• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROPOSAL PENELITIAN DOKTOR BARU DANA ITS TAHUN 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROPOSAL PENELITIAN DOKTOR BARU DANA ITS TAHUN 2020"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

1

PROPOSAL

PENELITIAN DOKTOR BARU DANA ITS TAHUN 2020

KERJASAMA PEMERINTAH DAN BADAN USAHA

YANG BERKELANJUTAN DENGAN SKEMA MIXED-HOUSING TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT PADA RUMAH SUSUN DI

INDONESIA

Tim peneliti:

Farida Rachmawati (Departemen Teknik Sipil/FTSPK/ITS) Ria Asih Aryani Soemitro (Departemen Teknik Sipil/FTSPK/ITS)

DIREKTORAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

SURABAYA

(2)

2 2020

Daftar Isi

BAB 1 RINGKASAN ... 3

BAB 2 PENDAHULUAN ... 4

2. 1. Latar Belakang ... 4

2. 2. Permasalahan ... 6

2. 3. Tujuan Penelitian ... 6

2. 4. Kontribusi penelitian ... 6

2. 5. Ruang Lingkup Penelitian ... 7

2. 6. Luaran yang diharapkan ... 7

BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA ... 8

3. 1. Isu dan permasalahan perumahan ... 8

3. 2. Kendala penyediaan perumahan ... 8

3. 3. Gap penyediaan perumahan... 9

3. 4. Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha ... 10

3. 5. Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha untuk sektor perumahan ... 12

3. 6. Road map Penelitian ... 14

BAB 4 METODE PENELITIAN ... 15

4. 1. Konsep dan Model Penelitian ... 15

4. 2. Data dan pengambilan data ... 15

4. 3. Analisa Data ... 17

BAB 5 JADWAL DAN RANCANGAN ANGGARAN BIAYA ... 20

5. 1. Jadwal Penelitian ... 20

5. 2. Rancangan Anggaran Biaya ... 21

BAB 6 DAFTAR PUSTAKA ... 22

BAB 7 LAMPIRAN ... 24

(3)

3

BAB 1 RINGKASAN

Kendala keterbatasan pembiayaan dapat diselesaikan melalui Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Karena perumahan rakyat atau rumah murah memang merupakan kewajiban Pemerintah untuk menyediakan. Namun, dengan keterbatasan pendanaan, maka perlu dukungan dari sektor swasta untuk mempercepat supply, efisiensi pengelolaan dan alokasi resiko yang sesuai.

Rumah susun dipilih sebagai alternatif bentuk perumahan, sebagai respon terhadap kendala keterbatasan lahan dan tingginya harga lahan. Dengan KPBU, diharapkan Pemerintah dapat berkontribusi dalam hal penyediaan lahan, terutama pemanfaatan lahan di daerah yang strategis, dekat dengan pusat kegiatan. Selain untuk menyediakan hunian yang layak, juga dapat meningkatkan transport affordability. Kondisi saat ini, MBR melakukan trade-off antara cara menurunkan biaya kepemilikan rumah dengan mencari rumah layak dengan harga yang murah, namun dengan konsekuensi biaya transportasi yang lebih tinggi.

Pendekatan mixed-income housing Transit Oriented Development (TOD) direkomendasikan agar memungkinkan subsidi silang dan mewujudkan hunian yang berimbang yang berlokai di dekat sarana transportasi. Dari sisi finansial, pemulihan biaya dari investor akan lebih cepat dan ketidakpastian investasi akan dapat diminimalisir. Penelitian ini akan merekomendasikan skema kerjasama KPBU perumahan dengan mixed-housing yang paling sesuai untuk rumah susun di Indonesia serta mengusulkan skema finansial untuk skema tersebut. Interview dan pengambilan data sekunder akan dilakukan untuk mendukung penelitian ini. Analisa system dynamics akan digunakan untuk memodelkan skema finansial. Model kerjasama dan skema finansial diharapkan dapat memastikan bahwa investasi baik dari Pemerintah dan sector badan usaha layak dan berkelanjutan secara finansial, sosial dan lingkungan.

Kata kunci: kerjasama Pemerintah dan Badan usaha, rumah susun, skema finansial

(4)

4

BAB 2 PENDAHULUAN

2. 1. Latar Belakang

Rumah murah dianggap sebagai akomodasi yang layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah untuk mengurangi permukiman ilegal dan untuk pengentasan kemiskinan (Srinivas, Bell, Toha, Zaenal, & Collier, 2015). Permukiman liar (slum area), contohnya pemukiman di bantaran sungai, sebagian besar dihasilkan oleh masalah perkotaan seperti tingginya tingkat urbanisasi dan pertumbuhan populasi. Dalam konteks pembangunan perkotaan, pemukiman liar merupakan salah satu indikasi infrastruktur dan layanan yang tidak memadai. Pemukiman kumuh dan liar kebanyakan dihuni oleh keluarga miskin atau masyarakat berpenghasilan rendah, yang tidak memiliki kemampuan untuk memiliki rumah.

Sehingga mereka tinggal di kawasan kumuh atau membangun perumahan swadaya ilegal (Susilawati, 2018). Integrasi perkotaan dan pembangunan perkotaan berkelanjutan adalah persyaratan utama pengurangan kemiskinan di wilayah perkotaan, karena memastikan masyarakat berpenghasilan rendah untuk tidak tinggal di permukiman kumuh ilegal atau pemukiman liar. Oleh karena itu, pemerintah harus mengatasi kebutuhan perumahan murah dengan penyediaan perumahan murah.

Permintaan perumahan murah karena urbanisasi dan peningkatan jumlah populasi meningkat, sebaliknya, pasokan perumahan murah tidak dapat memenuhi permintaan. Di Indonesia, isu dan tantangan utama dalam proses penyediaan perumahan yang terjangkau adalah tren urbanisasi yang memberikan pertimbangan pada kebutuhan akan rumah yang layak dan terjangkau di kawasan perkotaan, terutama kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Batam dan Makassar.

Di Indonesia, kekurangan pasokan rumah adalah sebesar 7.6 juta. Dari jumlah tersebut, 1.03 juta diantaranya berada di Jawa Timur, sedangkan 1.3 juta diantaranya di DKI Jakarta.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan penurunan backlog rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dari 7,6 juta menjadi 5 juta unit dengan membangun 3,9 juta unit rumah dalam kurun waktu 2020-2024. Diperkirakan total investasi yang dibut uhkan untuk mencapai target diatas sebesar Rp 780 triliun.

(5)

5 Tanah yang berlokasi di pusat kota, dekat dengan pusat perkantoran dan perniagaan serta fasilitas-fasilitas seperti sekolah, rumah sakit, pusat perbelanjaan, transportasi umum, jalan tol, dan punya akses jalan yang lebar tentunya punya harga yang jauh lebih mahal dibandingkan tanah yang berada di pinggir kota dengan fasilitas dan akses yang tidak lengkap. Harga lahan merupakan 15% - 20% dari seluruh komponen biaya produksi rumah. Selain itu, lahan sangat sulit untuk didapatkan terutama di kota-kota besar seperti di Jakarta dan Surabaya untuk bangun rumah MBR. Inilah yang sedang dipikirkan oleh pemerintah dengan membentuk badan land banking atau inisiasi perumahan murah di lokasi yang berdekatan dengan sarana transportasi (Transit Oriented Development – TOD) untuk menurunkan biaya transportasi sekaligus meningkatkan kualitas sarana dan prasaranan transportasi.

Pasokan perumahan diharapkan berasal dari sektor publik dan swasta atau non-pemerintah.

Namun, sektor publik mempunyai keterbatasan untuk menyediakan perumahan murah, dimana salah satunya diakibatkan oleh tingginya biaya produksi perumahan. Perlu pasokan tambahan dari sektor swasta dalam rangka penyediaan perumahan. Di sisi lain, itu tidak bisa sepenuhnya didanai oleh sektor swasta untuk menghindari harga sewa yang tinggi atau harga jual yang tinggi. Perumahan berbiaya rendah didedikasikan untuk masyarakat berpenghasilan rendah, sehingga harga sewa atau jual harus dijaga tetap rendah (Li, Akintoye, Edwards, & Hardcastle, 2005). Sedangkan sektor swasta selalu memperhitungkan profit dan pengembalian investasi yang signifikan dalam waktu tertentu. Itulah sebabnya investasi pengembang swasta di perumahan murah terbatas (Alteneji, Allkass, Dabous, 2019a). Pengembang swasta lebih cenderung untuk berinvestasi ke perumahan menengah dan mewah. Pembiayaan proyek adalah faktor kunci untuk investasi sektor swasta dalam proyek infrastruktur publik (Alteneji, Allkass, Dabous, 2019b). Sehingga, Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) menjadi salah satu cara untuk mengatasi housing backlog. Terlebih karena perumahan rumah adalah domain dari pemerintah, maka pemerintah tetap akan memberikan dukungan, misal dalam bentuk subsidi silang. Pendekatan mixed-income housing, sebagai salah satu skema mixed-housing, direkomendasikan agar memungkinkan subsidi silang dan mewujudkan hunian yang berimbang. Dari sisi finansial, dimana investor akan berorientasi terhadap pendapatan dan laba, pemulihan biaya dari investor akan lebih cepat dan ketidakpastian investasi akan dapat diminimalisir.

(6)

6 Di Indonesia, konsep pembangunan perumahan seimbang dengan rasio 1: 3: 6 yang didirikan pada tahun 1992, yang diadopsi secara luas di apartemen murah, berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20/2011 merupakan contoh mixed-income housing. Ini berarti bahwa pengembang apartemen tidak boleh mengalokasikan unit hanya untuk berpenghasilan menengah dan tinggi. Mereka harus mengalokasikan minimum 20% dari semua unit untuk penyewa berpenghasilan rendah. Peraturan ini harus dikoordinasikan secara intensif oleh pemerintah, karena mixed-housing akan memungkinkan subsidi silang untuk pengadaan infrastruktur dan fasilitas publik.

2. 2. Permasalahan

Penelitian ini akan membahas mengenai skema kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam pengembangan rumah susun. Penelitian ini meneliti implikasi dari kebijakan dan praktik yang ada dalam pengembangan dan manajemen rumah susun. Skema mixed-housing dipertimbangkan sebagai salah satu skema kerjasama yang dapat melibatkan swasta karena memungkinkan untuk subsidi silang, namun perlu difokuskan skema dari mixed-housing yang paling sesuai, apakah mixed-pendapatan (berpenghasilan rendah dan menengah), mixed- kepemilikan (sewa atau milik) atau mixed-bangunan (hunian dan komersial)

1. Kemungkinan model KPBU dengan skema mixed-housing TOD apakah yang tepat antara Pemerintah dan Badan Usaha dalam pengembangan rumah susun di Indonesia 2. Aspek apa sajakah yang mempengaruhi implementasi kerjasama ini

3. Bagaimana skema finansial kerjasama dengan skema tersebut

2. 3. Tujuan Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menentukan skema kerjasama yang tepat antara Pemerintah dan Badan Usaha dalam pengembangan rumah susun di Indonesia.

Untuk menyelesaikan tujuan permasalahan terebut, maka beberapa tujuan permasalahan dapat dibagi menjadi sub-tujuan, yaitu:

1. Identifikasi kemungkinan model KPBU dengan skema mixed-housing TOD 2. Identifikasi aspek yang mempengaruhi implementasi kerjasama

3. Membuat model skema finansial untuk kerjasama dengan skema tersebut

2. 4. Kontribusi penelitian

Studi ini akan berkontribusi pada “body of knowledge” tentang pembiayaan rumah susun, khususnya rumah susun sederhana milik serta skema kerjasama yang sesuai agar berkelanjutan

(7)

7 secara fiannsial, sosial dan lingkungan. Berdasarkan kerangka kerja konseptual yang dijelaskan dalam sub-bab sebelumnya, hasil dan signifikansinya diringkas menjadi tujuan berikut:

1. Skema kerjasama Pemerintah dan Badan usaha bidang perumahan di Indonesia hanya sebatas sewa tanah, sehingga penelitian ini akan mengusulkan alternatif skema yang lain, yaitu mixed housing TOD

2. Dari penelitian sebelumnya, sejumlah besar studi rumah susun telah membahas faktor- faktor yang mempengaruhi sewa apartemen murah dan harga jual. Namun, mereka tidak memasukkannya sebagai parameter kelayakan finansial. Oleh karena itu, penelitian ini untuk pertama kalinya berupaya mengembangkan model keuangan untuk menghitung kelayakan investasi apartemen murah.

3. Analisa finansial dengan system dynamics akan memperluas referensi saat ini untuk penelitian apartemen murah dan implementasi dinamika sistem. Ini mengusulkan metodologi untuk memperoleh titik keseimbangan antara berbagai skema subsidi pemerintah, kemampuan penyewa dan kemauan untuk membayar, dan biaya operasi.

2. 5. Ruang Lingkup Penelitian

1. Penelitian ini adalah kelanjutan disertasi program doktor penyusun, sehingga akan diajukan melalui skema Penelitian Doktor Baru

2. Alternatif skema adalah: mixed-income, mixed-tenure dan mixed-building 3. Penelitian ini akan fokus pada rusunami mixed-housing Transit Oriented

Development (TOD)

4. Penelitian ini mendukung road map penelitian pada pusat penelitian Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan pada topik “built environment”

2. 6. Luaran yang diharapkan

1. Jurnal internasional – Journal of Housing and the Built Environment (Springer – Q1 – H Index 37)

2. Konferensi Nasional Teknik Sipil – Bandung (Juli 2020)

(8)

8 BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA

3. 1. Isu dan permasalahan perumahan

Perumahan adalah kebutuhan dasar bagi semua orang atau keluarga, karena rumah adalah bangunan yang menyediakan perlindungan dari unsur-unsur; menyediakan penyimpanan semua kebutuhan sehari-hari; dan itu menciptakan kehidupan komunal di antara rumah tangga (Aribigbola, 2011). Semua orang ingin tinggal di lingkungan perumahan yang baik dengan harga terjangkau. Kondisi itu sulit dijangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Karena kota-kota besar menawarkan banyak fasilitas penting dan menarik, tanah di pusat kota, yang sebagian besar dekat dengan tempat kerja sangat mahal dan semakin langka (Susilawati &

Yakobus, 2010).

Secara umum, masalah perumahan terkait dengan permintaan dan pasokan perumahan.

Pasokan perumahan sebagian besar disebabkan oleh terbatasnya tanah, negara bagian dan wilayah serta perencanaan lokal dan proses persetujuan, kurangnya koordinasi antara perencanaan infrastruktur dan pasokan perumahan, dan kurangnya keterampilan dalam industri konstruksi perumahan. Khususnya masalah perumahan untuk masyarakat miskin atau berpenghasilan rendah, beberapa kombinasi berpenghasilan rendah dan biaya perumahan yang tinggi menjadi penyebab masalah keterjangkauan, seperti kurangnya sistem pembiayaan perumahan yang efektif dan kesulitan dalam mengakses tanah dengan hak kepemilikan yang terjamin (Mukhtar, Amirudin , & Mohamad, 2016)

3. 2. Kendala penyediaan perumahan

Kendala dalam penyediaan pembiayaan ataupun pengelolaan perumahan khususnya rumah susun:

1. Harga tanah dan ketersediaan lahan, terutama di kota besar

Tanah yang berlokasi di pusat kota, dekat dengan pusat perkantoran dan perniagaan serta fasilitas-fasilitas seperti sekolah, rumah sakit, pusat perbelanjaan, transportasi umum, jalan tol, dan punya akses jalan yang lebar tentunya punya harga yang jauh lebih mahal dibandingkan

(9)

9 tanah yang berada di pinggir kota dengan fasilitas dan akses yang tidak lengkap. Harga lahan merupakan 15% - 20% dari seluruh komponen biaya produksi rumah.

Selain itu, lahan sangat sulit untuk didapatkan terutama di kota-kota besar seperti di Jakarta dan Surabaya untuk bangun rumah MBR. Inilah yang sedang dipikirkan oleh pemerintah dengan membentuk badan land banking.

2. Pembiayaan rumah murah dan rumah susun

Terkait dengan pengadaan rumah murah, pemerintah tidak hanya membangun, namun juga memberikan subsidi bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk membeli rumah tersebut serta bagi pengembang yang akan membangun perumahan. Bantuan pemerintah untuk MBR dapat berupa subsidi selisih bunga, bantuan uang muka dan pembebasan pajak PPn.

Sedangkan subsidi untuk pengembang berupa Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan.

Untuk rumah susun, pemerintah juga memberikan subsidi pada pengelolaannya. Beban Pemerintah menjadi semakin besar yang tentu saja mengurangi alokasi pembangunan perumahan baru.

3. 3. Gap penyediaan perumahan

Gap dari permasalahan penyediaan rumah murah di Indonesia, dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Kebutuhan rumah murah akibat tingginya arus urbanisasi

2. Backlog perumahan 7.6 juta unit dan akan semakin bertambah 3. Target pembangunan perumahan

murah sebanyak 3.9 juta unit dalam rentang tahun 2020-2024 (belum dapat memenuhi semua kebutuhan)

Kendala:

1. Tingginya harga tanah

2. Ketersediaan lahan di kota besar pada lokasi yang strategis

3. Ketersediaan pembiayaan dari Pemerintah 4. Pemerintah mensubsidi penyediaan rumah dan

pengelolaan rumah murah (termasuk rumah susun) 5. Investasi sektor swasta lebih banyak pada

perumahan mewah

6. Sektor swasta memperhitungkan profit

1. Kerjasama dengan pihak swasta dalam hal penyediaan lahan dan/atau operasional dan perawatan

2. Pemerintah memberikan support pada investasi sektor swasta melalui suatu kerjasama pemerintah dan badan usaha

(10)

10 Gambar 3.1. Permasalahan penyediaan perumahan

Mengacu pada kendala keterbatasan lahan dan tingginya harga, maka pembangunan rumah susun atau hunian vertikal menjadi alternatif. Pembangunan rumah susun merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah kebutuhan perumahan dan pemukiman terutama di daerah perkotaan yang jumlah penduduknya terus meningkat, karena pembangunan rumah susun dapat mengurangi penggunaan tanah, membuat ruang-ruang terbuka kota yang lebih lega dan dapat digunakan sebagai suatu cara untuk peremajaan kota bagi daerah yang kumuh. Rumah susun dapat berbentuk rumah susun sewa atau milik.

Sedangkan kendala pembiayaan, dapat diatasi dengan skema KPBU yang merupakan kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha untuk penyediaan infrastruktur. KPBU dapat mencukupi kebutuhan pendanaan penyediaan infrastruktur secara berkelanjutan melalui pengerahan dana swasta yang pada akhirnya dapat menciptakan iklim investasi dan mendorong partisipasi Badan Usaha dalam penyediaan infrastruktur.

3. 4. Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha

Salah satu metode pengadaan dan kemitraan adalah Kerjasama Pemerintah dan Badan usaha (KPBU), yang telah diterapkan di banyak proyek infrastruktur. KPBU memainkan peran penting dalam membawa persaingan sektor swasta ke monopoli publik dalam pengembangan infrastruktur dan penyediaan layanan, dan dalam menggabungkan sumber daya dari sektor publik dan swasta untuk melayani kebutuhan publik dengan lebih baik yang jika tidak akan dipenuhi (Zhang dan Chen 2013). Dalam penelitian perumahan, KPBU telah diperkenalkan sebagai metode untuk melibatkan sektor swasta. Di Indonesia, KPBU digunakan sebagai delivery method di semua proyek jalan tol dan proyek pembangkit listrik (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2014). Pengembangan pasar tradisional di Surabaya juga menggunakan KPBU dengan masa konsesi 20-30 tahun (Rahmawati dan Adi, 2007).

Pendanaan perumahan untuk perumahan murah lebih rumit karena pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan lembaga swasta sebagai pemangku kepentingan utama dalam proyek perumahan harus mempertimbangkan kemampuan membayar pembeli rumah atau penyewa

(11)

11 rumah. Institusi publik yang tidak dapat menyediakan sumber yang cukup untuk proyek pembaruan perkotaan sebagian besar berlaku untuk model pembagian pendapatan. Dalam model ini, mereka bekerja sama dengan kontraktor perumahan swasta domestik atau internasional. Model bagi hasil dikenal merupakan bagian dari Kerjasama Pemerintah dan Badan usaha (KPBU). Partisipasi swasta diyakini sebagai salah satu solusi untuk mengurangi kemiskinan melalui penyediaan perumahan murah. Sektor swasta dapat berkontribusi untuk menjembatani kesenjangan pembiayaan melalui dua saluran: dengan membiayai biaya investasi, terutama ketika kemampuan sektor publik untuk meminjam terbatas; dan dengan meningkatkan efisiensi sektor secara keseluruhan, dengan demikian mengurangi biaya (dan kebutuhan keuangan) dan meningkatkan kelayakan kredit sektor dan kemampuan untuk menarik pembiayaan.

Pentingnya keterlibatan sektor swasta dalam menyediakan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah telah dilakukan di beberapa negara. Trangkanont dan Charoenngam (2014) telah menyelidiki faktor-faktor yang menarik sektor swasta untuk berpartisipasi dalam program perumahan murah. Serupa dengan apa yang telah dibahas di Tiongkok (Liu, Chan, &

Wang, 2014), dan Ghana (Ebenezer, Samuel, & Edward, 2016), kebijakan dan hukum mengenai pembayaran biaya pembiayaan program diperlukan. Rachmawati, Soemitro, Adi, dan Susilawati (2018) dalam studi apartemen murah di Indonesia telah menyelidiki bahwa kekhawatiran pemerintah harus tentang ketersediaan situs, proses pengambilan keputusan publik dan meminta konsorsium yang baik untuk membentuk kemitraan, sedangkan yang dari sektor swasta adalah kemampuan membayar sewa di lokasi, kondisi dan kebijakan makro- ekonomi, ketersediaan pembiayaan perumahan, dan dukungan pemerintah. Kebijakan perumahan yang menguntungkan adalah faktor kunci untuk membuat kemitraan berhasil.

Model KPBU saat ini yang didukung dengan insentif, subsidi silang, dan keringanan biaya tidak mencukupi dan tidak holistik dalam pendekatan yang menghasilkan pendirian kebijakan pemerintah yang “tanpa biaya” dalam hal yang sama. Pemerintah perlu berada di garis depan, merancang pendekatan inovatif KPBU yang tepat. Dengan demikian, pemerintah sebagian besar berfokus pada mempromosikan kemitraan melalui insentif untuk membuat proyek menarik dan dengan implikasi keuangan yang rendah untuk sektor publik. Untuk tujuan kemitraan, insentif harus diberikan untuk mendorong sektor swasta. Insentif yang paling menarik yang diharapkan oleh sektor swasta adalah insentif pajak, jaminan pinjaman dan menyediakan jalan atau selokan untuk pembangunan.

(12)

12 KPBU memiliki kinerja yang berbeda dalam penyediaan infrastruktur dan perumahan.

Misalnya, UN-HABITAT (2006) mengungkapkan bahwa KPBU telah memberikan kontribusi minimal untuk perumahan berpenghasilan rendah. Metode pengadaan KPBU yang paling umum adalah turnkey (Trangkanont dan Charoenngam, 2014), dan persediaan dan manajemen (Ibem dan Aduwo, 2012). Namun, beberapa skema seperti sewa tanah dan sewa untuk sendiri telah diterapkan di perumahan murah di beberapa negara berkembang (Rachmawati et al, 2018;

Trangkanont dan Charoenngam, 2014). Sangat potensial untuk dikembangkan untuk memaksimalkan kontribusi sektor swasta. Selain itu, penyediaan tanah, beberapa fasilitas dasar dan insentif lainnya oleh pemerintah tampaknya tidak diterjemahkan menjadi peningkatan signifikan dalam unit perumahan perkotaan yang dihasilkan oleh KPBU (Ibem dan Aduwo, 2012).

Beberapa regulasi mengenai KPBU:

1. Perpres no 38 tahun 2015

2. Peraturan Menteri Nomor 21/PRT/M/2018 tentang Tata cara pelaksanaan Kerja Sama Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur Di Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat

3. PMK No 170 tahun 2018 tentang PMK No. 223/PMK.011/2012 tentang Pemberian Dukungan Kelayakan Atas Sebagian Biaya Konstruksi Pada Proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dalam Penyediaan Infrastruktur 4. Permen PPN 4 Tahun 2015 tentang tata cara pelaksanaan KPBU dalam penyediaan

infrastruktur

3. 5. Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha untuk sektor perumahan

KPBU merupakan salah alternatif sumber pembiayaan dan pendanaan dengan melibatkan swasta. Pada konteks penyediaan perumahan di Indonesia, kemampuan anggaran Pemerintah hanya mampu memenuhi 30% dari total pembiayaan. Oleh karena itu, perlu adanya skema pembiayaan alternatif dalam penyediaan perumahan melalui keterlibatan sektor swasta.

Terdapat empat manfaat pembiayaan infrastruktur melalui skema KPBU.

1. Risk Sharing, yaitu adanya alokasi risiko bagi kedua belah pihak (swasta dan Pemerintah) yang juga akan meningkatkan keatraktifan proyek.

(13)

13 2. Transfer of knowledge, yaitu adanya transfer pengetahuan dan teknologi dari pihak

swasta kepada Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

3. Project delivery, yaitu adanya upaya pihak swasta untuk menyelesaikan proyek sesuai kesepakatan karena adanya target spesifik periode konstruksi sehingga terhindar dari siklus anggaran multiyears

4. Potensi investasi, yaitu terbukanya pintu masuk investasi bagi pihak swasta lainnya akibat keberhasilan daerah menyelenggarakan KPBU.

Talen (2013) menyebutkan bahwa aspek-aspek berikut ini berpengaruh pada implementasi KPBU dengan skema mixed-housing:

1. Finansial

2. Peraturan keuangan 3. Peraturan tata guna lahan 4. Insintif

5. Komunikasi

Karena melibatkan swasta, maka pengembalian investasi dan kelayakan proyek perlu mendapatkan perhatian yang lebih. KPBU dilakukan mulai dari merencanakan, merancang, mendesain, membangun, membiayai, memelihara dan mengoperasikan perumahan.

Pembangunan hunian dengan skema KPBU utamanya menyasar untuk pengembangan hunian vertikal di perkotaan yang lahannya terbatas. KPBU untuk sektor perumahan dapat berbentuk public housing seperti rumah susun sederhana sewa (rusunawa), rumah susun sederhana milik (rusunami) hingga private housing berupa rumah tapak yang bisa dimiliki individu.

Skema KPBU dapat digunakan dalam pembangunan hunian berimbang untuk pengembangan area seperti konsep superblok. Konsep superblok bertujuan untuk memberikan solusi penyediaan rumah MBR agar tidak jauh ke pusat keramaian dan ekonomi. Di dalamnya harus dijamin bahwa ada sebagian hunian yang dibangun untuk MBR. Superblok juga dikenal dengan mixed-income atau mixed housing, yang berarti dalam hal bangunan campuran, bentuk bangunan campuran (hunian dan komersial), ukuran dan penggunaan yang ditunjuk. Ini juga dikenal sebagai kepemilikan campuran (sewa dan hak milik), ataupun pasar dan segmentasi campuran (menengah dan menengah ke bawah) (Ramzanpour & Nourtaghani, 2019). Secara umum, pembangunan hunian mixed-income sebagai strategi pembangunan kembali perkotaan, mendapat respons positif dari pemerintah dan pengembang, khususnya untuk mengatasi

(14)

14 pembangunan perumahan publik, yang memberikan peluang bagi sektor swasta untuk terlibat.

Ini mencontohkan bagaimana sektor swasta berpartisipasi dalam program penyediaan perumahan. Namun, perlu dukungan dari sektor publik dan swasta. Read dan Sanderford (2017) menunjukkan bahwa hunian mixed-income disusun dalam bentuk kombinasi tingkat pasar dan perumahan yang terjangkau dengan beberapa kemungkinan tipe. Hal ini memberikan kesempatan untuk menambah keterjangkauan, dan akan mendapatkan nilai ketika kemitraan swasta publik diadopsi. Misalnya, menggunakan lahan publik untuk pengembangan pendapatan campuran dapat memberikan subsidi yang lebih dalam. penting untuk unit terjangkau untuk rumah tangga berpenghasilan rendah. Skema yang sedang dikembangkan di beberapa negara antara lain Transit-oriented development (TOD), yang didefinisikan sebagai

“tipe pengembangan masyarakat yang termasuk campuran perumahan, kantor, ritel dan / atau fasilitas lainnya yang terintegrasi dengan lingkungan dan terletak dalam jarak dekat dari transportasi umum yang berkualitas dan dicapai dengan berjalan kaki (Boarnet, Bostic and Williams, 2017).

3. 6. Road map Penelitian

Gambar 3.2. Road map penelitian

Rumah murah (Aribigbola, 2011; Ha, 2018; Chowdhury, 2018; Sengupta, 2018; Chen, 2018)

Dikelola pemerintah KPBU

Harga sewa (Rachmawati, Susilawati, &

Goonetilleke, 2018)

Subsidi dan kebijakan Pemerintah (Clapham,

2018)

Kendala (Alaghbari et al, 2012; Othman &

Abdellatif, 2011)

Rumah susun campuran (Mixed housing) (Read &

Sanderfors, 2017)

Transit oriented development (TOD)

Skema finansial (Acheampong,

2014)

Skema finansial untuk rumah susun

TOD

(15)

15 BAB 4 METODE PENELITIAN

4. 1. Konsep dan Model Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian mixed (kualitatif dan kuantitatif) yaitu suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka dan keterangan sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui skema kerjasama yang tepat antara Pemerintah dan Badan Usaha serta menentukan skema finansialnya. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode survei dengan menyebar kuisioner sebagai alat pengumpul data utama untuk memperoleh fakta.

4. 2. Data dan pengambilan data

Studi ini mengambil dari wawancara semi-terstruktur dari 16 expert rumah susun seperti yang tercantum dalam tabel 1, observasi lapangan dan ulasan data sekunder mengenai pengembangan apartemen murah. Karena Indonesia memiliki tiga tingkatan pemerintahan, para responden dipilih dari perwakilan setiap tingkat pemerintahan. Tujuh responden dipilih sebagai perwakilan dari Kementerian (Pemerintah Pusat), satu dari pemerintah provinsi, lima dari pemerintah kota dan tiga dari perusahaan semi-swasta di sektor perumahan. 90% adalah manajemen puncak yang memutuskan kebijakan sewa apartemen murah. Para responden ini dipilih melalui purposive sampling karena informasi yang berkaitan dengan para responden dikumpulkan dari data di lembaga, seperti di kantor pemerintah dan perusahaan penyedia perumahan. Snowball sampling juga digunakan, dimana para responden direkomendasikan oleh responden awal yang diwawancarai. Mereka disarankan karena mereka dianggap sebagai ahli di bidang masalah. Metode ini sangat berguna dalam membangun jaringan untuk penelitian tertentu, yang belum tersedia populasi spesifik.

(16)

16 Table 4.1. Daftar Responden

ID Pemerintah BUMN Posisi

Pusat Daerah

R1 √ Top Management

R2 √ Top Management

R3 √ Top Management

R4 √ Middle management

R5 √ Top Management

R6 √ Top Management

R7 √ Top Management

R8 √ Middle management

R9 √ Top Management

R10 √ Top Management

R11 √ Middle management

R12 √ Top Management

R13 √ Top Management

R14 √ Top Management

R15 √ Top Management

R16 √ Top Management

Wawancara semi terstruktur akan terdiri dari pertanyaan terbuka seputar kebijakan perumahan saat ini dan strategi yang digunakan untuk merencanakan dan mengimplementasikan pengembangan rusunami KPBU. Dengan mewawancarai dua kelompok (sektor publik dan swasta), perspektif yang berbeda mengenai kebijakan perumahan, beberapa tujuan rencana dan tindakan diperoleh. Analisis tematik telah digunakan dalam penelitian ini sebagai memiliki fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi yang sesuai dengan berbagai jenis data dan tujuan penelitian. Selanjutnya, analisis ini memungkinkan peneliti untuk mengambil bagian aktif dalam identifikasi dan interpretasi tema, dipandu oleh pertanyaan penelitian.

Selanjutnya, wawancara juga akan menghasilkan kerjasama yang paling tepat dalam konteks mixed-housing. Salah satu pendekatannya adalah melalui mixed housing, dimana terdapat kemungkinan:

1. Mixed kepemilikan (sewa dan milik)

2. Mixed income (dihuni oleh masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah) 3. Mixed bangunan (hunian dan retail)

(17)

17 Salah satu tujuan utama adalah untuk memungkinkan pelaksanaan subsidi silang. Jika hanya untuk MBR, dimana harga sewa /jual tidak ditetapkan tinggi, maka kelayakan proyek tidak akan terpenuhi. Mixed-income akan menutup gap tersebut.

Sedangkan untuk tanah, bangunan rumah akan dibangun tanah negara, tanah swasta atau tanah Pemerintah daerah. Pengadaan tanah negara melalui mekanisme pemanfaatan lahan kosong milik BUMN atau Kementerian.

Kombinasi kerjasama akan seperti matriks berikut:

Skema 1 Skema 2 Skema 3

Lahan Pemerintah daerah Pemerintah pusat

(Tanah negara)

Swasta Desain, konstruksi dan

pembiayaan

Swasta Swasta Pemerintah dan swasta

Operasional Perawatan Swasta Swasta Swasta

Prasarana sarana dan utilitas

Pemerintah daerah Pemerintah daerah Pemerintah daerah Cost recovery Pengelolaan rusun umum dan komersial (mixed house - inclusionary

zoning) sehingga memungkinkan cross subsidy Sedangkan pengambilan data sekunder meliputi:

1. Pendapatan rumah susun

2. Biaya operasional dan perawatan rumah susun

3. Peraturan bangunan (koefisien dasar bangunan dan koefisien luas bangunan) 4. Jumlah dan luas unit pada rumah susun

Data sekunder diambil pada rumah susun Rempoa dan rumah susun Pondok Cina, Jakarta

4. 3. Analisa Data

Thematic analysis akan digunakan untuk menganalisa hasil wawancara semi-terstruktur untuk menghasilkan prioritas skema kerjasama, kentungan dan kekurangan masing-masing skema serta aspek yang mempengaruhi implementasi mixed-housing. Thematic diawali dengan pembuatan kode dan tema yang akan menghasilkan”key concept” atau aspek-aspek yang mempengaruhi implementasi KPBU mixed-housing seperti pada gambar 4.1. berikut ini.

(18)

18 Gambar 4.1. Aspek yang mempengaruhi KPBU mixed-housing

Sedangkan data sekunder ini digunakan untuk analisa data dan membuat model skema finansial rumah susun dengan analisa system dynamics. Tahapan-tahapan dalan system dynamics, yaitu:

1. Identifikasi variabel finansial

2. Membuat causal-loop diagram (gambar 4.1) 3. Membuat stock-flow diagram

4. Memasukkan formula pada masing-masing variabel 5. Melakukan validasi model

Gambar 4.2. Causal-loop diagram

Net-present-value

Sales income Investment cost Other costs

Construction cost Land cost

Location

Loan

LIG price

Portion unit

Portion commercial unit

MIG price Building Coverage

Ratio Floor Average

Ratio +

+ +

- - NOI +

Service charge

Design and Construction

Land Financing

Partnership

(19)

19 Keseluruhan tahap dalam penelitian ini digambarkan dalam bagan alir berikut:

Gambar 4.3. Bagan alir penelitian Perumusan masalah dan tujuan

penelitian

Pengumpulan data primer

(wawancara semi-terstruktur) Pengumpulan data sekunder

Pemilihan skema mixed- housing dengan thematic

analysis

Skema finansial dengan system dynamics:

1. Identifikasi variabel 2. Causal-loop diagram 3. Stock-flow diagram 4. Entry formula 5. Validasi

Kesimpulan dan saran

(20)

20 BAB 5 JADWAL DAN RANCANGAN ANGGARAN BIAYA

5. 1. Jadwal Penelitian

Jadwal penelitian disusun sebagai berikut:

No Kegiatan 2020

3 4 5 6 7 8 9 10 11

Persiapan Penelitian 1. Mengurus administrasi

dan perizinan survei 2 Administrasi kontrak Pelaksanaan Penelitian 1. Interview dan

pengumpulan data sekunder

2. Analisa Data 3. Penyusunan jurnal 4. Submit jurnal 5. Laporan kemajuan 6. Analisa data lanjutan 7. Laporan akhir

Pembagian tugas dan tanggung jawab anggota

Ketua Mengkoordinasikan kegiatan, melaksanakan survey dan analisa data

Anggota Membantu pelaksanaan survey dan analisa data

(21)

21 5. 2. Rancangan Anggaran Biaya

Total rencana anggaran biaya = Rp 48.630.000 1. Belanja Bahan

Harga

Satuan 21 22 23 PPn

(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)

Kertas 10 rim 35,000 350,000

Isi ulang toner printer 2 kali 150,000 300,000

Fotokopi referensi pendukung 2000 lembar 250 500,000

Penggandaan laporan akhir 2 bendel 500,000 1,000,000

Konsumsi diskusi penelitian 28 hari.orang 55,000 1,540,000 Sub Total 1 (Rp) 3,690,000

Harga

Satuan 21 22 23 PPn

(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)

Sewa printer 2 bulan 500,000 1,000,000 40,000

Sewa Laptop 5 bulan 750,000 3,750,000 150,000

Seminar nasional 2 org.keg 1,500,000 3,000,000

Proof reader 1 kegiatan 5,000,000 5,000,000

Biaya komunikasi/paket internet 5 bulan.orang 200,000 1,000,000

Sub Total 2 (Rp) 13,750,000 190,000

3. Belanja Perjalanan Lainnya

Biaya

Satuan 21 22 23 PPn

(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)

Transportasi survey ke

Jakarta 5 kali.orang 5,000,000 25,000,000

Transportasi seminar

nasional ke Bandung 2 hari.orang 3,000,000 6,000,000

Sub Total 3 (Rp) 31,000,000

48,440,000 190,000

Total Keseluruhan (Rp)

Total Pajak PPh

Total Pajak PPh

Rekapitulasi Penggunaan Dana

Item Bahan Volume Total Pajak PPh

Satuan Satuan

2. Belanja Barang Non Operasional Lainnya

Item Barang Volume

Satuan

Item Perjalanan Volume

(22)

22

BAB 6 DAFTAR PUSTAKA

Alteneiji, K., Alkass, S., & Dabous, S. (2019a). Assessment of Public-Private Partnership Models for Housing Delivery in the UAE. 2019 Advances in Science and Engineering Technology International Conferences (ASET), 1–4.

https://doi.org/10.1109/ICASET.2019.8714350

Alteneiji, K., Alkass, S., & Abu Dabous, S. (2019b). Critical success factors for public–

private partnerships in affordable housing in the United Arab Emirates. International Journal of Housing Markets and Analysis. https://doi.org/10.1108/IJHMA-06-2019- 0061

Aribigbola, A. (2011). Housing Affordability as a Factor in the Creation of Sustainable Environment in Developing World: The Example of Akure, Nigeria. Journal of Human Ecology, 35(2), 121-131. doi: 10.1080/09709274.2011.11906397

Ebenezer, K. T., Samuel, A., & Edward, B. (2016). A critical success model for PPP public housing delivery in Ghana. Built Environment Project and Asset Management, 6(1), 58-73. doi: doi:10.1108/BEPAM-04-2014-0026

Clapham, D. (2018). Housing Theory, Housing Research and Housing Policy. Housing, Theory and Society, 35(2), 163-177. doi: 10.1080/14036096.2017.1366937 Ibem, E. O. (2011). Public-Private Partnership (PPP) in Housing Provision in Lagos

Megacity Region, Nigeria. International Journal of Housing Policy, 11(2), 133-154.

doi: 10.1080/14616718.2011.573204

Li, B., Akintoye, A., Edwards, P. J., & Hardcastle, C. (2005). Critical success factors for PPP/PFI projects in the UK construction industry. Construction Management and Economics, 23(5), 459-471. doi: 10.1080/01446190500041537

Liu, T., Chan, A., & Wang, S. (2014). PPP Framework for Public Rental Housing Projects in China. In ICCREM 2014.

Mukhtar, M. M., Amirudin, R., & Mohamad, I. (2016). Housing delivery problems in developing countries: a case study of Nigeria. Journal of Facilities Management, 14(4), 315-329. doi: doi:10.1108/JFM-12-2015-0037

Othman, A., & Abdellatif, M. (2011). Partnership for integrating the corporate social responsibility of project stakeholders towards affordable housing development: A South African perspective. Journal of Engineering, Design and Technology, 9(3), 273-295. doi: doi:10.1108/17260531111179906

Rahmawati, F, and Adi, T.J.W, (2007), Pemilihan Partner Kerjasama Sebagai Critical Success Factor Dalam Public Private Partnership, Proceeding of Post Graduate Seminar, Civil Engineering Department, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Rachmawati, F., Soemitro, R. A. A., Adi, T. J. W., & Susilawati, C. (2018). Critical success

factor for partnership in low-cost apartments project: Indonesia perspective. Pacific Rim Property Research Journal, 24(2), 149-160. doi:

10.1080/14445921.2018.1461769

Rachmawati, F., Susilawati, C., & Goonetilleke, A. (2018). An affordability review for low- cost apartment rent In 2018 Joint Asia-Pacific Network for Housing Research and Australasian Housing Researchers Conference.

(23)

23 Ramzanpour, M., & Nourtaghani, A. (2019). Impact of Four Physical Design Factors on

Mixed-Income Housing. Journal of Architectural Engineering, 25(1), 1–8.

https://doi.org/10.1061/(ASCE)AE.1943-5568.0000332

Read, D. C., & Sanderford, D. (2017). Making places and making tradeoffs: mixed-income housing development in practice. Journal of Place Management and Development, 10(5), 461-478. doi: doi:10.1108/JPMD-12-2016-0074

Srinivas, S., Bell, K. C., Toha, K., Zaenal, A., & Collier, W. (2015). A Review of Indonesian Land-based Sectors with Particular Reference to Land Governance and Political Economy Retrieved from http://www.oicrf.org/document.asp?ID=14940

Susilawati, C. (2018b). Housing policy and social development in Indonesia. In R. L. H. H.

In Chiu, Seong-Kyu (Ed.), Housing Policy, Wellbeing and Social Development in Asia. New York: CRC Press (Taylor & Francis Group).

Susilawati, C., & Yakobus, S. (2010). New affordable strata title housing solutions : a case study in Surabaya, Indonesia. Paper presented at International Conference On Construction & Real Estate Management, Brisbane.

Trangkanont, S., & Charoenngam, C. (2014). Critical failure factors of public-private partnership low-cost housing program in Thailand. Engineering, Construction and Architectural Management, 21(4), 421-443. doi: doi:10.1108/ECAM-04-2012-0038 Zhang, X., and Chen, S, (2013). A Systematic Framework for Infrastructure Development

Through Public Private Partnership, International Association of Traffic and Safety Sciences (IATSS) Research no 36 (2013), Elsevier

(24)

24

BAB 7 LAMPIRAN

Biodata Tim Peneliti

a Nama Lengkap : Farida Rachmawati

b NIP/NIDN : 1981110142008122001 / 0014108103 c Fungsional/Pangkat/Gol : Asisten Ahli/IIIb

d Bidang Keahlian : Manajemen Konstruksi Manajemen Aset

e Departemen/Fakultas : Teknik Sipil / Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan dan Kebumian

f Alamat rumah dan telp : Cityhome E3/3, Keputih, Surabaya Telp 0811372679

g Riwayat penelitian : 1. Risk Sharing Model for Public Private Partnership in Low-cost apartment in Surabaya Metropolitan Area

Ketua – Penelitian Disertasi Doktor (2017) 2. An Affordability Review of Low-cost Apartment

in Surabaya

Ketua – Penelitian dana departemen (2018) h Publikasi : 1. Rachmawati, F., Soemitro, R. A. A., Adi, T. J.

W., & Susilawati, C. (2018). Critical success factor for partnership in low-cost apartments project: Indonesia perspective. Pacific Rim Property Research Journal, 24(2), 149-160. doi:

10.1080/14445921.2018.1461769

2. Rachmawati, F., Susilawati, C., & Goonetilleke, A. (2018). An affordability review for low-cost apartment rent In 2018 Joint Asia-Pacific

Network for Housing Research and Australasian Housing Researchers Conference

i Paten :

j Tugas akhir : 1. Analisa risiko kecelakaan kerja menggunakan metode Fault Tree Analysis pada proyek tol Jakarta – Cikampek jilid II elevated

2. Analisa harga sewa rumah susun Penjaringan Sari dan Siwalan Kerto, Surabaya

(25)

25 Biodata Anggota Peneliti

a Nama Lengkap : Ria Asih Aryani Soemitro

b NIP/NIDN : 195601191986012001 / 0019015603 c Fungsional/Pangkat/Gol : Lektor Kepala / IVA

d Bidang Keahlian : Geoteknik

Manajemen Aset

e Departemen/Fakultas : Teknik Sipil / Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan dan Kebumian

f Alamat rumah dan telp : Jl. Teknik Lingkungan I/3 Perumdos ITS Surabaya Telp 0811372679

g Riwayat penelitian : 1. Ketua – Penelitian Disertasi Doktor (2017) 2. Anggota – Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi

(2015)

h Publikasi : 1. Rachmawati, F., Soemitro, R. A. A., Adi, T. J.

W., & Susilawati, C. (2018). Critical success factor for partnership in low-cost apartments project: Indonesia perspective. Pacific Rim Property Research Journal, 24(2), 149-160. doi:

10.1080/14445921.2018.1461769

2. Adnyana IBP, Anwar N, Soemitro RAA, Utomo C, (2015) Critical Success Factors of Public- Private-Community Partnership in Bali Tourism Infrastructure Development, Journal of

Sustainable Development 8 (6, 208-2015)

i Paten :

j Tugas akhir : 1. Pengaruh proses pembasahan-pengeringan terhadap karakteristik fisik dan mekanik tanah lempung natural dan stabilisasi untuk subgrade jalan inspeksi (lokasi studi: Kanor, Bojonegoro) 2. Perancangan basement dan pondasi menggunakan

peta zonasi gempa 2010 dan peta zonasi gempa 2017 pada proyek apartemen arundaya Surabaya Disertasi : 1. Model kerjasama Public Private Community

Partnership pada kawasan wisata di Bali

2. Model kerjasama Public Private Partnership pada Rumah susun di Indonesia

(26)

DATA USULAN DAN PENGESAHAN PROPOSAL DANA LOKAL ITS 2020

1. Judul Penelitian

KERJASAMA PEMERINTAH DAN BADAN USAHA YANG BERKELANJUTAN DENGAN SKEMA MIXED-HOUSING TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT PADA RUMAH SUSUN DI INDONESIA

Skema : PENELITIAN DOKTOR BARU

Bidang Penelitian : Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan Topik Penelitian : Lingkungan Binaan (Built Environment) 2. Identitas Pengusul

Ketua Tim

Nama : Farida Rachmawati S.T, M.T NIP : 198110142008122001 No Telp/HP : 0811372679

Laboratorium : Laboratorium Manajemen Konstruksi Departemen/Unit : Departemen Teknik Sipil

Fakultas : Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian Anggota Tim

No Nama Lengkap Asal Laboratorium Departemen/Unit Perguruan Tinggi/Instansi

1

Farida Rachmawati S.T,

M.T

Laboratorium Manajemen

Konstruksi

Departemen Teknik

Sipil ITS

2

Dr.Ir. Ria Asih Aryani Soemitro

M.Eng.

Laboratorium Mekanika Tanah dan

Batuan

Departemen Teknik

Sipil ITS

3. Jumlah Mahasiswa terlibat : 0 4. Sumber dan jumlah dana penelitian yang diusulkan

a. Dana Lokal ITS 2020 : 48.630.000,-

b. Sumber Lain : 0,-

Jumlah : 48.630.000,-

(27)

Tanggal Persetujuan

Nama Pimpinan

Pemberi Persetujuan

Jabatan Pemberi Persetujuan

Nama Unit Pemberi Persetujuan

QR-Code

09 Maret 2020

I D A A Warmadewanthi

ST, MT, Ph.D

Kepala Pusat

Penelitian/Kajian/Unggulan Iptek

Infrastruktur dan Lingkungan

Berkelanjutan

09 Maret 2020

Agus Muhamad Hatta , ST, MSi,

Ph.D

Direktur

Direktorat Riset dan Pengabdian

Kepada Masyarakat

Gambar

Gambar 3.2. Road map penelitian
Gambar 4.2. Causal-loop diagram
Gambar 4.3. Bagan alir penelitian  Perumusan masalah dan tujuan

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan: Penelitian bertujuan untuk sintesis senyawa-senyawa berkerangka oksindola dengan substituen golongan halogen (fluorin, klorin, dan bromin), metil, dan nitro

Adapun tujuan penelitian ini adalah mendapatkan berbagai skenario jaringan gas alam di wilayah Jawa Timur dengan metode superstructure pada waktu kontrak yang

Dari analisis amplifikasi tanah tersebut, akan diperoleh beberapa parameter di beberapa titik pengukuran seperti: fundamental frekuensi, maksimum amplifikasi, gelombang seismik

Bagaimana memperoleh parameter profil kecepatan gelombang geser dangkal dan dalam beserta ketidakpastiannya di daerah ITS masing-masing dari inversi kurva

Mengacu pada latar belakang penelitian bahwa untuk mendapatkan kenda- li yang robust dikembangkan metode kendali dari pengembangan MPC sehingga mampu mengatasi gangguan stokastik

Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat disimpulkan dan dipilih bahwa penelitian ini akan fokus membahas tentang salah satu kekurangan yang ada di turbin vertikal

Dengan melakukan analisis short-term dan long-term pada sinyal EKG, hasil tersebut dapat digunakan untuk menentukan variasi dari detak jantung yang biasa disebut dengan Heart Rate

Selain itu, kejadian gempabumi di Sumatra diduga terjadi pada wilayah yang dekat dengan sesar aktif dan zona subduksi, namun belum ada penelitian yang memperhatikan efek