• Tidak ada hasil yang ditemukan

IAN DENGAN NYERI DI RUANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "IAN DENGAN NYERI DI RUANG"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

i

ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN RASA AMAN DAN NYAMAN DENGAN NYERI DI RUANG INAYAH

PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir Uji Komprehensif Jenjang Pendidikan Diploma III Keperawatan

Pendidikan Ahli Madya Keperawatan

HENI SEPTININGSIH A01301758

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG

(2)
(3)
(4)

iv Program Studi D III Keperawatan

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

KTI, Juli 2016

Heni Septiningsih1, Fajar Agung Nugroho2, S.Kep.,Ns. MNS

ABSTRAK

ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN RASA AMAN DAN NYAMAN DI RUANG INAYAH

PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG

Analisa data: Ny. T umur 55 tahun dengan diagnosa nefrolitiasis dari hasil pengkajian diperoleh data nyeri bertambah saat bergerak dan berkurang saat istirahat, nyeri seperti ditekan tekan, nyeri dibagian pinggang sebelah kiri, nyeri hilang timbul. Dari data tersebut diperoleh masalah keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis

Latar belakang: batu saluran kemih merupakan keadan patalogis dimana ada massa seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih.

Diagnosa keperawatan: nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis (nyeri pinggang akibat batu ginjal), gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri (proses penyakit), kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit

Intervensi: pantau nyeri secara komprehensif (PQRS) ajarkan metode non farmakologi seperti nafas dalam, lakukan pengukuran tanda-tanda vital, kolaborasi pemberian analgesik, anjurkan klien untuk istirahat adekuat, beri pndidikan kesehatan tentang penyakit batu ginjal.

Evaluasi: maslah nyeri berkurang dari skala 5 menjadi 3

Rekomendasi: Dikstrasi dan relaksasi untuk menurunkan rasa nyeri

Kata kunci: Asuhan Keperawatan, Nyaman, Relaksasi nafas dalam

(5)

v Nursing Diploma Study Program

College of Health Sciences Muhammadiyah Gombong

KTI, July 2016

Heni Septiningsih1, Fajar Agung Nugroho2, S.Kep., Ns. MNS

ABSTRACT

NURSING CARE ON MEETING

THE NEEDS OF SAFETY AND COMFORT IN THE ROOM INAYAH PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG

Data analisys: Mrs T the age of 55 years with a diagnosis of nefrolitiasis of the result of the assesment obtained pain wores when moving and reduces pain at rest as in tap tap in the waist left without pain arsing from the fata obtained nursing problems of acute pain associated with injuri to biological agents.

Background: urinary tract stones is a pathologicial condition in which there is a mass like a stone formed in the urinary trach.

Nursing diagnosis: acute pain associated with injury to biological agents ( low back pain due to kidney stones ) , disruption of sleep patterns associated with pain ( disease process ) , lack of knowledge related to the lack of information about the disease

Intervention: pain comprehensively monitor ( PQRS ) teaches non-pharmacological methods such as deep breathing , perform measurements of vital signs , collaboration analgesics , encourage clients to adequate rest, give pndidikan health of kidney stone disease .

Evaluation: pain problem overcomed from skala of pain with 5 become to 2 Recommendation: Distraction and Relaxation to reduce pain

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Asalamualaikum Warohmatulohi Wabarokatuh

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN

KEBUTUHAN RASA AMAN DAN NYAMAN DENGAN NYERI DI RUANG INAYAH RS PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG” yang dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 2015 sampai 18 Juni 2015. Adapun tujuan pembuatan karya tulis ilmiah ini untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Program Diploma III Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong Tahun Akademik 2016/2017. Dalam menyelesaikan penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapat hambatan, namun berkat bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak akhirnya karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan.

Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak M. Madkhan Anis, S. Kep., Ns. Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

2. Bapak Sawiji, S. Kep., Ns., M.Sc selaku Ketua Program Studi DIII Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

3. Bapak Fajar Agung Nugroho, S.Kep., Ns. MNS selaku dosen pembimbing

4. Segenap keluarga dan pasien Ny.T yang telah meluangkan waktunya 5. Segenap perawat dan seluruh seluruh staf serta tim kesehatan Ruang

Inayah RS PKU Muhammadiyah Gombong yang telah memberikan

(7)

vii

6. Ibu Ike Mardiati Agustin, S.Kep.Ns, M.Kep selaku dosen dewan penguji

7. Seluruh Dosen dan Staf STIKES Muhammadiyah Gombong yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah membimbing dan memberikan materi selama belajar di STIKES Muhammadiyah Gombong

8. Untuk kedua orangtua terutama ibu penulis yang telah mendoakan penulis dengan tiada henti sehingga penulis mampu menyelesaikan

karya tulis ini

9. Aziz Dwi Nugroho penulis mengucapkan banyak terimakasih yang telah senantiasa dengan sabar mendampingi penulis memulai karya tulis ini dari awal sampai selesai dan memberikan semangat serta motivasi

10.Teman-teman seperjuangan Mila, Risa, Ika, sindy, Lina, Ikhlas, Meta yang telah berjuang bersama penulis mengucapkan banyak terimakasih.

11.Teman-teman seperjuangan Prodi DIII Keperawatan yang telah, memberi semangat dan motivasi untuk menyelesaikan tugas ini penulis mengucapkan terima kasih

12.Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang telah memberikan saran, bantuan dan doanya sehingga karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Semoga Allah SWT selalu berkenan memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua, Amien.

Wasalamu’alaikum Warohmatulohi Wabarokatuh.

Gombong,

(8)

viii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan ... 5

C. Manfaat ... 5

BAB II KONSEP DASAR ... A. Konsep Dasar ... 8

B. Proses Menejemen nyeri ... 9

C. Klasifikasi nyeri ... 10

BAB III RESUME KEPERAWATAN ... A. Pengkajian ... 19

B. Analisa Data ... 21

(9)

ix

BAB IV PEMBAHASAN ...

A. Asuhan Keperawatan ... 24 B. Analisa Inovasi Tindakan Keperawatan... 29

BAB V PENUTUP ...

A. Kesimpulan ... 35 B. Saran ... 36

DAFTAR PUSTAKA ... 37

(10)

BAB 1 PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Batu saluran kemih merupakan keadaan patologis dimana ada massa seperti batu yang terbentuk disepanjang saluran kencing dan dapat menyebabkan nyeri, infeksi dan perdarahan. Terbentuknya batu karena air

kemih jenuh dengan garam garam yang dapat membentuk batun atau karena air kemih kekurangan materi materi yang dapat menghambat bembentukan batu, kuranggya produksi air kencing dan keadaan keadaan idiopatik. Lokasi batu saluran kemih di jumpai khas di pelvis dan apabila akan keluar terhenti di ureter atau kandung kemih (Stoller, 2011)

Penyakit ini rata rata sering di derita oleh laki laki, penyakit ini menyerang sekitar 4% dari 100 penderita batu ginjal seluruh populasi dengan rasio pria wanita 4 : 1 dan penyakit ini disertai morbolitas yang besar karena rasa nyeri yang berbeda didaerah ginjal perbandingan yang sangat signifikan penyakit batu ginjal paling banyak pada laki- laki dewasa dan penyakit batu ginjal sering muncul pada daerah pegunungan wilayah

yang banyak terdapat kapur dan lelumutan hal ini menurut pendapat ( Harumi, 2008)

Menurut WHO di seluruh dunia rata- rata terdapat 1-2% penduduk yang menderita batu ginjal dari jumlah 100 penderita penyakit ini merupakan penyakit terbanyak di bidang urulogi. Di Amerika serikat merupakan penyakit terbanyak yang mengalami penyakit sistem perkemihan terutama batu ginjal dengan presentase 30% dari jumlah 100.000 jumlah penderita batu ginjal Di Negara barat lebih 90% batu

saluran kemih diterapi secara minimal invasif atau endourologi, dan sisanya secara medikamentosa maupun operatif. Hal ini disebabkan cukup

(11)

2

disebabkan cukup banyak komplikasi yang dapat terjadi pada operasi terbuka. Di Negara barat terapi dengan minimal invasif atau endourologi sering lebih murah dibanding operasi terbuka. Sedangkan dinegara berkembang keadaan ini dapat sebaliknya.

Suatu hal yang sangat memperhatinkan yaitu tingginya angka kambuh pasca pengobatan baru saluran kemih. Berbagai pnelitian melaporkan kambuhan tahun pertama berkisar antara 15- 27% dalam 4- 5

tahun berkisar 40- 67,5% dan terbentuknya batu saluran kemih disebabkan oleh faktor intriksik yang terdiri dari faktor genetik sebanyak 25% dan non genetik 75%. Faktor intrinsik non genetik misal umur,jenis kelamin, ras dan sebagainya. Selain itu dipengaruhi oleh faktor ekstersik seperti faktor geografis, musim, iklim, dan gaya hidup seperti pekerjaan, pola makan dan minum, stres psikis, kegemukan, olah raga, pH air kemis statis dan lainya.

Mengingat penyakit baru saluran kemih dapat menimbulkan rasa sakit yang ringan sampai yang hebat, dan dapat menimbulkan komplikasi yang ringan samapai yang tidak sedikit maka pengetahuan tentang gaya hidup dan pola makanan dengan terbentuknya batu saluran kemih, perlu diketahui penyakit batu ginjal merupakan masalah kesehatan yang cukup bermakna baik di Indonesia maupun Dunia. Pravelensi penyakit batu ginjal dalam presentase 100 penderita diperkirakan 12% pada laki- laki dewasa dan 6% pada wanita dewasa 7% batu ginjal didapatkan pada saluran ginjal pada anak- anak sering kali di temukan pada kasus batu ginjal pada laki- laki dewasa dan pada daerah pegunungan yang banyak mengkonsumsi zat kapur ( Worcester & Ceo, 2011).

Angka kejadian batu ginjal di Indonesia pada tahun 2011 berdasarkan data yang dikumpulkan dari rumah sakit di selruh Indonesia adalah 37.636 kasus baru, dengan jumlah kunjungan sebesar 58.959 orang. Sedangkan jumlah pasien yang dirawat adalah sebesar 19.018 orang.

(12)

3

Menurut Muslihin (2008) berdasarkan data pemerintah seperti yang terangkum dalam journal of urologi di jawa tengah kasus batu ginjal pasda anak anak tercapai 57 dari 100.000 anak yang dirawat di rumah sakit sekitar pada tahun 2012 naik dari 18 per 100.000 pada 1999. Adanya obesitas resiko pada batu ginjal dan di daerah jawa tengah ada peningkatan pada kasus urulogi terutama batu pada ginjal urulogi yang sering di temukan antara lain infeksi saluran kemih, BPH namun yang terbanyak adalah ginjal

Pada penelitian di rumah sakit karyadi semarang jawa tengah ternyata jumlah penyakit penderita batu ginjal pada tahun 2010 naik dari 32,8% menjadi 39,1% pada tahun 2012 dengan presentase 100.000 dari penderita batu ginjal. Batu ginjal jarang ditemukan pada anak namun tidak menutupi kemungkinan pada anak dan batu ginjal dapat berkembang di pediatri. Pasien akbiat gangguan metabolisme anatomi kelainan pada saluran kemih, infeksi atau faktor lingkungan dan nutrisi (Alpay, 2012). Sebuah evaluasi metabolic penuh dan mengkaji tingkat nyeri karena penderita sering kali mengeluh nyeri pada pelvis pada umunnya menyeluruh harus dilakkan analisa batu dan tingkat nyeri terapi nyeri dalam mengarahkan penyelidikan ini tindakan relaksasi merupakan cara nonfarmokologi untuk mengurangi nyeri selain obat karna mampu memeberikan sentuhan terapeutik (trihono, 2011).

Dari hasil penelitian Ernawati. Tri Hartini dan Idris Hadi (2013) mengatakan bahwa dari 50 orang yang mengalami nyeri sebelum dilakukan teknik relaksasi nafas dalam sebagai nyeri sedang sebanyak 31 orang sedangkan yang terendah nyeri ringan sebanyak 9 orang. Nyeri setelahn dilakukan relaksasi nafas dalam menjadi nyeri ringan sebanyak

35 orang. Nyeri sedang 11 orang dan menderita 4 orang. Hal ini sesuai dengan teori gate control yang dikemukakan oleh ( Wall, 1978).

(13)

4

kemih kasus ini merupakan angka penyakit terbanyak ketiga pada penderita batu ginjal pada kasus awal biasanya diawali dengan rasa mual, nyeri pinggang dan punggung bawah seringkali juga mengalami demam karna faktor nyeri yang dirasa ( Diana, 2010).

Batu saluran kemih sudah diderita manusia sejak zaman dahulu kala. Hal ini dibuktikan dengan diketahui adanya batu saluran kemih pada mummi mesirHippetrates yang merupakan bapak ilmu kedokteran menulis 4 abad sebelum masehi tentang penyakit batu ginjal disertai abses ginjal

dan penyakit gout yang diderita pada pasien batu ginjal serangan nyeri pada pinggang merupakan efek dari penderita batu ginjal ( Diana, 2010).

Penyakit ini merupakan penyakit ketiga terbanyak dibidang urulogi setelah penyakit infeksi dan penyakit kelenjar prostat. Pada tahun 2007 menjadi 73% pada tahun 2010 dengan presentase 100.000 penderita batu ginjal. Dari analisa baru disemarang didapatkan paling banyak batu jenis kalsium yaitu oksalat 53,3%. Kalsium filsat 9,2%, batu struvit 12,5% batu urat 5,5% dan sisanya campuran. Di Jakarta dari hasil data analisa batu mirip dengan di Semarang yaitu kalsium oksalat ( Nugroho aji, 2010).

Akibat adanya batu saluran kemih bisa bervariasi mulai yang paling ringan berupa rasa sakit, probelma kesukaran kecnsing. Divertikel buli, neoplasma. Hidronfrosis. Gangguan fungsi ginjal dan bahkan bisa sampai yang paling berat berupa kematian akibat gagal ginjal atau uroseposis. Pengobatan dapat berupa medikamentosa. Iitoripsi. URS ( Urefecorenoscopy lithotripsy ) PCN ( percutanesus nephrolthotripsy )

dan ESWL ( Extra Corporsal Shock Weve Lithoripsy ). Setiap cara pengobatan tersebut mempunyai keterbatasan dan keunggulan masing- masing baik menyangkut indikasi keberhasilan, komplikasi maupun biaya.

(14)

5

mempunyai pengapuran ginjal sebanyak 52% hal ini disebabkan aliran darah pada papilla ginjal bertolak 180 drajat dan aliran darah berupa dari aliran laminar menjadi aliran aliran disebut juga perkapuran ginjal yang dapat berubah menjadi batu.

Berdasarkan data tersebut di atas penulis tertarik untuk memberikan Auhan Keperawatan pada ny. T dengan Nefrolitiasi ( Batu Ginjal ) agar dapat beradaptasi dengan nyeri pinggung dan nyeri kandung kemih dengan menggunakan sedehana mudah dan efektif mengurangi rasa

nyeri dalam bentuk penyusunan.

B. TUJUAN PENULIS 1. Tujuan umum

Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan dengan masalah nyeri pada pasien dengan neofrolitiasis ( batu ginjal)

2. Tujuan khusus

a. Mahasiswa mampu melakkan pengkajian yang meliputi penyebab maslah kesehatan dan masalah keperawatan pada pasien dengan nefrolitiasis (batu ginjal)

b. Mahasiswa mampu menganalisa masalah keperawatan dengan penyakit utama nefrolitiasis (batu ginjal)

c. Mahasiswa mampu menemukan diagnose keperawatan dengan penyakit utama nefrolitiasis (batu ginjal)

d. Mahasiswa mampu melakukan keperawatan dengan masalah nefrolitiasis (batu ginjal)

e. Mahasiswa mampu melakukan tindakan keperawatan dengan masalah nefrolitiasis (batu ginjal)

f. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi keperawatan dengan

(15)

6

C. MANFAAT

1. Manfaat bagi pasien dan keluarga

a. Memberikan informasi kepada klien dan keluarga tentang nyeri b. Memberikan informasin kepada klien dan keluarga tentang cara

mengatasi nyeri secara farmakologi dan nonfarmakologi 2. Manfaat bagi rumah sakit

a. PKU Muhammadiyah lenih meningkatkan pelayanan keperawatan khususnya pada opasien batu ginjal

b. Para perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada opasien batu ginjal sesui dengan masalah yang timbul

3. Manfaat bagi Stikes Muhammadiyah Gombong

a. Menambah referensi pembelajaran tentang cara pengkajian nyeri dan cara mendokumentasikan asuhan keperawatan klien dengan masalah keperawatan nyeri

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Bare (2007) Buku saku praktikum kebutuhan dasar manusia Jakarta : EGC

Depkes RI, Direktorat jendral PPN & PL.(2005). Keputusan Menkes RI No 1216/Menkes/SK/XI/2010 Tentang pedoman Penyakit Urologi edisi 4

Dinkes Jateng. (2010) Hasil Kegiatan Laporan penanggulangan penyakit. Semarang:Bagian Urologi Dinkes Jateng

DochTerman, J.M,. & Bulechek, G.M .( 2008) Nursing intervetion klasifikation (Fourth Edition).st.lowis misouri: mosby company.

Diana (2010) Fisiologi ginjal dan saluran kemih. Bagian urologi fakultas kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Ernawati., Hartini & hadi (2012). Terapi Relaksasi terhadap nyeri pada mahasiswa universitas muhammadiyah semarang

Harumi (2008) fisiologi kedokteran. Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta

Ernawati, Hartini, trihadi, idris ( 2009 ) Terapi relaksasi terhadap nyeri. Fakultas ilmu keperawatan dan kesehatan, Unifersitas Muhammadiyah Semarang.

Herdeman (2012) Diagnosis keperawatan Definisi dan klasifikasi 2012- 2014. Penerbit buku kedokteran Jakarta : EGC

Kozier (2009) Buku Ajaran Praktek Keperawatan Klinis Jakarta: EGC

Mubarak & Cahyatin (2007) Kebutuhan Dasar Buku Ajaran Manusia Teori dan Aplikasi Dalam Praktik. Jakarta: EGC

Pery & Potter (2006) Buku Ajaran Funda Mental Keperawatan Jakarta: EGC

Smeltzer (2006) Buku Ajaran MedikalBedah Bruner & Sudart Folt. 2 Jakarta: EGC

Smeltzer & Bare ( 2006) Buku Ajaran Medikal Bedah Bruner & Sudrat Folt. 1

Jakarta: EGC

(17)

Koto (2015) Buku keperawatan konsep nyeri Bandung: Universitas padjajaran, Bandung

Muslihin (2008) faktor faktor kejadian batu saluran kemih. Tesis Mahasiswa pasca sarjana Epidemiologi Universitas Diponegoro.

Nugroho Aji (2010) Lokasi batu ginjal dan komponen pembentukan batu saluran kemih, Jakarta

Ramali (2008) Kebutuhan dasar dan proses keperawatan Jakarta : EGC Potter &Perry (2006) Buku ajaran fundamental keperawatan edisi keempat

penerbit buku kedokteran Jakarta : EGC

Potter &Perry (2006) Buku ajaran fundamental keperawatan edisi keempat penerbit buku kedokteran Jakarta : EGC

Tamsuri (2007) Konsep dan Pelaksanaan Nyeri Jakarta: EGC

Tuner & Jensen (2010) Buku ajaran Funda mental keperawatan : konsep, proses dan praktik Jakarta : ECG

Qitum (2008) Metode penelitian keperawatan teknik relaksasi nafas dalam

Jakarta : Salemba medika.

(18)

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN : NEFROLITIASIS

Disusun oleh : HENI SEPTININGSIH

NIM : A01301758

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH

(19)

LAPORAN PENDAHULUAN NEFROLITIASIS

I. Pengertian

Nefrolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam pelvis renal batu-batu tersebut dibentuk oleh kristalisasi larutan urin (kalsium oksolat asam urat, kalium fosfat, struvit dan sistin). Ukuran batu tersebut bervareasi dari yang granular (pasir dan krikil) sampai sebesar buah jeruk. Batu sebesar krikil biasanya dikeluarkan secara spontan, pria lebih sering terkena penyakit ini dari pada wanita dan kekambuhan merupakan hal yang mungkin terjadi. (Mansjoer Arief, “Kapita Selekta Kedokteran” Edisi Kedua, Medikal Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2000)

Nefrolitiasis adalah Pembentukan deposit mineral yang kebanyakan adalah kalsium oksalatdan kalsium phospat meskipun juga yang lain urid acid dan kristal, juga membentuk kalkulus ( batu ginjal )

II. Penyebab / Etiologi

- Hiperkalsemia dan hiperkalsiuria yang disebabkan oleh hiperparatiroidisme,

asidosis tubulus renal, mieloma multiple. - Dehidrasi kronik.

- Imobilitas yang lama.

- Metabolisme purin ab normal (hiperuri semia dan pirai).

- Obstruksi kronik oleh benda asing di dalam traktus urinarius dan kelebihan absorbsi oksalat pada penyakit inflamasi usus atau ileastomi.

(Mansjoer Arief, “Kapita Selekta Kedokteran” Edisi Kedua, Medikal Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2000)

III. Manifestasi Klinis secara umum a) Kolik renal

b) Nyeri tekan kostovertebral c) Nyeri pinggang

d) Kulit yang dingin dan basah e) Gejala frekuensi pada urinasi f) Gejala urgensi pada urinasi g) Diaforesis

(20)

i) Takikardia

j) Menggigil dan demam k) Pucat

l) Nausea dan vomitus m)Sinkop membentuk endapan. Batu renal tersusun dari kalsium fosfat, oksalat atau asam urat.

Komponen yang lebih jarang membentuk batu adalah struvit atau magnesium, amonium, asam urat, atau kombinasi bahan-bahan ini. Batu ginjal dapat disebabkan oleh peningkatan pH urine (misalnya batu kalsium bikarbonat) atau penurunan pH urine (mis., batu asam urat). Konsentrasi bahan-bahan pembentuk batu yang tinggi di dalam darah dan urine serta kebiasaan makan atau obat tertentu, juga dapat merangsang pembentukan batu. Segala sesuatu yang menghambat aliran urine

dan menyebabkan stasis (tidak ada pergerakan) urine di bagian mana saja di saluran kemih, meningkatkan kemungkinan pembentukan batu. Batu kalsium, yang biasanya terbentuk bersama oksalat atau fosfat, sering menyertai keadaan-keadaan yang menyebabkan resorpsi tulang, termasuk imobilisasi dan penyakit ginjal. Batu asam urat sering menyertai gout, suatu penyakit peningkatan pembentukan atau penurunan ekskresi asam urat.

(21)

nefron karena suplai darah terganggu. Akhirnya dapat terjadi gagal ginjal jika kedua ginjal terserang. - Setiap kali terjadi obstruksi aliran urine (stasis), kemungkinan infeksi bakteri meningkat sehingga Dapat terbentuk kanker ginjal akibat peradangan dan cedera berulang.

Batu ginjal mungkin menyebabkan :

- Nyeri dengan adanya inflamasi, obstruksi dan abrasi traktus urinarius. - Adanya terjadi kekambuhan pada batu renal.

(Mansjoer Arief, “Kapita Selekta Kedokteran” Edisi Kedua, Medikal Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2000)

V. Pemeriksaan Penunjang

a. Foto BNO/KUB : akan terlihat adanya batu renal

b. Urografi ekskretori : untuk menentukan atau mengetahui ukuran dan lokasi batu

c. Kimia urine : didapatkan urine yang asam atau alkalis, piuria, proteinuria, hematuria, keberadaan WBC, peningkatan berat jenis urine.

d. CT Scan ginjal : akan terlihat batu renal

e. Pengumpulan urine 24 jam : terdapat peningkatan asam urat, oksalat, kalsium, fosfor, kreatinin

Batu saluran kemih

Resiko litrasis Operasi vesikoditalis Kurang pengetahuan

(22)

VI. Komplikasi

- Infeksi dan obstruksi. - Urotiliasis.

- Kerusakan fungsi ginjal. - Gagal ginjal akut. - Gagal ginjal kronis.

VII.Penatalaksanaan

- Karena batu ginjal meningkatkan resiko infeksi, sebsis dan obstruksi urinarius pasien di instruksikan melaporkan penurunan volume urin dan adanya urin yang keruh atau mengandung darah.

- Keluar urin total dan pola berkemih diperiksa.

- Meningkatkan pemasukan cairan di lakukan untuk mencegah dehidrasi dan meningkatkan tekanan hidrostaltik dalam traktus urinasius untuk mendorong pasase batu.

- Ambulasi didorong sebagai suatu cara untuk menggeser batu dari taktus urinarius.

- Tanda-tanda vital pasien mencakup suhu dipantau untuk mendeteksi tanda-tanda dini adanya infeksi.

- Segera melaporkan bila ada rasa nyeri.

- Analgesik diberikan sesuai resep untuk mengurangi nyeri. - Melakukan pembedahan untuk pengambilan batu ginjal.

(Mansjoer Arief, “Kapita Selekta Kedokteran” Edisi Kedua, Medikal Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2000)

ASUHAN KEPERAWATAN

Asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerja sama antara perawat dengan klien, keluarga dan masyarakat untuk mencapai kesehatan yang optimal.

(Suyono, Slamet, Dr, Prof, SPDO, KG, “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, FKUI, Jakarta, 2001)

A). Pengkajian 1. Identitas

(23)

Merupakan keluhan yang paling menggangu ketidak nyamanan dalam aktivitas atau yang menggangu saat ini.

3. Riwayat Kesehatan Sekarang

Di mana mengetahui bagaimana penyakit itu timbul, penyebab dan faktor yang mempengaruhi, memperberat sehingga mulai kapan timbul sampai di bawa ke RS.

4. Riwayat Kesehatan Penyakit Dahulu

Klien dengan batu ginjal didapatkan riwayat adaya batu dalam ginjal. 5. Riwayat Kesehatan Keluarga

Yaitu mengenai gambaran kesehatan keluarga adanya riwayat keturunan dari orang tua.

6. Riwayat psikososial

Siapa yang mengasuh klien, bagaimana hubungan dengan keluarga, teman sebaya dan bagaimana perawat secara umum.

B). Pola-pola Fungsi Kesehatan

1. Pola persepsi dan tata laksana hidup

Bagaimana pola hidup orang atau klien yang mempunyai penyakit batu ginjal dalam menjaga kebersihan diri klien perawatan dan tata laksana

hidup sehat.

2. Pola nutrisi dan metabolisme

Nafsu makan pada klien batu ginjal terjadi nafsu makan menurun karena adanya luka pada ginjal.

3. Pola aktivitas dan latihan

Klien mengalami gangguan aktivitas karena kelemahan fisik gangguan karena adanya luka pada ginjal.

4. Pola eliminasi

Bagaimana pola BAB dan BAK pada pasien batu ginjal biasanya BAK sedikit karena adanya sumbatan atau bagu ginjal dalam perut, BAK normal. 5. Pola tidur dan istirahat

Klien batu ginjal biasanya tidur dan istirahat kurang atau terganggu karena adanya penyakitnya.

6. Pola persepsi dan konsep diri

Bagaimana persepsi klien terdapat tindakan operasi yang akan dilakukan dan bagaimana dilakukan operasi.

(24)

Bagaimana pengetahuan klien tarhadap penyakit yang dideritanya selama di rumah sakit.

8. Pola reproduksi sexual

Apakah klien dengan nefrolitiasis dalam hal tersebut masih dapat melakukan dan selama sakit tidak ada gangguan yang berhubungan dengan produksi sexual.

9. Pola hubungan peran

Biasanya klien nefrolitiasis dalam hubungan orang sekitar tetap baik tidak ada gangguan.

10.Pola penaggulangan stress

Klien dengan nefrolitiasis tetap berusaha dab selalu melakukan hal yang positif jika stress muncul.

11.Pola nilai dan kepercayaan

Klien tetap berusaha dan berdo’a supaya penyakit yang di derita ada obat dan dapat sembuh.

(Handerson, M.A, “Ilmu Bedah Untuk Perawat” Yayasan Egsensia Medika Yogyakarta, 1991)

C). Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum

- Klien biasanya lemah. - Kesadaran komposmetis. - Adanya rasa nyeri. 2. Kulit

- Teraba panas.

- Turgor kulit menurun. - Penampilan pucat. 3. Pernafasan

- Pergerakan nafas simetris. 4. Cardio Vaskuler

- Takicardi.

- Irama jantung reguler. 5. Gastro Intestinal

- Kurang asupan makanan nafsu makan menurun. 6. Sistem Integumen

(25)

- Dalam BAK produksi urin tidak normal. - Jumlah lebih sedikit karena ada penyumbatan.

Pemeriksaan Penunjang

1. Urin lengkap, darah lengkap.

2. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi yang disebabkan oleh obstruksi. 3. Pemeriksaan IVP

D). Diagnosa Keperawatan

Pada kasus nefrolitiasis didapatkan diagnosa keperawatan yang sering muncul adalah :

1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, iskemia jaringan. 2. Nutrisi kurang berhubungan dengan in take in adekuat.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan proses penyakitnya. 4. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot.

5. Resiko terjadinya kekurangan cairan berhubungan dengan in take peroral.

E). Perencanaan Diagnosa 1

Tujuan : nyeri berkurang atau hilang dalam waktu 2 x 24 jam. KH : - Perasaan nyeri berkurang.

- Klien tampak tenang. Rencana tindakan

1. Jelaskan pada pasien tentang penyebab nyeri. 2. Kaji tingkat nyeri.

3. Alihkan perhatian klien pada hal yang positif 4. Observasi TTV.

5. Kolaborasi dengan tim dokter.

Rasional

- Klien mengerti akan proses terjadinya atau timbulnya penyakitnya. - Mengetahui tingkat nyeri.

(26)

Diagnosa 2

Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan cukup. KH : - BB pasien normal

- Tanda-tanda malnutrisi ada

- Nilai-nilai hasil laboratorium normal - Turgor kulit normal

Intervensi :

1. Kaji kemampuan mengunyah, menelan, reftek batuk dan cara pengeluaran sekret.

R/ : dapat menentukan pilihan cara pemberian makanan karena pasien harus dilindungi dari bahaya aspirasi.

2. Timbang berat badan.

R/ : penimbangan berat badan dapat mendektoksi perkembangan BB

3. Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi sering baik melalui NGT maupun oral.

R/ : memudahkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi. 4. Lakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan (Analis) untuk pemeriksaan

proteintotal, globulin, albumin dan hb.

R/ : mengidentifikasi nutrisi, fungsi oragan dalam respon nutrisi serta

menentukan hiperalimentasi

Diagnosa 3

Tujuan : kebutuhan istirahat terpenuhi. KH : wajah pasien tampak cerah Intervensi :

1. Ciptakan lingkungan pasien yang tenang dan nyaman.

R/ : dengan lingkungan yang nyaman dan tenang dapat membantu untuk istirahat yang nyaman.

2. Berikan posisi senyaman mungkin.

R/ : untuk menghindari terjadinya infeksi pada luka post op. 3. Berikan teknik relaksasi sebelum tidur.

R/ : dengan teknik relaksasi otot-otot akan kendur dan otot dapat beristirahat. 4. Berikan kesempatan pada pasien untuk melakukan.

(27)

F). Pelaksanaan atau Implementasi

Tahapan dalam melakukan sesuatu yang telah direncanakan dan untuk melakukan perencanaan tersebut harus ada pelaksanaan.

G). Evaluasi

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Henderson M.A “Ilmu Bedah Untuk Perawat” Yayasan Essensia Medika,

Yogyakarta, 1991.

Mansjoer Arif, “Kapita Selecta Kedokteran” Edisi Kedua Medika Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2000.

Marilynn E. Dongoes, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi tiga, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Sandra M. Nettina (2002), Pedoman Praktek Keperawatan, Buku Kedoketan EGC, Jakarta.

Suyono Slamet, Dr. Prof. SpPo KE, “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II”,

(29)

LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan keperawatan dengan diagnosa medis Nefrolitiasis rumah sakit Al-Irsyad Surabaya telah diperiksa dan disetujui dan disahkan sebagai laporan praktek klinik dilaksanakan mulai tanggal 02 - 15 Februari 2004.

Kepala Ruangan Bedah RS AL-IRSYAD

( Yulia Istifadah, AMK )

Pembimbing Ruangan Bedah RS AL-IRSYAD

( Indra Kurniawan, AMK )

Pembimbing Pendidikan Akper Unmuh Surabaya

(30)

A

K

A

DE

MI P

ERAW

AT

A

N

U

N

IV

E

R

S

IT

A

S M

UHAMMADIY

AH

S

U

R

A

B

A

Y

A

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN NEFROLITIASIS DI RUANG BEDAH

RUMAH SAKIT AL

IRSYAD SURABAYA

disusun oleh :

TADZIKROH NIM : 220153

(31)
(32)

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

PADA PASIEN NEFROLITIASIS ( BATU GINJAL ) DI RUANG INAYAH

RSM PKU GOMBONG

Disusun Oleh:

HENI SEPTININGSIH A01301758

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

(33)

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )

Diagnosa keperawatan :Kurang pengetahuan pada keluarga dan pasien tentang penyakit nefrolitiasis berhubungan dengan ketidakmampuan anggota keluarga dan pasien mengenal nefrolitiasis ( batu ginjal ).

Pokok Bahasan : Nefrolitiasis

Sub pokok Bahasaan : Mengetahui pengertian, penyebab, tanda dan Gejala, pengobatan, pencegahan, dan diit pada pasien nefrolitiasis.

Sasaran : Keluarga Tn. P

Hari / tanggal : Sabtu, 11 juni 2016

Waktu : 1 x 25 menit

Tempat : Ruang Barokah PKUM Gombong

Pertemuan ke- : 1

Pelaksana : Naskati

A. Tujuan Instruksional Umum

Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan,keluarga Tn P mampu memahami tentang masalah pada pasien Nefrolitiasis.

B. Tujuan Instruksional Khusus

Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan selama 1 x 25 menit diharapkan keluarga Tn P dapat:

a. Memahami pengertian b. Memahami penyebab c. Memahami tanda dan gejala d. Memahami pengobatan e. Memahami pencegahan

f. Memahami diit yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan

C. Materi Pengajaran

(34)

3. tanda dan gejala 4. pengobatan 5. pencegahan

6. diit yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan

D. Metode

a. Ceramah dan tanya jawab

Pembelajaran dilakukan dengan media diskusi secara terbuka, yaitu dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada Keluarga Tn. P Keluarga Tn. P dapat mengajukan pertanyaan setelah penyampain materi selesai.

E. Materi

d. Menjelaskan maksud dan tujuan e. Menanyakan kesediaan

f. Apersepsi

a. Menjawab salam b. Mendengarkan

c. Pasien ingat dengan kontrak d. Pasien mengerti maksud dan

tujuan

e. Pasien bersedia 15 menit Kerja :

a. Memulai penkes dengan membaca tasmiyah

b. Menjelaskan pengertian nefrolitiasis (batu ginjal) pada Menjelaskan tentang syarat-syarat diet sisa rendah

c. Menjelaskan tentang penyebab nefrolitiasis

d. Menjelaskan tentang tanda dan gejala

e. Menjelaskan tentang pengobtan f. Menjelaskan tentang pencegahan g. Menjelaskan tentang diit yang

(35)

diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan

h. Memberi kesempatan bertanya i. Menjawab pertanyaan

5 menit Terminasi :

a. Melakukan evaluasi b. Memberikan kesimpulan

c. Menutup penkes dengan membaca tahmid

d. Memberi salam penutup

a. Mendengarkan b. Menjawab salam

H. Evaluasi

1. Evaluasi structural

a. Satuan Acara Pengajaran sudah siap sesuai dengan masalah keperawatan1 b. Media sudah disiapkan yaitu lembar balik dan Leaflet

2. Evaluasi Proses

a. Keluarga yang hadir

b. Media dapat digunakan dengan baik

c. Pendidikan kesehatan dapat dilaksanakan sesuai waktu. d. Respon keluarga terhadap materi

e. Keluarga dapat mengikuti sampai selesai 3. Evaluasi Hasil

a. keluarga Tn P dapat menjelaskan pengertian Masalah Nefrolitiasis ( batu ginjal ) b. keluarga Tn P dapat menjelaskan penyebab nefrolitiasis ( batu ginjal )

c. keluarga Tn P dapat menyebutkan tanda dan gejala Masalah nefrolitiasis ( batu ginjal ). d. keluarga Tn P dapat menjelaskan tentang pengobatan nefrolitiasis ( batu ginjal )

e. keluarga Tn P dapat menjelaskan tentang pencegahan nefrolitiasis ( batu ginjal )

(36)

MATERI PEMBELAJARAN

1. Latar Belakang

Kurang kontrolnya keluarga dan perilaku keluarga terhadap nefrolitiasis, sehingga keluarga tidak tahu apakah ia menderita penyakit perkemihan atau tidak, khususnya para keluarga. Selain itu pula, banyak keluarga keluarga dengan sosial ekonomi menengah ke bawah atau kurang pengetahuan tentang penyakit nefrolitiasis.

Oleh karena itu, penting sekali membekali pengetahuan bagi keluarga untuk memahami tentang ruang lingkup bahkan informasi lainnya mengenai nefrolitiatis. Maka dari itu, akan diadakannya penyuluhan kesehatan bagi keluarga terutama keluarga Tn P untuk

mengembangkan pola pikir mengenai kesehatan khususnya mengenai penyakit nefrolitiasis agar nefrolitiasis bisa dicegah ataupun diatasi dengan baik dan benar sesuai dengan prosedur dalam pelayanan kesehatan.

2. Pengertian

Nefrolitiasis adalah adanya batu atau kalkulus dalam pelvis renal batu-batu tersebut dibentuk oleh kristalisasi larutan urin (kalsium oksolat asam urat, kalium fosfat, struvit dan sistin). Ukuran batu tersebut bervareasi dari yang granular (pasir dan krikil) sampai sebesar buah jeruk. Batu sebesar krikil biasanya dikeluarkan secara spontan, pria lebih sering terkena penyakit ini dari pada wanita dan kekambuhan merupakan hal yang mungkin terjadi. (Mansjoer Arief, “Kapita Selekta Kedokteran” Edisi Kedua, Medikal Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2000)

3. Penyebab Nefrolitiasis

a. Hiperkalsemia dan hiperkalsiuria yang disebabkan oleh hiperparatiroidisme, asidosis tubulus renal, mieloma multiple.

b. Dehidrasi kronik. c. Imobilitas yang lama.

d. Metabolisme purin ab normal (hiperuri semia dan pirai).

(37)

(Mansjoer Arief, “Kapita Selekta Kedokteran” Edisi Kedua, Medikal Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2000)

4. Tanda-Tanda Gejala Umum

Nyeri pinggang (kemeng) pada sudut kostavertebral

Nyeri kolik dari pinggang menjalar ke depan dan ke arah kemaluan, disertai nausea dan muntah.

Hematuria : baik makroskopik maupun mikroskopik. Disuria : oleh karena infeksi.

Demam disertai menggigil.

Retensi urine pada batu ureter atau leher buli-buli. Dapat tanpa keluhan (“silent stone”).

5. Pengobatan

1. Minum banyak cairan/air putih akan meningkatkan pembentukan air kemih dan membantu membuang beberapa batu

2. Makan makanan yang rendah protein karena protein akan memacu eksresi kalsium urine.

6. Pencegahan

1. Cukup dengan sering minum air putih 6-8 gelas per hari

2. Kurangi makan yang banyak mengandung kalsium, kurangi konsumsi protein hewani dan batasi garam

7. Bahan Makanan a) Yang boleh diberikan

 Beras, roti

 Mie,makaroni, bihun

 Telur, daging

 Ikan tanpa tulang

(38)

b) Yang tidak boleh diberikan

 Kentang

 Susu, keju, kepiting, ikan asin, sardine

 Bayam, daun mlinjo, daun pepaya,

 Buah-buahan yang dikeringkan

(39)

DAFTAR PUSTAKA

Suyono Slamet, Dr. Prof. SpPo KE, “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II”, FKUI,

Jakarta, 2001.

Henderson M.A “Ilmu Bedah Untuk Perawat” Yayasan Essensia Medika, Yogyakarta, 1991.

Mansjoer Arif, “Kapita Selecta Kedokteran” Edisi Kedua Medika Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2000.

(40)

NEFROLITIASIS ( BATU

Adalah massa keras seperti batu yang

terbentuk di sepanjang saluran kemih

dan biasa menyebabkan nyeri,

perdarahan, penyumbatan aliran kemih

atau infeksi

Penyebab

- Kelebihan asupan vitamin D

- Dehidrasi kronik.

- Asupan cairan yang buruk.

- Immobilisasi yang terlalu lama.

- Adanya benda asing dalam saluran

kencing.

- Kelainan anatomis dari saluran

kencing.

-

Nyeri perut bagian bawah

APA ITU

(41)

- Hematuria : baik makroskopik maupun mikroskopik

- Disuria : oleh karena infeksi.

- Demam disertai menggigil.

- Retensi urine pada batu ureter atau

leher buli-buli.

- Dapat tanpa keluhan (“silent

stone”)

Pengobatan

Minum banyak cairan akan mengingatkan

pembentukan air kemih dan membantu

membuang beberapa baatu

Makan makanan yang rendah protein

karena protein akan memacu eksresi

kalsium urin

PENCEGAHAN

1. Cukup minum air putih 6-8 gelas per

hari

2. Kurangi makanan yang terlalu banyak

mengandung kalsium, kurangi konsumsi

protein hewani dan batasi garam

MAKANAN

YANG

TIDAK

BOLEH DIMAKAAN

1.

Kentang

2.

Susu,keju,kepiting,ikan asin,sardine

3.

Daun Melinjo,daun papaya,bayam

4.

Asparus,

buah-buahan

yang

dikeringkan

5.

Minum soda

6.

Soft drink,the kental,kopi

MAKANAN YANGBOLEH DIMAKAN

1.

Beras, roti

2.

Mie,macaroni, bihun

3.

Telur, daging

4.

Ikan tanpa tulang,

5.

Buah-buahan

(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)
(50)
(51)
(52)
(53)
(54)

Referensi

Dokumen terkait

Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada

complicated (rumit) adalah infeksi saluran kemih yang terjadi pada pasien.. yang menderita kelainan anatomik atau struktur saluran kemih,

Insiden infeksi saluran kemih akan meningkat pada usia kehamilan 26-36 minggu dengan presentase 7%.. Angka kematian ibu pada infeksi saluran kemih mencapai 11% dan

Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada

Batu kandung kemih adalah kasus yang paling umum terjadi pada batu saluran kemih bawah dengan insiden 5% dari semua penyakit batu saluran kemih dan sekitar 1,5% dari kasus di

Infeksi berulang sering terjadi pada penderita yang rentan, atau terjadi karena adanya kelainan anatomik atau fungsional saluran kemih yang menyebabkan adanya stasis urin atau

Hubungan diet dengan kejadian batu saluran kemih Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa lebih kurang responden yang menderita batu saluran kemih disebabkan karena diet

Hematuria dan leukosituria pada umumnya diperiksakan untuk mengetahui proses patologi yang terjadi di saluran kemih, baik infeksi, trauma, peradangan, maupun batu saluran kemih.24 Kedua