• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 1 - Siapa Yang Melakukan Fraud & Mengapa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab 1 - Siapa Yang Melakukan Fraud & Mengapa"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

SIAPA YANG MELAKUKAN FRAUD dan MENGAPA A. TUJUAN PEMBAHASAN

Setelah membaca dan mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu untuk: (1) Mengerti mengapa orang-orang terlibat dalam fraud, (2) Mengerti tentang triangle (segitiga) fraud, (3) Mengerti bagaimana tekanan kehidupan dapat memicu timbulnya fraud, (4) Mengerti mengapa kesempatan selalu ada dan datang untuk terlibat dalam fraud, (5) Mengidentifikasi beberapa pengendalian yang dapat mencegah dan mendeteksi adanya perilaku fraud, (6) Mengidentifikasi faktor-faktor non-pengendalian yang dapat menimbulkan kesempatan untuk melakukan fraud, (7) Mengerti mengapa orang-orang sangat rasional.

B. URAIAN

Siapa Saja yang Terlibat dalam Fraud

Pelaku fraud biasanya tidak dapat dibedakan dengan orang-orang yang lain dilihat dari segi karakteristik psikologi maupun demografi. Penelitian beberapa tahun yang lalu melakukan studi dengan membandingkan pelaku fraud dengan (1) narapidana yang dijebloskan di penjara karena pelanggaran hak properti dan (2) contoh yang non-kriminal dari mahasiswa/pelajar. Hasilnya, para pelaku fraud sangat berbeda dengan perbandingan nomor satu (narapidana pelanggaran hak properti). Pelaku fraud umumnya lebih berpendidikan, lebih beragama, dan sedikit dari mereka yang memiliki catatan kriminalitas. Mereka juga memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik. Sedangkan untuk perbandingan yang nomor dua, yaitu dengan pelajar, mereka hanya berbeda tipis. Dimana pelaku fraud cenderung lebih tidak jujur, lebih mandiri, lebih dewasa, lebih memiliki penyimpangan sosial, serta lebih empatik daripada pelajar/mahasiswa.

Sangat peting untuk mengerti tentang karakteristik dari pelaku fraud, karena mereka kelihatan seperti orang yang memiliki sifat atau perangai yang dicari oleh perusahaan dalam mencari karyawan, mencari konsumen, dan memilih pemasok. Pengetahuan ini membantu kita untuk mengerti bahwa (1) kebanyakan pegawai, konsumen, pemasok, dan partner bisnis memiliki kesesuaian atau cocok dengan karakteristik yang dimiliki oleh pelaku fraud dan memiliki kemampuan untuk terlibat dalam fraud, (2) sangat sulit untuk memprediksi apa yang menyebabkan pegawai, pemasok, klien, dan konsumen akan menjadi tidak jujur.

Mengapa Orang-Orang Terlibat Fraud

Ada tiga alasan utama mengapa orang-orang melakukan fraud, yaitu: (1) tekanan (2) kesempatan dan (3) suatu cara untuk merasionalisasi bahwa tindakan fraud diperbolehkan. Ketiga elemen itulah yang kita sebut dengan fraud triangle. Disini akan dijelaskan masing-masing pengertian dari ketiga elemen tersebut.

1. Elemen Pertama: Tekanan Tekanan dapat dibagi menjadi empat tipe, yaitu: Tekanan Financial

Tekanan finansial merupakan alasan yang paling umum yang menyebabkan banyak orang terlibat dalam fraud. Misal melakukan kesalahan dalam melakukan investasi yang menyebabkan mereka kehilangan uang mereka. Sayangnya, hanya sedikit dari pelaku fraud yang mau mengaku bahwa mereka memiliki masalah keuangan. Faktanya, beberapa dari pelaku fraud adalah seorang karyawan yang jujur sebelumnya. Salah satu studi menunjukkan bahwa 30% perilaku fraud mulai ditunjukkan pelaku ketika mereka telah berpengalaman bekerja selama 3 tahun pertama sebagai karyawan. 70% pegawai terlibat ketika mereka berpengalaman bekerja selama 4-35 tahun. Dan kelompok umur pegawai yang menduduki peringkat tertinggi dalam perilaku fraud adalah mereka yang telah berumur 35 dan 44 tahun.

Biasanya, ketika manajemen fraud terjadi, perusahaan melebih-lebihkan aktiva dalam neraca dan pendapatan bersih dalam laporan keuangan. Perusahaan biasanya merasa ditekan untuk melakukan hal tersebut, karena melemahnya posisi kas, banyak piutang yang tak tertagih, kehilangan konsumen, persediaan banyak yang usang, penurunan pasar, dan membatasi kontrak atau perjanjian pinjaman yang mana perusahaan melanggarnya.

(2)

Kejahatan/Pelanggaran

Gaya hidup bebas-tanpa kendali biasanya disebut-sebut sebagai pemicu orang-orang jujur dapat terlibat dalan fraud. Contohnya, berjudi, memakai obat-obatan terlarang/narkoba, minum alkohol, atau berbakat mencuri sejak umur yang masih dini. Hal-hal seperti itu dapat memicu tekanan finansial, karena orang-orang akan membutuhkan uanng yang lebih banyak dari seharusnya untuk memenuhi kebutuhannya itu.

Tekanan yang Berhubungan dengan Pekerjaan

Faktor-faktor yang memicu timbulnya fraud yang berhubungan dengan tekanan pekerjaan, yaitu seperti tidak adanya penghargaan terhadap pekerjaan yang telah dilakukannya, ketidakpuasan terhadap pekerjaan, ketakutan akan kehilangan pekerjaan, sedang mencari-cari promosi kenaikan jabatan, serta kurangnya upah atau gaji yang diberikan.

Tekanan-tekanan yang Lain

Terkadang, fraud juga dapat dipicu oleh tekanan-tekanan yang lain, seperti keinginan istri/suami yang menginginkan peningkatan gaya hidup yang lebih mewah serta keinginan untuk menggerakkan atau memimpin system yang sedang berjalan, seperti perusahaan suami/istri mereka. Kita terkadang sulit untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Biasanya kita hanya dilatari oleh nafsu dan keinginan biasa untuk dapat meningkatkan kehidupan kita menjadi lebih baik. Mengapa? Karena kita selalu berpersepsi bahwa orang yang “sukses” adalah orang yang kaya, memiliki rumah besar, mobil, dan seabrek kemewahan lain. Tetapi kita tidak melihat ke”sukses”an yang sebenarnya ada pada kehormatan, harga diri, kejujuran dan integritas kita. Dan bagi sebagian orang kesuksesan dalam artian kaya lebih penting dibanding kejujuran. Jika tiap-tiap individu memiliki integritas tinggi dan kesempatan yang rendah, mereka membutuhkan tekanan yang tinggi atau sulit untuk dapat menjadi tidak jujur.

2. Elemen Kedua: Kesempatan

Setidaknya ada enam faktor utama yang dapat meningkatkan kesempatan bagi individu-individu untuk dapat terlibat dalam tindakan fraud, yaitu: Kurangnya pengendalian yang mengitari untuk dapat mencegah atau mendeteksi adanya perilaku kecurangan/fraud; Ketidakmampuan untuk menilai kualitas dari performa kinerja. ;Gagal untuk mendisiplinkan pelaku fraud.; Kurangnya akses informasi. ;Ketidak mampuan, ketidak cakapan, serta sikap apatis. ;Kurangnya jejak audit. Faktor Pengendalian: Pengendalian yang Dapat Mencegah dan Mendeteksi Adanya Fraud.

Ada tiga komponen dalam struktur pengendalian perusahaan, yaitu:

Lingkungan Pengendalian

Lingkungan pengendalian merupakan atmosfir kinerja dari perusahaan yang dibangun untuk para karyawan. Elemen paling utama dari lingkungan pengendalian yang layak adalah aturan manajemen dan contoh. Menjadi contoh manajemen yang baik merupakan elemen pertama dari pencegahan fraud. Dimana jika manajemen memberikan contoh yang tidak jujur maka akan ditiru oleh karyawannya. Berkomunikasi dengan baik dengan karyawan adalah elemen kedua paling penting untuk menjalankan lingkungan pengendalian yang efektif. Contoh-contoh dari komunikasi yang baik adalah mengadakan manajemen perilaku, orientation meeting, pelatihan, diskusi dengan supervisor/karyawan, serta pertemuan untuk membahas perbedaan antara perilaku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima. Elemen ketiga yang terpenting adalah dengan perekrutan karyawan dengan kulaifikasi yang layak. Misal, jika dalam kualifikasinya terdapat catatan kriminal, kesalahan calon karyawan, temperamental yang tidak terkontrol, alkoholik, ketergantungan obat-obatan terlarang, dan pola-pola yang menyebabkan dia dipecat dari perusahaan sebelumya, maka lebih baik jika perusahaan tidak menerimanya bekerja. Elemen keempat adalah struktur organisasi yang jelas, tiap-tiap individu dalam organisasi tahu pasti siapa yang bertanggungjawab atas tiap-tiap aktivitas bisnis.dengan struktur organisasi yang jelas kita akan dengan mudah mengetahui adanya asset-aset yang hilang dan menelusurinya. Elemen kelima terpenting adalah bagian audit internal yang efektif yang dikombinasikan dengan tindakan keamanan dan pencegahan

(3)

yang melakukan fraud, tetapi kehadiran dari internal auditor dapat memberikan efek deteksi yang signifikan.

Sistem Akuntansi

Setiap fraud terdiri atas tiga elemen uatama, yaitu (1) pencurian aset-aset, (2) merahasiakan atau menyembunyikan fraud dan aset-aset yang telah dicurinya, dan (3) pelaku menukarkan asset yang telah dicurinya menjadi uang kas dan dihabiskan untuk digunakan. Sistem akuntansi yang efektif dapat menyediakan jejak audit untuk menelusuri adanya pencurian dan penyembunyian aset-aset. Selain itu, sistem akuntansi juga harus melakukan pencatatan transaksi akuntansi. Dan catatan transaksi tersebut harus: (1) valid (2) diotorisasi dengan baik (3) lengkap (4) diklasifikasikan dengan baik (5) dilaporkan dalam periode yang tepat (6) dinilai dengan baik (7) telah diringkas dengan baik.

Prosedur atau Aktivitas Pengendalian Ada lima prosedur atau aktivitas pengendalian uatama:

1) Pemisahan tugas/wewenang

Meliputi pembagian tugas menjadi dua bagian, jadi tidak ada individu yang memiliki pengendalian secara penuh terhadap 1 tugas. Dual custody mengacu pada dua individu bekerja dalam satu tugas. Biasanya pemisahan wewenang ini adalah yang paling mahal dari aktivitas dan prosedur pengendalian yang lain.

2) Sistem Otorisasi

Sistem otorisasi yang layak dapat dilihat dari berbagai bentuk. Otorisasi password untuk tiap-tiap individu yang ingin membuka komputer dan mengakses database perusahaan, otorisasi tandatangan untuk tiap individu yang ingin memasuki tabungan perusahaan di bank, melakukan pemeriksaan kas, menunjukkan fungsi lain dari institusi keuangan. Otorisasi terbatas bagi individu yang ingin mengambil uang dari perusahaan sesuai dengan hak dari begiannya.

3) Pemeriksaan Independen

Tiap-tiap orang diharapkan untuk tahu dan mengerti bahwa aktivitas dan performa kinerja mereka telah dan sedang dimonitor oleh seseorang yang dipercaya oleh perusahaan. Seperti ketika sementara karyawan mereka pergi, yang lainnya mengecek performa kinerja mereka, rotasi kerja secara berkala, perhitungan dan sertifikasi kas, review supervisor, memberlakukan aturan-aturan yang ketat bagi karyawan, dan menggunakan auditor.

4) Pengamanan Fisik

Melindungi aset-asetnya dengan misal, menyimpan uangnya di bank, menguncinya di brankas, peralatan dan perlengkapan disimpan dan dikunci di lemari, dan lain sebagainya.

5) Dokumen dan Pencatatan

Dokumen dan pencatatan dapat digunakan sebagai alat pendekteksi adanya penyimpangan aktivitas. Seperti, di bank disediakan laporan bulanan mengenai aktivitas yang terjadi di tabungan perusahaan, siapa saja yang mengambil dan menyimpan akan dilaporkan di sana, serta dokumen penjualan, pembelian, dan transaksi yang lain.

Faktor Non-Pengendalian: Ketidakmampuan untuk menilai kualitas dari performa kinerja Jika kita meminta orang untuk memperbaiki pagar, kita dapat melihat performa dan kualitas kinerja dari pekerja tadi apakah baik atau tidak, sesuai atau tidak dengan kontrak yang dijanjikan dan apakah kita layak memberikannya bayaran yang pantas seperti perjanjian di kontrak. Tetapi jika kita menilai kinerja dari pengacara, dokter, akuntan, ahli mesin, maupun mekanik, terkadang masih sulit bagi kita untuk mengetahui performa mereka dan apakah kita pantas jika memberikan bayaran sekian atau tidak pada mereka.

Faktor Non-Pengendalian: Gagal untuk mendisiplinkan pelaku fraud

Individu yang terlibat fraud tersebut tidak dihukum atau hanya diberhentikan saja tanpa ganjaran yang berat sehingga terkadang mereka tidak kapok melakukan kegiatan fraud, karena hukumannya ringan. Perasaan terhina atau rendah diri biasanya menjadi factor utama terjadinya perulangan

(4)

aktivitas fraud di masa depan. Karena itulah hukuman atau ganjaran yang berat sesuai besarnya fraud yang dilakukannya dirasa pantas dan harus dijalankan.

Faktor Non-Pengendalian: Kurangnya akses informasi

Banyak fraud terjadi karena korban tidak memiliki akses informasi yang dimiliki oleh pelaku fraud. Biasanya terjadi di manjemen fraud yang dilakukan oleh pelaku terhadap pemegang saham, investor, dan debt holders, karena mereka adalah pihak ekstern perusahaan yang tidak memiliki akses penuh untuk melihat informasi perusahaan seperti yang dipunyai oleh pelaku. Korban bias saja untuk melindungi mereka dari perbuatan fraud dengan meminta dengan tegas pengungkapan penuh, termasuk di dalamnya adalah pernyataan keuangan auditan, sejarah bisnis, dan informasi lain yang mungkin berhubungan dengan tindakan fraud.

Faktor Non-Pengendalian: Ketidak mampuan, ketidak cakapan, serta sikap apatis

Orang-orang tua, individu dengan kesulitan atau keterbatasan bahasa, dan warga yang gampang tersinggung sangat mudah sekali menjadi korban fraud, karena pelaku tahu bahwa orang-orang semacam itu tidak memiliki kapasitas atau pengetahuan untuk mendeteksi perilaku illegal mereka. Faktor Non-Pengendalian: Kurangnya jejak audit

Organisasi melakukan langkah yang tepat dengan membuat dokumen dan menyediakan jejak audit sehingga transaksi dapat direkonstruksi dan ditelaah lagi lain waktu. Banyak fraud yang melibatkan pembayaran kas dan manipulasi pencatatan yang tidak dapat diikuti, karena mereka harus merahasiakannya dari umum. Ketika berhadapan dengan keputusan untuk mengambil pencatatan keuangan yang mana yang harus mereka manipulasi, kebanyakan mereka para pelaku memilih pernyataan pendapatan, karena mereka tahu bahwa jejak auditnya akan segera dihapus. 3. Elemen Ketiga: Rasionalisasi

Rasionalisasi disini maksudnya adalah pelaku fraud meyakinkan diri mereka sendiri bahwa fraud tersebut diperbolehkan dengan berbagi argumentasi yang mereka berikan. Semisal seperti Robin Hood, dia melakukan tindakan fraud, yaitu mencuri harta orang kaya. Seharusnya hal demikian tidak boleh dilakukan, tetapi dia berargumentasi bahwa dia memberikan harta yang dicurinya tersebut kepada orang miskin. Sehingga menurut dia hal tersebut (fraud) diperbolehkan karena bertujuan baik. Ada beberapa rasionalisasi yang biasanya digunakan oleh para fraudsters/pelaku fraud, yaitu: ‘perusahaan meminjamkannya padaku’; ‘aku hanya meminjam-nanti akan kukemablikan lagi’; ‘tidak ada orang yang terluka’; ‘aku pantas mendapatkan lebih’; ‘ini untuk tujuan baik’; ‘kami akan memperbaiki pencatatan secepatnya setelah kesulitan ekonomi kami selesai’; ‘sesuatu harus dikorbankan, entah tiu integritasku atau reputasiku’.

C. Simpulan

Pelaku fraud umumnya lebih berpendidikan, lebih beragama, dan sedikit dari mereka yang memiliki catatan kriminalitas. Mereka juga memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik. Pengetahuan ini membantu kita untuk mengerti bahwa (1) kebanyakan pegawai, konsumen, pemasok, dan partner bisnis memiliki kesesuaian atau cocok dengan karakteristik yang dimiliki oleh pelaku fraud dan memiliki kemampuan untuk terlibat dalam fraud, (2) sangat sulit untuk memprediksi apa yang menyebabkan pegawai, pemasok, klien, dan konsumen akan menjadi tidak jujur. Ada tiga alasan utama mengapa orang-orang melakukan fraud, yaitu: (1) tekanan (2) kesempatan dan (3) suatu cara untuk merasionalisasi bahwa tindakan fraud diperbolehkan. Ketiga elemen itulah yang kita sebut dengan fraud triangle. Tekanan dapat dibagi menjadi empat tipe, yaitu: tekanan finansial, tekanan kejahatan, tekanan yang berhubungan dengan pekerjaan, dan tekanan lain-lain. ada enam faktor utama yang dapat meningkatkan kesempatan bagi individu-individu untuk dapat terlibat dalam tindakan fraud, yaitu: Kurangnya pengendalian yang mengitari untuk dapat mencegah atau mendeteksi adanya perilaku kecurangan/fraud; Ketidakmampuan untuk menilai kualitas dari performa kinerja. ;Gagal untuk mendisiplinkan pelaku fraud.; Kurangnya akses informasi. ;Ketidak mampuan, ketidak cakapan, serta sikap apatis. ;Kurangnya jejak audit. Ada lima prosedur atau aktivitas pengendalian utama: Pemisahan tugas/wewenang, Sistem Otorisasi, Pemeriksaan Independen, Pengamanan Fisik, Dokumen dan Pencatatan

(5)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai rasio DAR TJIWI KIMIA tahun 2010, 2011, dan 2012 tidak mengalami perubahan yakni sebesar 0,71 atau 71% ini berarti

Ditinjau dari hasil analisis kandungan hafnium sebesar 366,9 ppm, tampak bahwa telah terjadi penurunan kandungan hafnium dari 1249 ppm menjadi 366,9 ppm (882,1 ppm), hal

Sementara untuk tujuan makalah ini adalah merancang Sinkronisasi dan CS pada audio watermarking, menganalisis kualitas audio yang sudah disisipkan watermark dibandingkan

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui : (1) seberapa besar kemampuan penalaran matematis siswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan model

Jangan sampai kita malah menyakiti orang lain karena lidah kita, tapi mari kita mau menjadi berkat bagi orang lain dengan kata-kata yang keluar dari

Subjek yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah pekerja pada bagian penerimaan & penimbunan (receiving & storage) yang tidak melakukan kerja lembur

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat disimpulkan jika pengelola dan LC dalam melakukan strategi komunikasi untuk mempertahankan pelanggan yaitu

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini mencakup 10 variabel yang tercatat pada tahun 2009 di setiap kabupaten/kota di provinsi J awa Timur.. Variabel-variabel t ersebut