BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Bahan Ajar
2.1.1 Pengertian Bahan Ajar
Menurut National Centre for Competency Based Training (Prastowo, 2011:16) bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Menurut Widodo & Jasmani (Lestari, 2013:1) bahan ajar adalah seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi atau subkompetensi dengan segala kompleksitasnya.
Menurut Pannen (Prastowo, 2011:17) bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam website dikmenjur.net (Prastowo, 2011:17) bahan ajar merupakan seperangkat materi atau substansi pembelajaran (teaching material) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetesi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat maupun teks) yang disusun secara sistematis dan digunakan dalam proses pembelajaran.
2.1.2 Jenis-Jenis Bahan Ajar
Menurut Prastowo (2011:40) terdapat beberapa kategori untuk jenis-jenis bahan ajar. Beberapa kriteria yang menjadi acuan dalam membuat klasifikasi tersebut berdasarkan bentuknya adalah .
a. Bahan ajar cetak (printed), yakni sejumlah bahan yang disiapkan dalam kertas yang dapat berfungsi untuk keperluan pembelajaran (Kemp dan Dayton, 1985). Contohnya, handout, buku, modul, lembar kerja siswa. b. Bahan ajar dengar atau program audio contohnya kaset, radio, piringan
hitam dan compact disk audio.
c. Bahan ajar pandang dengar (audiovisual) contohnya, video compact disk dan film.
d. Bahan ajar interaktif (interactive teaching materials), yakni kombinasi dari dua atau lebih media (audio, teks, grafik, gambar, animasi dan video) contohnya, compact disk interactive.
2.1.3 Fungsi, Manfaat, dan TujuanPembuatan Bahan Ajar
Menurut Prastowo (2011:24) disebutkan bahwa fungsi bahan ajar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fungsi bagi pendidik dan fungsi bagi peserta didik.
1. Fungsi bahan ajar bagi pendidik, antara lain: a. Menghemat waktu pendidik mengajar.
b. Mengubah peran pendidik dari seorang pengajar menjadi seorang fasilitator.
c. Meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan interaktif.
d. Sebagai pedoman bagi pendidik yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan merupakan substansi kompetensi yang semestinya diajarkan kepada peserta didik.
e. Sebagai alat evaluasi pencapaian atau penguasaan hasil pembelajaran.
2. Fungsi bahan ajar bagi siswa, antara lain:
a. Siswa dapat belajar tanpa harus ada pendidik atau teman peserta didik yang lain.
b. Siswa dapat belajar kapan saja dan dimana saja ia kehendaki. c. Siswa dapat belajar sesuai kecepatannya masing-masing. d. Siswa dapat belajar menurut urutan yang dipilihnya sendiri.
e. Membantu potensi siswa untuk menjadi pelajar/mahasiswa yang mandiri.
f. Sebagai pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran dan merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari atau dikuasainya.
Menurut Prastowo (2011:27) adapun manfaat atau kegunaan pembuatan bahan ajar dibedakan menjadi dua macam, yaitu kegunaan bagi pendidik dan kegunaan bagi siswa.
1. Kegunaan bagi pendidik
Ada tiga kegunaan pembuatan bahan ajar bagi pendidik diantaranya sebagai berikut:
a. Pendidik akan memiliki bahan ajar yang dapat membantu proses pembelajaran.
b. Bahan ajar dapat diajukan sebagai karya yang dinilai guna keperluan kenaikan pangkat.
c. Menambah penghasilan bagi pendidik jika hasil karyanya diterbitkan.
2. Kegunaan bagi siswa
Menurut Prastowo (2011:27) ada tiga kegunaan bahan ajar bagi siswa diantaranya:
a. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
b. Siswa lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar secara mandiri.
c. Siswa mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasai.
Menurut Prastowo (2011:26) tujuan pembuatan bahan ajar ada empat hal pokok, yaitu:
a. Membantu siswa dalam mempelajari sesuatu.
b. Menyediakan berbagai jenis pilihan bahan ajar sehingga mencegah timbulnya rasa bosan pada siswa.
c. Memudahkan siswa dalam melaksanakan pembelajaran. d. Agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik. 2.1.4 Keunggulan dan Keterbatasan Bahan Ajar
Menurut Mulyasa (Lestari, 2013:8) ada beberapa keunggulan dan keterbatasan dari bahan ajar diantaranya sebagai berikut:
1. Adanya kontrol terhadap hasil belajar mengenai penggunaan standar kompetensi dalam setiap bahan ajar yang harus dicapai oleh siswa.
2. Dengan adanya tujuan dan cara pencapaian di dalam bahan ajar siswa dapat mengetahui keterkaitan antara pembelajaran dan hasil yang akan diperoleh.
3. Berfokus pada kemampuan individual siswa, siswa memiliki kemampuan untuk bekerja sendiri dan lebih bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya.
Sedangkan keterbatasan dari penggunaan bahan ajarantara lain:
1. Penyusunan bahan ajar yang baik membutuhkan keahlian tertentu.
2. Sulit menentukan proses penjadwalan dan kelulusan, serta membutuhkan manajemen pendidikan yang sangat berbeda dari pembelajaran konvensional.
3. Dukungan pembelajaran berupa sumber belajar pada umumnya cukup mahal berbeda dengan pembelajaran konvensional, sumber belajar seperti alat peraga dapat digunakan bersama dalam proses pembelajaran. 2.1.5 Komponen-Komponen Bahan Ajar
Menurut Prastowo (2011:28) setidaknya ada enam komponen yang harus diketahui sebagaimana diuraikan dalam penjelasan berikut:
1. Petunjuk belajar
Di dalamnya dijelaskan tentang bagaimana pendidik mengajarkan materi kepada siswa dan bagaimana pula siswa mempelajari materi yang ada dalam bahan ajar tersebut.
2. Kompetensi yang akan dicapai
Menjelaskan tentang standar kompetensi, kompetensi dasar, maupun indikator pencapaian hasil belajar yang harus dikuasai siswa.
3. Informasi pendukung
Merupakan berbagai informasi tambahan yang dapat melengkapi bahan ajar, sehingga siswa semakin mudah untuk menguasai pengetahuan yang akan mereka peroleh.
4. Latihan-latihan
Komponen ini merupakan suatu bentuk tugas yang diberikan kepada siswa untuk melatih kemampuan mereka setelah mempelajari bahan ajar.
5. Petunjuk kerja atau lembar kerja
Petunjuk kerja atau lembar kerja adalah satu lembar atau beberapa lembar kertas yang berisi sejumlah langkah prosedural cara pelaksanaan aktivitas yang harus dilakukan siswa.
6. Evaluasi
Suatu komponen evaluasi terdapat sejumlah pertanyaan yang ditujukan kepada siswa untuk mengukur seberapa jauh penguasaan kompetensi yang berhasil mereka kuasai setelah mengikuti proses pembelajaran dengan bahan ajar. 2.2 Modul Pembelajaran
2.2.1 Pengertian Modul
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, modul adalah kegiatan program belajar mengajar yang dapat dipelajari oleh peserta didik dengan bantuan yang minimal dari guru atau dosen pembimbing, meliputi perencanaan tujuan yang akan dicapai secara jelas, penyediaan materi pelajaran, alat yang dibutuhkan dan
alat untuk penilai, serta pengukuran keberhasilan peserta didik dalam penyelesaian pelajaran.
Modul sebagaimana pengertian diatas merupakan salah satu media cetak lainnya yang perbedaannya dapat dilihat dari ciri-ciri yang dimiliki oleh modul itu sendiri. Dari pendapat tentang modul diatas dapat disimpulkan bahwa modul merupakan salah satu media pembelajaran dalam bentuk buku paket mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan dan disusun secara sistematis dengan tujuan membantu peserta didik.
Menurut Prastowo (Ika Lestari, 2013 : 6) menjelaskan bahwa modul merupakan bahan ajar yang ditulis dengan tujuan agar siswa dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, oleh karena itu, modul harus berisi tentang petunjuk belajar, kompetensi yang akan dicapai, isi materi pelajaran, informasi pendukung, latihan soal, petunjuk kerja, evaluasi, dan balikan terhadap hasil evaluasi.
Dengan pemberian modul, siswa dapat belajar mandiri tanpa harus dibantu oleh guru. Siswa yang memiliki kecepatan belajar yang rendah dapat berkali-kali mempelajari setiap kegiatan belajar tanpa terbatas oleh waktu, sedangkan siswa yang kecepatan belajarnya tinggi akan lebih cepat mempelajari satu kompetensi dasar (Ika Lestari, 2013: 6). Pada intinya, modul sangat mewadahi kecepatan belajar siswa yang berbeda-beda.
2.2.2 Fungsi Modul
Fungsi modul seperti yang dikemukakan oleh Cece Wijaya (Mariyanti, 2013: 23) antara lain sebagai berikut:
1. Adanya peningkatan motivasi belajar secara maksimal;
2. Adanya peningkatan kreativitas guru dalam mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan pelayanan individual yang lebih mantap;
3. Dapat mewujudkan prinsip maju berkelanjutan secara tidak terbatas; 4. Dapat mewujudkan belajar yang lebih berkonsentrasi.
Sistem pengajaran modul dikembangkan di berbagai negara dengan maksud untuk mengatasi kelemahan-kelemahan sistem pengajaran tradisional.
2.2.3 Struktur Penyusunan Modul
Menurut Prastowo (2011:142) Dalam menyusun bahan ajar yang perlu diperhatikan adalah bahwa judul atau materi yang disajikan harus berintikan kompetensi dasar atau materi pokok yang harus dicapai peserta didik. Berikut ini langkah-langkah dalam menyusun modul antara lain sebagai berikut :
1. Melakukan analisis standar kompetensi atau dalam kurikulum 2013 disebut dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar bahan yang akan dikembangkan. 2. Menentukan judul dan sub judul dalam modul, sesuaikan dengan kompetensi
dasar dan materi pokok yang akan dicapai.
3. Mengumpulkan referensi sebagai bahan penulisan, upayakan untuk menggunakan referensi terkini dan relevan dengan bahan kajiannya.
4. Penulisan modul dengan strukturnya yaitu pada tabel 2.1sebagai berikut: Sebelum Mulai
Materi
Saat Pemberian Materi Setelah Pemberian Materi (1) (2) (3) 1. Judul 2. Kata Pengantar 3. Daftar Isi 4. Latar Belakang 5. Deskripsi Singkat 11. Kompetensi Dasar 12. Materi Pokok 13. Uraian Materi 14. Heading 17. Tes Mandiri 18. Post-Test 19. Tindak Lanjut 20. Harapan 21. Glosarium 6. Standar Kompetensi 7. Peta Konsep 15. Ringkasan 16. Latihan/Tugas 22.Daftar Pustaka 23. Kunci Jawaban
8. Manfaat dan Tujuan Pembelajaran
9. Petunjuk
Penggunaan Modul
Adapun penjelasan rinci dari masing-masing item pada tabel 2.1 di atas adalah sebagai berikut :
1. Judul
Gunakanlah judul yang mencerminkan isi modul, judul utama modul yang dibuat oleh penulis adalah “Modul Matematika Menggunakan Model Meaningfull Instructional Design Dengan Pendekatan Saintifik Pada Materi Peluang”
2. Kata Pengantar
Bagian ini berisi ucapan terima kasih atas terselesaikannya modul, alasan penulisan modul secara singkat dan manfaat yang bisa diperoleh dengan mempelajari modul tersebut
3. Daftar Isi
Bagian ini menginformasikan kepada pembaca tentang topik-topik yang ditampilkan dalam modul sesuai urutan tampilan dan nomor halaman. Dengan demikian pembaca mudah untuk melacak materi yang dicari, tanpa harus membuka halaman demi halaman, satu per satu.
4. Latar Belakang
Bagian ini berisi alasan dan dasar pertimbangan penyusunan modul. Dasar pertimbangan tersebut bisa berupa dasar teoritis.
5. Deskripsi Singkat
Bagian deskripsi singkat ini memuat penjelasan singkat tentang materi-materi apa saja yang akan dibahas dalam modul.
6. Standar Kompetensi
Bagian ini memuat standar kompetensi minimal yang diharapkan mampu dikuasai peserta didik setelah mempelajari modul tersebut.
7. Peta Konsep
Peta konsep memberikan informasi penting tentang hubungan antar topik, sehingga peserta didik lebih mudah melihat ruang lingkup materi secara komprehensif.
8. Manfaat
Bagian manfaat ini adalah menjelaskan tentang manfaat yang bisa diperoleh peserta didik jika mempelajari modul tersebut. Jadi, di dalamnya berisi keterangan tentang berbagai kegunaan dari modul tersebut.
9. Tujuan Pembelajaran
Pembaca akan tertolong jika sejak awal diberitahu apa yang ditargetkan untuk mereka capai setelah mempelajari modul tersebut. Dengan ditaruh di awal modul, pembaca dapat menjadikan tujuan ini sebagai pegangan pada saat mempelajari modul.
10. Petunjuk Penggunaan Modul
Bagian ini berisi cara menggunakan modul. Jadi, pada bagian ini ditunjukan apa saja yang mesti dilakukan peserta didik ketika membaca modul.
11. Kompetensi Dasar
Perilaku akhir yang diharapkan dapat diperoleh oleh peserta didik dari hasil proses belajar yang ditempuh, itulah isi bagian ini.
12. Materi Pokok
Bagian ini berisi sejumlah materi pokok yang akan dibahas agar peserta didik menguasai kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
13. Uraian Materi
Pada bagian ini materi pokok dijabarkan dijelaskan kebagian-bagian yang lebih rinci dan mendetail. Dengan demikian peserta didik bisa memahaminya secara mendalam.
14. Heading
Bagian ini idealnya mencerminkan isi, sehingga hanya dengan melihatnya pembaca dapat menemukan bagian yang ingin dibacanya. Heading terutama berfungsi untuk tiga hal yaitu membatasi awal atau akhir materi atau bagian, memberikan posisi topik, serta memperkirakan topik mana yang penting dan mana yang kurang penting dari jumlah halamannya.
15. Ringkasan
Bagian ini memuat rangkuman materi dalam satu bab, sehingga terletak di akhir materi di setiap bab.
16. Latihan atau Tugas
Tugas yang diberikan kepada pserta didik perlu dinyatakan secara spesifik. 17. Tes Mandiri
Tes ini diberikan pada akhir setiap bab atau akhir setiap kegiatan belajar. Hal ini ditunjukkan untuk mengukur tingkat penguasaan materi yang dicapai oleh peserta didik pada setiap kegiatan belajar.
18. Post Test
Tes ini diberikan di akhir modul untuk melihat penguasaan peserta didik terhadap materi yang sudah dipelajarinya dalam suatu modul. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tes akhir ini diusahakan tidak melebihi waktu yang digunakan untuk mempelajari modul.
19. Tindak Lanjut
Bagian ini berisi feedback kepada peserta didik. Bagi yang telah menguasai materi, disarankan untuk mengembangkan pengetahuan yang telah diperolehnya. Sedangkan bagi yang masih belum mencapai belajar tuntas, disarankan untuk mengulangi bagian yang masih dirasa sulit.
20. Harapan
Bagian ini berisi sejumlah saran dan pengharapan bagi peserta didik agar lebih meningkatkan kompetensinya, tidak sekedar dari modul semata.
21. Glosarium
Bagian ini memuat definisi operasional yang digunakan dalam modul dan sering diperlukan oleh pembaca.
22. Daftar Pustaka
Berisi sejumlah referensi yang digunakan sebagai bahan rujukan. Sehingga jika peserta didik ingin mengetahui lebih lengkap atau lebih jauh tentang suatu persoalan dari seumber referensi tertentu, maka dapat dilacak keberadaannya. 23. Kunci Jawaban
Bgian kunci jawaban memuat jawaban-jawaban dari pertanyaan atau soal-soal yang digunakan untuk meguji penguasaan materi peserta didik, baik untuk tes mandiri maupun tes akhir.
2.3 Tinjauan Model Pembelajaran MID (Meaningful Instructional Design) 2.3.1 Pengertian Model Pembelajaran MID (Meaningful Instructional Design)
Menurut Ngalimun (2013:171) Model ini adalah pembelajaran yang mengutamakan kebermaknaan belajar dan efektifitas dengan cara membuat kerangka kerja secara konseptual kognitif-konstruktivis. Model pembelajaran Meaningful Instructional Design menuntut siswa melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman dengan konsep-konsep fakta. Model MID ini guru bertugas memfasilitasi pengalaman belajar yang relevan, misalnya dengan menyajikan informasi melalui kegiatan menyimak untuk dielaborasikan dan didiskusikan dan kemudian disimpulkan oleh siswa. Model ini dipilih menjadi alternatif pembelajaran matematika agar pembelajaran matematika menjadi lebih menarik dan penuh makna sehingga siswa dapat merasakan manfaat mempelajari matematika dan akan lebih mudah menguasai konsep-konsep matematika karena dikaitkan dengan struktur kognitif siswa itu sendiri.
2.3.2 Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajran MID (Meaningful Instructional Design)
Kelebihan model pembelajaran MID (Meaningful Instructional Design) menurut (utami, 2014) antara lain :
1. Model pembelajaran ini sangat baik dan efektif untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar.
2. Dapat mendorong aktifitas belajar siswa menjadi aktif.
3. Siswa juga lebih mudah mengingat materi yang disampaikan karena adanya kebermaknaan dalam proses belajar mengajar.
5. Sebagai jembatan menghubungkan tentang apa yang sedang dipelajari siswa.
6. Mampu membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah.
7. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap
8. Membantu siswa membentuk, mengubah, diri atau mentransformasikan informasi baru.
9. Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama dapat diingat.
10. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya untuk materi pelajaran yang mirip.
11. Informasi yang dipelajari secara bermakna mempermudah belajar hal-hal yang mirip walaupun telah terjadi lupa.
Adapun kekurangan dari model pembelajaran MID (Meaningful Instructional Design ) antara lain :
1. Model pembelajaran ini belum diketahui banyak pengajar jadi masih jarang digunakan.
2. Menuntut kemampuan guru untuk lebih kreatif supaya bisa membuat suasana dalam proses belajar mengajar menjadi bermakna.
3. Guru merasa kesulitan contoh-contoh konkrit dan realistic.
4. Karena ini membentuk suatu kelompok maka hal sering terjadi adalah mengandalkan siswa yang pintar.
2.3.3 Langkah-langkah Model Pembelajran MID (Meaningful Instructional Design )
Pada pengembangan modul matematika ini menggunakan model pembelajaran MID (Meaningful Instructional Design). Dengan menggunakan model pembelajaran MID siswa dituntut mengetahui tiga tahapan dalam model pembelajaran MID yaitu (1) Lead-in yaitu siswa melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman, analisis pengalaman, dan konsep-ide, dimana dalam pembelajaran ini berhubungan dengan pengalaman atau peristiwa maupun fakta-fakta baru kemudian menganalisis pengalaman tersebut dan menghubungkan ide-ide mereka dengan materi atau konsep baru. (2) tahap reconstructionyaitu siswa melakukan fasilitasi pengalaman belajar.Konsep pembelajaran ini adalah menekankan kepada para siswa untuk menciptakan interprestasi mereka sendiri terhadap dunia informasi. Siswa meletakkan pengalaman belajar mereka dengan pengalamannya sendiri. (3) Production pada tahap ini konsep materi pembelajaran yang telah disampaikan kemudian di apresiasi atau diaplikasikan kedalam bentuk nyata dan membawa alur pembelajaran yang produktif. Sehingga siswa tidak hanya memahami secara konseptual tetapi dapat menciptakan hal baru dari konsep yang dipahami (Ngalimun, 2013:171).
2.4Konsep Dasar Pendekatan Saintifik 2.4.1 Definisi Pendekatan Saintifik
Dalam Kurikulum 2013, Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD) memiliki domain sikap, pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi yang diperoleh siswa dalam pembelajaran dengan Kurikulum 2013 diharapkan agar didasarkan pada pembelajaran yang mampu
mengantarkan siswa untuk eksis mengarungi kehidupan pada abad 21. Ciri-ciri abad 21 antara lain: (1) informasi tersedia di mana saja dan kapan saja, (2) komputasi lebih cepat menggunakan mesin, (3) otomasi menjangkau segala pekerjaan rutin, (4) komunikasi darimana saja dan ke mana saja (Kemendikbud, 2013).
Pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik agar memiliki kompetensi (sikap, pengetahuan dan keterampilan) yang memadai untuk eksis pada abad 21 tersebut bercirikan sebagai berikut (Kemendikbud, 2013).
1. Pembelajaran diarahkan untuk mendorong siswa mencari tahu dari berbagai sumber belajar, dengan melakukan observasi, bukan diberi tahu,
2. Pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah (menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab)
3. Pembelajaran diarahkan untuk melatih berfikir analitis (pengambilan keputusan) bukan berfikir mekanistis (rutin)
4. Pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah
Pembelajaran berbasis saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakan kecakapan berpikir sains, terkembangkannya “sense of inquiry” dan kemampuan berpikir kreatif siswa. Model pembelajaran yang dibutuhkan adalah yang mampu menghasilkan kemampuan untuk belajar, bukan saja diperolehnya sejumlah pengetahuan, keterampilan, dan sikap, tetapi yang lebih penting adalah
bagaimana pengetahuan, keterampilan, dan sikap itu diperoleh peserta didik (Sitiatava, 2013:55-56).
Jadi dari pemaparan di atas dapat disimpulkan, pembelajaran dengan pendekatan saintifik merupakan suatu cara atau mekanisme proses pembelajaran untuk memfasilitasi siswa agar mendapatkan pengetahuan atau keterampilan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah dan mengakomodasi proses mengamati, menanya, menalar, mencoba dan membentuk jejaring.
2.4.2 Langkah-langkah Pendekatan Saintifik
Pendekatan saintifik merupakan suatu cara atau mekanisme pembelajaran untuk memfasilitasi siswa agar mendapatkan pengetahuan atau keterampilan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu metode ilmiah. Proses pembelajaran merupakan salah satu unsur yang dikuatkan (disempurnakan) dalam Kurikulum 2013. Penguatan dilakukan dengan menuntut guru agar mengelola proses pembelajaran yang memuat kegiatan eksplorasi, elaborasi, konfirmasi dan menerapkan pendekatan ilmiah. Selama ini pendekatan tersebut populer digunakan dalam proses pembelajaran sains. Pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah ini memerlukan langkah-langkah pokok sebagai berikut (Kemedikbud, 2013):
1. Mengamati
Objek matematika yang dipelajari dalam matematika adalah buah pikiran manusia, sehingga bersifat abstrak. Mengamati objek matematika dapat dikelompokkan dalam dua macam kegiatan yang masing-masing mempunyai ciri berbeda (Kemedikbud, 2013), yaitu mengamati fenomena lingkungan kehidupan
sehari-hari yang berkaitan dengan topik matematika tertentu dan mengamati objek matematika yang abstrak.
2. Menanya
Guru harus mampu menginspirasi peserta didik untuk mau dan mampu menanya. Pada saat guru mengajukan pertanyaan, guru harus membimbing dan memandu peserta didik menanya dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan, guru mendorong peserta didik menjadi penyimak yang baik. Pertanyaan guru dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal (Kemedikbud, 2013).
3. Menalar
Secara umum dapat dikatakan bahwa penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Dalam proses pembelajaran matematika, pada umumnya proses menalar terjadi secara simultan dengan proses mengolah atau menganalisis kemudian diikuti dengan proses menyajikan atau mengkomunikasikan hasil penalaran sampai diperoleh suatu simpulan. Bentuk penyajian pengetahuan atau ketrampilan matematika sebagai hasil penalaran dapat berupa konjektur atau dugaan sementara atau hipotesis (Kemedikbud, 2013). 4. Mencoba
Berdasarkan hasil penalaran yang diperoleh pada tahap sebelumnya yakni berupa dugaan sementara sampai diperoleh kesimpulan, maka selanjutnya perlu dilakukan kegiatan ‘mencoba’. Kegiatan mencoba dalam proses pembelajaran matematika di SMP/MTs ini dimaknai sebagai menerapkan pengetahuan atau keterampilan hasil penalaran ke dalam suatu situasi atau bahasan yang masih satu
lingkup, kemudian diperluas ke dalam situasi atau bahasan yang berbeda lingkup (Kemedikbud, 2013).
5. Membentuk Jejaring
Membentuk jejaring dimaknai sebagai menciptakan pembelajaran yang kolaboratif antara guru dan siswa atau antar siswa. Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar melaksanakan suatu teknik pembelajaran di kelas. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja sedemikian rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama (Kemedikbud, 2013).
2.4.3 Modul Menggunakan Model Pembelajran MID (Meaningful Instructional Design ) Dengan Pendekatan Saintifik
Bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah modul menggunakan model pembelajaran MID (Meaningful Instructional Design) Ngalimun (2013:171), pada materi peluang. Pengembangan modul ini menggunakan model pembelajaran MID (Meaningful Instructional Design) dengan pendekatan saintifik.
Dengan menggunakan model pembelajaran MID dengan pendekatan saintifik siswa diajarkan beberapa tahapan yaitu (1) Lead-in dan mengamati yaitu siswa mengamati objek matematika yang berkaitan dengan lingkungan kehidupan sehari-hari dan mengamati objek matematika yang abstrak menjadi konkrit serta menghubungkan ide-ide mereka yang telah mereka pelajari dengan materi atau konsep baru. (2) tahap reconstruction, menanya dan menalar yaitu siswa
melakukan fasilitasi pengalaman belajar. Guru harus mampu menginspirasi peserta didik untuk mau dan mampu menanya. Dalam tahap ini dapat dikatakan bahwa siswa dituntut untuk menalar dan berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Bentuk penyajian pengetahuan atau ketrampilan matematika sebagai hasil penalaran dapat berupa dugaan sementara atau hipotesis. Konsep pembelajaran ini adalah menekankan kepada para siswa untuk menciptakan interprestasi mereka sendiri terhadap materi yang telah mereka pelajari.
Tahap selanjutnya yaitu Production, mencoba dan membentuk jejaring. Pada tahap ini konsep materi pembelajaran yang telah disampaikan kemudian di apresiasi atau diaplikasikan kedalam bentuk nyata berdasarkan hasil penalaran yang diperoleh pada tahap sebelumnya yakni berupa dugaan sementara sampai diperoleh kesimpulan, maka selanjutnya perlu dilakukan kegiatan ‘mencoba’. Kegiatan mencoba dalam proses pembelajaran matematika ini dimaknai sebagai menerapkan pengetahuan atau keterampilan hasil penalaran ke dalam suatu situasi atau bahasan yang masih satu lingkup dengan bekerjasama sesama teman sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja sedemikian rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama 2.5 Karakteristik Materi
Pada umumnya materi dalam pembelajaran matematika mempunyai keterkaitan dengan materi sebelumnya sehingga menuntut siswa untuk memahami konsep semua materi, para siswa juga dibiasakan untuk memperoleh pemahaman melalui pengalaman tentang sifat-sifat yang dimiliki dan yang tidak dimiliki dari sekumpulan objek (abstraksi). Dengan pengamatan terhadap contoh-contoh
diharapkan siswa mampu menangkap pengertian suatu konsep. Selanjutnya dengan abstraksi ini, siswa dilatih untuk membuat perkiraan, terkaan, atau kecenderungan berdasarkan kepada pengalaman atau pengetahuan yang dikembangkan melalui contoh-contoh khusus.
Salah satu ruang lingkup materi matematika adalah statistika. Materi peluang merupakan salah satu materi statistika yang pada pembelajaran mempunyai keterkaitan dengan materi sebelumnya, mempelajari pola-pola visual serta menghubungkan matematika dengan dunia nyata dan erat kaitannya dengan konsep kontekstual yang mengilustrasikan objek-objek abstrak didalamnya, konsep tentang penghitungan peluang dapat dipelajari dengan menggunakan model MID dengan pendekatan saintifik yang langkah-langkah pengajarannya disusun secara sistematis sehingga diharapkan semua siswa mampu mempelajari keseluruhan materi dengan baik.
2.6 Uraian Materi 2.6.1 Peluang
2.6.1.1 Kejadian Sederhana
Jika diadakan suatu percobaan , maka percobaan itu selalu mendapatkan hasil. Namun tidak selalu hasil tersebut sesuai dengan yang diharapkan. Himpunan dari hasil yang diharapkan disebut kejadian.
2.6.1.2 Ruang Sampel
Himpunan dari semua hasil yang mungkin muncul pada suatu percobaan disebut ruang sampel. Misal pada percobaan pelemparan sebuah dadu, maka ruang sampelnya adalah {1,2,3,4,5,6}. Dari contoh diatas jelas bahwa kejadian adalah himpunan bagian dari ruang sampel
2.6.1.3 Peluang Kejadian
Definisi : Peluang kejadian A dapat dinyatakan dengan P(A)
2.6.1.4 Kisaran Nilai Peluang
Jika A = O P(A) = 0 P (A) = 0 (suatu kemustahilan) A = S P(A) = 1 P (A) = 1 (suatu kepastian) Dari semua kemungkinan diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut
1. Besarnya peluang suatu kejadian berkisar antara 0 dan 1 2. Peluang suatu kejadian 0 jika terjadi kemustahilan 3. Peluang suatu kejadian 1 jika terjadi kepastian 4. Untuk setiap kejadian A berlaku :
Besarnya peluang suatu kejadian dapat ditunjukkan pada garis bilangan seperti pada gambar di bawah ini .
2.6.1.5 Kaidah Pencacahan
Kaidah pencacahan adalah suatu cara/aturan untuk menghitung semua kemungkinan yang dapat terjadi dalam suatu percobaan tertentu. Misalkan tersedia dua celana berwarna merah, hijau dan tiga baju berwarna putih, kuning, krem. Berapa cara untuk menyusun pasangan celana dan baju ?
Untuk menyelesaikan masalah dengan aturan tempat ini dapat dengan :
P(A) =
=
( ) ( ) 0 ≤ P(A) ≤ 1 Peluang Kemustahilan Kepastian O 11. Diagram pohon
Baju Celana Pasangan warna Putih (merah , putih) Merah Kuning (merah , kuning)
Krem (merah, krem) Putih (hijau , putih)
Hijau Kuning (hijau , kuning)
Berdasarkan tabel di atas maka dapat disimpulkan banyak susunan yang dapat dibuat ada 6 cara.
2. Tabel Silang
Baju celana Putih Kuning Krem
Merah (merah, putih) (merah, kuning) (merah, krem) Hijau (hijau, putih) (hijau, kuning) (hijau,krem) Tampak pasangan warna baju dan warna celana dapat disusun dengan 6 cara 3. Pasangan Terurut
Dengan pasangan terurut misalkan himpunan baju dengan A = {merah, hijau} dan himpunan warna celana dengan B = {putih, kuning, krem}. Himpunan pasangan terurut dari himpunan A dan himpunan B ditulis sebagai : A x B = {((merah, putih), (merah, kuning), (hijau,krem), (merah, krem), (hijau, putih), (hijau, kuning) }. Banyak unsur dalam pasangan terurut A x B , tampak pasangan warna baju dan warna celana dapat disusun dengan 6 cara.
2.7 Tinjauan Keefektifan Bahan Ajar
Kualitas bahan ajar dapat mengacu pada kriteria kualitas menurut Nieven. Menurut Nieven dalam Yamasari (2010:2) suatu material dikatakan baik jika
memenuhi aspek-aspek kualitas, antara lain: (1) Validitas (Validity), (2) Kepraktisan (Practicaly), dan (3) Keefektifan (Effectiveness). Bahan ajar pembelajaran matematika dibuat berdasarkan indikator yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan tugas siswa. Pengembangan bahan ajar dalam pembelajaran matematika pada materi pokok lingkaran dikatakan berkualitas jika memenuhi indikator: (1) valid menurut para ahli yang berkompeten untuk menilai modul dan memberikan masukan atau saran untuk menyempurnakan bahan ajar yang telah dibuat (2) Praktis jika memenuhi indikator validator menyatakan bahwa bahan ajar tersebut dapat digunakan dengan sedikit atau tanpa revisi (3) Efektif jika memenuhi indikator: rata-rata skor pengerjaan tes hasil belajar siswa yang diperoleh mencapai kriteria ketuntasan minimum dan adanya respon positif siswa yang ditunjukkan melalui angket yang diberikan.
2.8 Tinjauan Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2009:14), bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Kemudian menurut Mulyono (2012:14), mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional.
Menurut Sudjana (2009:3) mendefinisikan penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Penilaian hasil belajar siswa dilakukan setelah berakhirnya penyajian materi yang disebut post-test. Tujuan dari post-test adalah untuk mengetahui
sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi yang telah disajikan pada suatu periode tertentu.
Tes jika ditinjau dari bentuk soalnya dapat dibedakan menjadi 2 yaitu tes hasil belajar dalam bentuk uraian (non obyektif) dan tes hasil belajar bentuk obyektif. Disebut tes obyektif karena siapapun yang memeriksa hasil tes akan menghasilkan skor yang sama sedangkan tes uraian hasilnya dipengaruhi oleh pemberi skor. Dalam penelitian ini, instrumen tes yang digunakan adalah tes bentuk obyektif. Tes diberikan pada saat setelah ujicoba akhir produk. Tes berbentuk pilihan ganda yang mengacu pada indikator kemampuan pemahaman konsep yaitu untuk mengetahui seberapa paham siswa terhadp konsep pada materi peluang. Seperti menanyakan tentang konsep-konsep yang ada pada materi peluang.