mekanisme evolusi Pembelajaran meningkatkan berpikir

kritis mahasiswa

Pembelajaran meningkatkan sikap ilmiah mahasiswa

Pembelajaran meningkatkan penguasaan konsep mekanisme evolusi

(19)

pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, berikut ini uraian lebih jelasnya.

1. Disposisi berpikir kritis mahasiswa

Berdasarkan Tabel 4.1 rerata skor pretest sebesar 2.15 lebih kecil dibandingkan rerata skor posttest sebesar 2.52, dengan rerata gain skor sebesar 0.36 sehingga terdapat peningkatan skor disposisi berpikir kritis setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual. Peningkatan disposisi berpikir kritis tersebut tidak lepas dari kontribusi kegiatan pembelajaran, sehingga pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual mendukung dalam mengembangkan disposisi berpikir kritis mahasiswa.

Pada setiap kegiatan praktikum virtual variasi genetik, hukum kesetimbangan Hardy-Weinberg, dan mikroevolusi mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengungkap pengetahuan awal mereka. Pada praktikum virtual variasi genetik mahasiswa diberikan kesempatan mengungkapkan pengetahuan awalnya tentang adaptasi makhluk hidup yang diperoleh pada mata kuliah biologi sel, pada praktikum virtual hukum kesetimbangan Hardy-Weinberg dan mikroevolusi mahasiswa dapat mengungkapkan pengetahuan awalnya tentang peluang genetik yang diperoleh pada mata kuliah genetika. Pada kegiatan tersebut, mahasiswa dapat memunculkan komponen-komponen disposisi berpikir kritis, seperti kepercayaan diri terhadap proses penalarannya (rerata N-gain 0.38) yang diikuti oleh rasa ingin tahu (0.16) dan mencari kebenaran (rerata N-gain 0.35) melalui kegiatan praktikum virtual. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Roschelle (1995) prior knowledge exists not only at the level of concepts, but also

(20)

at the levels of perception, focus of attention, procedural skills, modes of reasoning, and beliefs about knowledge. Berdasarkan hal tersebut, memunculkan

pengetahuan awal pada awal pembelajaran sangatlah penting, selain untuk menjembatani pengetahuan baru berupa konsep dapat juga memunculkan persepsi, memfokuskan perhatian, kemampuan prosedural, penalaran, dan kepercayaan terhadap pengetahuan.

Pada setiap kegiatan praktikum virtual variasi genetik, hukum kesetimbangan Hardy-Weinberg, dan mikroevolusi mahasiswa diberikan kesempatan untuk membuat prediksi, kemudian membuktikan prediksi tersebut dengan melakukan praktikum virtual secara sistematis, sehingga melalui kegiatan tersebut mahasiswa dapat mengembangkan komponen disposisi berpikir kritis mencari kebenaran, terutama mengembangkan rasa ingin tahu dengan kecenderungan tertarik untuk membuktikan prediksi yang telah dirumuskannya melalui kegiatan praktikum virtual. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Rustaman, et al (2005: 136) melalui kegiatan laboratorium, siswa diberi kesempatan untuk memenuhi dorongan rasa ingin tahu dan ingin bisa, sehingga dapat mengembangkan disposisi berpikir kritis komponen rasa ingin tahu.

Pada setiap kegiatan praktikum virtual variasi genetik, hukum kesetimbangan Hardy-Weinberg, dan mikroevolusi mahasiswa mengendalikan variabel bebas secara sistematis, kemudian menganalisis pengaruhnya terhadap variabel terikat, sehingga pada tahap ini mahasiswa dapat memunculkan disposisi berpikir kritis seperti kemampuan bekerja sistematis (rerata N-gain 0.22) dan menganalisis (rerata N-gain 0.19). Selain itu, mahasiswa diberikan kesempatan

(21)

menganalisis hasil pengamatan, sehingga dapat merumuskan kesimpulan dan mengaplikasikan konsep yang diperolehnya dari kegiatan praktikum dan diskusi. Melalui kegiatan tersebut mahasiswa dapat mengembangkan komponen disposisi berpikir kritis kemampuan menganalisis, terutama menghubungkan hasil pengamatan dengan pengetahuan teoritis, dapat pula mengembangkan komponen disposisi berpikir kritis kedewasaan kognitif sehingga bijaksana dalam membuat keputusan (rerata N-gain 0.11) dengan menggunakan pendekatan masalah dan penyelidikan, membuat kesimpulan dengan sense, memutuskan dengan menggunakan konteks dan bukti. Berdasarkan hal tersebut, setiap tahap kegiatan pembelajaran berbantuan praktikum dapat mengembangkan komponen disposisi berpikir kritis yang diungkapkan oleh Facione, et al (1995) terdiri atas mencari kebenaran, berpikir terbuka, kemampuan menganalisis, bekerja secara sistematis, kepercayaan diri, rasa ingin tahu, dan kedewasaan kognitif.

Pada kegiatan akhir pembelajaran, mahasiswa melakukan diskusi kelompok dan kelas. Djamarah (2005:157) menyatakan bahwa kelompok memiliki sumber yang lebih banyak dari pada individu, setiap anggota kelompok akan berbagi pengetahuan, pengalaman, dan motivasi sehingga pada tahap ini mahasiswa dapat memunculkan disposisi berpikir kritis lainnya, seperti berpikiran terbuka (rerata N-gain 0.16) dan kedewasaan kognitif dalam merumuskan kesimpulan. Dengan demikian setiap tahap kegiatan pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memunculkan dan mengembangkan disposisi berpikir kritisnya.

(22)

Rerata N-gain disposisi berpikir kritis pada Tabel 4.1 sebesar 0.20 berada pada kategori rendah, di antaranya disebabkan oleh waktu pembelajaran mekanisme evolusi yang kurang lama. Hal ini didukung oleh hasil angket yang menunjukkan bahwa 64% mahasiswa menyatakan waktu yang disediakan tidak cukup, sehingga untuk meningkatkan disposisi berpikir kritis diperlukan waktu yang lebih lama. Hal senada diungkapkan oleh Giancaro & Facione (2001) Prior

research on critical thinking indicates that students’behavioral dispositions do not change in the short term. Dengan demikian, salah satu keterbatasan dalam

mengembangkan disposisi berpikir kritis adalah memerlukan waktu yang cukup lama.

Selain keterbatasan waktu, keterbatasan lain dari penelitian ini diantaranya kegiatan kelompok pada penelitian yang kurang efektif, karena dalam satu kelompok yang terdiri dari 4-5 orang hanya didominasi oleh 2-3 orang saja, dan tidak semua anggota kelompok membawa laptop/netbook. Hal ini didukung oleh hasil observasi yang menunjukkan hanya terdapat 45% mahasiswa yang membawa laptop/netbook, dan hasil angket dosen yang menyatakan bahwa “tidak semua mahasiswa ikut aktif, baik pada waktu praktikum maupun diskusi”. Namun, secara umum pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual dapat mengindikasi peningkatan disposisi berpikir kritis pada mahasiswa calon guru.

Hasil uji hipotesis pada Tabel 4.3 menunjukkan bahwa H1 diterima,

sehingga terdapat peningkatan disposisi berpikir kritis yang signifikan setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual. Peningkatan

(23)

disposisi berpikir kritis tersebut, tidak lepas dari kontribusi pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual yang dilaksanakan selama tiga kali pertemuan (3 x 100 menit). Sementara itu, hasil penelitian Giancarlo & Facione (2001) menemukan bahwa pada pembelajaran konvensional disposisi berpikir kritis mahasiswa tingkat akhir berubah secara signifikan setelah dua tahun.

Tabel 4.4 menunjukkan persentase disposisi berpikir kritis untuk setiap komponennya, rerata N-gain tertinggi terdapat pada komponen mencari kebenaran (truth-seeking) sebesar 0.35 (kategori sedang) dan kepercayaan diri (self

confident) terhadap proses penalarannya sebesar 0.38 (kategori sedang). Hal

tersebut senada dengan hasil penelitian Giancarlo & Facione (2001) bahwa perubahan disposisi berpikir kritis yang signifikan terdapat pada confident in

thinking/kepercayaan diri terhadap penalarannya (t (146) = 4.13, p <.001) dan truth-seeking/mencari kebenaran (t = (146) 5.60, p <.001). Perubahan yang

signifikan pada komponen kepercayaan diri terhadap penalaran dan mencari kebenaran, merupakan salah satu kontribusi dari pengetahuan awal dan masalah yang disajikan dalam bentuk pertanyaan pada LKM variasi genetik, Hardy-Weinberg, dan mikroevolusi akan memunculkan komponen disposisi berpikir kritis tersebut.

Pengembangan disposisi berpikir kritis sebagai salah satu upaya mengembangkan karakter bangsa didukung oleh Giancarlo & Facione (2001) yang menyatakan bahwa:

Developing the disposition toward critical thinking in students remains a most important part of the global objective of providing an education that

(24)

is character building. Character is built, as we all know, not only by demanding and rewarding it, but by modeling it.

Berdasarkan pernyataan tersebut, disposisi berpikir kritis merupakan bagian dari karakter bangsa. Pengembangan disposisi berpikir kritis sebagai salah satu upaya mengembangkan karakter bangsa tidak hanya dituntut untuk dimunculkan, kemudian setelah muncul diberikan penghargaan saja, melainkan dengan memberikan contoh/pemodelan bagaimana membentuk dan mengembangkan disposisi berpikir kritis sebagai salah satu bagian dari karakter bangsa.

2. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa

Berdasarkan Tabel 4.5 rerata skor pretest sebesar 38.14 lebih kecil dibandingkan rerata skor posttest sebesar 56.08, dengan rerata gain skor sebesar 17.94 sehingga terdapat peningkatan skor kemampuan berpikir kritis setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual. Peningkatan kemampuan berpikir kritis tersebut tidak lepas dari kontribusi kegiatan pembelajaran, sehingga pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual mendukung dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Pada praktikum virtual variasi genetik, hukum kesetimbangan Hardy-Weinberg, dan mikroevolusi mahasiswa dihadapkan pada sejumlah pertanyaan baik itu tentang pengetahuan awal, menjawab permasalahan melalui kegiatan praktikum virtual dan diskusi, serta petunjuk setiap praktikum pada LKM berupa pertanyaan sehingga mahasiswa dikondisikan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis fokus pada pertanyaan-pertanyaan tersebut (rerata N-gain 0.15),

(25)

menanyakan dan menjawab pertanyaan klarifikasi/tantangan (rerata N-gain 0.32). pada kegiatan menjawab permasalahan melalui kegiatan praktikum virtual, mahasiswa terlebih dulu menggunakan pengetahuan awal biologi sel dan genetika untuk menjembatani pengetahuan baru mekanisme evolusi sehingga mahasiswa dapat menyelesaikan masalah dengan menggabungkan kemampuan berpikir sibernetik dan logis pada praktikum irtual variasi genetik dan mikroevolusi, kemampuan berpikir peluang/probabilitas dan kombinatorial pada praktikum virtual Hardy-Weinberg dan mikroevolusi.

Pada kegiatan praktikum virtual variasi genetik, hukum hardy-Weinberg, dan mikroevolusi mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengumpulkan data dan menilai informasi (rerata N-gain 0.27), menarik dan menilai kesimpulan hasil praktikum virtual (rerata gain 0.33), melakukan dan menilai induksi (rerata N-gain 0.08), serta memutuskan tindakan. Pada kegiatan diskusi terdapat sejumlah pertanyaan yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa dengan mengidentifikasi argumen yang telah dikemukakan ahli (rerata N-gain 0.27), mengidentifikasi asumsi (rerata N-gain 0.29), dan memutuskan tindakan (rerata N-gain 0.51). Mahasiswa pun mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan gagasan selama kegiatan diskusi kelompok dan kelas, sehingga setiap tahapan kegiatan pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada mahasiswa calon guru. Hal ini didukung oleh pernyataan Berman (Ernst, 2004):

building critical thinking skills by encouraging students to pose and solve problems,investigate issues, examine alternative perspectives, incorporate thinking skills across subject areas, act on what they are thinking through authentic tasks, and reflect on what they are learning.

(26)

Berdasarkan pernyataan di atas, membangun kemampuan berpikir kritis dapat dilakukan dengan mendorong siswa untuk bersikap dan memecahkan masalah, menyelidiki masalah, memeriksa pandangan alternatif, menggabungkan kemampuan berpikir antar bidang studi, bertindak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan selama mengerjakan tugas, merefleksikan apa yang mereka pelajari.

Pada pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, mahasiswa mendapatkan kesempatan mencari solusi atau jawaban dari pertanyaan pra- praktikum yang terdapat pada setiap LKM. Kegiatan tersebut terkait dengan kemampuan berpikir kritis menurut Ennis (1985), karena sebelum mahasiswa melakukan serangkaian kegiatan praktikum, mahasiswa dituntut untuk melakukan klarifikasi dasar terhadap masalah atau pertanyaan tersebut, kemudian mengumpulkan informasi dasar dengan melakukan praktikum virtual. Selama melakukan praktikum virtual, mahasiswa dapat menggunakan strategi dan taktik agar bekerja lebih efektif, mengidentifikasi asumsi-asumsi yang ada, dan merumuskan kesimpulan. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Howe &Warren, (1989); APA/American Philosophical Association, (1991):

exposing students to situations where there are good reasons to exercise critical thinking, particularly through real-life situations; providing opportunities for students to practice critical thinking, first through situations that are artificially simple, and then culminating in situations that are realistically complex; and providing students with opportunities for the development and use of thinking skills over time and throughout the curriculum, as this tends to produce more effective thinking than unplanned or short-term emphasis.

Berdasarkan pernyataan di atas, mengkondisikan siswa pada situasi yang baik untuk melatih kemampuan berpikir kritisnya, terutama melalui situasi

(27)

kehidupan nyata melalui kegiatan praktikum akan memberikan kesempatan pada siswa untuk melatih kemampuan berpikir kritisnya. Dapat dimulai dengan menghadirkan situasi kehidupan nyata yang sederhana ke kompleks, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dan menggunakan kemampuan berpikir kritisnya dari waktu ke waktu cenderung lebih efektif dibandingkan pada waktu yang relatif singkat.

Rerata N-gain kemampuan berpikir kritis pada Tabel 4.6 sebesar 0.30 berada pada kategori sedang, skor N-gain kemampuan berpikir kritis lebih tinggi dibandingkan disposisi berpikir kritisnya. Hal ini bertentangan dengan pendapat Facione, et al (1995) skills and dispositions are mutually reinforced, a strong

overall disposition toward CT is integral to insuring the use of CT skills outside the narrow instructional setting. Namun hasil penelitian Quitadamo, et al (2007) indicates that students’behavioral dispositions do not change in the short term, but cognitive skills can be developed over a relatively short period of time, showed that critical thinking skills changed within 15 wk. Dengan demikian, skor

N-gain disposisi dengan kemampuan berpikir kritis berbeda satu sama lain, dikarenakan ketersediaaan waktu untuk mengembangkan disposisi berpikir kritis yang kurang mendukung. Adapun hasil uji hipotesis pada Tabel 4.7 menunjukkan bahwa H1 diterima, sehingga terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis

yang signifikan setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual.

Tabel 4.8 menunjukkan persentase kemampuan berpikir kritis untuk setiap komponennya, rerata N-gain tertinggi terdapat pada sub kemampuan

(28)

berpikir kritis: menanyakan dan menjawab pertanyaan klarifikasi atau tantangan sebesar 0.32 (kategori sedang), menarik dan membuat kesimpulan sebesar 0.33 (kategori sedang), serta memutuskan tindakan sebesar 0.51 (kategori sedang). Dibandingkan dengan sub kemampuan berpikir kritis lainnya, ketiga sub kemampuan berpikir kritis tersebut memang lebih banyak dikembangkan dalam pembelajaran mekanisme evolusi berbasis praktikum virtual, terutama pada kegiatan praktikum virtual dan diskusi kelas. Pada tiga kegiatan praktikum virtual dan diskusi, terdapat beberapa pertanyaan klarifikasi dan tantangan yang menuntun mahasiswa menarik dan menilai kesimpulan. Strategi dan taktik digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, digunakan pula pada kegiatan praktikum dan diskusi agar berjalan lebih efektif.

Rerata N-gain komponen disposisi berpikir kritis tertinggi pada memutuskan tindakan (0.51, kategori sedang), sehingga secara umum mahasiswa telah mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya, karena memutuskan tindakan (strategi dan taktik) berada pada kategori kemampuan berpikir kritis tertinggi berdasarkan Ennis (1985). Hal tersebut didukung oleh pernyataan Liliasari (2010: 459) bila seseorang berpikir kritis, maka ia akan berpikir secara seksama terlebih dahulu sebelum menentukan keputusan yang akan diambil. 3. Sikap ilmiah mahasiswa

Berdasarkan Tabel 4.9 rerata skor pretest sebesar 2.34 lebih kecil dibandingkan rerata skor posttest sebesar 2.63, dengan rerata gain skor sebesar 0.29 sehingga terdapat peningkatan sikap ilmiah setelah pembelajaran evolusi berbantuan praktikum virtual. Peningkatan sikap ilmiah tersebut tidak lepas dari

(29)

kontribusi kegiatan pembelajaran, sehingga pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual mendukung dalam mengembangkan sikap ilmiah mahasiswa. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Glick (Morell & Lederman, 1998:76) students attitudes toward science appear to be shaped by same factor:

teachers, learning environment, self-concept, peers, and parental influence.

Dengan demikian sikap siswa terhadap sains salah satunya dibentuk oleh lingkungan belajar seperti kegiatan praktikum virtual, namun dipengaruhi pula oleh faktor guru, konsep diri, teman sebaya, dan pengaruh orang tua.

Pada setiap kegiatan praktikum virtual variasi genetik, hukum kesetimbangan Hardy-Weinberg, dan mikroevolusi mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah menggunakan metode ilmiah secara sistematis praktikum virtual dengan mengidentifikasi permasalahan sehingga dapat merumuskan prediksi, menguji prediksi melalui kegiatan praktikum virtual, mengolah dan menganalisis data hasil praktikum virtual sehingga dapat merumuskan kesimpulan. Selama kegiatan pembelajaran mekanisme evolusi berbasis praktikum virtual tersebut, mahasiswa dituntut untuk bertindak atau berperilaku dalam memecahkan masalah secara sistematis melalui langkah-langkah ilmiah seperti memiliki rasa ingin tahu (rerata N-gain 0.17), menerima perbedaan (rerata N-gain 0.17), mengutamakan bukti (rerata N-gain 0.19), bersikap skeptis (rerata N-gain 0.24), dan bersikap positif terhadap kegagalan (rerata N-gain 0.35). Hal senada diungkapkan Rustaman, et al (2005) bahwa kegiatan praktikum dapat menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah.

(30)

Perubahan sikap ilmiah setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, menunjukkan bahwa sikap seseorang tidak selalu statis tetapi dapat mengalami perubahan karena adanya proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Dayaksini & Hudaniyah (2006:117) menyatakan bahwa sikap bukan suatu pembawaan, melainkan hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya, sehingga sikap bersifat dinamis. Sikap dapat berubah karena kondisi dan pengaruh yang diberikan. Sikap dapat pula dinyatakan sebagai hasil belajar, sehingga sikap tidak dibentuk dengan sendirinya karena sikap senantiasa akan berlangsung dalam interaksi manusia berkenaan dengan obyek tertentu.

Rerata N-gain sikap ilmiah pada Tabel 4.9 sebesar 0.18 berada pada kategori rendah, hal ini dikarenakan scientific attitudes are a composite of a

number of mental habits, or tendencies to react consistently in certain ways to a novel or problematic situation (Gauld & Hukins, 2002), sehingga dibutuhkan

jangka waktu yang cukup lama untuk konsisten mengembangkan sikap ilmiah. Selain itu, menurut Archibong (1997) any teaching strategy to develop

scientific attitude, every students are involved in activities, be it in exercise, laboratory work or lets find out exercises/ activities, is activity-based approach.

Sedangkan pada penelitian ini, tidak setiap mahasiswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual. Hal ini didukung oleh hasil observasi yang menunjukkan hanya terdapat 45% mahasiswa yang membawa laptop/netbook, dan hasil angket dosen yang menyatakan bahwa “tidak semua mahasiswa ikut aktif, baik pada waktu praktikum maupun diskusi”.

(31)

Schafersman (1991) menambahkan bahwa for children to cultivate critical

thinking-one of the scientific attitudes, they must be actively involved. Menurut

Okebukola (2002) the best method to change attitudes is by persuasion and that

this method succeeds depending on the personality involved. Berdasarkan hal

tersebut, untuk mengembangkan sikap ilmiah mahasiswa harus terlibat secara aktif karena keberhasilan metode untuk mengubah sikap adalah dengan persuasi dan keterlibatan personal. Keterbatasan waktu dan kurang terlibatnya semua mahasiswa pada kegiatan pembelajaran menjadi keterbatasan dari penelitian ini. Namun, secara umum pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual dapat mengindikasi peningkatan sikap ilmiah pada mahasiswa calon guru.

Hasil uji hipotesis pada Tabel 4.11 menunjukkan bahwa H1 diterima,

sehingga terdapat peningkatan sikap ilmiah yang signifikan setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual. Pada Tabel 4.12 menunjukkan persentase sikap ilmiah untuk setiap komponennya, rerata N-gain tertinggi terdapat pada bersikap positif terhadap kegagalan/taking a positive approach to

failure sebesar 0.35 (kategori sedang) dan komponen sikap ilmiah yang lainnya

berada pada kategori rendah.

Hasil penelitian tersebut senada dengan hasil penelitian Akporehwe (2010)

activity-based approach using demonstration, project and guided discovery approach significantly enhanced a positive approach to failure in the students

sehingga pendekatan berdasarkan aktivitas seperti kegiatan praktikum virtual secara signifikan dapat lebih meningkatkan sikap positif terhadap kegagalan. Hal tersebut dikarenakan pada kegiatan pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan

(32)

praktikum virtual, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk merumuskan prediksi kemudian melakukan praktikum untuk membuktikan prediksinya. Dari kegiatan tersebut mahasiswa dapat lebih mengembangkan sikap positif terhadap kegagalan, terutama jika hasil praktikumnya tidak sesuai dengan prediksi awal yang mereka rumuskan.

4. Penguasaan Konsep Mekanisme Evolusi

Berdasarkan Tabel 4.13 rerata skor pretest sebesar 37.11 lebih kecil dibandingkan rerata skor posttest sebesar 58.69, dengan rerata gain skor sebesar 21.58 sehingga terdapat peningkatan penguasaan konsep setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual. Peningkatan penguasaan konsep mekanisme evolusi tersebut tidak lepas dari kontribusi kegiatan pembelajaran, sehingga pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual mendukung dalam mengembangkan penguasaan konsep mekanisme evolusi pada mahasiswa. Hal tersebut didukung oleh Cunningham, et al (2006) kemampuan berpikir kritis dan pemahaman siswa SMP, SMA, dan mahasiswa meningkat terhadap prinsip dasar dan praktis elektroforesis DNA dengan pengalaman mengoptimalisasikan teknik elektroforesis melalui virtual lab berbasis inquiri. Didukung pula oleh hasil penelitian Maldarelli, (2009) terdapat peningkatan pengetahuan, keyakinan, dan pengalaman teknik laboratorium Biologi umum yang signifikan pada mahasiswa setelah melihat demonstrasi virtual lab.

Rerata N-gain penguasaan konsep mekanisme evolusi pada Tabel 4.13 sebesar 0.35 berada pada kategori sedang, hasil ini tidak terlepas dari setiap tahapan kegiatan pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual.

(33)

Pernyataan tersebut didukung oleh hasil angket mahasiswa yang menunjukkan terdapat 72% mahasiswa, menyatakan bahwa pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual dapat mendukung pembentukan dan penguasaan konsep mekanisme evolusi. Hasil angket dosen juga menyatakan bahwa “pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual cukup membantu mahasiswa dalam membuat kesimpulan dan merumuskan konsep mekanisme evolusi”.

Penguasaan konsep sebagai salah satu hasil belajar yang dicapai mahasiswa dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri mahasiswa dan dari luar diri mahasiswa (lingkungan). Faktor dari dalam (intrinsik) terdiri dari faktor kondisi fisik dan psikologi, sedangkan faktor dari luar (ekstrinsik) berupa lingkungan yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat, termasuk juga kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Berdasarkan hasil angket dosen, dosen mata kuliah mekanisme evolusi menyarankan bahwa “kondisi awal pembelajaran perlu lebih ditekankan lagi, diskusi sebaiknya melibatkan seluruh mahasiswa, dan diakhir kegiatan perlu dilakukan penguatan konsep dan prinsip kegiatan dalam praktikum”. Dengan demikian saran dosen tersebut dapat menjadi masukan dalam penerapan pembelajaran biologi berbantuan praktikum virtual kedepannya, sehingga perolehan rerata N-gain penguasaan konsep biologi selanjutnya dapat mencapai kategori tinggi.

Hasil uji hipotesis pada Tabel 4.15 menunjukkan bahwa H1 diterima,

sehingga terdapat peningkatan penguasaan konsep mekanisme evolusi yang signifikan setelah pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual.

(34)

Pada Tabel 4.16 menunjukkan persentase penguasaan konsep mekanisme evolusi pada mahasiswa untuk setiap jenjang kognitifnya. C2 dengan dimensi pengetahuan faktual dan konseptual (0.27) berada pada kategori skor N-gain sedang, sedangkan jenjang kognitif penguasaan konsep mekanisme evolusi lainnya berada pada kategori rendah. Berdasarkan hasil tersebut, peningkatan penguasaan konsep mekanisme evolusi lebih banyak terjadi pada jenjang kognitif C2 (understand) dengan dimensi pengetahuan pada dimensi faktual. Hal ini terkait dengan setiap tahapan kegiatan pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual.

Pada awal kegiatan praktikum virtual mekanisme evolusi terdapat kegiatan yang meminta mahasiswa untuk mengungkapkan terlebih dahulu pengetahuan awal mereka, sehingga mereka dapat menjembatani pengetahuan baru yang akan diperoleh melalui pembelajaran dengan pengetahuan awal mereka. Hal senada diungkapkan Anderson, et al (2001:70) students understand when they build

connection between the new knowledge to be gained and their prior knowledge.

Dimensi pengetahuan dengan skor N-gain tertinggi berada pada dimensi faktual, menurut Anderson, et al (2001:45) factual knowledge contains the basic elements

students must know if they are to be acquainted with the dicipline or to solve any of the problems in it, sehingga peningkatan dominan terjadi pada dimensi

pengetahuan faktual karena pengetahuan faktual merupakan elemen dasar yang perlu dikuasai setiap mahasiswa pada kegiatan pembelajaran dan pemecahan masalah.

(35)

5. Respon dosen dan mahasiswa terhadap pembelajaran mekanisme evolusi

berbantuan praktikum virtual

Pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual yang digunakan dalam penelitian ini, diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam mengembangkan disposisi dan kemampuan berpikir kritis, sikap ilmiah, dan penguasaan konsep mekanisme evolusi. Untuk mengetahui tanggapan dosen dan mahasiswa terhadap pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, dosen dan mahasiswa diminta untuk mengemukakan pendapatnya melalui angket.

Berdasarkan Tabel 4.17, hanya terdapat 12% dari 72 orang mahasiswa yang sudah memiliki pengalaman berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran menggunakan praktikum virtual, sementara 88% mahasiswa lainnya belum sama sekali. Namun, hal ini tidak menjadi hambatan bagi mereka untuk mengikuti kegiatan pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual. Hasil angket menunjukkan 60% mahasiswa tidak merasa terbebani dengan pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, 71% mahasiswa tidak merasa kesulitan dalam menggunakan simulasi praktikum virtual, 67% mahasiswa tidak mengalami banyak kendala selama pembelajaran.

Terdapat 32% mahasiswa yang merasa mengalami hambatan selama pelaksanaan kegiatan pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, hambatan tersebut diantaranya karena mahasiswa merasa kebingungan dalam melaksanakan kegiatan praktikum sehingga mereka memberikan saran-saran diantaranya: 1) pertanyaan dalam LKM sebaiknya lebih mudah dicerna,

(36)

lugas, dan cepat dipahami; 2) seharusnya simulasi dicontohkan dahulu/demonstrasi sebelum melaksanakan kegiatan praktikum; 3) dalam pelaksanaan praktikum perlu pembimbing yang lebih banyak karena kelasnya besar dan kelompoknya banyak.

Berdasarkan hasil angket mahasiswa 79% mahasiswa menyatakan tertarik terhadap pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual, sehingga pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual dapat meningkatkan disposisi dan berpikir kritis (75%), sikap ilmiah (67%), dan penguasaan konsep mekanisme evolusi (72%). 79% mahasiswa menyatakan kegiatan pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual dapat meningkatkan minat dan motivasi (81%) belajar mereka. Hal ini didukung oleh pernyataan dari Djamarah, (2005:223) menyatakan bahwa motivasi berhubungan erat dengan emosi, minat, dan kebutuhan siswa.

Dengan demikian, pembelajaran mekanisme evolusi berbantuan praktikum virtual yang telah disertai dengan perbaikan-perbaikan dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran yang biasa dilakukan karena kegiatan praktikum virtual tidak dianggap sebagai pengganti atau pesaing untuk laboratorium nyata, tetapi lebih sebagai peluang baru bagi pembelajaran dengan materi yang tidak terealisasi dalam laboratorium nyata. Hal tersebut didukung oleh 81% mahasiswa yang menyatakan bahwa simulasi praktikum virtual mekanisme evolusi sudah cukup menarik dan jelas untuk diikuti sehingga dapat digunakan pada perkuliahan selanjutnya.

Gambar

Tabel 4.1 Rekapitulasi Perhitungan Skor Disposisi Berpikir Kritis  Faktor yang dihitung  Pretest  Posttest  Gain
Tabel 4.2 Uji Normalitas Disposisi Berpikir Kritis  Pretest  Posttest  N-Gain
Gambar 4.1. Grafik Nilai Pretest dan Posttest untuk Setiap Komponen Disposisi  Berpikir Kritis
Tabel 4.4 Perolehan Skor Rerata Pretest, Posttest, dan N-gain Tiap Komponen  Disposisi Berpikir Kritis
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam siklus 2 ini peneliti berusaha mengoptimalkan kegiatan pembelajaran dengan tetap melaksanakan penerapan metode diskusi whole group berbantuan media gambar mata

Fokus penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh media pembelajaran berbantuan aplikasi Elsa Speak terhadap kepercayaan diri berbicara bahasa Inggris dibandingkan

1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan mengimplementasikan model picture and picture berbantuan media stick keberuntungan. Adapun RPP yang

Pertama, terkait waktu dan tempat pelaksanaan praktikum BTQ, kedua terkait metode yang digunakan mentor dalam meningkatkan kemampuan menghafal Al-Qur’an mahasiswa,

Pada siklus 2 ini pelaksanaan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan media Mind Mapping sudah

Dari hasil penelitian ini sebagian besar mahasiswa mengalami kecemasan yang masih ringan dan dapat diatasi dengan mekanisme koping individu dan strategi koping

Kenyataannya dalam mengembangkan pembelajaran di sekolah guru belum memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, perangkat pembelajaran yang digunakan guru baik

Pada sub bab ini, akan menjelaskan mengenai analisis data hasil observasi dengan menerapkan model pembelajaran Make a Match berbantuan media gambar yang terdiri dari