• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. negara harus memberikan ruang yang sama baik kepada laki-laki maupun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. negara harus memberikan ruang yang sama baik kepada laki-laki maupun"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Indonesia dikenal sebagai negara demokrasi dengan sistem pemilihan umum yang terstruktur dari level pusat hingga daerah dan menjadi instrumen yang digunakan oleh setiap warga negara sebagai jalan menuju kekuasaan. Untuk itu negara harus memberikan ruang yang sama baik kepada laki-laki maupun perempuan karena hal tersebut menjadi bagian dari pemenuhan Hak Asasi Manusia.

Kemudian, secara tegas disebutkan dalam konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan atau konvensi perempuan yang termaktub dalam salah satu poin rekomendasi umum komite CEDAW (Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination againts Woman) No 23 poin ke 4 yang

berbunyi “adanya kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki untuk menduduki jabatan publik yang didasarkan atas pemilihan (Artina, 2016).

Undang-undang Dasar 1945 pasal 27 ayat 1 juga menyebutkan secara tegas kedudukan laki-laki dan perempuan sebagai warga negara adalah setara. Persoalan ketidakadilan yang dirasakan oleh perempuan masih begitu amat dirasakan dan dapat dikatakan telah menjadi sebuah fenomena dan yang seringkali terjadi, muncul dan tergambarkan ketika akan mendekati satu kontestasi politik demokrasi yang terjadi pada tataran pemilihan umum di tingkat pusat maupun tingkat daerah.

Ketidakadilan yang dirasakan oleh kaum perempuan yang kemudian menjadi alasan di balik bangkitnya gerakan keperempuanan untuk mewujudkan aspirasi serta hak mereka demi kelangsungan hidup atau eksistensi mereka sebagai bagian dari warga negara.

(2)

2

Kesadaran kaum perempuan akan hak sebagai warga negara setara dengan kaum laki-laki dalam bidang politik pemerintahan menyebabkan paradigma peran atau keterlibatan kaum perempuan dalam arena politik mengalami perubahan, perubahan tersebut dapat dilihat saat era orde baru dengan era pasca reformasi. Saat era orde baru tumbang dan awal era reformasi dimulai penentuan kader perempuan tidak lagi berdasarkan keputusan elit di DPP partai, melainkan letak keputusan tersebut diserahkan kepada Dewan Pimpinan di tingkat Cabang seiring dengan perubahan sistem politik dan pemerintahan..

Pada era pasca reformasi terbit aturan atau kebijakan yang mensyaratkan keterlibatan perempuan sebesar 30% didalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu DPR, DPD dan DPRD, aturan tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam lembaga legislatif, peraturan tersebut juga bertujuan agar setiap kebijakan yang dilahirkan dapat mewakili kepentingan perempuan.

Pada era reformasi dengan prinsip kebebasan dan keadilan berhasil melahirkan kebijakan yang melegitimasi posisi serta peran perempuan di sektor politik merupakan sebuah capaian yang baik dalam perkembangan demokrasi di Indonesia. Hingga saat ini negara kita telah memiliki berbagai regulasi terkait dengan pemilu guna melegitimasi kedudukan perempuan dalam politik, regulasi ataupun produk kebijakan yang berfokus kepada hak perempuan merupakan sebuah strategi yang dilakukan oleh pemerintah guna memenuhi hak kaum perempuan di sektor kehidupan politik. Hal tersebut juga bertujuan agar kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan di berbagai sektor kehidupan memiliki ruang yang sama khususnya dalam aspek politik.

(3)

3

Sehubugan dengan hal tersebut, negara juga bertanggung jawab kepada aktualisasi setiap warga negara khususnya kepada kaum perempuan untuk bebas dari diskriminasi sistematik dan struktural seperti yang selama ini terjadi karena Indonesia juga terlibat kedalam perjanjian internasional tentang hak politik perempuan dan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan (Budiardjo, Dasar- dasar Ilmu Politik, 2010).

Fenomena keterwakilan perempuan pada ranah politik dalam perjalanan bangsa Indonesia memang sangat memprihatinkan padahal antara laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama, setara. Keterwakilan tersebut meskipun telah diatur di dalam sebuah kebijakan atau regulasi tidak mampu melibatkan perempuan secara langsung ke dalam politik secara proporsional. Jika melihat komposisi penduduk di Indonesia, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2018 mencapai 265 Juta jiwa.

Minimnya keterwakilan perempuan juga dapat dilihat pada penyelengaraan 3 Pemilu terakhir yaitu pada tahun 2004, 2009, dan 2014. Pada tahun 2004 sendiri keterwakilan perempuan pada parlemen hanya sebesar 11,8% dengan rincian 65 orang dari total 550 anggota DPR. Kemudian pada tahun 2009 terjadi peningkatan sebesar 18 persen dengan jumlah 101 dari 560 anggota DPR. Namun, pada tahun 2014 terjadi penurunan jumlah keterwakilan perempuan dari pemilu sebelumnya hanya sebesar 97 orang dengan persentase 17.3% (Priandi, 2019). Dari 3 periode penyelenggaraan Pemilu tersebut dapat dilihat bahwa keterwakilan perempuan masih minim, mengalami pasang surut. Dengan begitu, aturan mengenai batas minimal keterwakilan perempuan tidak dapat terpenuhi, jika melihat tujuan regulasi

(4)

4

atau peraturan tersebut secrara umum bertujuan untuk meningkatkan keterwakilan perempuan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum secara khusus disebutkan persyaratan administrasi guna pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD sebagai aturan dasar dalam pelaksaan pemilu tahun 2019 yang lalu menyebutkan secara jelas di dalam pasal 245 yang mengatur mengenai persyaratan pencalonan harus melibatkan partisipasi perempuan sebesar 30% dalam daftar calon anggota legislatif. Tentu, regulasi tersebut dapat menjadi spirit bagi kaum perempuan agar terlibat di dalam arena politik.

Peraturan tersebut merupakan bentuk afirmasi peran perempuan dalam dunia politik di Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah sebagai perlindungan pemerintah. Upaya tersebut akan menjadi masalah ketika partai politik tidak mampu memenuhi kepengurusan perempuan dalam partai politik serta tidak memiliki kader perempuan yang kompeten, padahal di dalam Undang-Undang pemilu menyebutkan dan mempertegas peran perempuan agar lebih terlibat secara aktif di dalam segala bentuk kegiatan politik. Kemudian, persoalan lain yang dihadapi oleh kaum perempuan selama ini adalah stigma atau label yang berkembang di tengah-tengah masyarakat terhadap kelompok mereka yang menempatkan perempuan pada posisi yang lemah, memiliki ketergantungan kepada laki-laki, tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan tidak mampu membuat kebijakan.

Keyakinan bahwa perempuan tidak lebih superior dibanding laki-laki memang telah menjadi hal lumrah di Indonesia.

Dengan problematika tersebut aktualisasi kaum perempuan menjadi terhambat di dalam dunia politik maupun pemerintahan akibat persepsi peran

(5)

5

tersebut. Keyakinan itu di latar belakangi oleh budaya partiarki di Indonesia yang telah berlangsung lama kemudian menyebabkan hak politik perempuan menjadi semu baik dalam membangun opini publik, pemilihan wakil legislatif atau pencalonan perempuan sebagai calon anggota perwakilan dari partai politik.

Di dalam Undang-Undang Pemilu No 7 Tahun 2017 Pasal 173 ayat (2) huruf juga disebutkan bahwa setiap partai politik harus memenuhi syarat paling sedikit 30% keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai. Hal tersebut menjadi syarat administrasi yang wajib dipenuhi sebagai syarat menjadi peserta dalam pemilu. Partai politik sebagai salah satu dari institusi politik serta menjadi pilar demokrasi di negara kita memperlihatkan lemahnya komitmen di dalam upaya memberdayakan peran perempuan di dalam kepengurusan internal partai sehingga kader maupun anggota perempuan hanya sebagai kebutuhan politik sesaat serta menjadi formalitas politik semata untuk memenuhi kuota atau persyaratan pemilu.

Sebagai salah satu lembaga politik, partai politik juga sudah seharusnya menjadi wadah bagi kaum perempuan untuk memperjuangkan keadilan dan kesetaraan (Nataresmi, 2014).

Dengan demikian, partai politik di Indonesia harus mampu terbebas dari ruang-ruang yang menganggap bahwa arena politik hanya milik kaum laki-laki, sehingga keterlibatan perempuan serta kesadaran akan peluang yang tersedia guna membangun kepercayaan diri perempuan di dalam dunia politik dapat terwadahi.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh partai politik yaitu dengan memperkuat kompetensi perempuan dalam tubuh kepengurusan melalui sistem kaderisasi, mulai dari perekrutan kader dan pemberdayaan kader yang lebih memperhatikan kaum perempuan. Sehingga kedudukan perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata dan

(6)

6

anggapan yang menyatakan bahwa perempuan kurang mampu memperjuangkan kepentingan partai dapat di reduksi.

Dengan fenomena bahwa perempuan hanya ditempatkan kepada posisi inferior dibandingkan laki-laki serta perempuan hanya menjadi subordinasi dari kaum laki-laki di berbagai hal khususnya politik dan pemerintahan akibat budaya patriarki berimbas kepada rendahnya angka partisipasi perempuan dalam arena politik. Sejatinya, jejak sejarah kaum perempuan dalam pekembangan bangsa dan negara ini bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia, bahkan sejak era kolonialisme kaum perempuan telah terlibat aktif di dalam pergerakan kebangsaan dengan turut terlibat secara aktif di dalam proses-proses politik untuk meningkatkan peran sertanya di dalam politik (Jou & Quintarti, 2018). Reformasi politik yang terjadi di Indonesia rupanya masih belum mampu melepas anggapan yang meremehkan peran perempuan dalam politik.

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat keterlibatan perempuan atau partisipasi perempuan dengan melihat pelaksanaan pemilu di berbagai daerah Indonesia. Seperti pilkada serentak pada tahun 2018 di Kabupaten Situbondo, menurut data KPU pada penyelenggaraan Pilkada serentak 2018 sebesar 66,48%, data tersebut menunjukkan bagaimana rendahnya tingkat partisipasi, total pemilih perempuan sejumlah 174.055 pengguna hak pilih dari total 246.438 daftar pemilih atau 70,63% (KPU, 2019). Meskipun demikian terjadi peningkatan sebesar 1,48% dibandingkan dengan Pilkada pada tahun 2013. Bahkan anggota DPRD perempuan terpilih yang duduk di kursi legislatif hanya terdiri dari 10 orang dari total 45 anggota DPRD Kabupaten Situbondo.

(7)

7

Rendahnya angka partisipasi pada penyelenggaraan pilkada serentak tersebut juga dapat dipengaruhi oleh rendahnya faktor pendidikan masyarakat Situbondo.

Hal ini dapat diketahui dari masih tingginya angka buta aksara, menurut data Biro Pusat Statistik menyebutkan pada tahun 2018 terdapat 35 ribu orang yang mengalami buta aksara (Rakhman, Sistem TI Situbondo Pertama di Jawa TImur, 2018). Kemudian faktor menurunnya angka partisipasi sekolah khususnya perempuan di tingkat SLTA, menurut data Badan Pusat Statistik Kabupaten Situbondo pada tahun 2016 terjadi penurunan sebesar 23,76% dari tahun 2015, berbeda dengan laki-laki meskipun terjadi peningkatan namun hanya sebesar 3.03%.

hal tersebut dapat menjadi faktor rendahnya kesadaran politik masyarakat Kabupaten Situbondo.

Selain itu, rendahnya kesadaran politik masyarakat Kabupaten Situbondo seharusnya menjadi perhatian partai politik karena partai politik menjadi pilar demokrasi yang bertanggung jawab atas iklim politik dan kesadaran politik masyarakat. Apabila kinerja dan kapasitas partai politik buruk atau tidak ditingkatkan tentu akan berdampakan kepada kualitas demokrasi, kualitas demokrasi juga dapat ditentukan oleh penyelenggaraan sistem pemilu, dengan demikian penyelenggaraan pemilu harus memiliki integritas serta peserta pemilu yang cerdas (Anisa, 2020) Dengan kata lain, penyelenggaraan pemilu yang tidak memiliki integritas akan membuat penyelenggaraan pesta demokrasi tidak berjalan baik dan berdampak kepada rendahnya angka partisipasi.

PDI Perjuangan sebagai organisasi politik yang lahir di dalam masyarakat menjadi salah satu partai lama di Indonesia yang memiliki garis ideologi nasionalis- kerakyatan. Track record partai PDIP pada politik Indonesia telah mengalami

(8)

8

berbagai macam permasalahan, dengan demikian partai yang diketuai oleh Megawati Soekarno Putri ini telah cukup dewasa dalam arena politik Indonesia.

Sebagai sebuah partai politik berbagai upaya telah dilakukan untuk mendukung peningkatan keterlibatan perempuan dalam politik seperti memenuhi peraturan 30%

keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai politik maupun sebagai calon legislatif partai. Selama ini PDIP telah melaksanakan proses keterpaduan pada pola pendidikan kaderisasi secara berkala dengan melibatkan kaum perempuan dalam berbagai tingkat kepengurusan partai mulai dari tingkat Desa (Ranting), PAC (Kecamatan), DPC (Kabupaten), DPD (Provinsi) dan DPP (Pusat) sebagaimana telah diatur didalam peraturan partai yang mewajibkan kepengurusan sebesar 30%.

Selain melalui proses kaderisasi yang berkelanjutan DPC PDI Perjuangan Kabupaten Situbondo untuk memenuhi syarat 30% pencalonan kader perempuan di setiap Dapil sebagai calon legislatif, mengacu kepada AD/ART partai pasal 20 tentang penugasan dalam jabatan politik dan jabatan publik dalam rangka memberi ruang emansipasi kepada kaum perempuan. Partai politik berideologi nasionalis ini juga menunjukkan komitmen terhadap partisipasi perempuan dalam arena politik, komitmen tersebut dapat dilihat dengan jabatan politik Ketua DPR RI periode 2019- 2024 yang berasal dari partai PDI Perjuangan yang merupakan seorang perempuan.

Berkaca pada pelaksanaan pemilihan legislatif 2019 yang lalu di Kabupaten Situbondo PDI Perjuangan hanya menjadi partai kecil, hal tersebut dapat dilihat dengan perolehan 4 kursi yang didapatkan pada hasil Pileg 2019 yang lalu, dengan rincian 2 diantaranya merupakan perempuan dari total 4 calon legislatif yang terpilih. Pada pelaksanaan pemilihan legislatif 2019 yang lalu dimenangkan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 13 kursi, dari total 13 kursi 4 diantaranya

(9)

9

merupakan kursi perempuan sedangkan pada Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mendapatkan 9 kursi dengan 1 kursi perempuan (Uday, 2019). Perolehan kursi pada Pileg 2019 yang lalu juga menunjukkan rendahnya keterwakilan perempuan di Kabupaten Situbondo.

Kemenangan PKB dan PPP sebagai partai Islam pada Pemilihan Legislatif 2019 yang lalu tak lepas dari pengaruh kehidupan masyarakat Situbondo yang lekat dengan kultur agamis, Situbondo juga disematkan sebagai Kota Santri. Maka tak heran partai politik yang berkuasa dan lebih dikenal luas oleh masyarakat merupakan partai politik yang identik dengan partai berideologi Islam karena tidak terlepas dari karakter atau kebudayaan yang Islami. Kemudian, keuntungan kultural tersebut tidak berpengaruh terhadap kader partai perempuan yang tergabung didalamnya.

Padahal sebagai organisasi politik, partai politik harusnya mampu menjadi wadah bagi partisipasi dan keterwakilan perempuan dan tidak hanya kaum laki-laki.

Ada 4 faktor yang dapat mempengaruhi partisipasi dan keterwakilan perempuan di parlemen, yakni sebagai berikut: (a) struktur organisasi politik (b) kerangka kerja lembaga (c) ideologi partai (d) aktivis partai politik, dari ke 4 faktor tersebut apabila tidak ada komitmen dari partai politik tentu angka partisipasi politik perempuan selamanya tidak akan maksimal (Haryati, Yuwanto, & Fitriyah, 2017). Selain itu, menurut (Retnowati, 2012) Ada beberapa faktor penghambat dalam partisipasi perempuan dalam arena politik yaitu diantaranya faktor budaya, keluarga, lingkungan, psikologi dan agama.

Sebagai sebuah partai politik beraliran non agamis, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Situbondo memiliki hambatan untuk memenuhi kewajiban regulasi 30%

(10)

10

keanggotaan perempuan. Hambatan tersebut datang dari proses kaderisasi khususnya perempuan yang dipengaruhi oleh faktor budaya dan lingkungan yang agamis karena masyarakat lebih mengenal partai politik yang beridelogi Islam, faktor lain datang dari kurangnya minat terhadap politik, hambatan tersebut berpengaruh terhadap pencalonan kader perempuan di setiap daerah pemilihan (Dapil) oleh DPC PDIP Kabupaten Situbondo, dan pada akhirnya kesulitan dalam melakukan perekrutan maupun pemberdayaan perempuan

Oleh karena itu, apabila politik dianggap sebagai sebuah ruang yang sangat luas maka individu sebagai bagian dari masyarakat memiliki hak yang sama untuk ikut berpatisipasi di dalamnya maka seharusnya perempuan juga memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai bidang kehidupan maupun dalam politik untuk ikut secara aktif dalam hal perebutan kekuasaan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan kelompoknya. Begitulah demokrasi bekerja, tidak boleh ada diskriminasi yang dapat menciderai spirit kebebasan dalam demokrasi.

Penelitian ini akan mengkaji tentang bagaimana upaya Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia (DPC) Perjuangan Kabupaten Situbondo dalam memberikan ruang terhadap partisipasi perempuan yang akan berimplikasi kepada keterwakilan perempuan dalam sistem politik yang telah diatur dalam Undang-Undang Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 serta memperjuangkan hak perempuan di Kabupaten Situbondo untuk berpartisipasi di kehidupan politik guna memenuhi dan memperjuangkan hak-hak mereka sebagai warga negara yang telah dijamin oleh Undang-Undang. Sehubungan dengan hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Strategi Partai Politik Dalam

(11)

11

Meningkatkan Partisipasi Politik Perempuan (Studi di DPC PDIP Kabupaten Situbondo)”

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:

1. Bagaimana strategi partai politik dalam meningkatkan partisipasi politik perempuan (Studi di DPC PDIP Kabupaten Situbondo)?

2. Apa yang menjadi faktor-faktor penghambat dan pendukung strategi partai politik dalam meningkatkan partisipasi politik perempuan (Studi di DPC PDIP Kabupaten Situbondo)?

1.3. Tujuan Penelitian

Pada dasarnya penelitian ini hendak melakukan penelitian berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan guna mendapatkan informasi yang akurat.

Adapun tujuan penulisan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui strategi partai politik dalam meningkatkan partisipasi politik perempuan di dewan pimpinan cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Situbondo.

2. Untuk mengetahui faktor-faktor penghambat dan pendukung strategi partai politik dalam meningkatkan partisipasi politik perempuan di dewan pimpinan cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kabupaten Situbondo.

(12)

12

1.4. Manfaat Penelitian a. Secara Teoritis

1) Memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan di bidang Sistem Kepartaian dan Pemilu terutama tentang partisipasi politik perempuan di dalam proses pemilu

2) Memberikan kontribusi dalam bidang kepartaian dan pemilu Indonesia terkait dengan bagaimana rekrutmen dan kaderisasi institusi politik yaitu partai politik berdasar pada partai DPC PDI Perjuangan Kabupaten Situbondo

b. Secara Praktis

Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah dapat dijadikan rekomendasi atau saran dalam level rekrutmen dan kaderisasi institusi politik yaitu partai politik dalam melihat peran perempuan dalam politik

c. Secara Akademis

1) Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Strata satu (S1) 2) Menjadi referensi bahan bacaan bagi penelitian selanjutnya terutama yang berkaitan dengan penelitian tentang sistem kepartaian dan Pemilu.

1.5. Definisi Konseptual 1.5.1. Strategi Politik

Strategi merupakan serangkaian proses untuk mencapai sebuah tujuan yang hendak dicapai (Mahardika, 2006). Strategi politik mencakup tindakan guna merebut atau mempertahankan kekuasaan dan bergantung kepada langkah-langkah atau keputusan politik yang dilakukan (Napir, 2016).

(13)

13

Strategi Politik menurut (Schroder, Strategi Politik, 2010)

“Strategi Politik merupakan teknik atau strategi yang digunakan untuk merealisasikan suatu cita-cita politik”

Strategi politik juga dapat berarti persetujuan atas suatu peraturan atau undang- undang, resolusi isu-isu tertentu, pencapaian sasaran politik, implementasi program desentralisasi atau privatisasi (Schroder, Strategi Politik, 2010).

1.5.2. Partisipasi Politik

Partisipasi berasal dari kata pars yang artinya bagian dan capere yang artinya mengambil peranan dalam kegiatan atau aktivitas politik (Suharno, 2004).

Dalam bahasa Inggris, kata participation yang dapat diartikan sebagai keterlibatan warga negara secara aktif maupun pasif dalam aktivitas politik guna mempengaruhi kebijakan pemerintah baik secara langsung maupun tidak langsung (Wardhani, 2018). Keterlibatan tersebut mencakup tindakan seperti memberikan hak suara dalam pemilu, menjadi anggota parlemen, atau menjadi bagian dari partai politik maupun gerakan sosial (Sayuti, 2013).

Partisipasi Politik menurut Hebert Mc Closky (dalam Miriam 2008: 183-184) : “Partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui bilamana mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasaan dan secara langsung atau tidak langsung, dalam proses pembentukan kebijakan umum”

Selain definisi mengenai partisipasi politik, Milbrath dan Goel, Michael Rush dan Philip Althoff yang dikutip oleh Damsar dalam Pengantar Sosiologi Politik mengidentifikasi bentuk-bentuk partisipasi politik sebagai suatu tipologi politik.

Hirarki tertinggi dari partisipasi politik menurut Rush dan Althoff adalah menduduki jabatan politik atau administratif. Sedangkan hirarki yang terendah dari suatu partisipasi politik adalah orang yang apati secara total yaitu orang yang tidak melakukan aktivitas politik apapun (Zulfikar, 2018).

(14)

14

1.5.3. Partai Politik

Partai politik menjadi sarana bagi masyarakat untuk menyalurkan partisipasi serta aspirasi dalam bernegara, saat ini masyarakat tidak segan untuk ikut tergabung dalam organisasi partai politik, perjuangan partai politik juga akan berdampak kepada keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai (Achmad I. A., 2018).

Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 Tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Partai Politik:

“Partai politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara serta memelihara keutuhan NKRI berdasarkan pancasila dan UUD 1945”

Dengan demikian Partai Politik menjadi salah satu organisasi politik yang dijamin oleh konstitusi dan menjadi alat perjuangan bagi segenap warga negara yang memiliki kesamaan cita-cita dan kepentingan politik yang sama dengan tujuan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dengan berdasarkan kepada pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

1.5.4. Pemilihan Umum

Pemilihan Umum merupakan proses politik yang diberikan negara kepada setiap warga negara guna mengaktualisasikan hak politiknya dengan memilih orang dengan jabatan politik tertentu. Fungsi pemilihan umum yaitu sebagai prosedur dan mekanisme konversi suara pemilih (votes) menjadi kursi (seats) penyelenggara negara legislatif dan atau eksekutif baik pada tingkat nasional maupun, lokal (Pahlevi, 2015)

Menurut Ramlan Surbakti (1992) :

“Pemilu diartikan sebagai mekanisme penyeleksi dan pendelegasian atau penyerahan kedaulatan kepada orang atau partai yang dipercayai”.

(15)

15

Pelaksanaan Pemilu merupakan konsekuensi dari sistem demokrasi perwakilan yang dijalankan, dengan jaminan partsipasi rakyat sebagai bentuk pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diberikan negara dan apabila negara gagal dalam menjamin terlaksananya pemilihan umum yang baik tentu akan melanggar hak asasi yang dimiliki oleh setiap warga negara.

1.6. Definisi Operasional

Definisi Operasional ini berisikan tentang indikator-indikator yang dijadikan sebagai tolak ukur variabel dalam melihat permasalahan yang akan dilakukan oleh peneliti. Adapun definisi operasional dalam penelitian ini adalah:

1.6.1. Bagaimana strategi partai politik dalam meningkatkan partisipasi perempuan (Studi di DPC PDIP Kabupaten Situbondo)

a. Upaya partai dalam pemenuhan kuota 30% partisipasi perempuan dalam politik

b. Proses rekrutmen partai politik

c. Program kaderisasi partai yang melibatkan kaum perempuan d. Penentuan Calon Legislatif perempuan di internal partai politik

e. Perbandingan perolehan keterwakilan perempuan pada Pileg 2019 dengan 2014 pada PDI-P Kabupaten Situbondo

1.6.2. Faktor-faktor pendukung dan penghambat strategi partai politik dalam meningkatkan partisipasi perempuan (Studi di DPC PDIP Kabupaten Situbondo)

a. Faktor Pendukung

1. Regulasi yang mengatur tentang pemenuhan kuota 30% partisipasi perempuan

(16)

16

2. Kualitas sumber daya manusia

3. Kesadaran tentang hak politik perempuan 4. Perkembangan gerakan keperempuanan

5. Isu tentang peran politik perempuan pada masa pemilu 2019 b. Faktor Penghambat

1. Tingkat pendidikan yang masih rendah

2. Hambatan budaya akibat kuatnya budaya patrilinial

3. Faktor institusional dan politis terkait rekrutmen politik bagi perempuan 4. Mahalnya biaya politik bagi perempuan

5. Status sosial ekonomi 1.7. Metode Penelitian 1.7.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Menurut (Creswell J.

W., 2010) dalam penelitian kualitatif ini digunakan untuk membantu menganalisa data maupun menganalisa permasalahan sosial dan juga kemanusiaan. Selain itu juga mampu mendeskripsikan masalah secara rinci dari permasalahan atau isu yang diangkat secara jelas dengan berupa fakta, contoh, dan bukti dengan mempelajari atau memahami kasus yang tengah terjadi. Pemantapan permasalahan dapat dilakukan dengan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan pengumpulan data dari narasumber yang menjadi obyek dalam penelitian secara spesifik atau terperinci.

1.7.2. Sumber data

Adapun sumber data yang digunakan didalam penelitian ini ada 2 yaitu data primer dan data sekunder:

(17)

17

1) Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari objek dan subjeknya yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas melalui wawancara dengan berbagai pihak yang terlibat serta melalui kegiatan observasi.

2) Data Sekunder yaitu didapatkan dari sumber data yang diperoleh dari jurnal, buku, laporan atau arsip dari lembaga/instansi terkait, maupun dari dokumen atau naskah kebijakan seperti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, dan data- data lain yang relevan dengan kajian penelitian.

1.7.3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dari penelitian ini dilakukan untuk menghimpun data yang dibutuhkan serta dapat memberikan gambaran dari aspek yang akan diteliti. Berdasarkan hal tersebut peneliti menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi yang akan diuraikan sebagai berikut:

1) Observasi

Observasi merupakan cara dalam pengumpulan data melalui pengamatan yang dilakukan dengan sistematis terhadap permasalahan. Aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan mencatat, melaporkan secara terstruktur atau sistematis terhadap obyek yang diteliti (Sugiyono, Teknik-teknik Observasi, Handbook of Qualitative Research, 2010). Observasi dapat digambarkan seperti kegiatan pengamatan secara langsung dengan harapan peneliti mampu memahami dengan baik obyek penelitian tersebut

2) Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan mengajukan beberapa pertanyaan melalui proses tanya jawab kepada narasumber untuk melengkapi kebutuhan data yang dibutuhkan terhadap permasalahan yang

(18)

18

diangkat baik secara terstruktur maupun tidak terstruktur (Sugiyono, Teknik- teknik Observasi, handbook of qualitative Research, 2010).

3) Dokumentasi

Dokumentasi merupakan aktivitas atau teknik dalam pengumpulan data melalui pencatatan baik dari dokumen/arsip terhadap dokumen yang ada di lapangan yang dapat berfungsi sebagai data pelengkap dan data pendukung teknis sejauh masih berhubungan dengan masalah-masalah yang diteliti seperti arsip, catatan- catatan, buku laporan, monografi, statistik dan sebagainya.

1.7.4. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah informan yang dapat memberikan informasi secara lengkap dan mendalam kepada peneliti yang berkaitan dengan tema yang telah ditentukan. Adapun subyek dalam penelitian ini adalah:

1. Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Kabupaten Situbondo 2. Sekretaris Partai PDI Perjuangan Kabupaten Situbondo

3. Wakil Kepala Bidang Perempuan dan Anak PDI Perjuangan Kabupaten Situbondo

4. Wakil Kepala Bidang Kaderisasi dan Organisasi PDI Perjuangan Kabupaten Situbondo

5. Kader Perempuan PDI Perjuangan

6. Caleg Perempuan tidak terpilih PDI Perjuangan periode 2019-2024 1.7.5. Lokasi Penelitian

Penelitian ini bertempat di salah satu Kantor Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Jalan Raya Banyuwangi, No 515, Panji, Kabupaten Situbondo. Lokasi Penelitian tersebut harapannya dapat membantu

(19)

19

peneliti untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan terkait dengan permasalahan yang di angkat

1.7.6. Teknik Analisis Data

Peneliti menggunakan metode kualitatitf untuk mendeskripsikan data yang dikumpulkan baik dalam bentuk kata-kata maupun gambar, data yang berasal dari naskah, wwancara, catatan lapangan, dokumen dan data penunjang lainnya. Berikut langkah-langkah dalam menganalisis data cecara mendetail yang dijabarkan (Creswell J. W., 2010) berikut :

1. Mempersiapkan data untuk kemudian diolah dan dianalisis

Langkah pertama dapat dilakukan dengan medeskripsikan secara menyeluruh data-data yang diperoleh selama penelitian yang telah didapatkan yang dapat berupa hasil wawancara, observasi atau pendokumentasian data yang dapat menjadi penunjang hasil penelitian.

2. Membaca dan Mengingat Data

Memahami dan mencari data atau informasi yang telah didapatkan secara keseluruhan guna menghindari data dan informasi yang sama serta tumpang tindih data dan informasi

3. Menganalisis Data

Langkah yang dilakukan guna menggambarkan data melalui pernyataan- pernyataan untuk diolah dan dapat dikombinasikan berdasarkan informasi atau data yang di dapatkan saat penelitian untuk dianalisis kembali

(20)

20

4. Mengklarifikasi Data

Peneliti melihat kembali data dan informasi yang didapatkan melalui pemikiran imaginatif atau deskripsi struktural guna mencari makna dari keseluruhan data dan informasi yang didapatkan

5. Mendeskripsikan Data

Menyajikan data dan informasi dalam bentuk narasi melalui pembahasan terkait kronologis peristiwa, tema-tema tertentu atau antar keterhubungan tema.

6. Menginterpretasikan Data

Peneliti melakukan proses analisis dengan upaya mengkonstruksikan data dan informasi yang didapatkan baik melalui proses pemaknaan dari esensi data dan informasi yang didapatkan.

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan ketentuan Pasal 4 ayat 1 POJK 42/2020, Transaksi ini merupakan Transaksi Afiliasi yang dilakukan oleh CAP2 yang merupakan perusahaan terkendali Perseroan, dan

Hasil perhitungan penjadwalan menggunakan metode CCPM, didapatkan waktu penyangga sebesar 7 hari sehingga estimasi durasi penyelesaian proyek apabila waktu penyangga

9.1 Apakah informasi yang ditampilkan pada tiap halaman sudah memungkinkan pengguna untuk dapat mengambil sebuah keputusan. 9.2 Apakah seluruh ikon dan objek

Jika pada penelitian Widyaningrum (2013) mengangkat judul tentang kelengkapan ringkasan keluar pasien terkait akreditasi versi 2012 pada kelompok standar Berfokus Kepada

Untuk mengetahui pertimbangan hukum hakim tentang pembatalan perkawinan dengan alasan kawin paksa (Analisis Putusan Pengadilan Agama Martapura

1 Dengan menggunakan Blok Aljabar dengan model pembelajaran Course Review Horay saya menjadi lebih memahami materi faktorisasi bentuk aljabar. 2 Saya lebih percaya diri

4.3 Hambatan-Hambatan yang dihadapi dalam Pemanfaatan software SIPRUS Sebagai Media Penelusuran Informasi di Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Yogyakarta

Pn.Hjh.Ni Shafiah Bt Abdul Moin(Pengetua ) Pn.Norizan Binti Hamdan ( PK HEM ) Tn.Hj.Wan Ahmad Ridzuan Azwa Bin Wan Abdul Jalil ( PK Pentadbiran) Tn.Hj.Mohd Ariffin Bin Zainal (