• Tidak ada hasil yang ditemukan

M01602

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan " M01602"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL RAJA AMPAT

RAJA AMPAT AND FUTURE OF HUMANITY

(AS A WORLD HERITAGE)

Dilaksanakan Tanggal 12

13 Agustus 2014

di Gedung Pari, Waisai

Kabupaten Raja Ampat

Papua Barat

Bekerjasama dengan Program Beasiswa Unggulan

Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN),

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

Republik Indonesia

&

Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat

Program Studi Magister Biologi

Universitas Kristen Satya Wacana

(2)

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL RAJA AMPAT

RAJA AMPAT AND FUTURE OF HUMANITY

(AS A WORLD HERITAGE)

TIM EDITOR

Jubhar Christian Mangimbulude

Martanto Martosupono

Dhanang Puspita

Kristiawan Prasetyo Agung Nugroho

DESAIN SAMPUL

Dhanang Puspita

PENATA LETAK

Kristiawan Prasetyo Agung Nugroho

ISBN No. 978-979-1098-52-21

Dilarang keras menjiplak, mengutip, bahkan mencetak ulang sebagian

atau seluruh isi buku ini serta memperjual belikan tanpa ijin tertulis.

© HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG

PENERBIT

Program Studi Magister Biologi

Universitas Kristen Satya Wacana

(3)

SUSUNAN PANITIA

SEMINAR NASIONAL RAJA AMPAT

Pelindung Penanggung Jawab : : 1. 2. 1. 2.

Prof. Pdt. John A. Titaley, Th.D. (Rektor UKSW)

Drs. Marcus Wanma, M.Si. (Bupati Kabupaten Raja Ampat) Jubhar C. Mangimbulude, Ph.D. (Kaprodi MB UKSW)

Martha M. Sanadi, S.Pd. (Kepala Dinas Pendidikan Raja Ampat)

Ketua Panitia : Dr. Ir. Martanto Martosupono2

Sekretaris : 1.

2.

Kristiawan Prasetyo Agung Nugroho, M.Si.2 (Pemerintah Daerah Raja Ampat)

Bendahara Sie. Humas Sie. Kesekretariatan : : : 1. 2. 1. 2. 3. 1. 2. 3.

Anastasia Natalia Kurniasari, S.Si.2 Siti Masitoh Bugis, S.E.1

Yulindra Margaretha Numberi, M.Si.2 Thomas Omkarsba, S.Pd.1

Rachel Fitria Lay, S.Si.4 Tamrin Rumai, S.Pd.3 Christina Manuputty, S.Si.4 Federika Kondororik, S.Si.4 Sie. Dekorasi : Mahasiswa MB Raja Ampat Sie. Acara Sie. Akomodasi Sie. Transportasi Sie. Publikasi Sie. Dokumentasi Sie. Perlengkapan : : : : : : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 1. 2. 3. 1. 2. 3. 1. 2. 1. 2. 1. 2.

Kristiawan Prasetyo Agung Nugroho, M.Si.2 Dhanang Puspita, M.Si.2

Abdul Manaf Wihel, S.Pd.3 Frans Herman, M.Dev.1

Martina Bonsapia, S.Pd.3(khusus field trip optional) Peter Komboy, S.Si.3 (khusus field trip optional) Drs. Iskandar Usman3

Mariani Sirinding, S.Pd.3

(Pemerintah Daerah Raja Ampat) Rein Mayor1

Rahman Rumlus, S.Pd.3 Bustam Umsapyat, S.Pd.3 Dhanang Puspita, M.Si.2 Ismiati Masithoh, S.Pd.3 Dhanang Puspita, M.Si.2 Kuwati, S.Pd.3

Tamrin Rumai, S.Pd.3

(Pemerintah Daerah Raja Ampat) Sie. Konsumsi : Mahasiswa MB Raja Ampat

Keterangan:

1Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2Magister Biologi UKSW

(4)

KATA PENGANTAR

Salam sejahtera,

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas berkat dan karuniaNya, kami panitia Seminar Nasional Raja Ampat dari Program Studi Magister Biologi dan Tim Editor dapat menyelesaikan penyusunan buku

Prosiding Seminar Nasional Raja Ampat dengan tema, Raja Ampat and Future of

Humanity (As a World Heritage) .

Penyusunan Prosiding Seminar Nasional ini membutuhkan waktu yang relatif cepat karena sebagian besar para narasumber telah jauh-jauh hari melakukan penelitian dan menulis hasil penelitian. Kami selaku Tim Editor berupaya keras dalam proses editing supaya dapat tersaji di hadapan pembaca dengan baik dan sesuai dengan kaidah ilmiah. Panitia seminar telah menghimpun 44 makalah dari para akademisi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Materi disajikan oleh para peserta dalam bentuk presentasi oral dan presentasi poster di Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat.

Tidak lupa kami memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya bagi para penulis atas hasil karya ilmiahnya, Tim Editor, dan segenap panitia atas kerja sama yang diberikan demi terlaksananya penyusunan Prosiding ini. Kami mohon kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan Prosiding ini. Semoga kumpulan publikasi hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi para pembacanya.

Kiranya Tuhan memberkati.

Salatiga, 12 Agustus 2014

(5)

PENGANTAR

KETUA PROGRAM STUDI MAGISTER BIOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

Salam sejahtera,

Puji dan syukur tak terhingga kepada Tuhan karena atas RahmatNya Program Studi Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana, bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat dapat menyenggarakan Seminar Nasional yang

mengangkat tema, Raja Ampat and Future of Humanity (As a World Heritage)

pada tanggal 12 – 13 Agustus 2014 di Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat.

Kami merasa bangga karena selain untuk diseminasi informasi ilmiah, seminar ini juga merupakan tempat untuk mempertanggung jawabkan capaian kinerja ilmiah khususnya bagi mahasiswa Program Studi Magister Biologi asal Kabupaten Raja Ampat melalui hasil penelitian dan review artikel ilmiah yang berhubungan dengan biota di Kabupaten Raja Ampat. Kami sadari bahwa sebagian penelitian yang ditampilkan dalam seminar ini belum semuanya menjawab persoalan-persoalan ilmiah dalam bidang biologi yang terjadi di Raja Ampat. Namun demikian, penelitian penelitian ini telah mengungkap beberapa persoalan ilmiah menarik yang dapat ditindaklanjuti pada penelitian-penelitian lanjutan.

Sebagai Progam Studi, kami juga berharap agar beberapa hal menarik yang telah ditemukan dapat ditindak lanjuti melalui program penelitian yang melibatkan institusi lain dalam salam suatu hubungan kerjasama. Harapan kami juga agar para peneliti dari Raja Ampat yang telah berkontribusi dalam penulisan paper pada seminar ini, masih tetap memiliki semangat yang tinggi untuk melakukan pekerjaan ilmiah lewat penelitian di tempat kerja.

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus untuk panitia penyelenggara seminar dan semua pihak yang telah mengambil bagian di dalamnya. Kiranya kumpulan artikel ini dapat menambah wawasan pengetahuan para pembaca.

Raja Ampat, 12 Agustus 2014

Hormat Saya,

(6)

PENGANTAR

KOORDINATOR BEASISWA UNGGULAN

BIRO PERENCANAAN & KERJASAMA LUAR NEGERI (BPKLN)

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN (KEMDIKBUD)

REPUBLIK INDONESIA

Salam sejahtera bagi kita sekalian,

Seminar Nasional tentang Raja Ampat and Future of Humanity (As a World Heritage) diadakan atas kerjasama antara Program Studi Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat, Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat, Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional (KEMDIKBUD) Republik Indonesia. Kami sangat menyambut baik kegiatan seminar ini karena dapat dijadikan sarana bagi para peneliti dari Indonesia Timur, khususnya para guru dan peneliti dari kabupaten Raja Ampat untuk mempublikasikan hasil penelitian mereka agar dapat diketahui oleh masyarakat ilmiah maupun umum. Publikasi ilmiah ini juga merupakan sarana bagi para peneliti dan mahasiswa untuk berbagi informasi ilmiah seputar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang biologi.

Kegiatan seminar yang telah dilaksanakan oleh Program Studi Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) secara berkala dan diikuti dengan publikasi yang memuat hasil penelitian para mahasiswa kiranya dapat memajukan penelitian di bidang biologi. Khususnya seminar kali ini akan memaparkan hasil penelitian tentang flora dan fauna khas Raja Ampat. Penelitian tentang flora dan fauna Raja Ampat dirasa masih sangat terbatas, sehingga diharapkan dari hasil seminar ini dapat menambah pengetahuan kita tentang kekayaan laut dan darat dari Raja Ampat. Hasil penelitian semoga dapat segera diterapkan kepada masyarakat sehingga mereka dapat memperoleh manfaat secara langsung.

Semoga buku prosiding ini dapat memberikan manfaat bagi segenap akademisi, peneliti, maupun masyarakat secara luas.

Terimakasih.

Raja Ampat, 12 Agustus 2014

Hormat saya,

(7)

PENGANTAR

KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN RAJA AMPAT

Salam sejahtera,

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat

dan karuniaNya, Seminar Nasional bertajuk Raja Ampat and Future of Humanity (As a World Heritage) dapat terlaksana pada saat ini di Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat.

Seminar ini kami rasa sangat penting bagi Raja Ampat karena sebagian topiknya adalah merupakan hasil penelitian tentang kekayaan flora dan fauna yang khas dari Raja Ampat, dan lebih dari itu, yang menyajikan hasil penelitian dalam seminar ini sebagian besar adalah tenaga pengajar/guru Kabupaten Raja Ampat yang menempuh pendidikan Magister Biologi di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.

Kami berterima kasih kepada Bapak Bupati Kabupaten Raja Ampat yang telah memungkinkan kami mengirimkan 22 tenaga pengajar dari SMP dan SMA Raja Ampat untuk melanjutkan pendidikan di Program Studi Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.

Ucapan terimakasih kami sampaikan pula kepada Program Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMDIKBUD) Republik Indonesia, yang telah

memberikan beasiswa kepada para mahasiswa Program Studi Magister Biologi –

UKSW dari Raja Ampat tersebut.

Kepada Bapak Rektor UKSW, Direktur Program Pasca Sarjana, dan Program Studi Magister Biologi, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya karena telah memungkinkan para guru kami dari Kabupaten Raja Ampat mendapat kesempatan menimba ilmu di UKSW. Para guru kami diharapkan sekembalinya dari UKSW Salatiga dapat meningkatkan pembelajaran tentang biologi bagi para anak didik dan meningkatkan minat penelitian di Raja Ampat. Semoga kerjasama ini dapat terus berlanjut di masa yang akan datang.

Kiranya Tuhan memberkati.

Raja Ampat, 12 Agustus 2014

Hormat kami,

(8)

PENGANTAR

KETUA PANITIA SEMINAR NASIONAL RAJA AMPAT

Salam sejahtera,

Seminar merupakan salah satu kegiatan ilmiah rutin dan merupakan bagian dari proses penilaian studi para mahasiswa Program Studi Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang diselenggarakan setiap tahun. Seminar merupakan bagian dari tradisi ilmiah di Program Studi Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).

Tujuan seminar adalah adalah untuk mengungkap potensi sumber daya alam melalui publikasi hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan guna terkait ekosistem serta spesies flora dan fauna endemik, dilihat dari segi bioteknologi, konservasi, ekologi, sosiologi, dan pariwisata di Raja Ampat.

Seminar dapat dilaksanakan berkat kerjasama yang sangat baik antara Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat, Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat, Program Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, serta Program Studi Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana.

Dalam sidang pleno, hadir sebagai pembicara utama adalah para pakar di dalam bidangnya, di antaranya Dr. Jubhar C. Mangimbulude, M.Sc. (Kaprodi Program Studi Magister Biologi UKSW), Dr. rer.nat. A. B. Susanto, M.Sc. (Koordinator Beasiswa Unggulan BPKLN KEMDIKBUD & Fakultas Perikanan dan

Kelautan, UNDIP – Semarang), Ir. Ferry F. Karwur, M.Sc., Ph.D. (Dekan FIK UKSW),

Bapak Kliff Marlessy (Project Director of the Local Marine Management Area), TNC,

WWF, IC, dan Drs. Soenarto Notosoedarmo (Pakar Biologi dan Lingkungan Hidup –

Magister Biologi UKSW).

Seminar dilaksanakan selama dua hari, pada hari pertama merupakan sidang pleno, sedangkan pada hari ke dua diisi dengan sidang paralel dengan pemakalah dari mahasiswa Program Studi Magister Biologi yang berasal dari Raja Ampat dan pemakalah lainnya. Selain itu ada beberapa poster yang dipamerkan dalam seminar, yang merupakan hasil penelitian dari para mahasiswa Program Studi Magister Biologi UKSW yang berasal dari Raja Ampat. Semua hasil penelitian tersebut tersusun dalam bentuk Prosiding sebagai bentuk dokumentasi ilmiah.

Sejalan dengan Seminar International on Marine Biodiversity of Raja Ampat pada tanggal 16 – 17 Juni 2014, harapan dari Staf Ahli Mentri Koordinator Kesejahteraan Rakyat bidang Mitigasi Bencana dan Perubahan Iklim akan adanya kelompok kerja yang menggagas seminar ikutan, maka pada saat ini Program Studi Magister Biologi UKSW telah siap dengan gagasan tersebut yaitu melaksanakan

(9)

Program Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri

(BPKLN) – Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMDIKBUD) Republik

Indonesia, staf dan para peneliti dari NGO (TNC, WWF, dan CI), serta seluruh anggota panitia baik yang dari Raja Ampat maupun yang dari Salatiga.

Raja Ampat, 12 Agustus 2014

Hormat Saya,

(10)

DAFTAR ISI

Susunan Panitia ………...……..……….…………... i

Kata Pengantar .……….…………..……...……… ii

Pengantar Ketua Program Studi Magister Biologi Universitas Kristen Satya

Wacana ……….. iii

Pengantar Koordinator Beasiswa Unggulan – Biro Perencanaan & Kerjasama Luar

Negeri (BPKLN), Kementrian Pendidikan & Kebudayaan (KEMDIKBUD) RI ……….. iv Pengantar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Raja Ampat ……….…….…... v

Pengantar Ketua Panitia Seminar Nasional Raja Ampat ………. vi

Daftar Isi ………... viii

A – KAJIAN LINGKUNGAN, KONSERVASI, DAN BIOTA LAUT

1. Eksistensi Sasi dalam Pelaksanaan Konservasi di Kabupaten Raja Ampat

Kuwati, Martanto Martosupono, dan Jubhar C. Mangimbulude……….. A - 1 2. Konservasi Berbasis Kearifan Lokal (Studi Kasus: Sasi di Kabupaten

Raja Ampat)

Kuwati, Martanto Martosupono, dan Jubhar C. Mangimbulude………... A - 9 3. Peran Sasi dalam Melindungi Sumberdaya Teripang di Kampung

Folley, Kabupaten Raja Ampat

Kuwati, Martanto Martosupono, dan Jubhar C. Mangimbulude………... A - 19 4. Keanekaragaman Spesies Ikan di Perairan Pulau Jefman, Distrik

Salawati Utara, Kabupaten Raja Ampat

Larsuida Saragih, Jacob L. A. Uktolseja, dan Budhi Prasetyo………. A - 26 5. Kelimpahan dan Keanekaragaman Bulu Babi di Pulau Saonek,

Kabupaten Raja Ampat

Tamrin Rumai, Soenarto Notosoedarmo, dan Jubhar C. Mangimbulude……….. A - 35 6. Manajemen Pengelolaan Sampah di Pasar Waisai, Kabupaten Raja

Ampat

Peter A. M. Komboy, Karina B. Lewerissa, dan Jubhar C. Mangimbulude……… A - 42 7. Penanganan Sampah Kota Secara Terpadu

Peter A. M. Komboy, Karina B. Lewerissa, dan Jubhar C. Mangimbulude……… A - 55 8. Peranan Lamun di Ekosistem Laut

Rostini, Jubhar C. Mangimbulude, Soenarto Notosoedarmo, dan Suryasatria

Trihandaru……….. A - 63 9. Populasi dan Keanekaragaman Gastropoda pada Zona Intertidal

Surmaningsih Kibas, Jubhar C. Mangimbulude, dan Ocky Karnaradjasa……… A - 68 10. Terumbu Karang dan Peran Bulu Babi

Tamrin Rumai, Soenarto Notosoedarmo, dan Jubhar C. Mangimbulude…….….. A - 73 11. Studi Tentang Struktur Komunitas Ikan pada Terumbu Karang

Larsuida Saragih, Jacob L. A. Uktolseja, dan Budhi Prasetyo………. A - 82 12. Kelimpahan dan Struktur Panjang Berat Ikan Baronang Siganus

canaliculatus di Perairan Pulau Jefman, Distrik Salawati Utara,

Kabupaten Raja Ampat

Larsuida Saragih, Jacob L. A. Uktolseja, dan Budhi Prasetyo………. A - 89 13. Keanekaragaman Jenis Teripang di Kampung Fafanlap dan Gamta,

Distrik Misool, Kabupaten Raja Ampat

Rahman Rumlus, Ocky Karnaradjasa, Jubhar C. Mangimbulude, Haryono

Semangun………. A - 97 14. Komposisi Flora Mangrove di Pantai Sungai Gamta, Distrik Misool

Barat, Kabupaten Raja Ampat

(11)

15. Interaksi antara Tumbuhan Epifit dengan Inangnya di Hutan Mangrove

Nuryani, Soenarto Notosoedarmo, dan Jubhar C. Mangimbulude………... A - 119 16. Manfaat Serasah Daun Rhizophora mucronata di Hutan Mangrove

Nuryani, Soenarto Notosoedarmo, dan Jubhar C. Mangimbulude………... A - 126 17. Komposisi Vegetasi Mangrove di Pesisir Pantai Kota Waisai,

Kabupaten Raja Ampat

Nuryani, Soenarto Notosoedarmo, dan Jubhar C. Mangimbulude………... A - 133 18. Distribusi dan Kelimpahan Gastropoda di Ekosistem Mangrove

Mahasa Tuheteru, Soenarto Notosoedarmo, dan Martanto Martosupono……. A - 146 19. Distribusi Gastropoda di Ekosistem Mangrove

Mahasa Tuheteru, Soenarto Notosoedarmo, dan Martanto Martosupono……. A - 151 20. Aspek Biologi Geloina erosa di Hutan Mangrove

Mahasa Tuheteru, Soenarto Notosoedarmo, dan Martanto Martosupono……. A - 159 21. Keanekaragaman Jenis, Struktur Morfologi dan Struktur Populasi

Lobster (Panulirus spp.) di Perairan Misool, Kabupaten Raja Ampat Ismiati Masithoh, Jacob L. A. Uktolseja, Jubhar C. Mangimbulude, dan

Suryasatria Trihandaru……….. A - 167 22. Aspek Bioekologi Lobster (Panulirus spp.) sebagai Komoditas

Ekonomi Penting

Ismiati Masithoh, Jacob L. A. Uktolseja, Jubhar C. Mangimbulude, dan

Suryasatria Trihandaru……….. A - 178 23. Studi Indentifikasi Rumput Laut di Pulau Fafanlap, Kabupaten Raja

Ampat

Atin Tri Hariani, A. B. Susanto, dan Ferry F. Karwur ………... A - 189 24. Keanekaragaman Jenis Rumput Laut di Indonesia

Atin Tri Hariani, A. B. Susanto, dan Ferry F. Karwur………... A - 207

B – KAJIAN MANFAAT, GIZI, DAN NUTRISI

1. Pengobatan Penyakit Malaria dengan Menggunakan Beberapa Jenis Tumbuhan Nabati di Kabupaten Raja Ampat

Ema Sarimole, Martanto Martosupono, Haryono Semangun, dan Jubhar C.

Mangimbulude……… B – 1 2. Manfaat Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) sebagai Obat Tradisional

Ema Sarimole, Martanto Martosupono, Haryono Semangun, dan Jubhar C.

Mangimbulude……… B – 9 3. Pemanfaatan Tumbuhan Hutan sebagai Obat Tradisional Masyarakat

Kampung Yenbekwan, Distrik Mansuar, Kabupaten Raja Ampat Ema Sarimole, Martanto Martosupono, Haryono Semangun, dan Jubhar C.

Mangimbulude……… B – 14 4. Peranan Hutan Mangrove dalam Melindungi Ekosistem Pantai

Abdul Manaf Wihel, Soenarto Notosoedarmo, dan Martanto Martosupono….. B – 25 5. Peranan Ekosistem Mangrove dalam Mengurangi Dampak Pemanasan

Global (Global Warming)

Abdul Manaf Wihel, Soenarto Notosoedarmo, dan Martanto Martosupono…… B – 32 6. Kandungan Gizi Gonad Bulu Babi

Tamrin Rumai, Soenarto Notosoedarmo, dan Jubhar C. Mangimbulude………… B – 39 7. Potensi Teripang untuk Pengobatan

Rahman Rumlus, Ocky Karnaradjasa, Jubhar C. Mangimbulude, Haryono

Semangun………. B - 45 8. Studi Populasi Makroinvertebrata Bentik yang Bernilai Ekonomis di

Hutan Mangrove Muara Sungai Gamta, Distrik Misool Barat, Kabupaten Raja Ampat

(12)

C – KAJIAN (BIO) TEKNOLOGI & BUDIDAYA

1. Pengaruh Ukuran Bibit Awal Terhadap Budidaya Rumput Laut

(Kappaphycus alvarezzi) Di Kampung Arar, Distrik Mayamuk,

Kabupaten Sorong.

Alis Suprihatin, AB Susanto, Jubhar C. Mangimbulude, dan Haryono

Semangun………...… C - 1 2. Faktor-Faktor Teknik yang Mempengaruhi Keberhasilan Budidaya

Rumput Laut Kappaphycus alvarezii

Alis Suprihatin, AB Susanto, Jubhar C. Mangimbulude, dan Haryono

Semangun………...… C - 7 3. Kesesuaian Perairan Pantai di Kampung Lilinta, Distrik Misool Barat,

Kabupaten Raja Ampat untuk Budidaya Rumput Laut Kappaphycus

alvarezii dengan Metode Rawai

Alis Suprihatin, AB Susanto, Jubhar C. Mangimbulude, dan Haryono

Semangun………... C - 16 4. Peluang Budidaya Bulu Babi (Tripneustes gratilla) di Perairan Raja

Ampat

Rostini, Jubhar C. Mangimbulude, Soenarto Notosoedarmo, dan Suryasatria

Trihandaru………... C - 24 5. Uji Aktivitas Senyawa Antibakteri dan Uji Farmakologi Pada Conus sp.

di Pesisir Pantai Waisai, Kabupaten Raja Ampat

Surmaningsih Kibas, Jubhar C. Mangimbulude, dan Ocky Karnaradjasa………. C - 30 6. Potensi Senyawa Antibakteri pada Conus sp.

Surmaningsih Kibas, Jubhar C. Mangimbulude, dan Ocky Karnaradjasa………. C - 38 7. Uji Aktivitas Antibakteri dan Analisis Senyawa Kimia pada Teripang

Pasir Terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

Rahman Rumlus, Ocky Karnaradjasa, Jubhar C. Mangimbulude, Haryono

Semangun………. C - 44 8. Pengaruh Penurunan Suhu Bertahap Terhadap Aktivitas dan Sintasan

Lobster Bambu (Panulirus versicolor) Selama Penyimpanan Sistem Kering

Ismiati Masithoh, Jacob L. A. Uktolseja, Jubhar C. Mangimbulude, dan

Suryasatria Trihandaru………... C - 52 9. Senyawa Bioaktif pada Rumput Laut Merah (Rhodophyta)

Atin Tri Hariani, A. B. Susanto, dan Ferry F. Karwur ……… C - 61

D – KAJIAN UMUM

1. Pengurangan Amonium Air Lindi Melalui Proses Nitrifikasi dan Anammox di TPA Ngronggo, Salatiga

Peter A. M. Komboy, Pieter M. I. Torobi, Christina N. Manuputty, dan Jubhar C.

Mangimbulude………... D - 1 2. Pengurangan Amonium dan COD dari Lindi TPA Secara Simultan

Menggunakan Kombinasi Kultur Alga-Bakteri

Pieter M. I. Torobi, Christina N. Manuputty, Karina B. Lewerissa, Jubhar C.

Mangimbulude ………... D - 8 3. Bahaya Lindi bagi Lingkungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang

Tidak Memiliki IPL (Instalasi Pengolahan Lindi)

Pieter M. I. Torobi, Christina N. Manuputty, Karina B. Lewerissa, Jubhar C.

(13)

KEANEKARAGAMAN JENIS, STRUKTUR MORFOLOGI DAN

STRUKTUR POPULASI LOBSTER (

Panulirus

spp. ) DI PERAIRAN

MISOOL, RAJA AMPAT

Ismiati Masithoh1, Jacob L. A. Uktolseja2*, Jubhar C. Mangimbulude1, Suryasatria

Trihandaru3

1Program Studi Magister Biologi ,Universitas Kristen Satya Wacana 2Fakultas Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana 3Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana

Jl. Diponegoro No. 52 – 60, Salatiga 50711 Telp.: +62 (0)298-321212, Fax.: +62 (0)298-321443

*E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Lobster merupakan salah satu komoditas unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Tingginya intensitas penangkapan yang tidak terkendali membawa dampak terhadap keanekaragaman spesies lobster. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman, struktur morfologi, dan struktur populasi lobster (Panulirus SPP.) di Perairan Misool Kabupaten Raja Ampat. Data diambil dari lobster hasil tangkapan nelayan setempat secara acak dari ukuran maupun jenis spesies. Secara visual lobster mempunyai corak warna yang berbeda-beda setiap spesiesnya. Selama pengambilan data total individu lobster yang tertangkap 1.440 individu, terdiri dari lima jenis spesies, yaitu: lobster mutiara (P. ornatus), lobster bambu (P. versicolor), lobster batik (P.longipes), lobster pasir (P.humarus) dan lobster setan/batu (P. penicillatus). Komposisi jenis lobster yang tertinggi adalah P. versicolor (46,18%) dan terendah P. longipes (7,36%).Keanekaragaman jenis lobster dalam kategori sedang (1,6781–2,0147), nilai keseragaman merata dan seimbang sehingga tiap jenis relatif sama (0,7513–0,8677) dan dominansi dalam kategori rendah (0,2795–3560).

Kata kunci: lobster, keanekaragaman, struktur morfologi, struktur populasi

PENDAHULUAN

Misool merupakan salah satu wilayah Raja Ampat yang memiliki kekayaan alam yang melimpah, baik dari terumbu karang, kerang, ikan dan udang. Salah satu jenis udang yang paling banyak digemari masyarakat adalah lobster.

Dilihat dari sisi eksploitasi, perairan Maluku dan Papua terutama disekitar laut Arafura tahun 2006 menduduki peringkat pertama. Dari perairan ini dapat ditangkap sekitar 12.300 ton udang laut per tahun atau 68% dari total hasil tangkapan udang laut Indonesia (Kanna, 2006).

Menurut Kanna (2006), pangsa pasar lobster tidak hanya terbatas di dalam negeri, namun juga di luar negeri. Permintaan lobster akan selalu meningkat tajam setiap tahunnya. Pada tahun 1990, ekspor lobster ke Belanda, yang merupakan salah satu negara penggemar lobster di Eropa Barat, mencapai 745.132 ton atau 89,59% dari total ekspor lobster Indonesia (826 ton).

(14)

mengadakan penangkapan secara intensif, sehingga perlu diadakan upaya untuk pelestarian spesies lobster.

Berdasarkan keterangan dari pengumpul lobster, pada umumnya masyarakat Raja Ampat dan khususnya nelayan di wilayah Misool kurang memahami keanekaragaman jenis lobster, sehingga ketika nelayan menjual lobster kepada pengumpul, mereka hanya mengelompokkan jenis lobster berdasarkan kemiripan fisik saja. Oleh karena itu perlu diadakan penelitian untuk mengetahui keanekaragaman jenis, struktur morfologi dan struktur populasi lobster di wilayah Perairan Misool, Raja Ampat, Papua Barat, kaitannya untuk usaha perikanan tangkap yang bertanggung jawab.

TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis, struktur morfologi dan struktur populasi lobster di Perairan Misool Raja Ampat.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan di Perairan Misool Kabupaten Raja Ampat. Stasiun penelitian dibagi menjadi empat lokasi yaitu Pulau Misool Utara, Misool Selatan, Misool Barat dan Misool Timur. Penelitian dilakukan selama tiga bulan yaitu bulan Mei–Juli 2013. Bahan yang digunakan adalah lobster laut hasil tangkapan nelayan yang dijual kepada pengumpul.

Penangkapan lobster oleh nelayan dilakukan secara langsung dengan menggunakan kaos tangan dan tanpa menggunakan alat tangkap. Pengambilan sampel 30 ekor secara acak dari ukuran maupun jenis spesies pada setiap stasiun dan dilakukan satu minggu satu kali setiap stasiun penelitian.

(15)

Gambar 1. morfologi dan bagian tubuh lobster yang di ukur dalam penelitian

ANALISIS DATA

Untuk memperoleh gambaran mengenai struktur populasi lobster di misool, data hasil inventarisasi lobster diolah dengan rumus komposisi jenis menurut Odum (1997), indeks keragaman diversitas Shannon−Winner, indeks keseragaman ekuitabilitas), dan indeks dominansi simpson. Rumus ketiga indeks tersebut menurut Krebs (1978) adalah:

P = ��

� x 100% Keterangan:

P : Komposisi jenis (%) ni : Jumlah individu tiap jenis N : Jumlah individu seluruh jenis

s

H’ = - ∑ pi log pi i=1

Keterangan:

H’ : )ndeks keragaman Shannon−Winner S : Jumlah spesies

Pi : Proporsi nilai penting dari total contoh spesies ke−i

Kriteria nilai H’ adalah : H’ > keragaman tinggi, ≤ (’ ≤ keragaman sedang, (’ < 1 keragaman rendah.

H’ E = Hmax Keterangan:

E : Indeks keseragaman

H’ : Indeks keseragaman Shannon−Wiener

Hmax : Indeks keragaman Shannon−Wienermaksimum yang diperoleh dengan menggunakan

rumus:

Hmax = log 2 s

S : Jumlah spesies

Kriteria nilai E adalah : E semakin mendekati 1, Penyebaran individu diantara spesies lobster semakin merata : E semakin mendekati 0, penyebaran individu diantara spesies lobster semakin tidak merata.

s

C = ∑ pi2

i=1

Keterangan:

C : Indeks dominanasi simpson s : Jumlah spesies

pi : Proporsi nilai penting dari total contoh spesies ke-i

(16)

HASIL & PEMBAHASAN

HASIL

Deskripsi Spesies Lobster

Hasil identifikasi spesies secara visual dengan melihat corak warna yang terdapat pada bagian segmen tubuh berdasarkan buku identifikasi Chan (2000), menunjukkan bahwa setiap spesies mempunyai corak warna yang berbeda. Adapun deskripsi corak warna dari masing-masing spesies adalah sebagai berikut:

Lobster Mutiara (Panulirus ornatus)

[image:16.482.174.343.252.381.2]

Tubuh berwarna kehijauan dan agak kebiruan dibagian karapas. Setiap ruas abdomen ditutupi garis tebal berwarna gelap berwarna gelap yang terletak dibagian tengah dan terdapat bercak kekuningan berukuran agak besar. Flagellum antenulla dan kaki jalan berwarna kuning muda dan hitam (Gambar 2) (Chan, 2000).

Gambar 2. P. ornatus

Lobster Bambu (Panulirus versicolor)

[image:16.482.51.433.488.672.2]

Pada lobster dewasa berwarna hijau terang. Sementara, lobster yang masih muda didominasi oleh warna dasar hijau kebiru-biruan . Abdomen berwarna kehijauan dan memiliki garis putih yang diapit garis biru disetiap segmen. Bagian kepala berwarna hijau kombinasi hitam dengan bercak-bercak putih tersebar pada cangkang kepala (karapas). Permukaan pangkal antena berwarna merah muda sedangkan antenulla berwarna putih. Kaki jalan berwarna hijau dan bergaris putih (Gambar 3) (Chan, 2000).

(17)

Lobster Batik (Panulirus longipes)

[image:17.482.166.337.162.292.2]

Lobster ini mempunyai mempunyai warna dasar coklat dengan sedikit bercak-bercak putih dibagian punggung. Pada setiap ujung ruas badan terdapat guratan seperti pita, berwarna putih dan coklat gelap. Di bagian muka terdapat lempeng antenula dengan dua buah duri besar. Bagian belakang sternum dada berbentuk lempengan, bertepi lurus (Gambar 4) (Chan, 2000).

Gambar 4. P. longipes

Lobster Pasir (Panulirus humarus)

Bagian tubuh Panulirus humarus terutama bagian punggung, didominasi oleh warna kehijau-hijauan atau cokelat dan terdapat bintik-bintik putih tersebar di daerah abdomen. Pada bagian badan terdapat garis kuning melintang pada tiap bagian sisi belakang segmen abdomen. Selain itu, terdapat bercak-bercak putih pada bagian kakinya (Gambar 5) (Chan, 2000).

Gambar 5. P. humarus

Lobster Setan atau Batu (Panulirus penicillatus)

[image:17.482.166.330.397.530.2]
(18)
[image:18.482.63.432.37.199.2]

Gambar 6. P. penicillatus

Struktur Komunitas Lobster Komposisi Lobster

Berdasarkan spesies lobster yang tertangkap selama penelitian di Perairan Misool dengan jumlah sampel sebanyak 1.440 ekor, komposisi jenisnya terdiri dari lima spesies, yaitu: lobster mutiara (P. ornatus) (11,80%), lobster bambu (P. versicolor) (46,18%), lobster batik (P. longipes) (7,336%), lobster pasir (P. humarus) (7,64%), lobster setan atau batu (P.

[image:18.482.70.433.388.493.2]

penicillatus) (27,02%). Sebaran komposisi spesies dan jumlah lobster dapat dilihat dalam

Tabel 1.

Kelima spesies lobster ditemukan pada stasiun Misool Utara, sementara spesies pasir ditemukan dalam jumlah sedikit di stasiun Misool Selatan dan Misool Timur dan sama sekali tidak ditemukan di Misool Barat (Tabel 1).

Tabel 1. Jumlah individu setiap spesies lobster pada setiap stasiun penelitian

Jenis Misool Utara

Misool Selatan

Misool Barat

Misool Timur

Total per

spesies %

Mutiara 49 41 39 41 170 11,8

Bambu 142 183 167 173 665 46,2

Batik 13 34 28 31 106 7,36

Pasir 104 3 - 3 110 7,64

Setan 52 99 126 112 389 27

Total 360 360 360 360 1440 100

Indeks keanekaragaman (H)

(19)

Tabel 2. Nilai Indeks keanekaragaman (H’), indeks keseragaman (E), dan indeks dominansi (C) lobster di Perairan Misool Kabupaten Raja Ampat

Bulan Stasiun Nilai Indeks

H E C

Mei – Juli Misool Utara 2,0147 0,8677 0,2795 Misool Selatan 1,7444 0,7513 0,356 Misool Barat 1,6781 0,839 0,3555 Misool Timur 1,6937 0,8469 0,3482

Indeks Keseragaman (E)

Indeks keseragaman terendah 0,7513 di Misool Selatan dan nilai yang tertinggi 0,8677 di Misool Utara (Tabel 2). Nilai tersebut menggambarkan bahwa penyebaran individu cenderung bersifat seragam atau relatif sama.

Indeks Dominansi Jenis (C)

Berdasarkan data yang diperoleh bahwa indeks dominanasi yang tertinggi adalah (0,3560) di Misool Selatan dan yang terendah (0,2795) di Misool Utara (Tabel 2). Berdasarkan nilai tersebut indeks dominasi di Perairan tersebut tergolong rendah.

PEMBAHASAN

Deskripsi Spesies Lobster

Setiap setiap spesies lobster mempunyai corak warna yang berbeda-beda untuk melihat ciri masing-masing jenis lobster. P. ornatus mempunyai corak warna hijau agak kebiru-biruan dengan kaki jalan warna kuning muda dan hitam. P. versicolor mempunyai warna hijau terang dan kaki jalan hijau bergaris putih. P. polyphagus dengan warna dasar coklat agak kemerahan dengan bintik-bintik putih dibagian punggung. P. humarus berwarna hijau agak kecoklatan dan terdapat bercak putih pada kakinya. P. penicilatus tubuh berwarna coklat tua dan hitam gelap dengan sapuan warna coklat melintang dan kaki jalan mempunyai garis berwarna putih.Penelilitian sebelumnya dilakukan oleh Kadafi et al. (2005) di Perairan Pantai Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen, setiap spesies mempunyai ciri khusus untuk membedakan antar spesies, ciri masing-masing spesies dapat dilihat dari corak warna dari tubuh lobster, ukuran flagellum antenulla, capit pada kaki, ruas abdomen, bentuk ekor, dan panjang tubuh.

Secara morfologi tubuh lobster terdiri atas dua bagian, yaitu bagian depan yang disebut cepalotoraks. Kepala menyatu dengan dada dan bagian belakang yang disebut abdomen (badan). Seluruh tubuh lobster terbagi atas ruas-ruas yang tertutup oleh kerangka luar yang keras. Bagian kepala terdiri atas tiga belas ruas dan bagian badan terdiri atas enam ruas (Anonim, 2013).

Pada bagian kepala (rostrum) lobster terdapat organ-organ seperti rahang (mandibula), insang, mata majemuk, antenulla, antena, dan lima pasang kaki jalan (pereiopoda). Pada bagian badan terdapat lima pasang kaki renang (pleopoda) dan sirip ekor (uropoda) (Setyono, 2006).

(20)

Struktur Komunitas Lobster

Berdasarkan hasil penelitian di Perairan Misool Kabupaten Raja Ampat, ditemukan sebanyak lima spesies, 1.440 individu. Hasil penelitian ini lebih rendah bila dibandingkan dengan Kadafi et al. (2005)di Perairan Pantai Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen yang menemukan enam spesies, 4. 081 individu. Bila dibandingkan hasil temuan Haryono & Tjahyo (2008) di Perairan Kabupaten Cilacap, menemukan sebanyak empat spesies, 306 individu. Hasil penelitian ini jauh lebih tinggi, hal ini diduga karena kondisi perairan yang berbeda. Di daerah penelitian kondisi perairan tenang dengan dasar terumbu karang campur pasir, tetapi di Perairan Pantai Kecamatan Ayah kondisinya berombak besar dan daerah karang berpasir.

Komposisi spesies lobster yang ditemukan selama penelitian yaitu lobster mutiara (P.

ornatus) (11,80%), lobster bambu (P.versicolor) (46,18%), lobster batik (P. longipes)

(7,36%), lobster pasir (P. humarus) (7,64%), dan lobster setan atau batu (P. penicillatus) (27,02%). Dari kelima spesies tersebut jenis lobster bambu (P. versicolor) yang paling banyak ditemukan dan terdapat di semua stasiun. Spesies P. longipes dan P. humarus sangat sedikit ditemukan, bahkan di stasiun Misool Barat sama sekali tidak ditemukanP. humarus. Spesies yang sama ditemukan oleh Kadafi (2005); Haryono & Tjahyo (2008), dan Junaidi et al. (2010), yaitu P. ornatus, P. homarus, P. versicolor, dan P. penicillatus. Sedikit ditemukannya P. longipes dan P. humarus diduga karena spesies tersebut sedang berkurang oleh akibat aktivitas prilaku pergerakan. Menurut Herkinnd (1980) dalam Mahasin (2003), famili Palinuridae dibagi menjadi tiga pergerakan, yaitu pertama homing (di sekitar tempat tinggal), merupakan pergerakan yang di lakukan di sekitar tempat tinggal secara periodik atau harian. Pergerakan kedua nomodism (berpindah-pindah), yaitu melintasi suatu wilayah perairan yang luas tanpa ada batas yang jelas saat awal atau akhir pindah. Pergerakan ketiga migration (beruaya), perpindahan yang melintasi jarak yang cukup jauh, baik vertikal maupun horinsontal.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan indek keanekaragaman (H’) berkisar antara 1,6781–2,0147 dengan nilai rata-rata 1,8464, menunjukkan bahwa indek keanekaragaman lobster memiliki keanekaragaman dalam kisaran sedang. Nilai indek keanekaragaman antar stasiun tidak terdapat perbedaan yang mencolok, yang berarti bahwa keanekaragaman jenis lobster pada masing-masing stasiun pengamatan adalah relatif sama. hal ini diduga kondisi perairan di empat stasiun penelitian tidak jauh berbeda. Nilai keanekaragaman penelitian ini hampir sama dengan penelitian oleh Pratiwi (2010) bahwa indek keanekaragaman krustasea di lamun pulau-pulau Teluk Lampung berkisar 0,6600–3,0000 dengan rata-rata 1,8300 termasuk kategori sedang. Menurut Odum (1971), keanekaragamanan mencakup dua hal penting yaitu banyaknya jenis yang ada dalam suatu komunitas dan kelimpahan dari masing-masing jenis tersebut, sehingga makin kecil jumlah jenis dan variasi jumlah individu tiap jenis atau ada beberapa individu yang jumlahnya jauh lebih besar, maka keanekaragaman suatu ekosistem akan mengecil. Selanjutnya menurut Hasrun et al. (2013), ekosistem perairan yang stabil, indek keanekaragaman tinggi. Sebaliknya pada ekosistem yang kurang stabil, indek keanekaragaman rendah.

(21)

relatif sama. Nilai indeks yang mendekati 1 menunjukkan penyebaran dari tiap jenis relatif sama Odum (1971). Menurut fachrul (2012), semakin merata individu dalam suatu komunitas maka keseimbangan ekosistem semakin meningkat.

Indeks dominansi (C) berguna untuk menghitung adanya jenis tertentu yang mendominasi suatu komunitas biota. Jumlah jenis yang ada pada komunitas tersebut juga turut menentukan besarnya nilai indeks tersebut (Pratiwi, 2010). Indeks dominansi penelitian ini berkisar 0,2795–0,3560 dengan rata- rata 0,3177 termasuk kategori rendah. Penelitian ini hampir sama dengan penelitian Pratiwi (2010) dengan indeks dominansi rata-rata 0,2000 kategori rendah. Pengkategorikan dominansi rendah tersebut berdasarkan kreteria indeks dominansi Simpson dalam Krebs (1978), yaitu apabila dominansi rendah berarti tidak terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktruk komunitas dalam keadaan stabil. Sebaliknya apabila dominansi tinggi , artinya terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya atau struktur komunitas labil, karena tekanan ekologis. Nilai indek dominansi berbanding terbalik dengan indek keanekaragaman dan keseragaman. Apabila indek keseragaman tinggi (mendekati 1) maka indek dominansi akan rendah, demikian juga apabila keseragaman rendah (mendekati 0), maka indek dominansi akan tinggi dan menunjukkan ada spesies yang mendominasi (Hasrun et al., 2013).

Jenis lobster yang ditemukan pada semua stasiun penelitian sangat bervariasi karena diduga berdasarkan pengamatan lokasi penelitian kondisi lingkungan sekitar stasiun masih belum tercemar akibat pengambilan hasil laut dengan pengeboman dan penggunaaan bahan-bahan kimia seperti sianida. Selain itu, lingkungan tersebut juga belum mengalami kerusakan, akibat pengambilan karang, ikan hias dan hasil laut lain yang tidak ramah lingkungan.

Berdasarkan pengalaman penulis di UD. Sulistyowati, harga lobster mutiara pada tahun 2012 mencapai Rp600.000 per kg. Penentuan nilai ekonomi lobster didasarkan pada ukuran berat, yaitu dengan interval 0,5 kg. Berat lobster di bawah 0,5 kg harga per jenisnya lebih rendah dan dikategorikan sebagai baby lobster, sedangkan berat lobster lebih dari 0,5 kg harganya berbeda untuk setiap jenisnya dan dikategorikan sebagai lobster super kecuali, pada lobster mutiara 1 kg per ekor dikategorikan lobster super.

Berdasarkan pengamatan Penulis di lapangan diketahui bahwa lobster yang tertangkap di Perairan Misool dengan ukuran dominan pada ukuran lobster kategori super yaitu di atas 0,5 kg, dimana lokasi daerah penangkapannya di perairan dengan kedalaman 7–40 m di bawah permukaan laut. sedangkan pada kategori baby lobster sedikit ditemukan dengan kedalaman 0,5–3,0 m. Aktifitas baby lobster masih sangat rendah dan biasanya hidup di perairan karang pantai. Habitat yang paling disukai adalah perairan dengan dasar pasir berkarang yang ditumbuhi rumput laut. Setelah lobster menginjak dewasa maka bergerak ke perairan yang lebih dalam.

Dilihat dari tingginya permintaan dan nilai ekonomi yang tinggi serta kecenderung harga yang terus meningkat, maka nelayan selalu meningkatkan upaya atau usaha untuk menangkap lobster dari alam. Penangkapan yang semakin intensif tersebut tentunya akan sangat membahayakan populasi lobster di alam jika tidak segera diimbangi dengan pembenihan dan restocking. Pada tahun-tahun terakhir ini diduga telah terjadi penurunan populasi yang ditandai dengan penurunan jumlah hasil tangkapan dan ukuran yang udang yang tertangkap di alam (Kadafi et al., 2005).

(22)

penelitian yang dilakukan oleh para pakar dari perguruan tinggi Universitas Gajah Mada (UGM) dan lembaga penelitian Badan Riset Kelautan Perikanan (BRKP) belum mampu melewati masa atau stadia larva tersebut (Rejeki, 1995). Oleh karena itu, usaha pembesaran lobster sampe saat ini masih bergantung pada stok benih dari alam. Usaha pembenihan terus dirintis sampai suatu saat benih lobster untuk usaha budidaya bisa terpenuhi dari hasil pembenihan hatchery (panti benih).

Untuk mengurangi kerusakan sumberdaya alam akibat penangkapan yang intensif, maka perlu diimbangi pembenihan dan restocking, tetapi usaha budi daya lobster yang menjanjikan ini belum dapat dikembangkan secara optimal karena benih hasil pembenihan dari panti benih (hatchery) belum tersedia (Junaidi et al., 2010). Untuk mengantisipasi pembenihan yang sulit dikembangkan, maka pelestarian sumber daya lobster dapat dilakukan dengan cara pengaturan musim penangkapan yaitu tidak menangkap pada musim meminjah (Junaidi et al., 2010).

KESIMPULAN & SARAN

KESIMPULAN

Selama penelitian dilakukan ditemukan 1.440 individu, yang terdiri dari lima jenis spesies, yaitu: lobster mutiara (Panulirus ornatus), lobster bambu (P. versicolor), lobster batik (P. longipes), lobster pasir (P. humarus) dan lobster setan atau batu (P.

penicillatus).Komposisi jenis lobster yang tertinggi adalah Panulirus versicolordan terendah

Panulirus longipes. Indeks keanekaragaman dalam kategori sedang, indeks kemerataan

semakin merata, dan indeks dominansi rendah sehingga komunitas dalam keadaan stabil.

SARAN

Saran dari penulis adalah pencatatan data lobster yang tertangkap dan upaya penangkapan perlu dilakukan dengan baik, agar kelestarian lobster tetap terjaga.Lobster betina yang tertangkap membawa telur harus di lepas kembali ke laut.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Program Beasiswa Unggulan DIKTI – Biro Perencanaan & Kerjasama Luar Negeri (BPKLN), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yang telah memberikan beasiswa melalui Program Studi Magister Biologi, Universitas Satya Wacana, Salatiga.

DAFTAR PUSTAKA

Alex, S. 2007. Lobster Air Tawar dan Air Laut. Yogyakarta: Pustaka Baru Press. Anonim. 2013. Spesies

Identification.Http://speciesidenfification.org/species.php?species_group=lobster&id=164. Diakses tanggal 12 Januari 2013.

Chan, T.Y. 2000. Lobster in the Living Marine Resources of the Western CentralPacific. Volume 2 Cephalopods, Crustaceans, Holothurians and Sharks. FAO Species Identification Guide for Fishery Purposes. FAO-UN: Norwegian Agency for International Development.

Fahrul, M. F. 2012. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta: Bumi Aksara.

Haryono, F. E. D. & Tjahya, P. H. 2008. Analisis Ukuran Spiny Lobster (Panulirus spp.) Di Perairan Kabupaten Cilacap. Sains Aquatik 11 (1): 65–74.

(23)

Junaidi, M. Cokrowati,N. & Abidin, Z. 2010. Aspek Reproduksi Lobsteer (Panulirus spp.) di Perairan Teluk Ekas Pulau Lombok. Jurnal Kelautan 3(1): 29–35.

Kadafi, M. Widaningroem, R. & Soeparno. 2005. Aspek Biologi dan Potensi Lestari Sumberdaya Lobster (Panulirus spp.) di Perairan Pantai Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen. Journal of Fisheries Science 8(1): 108–117.

Kanna, I. 2006. Lobster. Yogyakarta: Kanisius.

Kittaka, J. 1997. Aplication of Ecosistem Culture Method for Complete Development of Spiny Lobster. Aquaculture 155: 319–331.

Krebs, C. J. 1978. Ecology the Experimental Analysis of Distribusion and Abudance. New York: Harper Collins Publishers.

Odum, E. P. 1971. Fundamental of Ekologi. Philidelphia:W. B. Saunders.

Phillips, B. F & Cobs, J. S. 1980. The Biology of Management of Lobster. New York: Academic Press. Pratiwi, R. 2010. Asosiasi Krustasea di Ekosistem Padang Lamun Perairan Teluk Lampung. Jurnal

Ilmu Kelautan 15(2): 66–76.

Rejeki, S. 1995. Pertumbuhan Larva udang Barong (Panulirus homurus L.) Yang Diberi Pakan Rotifera Yang Diperkaya dengan Minyak Ikan. Proseding seminar 01/Pros/03.95. Balitbang Pertanian, Serang: 10–21.

Gambar

Gambar 2. P. ornatus
Gambar 4. P. longipes
Tabel 1. Jumlah individu setiap spesies lobster pada setiap stasiun penelitian
Tabel 2. Nilai Indeks keanekaragaman (H’), indeks keseragaman (E), dan indeks dominansi (C) lobster di Perairan Misool Kabupaten Raja Ampat

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Pembuatan module pada project window dalam program aplikasi basis data spasial sebaran lokasi usaha pertambangan di Kabupaten Wonogiri dapat dilakukan dengan

Dalam hal sisa masa jabatan Kepala Desa yang berhenti lebih dari 1 (satu) tahun karena diberhentikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) huruf a dan huruf b serta

Hasil menunjukkan bahwa dosis simetidin 450 mg/kgBB/hari dapat mencegah kerusakan hepar pada tikus putih ( Rattus novergicus ) yang diberi INH dan rifampisin 50

- Size principle: signal lemah akan menimbulkan kontraksi otot dalam unit motorik kecil, tetapi begitu kekuatan signal telah meningkat, maka unit motorik besar akan

Pada kondisi lahan yang tidak beraturan dapat membuat nilai besaran pembajakan untuk setiap lokasi menjadi berbeda, kondisi pada saat kami

Rekening buku besar yang sudah diisi selama periode akuntansi, tapi akhir periode harus ditutup dan kemudian dibukukan kembali pada awal periode berikutnya.Menutup buku

Apabila umur anak tidak sesuai dengan jadwal umur skrining (umur 3, 6, 9, 12, 15, 18 bulan dan seterusnya), maka lakukan evaluasi hasil intervensi dengan menggunakan formulir KPSP

I nhibitor Pasivator    : menghambat korosi dengan cara menghambat reaksi anodik melalui pembentukan lapisan pasif, sehingga merupakan inhibitor berbahaya, bila