LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG
BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI PT.PP LONDON SUMATRA. TBK DESA ISUY, KECAMATAN JEMPANG, KABUPATEN KUTAI BARAT
PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Oleh : MARIAH NIM. 070 500 083
PROGRAM STUDI BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN JURUSAN PENGELOLAAN HUTAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA S A M A R I N D A
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan ini disusun berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapangan yang telah dilaksanakan di PT. PP. London Sumatra Indonesia Tbk., Desa Isuy, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat yang dilaksanakan dari tanggal 15 Maret 2010 sampai dengan 30 April 2010.
Menyetujui,
Dosen Pembimbing Dosen Penguji
Ir. Budi Winarni, M.Si Rusli Anwar, SP, M.Si NIP. 19610914 199001 2 001 NIP. 19701101 200501 1 003
Mengesahkan, Direktur
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Ir. Wartomo, MP NIP. 19631028 198803 1 003
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas-tugas selama Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT.PP. London Sumatra. Tbk (Pahu Makmur Estate) Desa Isuy, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat Kaltim hingga tersusunnya laporan ini.
Keberhasilan dan kelancaran dalam pelaksanaan PKL ini juga tidak terlepas dari peran serta dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih kepada :
1. Keluarga yang telah banyak memberikan motifasi dan doa kepada penulis selama ini.
2. Bapak Ir. Wartomo, MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
3. Ibu Ir. Budi Winarni, MSi selaku Ketua Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan dan dosen pembimbing.
4. Bapak Rusli Anwar, SP, MSi selaku dosen penguji PKL.
5. Rekan-rekan mahasiswa yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan laporan ini masih terdapat kekurangan, untuk itu penulis berharap saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca untuk kesempurnaan laporan ini.
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR………. iii
DAFTAR ISI……… iv
DAFTAR LAMPIRAN……….. v
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang……… 1
B. Tujuan………. 2
C. Hasil yang Diharapkan……….. 2 II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN
A. Tinjauan Umum Perusahaan………. 3 B. Manajemen Perusahaan………. 3 C. Lokasi dan Waktu Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) 5 III. HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG
A. Survey Areal dan Pembukaan Lahan………. 6
B. Pembibitan……… 8
C. Penanaman Ke Lapangan………. 16 D. Pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)... 22 E. Pemeliharaan Tanamn Menghasilkan (TM)……… 28 F. Panen dan Pengangkutan……….. 31 IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan………. 36
B. Saran………... 36
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Peta Lokasi PT. PP. London Sumatra Indonesia Tbk……… 39
2. Struktur Organisasi Estate PT.PP London Sumatra Indonesia Tbk... 40
3. Survey Areal……… 41
4. Pembukaan Lahan ...……….. 41
5. Pengisia n Polybag……… 42
6. Areal pembibitan………...………... 42
7. Proses Pencairan Pupuk di Pembibitan...…… 43
8. Pemupukan ………. 43
9. Penyiangan Gulma di Sekitar Bedengan ………...…… 44
10. Rawat Piringan...……… 44
11. Penanaman Tanaman LCC…..…….. ……….. 45
12. Panen dan Pemangkasan ...……….... 45
13. Pengumpulan TBS di TPH...………. 46
14. Pemuatan Buah ke Traktor...………. 46
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam perekonomian Indonesia komoditi kelapa sawit memegang peranan yang cukup penting terutama untuk peningkatan devisa negara. Minyak kelapa sawit serta lemak yang dihasilkan merupakan kebutuhan pokok hidup manusia sehari- hari. Kelapa sawit merupakan salah satu tumbuhan yang dapat tumbuh subur di daerah tropis khususnya di Indonesia.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan berupa pengelolaan perkebunan khususnya kelapa sawit secara besar di pulau Kalimantan dan Sumatera, karena kedua pulau tersebut memiliki luasan lahan dan keadaan tanah yang cukup baik sebagai perkebunan kelapa sawit.
Kelapa sawit di Indonesia merupakan komoditi primadona, luasnya terus berkembang dan tidak hanya merupakan monopoli perkebunan besar negara maupun swasta. Saat ini perkebunan rakyat sudah berkembang pesat. Pekebunan kelapa sawit yang dulunya hanya ada di Sumatra Utara dan Daerah Istimewa Aceh saat ini sudah berkembang di beberapa provinsi, antara lain Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jambi, Bengkulu, Riau, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan khususnya Kalimantan Timur yang dalam perluasan daerah budidaya kelapa sawit.
Banyaknya perkebunan kelapa sawit mampu pula menciptakan kesempatan kerja yang luas. Sehubungan dengan hal tersebut maka Politeknik Pertanian Negeri Samarinda mempunyai program Praktek Kerja Lapang ke perkebunan dengan harapan agar mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya mengenai budidaya tanaman kelapa sawit selama PKL. Dengan bekal ini diharapkan alumnus memiliki kemampuan yang memadai sehingga dapat me ngisi kesempatan kerja yang ada selama PKL di dunia kerja khususnya perkebunan nantinya.
B. Tujuan Praktek
1. Mahasiswa dapat mengetahui prinsip kegiatan yang ada di perkebunan khususnya pemeliharaan tanaman.
2. Mahasiswa dapat membandingkan antara teori yang diperoleh di perkuliahan dan praktek langsung di lapangan.
3. Mahasiswa dapat memahami tata cara penggunaan alat-alat, bahan dan sarana yang ada di lapangan.
4. Menambah pengetahuan mahasiswa aga r mampu berpikir secara praktis mengenai kegiatan yang sesungguhnya terjadi di lapangan.
C. Hasil yang Diharapkan
1. Mahasiswa dapat menguasai kegiatan yang dilaksanakan oleh perusahaan. 2. Dapat menjadi tenaga kerja yang terlatih.
3. Menjadi mahasiswa yang terampil berjiwa bersih dan mempunyai kedisiplinan dalam melakukan pekerjaan.
II. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN
A. Tinjauan Umum Perusahaan
PT. PP. London Sumatra Indonesia Tbk adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terdiri dari dua Estate dan beberapa Divisi khususnya di Kalimantan Timur. Pahu Makmur Estate yang berada di bawah naungan PT. PP. London Sumatra Indonesia Tbk berlokasi di Desa Isuy, Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat dengan luasan areal 10.093,33 Ha Dalam operasionalnya Pahu Makmur Estate terdiri atas 5 Divisi dan Pembibitan, Peta dapat dilihat pada Lampiran 1.
B. Manajemen Perusahaan 1. Estate Manager
Merupakan pemegang jabatan tertinggi di PT. PP London Sumatra Indonesia Tbk Pahu Makmur Estate dengan membawahi 6 Field Assistant dan membawahi 1 asisten kantor (EAA), 1 asisten mekanik dan seluruh organisasi lainnya yang bertanggung jawab terhadap seluruh administrasi dan kegiatan operasional lapangan.
2. Estate Assistant Administration (EAA)
Estate Administrasi Asisten bertanggung jawab terhadap semua kegiatan administrasi kantor pada suatu estate.
3. Field Assistant
Field Assistant merupakan pemegang jabatan tertinggi di suatu divisi yang bertanggung jawab terhadap kegiatan lapangan dan administrasi divisi yang dipegangnya.
4. Krani Divisi
Krani Divisi merupakan tangan kanan Field Assistant yang bertugas melakukan semua pembukuan atau masalah yang ada di divisi tersebut termasuk membantu membagi gaji karyawan.
5. Mandor 1
Mandor 1 adalah pembantu Asisten Divisi yang bertugas di lapangan untuk mengarahkan dan mengawasi karyawan yang bekerja. 6. Mandor Lapangan
Mandor lapangan adalah pembantu mandor 1 atau pengawas lapangan yang ditugaskan mengabsen karyawan dan mengawasi kerja para karyawan.
Struktur organisasi dapat dilihat pada Lampiran 2. C. Lokasi dan Waktu Kegiatan PKL
Lokasi Praktek Kerja Lapang di PT.PP. London Sumatra. Tbk (Pahu Makmur Estate).
Desa : Isuy Kecamatan : Jempang Kabupaten : Kutai Barat Provinsi : Kalimantan Timur
Kegiatan PKL dilakukan sejak tanggal 15 Maret sampai dengan 30 April 2010.
III. HASIL PRAKTEK
A. Survey Areal dan Pembukaan Lahan 1. Survey Areal
Survey areal merupakan tahapan pembukaan lahan yang dikerjakan untuk memperoleh gambaran detail lokasi yang akan dijadikan kebun kelapa sawit, sehingga memudahkan pekerjaan pembukaan lahan dan pemeliharaannya.
a. Membuat batas areal. 1) Tujuan
a) Menentukan titik batas kebun sesuai izin lokasi dan Hak guna Usaha (HGU).
b) Membuat rintisan batas lokasi kebun sehingga membentuk poligon.
c) Membuat batasan enclave terhadap lahan masyarakat, lahan yang tidak diusahakan dan lahan konservasi.
2) Dasar Teori
Dalam pekerjaan survey areal yaitu pembuatan batas kebun bertujuan untuk memperoleh gambaran detail tentang batas lokasi sehingga membentuk poligon, yang akan dijadikan kebun kelapa sawit (Sunarko, 2009).
3) Alat dan bahan Alat: a) Kompas b) GPS c) Parang d) Meteran/tali e) Cat merah f) Kuas g) Peta dasar h) Patok kayu i) Bench mark j) Alat tulis menulis
Bahan: Lahan yang akan dibuka 4) Prosedur Kerja
a) Menentukan titik batas kebun sesuai izin lokasi dengan melihat peta dasar terlebih dahulu.
b) Untuk menentukan titik koordinat, gunakan GPS dan peta dasar. Setelah titik ditentukan, lalu tanda bench mark ditancap dan diberi cat warna merah.
c) Terlebih dahulu dilakukan pengompasan dari titik yang sudah ditentukan sesuai dengan petunjuk yang ada dipeta dasar. d) Setelah itu lakukan perintisan dengan menggunakan alat rintis
e) Meteran/tali ditarik sepanjang rintisan dan patok dengan menggunakan anak kayu dan diberi cat warna merah.
f) Titik diambil setiap 50 m dengan menggunakan GPS. 5) Hasil yang dicapai
Hasil dari survey areal yang dilakukan di lapangan, hasil yang didapatkan oleh mahasiswa 400 m/HK, ketentuan normal perusahaan 800-1000 m/HK.
B. Pembibitan
Pembibitan adalah usaha untuk menyediakan bibit kelapa sawit yang superior dan siap ditanam di areal perkebunan. Selain itu, kegiatan ini memastikan ketersedian bibit dalam jumlah yang cukup, berkualitas dan tepat waktu dengan biaya yang rasional (Sunarko, 2009).
Sebelum pembuatan pembibitan kelapa sawit hal yang perlu dilakukan adalah persiapan lahan untuk lokasi pembibitan dengan memenuhi kriteria sebagai berikut :
- Dekat dengan sumber air
- Dekat dengan areal yang akan ditanam.
- Lokasi bertopografi datar dan tidak tergenang air.
- Dekat dengan pemukiman penduduk agar mudah dalam pengontrolan. - Lokasi bebas dari hama dan penyakit.
Pembibitan terbagi menjadi 2 cara dan dari masing- masing cara tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing- masing, tergantung pula dari
kondisi di lapangan. Untuk di Perusahaan sendiri menggunakan sistem pembibitan satu tahap (single stage nursery).
Pembibitan satu tahap dinilai memiliki kelebihan tersendiri dibanding pembibitan dengan dua tahap. Pembibitan satu tahap lansung ditanam pada polybag besar. Kelebihan pembibitan satu tahap antara lain bibit tidak mengalami kemunduran (stres), biaya yang relatif lebih murah. Namun disisi lain pembibitan satu tahap juga memiliki kekurangan yaitu memerlukan areal yang luas, ketersediaan tenaga kerja, tanah topsoil yang banyak, serta lebih boros pada saat penyiraman.
1. Menyiapkan media tanam
Tanah diambil dari areal non kelapa sawit. Topsoil diambil dari permukaan tanah yang berstruktur baik sedalam 0 – 20 cm dan bebas dari hama dan penyakit. Tanah yang digunakan harus subur ditandai dengan adanya pertumbuhan penutup tanah yang bagus. Tanah juga memiliki drainase yang baik, jika hanya tanah liat yang tersedia, dicampur dengan 20 % pasir.
a. Tujuan
Untuk mendapatkan media tanam yang siap untuk ditanam. b. Dasar teori
Media tanam untuk pengisian polybag menggunakan tanah topsoil yaitu tanah bagian atas yang memiliki struktur remah dan gembur, jika terpaksa digunakan tanah liat, namun media tersebut harus dicampur dengan pasir kasar (Sunarko, 2009).
c. Alat dan bahan
Alat : cangkul, gerobak arco, ayakan tanah, dump truck. Bahan : tanah, pupuk rock pospat, pasir.
d. Prosedur kerja
1) Tanah yang telah dikumpulkan diangkut menggunakan dump truck ke lokasi pembibitan.
2) Tanah dipisahkan dari sisa-sisa akar, kotoran, seresah daun dengan menggunakan ayakan tanah.
3) Dicampurkan setiap satu ton tanah dengan 3 kg rock pospat. Untuk pengisian 50 polybag besar (setara 60 gram rock pospat per polybag besar).
e. Hasil yang dicapai
Melaksanakan persiapan media tanam selama satu hari kerja. Disatukan dengan pengisian polybag berdasarkan kebutuhan yang diperlukan yaitu 400 polybag/HK.
2. Pengisian polybag
Pengisian polybag setelah tanah diolah dengan cara semi mekanis menggunakan cangkul. Berdasarkan prosedur atau tahapan-tahapan kerja yang berlaku di perusahaan.
a. Tujuan
Sebagai media tanam kecambah kelapa sawit agar kecambah dapat tumbuh dengan baik.
b. Dasar Teori
Pengisian polybag menggunakan tanah topsoil atau tanah bagian atas yang memiliki struktur remah dan gembur, jika terpaksa digunakan tanah liat namun media tersebut harus dicampur dengan pasir kasar. Polybag diisi tanah sampai penuh lalu dihentakkan sampai memadat (Sunarko 2009).
c. Alat dan bahan
Alat : cangkul, polybag ukuran 51 x 38 x 0,016 cm, gerobak arco, tali, meteran, ayakan tanah.
Bahan : tanah (sudah dicampur dengan 60 gram pupuk dasar rock pospat per-polybag), air.
d. Prosedur kerja
1) Isi polybag dengan ± 20 kg tanah yang sudah diayak.
2) Susunan bedengan adalah 4 polybag utara selatan dan 54 polybag timur barat, jadi 1 bedengan berjumlah 216 polybag. Jarak antar bedengan 5 meter.
3) Disiram selama satu minggu sebelum penanaman kecambah dan jika perlu tanah ditambah lagi sampai berkisar 2 cm dari bibir polybag.
e. Hasil yang dicapai
Pengisian polybag dilakukan dengan system borongan dengan frekuensi kerja 400 polybag/HK.
3. Penanaman kecambah a. Alat dan bahan
Alat : wadah (piring), parang, alat tulis, gembor. Bahan : kecambah, air
b. Prosedur kerja
1) Sebelum ditanam terlebih didahulu lubangi tanah dengan kayu atau jari.
2) Ditanam dengan posisi radikula (berwarna kekuning-kuningan) di bawah dan plumula (berwarna keputih-putihan) berada di atas. 3) Ditutup dengan tanah yang gembur, pada saat penutupan dihindari
terjadinya patah pada bagian plumula dan radikula. 4) Kecambah yang tertanam dicatat.
5) Setelah penanaman dilakukan penyiraman
6) Bila terjadi serangan penyakit maka dilakukan perendaman
kecambah dengan larutan Dithane M45 dengan dosis 2 g/l air/1000 kecambah, dilakukan sebelum penanaman ke
4. Penyiraman
Penyiraman sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari. Penyiraman dilakukan jika curah hujan pada hari sebelumnya kurang dari 8 mm.
a. Tujuan
Agar kebutuhan tanaman akan zat cair terpenuhi dalam proses hidupnya.
b. Dasar teori
Penyiraman dilakukan dua kali sehari secara teratur dengan jumlah yang cukup kecuali jika turun hujan penyiraman cukup sekali saja. Jika kemarau penyiraman harus dilakukan dua kali sehari minimal 2 liter/polybag (Sunarko 2009).
c. Alat dan bahan
Alat : sprinkle, mesin air Bahan : air, bibit kelapa sawit d. Prosedur kerja
1) Mesin dihidupkan oleh operator mesin air.
2) Keran dibuka kemudian air dialirkan pada tiap pipa saluran penyiraman.
3) Bibit kelapa sawit tersiram dengan kebutuhan 2 liter air/hari/polybag.
e. Hasil yang dicapai
Untuk penyiraman menggunakan sistem sprinkle. Hasil yang dicapai mampu menyiram 8-10 petak. Dengan rotasi 2 kali/1HK. 5. Pengendalian gulma.
a. Tujuan
Agar kondisi bibit bersih dari gulma dan mempercepat pertumbuhan bibit serta tidak terjadi persaingan unsur hara.
b. Dasar teori
Gulma yang tumbuh di dalam polybag dan yang tumbuh liar di tanah di antara polybag serta jalan di areal pembibitan harus dibersihkan. Penyiangan gulma dilakukan dua kali sebulan disesuaikan dengan pertumbuhan gulma (Setyamidjaja, 1991).
c. Alat dan bahan
Alat : parang, arit, cangkul, gerobak arco. Bahan : gulma di dalam polybag, mulsa. d. Prosedur kerja
1) Semua gulma yang berada dalam polybag dicabut dan didongkel menggunakan parang atau arit.
2) Gulma yang berada di sekitar polybag dikendalikan dengan cara dicangkul.
3) Setelah disiangi gulma-gulma tadi dibawa ke tempat pembuangan dengan menggunakan gerobak arco.
4) Pemberian mulsa jerami atau ilalang kering di dalam polybag untuk mengurangi penguapan, menghalangi pertumbuhan gulma dan mencegah erosi tanah pada saat penyiraman.
5) Rotasi penyiangan 2 minggu sekali atau melihat pertumbuhan gulma.
e. Hasil yang dicapai
Normal kerja perusahaan 1 HK/2 ha, dengan jumlah pekerja 5 sampai 7 orang. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan tergantung intensitas serangan gulma. Rotasi penyiangan 2 minggu sekali atau melihat pertumbuhan gulma.
6. Pemupukan
Pemupukan sangat dianjurkan dengan menggunakan pupuk majemuk yang mengandung unsur N, P, K dan trees element (unsur hara mikro tambahan), seperti pupuk NPK 15, 15, 6, 4, pupuk NPK 12, 12, 17, 2 dan kieserit (Mg).
a. Tujuan
Untuk memperoleh bibit yang sehat, tumbuh cepat serta subur. b. Dasar teori
Pemupukan bibit sangat penting dilaksanakan agar diperoleh bibit yang sehat, pertumbuhan cepat dan subur. dosis dan jadwal pemupukan sangat tergant ung pada umur dan pertumbuhan bibit di pembibitan. Sebaiknya pemupukan dilakukan pada pagi hari (Sunarko, 2009).
c. Alat dan bahan
Alat : ember, mangkok, gelas ukur.
Bahan : pupuk majemuk NPK 15, 15, 6, 4 serta air. d. Prosedur kerja
1) Pemupukan dilakukan pada bibit yang berumur 1 bulan.
2) Pupuk NPK dicampur dengan air dengan campuran 8 gram/5 liter air untuk seratus pokok tanaman.
3) Pemupukan ini dilakukan dengan sistem manual.
4) Setelah pemupukan dilakukan bibit kembali disiram dengan air untuk mencegah bibit terbakar oleh pupuk yang menguap.
e. Hasil yang dicapai
Pemupukan yang dilaksanakan di lapangan dengan jumlah tenaga kerja 1 orang dapat menyelesaikan 150 pokok tanaman/HK. Dari hasil pemupukan ini dapat dihitung jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sesuai jumlah bibit yang ada.
B. Penanaman ke Lapangan 1. Persiapan lahan
a. Tujuan
Untuk menyiapkan lahan yang sudah siap tanam dan bersih dari gulma maupun kayu dan menyiapkan jalan untuk persiapan pengangkutan pada saat produksi dan lain- lain.
1) Persiapan lahan untuk areal tanam yang pertama dilakukan adalah blocking area untuk menentukan luas satu blok dan jalan.
2) Pemancangan jalur rumpukan yang berguna untuk membuat rumpukan tidak terkena titik tanam.
3) Land clearing yang mencakup pekerjaan tumbang pohon, cincang pohon yang tumbang, dan penyusunan ke jalur rumpukan dengan menggunakan excavator.
b. Dasar Teori
Dalam pekerjaan persiapan lahan mencakup dari survey areal sampai dengan pembukaan lahan hingga persiapan lahan yang siap tanam, hingga menjadi kebun kelapa sawit (Sunarko, 2009).
c. Alat dan bahan
Alat : Buldozer, excavator, meteran, pancang Bahan : Lahan yang akan dibuka.
d. Prosedur Kerja
1) Menentukan batas blok.
2) Membuat jalan utama, diikuti dengan pembuatan rumpukan dan saluran air.
3) Menentukan jalur rumpukan untuk memudahkan menentukan luasan hektar.
e. Hasil yang dicapai
pekerjaan ini sistim kontrak antara pihak perusahaan dan kontraktor.
2. Pemancangan
Pedoman pemancangan didasarkan pada tanaman sebelumnya pada areal penanaman. Penanaman kelapa sawit di lapangan dilakukan dengan mata lima yaitu penghitungan yang dihasilkan oleh segitiga sama sisi. Penanaman kelapa sawit mata lima bertujuan untuk memberikan sinar matahari yang merata pada tiap pokok kelapa sawit.
a. Tujuan
Mengetahui titik tanam dan populasi pokok per- hektar sehingga mempermudah untuk pembuatan lubang tanam dan penanaman.
b. Alat dan bahan
Alat : meteran, tali, pancang, parang, kompas. Bahan : areal tanam
c. Prosedur kerja
1) Jarak tanam mata lima kelapa sawit adalah 9,25 (utara selatan) x 8.01 (timur barat). Dalam satu hektar terdapat 5 baris tanaman. 2) Ditentukan titik awal penanaman serta pancang mati dan pancang
hidup. Dibuat pancang baris tanaman dengan jarak 8,01 meter. 3) Pada tali diberi tanda ikatan pada setiap jarak 9,25 meter untuk
jarak tanam.
4) direntangkan tali sepanjang jalur penanaman dan pada tiap titik ikatan tali tadi diberi pancang.
d. Hasil yang dicapai
Pemancangan dengan menggunakan sistem segitiga sama sisi (mata lima). Hasil yang dicapai dalam pemancangan adalah 1 ha/1HK. 3. Membuat lubang tanam
a. Tujuan
Pembuatan lubang tanam dilakukan agar memudahkan penanam bibit kelapa sawit ke lapangan. agar target penanaman di lapangan selesai tepat pada waktunya dan agar tidak terjadi penumpukan bibit di lapangan.
b. Alat dan bahan
Alat : parang, cangkul, meteran. Bahan : pupuk rock pospat.
c. Prosedur kerja
1) Dibersihkan piringan (radius 1 meter) dari semua rerumputan. 2) Digali lubang tanam dengan menggunakan cangkul. Lebar lubang
tanam adalah 50 cm dan dengan kedalaman 40 cm.
3) Dipisahkan antara galian lapisan tanah bagian atas dan bagian bawah.
4) Dicampurkan lapisan tanah topsoil dengan pupuk dasar rock pospat.
5) Untuk tanah mineral dosis pupuk rock pospat adalah 800 gram/lubang dan untuk tanah gambut atau rawa 250 gram/lubang.
d. Hasil yang dicapai
Setelah dibuat lubang tanam segera dilakukan penanaman, agar tidak tertutup kembali lubang tanam yang telah disediakan di lapangan. Kegiatan pembuatan lubang bersamaan dengan penanaman yaitu menggunakan sistem borongan dengan nilai 12 HK/ha.
4. Distribusi bibit ke lapangan a. Tujuan
Untuk memudahkan para karyawan untuk menyuplai bibit ke titik-titik tanam sehinga memudahkan pada saat penanaman.
b. Alat dan bahan
Alat : tali plastik, parang, selang air, alat transportasi untuk pendistribusian bibit ke lapangan, truk.
Bahan : bibit kelapa sawit, air. c. Prosedur kerja
1) Dikumpulkan bibit yang diperlukan, diikat pelepah dengan tali plastik dekat dengan pangkal batang.
2) Jika terdapat bibit yang terlalu besar dipotong pada ketinggian sekitar 1,5 meter dari tanah dan diikat 2 kali pada bagian atas dan bawah.
3) Disiram bibit secukupnya dengan air sebelum dikirim ke lapangan. 4) Pengangkutan bibit ke areal penanaman dengan menggunakan truk.
d. Hasil yang dicapai
Pengangkutan bibit ke lapangan menggunakan sistim borongan mencakup pengangkutan dari pembibitan hingga penanaman, dikenakan 12 HK/ha.
5. Penanaman bibit a. Alat dan bahan
Alat : cangkul, parang. Bahan : bibit kelapa sawit b. Prosedur kerja
1. Didistribusikan bibit ke titik tanam.
2. Pada waktu pendistribusian bibit harus dijaga dalam posisi tegak 3. Diukur ketinggian tanah pada polybag dan kedalaman lubang
tanaman.
4. Lubang tanam harus lebih dari 2 – 3 cm dari tinggi tanah dalam polybag.
5. Dipotong dasar polybag dan dibuka samping sampai setengah polybag. dimasukkan bibit ke dalam lubang.
6. Ditimbun separuh lubang dengan topsoil yang dicampur pupuk lalu dipadatkan tanah di sekeliling bibit.
8. dilanjutkan penimbunan sampai penuh dan dipadatkan kembali. 9. Dirapikan tanah di sekeliling pangkal tanaman, dibiarkan sedikit
lebih rendah 1 – 2 cm untuk menampung air hujan. 10. Dibuka tali pengikat tanaman.
c. Hasil yang dicapai
Pengangkutan bibit ke lapangan menggunakan sistem borongan mencakup pengangkutan dari pembibitan hingga penanaman, dikenakan 12 HK/ha
C. Pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (Imature)
Pemeliharaan adalah suatu usaha untuk meningkatkan dan menjaga kesuburan tanah dalam lingkungan pertumbuhan tanaman, guna mendapatkan tanaman yang sehat dan berproduksi sesuai dengan yang diharapkan (Risza, 1994).
1. Penyulaman
Penyulaman merupakan kegiatan penanaman kembali tanaman yang mati. Tujuan penyulaman untuk mempertahankan kerapatan (populasi) pohon sesuai standar. Jumlah pohon yang akan disulam di setiap areal pada tahun pertama, kedua dan ketiga dapat diketahui dengan mudah berdasarkan hasil sensus pohon.
a. Tujuan
Tujuannya untuk mempertahankan kerapatan populasi pohon sesuai standar.
b. Dasar teori
Menurut Sunarko (2009) penyulaman dilakukan dengan mengganti tanaman kelapa sawit yang mati dengan tanaman yang baru dari pembibitan yang sudah disiapkan sebelumnya. Bibit yang digunakan sebaikanya memiliki umur dan jenis yang sama dengan tanaman yang diganti, untuk memperoleh pertumbuhan yang seragam. c. Alat dan bahan
Alat : cangkul, parang.
Bahan : bibit kelapa sawit umur 18 - 24 bulan. d. Prosedur kerja
1) Digali kembali lubang tanam yang sudah mati dengan ukuran lubang 50 x 50 x 40 cm
2) Disayat polybag dari atas ke dasar lalu bibit dikeluarkan. 3) Dimasukkan bibit ke dalam lubang dengan posisi tegak lurus 4) Dimasukan tanah galian ke dalam lubang hingga membentuk
gundukan setinggi 5 cm, padatkan tanah di sekitar tanaman agar tertanam kokoh.
5) Dibuat piringan dengan lebar 2 meter, piringan harus bebas gulma. d. Hasil yang dicapai
Karena kegiatan penyulaman menggunakan sistem borongan, maka setiap karyawan bisa menanam 30 bibit/HK.
2. Pemeliharaan piringan
Perawatan yang dilakukan pada saat PKL, berupa rawat piringan manual.
a. Tujuan
1) Membebaskan piringan pohon dari gulma yang dapat merugikan tanaman utama.
2) Penempatan pupuk yang diberikan dapat mencapai sasaran yang optimal.
3) Mempercepat fase tanaman menghasilkan (mature) b. Dasar teori
Pemeliharaan piringan secara manual merupakan item weeding. Pekerjaan ini dilakukan dengan rotasi 3 kali 1 tahun. Perawatan piringan berarti pembersihan yang dilakukan pada piringan pohon tanaman (Anonim, 1995).
c. Alat dan bahan
Alat : parang, arit dan cangkul.
Bahan : semua gulma yang ada di piringan pokok sawit. d. Prosedur kerja
1) Penentuan Blok
Blok yang akan dilakukan penyiangan ditentukan terlebih dahulu berdasarkan intensitas serangan gulma dan kondisi blok tanaman. Luas masing- masing blok adalah 100 Ha dan dalam satu blok terbagi menjadi 4 petak masing- masing petak luasnya 25 Ha.
2) Menyiapkan alat
Peralatan disiapkan terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan di lapangan dan masing- masing karyawan bertanggung jawab dengan alatnya masing- masing.
3) Pelaksanaan
Pembersihan piringan sawit dilakukan sampai batas terluar pelepah dengan luas piringan 2 m dan di piringan sawit harus benar-benar bersih dari gulma.
e. Hasil yang dicapai
Pemeliharaan piringan ini berfungsi untuk pengendalian gulma di sekitar tanaman agar tidak merusak pertumbuhan tanaman dan agar mendapat sinar matahari dengan baik dan optimal. Pembersihan piringan memiliki nilai 1 HK/ha.
3. Pemeliharaan penutup tanah
Pemeliharaan kacangan sangat penting untuk mendapatkan kacang murni agar bermanfaat pada pertumbuhan tanaman. Pemeliharaan kacangan meliputi pemupukan untuk membangun kacangan yang jagur kemudian weeding dan pena nggulangan hama.
a. Tujuan
Untuk menekan laju pertumbuhan gulma dan menjaga kelembaban tanah.
b. Alat dan bahan
Alat : parang, cangkul.
Bahan : pupuk NPK dan Rock Posphat. c. Prosedur kerja
1) Pupuk ditabur sepanjang jalur LCC kemudian ditebar lebih luas sejalan perkembangan LCC.
2) Initial weeding dilakukan untuk membersihkan jalur tanam kacangan. Dapat dilakukan sekitar 6 minggu setelah kacangan tumbuh.
3) Kemudian kemurnian kacangan agar dipertahankan dengan melakukan selective hand weeding setiap 2 bulan. Setelah 24 bulan rumput-rumput harus dibolehkan bercampur di kacangan.
d. Hasil yang dicapai
Norma kerja perusahaan dalam penanaman LCC adalah 1HK/2 ha, dengan jumlah pekerja 8 sampai 12 orang.
4. Konsolidasi pohon
Untuk menegakkan tanaman kelapa sawit yang miring dilakukan penegakan (konsolidasi). Pada saat umur tanaman 16 - 18 bulan.
a. Tujuan
Tujuan dari konsolidasi pohon adalah untuk menegakkan pohon kelapa sawit yang miring, memperkuat perakaran dengan menambahkan tanah ke piringan sawit.
b. Alat dan bahan
Alat : Cangkul, parang, anakan kayu. Bahan: Pohon kelapa sawit.
c. Prosedur kegiatan
1) Mencari pohon kelapa sawit yang miring.
2) Gulma yang ada di sekitar tanaman dibersihkan terlebih dahulu. 3) Penambahan tanah dilakukan dengan menimbun pokok sawit
dengan tanah yang diambil di sekitar pokok sawit tersebut.
4) Sambil menambah tanah pokok sawit yang miring harus ditegakkan lalu diberi penyanggah kayu.
d. Hasil yang dicapai
Pelaksanan konsolidasi sawit ini dilaksanakan 1 HK mendapat 10 sampai 30 pohon sawit/karyawan. Frekuensi biasanya lebih besar apabila keadaan lingkungan mendukung dalam pengerjaan konsolidasi pohon ini. Dari hasil kerja dilakukan 4 orang mahasiswa mendapat 25 pohon.
5. Kastrasi
Pada saat melakukan kastrasi tandan hanya bunga betina yang dibuang. Bunga jantan akan membantu polinasi dengan Eladibius kamerunicus. Kastrasi dilakukan hingga tanaman kurang lebih berusia 28 – 30 bulan. Atau 50 % dari populasi telah menghasilkan bunga.
a. Tujuan
Untuk merangsang pertumbuhan vegetatif dan menghilangkan sumber infeksi hama penyakit. Dengan dilakukan kastrasi, maka penanaman tahun pertama akan seragam, baik berat tandan maupun waktu panennya.
b. Alat dan bahan
Alat : dodos (chisel) kecil Bahan : tanaman kelapa sawit c. Prosedur kerja
1) menentukan blok yang akan dilakukan kastrasi. 2) pembagian kerja
3) pemotongan bunga betina dilakukan dengan dodos kecil dengan cara memotong.
4) Tandan bunga yang dikastrasi tidak boleh diletakkan di piringan, tetapi diletakkan di gawangan.
d. Hasil yang diharapkan
kastrasi dilakukan dengan sistem target dengan 1 HK/4 gawanga n sawit.
D. Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM)
Tanaman menghasilkan merupakan tanaman kelapa sawit dengan kondisi lebih dari 25 % sudah mulai menghasilkan TBS dengan berat ± 3 kg. E.
1. Babat gawangan
Dilakukan dengan cara mekanis dengan penebasan. Jenis gulma yang dikendalikan adalah kayu, keladi dan ilalang.
a. Tujuan
Tujuannya adalah membasmi gulma yang tumbuh di gawangan dengan cara menebas semua gulma, sehingga persaingan tanaman utama dan gulma terhadap persaingan unsur hara dapat dihindari, serta mempermudah jalur akses pada saat panen.
b. Dasar teori
Menurut Risza (1994), semua gulma liar dan anak kayu yang tumbuh di gawangan harus dibasmi dengan rotasi 3 kali setahun selama dua tahun dan kacangan yang menjalar pada pelepah sawit diturunkan dan tidak dibenarkan memotong pelepah.
c. Alat dan bahan
Alat : Parang, dan arit Bahan: Gulma.
d. Prosedur kerja
Gulma yang dikendalikan antara lain kayu-kayuan, gelagah, keladi, ilalang dan sebagainya. Cara pelaksanaannya adalah ditebas.
e. Hasil yang dicapai
Untuk babat gawagan menggunakan sistem target. Normal perusahaan 7 gawang/HK.
2. Tunas Pemeliharaan (Pruning) a. Tujuan
Penunasan bertujuan untuk mempermudah aktivitas panen dan memperlancar penyerbukan.
b. Dasar teori
Tunas pemeliharaan adalah kegiatan pemotongan pelepah daun dengan alat dodos atau egrek, dengan rotasi sebaiknya 8 bulan sekali. Pada saat penunasan harus diusahakan sampai batas songgo 2 sehingga setelah penunasan pelepah daun masih tersisa 48-56 pelepah. Bekas tunasan harus mepet dengan pokok kelapa sawit (Risza, 1994).
c. Alat dan bahan
Alat : Dodos dan egrek.
Bahan : Pelepah kelapa sawit yang melebihi songgo 2. d. Prosedur kerja
1) Penentuan blok yang tanamannya akan ditunas 2) Persiapan peralatan penunasan
3) Pelaksanaan penunasan
Karyawan memasuki ancak masing- masing, kemudian melakukan pemotongan pelepah yang gondrong menggunakan dodos dan egrek dengan hanya menyisakan songgo 2, potongan pelepah dekat dengan pohon sekitar ±.15 cm. Pelepah yang sudah terpotong disusun di gawangan ma ti dengan arah membujur.
e. Hasil yang dicapai
Untuk pruning dilakukan dengan sistem target 1HK/2 ha. Dari hasil pruning ini mahasiswa hanya bisa mendapat 25 pohon sawit.
E. Panen dan Pengangkutan
Kriteria Matang Panen di PT. PP London Sumatra Indonesia Tbk. adalah :
- Warna buah orange kemerahan.
- Sudah ada buah yang lepas atau membrondol ± 5 brondol.
- Di PT.PP London Sumatra Indonesia Tbk memanen dengan fraksi 2 dan 3. Suatu areal sudah dapat dipanen apabila :
- Tanaman berumur 27 bulan di lapangan.
- 80 % pohon tela h mempunyai buah yang siap panen. - Berat TBS > 3 kg.
1. Panen a. Tujuan
Kegiatan panen bertujuan untuk mendapatkan tandan buah segar (TBS) yang tinggi, memperoleh rendemen yang baik, mendapatkan mutu minyak yang tinggi, biaya panen yang efisien, eksploitasi berjalan dengan baik sehingga mencapai umur produktif yang lama. Buah yang dipanen adalah buah yang sesuai dengan fraksi panen yang telah ditentukan oleh perusahaan.
b. Dasar Teori
Panen adalah pengambilan buah kelapa sawit yang telah memenuhi kriteria matang panen dari pokoknya, selanjutnya bersama dengan brondolannya dikumpulkan untuk diangkut dan diproses atau diolah (pabrik) (Anonim, 1995).
Untuk mencapai tujuan pemanenan, kualitas dan kuantitas yang tinggi, maka pelaksanaan ketentuan panen mencakup sistem panen, rotasi panen, kriteria matang panen dan persentase brondolan, serta pelaksanaan angkut dan pengolahan secepat mungkin.
c. Alat dan Bahan
Alat : Dodos, egrek, kapak, batu asahan, gerobak arco, karung. Bahan : TBS kelapa sawit yang memenuhi kriteria matang panen. d. Prosedur Kerja
1) Pemeriksaan TBS Kelapa Sawit
Buah yang dipanen harus memenuhi kriteria matang panen yang telah ditentukan. Pemeriksaan ini bertujuan agar buah yang dipanen adalah buah yang benar-benar matang sehingga rendemen yang diperoleh akan lebih tinggi. apabila pemanen, memanen buah mentah maka otomatis rendemen dan pemanen akan didenda. 2) Pemotongan pelepah (Pruning)
Pelepah yang dipotong adalah pelepah yang berada dibawah buah yang akan dipanen (songgo buah).
3) Pengumpulan pelepah
Pelepah yang telah dibuang pada pokok tanaman dipotong dengan menggunakan parang menjadi 3 bagian dan disusun rapi di gawangan mati.
4) Pengambilan tandan buah
Tandan buah dipotong mepet dari pokok dengan menggunakan egrek jika pohonnya mencapai 3 m tapi jika tanamanya masih rendah cukup menggunakan dodos.
5) Pengutipan brondolan
Semua berondolan dikutip dan diangkut dengan gerobak arco dan ditumpuk di TPH (Tempat Penampungan Hasil).
6) Pengumpulan buah
Buah kelapa sawit beserta brondolannya dikumpulkan dan diangkut denga n menggunakan gerobak arco melalui jalan pasar pikul menuju TPH. Tangkai buah dipotong huruf V sebelum diangkut ke pabrik agar kehilangan minyak pada TBS bisa diminimalkan.
7) Penyusunan TBS di TPH
TBS kelapa sawit disusun rapi, agar memudahkan dalam perhitungan buah. Di PT. PP London Sumatra ditumpuk 10 TBS per-baris. Brondolan dipisahkan, ditumpuk dalam karung yang berada di TPH.
e. Hasil yang dicapai
Hasil yang didapat berupa tandan buah segar yang siap diangkut ke pabrik untuk mengalami proses selanjutnya yaitu pengolahan minyak dari daging buah (CPO).
2. Pengangkutan a. Tujuan
Kegiatan pengangkutan bertujuan untuk mengangkut sesegera mungkin tandan buah segar (TBS) beserta brondolannya untuk diolah di pabrik, sehingga diharapkan tidak terjadi restan buah.
b. Dasar Teori
Menurut Anonim (1995), pengangkutan buah (TBS dan brondolan) dari lapangan ke pabrik harus segera dilakukan pada hari itu juga setelah buah dipanen. Operasi pengangkutan saling mendukung dengan operasi panen dan pengolahan, karena sifat pengoperasiannya merupakan tiga sub sistem induk yaitu Panen-Angkut-Olah (PAO). Buah yang sudah ada di TPH harus sesegera mungkin diangkut ke pabrik karena kalau buah sampai bermalam di kebun akan menyebabkan asam lemak bebas (ALB) meningkat dan kandungan rendemen minyak menurun.
c. Alat dan Bahan
Alat : Tojok, gancu, penggeruk brondolan, karung, traktor, truk . Bahan : TBS kelapa sawit dan brondolan.
d. Prosedur Kerja
1) Blok pengangkutan ditentukan berdasarkan kegiatan panen yang telah dilaksanakan pada hari yang sama.
2) Pengangkutan terlebih dahulu menggunakan traktor dari dalam blok dengan tenaga kerja 2 orang.
3) Buah di TPH dimasukan ke dalam traktor dengan menggunakan tojok dan brondolan dimasukan dengan menggunakan karung, brondolan di TPH harus bersih.
4) Setelah penuh traktor menuju loading kemudian akan diangkut oleh truk ke pabrik.
e. Hasil yang dicapai
Berdasarkan kegiatan tersebut satu traktor dapat mengangkut 3 sampai 5 ret/hari ke loading, sedangkan truk hanya 2 sampai 3 ret/hari ke pabrik, tergantung jumlah buah yang dipanen dan kondisi cuaca.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Secara umum teknis budidaya yang diterapkan oleh PT. PP. Lonsum dengan tehnik budidaya kecambah yang diterapkan pada perkebunana lain dan cukup efektif dan efesien namun masih terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian seperti penggunaan bibit tua sebagai bahan tanaman yang didahului dengan diadakan pemangkasan dimana bibit yang tua dengan perlakuan tersebut dapat me nurunkan produktivitas tanaman. Keterlambatan pengiriman benih kelapangan adalah salah satu penyebab terjadinya bibit tua.
B. Saran
Perlu penambahan sarana angkutan untuk mengatasi keterlambatan pengiriman benih.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1995. Breavat Dasar I Tanaman Kelapa Sawit. Astra Agro Niaga. Jakarta.
Anwar R. 2007. Diktat Budidaya Kelapa Sawit. Samarinda. Rizsa S. 1994. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta.
Sastrosayono. 2003 . Budidaya Kelapa Sawit. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Setyamidjaja D. 1991. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta. .
Setyamidjaja D. 2002. Pupuk dan Pemupukan. CV Simlek Jakarta.
Sunarko. 2009. Budidaya dan Pengolahan Kebun Kelapa Sawit dengan Sistem Kemitraan. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Lampiran 2. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Perkebunan Kelapa Sawit
PT.PP London Sumatra Indonesia Tbk.
Periode Maret 2010
Manager Estate Estate Adminstrasi Asisten ( EAA) Asisten Divisi 1 Asisten Divisi 3 Asisten Divisi 2 Asisten Divisi 4 Asisten Divisi 5 Kerani Divisi Kerani Divisi Kerani Divisi Kerani Divisi Kerani Devisi Mandor 1 Mandor 1 Mandor 1 Mandor 1 Mandor 1 Mandor Lapangan Mandor Lapangan Mandor Lapangan Mandor Lapangan Mandor LapanganLampiran 3: Survey Areal
Lampiran 4. Pembukaan Laha n
Lampiran 5: Pengisian Polybag
Lampiran 7: Proses Pencampuran Pupuk denga n Air
Lampiran 8: Pemupukan
Lampiran 9: Penyiangan Gulma Di Sekitar Bedengan
Lampiran 11: Penanaman Tanaman LCC
Lampiran 13 : Pengumpulan TBS di TPH