I I
I~
1~
I I I I I I·
1~
I I
I.
I~
I I II
! I 1-
1 I
RISALAH RAP AT P ANSUS RANCANGAN UNDANG-UNDANG
TENT ANG PEMILIHAN UMUM
Tanggal, 11 OKTOBER 2002
PEMBAHASAN DIM FRAKSI-FRAKSI
Sekretariat Pansus
Rancangan Undang-Undang Tentang Pemilu
JI. Jenderal Gatot Subroto Jakarta
Tlp.5715736 ~ 5175516 Fax.5715554
._:..
..
I I
, I~
I-
I
, .I
I
~·, I I
, I·
1·
I I
I.
'
I 1-
I ii
'I
I
1·
I I
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT . REPUBLJK INDONESIA
RISALAH RAP AT PANSUS
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMILIHAN UMUM
Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat ke
Jenis Rapat Sifat Rapat Hari. tanggal Pukul
Tempat Ketua Rapat Sekretaris Rapat Ac a ra
Had i r
ANGGOTA YANG HADIR
ANGGOT A YANG HAD IR : F.PDIP
I. A. TERAS NARANG, SH 2. ALEZANDER LJTAAY 3. SUPARLAN
4. Jr. ZAENAL ABIDJN 5. PANDA NABABAN 6. PATANIARI SIAHAAN
: 2002-2003 : I
: Rapat Pansus : Tertutup
: Sabtu, 12 Oktober 2002 : 090.00 - 23.00 WIB
: Hotel Horison Ancol Jakarta : A. Teras Narang, S.H.
: Drs. Togar Sihaloho, M.Si : Pembahasan DIM Fraksi-fraksi
: 40 Anggota Pansus
MENDAGRI beserta jajarannya ..
F.PG .
I. DRS. FERRY MURSYIDAN BADLAN 2. DRS. H.M. SYARFI HUTAHURUK 3. IR. RULL Y CHAIRUL AZW AR
4. DRS. AGUN GUNANDJAR SUDARSA 5. Ora. IRIS INDIRA MURTI,M.A.
7. WILLEM M. TUTUARIMA,S.H. (ijin)
6. ANDI MATTALATA, S.H.,M.Hum 7. DR. HJ. MARWAH DAUD IBRAHIM,M.A.
8. SUWJGNYO
9. RUSMAN LUMBANTORUAN I 0. MARAH SIMON Mhd SY AH 11. J.E. SAHETAPI
l 2. JAHAR HARAHAP
13. TB. MAMAS CHAERUDDIN 14. FIRMAN JAY A DAELI 15. SUBAGIO ANAM (ijin) F.PPP
I. DRS.I-I. CHOSIN CHUMAIDY 2. DRS. H. AKHMAD MUQOW AM 3. DRS. H. ANWAR MALIK
F.REFORMASI
I. Dr. AHMAD F ARHAN HAMID, MS 2. H. PATRIALIS AKBAR, S.H.
3. JR. SAMUEL KOTO
4. H. MUT AMMIMUL ULA, S.H.
8. DRS. SIMON PATRICE MORIN 9. DRS. H. SLAMET EFFENDI YUSlJF
F.KB
1. K.H. YUSUF MUHAMMAD, LML 2. DRS. HM.SOFWAN CHUDLOJE.Msi.
3. DRS. SUSONO YUSUF
4. DRS. ALI MASYKUR MUSA,M.Si F.TNl/POLRI
I. SYAMSUL MA'ARIF, M.Si 2. DAUHAN SY AMSURI
3. ARIFUDDIN, A.M. SH (Baleg) 4. BACHRUM RASIR (Kunker)
\.
·\._
·"
,;..
I I
i
1-
, I - II
I
I
'I 'I
, I
1~
I
1 ·
I I
I.
1-
1 I I I
1·
I I
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
RISALAH RAP AT P ANSUS
RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMILIHAN UMUM
Tahun Sidang
Masa Persidangan Rapat ke
Jenis Rapat Sifat Rapat Hari. tanggal Pukul
Tempat Kettta Rapat Sekretaris Rapat Ac a r a
Had i r
ANGGOTA YANGHADIR
ANGGOTA YANGHADIR : F.PDIP
l. A. TERAS NARANG, SH 2. ALEZANDERLITAAY 3. SUPARLAN
4. Ir. ZAENAL ABIDIN 5. PANDA NABABAN 6. PATANIARl SIAHAAN
: 2002-2003 : I
: Rapat Pansus : Tertutup
: Jum'at, 11 Oktober 2002 : 20.00 - 23.00 WIB
: Hotel Horison Ancol Jakarta : A. Teras Narang, S.H.
: Ors. Togar Sihaloho, M.Si : Pembahasan DIM Fraksi-fraksi : 36 Anggota Pansus
MENDAGRI beserta jajarannya ..
F.PG
1. DRS. FERRY MURSYIDAN BADLAN 2. DRS. H.M. SYARFI HUTAHURUK 3. IR. RULLY CHAIRUL AZWAR
4. DRS. AGUN GUNANDJAR SUDARSA 5. Dra. IRIS INDIRA MURTI,M.A.
7. WILLEM M. TUTUARIMA,S.H. (ijin) 8. SUWIGNYO 'f;
6. ANDI MATTALATA, S.H.,M.Hum 7. DRS. SIMON PATRICE MORIN 9. RUSMAN LUMBANTORUAN
I 0. MARAH SIMON Mhd SY AH 11. J.E. SAHETAPI
12. JAHAR HARAHAP
13. TB. MAMAS CHAERUDDIN 14. FIRMAN JAY A DAELI 15. SUBAGIO ANAM (ijin) F.PPP
I. DRS.H. CHOSIN CHUMAlDY 2. DRS. H. AKHMAD MUQOWAM 3. DRS. H. ANWAR MALIK
F.REFORMASI
I. Dr. AHMAD F ARHAN HAMID, MS 2. H. PATRIALIS AKBAR, S.H.
3. IR. SAMUEL KOTO
4. H. MUTAMMIMUL ULA, S.H.
F.KB
I. DRS. HM.SOFW AN CHUDLOIE,Msi.
2. DRS. SUSONO YUSUF
F.TNI/POLRI
I. SYAMSUL MA' ARIF, M.Si 2. DAUHAN SY AMSURI
3. ARIFUDDIN, A.M. SH (Baleg) 4. BACHRUM RASIR (Kunker)
J~
• 1~~,H"YY':f ... '. ~1 . , •. ._. ~-.•.fr~· . , tt..t:L-1: .tt • ·• _ r .. ; ..
..
I
I
F.KKII~
I·
F.PBBI
F.PDUII
SJ\ YUTI RAHA W ARIN'I
II : I
1~
I
1 ·
II ..
I
: I_
!
1.
I I II
I
1-
I I
', \,
I I
1-
I·
I I I I I
1~
1- II II •
'.t I ~
'~I_
1-
I I , I I I I I
j
Pemilu 11-10-2002
KETUA RAPAT (A. TERAS NARANG, SH):
Bapak-bapak sekalian yang saya hormati.
Saudara Menteri Dalam Negeri, Saudara-saudara Anggota Pansus RUU T entang Pemilu.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita semuanya.
Perkenankanlah saya untuk mencabut skors.
Rapat dibuka pukul 20.20 WIB.
Bapak-ibu sekalian sesuai dengan rapat kita pada beberapa waktu yang lalu pada malam hari ini kita akan melanjutkan Rapat Kerja dalam rangka pembahasan RUU Tentang Pemilu ini.
Namun demikian saya mohon persetujuan terlebih dahulu sampai jam berapa rapat kerja kita pada ma lam ini ? . Kalau memang disetujui untuk pertama ini kita sampai pada pukul 22.00 WIB. Bisa disetujui?
(RAPAT SETUJU) Baik terima kasih.
Saudara Menteri, Bapak-bapak sekalian yang saya hormati.
Sebagaimana yang telah kita sepakati beberapa waktu yang lalu kita telah menyepakati pengelompokan materi RUU Tentang Pemilu, dan kita sepakat ada 5 rumpun.
Rumpun pertama atau kelompok pertama adalah sistem pemilu, kemudian rumpun atau kelompok kedua peserta pemilu, dan kemudian rumpun ketiga adalah penyelenggara pemilu, rumpun keempat adalah pelaksanaan pemilu, dan rumpun yang terakhir adalah yang kelima rumpun pengawasan dan penegakan hukum .
Dari 5 rumpun yang ada kami melihat dari kesemuanya yang sangat penting dari meja pimpinan, kami minta persetujuan apakah kita melakukan pembahasart berurutan dari rumpun satu sampai dengan lima atau kita mendahulukan rumpun- rumpun yang lain.
Karenanya khusus untuk memulai proses pembahasan ini saya minta persetujuan dulu apakah kita stars dari rumpun pertama atau ada rumpun-rumpun
lain yang kita mulai dari pertama? •
Kalau begitu saya ingin memberikan kesempatan fraksi dulu untuk menyampaikan pandangannya berkaitan dengan mulainya rumpun ini. Saya persilakan dari F.PDIP.
ANGGOTA F.PDIP (RUSMAN LUMBANTORUAN):
Bapak Ketua, Bapak Pimpinan dan Bapak Menteri, Bapak ibu Anggota
Pansus. ·
Saya kira kalau d~ri fraksi kami berpendapat pertama bahwa perumpunan yang sudah kita sepakati 5 rumpun itu. Ada beberapa hal yang memang perlu kita pertimbangkan, kalau kita mulai dari rumpun~ pertama konsekuensinya kita akan bahas nantinya hal-hal yang berkaitan dengan ketentuan umum misalnya, dimana di dalam rumusan-rumusan ketentuan umum itu menyangkut sebenarnya kaitan- kaitannya dengan empat rumpun yang lain.
3
I I
1- I-
I
;lI
I I I
I··
1- ,
II
i t.1ti
t,,,
1
1
1.
1-
I I I I I I I
Oleh karena itu kalau dimungkinkan barangkali tanpa mengatakan bahwa yang satu lebih rumit dari yang lain. Say~ kira se~uai dengan apa yang dip~rsiapkan
oleh pimpinan kami sependapat untuk k1ta mula1 denga~ rumpun. Say~ t1d_ak t~h~
apakah satu rumpun ini peserta pemilihan umum maten yang sudah d1bag1kan 1rn.
Kami sepakat bisa kita mulai dari situ. Terima kasih Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Jadi konkritnya peserta pemilu berarti rumpun yang kedua, begitu ya.
Baik silakan dari F.PG.
ANGGOTA F.PG (ANDI MATALATTA, SH, MHUM):
Kami termotivasi apa yang disampaikan oleh rekan kami F.PDIP karena ketentuan umum inikan akan memayungi seluruh rumpun yang ada. Bagaimana kalau kita mulai dari ketentuan umum, sesudah itu baru masuk ke rumpun-rumpun.
Karena ada pendeteksian di keteptuan umum akan mewarnai pengertian-pengertian
disemua rumpun. ·
KETUA RAPAT:
Terima kasih.
Berikutnya dari F.PPP.
ANGGOTA F.PPP (DRS. DRS. H. AKHMAD MUQOWAM) ~ Teri ma kasih.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Bapak Pimpinan, Bapak Mendagri beserta jajaran yang saya hormati.
Saya setuju dengan pikiran dari F.PG. Pertama pokok rumpunnya adalah mengenai ketentuan umum itu pokok rumpunnya disitu. Lalu yang kedua barangkali untuk memberikan satu strata tidak mungkin karena semuanya akan dibahas oleh kita.
Tetapi paling tidak dari F.PPP mengusulkan agar proses pembahasan itu satu peserta pemilu. Yang kedua penyelenggara pemilu, lalu yang ketiga sistem pemilu, lalu yang keempat itu pelaksana pemilu, yang kelima pengawasan dan penenegakan hukum.
Jadi oleh karena itu biar tidak terfokus dan tenaga kita habis hanya untuk I
berbicara mengenai sistem pemilu yang memang itu namanya menjadi vokus dari kita. Jadi tanpa meniadakan atau tanpa untuk bermaksud menggradasi yang lain tapi sistem saya minta untuk pada tataran yang ketiga dalam pembahasan perumpunan ini.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih dari F.PPP.
Berikutnya dari F.PKB.
ANGGOTA F.PKB (DRS. H.M. SOFWAN CHUDLORIE,M.Si):
Jadi sebagaimana kita maksudkan bahwa kita rumpunkan kemarin supaya tidak ada hal-hal yang berulang-ulang kita bahas karena di tempat yang lain juga kita bertemu dengan itu.
.4
:,.'
I I
1- I- I I I I I I·
1-
I'
I I ' 1.
1-
I I I I 1- I I
,,
Untuk itu saya kira pada dasarnya kita sesuai dengan. perumpunan ini, ya kita mulai dari yang paling mendasar bersamaan sistem peserta pen¥~1enggara palaksanaan dan pengawasan pemilu penegakan hukum._ ~amun den:11k1an kalau memang kita rasakan bahwa masalah ketentuan umum 1rn mendasan semuanya saya kira kita sepakat untuk dimulai.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik terima kasih dari F.PKB.
Berikutnya dari F. Reformasi.
ANGGOTA F.REFORMASI (PATRIALIS AKBAR, SH):
Terima kasih pimpinan, sidang yang kami hormati.
Kami sepakat bahwa memang seyogyanya kita harus membahas berdasarkan itu. Sedikit berbeda dengan kawan-kawan yang lain justru nanti ketentuan umum nanti saja kita bahas jadi kita perkaya dulu persoalan-persoalan substansi masalah baru kita masuk pada ketentuan umum, tapi kalau ketentuan umum dulu kita bahas nanti malah kita terbatas.
Jadi kita terhalang untuk mengembangkan pikiran-pikiran, jadi kita bahas isinya baru kira rumuskan di dalam ketentuan umum, mungkin ketentuan umum hanya akan memaklumat, jadi lima rumpun inilah berurutan jadi langsung kita bahas babnya pasalnya dan dimnya.
Saya kira itu terima kasih.
KETUA RAPAT:
~
T erima kasih dari F. Reformasi.
Berikutnya dari F. 'tNl/~olri.
ANGGOTA
F.TNl/~JLRI
(SYAMSUL MA'ARIF, M.Si):T erima kasih.
Seingat saya perumpunan ini memberikan gambaran pada kita bahwa antara satu pasal ini juga ada kaitannya dengan pasal yang lain seingat saya begitu.
Sebagai contoh yang sudah disampaikan oleh sekretariat ini waktu itu kita memasukan agar kita ketahui bahwa Pasal 14 15 itu akan ada kaitannya dengan Pasal 1 46 dan seterusnya dan ini terus dimasukkan.
ltu artinya bahwa• ketika kita membahas satu pasal ini kita juga punya kesadaran bahwa dirumpun itu ada pasal-pasal yang saling melengkapi, itu yang paling utama dari segi rumpun ini.
Sedang pembicaraannya saya berpikir bahwa dan inl cara berpikir tentara biasanya, urut saja toh nanti kita bisa menyelesaikan dibandingkan dengan perbandingan waktunya, jadi yang sekiranya memang itu kiranya bisa kita tidak perdebatannya terlalu panjang ya kita cukup saja, tapi ibarat bangunan itu memang secara tertib kita ikuti dengan kesadaran ingatlah bahwa ketika membicarakan pada pasal yang masih muda itu ada kaitannya nantinya dengan pasal yang lain.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari F.TNl/Polri.
Berikutnya dari F.KKI ijin, dan kemudian F.PBB juga.
Kami persilakan F.PDU.
5
I
I I : '1-
1
I·
'I I I I I
I·
1-
1
I
1.
1-
1
I
'I 'I I
1-
1
I
ANGGOTA F.PDU (SAYUTI RAHAWARIN):
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Menurut pemahaman kami bahwa perumpunan yang sudah dilakukan itu hanya memudahkan kita untuk memahamkan, ada keterkaitan antara pasal tertentu dengan yang lain.
Salah satu contoh tentang, seperti pasal 1, kemudian pasal 67 ayat 1, 2, 4, dan seterusnya atau pasal 78 dan 79, 80. lni salah satu contoh saja. Jadi perumpunan itu untuk memahamkan bahwa Pasal 1 yang berbicara tentang Sekretariat Jenderal KPU.
Kemudian di pasal yang lain seperti 67 berbicara terntang KPU kemudian 76, 79 dan 85, sehingga kalau dalam proses pembahasan itu kita memulai umpamanya yang Bab Ill itu kita sudah memahamkan bahwa Bab Ill ini ada beberapa ayat yang terkait dengan Bab IV a, b, c umpamanya.
Sehingga kalau pengamat seperti itu kita mulai dari Bab Ill atau Bab II atau bisa saja kita mulai dari ketentuan umum, jadi itu semangatnya demikian. Jadi perumpunan itu bukan dalam pengertian bahwa harus bab ini kita selesaikan lebih dulu, tapi memudahkan saja. Jadi bisa saja kita mulai dari Bab I, ketentuan umum, kemudian nanti pasal-pasal yang terkait dengan bab lain. ltu menurut pengamatan kami.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih dari F.PDU.
Berikutnya kami persilakan dari pemerintah.
PEMERINTAH (HARi SABARNO) : T erima kasih Pimpinan Pansus.
Yang terhormat pimpinan dan Anggota Pansus.
Sebenarnya dulu dalam rangka memudahkan kita mengelompokan ini untuk memudahkan atau mengefektifkan dan mengefisienkan agar fokus diskusi pembahasan itu memang pada lima kelompok ini. ltu memang untuk menyamakan pandangan-pandangan sehingga akan ketemu kesepakatan itu. Baru memang nanti akan disebar kembali, harus disapu kembali dari ujung ke ujung. Tetapi kaJau yang 5 pengelompokan ini relatif sudah sepakat tentu penyapuan itu bisa saja nanti tidak pada tingkatan Pansus lagi tapi sudah bisa masuk di Panja sepanjang kesepakatan- kesepakatan dalam 5 kelompok itu sudah fix.
Namun persoalan metode untuk membahas ini kami mengikuti saja bagaimana keputusan rekan-rekan di Pansus ini apakah dimulai dari diantara 5 kelompok kita mulai dari yang mudah baru nanti setelah panas begitu baru di tengah cari yang agak hangat begitu baru ke sistem.
Atau dimulai dari ketentuan umum juga bisa tetapi menurut pandangan kami dari pihak pemerintah ketentuan umum itu nanti bisa juga kalau ketemu di tengah dan perlu dimasukkan di ketentuan umum tentu akan kita tempatkan disana.
Jadi dengan mengelompokan pada 5 kelompok ini kita tadinya memang bermaksud untuk kalau ketemu hal-hal memang menjadi kesepakatan yang baru bisa saja nanti masuk di ketentuan umum, mungkin masuk di peralihan dan
6
, I I
1.
1-
, I
I
I
I I I 1- 1-
'I
~I
I
1.
1-
1 , I
,, I I
I
I
I
seterusnya. Paling tidak ada 5 rumpun atau 5 kelompok itu sudah bisa kita diskusikan secara intensif sehingga menemukan kesamaan-kesamaan pandangan.
Demikian pimpinan Pansus, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Te rim a kasih dari Pemerintah.
PEMERINTAH (HARi SASARNO) :
~ '
Sedikit Pimpinan Pansus. ·· ~ ..
Disamping itu juga pertemuan malam hari ini dimulai pukul 20.00 WIB nanti pakah kita akan hanya sampai Minggu apakah sampai Senin tentu kita perlu menentukan jadwal yang perlu kita sepakati bersama, persidangan-persidangan jam berapa sampai jam berapa berikutnya jangan sampai nanti kita tidak punya gambaran nanti mohon juga bisa dibicarakan dalam kesempatan ini.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik terima kasih Saudara Menteri.
Bapak-bapak sekalian lbu.
Dari apa yang tadi berkembang memang pada saat kita memutuskan bahwa adanya perumpunan ini. Perumpunan ini tiada lain adalah sebagai satu pedoman bagi kita di dalam rangka kita melakukan proses pembahasan.
Dari pandangan-pandangan tadi kami dari meja pimpinan mengusulkan kita tetap berpedoman kepada rumpun yang sudah kita sepakati tapi kita melakukan proses pembahasan sesuai dengan urutan DIM.
Jadi itu sebagai bagian dari usulan yang sudah barang tentu mohon persetujuan. Jadi kalau memang itu sudah kita setujui tetap kita berpedoman mengacu kepada 5 rumpun yang kita sepakati tetapi proses pembahasan kita berurutan sesuai dengan nomor DIM yang ada. lni dalam rangka kita mempermudah karena DIM pertama ini kayaknya agak mudah menyangkut masalah hal yang tekhnis.
Baik kalau itu memang disetujui kita mulai sesuai dengan urutan DIM. Bisa disetujui ? Baik terima kasih.
Kemudian yang kedua yang usulan dari Saudara Menteri tadi berkenaan dengan jadwal, tadi kita sepakati bahwa malam ini sampai pukul 20.00 WIB, kemudian sudah ~da pengaturan dari Sekretariat bahwa besok pagi kita mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB, kemudian kita makan siang dan solat, setelah itu kita mulai lagi pukul 14.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB. Kita break, k~mudian makan malam dan selanjutnya kita lanjutkan pukul 20.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB.
Kalau itu kita setujui sebagai kesepakatan awal kita dan kemudian ini dilanjutkan sampai dengan hari Minggu, hari Minggu kita lanjutkan. Jadi yang menjadi pertanyaan kita apakah hari Minggu ini berlaku sampai malam, hari Minggu mulainya jam 10.00 WIB pagi, ini usulan kita 10.30 untuk hari Minggu sampai 13.30 WIB. Kemudian istirahat 13.30 WIB sampai pukul 15.00 WIB. Kemudian kita lanjutkan pukul 15.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB. Setelah itu pukul 17.00 WIB sampai dengan pukul 20.00 WIB istirahat. Kemudian pukul 20.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB kita lanjutkan proses pembahasan hari Minggu. Hari Senin
7
I I
1- , I·
I I I I
'I
I
I·
1-
1
I
1
1
1.
1- 1
,, I I
1·
I I
kita break dulu, jadi kita hari Sabtu dan hari Minggu. Apakah ini bisa disetujui ? dari pemerintah ?
PEMERINTAH (HARi SABARNO) : Bisa kita terima.
Hanya tadi kembali kepada metode pembahasan tadi, kalau tadi Pimpinan Pansus mengatakan akan dimulai dari DIM awal lagi itu berarti apa yang kita lakukan selama ini membuat seperti ini lalu kurang begitu manfaatnya begitu.
lni dulu kan bermaksud kita sebenarnya hanya berpikir pada 5 kelompok dulu untuk di dalam masa sidang 3 hari 3 malam itu bisa menemukan apa bisa mempertemukan. Jadi tidak terlalu tergantung kepada istilahn~ DIM mana dan seterusnya, nanti posisinya ada terkait dengan DIM mana dan pasal mana, tetapi substansinya itu bisa terpeg~ng begitu.
Sebab kalau ini akhirnya kembali kepada yang buku tebal terus dari awal sebenarnya ini menjadi mubasir ini yang saya pikirkan tadi kalau mau dikembalikan dari DIM Nomor 1 dan seterusnya nanti berarti 5 kelompok plus ketentuan umum misalnya kita proyeksikan mulai dari malam ini misalnya sampai dengan minggu · malam.
ltu kira-kira dapatanya seperti apa, toh nanti setelah masuk ke persidangan di
ft
DPR masa reses berakhir itu kan akan ada jadwal yang regular. lni pandangan kami Bapak Pimpinan Pansus untuk jangan sampai kita ada teman-teman yang sudah kita kelompokan untuk menyusun ini sedemikian rupa'. lalu prakteknya kembali ke yang seolah-olah tidak ada ini.
Demikian terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT :
Baik terima kasih Saudara Menteri.
Jadi pada saat itu memang kita sepakat bahwa pedoman kita tetap kepada rumpun yang kita sepakati. Rumpun itu adalah merupakan pedoman bagi kita sehingga seketika kita masuk kepada masalah Sistem Pemilihan Umum kita paham betul bahwa yang namanya Sistem Pemilihan Umum itu adalah terdiri dari Bab II, Bab V, Bab VII, Bab XI dan Bab XVIII yang terdiri dari pasal yang ada s'i bagian pasal yang ada di rumpun sistem pemilihan umum. ltu pedoman kita karena kita sepakati dulu memang ini pedomannya.
Perkembangan terakhir ada satu keinginan karena ini menyangkuJ, masalah yang ada ketentuan umum ada bagian pertimbangan ada bagian mengingat kita selesaikan dulu ini yaitu yang sebelum perumpunan. Sebelum perumpunan ada 3 bagian, pertama bagian menimbang, kedua bagian menginat dan ketiga adalah bagian ketentuan umum.
Jadi itu dulu yang kita coba selesaikan setelah itu baru kita masuk ke perumpunan sebagaimana yang ada di matrik kita. Sebelum masuk ke bagian perumpunan kita sudah sepakat pertama menimbang kedua mengingat ketiga adalah ketentuan umum jadi tidak mubasir tetap kita mempedomani pada apa yang telah dibuat oleh sekretariat bersama-sama dengan pemerintah.
8
I I
1- 1- I
I I I I
1- 1- 'I II I_
1-
1
,, I I I I I
ANGOOTA F.PG (ANDI MATALATTA, SH, MHUM):
Ada usu! Pimpinan.
KETUA RAPAT:
Silakan Pak Andi.
ANGGOTA F .PG (ANDI MATALATTA, SH, MHUM) :
Tanpa mengurangi arti menimbang dan mengingat bagaimana kalau kedua hal itu nanti kita sorong saja ke Perumus atau kemana.
KETUA RAPAT :
Menimbang dan mengingat itu masalah tekhnis.
ANGGOTA F.fttFORMASI (PATRIALIS AKBAR, SH):
~t
Pimpinan.
,.
Kami kira begint·, masalah diktum berkenaan dengan menimbang mengingat dan ketentuan umum ini juga kita bahas tapi nanti saja kita bahas, karena ini kan tidak berkaitan langsung dengan substansi masalah. Justru ini akan lebih kaya setelah kita membahas materi.
tt; .. ·~ Saya ingat persis kenapa Saudara Hamdan waktu itu mengajukan pemikiran
·. · seperti ini adalah untuk efisiensi kita untuk membahas, jadi tidak lari-lari kemana- mana.
Jadi saya sependapat dengan yang disampaikan oleh Pak Menteri tadi dan kami juga berpikir seperti itu mari kita ke sistem lebih dulu. Kita sudah selesai materi semua terakhir baru kita menimbalg mengingat dan ketentuan umum itu lebih enak.
Saya kira begitu.
KETUA RAPAT:
Baik, ada lagi.
ANGGOTA F .PDIP (SUWIGNYO) :
Apakah tidak seyogyanya dimulai dari peserta, pemilu tanpa peserta juga.
•
KETUA RAPAT :
Jadi orang dulu ya Pak Wignyo.
ANGGOTA F.PDIP (PATANIARI SIAHAAN):
Pimpinan boleh.
Kami mengingatkan usul kami terakhir pada saat sidang terakhir di DPR
~etelah pimpinan membacakan rumpun, kami mengusulkan supaya kita bahas dulu masalah peserta Pemilu terlebih dahulu. Terus terang masalah ini menjadi masalah yang menjadi perdebatan terhadap sistem pemilu sendiri.
.
-
--"'~~ itt._~1,. _ _:_ __ L,·._'. ___ ~ _ -~
I I
I.
I-
I I I I I
I·
1- II
I'
I
1.
1.
I I , I I 1·
I I
•
Kalau kita bicara amandemen jelas dinyatakan siapa peserta pemilu, sehingga menurut kami ini kita patrikan dulu sebagai landasan seperti Saudara Menteri dan rekan dari F. Reformasi maupun dari F.PG tadi, barulah kita kembangkan bagaimana seharusnya sistem dikembangkan, artinya pesertanya siap~. J~di ~al~~ k_ami lihat apa yang disampaikan oleh Panitia sudah tepat sebetulnya d1 me1a k1ta 1rn k1ta bahas
lebih dulu. ,;
Sekian terima kasih.
KETUA RAPAT :
Terima kasih Pak Pataniari.
Kalau memang tidak ada tanggapan lagi kalau kita bisa menyetujui ini jadi yang kita bahas pertama itu adalah Rumpun kedua yaitu yang menyangkut dengan Peserta Pemilu.
Kemudian mengenai masalah 11tenimbang dan Mengingat ini memang merupakan satu landasan filosofis dan sosionis dari perundang-undangan ini, berikutnya kita akan melihat kita tugaskan kepada Panja atau Tim Perumus ini. Kalau memang bisa disetujui kita mulai dari Peserta Pemilu. Bisa disetujui ?
ANGGOTA F.PG (DRS. SIMON PATRICE MORIN):
Dengan catatan pada waktu membahas itu misalnya ada yang menyerempet ke Ketentuan Umum kita bisa gabung masuk kesana sehingga selalu ada keterkaitannya.
KETUA RAPAT : Baik Pak Morin.
Jadi apa yang disampaikan Pak Morin menjadi bagian penting dari catatan kita pada saat nanti masuk di ketentuan umum nanti akan dipertimbangkan.
Baik kita mulai dari Peserta Pemilu itu Bab Ill.
Dalam Bab Ill ini kalau dilihat ini kita mulai dari DIM Nomor 78 halaman 45.
Bisa saya mulai ?
Baik di DIM Nomor 78 ini hanya satu fraksi yang merubah susunan Babnya yaitu Bab Ill menjadi Bab IV dan ini hanya perubahan tidak perubahan substansi tapi hanya perubahan nomor bab yaitu dari F .PPP. Kami berikan kesempatan kepada
F.PPP berkenaan dengan DIM nomor 78. -
ANGGOTA F .PPP (DRS. H. AKHMAD MUQOWAN) : Tetima kasih Pak Ketua.
Ya salah satu implikasi dari perumpunan ini seperti ini, pikiran kami dari F.PPP adalah Bab I, II dan seterusnya. Jadi karena itu menurut saya saya usulkan saja agar substansi-substansi yang memang secara signifikan berbeda kita masuk pada pembahasan tetapi mengeni perubahan Bab IV yang tadinya Bab Ill itu lebih disemangati karena memang yang ada yang mendahului itu lebih didahulukan.
Jadi konsekuensi dari pada proses perumpunan seperti ini dan karena itu saya mengusulkan agar mengenai yang tidak substansi kita hilangkan dulu tetapi tinggal nan~ Timus atau Timsin kita bisa masuk kesitu. Karena substansi dipengaruhi oleh hal-hal yang berkait dengan masalah peserta pemilu dan terhadap pencalonan.
Jadi karena itu kami memafgumkan saja agar nanti menjadi konsep kita kalau nanti masalah-masalah di Timus.
Terima kasih Pak Ketua.
'
I ·~
10
I I
1.
I·
I I I I I
I·
1·
II 11
1.
1.
I I I I
1·
I I
KETUA RAPAT :
Terima kasih dari F.PPP.
Jadi DIM Nomor 78 yang terkait dengan usulan dari F .PPP itu menjadi tugas dari Timus atau Timsin nanti, jadi mohon menjadi catatan kita di DIM Nomor 78.
Apakah ini bisa disetujui ?
(RAPAT SETUJU) Baik, terima kasih.
Berikutnya kita masuk ke DIM Nomor 79, ini keseluruhan fraksi menyetujui tetap, bisa kita setujut?
(RAPAT SETUJU) Baik, terima kasih.
Kemudian DIM Nomor 80, tidak ada perubahan semuanya tetap.
Bisa disetujui ?
(RAPAT SETUJU) Terima kasih.
Masuk kita ke DIM Nomor 81 Pasal 14.
Disini ada dua fraksi yang mengajukan usul perubahan yaitu pertama F.Reformasi, dan kemudian kedua F.PBB. Kami berikan kesempatan terlebih dulu kepada F.Reformasi. Kami persilakan.
ANGGOTA F. REFORMASI (H. MUTAMMIMUL ULA, SH) : Pimpinan dan tenian-teman sekalian.
Sebenarnya itu perubahan di DIM Nomor 81 itu nanti terkait dengan DIM Nomor 85 jadi rumusannya disitu. Jadi itu later belakangnya saja tetapi redaksinya nanti di DIM Nomor 85.
Te rim a kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, jadi ini tetap ya, jadi untuk DIM yang 81 tetap, baik terima kasih.
Berikutnya, ya silakan.
ANGGOTA F.PDIP (RUSMAN LUMBANTORUAN):
Saudara Ketua.
Tanpa membebani ketua dengan tugas-tugas baru untuk membaca, jadi misalnya saja Pasal 14 itu atau DIM Nomor 81 yang disepakati itu sampai titik duanya barang kali teman-teman dari F.Reformasi menyetujui. Oleh karena itu barangkali mohon dibajakan Pasal 14 Ayat 1 "Partai politik dapat menjadi peserta Pemilu apabila memenuhi syarat-syarat" titik dua telah disepakati baru tok begitu.
Hal-hal yang disampaikan oleh teman-teman dari F.Reformasi DIM 85 itu mengenai angka-angka dari 1000 menjadi 100 baru nanti akan kita bicarakan. Jadi supaya jelas apa yang kita sepakati itu pak.
T erima kasih.
• J
~. . } •.,
..
,,.·~· ... _ -- - __ , _ _ _ - -___J
I , I
1- , I·
I I
I
I
I I
I·
1·
II
11 1.
1.
I I I I 1·
I ,I
KETUA RAPAT:
Baik terima kasih Pak Rusman.
Saya bacakan : Pasal14
Ayat 1 DIM Nomor 81.
Partai politik dapat menjadi peserta Pemilu apabila memenuhi syarat-syarat :
Apakah ini bisa disetujui ?
Te rim a kasih.
(RAPAT SETUJU) .f
Baik berikutnya DIM Nomor 82 saya bacakan.
a. dikaui beberadaannya sesuai dengan Undang-undang Partai Politik;
Maaf ini sebelumnya saya mohon maaf ini, ini ada F.PBB maaf di DIM Nomor 81 ada penambahan ayat, mohon maaf ini. Ada penambahan ayat tetapi yang tadi saya sampaikan bahwa F.PBB tadi ijin saya mohon kesepakatan dari Rapat Kerja ini mengenai usulan dari F.PBB dan itu memang ada di dalam mekanisme kita yang sudah kita sepakati. Jadi ini bisa kita anggap sebagai, ada yang memberikan pandangan berkenaan dengan ini, silakan Pak Alex.
ANGGOTA F .PDIP (ALEXANDER LITAAY) :
Ya ketua mungkin nanti kita lihat ada DIM yang menyangkut soal ini, mungkin dia lebih cocok disini kalau misalnya itu mau diakomodir.
KETUA RAPAT :
Baik, jadi bisa kita lewatkan dulu ya, dan kita tetap menyatakan bahwa itu kita sepakat di DIM Nomor 81. Baik terima kasih.
ANGGOTA F .PDIP (ALEXANDER LITAAY) :
Maaf maksud kami akan dibicarakan di DIM yang membicarakan substansi ini.
KETUA RAPAT :
Kalau begitu usu! Pak Alex tadi berarti kita memberikan catatan bahwa ini akan kita akan bicarakan kembali pada saat kita membicarakan masalah 1DIM yang terkait atau masalah yang terkait.
Silakan Pak Syamsul.
ANGGOTA F. TNl/POLRI (SYMALSUL MA' ARIF, M.Si) :
Untuk substansinya memang betul demikian, tapi di atas kata-katanya penambahan ayat. Jadi maksudnya di pasal 14 ini ada penambahan ayat, berarti kalau yang dibicarakan kata Pak Alex tadi itu memang substansinya kita setuju cuma kata-kata penambahan ayat menjadi di drop, sehingga kita disini di drop.
Demikian Pak. ~. \
12
I I
1- 1·
I I rl
I I
1- 1-
'I II
1.
1-
1 I
I I
" .• 1-
1 I
KETUA RAPAT : Silakan Pak Morin.
ANGGOTA F.PG (DRS. SIMON PATRICE MORIN):
Ketua, j~di saya ki.ra ini bisa m~nj~di. c~tatan sehingga b~hwa ini pun walaupun dia tidak hadir k1ta bahas tetap1 k1ta mgm menempatkan d1 tempat yang layak.
KETUA RAPAT:
Kalau melihat pada catatan yang ada disini, ini dikutip dari Pasal 145 di ketentuan peralihan.
ANGGOTA F.PPP (DRS. H. AKHMAD MUQOWAN):
I nterupsi Pak.
Ki;TUA RAPAT : Silakan Pak.
ANGGOTA F .PPP (DRS. H. AKHMAD MUQOWAN) : Terima kasih.
Kalau kita membaca Pasal 14 DIM Nomor 81 beserta point a sampai dengan f DIM Nomor 82 dan seterusnya itu, memang bagi saya usulan F.PBB adalah satu substansi baru yang ingin dimasukkan, jadi "Partai politik dapat menjadi peserta pemilu apabila memenuhi syarat-syarat",.
Disini dia mengutip dari Passi 145 itu apabila partai politik itu adalah sudah tutus dari electoral threshold kasarnya seperti itu. Disamping juga diakui keberadaannya UU Partai Politik, kemudian · menjadi pengurus lengkap dan seterusnya sampai dengan mengajukan nama dan tanda gambar partai politik.
Jadi karenanya ini adalah substansi yang dilontarkan oleh F. PBB sehingga dengan demikian menurut saya tidak bisa dipending begitu saja karena ini lontaran yang menurut saya baik dalam kacamata makro maupun mikro seleksi alam harus kita perlukan tapi harus ada aturan main yang jelas. F .PBB menyodorkan satu pemikiran mengenai partai politik boleh ikut pemilu asal memenuhi, electoral threshold seperti itu.
Jadi usul saya adalah saya walaupun ini ada penambahan ayat tetapi bagi saya cukup substansi dan strategis di tempatnya, disamping juga ada di dalam Pasal 145 yang merupakan bagian akhir dari para RUU ini. Jadi karenanya menurut saya sementara di pending tetapi tidak kita putuskan substansi ini tetap kita ambangkan kita dengar F.PBB dulu baru nanti kita setuju pa• waktu F.PBB itu datang.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Sialakan Pak Firman.
13
I I 1-
1-
I
:•I
··.,+•
' ~
'I I
I·
1-
' I II
1.
I.
·1 I I
I
I
, I 'I
I
ANGGOTA F .PDIP (FIRMAN JAVA DAELI) :
Memang juga ada kesulitan argumennya kita kan tidak tau, tapi konstruksi Pasal 14 DIM 81 ini kan sebetulnya belummenyentuh soal substansi, sementara teman-teman F.PBB ini sudah mulai memasuki soal syarat-syarat itu sendiri.
Jadi saya kira dipending tapi kita sepakati bahwa DIM 81 diketo~, karena konstruksinya F.PBB tidak terkait dengan DIM Nomor ftsebenarnya d1a sudah masuk syaratnya itu sendiri, saya kira kita sepakati dulu bahwa butir 81, nanti kalau terkait substansinya di syarat-syara titu sendiri baru kita bahas yang dari F .PBS.
Terima kasih Pak Ketua.
KETUA RAPAT : Silakan Pak Rully.
ANGGtfrA F.PG (IR. RULL Y CHAIRUL AZWAR) :
Setelah saya baca memang ini maksudnya substansi ini tidak di peralihan, dia ingin masukkan dalam justru pasal persyaratan, jadi ini substansi memang, saya pikir sebaiknya ini. tidak gegabah lagi dalam penyusunan substansial, ini memang walaupun muricul tempatnya tapi di peralihan itu bukan persyaratan, kekuatannya lain, kalau ini menjadi bahan yang substansial, saya pikir kita baiknya kita pending dulu ini.
KETUA RAPAT:
Baik, tapi kita tetap sepakati tadi yang Pasal 14 Ayat 1 yang bunyinya begini
"Partai politik dapat menjadi peserta pemilu apabila memenuhi syarat-sayat :" ini disetujui? Baik, kemudian usulan F.PBB ini kita pending.
Silakan Pak Sayuti.
ANGGOTA F.PDU (SAYUTI RAHAWARIN):
Sebenarnya substansi dari usulan F.PBB itu sebenarnya ada di Pasal 15, sdangkan di ketentuan peralihan ini untuk mengakomodasi partai yang lama UU lama itu untuk masuk dalam aturan peralihan toh ini juga kan belum kita sepakati yang at~ran peralihan. Sedang~n tambahan ini sebenarnya jiwa dan semangatnya sama dengan aturan peralihan. ltupun aturan peralihan ini belum kita sepakati, bagaimana juga mau nambah ini pasal baru masuk sedangkan substansinya terdampar.
ANGGOTA F.REFORMASI (IR. SAMUEL KOTO}:
Pimpinan, saya pikir ini yang benar itu Pak Rully tadi bilang masalah ini diaturnya di Pasal 14 bukan di peralihan, itu saja masalahnya, kalau kita setuju memasukan itu ini di Pasal 14 ya kita bahas disini kalau tidak ya membahasnya bukan substansinya, membahas barang ini disini, substansinya kan tidak, memindahkan dia dari pasal peralihan ke Pasal 14 itu kita setuju atau tidak itu saja masalahnya, kalau setuju nanti kita bahas substansinya karena ini ada alasan tentu dia berpikiran demikian. ltu persoalannya.
KETUA RAPAT :
Terima kasih Pak Samuel.
Silakan Pak Paniari.
·. 14 .
. .. ~ ~ti. ii._~.~--~-~-·~-~----·---
I I
I.
I-
I
I
I I I
I·
1·
I I 1.
I.
I I I I I I I
~f
ANGGOTA F.PDIP (PATANIARI SIAHAAN):
T erima kasih pimpinan.
Pertama-tama menurut kami kita harus berpikir lebih jernih artinya memang semua Undang-undang peraturan pasal-pasal adalah berlaku umum ada berlaku khusus. Kalau kami lihat Pasal 14 ini menyangkut hal yang umum sebenarnya belum yang khusus.
Maka kalau kita baca kalimatnya sebetulnya induk kalimatnya kan bukan a, b, c, d, induk kalimatnya adalah ayat 1, Partai politik dapat menjadi peserta pemilu apabila memenuhi syarat-syarat a, b, c, d, begitu kan sebetulnya. lni umum, jadi hal umum sebetulnya, yang ini menyangkut sudah khusus sebetulnya apalagi ini kan menyangkut mengakomodasi juga UU Nomor 3 Tahun 1999 termasuk mengatur juga peralihat terhadap pemilu setelah 2004.
,if'.
ltu kalau kita bahasa jawanya itu kan ada yang general ada yang partikuler, sebetulnya ini partikuler sebetulnya, jadi mungkin ini menurut hemat kami Pasal 14 ini kita sepakati dulu kita bicarakan umum saja, nanti baru di 15 baru mengatakan untuk dapat mengikuti, ini mulai ada rekruirment tersendiri, sedangkan untuk pasal 14 nya ini belum ada apa-apa sebenamya, artinya bisa pemilu kalau dia partai politik, salah satu syaratnya adalah partai politik, cuma itu maksudnya belum sampai untuk pemilu sebetulnya.
Jadi menurut hemat kami sebetulnya walaupun substansinya memang tepat menurut saya tempatnya ini mungkin saya lebih setuju Pak Sayuti walaupun dia ngatuk-ngatuk itu nanti di Pasal 15 baru lebih cocok kita bahas.
Terima kasih Pimpinan.
ANGGOTA F.PG (IR. RULLY CHARIUL AZWAR):
Sebentar Pak.
KETUA RAPAT : Silakan.
ANGGOTA F.PG (IR. RULLY CHARIUL AZWAR):
f
Sama-sama klarifikasi, ini konstruksinya tidak begitu sebetulnya konstruksi Pasal 14 sama ·15,.Pasal 14 itu mengatur persyaratan partai politik peserta pemilu memang untuk Pemilu 2004, Pasal 15 untuk pemilu berikutnya, jadi sebetulnya kalau memang mau mengakomodir substansi yang diusulkan oleh F.PBB ya df Pasal 14 bukan di Pasal 15.
Persoalannya sekarang karena F. PBB tidak ada saya menganjurkan karena ini substansi masalahnya kita pending sajalah bahwa di bagian Pasal 14 ayat
1
memang kita setuju. Tetapi itu kita akan masukan sebagai ayat tambahan baru kalau memang itu disetujui substansinya, kita belum bahas substansi toh, kita baru bahas bahwa ini sekarang posisinya substansi ini perlu kita perbincangkan karena itu tidak bisa masuk di 15 dan ini dianggap sangat substansial mau peralihan tidak tepat tempatnya, dan mungkin sekedar background kalau kita sampai pada ayat itu membahasnya memang ada maksudnya mungkin, kalau kita mau dalami bahwa tres hold yang berlaku pengaturannya misalnya UU sekarang ini itu pasti akan berlaku nanti setelah pemilu. Jadi disini sama halnya dengan treshold yang lalu berlakunya sekarang, jadi ini mungkin sebagai filosofinya, jadi ini biarkanlah kita pending dulu '·karena tidak ada F.PBB nya.
" IS
I II
I
I.
II
I-
I II
I 'I ,1
I·
1- 1 II
I
I
1.
1-
1 I I I I I I
I .
ANGGOTA F .PDIP (RUSMAN LUMBANTORUAN) : Sedikit Pak Ketua.
KETUA RAPAT : Silakan.
ANGGOTA F.PDIP (RUSMAN LUMBANTORUAN):
Jadi saya kira memang Pasal 14 ini menyangkut tentang syarat-syarat peserta pemilu. Yang kalau dalam bahasa DIM nya pihak pemerintah terdiri dati 4 ayat, Ayat 1 mengatakan seperti yang dikatakan pak siapa tadi a, b, c, d persyaratan- persyaratan umum, Ayat 2 itu DIM nomor 90, Ayata 3 yaitu DIM 92, Ayat 4 DIM 94, sebelum memasuki Pasal 15 DIM 95 kalau kita nanti sepakat untuk membahas ini bisa juga menjadi bagian yang dibahas di dalam penambahan 4 ayat dari pada Pasal 14 ini.
Nah apakah jadi ayat 2 apakah ayat 3 apakah ayat 5 saya kira kira-kira begitu · nanti konstruksinya, saya kira Pak Ketua kalau DIM 81 sampai pada umumnya sampai butir f itu DIM 87, barangkali nantinya kita bisa melihat ini sebagai satu rangkaian yang merupakan hal-hal yang bersifat umum tentang kepesertaan partai politik di pemilihan umum itu. Jadi kalau kita memasukan ayat baru apakah dia menjadi ayat 2 baru usul dari teman F .PBB itu jadi tidak langsung mengatur partai politik yang telah terdaftar atau Ayat 3 KPU mengatur dan seterusnya itu, saya kira konstruksinya begitu.
Terima kasih.
ff
KETUA RAPAT:Silakan Pak Soffan.
ANGGOTA F.PKB (SOFFAN CHODORI) :·
Terima kasih.
Di dalam reasenilJ hari ini nanti itu penyelesaiannya seperti apa namun prosesi reasening seperti itu memerlukan interaksi, yang interaksi itu harus ada yang punya barang ini, jadi dengan demikian saya kira ketiadaan teman-teman dari F.PBB itu akan memubasirkan k4ta untuk membicarakan ini lebih dalam lagi tentu disana akan l~bih len~kap s~tlJ'Wga usul ini tercantum disini. Oleh karenc\nya saya sebaga1mana d1sampa1kan · Pak Rulfy tadi substansinya tetap kita catat sebagai substansi yang perlu dibahas.
KETUA RAPAT : Silakan Pak.
ANGGOTA F .PG (ANDI MAT ALA TTA, SH, MHUM) :
Mungkin begini pemerintah bisa kasih penjelasan nanti, butir ini ditempatkan di aturan peralihan sebanmya untuk memberikan kemudahan terhadap peserta pemilu 1999, karena dalam UU yang lama partai peserta pemilu 1999 hanya bisa menjadi peserta pemilu yang memepoleh 2% kan, lalu khusus untuk pemilu 2004 terhadap mereka diberi kemudahan kalau tidak mencapai 2% di DPR boleh memakai alternatif lain mencapai sekian persen di DPRD I atau DPRD II.
16
·'].
.
.
I I
I.
I-
I I
'I
I
,. I
1-
I
I
1.
1-
I I I I I I I
f
ltulah sebabnya sehingga pernerintah menempatkannya di aturan peralihan, karena hanya bersifat satu kali dan untuk mereka yang ikut pemilu 1999, kalau itu ditempatkan di pasal maka dia menjadi permanen berlaku buat seluruhnya padahal ini hanya diperuntukan buat peserta pemilu 1999. Jadi memerlukan _pemikiran- pemikiran yang mendasar apakah kita mau terima di pasal atau hanya d1tempatkan di aturan peralihan, masalahnya F.PBB ini tidak ada.
KETUA RAPAT:
Silakan Pak Tammim.
ANGGOTA F.REFORMASI (H. MUTAMMIMUL ULA, SH)
Jadi saya kira ini Draft Undang-undang ini membuka dua pintu untuk peserta pemilu yang saya sebut PPP yang substansinya bisa berbeda. Jadi kriteria pasal peralihan dengan kriteria Pasal 14 untuk partai baru dimaksudkan pemerintah, maksudnya begitu tapi bisa jadi bertentangan substansinya, jadi semangat dari teman-teman F.PBB saya menduga untuk dijadikan satu, satu pintu saja, jadi peserta pemilu itu di Pasal 14 itu semuanya masuk disitu.
Nah apakah nanti pasal peralihan itu substansinya membahas itu dan peralihannya hilang, substansinya dulu soal tekhinis yuridisnya itu didiskusikan, tapi yang saya tangkap begitu, jadi maksudnya itu satu persyaratan umum itu apakah partai lama apakah partai baru itu lebih adil. Oleh karena pemilik barangnya tidak ada saya kira bisa ditunda.
T erima kasih.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Kami persilakan kepada pemerintah.
PEMERINTAH :
T erima kasih Pimpinan Pansus. t
Jadi sebenarnya apa yang telah dijelaskan oleh Pak Andi Matalata tadi sudah seperti mewakili pemerintah. Jadi substansi itu hanya dipakai satu kali sebagai pelaksanaan Pasal 39 Ayat 3 UU Nomor 3 Tahun 1999 yang lalu. Tentu lebih tepatnya masuk di peralihan, karena itu sebenarnya untuk menarik siapa sih yang dari 1999 itu yang akan bisa lanjut ikut di 2004 disitu, karena nanti substansi untuk 2004 ini sebenarnya akan dimasukkan di pasal berikutnya, karena syarj)t peserta pemilu setelah pemilu 1999 ini telah dimuat dalam pasal 146.
Jadi sebenarnya ini mengakomodasikan untuk partai-partai yang lama yang sudah terdaftar yang lalu ikut pemilu 1999 itu siapa-siapa yang akan berhak, sehingga oleh pemerintah ditempatkan pada ketentuan peralihan. Jadi kalau masuk disini memang ini betul-betul menjadi syarat yang sangat ketat dan ini berlaku untuk partai baru, padahal partai baru belum pernah ikut pemilu.
Demikian Pimpinan, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik, kalau begitu karena ini melihat ini kan kutipan 145, sementara ini kita kembalikan dulu ke rumahnya, kalau istilahnya Pak Morin ditempatnya yang layak, kita kembalikan dulu ke tempatnya tapi dengan satu catatan bahwa ini kita pending substansinya mendengar nanti kehadiran dari F.PBB.
Bisa disetujui ? ~
17
,,._, .. !, ·''.
..
I I
I.
I-
I I I I I
I·
1·
II II
1.
1-
1 I I I I I I
(RAPAT SETUJU) Baik, terima kasih.
Berikutnya kita masuk, silakan.
PEMERINTAH : Sebentar Pimpinan.
Jadi mengenai usulan F.PBB ini memang pada dasarnya pemerintah suda~
menampung di ketentuan peralihan, jadi kalau nanti kalau ada putaran kemb~lt hanya untuk menunggu F.PBB bagaiman kalau itu dibahas saja langsung di Pan1a, sehingga kita tidak mengulangi yang sekarang ini kita berdiskusi berde.bat y~n~
pengusulnya sendiri tidak ada dan sudah cukup makan waktu yang pan1ang, Jad1 bagaimana kalau itu langsung ke papjakan saja.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Silakan.
ANGGOTA F.PDIP (PATANIARI SIAHAAN):
Kami bertanya, pimpinan tadi rnengetok berdasarkan pendapat teman-teman belum ke substansi, yang kami ingin tanyakan berarti Ayat 1 belum disetujui, kan ada catatan masih bisa masuk lagi ke dalam kan persoalannya Pak, ini kan pada Pasal 14 Ayat 1 ada usulan F.PBB, sementara usulan F.PBB dipending berarti belum tuntas Pasal 14 Ayat 1.
Maka itu kita sepakati dulu ini umum selesai tuntas disyahkan tinggal ini akan diakomodir di tempatnya, sebab kalau tidak berarti tidak bisa disyahkan, atau menyangkut usul dari menteri berarti ini baru akan dibawa ke Panja berarti belum tuntas, sedangkan ini merupakan induk dari pada a, b, c, d dan sebagainya.
ANGGOTA F.PG (ANDI MATALATTA, SH; MHUM):
Usulnya F.PBB ini kalaupun kalau masuk di pasal ini itu tidak pakai angka 1 seharusnya a atau b atau c.
ANGGOTA F.PPP (DRS. H. AKHMAD MUQOWAN):
Pak Ketua.
KETUA RAPAT : Silakan.
ANGGOTA F.PPP (DRS. H. AKHMAD MUQOWAN):
Bapak Menteri dan Bapak ibu sekalian.
Kalau kita lihat Pasal 14 Pasal 15 Ayat 1 dan Ayat 2 paling tidak disitu ada 3 gradasi. Pertama adalah Pasal 14 lebih merupakan satu persyaratan umurn apakah dia parpol lama ataupun baru, lalu yang kedua di dalam Pasal 15 mernang terhadap partai politik yang pernah ikut pemilu di dalam pemilu sebelumnya, logikanya adalah usulan dari F.PBB itu adalah masuk ke dalam Pasal 15, untuk dapat mengikuti pemilu berikutnya.
18
.
.
I I
1- I-
I I I I
~1
I·
1-
,, I
I,
1-
I II
I I 1·
I I
t
! 1 ' l '· '··i ,
l
Jadi karena itu saya justru bertanya kepada pemerintah pertama adalah kalau kita mencermati pikiran yang berkembang di masyarakat soal electoral threshold, kita ini kan dibilang plin plan, maunya 3% ada mau 2% dan sebagainya. Jadi karena itu apakah sebuah UU itu dibuat untuk sebuah pemilu saj~ Pak Menteri. Kalau itu ya mari, karena memang disini adalah yang berbicara adarah partai-partai politik tanpa melibatkan pikiran-pikiran yang berkembang di luar.
Kalau bagi saya adalah electoral treshold adalah dia berlaku setiap apapun kapanpun pemilu, oleh karena itu pemikiran saya adalah pertama berlaku lebih pada merupakan organisasi agar di awal itu, lalu yang kedua adalah Pasal 15 itu lebih pada yang sudah pernah ikut, lalu yang ketiga ada eksesm disitu ada perkecualian.
Jadi Pak Ketua
Kalau melihat Pasal 14 dan 15 itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah. Jadi karenanya memang lbisa di dalam rangka perumpunan itu harus ada satu terobosan lagi bagaimana agar secara substansi kita juga bisa mengalir Pak, sebab kalau pikiran kita hanya per DIM itu tidak bisa kita selesai. Jadi karenanya saya setuju kalau misalnya Pasal 14, 15 itu juga sekaligus kita bahas sehingga disitu tampak persoalan yang dimunculkan oleh masing-masiang fraksi itu apa.
T erima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik, tadi kemabli kita sampaikan bahwa yang terkait dengan usulan dari F.PBB ini mengambil alih mengutip Pasal 145, tadi disampaikan oleh pemerintah bahwa memang kelazimannya kalau mengangkat sesuatu peraturan yang ada di UU yang lalu kemudian akan menjadi acuan kemudian itu dimasukkan di dalam ketentuan peralihan.
Nah kita belum tahu secara persis argumentasi kenapa diusulkan oleh F.PBB diletakkan disini, tadi mengutip yang apa disampaikan oleh Pak Pataniari kalau kita melihat usulan dari F.PBB ini berarti bertentangan dengan Pasal 14 Ayat 1 yang menjadi usulan dari Pemerintah, karena yang kita sepakati tadi Pasal 14 Ayat 1 itu adalah "Partai politik dapat menjadi peserta pemilu apabila memenuhi syarat-syarat :" Jadi belum masuk kepada masalah isiny, ya memang tidak klop ini, itu satu kondisi yang sangata sulit bagi kita untuk kita berdebat karena yang punya usulan ini tidak ada disini.
ANGGOT A F .REFORMASI (FARHAN) :
Pimpinan, ini saya membantu saja, ini di DIM 90 ia sudah m~njelaskan
maksudnya sebenarnya, ini yang di tembaran yang baru dibagikan Peserta pemilihan umum DIM 90 itu dia menyebutkan disini partai politik yang telah terdaftar tapi tidak memenuhi persyaratan sebagaimana yang dimaksud pada Ayat 1 tidak dapat menjadi peserta pemilu.
Artinya dia memasukan yang diperalihan itu kesana itu dia membuat pintu masuk satu saja, memang dia tutup semuanya. Pada dasarnya dia kembali kepada prinsip threshold itu diberlakukan, itu saja. Jadi kalau ini dimasukkan kesana sebenarnya partai pemilu yang baru tidak bisa ikut ini bahaya menurut saya, karena kita juga tidak memberi syarat kepada publik, kita tidak mengatur apakah partai baru dilarang atau tidak.
Makanya menurut saya ada baik kembali pada posisi semula kalau kita mau bersikap, tapi kan yang pengusul tidak ada, kalau kita mau bersikap kita tetap menyatakan bahwa pasal ini tetap kembalil pasal yang diusulkan tetap kembali kepada posisi semula dan ini bisa kita putuskan kalau kita bersepakat itu, F.PBB
19
I I
I.
I-
I I
I
I I
I·
1-
1 I
I.
I~
I I I I I I I
memang tidak hadir, tapi kita berkehendak saya kira kalau itu kita putuskan saya kira itu bark bisa kita ambil posisinya saja, substansinya nanti soal lain.
Saya kira begitu, terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, saya rasa ini sud ah bisa kita sepakati, jadi ini kita kembalikan dulu . ke Pasal 145 kemudian yang kita pending
il¥
adalah substansinya penempatannya, b1sa disetuju ya ?(RAPAT SETUJU) Baik, terima kasih.
Berikutnya kita masuk ke DIM Nomor 82, saya bacakan.
a. diakui keberadaannya sesuai dengan Undang-undang tentang Partai Politik.
Dari F.PPP mohon penjelasan, silakan.
ANGGOTA F.PPP (DRS. H. AKHMAD MUQOWAN):
T erima kasih.
Bapak Menteri, Bapak Ketua dan Bapak-bapak sekalian.
Memang sungguhpun kita sudah memahami secara umum mengenai partai politik kami meminta kepada pemerintah nanti agar di dalam penjelasan itu ada .:Sinkraonisasi terhadap Undang-undang Partai Politik yang ada, karena memang di dalam ini belum ada satu sungguhpun itu diakui keberadaannya sesuai dengan Undang-undang Tentang Partai Politik, saya pikir pemerintah dan kita pun juga agak kesulitan ketika kita menerapkan Undang-undang Parpol itu terhadap sekian banyak partai politik yang tumbuh seperti sekarang ini. ·
Jadi karenanya lebih pada warning dari F.PPP agar di dalam implementasi Undang-undang Pemilu itu juga bisa mengakomodir sekian banyak ketentuan- ketentuan yang ada di Undang-undang Pemilu, sehingga kita semua akan mendapatkan satu kepastian hukum dari peserta pemilu itu sendiri.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik, penyelarasan penyerasian, ini bisa kita setujui.
(RAPAT SETUJU) T erima kasih.
Berikutnya DIM Nomor 83, saya bacakan.
b. memiliki pengurus lengkap sekurang-kurangnya di 2/3 (dua pertiga) dari jumlah provinsi.
Disini ada usul perubahan dari F.PDIP, kemudian dari F.TNl/Polri dan kemudian F. KKI. Pertama saya persilakan dari F.PDIP.
ANGGOTA F .PDIP (FIRMAN JAVA DAELI) :
'.t
Pimpinan dan forum Pansus yang saya hormati.
F.PDIP mengajukan usul perubahan disini sebagai penambahan yaitu butir b.
kami bacakan saja setelah perubahan "memiliki pengurus lengkap sekurang- kurangnya di 2/3 (dua pertiga) dari jumfah provinsi yang tersebar di tiga wilayah waktufdonesia. Kemudian keterangan penambahan pada bagian Penjelasan Pasal 13 A'lff:f 1 huruf b tentang tiga wilayah waktu Indonesia, jadi WIB, Waktu Indonesia Teng~ dan Waktu Indonesia Timur.
20
I
I.
I~
I·
I I Ii I I
I·
1-
,, 1
1.
1.
1~
,~
I I I
I~
I
Yang menjadi argumen F.PDIP yang penting adalah yang jelas ini bukan wilayah politik tapi hanya semata-mata tekhnis. Kemudian yang kedua adalah dalam rangka bahwa pemilu ini juga paling tidak dengan partai adalah untuk memperkuat dedikasi nasional.
Demikian Pak Ketua, terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih dari F.PDIP.
Dari F.PPP keterangan mohon penjelasan, kami persilakan.
ANGGOTA F.PPP {DRS. H. ANWAR MALIK):
Baiklah Pak Menteri Pimpinan Pansus dan Anggota Pansus.
Kami ingin penjelasan mengenai dasar perhitungan 2/3 dari jumlah provinsi itu, apakah ini sudah dianggap mewakili secara nasional, ini kami ingin penjelasan.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik, berikutnya F.TNl/Polri.
ANGGOTA F.TNl/POLRI (SYAMSUL MA'ARIF, M.Si):
Pak Ketua dan Bapak Mendagri.
Untuk usu I F. TNl/Polri kami cabut dengan alasan hahwa sebetulnya kami ada ralat ini masalah teknis, yang juga termasuk nanti pada DIM Nomor 84, ada beberapa sebenarnya waktu itu tapi karena ini sudah dicetak nanti akan kami sampaikan lagi.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik terima kasih dari F.TNl/Polri. F.KKI ijin, sehingga mohon persetujuannya untuk kita bisa melewati ini atau perlu dilakukan pembahasan. Kami persilakan dari pemerintah.
PEMERfNTAH {HARi SABARNO) :
Terima kasih Pimpinan Pansus. •
Kami memberikan penjelasan bawah dengan lingkup 2/3 dari jumlah propinsi itu sudah bisa di persepsikan bisa mewakili secara nasional dan dia bisa menyebar ke 3 wilayah, sebab kalau kita bicara wilayah ini kan zona waktu bukan zona politik pak, sebab kalau itu betul-betul di bagi 3 kabupaten kota provinsi yang ada di wilayah barat wilayah Indonesia Tengah dan Timur itu sebenarnya tidak seimbang, sehingga dengan kita akumulasikan ~3 dari jumlah provinsi yang ada itu sudah bisa memberikan representasi bahwa se'cara nasional berarti sudah terbentuk secara nasional. Jadi itu pemikiran dari Pemerintah sehingga kalau kami kaitkan dengan usulan dari F.PDIP.
KETUA RAPAT :
Maaf sebentar Pak Menteri.
' Jadi hanya memberikan penjelasan terhadap tadi dari F.PPP. Berkenaan dengan masalah 2/3. Jadi belum menanggapi usulan dari fraksi.
21
..
I
i
I.
1.
I·
I I •
, I.
I I
1~
1-
1
'I
1.
1.
'1
1 ·
1·
I I I I.
I·
PEMERINTAH (HARi SABARNO) :
Baik, jadi karena ini juga yang minta dijelaskan yang mana kan apa 2/3 nya apa yang lain, jadi karena ini penjelasan maka akhirnya kami melebar, jadi mestinya kalau minta penjelasan dalam hal apa kan begitu, penjelasan kan akhirnya luas.
Jadi dengan 213 itu lah kita mengharapkan itu sudah merupakan representasi dari wilayah secara nasional.
Terima kasih Pimpinan.
KETUA RAPAT:
Baik terima kasih Pak Menteri.
Berikutnya kami berikan kesempatan untuk fraksi-fraksi menanggapi usulan yanag disampaikan oleh F.PDIP dan F.KKI. Baik kami persilakan kepada F.PG .
ANGGOTA F.PG {IR. RULL Y CHAIRUL AZWAR):
Kami beranggapan dengan 2/3 dicantumkan sudah bisamewakili penyebaran, karena kalau kita menambahkan tiga unsur waktu rnemang ada komplikasi tekhnis lagi nanti 2/3 di barat itu yang mana yang timur maria jadi mesti ada penjelasan lagi.
Saya pikir 213 sudah cukup representatif untuk menunjukkan bahwa mayoritas penyebarannya sudah diakui.
T erima kasih.
KETUA RAPAT : Terifna kasih dari F.PG.
Berikutnya F.PPP.
ANGGOTA F.PPP (DRS. H. AKHMAD MUQOWAN):
•
Baiklah dengan penjelasan Bapak Menteri tadi kami sepakat dengan rumusan pada huruf b, jadi tetap.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Baik, terima kasih.
F.PKB.
ANGGOTA F.PKB (DRS. SUSONO YUSUF):
Saya kira sudah cukup jefas 2/3 itu berbasis kepada komitmen dari presentasi nasional, sedangkan penambahan kalau boleh saya merespon kawan dari F.PDIP sebenarnya dengan menyebut jumlah provinsi itu sudah wilayah yang secara intern tercakup di dalam provinsi itu. Kita setuju tetap.
Terima kasih.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Berikut dari F.REFORMASI.
22
••' 'f