Reviu 10 Buku Pengarusutamaan Gender
(PUG) bidang Pendidikan
Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal
KERANGKA PENYAJIAN
1 Daftar naskah yang akan direviu
2 Mengapa menulis buku?
3 Buku sebagai target dan tujuan
4 Publikasi sebagai motivasi
5 Publikasi sebagai model
6 Publikasi sebagai rekam prestasi
7 Proses Menulis – Langkah 1
8 Langkah 2: Revisi
9 Kriteria umum
Daftar Naskah yang Direviu
1. Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan
2. Panduan Strategi Pengembangan PKBM Responsif Gender 3. Isu dan Solusi Gender Bidang Pendidikan
4. Panduan Umum Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan
5. Data dan Indikator Pendidikan Berwawasan Gender tahun 2010/2011
6. Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 7. Panduan Penyunan Bahan Ajar Responsif Gender
8. Strategi Pengembangan Sekolah Responsif Gender
• Buku memberikan tujuan dan target spesifik untuk
membuat pesan tertulis.
• Buku memberikan motivasi kepada penulis untuk
mencipta, merevisi dan meng-edit pemikiran meraka sendiri.
• Buku merupakan model yang kuat bagi calon penulis. • Buku merekam dan mendokumentasikan pembelajaran
dan prestasi.
• Hampir semua pendidik mengetahui “proses
menulis.” Tapi tidak semua orang dapat menulis
dengan baik.
• KEMUNGKINAN I: menulis bukanlah sebuah
tujuan.
• KEMUNGKINAN II: tulisan yang disusun tidak
memiliki target yang jelas.
“Bagaimana kita dapat berpikir
layaknya penulis profesional apabila
tujuan utamanya bukanlah
publikasi?”
• Salah satu kunci keberhasilan pendidikan adalah
peserta didik mampu menghasilkan dan mempublikasi pemikiran mereka sendiri.
• Hasil karya yang dipublikasikan mencerminkan berbagai
hasil pemikiran dan pembelajaran yang memungkinkan terjadinya kebhinekaan.
• Hasil karya yang dipublikasikan juga menunjukkan
model terhadap nilai-nilai pekerjaan, pemikiran dan mutu ekspresi diri.
• Proses menulis hingga publikasi merupakan proses
perjalanan kreatif.
• Penulis memikirkan ide agar mampu berkomunikasi
dengan pembaca.
• Penulis perlu merefleksikan pemikiran dan respons
terukur kepada rekan dan orang lain.
• Publikasi tulisan akan menjadi obat terhadap semua
kritikan yang muncul selama proses penulisan.
• Penulis menangkap ide, pikiran, impresi, dan reaksi. • Apa tujuan penulis? Mengapa ia menulis?
• Siapa targetnya? Untuk siapa ia menulis?
• Apa yang penulis ketahui tentang subjek tulisannya? • Langkah pertama ini terjadi di dalam kepala penulis
sendiri. Komunikasi dengan rekan hanya menambahkan dan memperdalam pemikiran sendiri. Perlu dicatat
bahwa kurangnya interaksi pada tahap ini akan mempengaruhi kedalaman pemikiran dan ide.
• REVISI (lihat kembali) sebelum meng-edit.
• REVISI SEDERHANA: terlihat benar, terdengar benar dan masuk akal.
• ORGANISASI: apakah isi dan pemikiran dikemas dengan baik sehingga dapat dipahami pembaca?
• MAKNA KALIMAT: Apakah pesan dapat disampaikan dengan baik, masuk akal, dapat dipahami dan mengalir?
• PILIHAN KATA: apakah kata-kata yang digunakan bervariasi tapi tetap dapat dipahami?
• KEJELASAN EKSPRESI: apakah kalimat-kalimat yang digunakan menggunakan majas dan analogi yang dapat dipahami?
• CATATAN:
Revisi sempurna tidak akan pernah diperoleh hanya dengan satu kali membaca. Revisi harus tetap menjaga pemikiran awal penulis.
• Baca dan resapi maknanya.
• Gunakan simbol yang dapat dipahami ketika
memberi masukan.
• Ajukan pertanyaan kritis yang akan menghasilkan
refleksi, bukan hanya respons.
• Lakukan diskusi dengan rekan untuk memperoleh
revisi lebih lanjut.
• Buat revisi kolaboratif.
Reviu untuk “Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan”.
Contoh Reviu
1. Siapa pembuat kebijakan? 2. Apa isunya?
3. Apa tujuannya?
4. Informasi apa yang kita punya? 5. Penelitian dan Analisis
6. Membuat intervensi terhadap Kebijakan dan Anggaran 7. Strategi Advokasi: Gender itu penting
8. Monitoring
9. Evaluasi: Bagaimana melakukannya? 10. Men-gender-kan komunikasi
• Siapa pemangku kepentingan terkait yang ada?
Individu atau kelompok dengan perspektif
gender?
• Adakah kesetaraan gender di institusi dan
organisasi yang terlibat?
• Di mana terdapat ahli gender?
• Pengetahuan dan keahlian apa yang dapat
diberikan pemangku kepentingan terkait?
14
Matriks Stakeholder Sensitif Gender
Stakeholder SK L/P A D DP ADL
Focal Point Gender lintas kementerian
Mitra pembangunan yang juga membidangi gender
Keterwakilan laki-laki dan perempuan di sektor swasta
Organisasi berbasis perempuan atau gender
Organisasi kemasyarakatan yang memiliki ketertarikat terhadap gender
Organisasi sektoral yang memiliki pengalaman dalam menangani isu gender
Kelompok pemerhati Hak Azasi Manusia
Analis kebijakan dengan pengalaman dan keahlian di bidang gender
Akademisi atau peneliti dari PSW/PSG Universitas
Politisi yang mendukung isu gender
Ahli statistik bidang gender
SK : STatregi Kebijakan
L/P : hubungan dengan kebutuhan dan pengalaman laki-laki dan perempuan dalam kelompok target kebijakan A : Advokasi
D : Data
DP : Dukungan Politik
• Apa subjek inisiatif kebijakan yang akan
dibangun?
• Apakah isu tersebut mempengaruhi laki-laki dan
perempuan dengan cara yang berbeda?
2. Apa Isunya?
CONTOH KASUS:
• Rendahnya partisipasi dan representasi perempuan dalam
pemerintahan
• Kurangnya kesadaran pembuat kebijakan akan pengaruh gender
• Apa yang ingin kita capai?
• Tujuan Korektif
: Apakah tujuan tersebut akan
memenuhi kebutihan laki-laki dan perempuan?
• Tujuan Transformatif
: Apakah tujuan tersebut
mencakup komitmen yang lebih luas untuk
mengubah institusi, perilaku atau faktor lainnya
yang menghambat kesetaraan gender?
3. Apa Tujuannya?
CONTOH KASUS:
• Bagaimana mewujudkan tujuan korektif dan transformatif di
• Informasi apa yang kita punya terkait isu gender yang
dapat mempengaruhi laki-laki dan perempuan secara berbeda?
• Informasi apa yang kita tidak punya?
• Intervensi kebijakan seperti apa yang telah
dilaksanakan?
• Kebijakan apa yang saat ini sedang dilaksanakan? • Intervensi apa yang selanjutnya akan dilaksanakan?
4. Informasi Apa yang Kita Punya?
CONTOH KASUS:
Fase ini mencakup:
• Menspesifikasi pertanyaan penelitian • Mendisain dan melakukan penelitian
• Mengevaluasi dan menarik kesimpulan dari penelitian
5. Penelitian dan Analisis
CONTOH KASUS:
• Situasi terkini laki-laki dan perempuan di tingkat lokal • Survey terhadap sikap dan pengetahuan akan gender • Audit pembuatan kebiajakan di tingkat lokal
Fase ini mencakup:
• Menspesifikasi pertanyaan penelitian • Mendisain dan melakukan penelitian
• Mengevaluasi dan menarik kesimpulan dari penelitian
5. Penelitian dan Analisis
CONTOH KASUS:
• Situasi terkini laki-laki dan perempuan di tingkat lokal • Survey terhadap sikap dan pengetahuan akan gender • Audit pembuatan kebiajakan di tingkat lokal
Fase ini penting untuk membentuk pemikiran ulang terhadap pilihan kebijakan:
• Efisiensi • Efektivitas
• Kesetaraan Gender • Tujuan lintas sektor
6. Membuat Intervensi terhadap
Kebijakan dan Anggaran
CONTOH KASUS:
• Perubahan sistemik • Peningkatan kapasitas
Strategi advokasi gender melalui pendekatan:
• Keadilan dan kesetaraan
• Kredibilitas dan akuntabilitas • Efisiensi dan kebertahanan • Kualitas hidup
• Reaksi berantai
7. Strategi Advokasi: Gender itu Penting
CONTOH KASUS:
• Argumentasi terhadap keadilan, kesetaraan, kredibilitas,
Monitoring dilaksanakan pada dua tingkatan:
• Kemajuan terhadap pencapaian tujuan substantif
• Proses pelaksanaan
8. Monitoring
CONTOH KASUS:
• Monitoring kegiatan dengan tujuan spesifik gender • Monitoring PUG dalam kepegawaian
Tiga tingkatan evaluasi meliputi:
• Output (apakah tujuan tercapai?)
• Outcome (sejauh mana tujuan pembangunan tercapai?) • Proses (bagaimana output dan outcome dicapai?)
9. Evaluasi: Bagaimana Melakukannya?
CONTOH KASUS:
Penting untuk menjembatani gender ke berbagai pihak berikut ini:
• Pembuat dan penentu kebijakan
• Berbagai kelompok di masyarakat (laki-laki, perempuan,
aktivis, akademisi, dll)
• Negara dono dan mitra pembangunan
10. Men-gender-kan Komunikasi
CONTOH KASUS:
Struktur
Struktur sangat sederhana:
1. Bagaimana menggunakan buku
(How to)
2. Pengenalan informasi, definisi
dan konsep yang kuat, gagasan
penyerta, dan sumber yang
bernanekaragam
3. Contoh-contoh terkait
4. Pembahasan terhadap
contoh-contoh yang ada
26
Kriteria Umum
(1/2)Aspek Hukum
– Copyright (tidak ada plagiarism)
– Kebenaran dan ketepatan landasan hukum,
nomor, tahun dan isi
– Kebenaran dan ketepatan Nama orang, merk,
istilah baku,
– ... (Hal lain bila ada)
Format dan Kesiapan naskah cetak
– Kelengkapan seluruh bagian: cover, pengantar,
daftar isi, bagian 1 dan rinciannya, bagian 2 dst
Bahasa
– Ramah (
readers friendly
) – Ejaan– Tata bahasa – Tanda Baca
– Ketepatan makna, pengertian dan istilah – Konsisten
– Sesuai dengan target sasaran
28
Perencanaan
• Penulisan awal:
Gagasan Apa? Penggalian gagasan & Sumbang saran & pengelompokkan
gagasan.
Tulis pada kertas.
• Pengelolaan gagasan:
Bagaimana urutan gagasan?
– Ruang: atas > bawah, Kanan > kiri,
– Kronologis: dalam garis waktu?
– Essensial: Paling penting > hal biasa?
Paling kuat > biasa?
Moral •Merawat tanaman •Menyayangi tanaman •Menjaga kelestarian Hijau Batang Makanan punya biasanya mendukung Daun Biji Mahkota Bunga menyimpan memproduksi Mungkin punya menghasilkan Contoh Akar Tanaman
30
Siap Menulis!
• Draft pertama: karena masih penulisan awal, jangan harap langsung sempurna…
• Revisi: Lihat kesalahan sendiri dulu, lalu coba perbaiki!
• Macet? Tanyakan orang lain bagaimana sarannya?
• Bagaimana usulnya untuk
membuat lebih baik?
“Menulis terus pegal juga”
Terus menulis…!
• Draft Final : ketika semua selesai • Proofread!
INGATLAH!!!
•Rencanakan waktu untuk perbaikan •Uji coba
•Lakukan perbaikan sendiri
•Seminar