• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Di dalam suatu negara yang mengalami perkembangan terdapat siklus dimana suatu keadaan yang tak berujung seperti lingkaran yaitu mengalami penghambatan pada perkembangan masyarakat secara keseluruhan.

Berbagai masalah pada masyarakat di indonesia mulai bermunculan disebabkan adanya tingkat sosial ekonomi masyarakat sangat rendah sehingga mengakibatkan ketidakamampuan dan ketidaktahuan dalam berbagai hal khususnya dalam bidang kesehatan. Bila keadaan ini dibiarkan menyebabkan masalah kesehatan terhadap individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dan berdampak pada penurunan status kesehatan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Keadaan ini akan berpengaruh terhadap produktivitas keluarga dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Untuk itu, seorang perawat yang akan terjun di komunitas perlu melakukan adanya tindakan agar dapat meningkatkan keadaaan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam masyarakat itu sendiri sebenarnya terdapat suatu dinamika yang membuat mereka mampu bertahan dalam keadaan yang sulit dan hal itu sebenarnya merupakan potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Sampai seberapa jauh potensi itu telah dikembangkan, dapat dilihat dari keadaan perkembangan masyarakat itu sendiri. Pada masyarakat yang sudah berkembang, maka hal ini menunjukkan bahwa meraka telah dapat memanfaatkan potensi yang mereka miliki sedangkan pada masyarakat yang belum berkembang mereka belum banyak memanfaatkan potensi yang mereka miliki.

Dari beberapa kasus yang dialami masyarakat maka perlu pengorganisasian dan pengembangan masyarakat sangat berguna untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat khususnya meningkatkan status kesehatan. Agar masyarakat lebih memahami maka peran perawat komuntas sangat diperlukan dalam kegiatan tersebut.

(2)

2 1.2. Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum

Untuk memahami secara dalam mengenai pengorganisasian dan pengembangan masyarakat serta menerapkan pada aplikasi ketika akan terjun di masyarakat

1.2.2. Tujuan Khusus

Secara khususnya, tujuan dalam pembuatan makalah ini yaitu : 1. Pengertian dan Pengembangan Masyarakat

2. Tujuan Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat 3. Fungsi Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

4. Prinsip dalam Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat 5. Perspektif Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat 6. Model Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat 7. Bias Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

8. Aspek dalam Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat 9. Pendekatan dalam Pengorganisasian Masyarakat

10. Unsur-unsur Dalam Pengembangan Masyarakat 11. Bentuk Program dalam Pengembangan Masyarakat

12. Langkah dalam Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

(3)

3 BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian dan Pengembangan Masayarakat

Pengorganisasian menurut Sasongko (1996) dapat diartikan sebagai proses ketika suatu komunitas tertentu mengidentifikasi kebutuhan- kebutuhannya serta mengembangkan keyakinannya untuk berusaha memenuhi kebutuhan itu termasuk menentukan prioritas dari kebutuhan yang disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia dan dengan usaha gotong royong.

Sedangkan pengembangan masyarakat menurut Bhattacarya adalah Pengembangan manusia yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan manusia untuk mengontrol lingkungannya. Pengembangan masyarakat merupakan usaha membantu manusia mengubah sikapnya terhadap masyarakat, membantu menumbuhkan kemampuan untuk berorganisasi, berkomunikasi dan menguasai lingkungan fisiknya.

Menurut Murray G. Ross, PPM adalah suatu proses ketika suatu masayarakat berusaha menentukan kebutuhan-kebutuhan atau tujuan- tujuannya, mengatur atau menyusun, mengembangkan kepercayaan dan hasrat untuk memenuhinya, menentukan sumber-sumber (dari dalam ataupun dari luar masyarakat), mengambil tindakan yang diperlukan sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan, dan dalam pelaksanaan keseluruhannya, memperluas dan mengembangkan sikap-sikap dan praktik-praktik kooperatif dan kolaboratif di dalam masyarakat.

2.2 Tujuan Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

Tujuan utama metode COCD (Community Organization Community Development) adalah untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pendayagunaan sumber-sumber yang ada pada mereka serta menekankan pada prinsip partisipasi social.

2.3 Fungsi Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

a. Untuk memperoleh data dan fakta sebagai dasar untuk menyusun perencanaan dan melakukan tindakan yang sehat

(4)

4 b. Memulai mengembangkan dan merubah program dan usaha-usaha kesejahteraan untuk memperoleh penyesuaian yang lebih baik antara sumber-sumber dan kebutuhan

c. Meningkatkan standar pekerjaan sosial untuk meningkatkan efektifitas kerja dari lembaga-lembaga

d. Meningkatkan dan memberikan fasilitas interelasi dan meningkatkan koordinasi antara organisasi, kelompok dan individu-individu yang terlibat dalam program dan usaha kesejahteraan sosial

e. Mengembangkan pengertian umum dari masalah, kebutuhan dan metode pekerjaan sosial

f. Mengembangkan dukungan dan partisipasi masyarakat dalam aktivitas kesejahteraan social

2.4 Prinsip dalam Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

a. Keseimbangan : Mencari keseimbangan antara kebutuhan dengan sumber yang ada di masyarakat

b. Individualisasi : Masyarakat yg satu berbeda dengan masyarakat yg lainnya

c. Penerimaan : Masyarakat harus dipandang dan diterima sebagai mana adanya, yang selanjutnya dapat digunakan sebagai langkah awal untuk mulai kegiatan/program

d. Partisipasi : Semua unsur masyarakat harus dilibatkan sehingga berperan aktif di dalam kegiatan

2.5 Perspektif Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat(PPM)

Secara teoritis, PPM bisa dikatakan sebagai sebuah pendekatan pekerjaan sosial yang dikembangkan dari dua perspektif yang berlawanan, yakni aliran kiri (sosialis-Marxis) dan kanan (kapitalis-demokratis) dalam spektrum politik.

Twelvetress membagi perspektif teoritis PPM kedalam dua bingkai, yakni pendekatan profesional dan pendekatan radikal. Pendekatan profesional menunjuk upaya untuk meningkatkan kemandirian dan memperbaiki sistem pemberian pelayanan dalam kerangka relasi sosial. Sementara pendekatan radikal lebih terfokus pada upaya pemberdayaan kelompok lemah, mencari sebab-sebab kelemahan mereka, serta menganalisis sumber-sumber ketertindasannya.

(5)

5 Dua perspektif Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

Pendekatan Perspektif Tujuan/asumsi Profesional

(tradisional, netral, teknikal)

 Perawatan masyarakat

 Pengorganisasian masyarakat

 Pembangunan masyarakat

 Meningkatkan inisiatif dan kemandirian masyarakat

 Memperbaiki pemberian

pelayanan sosial dalam kerangka relasi sosial yang ada

Radikal

(transformasional)

 Aksi masyarakat berdasarkan kelas

 Aksi masyarakat berdasarkan gender

 Aksi masyarakat berdasarkan ras

 Meningkatkan kesadaran dan inisiatif masyarakat

 Memberdayakan masyarakat guna mencari akar penyebab ketertindasan dan diskriminasi

 Mengembangkan strategi dan membangun kerjasama dalam melakukan perubahan sosial sebagai bagian dari upaya mengubah relasi sosial yang menindas, deskriminatif, dan eksporatif.

2.6. Model Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

Jack Rothman (1995: 27-34), dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Approaches to community intervention”, mengembangkan tiga model yang berguna dalam memahami konsep tentang PPM yaitu :

a. Model Pengembangan Masyarakat Lokal (PML)

Model PML memberikan perubahan dalam masyarakat dapat dilakukan secara optimal apabila melibatkan partisipasi aktif yang luas di semua spektrum masyarakat tingkat lokal, baik dalam tahap penentuan perubahan. Strategi dasar yang digunakan untuk memecahkan permasalahan ini adalah usaha penciptaan dan pengembangan partisipasi yang lebih luas dari seluruh warga masyarakat. Tema-tema pokok dalam model PML mencakup penggunaan prosedur demokrasi dan kerjasama atas dasar kesukarelaan, keswadayaan, pengembangan, kepemimpinan

(6)

6 setempat, dan tujuan yang bersifat pendidikan. PML pada dasarnya merupakan proses interaksi antara anggota masyarakat setempat yang difasilitasi oleh pekerja sosial

b. Model Perencanaan Sosial (PS)

Model ini menekan ke proses pemecahan masalah secara teknis terhadap masalah sosial substantif, seperti: kemiskinan, pengangguran, kenakalan remaja, kebodohan dll. Selain itu, model PS ini mengungkap pentingnya menggunakan cara perencanaan yang matang dan perubahan yang terkendali yakni untuk mencapai tujuan akhir secara sadar dan rasional dan dalam pelaksanaannya dilakukan pengawasan yang ketat untuk melihat perubahan yang terjadi. Strategi dasar yang digunakan untuk memecahkan permasalahan adalah dengan mengumpulkan atau mengungkapkan fakta dan data mengenai suatu permasalahan. Kemudian, mengambil tindakan yang rasional dan mempunyai kemungkinan yang dapat dilaksanakan. Berbeda dengan PML, PS lebih berorientasi pada

“tujuan tugas”. Sistem klien PML umumnya kelompok-kelompok yang kurang beruntung

c. Model Aksi Sosial (AS)

Model AS ini menekankan betapa gentingnya penanganan secara terorganisasi, terarah, dan sistematis terhadap kelompok yang tidak beruntung. Juga meningkatkan kebutuhan yang memadai bagi masyarakat yang lebih luas dalam rangka meningkatkan sumber atau perlakuan yang lebih sesuai dengan keadilan sosial dan nilai-nilai demokratisasi. Tujuan yang ingin dicapai adalah mengubah sistem atau kebijakan pemerintah secara langsung dalam rangaka menanggulangi masalah yang mereka hadapi sendiri

2.7. Bias Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

Pelaksanaan PPM sebaiknya didasari oleh masalah dan kebutuhan sesuai dengan karakteristik geografis, idiografi, potensi, teknologi, dan sumberdaya lokal serta pelibatan aktif masyarakat secara integral. Robert Chambers sebagaimana dikutip oleh Suharto (1996 :4) mengemukakan lima bias yang sering terjadi dalam pelaksanaan PPM, terutama dipedesaan yaitu :

(7)

7 a) Spatial Bias : PPM seringkali hanya dilaksanakan di lokasi-lokasi yang mudah dijangkau sarana transportasi seperti di daerah pinggiran kota, pinggir jalan raya, atau lokasi yang dekat dengan kantor pemerintahan.

b) Project Bias : Kebanyakan PPM dilakukan pada masyarakat yang telah menerima proyek sebelumnya, karena dipandang telah mampu dan berhasil menjalankan proyek.

c) Person Bias : Kelompok elite dalam masyarakat, tokoh masyarakat, kaum lelaki, para penerima, dan pengguna inovasi serta orang-orang yang aktif dalam kegiatan pembangunan adalah mereka yang kerap menerima program dan berkah pembangunan. Sementara kelompok masyarakat kelas bawah yang kurang memiliki akses terhadap jaringan sumber yang ada.

d) Dry Sesion Bias : Kesulitan dan masalah yang dihadapi masyarakat umumnya mencapai puncaknya pada musim hujan. Kegagalan panen, banjir, kelaparan, masalah kesehatan diri dan terjadi pada musim sulit

e) Profesional Bias : timbul terutama oleh konsepsi yang memandang bahwa kelompok masyarakat kurang beruntung sebagai kelompok lemah, memiliki pengetahuan rendah, pasif, malas, fatalis, serta ciri-ciri lain budaya kemiskinan (culture of proverty). Sementara itu para ahli, penguasa, dan pengusaha adalah raja yang memegang hegemoni dan kendali pembangunan.

f) Physical Bias : Umumnya masyarakat hanya mengenal dan mengakui program atau proyek yang bersifat fisik, seperti pembangunan, gedung, jembatan, dll.

g) Financial Bias : Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh suatu departemen kerapkali dipandang sebagai bukti keberhasilan suatu progam. Financial Bias disebabkan oleh kesalahan pemikiran yang membaurkan prinsip efisiensi prinsip efektivitas sebagai tolak ukur keberhasilan proyek.

h) Indicator Bias : Terutama berkaitan dengan aspek uncountability pada program yang berorientasi sosial. Dampak keberhasilan program sulit diukur secara langsung dan kuantitatif, serta banyaknya eksternal variabel yang terkontaminasi kedalam mainstream proyek.

(8)

8 2.8. Aspek Dalam Pengorganisasian Masyarakat

Beberapa aspek yang penting dalam pengorganisasian yaitu:

1. PROSES

a) Merupakan proses yang terjadi secara sadar, tetapi mungkin juga tidak disadari,

b) Jika proses disadari, berarti masyarakat menyadari akan adanya kebutuhan,

c) Dalam prosesnya ditemukan unsur kesukarelaan. Kesukarelaan timbul karena adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan sehingga mengambil inisiatif atau prakarsa untuk mengatasinya, d) Kesukarelaan juga terjadi karena dorongan untuk memenuhi

kebutuhan kelompok atau masyarakat,

e) Kesadaran terhadap kebutuhan dan masalah yang dihadapi biasanya ditemukan pada segelintir orang saja yang kemudian melakukan upaya menyadarkan masyarakat untuk mengatasinya.

f) Selanjutnya mengintruksikan kepada masyarakat untuk bersama sama mengatasinya.

2. MASYARAKAT

Masyarakat biasanya diartikan sebagai :

a) Kelompok besar yang mempunyai Batas Geografis : Desa, Kecamatan, Kabupaten dsb.

b) Suatu kelompok dari mereka yang mempunyai kebutuhan bersama dari kelompok yang lebih besar,

c) Kelompok kecil yang menyadari suatu masalah harus dapat menyadarkan kelompok yang lebih besar,

d) Kelompok yang secara bersama-sama mencoba mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhannya.

3. BERFUNGSINYA MASYARAKAT

Untuk dapat memfungsikan masyarakat, maka harus dilakukan langkah– langkah sebagai berikut :

a) Menarik orang-orang yang mempunyai inisiatif dan dapat bekerja, untuk membentuk kepanitiaan yang akan menangani masalah- masalah yang berhubungan dengan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat

(9)

9 b) Membuat rencana kerja yang dapat diterima dan dilaksanakan oleh

keseluruhan masyarakat

c) Melakukan upaya penyebaran rencana (kampanye) untuk mensukseskan rencana tersebut.

2.9. Pendekatan dalam Pengorganisasian Masyarakat

Untuk itu menurut “Ross Murray” dalam Pengorganisasian Masyarakat, terdapat 3 Pendekatan yang digunakan, yaitu :

1. Spesific Content Objective Approach : Pendekatan baik perseorangan, Lembaga swadaya atau Badan tertentu yang merasakan adanya masalah kesehatan dan kebutuhan dari masyarakat akan pelayanan kesehatan, mengajukan suatu proposal / program kepada instansi yang berwenang untuk mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut.

Contoh : Program penanggulangan sampah.

2. General Content Objective Approach : Pendekatan yang mengkoordinasikan berbagai upaya dalam bidang kesehatan dalam suatu wadah tertentu. Misalnya : Program Posyandu, yang melaksanakan 5 – 7 upaya kesehatan yang dijalankan sekaligus.

3. Process Objective Approach : Pendekatan yang lebih menekankan kepada proses yang dilaksanakan oleh masyarakat sebagai pengambil prakarsa, mulai dari mengidentifikasi masalah, analisa, menyusun perencanaan penaggulangan masalah, pelaksanaan kegiatan, sampai dengan penilaian dan pengembangan kegiatan, dimana masyarakat sendiri yang mengembangkan kemampuannya sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki.

2.10. Unsur Dalam Pengembangan Masyarakat

Pengembangan Masyarakat terkandung unsur penting yaitu :

1. Program terencana dan terfokus pada kebutuhan menyeluruh dari masyarakat yang bersangkutan,

2. Mendorong Swadaya Masyarakat

3. Adanya bantuan teknis dari pemerintah maupun badan swasta atau organisasi sukarela, yang meliputi tenaga atau personil, peralatan, bahan dan dana bersifat sementara dan tidak menimbulkan ketergantungan

(10)

10 4. Mempersatukan berbagai spesialisasi seperti kesehatan masyarakat, pertanian, peternakan, pendidikan, kesejahteraan keluarga, kewanitaan, kepemudaan dll untuk membantu masyarakat.

2.11. Bentuk Program dalam Pengembangan Masyarakat

Menurut Mezirow ( 1963 ), ada 3 macam Bentuk Program dalam Usaha Pengembangan Masyarakat, yaitu :

1. Program Integratif : melalui koordinasi dinas-dinas teknis terkait atau yang lebih dikenal dengan Kerjasama Lintas Sektoral

2. Program Adaptif : hanya ditugaskan kepada salah satu Instansi/

Departemen yang bersangkutan saja yang secara khusus melaksanakan kegiatan tersebut atau yang dikenal dengan Kerjasama Lintas Program.

3. Program Proyek : dalam bentuk usaha terbatas di wilayah tertentu dan program disesuaikan dg kebutuhan wilayah tsb.

2.12. Langkah dalam Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat

Menurut “Adi Sasongko ( 1978 )”, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam Pengorganisasian Masyarakat adalah :

1. PERSIAPAN SOSIAL

Tujuan persiapan sosial adalah mengajak partisipasi atau peran serta masyarakat sejak awal kegiatan, selanjutnya sampai dengan perencanaan program, pelaksanaan hingga pengembangan program kesehatan masyarakat. Kegiatan dalam persiapan sosial ini lebih ditekankan kepada persiapan yang harus dilakukan baik aspek teknis, administratif maupun program kesehatan yang akan dilakukan.

a). Tahap Pengenalan Masyarakat

Dalam tahap awal ini seorang perawat komunitas haruslah datang di tengah masyarakat dengan hati yang terbuka dan kemauan untuk mengenal masyarakat sebagaimana adanya, tanpa disertai prasangka sambil menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan. Tahap ini dapat dilakukan baik melalui Jalur Formal yaitu dengan melalui sistem pemerintahan setempat seperti Pamong Desa atau Camat, dan dapat juga dilakukan melalui Jalur Informal misalnya wawancara dengan Tokoh Masyarakat, seperti Guru, Pemuka Agama, tokoh Pemuda,dll.

Referensi

Dokumen terkait

Akhmad Ali,”Menguak Realitas Hukum Sampai Kolom dan Artikel Bidang Hukum”, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2008, hlm.. Bambang Waluyo ,”Pidana dan Pemidanaan”,

Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara asupan antioksidan dengan kadar glukosa darah pada pasien rawat jalan DM tipe 2 di RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta..

Pada hal, Pasal 4 ayat 2 secara tegas bahwa pelaku usaha patut atau dianggap secara bersama-sama melakukan penguasaan produksi dan pemasaran barang atau jasa jika dua

Belum dapat menyajikan laporan cara pemecahan masalah Keberagaman Umat Beragama di Mayarakat berdasarkan hasil pengamatan Menyajikan Informasi Menyajikan informasi dengan

untuk liabilitas keuangan non-derivatif dengan periode pembayaran yang disepakati Grup. Tabel telah dibuat berdasarkan arus kas yang didiskontokan dari liabilitas

Suku bunga efektif adalah suku bunga yang secara tepat mendiskontokan estimasi penerimaan atau pembayaran kas di masa datang (mencakup seluruh komisi dan bentuk

Tinea pedis adalah infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari kaki dan telapak kaki, dengan lesi terdiri dari beberapa tipe, bervariasi dari ringan, kronis

algoritma kompresi LZW akan membentuk dictionary selama proses kompresinya belangsung kemudian setelah selesai maka dictionary tersebut tidak ikut disimpan dalam file yang