10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Adi (2017) dengan judul Analisis Pengaruh CAR, NPF, FDR, dan BOPO terhadap Profitabilitas Bank Syariah Di Indonesia. Variabel yang digunakan adalah variabel independen berupa Capital adequacy ratio (CAR) (X1), Non Performing Financing (NPF) (X2), Financing deposit ratio (FDR) (X3), dan Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) (X4).
Populasi dari penelitian ini Perbankan Syariah di Indonesia dengan periode tahun 2011 sampai 2015. Metode yang digunakan yaitu purposive sampling atau pengambilan sampel secara sengaja dengan tujuan tertentu.
Alat analisis yang digunakan Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan CAR dan BOPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas bank syariah, sedangkan FDR dan NPF tidak terbukti mempunyai pengaruh signifikan terhadap profitabilitas bank syariah.1
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Nyimas (2017) dengan judul Pengaruh CAR, NPL, NIM, dan BOPO Terhadap Profitabilitas Perbankan. Variable yang digunakan yaitu CAR, NPL, NIM dan BOPO terhadap Profitabilitas Bank oleh CAR, NPL, NIM dan BOPO sebagai
1 Adi Adnan Fauzi, “Analisis Pengaruh CAR, NPF, FDR, dan BOPO Terhadap Profitabilitas Bank Syariah Di Indonesia (Studi Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia) Periode Tahun 2011- 2015”, Diss. Fakultas Ekonomika Dan Bisnis, 2017
variabel bebas dan profitabilitas (ROA) sebagai variabel terikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel bebas CAR dan NPL tidak berpengaruh negatif secara parsial terhadap ROA, NIM berpengaruh positif secara parsial terhadap ROA dan BOPO berpengaruh negatif secara parsial terhadap ROA dan Perusahaan yang memiliki CAR dan NIM lebih tinggi akan mendapatkan profitabilitas yang lebih tinggi (ROA) sedangkan jika memiliki nilai NPL dan BOPO lebih tinggi, profitabilitas akan lebih rendah2.
Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Diana (2017) denganpjudul PengaruhpCapital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Posisi Devisa Netto (PDN), Net Interest Margin (NIM), Biaya Operasional PendapatanpOperasional (BOPO) Loanpto Deposit Ratio (LDR), dan Suku Bunga BI (SBBI) Terhadap Return On Asset (ROA) PadapBank Devisa Di Indonesia Periode 2003-2007. Variabelpyangpdigunakanpdalam penelitian adalahpvariabelpdependenpdanpindependen. Variabelpindependenpyang digunakan Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), PosisipDevisapNetto (PDN), NetpInterestpMargin (NIM), Biaya OperasionalpPendapatanpOperasional (BOPO), LoanptopDeposit Ratio (LDR), dan SukupBunga BI (SBI) TerhadappReturnpOn Asset (ROA).
Hasilppenelitianpinipmenunjukkanpbahwapvariabel PDN dan Suku Bunga SBI tidakpmenunjukkanppengaruhpsignifikan terhadap ROA.
Variabel CAR,NIM, dan LDRpberpengaruhppositifpsignifikanpterhadap
2 Nyimas Vila Dewi,dkk, "Pengaruh Car, Npl, Nim, Dan Bopo Terhadap Profitabilitas Perbankan (Studi Kasus pada Bank Umum Yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012–2015),
" Jurnal Ilmiah Riset Manajemen 6.01, (2017).
ROA. Sedangkanpvariabel NPL dan BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadappROA.3
Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Fitri (2014) dengan judul
PengaruhpInflasi, BI Rate, Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), BiayapOperasionalpdan Pendapatan
Operasional (BOPO) Terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Periode 2008-2012. Variabelpyangpdigunakan dalam penelitian ini adalah variabel dependen dan independen. Variabel independen yang digunakan Inflasi, BI Rate, Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), BiayapOperasional dan Pendapatan Operasional (BOPO), sedangkanpvariabel dependenpyang digunakanpyaitu Profitabilitas. Hasil penelitian menujukkan bahwapsecarapsimultanpvariabel inflasi, BI rate, CAR, NPF, dan BOPO terhadap ROA.4
Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Fatimatuzzahro (2017)
dengan judul Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Perfoming Financing (NPF) dan Penempatan Dana pada Bank Indonesia Terhadap
Profitabilitas (Studi Empiris Pada Bank Umum Syariah tahun 2012-2015).
Variabelpindependenpyang digunakanpyaitu Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan PenempatanpDanappada BankpIndonesia, sedangkanpvariabel dependenpyangpdigunakan yaitu
3Diana Puspitasari, “Analisis Pengaruh CAR,NPL,PDN,NIM,BOPO,LDR,dan SUKU BUNGA SBI Terhadap ROA (Studi Pada Bank Devisa di Indonesia Periode 2003-2007)”, Diss. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, 2009
4 Fitri Zulfiah dan Joni Susilowibowo, “Pengaruh Inflasi, BI rate, Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Profitabilitas Bank Umum Syariah Periode 2008-2012”, Jurnal Ilmu Manajemen 2.3 (2014), 759-770
Profitabilitas. Analisispdata yangpdigunakan adalah dengan menggunakan metode regresi linier berganda. Hasi analisis penelitian menujukkan bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) tidakpberpengaruhpterhadappprofitabilitas, pembiyaan non performing memilikippengaruhpnegatifpyang signifikan terhadappprofitabilitaspdanppenempatan dana di BankpIndonesia terhadap profitabilitas.5
Keenam, penelitian yang dilakukan oleh Wibisono (2017) dengan
judul Pengaruh CAR, NPF, BOPO, FDR, Terhadap ROA Yang Dimediasi Oleh NOM Periode 2012-2015. Hasil penelitian yang dilakukan menyatakan bahwa variabel CAR, NPF, BOPO, dan NOM berpengaruh terhadap ROA secara parsial. Variabel CAR dan NPF tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA, sedangkan variabel FDR, BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, demikian juga NOM berpengaruh signifikan positif terhadap ROA.6
Ketujuh, penelitian yang dilakukan oleh Dhian (2012) dengan judul
Pengaruh CAR, BOPO, NPF, dan FDR Terhadap Return On Asset (ROA) Bank Umum Syariah di Indonesia Periode 2005-2010. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel dependen dan independen.
Variabel independen antara lain CAR, BOPO, NPF, dan FDR. Sedangkan variabel dependennya adalah Return On Asset (ROA). Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa CAR berpengaruh negative terhadap
5 Fatimatuzzahro, “Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Financing (NPF), dan Penempatan Dana Pada Bank Indonesia Terhadap Profitabilitas (Studi Empiris Pada Bank Umum Syariah Tahun 2012-2015)”, Jurnal Riset Akuntansi 6.02, (2017).
6 M.Y. Wibisono, “Pengaruh CAR, NPF, BOPO, FDR, Terhadap ROA”,Jurnal Bisnis &
Manajemen Vol.17, No.1, 2017.
ROA, tetapi tidak signifikan. Variabel BOPO dan NPF berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA Bank Umum Syariah. Sedangkan variabel FDR berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA Bank Umum Syariah.7
Berdasarkanppenelitian-penelitianpterdahulu, penelitianpyang akan dilakukan akanpmemilikippersamaanpdanpperbedaan. Padappenelitian terdahulupvariabelpCapital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), Financing to Deposit ratio(FDR), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) sudah pernah dilakukan baik di bank konvensional maupun bank syariah. Perbedaan pemasalahan penelitian yang ingin diteliti peneliti memfokuskan bagaimana pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap Profitabilitas pada Bank Umum Syariah secara keseluruhan pada periode 2015 sampai 2017 dan penelitian yang dilakukan peneliti sekarang dengan menambahkan tinjauan syariah.
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian terdahulu juga memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan saat ini. Dengan demikian penelitian ini jelas berbeda dengan penelitian terdahulu.
7 Dhian Dayinta Pratiwi, “Pengaruh CAR, BOPO, NPF, dan FDR Terhadap Return On Asset (ROA) Bank Umum Syariah Periode 2005-2010”, Diss. Fakultas Ekonomika dan Bisnis, 2012
B. Landasan Teori 1. Perbankan Syariah
Sejakpawalpkelahirannya, perbankanpsyariah dilandasi dengan kehadiran duapgerakanprenaissance Islampmodern: neorevivalis dan modernis. Tujuanputamapdarippendirianplembagapkeuanganppyang berlandaskanpetika inipadalah tiada lain sebagai upaya kaum muslimin untukpmendasaripsegenappaspek kehidupan ekonominya berlandaskan Al-Qur’anpdanpAs-Sunnah.8
Dilihatpsecarapumum, bankpadalahpsebuah lembaga keuangan yangpdalam kinerjanyappmelaksanakanptiga fungsiputamapyaitu, menerima simpananpdari masyarakat, meminjamkanpdan menyalurkan danapkepadapmasyarakat, sertapmemberikan jasa-jasa lainnya serta pengiriman uang. Sejarahpperekonomianpumat islam mencatat bahwa akadppyangpdigunakanpdalampprosesppembiayaanpsaatpiniptelah dilakukanpsejak zamanpRasulullah SAW. Adapunppraktik-praktik yang telah biasapdilakukan olehplembaga keuanganppadapzaman Rasulullah SAWpseperti menerimappenitipanpharta,ppinjamanpuang baikpuntuk kebutuhan konsumsi maupun untuk kebutuhan bisnis, serta transaksippengiriman uang.9
8 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah: Dari Teori Ke Praktik (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), 18.
9 Adiwarman A. Karim, “Bank Islam Analisis dan Praktik”, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2011), 18.
1) Perkembangan PerbankanpSyariahpdipIndonesia
Sejarah perbankan syariah di Indonesia berawal dari berdirinya 3 BankpPerkreditanpRakyat Syariah (BPRS) di kota Bandung tahunp1991 dan PT BPRS Heraukatpdi NangroepAcehpDarussalam.
Adapunpyang mempeloporipberdirinyapBank SyariahpdipIndonesia adalah MajelispUlama Indonesiap(MUI) melaluiplokakarya “Bunga BankpdanpPerbankan” di daerah CisaruapBogor pada tanggal 18 sampaipdengan 20 Agustusptahun 1990. PadapMunas IV MUI menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan bank syariah yang kemudianpdibentuklahptim kerja untuk merealisasikannya. Pada tahun 1991, didirikanlahpbankpsyariahppertama yang diberi nama PT Bank Muammalat Indonesia (BMI) yang beroperasippada tahun 1992.10 A. PT Bank Muamalat Indonesia
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Bank Muammalat adalahpbank syariah pertamapyang berdiri di Indonesia. Pada tanggal 1 November 1991 ditanda tangani akta pendirian BankpMuamalatpyang pada saatpitu telahpterkumpul dana pembelianpsaham sebesar Rp. 84 miliar. Pada acara silahturahmi presiden di Istana Bogor yang bertepatan pada tanggal 1 November 1991 terkumpul modal awal sebesar Rp.
106.126.382.000,00. Berdasarkan modal awal yang terkumpul tersebut maka pada tanggal 1 Mei 1992 Bank Muamalat mulai
10 Amir Mahmud dan Rukmana, “Bank Syariah: Teori, Kebijakan, dan Study Empiris di Indonesia”, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010), 20.
beroperasi hingga tahun 1999, outlet Bank Muammalat telah tersebar kurang lebih 45 buah yang tersebar di kota Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Balikpapan, serta Makassar.
Landasanphukum yang menjelaskan seputarpoperasional bankpsyariah hanyapberada dalampkatagori “bankpdenganpsystem bagiphasil”. Dalam penjelasannyaptidak terdapatprincianpyang menyebutkanpjenis usaha yang diperbolehkan dan lain sebagainya.
UU Nop7pTahunp1992 hanyapmenjelaskan perbankan dengan sistem bagi hasil yang digunakan.11
B. Tahapan Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia
Sejarah perbankanpsyariah mencatat beberapa tahapan berkembangnya perbankan syariah di Indonesia. Adapun tahapan tersebut adalah sebagai berikut :12
1) Tahun 1990, dilakukan rekomendasi lokakarya oleh MUI guna mendirikan lembaga perbankan syariah.
2) Tahun 1992, dual banking system mulai dikenal dan diperbolehkannya suatu perbankan menggunakan prinsip bagi hasil. Selain itu, pada tahun 1992 BPRS dan BUS untuk pertama kalinya beroperasi.
3) Tahun 1998, dual banking system mulai digunakan dan terbitnya undang-undang No 10 yang memperbolehkan bank
11 Muhammad Syafi’I Antonio, “Bank Syariah: Dari Teori Ke Praktik”, (Jakarta: Gema Insani, 2001), 26
12 Amir Machmud, H. Rukmana, “Bank Syariah: Teori, Kebijakan, dan Study Empiris di Indonesia” (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010), 20.
konvensional untuk membuka cabang syariah. Selain itu, pada tahun 1998 Bank Indonesia melakukan penegasan selaku otoritas pengawas perbankan yang dapat melakukan kebijakan moneter lainnya seperti yang disebutkan dalam undang-undang No 10 tahun 1998.
4) Tahun 1999, untuk pertama kalinya diberlakukan ketentuan kelembagaan bank syariah serta awal beroperasinya Bank Syariah Mandiri (BSM).
5) Tahun 2000, untuk pertama kalinya diterapkan instrument keuangan syarih.
6) Tahun 2001, Bank Indonesia membentuk satuan kerja khusus yang diberi nama Biro Perbankan Syariah guna menangani perkembangan perbankan syariah yang ada secara komprehensif.
7) Tahun 2002, disusunnya blue print guna perkembangan perbankan syariah.
8) Tahun 2003, MUI mengeluarkan fatwa haramnya bunga bank dan rancangan undang-undang (RUU) perbankan syariah mulai disusun. Selain itu, pada tahun 2003 juga awal diberlakukannya Kualitas Aktiva Produktif (KAP) dan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) pada bank syariah.
9) Tahun 2004, awal mula disusunnya ketentuan, persyaratan dan wewenang yang dapat dilakukan oleh Dewan Perwakilan Syariah (DPS).
10) Tahun 2005, dilakukannya ketentuan jaringan secara lebih efektif dan hati-hati. Selain itu, pada tahun ini juga awal mula munculnya inisiatif untuk menyusun linkpage program sebagai dasar bank syariah dalam usaha mengoptimalkan voluntary sector.
2. Pengertian Profitabilitas
Menurut Sofyan Syafri Harahap (2008), profitabilitas merupakanpkemampuanpperusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuanpsumber dayapyangpada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah cabang, dan sebagainya.13
MenurutppandanganpsyariahpterdapatpfirmanpAllahpyang menjelaskanptentang profitabilitas, yaitu:
لضفهللا نم نىغتبي ىفالاضر نىبرضي نورخاو
Artinya: “… dan dari orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT…”(QS. Al-Muzammil:20)14
Berdasarkanpfirman Allah diatas, maka dapat diketahui bahwa seluruhpumat Islam diwajibkankuntukkbertebaran dimuka bumi untukpmencariprezekipsebanyak-banyaknya dan juga dianjurkan untuk
13 Sofyan Syafri Harahap, “Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan”, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), 219.
14 Kementrian Agama RI, “Al Quran Terjemah”, Bandung: CV Diponegoro, 2013), 575.
mengingatpAllahpagar beruntung. Semakinpbanyak profitabilitas yang diperoleh, makapsemakin baikppulalkinerja bank tersebut.
Profitabilitaspsangat pentingpbagipsebuah bank, karena dapat menggambarkanptingkat kinerjapmanajemen dalam mengelola dana. Profitabilitaspdapat diukurpmenggunakanptolak ukur ROA dan ROE dengan rumus-rumus berikut:
a) Return On Asset (ROA)
Return On Asset (ROA) adalah rasio yang menggambarkan kemampuan bank dalam mengelola dana yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang menghasilkan keuntungan. Rasio ROApyangpsemakin padapsuatu bank, makapsemakinpbesar pula tingkatpkeuntunganpyangpdicapai bankptersebut dan semakin baik pulapposisi bankptersebut dari segi penggunaan aset, sehinggapkemungkinanpbank dalam kondisipbermasalahpsemakin kecil.15 Rumus yangpdigunakanpdalampperhitungan ROA yaitu:
ROA =
b) Return on Equity (ROE)
Return On Equity (ROE) adalah rasiopprofitabilitaspyang menunjukkanpperbandinganpantara laba setelah pajak dengan modalp(modal inti). Rasiopinipdigunakan untukpmengukur kinerja manajemenpbank dalampmengelolapmodal yangptersediapuntuk
15 Amir Machmud, Rukmana, “Bank Syariah: Teori, Kebijakan, dan Studi Empiris di Indonesia”, (Jakarta: Erlangga, 2010), 166.
menghasilkan laba setelah pajak. Semakin besar ROE maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai, sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah sangat kecil.16 Rumus yangpdigunakanpdalampperhitungan ROE yaitu:
3. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Salahpsatupcara yang digunakanpuntuk menguji kecukupan modal suatupbankpadalah denganpcara melihatprasiopmodalptersebut terhadappberbagai asetpbank yangpbersangkutan. Rasiopmodalpdapat diukurpdalampkaitannya denganpberbagaiprekening neraca seperti total deposito, total assetpataupasset beresiko. Rasiopmodal bank terhadap rekeningpneraca tersebutpharuslahpmemberi petunjuk terhadap seberapa jauhptingkat kerugianpyangpdialami bank namun masih memiliki modal yangpcukup gunapmenjaminpkeamanan dana milik deposan. Modalpyang cukuppberdasarkanprasio modalppada suatu bank tidak cukuppmencegahpterjadinyapkegagalanpsuatu bank.17
CAR merupakan proksi utama permodalan bank. Bank dengan modal yang tinggi dianggap relative lebih aman dibandingkan dengan bank modal yang rendah, hal ini disebabkan bank dengan modal yang tinggi biasanya memiliki kebutuhan yang lebih rendah dari pada
16 Ibid 166
17 Herman Darmawi, “Manajemen Perbankan”, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), hal. 88
pendanaan eksternal. Bank Indonesia menetapkan besarnya rasio CAR yaitu minimum 8 %.18
CAR =
Padapawal tahunp1980 terjadi ketimpanganpstruktur dan system perbankanpinternational. Ketimpangan tersebut berupa krisis pinjaman Negara-negarapAmerika latin,ppersainganpyang unfair pada Bank Jepang, BankpAmerika serta BankpEropappada dasar keuangan internasional, sertapterganggunyapsituasi pinjaman internasional.
Berdasarkan ketigapbentuk ketimpanganptersebut, maka BIS (Bank of International Settlement) membuatpketetapanpperihalpperhitungan CapitalpAdequacypRatio (CAR) yangpmana ketetapan tersebut haruslah diikuti olehpbank-bank seluruhpdunia.
Padappenerapannya, ketentuan 8% CAR (Capital Adequacy Ratio) dibagipmenjadi 2pbagian yaitu :19
a) 4% modal intipyangpterdiripdaripstakeholderspequity, preferred stocks dan freereserves.
b) 4% modal sekunderpyang terdiripdari subordinate debt, loan loss provisions, hybridpsecurities,pdanprevaluationpreserves. Modal pelengkap ini hanyapdapat diperhitungkanpsebagai modal setinggi- tingginyap100%pdaripjumlahpmodal inti. Menyangkut modal pinjamanpdanppinjamanpsubordinasi, bank syariah tidak dapat
18 Lifstin Wardintika, Rohmawati Kusumaningtyas, Pengaruh DPK, CAR, NPF, dan SWBI Terhadap Pembiayaan Murabahah Pada Bank Umum Syariah Tahun 2008-2012, 3
19 Muchdarsyah Sinungan, Manajemen Dana Bank Edisi Kedua (Jakarta:PT Bumi Aksara, 1993), 160-161.
mengkategorikannya sebagaipmodal, hal inipdikarenakan pinjaman harus patuhppadapprinsip qardpyang manapdalam qard tidak diperbolehkanpmemberikanpsyarat-syarat seperti ciri-ciri pada ketentuan yang dibuat.
Konseppteori permodalanppada bank syariah danpkonvensional memiliki perbedaan. DalamppandanganpIslam, modal pinjaman termasukpdalampkategori qard yaituppinjaman harta yang diminta kembali. Sumberputama modalppada bank syariah adalah modal inti dan kuasipekuitas. Adapun yangpdimaksudpdengan modal itupadalah modalpyang berasalpdari pemilikpbank itupsendiri danpterdiri atas modal yang disetorpolehppemegang saham, cadangan, dan laba ditahan. Sedangkanpyang dimaksudpdenganpkuasi ekuitaspadalah modal yang dicatatpdalam rekeningpbagiphasil atau mudharabah.
Kegagalanpataupkerugianppadapbankpsyariah dapat disangga denganpmodal denganpmodal intiptersebut, yang manapjuga berfungsi sebagaipppelindungpkepentinganppara pemegang rekening titipan (wadi’ah) atau pinjaman (qard), terutama atas aktiva yang didanai oleh modal sendiri dan dana-dana wadi’ah atau qard.20
Pentingnya modal dalam kehidupan manusia dapat ditunjukkan dalam QS. Al Imran ayat 14:
ِبَىَّذلاَنِم ِةَرَطْنَقُمْلاِرْيْطاَنَقْلاَو َنْيِنَبْلاَو ِءآَسِّنل َنِم ِتَوَهَّشلا ُّبُح ِساَّنِل َنِّيُز ِةَضِفْلاَو
ِبَأَمْلا ُنْسُح ُهَدْنِع ُوَللاَو َايْنُّدلاِةوَيَحْلا ُعاَتَم َكِلَذ ِثْرَحْلاَو ِماَعْ نَْلْاَو ِةَمَّوَسُمْلا ِلْيَخْلاَو
20 Muhammad, “Manajemen Dana Bank Syari’ah”, (Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan (UPP) AMPYKPN, 2002), 213.
Artinya:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa- apa yang diinginkan, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah- lah tempat kembali yang baik (surga).”21
Pada ayatpdiatas kata Zuyyinapmenunjukkan kepentingan modal dalampkehidupanpmanusia. Misalnya, dalam kaitan pengguna jasa keuanganpadalahpIslampmenempuh cara bagiphasilpdengan prinsip untung dibagi dan rugipditanggungpbersama, maka dengan system tersebutpmodal danpbisnis akan teruspterselamatkan tanpa merugikan pihak manapun.22
Fungsippenilaian Capital atau yangpdapat jugapdisebut dengan Modal adalahpsebagai berikut23:
a. Ukuranpkemampuanpbankpuntuk menyerap kerugian- kerugianpyang tidakpdapatpdihindari
b. Alatppengukuranpbesar kecilnya kekayaan bank atau kekayaanpyangpdimilikipoleh para pemegang saham.
c. Untukpmemungkinkanpmanajemenpbankpbekerja dengan efisienpsesuai denganpyang dikehendakippemilik modal.
21 QS. Al-Imran (3):14
22 Afzalur Rahman, “Doktrin Ekonomi Islam Jilid 1”, (Jakarta: PT. Dana Bankti Waqaf, 2005), hal. 286
23 Enny susilowati, “PengaruhpDana Pihak Ketiga (DPK), CapitalpAdequacy Ratio (CAR), dan Non PerformingpFinancing (NPF) TerhadappLikuiditaspPerbankan Syariah di Indonesia Periode 2011-2015” (Skripsi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta 2016), 19.
4. Non Performing Financing (NPF)
DalampperaturanpBankpIndonesiaptidak terdapat pengertian ataupun penjelasanpmengenai pembiayaan bermasalah. Namun pada StatistikpPerbankanpSyariah yangpditerbitkan oleh Direktorat Perbankan SyariahpBank Indonesiapdapatpditemukan istilah Non Performing Financing (NPF) yang mana diartikan sebagai pembiyaan non lancar mulai dari kurangplancarpsampaipdenganpmacet.24
Pada bankpsyariahpistilah NPL (Non Performing Loan) diganti denganpistilah NPF (Non Performing Financing). Halptersebut dikarenakanppadapperbankanpsyariah tidakpmengenalpistilahpkredit, prinsip yang digunakanpadalahpprinsip pembiayaan. Rasio ini digunakan untukpmengukur tingkatppermasalahan pembiayaanpyang dihadapipolehpperbankan syariah. NPF (Non Performing Financing) adalahpjumlahppembiayaanpyangpkemungkinanptidak dapat ditagih.
Semakinpbesarpnilai NPF (Non Performing Financing) maka semakin burukppula kinerjapdaripsuatupperbankanpsyariah. Adapun rumus yang digunakanpuntuk mencaripNPF (Non Performing Financing) adalah sebagai berikut:25
24 Faturrahman Djamil, “Penyelesaian Pembiayaan Bermasalah di Bank Syariah”, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), 66.
25 Adi Setiawan, Analisis Pengaruh Faktor Makro Ekonomi, Pangsa Pasar dan Karakteristik Bank Terhadap Profitabilitas Bank Syariah (Study Pada Bank Syariah Periode 2005-2008) (Jurnal Bisnis Dan Manajemen 2 (3)).
Dalam peraturanpBank Indonesia Nomer 8/21/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentangppenilaianpkualitas bankpumumpyang melaksanakanpkegiatanpusaha berdasarkanpprinsip syariah pasal 9 ayat 2, bahwa kualitaspaktiva produktifpdalam bentukppembiayaan dibagipmenjadi limapgolongan yaitu :
a) Lancarr (L)
b) DalampPerhatianpKhusus (DPK) c) KurangpLancar (KL)
d) Diragukan (D) e) Macet (M)
BesarnyapNPF (Non Performing Financing) yang diperbolehkanpolehpBankpIndonesia adalah 5%, jikaptelahpmelebihi 5% maka akanpmempengaruhippenilaianptingkatpkesehatan bank yang bersangkutan yaitupakanpmengurangi nilai skor yang diperoleh.
Variabelpini mempunyaipbobot nilai 20% skorpnilai NPF ditentukan sebagai berikut:26
a) Lebih dari 8% skor nilai = 0 b) Antara 5% - 8% skor nilai = 80 c) Antara 3% - 5% skor nilai = 90 d) < 3% skor nilai = 100
26 Rendy Kamal, “Analisis Pengaruh Non Performing Financing (NPF), Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR) Dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS) Terhadap Laba Perbankan Syariah Di Indonesia Periode September 2009 –Desember 2013” (Skripsi Ilmu Ekonomi Dan Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 2014), 47.
Resiko yangpterjadi darippembiayaanpatau pinjaman adalah peminjamanpyangptertunda ataupketidakmampuanppeminjam untuk membayar kewajibanpyang telahpdibebankan. Untukpmengatisipasi hal tersebut maka bankpsyariah harus mampupmenganalisisppenyebab permasalahanya.27
Padapumumnyaphutang piutangpmerupakanpperbuatan saling tolong menolongpantarapumatpmanusia. Hutang piutangpdapat mengurangi kesulitan orang lain yang sedang dirundung masalah serta dapat memperkuat tali persaudaraan kedua belah pihak. Dalam syariat islam mewajibkan bagi yang memiliki hutang agar segera melunasinya danpharampbaginyapmenunda-nundappembayaran. Adapun dalil tentang hutang piutang adalah QS An-Nisa ayat 58:28
ِتاَن اَم َْلْا اوُّدَؤُ ت ْنَأ ْمُكُرُمْأَي َوَللا ا َّن
ِ إْنَأ ِساَّنا َنْيَ ب ْمُتْمَكَح اَذ ِإ َو اَهِلْىَأ ىَلِإ
اًرْ يِصَب اًعْ يِمَس َناَك َللها َّنِإ ِوِب ْمُكُظِعَي اَّمِعِن َوَللا َّنِإ ِلْدَعْلاٍب اوُمُكْحَت
Artinya:
“SesungguhnyapAllah menyuruh kamu menyampaikanpamanat kepada yang berhakpmenerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantarapmanusiapsupaya kamu menetapkan dengan adil. Sungguh Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”29
Ayat diatas menjelaskan bahwa melunasi hutang adalah amanat yang harus ditunaikan, bagi yangpmampu melakukannya dan melarang menunda-nundanya. Allahpmemerintahkanpagar selalu menyampaikan
27 Ibid, Muhammad, Manajemen Bank Syariah, …, 267
28 Endang Hugraheni. “Analisis Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Financing to Deposit Ratio (FDR), Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Return On Asset (ROA) pada PT. Bank Syariah Mandiri”. (Doctoral dissertation, Program Pascasarjana UIN-SU, 2015)
29 QS. An Nisa (4) : 58
amanatpdalampsegalapbentuknya, baikpamanat perorangan seperti dalam jual-beli, hukumpperjanjianpmaupunpamanat perusahaan. Maka sama halnyapdenganpmemikulpbeban untuk memelihara dan menyampaikanpamanat. Dalampsurah Al Baqarah ayat 280 Allah berfirman:
َنْوُمَلْعَ ت ْمًتْنُكْنِا ْمُكَل ٌرْ يَخ اْوُ ق َّدَصَت ْنِاَو ٍةَرَسْيَم ىَلِا ٌةَرِظَنَ ف ٍةَرْسُعْوُذ َنَاك ْنِإَو
Artinya:
“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan.
Dan jika kamu menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”30.
Penjelasan daripayat diataspbahwa Allah SWT memerintahkan untukpmemberikanptenggang waktu bagi orang yang mengalami kesulitan. Jadi, Islampmemperbolehkan kegiatan hutang dari satu pihakpke pihakplain denganpsyarat adapwaktu jatuhptempopuntuk melunasipkewajibanptersebut.
5. Financing topDeposit Ratio (FDR)
Financing to Deposit Ratio (FDR) menyatakan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya, atau dengan kata lain seberapa jauh pemberian pembiayaan kepada nasabah dapat mengimbangi kewajiban bank
30 Endang Hugraheni. “Analisis Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Financing to Deposit Ratio (FDR), Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO), dan Non Performing Financing (NPF) terhadap Return On Asset (ROA) pada PT. Bank Syariah Mandiri”. (Doctoral dissertation, Program Pascasarjana UIN-SU, 2015)
untuk segera memenuhi permintaan deposan yang akan menarik kembali dananya yang telah disalurkan oleh bank berupa pembiayaan.
Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan.31
Rumus menghitung FDR adalah sebagai berikut:
FDR =
Sebagaian praktispperbankanpmenyepakati bahwa batas aman dari Financing to Deposit Ratio (FDR) suatupbank adalah sekitar 85%.
Namunpbatasptoleransi berkisar antara 80%-100%.32 Sedangkan batas amanpuntukpFinancing to Deposit Ratio (FDR) menurutpperaturan pemerintahpdalamphal ini BankpIndonesia adalah maksimum 110%.
Tujuanppenting daripperhitungan FDR adalahpuntukpmengetahui serta menilaipsampai berapapjauhpbankpmemilikipkondisipsehatpdalam menjalankanpoperasional atau kegiatan usahanya.
Semakinptinggiprasio likuiditaspsuatupbank, maka bank tersebutpakanpsemakin likuid. Islampmengajarkan dalampmelakukan kegiatanpbisnis hendaknyapkedua belah pihak yang bertransaksi saling ridho denganpaturan-aturanpmaupunpperjanjian yang telah menjadi kesepakatan. Sehinggapnantinyapdiharapkan akan menciptakan bisnis yang sehat dan membawa keberkahan dalam bisnis yang dijalani.
31 Dwi Suwiknyo, “Analisis Laporan Keuangan Perbankan Syariah”, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2010), 148.
32 Kasmir, “Manajemen Perbankan”, (Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa Kuncoro, 2003), 272
Islampmengajarkan dalam melakukan kegiatan bisnis hendaknya keduapbelahppihak yang bertransaksipsaling ridho dengan aturan-aturan maupun perjanjian yang telah menjadi kesepakatan.
Sehingga nantinya diharapkan akan menciptakan bisnis yang sehat dan membawa keberkahan dalam bisnis yang dijalani. Hal ini telah dijelaskan dalam firman Allah SWT QS. An Nisa ayat 2933:
َآي ُّ ي َه َّلا ا ِذ ْي َن َا َم ُ ن ْو َلْ ا َت ْأ ُك ُل ْو َا ا ْم َو َل ْم ُك َ ب ْ ي َن ْم ُك
ِب ْل َب ِطا ِل ِا َّلْ
َا ْ ن َت ُك ْو َن َج ِت َرا َع ًة َ ت َر ْن ٍضا
ِّم ْن ْم ُك َو َلْ
َ ت ْق ُ ت
ُل ْو َا آ ْ ن ُف َس ْم ِا ُك َّن َللها َك َنا ُك ِب ْم َر ِح ْي ًما
Artinya:
“Wahaiporang-orangpyangpberiman ! Janganlah kamu saling memakan hartapsesamamupdenganpjalan yang bathil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Danpjanganlahpkamu membunuh dirimu. Sungguh Allah maha penyayang kepadamu34”.
(
QS. An Nisa: 29)Ayat diataspmenjelaskan bahwa larangan untuk memakan harta yang didapatkanpsecara tidakpbenar. Permasalahan dalam harta yang batilptidak selalupmembicarakan zatpyangpterkandungpdalam hartaptersebut, melainkan berkaitanpdengan jalanpyangpditempuh untukpmendapatkannya.
33 Cita, R & Waluyo. W, Pengaruh Likuiditas, Ukuran Perusahaan, Arus Kas Operasi dan Laba Bersih Terhadap Kebijakan Dividen (Studi pada Perusahaan yang Tergabung dalam Daftar Efek Syariah 2012-2015) (Doctoral dissertation, IAIN Surakarta, 2017).
34 QS. An Nisa’ [4] :29
6. Rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)
Rasio biaya efisiensi atau yang biasa disebut BOPO adalah perbandinganpantarapbiayapoperasional danppendapatan operasional.
Rasio ini digunakanpuntuk mengukurptingkat efisiensi dan kemampuan bank dalampmelakukanpkegiatanpoperasinya. Rasio BOPOpyang semakin rendahpmakapsemakin baikpkinerja manajemen bank tersebut, karena bank lebihpefisienpmenggunakan sumberpdaya yang ada.35
DalampSurat EdaranpBank Indonesia No. 15/7/DPNP tanggal 8 Maret 2013, ditetapkanpbenchmark (ukuran) BOPOpbagipbank umumpkelompokpusaha (BUKU) I maksimal 85%. BUKUpIIpkisaran 78%-80%, BUKU III 70%-75% dan BUKU IV 60% - 65%.
Benchmark merupakan rata-rata BOPO bank berdasarkan kelompoknya. Sedangkan BUKUpadalah pengelompokkanpbank berdasarkanpmodalointi. Hal inipberartipbahwaprasio BOPO tidak lebih dari 85%.
BerdasarkanpSE BIpNo. 13/30/DNP tanggalp16pDesember 2011 perhitunganpBOPOpdapat dihitung dengan:
Rasio BOPO =
35 Muhammad, “Manajemen Dana Bank Syariah”, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), 254.
7. Hubungan Antar Variabel
1) Hubungan antara CAR terhadap Profitabilitas
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ayu 2017 tidak signifikannya CAR terhadap profitabilitas disebabkan oleh kondisi rasio permodalan kedua bank pada empat tahun pengamatan periode 2012-2015 cukup baik yaitu berada diatas standar minimum ketetapan CAR 8% sebesar 17,03% untuk rata-rata CAR BUSN Devisa dan 26,53% untuk rata-rata CAR BUSN Non Devisa. Hal ini mengindikasikan bahwa bank tidak menggunakan modal potensional yang dimiliki untuk meningkatkan profitabilitas.
2) Hubungan antara NPF terhadap Profitabilitas
Rendahnya NPF akan meningkatkan profitabilits, sedangkan NPF yang tinggi akan membuat bank rugi akibat pengembalian kredit macet dan mengakibatkan penurunan profitabilitas. Berdasarkan hasil penelitian Ayu 2017 variabel NPF berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.
3) Hubungan antara FDR terhadap Profitabilitas
Tingginya rasio FDR menunjukkan rendahnya kemampuan likuiditas suatu bank, karena semakin banyak dana yang diperlakukan untuk membiayai pembiayaan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Ayu 2017, variabel FDR tidak signifikan terhadap ROA.
4) Hubungan antara BOPO terhadap profitabilitas
BOPO memberikan indikasi bahwa apabila manajemen mampu menekan BOPO yang berarti efisiensi meningkat akan sangat signifikan terhadap kenaikan keuntungan yang dapat dilihat pada besarnya ROA. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Fitri, variabel BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
C. Kerangka Berfikir
Berdasarkan penelitianpterdahulupyang sudah dipaparkan diatas, maka kerangka konsep pemikiran dalamppenelitianpinipadalah adanya indicator dalampsuatu perusahaanpperbankan yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), Financing to Deposit Ratio (FDR), dan Rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) yang mempengaruhi baik atau tidaknya bagi Profitabilitas perbankan.
Dalam pengukuran profitabilitas peneliti menggunakan alat ukur yaitu Return On Assets (ROA). ROA digunakan untuk mengukur seberapa efisien suatu perusahaan dalam mengelola asetnya untuk menghasilkan laba selama suatu periode. Berikut konsep kerangka berpikir yang peneliti buat sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
D. Hipotesis
Hipotesispadalah suatu penjelasanpsementara atau dugaan sementara fenomena yang akan terjadi atau akan terjadi.36 Berdasarkan penelitianpterdahulu, makapdapat dirumuskanphipotesispsebagai berikut:
H0 = Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Financing (NPF), Financing to Deposit Ratio (FDR), dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) tidak berpengaruh terhadap Profitabilitas (Y)
36 Mudrajat Kuncoro. Metode Riset Untuk Bisnis & Ekonomi. (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2013).
Hal.59
Profitabilitas (Y) Capital Adequacy Ratio
(CAR) (X1) Non Performing Financing (NPF)
(X2)
Financing to Deposit Ratio (FDR)
(X3) Rasio Biaya operasional-pendapatan
operasional(BOPO) (X4)
H1 = Capital Adequacy Ratio (CAR) mempunyai pengaruh terhadap Profitabilitas (Y)
H2 = Non Performing Financing (NPF) mempunyai pengaruh terhadap Profitabilitas (Y)
H3 = Financing to Deposit Ratio (FDR) mempunyai pengaruh terhadap Profitabilitas (Y).
H4 = Rasio Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) mempunyai pengaruh terhadap Profitabilitas (Y)