29 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kuantitatif. Metode kuantitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Sani & Vivin (2013) penelitian explanatory adalah untuk menguji hipotesis antar variabel yang dihipotesiskan.
Dalam penelitian ini terdapat hipotesis yang akan di uji kebenarannya. Hipotesis itu mengambarkan hubungan antara dua variabel, untuk mengetahui apakah suatu variabel berasosiasi ataukah tidak dengan variabel lainnya, atau apakah variabel disebabkan atau dipengaruhi atau tidak oleh variabel lainnya menurut Sani dan Vivin (2013).
B. Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini menggunakan pengajar Pondok Pesantren Assalam sebagai subjek penelitian maka lokasi penelitian ini akan dilaksanakan di Yayasan Pondok Pesantren Assalam yang beralamatkan di Jl. Raya Sukosari Desa Rejoyoso, Kec. Bantur Kab. Malang (65179).
C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek/subyek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2019). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pengajar di Pondok Pesantren Assalam yang berjumlah 94 orang.
2. Sampel
Menurut Sugiyono (2018) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Untuk menentukan besarnya sampel menurut Arikunto S (2002) apabila subjek kurang dari 94 lebih baik diambil semua, namun apabila subjek penelitian lebih dari 94 dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25%. Pada penelitian ini sampel yang diambil adalah keseluruhan populasi yang berjumlah 94 orang pengajar untuk meneliti pengaruh kepemimpinan spiritual terhadap kinerja pengajar dengan motivasi sebagai variable pemediasi.
3. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik total sampling atau sampel jenuh. Sampel jenuh adalah sampel yang mewakili jumlah populasi yang dilakukan jika populasi dianggap kecil atau kurang dari 100 (Sugiyono, 2018).
D. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk angka yang dapat dihitung. Sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung kepada pengumpul data (Sugiyono, 2019). Data primer yang akan digunakan berupa kuisioner yang disebarkan pada pengajar yang berstatus aktif sebagai pengajar di Pondok Pesantren Assalam dan wawancara yang dilakukan dengan pihak kepala pimpinan yayasan Pondok Pesantren Assalam. Isi kuisioner yang disebar berhubungan dengan kepemimpinan spiritual dan motivasi terhadap kinerja.
Kemudian dari hasil kuisioner yang disebar dianalisis dan dijadikan pembahasan.
Data sekunder merupakan data yang diperoleh tidak langsung kepada pengumpul data (Sugiyono, 2019). Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder yaitu data sebaran jumlah pertumbuhan pondok pesantren di Kota Malang yang diperoleh dari data Badan Pusat Statistik Kota Malang, buku tentang kepemimpinan spiritual, motivasi dan kinerja yang dikarang oleh beberapa ahli, jurnal, literatur, dan situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dengan membagikan kuesioner kepada responden. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat
pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2019). Kuisioner disebarkan secara online kepada responden.
Kuesioner online (berbasis komputer) merupakan kuesioner yang disebarkan dengan cara menggunakan google formulir yang disebarkan kepada responden melalui media online whatsapp. Pemberian kuisioner online ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang penelitian mengenai kepemimpinan spiritual, motivasi dan kinerja.
E. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel merupakan definisi yang didasarkan atas sifat-sifat variabel yang akan diamati. Definisi operasional mencakup hal-hal penting dalam penelitian yang memerlukan penjelasan, definisi operasional variabel bersifat spesifik, rinci dan tegas. Berikut definisi operasional variabel pada penelitian ini:
a. Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi karena adanya variabel bebas. Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja (Y).
b. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi, yang menyebabkan timbulnya atau berubahnya variabel terikat. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepemimpinan spiritual (X).
c. Variabel intervening
Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi variabel terikat dan variabel bebas, variabel intervening yang digunakan dalam penelitian ini adalah motivasi (Z).
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional
Variabel
Indikator Sub Indikator Sumber
X:
Kepemimpinan (spiritual) adalah kemampuan bagi kepala yayasan Pondok Pesantren Assalam untuk mempengaruhi para pengajar dalam melaksanakan
tugasnya semata-mata hanya untuk
memperoleh amal shalih
1. Shiddiq a. Menjaga lisan agar selalu
menyampaikan kebenaran b. Menjaga tingkah
laku terpuji agar menjadi contoh yang baik
Quraish Shihab, 2011
2. Amanah a. Mampu mengemban kepercayaan yang diberikan
b. Melaksanakan kewajiban hanya untuk ibadah kepada Allah SWT 3. Fathanah a. Memiliki potensi
untuk mengahadapi masalah yang akan muncul
b. Memiliki kecerdasan
elektual, emosional dan spiritual 4. Tabligh a. Menyampaikan
kebenaran agama islam kepada masyarakat b. Mengajak dengan
jelas untuk meraih wahyu Allah (Al- quran)
Definisi Operasional Variabel
Indikator Sub Indikator Sumber Y:
Kinerja adalah hasil kerja pengajar Pondok Pesantren Assalam untuk menghasilkan output yang
berkualitas dalam melaksanakan tugasnya dan
memperoleh prestasi kerja
1. Quantity a. Karyawan mampu mencapai target mengajar
b. Karyawan mampu menyiapkan materi ajar manual/ video interaktif
c. Karyawan
menyiapkan latihan soal setiap KBM
(Mathis, R.
L., &
Jackson, 2006)
2. Quality a. Karyawan
berpenampilan rapi b. Karyawan mampu
menyelesaikan tugas dengan teliti 3. Timeliness a. Dalam bekerja
karyawan selalu datang tepat waktu b. Dalam
melaksankan RPP dilaksanakan dengan tuntas c. Dalam
menyelesaikan penilaian siswa dilakukan tepat waktu
Z:
Motivasi adalah keinginan di dalam diri pengajar di Pondok Pesantren untuk semangat bekerja agar bisa mencapai tujuan yang diharapkan
1. Kebutuhan fisiologis
a. Karyawan bekerja guna memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan b. Karyawan berusaha
untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari- hari
Abraham H.
Maslow (Robbins, 2006)
2. Kebutuhan rasa aman
a. Karyawan berusaha memperoleh
Jaminan kesehatan dalam bekerja b. Karyawan berusaha
mendapatkan lingkungan kerja yang aman dan
nyaman 3. Kebutuhan
sosial
a. Karyawan berusaha menjaga hubungan baik sesama karyawan
b. Karyawan berusaha menjalin kerja sama yang baik 4. Kebutuhan
penghargaan
a. Karyawan berusaha memperoleh reward dan pujian
b. Karyawan berusaha memperoleh
prestasi 5. Kebutuhan
aktualisasi diri
a. Karyawan menggunakan kemampuan dan potensi diri secara maksimal
b. Karyawan selalu berusaha
mengembangkan diri
G. Pengukuran Data
Teknik pengukuran data yang digunakan adalah skala likert, di mana skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2019). Daftar pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner atau angket ini berkaitan dengan kepemimpinan spiritual, motivasi dan kinerja di Pondok Pesantren Assalam.
Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan indeks skala likert 1 – 5 dengan penjelasan sebagaimana mana pada tabel 3.2:
Tabel 3.2 Interpretasi Skor Jawaban Skor Keterangan Skor
5 Sangat Setuju (SS)
4 Setuju (S)
3 Netral (N) 2 Tidak Setuju (TS) 1 Sangat Tidak Setuju (STS) Sumber: (Sugiyono, 2018)
Dari jawaban responden selanjutnya data akan dianalisis dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Jawaban Sangat Setuju diberi nilai 5 (lima) sebagai tingkat tertinggi dalam pengukuran
b. Jawaban Setuju diberi nilai 4 (empat) sebagai tingkat tinggi dalam pengukuran
c. Jawaban Netral diberi nilai 3 (tiga) sebagai tingkat cukup tinggi dalam pengukuran
d. Jawaban Tidak Setuju diberi nilai 2 (dua) sebagai tingkat rendah dalam pengukuran
e. Jawaban Sangat Tidak Setuju diberi nilai 1 (satu) sebagai tingkat sangat rendah dalam pengukuran.
H. Uji Instrumen Penelitian 1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu daftar pertanyaan (kuesioner) didefinisikan oleh (Imam Ghozali, 2018).
Suatu kuesioner dapat dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.
Untuk melakukan uji validitas ini menggunakan program SPSS.
Penelitian ini menguji validitas dengan menggunakan analisis Pearson Correlation dalam SPSS. Adapun dasar penentuan dalam uji validitas,
yaitu:
a. Apabila rhitung > rtabel berarti pertanyaan tersebut dinyatakan valid.
b. Apabila rhitung ≤ rtabel berarti pertanyaan tersebut dinyatakan tidak valid.
2. Uji Reliabilitas
Suatu alat ukur instrumen dapat dikatakan reliable jika jawaban responden terhadap pertanyaan yaitu konsisten dari waktu ke waktu (Imam Ghozali, 2018). Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur kestabilan dan konsisten responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan daftar pertanyaan ataupun pernyataan yang merupakan dimensi suatu alat variabel dan disusun dalam suatu bentuk kusioner. Pengujian reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Cronbach Alpha sebagai berikut:
𝑟11 = ( 𝑘
𝑘 − 1)(1 − ∑ó𝑏2 ó𝑡2) Keterangan
r11 : reliabilitas instrumen k : banyak butir pernyataan ó𝑡2 : varians total
ó𝑏2 : jumlah varians butir
Adapun kriteria reliabilitas adalah sebagai berikut:
a. Apabila nilai cronbach alpha pada variabel > 0,6 maka variabel dikatakan reliabel.
b. Apabila nilai cronbach alpha pada variabel < 0,6 maka, variabel dikatakan tidak reliabel.
I. Teknik Analisis Data
Menurut (Sugiyono, 2019a) analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, memilih mana yang penting dan yang akan di pelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Penelitian ini menggunakan metode analisis jalur dengan alat analisis SPSS versi 25.
1. Rentang Skala
Dari alternatif jawaban responden menggunakan skala likert, maka perlu dilakukan pengelompokan jawaban responden berdasarkan nilai indeks yang akan diperoleh dari perhitungan Rentang Skala. Berikut adalah rumus yang dapat digunakan untuk menghitung rentang skala menurut (Husein, 2010):
Keterangan :
RS = Rentang skala n = Jumlah sampel
m = Jumlah alternatif jawaban setiap item
Berdasarkan rumus di atas maka dapat diperoleh rentang skala dengan perhitungan sebagai berikut:
RS = 94 (5-1)
5
= 75
Berdasarkan hasil perhitungan, telah diperoleh rentang skala sebesar 75 dengan demikian skala penelitian kepemimpinan spiritual, motivasi, dan kinerja dapat dilihat dari jumlah skala penilaian responden dalam penelitian, adapaun rentang keputusan rata-ratanya dalam tabel 3.3 dibawah ini:
Tabel 3.3 Rentang Skala
Interval Kepemimpinan Spiritual Motivasi Kinerja 94-169 Sangat Tidak Spiritual Sangat Rendah Sangat Rendah
169-244 Tidak Spiritual Rendah Rendah
244-319 Cukup Spiritual Cukup Cukup
319-394 Spiritual Tinggi Tinggi
394-469 Sangat Spiritual Sangat Tinggi Sangat Tinggi Sumber: (Hutauruk, 2015)
2. Uji Asumsi Klasik
Persyaratan dalam analsisi regresi adalah uji asumsi klasik. Pengujian asumsi klasik diperlukan untuk menegtahui apakah hasil estimasi regresi yang dilakukan benar-benar bebas dari adanya gejala normalitas, tidak terdapat autokorelasi dan heteroskedastisitas. Pengujian asumsi klasik terjadi sebagai berikut.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dipergunakan untuk menguji model regresi mempunyai distribusi normal atau tidak. Terdapat 3 uji normalitas yang dapat dijadikan dasar keputusan diantaranya yaitu, yang pertama dengan melihat kenormalan data ditunjukkan melalui terdapatnya penyebaran titik yang dekat atau disekitar garis miring pada diagram Normal Probability Plot. Kedua, jika pada grafik histogram menunjukkan kurva
yang tidak melenceng ke kanan atau ke kiri dapat dikatakan berdistribusi normal. Ketiga, uji normalitas menggunakan one sample Kolmogorov- Smirnov Test.
Dasar penentuan dari normal atau tidaknya penelitian diukur dari nilai probabilitas signifikan. Jika nilai probabilitas > 0,05 maka penelitian tersebut dapat dikatakan berdistribusi normal. Namun jika nilai probabilitas signifikan ≤ 0,05 maka penelitian tersebut dikatakan tidak berdistribusi normal (Imam Ghozali, 2018). Dalam penelitian ini menggunakan uji normal dengan metode grafik histogram dan diagram Normal Probability Plot.
b. Uji Multikolinearitas
Multikolinieritas terjadi jika ada hubungan linear yang sempurna atau hampir sempurna antara beberapa atau semua variabel independen dalam model regresi. Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah didalam model regresi terdapat korelasi yang tinggi atau sempurna antar variabel bebas penelitian. Jika tidak terdapat korelasi antar variabel bebas maka model regresi dikatakan baik.
Untuk menguji adanya multikolinieritas dapat dilakukan dengan menganalisi korelasi antar variabel dan perhitungan nilai tolerance serta variance inflation factor (VIF). Multikolinearitas terjadi jika nilai VIF
> 10 maka terdapat multikolinieritas yang tinggi. Sedangkan apabila
nilai VIF < 10 maka model regresi tidak memiliki multikolinieritas antar variabel.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui apakah variasi (varians) absolout residual tidak sama untuk semua pengamatan.
Heteroskedastisitas diuji menggunakan metode glejser. Jika masing- masing variabel bebas memiliki alfa lebih dari 0,05 (α > 0,05), maka dalam model regresi tidak terjadi heteroskedastisitas. Adapun sebaliknya, jika alfa lebih kecil dari 0,05 (α > 0,05), maka dalam model regresi terjadi.
3. Analisis Jalur (Path Analysis)
Analisis jalur (Path Analysis) merupakan perluasan dari analisis regresi linear berganda (Ghozali, 2018). Analisis jalur digunakan untuk menganalisis pola hubungan antara variabel dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Model yang digunakan dalam analisis jalur, yaitu:
Jalur I = X - Y Y = βX Jalur II = X - Z Z = βX Jalur III = Z - Y Y = βZ
Jalur IV = X – Y - Z Y = βX+βZ 4. Uji Hipotesis
Hipotesis didefinisikan sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis di antara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk
pernyataan yang diuji. Hubungan tersebut diperkirakan berdasarkan jaringan asosiasi yang ditetapkan dalam kerangka teoritis yang dirumuskan untuk studi penelitian.
1. Secara Parsial (Uji t)
Uji t adalah pengujian untuk melihat pengaruh secara parsial variabel independen (bebas) terhadap variabel dependen (terikat).
Tingkat signifikasi yaitu (α = 0,05) atau 5%, jika nilai signifikasi lebih dari 5% atau (0,05) maka hipotesis tersebut ditolak sedangkan jika nilai signifikasi kurang dari 5% atau (0,05) maka hipotesis dapat diterima (Imam Ghozali, 2018). Adapun hipotesis yang akan diuji adalah:
H0 = Tidak ada pengaruh parsial antara variable kepemimpinan spiritual terhadap variabel kinerja
Ha = terdapat pengaruh parsial antara variabel kepemimpinan spiritual terhadap variabel kinerja
H0 = Tidak ada pengaruh parsial antara variabel kepemimpinan spiritual terhadap variabel motivasi
Ha = terdapat pengaruh parsial antara variabel kepemimpinan spiritual terhadap variabel motivasi
H0 = Tidak ada pengaruh parsial antara variabel motivasi terhadap variabel kinerja
Ha = terdapat pengaruh parsial antara variabel motivasi terhadap variabel kinerja
Adapun untuk melihat pengaruh secara parsial, peneliti mengambil dasar keputusan sebagai berikut:
1) Jika tℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 < t𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙, maka Hipotesis nol (H0)diterima, dan Ha ditolak.
Artinya, tidak ada pengaruh secara parsial antara variabel bebas terhadap variabel terikat
2) Jika tℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 t𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya ada pengaruh secara parsial antara variabel bebas terhadap variabel terikat.
2. Uji Sobel
Uji Sobel digunakan untuk menguji pengaruh tidak langsung antara variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y) melalui variabel mediasi (Z). Dasar keputusan dari uji Sobel ditentukan dari nilai besar nilai p-value, jika nilai dari p-value < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa
variabel independen terhadap variabel dependen melalui variabel mediasi dinyatakan berpengaruh signifikan danhipotesis atas uji Sobel dinyatakan diterima. Begitu pula sebaliknya jika nilai dari p-value > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa variabel independen terhadap variabel dependen melalui variabel mediasi dinyatakan tidak berpengaruh signifikan dan hipotesis atas uji Sobel dinyatakan ditolak. Perumusan uji Sobel dinyatakan dalam berikut dengan tahap pertama menghitung nilai Sab:
Sab = √𝑏2𝑠𝑎2+ 𝑎2𝑠𝑏2+ 𝑠𝑎2𝑠𝑏2 Keterangan:
Տa = standard error X-Z Տb = standard error Z-Y b = koefisien regresi Z-Y a = koefisien regresi X-Z
ab = hasil perkalian koefisien X-Z dengan koefisien M-Y Sab = standart error tidak langsung
Selanjutnya untuk menguji Sobel Test maka perlu menghitung nilai t dari koefisien ab dengan rumus sebagai berikut:
𝑡 = 𝑎𝑏 𝑆𝑎𝑏
Nilai t hitung digunakan untuk mengetahui mediasi yang dilakukan pada uji Sobel berpengaruh secara negatif atau positif, dengan kriteria jika t hitung > t tabel (1,986), maka terbukti variabel kepemimpinan spiritual berpengaruh signifikan terhadap kinerja melalui motivasi sebagai variabel media.