• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Work Engagement pada Guru Paud "X" Sekolah Kristen di Kota Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Work Engagement pada Guru Paud "X" Sekolah Kristen di Kota Bandung."

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

v Abstrak

Tinggi rendahnya derajat work engagement pada guru akan sangat berpengaruh terhadap penghayatan atas pekerjaannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran mengenai work engagement berdasarkan aspek-aspek dari work engagement pada guru PAUD Sekolah Kristen “X” di Kota Bandung.

Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan menggunakan metode kuantitatif melalui teknik survei. Peneliti mengumpulkan informasi dari responden menggunakan kuesioner. Populasi yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah para guru PAUD “X” Bandung yang berjumlah 48 orang. Gambaran responden penelitian dikelompokkan berdasarkan dua kategori yaitu jenis kelamin dan lama bekerja sebagai guru PAUD.

Berdasarkan hasil pengolahan data yang telah dilakukan pada 48 guru PAUD

Sekolah Kristen “X” di Kota Bandung, didapatkan hasil bahwa sebanyak 47,9% guru PAUD memiliki derajat work engagement yang tergolong tinggi, dimana guru PAUD tersebut memiliki keterikatan dan rasa puas pada pekerjaannya, adanya pelibatan diri yang kuat, level energi yang besar dalam menjalankan pekerjaannya, serta memiliki konsentrasi yang tinggi ketika menjalankan tugasnya sebagai guru PAUD. Hasil pengolahan data juga menunjukkan bahwa guru PAUD yang memiliki derajat work engagement yang tinggi pada umumnya memiliki derajat yang tinggi pula pada ketiga aspek dari work engagement, yaitu vigor, dedication, dan absorption.

(2)

vi Abstract

The high and low degree of work engagement on the teacher will greatly affect the appreciation of his work. The purpose of this study is to describe of work engagement based on aspects of work engagement at “X” Christian School Early Childhood Education Program (PAUD) teachers in Bandung.

This research is a descriptive study using quantitative methods through survey techniques. Researcher collected information from respondents using a questionnaire. The target population in this study is 48 people of “X” Christian School PAUD in Bandung. Overview of survey respondents are grouped according to two categories: gender and longer working as early childhood teachers.

Based on the results of data processing that has been performed on 48 “X” Christian School PAUD in Bandung, showed that at 47.9% early childhood teachers have a degree of work engagement is high, where the early childhood teachers have an attachment and a sense of satisfaction at work, inclusion yourself strong, great energy level in the work, and has a high concentration when performing his duties as early childhood teachers. The results of processing the data also shows that early childhood teachers who have a high degree of work engagement generally has a high degree also on three aspects of work engagement, that vigor, dedication, and absorption.

(3)

ix DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS LAPORAN PENELITIAN ... iii

PERNYATAAN PUBLIKASI LAPORAN PENELITIAN ... iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 11

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 11

1.3.1 Maksud Penelitian ... 11

1.3.2 Tujuan Penelitian ... 11

1.4 Kegunaan Penelitian ... 12

1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 12

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 12

1.5 Kerangka Pemikiran ... 12

(4)

x

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Work Engagement ... 23

2.1.1 Work Engagement ... 23

2.1.2 Pengertian Work Engagement ... 24

2.1.3 Aspek - aspek Work Engagement ... 24

2.1.3.1 Vigor ... 24

2.1.3.2 Dedication ... 24

2.1.3.3 Absorption ... 24

2.1.4 Ciri-ciri dari Work Engagement ... 25

2.1.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Work Engagement ... 27

2.2 Utrecht Work Engagement Scale (UWES) ... 30

2.3 Teori Perkembangan Dewasa ... 32

2.3.1 Emerging And Young Adulthood ... 32

2.3.2 Middle Adulthood ... 33

2.3.3 Late Adulthood ... 33

2.4 Guru ... 34

2.4.1 Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan PAUD ... 35

2.4.2 Pelaksaan Pendidikan Anak Usia Dini dan Penilaian ... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian ... 38

3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 38

3.2.1 Variabel Penelitian ... 38

(5)

xi

3.3 Alat Ukur ... 39

3.3.1 Alat Ukur Work Engagement ... 39

3.3.2 Kisi-kisi Alat Ukur ... 40

3.3.3 Prosedur Pengisian Alat Ukur ... 42

3.3.4 Sistem Penilaian Alat Ukur ... 42

3.4 Data Pribadi dan Data Penunjang ... 44

3.4.1 Data Pribadi ... 44

3.4.2 Data Penunjang ... 44

3.5 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 44

3.5.1 Validitas Alat Ukur ... 44

3.5.2 Reliabilitas Alat Ukur ... 45

3.6 Populasi dan Karakteristik Populasi ... 46

3.6.1 Populasi Sasaran ... 46

3.6.2 Karakteristik Populasi ... 46

3.7 Teknik Analisis Data ... 46

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Responden ... 48

4.1.1 Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 48

4.1.2 Gambaran Responden Berdasarkan Lama Bekerja ... 49

4.2 Gambaran Hasil Penelitian ... 49

4.2.1 Gambaran Derajat Work Engagement ... 50

4.2.2 Gambaran Derajat Aspek-aspek Work Engagement ... 50

4.2.2.1 Gambaran Derajat Vigor ... 50

(6)

xii

4.2.2.3 Gambaran Derajat Absorption ... 51

4.3 Pembahasan ... 52

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 65

5.2 Saran ... 66

5.2.1 Saran Teoritis ... 66

5.2.2 Saran Praktis ... 66

DAFTAR PUSTAKA ... 67

DAFTAR RUJUKAN ... 68

(7)

xiii Universitas Kristen Maranatha DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Aspek Work Engagement ... 40

Tabel 3.2 Kisi-kisi Alat Ukur Work Engagement ... 40

Tabel 3.3 Kriteria Pengisian Kuesioner Alat Ukur Work Engagement ... 42

Tabel 3.4 Kriteria Penilaian Kuesioner Alat Ukur Work Engagement .... 43

Tabel 3.5 Kisi-kisi Data Penunjang ... 44

Tabel 4.1 Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 48

Tabel 4.2 Gambaran Responden Berdasarkan Lama Bekerja Sebagai Guru PAUD ... 49

Tabel 4.3 Gambaran Derajat Work Engagement ... 50

Tabel 4.4 Gambaran Derajat Vigor ... 50

Tabel 4.5 Gambaran Derajat Dedication ... 51

(8)

xiv Universitas Kristen Maranatha DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pemikiran ... 21

(9)

xv Universitas Kristen Maranatha DAFTAR LAMPIRAN

Halaman LAMPIRAN A

Lampiran A1 Kata Pengantar dan Letter of Concent ... L-2

Lampiran A2 Identitas dan Data Penunjang ... L-4 Lampiran A3 Alat Ukur Work Engagement ... L-7

Lampiran A4 Kisi-kisi Alat Ukur Work Engagement ... L-12 LAMPIRAN B

Lampiran B1 Hasil Uji Validitas ... L-17

Lampiran B2 Hasil Uji Reliabilitas ... L-18

LAMPIRAN C

Lampiran C1 Hasil Penelitian Work Engagement ... L-20 Lampiran C2 Hasil Penelitian Aspek-Aspek Work Engagement ... L-23 Lampiran C.2.1 Hasil Penelitian Aspek Vigor ... L-23

Lampiran C.2.2 Hasil Penelitian Aspek Dedication ... L-26 Lampiran C.2.3 Hasil Penelitian Aspek Absorption ... L-29

Lampiran C.3 Data Demografis ... L-32 Lampiran C.4 Data Penunjang ... L-35

Frekuensi Data Penunjang ... L-40 LAMPIRAN D

Lampiran D.1 Gambaran Responden ... L-44

Lampiran D.1.1 Berdasarkan Jenis Kelamin ... L-44 Lampiran D.1.2 Berdasarkan Lama Bekerja ... L-44

Lampiran D.2 Tabulasi Silang Antara Data Demografis

(10)

xvi Universitas Kristen Maranatha Lampiran D.2.1 Tabulasi Silang Antara Jenis Kelamin

dengan Work Engagement ... L-45 Lampiran D.2.2 Tabulasi Silang Antara Lama Bekerja

dengan Work Engagement ... L-46

Lampiran D.3 Tabulasi Silang Antara Job Demands

dengan Work Engagement ... L-47

Lampiran D.3.1 Tabulasi Silang Antara Work Pressure

dengan Work Engagement ... L-47 Lampiran D.3.2 Tabulasi Silang Antara Emotional Demands

dengan Work Engagement ... L-47

Lampiran D.3.3 Tabulasi Silang Antara Mental Demands

DenganWork Engagement ... L-48 Lampiran D.3.4 Tabulasi Silang Antara Physical Demands

dengan Work Engagement. ... .L-48

Lampiran D.4 Tabulasi Silang Antara JobResources

denganWork Engagement ... L-49

Lampiran D.4.1 Tabulasi Silang Antara Autonomy

denganWork Engagement ... L-49

Lampiran D.4.2 Tabulasi Silang Antara Social Support

dengan Work Engagement. ... .L-49 Lampiran D.4.3 Tabulasi Silang Antara Feed Back

(11)

xvii Universitas Kristen Maranatha Lampiran D.5 Tabulasi Silang Antara Personal Resources

denganWork Engagement ... L-50 Lampiran D.5.1 Tabulasi Silang Antara Self Efficacy

denganWork Engagement ... L-50

Lampiran D.5.2 Tabulasi Silang Antara Optimism

dengan Work Engagement. ... .L-50

Lampiran D.5.3 Tabulasi Silang Antara Hope

denganWork Engagement ... L-51 Lampiran D.5.4 Tabulasi Silang Antara Resiliency

(12)

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa, oleh karena itu

setiap warga Negara dihimbau untuk mengikuti jenjang pendidikan, baik jenjang PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun tinggi.

Dalam bidang pendidikan seorang anak memerlukan pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan disertai dengan pemahaman mengenai karakteristik anak sesuai pertumbuhan dan perkembangannya akan sangat membantu dalam menyesuaikan proses

belajar bagi anak dengan usia, kebutuhan, dan kondisi masing-masing, baik secara intelektual,

emosional dan sosial.

PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) (Kuntjojo, 2012) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan pada anak usia tiga tahun sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan

rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan keterampilan dan

kecerdasan sedini mungkin. Seperti halnya pendidikan formal yang ada di sekolah dasar, dalam pendidikan informal anak usia dini baik PG (Play Group), PAUD maupun SPS (Satuan Paud

(13)

2

Universitas Kristen Maranatha Terdapat banyak manfaat yang dapat diperoleh anak yang mendapatkan pendidikan untuk

usia dini (Ebekunt, 2010). Selain untuk memberikan hak belajar pada anak, pendidikan anak usia dini juga banyak memberikan dampak positif kepada anak itu sendiri. Berikut ini beberapa manfaat dari pendidikan anak usia dini. Pertama adalah membelajarkan anak untuk berinteraksi

dengan teman sebayanya dan menahan ego. Anak yang kehidupan kesehariannya berada di rumah, berinteraksi hanya dengan keluarganya, biasanya akan kesulitan untuk berada dalam

kondisi dimana banyak teman sebayanya yang memiliki keinginan dan ego sama seperti dirinya. Jika dirumah semua kehendaknya mungkin akan dituruti oleh orang tuanya maka ketika dia berada di lingkungan PAUD anak akan secara tidak langsung dipaksa untuk menahan egonya.

Anak bisa belajar berinteraksi dengan teman sebayanya sehingga dapat mengembangkan kemampuanya dalam bersosialisasi dengan lingkungan baru. Selain itu anak akan bisa belajar

berkomunikasi dan berbagi cerita dengan teman-teman sebayanya.

Manfaat yang kedua adalah membelajarkan anak untuk berbicara dan berbahasa yang baik. Dalam lingkungan kelas, anak akan diarahkan untuk terbiasa berbicara menggunakan bahasa

Indonesia yang baik, benar, dan sopan. Hal ini sangat perlu dilakukan mengingat Indonesia adalah Negara dengan suku dan bahasa yang beraneka ragam.

Manfaat ketiga adalah meningkatkan keterampilan motorik. Dengan berbagai materi yang diberikan kepada anak sesuai dengan kurikulum, maka perlahan akan mengembangkan

keterampilan motorik anak. Maka ketika kelak masuk ke sekolah dasar, anak telah siap dengan semua keterampilan dasar yang dimiliki.

Manfaat yang keempat adalah meningkatkan dan memperkuat dasar kecerdasan kognitif.

(14)

3

Universitas Kristen Maranatha Manfaat kelima adalah meningkatkan rasa percaya diri. Anak yang telah melalui

pendidikan PAUD diharapkan akan lebih memiliki rasa percaya diri dibandingkan anak seusianya yang tidak mengenyam pendidikan serupa. Anak sudah memiliki pengalaman berinteraksi dengan lingkungan baru, mulai dari teman sebaya, guru, lingkungan kelas dan lingkungan sekolah. Anak

yang tidak memiliki rasa percaya diri mau akan sekolah jika orang tuanya mau menunggui anak tersebut.

Peran Guru dalam Pendidikan Anak Usia Dini (www.academia.edu, 2009) adalah suatu proses perubahan yang menyangkut tingkah laku. Proses berarti cara-cara atau langkah-langkah

yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu. Jadi

dapat diartikan proses belajar adalah sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan

psikomotor yang terjadi dalam diri anak. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti

berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya. Guru adalah pihak yang

berhubungan dengan anak dalam upaya proses pembelajaran dan peran guru itu tidak terlepas

dari keberadaan kurikulum. Menurut Brenner (1990) pendidikan anak prasekolah didukung

dengan alat-alat perlengkapan dan permainan yang tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak,

serta bangunan fisik lainnya yang disediakan untuk anak. Guru berperan sebagai fasilitator

dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pengalaman, perasaannya

melalui berbagai interaksi kepada guru maupun teman sebaya. Dalam hal ini anak dapat dengan

leluasa mengekspresikan apa saja yang ada dalam pikirannya. Pendekatan semacam ini

merupakan pendekatan yang efektif karena perkembangan jasmani dan mental anak dapat

berkembang secara optimal. Peran orang tua dan guru dalam Pendidikan Anak Usia Dini adalah

sebagai guru yang mampu melihat dan mengerti serta menanggapi kemauan anak. Melalui

(15)

4

Universitas Kristen Maranatha kebiasaan dan kepribadian seorang anak, selain itu ada pula faktor lingkungan yang secara tidak

langsung mempengaruhi perkembangan anak, seperti halnya dengan kebudayan. Kebudayaan

(culture) secara tidak langsung ikut mewarnai situasi, kondisi ataupun corak interaksi di mana

anak itu berada. Selain itu, faktor agama juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi

dan kebiasaan anak. Maka dari itu pentingnya peran guru dan orang tua bekerjasama

mengajarkannya kepada anak.

Peran guru di dalam proses belajar mengajar mempunyai peran untuk membantu supaya proses belajar mengajar anak bisa berjalan dengan lancar. Seorang guru dituntut agar lebih memahami jalan pikiran dan cara pandang anak. Guru haruslah profesional, kreatif dan menyenangkan dengan mengambil posisi sebagai orang tua yang penuh rasa sayang pada muridnya, teman sebagai tempat mengadu perasaan murid, fasilitator yang siap untuk melayani murid sesuai dengan minat serta bakatnya. Ada berbagai macam karakteristik guru professional yang pertama adalah taat pada perundang-undangan. Hal ini sesuai dengan kode etik guru Indonesia dimana guru melaksanakan segala kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Hal ini diatur dalam kebijakan pemerintah untuk para pendidik PAUD yang tercantum dalam undang-undang RI nomor 20 tahun 2003, undang-undang-undang-undang RI nomor 14 tahun 2005 dan peraturan

pemerintah nomor 19 tahun 2005 bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik (kompetensi, sertifikasi pendidik, sehat jasmani, dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan

tujuan pendidikan nasional). Kompetensi guru mencakup penguasaan kompetensi pedagogik, professional, kepribadian dan sosial yang diberikan dengan sertifikat pendidik yang diperoleh melalui sertifikasi. Setiap guru PAUD terkecuali guru PAUD dengan ijazah sarjana psikologi

(16)

5

Universitas Kristen Maranatha minggu di luar jam kerja guru di sekolah guna memperoleh serifikat pendidik untuk guru yang

telah memenuhi prasyarat. (www.dikti.go.id/ )

Salah satu sekolah PAUD di kota Bandung adalah sekolah PAUD Kristen “X” Bandung. Sekolah Kristen PAUD “X” Bandung berdiri sejak tahun 1997 sampai saat ini. Sekolah Kristen

PAUD “X” Bandung adalah sekolah yang berbasis kurikulum nasional yang telah disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Dengan tujuan mempersiapkan anak untuk dapat mengikuti jenjang

pendidikan yang lebih tinggi di sekolah atau universitas unggulan baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam penerapan kurikulum dan kegiatan belajar-mengajar, Sekolah PAUD Kristen “X” di Kota Bandung menerapkan pendekatan individual ( Individual Approach ), yang berfokus pada

keadaan dan kebutuhan anak ( Student Centered ), dengan memperhatikan kecerdasan majemuk ( Multiple Intelligences ), dan penyajian pembelajaran yang bersifat aktif ( Active Learning ).

Dengan demikian pihak sekolah sangat mengharapkan para anak dapat belajar dan berkembang secara optimal.( http://www. “X”.org/)

Berdasarkan informasi yang diberikan oleh kepala sekolah, sekolah PAUD Kristen ”X” di

Kota Bandung menyediakan program pendidikan Pre Nursery untuk anak usia 2-3 tahun, Nursery untuk anak usia 3-4 tahun, Kindergarden 1 untuk anak usia 4-5 tahun, dan Kindergarden 2 untuk

anak usia 5-6 tahun. Untuk tingkat Pre Nursery PAUD Kristen “X” di Kota Bandung membuka 4 kelas dengan kapasitas 16-20 anak. Untuk tingkat Nursery dan Kindergarden 1 PAUD Kristen “X” di Kota Bandung membuka 4 kelas dengan kapasitas 20-25 anak. Sedangkan untuk tingkat

Kindegarden 2 PAUD Kristen “X” di Kota Bandung membuka 3 kelas dengan kapasitas anak 20-25 anak. Setiap anak Pre Nursery dan Nursery masuk pada pukul 08.00 dan pulang pada pukul

(17)

6

Universitas Kristen Maranatha

Pre Nursery dan Nursery mendapatkan pengenalan pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia,

Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Agama, Character Building, Sensory Stimulation, dan Olah Raga.

Anak Kindergarden 1 dan Kindergarden 2 ditambah mendapatkan mata pelajaran

Komputer. Pihak sekolah juga memberikan sarana untuk anak menyalurkan bakat dan minat yang dimiliki dalam kegiatan ekstrakurikuler. Cukup banyak ekstrakurikuler yang tersedia seperti

ballet, robotic, tamborin, music, keterampilan tangan, bahasa Mandarin, dan bahasa Inggris.

Selain mata pelajaran yang dapat mengembangkan dan menguatkan kemampuan kognitif, bahasa, dan motorik anak, pihak sekolah juga memberikan program untuk pengembangan

kerohanian anak dengan adanya program Bible School. Program Bible School adalah salah satu kegiatan yang diutamakan dalam program sekolah dimana pihak sekolah mengajarkan dan

menanamkan nilai-nilai agama Kristen. Setiap anak diajak secara terus menerus untuk mendengarkan cerita-cerita berdasarkan Alkitab dan menghafal ayat-ayat kutipan dari Alkitab. Peran guru disini penting karena sebelum mengajarkan program Bible School guru terlebih

dahulu menguasai ajaran agama Kristen.

Salah satu kekhasan yang dimiliki sekolah PAUD “X” di Kota Bandung dibandingkan

sekolah PAUD lainnya adalah fasilitas Child Care. Sekolah ingin membantu para orang tua anak yang harus bekerja sehingga sulit untuk mengasuh anak. Sepulang sekolah anak dititipkan di

Child Care, disana anak akan diajak bermain, makan siang, tidur siang, dan mandi sore. Program

Child Care ini juga membantu orang tua agar tenang menitipkan anak-anak mereka. Anak

menghabiskan waktunya untuk belajar disekolah selama 3-4 jam sehari. Sedangkan anak-anak

(18)

7

Universitas Kristen Maranatha satu kekhasan dari sekolah PAUD “X” di Kota Bandung, untuk para guru PAUD “X” program

ini dapat dikatakan membuat jam kerja para guru lebih panjang dan tuntutan pekerjaan yang lebih besar dibandingkan dengan sekolah PAUD lainnya. Guru tidak hanya bertanggung jawab ketika jam belajar mengajar didalam kelas saja tetapi guru harus tetap memperhatikan anak-anak

mereka yang dititipkan pada program Child care ini sampai jam 3 sore.

Menurut yang diungkapkan juga oleh kepala sekolah bahwa pihak sekolah memiliki

berbagai tuntutan dalam mempekerjakan guru. Guru-guru yang mengajar di Sekolah Kristen PAUD “X” dituntut untuk dapat memenuhi standard. Diantaranya adalah mau menjalankan

tugasnya sebagai seorang guru PAUD dengan berlandaskan visi (yaitu menjadi lembaga

pendidikan Kristen unggulan yang mengutamakan iman, integritas, dan ilmu) dan misi ( yaitu menyelanggarakan pendidikan berdasarkan pandangan Kristiani yang bersifat holistik, integratif,

dan transformatif). Pihak sekolah juga mengutamakan guru yang beragamakan Kristen karena guru akan mengajarkan kepada anak tidak hanya hal akademis tetapi juga menanamkan pendidikan agama Kristen. Maka dari itu guru juga harus bersedia untuk dibekali dalam bidang

akademis dan dalam hal kerohanian agama Kristen. Selain itu guru harus memiliki standar pendidikan sarjana tanpa spesifikasi dari jurusan tertentu, menguasai 2 (dua) bahasa yaitu bahasa

Indonesia dan bahasa Inggris, mampu berkerja dalam kelompok, berperilaku baik. Tuntutan sekolah terhadap hal-hal tersebut bertujuan agar VISI MISI sekolah dapat lebih mudah tercapai.

Sampai saat ini terdapat 48 guru di sekolah PAUD “X” di kota Bandung yang terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, bagian kurikulum, guru kelas, guru bahasa, guru olahraga, guru musik, dan guru komputer.

(19)

8

Universitas Kristen Maranatha usia produktif diantara 24-55 tahun. Menurut (Papalia, 2012) usia guru-guru PAUD “X” berada

pada jenjang young adulthood dan middle adulthood dimana pada usia diantara 20-40 tahun dinilai sebagai puncak kondisi fisik seseorang. Sedangkan usia 40-65 tahun dinilai sebagai periode dimana mulai menurunnya kemampuan sensorik, kesehatan, dan daya tahan tubuh, tetapi

itu sangat tergantung dari kekuatan fisik masing-masing individu.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan beberapa guru PAUD Kristen “X”

diperoleh bahwa kesulitan yang sering dialami oleh guru PAUD “X” dalam mengajar adalah sulitnya mengatasi kemampuan anak yang berbeda-beda dalam menangkap materi yang disampaikan dan emosi anak yang terkait dengan pola asuh di rumah. Masalah pola asuh dalam

keluarga anak berpengaruh pada tingkah laku anak di sekolah. Guru seringkali kewalahan ketika menangani anak yang menangis sepanjang hari, anak yang mencari perhatian guru dengan cara

terus menerus ingin dibantu atau dituntun oleh guru, dan anak yang belum bisa mengikuti aturan. Sebagian besar guru berhasil menjalankan pekerjaannya, masalah yang dialaminya. Pada umumnya ketika guru PAUD “X” mengalami kesulitan, akan menceritakan kesulitannya kepada

guru-guru lain, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah sehingga bisa saling membantu dalam menyelesaikan kesulitan yang ada dan juga memberikan feedback mengenai cara penanganannya.

Selain itu guru PAUD “X” juga mendapatkan dukungan dari keluarganya, seperti keluarga untuk bertukar pikiran ketika menghadapi masalah. Oleh karena itu, untuk dapat mengatasi

kesulitan-kesulitan yang dialami, guru PAUD “X” diharapkan mampu melibatkan diri dalam pekerjaan dengan melihat kesulitan sebagai tantangan sehingga tetap merasa antusias ketika bekerja, semangat, dan tetap memiliki energy yang cukup baik. .

(20)

9

Universitas Kristen Maranatha bekerja, antusiasme terhadap pekerjaan dan konsentrasi yang tinggi saat bekerja merupakan

perwujudan dari work engagement. Smulder (2006, dalam Schaufeli 2011) mengemukakan bahwa ada beberapa pekerjaan yang menuntut work engagement yang tinggi, diantaranya adalah guru, enterpreuneur dan perawat karena melibatkan kualitas pelayanan sebagai modal utamanya.

Work engagement adalah keterikatan secara fisik, kognitif, dan emosional terhadap

pekerjaan mereka yang ditandai dengan adanya vigor, dedication, dan absorption. (Schaufeli,

Salanova, Gonzales-Roma & Bakker, 2002, dalam Bakker dan Leiter 2010, h. 13). Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam menentukan derajat tinggi atau rendahnya work engagement yang dimiliki oleh seseorang. Aspek vigor ditandai dengan level energi yang tinggi dan ketahanan

ketika bekerja, kemauan mengerahkan upaya dan persisten ketika menghadapi hambatan dalam bekerja. Aspek dedication mengacu pada perlibatan diri yang kuat terhadap pekerjaan dan

merasakan keberartian, antusisme, inspirasi kebanggaan dan tantangan. Aspek yang terakhir adalah absorption ditandai dengan konsentrasi penuh dan keasyikan ketika bekerja dimana waktu berlalu begitu cepat dan tidak ingin berhenti bekerja.

Berdasarkan wawancara dengan 10 guru, 7 guru (70%) mengatakan ketika menghadapi anak yang sangat aktif dan memiliki mobilitas yang tinggi guru PAUD “X” mengeluarkan

banyak energi, sesuai dengan aspek work engagement yaitu vigor. Ketujuh guru merasa walaupun menghadapi anak yang aktif di dalam kelas dan sulit berkonsentrasi, guru PAUD “X”

tetap mampu mengerahkan energi yang mereka miliki dan berusaha mengarahkan anak tersebut untuk dapat mengikuti proses belajar dengan baik. Guru juga bersedia mengikuti pelatihan atau sertifikasi yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan mengajar yang berguna bagi anak

(21)

10

Universitas Kristen Maranatha memilih untuk menghindari anak tersebut dengan cara menyerahkan anak tersebut pada guru lain

rekan sekerjanya. Selain itu, ketiga guru PAUD “X” tidak bersedia jika harus mengikuti pelatihan atau sertifikasi karena merasa sudah lelah dalam menjalankan tugasnya di sekolah sehingga tidak memiliki energi untuk mengikuti sertifikasi atau pelatihan diluar jam kerja dan tanggung jawab

sekolah.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap 10 guru, 7 guru (70%) mengatakan bahwa

kesulitan yang dialami sebagai tantangan, sesuai dengan aspek work engagement yaitu dedication. Ketujuh guru mengatakan bahwa adanya rasa antusias saat akan mengajar anak, karena guru PAUD “X” merasa dapat melihat perkembangan anak dari berbagai aspek dari hari ke hari. Guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung juga bersedia memberikan perhatian pada anak di luar jam

kegiatan belajar anak disekolah, seperti menghubungi atau mengunjungi anak yang sakit. Hal ini

dilakukan demi menjaga kualitasnya sebagai guru PAUD dan menjaga nama baik sekolah. Selain itu, guru PAUD “X” juga mempersiapkan kegiatan diluar aktivitas mengajar seperti kegiatan

outbound, kegiatan kerohanian seperti memperingati hari paskah dan natal, hari kartini, dan acara

lain yang diadakan setiap bulannya. Sedangkan 3 guru (30%) mengatakan bahwa hal tersebut sebagai beban dan tekanan karena guru merasa kurangnya rasa antusias, waktu, dan tenaga ketika

harus mengerjakan tugas-tugas lain diluar tugas kegiatan mengajar dan ketika harus memperhatikan anak diluar jam sekolah.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap 10 guru, 8 guru (80%) mengatakan mereka menghayati ketika melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar guru PAUD “X” dengan sangat serius dan berkonsentrasi sehingga waktu terasa cepat berlalu, sesuai dengan aspek work

(22)

11

Universitas Kristen Maranatha dan bahkan dengan sukarela mengerjakan pekerjaan melewati waktu jam kerja disekolah.

Sedangkan 2 guru (20%) mengatakan mereka sulit untuk fokus selama bekerja sehingga guru merasa jam kerja disekolah terlalu lama dan memilih untuk datang dan pulang tepat waktu dan memilih untuk mengerjakan tugas sekolah pada jam kerja sekolah.

Dari uraian di atas terlihat bahwa work engagement pada guru-guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung beragam, padahal work engagement merupakan hal yang penting untuk di miliki

oleh guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung. Hal ini mendorong peneliti untuk melakukan suatu penelitian mengenai work engagement pada guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung.

1.2. Identifikasi Masalah

Dari penelitian ini ingin diketahui bagaimana work engagement pada guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung.

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian

Memperoleh gambaran mengenai work engagement pada guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Mengetahui gambaran mengenai derajat work engagement berdasarkan aspek-aspek dari

(23)

12

Universitas Kristen Maranatha 1.4. Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Teoretis

a) Menjadi bahan masukan bagi ilmu Psikologi Industri dan Organisasi mengenai work

engagement.

b) Memberikan sumbangan informasi kepada peneliti lain yang tertarik untuk meneliti

mengenai work engagement serta mendorong dikembangkannya penelitian-penelitian lain yang berhubungan dengan topik tersebut.

1.4.2 Kegunaan Praktis

a) Memberikan informasi bagi Kepala Sekolah PAUD Kristen “X” di Kota Bandung mengenai gambaran work engagement pada guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung

sehingga pihak sekolah dapat mengevaluasi dan memberikan dukungan atau motivasi agar para guru dapat lebih engaged.

b) Memberikan informasi kepada guru Sekolah Kristen PAUD “X” di Kota Bandung

mengenai pentingnya work engagement pada guru untuk dijadikan bahan serta masukan dalam meningkatkan kualitas kinerja guru.

1.5 Kerangka Pemikiran

Guru PAUD adalah pendidik bagi anak usia dini yang bertugas memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan keimanan, keterampilan dan kecerdasan. Peran guru PAUD Kristen “X” di kota Bandung mengembangkan keterampilan dan kecerdasan anak menggunakan

(24)

13

Universitas Kristen Maranatha adalah Bible School, kegiatan berenang secara rutin, menyediakan fasilitas sensory stimulation

room dan taman pasir yang bermanfaat untuk mengerahkan energi anak, menyediakan kelas

bahasa Inggris dan Mandarin, dan sebagainya. Para guru PAUD “X” setiap hari Senin hingga Jumat masuk kerja pada pukul 07.00 dan pulang pada pukul 15.00. Selama delapan jam kerja tersebut guru PAUD “X” harus melaksanakan tugas-tugasnya seperti merancang materi

pembelajaran, mengajar di dalam kelas, memberikan penilaian, mempersiapkan

kegiatan-kegiatan di luar kegiatan-kegiatan kelas, memperhatikan dan mengawasi anak selama anak berada disekolah, serta memberikan perhatian kepada anak yang tidak masuk sekolah dengan cara menghubungi pihak keluarga atau mengunjungi anak. Dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut guru PAUD Kristen “X” di kota Bandung membutuhkan pengerahan energi, dedikasi, serta

konsentrasi yang tinggi.

Mengikuti definisi job demands (Bakker dan Leiter 2010) tugas – tugas yang diemban oleh guru PAUD Kristen “X” di kota Bandung didefinisikan sebagai segala sesuatu dari pekerjaan sebagai guru PAUD yang secara potensial dapat menimbulkan tekanan. Tuntutan kerja

(job demands) pada guru PAUD Kristen “X” di kota Bandung mengarah pada aspek fisik, sosial, dan organisasional yaitu tekanan kerja (work pressure), tuntutan emosi (emotional demands),

tuntutan mental (mental demands), dan tuntutan fisik (physical demands).

Work pressure pada guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung, adalah tekanan kerja yang

dirasakan oleh guru PAUD “X”. Tekanan kerja dirasakan ketika sedang menghadapi anak yang

kesulitan untuk fokus dan aktif dalam mengikuti kegiatan belajar, guru PAUD “X” harus

membuat materi pembelajaran yang disampaikan menarik bagi anak sehingga membuat anak

(25)

14

Universitas Kristen Maranatha

Emotional demands guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung adalah tuntutan dari

perasaan emosional yang dimiliki dalam menjalankan pekerjaannya sebagai seorang guru PAUD. Dalam memenuhi tuntutan sebagai guru PAUD, guru PAUD “X” diharapkan memiliki perasaan

emosional yang stabil dan sabar ketika menghadapi anak yang sulit mengikuti materi

pembelajaran dibandingkan dengan anak yang lain, karena harus diajarkan secara perlahan dan berulang-ulang.

Mental demands guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung adalah tuntutan mental yang dirasakan ketika sedang merancangkan materi pembelajaran untuk kegiatan belajar mengajar di dalam kelas, guru PAUD dituntut untuk berfikir kreatif agar materi yang disiapkan mudah

dipahami sesuai dengan tahap perkembangan anak, menarik, dan terlebih mampu dipahami oleh anak.

Physical demands guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung adalah tuntutan untuk sehat secara jasmani dan memiliki stamina untuk menjalankan peran sebagai guru PAUD. Saat melakukan perencanaan proses mengajar, pelaksanaan proses mengajar dan mengevaluasi hasil

pembelajaran, guru tersebut diharapkan berada dalam keadaan tubuh yang sehat. Hal tersebut dikarenakan guru PAUD dituntut untuk melaksanakan tugasnya dengan optimal.

Dalam menghadapi tuntutan pekerjaan (job demands), guru PAUD “X” memiliki dua sumber daya yang saling berkaitan yaitu job resources dan personal resources. Ketika guru PAUD “X” dihadapkan oleh job demands yang tinggi dan guru PAUD “X” memiliki job

resources dan personal resources yang tinggi maka tuntutan pekerjaan yang ada tidak dianggap

sebagai beban dan guru PAUD “X” akan memiliki motivasi yang tinggi dalam bekerja, guru

(26)

15

Universitas Kristen Maranatha pekerjaannya yang disebut dengan work engagement. Jika guru PAUD “X” dihadapkan oleh job

demands yang tinggi namun memiliki job resources dan personal resources yang rendah maka

tuntutan pekerjaan yang ada akan dianggap sebagai beban yang berat dan guru mudah merasa kelelahan dalam menjalankan tugasnya sehingga guru PAUD “X” kurang memiliki work

engagement.

Sumber daya yang pertama adalah job resources. Menurut Bakker (2010), job resources

merupakan aspek-aspek dari pekerjaan yang fungsional untuk mencapai goal, yang meminimalkan efek dari job demands, atau menstimulasi personal growth. Job resources terdiri dari autonomi, performance feedback, dan dukungan sosial (social support). Autonomi yaitu kebebasan yang dimiliki guru PAUD “X” untuk menggunakan metode pembelajaran dalam

proses mengajar di kelas, penyelesaian masalah yang terjadi dalam kelas, dan penilaian kepada

anak. Ketika guru diberikan kebebasan dalam mengajar dan memberikan penilaian kepada anak maka guru akan melakukan yang terbaik menurut cara mereka sendiri sehingga guru PAUD “X”

akan memiliki work engagement.

Performance feedback yaitu umpan balik yang didapatkan oleh guru PAUD “X”

mengenai pekerjaannya, umpan balik tersebut didapatkan guru PAUD Kristen “X” di Kota

Bandung berasal dari penilaian sesama rekan kerja dan kepala sekolah. Selain itu, feedback juga datang dari pendapat orang tua yang memberikan evaluasi tentang kemajuan anak mereka dari

apa yang telah dipelajari anak tersebut disekolah. Ketika guru PAUD “X” mendapatkan feedback yang positif dari pekerjaannya, maka guru PAUD “X” akan menggunakan metode yang sama

karena dirasa efektif dan merasa berhasil dalam mengajar anak sehingga guru PAUD “X” akan

(27)

16

Universitas Kristen Maranatha

Social support yaitu sikap saling membantu dan memberikan semangat yang didapatkan

oleh guru PAUD “X” dari kepala sekolah dan rekan kerja sesama guru PAUD. Selain itu, social

support juga datang dari keluarga guru masing-masing yang ikut mendukung mereka sebagai

guru PAUD. Ketika guru mendapatkan dukungan dan kerjasama dari rekan kerja, atasan, dan

keluarga saat menghadapi masalah maka guru akan merasa permasalahan yang dihadapi menjadi lebih ringan dan guru merasa yakin dapat mengatasi permasalahan tersebut sehingga guru PAUD “X” memiliki work engagement.

Sumber daya yang kedua berasal dari dalam diri guru PAUD “X” yang disebut sebagai

personal resources. Menurut Bakker (2010), personal resources kepercayaan yang terhadap diri

sendiri dan lingkungan yang dapat memotivasi dan mencapai tujuan. Personal resources dalam penelitian ini dikarakteristikkan oleh self efficacy, optimisme, resilience, dan harapan. Self

efficacy yaitu persepsi individu terhadap kemampuan dirinya untuk melaksanakan dan

menyelesaikan tugas dalam berbagai konteks. Guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung yang

memiliki self-efficacy, percaya akan kemampuannya untuk memenuhi tuntutan yang ada seperti

menjalankan tugas-tugasnya sebagai seorang guru dalam mengajar anak di dalam kelas. Ketika guru PAUD “X” merasa yakin akan kemampuan untuk mengajar anak di dalam kelas dan mampu

menyelesaikan tugas-tugasnya maka guru PAUD “X” memiliki work engagement.

Optimisme yaitu keyakinan individu bahwa dirinya mempunyai potensi untuk bisa berhasil dan sukses dalam hidupnya. Pada guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung tergambar

melalui perasaan yakin bahwa guru PAUD “X” akan mendapatkan hasil yang baik di masa depan.

Saat guru PAUD “X” merasa optimis, mereka terdorong untuk membuat materi pembelajaran

(28)

17

Universitas Kristen Maranatha Resillience yaitu proses adaptasi di bawah tekanan, untuk mempertahankan hasil yang

positif dalam menghadapi peristiwa kehidupan yang negatif. Guru PAUD Kristen “X” di kota Bandung yang memiliki resilience merupakan guru yang sanggup untuk bertahan dan mengatasi masalah dan kesulitan yang muncul dalam pekerjaannya. Dalam proses mengajar guru PAUD “X”

seringkali mengalami hambatan seperti ketika menghadapi anak yang sulit berkonsentrasi di dalam kelas, anak yang mengalami keterlambatan proses perkembangan, atau masalah dengan

orang tua anak namun guru PAUD “X” akan tetap bertahan dan berusaha mengatasi hambatan tersebut. Ketika guru PAUD “X” mampu bertahan untuk mengatasi hambatan yang dirasakan

maka guru PAUD “X” akan memiliki work engagement.

Karakteristik terakhir yaitu hope, adalah harapan yang dimiliki guru PAUD “X” untuk para anaknya. Ketika guru dihadapkan dengan anak yang sulit mengikuti materi pembelajaran

dibandingkan dengan anak lainnya guru PAUD “X” tidak merasa mudah menyerah dalam mengajarkan materi kepada anak tersebut. Guru PAUD “X” akan memiliki harapan ketika guru dapat mengajar anak dengan metode yang tepat guru memiliki keyakinan bahwa kelak anak

tersebut dapat mengerti dan memahami materi dengan baik,

Berdasarkan hasil penelitian (Xanthopoulou et al., 2009) job resources pada hari

sebelumnya dapat memengaruhi personal resources pada hari berikutnya, dan pada akhirnya memengaruhi work engagement dan performance mereka. Tersedianya job resources dan

personal resources tersebut berdampak bagi level work engagement yang terdiri dari aspek vigor,

dedication, dan absorption.

Menurut Schaufeli et. Al (2008), pengerahan energi, dedikasi serta konsentrasi dalam

suatu pekerjaan termasuk dalam work engagement. Definisi work engagement adalah suatu perlibatan diri pada pekerjaan yang ditandai dengan adanya aspek vigor, dedication, dan

(29)

18

Universitas Kristen Maranatha 2010). Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam menentukan derajat tinggi atau rendahnya

work engagement yang dimiliki oleh seseorang. Aspek vigor adalah curahan energi dan mental

yang kuat selama bekerja, keberanian untuk berusaha sekuat tenaga dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, dan tekun dalam menghadapi kesulitan kerja. Apabila guru PAUD “X” memiliki vigor

yang tinggi maka guru PAUD “X” akan mengerahkan energi yang mereka miliki dan berusaha mengarahkan anak untuk dapat mengikuti proses belajar dengan baik meskipun menghadapi anak

yang aktif di dalam kelas dan sulit berkonsentrasi. Guru PAUD “X” juga memiliki kesadaran diri untuk bersedia mengikuti pelatihan atau sertifikasi yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan mengajar yang berguna bagi anak didiknya. Sebaliknya apabila guru PAUD “X”

memiliki vigor yang rendah maka guru PAUD “X” merasa kurang memiliki energi yang cukup ketika harus menghadapi anak yang aktif dan tidak bersedia mengikuti pelatihan dan sertifikasi.

Aspek dedication adalah perlibatan diri yang kuat terhadap pekerjaan dan merasakan keberartian, antusisme, inspirasi kebanggaan dan tantangan. Apabila guru PAUD “X” memiliki

dedication yang tinggi maka guru PAUD “X” akan mengajar anak dengan antusias, karena guru PAUD “X” merasa dapat melihat perkembangan anak dari berbagai aspek dari hari ke hari. Guru

PAUD Kristen “X” di Kota Bandung juga bersedia memberikan perhatian pada anak di luar jam

kegiatan belajar anak di sekolah, seperti menghubungi atau mengunjungi anak yang sakit. Hal ini dilakukan demi menjaga kualitasnya sebagai guru PAUD dan menjaga nama baik sekolah. Selain itu, guru PAUD “X” juga mempersiapkan kegiatan di luar aktivitas mengajar seperti kegiatan

outbound, kegiatan kerohanian seperti memperingati hari paskah dan natal, hari kartini, dan acara

lain yang diadakan setiap bulannya. Sebaliknya, apabila guru PAUD “X” memiliki dedikasi yang

(30)

19

Universitas Kristen Maranatha tugas-tugas lain diluar tugas kegiatan mengajar dan ketika harus memperhatikan anak diluar jam

sekolah.

Aspek yang terakhir adalah absorption. Absorption adalah ketika bekerja guru selalu penuh konsentrasi dan serius terhadap suatu pekerjaan ditandai dengan konsentrasi penuh.

Apabila guru PAUD “X” memiliki absorption yang tinggi maka guru PAUD “X” akan larut dalam pekerjaannya selama 8 jam kerja setiap harinya, sehingga guru PAUD “X” merasa waktu

jam kerja menjadi terlalu singkat dan bahkan dengan sukarela mengerjakan pekerjaan melewati waktu jam kerja disekolah. Sebaliknya, apabila guru PAUD “X” memiliki absorption yang rendah maka guru PAUD “X” sulit untuk fokus selama jam kerja sehingga merasa bahwa jam

kerja disekolah terlalu lama dan memilih untuk datang dan pulang tepat waktu dan memilih untuk mengerjakan tugas pada jam kerja sekolah.

Tinggi rendahnya derajat work engagement pada guru PAUD Kristen “X” tidak lepas dari

keterkaitan vigor, dedication dan absorption. Guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung yang memiliki derajat work engagement yang tinggi akan memiliki perasaan bangga akan

pekerjaannya sebagai guru PAUD, memiliki energi yang besar, larut dalam pekerjaan sehingga lupa waktu, dan tetap bertahan meskipun dalam menjalankan pekerjaannya mengalami banyak

hambatan dan kesulitan sehingga masalah yang ada dan tututan pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik. Guru PAUD “X” juga menghayati bahwa pekerjaannya itu menyenangkan dan sulit

untuk melepaskannya.

Sebaliknya guru PAUD Kristen “X” di Kota Bandung yang memiliki derajat work engagement yang rendah akan memiliki perasaan kecewa terhadap profesi mereka sebagai guru,

(31)

20

Universitas Kristen Maranatha anggap sebagai beban sehingga mereka tidak memiliki semangat untuk bekerja. Pelibatan diri guru PAUD “X” dengan pekerjaan pun tergolong lemah karena guru PAUD “X” tidak

menghayati bahwa pekerjaannya itu penuh makna, menginspirasi dan menantang. Selain itu, guru PAUD “X” tidak merasa kesulitan untuk melepaskan diri dari pekerjaan ataupun melupakan

(32)

21

Universitas Kristen Maranatha Secara skematis, dapat digambarkan sebagai berikut :

Bagan 1.1 Bagan Kerangka Pemikiran

Guru PAUD Kristen “X” di kota

Bandung

Work Engagement

Guru

Aspek work

engagement: - Vigor - Dedication - Absorption Work Engagement Tinggi Work Engagement Rendah Faktor yang mempengaruhi

Job demands : - work pressure - emotional

demands - mental demands - physical

Job resources :

- autonomy

- performance feedback

- social support

(33)

22

Universitas Kristen Maranatha 1.6. Asumsi Penelitian

1. Derajat work engagement pada masing-masing guru di Sekolah Kristen PAUD “X” di Bandung berbeda-beda.

2. Aspek-aspek dari work engagement adalah vigor, dedication, dan absorption.

3. Derajat work engagement pada guru akan berpengaruh pada performance-nya dalam bekerja.

(34)

65 Universitas Kristen Maranatha BAB V

SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka diperoleh suatu gambaran mengenai work engagement pada guru PAUD Sekolah Kristen “X” di Kota Bandung dengan

simpulan sebagai berikut :

1. Dapat dikatakan bahwa jumlah guru dengan derajat work engagement yang tergolong

tinggi dan guru dengan derajat work engagement yang tergolong rendah hampir merata.

2. Aspek work engagement yang paling rendah pada guru-guru dengan derajat work

engagement yang tergolong rendah adalah dedication, hal ini terlihat dari kurangnya

pelibatan diri yang guru PAUD “X” lakukan karena guru PAUD “X” cenderung tidak

melibatkan diri di luar kegiatan sekolah yang dapat membantu menunjang pekerjaannya.

3. Aspek vigor merupakan aspek yang paling kuat ditampilkan oleh seluruh guru karena

sebagian besar guru PAUD “X” memiliki energi yang tinggi ketika bekerja dan memiliki dukungan dari orang-orang sekitar sehingga membuat guru PAUD “X” dapat

(35)

66

Universitas Kristen Maranatha 5.2. Saran

5.2.1. Saran Teoritis

1. Bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian mengenai work engagement terhadap

guru PAUD lain sehingga dapat lebih tergambar work engagement pada

guru-guru PAUD di Kota Bandung.

2. Bagi peneliti lain yang ingin meneliti mengenai work engagement, dapat melakukan

penelitian lebih lanjut dan lebih spesifik mengenai keterkaitan faktor-faktor anteseden dari work engagement, yaitu job resources, job demands dan personal resources dalam memunculkan work engagement.

5.2.2. Saran Praktis

1. Memberikan informasi pada Guru PAUD Sekolah Kristen “X” di Kota Bandung untuk

dapat memertahankan aspek vigor dengan terus lebih semangat dalam bekerja dan pantang menyerah ketika menghadapi hambatan. Pandanglah hambatan yang terjadi

sebagai hal positif yang akan membuat guru lebih dapat tahu bagaimana cara menghadapi siswa dengan benar dan menambah pengalaman dalam menjalankan

pekerjan sebagai seorang guru PAUD.

2. Memberikan informasi kepada Kepala Sekolah Kristen PAUD “X” di Kota Bandung

(36)

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI WORK ENGAGEMENT PADA GURU PAUD SEKOLAH KRISTEN “X” DI KOTA BANDUNG

SKRIPSI

Diajukan untuk menempuh Sidang Sarjana pada Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha

Oleh:

INDRA IVANI SHEREN NRP: 1130038

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BANDUNG

(37)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa karena atas berkat dan bimbingan–Nya, peneliti dapat menyelesaikan tugas penelitian akhir atau skripsi di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, dengan judul “Studi Deskriptif Mengenai Work Engagement

pada Guru PAUD “X” Sekolah Kristen di Kota Bandung”. Peneliti sangat menyadari bahwa

dalam penelitian ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari sempurna, karena itu peneliti sangat terbuka dan sangat menghargai kritik dan saran dari pembaca untuk menyempurnakan tugas ini.

Dalam penyusunan tugas ini, peneliti mendapatkan bantuan, bimbingan, dukungan dan masukan dari berbagai pihak. Maka, pada kesempatan ini, peneliti ingin menyampaikan

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Irene P. Edwina. M.Si., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

2. Dosen wali sekaligus dosen pembimbing utama peneliti, Dra. Kuswardhini, M.Psi.,

Psikolog yang selalu memberikan arahan, bimbingan, bantuan, dukungan, semangat,

saran-saran dan bantuan lainnya kepada peneliti.

3. Dosen pembimbing kedua peneliti yaitu Kristin Rahmani, M.Si., Psikolog yang senantiasa

memberi bimbingan, arahan, dukungan, semangat dan masukan kepada peneliti.

4. Lois M. Sugiaman, M.Si., Psikolog selaku kepala sekolah PAUD “X” di Kota Bandung beserta seluruh guru yang memberikan informasi dan masukan kepada peneliti mengenai

keadaan sampel penelitian ini.

5. Indra Chandra dan Elice Kosasih selaku orangtua peneliti, Indra Ivana Angela dan Indra

(38)

viii

6. Albert Morgan, Theo Adrian, Fenicia, Thania, Christine, Vania, Monica, Ita, Raissa, Gaya

dan yang mendukung dan memberikan semangat bagi penulisan tugas ini.

8. Pihak-pihak lainnya yang memberikan dukungan, semangat, arahan, saran, kritik dan bantuan lainnya kepada peneliti, yang tidak dapat peneliti sebutkan satu-persatu.

Akhir kata, peneliti berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan pihak–pihak yang terlibat di dalam penelitian ini.

Bandung, Desember 2016

(39)

67 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA

Bakker, A.B., Schaufeli, W.B., Leiter, M.P., & Taris, T.W. 2002. Work Engagement : An Emerging Concept in Occupational Health Psychology. Journal of Work & Stress, 187-200.

__________. 2006a. The Job Demands-Resources Model: State of The Art.

Journal of Managerial Psychology. Volume 22, No. 3.

__________.2006b. The Job demands-resources model: State of the art. Journal of

Managerial Psychology, 22, 309-328.

__________. 2009c. Building engagement in the workplace. Building Engagement,8-23. 2011. An Evidence-based model of Work Engagement. Psychological Science, 268.

__________. 2010d. Work Engagement : A Handbook of Essential Theory

and Research. New York : Psychology Press.

Basikin.2007.Vigor, Dedication and Absorption : Work Engagement among Secondary School English Teachers In Indonesia. Journal of Educational Psychology, 274-284.

Papalia, Diane. E., & Ruth D. F. (2012). Experience Human Development ed. 12th. New York, U.S : Mc GRAW-HILL

Kuntjojo. 2012. Konsep-konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jurnal Psikologi

Pendidikan. hal. 4-6, Volume 01, No. 01.

(40)

68 Universitas Kristen Maranatha DAFTAR RUJUKAN

Fakultas Psikologi. 2015. Pedoman Penulisan Skripsi Sarjana Edisi Revisi Juli 2015. Bandung: Universitas Kristen Maranatha.

www. dikti. go.id Kebijakan Pemerintah untuk Para Pendidik PAUD (diakses Februari 2016)

www. Ebekunt.com Manfaat Pendidikan Anak Usia Dini (diakses Januari 2016)

www. Academia. Edu Peran Guru dalam Pendidikan Anak Usia Dini (diakses Januari 2016)

Zebia, A.2014. Studi Deskriptif Mengenai Work Engagement Pada Guru SD Negri “X” di Kota Bandung. Skripsi. Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

http://sindikker.ristekdikti.go.id/dok/UU/UUNo142005(Guru%20&%20Dosen).pdf)

Gambar

Gambar 3.1

Referensi

Dokumen terkait

Pada tahap pelaksanaan tindakan dilakukan oleh penulis sendiri sebagai peneliti sekaligus praktis dalam pembelajaran di kelas.Dalam tahapan ini penulis berkolaborasi

[r]

3 A proposed Model on Kansei Engineering ( Schütte 2006) 3 4 An affective design framework of Bogor pickle based on KE 5 5 Example of semantic differential questionnaire

Sesuai dengan hasil penelitian dimana pelaksanaan sistem pembinaan profesional guru yang dilakukan oleh Kepala Sekolah dan Pengawas kepada guru SD di Kecamatan Banjaran

Jika melihat pada kenyataan yang ada, di mana sarana dan prasarana pendidikan tidak dapat menunjang proses belajar mengajar karena memang pengadaan sarana

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Pendapat siswa tentang penggunakan metode edutainment pada materi teknik- teknik dasar memasak kompetensi dasar

pada kolon tikus (perbedaan tidak signifikan), baik antara kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan isolat Lactobacillus , meskipun sebagian besar kelompok

[r]