• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI SULISTYO A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI SULISTYO A"

Copied!
129
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN KOPERASI PERIKANAN MINA USAHA

(Studi Kasus: Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap,

Propinsi Jawa Tengah)

SKRIPSI

SULISTYO A14104691

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

(2)

RINGKASAN

SULISTYO. Analisis Kinerja Keuangan dan Strategi Pengembangan Koperasi Perikanan Mina Usaha (Studi Kasus: Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, Propinsi Jawa Tengah).

Sekripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (di bawah bimbingan RAHMAT YANUAR).

Keberadaan koperasi mempunyai manfaat bagi anggota khususnya dan masyarakat luas umumnya. Koperasi dapat memberikan manfaat dalam peningkatan skala usaha dan efisiensi anggota, peningkatan nilai tawar (bargaining position), dan manfaat sosial. Koperasi merupakan bangunan perusahaan yang sesuai dengan perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama atas dasar kekeluargaan. Hal ini sesuai dengan prinsip koperasi menurut ICA (International Cooperation Alliance), dimana tujuan utama koperasi adalah anggota.

Perkembangan koperasi di Indonesia mengalami pasang surut mulai dari jaman penjajahan Jepang, era kemerdekaan, orde baru, sampai era pasar bebas sekarang ini. Pada saat terjadi krisis tahun 1997, hampir semua sektor terkena imbasnya bahkan sampai ada yang gulung tikar. Meskipun tidak terkena imbas krisis secara telak, koperasi mampu bertahan bahkan diantaranya, terutama yang bergerak dalam komoditas ekspor justru menuai keuntungan akibat depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis telah memiliki strategi dalam upaya pengembangan usaha, akan tetapi strategi yang diperkirakan tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga masalah belum bisa diatasi. Jumlah hasil pendapatan unit waserda, pendapatan hasil dari jasa unit TPI (Tempat Pelelangan IKan) dan SHU (Sisa Hasil Usaha) menurun. Jumlah anggota dan hasil tangkapan nelayan pada tahun terakhir menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi cuaca akhir-akhir ini yang kurang menentu mengakibatkan nelayan tidak leluasa dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan di laut.

Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis kinerja keuangan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, (2) mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor eksternal dan internal yang dapat mempengaruhi perkembangan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, dan (3) merumuskan alternatif-alternatif strategi yang dapat diterapkan oleh Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis.

Penelitian ini dilaksanakan di Koperasi Perinakan Mina Usaha Desa Jetis secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa lokasi penelitian merupakan daerah pesisir (pesisir Selatan Pulau Jawa) yang juga merupakan sentra produksi perikanan tangkap. Kegiatan usaha perikanan tangkap tersebut bisa dikembangkan melalui koperasi, yaitu salah satunya adalah Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis. Pembentukan koperasi ini benar-benar dilakukan atas inisiatif dari anggota yang sebagian besar adalah nelayan (bottom up). Aklamasi pembentukan koperasi tersebut juga merupakan modal sosial penting dalam pengembangan suatu usaha. Kelompok nelayan koperasi ini pernah memperoleh penghargaan juara II lomba INKAPI tingkat nasional. Pada saat ini Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis memiliki banyak kendala dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini

(3)

adalah: analisis kinerja keuangan yang terdiri dari analisis rasio (liquiditas, solvabilitas dan rentabilitas) dan analisis trend untuk mengetahui keadaan keuangan koperasi selama ini, analisis untuk merumuskan strategi digunakan analisis matriks SWOT (Strenght-Weakness-Opportunities-Threats) dengan terlebih dahulu dilakukan identifikasi faktor-faktor eksternal dan internal.

Hasil penelitian terhadap kinerja keuangan menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis rasio, untuk rasio likuiditas (rasio lancar) rata-rata adalah 3,2. Artinya setiap Rp 1,00 hutang lancar dijamin dengan Rp 3,2 aktiva lancar yang dimilikinya.

Sementara standardnya adalah 2 (200 persen). Dengan demikian, kemampuan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis dalam menjamin hutangnya dengan aktiva lancar yang kuat. Rata-rata rasio solvabilitas untuk total hutang dengan total harta adalah 0,66. Artinya Rp 0,66 seluruh kewajiban dapat dijamin dengan Rp 1,00 dari seluruh harta yang dimiliki. Artinya kemampuan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis dalam membiayai seluruh kewajibannya sudah cukup bagus (standar yaitu 0,5). Rasio solvabilitas total hutang dengan modal sendiri rata-rata adalah 3,41. Artinya setiap Rp 1,00 modal sendiri digunakan untuk menjamin Rp 3,41 total hutang koperasi. Standard maksimumnya adalah 1,00. Faktor-faktor yang menyebabkan adalah masih banyaknya jumlah piutang yang belum dibayar oleh peminjam. Nilai rasio rentabilitas untuk Return on Investmet (ROI) rata-rata sebesar 6,01 persen, dimana Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis akan memperoleh laba bersih setelah memperoleh SHU sebesar Rp 601 dari Rp. 10.000 total aktivanya. Rata-rata rentabilitas modal sendiri sebesar 16,04 persen menandakan koperasi mampu menghasilkan SHU sebesar Rp 16,04 dari modal sendiri sebesar Rp 100,00. Kondisi ini cukup, apabila standard yang dipakai >15 persen. Namun perkembangan nilai rentabilitas modal sendiri menunjukkan trend yang menurun. SHU yang menurun dikarenakan kurang produktifnya usaha dan manajemen koperasi dalam mengelola unit usaha. Sementara hasil analisis trend pada neraca menunjukkan hampir setiap pos mengalami kenaikan kecuali pada pos kekayaan bersih. Trend pada rugi laba beberapa pendapatan mengalami penurunan meskipun pendapatan secara keseluruhan mengalami kenaikan terutama dari pendapatan jasa simpan pinjam (simpi). Dimana dari pendapatan simpi ini juga memberikan konstribusi terhadap meningkatnya pos biaya yang naik setiap periode secara signifikan. Kondisi tersebut berakibat pada penurunan SHU yang diperoleh.

Hasil strategi melalui analisis SWOT dengan mempertimbangkan kondisi keuangan sebagai salah satu faktor internal koperasi beserta variabel internal dan eksternal lainnya, rumusan strategi alternatif yang diperoleh adalah 1) Meningkatkan integritas/loyalitas dan jumlah anggota; 2) Peningkatkan produktivitas pengurus dan karyawan; 3) Kerjasama dengan pemerintah dan pihak lain dalam pengembangan daerah wisata; 4) Peningkatan kemampuan anggota dalam kegiatan penangkapan ikan; 5) Memperkuat modal dan peran bakul lokal untuk meningkatkan daya beli di TPI; 6) Meningkatkan hubungan dan pelayanan yang baik dengan nelayan sebagai pemasok sekaligus anggota dan dengan bakul sebagai pelanggan; 7) Perbaikan program evaluasi; dan 8) Mengupayakan penerapan tekhnologi pasca panen.

(4)

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN KOPERASI PERIKANAN MINA USAHA

(Studi Kasus: Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap,

Propinsi Jawa Tengah)

SULISTYO A14104691

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada

Fakultas Pertanian

PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010

(5)

Judul Skripsi : Analisis Kinerja Keuangan dan Strategi Pengembangan Koperasi Perikanan Mina Usaha (Studi Kasus: Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, Propinsi Jawa Tengah)

Nama : Sulistyo

NRP : A14104691

Disetujui, Pembimbing

Rahmat Yanuar, SP., MSi NIP. 19760101 200604 010

Diketahui, Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP. 19571222 198203 1002

Tanggal Lulus:

(6)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Analisis Kinerja Keuangan dan Strategi Pengembangan Koperasi Perikanan Mina Usaha (Studi Kasus:

Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, Propinsi Jawa Tengah)” belum pernah diajukan sebagai karya tulis ilmiah pada suatu perguruan tinggi atau lembaga manapun untuk memperoleh gelar akademik tertentu. Saya juga menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri dan tidak mengandung bahan-bahan yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh pihak lain kecuali sebagai rujukan yang dinyatakan dalam naskah.

Bogor, Januari 2010

Sulistyo A 14104691

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Temanggung pada tanggal 23 Maret 1976 sebagai anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Mujiono dan Ibunda Marliyah.

Penulis menamatkan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri 1 Bulu tahun 1989 dan pendidikan menengah pertama tahun 1992 di SLTPN I Bulu, Temanggung.

Pendidikan lanjutan menengah atas di Sekolah Teknologi Menengah (STM) Pembangunan dengan program khusus selama empat tahun, mengambil jurusan Agronomi diselesaikan tahun 1995.

Pada tahun 1995 penulis diterima menjadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor pada Program Studi Diploma III Teknologi Usaha Ternak Daging (TUTD) Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor dan lulus tahun 1998. Selama mengikuti pendidikan penulis tercatat sebagai ketua dua panitia penerimaan mahasiswa baru Fakultas Peternakan tahun ajaran 1996/1997. Pada tahun 1997 penulis juga tercatat sebagai wakil ketua umum HIPROMATER (Himpunan Profesi Mahasiswa Pecinta Ilmu Peternakan) Fakultas Peternakan. Penulis pernah mengikuti pendidikan tingkat sarjana di Program Studi Bimbingan Konseling, Fakultas Ilmu Kependidikan, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Veteran Semarang selama hampir dua tahun (2000 – 2001), namun tidak selesai karena harus bekerja di Bogor. Pada tahun 2005, penulis kemudian melanjutkan studi ke Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Saat ini penulis bekerja di perusahaan konsultan yang bergerak dalam kajian lingkungan, yaitu PT EOS Consultants (INRR) di divisi sosial, ekonomi, dan budaya sejak akhir tahun 2001 sampai Sekarang.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanain pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Topik skripsi ini adalah “Analisis Kinerja Keuangan dan Strategi Pengembangan Koperasi Perikanan Mina Usaha (Studi Kasus: Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap, Propinsi Jawa Tengah). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja keuangan koperasi, identifikasi dan evaluasi faktor eksternal dan internal yang dapat memengaruhi perkembangan koperasi, dan merumuskan alternatif-alternatif strategi yang dapat diterapkan dalam rangka pengembangan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis.

Namun demikian, sangat disadari masih banyak terdapat kekurangan karena keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun ke arah penyempurnaan skripsi ini sehingga dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, Januari 2010 Sulistyo

(9)

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas ridho-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Selama penulisan skripsi ini, penulis mendapat sumbangan pikiran, bimbingan, dukungan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada:

1. Ramat Yanuar, SP., MSi, selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, memberikan bimbingan, masukan dan arahan dengan sabar dalam menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini.

2. Ir. Lukman Muhammad Baga, MA. Ec, selaku dosen penguji utama pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunya serta memberikan masukan dan kritikan yang berharga demi perbaikan skripsi ini.

3. Arief Karyadi Uswandi, SP, sebagai dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan masukan dan evaluasi dalam redaktur penulisan skripsi.

4. Ir. Netti Tinaprilla, MM, selaku dosen evaluator pada kolokium yang telah memberikan masukan yang berharga dalam penelitian ini.

5. Kedua orang tua tercinta yang menjadi sumber inspirasi dan teladan hidup, do’a dan pengorbananmu selalu terpatri dalam hati penulis.

6. Ananda tercinta Muhammad Hafizh Sulistyo dan istri tercinta Lia Mulyawati Sulistyo yang telah memberikan dukungan dan sebagai sumber motivasi dalam proses menuju penyelesaian sekripsi ini.

7. Para pengurus, pengawas, karyawan, dan anggota Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis dalam pengumpulan dan pengolahan data.

8. Suharno, anggota komisi I DPRD Kabupaten Cilacap tahun 2009 – 2014 yang selalu memberikan tempat jika penulis berkunjung ke Desa Jetis dan juga kepada Saimun dan Saefulloh, semoga jiwa intepreneur kalian bagaikan tinta yang mewarnai lautan dalam membangun ekonomi keluarga dan warga setempat.

9. Keluarga besar PT Eos Consultants (INRR) atas bantuan, dukungan, dan kerjasamanya.

(10)

10. Sahabat-sahabat ekstensi; M. Zaenal Muttaqin, Okta, Anggra, Kudori, Zulfa, Agripa, Apip Wijaya, Wahyu dan yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya.

11. Seluruh staf program sarjana ekstensi manajemen agribisnis, terima kasih atas bantuannya.

Akhir kata penulis ucapkan semoga amal baik Bapak/Ibu dan rekan-rekan sekalian mendapat balasan pahala yang mulia dari Allah SWT. Amin.

Bogor, Januari 2010 Sulistyo

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 4

1.3. Tujuan Penelitian ... 6

1.4. Manfaat Penelitian ... 7

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1. Konsep Perkoperasian ... 9

2.2. Konsep Koperasi Perikanan ... 12

2.3. Konsep Pengembangan Koperasi Perikanan ... 12

2.4. Konsep Manajemen Strategi ... 14

2.5. Tinjauan Hasil-hasil Peneletian Terdahulu ... 15

III. KERANGKA PEMIKIRAN ... 18

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 18

3.1.1. Kinerja Keuangan ... 18

3.1.2. Visi dan Misi Organisasi... 21

3.1.3. Identifikasi Faktor-faktor Eksternal Organisasi ... 21

3.1.4. Identifikasi Faktor-faktor Internal Organisasi... 24

3.1.5. Formulasi Strategi... 27

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 27

IV. METODOLOGI PENELITIAN ... 31

4.1. Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian ... 31

4.2. Jenis dan Sumber Data ... 31

4.3. Metode Pengumpulan Data... 32

4.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 33

4.4.1. Analisis Deskriptif ... 33

4.4.2. Analisis Finansial (Kinerja Keuangan) ... 33

4.4.3. Identifikasi Faktor Eksternal dan Internal... 37

4.4.4. Formulasi Strategi... 37

(12)

V. GAMBARAN UMUM KOPERASI MINA USAHA ... 41

5.1. Kondisi Umum Desa Jetis ... 42

5.1.1. Kondisi Lingkungan Fisik... 42

5.1.2. Profil Komunitas... 43

5.2. Latar Belakang Pembentukan Koperasi Perikanan Mina Usaha 44 5.2.1. Pembentukan Kelompok Nelayan ... 44

5.2.2. Pembentukan Koperasi Perikanan Mina Usaha ... 46

5.3. Struktur Organisasi Koperasi Perikanan Mina Usaha ... 46

5.3.1. Rapat Anggota ... 46

5.3.2. Pengurus Koperasi ... 47

5.3.3. Badan Pengawas ... 47

5.3.4. Manajer dan Karyawan ... 48

5.4. Kegiatan Usaha Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis .. 48

5.4.1. Unit Usaha Simpan Pinjam (Simpi) ... 48

5.4.2. Unit Tempat Pelelangan Ikan (TPI)... 50

5.4.3. Unit Waserda ... 52

5.5. Anggota Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis ... 53

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 58

6.1. Analisis Finansial (Kinerja Keuangan) ... 58

6.1.1. Rasio Likuiditas... 58

6.1.2. Rasio Solvabilitas ... 59

6.1.3. Rasio Rentabilitas ... 61

6.1.4. Analisis Trend ... 63

6.2. Analisis Lingkungan Eksternal dan Internal Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis ... 65

6.2.1. Analisis Lingkungan Eksternal ... 65

6.2.2. Analisis Lingkungan Internal ... 74

6.2.3. Identifikasi Faktor- Faktor Strategis Internal dan Eksternal 83 6.3. Formulasi Strategi ... 93

VII. KESIMPULAN DAN SARAN ... 99

7.1. Kesimpulan ... 99

7.2. Saran ... 101

DAFTAR PUSTAKA... 104

LAMPIRAN... 106

(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Keragaan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis Selama Tiga

Tahun Terakhir Periode Pembukuan ... 5 2. Matriks SWOT ... 38 3. Perkembangan Alokasi Pinjaman pada Koperasi Mina Usaha Desa Jetis 49 4. Perkembangan Produksi Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis

Empat Tahun Terakhir (2004 – 2007)... 50 5. Pendapatan Unit Waserda Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis

Empat Tahun Terakhir (2004 – 2007)... 52 6. Perkembangan Jumlah Anggota Koperasi Perikanan Mina Usaha

Desa Jetis Selama Empat Tahun Terakhir Periode Pembukuan... 54 7. Jenis dan Jumlah Kebutuhan Nelayan Rata-rata Setiap Tahun ... 56 8. Rasio Lancar Koperasi Perikanan Mina Usaha Empat Tahun

Terakhir Periode Pembukuan ... 58 9. Rasio Hutang dengan Harta/Aktiva Koperasi Perikanan Mina Usaha

Desa Jetis Selama Empat Tahun Terakhir Periode Pembukuan... 59 10. Rasio Hutang dengan Modal Sendiri Koperasi Perikanan Mina

Usaha Desa Jetis Empat Tahun Terakhir Periode Pembukuan ... 60 11. Return on Investment (ROI) Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa

Jetis Desa Jetis Selama Empat Tahun Terakhir... 61 12. Rasio Rentabilitas Modal Sendiri Koperasi Perikanan Mina Usaha

Desa Jetis Selama Empat Tahun Terakhir Periode Pembukuan... 62 13. Trend Neraca Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis Selama

Empat Tahun Terakhir Periode Pembukuan ... 64 14. Trend Rugi Laba Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis

Selama Empat Tahun Terakhir Periode Pembukuan ... 65 15. Rincian Retribusi Lelang TPI Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa

Jetis ... 79 16. Formulasi Strategi Berdasarkan Matriks SWOT ... 94

(14)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Kerangka Pemikiran Operasional ... 30 2. Peta Lokasi Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten

Cilacap... 41 3. Perahu Nelayan Desa Jetis dan Mesin Perahu... 43 4. Kegiatan Unit Simpan Pinjam Koperasi Perikanan Mina Usaha

Desa Jetis ... 50 5. Unit TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Koperasi Perimanan Mina

Usaha Desa Jetis (Menjelang Kegiatan Lelang) ... 51 6. Unit Waserda Koperasi Perimanan Mina Usaha Desa Jetis ... 53 7. Perayaan Tradisi Sedekah Laut di Masyarakat Nelayan Desa Jetis. 68 8. Kegiatan di TPI Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis... 80 9. Mekanisme Pelelangan di TPI Koperasi Perikanan Mina Usaha

Desa Jetis ... 81

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Struktur Organisasi Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis ... 109 2. Hasil Analisis Trend Neraca Koperasi Perikanan Mina Usaha

Desa Jetis Selama Empat Tahun Terakhir Periode Pembukuan ... 110 3. Laporan Rugi Laba Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis

Selama Empat Tahun Terakhir Periode Pembukuan ... 112 4. Quesioner Informan Strategi Koperasi Perikanan Mina Usaha

Desa Jetis ... 113

(16)

I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Nelayan seringkali dipandang sebagai salah satu kelompok masyarakat yang identik dengan kemiskinan. Sebagian besar nelayan yang tergolong miskin merupakan nelayan yang memiliki keterbatasan kapasitas penangkapan baik dari penguasaan teknologi, metode penangkapan, maupun permodalan (masih tradisional). Beberapa pelaku usaha perikanan tangkap sejauh ini memang masih didominasi oleh usaha skala kecil atau bisa dikatakan sebagai nelayan tradisional;

85 persen nelayan tradisional, 13 persen nelayan semi tradisional, dan 2 persen nelayan semi modern-modern (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2004).

Profil nelayan tradisional umumnya cukup terampil menggunakan peralatan yang dimiliki dengan sarana penangkapan ikan dan kemampuan yang sangat terbatas, namun seringkali sulit untuk ditingkatkan ke arah yang lebih modern. Nilai tawar/posisi ekonomi nelayan sangat rendah. Hal ini disebabkan oleh modal yang terbatas, rendahnya produktivitas hasil tangkap yang tidak menentu akibat pengaruh musim yang disebabkan oleh pemanasan global akhir- akhir ini, juga dengan jaminan pemasaran ikan yang tidak menentu karena masih terdapatnya berbagai kendala dalam penentuan harga jual. Hal lain adalah kondisi psikologis dan sosiologis masyarakat nelayan, umumnya berada dalam lingkungan hidup sosial yang cenderung tidak memikirkan hari depannya dan kurang kesadaran menyimpan sebagian pendapatan yang diperoleh terutama pada saat musim ikan. Nelayan masih cenderung konsumtif dengan membelanjakan hasil usaha penangkapan saat musim ikan dengan barang konsumsi bukan untuk peningkatan produktivitas usahanya dengan cara menabung atau membeli peralatan yang lebih modern.

Untuk membangun kemampuan nelayan dalam hal penyediaan sarana dan permodalan serta meningkatkan nilai tawar/posisi ekonomi, maka keberadaan lembaga atau wadah ekonomi sangat diperlukan. Wadah bersama merupakan alternatif yang diharapkan dapat memberikan solusi bagi nelayan untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih baik. Salah satu wadah yang sesuai adalah koperasi.

(17)

2 Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan (UU 25 tahun 1992).

Menurut Pariaman, dkk (2008), peran koperasi dalam masyarakat adalah 1) Meningkatkan sekala usaha dan efisiensi.

Dalam bidang kegiatan usaha rakyat, pada umumnya sering dijuluki usaha skala yang tidak besar bahkan kadang-kadang bersifat subsisten sehingga efisiensi usaha rendah. Oleh karena itu, dengan bergabung dalam koperasi skala kegiatan dapat diperbesar, seperti pengadaan sarana produksi, pengolahan hasil dan pemasaran.

2) Meningkatkan ’bargaining position’ (posisi tawar).

Pada umumnya secara individu usaha masyarakat dihadapkan pada keterbatasan akses pasar, akses permodalan, akses teknologi dan akses pendidikan. Ditemukan pula bahwa asimetri informasi, kelompok yang lemah itu akan tereksploitasi. Dengan bergabung dalam koperasi, kekuatan berkelompok menjadi tumbuh dan dapat memperkuat posisi tawar yang kuat terhadap pasar.

3) Manfaat sosial.

Saling memberikan dukungan terhadap sesama, mendorong kebersamaan di antara para anggota dan mampu meningkatkan sikap demokrasi serta loyalitas pada organisasi.

Salah satu bentuk koperasi yang sudah ada adalah Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Koperasi Mina Usaha ini merupakan bentuk koperasi yang bergerak dalam sub sektor perikanan. Koperasi ini diharapkan dapat membantu anggotanya untuk meningkatkan pendapatan, melalui peningkatan produksi dan produktivitas, kesempatan kerja dan berusaha, serta perbaikan pemasaran.

Keberadaan koperasi dengan tujuannya, secara umum di Indonesia masih jauh dari harapan. Secara empiris ada dua hal yang dapat menerangkan terjadinya kesenjangan antara harapan dan kenyataan tentang kurang berkembangnya perkoperasian di Indonesia, termasuk koperasi perikanan. Kusumastanto dalam

(18)

Akhmad Solihin (2003) menerangkan secara jelas kedua hal tersebut. Pertama aspek struktural. Kebijakan ekonomi di Indonesia selama orde baru bias kepada kepentingan pengusaha besar (konglomerat). Golongan ini yang diharapkan dapat berperan sebagai aktor-aktor kebijakan yang terlalu berpihak pada kaum konglomerat, maka pertumbuhan ekonomi berjalan tidak seimbang. Dimana kaum minoritas bangsa ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, sementara disisi lain, kaum mayoritas rakyat Indonesia yang selalu termarginalkan hanya berjalan di tempat. Kedua aspek organisasional. Kentalnya muatan-muatan politik ditubuh keorganisasian koperasi Indonesia, maka pendekatannya pun bersifat topdown. Oleh karenanya, proses homogenisasi bentuk institusi koperasi di Indonesia tidak terelakkan lagi. Padahal masyarakat Indonesia berbeda-beda karakternya, baik secara sosial, ekonomi, politik, budaya bahkan kondisi geografis dan sumber daya alam yang dimilikinya. Akibatnya, organisasi koperasi seringkali kurang memenuhi tuntutan bisnis, mismanagement dan menyimpang dari misi awalnya.

Kedua permasalahan di atas juga telah menyebabkan perkembangan koperasi perikanan menjadi terjebak dan sulit keluar dari perangkap tersebut.

Selain itu, secara struktural permasalahan koperasi perikanan tidak hanya berkenaan dengan permasalahan koperasi secara umum, namun juga terkait dengan permasalahan klasik sektor kelautan dan perikanan, yaitu terciptanya marginalisasi pada sektor ini. Jadi secara umum, jikalau ingin menciptakan perkembangan koperasi di Indonesia yang kompetitif dan menjalankan doktrinnya, termasuk mewujudkan koperasi perikanan yang mampu menghantarkan masyarakat nelayan menjadi masyarakat yang makmur, mandiri dan sejahtera maka koperasi harus melakukan introspeksi diri untuk melakukan pembenahan agar keluar dari permasalahan. Permasalahan dan kesulitan yang dihadapi koperasi diantaranya adalah dalam aspek usaha, permodalan, organisasi lingkungan dan manajemen.

Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis merupakan salah satu koperasi mina yang masih menghadapi permasalahan dalam hal usaha, organisasi dan manajemen. Penilaian terhadap strategi pengembangan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis melalui analisis manajemen strategi perlu dilakukan sehingga

(19)

4 dapat diketahui keadaan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis dan perkembangannya yang dilakukan dalam menjalankan perekonomian di wilayah kerjanya dalam membangun tatanan perekonomian baik lokal, regional, dan nasional serta agar peran dan manfaat koperasi bagi anggota bisa tercapai.

1.2. Perumusan Masalah

Koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Tujuan tersebut juga merupakan tujuan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis. Selain itu, Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis sebagai suatu organisasi ekonomi harus mampu menjalankan prinsip ekonomi yang sehat dan menciptakan keuntungan serta memiliki peran yang penting bagi kehidupan anggota, masyarakat sekitarnya dan pengembangan dirinya.

Pengembangan koperasi perlu didukung dengan mengetahui keadaan lingkungan eksternal dan internal koperasi sehingga dapat diketahui apa yang menjadi peluang dan ancaman serta kekuatan dan kelemahan koperasi tersebut.

Melalui analisis faktor internal dan eksternal diharapkan koperasi mampu menghadapi persaingan dalam era globalisasi. Selain itu koperasi diharapkan mampu tumbuh sebagai organisasi yang dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif.

Dalam kondisi saat ini Koperasi Perikanan Mina Usaha memerlukan strategi pengembangan, baik dari segi organisasi maupun usaha. Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis belum mampu merumuskan alternatif-alternatif strategi apa yang dapat diterapkan dalam rangka pengembangan koperasi. Hal tersebut dilihat dari penurunan pendapatan dari unit usaha, penurunan jumlah anggota yang berimplikasi pada penurunan iuran anggota baik wajib, pokok, maupun sukarela sebagai pemupukan modal usaha dan nilai Sisa Hasil Usaha (SHU) yang cenderung menurun. Selain itu, perubahan iklim akibat pemanasan global berpengaruh terhadap perubahan cuaca yang kurang menentu sangat memengaruhi kegiatan anggota koperasi yang berprofesi sebagai nelayan

(20)

sehingga produksi mengalami penurunan. Sesuai tujuan yang ditetapkan, Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis setiap tahunnya terus berusaha untuk mengembangkan usahanya. Perkembangan usaha sangat ditentukan oleh perkembangan modal dan akumulasi modal. Kondisi keragaan koperasi pada tiga tahun terakhir disampaikan pada tabel 1.

Tabel 1. Keragaan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis Selama Tiga Tahun Terakhir Periode Pembukuan

No. Uraian Perkembangan Tahun

I II III

1. Pendapatan unit waserda (Rp) 5.433.037 3.109.204 2.552.284 2. Pendapatan unit TPI (Rp) 81.950.709 96.330.998 64.492.931 3. Pendapatan unit simpan pinjam (Rp) 12.855.400 18.947.640 74.167.688

4. Modal (Rp) 232.352.277 455.685.658 491.557.665

5. Jumlah anggota (org) 251 254 250

6. Nilai raman produksi (Rp) 2.557.315.770 3.239.510.385 2.990.993.905 7. Pengeluaran (beban/biaya) 90.523.585 114.093.989 135.174.469

8. SHU (Rp) 18.634.359 8.980.356 5.343. 434

Sumber: Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis, 2009 (diolah)

Berdasarkan kondisi pada tabel 1, dapat dilihat bahwa SHU dan pendapatan dari unit warung serba ada (waserda) mengalami penurunan, sedangkan pendapatan unit TPI, jumlah anggota dan produksi mengalami fluktuatif. Namun pada tahun terakhir periode pembukuan, pendapatan TPI dan jumlah anggota menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, begitu juga halnya dengan nilai produksi dari hasil tangkapan ikan oleh nelayan anggota.

Angka produksi dipengaruhi oleh aktivitas penangkapan ikan oleh nelayan di laut yang sangat tergantung dengan kondisi cuaca. Pendapatan unit simpi dan modal mengalami peningkatan. Peningkatan modal disebabkan karena adanya peningkatan modal luar/pinjaman. Modal yang bersumber dari pinjaman memerlukan perhatian karena adanya beban biaya operasi yang salah satunya

(21)

6 keseluruhan juga perlu dikendalikan sehingga bisa lebih efektif dan efisien. Hal ini terlihat bahwa pengeluaran sebagai pos beban/biaya organisasi mengalami peningkatan setiap periode pembukuan. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap keragaan koperasi terutama yang berkaitan dengan kondisi keuangan koperasi.

Kondisi koperasi yang kuat akan memberikan pengaruh yang positif bagi anggotanya dan mampu mendukung kegiatan usaha yang berujung pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan anggota sebagai tujuan utama keberadaan koperasi.

Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis perlu melakukan penyusunan strategi manajemen yang terarah sehingga dapat diterapkan sesuai dengan perubahan yang selalu ditemui dalam pengembangan usahanya. Strategi manajemen yang baik adalah mampu mempertimbangkan dan memanfaatkan kondisi internal koperasi untuk memperoleh peluang yang ada serta mampu mengantisipasi ancaman dari kondisi eksternal koperasi. Agar diperoleh strategi yang tepat bagi koperasi, maka perlu diketahui faktor-faktor kesuksesan koperasi baik faktor lingkungan internal maupun eksternal koperasi.

Berdasarkan uraian di atas, masalah-masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana kinerja keuangan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis?

2. Faktor lingkungan ekternal dan internal apa saja dalam pengembangan usaha di Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis?

3. Strategi apa saja yang dapat diterapkan dalam pengembangan unit-unit usaha di Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini secara umum adalah mengetahui strategi manajemen dan pengembangan bagi Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk :

1. Menganalisis kinerja keuangan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis.

2. Mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor eksternal dan internal yang dapat memengaruhi perkembangan Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis.

(22)

3. Merumuskan alternatif strategi yang dapat diterapkan oleh Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:

1. Pemangku jabatan/kepentingan (stake holder) Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis sebagai bahan masukan dalam strategi pengembangan unit- unit usaha yang ada.

2. Peneliti untuk melatih kemampuan dalam menganalisa masalah dan memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut.

3. Semua pihak khususnya kalangan akademisi sebagai referensi dalam kajian strategi pengembangan khususnya pengembangan koperasi.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian difokuskan pada tahap pertama proses manajemen strategi yaitu tentang analisis strategi pengembangan koperasi dengan tujuan untuk pengembangan koperasi. Analisis strategi pengembangan koperasi dilakukan dengan cara mengetahui peluang dan ancaman eksternal, menetapkan kekuatan dan kelemahan internal, dan merumuskan strategi alternatif untuk dilaksanakan dan dapat diterapkan oleh Koperasi Perikanan Mina Usaha Desa Jetis.

Manajemen strategis menurut David (2006) ada tiga tahapan, yaitu tahap input (pemasukan), tahap matching (penyesuaian), dan tahap decision (pengambil keputusan). Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu, hampir sebagian besar manajemen strategis pada tahap input dengan metode yang dimulai dari identifikasi faktor-faktor eksternal-internal, analisis matriks IFE-EFE dan sampai pada matriks I-E, menempatkan kondisi perusahaan atau organisasi usaha termasuk koperasi berada pada kuadran V (strategi pertahankan dan pelihara atau hold and maintain). Sementara pada tahap pengambil keputusan (decision), merupakan tahap pemilihan alternatif strategi/prioritas. Namun demikian, bahwa pada tahap ini menurut Umar (2008) dan para ahli manajemen strategi lainnya, bahwa sangat dipengaruhi oleh faktor subyektifitas dan professional judgement.

(23)

8 berbeda. Selain itu, alternatif strategi yang sudah terpilih, pada saat implementasi belum tentu strategi dengan pilihan peringkat pertama sebagai prioritas adalah yang berhasil. Ada kemungkinan atau justru yang bukan menjadi prioritas merupakan strategi yang paling memberikan konstribusi terhadap perkembangan usaha. Dengan demikian, pada penelitian ini mencoba untuk memosisikan bahwa hasil rumusan alternatif strategi dianggap semua penting sehingga tidak dilakukan pemilihan alternatif strategi prioritas (semua dianggap sama). Diharapkan pada saat implementasinya bisa memberikan jawaban strategi mana yang berhasil dari hasil rumusan strategi yang dilakukan.

Penelitian ini juga melakukan analisis kinerja keuangan koperasi dengan metode analisis yang dipakai adalah analisis rasio dan analisis trend. Analisis rasio meliputi analisis likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas. Analisis trend dilakukan terhadap laporan neraca dan laporan rugi laba untuk beberapa periode pembukuan. Analisis rasio likuiditas digunakan untuk mengetahui kemampuan koperasi membayar hutang-hutang jangka pendeknya tepat pada waktunya.

Analisis solvabilitas digunakan untuk mengetahui kemampuan koperasi membayar semua hutang-hutangnya baik jangka pendek maupun jangka panjang dengan harta yang dimiliki dan mengukur seberapa besar koperasi dibiayai oleh pihak luar. Rasio rentabilitas digunakan untuk mengetahui kemampuan koperasi dalam menghasilkan keuntungan dari kegiatan usaha melalui modal yang dimiliki.

Analasis trend digunakan untuk melihat pergerakan pos-pos laporan keuangan koperasi selama periode akuntansi. Hasil analisis kinerja keuangan ini dijadikan salah satu identifikasi faktor internal koperasi yaitu dari variabel keuangan.

(24)

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Perkoperasian

Koperasi singkatan dari kata ko/co dan operasi/operation. Kata koperasi berasal dari Bahasa Latin yaitu cooperere, sedangkan dalam Bahasa Inggris adalah cooperative yang berarti ’bekerjasama’ dan operation berarti ’bekerja’ atau to operate yang berarti ’berusaha’. Koperasi adalah suatu kumpulan orang-orang untuk bekerja sama demi kesejahteraan bersama. Menurut UU Nomor 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian, bahwa yang dimaksud dengan koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Dengan demikian, koperasi merupakan kumpulan orang-orang bukan kumpulan modal. Namun demikian, banyak pihak mengatakan bahwa koperasi menurut undang-undang tersebut telah salah konsep dan kehilangan jati dirinya. Para founding father Bangsa Indonesia bercita-cita untuk menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Kondisi yang terjadi, bahwa koperasi terbentuk berdasarkan kesamaan yang mengakibatkan terjadinya perpecahan. Untuk itu, saat ini telah dan sedang berlangsung proses amandemen dari Undang-Undang No 25 Tahun 1992 tersebut. Proses amandemen undang-undang tersebut untuk mengembalikan konsep koperasi ke jati dirinya sebagai soko guru perekonomian.

Konsep koperasi yang saat ini banyak dianut oleh beberapa negara adalah koperasi menurut Aliansi Koperasi Sedunia (International Cooperation Alliance/

ICA). Pengertian koperasi menurut ICA adalah perkumpulan otonom dari orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi aspirasi ekonomi, sosial, budaya melalui perusahaan yang mereka kendalikan secara demokratis. ICA bertindak sebagai lembaga yang menyatukan gerakan- gerakan koperasi di tiap-tiap negera di dunia agar terjadi keseragaman tertutama dalam hal cara memandang jati diri koperasi yang sejati agar dapat berjalan selaras dan sepadan antar negara. Koperasi bekerja berdasarkan beberapa prinsip.

Prinsip ini merupakan pedoman bagi koperasi dalam melaksanakan nilai-nilai

(25)

10 1) Keanggotaan sukarela dan terbuka (voluntery and open membership).

Koperasi adalah organisasi yang keanggotaannya bersifat sukarela, terbuka bagi semua orang yang bersedia menggunakan jasa-jasanya, dan bersedia menerima tanggung jawab keanggotaan, tanpa membedakan gender, latar belakang sosial, ras, politik, atau agama.

2) Pengawasan oleh anggota secara demokratis (democratic member control).

Koperasi adalah organisasi demokratis yang diawasi oleh anggotanya, yang secara aktif menetapkan kebijakan dan membuat keputusaan laki-laki dan perempuan yang dipilih sebagai pengurus atau pengawas bertanggung jawab kepada Rapat Anggota. Dalam Koperasi primer, anggota memiliki hak suara yang sama (satu anggota satu suara) dikelola secara demokratis.

3) Partisipasi anggota dalam kegiatan ekonomi (member economic participation).

Anggota menyetorkan modal mereka secara adil dan melakukan pengawasan secara demoktaris. Sebagian dari modal tersebut adalah milik bersama. Bila ada balas jasa terhadap modal, diberikan secara terbatas. Anggota mengalokasikan SHU untuk beberapa atau semua dari tujuan seperti di bawah ini:

a) Mengembangkan Koperasi. Caranya dengan membentuk dana cadangan yang sebagian dari dana itu tidak dapat dibagikan.

b) Dibagikan kepada anggota. Caranya seimbang berdasarkan transaksi mereka dengan koperasi.

c) Mendukung keanggotaan lainnya yang disepakati dalam Rapat Anggota.

4) Otonomi dan kemandirian (autonomy and independence).

Koperasi adalah organisasi otonom dan mandiri yang diawasi oleh anggotanya. Apabila koperasi membuat perjanjian dengan pihak lain, termasuk pemerintah, atau memperoleh modal dari luar, maka hal itu haarus berdasarkan persyaratan yang tetap menjamin adanya upaya:

a) Pengawasan yang demokratis dari anggotanya.

b) Mempertahankan otonomi koperasi.

(26)

5) Pendidikan, pelatihan dan informasi (education, training and information).

Koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi anggota, pengurus, pengawas, manager, dan karyawan. Tujuannya, agar mereka dapat melaksanakan tugas dengan lebih efektif bagi perkembangan koperasi.

Koperasi memberikan informasi kepada maasyarakat umum, khususnya orang-orang muda dan tokoh-tokoh masyaralat mengenai hakekat dan manfaat berkoperasi.

6) Kerjasamaa antar koperasi (co-operation among co-operatives).

Dengan bekerjasama pada tingkat lokal, regional dan internasional, maka:

a) Gerakan Koperasi dapat melayani anggotanya dengan efektif.

b) Dapat memperkuat gerakan koperasi.

7) Kepedulian terhadap masyarakat (concern for community).

Koperasi melakukan kegiatan untuk pengembangan masyarakat sekitarnya secara berkelanjutan melalui kebijakan yang diputuskan oleh Rapat Anggota.

Sementara itu Prinsip Koperasi menurut UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian adalah:

1) Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka.

2) Pengelolaan dilakukan secara demokratis.

3) Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.

4) Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.

5) Kemandirian.

6) Pendidikan perkoperasian.

7) Kerja sama antar koperasi.

Asosiasi berbeda dengan kelompok. Asosiasi terdiri dari orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama yang menonjol adalah kepentingan ekonominya.

Kelompok terdiri dari orang-orang yang belum tentu memiliki kepentingan yang sama yang menonjol adalah unsur sosialnya.

ICA adalah gabungan gerakan koperasi internasional yang beranggotakan 700 juta orang lebih, berasal dari 70 negara, berpusat di Genewa, Swiss. Untuk wilayah Asia-Pasifik berkantor di New Dehli, India. Prinsip yang dianut oleh gerakan Koperasi internasional saat ini adalah yang dicetuskan pada kongres ICA

(27)

12 (International Cooperative Alliance) di Manchester, Inggris pada tanggal 23 September 1995.

2.2. Konsep Koperasi Perikanan

Koperasi perikanan didirikan untuk menyatukan dan menggabungkan usaha-usaha nelayan yang umumnya masih miskin dan belum begitu maju tingkat pengetahuannya. Dengan bersatu dan bekerja sama dalam sebuah koperasi perikanan, para nelayan dapat mengumpulkan modal dan berusaha untuk memperbaiki usahanya dengan tidak menggantungkan nasibnya pada tengkulak atau kaum pemodal (sagimun dalam Trisya dalam Muyasaroh, 2004).

Koperasi perikanan atau koperasi mina berfungsi sebagai pusat pelayanan berbagai kegiatan perekonomian nelayan di desa-desa pantai. Usaha yang dilakukan didasarkan kepada sarana-sarana, jasa-jasa dan kemudahan yang diperlukan untuk usaha perikanan para nelayan anggotanya (Departemen Koperasi dalam Muyasaroh, 2004).

Tujuan koperasi mina sebagaimana tujuan koperasi pada umumnya, yaitu:

1) Untuk memajukan kesejahteraan anggotanya.

2) Untuk memajukan kesejahteraan masyarakat.

3) Turut serta membangun tatanan perekonomian nasional.

2.3. Konsep Pengembangan Koperasi Perikanan

Perkembangan koperasi dipengaruhi oleh keadaan lingkungan baik eksternal maupun internal organisasi. Faktor lingkungan eksternal koperasi adalah faktor-faktor luar organisasi koperasi yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perkembangan kemajuan koperasi. Faktor lingkungan internal koperasi adalah sarana dan sumber daya yang ada dalam koperasi yang secara langsung memengaruhi perkembangan dan kemajuan koperasi.

Menurut Pariaman dkk (2008), bahwa stereotip terhadap keberadaan lembaga koperasi masih berkumandang di berbagai kalangan, dimana koperasi dinilai sebagai lembaga ekonomi yang hampir gagal, tidak efisien, dan tidak bersaing. Selain itu, juga dipandang sebagai sarang kolusi, korupsi, dan

(28)

nepotisme (KKN). Hal ini bisa dimaklumi karena sejarah perkoperasian di Indonesia sarat dengan perjalanan traumatik dari sebuah impian tentang kesejahteraan ekonomi rakyat.

Koperasi di masa jaman pendudukan Jepang berperan sebagai alat kekuasaan yang menekan rakyat. Koperasi dimanfaatkan oleh Jepang untuk membantu pendistribusian logistik, tetapi juga untuk memungut pajak dengan cara paksa yang kadang perlakuannya tidak manusiawi sehingga menimbulkan antipati masyarakat terhadap koperasi. Suasana traumatik terhadap koperasi masih melekat hingga zaman kemerdekaan sehingga saat itu kampanye terhadap pembangunan ekonomi rakyat melalui koperasi terasa sangat berat. Namun pada era kemerdekaan, semangat pemerintah membangun ekonomi rakyat melalui koperasi tidak pernah pudar. Berlanjut pada era orde baru, pembangunan koperasi sangat signifikan. Diwarnai oleh gerakan para petani di pedaesaan yang tergabung dalam koperasi unit desa (KUD). Koperasi tampil sebagai lokomotif perekonomian desa, antara lain sebagai penyaluran sarana produksi, pengolah hasil pertanian hingga pemasaran ke Badan Urusan Logistik (Bulog). Selain itu, koperasi juga telah mulai aktif dalam bidang usaha peternakan, perikanan, simpan pinjam, dan jasa ditribusi/konsumen.

Ketika krisis moneter yang berlanjut pada krisis ekonomi pada pertengahan 1997, hampir semua pelaku ekonomi terkena imbasnya. Pukulan telak dialami oleh kalangan pengusaha besar (konglomerat) yang tidak sedikitnya diantaranya gulung tikar. Kendati tidak telak, lembaga koperasi pun mengalami nasib yang sama. Hanya saja koperasi mampu bertahan bahkan diantaranya, terutama yang bergerak dalam komoditas ekspor justru menuai keuntungan akibat depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika serikat. Sejalan dengan itu, Indonesia yang sudah menganut sistem ekonomi terbuka, juga menjadi tantangan sekaligus peluang bagi koperasi.

Semangat otonomi daerah diharapkan membawa angin segar demi terciptanya iklim yang kondusif dalam pemerintahan Indonesia, termasuk pelaksanaan pengembangan koperasi perikanan di daerah-daerah. Hal ini dikarenakan, era otonomi daerah diharapkan menjadi penyelamat sektor-sektor yang berbasiskan sumber daya alam, seperti pertanian, perikanan, kehutanan dan

(29)

14 lain sebagainya, sehingga hambatan struktural bagi perkembangan koperasi perikanan menjadi berkurang. Namun demikian, di era otonomi daerah pun, hambatan-hambatan yang bersifat struktural kemungkinan dapat muncul kembali menjadi batu sandungan bagi perkembangan koperasi perikanan. Hal ini dapat terjadi pada daerah yang tidak mempunyai visi yang jelas tentang pembangunan ekonomi masyarakat lokal, karena pemerintah daerah terlalu memfokuskan diri pada usaha industri skala besar.

Sementara itu, maraknya era pasar bebas menuntut profesionalitas koperasi-koperasi yang ada di Indonesia, termasuk koperasi perikanan. Mengingat visi bisnis perkoperasian masih sangat lemah, hal ini tercermin dengan tidak ditemukannya diversifikasi usaha perikanan pada beberapa koperasi perikanan yang ada di wilayah pesisir, seperti peningkatan mutu produk, pengolahan hasil tangkapan ikan, serta pemasaran. Umumnya koperasi-koperasi tersebut hanya berkutat dalam kegiatan sistem produksi yang terejawantahkan melalui penyediaan sarana produksi perikanan1.

2.4. Konsep Manajemen Strategi

Pearce dan Robinson (1997) menyatakan bahwa strategi perusahaan berkaitan dengan keputusan untuk menentukan bisnis perusahaan seharusnya masuk dan ke luar serta bagaimana perusahaan seharusnya mengalokasikan sumber daya di antara bisnis-bisnis berbeda yang dimasukinya di masa mendatang. Strategi juga dapat diartikan bahwa perusahaan dan koperasi dapat mengenali secara keseluruhan faktor-faktor lingkungan internal maupun eksternal.

Sementara itu, David (2004) menyatakan bahwa manajemen strategis dapat didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan dari perumusan (formulating), penerapan (implementing) dan evaluasi (evaluating) keputusan lintas fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai tujuannya. Fokus manajemen strategi pada dasarnya adalah manajemen terpadu (integrated management) yang memadukan kegiatan manajemen, pemasaran, finansial, produksi dan operasi serta penelitian dan pengembangan. Manajemen strategi adalah sejumlah keputusan

1Dikutip dari http://beta.tnial.mil.id, Pebruari 2009.

(30)

dan tindakan yang mengarah pada penyusunan suatu strategi atau sejumlah strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan.

David (2004), menyusun tahapan kegiatan perencanaan kegiatan strategis ke dalam model. Model ini dikenal dengan ’Manajemen Strategis’. Model tersebut memberikan pendekatan yang jelas dan praktis untuk merumuskan, mengimplementasikan dan mengevaluasi strategi. Dengan sifatnya yang dinamis dan mudah berubah, setiap perubahan dalam salah satu komponen utama dalam model manajemen strategis akan memaksa perubahan dalam satu atau bahkan keseluruhan komponen model. Dalam model tersebut, proses manajemen strategi terbagi menjadi tiga tahapan. Tahap pertama adalah tahapan perumusan strategi, termasuk mengembangkan pernyataan misi, audit eksternal dan internal menetapkan sasaran jangka panjang. Tahap kedua adalah tahapan implementasi strategi yaitu menuntut koperasi untuk menetapkan kebijakan dan sasaran tahunan dan alokasi sumberdaya sehingga strategi yang dirumuskan dapat dilaksanakan.

Tahapan ketiga adalah tahapan evaluasi strategi, yaitu tahap akhir dalam proses manajemen strategi. Para manajer sangat perlu mengetahui kapan strategi tertentu tidak berfungsi dengan baik, evaluasi strategi terutama berarti usaha untuk mengetahui informasi ini. Semua strategi dapat dimodifikasi di masa depan karena faktor-faktor eksternal dan internal selalu berubah.

2.5. Tinjauan Hasil-hasil Penelitian Terdahulu

Fadhli (2009), melakukan penelitian mengenai strategi pengembangan Koperasi Pegawai Republik Indonesia Institut Pertanian Bogor ‘Teko Sumodiwirjo’. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lingkungan bisnis koperasi, menganalisis kesenjangan (gap) kinerja aktual pengurus koperasi serta harapan dari pengurus dan anggota, menganalisis faktor internal dan eksternal, dan membuat rancangan strategi pengembangan dengan pendekatan arsitektur strategi. Metode penelitian/analisis yang dipakai adalah analisis lingkungan bisnis koperasi, analisis kesenjangan (gap), analisis SWOT dan arsitektur strategi.

Ramadhan (2009), melakukan penelitian menganai analisis strategi pengembangan KUD (Koperasi Unit Desa) Giri Tani (Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan

(31)

16 keragaan koperasi, menganalisis faktor-faktor eksternal dan internal koperasi, dan merekomendasikan strategi yang dilakukan oleh KUD untuk menyelesaikan permasalahan internal dan eksternal organisasi. Metode penelitian/analisis yang dipakai adalah analisis deskriptif mengenai kondisi KUD, analisis matriks IFE- EFE, analisis matriks I-E, analisis SWOT, dan arsitektur strategi.

Junarto (2008), melakukan penelitian mengenai manajemen strategi pengembangan Koperasi Petani Organik Serikat Petani Indonesisa di Bogor.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor internal dan eksternal koperasi dan menganalisis, memformulasikan serta menentukan strategi terbaik dalam pengembangan koperasi. Metode penelitian/analisis yang dipakai adalah analisis IFE-EFE, analisis matriks I-E, analisis SWOT, dan analisis QSPM.

Muyasaroh (2004) melakukan penelitian mengenai kajian strategi pengembangan KUD Mandiri Mina Karya Bhukti Desa Blanakan, Kabupaten Subang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat perkembangan koperasi, mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor eksternal dan internal yang dapat memengaruhi perkembangan koperasi, dan merumuskan alternatif-alternatif dan prioritas strategi yang dapat diterapkan dalam rangka pengembangan koperasi. Metode penelitian/analisis yang dipakai adalah analisis IFE – EFE, matriks I-E, SWOT dan QSPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses perumusan strategi KUD Mandiri Mina Karya Bhukti, Desa Blanakan, Kabupaten Subang, diawali dengan tahap input yaitu dengan mengidentifikasi faktor-faktor eksternal dan internal.

Lismawati (2009), melakukan penelitian mengenai analisis kinerja keuangan dan pelayanan pengembangan KUD Sumber Alam (Studi Kasus: KUD Sumber Alam Desa Dramaga, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perkembangan usaha KUD Sumber Alam, menganalisis perkembangan kinerja keuangan KUD Sumber Alam sesuai dengan prinsip koperasi, menganalisis kemampuan pelayanan KUD Sumber Alam, dan menganalisis kebijakan bagi pengembangan KUD Sumber Alam. Metode penelitian/alat analisis yang dipakai untuk analisis kinerja keuangan adalah analisis trend, analisis persentasi per komponen, analisis rasio yang meliputi liquiditas, solvabilitas, rentabilitas, dan rasio aktivitas usaha,

(32)

sedangkan untuk analisis kemampuan pelayanan KUD menggunakan metode Customer Satisfaction Index (CSI).

Penelitian terdahulu lain yang berkaitan tentang analisis kinerja keuangan antara lain adalah Ramadhani (2004) tentang Analisis Laporan Keuangan Koperasi Perikanan Mina Jaya Propinsi DKI Jakarta dengan metode penelitian/alat analisis yang dipakai adalah analisis rasio (liquiditas, solvabilitas, rentabilitas, dan aktivitas), analisis horisontal dan vertical; Novianti (2005) tentang analisis kinerja keuangan KUD Mina Sumitra Desa Karang Song, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Propinsi Jawa Barat dengan metode penelitian/alat analisis yang dipakai adalah analisis rasio (liquiditas, solvabilitas, rentabilitas, dan aktivitas), analisis matriks IFE – EFE, matriks IE dan SWOT; Rachmawati (2003) melakukan penelitian mengenai Analisis Usaha Koperasi Unit Desa sebagai Organisasi Perekonomian Pedesaan KUD Sumber Alam dengan metode penelitian/alat analisis yang dipakai adalah analisis rasio (liquiditas, solvabilitas, dan rentabilitas) dan kemitraan.

Penelitian terdahulu di atas yang berkaitan dengan analisis/kajian strategi sebagian besar menggunakan metode penelitian/analisis IFE-EFE, analisis matriks I-E dan SWOT. Selain itu, alat alat analisis tambahan lain yang dipakai dari masing-masing penelitian terdahulu tersebut adalah analisis kesenjangan, arsitektur strategi, dan ada juga yang menggunakan analisis QSPM. Sementara penelitian yang berkaitan dengan kinerja keuangan, sebagian besar menggunakan alat analis rasio. Penelitian ini mempunyai kemiripan dengan penelitian yang dilakukan oleh Junarto (2008) dan Muyasaroh (2004) mengenai pengembangan koperasi dari segi analisis strategi. Kemiripan terletak pada metode yang digunakan, yakni adanya penggunaan analisis SWOT. Sementara alat analisis yang dipakai untuk kinerja keuangan dalam penelitian ini adalah analisis rasio (liquiditas, solvabilitas dan rentabilitas) dan analisis trend. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada lokasi dan tujuan secara detail dari penelitian.

(33)

III KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1. Kinerja Kuangan

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (1999) dalam Lismawati (2009), kinerja keuangan adalah suatu penilian terhadap laporan keuangan perusahaan yang menyangkut posisi keuangan perusahaan serta perubahan terhadap posisi keuangan tersebut. Kinerja keuangan didefinisikan juga sebagai ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba.

Pihak yang mempunyai kepentingan terhadap perkembangan suatu perusahaan, perlu mengetahui kondisi keuangan perusahaan tersebut. Kondisi keuangan suatu perusahaan akan dapat diketahui dari laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan rugi laba, dan laporan-laporan lainya. Analisis terhadap pos-pos neraca akan dapat diketahui atau akan diperoleh gambaran tentang posisi keuanganya, sedangkan analisis terhadap rugi laba akan memberikan gambaran tentang hasil atau perkembangan usaha (Munawir, 2004).

Laporan keuangan adalah informasi yang memuat informasi tentang posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas perusahaan, begitu juga dengan koperasi. Informasi ini diperlukan untuk melihat kinerja manajemen dalam melaksanakan kewenangan yang diberikan oleh pemilik modal atau anggota koperasi. Laporan keuangan juga berfungsi untuk mengurangi kesenjangan informasi antara pihak manajemen (pengurus koperasi) dengan para anggota atau pemilik modal yang berada di luar organisasi (Darsono, 2005).

Menurut Munawir (2004), laporan keuangan akan dapat digunakan oleh manajemen untuk:

1) Mengukur tingkat biaya dari berbagai kegiatan perusahaan.

2) Menentukan/mengukur efisiensi tiap-tiap bagian, proses atau produksi serta dan untuk menentukan derajad keuntungan yang dapat dicapai.

(34)

3) Menilai dan mengukur hasil kerja tiap-tiap individu yang telah diserahi wewenang dan tanggung jawab.

4) Menentukan perlu tidaknya digunakan kebijaksanaan atau prosedur yang baru untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Tujuan laporan keuangan pada koperasi (Lismawati, 2009) adalah untuk menyediakan informasi yang berguna bagi pemakai utama dan pemakai lainnya.

Adapun tujuan atau kepentingan pemakai terhadap laporan keuangan koperasi adalah:

1) Menilai pertanggungjawaban pengurus.

2) Menilai prestasi pengurus.

3) Menilai manfaat yang diberikan koperasi terhadap anggotanya.

4) Menilai kondisi keuangan koperasi (rentabilitas, likuiditas, dan solvabilitas).

5) Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan jumlah sumber daya dan jasa yang akan diberikan kepada koperasi

Menurut Sitio dan Tamba dalam Lismawati (2009), laporan keuangan koperasi mempunyai karakteristik tersendiri yang membedakanya dengan badan usaha lain, yaitu:

1) Laporan keuangan merupakan bagian dari pertanggungjawaban pengurus kepada para anggotanya di dalam RAT.

2) Laporan keuangan biasanya meliputi neraca, laporan sisa hasil usaha dan laporan arus kas yang penyajiannya dilakukan secara komparatif.

3) Laporan keuangan yang disampaikan pada RAT harus ditandatangani oleh semua anggota pengurus koperasi.

4) Laporan rugi laba menyajikan hasil akhir yang disebut SHU. SHU koperasi dapat berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk anggota dan bukan anggota.

5) SHU yang berasal dari usaha anggota dan bukan anggota didistribusikan sesuai dengan komponen-komponen pembagian SHU yang telah diatur dalam AD dan ART.

6) Posisi keuangan koperasi tercermin pada neraca, sedangkan SHU tercermin pada perhitungan hasil usaha. Istilah perhitungan hasil usaha sebagai pengganti istilah laporan rugi laba pada perusahaan bukan koperasi

(35)

20 mengingat manfaat dari usaha koperasi tidak semata-mata diukur dari laba, tetapi lebih ditekankan pada manfaat bagi anggota.

3.1.1.1. Analisis Rasio

Analisis rasio merupakan salah satu cara untuk mengetahui bagaimana menganalisis laporan keuangan baik berupa laporan rugi laba maupun laporan neraca. Laporan rugi laba merupakan suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, rugi laba yang diperoleh oleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Neraca adalah laporan sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Tujuan dari neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu dimana buku-buku ditutup dan ditentukan sisanya pada suatu akhir tahun fiskal atau tahun kalender (Munawir, 2002).

Analisis rasio juga dapat menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan yang lain dalam suatu laporan keuangan. Kelompok rasio yang umum dipakai (Munawir, 2002) adalah likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas. Mengggunakan analisis rasio dapat menentukan tingkat likuiditas, solvabilitas dan rentabilitas. Untuk dapat mengukur hal-hal tersebut diperlukan angka rasio yang disebut standard ratio. Standard rasio bukanlah merupakan angka pembanding yang ideal atau ukuran yang pasti, tetapi dapat digunakan sebagai pedoman atau pegangan penganalisa (Munawir, 2004).

3.1.1.2. Analisis Kecenderungan (Trend)

Analisis trend digunakan untuk mengukur kemampuan koperasi dalam menjalankan usahanya dengan membandingkan pos-pos yang terdapat pada dua atau lebih daftar keuangan dengan menggunakan analisis dinamis yaitu menganalisa lebih dari satu periode. Analisis trend adalah suatu metode atau teknik analisis untuk mengetahui tendensi dari pada keadaan keuangannya, apakah menunjukkan tendensi tetap, naik atau bahkan turun. Manurut Munawir (2004), analisis ini juga disebut dengan analisa naik turun.

(36)

3.1.2. Visi dan Misi Organisasi

Visi adalah cara pandang yang menyeluruh dan futuristik terhadap keberadaan organisasi. Pernyataan visi menjawab pertanyaan akan menjadi sosok organisasi seperti apa dalam beberapa tahun ke depan. Menurut Umar (2008), visi yang dimiliki oleh sebuah perusahaan merupakan suatu cita-cita tentang keadaan di masa datang yang diinginkan untuk terwujud oleh seluruh personal perusahaan, mulai dari jenjang atas sampai yang paling bawah.

Misi menjelaskan pernyataan jangka panjang mengenai tujuan yang membedakan sebuah bisnis organisasi dari organisasi lain yang sejenis. Sebuah misi mengidentifikasikan cakupan dari operasi organisasi dalam istilah produk dan pasar (David, 2004). Umar (2008) menambahkan bahwa misi adalah penjabaran secara tertulis mengenai visi agar visi menjadi mudah dimengerti atau jelas bagi seluru staf perusahaan.

3.1.3. Identifikasi Faktor-faktor Eksternal Organisasi

Faktor eksternal merupakan faktor-faktor di luar organisasi yang bisa memengaruhi arah dan tindakan suatu organisasi. Analisis eksternal mengidentifikasi peluang dan ancaman yang menjadi landasan strategi organisasi.

Menurut Pearce dan Robinson (1997), peluang adalah situasi penting yang menguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Ancaman adalah situasi penting yang tidak menguntungkan dalam lingkungan perusahaan.

Analisis lingkungan eksternal merupakan proses mengidentifikasi peluang dan ancaman dari luar organisasi. Lingkungan eksternal meliputi faktor lingkungan jauh dan industri.

1) Lingkungan Jauh

Lingkungan jauh tediri dari faktor-faktor yang bersumber dari luar, biasanya tidak berhubungan dengan situasi operasional organisasi. Lingkungan jauh terdiri atas faktor ekonomi, sosial, politik (kebijakan), teknologi dan lingkungan.

(37)

22 Ekonomi. Faktor ekonomi berkaitan dengan sifat dan arah sistem ekonomi tempat organisasi beroperasi. Faktor ekonomi mempunyai daya tarik langsung pada daya tarik potensial dari berbagai strategi. Faktor ekonomi yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan usaha adalah pola konsumsi, laju inflasi, suku bunga primer (Pearce dan Robinson, 1997). Faktor ekonomi ini dapat membantu atau menghambat upaya mencapai tujuan organisasi dan menyebabkan keberhasilan atau kegagalan organisasi.

Sosial. Keyakinan, nilai, sikap, opini dan gaya hidup masyarakat di lingkungan luar organisasi merupakan faktor sosial yang dapat memengaruhi kinerja. Faktor sosial berkembang dari kondisi kultural atau budaya, lingkungan, dan pendidikan. Perubahan faktor sosial dapat mengubah sikap dan permintaan konsumen terhadap produk organisasi. Atau keyakinan dan nilai sosial masyarakat memengaruhi sikap dan tindakan dalam melakukan usaha atau kegiatan ekonominya.

Kebijakan pemerintah dan politik. Kebijakan pemerintah dan politik dapat memberikan ancaman dan peluang bagi dunia usaha. Kebijakan pemerintah dan politik tersebut dapat berupa undang-undang baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kabupaten yang menentukan beroperasinya suatu usaha. Kebijakan pemerintah dan politik merupakan pertimbangan penting bagi para pemimpin dalam merumuskan strategi organisasi.

Teknologi. Teknologi ini digunakan menghindari keusangan dan mendorong inovasi, organisasi harus mewaspadai perubahan teknologi yang mungkin memengaruhi. Perubahan teknologi secara dramatis akan memberi dampak organisasi. Kekuatan teknologi menggambarkan peluang dan ancaman utama yang harus dipertimbangkan dalam merumuskan strategi. Kemajuan teknologi dapat menciptakan pasar baru, menghasilkan perkembangan produk baru dan lebih baik, menciptakan rangkaian produksi yang lebih baik dan lebih pendek (David, 2004).

Ekologi. Faktor ekologi atau lingkungan merupakan hubungan timbal balik antara aktivitas bisnis organisasi dengan makhluk hidup dan lingkungan abiotik di sekitarnya.

(38)

2) Lingkungan Industri

Menurut Porter dalam David (2004), lingkungan industri meliputi ancaman pendatang baru, ancaman produk substitusi, kekuatan tawar menawar konsumen, kekuatan tawar menawar pemasok dan pesaing. Sifat persaingan dalam suatu industri dapat dilihat sebagai gabungan dari lima kekuatan tersebut.

Suatu perusahaan dalam jangka panjang akan mampu bertahan jika berhasil mengembangkan strategi untuk menghadapi lima kekuatan yang membentuk suatu struktur persaingan dalam industri yang terdiri dari ancaman pendatang baru, kekuatan daya tawar menawar pemasok, kekuatan daya tawar pembeli, ancaman produk substitusi dan persaingan diantara anggota industri.

Ancaman pendatang baru. Ancaman pendatang baru ke suatu industri membawa masuk kapasitas baru, keinginan untuk merebut bagian pasar dan sumberdaya yang cukup besar. Besarnya ancaman dengan masuknya pendatang baru ini tergantung pada hambatan masuk yang ada dan reaksi dari peserta persaingan yang sudah ada. Menurut David (2004), sumber utama hambatan masuk industri diantaranya skala ekonomis, diferensiasi produk, kebutuhan modal, biaya beralih pemasok dan akses saluran distribusi.

Kekuatan tawar menawar konsumen. Konsumen selalu menginginkan kualitas prduk yang tinggi, pelayanan yang baik dan harga yang murah. Menurut Pearce dan Robinson (1997), kekuatan tawar menawar konsumen menjadi kuat apabila konsumen terkonsentrasi atau jumlahnya besar, membeli dalam jumlah banyak, produk tersebut standar, dan konsumen memiliki biaya pengalihan kecil.

Konsumen yang kuat sering dapat menegosiasi harga jual dengan memaksa harga turun, melakukan tawar menawar untuk mutu yang lebih tinggi dan pelayanan yang lebih baik.

Kekuatan tawar menawar pemasok. Kakuatan menawar dari pemasok memengaruhi intensitas persaingan dalam suatu isndustri, terutama kalau jumlah pemasok sedikit, pemasok tidak menghadapi produk pengganti lain (substitusi) untuk dijual kepada industri, produk kelompok pemasok tidak standar, industri bukan merupakan pelanggan penting bagi pemasok (Pearce dan Robinson, 1997).

Ancaman produk substitusi. Perusahaan-perusahaan yang berada dalam suatu industri tertentu akan bersaing pula dengan produk substitusi. Produk

(39)

24 substirttusi dapat memberikan fungsi atau jasa yang sama walaupun karakteristiknya berbeda. Menurut Pearce dan Robinson (1997), produk substitusi ini akan menjadi ancaman apabila kualitasnya sama bahkan lebih tinggi dari produk-produk suatu industri dan dihasilkan oleh industri yang menikmati laba tinggi.

Pesaing. Persaingan diantara perusahaan yang bersaing biasanya paling berpengaruh diantara lima kekuatan. Strategi yang dijalankan oleh salah satu perusahaan dapat berhasil hanya sejauh strategi itu menyediakan keunggulan bersaing atas strategi yang dijalankan oleh perusahaan pesaing. Persaingan ini terjadi karena satu atau lebih pesaing melihat peluang untuk memperbaiki posisi.

Intensitas persaingan cenderung meingkat kalau jumlah pesaing bertambah karena perusahaan yang bersaing menjadi setara dalam ukuran dan kemampuan (David, 2004).

3.1.4. Identitias Faktor-Faktor Internal Organisasi

Faktor internal organisasi merupakan faktor yang memengaruhi arah dan tindakan organisasi yang berasal dari intern organisasi. Analisis internal mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang menjadi landasan bagi strategi organisasi. Menurut Pearce dan Robinson (1997), kekuatan adalah sumberdaya, keterampilan atau keunggulan-keunggulan lain relatif terhadap pesaing dan kebutuhan pasar yang dilayani atau ingin dilayani perusahaan. Kelemahan adalah kekurangan atau keterbasan dalam sumberdaya, keterampilan dan kapabilitas yang secara serius menghambat kinerja efektif perusahaan.

Menajemen. Fungsi manajemen terdiri dari lima aktivitas dasar yaitu perencanaan, pengorganisasian, pemotivasian, penunjukkan staf dan pengendalian (David, 2004). Perencanaan terdiri dari semua aktivitas manajerial yang berkaitan dengan persiapan menghadapi masa depan. Tugas spesifik dari perencanaan ini meliputi meramalkan, menetapkan, sasaran, menetapkan strategi dan mengembangkan kebijakan. Pengorganisasin berkaitan dengan semua aktivitas manajerial yang menghasilkan struktur tugas dan hubungan wewenang. Fungsi pengorganisasi ini berkaitan dengan desain organisasi, spesialisasi pekerjaan, uraian pekerjaan, spesifikasi pekerjaan, rentang kendali, kesatuan komando,

Referensi

Dokumen terkait

hidroxyapatit menggunakan Metode Hidrotermal suhu rendah mengatakan bahwa semakin lama waktu reaksi, maka semakin tinggi konsentrasi hidroxyapatit dengan batasan

Populasi penelitian ini adalah korporasi-korporasigo public yangterdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII).Sampel dalam penelitian ini sendiri adalah

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian RCT yang dilakukan oleh Sinha di India yang menemukan bahwa secara umum rate kegagalan terapi ARV dua kali lebih cepat

Balance sheet (atio > neraca. -ikuiditas adalah kemampuan suatu bank untuk melunasi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi dengan alat % alat yang

Se0ia8 ba!an memiliki efisiensi 2ari sera0 o80ik 'ang berbe2a.. Karena ben0uk ba!an

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada analisis data mengenai hasil kemampuan menyimak berita siswa kelas VIII SMPN 6 Kota Bengkulu Tahun 2019 berdasarkan

transaksi bisnis online yang dilakukan dalam 3 bulan terakhir, jumlah interaksi dengan customer service dalam 3 bulan terakhir, kategori produk atau jasa yang dibeli

ERP (Enterprise Resource Planning) merupakan sebuah sistem informasi yang diperuntukan bagi perusahaan barang maupun jasa yang berperan untuk mengintegrasikan proses bisnis