• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

43

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Di dalam bab 4 ini akan dijelaskan mengenai hasil penelitian dan pembahasannya setelah peneliti melakukan penelitian dilapangan, terhadap penonton acara RAbu KETawa di Frame Coffeehouse. Dari hasil penelitian ini, akan dijelaskan mengenai karakteristik responden, karakteristik variable dan mengukur faktor determinan untuk menjawab rumusan masalah.

1.

Karakteristik Responden

Sebelum mengukur faktor determinan, terlebih dahulu akan dijelaskan dan dipaparkan mengenai karakteristik responden untuk mengetahui gambaran umum tentang responden yang dijadikan sampel dalam penelitian. Karakteristik responden ini meliputi frekuensi menonton acara oleh responden, umur, jenis kelamin, pendidikan, serta status dan pekerjaan responden.

1.1. Frekuensi Menonton Acara RAbu KETawa

Dari 108 orang penonton acara RAbu KETawa periode Januari 2012 – Juni 2013 yang dijadikan sampel penelitian, menurut tingkat frekuensi dalam menonton acara RAbu KETawa pada periode tersebut adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1

Distribusi Responden Berdasarkan Intensitas Menonton No. Intensitas Menonton Frekuensi Persentase (%) 1 Tinggi 86 79,06 2 Rendah 22 20,04 Jumlah 108 100,00

(2)

44 Dari 108 responden, sebanyak 86 orang (79,06%) memiliki intensitas menonton acara RAbu KETawa yang tinggi yakni menonton acara ini lebih dari 20 kali selama periode Januari 2012 – Juni 2013 dari total 42 kali acara ini berlangsung, dan sisanya 22 orang (20,04%) memiliki intensitas menonton acara RAbu KETawa yang rendah yakni menonton acara ini kurang dari 20 kali. Hal ini terjadi, karena acara Stand Up Comedy sedang menjadi tren. Acara yang awalnya ditayangkan di beberapa stasiun televisi lokal dan mendapat rating tinggi ini menjadi sebab munculnya komunitas Stand Up Comedy di berbagai kota di Indonesia termasuk Salatiga. Di Salatiga sendiri nampak antusias penonton yang cukup tinggi. Dibuktikan dengan tingginya pula tingkat keseringan menonton masyarakat Salatiga yang mengunjungi Frame Coffeehouse. Selain itu dapat disebabkan karena Stand Up Comedy merupakan hiburan baru yang tidak hanya menghibur tapi juga mengajak penontonnya untuk berpikir lebih kritis, didukung pula penonton tidak perlu mengeluarkan biaya khusus sehingga tidak sedikit responden yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

1.2. Usia Responden

Berdasarkan data yang diperoleh dilapangan, diketahui bahwa usia responden berkisar antara 15 tahun sampai 31 tahun dengan rata-rata 21,29 tahun. Proporsi responden berdasar usia dapat dilihat sebagai berikut :

(3)

45 Gambar 3

Distribusi Responden Berdasarkan Usia

Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Kategori usia dibedakan menjadi 3, hal ini nantinya dapat digunakan untuk melihat perbandingan motif yang mendorong khalayak menonton acara RAbu KETawa antar kategori usia:

a. Remaja, yaitu responden dengan kategori usia dibawah 15 – 18 tahun. Dikategorikan remaja karena pada usia tersebut rata-rata penonton masih berstatus sebagai pelajar.

b. Muda, yaitu responden dengan kategori usia 19 – 24 tahun. Di usia ini, khalayak berada pada status mahasiswa dan bekerja.

c. Dewasa, yaitu responden dengan kategori usia lebih dari 25 tahun. Dewasa karena khalayak pada usia ini berstatus sebagai pekerja. Sehingga tentunya kebutuhannya dalam menyaksikan acara RAbu KETawa akan berbeda dengan mereka yang masih berada pada kategori remaja serta muda.

(4)

46 Dibawah ini akan dijelaskan mengenai kaitan antara kategori usia dan tipe penonton, yaitu :

Tabel 4.2

Usia dan Intensitas Menonton

No. Kategori Usia Kategori Total

Tinggi Rendah 1 Remaja 29 87,90 % 4 12,10 % 33 100% 2 Muda 40 80,00 % 10 20,00 % 50 100 % 3 Dewasa 17 68,00 % 8 32,00 % 25 100% Total 86 79,60 % 22 20,40 % 108 100% Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Dari hasil penelitian, yang paling banyak menjadi responden adalah khalayak usia muda dengan rentang usia 19 – 24 tahun , yakni 50 orang (46,30%). Berdasarkan tabel silang, nampak khalayak yang menonton lebih dari 20 kali juga merupakan khalayak pada usia muda, yaitu 40 orang (80 %). Ini menunjukan bahwa khalayak kategori muda lebih banyak menonton acara RAbu KETawa, karena memang pada awalnya acara Stand Up Comedy digunakan oleh para anak muda untuk menyuarakan aspirasi maupun kritik terhadap berbagai isu-isu sosial, politik, SARA, dan masih banyak lainnya. Materi yang disampaikan oleh para comic pun tak jauh dari fenomena kehidupan percintaan serta pergaulan anak muda. Sehingga mereka yang berada di kategori muda jauh lebih tertarik untuk menyaksikan acara RAbu KETawa.

(5)

47 1.3. Jenis Kelamin Responden

Tabel 4.3

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin

Responden Frekuensi Persentase (%)

1 Laki-laki 66 61

2 Perempuan 42 39

Total 108 100,00

Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Tabel 4.4

Jenis Kelamin dan Intensitas Menonton

No. Jenis Kelamin Kategori Total Tinggi Rendah 1 Laki-laki 53 80,30 % 13 19,70% 66 100% 2 Perempuan 33 78,6% 9 21,4% 42 100% Total 86 79,60 % 22 20,40 % 108 100% Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Berdasarkan dari hasil tabel distribusi responden berdasarkan jenis kelamin serta tabel silang antara jenis kelamin dengan tingkat keseringan menonton menunjukkan perbedaan yang tidak terlalu jauh dan signifikan antara jumlah penonton laki-laki dan perempuan yaitu masing-masing sebesar 66 (61%) dan 42 (39%). Hal ini dapat saja dipengaruhi oleh banyak faktor. Antara lain segmentasi acara yang memang tidak dikhususkan untuk laki-laki atau perempuan saja, namun dapat juga kita sadari seiring dengan perkembangan jaman bahwa saat ini kebutuhan akan

(6)

48 informasi, identitas personal, integrasi dan interaksi sosial serta kebutuhan hiburan antara laki-laki dan perempuan memiliki porsi yang sama.

1.4. Pendidikan Terakhir Responden Tabel 4.5

Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Akhir

No. Pendidikan Responden Frekuensi Persentase (%)

1 SMP 29 26,90

2 SMA 48 44,40

3 D3 11 10,20

4 S1 20 18,50

Total 108 100,00

Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Dari tabel diatas, terlihat bahwa sebanyak 48 orang (44,40%) responden berpendidikan terakhir berada di bangku SMA, kemudian disusul SMP 29 orang (26,90%). Ini menunjukkan bahwa penonton acara RAbu KETawa sudah memiliki tingkat pendidikan yang cukup baik, karena sudah banyak penonton yang berpendidikan sampai tingkat SMA. Ini juga dipengaruhi dengan segmentasi acara tersebut yang memang ditujukan untuk anak muda dengan pemikiran kritis sehingga dapat memandang satu kejadian dari beberapa sudut pandang.

(7)

49 Tabel 4.6

Tingkat Pendidikan dan Intensitas Menonton

No. Kategori Pendidikan Kategori Total Tinggi Rendah 1 SMP 25 86,20 % 4 13,80 % 29 100 % 2 SMA 38 79,20 % 10 20,80 % 48 100 % 3 D3 7 63,60 % 4 36,40 % 11 100 % 4 S1 16 80,00 % 4 20,00 % 20 100 % Total 86 79,60 % 22 20,40 % 108 100% Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Berdasarkan tabel silang diatas, tampak jumlah tertinggi responden yang menonton acara RAbu KETawa lebih dari 20 kali adalah responden dengan tingkat pendidikan SMA yaitu sebanyak 38 orang (79,20%) dan SMP sebanyak 25 orang (86,20%). Responden dengan tingkat pendidikan terendah SMA menunjukkan bahwa statusnya saat ini sudah pada posisi mahasiswa atau bekerja. Ini memperlihatkan bahwa acara RAbu KETawa memiliki segmentasi penonton anak muda. Sehingga khalayak yang menonton acara ini berada pada kisaran pelajar dan mahasiswa. Mereka yang sedang berada pada status pelajar atau mahasiswa memiliki rasa keingintahuan yang cukup tinggi. Hal ini sejalan dengan hasil jawaban terhadap kuesioner yang penulis berikan kepada responden yang masih berstatus pelajar dan mahasiswa bahwa rata-rata mereka setuju jika rasa ingin tahu yang tinggi menjadi salah satu faktor mereka menyaksikan acara ini.

(8)

50 1.5. Status dan Pekerjaan Responden

Berdasarkan status dan pekerjaan responden, maka diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.7

Distribusi Responden Berdasarkan Status dan Pekerjaan

No. Pekerjaan Responden Frekuensi Persentase (%)

1 Pelajar 29 26,90 2 Mahasiswa 45 41,70 3 Karyawan Swasta 20 18,50 4 Guru 5 4,60 5 Wiraswasta 9 8,30 Total 108 100,00

Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Berdasarkan status dan pekerjaan responden, terlihat sebanyak 74 orang (68,60%) berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa sedang 39 orang (31,40%) statusnya sudah bekerja. Hal ini sesuai dengan segmentasi acara Stand Up Comedy yang menyasar anak muda. Acara yang memiliki tujuan untuk menghibur sekaligus mengajak audiensnya berpikir lebih kritis ini kian disenangi oleh anak muda karena sifatnya yang dinamis dan cerdas sehingga mampu menambah pengetahuan dan wawasan bagi penontonnya. Sedangkan hampir sepertiga jumlah responden berstatus sudah bekerja.

“kalo tujuanku dateng kesini sih biar bisa kumpul sama temen-temen aja, kan seharian udah capek kerja. Nah, malemnya paling enak nongkrong sama teman-teman. Kebetulan juga tiap rabu ada acara open mic, jadi saya dan teman-teman meluangkan waktu untuk dateng ke Frame Coffehouse” (Andi, 27).

Kutipan diatas merupakan hasil wawancara penulis dengan salah seorang responden yang sudah bekerja. Ini memungkinkan karena

(9)

51 beratnya tekanan kerja menyebabkan mereka yang berada pada status sudah bekerja ingin sejenak mencari hiburan untuk sekedar melepas beban aktifitas mereka sehari-hari. Seperti yang diungkapkan responden diatas, bahwa setelah seharian bekerja, dia ingin melepas lelah dengan berkumpul bersama teman-teman dan bersantai sejenak di Frame Coffeehouse.

Tabel 4.8

Status dan Intensitas Menonton

No. Kategori Umur Kategori Total

Tinggi Rendah 1 Pelajar 25 86,20 % 4 13,80 % 29 100 % 2 Mahasiswa 34 75,60 % 11 24,40 % 45 100 % 3 Karyawan Swasta 14 70,00 % 6 30,00 % 20 100 % 4 Guru 4 80,00 % 1 20,00 % 5 100 % 5 Wiraswasta 9 100 % 0 0 % 9 100 % Total 86 79,60 % 22 20,40 % 108 100% Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Dari tabel silang diatas, bisa dilihat bahwa jumlah penonton dengan tingkat keseringan menonton tinggi dan rendah didominasi oleh responden yang berstatus sebagai mahasiswa dengan jumlah masing-masing 34 orang (75,60%) dan 11 orang (24,40%). Artinya intensitas mahasiswa dalam menonton acara RAbu KETawa cukup tinggi. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa mewakili anak muda yang memiliki pemikiran kritis sehingga keinginan untuk menonton acara ini akan semakin besar, apalagi sifat anak

(10)

52 muda yang selalu ingin tahu akan hal-hal baru terutama yang berkaitan dengan fenomena dalam kehidupan sehari-hari, merupakan nilai tersendiri dari acara RAbu KETawa ini.

2.

Karakteristik Variabel

Karakteristik variable akan diolah dengan menggunakan statistik deskriptif. Analisa deskriptif untuk menggambarkan tentang statistik data seperti mean, minimum, sum, variance, maximum, standar deviasi dan lainnya.

Variabel motif menonton terdiri dari empat indikator, yaitu motif informasi, identitas, integrasi dan interkasi sosial, hiburan. Untuk menentukan tinggi rendahnya hasil pengukuran indikator motif menonton, maka digunakan empat kategori yang menunjukan kesetujuan dan ketidaksetujuan terhadap setiap item pernyataan yang digunakan yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju.

2.1 Motif Informasi

Dalam indikator motif informasi terdiri dari 4 item pernyataan. Untuk mengetahui tingkat skala perhitungan rata-rata, digunakan interval sebagai berikut :

= nilai jawaban maximum – nilai jawaban minimum Jumlah kategori

= 16 – 4 = 3 4

Tabel 4.9

Interval kategori jawaban motif informasi

Tingkat Skala Interval Interpretasi

1 4 - 6 Sangat tidak setuju

2 7 - 9 Tidak setuju

3 10 - 12 Setuju

4 13 - 16 Sangat setuju

(11)

53 Tabel 4.10

Statistik Deskriptif Hasil Pengukuran Motif Informasi

No. Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setuju 69 63,90

2 Setuju 26 24,1

3 Tidak Setuju 12 11,1

4 Sangat Tidak Setuju 1 0,90

5 Total 108 100.00

Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013 Deskriptif Statistik

N Minimum Maximum Rata-Rata Std. Deviation Motif Informasi 108 4.00 16.00 12.7500 2.14487

Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Dari tabel diatas, bisa dilihat bahwa indikator motif informasi memiliki rata-rata 12,75 dan menurut tabel kriteria kategori interval, nilai 12,75 terletak pada kategori sangat setuju. Ini menunjukkan bahwa rata-rata responden sangat setuju dengan pernyataan-pernyataan yang diajukan untuk menjelaskan mengenai indikator motif informasi yang meliputi pernyataan seputar penambahan pengetahuan, antara lain penambahan wawasan mengenai Stand Up Comedy, tren tekhnologi dan penggunaan media sosial, tren pergaulan di kalangan anak muda, serta pengetahuan mengenai isu politik, ekonomi, sosial budaya dan SARA. Responden sangat setuju dengan bertambahnya wawasan mereka mengenai Stand Up Comedy setelah menyaksikan acara RAbu KETawa, ini dikarenakan ketika acara tersebut berlangsung para comic tidak hanya menyampaikan materi yang lucu melalui open mic tapi juga menyelipkan informasi mengenai apa itu Stand Up Comedy serta teknik ber-open mic. Perlu dipahami sebelumnya, ada tiga kosakata penting dalam teknik Stand Up Comedy, yang pertama adalah Bit, yaitu lontaran materi yang disampaikan oleh

(12)

54 seorang comic. Bit sendiri terdiri dari dua bagian Set Up dan Punchline. Set Up merupakan kalimat pembuka sedangkan punchline merupakan kalimat puncak dan disitulah kelucuan berada. Ada beberapa teknik dalam berStand Up Comedy,antara lain:

1. One Liner

Adalah bit singkat yang terdiri dari satu sampai tiga kalimat saja. Contoh: “Katanya Aa Gatot Brajamusti pernah main film misteri. Ada yang pernah nonton? Sama, saya juga tidak pernah. Di situlah letak misterinya.”

2. Call back

Adalah teknik yang menggunakan punch line dari set up yang sudah disampaikan terlebih dahulu, untuk set up lain beberapa bit berikutnya.

Aturannya: joke 1 (set up1, punch1) – joke 2 (set up2, punch2) – joke 3 (set up 3, punch3) – joke 4 (set up, punch1)

3. Rule of three

Adalah teknik tiga angka. Set up yang digunakan adalah dua kalimat awal, yang ketiga adalah punch line.

Contoh: “Ngajarin radityadika ngelawak itu kayak ngajarin melly bikin lagu, dedy cara main sulap, atau ngajarin syahrini cara bedakan.”

4. Act Out

Adalah menunjukkan dengan gerakan. Act out sering digunakan dalam Stand Up Comedy karena mudah dan keberhasilan tinggi. Biasanya Act out sebagai punchlinenya.

Contoh: “Kalau laper jangan ngetweet, apa berharap tiba-tiba keluar makanan dari laptopnya (kemudian menunjukkan gerakan makanan keluar dari laptop)”

5. Impersonation

Adalah menirukan sosok yang sudah terkenal. Tenik ini biasanya mengambil gaya bicara, gerakan, atau kata-kata khas.

(13)

55 Contoh: “Hay guuuuyysss! – seorang comic sedang mem-impersonate ikang fauzi

6. Comparisons

Adalah joke dengan membandingkan sesuatu dengan suatu yang lainnya.

7. Riffing

Adalah mengajak penonton untuk berinteraksi. Biasanya menjadikan penonton sebagai objek joke. Hati-hati menggunakan riffing karena sering gagal atau mungkin menyinggung perasaan penonton.

Contoh: Seorang comic melihat penonton menggunakan kaos bergambar club bola Manchester United dengan nama punggung Rooney, kemudian comic tersebut mengatakan “Di belakangnya namanya Rooney, tapi kok di depan mukanya Runyam?”

8. Gimmick

Adalah alat bantu atau hal lain di luar Stand Up Comedy yang digunakan untuk joke, biasanya sebagai punch line.

Contoh: “Sekarang hiburan kurang berkualitas, akhirnya hiburan sederhana jadi istimewa, seperti *kemudian gangnam style*”

9. Heckler

Adalah pengganggu dalam Stand Up Comedy. Heckler biasanya berteriak saat set up sedang dibawakan,meneriakkan punch line sebelum comic mengutarakannya, atau bahkan menyuruh comic untuk turun dengan kalimat “Huu... atau Turunnnn”. Heckler harus diatasi sehingga dia tidak mengganggu comic. Biasanya cara mengatasinya adalah menjadikannya bahan joke dengan sedikit menghina agar dia tidak mengganggu.

Materi yang disampaikan oleh para comic pun beraneka ragam, mulai dari materi-materi cukup berat seperti politik pemerintahan, polemik agama, ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, sampai dengan materi ringan seputar kegalauan anak muda jaman sekarang, percintaan, gadget, dan tren tekhnologi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian, karena sebesar 80%

(14)

56 responden termasuk dalam kategori remaja dan muda sehingga acara RAbu KETawa dapat menjadi salah satu alternatif cara untuk mengetahui berita dan informasi secara nonformal.

2.2 Motif Identitas Personal

Tabel 4.11

Statistik Deskriptif Hasil Pengukuran Motif Identitas Personal

No. Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setuju 50 46,30

2 Setuju 42 38,90

3 Tidak Setuju 16 14,80

4 Total 108 100.00

Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013 Deskriptif Statistik

N Minimum Maximum Rata-Rata Std. Deviation Motif IdentitasPersonal 108 7.00 16.00 12.2315 2.44034

Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Dapat dilihat bahwa variabel motif menonton pada indikator motif identitas personal memiliki rata-rata 12,23 dengan standar deviasi 2,44. Menurut kriteria, rata-rata 12,23 terletak pada kategori setuju. Ini menunjukkan bahwa rata-rata responden setuju dengan butir pernyataan-pernyataan yang ditulis untuk menunjukkan motif identitas personal yang antara lain meliputi pemahaman diri, identifikasi diri mengenai pengalaman percintaan dan pergaulan, serta kepercayaan diri. Pikiran yang terlintas di benak responden setelah menyaksikan acara RAbu KETawa adalah munculnya pemahaman terhadap diri sendiri, tentang siapa saya dan seperti apa saya. Pemahaman terhadap diri sendiri ini tentu tidak akan sama antara satu orang dengan yang lain. Seorang responden (Priska Dea, 23) menyatakan ketika ada comic yang membawakan materi

(15)

57 mengenai kebanyakan wanita, dia merasa bahwa apa yang dikatakan comic tersebut benar karena sesuai dengan apa yang dia alami dalam kehidupannya. Sebesar 46,30% responden menyatakan sangat setuju bahwa kercayaan diri mereka bertambah setelah menyaksikan acara ini. Beberapa orang responden mengaku hal ini terbukti ketika setelah menyaksikan acara open mic kemudian mereka berani untuk ber-free open mic yaitu sesi dimana penonton ditantang untuk secara spontan ber-open mic.

2.3 Motif Integrasi dan Interaksi Sosial Tabel 4.12

Statistik Deskriptif Hasil Pengukuran Motif Integrasi dan Interaksi Sosial

No. Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setuju 63 58,30

2 Setuju 31 28,70

3 Tidak Setuju 14 13,00

4 Total 108 100.00

Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013 Deskriptif Statistik

N Minimum Maximum Rata-Rata Std. Deviation Motif Integrasi dan Interaksi Sosial 108 7.00 16.00 12.8796 2.52360

Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Dapat dilihat bahwa variabel motif menonton pada indikator motif integrasi dan interaksi sosial memiliki rata-rata 12,87 dengan standar deviasi 2,52. Menurut kriteria, rata-rata 12,87 terletak pada kategori sangat setuju. Ini menunjukkan bahwa rata-rata responden setuju dengan butir pernyataan-pernyataan yang ditulis untuk menunjukkan motif integrasi dan interaksi sosial mengenai kelangsungan hubungan individu dengan orang lain yang meliputi kemampuan dan pengetahuan akan pemecahan suatu masalah, mendapatkan bahan pembicaraan dengan orang lain, mengenal

(16)

58 orang baru, dan memperluas pergaulan. Dari segi motif integrasi dan interaksi sosial, sebesar 58,30% responden menyatakan sangat setuju setelah melihat acara RAbu KETawa responden mendapatkan bahan pembicaraan baru dengan orang lain. Contohnya: ketika ada pemberitaan hangat mengenai seorang bupati yang menikah dengan anak berumur 16 tahun dan hanya bertahan selama 3 hari diangkat sebagai materi oleh comic maka penonton yang semula tidak tahu menjadi tahu akan berita ini, sehingga dapat menjadi bahan pembicaraan baru dengan orang lain. Hal-hal lucu yang disampaikan acara ini juga dapat menjadi referensi bagi penonton ketika berinteraksi dengan orang lain, karena pembicaraan yang diselipi kelucuan dianggap mengasyikkan oleh beberapa orang. Selain itu responden juga memiliki keinginan untuk memperuas pergaulan melalui acara ini, hal ini dimungkinkan karena sebesar 68,60% responden berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa dimana hasrat untuk mencari teman sebanyak-banyaknya sangat tinggi.

2.4 Motif Hiburan

Dalam indikator motif hiburan terdiri dari 5 item pernyataan. Untuk mengetahui tingkat skala perhitungan rata-rata, digunakan interval sebagai berikut :

= nilai jawaban maximum – nilai jawaban minimum Jumlah kategori

= 20 – 5 = 3,7 4

Tabel 4.13

Interval kategori jawaban motif hiburan

Tingkat Skala Interval Interpretasi

1 5 – 8,7 Sangat tidak setuju

2 8,8 – 12,5 Tidak setuju

3 12,6 – 16,3 Setuju

4 16,4 – 20,1 Sangat setuju Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

(17)

59 Tabel 4.14

Statistik Deskriptif Hasil Pengukuran Motif Hiburan

No. Frekuensi Persentase (%)

1 Sangat Setuju 48 44,40

2 Setuju 54 50,00

3 Tidak Setuju 6 5,60

4 Total 108 100.00

Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013 Deskriptif Statistik

N Minimum Maximum Rata-Rata Std. Deviation Motif Hiburan 108 11.00 19.00 15.9630 2.09104 Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Dapat dilihat bahwa variabel motif menonton pada indikator motif hiburan memiliki rata-rata 15,96 dengan standar deviasi 2,09. Menurut kriteria, rata-rata 15,96 terletak pada kategori sangat setuju. Ini menunjukkan bahwa rata-rata responden setuju dengan butir pernyataan-pernyataan yang ditulis untuk menunjukkan motif hiburan meliputi keinginan untuk melupakan sejenak kepenatan atas aktifitas sehari-hari, bersantai sendiri atau dengan orang lain, memperoleh kesenangan/ gelak tawa, mencari suasana yang lebih santai, dan untuk mengisi waktu luang. Pada tabel diatas nampak 54 (50%) responden setuju bahwa acara RAbu KETawa dapat membantu mereka untuk melepaskan kepenatan atas aktifitas seharian, ini dikarenakan acara RAbu KETawa diadakan setiap hari rabu malam pukul 19.00 sehingga waktu ini digunakan untuk beristirahat dan sekaligus menyaksikan acara ini karena sebesar 31,4% responden sudah bekerja sehingga pada malam hari dapat meluangkan waktunya untuk menyaksikan acara ini. Ini berarti acara RAbu KETawa dapat diterima dengan baik oleh khalayak. Selanjutnya 44% responden menyatakan sangat setuju bahwa acara RAbu KETawa dapat menjadi salah satu alternatif hiburan yang tak kalah menghibur dari acara-acara

(18)

60 lawak di televisi yang banyak menggunakan sentuhan fisik (slapstick) dalam guyonannya. Acara RAbu KETawa yang hampir 100% materinya dibuat menjadi seringan mungkin dapat menghadirkan suasana yang lebih santai bagi penikmatnya.

3.

Hasil Uji Pengukuran Motif Menonton

Setelah diketahui karakteristik variable mengenai motif menonton, maka selanjutnya akan dilakukan pengukuran terhadap motif menonton. Sehingga nantinya juga akan diketahui motif determinan yang mendorong khalayak untuk menyaksikan acara RAbu KETawa. Pengukuran motif menonton diolah dengan menggunakan statistik deskriptif. Analisa deskriptif untuk menggambarkan tentang crosstabulasi data antara karakteristik penonton dengan karakteristik variabel motif sehingga akan ditemukan motif-motif determinan yang mendorong khalayak menyaksikan acara RAbu KETawa.

Karakteristik penonton terdiri dari empat variabel yaitu berdasarkan jenis kelamin, penggolongan usia, tingkat pendidikan terakhir, serta status dan pekerjaan yang didalamnya masih dibagi menjado beberapa indikator. Sedangkan variabel motif menonton juga dibagi menjadi empat indikator, yaitu motif informasi, identitas, integrasi dan interkasi sosial, hiburan. Untuk menentukan tinggi rendahnya hasil pengukuran motif menonton, maka digunakan dua penggolongan kategori yaitu kategori tinggi dengan hasil pengukuran sangat setuju dan setuju serta kategori rendah dengan hasil pengukuran tidak setuju dan sangat tidak setuju terhadap hasil penghitungan.

(19)

61 3.1. Motif Menonton Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.15 Statistik Deskriptif

Hasil Pengukuran Motif Menonton Berdasarkan Jenis Kelamin M. Informasi M. Identitas Personal M. Integrasi & Interaksi Sosial M. Hiburan Laki-laki (66 responden) 59 22,34% 59 22,34% 57 21,59% 64 24,24% Perempuan (42 responden) 36 21,42% 33 19,64% 37 22,56% 38 23,17% Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa motif responden laki-laki menonton acara RAbu KETawa adalah sebesar 22,34% untuk mendapatkan informasi dan mengidentifikasi diri, serta 24,24% ingin memperoleh hiburan. Sedangkan motif responden perempuan menonton acara RAbu KETawa sebesar 22% untuk menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial serta 23% hiburan.

(20)

62 3.2. Motif Menonton Berdasarkan Kategori Usia

Tabel 4.16 Statistik Deskriptif

Hasil Pengukuran Motif Menonton Berdasarkan Kategori Usia M. Informasi M. Identitas Personal M. Integrasi & Interaksi Sosial M. Hiburan Remaja (33 responden) 32 24,24% 32 24,24% 31 23,48% 32 24,24% Muda (50 responden) 40 26,66% 37 24,66% 39 26% 46 30,66% Dewasa (25 responden) 23 30,66% 23 30,66% 24 32% 24 32% Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Dapat dilihat bahwa motif responden berusia remaja menonton acara RAbu KETawa masing-masing sebesar sebesar 24% untuk mendapatkan informasi, identifikasi diri, serta memperoleh hiburan. Pada responden berusia muda motif menonton acara RAbu KETawa sebesar 20% didorong oleh hasrat untuk mendapatkan informasi dan 23% hiburan. Sedangkan pada responden berusia dewasa motif menonton acara RAbu KETawa masing-masing sebesar 24% untuk pengawasan lingkungan dan memperoleh hiburan.

(21)

63 3.3. Motif Menonton Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir

Tabel 4.17 Statistik Deskriptif

Hasil Pengukuran Motif Menonton Berdasarkan Tingkat Pendidikan M. Informasi M. Identitas Personal M. Integrasi & Interaksi Sosial M. Hiburan SMP (29 responden) 29 25% 28 24,13% 27 23,27% 29 25% SMA (48 responden) 39 20,31% 41 21,35% 42 21,87% 43 22,39% D3 (11 responden) 11 25% 10 22,72% 11 25% 11 25% S1 (20 responden) 16 20% 13 16,25% 14 17,5% 19 23,75% Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Dari tabel diatas, berdasarkan tingkat pendidikan terakhir respoden nampak bahwa khalayak dengan pendidikan terakhir SMP atau khalayak yang saat ini berada pada bangku SMA motif menonton acara RAbu KETawa didorong oleh hasrat untuk mendapatkan informasi dan memperoleh hiburan dengan prosentase yang sama yaitu masing-masing sebesar 25%. Sedangkan khalayak yang sudah mengenyam bangku pendidikan terakhir SMA dan kemungkinan saat ini berstatus mahasiswa atau sudah bekerja memiliki motif tertinggi dalam menonton acara RAbu KETawa untuk hiburan yaitu sebesar 22%.

Pada responden dengan pendidikan terakhir D3 tidak muncul motif menonton yang cukup menonjol karena terdapat tiga motif yang besaran prosentasenya sama yaitu masing-masing sebesar 25% motif untuk mendapatkan informasi, pengawasan lingkungan dan memperoleh hiburan. Sedangkan pada responden dengan tingkat pendidikan tertinggi S1

(22)

64 kemungkinan saat ini berada pada status sudah bekerja menunjukkan bahwa motif untuk memperoleh hiburan lah yang menjadi pendorong utama mereka menonton acara RAbu KETawa.

3.4. Motif Menonton Berdasarkan Status dan Pekerjaan

Tabel 4.18 Statistik Deskriptif

Hasil Pengukuran Motif Menonton Berdasarkan Status dan Pekerjaan M. Informasi M. Identitas Personal M. Integrasi & Interaksi Sosial M. Hiburan Pelajar (29 responden) 29 25% 28 24,13% 27 23,27% 29 25% Mahasiswa (45 responden) 38 21,11% 37 20,55% 40 22,22% 40 22,22% Kary. Swasta (20 responden) 17 21,25% 14 17,50% 15 18,75% 20 25% Guru (5 responden) 5 25% 5 25% 4 20% 5 25% Wiraswasta (9 responden) 6 16,66% 8 22,22% 8 22,22% 8 22,22% Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa motif menonton acara RAbu KETawa responden yang masih berstatus sebagai pelajar yaitu untuk memperoleh tambahan informasi, hal ini sama tingginya dengan motif untuk memperoleh hiburan masing-masing sebesar 25%. Berbeda dengan responden yang statusnya mahasiswa, motif tertingginya didorong oleh hasrat untuk melakukan pengawasan lingkungan serta untuk memperoleh hiburan dengan prosentase yang sama besarnya yaitu 22%. Sedangkan motif menonton tertinggi pada responden yang sudah bekerja

(23)

65 didapati secara rata-rata adalah untuk memperoleh hiburan yaitu sebesar 30%.

Tabel 4.19

Rangkuman Uji Crosstab Motif menonton Karakteristik responden M. Informasi M. Identitas Personal M. Integrasi & Interaksi Sosial M. Hiburan Jenis Kelamin Laki-laki (66 responden) 59 22,34% 59 22,34% 57 21,59% 64 24,24% Perempuan (42 responden) 36 21,42% 33 19,64% 37 22,56% 38 23,17% Usia Remaja (33 responden) 32 24,24% 32 24,24% 31 23,48% 32 24,24% Muda (50 responden) 40 26,66% 37 24,66% 39 26% 46 30,66% Dewasa (25 responden) 23 30,66% 23 30,66% 24 32% 24 32% Tk. Pendidikan SMP (29 responden) 29 25% 28 24,13% 27 23,27% 29 25% SMA (48 responden) 39 20,31% 41 21,35% 42 21,87% 43 22,39% D3 (11 responden) 11 25% 10 22,72% 11 25% 11 25% S1 (20 responden) 16 20% 13 16,25% 14 17,5% 19 23,75% Status dan Pekerjaan Pelajar (29 responden) 29 25% 28 24,13% 27 23,27% 29 25% Mahasiswa (45 responden) 38 21,11% 37 20,55% 40 22,22% 40 22,22%

(24)

66 Kary. Swasta (20 responden) 17 21,25% 14 17,50% 15 18,75% 20 25% Guru (5 responden) 5 25% 5 25% 4 20% 5 25% Wiraswasta (9 responden) 6 16,66% 8 22,22% 8 22,22% 8 22,22% Sumber: Analisis Data Primer, Tahun 2013

(25)

67

4.

Pembahasan

Dari hasil analisis yang telah dilakukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa masing-masing kategori responden memiliki motif yang berbeda-beda dalam menyaksikan acara RAbu KETawa. Menurut Novarinda (2009:77) faktor yang berpengaruh terhadap motif menonton yaitu usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan tingkat pendidikan.

Motif menonton acara RAbu KETawa dalam penelitian ini, diukur dengan menggunakan empat indikator yang meliputi motif mendapatkan informasi, motif identitas personal, motif integrasi dan interaksi sosial, serta motif hiburan. Sedangkan untuk mempermudah pengukuran untuk melihat motif yang determinan maka khalayak yang menjadi responden dikelompokkan dalam beberapa kategori yang diperoleh secara langsung dari hasil pengukuran karakteristik responden. Kategori tersebut antara lain didasarkan pada jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, serta status dan pekerjaan.

Berdasarkan uji pengukuran motif menonton, peneliti menemukan bahwa:

1. Motif khalayak laki-laki menonton acara RAbu KETawa terutama untuk memperoleh informasi dan hiburan sedangkan motif perempuan untuk memperoleh bahan percakapan dan hiburan.

2. Motif khalayak berusia lebih tua (dewasa) menonton acara RAbu KETawa terutama untuk pengawasan lingkungan dan identitas pribadi sedangkan khalayak yang berusia lebih muda (muda dan remaja) untuk kengintahuan dan hiburan.

3. Motif khalayak berpendidikan akhir lebih tinggi (D3 & S1) menonton acara RAbu KETawa terutama untuk informasi, pengawasan lingkungan, dan hiburan sedangkan motif khalayak dengan tingkat pendidikan terakhir lebih rendah (SMP & SMA) adalah untuk hiburan. 4. Motif khalayak dengan status pelajar dan mahasiswa acara RAbu

(26)

68 motif khalayak yang sudah bekerja terutama untuk pengawasan lingkungan dan hiburan.

Besarnya motif keseluruhan khalayak untuk mendapatkan informasi dengan menonton acara RAbu KETawa adalah sebesar 24,88%, motif identitas pribadi 24,02%, sedangkan motif integrasi dan interaksi sosial sebesar 24,47% dan motif hiburan sebesar 26,63%. Hal ini menunjukkan bahwa motif determinan khalayak dalam menyaksikan acara RAbu KETawa adalah untuk memperoleh hiburan. Dengan menonton acara ini khalayak ingin melupakan sejenak kepenatan dan rasa jenuh setelah beraktifitas seharian, memperoleh kesenangan dan mencari suasana yang lebih santai. Seorang responden (Catur,29) mengaku dia sangat terhibur ketika menonton acara RAbu KETawa. Sebab lawakan yang disampaikan oleh para comic menurutnya sangat lucu. Salah satu contohnya ketika ada comic melemparkan bit/ lawakan seperti ini:

“Kenapa Indonesia saat ini teknologinya nggak maju-maju? Karena teknologi yang ada di dalam negeri nggak pernah dikembangkan. Pernah nonton film Star Trek? Kalau di film futuristik tersebut, orang bisa memindahkan barang atau bahkan dirinya sendiri dengan menggunakan Teleport. Di Indonesia, sudah ada teknologi seperti itu dari dulu! Sudah ada orang yang bisa mindahin silet ke perut orang, pecahan beling, atau paku. Santet itu sebuah teknologi yang bila diteliti sama para ilmuwan, bisa mengembangkan teknologi Indonesia. Coba kalau yang dipindahin itu televisi, buku, atau barang lain? Itu kan bisa menciptakan bisnis baru yang menguntungkan juga.”

Dengan hasil ini, berarti membuktikan bahwa motif individu menonton sebuah acara berbeda-beda. Hasil ini sejalan dengan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya tentang motif menonton. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Dennis Mc Quail dan Michael Gurevits seperti yang dikutip oleh Blumler (dalam Damayanti, 2004:109), menunjukkan bahwa:

(27)

69 1. Motif khalayak laki-laki menggunakan media massa terutama untuk pengawasan lingkungan dan keingintahuan, sedangkan motif wanita untuk hiburan.

2. Motif khalayak berusia lebih tua menggunakan media massa terutama untuk pengawasan lingkungan dan identitas pribadi, sedangkan khalayak yang berusia muda untuk hiburan

3. Motif khalayak berpendidikan tinggi menggunakan media massa terutama untuk pengawasan lingkungan dan keingintahuan, sedangkan motif khalayak berpendidikan rendah adalah untuk hiburan dan identitas pribadi.

Begitu juga hasil penelitian yang berjudul Motif Pemirsa Menonton Reality Show berjudul Be A Man di Global TV (Universitas Pembangunan Veteran Nasional) yang diperoleh kesimpulan bahwa Global TV khususnya dalam tayangan Be A Man dapat diterima pemirsa dalam memberikan informasi serta wawasan tentang waria, menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya dan dapat memberikan hiburan bagi pemirsanya.

Tentunya ada banyak faktor lain yang mempengaruhi perubahan perilaku ini terjadi, selain keempat motif diatas, berdasarkan wawancara dengan 3 orang responden yang tergolong dalam penonton dengan tingkat keseringan menonton rendah, peneliti menemukan bahwa alasan mereka menonton acara Stand Up Comedy adalah karena diajak teman dan kebetulan sedang ingin mengunjungi Frame Coffeehouse.

Analisis teori hierarchy of effect yang dikemukakan oleh George E. Belch & Michael A. Belch menjelaskan bahwa respon adalah seperangkat reaksi dari penerima pesan (khalayak) setelah melihat, mendengar, membaca sebuah pesan komunikasi. Respon yang ditunjukkan oleh khalayak setelah menyaksikan acara RAbu KETawa adalah munculnya dorongan (motif) untuk terus menyaksikan acara tersebut. Dibuktikan dengan tingginya tingkat keseringan menonton para responden. Dari 108 orang responden, sebanyak 86 orang responden memiliki tingkat

(28)

70 keseringan menonton yang tinggi. Teori ini juga menjelaskan bahwa ada tiga aspek tahapan didalamnya. Antara lain aspek kognitif, afektif, dan konatif. Melalui ketiga tahapan inilah muncul kesadaran, pemahaman, dan tindakan yang secara nyata ditunjukkan oleh khalayak. Selain itu munculnya motif-motif dalam diri khalayak juga didorong oleh keinginan dalam rangka pemenuhan kebutuhan, seperti yang diungkapkan oleh Katz, Gurevitch, dan Haas. Hasil dari penelitian ini muncul motif untuk memenuhi kebutuhan informasi sebesar 24,88%, identitas pribadi 24,02%, sedangkan integrasi dan interaksi sosial sebesar 24,47% dan hiburan sebesar 26,63%.

Gambar

Tabel 4.15  Statistik Deskriptif
Tabel 4.16  Statistik Deskriptif
Tabel 4.17  Statistik Deskriptif
Tabel 4.18  Statistik Deskriptif

Referensi

Dokumen terkait

4.3.2.3 Hubungan Iklan dengan Perilaku Merokok Hasil analisis data menunjukkan 158 responden (44,3%) menyatakan iklan dalam kategori kuat akan tetapi responden tidak

Dari hasil penghitungan data pada penelitian ini maka faktor yang mempengaruhi tingkat ekonomi orang tua terhadap motivasi belajar siswa di MTs Nuril Huda Tarub Grobogan

Adapun pertanyaan yang termuat dalam kuesioner terdiri dari dua bagian, yaitu pertanyaan mengenai identitas responden dan pertanyaan mengenai keempat variabel

Untuk motif identitas diri, sebanyak 81% responden menyatakan puas karean LINUS mampu memenuhi kebutuhan untuk membentuk kepribadian yang peka terhadap lingkungan,

Berdasarkan hasil data dari diagram tersebut, sebanyak 27 orang responden menjawab tidak setuju dan 16 orang responden menjawab sangat tidak setuju bahwa mereka mencari informasi

Kedua, faktor lingkungan seperti latar belakang siswa, pengalaman keluarga, dan situasi keuangan keluarga siswa juga mempengaruhi kemajuan membaca siswa. Orang tua

Berdasarkan jawaban responden dalam tabel tersebut di atas terdapat 2 orang (4 %) menjawab Tidak Setuju, 20 orang (40 %) menjawab Ragu-ragu, 22 orang (44 %)

Perubahan yang terjadi pada media tanpa Cu 2+ (kontrol) setelah disubkultur pada minggu pertama warna kalus hijau bening, hingga minggu keempat subkultur warna