1
MODEL PEMBELAJARAN TAKE AND GIVE BERBASIS
KEBUDAYAAN LOKAL TERHADAP HASIL
BELAJAR PKN KELAS V SD
Ni Kadek Ayu Rita Agustina
1, I Kadek Suartama
2, I Gusti Ngurah Japa
3 1 3Jurusan PGSD,
2Jurusan TP, FIP
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja Indonesia
e-mail: [email protected]
1, [email protected],id
2,
[email protected]
3Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran
Take and Give berbasis kebudayaan lokal dan kelompok siswa yang dibelajarkan tidak menggunakan
model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal pada siswa kelas V semester genap tahun pelajaran 2016/2017 di gugus IX Kecamatan Karangasem. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain penelitian post test only control grup design. Dalam penelitian ini sampel diambil dari populasi yang terdiri dari dua kelompok kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol yang ditentukan dengan teknik prohability sampling yaitu sampling cluster. Jumlah siswa yang menjadi sampel sebanyak 48 orang. Data yang digunakan sebagai bahan penelitian adalah hasil belajar PKn siswa kelas V. Data tersebut dikumpulkan dengan metode tes. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik deskriptif dan statistik inferensial dengan uji-t (polled varians). Berdasarkan hasil analisis diketahui thitung lebih besar dari ttabel (thitung > ttabel), sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal memiliki pengaruh signifikan terhadap hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas V semester genap tahun pelajaran 2016/2017 di gugus IX Kecamatan Karangasem. Kata kunci : Take and give, kebudayaan lokal, hasil belajar PKn
Abstract
This research intend to knowing a significant difference in learning outcomes of Citizenship Education between groups of students who are taught using Take and Give models based on local culture and groups of students who are taught not to use the Take and Give model based on local culture in fifth grade students in the academic year 2016/2017 In cluster IX Karangasem. This research is an experimental research with post test only control group design. In this research the sample was taken from the population consisting of two class groups namely experimental class and control class determined by prohability sampling technique that is cluster sampling. The number of students who become sample as many as 48 people. The data used as research material is the result of learning Civics students class V. The data was collected by test methods. The data were analyzed by descriptive statistics and inferential statistics with the t-test (polled variance). Based on the analysis result is known t count is greater than t table (t hitung> t table), so H0 is rejected and H1 accepted. Thus, it can be concluded that the Take and Give learning model based on local culture has a significant influence on the learning outcomes of Citizenship Education on fifth grade students the academic year 2016/2017 in cluster IX districtsKarangasem.
2
PENDAHULUAN
Pendidikan tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia. Pendidikan memiliki peran penting dalam pembangunan sebuah bangsa. Dalam pelaksanaannya pendidikan mengalami perubahan yang disebabkan oleh kemajuan peradaban manusia yang disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan. “Secara etimologi, istilah paedagogie berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata ‘PAIS’, artinya anak, dan ‘AGAIN’diterjemahkan membimbing, jadi paedagogie merupakan bimbingan yang diberikan kepada anak” (Ahmadi dan Uhbiyati,2001:69).
Seperti pelaksanaannya, pengertian pendidikan selalu mengalami perkembangan.Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau pedagogie berarti bimbingan atau penggolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar peserta didik menjadi pribadi yang dewasa. Dewasa disini adalah dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri secara biologis, psikologis, paedagogis dan sosiologis. Pendidikan merupakan suatu proses pembimbingan dari seorang pendidik kepada peserta didiknya baik secara intelektual, emosional, dan sosial agar menjadi pribadi yang utuh dan dapat menjalankan tugas dan kewajibannya dalam berbangsa dan bernegara. Pendidikan didefinisikan sebagai usaha seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Pendidikan juga dapat diartikan sebagai usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak yang mendukung pendewasaan anak itu, atau lebih tepat membantu anak agar cukup mampu untuk melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Hal ini sejalan dengan pengertian pendidikan menurut UU Nomor 2 Tahun 1989 yang menyatakan ,“Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.”
Didalam dunia pendidikan guru mempunyai peran penting untuk melaksanakan proses belajar mengajar
sebagai pendidik. Hal ini juga didukung oleh Pasal 1 ayat (6) UU No.20/2003 menyatakan, “Guru termasuk ke dalam kategori pendidik.” Pekerjaan mendidik mencakup banyak hal yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan perkembangan manusia salah satunya adalah aspek kebudayaan. Manusia sebagai makhluk budaya mempunyai kewajiban untuk menyampaikan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus. Peran pendidkan dalam mengembangkan kebudayaan adalah sangat besar. Sebab pendidikan adalah tempat manusia-manusia dibina, ditumbuhkan, dan dikembangkan potensi-potensinya. Semakin potensi seseorang dikembangkan maka semakin mampu ia menciptakan atau mengembangkan kebudayaan, sebab kebudayaan dikembangkan oleh manusia. Kewajiban untuk menyampaikan kebudayaan kepada penerus bangsa ini juga harus diemban oleh seorang guru sebagai pendidik. Hal yang dapat dilakukan guru adalah menyisipkan materi atau melaksanakan pembelajaran yang bernuansa kebudayaan khususnya kebudayaan lokal. Dalam melakukan kewajibannya sebagai pendidik, seorang guru dituntut agar mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan guru harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi yang tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan siswa secara optimal. Pembelajaran yang dirancang dengan baik dan dilakukan dengan menyenangkan akan meningkatkan pemahaman siswa mengenai materi yang disampaikan sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. Terdapat berbagai mata pelajaran yang harus disampaikan sebagai bekal peserta didik agar siap menjadi masyarakat berbangsa dan bernegara, salah satunya Pendidikan Kewarganegaraan.
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memiliki fungsi dan peran yang sangat strategis dalam usaha pembentukan warga negara yang baik dan handal sesuai dengan
3 tujuan pembangunan nasional. Dilihat dari visinya Pendidikan Kewarganegaraan adalah mewujudkan proses pendidikan yang integral disekolah untuk mengembangkan kemampuan dan kepribadian warga negara yang cerdas, partisipatif, dan bertanggungjawab dalam rangka mewujudkan masyarakat yang demokratis. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di sekolah dasar dimaksudkan sebagai suatu proses belajar mengajar dalam rangka membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam pembentukan karakter bangsa yang diharapkan mengarah pada penciptaan suatu masyarakat yang menempatkan demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan Pancasila, UUD, dan norma-norma yang berlaku di masyarakat yang diselenggarakan selama enam tahun.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada guru kelas V di SD Gugus IX Kecamatan Karangasem Tahun
Pelajaran 2016/2017, siswa kurang tertarik dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Hal ini dikarenakan dalam proses pembelajaran guru cenderung hanya menggunakan metode ceramah sehingga siswa menjadi mudah bosan. Dengan hanya menggunakan metode ceramah, pembelajaran menjadi terpusat pada guru sebagai sumber belajar. Selain itu kebanyakan materi Pendidikan Kewarganegaraan merupakan teori atau wacana yang dianggap rumit oleh siswa. Proses pembelajaran yang kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dan materi pelajaran yang dianggap rumit juga menyebabkan hasil belajar siswa menjadi tidak maksimal. Berdasarkan hasil nilai ulangan akhir semester pada mata pelajaran Pendidikan Kewarga negaraan yang diberikan oleh tiap-tiap guru, maka didapatkan rata-rata nilai KKM mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang dimiliki setiap SD di gugus IX Kecamatan Karangasem seperti yang terdapat dalam Tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Kelas V di Gugus IX Kecamatan Karangasem
No. Nama Sekolah KKM Rata-rata
1 SD N 2 Subagan 72 77,07
2 SD N 3 Subagan 75 77,96
3 SD N 4 Subagan 75 77,45
4 SD N 8 Subagan 65 72,36
5 SD N 9 Subagan 75 77,14
(Sumber: Dokumen Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan)
Dari data diatas dapat dilihat rata-rata nilai ujian akhir semester mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas V SD Gugus IX Kecamatan Karangasem memenuhi KKM namun belum maksimal. Selain itu jika dilihat dari perolehan nilai perorangannya, masih banyak siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM. Hal ini dikarenakan cara guru menyampaikan materi masih dengan cara yang berpusat pada guru.
Pembelajaran masih terpusat pada penjelasan guru sehingga membuat siswa menjadi pasif. Dalam penyampaian materi guru hanya menjelaskan materi yang terdapat didalam buku tanpa menyertakan contoh yang berkaitan atau dekat dengan dunia nyata. Siswa yang hanya belajar melalui penjelasan guru cenderung hanya menyimak dan menghapal tanpa benar-benar mengerti materi yang disampakan dan tidak dapat
4 menghubungkannya dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Guru perlu menggunakan model yang dapat mengkondisikan siswa untuk ikut aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan mengaitkannya ke kehidupan yang dekat dengan dunia nyata anak. Ada bermacam-macam model pembelajaran inovatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran Take and Give. Model pembelajaran take and give pada dasarnya mengacu pada konstruktivisme, yaitu pembelajaran yang dapat membuat siswa itu sendiri aktif dan membangun pengetahuan yang akan menjadi miliknya. Pembelajaran take and give merupakan proses pembelajaran yang berusaha mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Peran guru dalam proses pembelajaran Take and Give lebih mengarah sebagai mediator dan fasilitator. Model pembelajaran menerima dan memberi (Take and Give) merupakan metode pembelajaran yang memiliki sintaks, menuntut peserta didik untuk mampu memahami materi pelajaran yang diberikan guru dan teman sebayanya (peserta didik lain).
Model pembelajaran Take and Give diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar karena memiliki kelebihan dalam kegiatan proses belajarnya. Shoimin (2009:197) menuliskan bahwa model pembelajaran Take and Give memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut.(1) Peserta didik akan lebih cepat memahami penguasaan materi dan informasi karena mendapatkan informasi dari guru dan peserta didk yang lain; (2) Dapat menghemat waktu dalam pemahaman dan penguasaan peserta didik akan materi; (3) Meningkatkan kemampuan untuk bekerja sama dan bersosialisasi; (4) Melatih kepekaan diri, empati melalui variasi perbedaan sikap-tingkah laku selama bekerja sama; (5) Mengurangi rasa kecemasan dan menumbuhkan rasa percaya diri; (6) Meningkatkan motivasi belajar (partisispasi dan minat), harga diri dan sikap-tingkah laku yang positif serta meningkatkan prestasi belajarnya.
Materi yang diberikan dapat dihubungkan dengan kebudayaan lokal yang ada di daerah setempat. Dengan memberikan materi yang dekat dengan dunia anak, peserta didik akan mampu menghubungkan pengetahuan yang didapat dengan kehidupannya sehari-hari.Dari pernyataan tersebut pengaruh kebudayaan dan pendidikan berbanding lurus. Pendapat ini senada dengan Pidarta (2007:3) yang menuliskan bahwa, “Pendidikan dan budaya ada bersama dan saling memajukan. Makin banyak orang menerima pendidikan makin berbudaya orang itu. Dan makin tinggi kebudayaan makin tinggi pula pendidikan atau cara mendidiknya.” Hal ini juga sesuai dengan makna pendidikan yang bertujuan untuk meneruskan nilai-nilai kebudayaan kepada generasi penerus yang juga menjadi tujuan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yaitu, “menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara, sikap serta prilaku yang cinta tanah air dan bersendikan kebudayaan”(Sutoyo,2011:6). Berdasarkan temuan dan permasalahan yang dihadapi, perlu dilakukan penelitian tentang “Pengaruh Model Pembelajaran Take and Give Berbasis Kebudayaan Lokal terhadap Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Kelas V Semester Genap Tahun Pelajaran 2016/2017 di Gugus IX Kecamatan Karangasem”.
METODE
Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah sekolah dasar di Gugus IX Kecamatan Karangasem pada rentang waktu semester II (genap) tahun pelajaran 2016/2017. Dalam penelitian ini sampel diambil dari populasi yang terdiri dari dua kelompok kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol yang ditentukan dengan teknik prohability sampling yaitu sampling cluster. Jumlah siswa yang menjadi sampel sebanyak 48 orang yang terdiri dari 26 siswa kelas eksperimen dan 22 orang di kelas kontrol. Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian post test only control grup design..Pada kelas eksperimen diberikan perlakuan model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal. Sedangkan pada kelas
5 kontrol siswa tidak dibelajarkan dengan model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal. Desain rancangan ini disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Desain Penelitian
Group Treatment Posstest
Eksperimen X O1
Kontrol - O2
(Sugiyono,2009) Data yang dikumpulkan dalam penelitian
ini dilakukan dengan metode tes. Analisis data hasil belajar pada ranah kognitif dikerjakan dengan bantuan program Microsoft Office Excel 2010. Untuk analisis uji prayarat meliputi uji normalitas dengan uji Chi Kuadrat, uji homogenitas varians menggunakan uji F, serta uji hipotesis menggunakan uji-t dengan rumus polled varians.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah hasil belajar
Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas V. Data yang telah dikumpulkan kemudian akan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Dari hasil analisis deskriptif diperoleh mean, median, modus, standar deviasi, dan varian dari kelas ekperimen dan kelas kontrol. Hasil analisis deskriptif hasil belajar PKn siswa kelas ekperimen dan kelas kontrol disajikan secara lengkap pada Tabel 3
Tabel 3. Deskripsi hasil belajar PKn siswa kelas ekperimen dan kelas kontrol Kelas Mean Median Modus Standar
deviasi
Varians Eksperimen 25,12 25,17 25,30 2,10 4,43 Kontrol 18,18 17,20 16,58 2,91 8,44 Dari tabel tersebuat dapat dilihat
pada kelas eksperimen modus lebih besar dari median dan median lebih besar dari mean (Mo>Md>M). Hubungan antara mean (M), median (Md), dan modus (Mo) menunjukkan kurva di atas adalah kurva juling negatif sehingga dapat dinyatakan bahwa sebagian besar skor cenderung
tinggi. Data hasil belajar kelompok eksperimen disajikan ke dalam bentuk kurva poligon, seperti pada Gambar 1 berikut ini.
Gambar 1. Kurva poligon hasil belajar PKn kelas eksperimen
6 Sedangkan pada kelas kontrol modus lebih kecil dari median dan median lebih kecil dari mean (Mo<Md<M). Hubungan antara mean (M), median (Md), dan modus (Mo) menunjukkan kurva di atas adalah kurva juling positif sehingga dapat dinyatakan bahwa sebagian besar skor cenderung rendah. Data hasil belajar kelompok kontrol disajikan ke dalam bentuk kurva poligon, seperti pada Gambar 2 berikut ini.
Gambar 2. Kurva poligon hasil belajar PKn kelas kontrol
Selanjutnya data hasil belajar PKn di analisis melalui uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas. Uji normalitas dilakukan dengan Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Chi-kuadrat(
2) dengan kriteria data berdistribusi normal jika
2 hitung <
2 tabel. Pengujian hipotesisnya yaitu H0: sampel berasal dari data yang berdistribusi normal dan H1: sampel berasal dari data yang tidak berdistribusi normal. Teknik analisis dilakukan dengan menggunakan program Microsoft Office Excel 2010 for Windows. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, dapat disajikan hasil uji normalitas sebaran data hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelompok eksperimen dan kontrol pada Tabel 4 di bawah ini.Tabel 4. Rangkuman Hasil Uji Normalitas
No Kelompok Data
χ
2 Nilai Kritis dengan TarafSignifikansi 5% Status
1 Post-test Eksperimen 2,0298 7,815 Normal
2 Post-test Kontrol 6,3516 7,815 Normal
Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus chi-kuadrat, diperoleh
2hit hasil post-test kelompokeksperimen adalah 2,0298dan
2tab padataraf signifikansi 5% dan dk = 3 adalah 7,815. Hal ini berarti,
2hit hasil belajarPendidikan Kewarganegaraan kelompok eksperimen lebih kecil dari
2tab (tab hit 2
2
), sehingga data skor hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelompok eksperimen berdistribusi normal.Pada kelompok kontrol,
2hit hasilbelajar Pendidikan Kewarganegaraan kelompok kontrol adalah 6,3516 dan
tab
2
dengan taraf signifikansi 5% dan dk = 3 adalah 7,815. Hal ini berarti,
2hit hasilbelajar Pendidikan Kewarganegaraan kelompok kontrol lebih kecil dari
2tab (tab hit 2
2
), sehingga data hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelompok kontrol berdistribusi normal.Dalam penelitian ini, uji homogenitas dilakukan terhadap varians pasangan antar kelompok eksperimen dan kontrol. Uji yang digunakan adalah uji-F dengan kriteria data homogen jika Fhitung <
Ftabel. Rekapitulasi hasil uji homogenitas
varians antar kelompok eksperimen dan kontrol disajikan pada Tabel 5 di bawah ini.
7
Tabel 5. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Varians antar Kelompok Eksperimen dan kontrol
Sumber Data Fhit
Ftab dengan Taraf
Signifikansi 5% Status Post-test Kelompok
Eksperimen dan Kontrol 1,91 2,01 Homogen
Berdasarkan tabel di atas, diketahui Fhit hasil belajar kelompok
eksperimen dan kontrol adalah 1,91, sedangkan Ftab pada dbpembilang = 21,
dbpenyebut = 25, dan taraf signifikansi 5%
adalah 2,01.Hal ini berarti, varians data hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kelompok eksperimen dan kontrol adalah homogen.
Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal terhadap hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan siswa, dilakukan pengujian terhadap hipotesis H0
dan H1. Berdasarkan pengujian asumsi,
diperoleh bahwa data hasil belajar siswa kelompok eksperimen dan kontrol adalah normal dan homogen. Setelah diperoleh hasil pengujian asumsi, analisis dilanjutkan dengan pengujian hipotesis
penelitian (H1) dan hipotesis nol (H0).
Pengujian hipotesis tersebut dilakukan menggunakan uji-t sampel independent (tidak berkorelasi) dengan rumus polled varians berikut.
2 1 2 1 2 2 2 2 1 1 2 1 1 1 2 1 1 n n n n s n s n x x tKriteria pengujian adalah tolak H0
jika thitung > ttabel, dimana ttabel diperoleh
dari tabel distribusi t pada taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan db = n1 + n2 – 2. Rangkuman hasil analisis uji-t ditampilkan pada Tabel 6 berikut.
Tabel 6. Rangkuman Hasil Uji-t
Kelompok N Db Mean (
x
) s2 t hitung t tabelEksperimen 26
46
25,12 4,43
9,5747 2,000
Kontrol 22 18,18 8,44
Berdasarkan tabel rangkuman analisis di atas, dapat diketahui thitung =
9,5747 dan ttabel = 2,000 untuk db = 46
pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan kriteria pengujian, karena thitung > ttabel
maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya,
terdapat perbedaan signifikan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan antara kelompok siswa yang belajar melalui model pembelajaran take and give berbasis kebudayaan lokal dan kelompok siswa yang tidak belajar melalui pembelajaran take and give berbasis kebudayaan lokal pada siswa kelas V SD di Gugus IX Kecamatan Karangasem tahun pelajaran 2016/2017.
Hasil analisis data hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal dan kelompok siswa yang tidak dibelajarkan dengan model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal. Tinjauan ini didasarkan pada rata-rata skor hasil belajar siswa dan hasil uji-t. Pada kelas eksperimen diterapkan model pembelajran Take and Give berbasis kebudayaan. Model pembelajaran Take and Give pada
8 dasarnya mengacu pada konstruktivisme, yaitu pembelajaran yang dapat membuat siswa itu sendiri aktif dan membangun pengetahuan yang akan menjadi miliknya. Model pembelajaran menerima dan memberi (Take and Give) merupakan model pembelajaran yang memiliki sintaks, menuntut peserta didik untuk mampu memahami materi pelajaran yang diberikan guru dan teman sebayanya (peserta didik lain). Peran guru di kelas eksperimen hanya sebagai mediator dan fasilitator.
Pada kegiatan pembelajarannya siswa di kelas eksperimen diarahkan untuk mempelajari submateri yang telah
dibagikan dan menambah
pengetahuannya dengan kegiatan menerima dan memberi informasi mengenai submateri lain dengan teman sekelasnya. Selain pengetahuan yang di dapat dari guru, siswa juga mendapat pengetahuan baru dari kegiatan Take and Give dari teman sekelasnya. Pada saat melaksanakan kegiatan Take and Give siswa juga meningkatkan keterampilannya dalam bersosilalisasi dan berkomunikasi dengan teman sekelasnya. Kemampuan siswa bersosialisasi dan bekerjasama dengan temannya untuk menambah pengetahuan pada kelas eksperimen juga menunjukkan peningkatan yang berpengaruh pada hasil belajar siswa.
Penelitian lain yang dilakukan Udayanti (2017) juga menyatakan bahwa siswa akan lebih aktif dan mampu membangun pengetahuan yang akan menjadi miliknya. Selain itu, siswa akan lebih cepat memahami penguasaan materi dan informasi karena mendapatkan informasi dari guru dan temannya. Hal ini membuat siswa belajar bermakna sehingga berdampak terhadap perolehan hasil belajar siswa.
Selain menggunakan model pembelajaran Take and Give, dalam penelitian ini kelas eksperimen juga diterapkan pembelajaran berbasis kebudayaan lokal pada proses pembelajarannya. Diterapkannya pembelajaran berbasis kebudayaan lokal dapat dilihat dari proses pembelajaran
serta pemberian materi. Materi yang diberikan dapat dihubungkan dengan kebudayaan lokal yang ada di daerah setempat. Dengan memberikan materi yang dekat dengan dunia anak, peserta didik akan mampu menghubungkan pengetahuan yang didapat dengan kehidupannya sehari-hari. Dari pernyataan dapat diketahui bahwa pengaruh kebudayaan dan pendidikan berbanding lurus. Pendapat ini senada dengan Pidarta (2007:3) yang menuliskan bahwa, “Pendidikan dan budaya ada bersama dan saling memajukan. Makin banyak orang menerima pendidikan makin berbudaya orang itu. Dan makin tinggi kebudayaan makin tinggi pula pendidikan atau cara mendidiknya.” Hal ini juga sesuai dengan makna pendidikan yang bertujuan untuk meneruskan nilai-nilai kebudayaan kepada generasi penerus yang juga menjadi tujuan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yaitu, “menumbuhkan wawasan dan kesadaran bernegara, sikap serta prilaku yang cinta tanah air dan
bersendikan kebudayaan”
”(Sutoyo,2011:6).
Sedangkan, pada kelas kontrol guru cenderung berperan sebagai sumber pengetahuan dimana siswa hanya menyimak penjelasan dari guru kemudian menyelesaikan tugas berupa beberapa soal. Hal ini menyebabkan siswa menjadi pasif dan mudah bosan. Kurangnya aktifitas siswa dalam proses pembelajaran mempengaruhi hasil belajar siswa menjadi kurang maksimal dibanding kelas eksperimen. Pendapat serupa mengenai pentingnya aktivitas belajar siswa juga dinyatakan dalam penelitian yang dilakukan oleh Pariawan (2013) yang menuliskan dalam pembelajaran konvensional siswa cendering pasif karena tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau bertanya, merefleksi materi-materi yang dipresentasikan, menghubungkannya dengan pengetahuan sebelumnya, atau mengaplikasikannya kepada situasi kehidupan nyata. Dengan demikian, apa yang dipelajari oleh siswa tidak lama dapat diingat oleh siswa.Berdasarkan perbedaan signifikan yang ditemukan, maka dapat dinyatakan model
9 pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil siswa. Selain itu dari pengamatan selama proses pembelajaran dapat dilihat perubahan siswa dari sisi keterlibatan siswa di kelas. Selama proses pembelajaran setelah diterapkan model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal siswa terlihat lebih antusias mempelajari materi yang diberikan. Dalam kegiatan belajarnya model pembelajaran Take and Give mengkodisikan siswa untuk menguasai submateri yang dibahas. Kemudian dilanjutkan dengan saling menerima dan memberi dengan teman sekelasnya. Dari kegiatan ini selain memperdalam pengetahuan siswa mengenai materi, siswa juga meningkatkan kemampuannya dalam bersosialisasi dan berkomunikasi dengan siswa lainnya.
Berdasarkan langkah-langkah pembelajarannya, model pembelajaran Take and Give ini dapat di terapkan pada berbagai mata pelajaran. Hal ini dikarenakan pada dasarnya model pembelajaran Take and Give membuat siswa mendalami submateri kemudian mengumpulkan informasi lain dari teman yang mempelajari submateri yang berbeda. Pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang sebagian besar berupa teori sehingga dianggap membosankan untuk siswa. Pembelajaran dengan model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan yang melibatkan siswa dalam proses pembelajarannya. Dengan terlibatnya siswa dalam proses pembelajaran maka pembelajaran akan lebih menyenangkan sehingga mempermudah siswa memahami materi dan meningkatkan hasil belajarnya.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal terhadap hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada siswa kelas V SD di Gugus IX Kecamatan Karangasem
tahun pelajaran 2016/2017. Dengan demikian model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal berpengaruh untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan, maka dapatdiajukan beberapa saran sebagai berikut. 1) Bagi siswa, dengan diterapkannya model pembelajaran Take and Give berbasis kebudayaan lokal dalam penelitian ini, siswa dapat berperan aktif menemukan pengetahuan baru sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan. 2) Bagi guru, dengan diadakan penelitian ini, guru dapat lebih menambah wawasan atau pengetahuan tentang pembelajaran inovatif, dan mampu mengembangkan inovasi pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran yang disertai dengan pendekatan yang relevan untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa. 3) Bagi sekolah, dengan hasil penelitian ini, diharapkan sekolah dapat memfasilitasi dan mendorong para guru untuk mencoba menerapkan model-model pembelajaran baru yang untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah. 4) Bagi peneliti lain, penelitian ini hanya terbatas pada pokok bahasan menghargai keputusan bersama pada mata pelajaran PKn kelas V. Diharapkan peneliti selanjutnya melakukan penelitian dengan mata pelajaran dan pokok bahasan yang lebih beragam untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,Abu H. dan Uhbiyati,Nur. 2001. Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Koyan, I Wayan.2012.Statistik Pendidikan. Singaraja: Press
Pariawan, Pt. Edy. 2013. Pengaruh Model
Pembelajaran Take and Give
Berbasis
Resolusi
Konflik
Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa
Kelas V SD N 26 Pemecutan.
10 Pidarta.Made. 2007. Landasan
Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Shoimin,Aris.2014.68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: AR-Ruzz Media.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kuatitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta
Sutoyo.2011.Pendidikan
Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Graha Ilmu.