KEBIJAKAN SEKTOR KETENAGALISTRIKAN NASIONAL
Jakarta, 1 November 2017
#energiberkeadilan
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
TUJUAN PEMBANGUNAN
NASIONAL (NAWA CITA)
KETENAGALISTRIKAN
Tersedia listrik:
Jumlah cukup
Kualitas baik
Harga wajar MASYARAKAT ADIL, MAKMUR MERATA MATERIL MERATA SPIRITUAL
TUJUAN PEMBANGUNAN KETENAGALISTRIKAN
(UU 30/2009 tentang Ketenagalistrikan)
KEBIJAKAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK
BUMD** SWADAYA MASYARAKAT**
BUMN* SWASTA** KOPERASI**
PENGUASAAN
PENGUSAHAAN NEGARA
PEMERINTAH PEMERINTAH DAERAH
* : Prioritas Pertama
** : Diberikan kesempatan sebagai penyelenggara UPTL terintegrasi untuk wilayah belum berlistrik
• Regulasi, kebijakan, dan standar
• RUKN, RUKD, IUPTL, IO, Tarif, dan Wilayah Usaha
• Menyediakan dana untuk:
― Kelompok masyarakat tidak mampu;
― Pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik di daerah yang belum berkembang;
― Pembangunan tenaga listrik di daerah terpencil dan perbatasan; dan
― Pembangunan listrik perdesaan.
PEMEGANG IZIN USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK (IUPTL)
KEBIJAKAN EFISIENSI PENYEDIAAN LISTRIK
101 99 58 59 45
310 342
119 108
77 0
50 100 150 200 250 300 350 400
2013 2014 2015 2016 2017
BBM/LPG Listrik Total
Subsidi Energi | Triliun Rupiah
Penyediaan listrik harus efisien agar
subsidi listrik tidak membebani APBN, dan masyarakat mendapatkan tarif listrik yang lebih baik
"Biar bagaimana, jika
menghasilkan energi besar namun biaya operasional juga besar, berarti hal tersebut tidak efisien serta menjadikan industri tidak kompetitif"
- Ignasius Jonan
Listrik yang lebih murah, akan membuat perekonomian (termasuk industri)
tumbuh lebih baik
“
“Arah subsidi energi dalam APBN harus turun, untuk pembangunan yang lebih adil dan merata
* 2016 angka realisasi unaudited | 2017 angka APBN
“
UU 30/2007
ENERGI
UU 30/2009
KETENAGALISTRIKAN
PP 79/2014
KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL (KEN)
• Kebijakan pengelolaaan energi yang berdasarkan prinsip keadilan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan guna terciptanya kemandirian energi dan ketahanan energi nasional
• Disusun oleh DEWAN ENERGI NASIONAL (DEN)
• Ditetapkan PEMERINTAH setelah mendapatkan persetujuan DPR-RI
PERPRES 22/2017
RENCANA UMUM ENERGI NASIONAL (RUEN)
• Kebijakan pemerintah pusat mengenai rencana pengelolaan energi tingkat nasional yang merupakan penjabaran dan rencana pelaksanaan KEN yang bersifat lintas sektor untuk mencapai sasaran KEN
• Disusun oleh PEMERINTAH dan ditetapkan oleh DEN
RENCANA UMUM KETENAGALISTRIKAN NASIONAL (RUKN)
• Rencana pengembangan sistem penyediaan tenaga listrik yang disusun oleh pemerintah pusat yang meliputi bidang pembangkitan, transmisi, dan distribusi tenaga listrik yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik nasional
• Disusun oleh MENTERI berdasarkan KEN
• Ditetapkan oleh MENTERI setelah berkonsultasi dengan DPR-RI
KEPMEN ESDM 1415 K/20/MEM/2017
PENGESAHAN RUPTL PT PLN (PERSERO) 2017-2026
• Dasar pelaksanaan usaha penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum
• Disusun oleh BADAN USAHA yang memiliki WILAYAH USAHA
• Disusun dengan memperhatikan RENCANA UMUM KETENAGALISTRIKAN (RUK)*)
• Disahkan oleh MENTERI/GUBERNUR sesuai kewenangannya
PP 14/2012 jo PP 23/2014
KEGIATAN USAHA PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK
*)RUK: RUKN dan RUKD
RENCANA UMUM KETENAGALISTRIKAN DAERAH (RUKD)
Disusun oleh PEMDA berdasarkan RUKN dan ditetapkan oleh GUBERNUR setelah berkonsultasi dengan DPRD
RENCANA UMUM ENERGI DAERAH (RUED)
Disusun oleh PEMDA berdasarkan RUEN dan ditetapkan dengan PERATURAN DAERAH
LANDASAN HUKUM PERENCANAAN
PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK
PRINSIP UTAMA PERENCANAAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK
Daya (MW)
Tahun
Demand Supply
Keseimbangan demand & supply harus dijaga agar tetap optimal karena:
• Di satu sisi untuk menjaga kualitas sistem tenaga listrik (tegangan, frekuensi, keandalan);
• Di sisi lain untuk menghindari over investment;
• Kekurangan supply BPP tinggi (untuk pengadaan dan operasional pembangkit temporary);
• Kelebihan supply cashflow terganggu untuk pengembalian investasi.
Beban Puncak
Reserve
Margin
PROSES PROYEKSI KEBUTUHAN TENAGA LISTRIK RUKN
• Jumlah penduduk
• Jumlah rumah tangga
• Inflasi /Indeks Harga Konsumen
• PDRB real:
− Perkapita
− Bisnis (Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang; Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; Transportasi dan Pergudangan; Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; Informasi dan Komunikasi; Real Estat; Jasa lainnya)
− Publik (Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib; Jasa Pendidikan; Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial)
− Industri (Perikanan; Industri Pengolahan; Pengadaan Listrik dan Gas)
• Konsumsi listrik
• Jumlah konsumen
• Tarif listrik
• Rasio elektrifikasi
• Kebutuhan energi listrik:
Rumah tangga : f (PDRB Perkapita, jumlah konsumen rumah tangga, tarif listrik rumah tangga)
Bisnis : f (PDRB bisnis, tarif listrik bisnis)
Publik : f (PDRB publik, tarif listrik publik)
Industri : f (PDRB industri, tarif listrik industri)
• Pertumbuhan PDRB: Bappenas/RPJMN
• Pertumbuhan PDRB Industri: RIPIN Kemenperin
• Jumlah konsumen rumah tangga: rasio elektrifikasi x jumlah rumah tangga
• Rasio elektrifikasi: ditargetkan (± 99% pada tahun 2020)
• Pertumbuhan penduduk/rumah tangga: BPS
• Skenario tarif: nilai riil tetap
• Inflasi: Bappenas
OUTPUT
(Hasil Simulasi)
PRAKIRAAN KEBUTUHAN ENERGI LISTRIK (GWh):
• Rumah tangga
• Bisnis
• Publik
• Industri
PRAKIRAAN PRODUKSI ENERGI LISTRIK (GWh)
(= prakiraan kebutuhan energi listrik + losses & pemakaian sendiri)
PRAKIRAAN BEBAN PUNCAK (MW)
(= prakiraan produksi energi listrik / (load factor x 8.760 jam)
PRAKIRAAN KEBUTUHAN DAYA (MW) (= prakiraan beban puncak + reserve margin)
PRAKIRAAN KEBUTUHAN TAMBAHAN DAYA (MW) (= prakiraan kebutuhan daya – kapasitas existing)
D E M
A N D
S U P P L Y
Data:
• Kapasitas
Eksisting (DMN)
Asumsi/Target:
• Pemakaian Sendiri
• Losses T&D
• Load Factor
• Reserve Margin INPUT
(Data Historis – Minimal 10 Th)
MODEL (Analisa Regresi)
Catatan: Demand Forecast dilakukan untuk setiap provinsi kemudian direkap menjadi Demand Forecast Nasional
KEBIJAKAN BAURAN ENERGI PEMBANGKITAN LISTRIK
“menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada tahun 2030 sebesar 29% dengan upaya sendiri, dan hingga 41% dengan bantuan dan kerjasama internasional”
PP 79/2014
Kebijakan Energi Nasional
“Bauran energi primer EBT paling sedikit 23%
di tahun 2025 sepanjang keekonomiannya terpenuhi “
Minyak Bumi 25%
Gas 22%
EBT 23%
Batubara 30%
BBM 1%
Gas 24%
EBT 25%
Batubara 50%
“porsi bauran energi pembangkitan listrik pada tahun 2025 terdiri dari energi baru dan energi terbarukan sekitar 25% ,
batubara sekitar 50% , gas sekitar 24% , dan BBM sekitar sekitar 1% ”
Draft RUKN 2015-2034
Diarahkan untuk memenuhi pertumbuhan tenaga listrik, mengoptimalkan potensi energi setempat, meningkatkan cadangan, dan terpenuhinya margin cadangan (reserve margin).
• PLTU masih dapat dikembangkan, namun mengutamakan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dan memiliki efisiensi tinggi (Clean Coal Technology) untuk sistem yang telah mapan (Jawa-Bali dan Sumatera). Untuk daerah dengan cadangan dan potensi batubara yang besar (Sumatera dan Kalimantan) dikembangkan PLTU mulut tambang (mine mouth).
• PLTG dan PLTA pump storage dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan beban puncak dan meminimalkan atau membatasi pembangkit BBM yang beroperasi pada waktu beban puncak. PLTG dapat dikembangkan juga pada daerah dengan potensi gas wellhead.
• PLT-EBT dikembangkan disamping untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik juga dalam rangka menurunkan tingkat emisi CO 2 .
PLTU
PLTG
PLT EBT
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PEMBANGKIT
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK NASIONAL
2015 2016 2017 2018 2019 2020 2025 2030 2034
KEBUTUHAN TAMBAHAN SISTEM NON PLN 2 4 6 8 11 14 32 44 55
KEBUTUHAN TAMBAHAN IPP & EXCESS POWER 12 28 45 64 86 110 272 412 547
KEBUTUHAN TAMBAHAN PLN 4 9 15 21 29 37 91 137 182
KEBUTUHAN TAMBAHAN PLN SYSTEM 16 37 60 86 115 147 363 550 730
TOTAL KEBUTUHAN TAMBAHAN
(TERHADAP 2014) 18 41 66 94 126 161 395 593 784
Sistem Non PLN IPP & Excess Power PLN
WILAYAH USAHA PLN (90%)
395
784
PPU & IZIN OPERASI NON BBM
(10%)
PLN (25%)
IPP &
EXCESS POWER (75%)
TWh
2034
KAPASITAS PEMBANGKIT TERPASANG NASIONAL
60.163 MW
PLN : 41.409 MW IPP : 13.298 MW PPU : 2.434 MW IO non BBM : 2.392 MW
Batubara 29,8 GW
50%
BBM 6,2 GW
10%
Gas 16,8 GW
28%
EBT 7,2 GW
12%
2013 2014 2015 2016 2017
35,890 37,380 38,314 41,049 41,409
10,623 2,349.4 10,945 2,349.4 12,473 2,349.4 13,782 13,928
2,434.4 2,434.4
2,392 2,392 2,392
2,392 2,392
2013 2014 2015 2016 2017
51,2 GW
53 GW
55,5 GW
59,6 GW
60,1 GW
Batubara
51,2 GW
60,1 GW
• PPU (Private Power Utility) merupakan Pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik terintegrasi yang memiliki Wilayah Usaha
• IO non BBM merupakan pemegang Izin Operasi pembangkit yang menggunakan bahan bakar selain BBM
Kapasitas pembangkit terpasang berdasarkan kepemilikan
Kapasitas pembangkit terpasang berdasarkan jenis pembangkit
EBT Gas BBM
*) : Status sampai dengan September 2017
KAPASITAS PEMBANGKIT TERPASANG 2017*
)PERKEMBANGAN KONDISI KELISTRIKAN NASIONAL
STATUS:
:
16Normal (Cadangan cukup)
: 7 Siaga (Cadangan lebih kecil dr pembangkit terbesar) : 0 Defisit (Pemadaman sebagian bergilir)
STATUS:
:
3Normal (Cadangan cukup)
: 11 Siaga (Cadangan lebih kecil dr pembangkit terbesar)
:9 Defisit (Pemadaman sebagian bergilir)
Jawa Bali 21.342
MW Aceh Sumut (SBU)
1.946 MW 3,91 %
Sumsel Bengkulu Lampung (SBS)
1.657 MW 7,88 % Sumbar
Riau Jambi (SBT) 1.436 MW
0,00 %
Tj, Pinang 68 MW 32,20 % Batam
298 MW 34,57 %
Bangka 129 MW 10,03 %
Belitung 37 MW 105,2 %
Palu 121 MW
9,56 %
Sulutgo 355 MW 15,43 %
NTT Isolated 80 MW 25,29 %
Kupang 73 MW 31,84 %
Lombok Bima Sumbawa
Sorong + Papua Isolated 161 MW 21,60 %
Jayapura 73 MW 13,25 % Kalbar
388 MW 43,88 %
Kendari 77 MW 27,94 %
Sulawesi Selatan 1.058 MW
15,89 % Kalselteng
605 MW 3,44 %
Kaltim 441 MW
41,57 %
Ternate + Maluku Isolated 92 MW 40,66 %
Ambon 52 MW 30,53 %
1 Oktober 2017 1 Oktober 2015
Aceh Sumut (SBU) 1.864 MW
-11,64 %
Bangka 126 MW -0,28 %
Sumbar Riau Jambi (SBT)
1.286 MW -7,81 %
Sumsel Bengkulu Lampung (SBS)
1.672 MW -7,66 %
Jawa Bali 23.449 MW
3,16 %
Ambon 50 MW 47,60 % Belitung
34 MW -9,93 % Tj. Pinang
53 MW 3,31 % Batam
293 MW
10,48 % Ternate +
Maluku Isolated 94 MW 9,20 % Kalbar
337 MW 0,79 %
Kaltim 482 MW
8,14 %
Lombok 198 MW
-4,71 % Bima Sumbawa
72 MW 7,62 %
Palu 94 MW -7,47 %
Sulutgo 313 MW - 30,95 %
Kendari 67 MW -16,37 %
Sulawesi Selatan + Poso-Tentena
921 MW 10,03 %
NTT Isolated 86 MW 9,68 %
Kupang 55 MW 5,09 %
Sorong + Papua Isolated
203 MW 11,38 %
Jayapura 66 MW 0,06 %
Kalselteng 533 MW
0,94 %
Kondisi Sistem Kelistrikan Nasional
SEMAKIN MEMBAIK.
• Pada 1 Oktober 2015, terdapat 9 Sistem dengan kondisi defisit (mengalami pemadaman sebagian bergilir).
• Pada 1 Oktober 2017, tidak ada sistem
dengan kondisi defisit
KONDISI KELISTRIKAN NASIONAL
(26 Oktober 2017)
STATUS:
:
14Normal (Cadangan cukup)
: 9 Siaga (Cad, lebih kecil dr pembangkit terbesar) : 0 Defisit (Pemadaman sebagian bergilir)
Jawa Bali 24.989 MW
4,62 % Aceh Sumut (SBU)
1.973 MW 8,79 %
Sumsel Bengkulu Lampung (SBS)
1.849 MW 3,09 % Sumbar Riau
Jambi (SBT) 1.499 MW
8,86 %
Tj, Pinang 67 MW 31,14 % Batam
294 MW 49,79 %
Bangka 101 MW
30,51 %
Belitung 28 MW 111,05 %
Palu 118 MW
6,94 %
Sulutgo 361 MW
4,42 %
NTT Isolated 74 MW 31,90 %
Kupang 82 MW 27,85 % Lombok
218 MW
10,95 % Bima Sumbawa 82 MW 23,31 %
Sorong + Papua Isolated
161 MW 20,53 %
Jayapura 70 MW
5,47 % Kendari
81 MW 17,90 %
Sulawesi Selatan 1.048 MW
17,94 % Kalselteng
601 MW 9,93 % Kaltim 510 MW
24,07 %
Kalbar 366 MW
38,15 %
Ambon 55 MW 29,33 %
Ternate + Maluku Isolated
85 MW 34,03 %
ACEH
96.94
SUMUT
97.86
RIAU
92.38
JAMBI
91.65
BABEL
100.00
KEPRI
77.02
BENGKULU
94.35
LAMPUNG
90.11
SUMBAR
87.69
SUMSEL
86.36
BANTEN
100.00
JABAR
99.87
DIY89.80
DKI JAKARTA
98.08
JATENG94.83
BALI
94.84
JATIM
90.85
KALBAR
88.10
NTB
80.39
NTT
58.99
PAPUA
48.91
PABAR
90.15
MALUKU
87.66
MALUT
99.53
SULTRA
77.51
SULSEL
95.24
KALSEL
90.70
KALTENG
76.23
KALTARA
86.44
KALTIM
99.29
SULBAR
85.07
GORONTALO
89.28
SULTENG
83.77
SULUT
92.72
> 70 50 - 70
< 50
KETERANGAN
93.08%
67.15 72.95 76.56 80.51 84.35 88.3 91.16 92.75 95.15 97.35
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Sampai dengan bulan September 2017 Rasio Elektrifikasi Nasional sebesar
RASIO ELEKTRIFIKASI NASIONAL
Realisasi dan target Rasio Elektrifikasi Nasional
*Penambahan baru dari data Rumah Tangga berlistrik PLN
Sebab
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi berkisar 7%
setiap tahun.
Meningkatnya
Pertumbuhan kebutuhan listrik sekitar 8,7% setiap tahun.
1
2
Akibat
Kebutuhan Listrik akan meningkat 7000 MW setiap tahun.
PROGRAM 35.000 MW
DIBUTUHKAN MENJAWAB TANTANGAN SEKTOR
Kapasitas pembangkit saat ini baru dapat memenuhi kebutuhan listrik sekitar 84,35%* rumah tangga, lebih rendah daripada Singapura (100,0%), Brunei (99,7%), Thailand (99,3%), Malaysia (99,0%), dan Vietnam (98,0%)
Dalam 5 tahun ke depan, kebutuhan listrik akan tumbuh rata-rata sekitar 8,7% per tahun, dengan target rasio elektrifikasi sebesar 97,35% pada akhir tahun 2019
Kondisi
Saat Ini Satuan Jumlah Elektrifikasi % 84,35*
Kapasitas GW 53*
Untuk memenuhi pertumbuhan
kebutuhan listrik dan target rasio elektrifikasi, diperlukan tambahan kapasitas terpasang sebesar 35.000 MW (di luar 7.400 MW yang dalam konstruksi) pada 2015-2019
PROGRAM 35.000 MW
Rasio Elektrifikasi dan Kapasitas
Faktor di luar cakupan Program 35.000 MW namun mempengaruhi tujuan Program:
Perubahan asumsi yang berdampak pada perubahan kebutuhan listrik per tahun
Ketersediaan demand yang dapat menyerap ketersediaan listrik untuk mengembalikan investasi
1 2
Target Elektrifikasi
87.35%
90.15% 92.75% 95.15% 97.35%
PROGRAM 35.000 MW
PEMBANGUNAN KETENAGALISTRIKAN 2015-2019 UNTUK MEMENUHI PERTUMBUHAN LISTRIK 8,7%
DAN ELEKTRIFIKASI 97,35% PADA 2019
*: 2014
78 GW
TAMBAHAN KAPASITAS PEMBANGKIT SAMPAI DENGAN TAHUN 2026
PLN 20,983
27%
IPP 42,061
54%
Unallocated 14,829
19%
78
2,688
GW
5,956
18,666
6,584 7,914 7,860
5,548 7,292
11,305
4,060
-
5,000 10,000 15,000 20,000 25,000
2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
Unallocated IPP
PLN MW
MW
PLTU 24,590
32%
PLTU MT 7,345 PLTP 9%
6,290 8%
PLTGU 18,795
24%
PLTG/MG 5,594
7%
PLTM 1,694
2%
PLTA 8,402
11%
PS 3,940
5%
PLT Lain 1,224
2%
Sumber: RUPTL PLN 2017-2026
Target ini akan disesuaikan dengan koreksi target pertumbuhan ekonomi, COD pembangkit akan dijadwal ulang
SKEMA PEMBELIAN TENAGA LISTRIK DARI PLTU (PerMen ESDM No. 19/2017)
1. Harga pembelian tenaga listrik pada saat COD, masa kontrak 30 tahun dengan asumsi capacity factor 80% dengan pola BOOT (Build, Own, Operate and Transfer)
2. Pembangunan Jaringan listrik dapat dilakukan Pengembang Pembangkit Listrik (PPL) berdasarkan mekanisme business to business.
3. Pembelian tenaga listrik dari Pembangkit Mulut Tambang dapat melalui Penunjukan Langsung 4. Penambahan kapasitas pembangkit (ekspansi) di lokasi yang sama dapat dilakukan
penunjukan langsung, dengan persyaratan harga listriknya harus di bawah harga patokan 5. Penambahan kapasitas pembangkit (ekspansi) di lokasi yang berbeda pada sistem yang sama
dapat dilakukan pemilihan langsung, dengan persyaratan harga listriknya harus di bawah harga patokan.
Mulut Tambang Non Mulut Tambang
Kapasitas Semua Kapasitas >100 MW ≤100 MW
Harga Patokan Tertinggi (BPP S ≤ BPP N )
75% BPP S BPP S BPP S
Harga Patokan Tertinggi (BPP S > BPP N)
75% BPP N BPP N Lelang atau B to B
KONTRAK PLTU MT DAN PLTU NON MT (PerMen ESDM No. 19/2017) Tercatat setidaknya
16 PPA PLTU dan 2 PPA PLTU Mulut
Tambang dengan total kapasitas 8.241 MW, yang telah
ditandatangani antara PLN dan IPP:
Harga sesuai Permen 19/2017
PPA ke 18 Pembangkit PLTU dan PLTU MT di atas, harganya dibawah harga sesuai ketentuan Permen 19/2017
Investasi PLTU & PLTU MT masih menarik
Wilayah
Jenis Pembangkit
Listrik
Kapasitas (MW)
Permen 19/2017 (centUS$/kWh)
1 Jawa Barat 2 PLTU 2.660 5,57
2 Jawa Tengah 2 PLTU 3.320 5,90
3 Lampung 2 PLTU 24 6,88
4 Sulselrabar 1 PLTU 200 7,50
5 Kalselteng 2 PLTU 211 7,50
6 Kaltim 4 PLTU 307 7,50
1 PLTU MT 55 5,63
7 Kalbar 2 PLTU 212 7,50
8 Babel 1 PLTU 12 7,50
9 S2JB 1 PLTU MT 1.240 5,14
<
POKOK-POKOK PM ESDM No. 50 Tahun 2017
(PEMANFAATAN SUMBER ENERGI TERBARUKAN UNTUK PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK)
PT. PLN (PERSERO) Wajib Menyusun dan Mempublikasikan Standar Dokumen Pengadaan, Standar PJBL, dan Juknis Pelaksanaan Pemilihan Langsung
Pembelian tenaga listrik wajib mendapatkan Persetujuan Menteri
PLTS Fotovoltaik, PLTB,
PLT Air, PLTBm, PLTBg, PLTSa, PLTP dan PLTA Laut
JENIS PEMBANGKIT
PELAKSANAAN PEMBELIAN TENAGA LISTRIK
POLA KERJASAMA
STANDAR PJBL PERSETUJUAN HARGA
SUMBER ENERGI TERBARUKAN
Pemilihan Langsung berdasarkan
Kuota Kapasitas
PLTS Fotovoltaik dan PLTB
Pemilihan Langsung PLTA, PLTBm, PLTBg, dan PLTA Laut
PLN wajib mengoperasikan pembangkit dengan
kapasitas s.d. 10 MW secara terus menerus (must run)
Build, Own, Operate and Transfer (BOOT)
Sesuai Ketentuan Peraturan Perundang-undangan
PLTSa dan PLTP
POKOK-POKOK PM ESDM No. 50 Tahun 2017
(PEMANFAATAN SUMBER ENERGI TERBARUKAN
UNTUK PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK) Harga Pembelian Tenaga Listrik: PLTS Fotovoltaik, PLTB, PLTBm, PLTBg, PLTA Laut
BPP PEMBANGKITAN TAHUN 2016 (sen USD/kWh)
Sesuai Kepmen ESDM No. 1404 K/20/MEM/2017
POKOK-POKOK PM ESDM No. 50 Tahun 2017
(PEMANFAATAN SUMBER ENERGI TERBARUKAN
UNTUK PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK)
BPP PEMBANGKITAN TAHUN 2016 (sen USD/kWh)
Sesuai Kepmen ESDM No. 1404 K/20/MEM/2017
Harga Pembelian Tenaga Listrik: PLT Air, PLT Sampah, PLTP
WWW.DJK.ESDM.GO.ID
TERIMA KASIH
KEMAJUAN PROGRAM 35.000 MW
PLT Lainnya: PLTB, PLTBg, PLTBM, PLTBn, PLTS, PLTSa PLTU
15,799 44%
PLTU MT 2,940
8%
PLTA 1,060
3%
PLTM 312 1%
PS 1,040
3%
PLTP 556 2%
PLTG 448 1%
PLTG/MG 1,947
5%
PLTGU 8,170 23%
PLTGU/MG 1,050
3% PLTGU/MGU 450 1%
PLTMG 1,779
5%
PLT lainnya 217 1%
PLTD 68 0%
35.836 MW
6,970 19%
4,563 13%
8,255 23%
15,266 43%
783 2%
35.836 MW
Kontrak Proses Konstruksi COD/SLO
Pengadaan
Kontrak Belum Konstruksi Perencanaan
JENIS PEMBANGKIT PROGRAM 35.000 MW KEMAJUAN PROGRAM 35.000 MW BERDASARKAN FASE PEMBANGUNAN
4.228 MW 9.100
MW
13.175 MW
1.908 MW 2.544
MW 4.018
MW 862
MW
SUMATERA KALIMANTAN
JBB
JBT JBTBN
SULAWESI MALUKU PAPUA
KEMAJUAN PROYEK PEMBANGKIT 7.000 MW
1,596 21%
381 5%
5,548 74%
850 51%
210 13%
600 36%
2.543 MW
3.323 MW
TOTAL
1.550 MW
FTP 2
7.416 MW
: Kontrak konstruksi
: SLO/COD : Komisioning