• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecemasan menghadapi masa pensiun pada karyawan pabrik laki-laki yang telah mengikuti Masa Persiapan Pensiun (MPP) di PT ISM Bogasari Jakarta - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Kecemasan menghadapi masa pensiun pada karyawan pabrik laki-laki yang telah mengikuti Masa Persiapan Pensiun (MPP) di PT ISM Bogasari Jakarta - USD Repository"

Copied!
0
0
0

Teks penuh

(1)

i

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh :

Veronika Alitta Yulianti

NIM : 059114081

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

(5)

v

Karya ini saya persembahkan untuk

semua orang yang tertarik dengan dunia pensiun

(6)
(7)

vii

Veronika Alitta Yulianti

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang kecemasan menghadapi masa pensiun pada karyawan pabrik laki-laki yang telah mengikuti masa persiapan pensiun (MPP) di PT ISM Bogasari Jakarta. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Subyek penelitian adalah 92 karyawan pabrik laki-laki PT ISM Bogasari Jakarta dari berbagai divisi. Sampel diperoleh dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan skala kecemasan secara langsung kepada responden. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kecemasan menghadapi pensiun yang disusun oleh peneliti sendiri. Daya diskriminasi dalam penelitian ini menggunakan batasan rix>0,30. Pada skala kecemasan terdapat 16 item yang gugur dan 48 item yang sahih. Koefisien reliabilitas skala kecemasan menghadapi pensiun sebesar 0,940. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik statistik deskriptif presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan pabrik laki-laki yang telah mengikuti masa persiapan pensiun di PT ISM Bogasari mengalami kecemasan pada kategori sedang yaitu 30 orang (55,56%) dan 24 orang (44,44%) berada pada kategori rendah. Tidak ada subyek yang mengalami kecemasan pada kategori tinggi.

(8)

viii

Veronika Alitta Yulianti

ABSTRACT

This study aimed to describe the anxiety facing the retirement of private employees male in PT ISM Bogasari Jakarta. This research is a quantitative descriptive research. The research subjects were 92 fabric employees male who has follow the pre preparation program in PT ISM Bogasari Jakarta from various divisions. Research samples were obtained by the means of purposive sampling. In data gathering, the researcher distributed a set of anxiety scale directly to the respondents. This research measuring instrument was a set of self made anxiety scale of retirement. The discrimination control in this research used a value limit of rix> 0,30. Sixteen items from the original anxiety scale were eliminated, and the remaining 48 items were claimed as valid. This research employed the percentagecriptive statistical technique in its data analysis. The research result show that the fabric employees male who has follow the pre preparation program in PT ISM Bogasari Jakarta experienced anxiety at the medium levels, 30 subjects (55,56%) and 24 others (44,44%) at the low anxiety scale. There are no subjects who experience anxiety in the high level.

(9)
(10)

x

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa atas segala berkat dan bimbingan-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini adalah bagian dari proses pembelajaran penulis selama kuliah dan proses skripsi ini melibatkan banyak pihak yang berperan serta. Dalam kesempatan ini, perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan karunia-Nya yang tiada habisnya diberikan selama hidup penulis. Puji dan syukur kepada Mu, Tuhan.

2. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Ibu Dr. Christina Siwi Handayani, M.Si

3. Kaprodi Ibu Sylvia Carolina M. Y. M, S.Psi., M.Si

4. Dosen pembimbing akademik sekaligus dosen pembimbing skripsi penulis, Ibu M.L. Anantasari, S.Psi., M.Si. yang dengan sabar membimbing, mengingatkan dan memberi masukan baik untuk penulisan skripsi maupun dalam pembelajaran hidup. Terima kasih banyak atas semuanya yang telah ibu berikan kepada saya. Banyak pelajaran yang saya peroleh dari ibu.

5. Dosen-dosen penguji Ibu A. Tanti Arini, S.Psi., M.Si dan Ibu Agnes Indar Etikawati, S.Psi., M.Si

(11)

xi

kepada penulis untuk pengambilan data skripsi. Terimakasih atas kerjasama dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis saat melakukan pengambilan data disana.

8. Bapak dan Ibu atas semuanya yang telah diberikan kepada penulis selama ini. Semoga hasil karya ini bisa mewakili segenap terimakasih dari anak “kecil” Bapak dan Ibu ini. Makasih banget ya Bu, Pak. Buat Mas Ageng, Mbak Sisca dan Arka, makasih ya Mas, Mbak buat pengertiannya dan sudah menjadi orangtua kedua ku selama di jogja. Arka, makasih buat keceriaan mu.

9. Keluarga Y. Sudarno yang telah memberikan keramahan dan menerima penulis dalam keluarga besar Beji. Terimakasih atas semua yang telah diberikan kepada penulis. Saya mempunyai “rumah” kedua di jogja. Biarlah Tuhan yang membalas segala kebaikan dari keluarga ini.

10. Teman-teman seperjuangan selama kuliah, Silvi “silpong”, Andien “ndien”, Mena “menong”, Ita, Matil, Sari, Dewi dan Oposh atas kebersamaannya dari awal hingga akhir kuliah. Semangat terus teman-teman. Semoga kita sukses di masa depan!!

(12)

xii

12. Sahabat-sahabat Jakarta : Icha, Bazoka, Rohanita, Julius, Merry, Elroy, Filia, Peny “Pence”, Enzelina, Hendi, Heru, Bagus dan semua teman-teman Mudika SMAN 13 Jakarta. Terimakasih buat dukungan, perhatian dan kebersamaan kalian selama ini terutama saat pengerjaan skripsiku. Tunggu aku disana, teman-teman.

(13)

xiii

Halaman

Halaman Judul………. i

Halaman Persetujuan Pembimbing………. ii

Halaman Pengesahan……….. iii

Halaman Moto……… iv

Halaman Persembahan………... v

Pernyataan Keaslian Karya……… vi

Abstrak………... vii

Abstact……… viii

Kata Pengantar……… ix

Daftar Isi………. xi

Daftar Tabel……… xv

BAB I. PENDAHULUAN ... . 1

A. Latar Belakang Masalah………. 1

B. Rumusan Masalah……….. 5

C. Tujuan Penelitian………... 5

(14)

xiv

1. Pengertian Kecemasan………....7

2. Gejala Kecemasan………..8

3. Faktor-faktor Penyebab Kecemasan……….. 9

4. Fungsi kecemasan……….. 10

B. Pensiun……….11

1. Pengertian Pensiun……….11

2. Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Proses Pensiun…….. 12

C. Kecemasan Karyawan Swasta Lakilaki dalam -menghadapi Masa Pensiun……….. 15

1. Pengertian Karyawan Swasta……….15

2. Pengertian Kecemasan dalam Menghadapi Masa Pensiun………. 15

3. Gejala Kecemasan dalam Menghadapi Masa Pensiun……...16

4. Faktor-faktor Kecemasan dalam Menghadapi Masa Pensiun………. 17

5. Dinamika Kecemasan Karyawan Swasta Laki-Laki dalam Menghadapi Masa Pensiun……….19

BAB III. METODE PENELITIAN ………. 24

A. Jenis Penelitian………. 24

(15)

xv

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data……….27

F. Pertanggungjawaban Mutu………...30

1. Validitas………30

2. Seleksi Item………...31

3. Reliabilitas……….34

G. Metode Analisis Data……….35

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……… 37

A. Persiapan Penelitian………...………...37

1. Orientasi kancah………...37

2. Persiapan Penelitian………..37

3. Uji Coba Instrumen Penelitian………..38

B. Pelaksanaan Penelitian………..39

C. Hasil Penelitian……….39

1. Uji Normalitas………...39

2. Deskripsi Rata-Rata Kecemasan dalam Menghadapi Masa Pensiun Pada Karyawan Swasta……..………... 40

(16)

xvi

B. Saran………..47

(17)

xvii

Tabel 1.1 Sebaran Butir Skala Kecemasan Menghadapi Pensiun…………..28

Tabel 1.2 Hasil Korelasi Item Total Skala Kecemasan………..32

Tabel 1.3 Distribusi Skala Kecemasan setelah Uji Coba………...33

Tabel 1.4 Kategori Nilai Jenjang Tiga………...36

Tabel 1.5 Hasil Data Penelitian………..40 Tabel 1.6 Kategorisasi Kecemasan Karyawan Pabrik Laki-Laki

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu tugas perkembangan yang harus dihadapi oleh setiap orang yang akan memasuki usia tua adalah mempersiapkan diri menghadapi pensiun. Masa ini diawali oleh peristiwa dimana seseorang harus berhenti dari aktifitas bekerja secara formal yang disebabkan oleh bertambahnya usia. Kondisi ini menyebabkan adanya pergantian posisi yang diduduki oleh karyawan yang memasuki batas usia pensiun dengan karyawan yang lebih muda untuk mempertahankan atau meningkatkan produktivitas dari organisasi dimana mereka bekerja. Peristiwa inilah yang disebut pensiun (Sulistyorini dalam Saragih, 2006).

Schwart (dalam Hurlock,1996) berpendapat bahwa pensiun merupakan akhir pola hidup atau masa transisi ke pola hidup yang baru. Perubahan yang terjadi dalam masa pensiun menyangkut perubahan peran, perubahan keinginan dan nilai, serta perubahan secara keseluruhan terhadap pola hidup setiap individu. Erickson (dalam Hurlock,1996) menyebutkan bahwa krisis identitas yang menimpa orang setelah pensiun disebabkan adanya keharusan untuk melakukan perubahan peran yang drastis dari seorang pekerja yang sibuk menjadi seorang pengangguran yang tidak menentu.

Pada saat seperti sekarang ini, pekerjaan merupakan salah satu faktor terpenting yang bisa mendatangkan kepuasan karena uang, jabatan dan

(19)

memperkuat harga diri. Oleh karenanya, sering terjadi orang yang pensiun bukannya bisa menikmati masa tua dengan hidup santai, sebaliknya, ada yang malahan mengalami masalah serius kejiwaan maupun fisik. Menurut Fletcher dan Hansson (1991) kecemasan menghadapi masa pensiun merupakan kekhawatiran pada sesuatu yang tidak pasti dan tidak dapat diprediksi sebagai akibat datangnya masa pensiun.

Menurut Hartati (dalam Triantoro, 2007) reaksi sikap terhadap masa pensiun ada tiga bentuk yaitu; pertama menerima, kedua terpaksa menerima dan ketiga

menolak. Sikap menerima kemungkinan disebabkan karena individu telah mempersiapkan diri menghadapi pensiun dan merasa wajar merasakannya. Sikap terpaksa menerima karena merasa dirinya masih produktif dan terpaksa mempersiapkan diri untuk pensiun meskipun tidak diinginkannya. Sikap menolak, kemungkinan disebabkan karena merasa dirinya tidak mengakui dirinya harus pensiun. Sikap penolakan seseorang terhadap masa pensiun, biasanya tidak jauh berbeda terhadap rasa ketidakinginan seseorang untuk kehilangan kekuasaan, wewenang dan kekuatan (powerless) pada satu jabatan pekerjaan tertentu. Sikap ini akan menunjuk pada reaksi psikologis yang bermacam-macam, seperti munculnya gejala stres seperti sering marah, susah tidur, malas, sering pusing, ataupun muncul kecemasan-kecemasan dalam hal pemenuhan hidup. Secara teoritis, sikap penolakan terhadap masa pensiun tersebut dimanifestasikan dalam bentuk kecemasan.

(20)

dengan adanya gangguan psikologis dan ketidaksehatan mental dalam bentuk kecemasan, stress, bahkan mungkin depresi. Kondisi ini juga diikuti oleh adanya perubahan dan kemunduran fisik dalam bentuk berbagai macam gangguan penyakit, seperti hipertensi, diabetes melitus, jantung dan lain-lain.

Penelitian yang dilakukan Helmi (dalam Triantoro, 2007) mengenai pentingnya mengelola stress pra purna bakti dan penelitian yang dilakukan Djaja (dalam Triantoro, 2007) mengenai kecemasan pada anggota POLRI dalam menghadapi purna tugas di Kepolisian wilayah Yogyakarta memberikan masukan untuk memfasilitasi kesiapan seseorang pegawai atau pekerja dalam menghadapi kecemasan menjelang masa pensiun.

Hamidah (2006) menjelaskan mengenai pentingnya pelatihan pengembangan model persiapan pensiun untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis dan menurunkan stress menghadapi pensiun karena hal tersebut efektif untuk menurunkan stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis karyawan.

(21)

anak-anaknya mengenai biaya pendidikan, dan kegiatan-kegiatan yang akan mereka lakukan ketika masa pensiun nantinya.

Dalam pandangan masyarakat Indonesia, yang menganut sistem patriaki, ada pandangan tertentu dalam masyarakat terhadap peran laki-laki dewasa di dalam keluarga. Berbagai macam peran yang harus dilakukan oleh laki-laki dewasa dalam pandangan tersebut antara lain berperan sebagai kepala keluarga sekaligus suami bagi istri dan bapak bagi anak-anaknya. Pria dewasa dalam hal ini berkewajiban membiayai semua anggota keluarganya termasuk juga dirinya sendiri. Hal tersebut menjadi dasar pertimbangan di masa yang akan datang ketika akan menghadapi masa pensiun dari pekerjaannya.

Peneliti memilih karyawan swasta karena saat ini banyak sekali perusahan non pemerintah sebagai pilihan tempat bekerja. Perusahaan-perusahaan menetapkan kebijakan yang sama sesuai dengan peraturan pemerintah mengenai pensiun, yaitu usia 55 tahun. Perusahaan non pemerintah atau swasta dalam pemberian dana pensiun langsung diberikan seluruhnya kepada karyawan yang pensiun ketika individu tersebut pensiun dan tidak diberikan berkala atau berkelanjutan.

(22)

lebih banyak dibandingkan di kantor. Sistem kerja di pabrik adalah sistem shift yaitu, shift pagi, sore dan malam. Karyawan di pabrik memiliki tugas yang lebih berat dibandingkan dengan karyawan di kantor. Mereka bekerja langsung di lapangan seperti menjalankan sistem operasional mesin-mesin penggiling gandum menjadi tepung terigu. Masa kerja para karyawan adalah minimal 10 tahun bahkan lebih hingga masa pensiun tiba.

Perusahaan memberikan pelatihan kepada para karyawannya yang akan pensiun, yaitu Pre Retirement Program atau MPP (Masa Persiapan Pensiun).

MPP biasanya dilakukan 5 tahun sebelum karyawan pensiun. Program ini dilakukan sebagai bentuk perhatian perusahaan terhadap karyawannya yang akan pensiun. Para karyawan yang akan pensiun menerima berbagai macam pelatihan yang telah disiapkan oleh perusahaan. Tujuan dilakukannya program ini adalah agar para karyawan yang akan menghadapi masa pensiun siap menghadapinya dan mempunyai persiapan yang baik untuk dilakukan setelah pensiun.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana kecemasan karyawan pabrik laki-laki dalam menghadapi masa pensiun?

C. Tujuan Penelitian

(23)

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berharga baik secara praktis maupun teoritis.

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat memberikan sumbangan ilmiah dalam bidang psikologi khususnya psikologi klinis dan perkembangan.

2. Manfaat Praktis antara lain :

a. Para Karyawan Pabrik Laki-Laki yang akan Menghadapi Masa Pensiun

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi evaluasi diri dan dapat sebagai bahan pertimbangan bagi para karyawan dalam mempersiapkan diri menghadapi pensiun.

b. Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan evaluasi bagi perusahaan terutama terkait dengan kebijaksanaan perusahaan untuk karyawannya dalam mempersiapkan masa pensiun. c. Keluarga Para Pegawai yang akan Menghadapi Masa Pensiun

(24)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. KECEMASAN

1. Pengertian Kecemasan

Kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan dan perasaan khawatir bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi (Nevid, 2003). Santrock (2002), mendefinisikan gangguan kecemasan adalah gangguan psikologis yang dicirikan dengan ketegangan motorik meliputi gelisah, gemetar, ketidakmampuan untuk rileks, hiperaktivitas seperti pusing, jantung berdebar-debar, atau berkeringat dan pikiran serta harapan yang mencemaskan. Sedangkan Chaplin (2001) mengemukakan bahwa kecemasan merupakan campuran rasa ketakutan dan keprihatinan akan masa depan tanpa sebab khusus di satu sisi dan melalui respon terkondisi yang bisa berujung pada reaksi penghindaran.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang dicirikan dalam bentuk emosi, fisik, kognitif dan perilaku terhadap masa depan tanpa sebab khusus yang dapat dianggap mengancam diri individu. Kecemasan bersifat subjektif karena sesuatu yang menimbulkan kecemasan pada diri seseorang belum tentu menimbullkan kecemasan pada orang lain.

(25)

2. Gejala Kecemasan

Daradjat (1996) menjelaskan bahwa gejala kecemasan sering ditandai dengan munculnya gejala fisik maupun mental. Gejala fisik yang seringkali tampak yaitu ujung-ujung jari terasa dingin, pencernaan menjadi tidak teratur, tidur tidak nyenyak, detak jantung bertambah cepat, keringat bercucuran, nafsu makan berkurang dan sesak nafas. Gejala yang bersifat mental atau psikologis yaitu tidak mampu memusatkan perhatian, tidak berdaya, rendah diri, hilangnya rasa percaya diri, perasaan ditimpa bahaya atau kecelakaan dan merasa tidak tentram. Hurlock (1996) menyatakan bahwa tanda-tanda adanya kecemasan yang sering muncul adalah perasaan khawatir, gelisah, kurang percaya diri, merasa tidak mampu, tidak sanggup menyelesaikan masalah, rendah diri dan perasaan-perasaan lain yang tidak menyenangkan.

Nevid, dkk. (2006) menjelaskan gejala-gejala kecemasan dalam tiga gejala, yaitu :

a. Gejala fisik, yaitu : gugup, tangan bergetar, telapak tangan berkeringat, sulit berbicara, banyak berkeringat, pusing, sering buar air kecil, dan seterusnya.

b. Gejala perilaku, seperti : perilaku menghindar, perilaku bergantung dan perilaku tidak tenang atau gelisah.

(26)

Hoeksema, Susan dan Nolen (2007) menyebutkan empat gejala kecemasan, yaitu :

a. Gejala fisik yaitu jantung berdetak kencang, gugup, sakit perut, sulit menarik nafas, sering buang air kecil.

b. Gejala emosi yaitu sangat mudah tersinggung, sangat mudah marah, mudah gelisah dan emosi tidak stabil.

c. Gejala kognitif yaitu cemas, takut kehilangan kontrol, cemas terhadap sesuatu, masalah yang menjadi pikiran.

d. Gejala perilaku yaitu menghindar, tidak perhatian, bersikap kasar, acuh tak acuh.

3. Faktor-faktor Kecemasan

Faktor – faktor seseorang mengalami kecemasan menurut Susabda (dalam Wangmuba, 2009) bahwa kecemasan timbul karena adanya:

a. Threat (Ancaman) baik ancaman terhadap tubuh, jiwa atau psikisnya seperti kehilangan kemerdekaan, kehilangan arti kehidupan maupun ancaman terhadap eksistensinya yaitu seperti kehilangan hak. Jika karyawan tidak siap dalam menghadapi masa pensiun, maka hal tersebut dapat menjadi ancaman bagi dirinya. Berbagai ancaman tersebut harus dihadapinya meskipun dirinya belum siap menghadapi masa pensiun tersebut.

(27)

kualitas hidupnya bila seorang karyawan yang akan menghadapi pensiun tetap bergaya hidup konsumtif seperti saat masih aktif bekerja. Hal ini tentunya bertentangan dengan kenyataan yang akan dijalaninya, dimana dia harus mulai memikirkan jauh ke depan pengeluaran hidupnya sedangkan pemasukan sudah tidak tetap lagi diterimanya.

c. Fear(Ketakutan) kecemasan sering timbul karena ketakutan akan sesuatu, ketakutan akan kegagalan menimbulkan kecemasan. Misalnya, ketakutan menghadapi masa pensiun karena masih ada tanggung jawab kepada keluarga, masih ada anak yang bersekolah.

d. Unfulled Need (Kebutuhan yang tidak terpenuhi) kebutuhan manusia begitu kompleks dan bila ia gagal untuk memenuhinya maka timbulah kecemasan.

4. Fungsi Kecemasan

(28)

dapat memotivasi individu untuk berbuat sesuatu (Corey, 1999). White&Watt (1981) mengatakan bahwa kecemasan bersifat adaptif bila keadaan yang tidak menyenangkan tersebut justru memotivasi individu untuk mempelajari cara-cara baru dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang ada.

B. PENSIUN

1. Pengertian Pensiun

Schwartz (dalam Hurlock, 1996) menyebutkan bahwa pensiun merupakan akhir pola hidup atau masa transisi ke pola hidup baru sehingga orang yang mengalami pensiun mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan mengubah pola yang sudah terbentuk sebelumnya. Perubahan yang terjadi dalam masa pensiun menyangkut perubahan peran, perubahan keinginan dan nilai, serta perubahan secara keseluruhan terhadap pola hidup setiap individu.

(29)

Usia pensiun berkisar antara 55-65 tahun. Pada karyawan non edukatif, usia pensiun adalah 55 tahun dan umur 65 tahun untuk karyawan edukatif yang memangku jabatan ahli peneliti, guru besar, lektor kepala serta jabatan-jabatan yang telah ditentukan oleh Presiden dalam Perpu no.32 tahun 1979.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masa pensiun adalah masa dimana seseorang sudah tidak lagi bekerja lagi secara formal di suatu instansi atau lembaga karena telah mencapai batas usia maksimal yang telah ditentukan. Dari proses tersebut maka terjadi suatu perubahan dalam hidup seseorang yang harus dihadapi dan lembaga dimana seseorang tersebut bekerja akan memberikan jaminan di hari tua yang berupa uang pensiun sebagai balas jasa atas darma baktinya selama ia bekerja.

2. Faktor-faktor yang Berpengaruh Dalam Menghadapi Masa Pensiun

Kimmel (dalam Hoyer, 2003) menjelaskan tiga faktor yang berpengaruh saat memasuki masa pensiun yaitu:

a. Faktor Biologis

(30)

negatif terhadap pensiun dan merasa bahwa diri mereka sudah tidak berguna lagi.

b. Faktor sosial budaya

Arti pensiun bagi seseorang juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial dan kebudayaan. Jika status sosial sebelum pensiun diperoleh dari hasil kerja keras dan prestasi , maka cenderung memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik. Sehingga perencanaan sebelum memasuki masa pensiun menjadi sangat penting. Perencanaan ini meliputi banyak aspek, seperti mengembangkan sumber-sumber penghasilan baru yang tetap misalnya hobi dan ketrampilan yang dimiliki, mempersiapkan peran, aktivitas yang diinginkan. Hal ini dapat diperoleh dalam keluarga dan masyarakat sehingga meningkatkan kesadaran seseorang tentang pensiun. Pensiun merupakan perubahan sosial yang besar bagi individu, tetapi tidak harus menyebabkan stres yang besar apabila individu siap menghadapi dan mempersiapkannya dengan baik.

c. Faktor psikologis

(31)

dan frustasi akan meningkatkan kesulitan pada tingkat selanjutnya. Akan tetapi keinginan untuk maju tidak berakhir pada saat pensiun. Pada masa pensiun terjadi suatu perubahan dari kegiatan yang sudah tetap sehari-harinya menjadi memiliki waktu luang untuk berkegiatan. Salah satu hal yang penting untuk memperlancar perubahan ini adalah tingkat perencanaan dan persiapan yang mendahuluinya.

(32)

C. Kecemasan Karyawan Pabrik Laki-laki dalam Menghadapi Masa

Pensiun

1. Pengertian Karyawan Pabrik

Karyawan adalah orang yang bekerja pada suatu lembaga (kantor atau perusahaan) dengan mendapatkan gaji (upah untuk pegawai, buruh, pekerjaan) (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Karyawan pabrik adalah pekerja yang sehari-harinya /rutin bekerja di pabrik untuk melaksanakan kegiatan pekerjaan yang akan dicapai oleh suatu organisasi. Penggunaan istilah karyawan lebih kepada pekerja di suatu perusahaan non pemerintahan. Pada umumnya masyarakat menyebutnya sebagai karyawan swasta.

2. Pengertian Kecemasan dalam Menghadapi Masa Pensiun

(33)

penilaian kognitif individu tersebut negatif terhadap stressor maka hal itu pun akan menghasilkan perasaan kecemasan, ketakutan, dan sebagainya.

Kecemasan menghadapi masa pensiun adalah gejala atau reaksi psikologis yang tidak menyenangkan dan bersifat subyektif, yang terjadi pada individu yang sedangn menghadapi datangnya masa pensiun. Reaksi psikologis dapat berupa perasaan khawatir, gelisah, was-was, tegang dan sulit berkonsentrasi sedangkan reaksi fisiologis yaitu berupa perasaan deg-degan, jantung berdebar, sulit tidur dan berkeringat.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kecemasan menghadapi masa pensiun adalah keadaan atau perasaan tidak menyenangkan karena adanya kekhawatiran, bingung, ketidakpastian akan masa depannya yang timbul ketika individu akan pensiun merasa belum siap menerima kenyataan tersebut dengan segala akibatnya baik secara sosial, psikologis maupun fisiologis.

3. Gejala Kecemasan dalam Menghadapi Masa Pensiun

Masa pensiun merupakan masa dimana para pekerja tidak bekerja dengan rutinitas sebelumnya sehingga para karyawan yang akan menghadapi pensiun menunjukkan gejala-gejala kecemasan dalam menghadapi masa pensiun.

(34)

a. Gejala fisik, yaitu : gugup, tangan bergetar, telapak tangan berkeringat, sulit berbicara, banyak berkeringat, pusing, sering buar air kecil, dan seterusnya.

b. Gejala perilaku, seperti : perilaku menghindar, perilaku bergantung dan perilaku tidak tenang atau gelisah.

c. Gejala kognitif, yaitu : cemas terhadap sesuatu, cemas dengan hal-hal kecil, takut kehilangan kontrol, takut tidak mampu untuk mengatasi suatu masalah, dan seterusnya.

d. Gejala emosi, yaitu : sangat mudah tersinggung, sangat mudah marah, mudah gelisah, emosi tidak stabil, dan seterusnya.

Setiap karyawan mengalami gejala-gejala kecemasan menghadapi pensiun berbeda-beda. Gejala yang dialami juga tidak sama antar karyawan yang akan menghadapi masa pensiun.

4. Faktor-faktor Kecemasan dalam Menghadapi Masa Pensiun

(35)

Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa faktor kecemasan dalam menghadapi masa pensiun adalah

a. Ancaman

Ancaman terhadap menurunnya kondisi biologis dan kesehatan sesuai dengan usia yang semakin tua dan penyakit yang diderita sehingga individu menjadi orang yang tidak berdaya dan tidak dapat menikmati waktu luangnya setelah pensiun. Hal tersebut juga mempengaruhi psikologis individu. Ketidakberdayaan fisik mempengaruhi anggapan individu yang kurang menyenangkan tentang masa pensiunnya sehingga inidividu menjadi tidak siap mental. Kondisi demografis atau lingkungan tempat tinggal yang heterogen, kebanyakan masih bekerja, membuat individu merasa tidak berguna setelah pensiun, merasa terancam dengan keberadaan dirinya yang tidak bisa produktif bekerja lagi. Perasaan terancam akan kehilangan status sosial yang telah dicapai selama bekerja. Selain itu, penghasilan yang tidak tetap setelah pensiun membuat individu merasa terancam tidak dapat membiayai anggota keluarganya lagi.

b. Pertentangan

(36)

dapat dirasakan lagi setelah pensiun. Padahal hal tersebut menjadi salah satu kebanggan pada dirinya.

c. Ketakutan

Kesehatan yang semakin menurun, pemasukan yang tidak tetap sehingga tidak dapat membiayai anggota keluarganya, perasaan tidak berguna karena anggapan masyarakat terhadap pensiunan yang menganggap tidak dapat berkarya lagi dan status jabatan yang dicapai selama bekerja harus ditinggalkan setelah pensiun merupakan hal-hal yang ditakuti oleh individu dalam menghadapi pensiunnya.

d. Kebutuhan yang tidak terpenuhi

Pemasukan yang tidak tetap setelah pensiun sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan anggota keluarganya menimbulkan kecemasan bagi individu dalam menghadapi masa pensiunnya.

D. Dinamika Kecemasan Karyawan Pabrik Laki-laki di PT Bogasari dalam

Menghadapi Masa Pensiun

(37)

sebagai Masa Persiapan Pensiun. Program ini biasanya diberikan 5 tahun sebelum karyawan pensiun. Bentuk dari pelatihan ini adalah dengan memberikan training pelatihan membuat kue, roti dan semacamnya yang masih berkaitan dengan hasil produksi perusahaan yaitu tepung terigu.

Masa pensiun yang dihadapi setiap pegawai atau pekerja dapat berbagai macam. Masa pensiun pegawai biasanya dilewati setiap pegawai setelah masa kerjanya selesai. Jika sebelum masa kerjanya selesai, pegawai juga dapat menghadapi masa pensiun yaitu saat ia menerima pensiun dini atau karena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Masa pensiun seseorang juga dapat ditandai dengan penurunan tingkat kesehatan fisik seseorang. Pada masa pensiun, biasanya kesehatan fisik seseorang sudah mulai menurun yang bisa disebabkan salah satunya oleh faktor usia. Selain itu, kondisi tersebut juga bisa disebabkan dari kebiasaan selama subyek bekerja. Karyawan yang memiliki masalah kesehatan di masa pensiunnya maka ia dapat menjadi orang yang tidak berdaya dan tidak dapat menikmati waktu luangnya ketika pensiun sehingga sebagai akibatnya, masa pensiun dianggap sebagai masa yang menakutkan karena merasa dirinya tidak berguna lagi.

(38)

patriaki. Laki-laki dianggap sebagai pemimpin, baik dalam pekerjaan, lingkungan sosial maupun dalam keluarga. Oleh karena itu, mereka sangat memikirkan tanggung jawab mereka nantinya setelah pensiun, apakah masih bisa memenuhi kebutuhan keluarganya atau tidak. Hal ini menimbulkan pertentangan dalam diri subyek yaitu pertentangan antara keinginan untuk tetap dapat membiayai anggota keluarganya dengan kenyataan yang akan dijalaninya, pemasukan ekonomi keluarga yang tidak tetap. Tentunya kebutuhan yang tidak terpenuhi tersebut membuat subyek merasa ketakutan dan cemas memikirkannya sebagai kepala keluarga.

(39)

lingkungan yang kebanyakan masih bekerja, subyek merasa tidak berguna aka keberadaan dirinya.

Selain itu, status sosial juga mempengaruhi kecemasan karyawan pabrik dalam menghadapi pensiun. Kimmel (dalam Hoyer, 2003) menyatakan bahwa pensiun merupakan suatu perubahan yang penting dalam perkembangan hidup individu yang ditandai dengan terjadinya perubahan sosial. Jika status sosial sebelum pensiun diperoleh dari hasil kerja keras dan prestasi maka ketika pensiun nanti cenderung memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik. Jika tidak, subyek sulit bersosialisasi dengan statusnya yang baru sebagai pensiunan. Perencanaan dalam menghadapi pensiun menjadi bagian yang penting karena dengan demikian subyek mampu mengembangkan penghasilan-penghasilan baru yang tetap sehingga dapat mengurangi kecemasan dalam menghadapi masa pensiun. Budaya yang berlaku di lingkungan tempat tinggal subyek juga mempengaruhi kecemasan subyek dalam menghadapi pensiunnya. Bila budaya yang berlaku menganggap masa pensiun merupakan masa berakhirnya kegiatan, tentunya subyek tidak dapat menikmati masa pensiunnya. Sebaliknya, jika budaya yang berkembang adalah menganggap bahwa masa pensiun merupaka masa menyenangkan untuk dihadapi, waktu luang untuk dinikmati di hari tua maka subyek siap menghadapi masa pensiunnya.

(40)

muncul perasaan kehilangan status, perasaan sebagai orang tua yang tidak berguna, dan perasaan kesepian. Kecemasan ini menimbulkan reaksi psikologis seperti khawatir, tegang, gelisah dan sulit berkonsentrasi sedangkan secara fisiologis, kecemasan dalam menghadapi pensiun ditandai dengan jantung berdebar-debar, banyak berkeringat, gugup, tangan bergetar dan sering buang air kecil. Bradbury (dalam Lemme, 1995) mengatakan pada situasi yang ekstrem, kecemasan menghadapi masa pensiun dapat menyebabkan sikap lekas marah, depresi, penyakit psikosomatik dan bahkan kematian yang lebih awal. Gejala yang mengerikan ini disebut sebagai sindrom pensiun yang diduga dialami oleh individu yang harus berhenti bekerja.

(41)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau memberikan gambaran terhadap obyek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum (Sugiyono, 2000).

B. Variabel Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif oleh karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel sehingga variabel dilihat sebagaimana adanya. Variabel dalam penelitian ini adalah kecemasan dalam menghadapi masa pensiun.

C. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2000).

Kecemasan diungkap dengan menggunakan skala kecemasan dalam menghadapi masa pensiun yang terdiri dari 64 item untuk try out dan 48 item

(42)

pada skala penelitian. Skala tersebut terdiri dari empat aspek kecemasan dan empat aspek pensiun yang disusun oleh penulis. Aspek kecemasan yang diukur meliputi :

1. Gejala fisik, yaitu : banyak berkeringat, pusing, jantung berdetak kencang, sulit tidur, perut mulas, tangan dan kaki terasa dingin, tidak selera makan, dan dada terasa sesak

2. Gejala perilaku, seperti : menghindar, malas, diam, dan tersinggung. 3. Gejala kognitif, yaitu : khawatir, pelupa, sulit berkonsentrasi, bingung,

dan sulit berpikir jernih.

4. Gejala emosi, yaitu : resah, gelisah, sedih, kecil hati, rendah diri, tidak percaya diri, mudah marah dan ketakutan.

Aspek pensiun yang diukur meliputi :

1. Perasaan kehilangan status, yaitu kehilangan jabatan pekerjaan yang telah dicapai selama bekerja.

2. Persoalan ekonomi, yaitu permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga setelah pensiun.

3. Perasaan tidak berguna, yaitu merasa tidak bisa melakukan kegiatan apapun setelah pensiun dan tidak berdaya.

4. Perasaan kesepian, yaitu merasa ditinggalkan dan tidak bisa berkumpul dengan teman-teman kerja.

(43)

D. Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini digunakan teknik pengambilan data subjek dengan metodepurposive samplingdimana pengambilan data subjek berdasarkan ciri-ciri atau karakterisitik yang dianggap sesuai untuk penelitian ini, yaitu :

1. Usia

Subyek dalam penelitian ini adalah karyawan pabrik laki-laki yang akan menghadapi pensiun, berusia 50-54 tahun. Peneliti memilih usia subyek dengan klasifikasi usia tersebut karena sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor Per-02/Men/1995, usia pensiun normal adalah 55 tahun.

2. Laki-laki

Subyek dalam penelitian ini adalah karyawan laki-laki. Dalam kehidupan masyarakat, laki-laki dianggap sebagai kepala keluarga dimana mereka memiliki kewajiban untuk membiayai kehidupan keluarganya dan tentunya juga dirinya sendiri.

3. Lokasi

(44)

& Collection, Transport & Traffic Management, Automation, Silo, Material Stores, Security & Safety dan General Affairs.

4. Masa Kerja

Masa kerja atau jabatan yang diperoleh pada subyek berkaitan dengan kisaran usia yang telah ditentukan diatas yaitu 50-54 tahun dimana rata-rata pada usia tersebut masuk ke dalam masa jabatan diatas 10 Tahun.

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode skala. Menurut Azwar (2002) metode skala menggunakan daftar pertanyaan atau pernyataan langsung secara terarah. Skala tersebut diberikan kepada subyek penelitian dan subyek tersebut diminta untuk memberikan jawaban atas pendapatnya terhadap pernyataan tersebut.

(45)

Tabel 1.1

SEBARAN BUTIR SKALA

KECEMASAN MENGHADAPI MASA PENSIUN

(46)

Metode yang digunakan untuk skala penelitian ini adalah metode rating yang dijumlahkan (method of summate rating) atau populasi dengan nama penskalaan model Likert (Gable dalam Azwar, 2003). Metode ini merupakan pengukuran sikap yang mengusahakan respon subyek sebagai dasar penentuan nilai skalanya.

Respon yang digunakan dalam skala ini terdiri dari empat kategori bentuk yang menyatakan kesetujuan atau ketidaksetujuan dengan jawaban yaitu :

SS = Sangat Setuju

S = Setuju

TS = Tidak Setuju

STS = Sangat Tidak Setuju

Untuk pernyataan yang bersifat favorable : SS diberi nilai 4, S diberi nilai 3, TS diberi nilai 2 dan STS diberi nilai 1. Sebaliknya untuk pernyataan yang bersifat unfavorable : SS diberi nilai 1, S diberi nilai 2, TS diberi nilai 3 dan STS diberi nilai 4.

(47)

informasi yang diperoleh dari subjek. Tujuan kategori empat pilihan jawaban yaitu untuk melihat kecenderungan pendapat respon, setuju atau tidak setuju. Penyusunan item ini dilakukan secara acak dengan pertimbangan agar subyek menjawab secara spontan tanpa dipengaruhi item-item yang lain, yang kemungkinan disebabkan adanya pengelompokan.

F. Pertanggungjawaban Mutu

1. Validitas

Validitas adalah ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi sasaran pokok pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur tersebut (Azwar, 2003). Suatu alat ukur memiliki validitas yang tinggi apabila alat ukur tersebut memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran (Azwar, 2003).

Validitas skala menggunakan validitas isi dimana validitas isi menunjukkan sejauhmana item-item dalam skala penelitian mencakup keseluruhan kawasan isi yang hendak diukur atau sejauhmana isi tes mencerminkan cirri atribut yang hendak diukur (Azwar, 2000).

(48)

item-tem dala penelitian ini dipandang sudah mencakup keseluruhan isi obyek yang hendak diukur (Azwar, 2003).

2. Seleksi Item

Seleksi item dilakukan sebelum skala digunakan untuk memperoleh item-item yang berkualitas dan sesuai dengan fungsi skala. Koefisien kesahihan item diperoleh dari korelasi antara skor butir item dengan skor total keseluruhan butir (korelasi item total).

Sebagai kriteria seleksi item berdasarkan korelasi item total maka digunakan batasan rix >0,30 jadi item yang memiliki korelasi item total minimal 0,30 dianggap layak menjadi sebuah item karena memiliki daya pembeda yang memuaskan sedangkan item dengan nilai rix dibawah 0,30 dianggap buruk karena dapat diinterpretasikan sebagai item yang memiliki daya diskriminasi rendah sehingga tidak dimasukkan dalam item yang akan digunakan dalam penelitian (Azwar, 2003). Penyeleksian item dilakukan dengan computer menggunakan program SPSS for windows 13dan dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan hingga tidak ada item yang gugur.

Uji coba penelitian (try out) dilakukan pada tanggal 19-25 Agustus 2009 di PT ISM Bogasari Jakarta. Skala diberikan kepada para karyawan laki-laki yang memenuhi kriteria sebagai subyek penelitian. Jumlah subyek yang bekerja di pabrik dalam penelitian ini adalah 38 orang.

(49)

tersebut dianalisis dengan menggunakan computer program SPSS for windows 13. Dari pengolahan data tersebut diperoleh skor korelasi item total berkisar antara 0,304 sampai 0,705.

Dari hasil perhitungan rix maka dapat diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 1.2

Hasil Korelai Item Total Skala Kecemasan

Rix Item Total

> 0,30 1, 2, 5, 6, 8, 9, 10, 12, 13, 16, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35, 37, 38, 41, 42, 44, 46, 47, 50, 52, 53, 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63.

48

< 0,30 3, 4, 7, 11, 14, 15, 17, 36, 39, 40, 43, 45, 48, 49, 51, 64.

16

Total 64

(50)

Tabel 1.3

Distribusi Skala Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun

(51)

3. Reliabilitas

Reliabilitas artinya keajegan dan stabilitas hasil pengukuran (Hadi, 1991); sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberpa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelmpok subyek yang sama diperoleh hasil yang sama, selama aspek dalam diri subyek yang diukur memang belum berubah (Azwar, 2003). Pengujian reliabilitas alat tes dilakukan dengan menganalisis konsistensi antar item Alpha Cronbach. Pendekatan Alpha mempunyai nilai praktis dan efisiensi tinggi karena hanya didasarkan pada pengukuran satu kali pada sekelompok individu sebagai subyek (single trial administration). Niali reliabilitas skala dianggap memuaskan apabila koefisien Alpha lebih besar dari 0,90 karena berarti perbedaan (variasi) yang tampak pada skor tes tersebut mampu mencerminkan 90% dari variasi yang terjadi pada skor murni subyek yang bersangkutan dan 10% dari perbedaan skor yang tampak disebabkan oleh variasi eror pengukuran (Azwar, 2003).

(52)

G. Metode Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif yang meliputi penyajian data dengan tabel; penjelasan kelompok dengan standar deviasi (Sugiyono, 2000). Modus adalah teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai yang sering muncul dalam kelompok. Median adalah teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai tengah dari kelompok data yang telah disusun urutannya dari yang terkecil sampai yang terbesar atau sebaliknya dari yang terbesar sampai yang terkecil. Mean adalah teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai rata-rata kelompok tersebut. Penentuan kategori kecemasan dilakukan dengan kategori jenjang berdasarkan standar deviasi dan mean teoritik (Azwar, 2002) seperti berikut ini :

X mimimum teoritis : Skor paling rendah yang diperoleh -subyek pada skala, yaitu = 1

X maksimum teoritis : Skor paling tinggi yang diperoleh -subyek pada skala, yaitu = 4

Range : Luas jarak sebaran antara nilai maksimum dan nilai minimum

Standar Deviasi ( s ) : Luas jarak sebaran yang dibagi ke dalam 6 satuan deviasi standar

(53)

Bila dimasukkan dalam hitungan angkanya adalah sebagai berikut :

X minimum : 48 x 1 = 48

X maksimum : 48x 4 = 192

Range : 192 – 48 = 144

SD (s ) :

6 144

= 24

µ :

2 48 192

=

2 240

= 120

Sehingga kategorinya adalah sebagai berikut :

Tabel 1.4

Kategori Nilai Jenjang Tiga (Azwar, 1999)

Skor Total Subyek Kategori

(54)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. PERSIAPAN PENELITIAN

1. Orientasi Kancah

Penelitian tentang kecemasan karyawan pabrik laki-laki dalam menghadapi masa pensiun dilaksanakan di PT. ISM Bogasari Jakarta. Jumlah responden yang digunakan sebanyak 92 orang, dengan rincian 38 orang untuk uji coba dan 54 orang untuk penelitian.

Selain itu, pada suatu perusahaan biasanya mengadakan Masa Persiapan Pensiun (MPP) bagi para karyawannya. Di PT ISM Bogasari Jakarta, kegiatan MPP ini dinamakan Pre Retirement Pogram dan diadakan lima tahun sebelum karyawan pensiun.

2. Persiapan Penelitian

Persiapan penelitian yang dilakukan peneliti untuk pengambilan data sebagai berikut :

a. Mempersiapkan skala kecemasan untuk mengukur kecemasan dalam menghadapi masa pensiun pada karyawan swasta laki-laki.

b. Menentukan kelompok subyek uji coba yang memiliki karakteristik yang sama dengan subyek penelitian yang sesungguhnya.

c. Melaksanakan uji instrumen penelitian.

(55)

d. Menganalisis data uji instrumen penelitian untuk menentukan kesahihan item sehingga dapat diketahui layak atau tidaknya skala tersebut digunakan dalam penelitian yang sesungguhnya.

3. Uji Coba Instrumen Penelitian

Pelaksanaan uji coba instrumen penelitian skala kecemasan dilakukan di PT ISM Bogasari Jakarta pada tanggal 18 Agustus 2009 sampai dengan tanggal 25 Agustus 2009. Subyek yang digunakan dalam uji coba ini adalah subyek yang memeiliki karakterisitik yang sama dengan subyek penelitian, yaitu para karyawan swasta laki-laki yang akan menghadapi masa pensiun, yang berusia 50-54 tahun. Jumlah subyek di pabrik dalam penelitian ini adalah 38 orang.

(56)

B. PELAKSANAAN PENELITIAN

Setelah peneliti mendapatkan surat ijin penelitian per tanggal 7 April 2009, penelitian dilaksanakan dari tanggal 18 Agustus 2009 – 4 September 2009. Responden dalam penelitian yang bekerja di pabrik berjumlah 54 orang karyawan laki-laki yang berusia 50-54 tahun. Dalam penelitian ini skala yang disebar sebanyak 54 angket.

C. HASIL PENELITIAN

1. Uji Normalitas

Sebelum data dianalisis terlebih dahulu dilakukan uji asumsi yaitu uji normalitas untuk mengetahui apakah sampel yang diambil berasal dari sebuah distribusi normal. Dalam penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan menggunakan teknik Kolmogorov Smirnov yang menyatakan bahwa jika nilai signifikasi lebih besar dari 0,1 (p>0,1) maka sebarannya normal, tetapi bila nilai signifikasi lebih kecil dari 0,1 (p<0,1) maka sebarannya tidak normal. Yang dimaksud normal yaitu sampel atau data berasal dari distribusi normal atau populasi yang normal, sedangkan dikatakan tidak normal bila sampel atau data tidak layak untuk dijadikan sampel.

(57)

2. Deskripsi Rata-rata Kecemasan Dalam Menghadapi Masa Pensiun

Karyawan Pabrik

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai mean empirik sebesar 88 lebih kecil daripada nilai mean teoritis dan tidak terlalu jauh selisih diantara keduanya. Hal ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata subyek penelitian lebih rendah dari nilai rata-rata teoritis, yang berarti bahwa subyek penelitian secara umum memiliki kecemasan menghadapi pensiun yang tergolong sedang.

Tabel 1.5

Hasil Data Penelitian

N Min Max Mean SD

Empiris 54 51 125 88 12,33

Teoritis 54 48 192 120 24

N : Jumlah subyek penelitian

Min E : Nilai minimal empiris, yaitu nilai paling rendah yang diperoleh subyek penelitian.

Max E : Nilai maksimal empiris, yaitu nilai paling tinggi yang diperoleh subyek penelitian.

Min T : Nilai minimal teoritis, yaitu nilai paling rendah yang diperoleh subyek pada skala.

(58)

Mean : angka rata-rata, yaitu jumlah keseluruhan nilai dibagi dengan jumlah individu.

SD : Luas jarak sebaran yang dibagi ke dalam 6 satuan deviasi standar.

Tabel 1.6

Kategorisasi Kecemasan Karyawan Pabrik Laki-Laki

di PT ISM Bogasari Jakarta dalam Menghadapi Masa Pensiun

Skor Total Subyek Rentang Nilai Kategori Jumlah

Subyek

Persentase

(%)

X < ( µ - 1,0 s ) X < 96 Rendah 24 44,44% ( µ - 1,0 s ) = x < ( µ +

1,0 s )

96 = x < 144 Sedang 30 55,56%

( µ + 1,0 s ) = x 144 = x Tinggi 0 0%

(59)

D. PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa subyek penelitian yaitu para karyawan pabrik laki-laki di PT ISM Bogasari Jakarta mengalami kecemasan yang termasuk dalam kategori sedang. Hal ini dibuktikan dari jumlah presentase subyek yaitu pada kategori sedang sebesar 55,56% sedikit lebih besar dibandingkan dengan kategori rendah yaitu 44,46% dan tidak ada subyek yang mengalami kecemasan pada kategori tinggi.

(60)

ada beberapa subyek yang sudah menyiapkan diri dalam menghadapi pensiunnya sehingga tidak terlalu mencemaskan masa pensiunnya yaitu dengan menyiapkan dana setelah pensiun yang nantinya dana tersebut dapat digunakan untuk membuka usaha atau sebagai investasi di hari tua.

(61)

Tuntutan lingkungan sekitar terutama tempat tinggal, ikut mempengaruhi kecemasan subyek dalam menghadapi masa pensiunnya. Tempat tinggal subyek yang heterogen, tidak semuanya berstatus pensiunan dapat membuat subyek menjadi merasa tidak berguna dan kurang percaya diri sebagai dampak dari perasaan kehilangan status pekerjaan. Krisis identitas yang menimpa orang setelah pensiun disebabkan adanya keharusan untuk melakukan perubahan peran yang drastis dari seorang pekerja yang sibuk menjadi seorang pengangguran yang tidak menentu (Hurlock, 1996). Status diri sebagai pensiunan membuat subyek merasa kurang nyaman di lingkungan tempat tinggalnya sendiri karena merasa tidak bisa menghasilkan sesuatu bagi lingkungan sekitarnya sehingga kecemasan pun timbul. Meskipun demikian, subyek yang lainnya mampu menunjukkan dirinya sebagai seorang calon pensiunan yang siap menjalani masa pensiunnya seperti ikut berpartisipasi di lingkungan tempat tinggalnya sebagai pengurus lingkungan atau ikut kerja bakti bersama dengan para pemuda sehingga tidak ada perasaan tidak berguna pada diri subyek.

(62)
(63)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat kecemasan karyawan pabrik laki-laki di PT ISM Bogasari Jakarta dalam taraf sedang.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan tersebut, maka peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut :

1. Saran bagi perusahaan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecemasan karyawan pabrik laki-laki dalam menghadapi pensiun berada pada kategori sedang. Oleh karena itu, perusahaan dapat terus mempertahankan usaha-usaha yang telah dilakukan seperti pelatihan Masa Persiapan Pensiun (MPP).

Selain itu, juga meningkatkan perhatian dan memberikan dukungan kepada mereka agar lebih siap menghadapi masa pensiunnya.

2. Saran bagi karyawan perusahaan

Dalam penelitian ini, subyek mengalami kecemasan yang sedang. Hasil penelitian ini, diharapkan subyek tetap mempersiapkan dirinya menghadapi pensiun. Mempertahankan semua usaha-usaha yang sudah

(64)

dilakukan dan melanjutkan kegiatan yang telah dilakukan dalam menghadapi pensiunnya.

3. Saran bagi keluarga para karyawan yang akan menghadapi masa pensiun Keluarga sebagai orang-orang terdekat subyek hendaknya melakukan usaha-usaha pendampingan sebagai bentuk dukungan dan perhatian. Hal tersebut sebagai usaha pencegahan agar subyek tidak terlalu cemas menghadapi pensiunnya.

4. Saran bagi penelitian selanjutnya

(65)

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, M.C. (2008). Pensiun, Stress dan Bahagia. Diakses tanggal 31 Agustus 2008 dari http://all-about-stress.com/2008/03/22/pensiun-stres-dan-bahagia/

Azwar, S. (2002).Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _______. (2003).Dasar-Dasar Psikometri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _______. (2003).Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. _______. (2004).Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Chaplin, J.P. (2001).Kamus Lengkap Psikologi, terjemahan. Jakarta: Rajawali Corey, G. (1999). Teori dan Praktek : Konseling dan Psikoterapi. Bandung:

Refika Aditama.

Daradjat, Z. (1996).Kesehatan Mental. Jakarta: PT Gunung Agung.

Fletcher, W.L and Hansson. (1991). Assesing The Social Components of Retirement Anxiety.Journal of Psychology and Aging, Vol.6 No.1, 76-85 Hadi, S. (1991).Analisis Butir untuk Instrumen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hamidah. (2006).Pengembangan Model Persiapan Pensiun untuk Meningkatkan

Kesejahteraan Psikologis dan Menurunkan Stres Menghadapi Pensiun. Diakses tanggal 25 September 2008 dari

http://journal.lib.unair.ac.id/index.php/i/search/titles?searchPage=2

Hoeksema, Susan Nolen. (2007). Abnormal Psychology 4thedition. New York: Mc Graw Hill.

Hoyer, William J., Paul A. Roodin. (2003). Adult Development and Aging. New York: Mc Graw Hill.

Hurlock, E. (1996). Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Jacinta F. Rini. (2001). Pensiun dan Pengaruhnya. Diakses tanggal 31 Agustus 2008 darihttp://www.e-psikologi.com.

(66)

Lemme, Barbara Hansen. (1995).Development in Adulthood. Boston: Allyn & Bacon.

Lazarus, R.S. (1991). Emotional and Adaption. New York: Mc Graw Hill Publishing Company.

Mischel, W. (1999).Introduction to Personality 6th Edition. Forth worth: Harcourt Brace College.

Nevid, Jeffrey S., Spencer A. Rathus, Beverly Greene. (2006). Abnormal Psychology in a Changing World sixth edition. New York: Pearson Prentice Hall.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor Per-02/Men/1995. Diakses tanggal 22 Oktober 2009 dari

http://www.djlk.depkeu.go.id/danapensiun/Data/Peraturan/pnaker21995.P DF.

Rybash, J.W., Roodin P.A., and Santrock, J.W. (1991). Adult Development and Aging. 2ndedition.New York: Win C. Brown, Inc.

Santrock, John W. (2003). Life Span Development, Perkembangan Masa Hidup Jilid 2.Jakarta: Erlangga.

_______________. (2007). A Topical Approach to Life-Span Development 3rd Edition.Dubuque, Iowa: Mc Graw Hill.

Saragih, Juliana. (2006).Pola Penyesuaian Diri Pada Pensiunan.Diakses tanggal 9 Maret 2008 darihttp://library.usu.ac.id/download/fk/06009833.pdf

Saputra, Triantoro Safaria. (2007).Pengaruh Terapi perilaku Kognitif Terhadap Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun.Diakses tanggal 23 September 2009dari http://binaedupsikologia.blogspot.com/2007/08/pengaruh-terapi-perilaku-kognitif.html.

Sugiyono. (2000).Statistik untuk penelitian. Bandung: Alfabeta

Triantoro, Safaria. (2004).Terapi Kognitif-Perilaku Untuk Anak. Yogyakarta: Penerbit Graha Ilmu.

Wangmuba. (2009).Artikel:Faktor-faktor Penyebab Kecemasan.

Diambil tanggal 20 Maret 2009 dari

http://wangmuba.com/2009/02/13/faktor-faktor-penyebab-kecemasan/

(67)
(68)

SKALA UJI COBA PENELITIAN

Jurusan Psikologi

Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma

(69)

Dengan hormat,

Di tengah kesibukan Bapak dalam menjalankan tugas, perkenankanlah saya memohon kesediaan anda untuk meluangkan waktu sejenak guna mengisi pernyataan dalam skala yang saya lampirkan berikut.

Kesediaan anda dalam penelitian ini sangat saya butuhkan dalam penyusunan tugas akhir di Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma. Guna mencapai maksud tersebut, saya sangat mengharapkan kesediaan anda untuk mengisi lengkap setiap pernyataan sesuai dengan keadaan, perasaan dan pikiran anda saat ini tanpa dipengaruhi oleh siapapun karena tidak ada jawaban benar maupun salah. Semua jawaban yang anda berikan benar apabila sesuai dengan keadaan yang dialami oleh anda.

Semua identitas dan jawaban anda, saya jamin kerahasiaannya. Saya harap jangan sampai ada pernyataan yang terlewat atau tidak terjawab.

Atas waktu dan kesedian anda, saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya,

(70)

Nama :

Usia :

Status : ( ) Menikah ( ) Lajang

* Beri tanda silang (X) pada kolom yang sesuai dengan jawaban anda.

 Jika sudah berkeluarga, jumlah tanggungan anggota keluarga anda sebanyak

……

 Anda akan pensiun …. tahun lagi.

 Apakah anda memiliki sumber pendapatan lain selain pendapatan dari

pekerjaan?

( ) Ya ( ) Tidak

 Pihak perusahaan memberikan bimbingan baik berupa pelatihan maupun

(71)

Berikut ini disajikan 64 buah pernyataan. Anda diharapkan untuk memilih salah satu pernyataan yang paling menggambarkan diri Anda dengan cara memberikan tanda silang (X) pada pilihan :

SS : bila Anda Sangat Setuju dengan pernyataan

S : bila Anda Setuju dengan pernyataan

TS : bila Anda Tidak Setuju dengan pernyataan

STS : bila Anda Sangat Tidak Setuju dengan pernyataan

Bila Anda ingin mengganti jawaban Anda, maka berilah tanda berupa dua garis horizontal pada jawaban yang salah (X) dan berilah tanda silang (X) pada jawaban yang Anda anggap sesuai dengan diri Anda.

Contoh :

Pernyataan SS S TS STS

Saya gelisah memikirkan persoalan ekonomi setelah pensiun

X X

(72)

TS : Tidak Setuju

STS : Sangat Tidak Setuju

No. Pernyataan SS S TS STS

1 Saat memikirkan pensiun, tangan dan kaki saya terasa dingin.

2 Ketika serius memikirkan pensiun, hal itu tidak sampai membuat tangan dan kaki saya menjadi dingin.

3 Saya khawatir jika tidak dapat menghidupi keluarga setelah pensiun nanti.

4 Jantung saya berdetak kencang bila membayangkan masa pensiun.

5 Memikirkan kebutuhan ekonomi keluarga setelah pensiun membuat saya sulit berkonsentrasi saat ini. 6 Saya tidak berkecil hati dalam

menghadapi pensiun.

7 Saya akan menghindar ketika teman-teman atau keluarga sedang bicara tentang pensiun.

(73)

STS : Sangat Tidak Setuju

No. Pernyataan ST S TS STS

9 Membayangkan masa pensiun tidak sampai membuat jantung saya berdebar-debar.

10 Saya tidak merasa resah meski memikirkan tidak lagi memiliki aktivitas setelah pensiun.

11 Menghadapi pensiun yang tidak lama lagi membuat saya kecil hati.

12 Pikiran tentang kebutuhan keluarga setelah pensiun tidak mempengaruhi konsentrasi saya saat ini.

13 Saya tidak khawatir memikirkan bagaimana membiayai keluarga setelah pensiun nanti.

14 Saya resah bila membayangkan setelah pensiun nanti tidak memiliki aktivitas kerja lagi.

15 Membayangkan kehilangan pekerjaan setelah pensiun membuat saya banyak berkeringat.

(74)

STS : Sangat Tidak Setuju

No. Pernyataan ST S TS STS

17 Saya sulit tidur ketika memikirkan tidak lama lagi akan pensiun.

18 Saya dan rekan-rekan kerja saling bertukar pendapat ketika membahas masalah ekonomi setelah pensiun. 19 Membayangkan kehidupan ekonomi

setelah pensiun nanti membuat saya bingung memikirkannya.

20 Saya bingung akan melakukan kegiatan apa setelah pensiun.

21 Saya tidak berkeringat meski membayangkan kehilangan pekerjaan setelah pensiun.

22 Saya gelisah memikirkan persoalan ekonomi keluarga setelah pensiun. 23 Pikiran-pikiran tentang pensiun tidak

sampai menggangu pola tidur saya. 24 Saya merasa ketakutan akan kesepian

setelah pensiun.

25 Saat membayangkan kehidupan ekonomi setelah pensiun nanti tidak

membuat saya bingung

memikirkannya.

(75)

STS : Sangat Tidak Setuju

No. Pernyataan ST S TS STS

27 Meski belum ada rencana pasti setelah pensiun nanti, saya malas memikirkannya saat ini.

28 Saya tidak tersinggung ketika istri saya mengajak bicara tentang keadaan ekonomi setelah pensiun nanti.

29 Saya tidak takut menghadapi kesepian setelah pensiun nanti.

30 Membayangkan penghasilan yang akan berkurang setelah pensiun membuat kepala saya terasa pusing. 31 Membayangkan tidak adanya kegiatan

setelah pensiun, tidak membuat dada saya terasa sesak.

32 Memikirkan pensiun tidak membuat saya menjadi mudah pelupa.

33 Saya bingung bagaimana harus membiayai keluarga kelak setelah pensiun terkait dengan adanya tanggungan.

34 Saya malas membahas tentang pensiun.

(76)

STS : Sangat Tidak Setuju

No. Pernyataan ST S TS STS

36 Belum adanya rencana kegiatan setelah pensiun tidak membuat saya bingung.

37 Bayangan akan kesepian setelah pensiun nanti membuat saya banyak diam.

38 Saya tidak merasa sedih meski tidak lagi mengalami kebersamaan dengan rekan-rekan kerja setelah pensiun nanti.

39 Meski belum pasti, saya mau memikirkan rencana setelah pensiun nanti.

40 Jika membayangkan akan menjadi “pengangguran” setelah pensiun, saya menjadi tidak berselera makan.

41 Saya tetap dapat berpikir dengan jernih meski sedang banyak berpikir tentang pensiun.

42 Sulitnya kehidupan membuat saya tidak percaya diri untuk hadapi pensiun nanti.

(77)

STS : Sangat Tidak Setuju

44 Membayangkan akan kesepian setelah pensiun membuat saya enggan membicarakannya.

45 Memikirkan berkurangnya penghasilan setelah pensiun tidak membuat kepala saya pusing.

46 Memikirkan masa pensiun tidak mengganggu berkonsentrasi dengan pekerjaan saya saat ini.

47 Saya menjadi mudah pelupa ketika memikirkan pensiun.

48 Jika orang lain atau keluarga mengajak bicara mengenai pensiun, hal itu tidak membuat saya cepat tersinggung.

49 Bayangan akan kesepian setelah pensiun tidak membuat saya hanya berdiam diri.

50 Membayangkan kehilangan pekerjaan setelah pensiun membuat saya diam saja memikirkannya.

51 Bayangan tidak lagi bekerja setelah pensiun, tidak membuat perut saya mulas.

(78)

STS : Sangat Tidak Setuju

53 Saya dengan senang hati mau memikirkan persiapan pensiun nanti. 54 Perut saya terasa mulas ketika

membayangkan tidak lagi bekerja setelah pensiun.

55 Saya sulit berkonsentrasi dengan pekerjaan saat ini ketika memikirkan masa pensiun.

56 Meski tidak lama lagi saya tidak dapat bekerja seperti teman-teman di kantor tapi hal itu tidak membuat saya rendah diri.

57 Saya tersinggung jika isteri mengajak bicara tentang keadaan ekonomi setelah pensiun nanti.

58 Bayangan akan kesepian setelah pensiun tidak membuat saya enggan membicarakannya.

59 Membayangkan tidak adanya kegiatan setelah pensiun membuat dada saya terasa sesak.

(79)

STS : Sangat Tidak Setuju

No. Pernyataan ST S TS STS

61 Saya cepat tersinggung saat ini bila ada orang atau keluarga mengajak bicara tentang pensiun.

62 Meskipun setelah pensiun akan kehilangan pekerjaan tetapi tidak membuat saya hanya berdiam diri memikirkannya.

63 Membayangkan setelah pensiun akan kehilangan kebersamaan dengan rekan-rekan kerja membuat saya sedih.

(80)
(81)
(82)
(83)
(84)
(85)
(86)
(87)
(88)
(89)

Case Processing Summary

a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's

Alpha N of Items

.928 44

item1 86.65 162.044 .467 .927

item2 86.19 162.267 .377 .928

item3 86.50 164.670 .336 .928

item5 86.39 162.619 .482 .927

item6 86.44 162.855 .423 .927

item8 86.46 163.159 .526 .926

item9 86.13 161.700 .495 .926

item10 86.26 161.667 .497 .926

item11 86.63 167.936 .314 .928

item12 86.44 161.119 .516 .926

item13 86.37 160.615 .565 .926

item19 86.33 163.019 .451 .927

item20 86.37 162.728 .430 .927

item21 86.31 158.220 .720 .924

(90)

item26 86.59 164.850 .450 .927

item27 86.22 165.233 .396 .927

item28 86.46 163.763 .486 .926

item29 86.52 165.952 .499 .927

item30 86.39 163.412 .456 .927

item31 86.00 163.774 .414 .927

item32 86.20 162.807 .551 .926

item33 86.33 165.698 .369 .927

item34 86.31 164.673 .456 .927

item37 86.52 166.292 .468 .927

item38 86.13 164.266 .387 .927

item41 86.61 167.676 .350 .928

item42 86.46 164.668 .574 .926

item44 86.43 164.362 .596 .926

item46 86.59 165.642 .459 .927

item47 86.48 168.330 .309 .928

item50 86.54 164.102 .505 .926

item52 86.41 165.038 .635 .926

item53 86.67 164.038 .541 .926

item55 86.43 164.325 .422 .927

item56 86.56 164.440 .594 .926

item57 86.30 163.571 .557 .926

item58 86.09 162.689 .493 .926

item59 86.52 166.519 .446 .927

item61 86.37 167.521 .385 .927

(91)
(92)

Disusun oleh :

Nama : Veronika Alitta Yulianti NIM : 059114081

Jurusan Psikologi

Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma

(93)

Dengan hormat,

Di tengah kesibukan Bapak dalam menjalankan tugas, perkenankanlah saya memohon kesediaan anda untuk meluangkan waktu sejenak guna mengisi pernyataan dalam skala yang saya lampirkan berikut.

Kesediaan anda dalam penelitian ini sangat saya butuhkan dalam penyusunan tugas akhir di Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma. Guna mencapai maksud tersebut, saya sangat mengharapkan kesediaan anda untuk mengisi lengkap setiap pernyataan sesuai dengan keadaan, perasaan dan pikiran anda saat ini tanpa dipengaruhi oleh siapapun karena tidak ada jawaban benar maupun salah. Semua jawaban yang anda berikan benar apabila sesuai dengan keadaan yang dialami oleh anda.

Semua identitas dan jawaban anda, terjamin kerahasiaannya. Saya berharap semua pertanyaan dapat semua terjawab tanpa ada yang terlewati.

Atas waktu dan kesedian anda, saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya,

(94)

Nama :

Usia :

Status : ( ) Menikah ( ) Lajang

* Beri tanda silang (X) pada kolom yang sesuai dengan jawaban anda.

 Jika sudah berkeluarga, jumlah tanggungan anggota keluarga anda sebanyak

……

 Anda akan pensiun …. tahun lagi.

 Apakah anda memiliki sumber pendapatan lain selain pendapatan dari

pekerjaan?

( ) Ya ( ) Tidak

 Pihak perusahaan memberikan bimbingan baik berupa pelatihan maupun

(95)

Berikut ini disajikan 64 buah pernyataan. Anda diharapkan untuk memilih salah satu pernyataan yang paling menggambarkan diri Anda dengan cara memberikan tanda silang (X) pada pilihan :

SS : bila Anda Sangat Setuju dengan pernyataan

S : bila Anda Setuju dengan pernyataan

TS : bila Anda Tidak Setuju dengan pernyataan

STS : bila Anda Sangat Tidak Setuju dengan pernyataan

Bila Anda ingin mengganti jawaban Anda, maka berilah tanda berupa dua garis horizontal pada jawaban yang salah (X) dan berilah tanda silang (X) pada jawaban yang Anda anggap sesuai dengan diri Anda.

Contoh :

Pernyataan SS S TS STS

Saya gelisah memikirkan persoalan ekonomi setelah pensiun

X X

(96)

TS : Tidak Setuju

STS : Sangat Tidak Setuju

No Pernyataan SS S TS STS

1 Saat memikirkan pensiun, tangan dan kaki saya terasa dingin.

2 Ketika serius memikirkan pensiun, hal itu tidak sampai membuat tangan dan kaki saya menjadi dingin.

3 Saya khawatir jika tidak dapat menghidupi keluarga setelah pensiun nanti.

4 Memikirkan kebutuhan ekonomi keluarga setelah pensiun membuat saya sulit berkonsentrasi saat ini. 5 Saya tidak berkecil hati dalam

menghadapi pensiun.

6 Saya menjadi lebih banyak diam ketika membahas masalah ekonomi setelah pensiun bersama rekan-rekan kerja.

7 Membayangkan masa pensiun tidak sampai membuat jantung saya berdebar-debar.

(97)

TS : Tidak Setuju

STS : Sangat Tidak Setuju

No Pernyataan SS S TS STS

9 Menghadapi pensiun yang tidak lama lagi membuat saya kecil hati.

10 Pikiran tentang kebutuhan keluarga setelah pensiun tidak mempengaruhi konsentrasi saya saat ini.

11 Saya tidak khawatir memikirkan bagaimana membiayai keluarga setelah pensiun nanti.

12 Membayangkan kehidupan ekonomi setelah pensiun nanti membuat saya bingung memikirkannya.

13 Saya bingung akan melakukan kegiatan apa setelah pensiun.

14 Saya tidak berkeringat meski membayangkan kehilangan pekerjaan setelah pensiun.

(98)

TS : Tidak Setuju

STS : Sangat Tidak Setuju

No Pernyataan SS S TS STS

16 Pikiran-pikiran tentang pensiun tidak sampai menggangu pola tidur saya.

17 Saya merasa ketakutan akan kesepian setelah pensiun.

18 Saat membayangkan kehidupan ekonomi setelah pensiun nanti tidak membuat saya bingung memikirkannya.

19 Saya tetap bersikap tenang meski memikirkan persoalan ekonomi setelah pensiun.

20 Saya malas membahas tentang pensiun. 21 Meski belum ada rencana pasti setelah

pensiun nanti, saya malas memikirkannya saat ini.

22 Saya tidak tersinggung ketika istri saya mengajak bicara tentang keadaan ekonomi setelah pensiun nanti.

(99)

TS : Tidak Setuju

STS : Sangat Tidak Setuju

No Pernyataan SS S TS STS

24 Membayangkan penghasilan yang akan berkurang setelah pensiun membuat kepala saya terasa pusing. 25 Membayangkan tidak adanya kegiatan

setelah pensiun, tidak membuat dada saya terasa sesak.

26 Memikirkan pensiun tidak membuat saya menjadi mudah pelupa.

27 Saya menjadi sulit berpikir jernih bila membayangkan masa pensiun.

28 Saya bingung bagaimana harus membiayai keluarga kelak setelah pensiun terkait dengan adanya tanggungan.

29 Bayangan akan kesepian setelah pensiun nanti membuat saya banyak diam.

(100)

TS : Tidak Setuju

STS : Sangat Tidak Setuju

No Pernyataan SS S TS STS

31 Saya tetap dapat berpikir dengan jernih meski sedang banyak berpikir tentang pensiun.

32 Sulitnya kehidupan membuat saya tidak percaya diri untuk hadapi pensiun nanti.

33 Saya menjadi mudah pelupa ketika memikirkan pensiun.

34 Membayangkan akan kesepian setelah pensiun membuat saya enggan membicarakannya.

35 Memikirkan masa pensiun tidak mengganggu berkonsentrasi dengan pekerjaan saya saat ini.

36 Saya sulit berkonsentrasi dengan pekerjaan saat ini ketika memikirkan masa pensiun.

Gambar

Tabel 1.1SEBARAN BUTIR SKALA
Tabel 1.2
Tabel 1.3
Tabel 1.4
+3

Referensi

Dokumen terkait

Perubahan-perubahan menghadapi masa pensiun dapat menimbulkan goncangan mental yang tidak dapat dielakkan. Hal ini disebabkan karena adanya perasaan tidak rela untuk

Instrumen penelitian ini menggunakan skala kecerdasan spiritual yang terdiri dari 24 aitem dengan (r) = 0,962 dan skala kecemasan menghadapi masa pensiun yang terdiri dari 24

Dimana tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui apakah ada perbedaan tingkat kecemasan antara guru negeri dengan guru swasta dalam menghadapi masa pensiun?.. Penelitian

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara Kecerdasan Emosi dengan Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun Pada Pegawai. Berdasarkan hasil tersebut maka peneliti

ada hubungan antara kecemasan menghadapi pensiun dengan semangat kerja

Penelitian ini bertujuan untuk melihat adanya hubungan keharmonisan pernikahan dengan kecemasan menghadapi masa pensiun pada karyawan BUMN.. Penelitian ini melibatkan 57

Berdasarkan berbagai pengertian tentang kecemasan dan pengertian pensiun di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kecemasan menghadapi pensiun adalah suatu keadaan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian hubungan religiusitas dengan kecemasan menghadapi masa pensiun pada Bintara Polisi Republik Indonesia (Polri) adalah adanya