• Tidak ada hasil yang ditemukan

APLIKASI LAMPU LED (LIGHT EMITTING DIODE) PADA PENGOPERASIAN BAGAN TANCAP IMANUEL MUSA THENU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "APLIKASI LAMPU LED (LIGHT EMITTING DIODE) PADA PENGOPERASIAN BAGAN TANCAP IMANUEL MUSA THENU"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

IMANUEL MUSA THENU

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2014

(2)
(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Aplikasi Lampu LED (Light Emmiting Diode) pada Pengoperasian Bagan Tancap adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Januari 2014

Imanuel Musa Thenu C451100011

(4)

IMANUEL MUSA THENU. Aplikasi Lampu LED (Light Emitting Diode) pada Pengoperasian Bagan Tancap. Dibimbing oleh GONDO PUSPITO dan SULAEMAN MARTHASUGANDA.

Keberhasilan operasi penangkapan ikan dengan bagan tancap sangat tergantung pada cahaya lampu. Fungsi cahaya di sini adalah sebagai pemikat ikan untuk datang. Pemasangan sumber cahaya di atas jaring akan menyebabkan ikan-ikan yang bersifat fototaksis positif -- yang tertarik pada cahaya dan menjadi tujuan penangkapan bagan -- akan berkumpul di bawah bagan. Jaring yang telah ditenggelamkan akan dengan mudah menangkap gerombolan ikan yang berkumpul di atasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mendapatkan konstruksi lampu yang paling efektif untuk menangkap ikan dengan bagan tancap; (2) Menentukan komposisi hasil tangkapan bagan tancap yang menggunakan lampu LED yang digantung, dicelupkan ke dalam air dan lampu fluorescent; dan (3) Menentukan waktu penangkapan yang paling efektif dalam pengoperasian bagan tancap.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan. Penelitian diawali dengan perancangan dan pengukuran lampu hemat energi, selanjutnya dilakukan ujicoba penangkapan ikan dengan bantuan lampu yang telah dibuat. Data hasil tangkapan pada masing-masing perlakuan dianalisis secara deskriptif komparatif untuk membandingkan kemampuan tangkap dan efisiensi lampu hasil rancangan dengan lampu fluorescent. Selanjutnya untuk melihat pengaruh penggunaan lampu celup, lampu gantung, dan lampu fluorescent pada waktu yang berbeda terhadap hasil tangkapan dilakukan analisis statistik Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sebelum dilakukan uji RAL, data tersebut diuji kenormalannya menggunakan analisis Klomogrov-smirnov. Jika data menyebar normal, maka akan dilakukan uji statistik parametrik Rancangan Acak Lengkap (RAL), namun jika tidak, akan diuji statistik non parametrik Kruskal-Wallis.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, konstruksi lampu celup LED menghasilkan tangkapan seberat 287,6 kg, atau lebih tinggi dibandingkan dengan konstruksi lampu fluorescent 238,3 kg dan lampu gantung LED 209,5 kg. Lampu celup LED menghasilkan 11 jenis organisma tangkapan yang terdiri atas 212 kg HTU dan 74,8 kg HTS, lampu gantung LED 10 jenis organisma (148,9 kg dan 60,0 HTS) dan lampu fluorescent 6 jenis organisma (227,5 kg HTU dan 10,8 kg HTS). Waktu efektif pengoperasian bagan tancap dengan ketiga lampu adalah antara pukul 18.00-21.00 yang menghasilkan (289,5 kg), sedangkan 21.00-24.00 WIB (166,8 kg), 03.00-06.00 WIB (146,3 kg) dan 00.00-03.00 WIB (134,4 kg). Kata kunci : Light emitting diode, lampu celup LED, lampu gantung LED bagan

(5)

IMANUEL MUSA THENU. Application of LED (Light Emitting Diode) Lamp in Stationary Lift Net Operation . Supervised by GONDO PUSPITO and SULAEMAN MARTASUGANDA.

The success of fishing operations with lift net is highly dependent on light lamp. Light function here is as a decoy fish to come. Installation of the light source on the net will cause the fish that are positive fototaksis -- who is interested in catching the light and into the goal chart-- will at the bottom of the net. Net which has sunk will easily catch schooling of fish that congregate on it. The purpose of this study is (1) Getting the most effective construction lights to catch fishing with at stationary lift net; (2) Determine composition of catches stationary lift net that uses LED lights that hanging, dipped in water and fluorescent lamp; and (3) Determine the most effective time of the catch in the operation on stationary lift net.

The method used is experimental fishing. The study begins with the design and measure of energy saving lamps, the next trial fishing conducted with the help of lights that have been made. Catch data for each treatment were analyzed descriptive comparative to compare is capability catch and efficiency of the lamp that designed and fluorescent lamp by the fishermen. Furthermore, to see the effect of the use of submersible lamps, hanging lamps, and fluorescent lamp (fisherman) at different times of the statistical analysis of the catch completely randomized design (RAL). Before the RAL test, the data was tested using normality test by analysis Klomogrov Smirnov. If the normal spread of data, then the parametric statistical tests will be done completely randomized design (RAL), but if not, will be tested non-parametric statistical Kruskal-Wallis.

These results indicate that construction submersible LED lights produce a catch weight of 287.6 kg or higher than the fluorescent lamp construction 238.3 kg and 209.5 kg LED chandelier. Submersible LED lights produces 11 types of organisms catches consisting of HTU 212 kg and HTS 74.8 kg, LED hanging lamp 10 types of organisms (148.9 kg and 60.0 HTS) and fluorescent lamp result 6 tipe organisms (227.5 kg HTU and 10.8 kg HTS). Time to step on the effective operation of the third lamp of stationary lift net is between the hours of 18:00 to 21:00 that produce (289.5 kg), while 21.00-24.00 hrs (166.8 kg), 3:00 to 6:00 pm (146.3 kg) and 00:00 to 3:00 pm (134.4 kg).

Key words: Light emitting diode, LED submersible lamps, LED hanging lamps, and fluorescent lamp and Sangrawayang

(6)

© Hak Cipta milik IPB, Tahun 2014

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

 Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

 Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun baik cetak, fotokopi, mikrofilm dan sebagainya tanpa izin IPB.

(7)

IMANUEL MUSA THENU

Tesis

Sebagai salahsatu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Teknologi Perikanan Tangkap

SEKOLAH PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2014

(8)
(9)

Judul Tesis : Aplikasi Lampu LED (Light Emitting Diode) pada Pengoperasian Bagan Tancap

Nama : Imanuel Musa Thenu

Nomor Pokok : C451100011

Program Studi : Teknologi Perikanan Tangkap

Disetujui oleh

Komisi Pembimbing

Dr Ir Gondo Puspito, MSc Dr Sulaeman Martasuganda, MSc Ketua Anggota

Diketahui oleh,

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana IPB Teknologi Perikanan Tangkap

Prof Dr Ir Mulyono S Baskoro, MSc Dr Ir Dahrul Syah, Msc Agr

(10)

Esa atas segala anugerah, kekuatan dan karunia-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tulisan ini.

Penelitian yang berjudul “Aplikasi Lampu LED (Light Emitting Diode) pada Pengoperasian Bagan Tancap” ini merupakan salah satu syarat untuk meraih gelar Magister Sains pada Program Studi Teknologi Perikanan Tangkap, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada

Dr. Ir. Gondo Puspito, MSc selaku ketua komisi pembimbing d a n Dr. Sulaeman Martasuganda, MSc, selaku anggota pembimbing yang telah

mengajarkan banyak hal kepada penulis. Penyusunan tesis ini tak lepas dari bantuan berbagai pihak,

Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yang telah memberikan kesempatan dan beasiswa bagi penulis untuk melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor;

2. Direktur Politeknik Perikanan Negeri Tual yang telah memberikan izin kepada Penulis untuk melanjutkan studi pada Sekolah Pascasarjana IPB; 3. Ketua Program Studi Teknologi Perikanan Tangkap yang telah memberikan

arahan, masukan dan motivasi selama penulis menempuh studi di Program Studi Teknologi Perikanan Tangkap;

4. Papa, mama dan adikku Livan dan William atas doa, semangat dan motivasi yang selalu diberikan selama ini;

5. Elizabeth J. Tapotubun, S.Pi, M.Si dan Yeshua Nouch Huan Thenu, atas motivasi yang diberikan selama ini;

6. Keluarga besar Thenu dan Tapotubun di Ambon dan Tual atas doa dan semangat yang diberikan kepada penulis;

7. Dosen dan Staf Pegawai Program Studi Teknologi Perikanan Tangkap yang telah memberikan ilmu maupun pengalaman-pengalaman berharga bagi penulis selama menempuh ilmu di IPB;

8. Teman-teman seperjuangan di Laboratorium TPI atas semangat dan kebersamaan yang terjalin erat selama ini khususnya, Pak Ismawan Tallo, Didin Komarudin, David Julian, Misbah Sururi, Supriono Ahmad, Edy Miswar, Mose Rahangningmas dan Muth Mainnah Yusuf;

9. Smile Crew “ Lady Tetelepta, Boy Toisuta, Styla Johanes, Meiske Manery, Frejon Rieuwpassa, Aprillia Tomasoa; terima kasih untuk doa dan kebersamaan kita selama ini; dan Persekutuan Mahasiswa Maluku (PERMAMA); terima kasih untuk semua doa, nasihat dan kebersamaan yang terjalin selama ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan tesis ini. Kritik dan saran untuk perbaikan dan penyempurnaan tesis ini sangat diharapkan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Bogor, Januari 2014

(11)

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

DAFTAR ISTILAH xvi

1 PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Perumusan Masalah 2 Tujuan 2 Manfaat 3 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 Bagan Tancap 6 Cahaya 7

Peran Cahaya pada Bagan Tancap 7

Jenis Tangkapan Bagan Tancap 8

Lampu LED (Light Emitting Diode ) 10

3 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 13

4 METODOLOGI 14

Waktu dan Tempat Penelitian 14

Alat dan Bahan 14

Metode Penelitian 15

Analisis Data 20

5 HASIL DAN PEMBAHASAN 22

Iluminasi Cahaya 22

Komposisi Hasil Tangkapan Bagan Tancap 26

Hasil Tangkapan Bagan Berdasarkan Jenis Lampu 29

Berat Hasil Tangkapan Berdasarkan Waktu Operasi Penangkapan 34

6 SIMPULAN DAN SARAN 39

DAFTAR PUSTAKA 40

(12)

1 Spesifikasi lampu LED ultra bright 5 mm 15

2 Analisa ragam rancangan acak lengkap (RAL) anak contoh 21

3 Nilai iluminasi cahaya lampu celup LED pada medium udara 23 4 Nilai iluminasi cahaya lampu gantung LED pada medium udara 24 5 Nilai iluminasi cahaya lampu fluorescent pada medium udara 25

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka pemikiran 4

2 Bagan tancap 5

3 Lampu LED ultra bright 5 mm 12

4 Lampu LED 14

5 Rangkaian paralel 15

6 Posisi pengukuran intensitas cahaya dengan luxmeter 17

7 Tampak depan posisi pemasangan lampu celup LED, lampu gantung

LED Dan lampu fluorescent 19

8 Iluminasi dan arah pancaran cahaya lampu celup LED pada medium

udara 23

9 Iluminasi dan arah pancaran cahaya lampu gantung LED pada medium

udara 25

10 Iluminasi dan arah pancaran cahaya lampu fluorescent pada medium

Udara 26 11 Komposisi berat hasil tangkapan bagan berdasarkan jenis organisma 27 12 Komposisi berat hasil tangkapan bagan menggunakan lampu celup 29 13 Komposisi berat hasil tangkapan bagan tancap menggunakan lampu

gantung 31

14 Komposisi berat hasil tangkapan menggunakan lampu fluorescent 32 15 Perbandingan berat hasil tangkapan berdasarkan jenis organisma dan

jenis lampu yang di gunakan 33

16 Presentase total hasil tangkapan per waktu hauling 36

17 Perbandingan berat organisma hasil tangkapan bagan dengan lampu

celup berdasarkan waktu penangkapan 37

18 Perbandingan berat organisma hasil tangkapan bagan dengan lampu

gantung berdasarkan waktu penangkapan 37

19 Perbandingan berat organisma hasil tangkapan bagan dengan lampu

(13)

1 Peta lokasi penelitian 44

2 Alat dan bahan 45

3 Berat total organisma hasil tangkapan bagan tancap 50

4 Berat total organisma hasil tangkapan sampingan bagan tancap 50

5 Berat hasil tangkapan bagan menggunakan lampu celup 51

6 Komposisi berat hasil tangkapan bagan menggunakan lampu gantung 51 7 Berat hasil tangkapan bagan tancap menggunakan lampu fluorescent 52

8 Pengaruh penggunaan lampu terhadap hasil tangkapan 52

9 Hasil analisa sidik ragam pengaruh waktu penangkapan ketiga jenis

lampu terhadap hasil tangkapan 53

(14)

atau susunan bambu berbentuk persegi empat yang ditancapkan sehingga berdiri kokoh di atas perairan, dimana pada tengah bagan digantungkan lampu yang berfungsi sebagai alat pengumpul ikan dan di tengah bagan juga dipasangkan jaring yang dapat dinaik-turunkan untuk menangkap ikan

Batere kering : Batere kering adalah sebuah sel atau

elemen sekunder dan merupakan sumber arus listrik searah yang dapat mengubah energi kimia menjadi energi listrik

Charger : Alat untuk mengisi batere kering

dengan tegangan konstan hingga mencapai tegangan yang ditentukan

Fototaksis positif : Tertarik pada cahaya

Generator : alat yang dapat mengubah tenaga

mekanik menjadi energi listrik

HTT : Hasil tangkapan total

HTU : Hasil tangkapan utama

HTS : Hasil tangkapan sampingan

Iluminasi cahaya : Jumlah pancaran cahaya dalam satu

detik yang jatuh pada suatu permukaan bidang

Intensitas cahaya : Daya yang dipancarkan oleh suatu

sumber cahaya pada arah tertentu per satuan sudut

Konstruksi : Susunan yang saling terhubung

sehingga menjadi satu kesatuan LED (light emittion diode) : Diode semi konduktor yang

memancarkan cahaya ketika dialiri arus listrik

Light fishing : Penangkapan ikan dengan

memanfaatkan cahaya sebagai alat bantu penangkapan

Luxmeter : Alat untuk mengukur intensitas

cahaya

Lampu gantung LED : Konstruksi lampu LED yang

posisinya di gantung

Lampu celup LED : Konstruksi lampu LED yang

posisinya dicelupkan ke dalam perairan

(15)
(16)

I PENDAHULUAN

Latar belakang

Bagan tergolong alat tangkap yang bersifat pasif. Konstruksinya dibentuk oleh susunan bambu yang dirangkai menjadi bangun berbentuk persegi. Kaki-kakinya ditancapkan ke dasar perairan, sehingga konstruksinya berdiri kokoh di atas permukaan air. Pada bagian tengah bagan digantungkan lampu yang berfungsi sebagai alat bantu pengumpul ikan. Pada bagian tengah bagan, juga dipasang jaring yang dapat dinaikturunkan untuk menangkap ikan. Subani dan Barus (1989) mengelompokkan jenis alat tangkap ini ke dalam jaring angkat.

Jenis alat tangkap bagan pertama kali diperkenalkan oleh nelayan Bugis pada tahun 1950-an. Seiring dengan berjalannya waktu dan perpindahan nelayan Bugis ke berbagai tempat di Indonesia, keberadaan bagan menyebar dan berkembang di berbagai perairan Indonesia. Bentuk bagan juga mengalami perubahan dan penyempurnaan. Jenis bagan yang umum dioperasikan selain bagan tancap adalah bagan perahu, bagan rakit dan bagan apung. Jenis bagan terakhir yang berukuran sangat besar disebut sebagai bagan rambo.

Keberhasilan operasi penangkapan ikan dengan bagan tancap sangat tergantung pada cahaya lampu. Fungsi cahaya di sini adalah sebagai pemikat ikan untuk datang. Pemasangan sumber cahaya di atas jaring akan menyebabkan ikan-ikan yang bersifat fototaksis positif -- yang tertarik pada cahaya dan menjadi tujuan penangkapan bagan -- akan berkumpul di bawah sumber cahaya. Jaring yang telah ditenggelamkan akan dengan mudah menangkap gerombolan ikan yang berkumpul di atasnya.

Ada banyak jenis sumber cahaya yang digunakan sebagai alat bantu penangkapan ikan dengan bagan, salah satunya adalah lampu TL (tubular lamp) atau fluorescent. Jenis lampu ini awalnya sangat popular tetapi saat ini dianggap sangat tidak ekonomis, karena harga bahan bakar minyak sangat mahal. Ini sangat dirasakan oleh nelayan bagan di berbagai tempat di Indonesia, salah satunya adalah nelayan Desa Sangrawayang.

Sebagian besar penduduk desa Sangrawayang bermata pencaharian sebagai nelayan bagan tancap. Menurut mereka permasalahan utama pada pengoperasian bagan tancap adalah biaya operasinya yang sangat mahal. Mereka menggunakan bensin untuk menghidupkan generator sebagai pemasok listrik untuk menyalakan lampu fluorescent. Biaya operasi yang dikeluarkan oleh nelayan sering kali tidak sebanding dengan jumlah hasil tangkapan yang diperoleh.

Pada penelitian ini diujicobakan penggunaan lampu dengan sumber energi alternatif berupa batere kering. Fungsi baterey kering sebagai media penyimpan dan pensuplai arus listrik pada lampu yang telah dirancang khusus sebagai alat bantu penangkapan pada bagan tancap. Jenis lampu yang digunakan adalah LED (light emittion diode) yang murah dan sangat hemat energi.

Konstruksi lampu LED dibuat dalam 2 rancangan, yaitu konstruksi lampu LED yang digantungkan di bawah bagan atau lampu gantung LED dan konstruksi lampu LED yang dicelupkan ke dalam air atau lampu celup LED. Keberhasilan

(17)

ujicoba lampu LED diharapkan dapat membantu nelayan untuk mengoptimalkan hasil tangkapan dan meminimalkan biaya operasi penangkapan.

Publikasi mengenai penggunaan lampu LED sebagai alat bantu penangkapan ikan dengan bagan belum ditemukan. Beberapa hasil riset yang didapatkan umumnya membahas mengenai penggunaan lampu fluorescent untuk meningkatkan hasil tangkapan, seperti yang dilakukan oleh Taaludin (2000), Syafrie (2012) dan Sulaiman (2006). Hasilnya membuktikan bahwa penggunaan lampu fluorescent pada bagan dapat meningkatkan hasil tangkapan. Ketiga publikasi ini dijadikan sebagai bahan masukan dalam melakukan pembahasan hasil penelitian ini.

Rumusan masalah

Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan bagan tancap adalah cahaya yang digunakan sebagai alat bantu penangkapan. Beberapa jenis sumber cahaya yang digunakan oleh nelayan adalah lampu petromaks dan lampu fluorescent. Masalah yang terdapat pada penggunaan kedua jenis lampu adalah bahan bakarnya yang cukup mahal, sehingga biaya operasional nelayan bagan semakin meningkat. Padahal nilai penjualan hasil tangkapan terkadang jauh lebih murah dibandingkan dengan harga bahan bakar yang digunakan. Kondisi ini menyebabkan banyak nelayan yang menghentikan kegiatan penangkapannya untuk sementara.

Solusi untuk mengatasi permasalahan nelayan bagan adalah dengan memanfaatkan jenis lampu yang efektif dalam menangkap ikan, hemat energi, mudah digunakan, harganya murah, mudah dioperasikan dan biaya operasionalnya murah. Jenis lampu yang dimaksud adalah LED atau light emitting diode. Jenis lampu ini masih belum digunakan oleh nelayan bagan tancap. Padahal jenis lampu ini memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan lampu petromaks maupun lampu fluorescent. Sumber energi yang digunakan hanya batere kering bertegangan 12 volt yang dapat diisi ulang dengan biaya yang sangat murah.

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mendapatkan konstruksi lampu yang paling efektif untuk menangkap ikan dengan bagan tancap.

2. Menentukan komposisi hasil tangkapan bagan tancap yang menggunakan lampu LED yang digantung, dicelupkan ke dalam air dan lampu fluorescent nelayan; dan

3. Menentukan waktu penangkapan yang paling efektif dalam pengoperasian bagan tancap.

(18)

Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat:

1. Memberikan masukan kepada nelayan dalam meningkatkan produksi bagan tancap dengan menggunakan lampu LED sebagai alat bantu penangkapan.

2. Menghemat biaya pengoperasian bagan, karena biaya operasi lampu LED sangat murah; dan

3. Menjadi masukan pada penelitian lebih lanjut untuk memperbaiki teknologi penangkapan ikan dengan bagan tancap.

Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Penggunaan lampu LED akan meningkatkan jumlah hasil tangkapan bagan tancap; dan

2. Komposisi jenis organisma hasil tangkapan bagan tancap dengan lampu LED lebih bervariasi dibandingkan dengan lampu fluorescent.

(19)

Kerangka pemikiran

Kerangka pemikiran penelitian ditunjukkan pada Gambar 1.

(20)

2 TINJAUAN PUSTAKA

Bagan Tancap

Bagan tancap adalah alat penangkap ikan yang terdiri atas susunan bambu berbentuk persegi empat yang ditancapkan dengan konstruksi tetap sehingga berdiri kokoh di atas perairan. Jaring dipasang pada bagian tengah bangunan yang berfungsi sebagai alat untuk menangkap ikan (Gambar 2). Jenis alat tangkap ini pertama kali diperkenalkan olah nelayan Bugis Makasar pada tahun 1950-an (Subani dan Barus, 1989). Adapun menurut Sudirman dan Mallawa (2004), bagan tancap merupakan rangkaian atau susunan bambu berbentuk persegi empat yang ditancapkan sehingga berdiri kokoh di atas perairan. Alat tangkap ini bersifat in mobile (tetap). Ini karena alat tersebut di tancapkan ke dasar perairan yang berarti kedalaman laut tempat beroperasinya alat ini menjadi sangat terbatas, yaitu pada perairan dangkal dengan kedalaman antara 8-15 m.

Jaring yang biasanya digunakan pada bagan berupa waring dengan mesh size 0,5 cm. Posisi jaring berada di bagian bawah bangunan bagan. Jaring diikatkan pada bingkai bambu yang berbentuk empat persegi. Bingkai bambu tersebut dihubungkan dengan tali pada keempat sisinya yang berfungsi untuk menaikturunkan jaring. Adapun alat bantu yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan jaring adalah penggulung. Pada keempat sisi jaring diberi pemberat agar posisi jaring tetap stabil sewaktu dilakukan perendaman (Subani dan Barus, 1989).

Gambar 2 Bagan tancap

Bagan tancap merupakan salah satu alternatif teknologi penangkapan dengan investasi yang relatif lebih murah jika di bandingkan dengan jenis alat tangkap lainya. Warda, (2013). Pengoperasian bagan tancap tidak menggunakan umpan. Alat bantu yang digunakan adalah atraktor cahaya. Fungsinya untuk merangsang atau menarik perhatian ikan untuk datang berkumpul di bawah cahaya lampu. Yuda (2012). Adapun jenis alat bantu yang digunakan untuk

(21)

membantu kelancaran operasi penangkapan diantaranya berupa serok dan keranjang. Serok digunakan untuk mengambil hasil tangkapan, sedangkan keranjang sebagai wadah untuk mengangkut ikan. Ayodyoa,( 1981).

Pengoperasian bagan dimulai pada saat matahari mulai tenggelam dan diakhiri ketika matahari mulai terbit. Rincian pengoperasiannya, menurut Subani dan Barus (1989), adalah sebagai berikut:

1. Persiapan berupa pengecekan terhadap jaring bagan, penggulung untuk menaikturunkan jaring dan segala sesuatu yang dibutuhkan pada saat operasi penangkapan;

2. Penyalaan lampu;

3. Penenggelaman jaring dilakukan ketika ikan mulai terlihat berkumpul di bawah bagan;

4. Perendaman jaring selama waktu tertentu hingga gerombolan ikan terlihat di atas jaring; dan

5. Pengangkatan jaring dilakukan setelah kawanan ikan berkumpul di atas jaring. Kegiatan ini diawali dengan pemadaman lampu secara bertahap. Ini dimaksudkan agar ikan tidak terkejut dan tetap terkonsentrasi di atas jaring bagan.

Hasil tangkapan bagan tancap, menurut Subani dan Barus (1989), dikelompokkan atas hasil tangkapan utama dan sampingan. Hasil tangkapan utama berupa jenis-jenis ikan pelagis kecil yang bersifat fototaksis positif, yaitu teri (Stolephorus spp). Sementara hasil tangkapan sampingan meliputi cumi-cumi (Loligo spp), layur (Trichulus savala), tembang (Sardinella fimriata), pepetek (Leiognathus sp), kembung (Rastrelliger spp), dan layang (Decapterus spp).

Cahaya

Cahaya merupakan energi berbentuk gelombang yang memiliki kecepatan 299.792.458 m/detik. Jems Clrak Maxwell (1831-187), seorang ahli fisika dari Scotlandia menyebutkan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik (Ben Yami, 1987).

Istilah iluminasi dan flux dikenal dalam ilmu cahaya. Menurut Cayless dan Marsden (1983), iluminasi cahaya disebut juga sebagai intensitas penerangan atau kekuatan penerangan. Intensitas penerangan adalah flux cahaya yang jatuh pada suatu permukaan yang dinyatakan dalam satuan candella. Adapun flux cahaya yang dipancarkan oleh suatu sumber cahaya merupakan seluruh cahaya yang dipancarkan dalam satu detik. Pengukuran iluminasi cahaya dari suatu sumber dapat dilakukan dengan menggunakan rumus berikut:

E = I/r2 Keterangan :

E : Iluminasi cahaya (lux);

I : Intensitas cahaya (candella); dan r : Jarak dari sumber cahaya (m).

(22)

Iluminasi suatu sumber cahaya akan semakin menurun dengan semakin jauhnya jarak dari sumber cahaya dan nilainya akan semakin berkurang apabila cahaya tersebut memasuki air.

Peran Cahaya pada Bagan Tancap

Teknik penangkapan ikan sejak dahulu sampai sekarang relatif sama, yakni didasarkan pada pemanfaatan tingkah laku ikan. Pada bagan, atraktor berupa cahaya buatan sangat diperlukan dalam proses penangkapan ikan. Fungsi atraktor sebagai pengumpul jenis-jenis ikan yang bersifat fototaksis positif, sehingga nelayan mudah melakukan penangkapan Yuda (2012). Menurut Effendi (2005), keberhasilan penangkapan ikan dengan alat bantu cahaya sangat ditentukan oleh teknik penangkapan, kondisi perairan dan lingkungan serta kualitas cahaya yang digunakan untuk memikat ikan. Adapun penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan sangat ditentukan oleh sifat alamiah cahaya matahari atau bulan, jumlah partikel yang terkandung dalam air dan banyaknya cahaya yang dipantulkan oleh permukaan air. Adapun menurut Subani dan Barus (1989), faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu cahaya, yaitu:

1. Kecerahan

Jika kecerahan rendah atau air keruh berarti banyak terdapat zat atau pertikel yang menyebar di dalam air. Cahaya yang masuk ke dalam air akan habis terserap oleh zat-zat tersebut, sehingga ikan yang berada jauh dari sumber cahaya tidak dapat mendeteksi akan adanya cahaya.

2. Angin, arus dan gelombang

Angin, arus dan gelombang mempengaruhi kedudukan lampu. Posisi lampu yang bergerak akan merubah arah cahaya yang semula lurus menjadi bengkok, sinar yang terang menjadi berkelip dan akhirnya menimbulkan sinar yang menakutkan ikan. Semakin hembusan besar angin, arus dan gelombang menyebabkan sinar yang menakutkan semakin besar. Untuk mengatasi masalah ini, konstruksi dudukan lampu harus disempurnakan. Selain itu, lampu dilengkapi dengan reflektor. Upaya lain adalah dengan menempatkan lampu di bawah permukaan air.

3. Sinar bulan

Pada waktu bulan purnama sulit sekali untuk dilakukan penangkapan dengan menggunakan lampu. Cahaya yang dipancarkan bulan menyebar merata di permukaan air pada suatu areal yang sangat luas. Sebagai akibatnya, ikan-ikan juga menyebar di permukaan air.

4. Daerah penangkapan ikan

Perairan teluk terhindar dari pengaruh gelombang besar, angin dan arus yang kuat, sehingga memberikan dampak positif pada operasi penangkapan ikan yang menggunakan alat bantu cahaya. Kondisi perairan teluk sangat cocok diperuntukkan untuk pengoperasian bagan, karena perairannya tenang.

5. Ikan atau binatang buas

Ikan yang tertarik oleh cahaya lampu didominasi oleh jenis ikan berukuran kecil, seperti teri. Jenis ikan besar atau pemangsa umumnya berada di

(23)

lapisan yang lebih dalam. Adapun hewan air lain, seperti ular laut dan lumba-lumba berada di tempat-tempat gelap mengintai keberadaan ikan-ikan kecil tersebut. Hewan-hewan tersebut sesekali menyerang ikan-ikan-ikan-ikan yang berkerumun di bawah lampu dan mencerai-beraikannya.

Jenis tangkapan bagan tancap

Bagan ditujukan untuk menangkap jenis-jenis ikan fototaksis positif, seperti teri (Stolephorus spp). Adapun hasil tangkapan sampingannya adalah tembang (Sardinella fimbriata), cumi-cumi (Loligo sp), layur (Trichiurus sp) dan kembung (Rastreliger sp) (Subani dan Barus 1988).

Teri

Teri diklasifikasikan sebagai berikut: Saanin (1984), Filum : Chordata; Subfilum : Vertebrata; Kelas : Pisces; Ordo : Malacopterygii; Subordo : Percoidei; Family : Clupeidae; Genus : Stolephorus; dan Species : Stolephorus spp.

Teri umumnya berukuran kecil sekitar 6-9 cm. Bentuk tubuh bulat memanjang (fusiform) dan pipih (compressed). Ikan ini umumnya menghuni perairan dekat pantai dan hidup secara bergerombol. Tanda-tanda khas yang dimilikinya diperlihatkan pada Gambar 3. Pada bagian samping tubuh teri terdapat garis putih keperakan seperti selempang yang memanjang dari belakang kepala hingga ekor.

Teri adalah jenis ikan yang termasuk ke dalam kelompok ikan pelagis kecil. Sumberdaya teri paling melimpah di perairan Indonesia, terutama pada perairan dekat pantai (Gustaman dan Fauziyah 2012). Teri menyebar pada wilayah Samudera Hindia bagian timur sampai Samudera Pasifik Tengah. Penyebaran ke arah selatan mencapai Australia. Laevastu dan Hayes (1981) mengemukakan bahwa teri selama siang hari membentuk gerombolan di dasar perairan dan

bermigrasi menuju permukaan pada malam hari dengan ketebalan mencapai 6-15 m.

Pemijahan teri berlangsung sepanjang tahun. Waktu pemijahan teri di Laut Jawa berlangsung pada malam hari. Puncak pemijahan bersamaan dengan perubahan musim, yaitu dari musim barat laut ke musim tenggara antara bulan April-Mei dan sebaliknya dari musim tenggara ke musim barat laut antara Desember-Januari. Nontji,( 2005).

(24)

Tembang

Tembang diklasifikasikan sebagai berikut (Saanin 1984): Filum : Chordata; Subfilum : Vertebrata; Kelas : Pisces; Subkelas : Teleostei; Ordo : Malacopterygii; Subordo : Clupeidai; Famili : Clupeidae; Subfamili : Clupeinae; Genus : Clupea; dan Spesies : S. Fimbriata

Ciri-ciri morfologinya adalah memiliki bentuk badan fusiform, pipih dengan duri di bagian bawah badan. Panjangnya berkisar antara 15 – 25 cm. Warna tubuh biru kehijauan pada bagian atas dan putih keperakan pada bagian bawahnya. Warna sirip pucat kehijauan dan tembus cahaya.

Tembang merupakan ikan pelagis yang banyak ditemukan di wilayah pantai. Jenis ikan ini hidup secara bergerombol dan berpindah-pindah (Nybakken, 1992). Makanannya berupa plankton atau organisme kecil. Perkembangbiakannya hanya terjadi satu kali dalam setahun antara bulan Juni-Juli di wilayah pantai ketika suhu udara dan kadar garam rendah.

Layur

Klasifikasi layur, menurut Nakamura dan Parin (1993), adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia; Filum : Chordata; Subfilum : Pisces; Kelas : Teleostei; Ordo : Percomorphi; Subordo : Scombroidae; Superfamili : Trichiuroidea; Famili : Trichiuridae; Genus : Trichiurus;

Spesies : Trichiurus lepturus.

Layur tersebar luas pada semua perairan tropis dan subtropis. Daerah penyebarannya meliputi hampir seluruh perairan pantai Indonesia, seperti Tuban, Lawang, Jampang, Palabuhanratu, Cibanteng, Ujung genteng, dan Sukawayana. Selain itu, layur juga terdapat di perairan Jepang, Philipina, Teluk Benggala, Teluk Siam, sepanjang Laut Cina Selatan hingga pantai utara Australia, dan tersebar luas di perairan dangkal Afrika Selatan (Nakamura dan Parin, 1993).

Layur tergolong ikan demersal, yaitu ikan yang hidup di dasar atau dekat dengan dasar perairan (Aoyama, 1972 dalam Ridho, 2004). Jenis ikan ini biasanya akan muncul ke permukaan perairan menjelang senja untuk mencari makan

(25)

(Nakamura dan Parin, 1993). Aktivitas layur relatif rendah, gerak ruaya tidak terlalu jauh dan membentuk gerombolan yang tidak terlalu besar, sehingga penyebarannya relatif lebih merata dibandingkan dengan ikan pelagis.

Layur dari famili gempylidae biasanya ditemukan pada kedalaman lebih dari 150 m dan layur dari family trichiuridae dapat ditemukan sampai kedalaman 2000 m (Nakamura dan Parin 1993). Bal dan Rao (1984) menyatakan bahwa habitat utama layur adalah laut dan terkadang memasuki estuari. Layur termasuk jenis ikan karnivor yang dilengkapi dengan gigi yang kuat dan tajam pada kedua rahangnya. Makanannya berupa udang-udangan, cumi-cumi, dan ikan kecil, seperti teri dan sardin.

Cumi-cumi

Cumi-cumi diklasifikasikan kedalam (Roper, et al. 1984): Filum : Mollusca;

Kelas : Cephalopoda; Ordo : Teuthoidea; Sub ordo : Myopsida; Famili : Loliginidae;

Genus : Loligo, Sepioteuthis, dan Doryteuthis; dan Spesies : Loligo sp

Berdasarkan makanan dan cara makannya, cumi-cumi termasuk organisma predator. Mangsanya berupah ikan-ikan kecil, seperti teri dan udang (Gustaman dan Fauziyah, 2012), Cumi-cumi merupakan binatang bertubuh lunak dengan bentuk tubuh memanjang silindris dan bagian belakang meruncing dengan sepasang sirip berbentuk triangular atau bundar. Cumi-cumi mempunyai sepasang mata di samping kepala. Pada bagian tengah kepalanya terdapat mulut yang dikelilingi tentakel dengan alat penghisap. Cumi-cumi memiliki sejenis cangkang yang sudah termodifikasi menjadi cangkang tipis mengandung zat tanduk atau khitin yang disebut “pen” dan terletak di dalam mantel. Seluruh tubuh bagian dalam dan sebagian dari kepalanya masuk ke dalam rongga mantel tersebut. Pada bagian kepala cumi-cumi terdapat lubang seperti corong yang dinamakan siphon. Gunanya untuk mengeluarkan air dari rongga mantel yang menghasilkan daya dorong untuk pergerakan cumi-cumi. Melalui siphon ini cumi-cumi terkadang mengaluarkan tinta berwarna coklat kehitaman untuk menghindari predator (Buchsbaum, et al., 1987).

Habitat cumi-cumi meliputi daerah pantai dan paparan benua sampai kedalaman 400 m. Beberapa spesies cumi-cumi hidup di perairan payau.. Cumi-cumi melakukan pergerakan diurnal, yaitu pada siang hari akan berkelompok dekat dasar perairan dan akan menyebar pada kolom perairan pada malam harinya. Umumnya cumi-cumi tertangkap dengan menggunakan bantuan cahaya (Ropper, et. al., 1984).

Lampu LED (light emitting diode)

LED atau light emitting diode merupakan komponen elektronik yang sudah tidak asing lagi di kehidupan manusia saat ini. Penggunaannya sudah sangat

(26)

meluas, diantaranya sebagai lampu mainan anak-anak, lampu rambu lalu lintas, lampu indikator peralatan elektronik pada industri, lampu emergency, televisi, komputer, pengeras suara, proyektor, LCD, dan berbagai perangkat elektronik lainnya sebagai indikator bahwa suatu sistem sedang berada dalam proses kerja. Kelebihan LED adalah konsumsi listrik yang dibutuhkan tidak terlalu besar, ukurannya kecil dan usia pakainya sangat panjang mencapai 100 ribu jam. Selain itu, warnanya beragam sehingga dapat memperjelas bentuk atau huruf yang akan ditampilkan. Bahan dasar LED adalah semi konduktor jenis dioda yang mamp ,u memancarkan cahaya yang dapat mengubah energi listrik menjadi cahaya. (http://indoled.host56.com/1_8_).

Keunggulan Lampu LED

Lampu LED sangat berguna untuk menekan pemanasan global dan mengurangi emisi karbon dunia. Lampu ini berasal dari bahan semikonduktor, jadi tidak diproduksi dari bahan karbon. Bila lampu LED digunakan di seluruh dunia, maka konsumsi total energi listrik untuk penerangan akan berkurang hingga mencapai 50%. Selisih emisi karbon yang dihasilkan dunia bisa mencapai 300 juta ton per tahunnya. Kelebihan lampu LED diuraikan berikut ini:

1. Efisiensi penggunaan energi yang lebih tinggi dibandingkan dengan lampu lain, yaitu lampu LED lebih hemat energi antara 80-90%;

2. Waktu pakai yang lebih lama hingga mencapai 100 ribu jam; 3. Tegangan DC yang rendah;

4. Cahaya keluaran lampu LED bersifat dingin dan tidak memancarkan sinar ultra violet dan energi panas; dan

5. Ukurannya kecil sehingga sangat praktis digunakan

(http://indoled.host56.com/1_8_).

Cara kerja lampu LED

LED adalah jenis dioda yang memiliki 2 kutub, yaitu anoda dan katoda (Gambar 3). Lampu LED akan menyala bila ada arus listrik mengalir dari anoda menuju katoda. Pemasangan kutub LED tidak boleh terbalik, karena LED tersebut tidak akan menyala.

Gambar 3 Lampu LED ultra bright 5 mm Sumber: http://indoled.host56.com/1_8

Karakteristik lampu LED berbeda-beda berdasarkan warna yang dihasilkan. Jika arus listrik yang mengaliri lampu LED semakin tinggi, maka pancaran cahaya yang dihasilkannya semakin terang. Namun demikian, arus yang diperbolehkan mengaliri lampu LED hanya berkisar antara 10-20 mA pada tegangan 1,6– 3,5 V

(27)

berdasarkan karakter warna yang dihasilkan. Apabila arus yang mengalir lebih dari 20 mA, maka lampu LED akan terbakar. Oleh karena itu, resistor sangat diperlukan untuk menghambat arus yang masuk ke dalam lampu LED agar tidak terbakar (http//www. http://indoled.host56.com/1_8_).

Rangkaian paralel pada lampu LED

Lampu yang digunakan sebagai penerangan menggunakan banyak lampu LED. Penyusunannya dilakukan secara paralel atau berderet. Semua input energi listrik pada setiap komponen lampu LED berasal dari sumber yang sama. Susunan paralel demikian menyebabkan jika ada kerusakan pada satu komponen atau satu komponen dicabut, maka komponen yang lain tetap berfungsi (http://id.wikipedia.org/wiki/Rangkaian_seri_dan_paralel).

(28)

3 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Berdasarkan data profil pesisir Teluk Palabuhanratu, Desa Sangrawayang merupakan salah satu desa pesisir yang ada di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi (BLH Kabupaten Sukabumi dan PKSPL-IPB, 2003). Luas desa mencapai 188 ha dengan ketinggian rata-rata 746 m dpl dan berbatasan langsung pantai. Satuan morfologi penyusun pantai di wilayah pesisir desa terdiri atas perbukitan dan daratan. Perbukitan merupakan ciri utama pantai selatan yang memiliki pantai terjal, perbukitan bergelombang, dan kemiringan yang dapat mencapai 40%. Satuan morfologi datarannya berkembang di sekitar muara sungai dengan susunan yang terdiri atas pasir dan kerikil yang berasal dari endapan limpahan banjir.

Kondisi iklim tropis di perairan Desa Sangrawayang dipengaruhi oleh musim angin barat yang bertiup dari timur ke barat dan musim angin timur yang bertiup dari barat ke timur. Musim barat bertiup dari bulan Desember sampai Maret, sedangkan musim angin timur berlangsung antara bulan Juni sampai September (BLH Kabupaten Sukabumi dan PKSPL-IPB, 2003). Curah hujan tahunan berkisar antara 2.500-3.500 mm/tahun dan hari hujan antara 110-170 hari/tahun. Suhu udara di sekitar wilayah ini berkisar antara 180 - 300C dan memiliki kelembaban udara yang berkisar antara 70-90% (PPN Palabuhanratu, 2007).

Ativitas perikanan di Desa Sangrawayang sangat tinggi. Terlihat dari produksi pendaratan tangkapan yang sangat tinggi. Beberapa jenis ikan yang sering didaratkan adalah: teri, tembang, layur, selar, dan bentrong. Adapun musim penangkapan ikan terdiri atas 3 musim, yaitu (Tampubolon, 1990) :

1. Musim banyak ikan ( Juni-September);

2. Musim sedang ikan (Maret-Mei dan Oktober-November); dan 3. Musim kurang ikan (Desember-Februari).

Perbedaan musim angin barat dan musim angin timur tersebut sangat mempengaruhi operasi penangkapan ikan. Keadaan oceanografi perairan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia sangat dipengaruhi oleh kekuatan angin yang besar, terlebih pada musim barat. Selama musim ini ombak sangat besar disertai dengan angin dan hujan yang sangat lebat yang mengakibatkan para nelayan tidak dapat melaut. Sebaliknya pada musim timur, keadaan perairan biasanya tenang, jarang terjadi hujan dan ombak relatif kecil sehingga memungkinkan para nelayan untuk melaut. Musim ini biasanya merupakan musim puncak ikan.

(29)

4 METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Kegiatan penelitian dibagi dalam dua tahap, yaitu penelitian laboratorium dan lapang. Penelitian laboratorium dilakukan antara bulan Juni 2012-Mei 2013 bertempat di Laboratorium Bahan Alat Penangkapan Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK IPB. Pada tahap ini dilakukan perancangan lampu hemat energi dan pengukuran nilai iluminasinya pada medium udara. Adapun penelitian lapang dilakukan antara bulan Juni 2013-Juli 2013. Pada tahap ini dilakukan uji coba lampu hemat energi hasil rancangan menggunakan alat tangkap bagan tancap di Desa Sangrawayang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Peta lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1.

Alat dan Bahan

Alat

Alat dan bahan yang digunakan dibedakan berdasarkan tahapan penelitian. Pada tahap penelitian laboratorium digunakan peralatan berikut, solder, luxmeter, bor tangan, meteran, dan spidol. Adapaun peralatan yang digunakan pada penelitian lapang berupa 4 lampu Tubular Lamp (TL) milik nelayan, 4 lampu hemat energi dengan konstruksi digantung dan 4 lampu hemat energi dengan konstruksi dicelupkan ke dalam air.

Bahan

Bahan yang diperlukan pada penelitian laboratorium adalah 400 lampu LED (light emitting diode) 5 mm ultra bright (Gambar 4), corong plastik ø 24 cm, pipa PVC (polyvinil chloride) ø 4 inci, 200 resistor 270 ohm 1 rol timah solder ø 0,5 mm, 1 mata bor ø 4,5 mm, dan 10 m kabel ø 0.05 mm. Bahan yang dipergunakan pada penelitian lapangan meliputi : 3 unit bagan tancap, 2 batere kering 12 V, charger batere kering merk Eko 10 A, 1 timbangan dan 1 unit generator. Secara lebih lengkap, tampilan alat dan bahan yang digunakan dapat dilihat pada Lampiran 2.

(30)

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan. Penelitian diawali dengan perancangan dan pengukuran lampu hemat energi, selanjutnya dilakukan ujicoba penangkapan ikan dengan bantuan lampu yang telah dibuat. Lampu yang digunakan adalah jenis Lampu LED dengan ukuran 5 mm berwarna putih dengan spesifikasi sebagai berikut.

Tabel 1. Spesifikasi lampu LED Ultra Bright 5 mm

Jenis Ukuran warna

Tegangan maju Sudut

pancaran Min (v) Max (v)

LED ultra bright 5 mm Putih 3.2 3.4 60

(Sumber:http://www.warunglampu.com/2010/12/5mm-ultra-bright.html)

Resistor adalah komponen elektronika berjenis pasif yang mempunyai sifat menghambat arus listrik Satuan nilai dari resistor adalah ohm, biasa disimbolkan Ω. Resistor yang dipakai adalah resistor 270 Ω. Rangkaian yang dipergunakan dalam perancangan lampu hemat energi adalah dengan menggunakan rangkaian paralel (Gambar 5).

Lampu celup LED

Untuk merancang lampu celup dalam air digunakan pipa PVC (polyvinyl chloride) ø 4 inci dengan panjang 35 cm sebagai media pemasangan lampu LED. Permukaan pipa diberi warna perak untuk meningkatkan kekuatan pantul dan diberi 400 lubang secara berderet sebagai dudukan lampu LED. Jarak antar lubang sejauh 1,5 cm. Selanjutnya lampu LED – dengan rangkaian paralel -- dipasangkan di sekeliling permukaan pipa

Pipa PVC yang diselimuti rangkaian lampu LED dimasukkan ke dalam setoples kaca bermerek lionex dengan diameter 18 cm dan tinggi 38 cm. Selanjutnya setoples diberi tutup yang telah dilubangi pada bagian atasnya sebagai tempat untuk memasukkan kabel listrik. Untuk menahan air agar tidak dapat masuk ke dalam setoples, maka antara tutup dan setoples diberi lem kaca.

(31)

Lampu gantung LED

Untuk merancang lampu gantung diperlukan corong sebagai media pemasangan lampu LED. Diameter corong 24 cm dan tinggi 24 cm. Permukaan dalam corong dilapisi dengan cat berwarna perak untuk meningkatkan daya pantulnya. Selanjutnya, permukaan atas corong diberi 400 lubang berdiameter 4,5 mm dengan jarak antar lubang adalah 1 cm. Sebanyak 400 lampu LED dipasangkan pada corong dengan rangkaian paralel.

Pengukuran intensitas cahaya lampu dengan luxmeter

Prosedur yang dilakukan adalah lampu dinyalakan di dalam ruang gelap dan intensitasnya diukur pada jarak 1 m dengan luxmeter. Intensitas cahaya diukur pada berbagai posisi, yaitu bawah dan sisi kanan-kiri. Nilai intensitas cahaya pada setiap posisi pengukuran dicatat (Gambar 6).

(32)

1. Lampu celup LED

2. Lampu gantung LED

3. Lampu fluorescent

Metode pengambilan data

Jenis data yang diambil berupa data primer. Data yang diambil berupa Gambar 6 Posisi pengukuran intensitas cahaya (1) lampu celup LED, (2)

(33)

Intensitas cahaya pada beberapa kedalaman perairan, komposisi jenis ikan hasil tangkapan dan jumlah hasil tangkapan (kg). Data tangkapan didapat dari hasil operasi penangkapan ikan dengan bagan tancap.

Adapun data hasil tangkapan diperoleh dari hasil operasi penangkapan ikan dengan menggunakan bagan tancap. Urutannya adalah :

1. Ujicoba di lapangan dilakukan dengan cara membandingkan hasil tangkapan yang tertangkap antara lampu yang digantung, lampu yang dicelupkan kedalam air dan lampu fluorescent. Operasi bagan dengan multi-catchable area: 3 lampu (L1, L2, dan L3) dan 3 bagan tancap (J1, J2, dan J3) yang dioperasikan secara bersamaan (Gambar 7);

2. Bobot total hasil tangkapan pada setiap perlakuan ditimbang dan diidentifikasi jenisnya;

3. Pengoperasian alat tangkap dibagi dalam 4 kelompok waktu, yaitu pukul 18.00-21.00, 21.00-00.00, dan 00.00-03.00 dan 03.00-06.00 WIB, dan 4. Operasi penangkapan dilakukan sebanyak 20 kali ulangan untuk setiap

(34)

1.

2.

3.

Analisis Data

Gambar 7 (Tampak depan) posisi Pemasangan Ketiga Lampu. 1.Lampu celup LED, 2. Lampu gantung LED, 3. Lampu fluorescent

(35)

Analisis Data

Data hasil tangkapan pada masing-masing perlakuan dianalisis secara deskriptif komparatif. Hal ini dimaksudkan untuk melihat kemampuan tangkap dan efisiensi lampu hasil rancangan di banding lampu fluorescent yang biasa digunakan nelayan.

Selanjutnya untuk melihat pengaruh penggunaan lampu celup, lampu gantung, dan lampu fluorescent (nelayan) pada waktu yang berbeda terhadap hasil tangkapan dilakukan analisis statistik rancangan acak lengkap (RAL). Data yang digunakan adalah jumlah hasil tangkapan (kg). Sebelum dilakukan uji (RAL), data tersebut diuji kenormalannya menggunakan analisis klomogrov-smirnov. Jika data menyebar normal, maka akan dilakukan uji statistik parametrik Rancangan Acak Lengkap (RAL), Secara matematis, RAL dimodelkan sebagai berikut:

ijk ij i ijk Y    ; i = 1,2,3,...dst ; dan j = 1,2,3…dst Keterangan : ijk Y :

Pengamatan perlakuan ke - i, ulangan ke – j dan anak contoh ke - k;

 : Rataantengahpopulasi; i : Perlakuan ke - i;

ij : Pengaruh ulangan ke – j, perlakuan ke – i;dan

ijk : Galat anak contoh.

Asumsi yang dibutuhkan untuk analisis ini adalah : 1. Aditif, homogen, bebas, dan normal;

2. ibersifat tetap; dan 3. ijk~ N (0, 2).

Adapun hipotesis yang diuji melalui analisis ini adalah: Ho: 1 = 2 = 3 = ……. = 5 = 0

Ho :1 = 2 = 3 = ……. = 5 ≠ 0

Kesimpulan yang diperoleh adalah bila FhitFtab, maka tolak 0. Bila

tab

hit F

F maka gagal tolak Ho.Fhitdiperoleh dari tabel sidik ragam ANOVA

(36)

y S fe p q W  ( , )

Tabel 2 Analisis ragam rancangan acak lengkap (RAL) anak contoh

Sumber keragaman Derajat bebas Jumlah kuadrat Kuadrat

tengah F hitung F tabel Perlakuan P-1 JKP KTP KTP/ KTS1 F; dbp; dbs1 1 Sisa P (n-1) JKS1 KTS1 KTS1/ KTS2 F; dbp; 2 dbs P*n (m-1) JKS2 KTS2 Total (P*n*m) -1 JKT Keterangan : FK : Faktor koreksi;

JKT : Jumlah kuadrat tengah; KTP : Jumlah kuadrat perlakuan; KTS : Kuadrat tengah sisa; dbu : Derajat bebas kisi; dan dbs : Derajat bebas sisa.

Namun jika data tidak menyebar normal, maka uji statistik non parametrik Kruskal-Wallis dilakukan. Rumus Kruskal wallis yang digunakan adalah sebagai berikut:

Keterangan :

k : Banyak sampel;

nj : Banyaknya perlakuan dalam sampel ke-j; N = nj: Banyaknya perlakuan dalam sampel; dan : Jumlah seluruh k sampel(kolom-kolom).

Selanjutnya, apabila kesimpulan yang diperoleh menunjukkan hasil tangkapan pada setiap perlakuan berbeda nyata (FhitFtab; gagal tolak Ho), maka

dilakukan uji lanjut (Tukey test). Ini dilakukan untuk melihat perlakuan mana yang paling berpengaruh terhadap hasil tangkapan. Model persamaan Tukey test adalah sebagai berikut:

Keterangan :

Qa : Nilai tabel (a=0,05); P : Jumlah perlakuan; fe : Derajat bebas; dan Sy : Kuadrat tengah sisa

2 Sisa

(37)

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

Iluminasi Cahaya

Bagan tergolong dalam light fishing karena menggunakan lampu sebagai alat bantu penangkapan (Fridman, 1986). Fungsi lampu adalah sebagai pemikat ikan yang bersifat fototaksis positif untuk datang ke bagan. Untuk memudahkan penangkapan, maka posisi lampu berada tepat di atas jaring bagan

Iluminasi disebut juga intensitas penerangan atau kekuatan penerangan. Intensitas penerangan adalah flux cahaya yang jatuh pada suatu permukaan. Adapun flux cahaya yang di pancarkan oleh suatu sumber cahaya adalah seluruh jumlah cahaya yang di pancarkan dalam satu detik. Pengukuran iluminasi cahaya dari suatu sumber dapat dilakukan dengan menggunakan rumus (Cayless dan Marsden 1983):

E = I/r2 Keterangan :

E : Iluminasi cahaya (lux);

I : Intensitas cahaya (candela); dan R : Jarak dari sumber cahaya (m).

Iluminasi suatu sumber cahaya akan semakin menurun dengan semakin jauhnya jarak dari sumber cahaya dan nilainya akan semakin berkurang apabila cahaya tersebut memasuki air.

Menurut Cayless dan Marsden (1983), cahaya dapat merambat pada medium udara. Frekwensi cahaya tidak mengalami perubahan saat merambat di udara. Cepat rambat dan panjang gelombang saja yang berubah. Hasil pengukuran iluminasi cahaya terhadap lampu celup, lampu gantung dan lampu fluorescent pada medium udara akan memberikan hasil yang cukup berbeda.

Lampu celup LED

Data hasil pengukuran iluminasi cahaya lampu celup pada berbagai sudut dijelaskan pada Tabel 3, dan grafiknya pada Gambar 8. Cahaya lampu celup LED pada medium udara memancar ke segala arah dengan iluminasi cahaya yang berbeda pada setiap sudut pengukuran.

Hasil penentuan pola sebaran cahaya dengan luxmeter didapatkan bahwa lampu celup LED memancarkan cahaya ke segala arah, kecuali sudut 0o dan 1200. Penyebabnya, bagian atas tabung lampu celup LED ditutup oleh penutup setoples yang tidak dapat ditembus oleh cahaya.

(38)

0 20 40 60 80 100 120 140 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 260 270 280 290 300 310 320 330 340 350

Tabel 3 Nilai iluminasi cahaya lampu celup LED pada medium udara Sudut Iluminasi (lux) 0 0 10 3 20 6 30 10 40 10 50 11 60 12 70 15 80 49 90 54 100 38 110 16 Sudut Iluminasi (lux) 120 0 130 10 140 12 150 13 160 74 170 125 180 126 190 125 200 74 210 13 220 12 230 10 Sudut Iluminasi (lux) 240 14 250 16 260 38 270 54 280 49 290 15 300 12 310 11 320 10 330 10 340 6 350 3

Gambar 8 Iluminasi dan arah pancaran cahaya lampu celup LED pada medium udara

Pancaran cahaya satu komponen LED lebih mengarah ke sisi atas tabung pembungkusnya. Dengan demikian pengukuran iluminasinya dengan luxmeter akan mendapatkan nilai tertinggi jika posisi sensor luxmeter adalah tegak lurus terhadap tabung. Pada sudut 90o dan 270o adalah tegak lurus terhadap satu tabung LED. Selanjutnya, posisi sensor menjadi tidak tegak lurus terhadap semua LED

(39)

ketika pengukuran dilakukan pada 0o-180o dan 180o-360o. Iluminasi yang terukur pada luxmeter semakin mengecil. Sebagai kekecualian adalah iluminasi yang terukur pada sudut 180o dengan nilai yang sangat tinggi sebesar 126 Lux. Ini disebabkan oleh penempatan LED yang sangat berdekatan, yaitu hanya berjarak 7 mm. Posisi beberapa LED tegak lurus terhadap sensor luxmeter, sehingga iluminasi yang terekam menjadi sangat tinggi.

Penggunaan pipa PVC pada pembuatan lampu celup LED sangat bermanfaat untuk mengarahkan rambatan cahaya setiap LED secara horizontal dengan iluminasi yang sama di dalam air. Pengoperasian lampu celup LED akan mengoptimalkan pemanfaatan cahaya di dalam air sehingga mengakibatkan ikan-ikan fototaksis positif – yang tersebar di tempat yang jauh dari lampu – tertarik untuk datang mendekati bagan.

Lampu gantung LED

Pengukuran iluminasi cahaya lampu gantung LED dapat dilihat pada Tabel 4, dan diilustrasikan pada Gambar 9 sebagai berikut.

Tabel 4 Nilai iluminasi cahaya lampu gantung LED pada medium udara Sudut ( o) Iluminasi (lux) 0 0 10 0 20 0 30 0 40 0 50 0 60 0 70 0 80 0 90 1 100 11 110 21 120 55 Sudut ( o) Iluminasi (lux) 130 87 140 49 150 33 160 32 170 31 180 30 190 31 200 32 210 33 220 49 230 87 240 55 Sudut ( o) Iluminasi (lux) 240 55 250 21 260 11 270 1 280 0 290 0 300 0 310 0 320 0 330 0 340 0 350 0

Penggunaan corong sebagai media pemasangan lampu LED pada lampu gantung LED ditujukan agar pancaran cahaya memusat ke arah bawah bagan. Iluminasi pada sudut 0o sampai pada sudut80 o dan sudut 280 o sampai pada sudut 350 o sebesar 0 lux. Penyebabnya, pancaran cahaya lampu terhalang oleh dinding corong sehingga cahaya tidak dapat menembus kearah sudut tersebut. Nilai iluminasi mulai terukur pada sudut 90o dan 240o sebesar 1 lux dan mengalami peningkatan sampai pada sudut 120o dan 240o sebesar 55 lux. Iluminasi cahaya maksimal sebesar 87 Lux terdapat pada sudut 130o dan 230o.

Lampu gantung LED kurang efektif karena meskipun cahayanya terfokus ke arah bawah bagan, namun sebagian lainnya diserap dan dipantulkan oleh

(40)

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 ( o) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 260 270 280 290 300 310 320 330 340 350

permukaan air. Lampu hanya mampu mengumpulkan organisme fototaksis positif yang berada di sekitar bagan.

Gambar 9 Iluminasi dan arah pancaran cahaya lampu gantung LED pada medium udara

Lampu fluorescent

Data hasil pengukuran iluminasi lampu fluorescent pada berbagai sudut dijelaskan pada Tabel 5, sedangkan grafiknya disajikan pada Gambar 10.

Tabel 5. Nilai iluminasi cahaya lampu fluorescent pada medium udara Sudut Iluminasi ( o) (lux) 10 14 20 20 30 36 40 49 50 72 60 93 70 102 80 109 90 106 100 100 110 121 Sudut Iluminasi ( o) (lux) 120 127 130 142 140 138 150 122 160 119 170 109 180 96 190 109 200 119 210 122 220 138 230 142 Sudut Iluminasi ( o) (lux) 240 127 250 121 260 106 270 100 280 106 290 109 300 102 310 93 320 72 330 49 340 36 350 20

(41)

0 20 40 60 80 100 120 140 160 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200 210 220 230 240 250 260 270 280 290 300 310 320 330 340 350

Gambar 10 Iluminasi dan arah pancaran cahaya lampu fluorescent pada medium udara

Lampu fluorescent menghasilkan cahaya yang memancar ke segala arah dengan nilai iluminasi yang berbeda. Cahaya dengan iluminasi yang rendah memancar ke arah bagian atas lampu, sedangkan cahaya beriluminasi tinggi ke arah samping dan bawah lampu.

Cahaya yang dipancarkan lampu fluorescent pada sudut 100 sebesar 14 lux dan mengalami kenaikan sampai sudut 800 sebesar 109 lux. Penurunan iluminasi terjadi pada sudut 900 sebesar 106 lux dan sudut 1000 (100 lux). Iluminasi cahaya tertinggi terdapat pada sudut 1300 dan 2300 sebesar 142 lux.

Lampu fluorescent kurang efektif digunakan sebagai alat bantu penangkapan ikan pada bagan, karena cahayanya memancar ke segala arah. Sebagian cahaya meramba di udara, sebagian lainnya diserap dan dipantulkan oleh permukaan air. Akibatnya, jumlah cahaya yang masuk ke dalam perairan sangat berkurang. Cahay lampu hanya dapat mengundang organisme fototaksis positif yang berada dekat dengan bagan.

Komposisi Hasil Tangkapan Bagan Tancap

Hasil tangkapan total

Hasil tangkapan bagan tancap dibagi atas 2 macam, yaitu jenis-jenis organisma yang dikelompokkan sebagai hasil tangkapan utama (HTU), yaitu jenis organisma yang menjadi target utama penangkapan dan hasil tangkapan

(42)

173.5 158.2 154.1 91.9 12.8 6.2 3.8 22.8 4.5 4.5 48 55.8 0 50 100 150 200 B er a t (k g ) Jenis Organisma

sampingan (HTS) yang merupakan jenis organisma non target. Jenis-jenis organisma HTU terdiri atas pepetek (Leioghnatuss sp), teri nasi (Stolephhorus spp), teri hitam (Stolephhorus buccaneri), teri putih (Stolephorus indicus), dan udang rebon (Mysis sp), Adapun jenis-jenis organisma HTS meliputi selar (Selaroides sp), kwee (Caranx sp), layur (Trichiurus sp), tembang (sardinella fimbriata), kembung (Rastrelliger spp), bilis (thryssa setirostris) dan cumi-cumi (Loligo sp). Komposisi berat seluruh hasil tangkapan (HTT) dijelaskan pada Gambar 11, sedangkan datanya dituliskan pada Lampiran 3.

Berat HTU mencapai 590,5 kg atau 79.80% dari berat seluruh hasil tangkapan 740 kg. Tiga organisma yang mendominasi hasil tangkapan utama berturut-turut adalah udang rebon seberat 173,5 kg (23.45%), teri nasi 158,2 kg (21.38%) dan pepetek 154,1 kg (20.82%).

Pengoperasian bagan tancap di perairan pantai dengan menggunakan bantuan cahaya sangat memungkinkan udang rebon tertangkap dalam jumlah yang banyak. Baeza (2011) menjelaskan bahwa udang rebon selalu mendekati sumber cahaya untuk mencari makan. Selanjutnya, menurut Syafrie 2012, udang rebon merupakan organisma yang bersifat fototaksis positif. Penggunaan cahaya pada bagan menyebabkan fitoplankton dan zooplankton berkumpul di sekitar bagan. Hal ini yang menyebabkan udang rebon datang mendekati bagan sehingga tertangkap.

Teri nasi tertangkap dalam jumlah yang banyak setelah udang rebon. Menurut subani (1988), jenis teri -- selain udang rebon -- merupakan target utama penangkapan dengan bagan. Hutomo et al. (1987) menjelaskan teri merupakan pemakan plankton yang bersifat pelagik, menghuni perairan pesisir, hidup berkelompok dan memiliki respon positif terhadap cahaya. (Effendi 2005). menambahkan teri nasi sangat sensitif terhadap cahaya lampu yang digunakan

Gambar 11 Komposisi berat hasil tangkapan bagan berdasarkan jenis organisma

(43)

bagan tancap sebagai pengumpul ikan. Adanya rangsang cahaya pada malam hari menyebabkan teri tertarik ke daerah yang diterangi oleh cahaya lampu, sehingga ikan akan membentuk gerombolan dan lebih aman dari incaran predator Selanjutnya Gustaman dan Fauziyah (2012) menjelaskan ketertarikan teri terhadap cahaya disebabkan oleh keberadaan makanannya yang berkumpul di bawah lampu bagan, yaitu berupa plankton, udang kecil, dan ikan yang berukuran lebih kecil dari teri.

Pepetek berada pada urutan ketiga dari jenis organisma yang mendominasi hasil tangkapan utama. Habitat pepetek sebenarnya berada pada daerah benthopelagik pada kedalaman antara 10-110 m dan hidup berkelompok. Menurut Badrudin (1992), makanannya yang berupa fitoplankton dan zooplankton menyebabkan pepetek sering naik ke permukaan laut yang diterangi oleh cahaya.

Selain HTU, pengoperasian bagan tancap mendapatkan HTS seberat 149.5 kg atau (20.20%) dari berat total hasil tangkapan. Jenis organisma hasil tangkapan sampingan yang paling banyak tertangkap adalah cumi-cumi seberat 55,8 (7.54%). Organisma berikutnya adalah layur 48 kg (6.49%), borolok 22,8 kg (3.08%). Komposisi berat HTS per jenis organisma tangkapan dapat dilihat pada Gambar 12, sedangkan datanya pada Lampiran 4.

Cumi-cumi merupakan organisma diurnal yang banyak ditemukan di perairan pantai. Pada penelitian ini cumi-cumi yang tertangkap sebanyak 55,8 kg (42,56 %). Cumi-cumi digolongkan sebagai organisma pelagis, tetapi kadang-kadang digolongkan sebagai organisma demersal karena sering terdapat di dasar perairan. Cumi-cumi melakukan pergerakan diurnal pada siang hari dan berkelompok dekat dasar perairan. Selanjutnya, cumi-cumi akan menyebar pada kolom perairan pada malam harinya (Tasywiruddin, 1999). Cumi-cumi umumnya mendekati cahaya dan sering ditangkap dengan menggunakan bantuan cahaya (Barnes, 1987). Menurut Tasywiruddin (1999), banyaknya cumi-cumi yang tertangkap oleh bagan disebabkan oleh kelimpahan cumi-cumi pada perairan tersebut. Ini disebabkan oleh kondisi perairannya yang subur, yaitu kaya akan zat hara yang terbawa arus dari daratan. Zat hara tersebut dimanfaatkan oleh fitoplankton yang selanjutnya dimanfaatkan oleh zooplankton, juvenile ikan ataupun ikan-ikan kecil yang merupakan makanan dari cumi-cumi. (Tasywiruddin, 1999).

Jenis organisma hasil tangkapan sampingan selanjutnya adalah layur yang tertangkap seberat 48 kg (36,61%). Layur tergolong ikan demersal, yaitu ikan yang hidup di dasar perairan yang dalam dengan dasar perairan berlumpur. Layur

akan muncul ke permukaan perairan untuk mencari makan pada menjelang senja (Retno et al. 2012). Keberadaannya di bawah bagan dikarenakan oleh aktivitas

makannya, yaitu memburu makanannya berupa udang-udangan, cumi-cumi dan teri (Nontji 2005). Selanjutnya Wawengkang (2002) menambahkan bahwa layur tidak bersifat fototaksis positif. Layur tertangkap oleh bagan karena tertarik oleh organisma yang menjadi makanannya yang berada di bawah bagan.

Jenis ikan berikutnya adalah selar yang tertangkap seberat 22,8 kg (17,39%). Selar menyebar mulai dari laut lepas sampai mendekati pantai, bersifat pelagis dan membentuk gerombolan hingga berjumlah ratusan ribu ekor. Jenis makanannya bervariasi, yaitu plankton, bentos dan larva ikan. Selar muncul di permukaan perairan di bawah sumber cahaya untuk melakukan aktivitas makan (Tupamahu, 2003). Ini menyebabkan kenapa selar juga tertangkap oleh bagan

(44)

71 66.9 37.7 33.9 3.3 40.6 15.4 7.2 4.5 3.7 3.4 0 10 20 30 40 50 60 70 80 B er a t (k g ) Jenis organisma

dalam jumlah yang besar. Froeze and Pauly (2003) menjelaskan bahwa alat tangkap yang paling efektif untuk menangkap selar adalah purse seine, tetapi selar juga sering tertangkap dengan bagan.

Hasil Tangkapan Bagan Berdasarkan Jenis Lampu

Lampu celup LED

Pengoperasian bagan menggunakan lampu celup LED menghasilkan 5 jenis organisma hasil tangkapan utama (HTU) dan 6 jenis organisma hasil tangkapan sampingan (HTS). Jenis organisma hasil tangkapan utama meliputi udang rebon, pepetek, teri putih, teri nasi dan teri hitam. Adapun jenis organisma hasil tangkapan sampingannya berupa cumi-cumi, selar, tembang, bilis, kembung, dan layur. Komposisi berat hasil tangkapan bagan menggunakan lampu celup LED disajikan pada (Gambar 12) dan datanya pada Lampiran 5.

Berat total hasil tangkapapan lampu celup LED adalah 287,6 kg. Dua jenis organisma yang mendominasi hasil tangkapan adalah udang rebon seberat 71 kg atau 33,36% dari total tangkapan dan pepetek 66,9 kg (31,44%). Jenis organisma lainnya yang cukup banyak tertangkap adalah layur 40,6 kg (14,12%), teri nasi 37,7 kg (13,11%) dan teri hideung 33,9 kg (11,79%). Sementara beberapa jenis organisma yang tertangkap dalam jumlah sedikit adalah cumi-cumi 15,4 kg (5,35%), selar 7,2 kg (2,50%), tembang 4,5 kg (1,56%), bilis 3,7 kg (1,29%), kembung 3,4 kg (1,18%) dan teri putih 3,3 kg (1,15%).

Bobot HTU lebih tinggi dibandingkan dengan bobot HTS dengan perbandingan 3:1. Angka ini sangat menguntungkan, karena seluruh organisma HTU memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Beratnya mencapai 212,8 kg,

Gambar 12 Komposisi berat hasil tangkapan bagan menggunakan lampu celup LED

Gambar

Gambar 1. Kerangka pemikiran penelitian
Tabel  1. Spesifikasi lampu LED Ultra Bright 5 mm
Gambar 7   (Tampak depan) posisi Pemasangan Ketiga Lampu.
Tabel 2 Analisis ragam rancangan acak lengkap (RAL) anak contoh  Sumber  keragaman  Derajat     bebas  Jumlah  kuadrat  Kuadrat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini terbatas pada penerimaan pajak penghasilan final dan kepatuhan wajib pajak yang dipengaruhi oleh peringanan tarif PPh dari 1% menjadi 0,5% di seluruh KPP

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif dimana realita akan pengimitasian budaya pop Korea melalui televisi yang

Sejalan dengan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model penalaran yang digunakaan oleh mahasiswa Magíster Ilmu

(2) Terhadap orang yang datang dari negara terjangkit dan/atau endemis penyakit menular tertentu, tidak dapat menunjukkan Sertifikat Vaksinasi Internasional atau

Berdasarkan hasil di lapangan, saran bagi DKM Al-Anshari yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dan masukan ke depannya antara lain sebagai berikut: (a)

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor

Suatu proses (aktivitas) kinerja organisasi dapat dikatakan selesai apabila telah mencapai suatu target tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya atau dapat pula dinyatakan

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah dibahas di bab sebelumnya, maka dalam penelitian Aplikasi Pengambilan Keputusan Indeks Kepuasan Masyarakat Pada Unit