1 PENDAHULUAN
Sumber pembiayaan daerah tidak hanya berasal dari pemerintah pusat saja tetapi juga dari daerahnya sendiri. Berlakunya Otonomi Daerah berdampak pada kepemilikan hak dan wewenang untuk menggali sumber pendapatan yang ada di daerahnya masing-masing. Sesuai (Undang-Undang No. 32 tahun 2004) tentang Pemerintah Daerah, Pendapatan daerah merupakan semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Salah satu pos Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) adalah pajak daerah. Menurut (Peraturan Daerah Kota Salatiga No. 11 tahun 2011) tentang Pajak Daerah, Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Jenis-jenis pajak daerah adalah Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Parkir, Pajak Sarang Burung Walet. Berikut adalah kontribusi pajak daerah Kota Salatiga pada tahun 2014 berdasarkan jenisnya:
Grafik 1. Kontribusi Pendapatan Asli Daerah berdasarkan jenis-jenis Pajak Daerah Tahun 2014 Kota Salatiga
Sumber : Suara Merdeka (Senin, 20 Oktober 2014), halaman 30
Dari ke sembilan jenis Pajak Daerah tersebut yang berkontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Salatiga adalah Pajak Penerangan Jalan. Nilainya hampir mencapai sembilan miliar rupiah atau menyumbang sebesar 67% dari jumlah total Pendapatan Asli Daerah. Diurutan kedua ditempati oleh Pajak Hotel sebesar satu koma enam
2
miliar rupiah, disusul Pajak Reklame pada urutan ketiga dengan satu koma dua miliar rupiah.
Berikut jumlah penerimaan Pajak Daerah Kota Salatiga berdasarkan urutan tiga kontibusi tertinggi dalam periode 2010-2015.
Tabel 1. Penerimaan Pajak Daerah Berdasarkan Urutan Tiga Kontribusi Teringgi Kota Salatiga Tahun 2010-2015
Tahun Pajak Penerangan Jalan
% Kenaikan
atau Penurunan
Pajak Hotel
% Kenaikan
atau Penurunan
Pajak Reklame
% Kenaikan
atau Penurunan 2010 Rp6.671.775.228 Rp1.103.482.000 Rp532.240.426
17,5 11 64,9
2011 Rp7.836.847.373 Rp1.224.900.000 Rp877.640.433
9,21 19,8 6,51
2012 Rp8.558.521.072 Rp1.467.828.000 Rp934.797.255
15,2 13,5 61,6
2013 Rp9.857.052.569 Rp1.666.581.000 Rp1.506.036.761
19,7 52,6 -17
2014 Rp11.800.942.388 Rp2.543.318.600 Rp1.255.476.523
15 18,1 10,8
2015 Rp13.567.696.370 Rp3.003.946.600 Rp1.391.583.425
Sumber : BKD Kota Salatiga
Ketiga jenis penerimaan tertinggi pajak daerah mengalami fluktuasi dari tahun ketahun. Tren positif terjadi pada penerimaan pajak Penerangan Jalan dan pajak Hotel, keduanya mengalami kenaikan pada setiap tahunnya dan belum ditemukannya kendala pada kedua jenis pajak tersebut. Sedangkan pada pajak Reklame terjadi penurunan di periode 2013-2014. Meskipun terjadi penurunan terdapat optimisme jika dilihat dari tren yang menunjukan kenaikan ditahun-tahun sebelumnya. Berikut Grafik tren Realisasi Pajak Reklame Kota Salatiga dari tahun 2010 hingga 2016.
Grafik 2. Penerimaan Pajak Reklame Tahun 2010-2016 Kota Salatiga Sumber : BKD Kota Salatiga
Dari data pada tabel 1 terjadi kenaikan secara signifikan penerimaan pajak reklame pada tahun 2013 sebesar 61%, namun pada tahun 2014 penerimaan pajak reklame mengalami penurunan 17%. Menurut Dewi (2004) kenaikan disebabkan karena adanya pemanfaatan jasa
3
reklame secara masif dalam pemasangan atribut parpol pada pemilihan Gubernur Jawa Tengah, sedangkan penurunan pada tahun berikutnya disebabkan oleh kurangnya kesadaran masyarakat untuk membayar pajak dan ketidakefektifan dalam pemungutan pajak reklame.
Hasil wawancara dengan kepala Bidang Pendapatan Badan Keuangan Daerah Kota Salatiga menyatakan adanya perbedaan perhitungan jumlah reklame bermasalah, baik lewat perhitungan Badan Keuangan Daerah maupun bidang lain dalam hal ini Satuan Polisi Pamong Praja. Pihak BKD menyatakan bahwa jumlah reklame bermasalah dihitung berdasarkan jumlah nominal Pajak Reklame terutang yang hingga jatuh tempo pembayaran tidak mendapatkan tanggapan oleh wajib pajak. Untuk arsip reklame yang mendapat teguran dari BKD hanya memperhitungkan Reklame Permanen saja, mengingat reklame insidentil sulit melacak kepemilikannya dan juga minim kontibusi. Sebaliknya SATPOL PP mencatat berdasarkan jumlah Reklame Permanen dan Insidentil melalui pertimbangan ketidaksesuaian dengan ketentuan baik dari segi izin, tata letak, tinggi, bentuk serta materi reklame. Berikut data jumlah reklame permanen yang mendapat teguran menurut BKD dan SATPOL PP periode 2011-2016.
Tabel 2. Jumlah Reklame yang Mendapat Teguran
Badan Keuangan
Daerah SATPOL PP
Periode Jumlah
Teguran Periode Jumlah Teguran
2011-2012 68 2011 - 2012 573 2012-2013 4 2012 - 2013 790 2013-2014 117 2013 - 2014 95 2014-2015 60 2014 - 2015 791 2015-2016 18 2015 - 2016 50
Sumber : BKD dan SATPOL PP Kota Salatiga
Jumlah reklame bermasalah di Kota Salatiga juga terus terjadi setiap tahunnya. Dari Tabel 2 terdapat perbedaan jumlah reklame yang bermasalah. Perbedaan jumlah reklame yang bermasalah menunjukkan indikasi bahwa adanya ketidakefektifan dalam pendataan.
Jika terus berlanjut penerimaan pajak menjadi tidak optimal, dikarenakan masih terdapat pajak yang belum diterima dari beda pedataan tersebut. Walaupun pada tabel 1. terjadi penurunan penerimaan pajak reklame tahun 2014, ditahun-tahun mendatang diprediksi akan terjadi kenaikan, karena jumlah penduduk kota Salatiga meningkat tiap tahunnya, termasuk
4
diantaranya adalah penduduk yang berdatangan ke Kota Salatiga. Hal ini karena di Salatiga terdapat universitas, perguruan tinggi, serta sekolah menengah yang berkualitas dan berstandar internasional, selain itu juga terdapat beberapa industri baik skala sedang maupun besar. Hal ini dapat menarik para produsen dan investor untuk lebih giat dalam memasarkan produk atau kegiatan lewat jasa reklame. Selain itu kenaikan juga dapat dipicu akan ketersediaanya fasilitas tol baru dan peningkatan iklim investasi dalam industri skala sedang maupun besar dibeberapa wilayah di kota Salatiga. Hal ini dapat dilihat dari tabel pertumbuhan ekonomi Kota Salatiga tahun 2010-2014.
Rp 5.845.475,81
Rp 6.230.219,49
Rp 6.574.907,26
Rp 6.986.909,99
Rp 7.322.580,36
2010 2011 2012 2013* 2014**
PDRB
Grafik 3. PDRB Menurut Lapangan Usaha atas Dasar Harga Konstan 2010, Kota Salatiga Tahun 2010-2014
Sumber : BPS Kota Salatiga
Salatiga adalah salah satu kota di provinsi Jawa Tengah yang secara administrasi di kelilingi oleh wilayah Kabupaten Semarang. Kota yang relatif kecil ini mengalami kenaikan penduduk tiap tahun dapat dilihat dari gambar berikut ini:
Grafik 4. Jumlah Penduduk Kota Salatiga Tahun 2007-2013 Sumber : BPS Kota Salatiga
5
Dalam menyelenggarakan urusan-urusan yang menyangkut bidang pendapatan daerah sangat diperlukan keberadaan Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Salatiga sebagai instansi pemerintah yang berperan untuk membantu pelaksanaan pembangunan daerah. Salah satu upaya BKD Kota Salatiga yaitu memaksimalkan pengelolaan penagihan piutang dan penerimaan pajak kepada wajib pajak atau penanggung pajak. Pengelolaan penagihan piutang dan penerimaan pajak meliputi pendaftaran, pendataan, penilaian, penetapan, pembayaran, penyetoran, dan penagihan pajak. Menurut PP Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah yang dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah atau dibayar sendiri oleh Wajib Pajak pemungutan pajak reklame dilakukan dengan cara Official Assessment. Jenis Pajak Daerah yang dipungut berdasarkan penetapan Kepala Daerah (Official Assessment) memiliki beberapa kelemahan antara lain: Wajib Pajak bersifat pasif sehingga wajib pajak kurang mendapatkan pemahaman dan pembinaan terhadap kewajiban pajak, Utang pajak timbul setelah terbitnya Surat Ketetapan Pajak oleh Fiskus, hal ini dapat menimbulkan kesewenagan dari aparat pajak dan rentan kecurangan dari pihak penghitung pajak karena perhitungan besaran pajak sangat dimungkinkan untuk melakukan tawar menawar.
Hasil penelitian Dewi (2014) menunjukan bahwa terdapat kendala lain dalam pemungutan pajak reklame yaitu berupa adanya penyalahgunaan wewenang oleh beberapa pihak yang berkuasa agar mendapat keringanan sampai dengan terbebas dari membayar pajak, sehingga memicu berkurangnya penerimaan Pajak Reklame, terlebih dari hasil sewa untuk atribut parpol. Hal ini bisa menjadi indikasi dari diskripsi pada tabel 1 dan tabel 2, dimana terdapat penurunan jumlah realisasi penerimaan Reklame periode 2013-2014 akibat dari banyaknya reklame bermasalah pada periode tersebut. Selain itu terdapat pencatatan yang terlewatkan yaitu jika terjadi pencopotan reklame. Reklame yang tidak berijin dalam bentuk kain akan langsung diberi tindakan pencopotan namun tidak didata dan ditelusur pemilik dari reklame tersebut. Hal ini dapat menjadikan adanya potensi yang terbuang. Masih banyaknya jumlah reklame tak berijin dan masih terdapat potensi penerimaan yang luput dari pemungutan pajak. Dengan Pengendalian Internal yang baik akan memaksimalkan peran untuk menjaga aset Pemerintah Kota Salatiga dari kerugian, memeriksa ketelitian dan kebenaran akuntansi, mendorong efisiensi serta mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen, termasuk tujuan kinerja operasional dan keuangan.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengendalian Intern pada sistem pemungutan pajak reklame yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan pendapatan asli daerah. Oleh karena itu dalam
6
penelitian ini penulis mengambil judul: “Analisis Pengendalian Intern pada Sistem Pengelolaan Pajak Reklame Kota Salatiga.” Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka dalam penelitian ini persoalan yang perlu di teliti adalah “Bagaimanakah pengendalian intern Badan Keuangan Daerah Kota Salatiga dalam sistem pengelolaan pajak reklame.”
Tujuan penelitian ini adalah 1) untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan wewenang dalam prosedur pengelolaan pajak reklame oleh Badan Keuangan Daerah kota Salatiga atau pihak terkait lain yang ikut berwenang dan 2) memastikan Pengendalian Intern BKD berjalan sesuai standar sistem pengendalian intern yang berlaku, sehingga minimal tercapai target yang telah dianggaran pada setiap tahun. Manfaat dari penelitian ini: 1) Bagi Pemerintah Daerah, diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran untik meningkatkan kinerja yang baik dalam pengelolaan aset daerah khususnya pajak daerah. 2) Bagi Masyarakat, diharapkan dapat digunakan sebagai informasi agar masyarakat mempunyai kesadaran akan pentingnya membayar pajak.
7 TELAAH PUSTAKA
Pajak Daerah
Menurut Pasal 1 angka 10 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah, yang dimaksud dengan pajak daerah adalah “kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”
Pajak Reklame
Menurut Pasal 1 angka 26 dan 27 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Restribusi Daerah, Pajak Reklame adalah “pajak atas penyelenggaraan reklame. Sedangkan yang dimaksud dengan reklame adalah benda, alat, perbuatan, atau media yang bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau untuk menarik perhatian umum terhadap barang, jasa, orang, atau badan yang dapat dilihat, dibaca, didengar, dirasakan, dan/atau dinikmati oleh umum.”
Pengendalian Intern
Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (2013:3) mendefinisikan pengendalian internal sebagai berikut:
“Internal control is a process, effected by an entity’s board of directors, manage-ment, and other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives relating to operations, reporting, and compliance”
Memperhatikan pengertian pengendalian internal menurut COSO tersebut, dapat dipahami bahwa pengendalian internal adalah proses, karena hal tersebut menembus kegiatan operasional organisasi dan merupakan bagian intergral dari kegiatan manajemen dasar.
8
Dikemukakan dalam Standar Profesional Akuntan Publik (2001:Seksi 319.2001), di mana dinyatakan pengertian pengendalian internal sebagai berikut:
“Pengendalian Intern adalah sebuah proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen dan personel lain yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini:
(a)
keandalan pelaporan,(b)
efektivitas dan efisiensi operasi dan,(c)
ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.”Tujuan Pengendalian Internal
COSO (2013:3) dalam framework terbarunya menyatakan mengenai tujuan-tujuan pengendalian internal sebagai berikut :
“The Framework provides for three categories of objectives, which allow organizations to focus on differing aspects of internal control:
1. Operations Objectives—These pertain to effectiveness and efficiency of the entity’s operations, including operational and financial performance
goals, and safeguarding assets against loss.
2. Reporting Objectives—These pertain to internal and external financial and non-financial reporting and may encompass reliability, timeliness, transparency, or other terms as set forth by regulators, recognized standard setters, or the entity’s policies.
3. Compliance Objectives—These pertain to adherence to laws and regulations to which the entity is subject.”
Berdasarkan COSO pengendalian internal ditujukan untuk mencapai tiga kategori tujuan yang memungkinkan organisasi untuk fokus pada aspek pengendalian internal yang berbeda, yang mencakup tujuan-tujuan operasi, tujuan-tujuan pelaporan, dan tujuan-tujuan ketaatan. Tujuan-tujuan operasi berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi operasi entitas, termasuk tujuan kinerja operasional dan keuangan, dan untuk menjaga aset dari kerugian.
Tujuan-tujuan pelaporan berkaitan dengan kepentingan pelaporan keuangan baik untuk kalangan internal maupun eksternal yang memenuhi kriteria andal, tepat waktu, transparan dan persyaratan-persyaratan lain yang ditetapkan oleh pemerintah, pembuat-pembuat standar yang
9
diakui, ataupun kebijakan-kebijakan entitas. Sementara itu, tujuan-tujuan ketaatan berkaitan dengan ketaatan terhadap hukum dan peraturan dengan mana entitas merupakan subjeknya.
Sistem Pengendalian Internal Pemerintah
Menurut (Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008) tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, yang dimaksud dengan Sistem Pengendalian Internal adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Sedangkan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, yang selanjutnya disingkat SPIP, adalah Sistem Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Komponen Pengendalian Internal
Terdapat lima komponen pengendalian internal menurut Commitee Of Sponsoring Organization (2013:3) yang saling berhubungan:
1. Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian terdiri dari faktor-faktor berikut ini:
- Komitmen atas integritas dan nilai-nilai etika Pengendalian
Ini berhubungan dengan kompetensi setiap pegawai dan tingkat kesadaran pegawai dalam bekerja yang diekspresikan dalam sikap maupun tingkah lakunya. Setiap pegawai harus mencerminkan nilai-nilai etika seperti bertindak jujur dan bertangung jawab serta tegas untuk memberikan sanksi terhadap pegawai jika terdapat melakukan pelanggaran.
- Filosofi pihak manajemen dan gaya beroperasi
Semakin bertanggung jawab filosofi pihak manajemen dan gaya beroperasi mereka, maka semakin besar kemungkinan pegawai bertanggung jawab dalam usaha untuk mencapai tujuan organisasi.
- Struktur organisasional
Struktur organisasi perusahaan menetapkan garis otoritas dan tanggung jawab, serta menyediakan kerangka umum untuk perencanaan, pengarahan, dan pengendalian operasinya.
10 - Badan audit dewan komisaris
Komite audit bertanggung jawab untuk mengawasi struktur pengendalian intern perusahaan, proses pelaporannya, dan kepatuhan terhadap hukum, peraturan dan standar yang terkait.
- Metode untuk memberikan otoritas dan tanggung jawab
Otoritas dan tanggung jawab dapat diberikan melalui deskripsi pekerjaan secara formal, pelatihan pegawai dan rencana operasioanl, jadwal dan anggaran. Salah satu alat yang penting untuk memberikan otoritas dan tanggung jawab adalah buku pedoman kebijakan dan prosedur.
- Kebijakan dan praktik-praktik dalam sumber daya manusia
Pengendalian ini behubungan dengan pelatihan, evaluasi, dan promosi pegawai. Para pegawai harus mendapatkan pelatihan agar lebih memahami tugas dan tanggung jawab serta prosedur organisasi. Pegawai juga dapat dipromosikan berdasarkan seberapa baik tingkat kinerja mereka, atau bila perlu pegawai diberikan penghargaan atas kinerja mereka yang baik sehingga pegawai semakin termotivasi dan loyal terhadap pekerjaannya
2. Aktivitas Pengendalian
Kebijakan dan prosedur pengendalian merupakan aktivitas pengendalian yang harus dibuat dan dilaksanakan untuk membantu memastikan bahwa tindakan yang diidentifikasi oleh pihak manajemen untuk mengatasi risiko pencapaian tujuan organisasi, dijalankan secara efektif. Secara umum, prosedur pengendalian adalah sebagai berikut:
- Otorisasi yang memadai
Tujuan dalam pengotorisasian yang memadai adalah untuk menjamin bahwa kejadian-kejadian atau transaksi-transaksi telah diotorisasi oleh pihak manajemen yang berwenang.
- Pemisahan tugas
Tugas-tugas dipandang tidak bisa dirangkap dari sudut pengendalian apabila terdapat kemungkinan seseorang melakukan kekeliruan. Pemisahan tugas dapat meningkatkan efisiensi dalam melaksanakan pekerjaan.
- Desain dan penggunaan dokumen serta catatan yang memadai
Dokumen dan catatan merupakan bukti atas kejadian maupun transaksi.
Contoh dokumen maupun catatan adalah formulir, faktur, blangko, cek dan surat-surat penting lainnya. Dokumen yang bernomor urut juga bermanfaat
11
dalam pengendalian. Dokumen dan catatan yang memadai dapat memberikan informasi yang relevan.
- Penjagaan aset dan catatan yang memadai
Pengendalian ini berhubungan dengan alat-alat atau aturan pengamanan atas aktiva, dokumen-dokumen, catatan-catatan, dan program komputer atau file.
Aktivita ini juga meliputi perhitungan aktiva secara periodik dan membandingkannya dengan jumlah yang tercantum dalam catatan.
- Pemeriksaan independen atas kinerja
Pemeriksaan atau pengecekan independen berhubungan dengan verifikasi atas pekerjaan yang dilakukan sebelumnya oleh orang lain atau bagian lain, atau kebenaran penilaian dari jumlah yang dicatat.
3. Penilaian Resiko
Penilaian terhadap risiko menggunakan langkah-langkah strategi sebagai berikut:
- Perkiraan risiko
Risiko yang besar dapat disebabkan karena probabilitas kemunculan risiko tersebut lebih besar, sebaliknya risiko yang kecil disebabkan probabilitas kemunculan risiko tersebut juga rendah.
- Identifikasi pengendalian
Ada tiga fungsi pengendalian internal yaitu pengendalian pencegahan (preventive control), pengendalian pemeriksaan (detective control) dan pengendalian korektif (corrective control) yang bertujuaan untuk melindungi dari risiko. Untuk mengidentifikasi pengendalian pihak manajemen perlu mempertimbangkan keefektifan dan waktunya. Ketiga pengendalian ini saling melengkapi dan sistem pengendalian internal yang baik perlu menggunakan ketiga pengendalian ini.
4. Informasi dan Komunikasi
Komponen ini menjelaskan bahwa informasi dan komunikasi memungkinkan orang-orang dalam organisasi untuk mendapatkan dan bertukar informasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan, mengelolah, dan mengendalikan operasinya.
- Informasi yang relevan
Perlunya menggunakan informasi yang relevan selain membantu meningkatkan pengendalian juga dapat memberikan informasi keuangan yang andal sehingga laporan keuangan dapat disajikan dengan tepat.
- Komunikasi dengan pihak dalam dan luar organisasi
12
Komunikasi antar pihak dalam dan luar organisasi berfokus kepada penyampaian permasalahan atas pengendalian internal. Jika ada masalah atau keluhan dari dalam maupun dari luar organisasi dapat dikomunikasikan dengan baik.
5. Pengawasan
Komponen ini menjelaskan bahwa seluruh proses harus diawasi, proses yang menentukan kualitas kinerja pengendalian internal sepanjang waktu Proses ini dilaksanakan melalui kegiatan yang berlangsung secara terus menerus, dan melakukan evaluasi secara terpisah. Metode yang utama dalam mengawasi kinerja yaitu supervisi yang efektif, pelaporan yang bertanggung jawab dan audit internal.
- Supervisi yang efektif
Supervisi yang efektif mencakup melatih dan mendampingi pegawai, mengoreksi kesalahan, dan melindungi aset dengan cara mengawasi pegawai yang memiliki akses ke hal-hal tersebut.
- Pelaporan yang bertanggung jawab
Laporan kinerja yang membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang direncanakan.
- Audit internal
Audit internal mencakup peninjauan ulang keandalan dan integritas informasi keuangan dan operasional serta menyediakan penilaian keefektifan pengendalian internal.
13 METODE PENELITIAN
Satuan Pengamatan dan Analisis
Satuan pengamatan adalah sesuatu yang dijadikan sumber untuk memperoleh data dalam rangka menggambarkan atau menjelaskan tentang satuan analisis (Ihalauw, 2003). Satuan pengamatan dalam penelitian ini adalah pengendalian intern sistem pengelolaan pajak reklame kota Salatiga. sedangkan satuan analisis merupakan hakekat dari populasi yang tentangnya hasil penelitian berlaku (Ihalauw, 2003). Satuan analisis dalam penelitian ini adalah kantor Bidang Pendapatan Badan Keuangan Daerah Kota Salatiga. Objek Penelitian ini adalah di Badan Keuangan Daerah Kota Salatiga, beralamat di Jl. Letjen. Sukowati, No.51, Salatiga.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif melalui pendekatan studi kasus pada Badan Keuangan Daerah Kota Salatiga.
Metode deskriptif adalah penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu objek yang meliputi kegiatan penilaian sikap atau pendapat terhadap individu, organisasi, keadaan, ataupun prosedur (Sangadji dan Sopiah, 2010: 21).
Sumber Data
Sumber data primer diperoleh langsung dari pegawai Bidang Pendapatan Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Salatiga dengan melakukan wawancara dan observasi untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengendalian intern sistem pengelolaan pajak reklame di Badan Keuangan Daerah kota Salatiga. Sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari beberapa dokumen mengenai mekasnisme pajak reklame, sistem dan prosedur pemungutan pajak reklame serta catatan atau laporan historis BKD Kota Salatiga, Blanko Pendaftaran, Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD), Surat Tagihan, Surat Teguran, dan Laporan realisasi penerimaan pajak daerah dan target penerimaan pajak daerah Kota Salatiga, Peraturan Daerah dan Peraturan Walikota yang berlaku berkaitan dengan pajak daerah khususnya pajak reklame, dan data Pengendalian Intern yang diterapkan oleh BKD.
14 Langkah Analisis
Langkah analisis dilakukan dengan mempelajari peraturan yang berkaitan dengan sistem pengelolaan Pajak Reklame yang meliputi:
1. Mengidentifikasi mekanisme pajak reklame sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Salatiga No. 11 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah,
2. Mengidentifikasi Sistem dan Prosedur pemungutan pajak reklame sesuai dengan Peraturan Walikota Salatiga nomor 39 tahun 2014 tentang Sistem dan Prosedur Pemungutan Pajak Daerah, dan
3. Mengevaluasi Sistem Pengendalian Intern penagihan piutang pajak reklame yang diterapakan oleh Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Salatiga dengan melakukan evaluasi pengendalian intern yang berlaku pada BKD dalam penagihan piutang pajak reklame. Analisis dan evaluasi dilakukan lewat pendekatan lima komponen pengendalian internal menurut Commitee Of Sponsoring Organization meliputi:
a. Lingkungan Pengendalian, b. Aktivitas Pengendalian, c. Penilaian Resiko,
d. Informasi dan Komunikasi, dan e. Pengawasan.
15 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Mekanisme Pajak Reklame
Mekanisme pajak reklame diatur menurut Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 11 tahun 2011 tentang Pajak Daerah. Dalam peraturan tersebut telah dijelaskan secara rinci mengenai dasar pemungutan, subjek, dan tarif pajak reklame di Kota Salatiga. Berikut mekanisme pajak reklame:
a. Berkas permohonan disampaikan ke loket pelayanan umum Satu Atap;
b. Petugas loket meneliti kelengkapan data;
c. Pencatatan dalam buku registrasi;
d. Rapat Tim Terpadu;
e. Peninjauan lapangan;
f. Evaluasi hasil rapat (ditolak/diizinkan);
g. Perhitungan pajak yang harus dibayar pemohon;
h. Penerbitan SPP Reklame;
i. Pembayaran pajak reklame di loket Bank Jateng;
j. Penerbitan Surat Izin Pemasangan Reklame;
k. Menyerahkan Izin kepada Pemohon melalui loket Unit pelayanan umum satu atap.
Sesuai Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Pajak Daerah, dasar pengenaan pajak reklame tercantum dalam pasal 24 menyebutkan bahwa:
a. Dasar pengenaan pajak reklame adalah nilai sewa reklame.
b. Nilai sewa reklame dihitung dengan cara menjumlahkan Nilai Jual Objek Pajak Reklame dan Nilai Strategis Penyelenggaraan Reklame.
c. Perhitungan Nilai Sewa Reklame ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah.
Menurut Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Pajak Daerah, tarif pajak reklame tercantum dalam pasal 25, tarif pajak reklame ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima persen).
16 Sistem dan Prosedur Pajak Reklame
Sistem dan Prosedur Pemungutan Pajak Daerah adalah suatu rangkaian kegiatan dimulai dari penghimpunan data Objek Pajak dan Subjek Pajak, penentuan besarnya Pajak yang terutang sampai dengan kegiatan penagihan pajak kepada Wajib Pajak serta pengawasan penyetorannya.
Pajak Reklame merupakan pajak yang di bayar berdasrkan penetapan Walikota.
Sistem Pajak yang dibayar berdasarkan penetapan Walikota (Official Assesment) adalah tata cara pengenaan Pajak dibayar oleh Wajib Pajak setelah terlebih dahulu ditetapkan oleh Walikota melalui Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) atau dokumen lain yang dipersamakan.
Uraian Sistem dan Prosedur Pajak yang dibayar berdasarkan penetapan Walikota (Official Assesment) tercantum dalam Peraturan Wali Kota Salatiga Nomor 39 tahun 2014.
Di dalamnya mencangkup tata cara pendaftaran, pendataan, penilaian, penetapan, pembayaran, penyetoran, hingga penaggihan. Berikut uraiannya:
A. Tata Cara Pendaftaran dan Pendataan Pajak
Pendaftaran dan pendataan pajak reklame menjadi wewenag dan fungsi bidang Pendaftaran dan Pendataan (Dafda). Tata caranya diuraikan menjadi:secara kewajiban (sukarela) dan jabatan (peraturan), penjelasan lihat pada flowchart di Lampiran 22 dan 23, atau berikut narasinya:
1. Tata Cara Pendaftaran Pajak
a. Pendaftaran untuk jenis Pajak yang dibayar berdasarkan penetapan Walikota (Official Assesment) dilakukan dengan tata cara sebagai berikut:
1) Kegiatan pencatatan pertama kali bagi perorangan atau badan yang mendaftarkan dirinya sebagai Subjek Pajak atau Wajib Pajak dengan cara:
a. mengisi Formulir Pendaftaran dan/atau Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) secara lengkap dan benar serta ditanda tangani oleh Wajib Pajak;
b). Wajib Pajak menyerahkan formulir pendaftaran dan/atau SPTPD baik secara langsung ke Petugas maupun mendatangi Dinas.
17
2) kegiatan pendaftaran berdasarkan penjaringan Objek Pajak oleh petugas dilapangan, dengan cara:
a) petugas menyerahkan formulir pendaftaran dan/atau SPTPD kepada Wajib Pajak;
b) Wajib Pajak mengisi Formulir Pendaftaran dan/atau SPTPD secara lengkap dan benar serta ditanda tangani oleh Wajib Pajak;
c) Wajib Pajak menyerahkan formulir pendaftaran dan/atau SPTPD baik secara langsung ke Petugas maupu mendatangi ke Dinas.
b. berdasarkan isian formulir pendaftaran, Kepala Dinas atau Pejabat yang ditunjuk menerbitkan surat Pengukuhan Wajib Pajak yang digunakan sebagai dasar penerbitan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWPD).
c. Surat Pengukuhan Wajib Pajak dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWPD) diserahkan kepada Wajib Pajak.
d. khusus Wajib Pajak Reklame insindentil tidak diterbitkan Surat Pengukuhan Wajib Pajak dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWPD), tetapi tetap dicatat dalam register pendaftaran Wajib Pajak.
2. Tata Cara Pendataan Pajak
Petelah proses pendaftaran dilakukan pendataan pajak reklame kegiatannya diuraikan sebagai berikut:
a. pendataan untuk jenis pajak yang dibayar berdasarkan penetapan walikota (Official Assessment) adalah kegiatan untuk memperoleh data berkenaan dengan identifikasi Objek Pajak, Subjek Pajak, Wajib Pajak dan dasar pengenaan Pajaknya;
b. pendataan sebagaimana dimaksud pada huruf a berkenaan dengan kegiatan pemasangan, pembongkaran dan penertiban reklame;
3. Pemeriksaan administrasi dilaksanakan dengan cara memverifikasi isian SPTPD menyangkut kelengkapan dan kebenaran data;
4. SPTPD yang telah diverifikasi selanjutnya dilakukan perekaman data kedalam sistem aplikasi.
18
B. Tata Cara Penilaian dan Penetapan Pajak
Penilaian pajak dilaksanakan untuk menentukan besaran pokok Pajak Terutang; dan/atau memastikan kesesuaian Objek Pajak dengan isian SPTPD, untuk flowchart pada lampiran 24 sedangkan narasinya sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil penilaian ditetapakan besaran pokok Pajak terutang dengan SKPD yang memuat jatuh tempo pembayaran yaitu 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak ditrebitkannya SKPD.
2. Dalam hal setelah diterbitkannya SKPD terjadi perubahan dan/atau ketidaksesuaian Objek Pajak dengan kondisi di lapangan yang mengakibatkan bertambahnya jumlah pokok Pajak terutang, selanjutnya diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) yang memuat jatuh tempo pembayaran yaitu 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak diterbitkannya SKPDKB.
3. Dalam hal ini setalah diterbitkan SKPDKB terjadi perubhan dan/atau ketidaksesuaian Objek Pajak dengan kondisi yang ada ddilapangan yang mengakibatkan jumlah pokok pajak terutang, selanjutnya diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) yang memuat jatuh tempo pembayaran yaitu 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak diterbitkannya SKPDKBT.
4. Penerbitan SKPD, SKPDKB dan SKPDKBT dilakukan oleh Kepala Dinas atau Kepala Bidang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
C. Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pajak
Tata cara pembayaran dan penyetoran melibatkan beberpa pihak. Untuk penjelasan flowchart ada di Lampiran 25, sedangkan narasi Tata cara pembayaran dan penyetoran pajak sebagi berikut:
1. Pembayaran dilakukan dengan menggunakan SKPD, SKPDKB dan SKPDKBT;
2. Pembayaran Pajak dilaksanakan di Kas Umum Daerah melalui Bendahar aPenerimaan, Bank atau tempat Lain yang ditunjuk;
3. Pembayaran diberikan tanda bukti pembayaran berupa Surat Setoran Pajak Daerah (SSPD) dalam rangkap 6 (enam), sebagai berikut :
a) Lembar 1 untuk wajib pajak;
b) Lembar 2 untuk bendahara penerimaan;
19
c) Lembar 3 untuk bidang akuntansi;
d) Lembar 4 untuk bidang penagihan;
e) Lembar 5 bank penerima; dan
f) Lembar 6 unutk bidang verifikasi bendahara;
4. Bendahara penerimaan wajib menyetorkan hasil penerimaan Pajak paling lambat 1 (satu) hari kerj asejak diterimanya pembayaran Pajak.
D. Tata Cara Penagihan Pajak
Flowchart penagihan pajak dapat dilihat di Lampiran 26. Berikut ini uraian tata cara penagihan pajak:
1. Dalam hal sampai dengan jatuh tempo pembayaran yang tercantum dalam SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, Wajib Pajak belum melunasi kewajibananya maka diterbitkan Surat Tagihan Pajak Daerah (STPD).
2. Penerbitan STPD dilakukan oleh Kepala Dinas atau Kepala Bidang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
3. STPD dibuat dalam rangkap 2 (dua), masing-masing untuk Wajib Pajak dan arsip pejabat yang ditunjuk.
4. Apabila Wajib Pajak tidak membayar Pajak terutang sampai dengan 14 (empat belas) hari terhitung sejak diterbitkannya STPD, maka Kepala Dinas atau Kepala Bidang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya menerbitkan Surat Teguran sebanyak 3 (tiga) kali secara berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 7 (tujuh) hari.
5. Apabila Wajib Pajak tidak membayar Pajak Terutang sampai dengan batas waktu dalam Surat Teguran kali ketiga, dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Analisis dan Evaluasi Pengendalian Intern
Menganalisis Sistem Pengendalian Intern penagihan piutang pajak reklame yang diterapakan oleh Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Salatiga dengan melakukan evaluasi pengendalian intern yang berlaku pada BKD dalam penagihan piutang pajak reklame.
Analisis dan evaluasi dilakukan lewat pendekatan lima komponen pengendalian internal menurut Commitee Of Sponsoring Organization (COSO). Berikut ini analisis komponen lingkungan pengendalian:
20
Tabel 3 Rangkuman Analisis Penerapan Pengendalian Internal pada Sistem Pemungutan Pajak Reklame Berdasarkan Pengendalian Internal COSO pada Komponen Lingkungan Pengendalian
Elemen Komponen Lingkungan Pengendalian
Teori Praktik Pengendalian
yang Dilaksanakan BKD
Sesuai / Tidak Sesuai
Ket.
Struktur Organisasi
Struktur organisasi harus disajikan secara eksplisit dalam bentuk grafis agar jelas siapa bertanggung jawab atas apa.
Struktur Organisasi telah memuat secara jelas garis wewenang dan tanggung jawab masing-masing fungsi pada Perwali Kota Salatiga nomor 48 tahun 2016.
Sesuai Lampiran 1 &
Lampiran 4
Komitmen terhadap integritas dan nilai-nilai etika
Manajemen harus menciptakan budaya organisasi yang menekankan pada integritas dan nilai-nilai etika.
Melakukan briefing dalam beberapa kegiatan penting, mengadakan rapat bulanan POK / rapat evaluasi bidang
Sesuai Lampiran 2
Peraturan dan kode etik karyawan
Manajemen harus
mempunyai peraturan dan kode etik secara tertulis agar karyawan
mengetahui aktifitas yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
Komunikasi standar prilaku pegawai dinyatakan melalui kebijakan dan aturan pelaksanaannya melalui Perwali Kota Salatiga nomor 39 tahun 2014 tentang Sistem dan Prosedur Pemungutan Pajak Daerah dan Pakta Pelayanan.
Secara tidak tertulis lewat disiplin budaya kerja dan memberi teladan yang baik
Sesuai Lampiran 3
&
Lampiran 5
Komitmen terhadap kompetensi
Perusahaan harus merekrut karyawan yang kompeten dan dapat dipercaya guna mendorong kreativitas dan inisiatif dalam menghadapi kondisi yang dinamis saat ini.
BKD tidak memiliki kewenangan dalam menentukan kualifikasi calon pegawai/staff . Kualifikasi dan penempatan merupakan kewenangan Kepegawaian (Seleksi CPNS)
Tidak Sesuai
-
Metode penetapan tanggung jawab dan wewenang
Penetapan otoritas dan tanggung jawab nampak dalam diskripsi pekerjaan.
Oleh karena itu, penting bagi sebuah organisasi untuk memiliki deskripsi pekerjaan yang jelas.
Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab serta Sasaran Kinerja Pegawai, tercantum dan diatur dalam Perwali Kota Salatiga nomor 48 tahun 2016.
Dalam Perwali diuraikan secara jelas tentang kedudukan susunan organisasi, Tugas jabatan ,
Sesuai Lampiran 4
21
fungsi, tata kerja dan Sasaran Kinerja Pegawai Kebijakan dan
praktik untuk mengelola sumber daya manusia (SDM)
Pengelolaan personel untuk menanamkan integritas, nilai etika, dan kompetensi yang
diharapkan.
Kegiatan sumber daya manusia meliputi:
1. Pelatihan karyawan 2. Evaluasi karyawan 3. Kompensasi
karyawan
4. Konseling karyawan 5. Memberikan
hukuman bagi karyawan yang melakukan pelanggaran.
Ada kebijakan yang mengatur tentang
kepegawaian, tetapi hanya sebatas evaluasi (Apel, Sasaran Kinerja Pegawai), Kompensasi (Izin Cuti, Tunjangan) dan Hukuman bagi pegawai yang melakukan pelanggaran atau tidak disiplin (teguran tertulis, pemotongan tunjangan, penundaan kenaikan pangkat/promosi hingga pemberhentian secara tidak hormat)
Tidak Sesuai
Lampiran 2
Partisipasi Dewan
Komisaris atau Komite Audit
Memastikan bahwa manajemen telah mengimplementasikan pengendalian internal dan proses pelaporan yang layak
BKD hanya memilki Internal auditor dan Ekternal auditor (BPK)
Pengawasan dilakukan oleh masing-masing Kepala Sub Bidang.
Sesuai
Filosofi gaya Manajemen
Manajemen melalui aktivitasnya, memberikan isyarat yang jelas kepada para karyawan tentang pentingnya pengendalian internal
Manajemen menetapkan target sebagai acuan dan motivasi,
mempertimbangkan opsi alokasi yang lebih strategis, batas waktu, dan sasaran operasi lainnya.
Sesuai Lampiran 19
(Sumber: Hasil Wawancara dan Observasi)
Kemampuan manajemen Badan Keuangan Daerah dalam mengidentifikasi resiko kemungkinan terjadinya kecurangan disertai upaya meminimalisir risiko tersebut diuraikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4 Rangkuman Analisis Penerapan Pengendalian Internal pada Sistem Pemungutan Pajak Reklame Berdasarkan Pengendalian Internal COSO pada Komponen Penilaian Resiko
Elemen Komponen Penilaian Risiko
Teori Praktik Pengendalian
yang Dilaksanakan BKD
Sesuai / Tidak Sesuai
Ket.
Personel baru Personel baru yang memiliki pemahaman berbeda atau tidak memadai atas
Meskipun wewenang Bidang Kepegawaian, Ketika ada pemindahan atau penunjukan personel
Sesuai Lampiran 4
22
pengendalian internal. harus berdasarkan SK dan Perwali.
Sudah ada garis wewenang dan tanggung jawab yang jelas pada masing-masing fungsi Personel baru dapat mempelajarinya sesuai dengan Perwali nomor 48 tahun 2016
Sistem Informasi (SI) dan teknologi baru
Sistem Informasi (SI) dan teknologi baru atau yang diperbarui mempengaruhi pemrosesan transaksi.
Terjadi perubahan sistem aplikasi tiap tahun.
Mengadakan sosialisasi penerapan sistem baru kepada pegawai
Kerusakan pada perangkat lunak, akibat tidak
kompatibel saat melakukan pembaharuan.
menganggarkan biaya
pemeliharaan)
Sesuai Lampiran 6
Produk dan aktivitas baru
Produk dan aktivitas baru yang tidak dimengerti oleh karyawan akan menimbulkan risiko terganggunya proses bisnis perusahaan.
Perubahan tarif dasar reklame yang tidak
diketahui karywan sehingga menimbulkan salah
pencatatan, karena salah pencatatan akan keliru dalam menentukan besaran piutang reklame yang berakibat jumlah nominal realisasi pajak reklame berkurang.
Melakukan sosialiasi tarif kepada pegawai
Sesuai Lampiran 2
&
Lampiran 18
Bencana alam atau kerusuhan politik
Bencana alam atau kerusuhan politik, seperti kebakaran, banjir, gempa bumi, tsunami, angin ribut, atau kerusuhan masa.
Terdapat ruang khusus/server sebagai ruang penyimpanan digital, arsip kertas di bendel dalam map sesuai judul dan periode disimpan dalam lemari khusus arsip.
Sesuai Lampiran 7
&
Lampiran 17
(Sumber: Hasil Wawancara dan Observasi)
Serangkaian kebijakan dan prosedur pengendalian yang harus dibuat dan dilaksanakan untuk membantu memastikan bahwa tindakan yang di identifikasi oleh pihak manajemen BKD untuk mengatasi risiko dijalankan dengan efektif. Secara umum prosedur pengendalian adalah sebagai berikut:
23
Tabel 5 Rangkuman Analisis Penerapan Pengendalian Internal pada Sistem Pemungutan Pajak Reklame Berdasarkan Pengendalian Internal COSO pada Komponen Aktivitas Pendalian
Elemen Komponen Aktivitas Pengendalian
Teori Praktik Pengendalian
yang Dilaksanakan BKD
Sesuai /Tidak Sesuai
Ket.
Desain
dokumen yang baik dan bernomor urut tercetak
Desain dokumen yang baik adalah desain dokumen yang sederhana sehingga meminimalkan kemungkinan kesalahan mengisi. Dokumen juga harus memuat tempat untuk tanda tangan bagi mereka yang berwenang untuk mengotorisasi transaksi. Jika dokumen digunakan sebagai bukti peralihan harta, maka perlu ada kolom untuk tanda tangan dan nama terang penerima.
Dokumen perlu bernomor urut tercetak sebagai wujud
pertanggungjawaban penggunakan dokumen.
Bentuk dan desain sudah memenuhi kriteria yang baik diatur dalam Perwali Kota Salatiga no.39 th.2014, dengan pertimbangan:
mudah dipahami
bernomor urut tercetak
memuat nama terang yang berwenang dalam memberi otorisasi termasuk NIP, jabatan dan tanda tangan.
disiapkan pada waktu transaksi
dirancang untuk berbagai
penggunaan guna meminimalkan jumlah formulir yang sama.
Sesuai
Lampiran 8-14
Pemisahan tugas
Terdapat tiga pekerjaan yang harus dipisahkan agar karyawan tidak memiliki peluang untuk mencuri harta perusahaan dan memalsukan catatan akuntansi. Ketiga
pekerjaan tersebut adalah fungsi penyimpan harta, fungsi pencatat, dan fungsi otorisasi.
Pembagian dan uraian tugas sesuai Perwali Kota
Salatiga nomor 48 tahun 2016.
Pembagian dalam pemungutan pajak berdasarkan fungsi
• Pendaftaran
• Pencatatan
• Otorisasi
sehingga prosesnya secara sederhana:
verifikasi data, ditetapkan nominal, ditagih
(lunas/belum lunas)
Sesuai
Lampiran 1 &
Lampiran 4
24 Otorisasi yang
memadai atas transaksi bisnis
Otorisasi adalah
pemberian wewenang dari manajer kepada
bawahannya untuk melakukan aktivitas atau untuk mengambil keputusan tertentu.
Otorisasi ini diwujudkan dalam bentuk tanda tangan atau paraf dalam dokumen transaksi.
Selalu ada kewenangan untuk paraf dokumen.
Sesuai Lampiran 8-14
Mengamankan harta dan catatan perusahaan
Yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengamankan harta dan informasi tersebut, antara lain meliputi:
1. Membatasi akses fisik terhadap harta (seperti penggunaan register kas, kotak brangkas, dan lain sebagainya)
2. Menjaga catatan dan dokumen dangan menyimpan catatan dan dokumen dalam lemari yang
terkunci, serta dengan membuat back-up yang memadai.
3. Pembatasan akses terhadap ruang computer dan terhadap file perusahaan.
Pada bagian pendaftaran dan pendataan mempunyai lemari brangkas sebagai penyimpan arsip-arsip penting.
Catatan dan dokumen tersimpan dalam lemari terkunci
Terdapat ruang IT dengan pembatasan akses terhadap file.
Memasang ID, password serta firewall dalam setiap komputer di ruangan IT.
Sesuai
Sesuai
Sesuai
Lampiran7 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 20
Menciptakan adanya pengecekan independen
Beragam aktivitas untuk pengecekan independen antara lain meliputi:
1. Membandingkan catatan dengan aktual fisik.
2. Prinsip double entry bookkeeping.
Prinsip bahwa total debet akan sama dengan total kredit merupakan salah satu sarana pengecekan.
3. Menciptakan adanya review atau
pengecekan independen.
1. Ya, melakukan rekap dan membandingkan dengan kas yang diterima
sebenarnya., mengecek data reklame yang jatuh tempo dengan fisik di lapangan, memeriksa perubahan bentuk dan
kelayakan/kesesuai an informasi yang ada di lapangan 2. Ya, memeriksa
Sesuai
Sesuai -
-
25 Contohnya adalah
laporan keuangan perusahaan diaudit oleh auditor independen.
selisih besaran piutang yang muncul.
Ketetapan (lunas/tidak) = Tanda bukti pembayaran.
3. Kepala masing- masing sub Bidang secara inisiatuf mereview dan mengecek segala aktivitas yang melibatkan otorisasinya.
*Diaudit oleh BPK
Sesuai -
(Sumber: Hasil Wawancara dan Observasi)
Pada tabal berikut ini menjelaskan bahwa komponen Informasi dan Komunikasi memungkinkan pejabat, pegawai atau staff dalam BKD dimudahkan dalam mendapatkan dan bertukar informasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan, mengolah, dan mengendalikan operasinya.
Tabel 6 Rangkuman Analisis Penerapan Pengendalian Internal pada Sistem Pemungutan Pajak Reklame Berdasarkan Pengendalian Internal COSO pada Komponen Informasi dan Komunikasi
Elemen Komponen Informasi dan Komunikasi
Teori Praktik Pengendalian
yang Dilaksanakan BKD
Sesuai /Tidak Sesuai
Ket.
Mengidentifikasi dan mencatat semua transaksi yang valid
Perusahaan harus mengidentifikasi dan mencatat semua transaksi yang valid
Sistem secara otomatis memungkinkan mengidentifikasi dan mencatat semua transaksi yang valid
Sesuai -
Mengklasifikasi transaksi sebagaiman seharusnya
Perusahaan harus mengklasifikasi transaksi sebagaimana seharusnya agar pencatatan transaksi menjadi tepat.
Misalnya apabila pengeluaran kas diklasifikasikan secara tidak tepat sebagai asset, maka asset dan pemasukan bersih dinyatakan terlalu berlebih
Ya, sudah ada pada ketentuan Perwali Kota Salatiga nomor 39 tahun 2014 tentang Sistem dan Prosedur Pemungutan Pajak Daerah.
Klasifikasi piutang pajak dengan pemeriksaan data reklame melalui jumlah ketetapan bulan ini dengan jumlah pembayaran di Dafda.
Sesuai Lampiran 5
26 Mencatat
transaksi pada periode akuntansi yang tepat
Perusahaan harus mencatat transaksi pada periode akuntansi yang tepat agar
keterangan tanggal di catatan tidak
menyesatkan pengguna laporan keuangan.
Desain dalam SKPD mencantumkan tanggal cetak dan tanggal bayar
Sesuai Lampiran 9 Lampiran 13
Menyajikan transaksi dan pengungkapan terkait dalam laporan keuangan secara tepat
Perusahaan harus menyajikan transaksi dan pengungkapan terkait dalam laporan keuangan secara tepat agar laporan keuangan dapat
dipertanggungjawabka n dan dapat diandalkan
Transaksi didukung oleh bukti yang tervalidasi karena prosesnya terkomputerisasi oleh sistem secara otomatis.
Sesuai -
(Sumber: Hasil Wawancara dan Observasi)
Komponen pada tabael dibawah ini menjelaskan bahwa seluruh proses harus diawasi karena menentukan kualitas kinerja pengendalian internal sepanjang waktu. Proses ini dilaksanakan melalui kegiatan yang berlangsung secara terus menerus dan evaluasi secara terpisah.
Tabel 7 Rangkuman Analisis Penerapan Pengendalian Internal pada Sistem Pemungutan Pajak Reklame Berdasarkan Pengendalian Internal COSO pada Komponen Pemantauan
Elemen Komponen Pemantauan
Teori Praktik Pengendalian
yang Dilaksanakan BKD
Sesuai /Tidak Sesuai
Ket.
Supervisi yang efektif
Supervisi yang efektif meliputi:
1. Monitor kinerja karyawan
2. Mengamankan harta dengan mengawasi karyawan yang memiliki akses terhadap harta perusahaan.
Supervisi sangant penting, terutama di perusahaan kecil yang tidak memiliki pemisahan tugas yang cukup
memadai.
1. Ya , terdapat pengawasaan kinerja pegwai 2. Ya, sistem
mencankup pengawasan terhadap pegawai yang memiliki akses terhadap harta perusahaan
Sesuai -
27 Pengauditan
intenal
Pengauditan internal meliputi:
1. Evaluasi kepatuhan karyawan terhadap kebijakan dan prosedur manajemen, dan terhadap aturan atau regulasi yang berlaku.
2. Evausai terhadap efektivitas dan efisiensi manajemen
1. Rapat evaluasi bulanan (rapat POK) membahas kebijakan, prosedur dan regulasi yang berlaku.
2. Melakukan evaluasi terhadap pembaruan sistem dan prosedur untuk menilai efektivitas dan efisiensi manajemen.
Sesuai Lampiran 2
(Sumber: Hasil Wawancara dan Observasi)
PENUTUP Simpulan
Berdasarkan hasil analisis, Pengendalian Intern Badan Keuangan Daerah Kota Salatiga belum sepenuhnya menerapkan prinsip pada komponen pengendalian internal.
Diantaranya pada prinsip dalam komponen lingkungan pengendalian yang meliputi:
1. Prinsip komitmen terhadap kompentensi. BKD tidak memiliki kewenangan dalam menentukan kualifikasi calon pegawai/staff. Kualifikasi dan penempatan merupakan kewenangan Kepegawaian (seleksi CPNS), hal ini sudah sesuai dengan tujuan PI dalam hal ketaatan.
2. Prinsip kebijakan dan praktik untuk mengelola Sumber Daya Manusia. Pada BKD belum ada praktik untuk mengelola Sumber Daya Manusia dalam hal pelatihan dan konseling pegawai. Jika pada prinsip-prinsip pengelolaan Sumber Daya Manusia dapat tercapai seluruhnya akan mendorong efektifitas dan efisiensi dalam kegiatan Operasional.
3. Prinsip partisipasi Dewan Komisaris atau Komite Audit. Manajemen belum mengimplementasikan pengendalian internal dan proses pelaporan yang handal, karena BKD hanya memilki Internal Auditor, sedangkan pegawasan hanya sebatas kontrol dari masing Kepala Sub Bidang.
Pada Sistem dan Prosedur Pemungutan Pajak Reklame tidak dijelaskan secara terperinci peraturan dan tata cara untuk memverifikasi data, sehingga akan dipertanyakan
28
keandalan dan keterbukaan dalam aktivitas pengendalian. Hasil temuan pada prinsip dalam komponen aktivitas pengendalian meliputi:
1. Prinsip mengamankan data dan catatan perusahaan. Terdapat perbedaan pendataan jumlah teguran reklame yang juga berpengaruh pada jumlah penerimaan reklame dan keandalan informasi dalam catatan realisasi penerimaan pajak reklame.
2. Prinsip pemisahan tugas. Belum ada peraturan dalam menunjuk perwakilan dalam tim peninjau di lapangan (Tim Monitoring Izin Reklame), sehingga rentan kecurangan dari pihak penghitung pajak dan kesewenangan dari aparat pajak.
Temuan dalam komponen penilaian resiko, prinsip penilaian resiko ketika muncul produk dan aktivitas baru. Terjadi perubahan tarif yang terlambat di informasikan kepada karyawan berakibat turunnya penerimaan pajak reklame, hal ini berkaitan dengan tujuan PI untuk menjaga asset Pemerintah Kota Salatiga dari kerugian.
Keterbatasan Penelitian
Kerterbatasan dalam memperoleh data pada Badan Keuangan Daerah antara lain:
1. Dalam mendapatkan sebagian data untuk menjawab rumusan masalah, ada kemungkinan responden memberikan informasi secara subjektif. Responden memberikan jawaban kesesuaian prinsip pada komponen pengendalian intern, namun tidak dapat memberikan bukti lampiran yang handal. Sebagai contoh pada prinsip Komitmen terhadap integritas dan nilai-nilai etika dijelaskan: Badan Keuangan Daerah melakukan rapat evaluasi bulanan. Pengadaan evaluasi bulanan seolah-olah menjdai agenda rutin, namun tidak ada bukti rapat seperti hasil tertulis atau notulen, sehingga pembuktian kesesuaian prinsip pada komponen yang diteliti kurang handal.
2. Ada peraturan yang kepada penulis tidak diizinkan untuk melihat dikarenakan alasan kerahasiaan, sehingga penelitian ini tidak dapat memaparkan tugas dan wewenang secara terperinci.
Saran
Ada 2 komponen pengendalian internal menurut COSO yaitu Lingkungan Pengendalian dan Aktivitas Pengendalian belum terlaksana dengan baik. Maka peneliti menyarankan kepada Badan Keuangan Daerah Kota Salatiga untuk:
29
a. Mengedepankan keterbukaan informasi dalam perubahan peraturan yang berkaitan dengan tugas dan wewenang
b. Membuat srtuktur yang jelas tentang tanggungjawab dan wewenang pertugas yang di lapangan terlebih untuk kualifikasi pegawai yang masuk dalam Tim Monitoring Izin Reklame.
c. Membuat progress catatan hasil evaluasi pada rapat bulanan, sehingga dapat dipantau keberhasilannya
d. Melibatkan semua entitas dalam struktur organisasi BKD dalam kegiatan evaluasi, sehingga tidak hanya pada petinggi level bidang. Hasil evalusi seharusnya dicatat dalam bentuk notulen.
e. Mensosialisasikan tarif baru, segera setelah keluarnya SK atau peraturan baru. Karena salah pencatatan akan mempengaruhi dalam menentukan besaran piutang reklame yang berakibat jumlah nominal realisasi pajak reklame berkurang.
f. Mengecek spesifikasi perangkat keras agar kompatibel dengan perangkat lunak yang mendapat pembaruan kemudian mengalokasikan biaya pemeliharaan.
g. Mengedepankan kompetensi dan kualifikasi pegawai/personel baru meskipun bukan wewenang BKD. Akan lebih baik saling mengkomunikasikan dengan Bidang Kepegawaian.
h. Meningkatkan pentingnya pengendalin internal. Intenal Auditor BKD harus berperan aktif untuk mengajak dan meningatkan pentingnya pengendlian internal dari level bawahan hingga level atasan.
.