Uji Alir (Flow Test) Mortar (ASTM
C1437-01)
Adukan mortar dimasukkan ke dalam cone dan diletakkan di atas flow table. Permukaan adukan diratakan kemudian cetakan diangkat dan alat diputar sebanyak 15 kali. Diameter
dalam (d1) dan luar (d2) mortar yang terjadi
diukur. Nilai alir = 2 2 1 d d +
Kuat Lentur Mortar (ASTM C-348)
Sampel mortar ditimbang bobotnya dan diuji kuat lenturnya dengan alat Mihaeler. Uji kuat lentur dilakukan saat mortar berumur 3 hari, 7 hari, dan 28 hari.
Kuat Tekan Mortar
Sampel mortar hasil pengujian kuat lentur diuji kuat tekannya dengan menggunakan alat Shimadzu Compressive Strength.
Analisis Permukaan Mortar dengan SEM
Sampel mortar diusahakan dalam keadaan kering dan bebas uap air. Selanjutnya sampel ditempelkan pada sel holder dengan perekat ganda, lalu dilapisi dengan logam emas dalam
keadaan vakum. Setelah itu, sampel
dimasukkan pada tempatnya di dalam SEM. Gambar topografi diamati dan dilakukan perbesaran sampai 1000 kali.
Analisis Statistik
Analisis statistik yang digunakan pada penelitian adalah rancangan acak lengkap satu faktorial berdasarkan waktu, yaitu umur mortar 3, 7, dan 28 hari. Respon diamati pada tujuh taraf yaitu kontrol, SHF-LAS 0.1%, SHF-LAS 0.2%, SHF-LAS 0.3%, SNF 0.1%, SNF 0.2%, SNF 0.5% dengan dua kali
ulangan. Model rancangan percobaan
penelitian adalah sebagai berikut:
Yijk = µ + αi + βj + αβij + εijk Keterangan:
Yijk = kekuatan dan fluiditas mortar pada
perlakuan mortar i, umur mortar
ke-j, dan ulangan ke-k
µ = nilai tengah umum
αi = pengaruh perlakuan mortar ke-i
βj = pengaruh umur mortar ke-j
αβij = pengaruh interaksi antara perlakuan
mortar ke-i dan umur mortar ke-j
εijk = galat dari perlakuan mortar ke-i dan
umur mortar ke-j, dan ulangan ke-
k
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sifat Fisik Pasir
Uji sifat fisik pasir tidak menunjukkan kualitas dari pasir tersebut, tetapi akan berfungsi untuk menentukan komposisi yang tepat saat proses pembuatan mortar agar diperoleh kualitas mortar yang baik. Uji sifat fisik yang dilakukan meliputi penentuan kadar air, bobot jenis, absorpsi, dan analisis ayak pasir. Hasil dari uji sifat fisik pasir disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Sifat fisik Pasir Cimangkok
Parameter Nilai Nilai Pustaka
Kadar air (%) 7.73 - Bobot jenis (g/ml) 2.22 1.6 – 1.8 Absorpsi (%) 8,61 - Modulus kehalusan 3,21 2.3 – 3.1 Sumber: ASTM
C0033-03
Kadar air pasir pada penelitian ini
memiliki rata-rata sebesar 7.73% (lampiran 4). Nilai ini terkait dengan kondisi lingkungan kota Bogor yang memiliki kelembaban relatif tinggi, sehingga menyebabkan kadar air yang terkandung dalam pasir tinggi.
Bobot jenis pasir yang digunakan pada
penelitian ini memiliki bobot jenis sebesar 2.22 g/ml (lampiran 5). Nilai ini sedikit lebih besar dari bobot jenis pasir umum yang berada pada kisaran 1.6 g/ml sampai dengan 1.8 g/ml. Bobot jenis pasir yang besar akan ikut memberikan peningkatan pada kekuatan mortar.
Absorpsi pasir yang dihasilkan pada
penelitian ini sebesar 8.61% (lampiran 6). Nilai ini terkait dengan kondisi lingkungan kota Bogor yang memiliki kelembaban relatif tinggi, sehingga menyebabkan absorpsi yang terkandung dalam pasir tinggi. Semakin tinggi absorpsi pasir akan semakin baik, karena waktu penyerapan yang dibutuhkan pasir ketika ditambahkan semen dan air akan semakin cepat.
Analisis ayak pasir bertujuan adalah
mengetahui distribusi ukuran partikel pasir yang akan digunakan. Menurut Kato (1991), gradasi dari pasir sangat berpengaruh terhadap workabilitas mortar, oleh karena itu distribusi ukuran partikel pasir harus masuk dalam kisaran yang telah ditentukan dan hasilnya diberikan sebagai nilai modulus kehalusan. Modulus kehalusan Pasir Cimangkok pada penelitian ini adalah 3.21 (lampiran 7). Nilai
ini berada diluar nilai yang diperbolehkan oleh ASTM, yaitu 2.3 – 3.1. Selain itu, dari grafik distribusi partikel terlihat adanya nilai yang tidak masuk kisaran yang diperbolehkan oleh ASTM, yaitu pada ukuran ayakan 2.36 mm dan 4.75 mm (Gambar 7). 0 20 40 60 80 100 0 2 4 6 8 10 Ukuran ayakan (m m ) P a s ir l o lo s a y a k a n ( % )
Gradasi pasir Cimangkok Batas atas ASTM Batas baw ah ASTM Gambar 7 Grafik distribusi ukuran partikel
Pasir Cimangkok.
Hasil analisis ayak tersebut menunjukkan bahwa Pasir Cimangkok yang digunakan pada penelitian tidak memiliki distribusi partikel yang baik. Distribusi partikel pasir yang tidak baik akan mengganggu kekuatan, daya tahan, stabilitas, daya kerja, dan sifat-sifat penting lainnya. Cara mengatasi hal ini yaitu sebelum dicampur dengan pasta semen, pasir terlebih dahulu ditimbang dengan bobot tertentu pada masing-masing ukuran ayakan sedemikian sehinggga memiliki distribusi partikel yang masuk dalam kisaran ASTM (Lampiran 8). Hasil penyesuaian distribusi Pasir Cimangkok diperlihatkan pada Gambar 8.
0 20 40 60 80 100 0 2 4 6 8 10 Ukuran ayakan (m m ) P a s ir l o lo s a y a k a n ( % )
Gradasi pasir Cimangkok Batas atas ASTM Batas baw ah ASTM Gambar 8 Penyesuaian distribusi ukuran
partikel Pasir Cimangkok.
Sifat Fisik Semen
Semen memiliki sifat fisik yang harus diuji karena akan berpengaruh terhadap proses hidrasi dan kekuatan akhir mortar. Uji yang dilakukan meliputi penentuan bobot jenis, waktu pengikatan semen, serta uji kekekalan semen. Hasil uji sifat fisik semen disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Sifat fisik Semen Tiga Roda
Parameter Pengamatan Pustaka
Bobot jenis (g/ml) 2.86 3.15 Waktu ikat semen: Awal (menit) Akhir (menit) 187 534 min. 45 maks. 600 Kekekalan semen Terjadi pengerutan Tidak ada perubahan
Sumber:
ASTM C0150-04AE01
Bobot jenis semen hasil pengukuran
adalah sebesar 2.86 g/ml (lampiran 9). Nilai ini berada di bawah nilai literatur. Hal ini terjadi mungkin disebabkan oleh masa penyimpanan semen yang terlalu lama atau tempat penyimpanan yang kurang terlindung dari suhu dan kelembaban lingkungan. Nilai bobot jenis semen juga diperlukan dalam perhitungan perencanaan konstruksi bangunan yang kokoh.
Waktu ikat semen akan menunjukkan
apakah reaksi hidrasi berjalan normal atau tidak, oleh karena itu semen yang baik sebaiknya memiliki waktu ikat awal yang tidak terlalu cepat dan waktu ikat akhir yang tidak terlalu lambat. Grafik penentuan waktu ikat Semen Tiga Roda ditunjukkan pada gambar 9. y = -1E-06x3 + 0,0016x2 - 0,6585x + 98,788 R2 = 0,9924 y = 14,024e-0,0013x R2 = 0,8647 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 35,00 40,00 45,00 0 100 200 300 400 500 600 waktu (menit) p e n e tr a s i (m m )
initial setting final setting rod Poly. (initial setting) Expon. (final setting)
Gambar 9 Penetrasi penentuan waktu ikat Semen Tiga Roda
Berdasarkan grafik penetrasi di atas, melalui intrapolasi dapat dicari pendugaan waktu ikat awal dan akhir yang terjadi. Waktu ikat awal yang terjadi adalah 187 menit, sedangkan waktu ikat akhir yang terjadi adalah 534 menit (lampiran 10). Waktu ikat awal dan akhir hasil pengujian tersebut berada pada rentang waktu yang diperbolehkan dalam literatur, sehingga dapat dikatakan semen yang digunakan pada penelitian ini cukup baik.
Reaksi kimia yang terjadi antara semen dan air merupakan reaksi yang terjadi antara
senyawa-senyawa kimia partikel semen dengan molekul air. Produk yang dihasilkan pada proses hidrasi semen adalah 3CaO.
2SiO2. 3H2O (CSH) sebanyak 60-70%,
CaOH2 sebanyak 20-25%, dan produk lainnya
sebesar 5-15% (Mollah et al.). Reaksi utama yang terlibat pada proses hidrasi semen adalah sebagai berikut:
2Ca3SiO5 + 6H2O → 3CaO. 2SiO2. 3H2O +
3Ca(OH)2...(1)
2Ca2SiO4 + 4H2O → 3CaO. 2SiO2. 3H2O +
Ca(OH)2....(2)
Senyawa CSH yang terbentuk merupakan komponen utama pemberi kekuatan pada pasta semen. Senyawa ini akan mengisi pori-pori antara partikel semen. Hal tersebut akan memberi kekuatan dan daya tahan yang baik.
Kekekalan semen dilihat dari keutuhan
semen setelah disimpan selama 24 jam pada tempat lembab yang dilanjutkan dengan perebusan selama 3 jam. Semen dinyatakan kekal jika tidak terjadi perubahan atau retakan-retakan pada permukaan semen. Hasil uji kekekalan semen pada penelitian ini menunjukkan bahwa permukaan semen tidak mengalami retakan, tetapi terlihat adanya pengerutan yang terjadi akibat penguapan (Gambar 10). Pengerutan dapat menyebabkan penurunan kekuatan mortar karena permukaan mortar menjadi tidak rata, sehingga beban yang ditumpu mortar tidak tersebar secara merata.
(a) (b)
Gambar 10 Hasil uji kekekalan semen: (a) Sebelum direbus dan (b) Setelah direbus.
Pemlastis pada Mortar
Pemlastis yang diberikan pada
pencampuran mortar dilakukan dengan tiga variasi konsentrasi untuk mengetahui kinerja
optimum masing-masing bahan aditif.
Menurut Mullick 1997, pemberian dosis yang
berlebihan akan memberikan pengaruh
merugikan, karena dapat memberi efek perlambatan pada saat hidrasi semen. Variasi konsentrasi yang diberikan adalah 0.1%, 0.2%, dan 0.3%. Berdasarkan pengukuran
kuat lentur terhadap mortar terlihat bahwa mortar yang diberi SHF-LAS dan mortar yang diberi SNF memiliki kinerja optimum pada konsentrasi 0,2% (Gambar 11). 40 44 48 52 0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 Um ur m ortar (hari) K u a t le n tu r (k g /c m 2 )
SHF-LAS 0.1% SHF-LAS 0.2% SHF-LAS 0.3%
(a) 40 44 48 52 0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 Um ur m ortar (hari) K u a t le n tu r (k g /c m 2 ) SNF 0.1% SNF 0.2% SNF 0.3% (b)
Gambar 11 Kuat lentur berbagai konsentrasi pada hari ke-3, 7, dan 28: (a) SHF-LAS dan (b) SNF.
Meningkatnya kekuatan mortar akibat
penambahan pemlastis terlihat dengan
dibandingkannya kuat lentur mortar yang diberi bahan aditif pada konsentrasi 0,2% dengan mortar yang tidak diberi bahan aditif (kontrol) dan mortar komersil, yaitu mortar utama. Peningkatan kuat lentur terjadi mulai dari kontrol, mortar yang diberi SHF-LAS sintesis, dan mortar yang diberi SNF secara berturut-turut, yaitu 39.17, 44.36, 44.83
kg/cm2 untuk hari ke-3; 43.76, 48.18, 49.43
kg/cm2 untuk hari ke-7; serta 46.59, 51.91,
52.44 kg/cm2 untuk hari ke-28 (lampiran 11).
Nilai tersebut menunjukkan bahwa SHF-LAS mampu meningkatkan kuat lentur mortar kontrol hingga 11.70% pada umur 3 hari, 10.10% pada umur 7 hari, dan 10.25% pada umur 28 hari, sedangkan SNF mampu meningkatkan kuat lentur mortar kontrol hingga 12.17% pada umur 3 hari, 11.79% pada umur 7 hari, dan 11.34% pada umur 28 hari. Sementara itu nilai kuat lentur mortar utama jauh lebih rendah dari nilai kuat lentur
lainnya, yaitu 6.35, 7.32, dan 10.09 kg/cm2.
hal ini dapat erjadi karena ukuran gradasi pasir yang digunakan oleh Mortar Utama
sangat kecil, yaitu 0.3 mm, sementara ukuran gradasi pasir yang digunakan pada mortar buatan berkisar antara 0.15 - 4.75 mm.
5 15 25 35 45 55 0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 Um ur m ortar (hari) K u a t le n tu r (k g /c m 2 ) Kontrol SHF-LAS SNF MU
Gambar 12 Kuat lentur kontrol, SHF-LAS, SNF, dan mortar utama.
Kekuatan mortar yang diberi pemlastis juga dianalisis melalui uji kuat tekan. Kuat tekan adalah muatan tekan maksimum yang dapat dipikul mortar persatuan luas pada posisi vertikal (axis). Hasil pengukuran kuat tekan dengan menggunakan mesin Shimadzu dan Mihaeler disajikan gambar 13.
0 50 100 150 200 250 300 0 10 20 30 40 50 60
umur mortar (hari)
k u a t te k a n ( k g /c m 2 )
kontrol SHF-LAS 0.1% SHF-LAS 0.2% SHF-LAS 0.3% SNF 0.1% SNF 0.2% SNF 0.3% MU kontrol SHF-LAS 0.1% SHF-LAS 0.2% SHF-LAS 0.3%
Shimadzu Mihaeler
MU
Gambar 13 Kuat tekan kontrol, SHF-LAS, dan mortar utama.
Gambar 13 menunjukkan bahwa semua semua spesimen mortar yang diukur kuat
tekannya dengan menggunakan mesin
Shimadzu maupun Mihaeler menunjukkan peningkatan kuat tekan dengan bertambahnya umur mortar, bahkan sampai hari terakhir pengukuran yaitu hari ke-55 (lampiran 12). Semua data pengukuran kuat tekan, baik
dengan menggunakan mesin Shimadzu
maupun Mihaeler menunjukkan SHF-LAS dan SNF memiliki kuat tekan maksimum pada konsentrasi 0.2% yang mampu meningkatkan kuat tekan kontrol sekitar 19% dan 25%.
Bahan aditif berupa pemlastis juga diuji kemempuan dispersinya dengan uji alir pada
mortar. Uji alir dilakukan dengan
memvariasikan faktor air semen untuk
mengetahui nilai alir yang dihasilkan. Hasil uji alir memperlihatkan bahwa pada faktor air semen 0.45, SHF-LAS memiliki nilai alir yang tetap dengan bertambahnya konsentrasi sampel sebesar 9.25 cm, sedangkan SNF mengalami peningkatan pada konsentrasi 0.2 dan 0.3% sebesar 9.5 dan 10.25 cm. Pada faktor air semen 0.55, nilai alir SHF-LAS dan SNF mengalami peningkatan pada konsentrasi 0.2 dan 0.3% sebesar 10 dan 11.5 cm untuk SHF-LAS dan 12 dan 13.5 cm untuk SNF. Sementara itu pada faktor air semen 0.65, nilai
alir terus meningkat seiring dengan
bertambahnya konsentrasi sampel dimana kontrol memiliki nilai 13.47cm, SHF-LAS dan SNF memiliki nilai 13.78 & 13.95 cm pada konsentrasi 0.1%, 14.34 &15.88 cm pada konsentrasi 0.2%, dan 15.74 & 17.08 cm pada konsentrasi 0.3% (lampiran 13). Nilai tersebut menunjukkan bahwa SHF-LAS dan SNF mampu meningkatkan daya alir mortar kontrol hingga 2.25 & 3.44% pada konsentrasi 0.1%, 6.07 & 15.18% pada konsentrasi 0.2%, dan 14.42 & 21.14% pada konsentrasi 0.3%. peningkatan nilai alir tersebut menandakan bahwa SHF-LAS mampu menaikkan dispersi antar partikel pada spesimen mortar. Grafik alir masing-masing mortar disajikan pada Gambar 14. 8 10 12 14 16 18 0 0,1 0,2 0,3 konsentrasi (%) n il a i fl o w ( c m )
fas (0.45) fas (0.55) fas (0.65)
(a) 8 10 12 14 16 18 0 0,1 0,2 0,3 konsentrasi (%) n il a i fl o w ( c m )
fas (0.45) fas (0.55) fas (0.65)
(b)
Gambar 14 Nilai alir: (a) SHF-LAS dan (b) SNF pada berbagai konsentrasi.
Analisis Permukaan Mortar dengan SEM
Pembuktian terjadinya dispersi pada
mortar dilakukan dengan mengamati
permukaan mortar menggunakan Scanning
Electron Microscope (SEM) pada perbesaran
1000 kali. Hasil foto SEM disajikan pada Gambar 15.
(a)
(b)
(c)
Gambar 15 Penampakan permukaan mortar: a) Kontrol, b) SHF-LAS, dan c) SNF
Ket: (i) = pori (ii) = pasir (iii) = semen
Gambar 15 memperlihatkan bahwa
permukaan kontrol memiliki banyak
kekosongan yang diakibatkan oleh gelembung yang mengering menjadi pori. Sementara itu permukaan mortar yang diberi SHF-LAS memperlihatkan pori yang terbentuk lebih sedikit dengan diameter lebih kecil dan mortar yang diberi SNF tidak tampak adanya pori yang terbentuk. Gelembung yang terbentuk merupakan flokulasi antara partikel semen yang memerangkap air. Lama-kelamaan gelembung akan hilang dan menjadi pori yang dapat mengganggu kekuatan mortar. Semakin
besar pori yang terjadi pada mortar
kekuatannya semakin berkurang. Berdasarkan pengamatan pada permukaan ketiga mortar tersebut terbukti bahwa SHF-LAS memiliki kemampuan dispersi yang cukup baik karena mampu mendeflokulasikan partikel-partikel semen.
Dispersibilitas berkaitan dengan gaya tolakan elektrostatik antara partikel yang teradsorpsi dengan molekul pemlastis. SHF-LAS merupakan lignin asam sulfat yang dimodifikasi sedemikian sehingga memiliki beberapa gugus hidrofilik berupa sulfonat yang bermuatan negatif. Ketika SHF-LAS teradsorpsi pada partikel semen, gugus sulfonat dari SHF-LAS yang berada pada bagian luar akan saling tolak-menolak. Gaya tolakan elektrostatik yang terjadi akan mendispersikan partikel semen sehingga akan terjadi deflokulasi.
Analisis Statistik
Hasil analisis statistik kuat lentur mortar dengan uji F menunjukkan bahwa setiap perlakuan, yaitu antara kontrol, mortar dengan penambahan SHF-LAS 0.1%, 0.2%, 0.3%, dan mortar dengan penambahan SNF 0.1%, 0.2%, 0.3% memberikan pengaruh yang berbada nyata terhadap respon pada taraf nyata 5%. Uji Duncan menunjukkan bahwa kontrol memberi pengaruh berbeda nyata terjadi antara dengan keenam perlakuan lainnya. Pemberian konsentrasi yang berbeda juga memberikan pengaruh yang berbeda nyata pada SNF, sedangkan pada SHF-LAS hanya konsentrasi 0.3% yang memberi pengaruh berbeda nyata.
Kuat lentur mortar yang dianalisis berdasarkan umurnya memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap respon pada taraf nyata 5% berdasarkan uji F. Perbedaan tersebut terbukti dengan uji Duncan yang menunjukkan bahwa semua umur mortar memberi pengaruh yang berbeda nyata.
iii
ii
i
iii
ii
i
Interaksi antara perlakuan dan umur mortar untuk kuat lentur mortar memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap respon pada taraf nyata 5% berdasarkan uji F. Berdasarkan uji Duncan terlihat bahwa interaksi pemberian konsentrasi yang sama dengan umur yang berbeda memberi pengaruh yang berbeda nyata baik pada SHF-LAS maupun SNF. Konsentrasi 0.2% terbukti memberi pengaruh berbeda paling nyata dibanding konsentrasi lainnya pada umur yang sama baik pada SHF-LAS maupun SNF. Dari uji Duncan ini juga terlihat bahwa pada konsentrasi dan umur yang sama, kontrol memberi pengaruh berbeda nyata terhadap LAS dan SNF, akan tetapi antara SHF-LAS dan SNF tidak berbeda nyata. Hal tersebut membuktikan bahwa SHF-LAS memiliki kemampuan untuk meningkatkan kuat lentur yang mendekati SNF.
Hasil analisis statistik uji alir mortar dengan uji F menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap respon pada taraf nyata 5%. Uji Duncan memperlihatkan bahwa di atas konsentrasi 0.1%, SHF-LAS dan SNF memberi pengaruh yang berbeda nyata terhadap kontrol. Pemberian SHF-LAS dan SNF pada mortar dengan konsentrasi yang sama juga memberi pengaruh yang berbeda nyata.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Kinerja optimum SHF-LAS terjadi pada konsentrasi 0.2%.
SHF-LAS mampu meningkatkan kuat lentur mortar kontrol hingga 11.70% pada umur 3 hari, 10.10% pada umur 7 hari, dan 10.25% pada umur 28 hari. Melalui uji Duncan, peningkatan kuat lentur SHF-LAS tidak berbeda nyata dengan SNF.
SHF-LAS mampu meningkatkan kuat tekan mortar hingga 19%.
Proses dispersi terbukti baik pada SHF-LAS yang mampu meningkatkan nilai alir mortar kontrol sebesar 6,07%. Penambahan konsentrasi sebanding dengan peningkatan
fluiditas yang dihasilkan. Peningkatan
fluiditas SHF-LAS berbeda nyata dengan SNF pada uji Duncan.
Analisis SEM memperlihatkan permukaan mortar yang ditambah SHF-LAS memiliki pori yang lebih sedikit dengan diameter lebih kecil dibandingkan kontrol, sedangkan mortar yang ditambah SNF terlihat lebih homogen.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan
mengenai parameter yang mempengaruhi dispersi seperti pengukuran zeta potensial, bobot molekul. Penelitian ini dapat dilakukan terhadap beton.
DAFTAR PUSTAKA
Ardiansyah IP. 2008. Sintesis dan Pencirian Natrium Hidroksimetilfenol (Lignin Klason) Sulfonat [skripsi]. Bogor:
Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
ASM. 1992. ASM Materials Engineering
Dictionary. Davis JR, editor. United
States of America: ASM International American Society for Testing Material. 1995.
Annual Book of ASTM Standard: Vol.04.01, Cement; Lime; Gypsum.
Philadelphia: ASTM
American Society for Testing Material. 1995.
Annual Book of ASTM Standard: Vol.04.02, Concrete and Aggregates.
Philadelphia: ASTM
Collepardi M. 2005. Chemical admixtures
today. Proceedings of Second
International Symposium on Concrete Tecnology for Sustainable February
-Development with Emphasis on
Infrastructure; Hyderabad, India, 27 February - 3 March 2005. hlm 527-541. [Departemen Pekerjaan Umum]. 2005. Revisi SNI 03-1970-1990: Cara Uji Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat
Halus. [terhubung berkala].
http://www.pu.go.id/balitbang/SNI/pdf/
SNI%2003-1970-1990.pdf. [13
Agustus 2008]
[Departemen Pekerjaan Umum]. 2005. Revisi SNI 03-1971-1990: Metode Pengujian
Kadar Air Agregat. [terhubung
berkala].http://www.pu.go.id/balitbang/ SNI/pdf/SNI%2003-1970-1990.pdf.[13 Agustus 2008]
Dzikrulloh T. 2007. Pengaruh nisbah reaktan
lignin-NaHSO3 dan pH pada produk
natrium lignosulfonat [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.