BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan adalah upaya yang diselenggarakan sendiri atau
bersama-sama di suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,
mencegah dan mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan,
kelompok dan masyarakat. Dalam mengambil tindakan untuk mengobati atau
mencegah penyakit, biasanya seseorang merasakan ia rentan terhadap penyakit
tersebut. Dengan kata lain, tindakan pencegahan terhadap suatu penyakit akan timbul
apabila seseorang telah merasakan bahwa ia rentan terhadap penyakit tersebut.
Pemanfaatan pelayanan kesehatan merupakan proses pendayafungsian
layanan kesehatan oleh masyarakat. Menurut Levey dan Loomba (1973), yang
dimaksud dengan pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang dilaksanakan secara
sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan, mencegah, mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan
seseorang, keluarga, kelompok dan masyarakat (Ilyas, 2003).
Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah hasil dari proses pencarian
pelayanan kesehatan oleh seseorang maupun kelompok. Menurut Notoatmodjo
(1993), perilaku pencarian pengobatan adalah perilaku individu maupun kelompok
pengobatan di masyarakat terutama di negara sedang berkembang sangat bervariasi
(Ilyas, 2003).
Menurut Green dalam Notoatmojo (2007) faktor keputusan pasien untuk tetap
memanfaatkan jasa pelayanan medis yang ditawarkan rumah sakit tidak terlepas dari
faktor perilaku yang dimiliki oleh masing-masing individu. Adapun faktor-faktor
yang merupakan penyebab perilaku dapat dibedakan dalam tiga jenis yaitu :
1. Predisposing Factors
Faktor ini merupakan faktor anteseden terhadap perilaku yang menjadi dasar atau
motivasi bagi perilaku. Termasuk dalam faktor ini adalah pengetahuan, sikap,
keyakinan, nilai dan persepsi yang berkenan dengan motivasi seseorang atau
kelompok untuk bertindak.
2. Enabling Factors
Faktor ini adalah faktor anteseden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu
motivasi atau aspirasi terlaksana. Termasuk dalam faktor ini adalah
keterampilan, sumber daya pribadi dan komunitas. Seperti tersedianya pelayanan
kesehatan, keterjangkauan, kebijakan, peraturan dan perundangan.
3. Reinforcing Factors
Faktor ini adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan
memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tentu saja tergantung pada
tujuan dan jenis program. Di dalam pendidikan pasien, penguat berasal dari
bergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berkaitan, yang sebagian
diantaranya lebih kuat daripada yang lain dalam memengaruhi perilaku.
Kotler (2003) dalam Apsari (2006) menerjemahkan bahwa beberapa faktor
yang memengaruhi pemanfaatan oleh konsumen. Faktor pertama adalah marketing
stimuli. Faktor ini terdiri dari product, price, place dan promotion. Faktor kedua
adalah stimuli lain yang terdiri dari technological, political, cultural. Dua faktor ini
akan masuk dalam buyer box yang terdiri dari buyer characteristic yang memiliki
variabel cultural, social, personal, dan psychological serta buyer decision process
yang merupakan proses yang terjadi saat seseorang memutuskan untuk
mengkonsumsi suatu produk.
Menurut Dever (1984) bahwa beberapa faktor yang memengaruhi
pemanfaatan pelayanan kesehatan antara lain :
1. Faktor yang berhubungan dengan pemberi pelayanan
Faktor ini berhubungan dengan karakteristik pemberi pelayanan kesehatan,
misalnya perilaku dan kemampuan dokter, petugas kesehatan atau non kesehatan
dalam melaksanakan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan pasien, lingkungan kerja,
jenis dan jumlah tenaga kesehatan tambahan, pekerja lain, peralatan dan penggunaan
peralatan yang inovatif.
2. Faktor Sosiokultural
Faktor ini merupakan faktor sosial budaya yang terdiri dari teknologi dan
3. Faktor yang berhubungan dengan organisasi
Faktor ini yang berhubungan dengan struktur dan proses yang memengaruhi
proses dari pelayanan kesehatan, yaitu interaksi antara pasien dan penyedia pelayanan
kesehatan. Hal ini meliputi ketersediaan sumber daya, akses geografi, akses sosial
serta proses pelayanan kesehatan.
4. Akses yang berhubungan dengan konsumen
Menurut Donabedian dalam Dever bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan
merupakan interaksi antara pasien dengan pemberi pelayanan kesehatan yang
dipengaruhi oleh faktor sosiokultural, faktor organisasi, faktor yang berhubungan
dengan konsumen, faktor yang berhubungan dengan pemberi pelayanan. Pemanfaatan
pelayanan kesehatan sangat erat kaitannya dengan perilaku seseorang dalam mencari
pelayanan kesehatan terutama dalam persepsi individu atau masyarakat tentang
sehat-sakit. Orang yang berpenyakit (having a desease) dan orang yang sakit (having a
illness) adalah dua hal yang berbeda. Berpenyakit adalah suatu kondisi patologis yang
obyektif, sedangkan sakit adalah persepsi individu terhadap konsep sehat-sakit.
Masyarakat atau anggota masyarakat yang mendapat penyakit dan tidak
merasakan sakit (disease but no illness) tentu tidak akan bertindak apa-apa terhadap
penyakitnya tersebut. Tetapi bila mereka diserang penyakit dan juga merasakan sakit
maka timbul berbagai macam perilaku dan usaha termasuk memanfaatkan pelayanan
kesehatan. Hal ini disebabkan karena persepsi mereka yang berbeda tentang sakit.
Menurut Andersen faktor-faktor yang menentukan pemanfaatan pelayanan
1. Faktor predisposisi (predisposing factors), yang menggambarkan fakta bahwa
setiap individu mempunyai kecenderungan menggunakan pelayanan kesehatan
yang berbeda-beda yang digolongkan atas :
a. Demografi
Variabel demografi terdiri dari umur dan jenis kelamin. Menurut Notoatmojo
(2003) menyatakan bahwa variabel-variabel sosiodemografi digunakan
sebagai ukuran mutlak atau indikator fisologis yang berbeda (umur, jenis
kelamin) dan siklus hidup (status perkawinan dan jumlah keluarga) dengan
asumsi bahwa perbedaan derajat kesehatan, derajat kesakitan, penggunaan
pelayanan kesehatan akan berhubungan dengan variabel-variabel tersebut.
b. Struktur Sosial
Variabel struktur sosial terdiri dari pendidikan, pekerjaan, etnis, hubungan
sosial dan kebudayaan. Variabel tingkat pendidikan, pekerjaan dan kesukuan
mencerminkan keadaan sosial dari individu atau keluarga dalam masyarakat.
Penggunaan pelayanan kesehatan adalah salah satu aspek dari gaya hidup ini
yang ditentukan oleh lingkungan sosial, fisik dan psikologis.
Individu-individu yang berbeda etnis/suku, pekerjaan atau tingkat pendidikan
mempunyai kecenderungan yang tidak sama dalam mengerti dan bereaksi
terhadap kesehatan mereka.
c. Kepercayaan terhadap Kesehatan
Variabel kepercayaan terdiri dari sikap, nilai dan pengetahuan yang membuat
2. Faktor pemungkin (enabling factors) yang menjelaskan bahwa meskipun individu
mempunyai predisposisi untuk menggunakan pelayanan kesehatan, tidak akan
memanfaatkannya kecuali mampu memperolehnya. Penggunaan pelayanan
kesehatan yang ada tergantung pada kemampuan dan kesanggupan dari individu
atau keluarga untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi anggota keluarganya.
Yang termasuk karakteristik ini adalah :
a. Sumber keluarga ( family resources), yang meliputi :
1. Pendapatan keluarga, cakupan asuransi kesehatan dan pihak-pihak lain
yang membiayai individu atau keluarga dalam mengkonsumsi pelayanan
kesehatan.
2. Lamanya waktu tempuh, jauhnya jarak tempuh.
Lokasi pelayanan kesehatan adalah penting diperhatikan oleh pencari
pelayanan kesehatan karena jarak yang dekat akan memengaruhi pencari
pelayanan kesehatan.
b. Sumber daya masyarakat (community resources), yang meliputi tersedianya
pelayanan kesehatan bisa mencakup :
- Tersedianya fasilitas yang memadai di pelayanan kesehatan.
- Fasilitas pelayanan kesehatan yang baik akan memengaruhi sikap dan
perilaku pasien, pengadaan fasilitas pada pelayanan kesehatan akan
menciptakan perasaan sehat, aman dan nyaman.
Pemanfaatan akan meningkat apabila masyarakat bebas dari masalah
kesehatan mereka, kecepatan dan kemudahan dalam mendapatkan
pelayanan (pelayanan yang cepat, tidak berbelit-belit dan mudah
dimengerti) juga pelayanan personil (pelayanan dokter, perawat, bidan
maupun tenaga non kesehatan) yang diterima oleh pengguna pelayanan
kesehatan. Pelayanan personil dapat berupa pelayanan profesional
maupun keramahan dan daya tanggap terhadap pasien juga kerjasama
yang terdapat antara petugas kesehatan.
- Biaya atau tarif yang terjangkau
Biaya kesehatan sangat memengaruhi pemanfaatan pelayanan
kesehatan. Adanya harga yang tinggi pada pelayanan kesehatan akan
menyebabkan penurunan permintaan.
- Informasi medis yang diperlukan
Informasi dapat berupa pengalaman pribadi di masa lalu, keluarga
ataupun teman pada saat mendapatkan perawatan kesehatan atau
informasi yang perlu diketahui oleh pasien dari dokter atau tenaga
kesehatan yang sangat memengaruhi seseorang dalam memanfaatkan
pelayanan
c. Kemungkinan lainnya, yang meliputi : faktor genetik dan karakteristik
3. Faktor kebutuhan (need factors)
Faktor pemungkin dan faktor predisposisi dapat terwujud menjadi tindakan
pencarian pengobatan apabila tindakan tersebut dirasakan sebagai kebutuhan.
Kebutuhan merupakan dasar dan stimulus langsung untuk menggunakan pelayanan
kesehatan. Kebutuhan pelayanan kesehatan dapat dikategorikan menjadi :
a. Kebutuhan yang dirasakan (perceived need) yaitu keadaan kesehatan yang
dirasakan pasien.
b. Evaluated/clinical diagnosis yang merupakan penilaian keadaan sakit
didasarkan oleh penilaian petugas.
2.2 Puskesmas
Puskesmas adalah kesatuan organisasi fungsional yang menyelenggarakan
upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan
dijangkau oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan
hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang
dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan
yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan
(Kemenkes,2004).
2.2.1 Kegiatan Pokok Puskesmas
Puskesmas melakukan upaya kesehatan masyarakat sebagai bentuk usaha
pembangunan kesehatan dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok. Ada 6 upaya
promosi kesehatan, upaya kesehatan lingkungan, upaya kesehatan ibu dan anak serta
keluarga berencana, upaya perbaikan gizi masyarakat, upaya pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular dan upaya pengobatan.
2.2.2 Indikator Keberhasilan Puskesmas
Dalam mengukur keberhasilan Puskesmas, dinas kesehatan Kabupaten/Kota
secara rutin menetapkan target atau standar keberhasilan masing-masing program.
Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan mulai diterapkan tahun 2003
yang disesuaikan dengan Millenium Development Goal’s (MDG’s). SPM Bidang
Kesehatan berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang meliputi jenis pelayanan
beserta indikator kinerja dan target Tahun 2010 – Tahun 2015:
a. Pelayanan Kesehatan Dasar
1. Cakupan kunjungan Ibu hamil K4 95 % padaTahun 2015
2. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 80 % pada Tahun 2015
3. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki
kompetensi kebidanan 90% pada Tahun 2015
4. Cakupan pelayanan nifas 90% pada Tahun 2015
5. Cakupan neonatus dengan komplikasi yangditangani 80% pada Tahun 2010
6. Cakupan kunjungan bayi 90%, pada Tahun 2010
7. Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 100% pada
Tahun 2010
9. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 - 24 bulan
keluarga miskin100 % pada Tahun 2010
10. Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 100% pada Tahun 2010
11. Cakupan Penjaringan kesehatan siswa SD dansetingkat 100 % pada Tahun
2010
12. Cakupan peserta KB aktif 70% pada Tahun 2010
13. Cakupan penemuan dan penanganan penderitapenyakit 100% pada Tahun
2010
14. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin 100% pada Tahun
2015
b. Pelayanan Kesehatan Rujukan
1. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 100% pada
Tahun 2015
2. Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan
(RS) di Kabupaten/Kota 100 % pada Tahun 2015
c. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa /KLB
1. Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan
epidemiologi < 24 jam 100% pada Tahun 2015
d. Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
1. Cakupan Siaga Aktif 80% pada Tahun 2015
(Sumber : Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 741/Menkes/PER/VII/2008 tentang
2.3 Jampersal
2.3.1 Pengertian Jampersal
Untuk menjamin terpenuhinya hak hidup sehat bagi seluruh penduduk
termasuk penduduk miskin dan tidak mampu, pemerintah bertanggung jawab atas
ketersediaan sumber daya di bidang kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh
masyarakat untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Oleh
karena itu, diperlukan kebijakan yang dapat memberikan kemudahan pembiayaan
kepada seluruh ibu hamil yang belum memiliki jaminan persalinan melalui kebijakan
Jampersal. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
2562/MENKES/PER/XII/2012 tentang Petunjuk Teknis Jampersal bahwa dalam
rangka menurunkan angka kematian ibu dan angka dan mempercepat pencapaian
MDG’s telah ditetapkan kebijakan bahwa setiap ibu yang melahirkan, biaya
persalinannya ditanggung oleh pemerintah melalui Jampersal.
Pada dasarnya Jampersal adalah perluasan kepesertaan dari jamkesmas dan
tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. Manfaat yang diterima oleh penerima
manfaat Jampersal terbatas pada pelayanan pemeriksaan kehamilan, persalinan, nifas,
bayi baru lahir dan KB pasca persalinan.
Peraturan Jampersal telah dilaksanakan sejak Tahun 2011 dikuatkan dengan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 631/MENKES/PER/III/2011,
tetapi dikarenakan masih butuhnya perbaikan dalam pelaksanaan Jampersal tersebut
maka peraturan tersebut diperbaiki tahun 2012 demi kemajuan pelaksanaan Jampersal
2.3.2 Tujuan Jampersal 2.3.2.1 Tujuan Umum
Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi
baru lahir, KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
berkompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI
dan AKB.
2.3.2.2 Tujuan Khusus
a. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan
pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
b. Meningkatnya cakupan pelayanan :
- bayi baru lahir
- KB pasca persalinan
- Penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, KB
pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten
c. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efektif, efisien, transparan dan
akuntabel.
2.3.3 Sasaran Jampersal
Sesuai dengan tujuan Jampersal yaitu untuk menurunkan AKI dan AKB,
maka sasaran Jampersal dikaitkan dengan pencapaian tujuan Jampersal tersebut.
Sasaran yang dijamin oleh Jampersal adalah :
1. Ibu hamil
3. Ibu nifas (sampai 42 hari setelah melahirkan)
4. Bayi baru lahir (sampai dengan 28 hari)
Sasaran yang dimaksud di atas adalah kelompok sasaran yang berhak
mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik
normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB
dari suatu proses persalinan.
2.3.4 Manfaat Jampersal
Manfaat pelayanan Jampersal meliputi :
1. Pemeriksaan Kehamilan (ANC) yang dibiayai oleh program ini mengacu pada
buku pedoman KIA, dimana selama hamil ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali
disertai konseling KB dengan frekuensi :
a. 1 kali pada triwulan pertama
b. 1 kali pada triwulan kedua
c. 2 kali pada triwulan ketiga
Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi di atas pada
tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. Penyediaan obat-obatan, reagensia dan
bahan yang habis pakai diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan, persalinan dan
nifas dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran ibu hamil,
bersalin, nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda atau Dinas
Kesehatan Kab/Kota.
Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi kehamilan
a. Penatalaksanaan abortus imminen, abortus inkompletus dan missed abortion
b. Penatalaksanaan mola hidatidosa
c. Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum
d. Penanganan kehamilan Ektopik terganggu
e. Hipertensi dalam kehamilan, pre eklamsi dan eklamsi
f. Perdarahan pada masa kehamilan
g. Decompensatio cordis pada kehamilan
h. Pertumbuhan janin terhambat (PJT) : tinggi fundus tidak sesuai dengan usia
kehamilan
i. Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa
2. Penatalaksanaan Persalinan
a. Persalinan per vaginam
- Persalinan per vaginam normal
- Persalinan per vaginam melalui induksi
- Persalinan per vaginam dengan tindakan
- Persalinan per vaginam dengan komplikasi
- Persalinan per vaginam dengan kondisi bayi kembar
Persalinan per vaginam dengan induksi, dengan tindakan, dengan
komplikasi serta pada bayi kembar dilakukan di Puskesmas PONED
dan/atau RS.
b. Persalinan per abdominam
- Seksio sesarea segera (emergensi), atas indikasi medis
-Seksio sesarea dengan komplikasi (perdarahan, robekan jalan lahir,
perlukaan jaringan sekitar rahim, dan sesarean histerektomi)
c. Penatalaksanaan komplikasi persalinan
- Perdarahan
- Eklampsia
- Retensio plasenta
- Penyulit pada persalinan
- Infeksi
- Penyakit lain yang mengancam keselamatan ibu bersalin
d. Penatalaksanaan bayi baru lahir
- Perawatan esensial neonatus atau bayi baru lahir
- Penatalaksanaan bayi baru lahir dengan komplikasi (asfiksia, BBLR,
infeksi, ikterus, kejang, RDS)
e. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan
- Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari
- Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 hari
- Persalinan dengan penyulit post section-caesaria dirawat inap minimal 3
hari
3. Pelayanan Nifas (PNC)
Pelayanan nifas (PNC) sesuai standar yang dibiayai oleh program ini ditujukan
baru lahir, dan pelayanan KB pasca salin. Pelayanan nifas diintegrasikan antara
pelayanan ibu nifas, bayi baru lahir dan pelayanan KB pasca salin. Tata laksana
asuhan PNC merupakan pelayanan ibu dan bayi baru lahir sesuai dengan Buku
Pedoman KIA. Pelayanan bayi baru lahir dilakukan pada saat lahir dan
kunjungan neo natal.
Pelayanan ibu nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan 4 kali, masing-masing 1
kali pada :
a. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 ( 6 jam s/d hari ke 2)
b. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke 3 s/d hari ke 7
c. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 ( hari ke 8 s/d hari ke 28)
d. Kunjungan keempat untuk Kf3 ( hari ke 29 s/d hari ke 42)
Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi nifas antara lain:
a. Perdarahan
b. Sepsis
c. Asfiksia
d. Ikterus
e. BBLR
f. Kejang
g. Abses/infeksi diakibatkan oleh komplikasi pemasangan alat kontrasepsi
h. Penyakit lain yang mengancam keselamatan ibu dan bayi baru lahir sebagai
4. Keluarga Berencana (KB)
A. Jenis pelayanan KB
Pelayanan KB pasca salin antara lain :
a. Kontrasepsi mantap ( Kontap)
b. IUD, Implan
c. Suntik
B. Tata laksana pelayanan KB dan ketersediaan alokon
Sebagai upaya untuk pengendalian jumlah penduduk dan keterkaitannya
dengan Jampersal, maka pelayanan KB pada masa nifas perlu mendapatkan
perhatian. Tata laksana pelayanan KB mengacu pada Pedoman Pelayanan
KB dan KIA dan diarahkan pada Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
(MKJP) atau Kontrasepsi Mantap (Kontap) sedangkan ketersediaan alat dan
obat kontrasepsi (alokon) KB ditempuh dengan prosedur sebagai berikut :
a. Pelayanan KB di fasilitas kesehatan dasar :
1. Alat dan obat kontrasepsi (alokon) disediakan oleh BKKBN terdiri dari
IUD, Implan dan suntik
2. Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat dan obat kontrasepsi yang
diperlukan untuk pelayanan KB di Puskesmas maupun dokter/bidan
praktik mandiri yang ikut program Jampersal. Selanjutnya daftar
kebutuhan tersebut dikirimkan ke SKPD yang mengelola program
3. Dokter dan bidan praktik mandiri yang ikut program Jampersal
membuat rencana kebutuhan alokon untuk pelayanan KB dan
kemudian diajukan permintaan ke Puskesmas yang ada di wilayahnya.
4. Puskesmas setelah mendapatkan alokon dari SKPD Kabupaten/Kota
yang mengelola program KB selanjutnya mendistribusikan alokon ke
dokter dan bidan praktik mandiri yang ikut program Jampersal sesuai
usulannya.
5. Besaran jasa pelayanan KB diklaimkan pada program Jampersal.
b. Pelayanan KB di fasilitas kesehatan lanjutan :
1. Alat dan obat kontrasepsi (alokon) disediakan oleh BKKBN
2. Rumah sakit yang melayani Jampersal membuat rencana kebutuhan
alat dan obat kontrasepsi yang diperlukan untuk pelayanan KB di
rumah sakit tersebut dan selanjutnya daftar kebutuhan tersebut
dikirimkan ke SKPD yang mengelola program KB di Kabupaten/Kota
setempat.
3. Jasa pelayanan KB di pelayanan kesehatan lanjutan menjadi bagian dari
penerimaan menurut tarif INA CBG’s.
2.3.5 Landasan Hukum Jampersal
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
-Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355) ;
3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400) ;
4. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431) ;
5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) ; sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4844):
6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan
7. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456) ;
8. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063) ;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3637) ;
10.Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan
Pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah
Kabupaten/Kota
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737) ;
11.Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 Tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi
Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I
Kementerian Negara.
12.Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/Per/VIII/2010 Tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik
13.Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 Tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Bidan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 501).
14.Peraturan menteri Kesehatan Nomor 903/Menkes/Per/V2011 Tentang Pedoman
Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat.
2.3.6 Tata Laksana Pelayanan Kesehatan
Pelayanan Jampersal diselenggarakan dengan pelayanan terstruktur berjenjang
berdasarkan rujukan dan prinsip portabilitas. Dengan demikian Jampersal tidak
mengenal batas wilayah. Fasilitas kesehatan adalah institusi pelayanan kesehatan
sebagai tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan, baik
promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah,
TNI/POLRI dan swasta.
Puskesmas Pelayanan Obstetrik Neonatal Emergensi Dasar (PONED) adalah
puskesmas yang mempunyai kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetrik
(kebidanan) dan bayi baru lahir emergensi dasar. Rumah Sakit Pelayanan Obstetrik
Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) adalah rumah sakit yang mempunyai
kemampuan dalam memberikan pelayanan obstetrik (kebidanan) dan bayi baru lahir
emergensi komprehensif.
Adapun ruang lingkup pelayanan Jampersal terdiri dari :
a. Pelayanan persalinan tingkat pertama
Pelayanan persalinan tingkat pertama adalah pelayanan yang diberikan oleh
meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas dan
pelayanan KB pasca salin, serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir, termasuk
pelayanan persiapan rujukan pada saat terjadinya komplikasi (kehamilan,
persalinan, nifas dan bayi baru lahir serta KB pasca salin) tingkat pertama.
Pelayanan tingkat pertama diberikan di Puskesmas dan Puskesmas PONED
(untuk kasus-kasus tertentu), serta jaringannya termasuk Polindes dan Poskesdes,
fasilitas kesehatan swasta (bidan, dokter, klinik, rumah bersalin) yang memiliki
Perjanjian Kerja Sama ( PKS) dengan Tim Pengelola Kabupaten/Kota.
Jenis pelayanan Jampersal di tingkat pertama meliputi :
1. Pelayanan ANC sesuai standar pelayanan KIA dengan frekuensi 4 kali
2. Deteksi dini faktor risiko, komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir
3. Pertolongan persalinan normal
4. Pertolongan persalinan dengan komplikasi dan atau penyulit per vaginam
yang merupakan kompetensi Puskesmas PONED
5. Pelayanan nifas (PNC) bagi ibu dan bayi baru lahir sesuai standar pelayanan
KIA dengan frekuensi 4 kali
6. Pelayanan KB pasca persalinan serta komplikasinya
7. Pelayanan rujukan terencana sesuai indikasi medis untuk ibu dan
janin/bayinya
b. Pelayanan Persalinan Tingkat Lanjutan
Pelayanan persalinan tingkat lanjutan adalah pelayanan yang diberikan oleh
ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan atau dengan
komplikasi yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama yang
dilaksanakan berdasarkan rujukan atas indikasi medis. Pada kondisi kegawatdaruratan
kebidanan dan neo natal tidak diperlukan surat rujukan. Pelayanan tingkat lanjutan
menyediakan pelayanan terencana atas indikasi ibu dan janin/bayinya.
Pelayanan tingkat lanjutan untuk rawat jalan diberikan di poliklinik spesialis
rumah sakit, sedangkan rawat inap diberikan di fasilitas perawatan kelas III di rumah
sakit pemerintah dan swasta yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim
Pengelola Kabupaten/Kota.
Jenis pelayanan persalinan di tingkat lanjutan meliputi :
1. Pemeriksaan kehamilan (ANC) dengan risiko tinggi (risti)
2. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di
pelayanan tingkat pertama.
3. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir dalam kaitan akibat
persalinan.
4. Pemeriksaan pasca persalinan (PNC) dengan risiko tinggi (risti)
5. Penatalaksanaan KB pasca salin dengan metode kontrasepsi jangka panjang
(MKJP) atau Kontrasepsi Mantap (Kontap) serta penanganan komplikasi.
c. Pelayanan Persiapan Rujukan
Pelayanan persiapan rujukan adalah pelayanan pada suatu keadaan dimana
tingkat pertama sehingga perlu dilakukan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut
dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Kasus tidak dapat ditatalaksana paripurna di fasilitas kesehatan karena
keterbatasan SDM, keterbatasan peralatan dan obat-obatan.
2. Dengan merujuk dipastikan pasien akan mendapat pelayanan paripurna yang lebih
baik dan aman di fasilitas kesehatan rujukan.
3. Pasien dalam keadaan aman selama proses rujukan.
Fasilitas kesehatan tingkat pertama swasta seperti Bidan Praktik Mandiri,
Klinik Bersalin, Dokter praktik yang berkeinginan ikut serta dalam program ini harus
mempunyai Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
selaku Tim Pengelola Jamkesmas dan BOK atas nama Pemerintah Daerah setempat
yang mengeluarkan ijin praktiknya. Sedangkan untuk fasilitas kesehatan tingkat
lanjutan baik pemerintah maupun swasta harus mempunyai Perjanjian Kerja Sama
(PKS) dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selaku Tim Pengelola Jamkesmas
dan BOK Kabupaten/Kota yang diketahui oleh tim Pengelola Jamkesmas dan BOK
Provinsi.
2.3.7 Pencairan/Klaim
Pembayaran atas pelayanan Jampersal dilakukan dengan cara klaim. Pada
daerah lintas batas, fasilitas kesehatan yang melayani sasaran Jampersal dari luar
wilayahnya, tetap melakukan klaim kepada Tim Pengelola/Dinas Kesehatan setempat
dan bukan pada daerah asal sasaran Jampersal tersebut. Tim Pengelola Jamkesmas
mempertimbangkan penyerapan dan kebutuhan daerah serta disesuaikan dengan
ketersediaan dana yang ada secara nasional.
2.3.8 Pendanaan
Pendanaan Jampersal merupakan bagian integral dari pendanaan Jamkesmas,
sehingga pengelolaannya pada Tim Pengelola/Dinas Kesehatan Kab/Kota tidak
dilakukan secara terpisah baik untuk pelayanan tingkat pertama/pelayanan dasar
maupun untuk pelayanan tingkat lanjutan/rujukan. Pengelolaan dana Jamkesmas di
pelayanan tingkat pertama atau pelayanan dasar dilakukan oleh Dinas Kesehatan
selaku Tim Pengelola Jamkesmas Tingkat Kabupaten/Kota sedangkan pelayanan
tingkat lanjutan/rujukan dilakukan oleh RS.
Ketentuan Umum Pendanaan :
1. Pendanaan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar dan pelayanan rujukan
merupakan belanja bantuan sosial (bansos) bersumber APBN yang dimaksudkan
untuk mendorong pencapaian program, percepatan pencapaian MDG’s 2015 serta
peningkatan kualitas pelayanan kesehatan termasuk persalinan oleh tenaga
kesehatan di fasilitas kesehatan.
2. Dana belanja bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada angka 1 adalah dana
yang diperuntukkan untuk pelayanan kesehatan dan rujukan pelayanan dasar
peserta Jamkesmas, pelayanan persalinan serta rujukan resiko tinggi persalinan
peserta Jamkesmas dan masyarakat sasaran yang belum memiliki jaminan
3. Dana Jampersal di pelayanan kesehatan dasar disalurkan ke rekening Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, terintegrasi (menjadi satu kesatuan) dengan dana
Jamkesmas.
4. Setelah dana tersebut disalurkan Kementerian Kesehatan ke rekening Dinas
Kesehatan sebagai penanggung jawab program tersebut berubah menjadi dana
peserta Jamkesmas dan masyarakat penerima manfaat Jampersal.
5. Dana Jamkesmas dan Jampersal yang disalurkan sebagaimana pada poin 1 s/d 4
di atas, bukan bagian dari dana transfer daerah ke Pemerintah Kabupaten/Kota
sehingga penggunaan dana tersebut tidak melalui Kas Daerah (Perdirjen
Perbendaharaan Nomor : Per-21/PB/2011). Setelah hasil verifikasi klaim
dibayarkan sebagai penggantian pelayanan kesehatan, maka status dana menjadi
pendapatan fasilitas kesehatan untuk daerah yang belum menerapkan Pola
Pengelolaan Keuangan BLUD (PPK-BLUD), sedangkan bagi fasilitas kesehatan
daerah yang sudah menerapkan PPK-BLUD, pendapatan tersebut merupakan
pendapatan lain-lain PAD yang sah, selanjutnya pemanfaatannya mengikuti
ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
6. Pembayaran pelayanan persalinan dan KB bagi peserta Jamkesmas maupun penerima manfaat Jampersal di pelayanan dasar dan di pelayanan rujukan oleh
fasilitas kesehatan dilakukan dengan mekanisme “klaim”.
7. Jasa pelayanan KB di pelayanan kesehatan dasar diklaimkan pada Tim pengelola
sedangkan jasa pelayanan KB di pelayanan lanjutan mengikuti pola pembayaran
INA-CBG’s.
Pengorganisasian kegiatan Jampersal dimaksudkan agar pelaksanaan
manajemen kegiatan Jampersal dapat berjalan secara efektif dan efisien. Pengelolaan
kegiatan Jampersal dilaksanakan secara bersama-sama antara pemerintah, pemerintah
provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Dalam pengelolaan Jampersal dibentuk Tim
Pengelola di tingkat pusat, tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota. Pengelolaan
kegiatan Jampersal terintegrasi dengan kegiatan Jaminan Kesehatan Masyarakat
(Jamkesmas) dan BOK.
2.4 Penelitian Lain tentang Jampersal
Melalui Jurnal Penelitian dengan judul Pengaruh Program Jampersal terhadap
Pemilihan Tempat dan Penolong Persalinan di Desa Nagrak Kecamatan Ciater
kabupaten Subang diketahui bahwa sebanyak 20% persalinan di desa tersebut masih
ditolong oleh dukun dan 45% dilakukan di rumah karena alasan ekonomi. Hasil
penelitian tersebut didapat bahwa pengetahuan tempat persalinan 60% kurang,
tentang penolong persalinan 56,7% baik, dan tentang Jampersal 60% baik. Sebelum
ada program Jampersal 60% ibu hamil memilih bersalin di rumah dan 57% memilih
ditolong dukun. Setelah ada program Jampersal 46,67% ibu memilih bersalin di
polindes dan 66,67% memilih ditolong bidan desa. Kesimpulan penelitian ini
program Jampersal memiliki pengaruh yang bermakna pada pemilihan tempat
Melalui Jurnal Penelitian dengan Judul Evaluasi Pelaksanaan Jampersal di
Kota Semarang didapat hasil bahwa sebagian besar Bidan Swasta tidak mau ikut
Program Jampersal karena proses klaim yang berbelit dan susah. Hal ini berbeda
dengan proses klaim sebelum dilaksanakannya Jampersal.
2.5 Landasan Teori
Menurut Andersen dalam Notoatmojo (2007) faktor-faktor yang menentukan
pemanfaatan pelayanan kesehatan meliputi :
1. Faktor predisposisi (predisposing factors), yang menggambarkan fakta bahwa
setiap individu mempunyai kecenderungan menggunakan pelayanan kesehatan
yang berbeda-beda yang digolongkan atas :
a. Demografi
Variabel demografi terdiri dari umur dan jenis kelamin. Menurut Notoatmojo
(2003) menyatakan bahwa variabel-variabel sosiodemografi digunakan sebagai
ukuran mutlak atau indikator fisologis yang berbeda (umur, jenis kelamin) dan
siklus hidup (status perkawinan dan jumlah keluarga) dengan asumsi bahwa
perbedaan derajat kesehatan, derajat kesakitan, penggunaan pelayanan
kesehatan akan berhubungan dengan variabel-variabel tersebut.
b. Struktur sosial
Variabel struktur sosial terdiri dari pendidikan, pekerjaan, etnis, hubungan
sosial dan kebudayaan. Variabel tingkat pendidikan, pekerjaan dan kesukuan
Penggunaan pelayanan kesehatan adalah salah satu aspek dari gaya hidup ini
yang ditentukan oleh lingkungan sosial, fisik dan psikologis. Individu-individu
yang berbeda etnis/suku, pekerjaan atau tingkat pendidikan mempunyai
kecenderungan yang tidak sama dalam mengerti dan bereaksi terhadap
kesehatan mereka.
c. Kepercayaan terhadap kesehatan
Variabel kepercayaan terhadap kesehatan terdiri dari sikap, nilai dan
pengetahuan yang membuat individu peduli dan mencari pelayanan kesehatan.
2. Faktor Pemungkin (enabling factors) yang menjelaskan bahwa meskipun individu
mempunyai predisposisi untuk menggunakan pelayanan kesehatan, tidak akan
memanfaatkannya kecuali mampu memperolehnya. Penggunaan pelayanan
kesehatan yang ada tergantung pada kemampuan dan kesanggupan dari individu
atau keluarga untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi anggota keluarganya.
Yang termasuk karakteristik ini adalah :
a. Sumber keluarga ( family resources), yang meliputi :
1. Pendapatan keluarga, cakupan asuransi kesehatan dan pihak-pihak lain yang
membiayai individu atau keluarga dalam mengkonsumsi pelayanan
kesehatan.
2. Lamanya waktu tempuh, jauhnya jarak tempuh.
Lokasi pelayanan kesehatan adalah penting diperhatikan oleh pencari
pelayanan kesehatan karena jarak yang dekat akan memengaruhi pencari
b. Sumber daya masyarakat (community resources), yang meliputi tersedianya
pelayanan kesehatan bisa mencakup :
1. Tersedianya fasilitas yang memadai di pelayanan kesehatan.
2. Fasilitas pelayanan kesehatan yang baik akan memengaruhi sikap dan
perilaku pasien, pengadaan fasilitas pada pelayanan kesehatan akan
menciptakan perasaan sehat, aman dan nyaman.
3. Kualitas pelayanan kesehatan yang diterima.
Pemanfaatan akan meningkat apabila masyarakat bebas dari masalah
kesehatan mereka, kecepatan dan kemudahan dalam mendapatkan
pelayanan (pelayanan yang cepat, tidak berbelit-belit dan mudah
dimengerti) juga pelayanan personil (pelayanan dokter, perawat, bidan
maupun tenaga non kesehatan) yang diterima oleh pengguna pelayanan
kesehatan. Pelayanan personil dapat berupa pelayanan profesional maupun
keramahan dan daya tanggap terhadap pasien juga kerjasama yang terdapat
antara petugas kesehatan.
4. Biaya atau tarif yang terjangkau.
Biaya kesehatan sangat memengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan.
Adanya harga yang tinggi pada pelayanan kesehatan akan menyebabkan
penurunan permintaan.
5. Informasi medis yang diperlukan.
Informasi dapat berupa pengalaman pribadi di masa lalu, keluarga ataupun
perlu diketahui oleh pasien dari dokter atau tenaga kesehatan yang sangat
memengaruhi seseorang dalam memanfaatkan pelayanan.
c. Kemungkinan lainnya, yang meliputi : faktor genetik dan karakteristik
psikologis.
3. Faktor kebutuhan (need factors)
Faktor pemungkin dan faktor predisposisi dapat terwujud menjadi tindakan
pencarian pengobatan, apabila tindakan tersebut dirasakan sebagai kebutuhan.
Kebutuhan merupakan dasar dan stimulus langsung untuk menggunakan pelayanan
kesehatan. Kebutuhan pelayanan kesehatan dapat dikategorikan menjadi :
a. Kebutuhan yang dirasakan (perceived need), yaitu keadaan kesehatan yang
dirasakan pasien.
b. Evaluated/clinical diagnosis yang merupakan penilaian keadaan sakit
2. 6 Kerangka Konsep
Berdasarkan latar belakang teori di atas maka dapat disusun kerangka konsep
penelitian :
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian
Faktor Predisposisi : - Umur - Sikap - Pendidikan - Kepercayaan - Pengetahuan
Faktor Pemungkin : - Pelayanan bidan - Fasilitas
Faktor Kebutuhan : - Kebutuhan ibu bersalin