• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.4.4 Perspektif pengungkapan heritage assets Museum Semarajaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4.4.4 Perspektif pengungkapan heritage assets Museum Semarajaya"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

xii DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERSYARATAN GELAR ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH MAHASISWA ... v

UCAPAN TERIMA KASIH ... vi

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

RINGKASAN ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Pertanyaan Penelitian ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

BAB II LANDASAN TEORI, TINJAUAN PUSTAKA DAN KONSEP PENELITIAN ... 11

2.1 Teori Stakeholder ... 11

2.2 Definisi Aset Bersejarah ... 12

2.2.1 Pengakuan aset bersejarah ... 14

2.2.2 Penilaian aset bersejarah ... 17

2.2.3 Pengungkapan aset bersejarah ... 20

2.3 Konsep Penelitian ... 21

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

3.1 Paradigma Penelitian ... 25

(2)

xiii

3.3 Lokasi Penelitian ... 30

3.4 Jenis dan Sumber Data ... 31

3.5 Instrumen Penelitian ... 33

3.6 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 34

3.6.1 Wawancara ... 34

3.6.2 Observasi ... 35

3.6.3 Studi dokumentasi ... 36

3.7 Metode dan Teknik Analisis Data ... 36

3.8 Uji Validitas Data Penelitian ... 38

3.9 Tahapan Penelitian ... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 42

4.1 Profil Museum Semarajaya ... 42

4.2 Profil Informan Penelitian ... 46

4.3 Hasil Penelitian ... 53

4.3.1 Pemahaman heritage assets dalam perspektif informan ... 54

4.3.2 Perspektif pengakuan heritage assets Museum Semarajaya ... 56

4.3.3 Perspektif penilaian aset bersejarah Museum Semarajaya ... 62

4.3.4 Perspektif pengungkapan heritage assets Museum Semarajaya dalam laporan keuangan ... 66

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian ... 70

4.4.1 Pemahaman heritage assets dalam perspektif informan ... 70

4.4.2 Perspektif pengakuan heritage assets Museum Semarajaya ... 72

4.4.3 Perspektif penilaian aset bersejarah Museum Semarajaya ... 74

4.4.4 Perspektif pengungkapan heritage assets Museum Semarajaya dalam laporan keuangan ... 77

4.5 Rangkuman Penelitian ... 82

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 86

5.1 Simpulan ... 86

5.2 Implikasi Penelitian ... 88

5.3 Saran ... 90

DAFTAR REFERENSI ... 91

(3)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1.1 Akun yang Disajikan Tidak Sesuai SAP ... 7

Gambar 2.1 Konsep Penelitian ... 22

Gambar 3.1 Model Analisis Data ... 36

Gambar 4.1 Bangunan Museum Semarajaya ... 41

Gambar 4.2 Koleksi Museum Semarajaya ... 42

Gambar 4.3 Koleksi Lukisan dan Patung Emilio Ambron ... 43

Gambar 4.4 Informan Bapak Cok Nala ... 45

Gambar 4.5 Informan Bapak Kadek ... 46

Gambar 4.6 Informan Bapak Bapak Gus De ... 47

Gambar 4.7 Informan Ibu Gek Tris ... 48

Gambar 4.8 Informan Ibu Gusti Ayu ... 49

Gambar 4.9 Informan Bapak Gung Iryana ... 51

Gambar 4.10 Suasana Ruang Kerja Bidang Akuntansi ... 52

Gambar 4.11 Suasana Ruang Kerja Museum ... 55

Gambar 4.12 Contoh Benda Koleksi Sumbangan dan Pembelian ... 57 Gambar 4.13 Perlakuan Akuntansi Aset Bersejarah Museum Semarajaya . 80

(4)

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu ... 93

Tabel 2.1 Perbedaan Pendapat tentang Aset Bersejarah ... 98

Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 100

Tabel 4.1 Data Inventaris Koleksi Museum Semarajaya ... 101

Tabel 4.2 Neraca Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab.Klungkung ... 77

Tabel 4.3 Potongan CaLK Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab.Klungkung ... 78

(5)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Tabel Penelitian Terdahulu ... 93

Lampiran 2 Tabel Perbedaan Pendapat tentang Aset Bersejarah ... 98

Lampiran 3 Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 100

Lampiran 4 Tabel Data Inventaris Koleksi Museum Semarajaya ... 101

Lampiran 5a Pengkodean Analisis Data ... 111

Lampiran 5 b Manuskrip Wawancara ... 112

Lampiran 6 Panduan Wawancara ... 139

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

MENGUAK PERLAKUAN AKUNTANSI ASET BERSEJARAH (STUDI KASUS PENGELOLAAN MUSEUM SEMARAJAYA

KLUNGKUNG)

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebijakan akuntansi yang tidak mengharuskan pemerintah menyajikan aset bersejarah di laporan posisi keuangan, namun aset tersebut harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK). Penelitian bertujuan untuk mengeksplorasi pemahaman para pelaku dari pengalamannya dalam pengelolaan aset bersejarah di Museum Semarajaya. Penelitian mengkaji perlakuan akuntansi dalam konteks pengakuan, penilaian, dan pengungkapan heritage assets.

Dalam rangka mengeksplorasi pemahaman perlakuan akuntansi aset bersejarah dari perspektif pelaku, studi kasus digunakan sebagai pendekatan dengan paradigma intepretif, dimana data yang didapatkan sesuai dengan realita atau fenomena yang terjadi di lapangan. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dan sesuai dengan pokok permasalahan, peneliti menggunakan metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data disajikan dalam bentuk narasi yang berupa kutipan langsung dari para informan dalam penelitian. Data yang diperoleh dari interpretasi informan kemudian dianalisis secara mendalam.

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa informan memahami definisi

heritage assets dari sudut pandang kriteria aset tetap dan pengertian cagar budaya.

Temuan lainnya bahwa heritage assets yang dapat diakui dalam neraca adalah yang diperoleh pada periode berjalan. Penilaian digunakan dengan harga perolehan yang dianggap sebagai atribut yang relevan. Namun, praktik akuntansi

heritage assets dalam pelaporan keuangan belum sesuai dengan standar akuntansi

yang ditetapkan oleh pemerintah. Keberadaan aset bersejarah museum yang tidak bisa teridentifikasi nilainya belum disajikan dan diungkapkan dalam CaLK.

Kata kunci: Akuntansi, aset bersejarah, pengakuan, penilaian, pengungkapan, laporan keuangan, CaLK.

(9)

ix ABSTRACT

REVEALING THE ACCOUNTING TREATMENT OF HERITAGE ASSETS

(CASE STUDY AT MUSEUM SEMARAJAYA KLUNGKUNG)

This research is motivated by the accounting policies that the government do not require presents heritage assets in the balance sheet, however, the asset should be disclosed in the Notes to Financial Statements. The study aims to explore the understanding of the actors from their experience directly involved in the management of heritage assets in the Museum Semarajaya. The study evaluated the accounting treatment in the context of the recognition, assessment and disclosure of heritage assets.

In order to explore the understanding of the accounting treament from the perspective of the informant, is used as a case study approach with intepretif paradigm, where data obtained in accordance with the facts or phenomena that occur in the field. To obtain the required data, researchers used data collection methods that complement each other such as interview, documentation and observation. Data is presented in narrative form of direct quotes from informants in the study. Data obtained from the interpretation of the informant then analyzed in depth.

Results of the study indicate that the informant understands the definition of heritage assets from viewpoint of the fixed assets and cultural heritage. Other findings that heritage assets that can be recognized in the balance sheet was obtained in the current period. Assessment used with an historical cost which is considered as the relevant attributes. However, the accounting practices of heritage assets in financial reporting is not in accordance with the accounting standards set by the government. The existence of the heritage assets that can not be identified value has not been presented and disclosed in the Notes to Financial Statements.

Keywords: Heritage assets, recognition, assessment, disclosure, financial statements.

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lahirnya konsep New Public Management (NPM) telah mendorong reformasi di sektor publik. Entitas sektor publik dituntut untuk menjadi lebih bertanggung jawab terhadap stakeholder, seiring dengan tuntutan untuk meningkatkan pelaporan keuangan menjadi lebih informatif (Aversano dan Ferrone, 2012). Pergeseran menuju NPM ini telah merubah praktik akuntansi sektor publik melalui pengadopsian akuntansi berbasis akrual. Salah satu implikasi dari transisi akuntansi akrual adalah entitas sektor publik diwajibkan melaporkan kepada stakeholder model pengungkapan nilai-nilai ekonomi untuk semua aset agar tercapai tujuan transparansi dan akuntabilitas (Ouda, 2014).

Transisi basis akuntansi menjadi akuntansi akrual di Indonesia ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) berbasis akrual. Transisi ini dipandang sebagai langkah menuju pelaporan keuangan pemerintah yang lebih baik. Pelaporan keuangan yang merupakan produk akhir akuntansi dianggap sebagai media untuk melaksanakan kewajiban akuntabilitas pemerintah kepada pihak-pihak yang berkepentingan (Basnan et al., 2015).

Berdasarkan pengalaman negara-negara yang telah menerapkan akuntansi berbasis akrual, pergeseran tersebut membawa berbagai tantangan, di antaranya adalah tantangan yang berkaitan dengan akuntansi untuk aset publik,

(11)

2

seperti aset bersejarah. Hines (1988) menyatakan bahwa akuntansi untuk aset dalam beberapa hal terlihat memiliki kekurangan, mengingat sifat alamiah yang dimiliki oleh masing-masing aset, termasuk aset bersejarah. Aset bersejarah merupakan salah satu isu yang masih menjadi perdebatan berkaitan dengan perlakuan akuntansi untuk aset tersebut. Masalah utama perdebatan adalah apakah item dengan peninggalan sejarah penting harus diakui sebagai aset, atau harus diakui berbeda, sehingga memerlukan perlakuan khusus yang berpengaruh pada pengambilan keputusan dan alokasi sumber daya (Hooper et al., 2005).

Barton (2000) berpendapat bahwa aset bersejarah tidak memenuhi konsep aset karena sifat dasarnya sebagai barang publik (public goods), yaitu dimanfaatkan untuk kepentingan publik dan tidak untuk dijual. Aset bersejarah tidak dipertahankan untuk menghasilkan pendapatan, tetapi untuk tujuan lain seperti budaya, pendidikan, rekreasi dan tujuan masyarakat lainnya. Oleh karena itu, aset bersejarah harus diperlakukan terpisah dari aset operasional pemerintah. Carnegie dan Wolnizer (1999) juga sependapat bahwa aset bersejarah tidak harus dimasukkan dalam laporan posisi keuangan pemerintah. Atribut-atribut pada aset bersejarah yang mengandung unsur-unsur seperti seni, budaya, dan sejarah tidak dapat diukur dalam istilah moneter. Carnegie dan Wolnizer (1999) berpandangan akan lebih tepat untuk mengklasifikasikan aset bersejarah sebagai kewajiban, atau fasilitas sehingga terpisah dari aset.

Namun berbeda dengan pendapat Barton (2000), Carnegie dan Wolnizer (1999), beberapa peneliti mendukung pengakuan benda peninggalan sejarah sebagai aset, diantaranya Rowles et al. (1998) dan Smith (2007). Menurut Rowles

(12)

3

et al. (1998), terlepas dari masalah pengukuran dan penilaian, semua aset

pemerintah termasuk aset bersejarah harus dilaporkan dalam laporan posisi keuangan sebagai informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan pengukuran kinerja. Sementara itu, Smith (2007) berpendapat bahwa organisasi sektor publik wajib melaporkan dan memelihara aset publik seperti aset bersejarah, sehingga stakeholder akan mendapatkan gambaran nilai-nilai keuangan dari aset dan posisi keuangan pemerintah secara keseluruhan.

Di negara-negara yang telah menerapkan akuntansi berbasis akrual, perlakuan akuntansi untuk aset bersejarah adalah tergantung pada karakteristik aset yang didefinisikan dan pertimbangan negara-negara yang bersangkutan. Perlakuan akuntansi yang wajar untuk aset dengan karakteristik unik dan khusus seperti aset bersejarah dapat memberikan informasi yang baik tentang pengelolaan aset pemerintah. Selain itu juga membantu memperbaiki manajemen aset termasuk pemeliharaan aset, penggantian atau investasi, dan selanjutnya dapat memberikan gambaran yang lebih jelas posisi keuangan pemerintah (Grubisic et al., 2009; PwC, 2013).

Berdasarkan dari pernyataan kebijakan akuntansi beberapa negara menjelaskan bahwa aset bersejarah (heritage assets) disajikan dalam laporan posisi keuangan dengan pengungkapan lengkap (full disclosure). Seperti yang diatur dalam standar berikut:

a) Statement of Federal Financial Accounting Standards No.29 - Heritage

Assets and Stewardship Land oleh Federal Accounting Standards Advisory

(13)

4

Entities with heritage assets should reference a note on the balance

sheet that discloses information about heritage assets, but no asset dollar

amount should be shown.” (paragraf 25)

b) AASB No. 116 - Property, Plant and Equipment oleh Australian Accounting

Standards Board (Australia), menyatakan:

“An item of property, plant and equipment that qualifies for recognition

as an asset shall be measured at its cost.” (paragraf 15)

“Notwithstanding paragraph 15, in respect of not-for-profit entities, where an asset is acquired at no cost, or for a nominal cost, the cost is its

fair value as at the date of acquisition.” (paragraf 15.1)

”The financial statements shall disclose, for each class of property, plant

and equipment.” (paragraf 73)

c) Financial Reporting Standard No. 30 – Heritage Assets oleh UK Accounting

Standards Board (Inggris), menyatakan:

“An entity should report heritage assets as tangible fixed assets and recognise and measure these assets in accordance with FRS 15 ‘Tangible

fixed assets’,…” (paragraf 18)

“Where information is available on the cost or value of heritage assets: (i) they should be presented in the balance sheet separately from other tangible fixed assets;

(ii) the balance sheet or the notes to the accounts should identify separately those classes of heritage assets being reported at cost and

those at valuation;...” (paragraf 19)

Beberapa standar di atas menunjukan bahwa standar telah mengatur bagaimana informasi khususnya aset bersejarah disajikan dalam laporan keuangan. Jika dibandingkan dengan standar akuntansi pemerintahan di Indonesia, kebijakan akuntansi tidak mengharuskan pemerintah menyajikan aset bersejarah di laporan posisi keuangan, namun aset tersebut harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK), seperti yang tercantum dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) No.07 tentang Akuntansi Aset Tetap.

(14)

5

Penelitian yang berfokus pada perlakuan akuntansi aset bersejarah telah dilakukan di beberapa negara, diantaranya seperti Australia, Inggris, Selandia Baru dan Italia. Penelitian Barton (2000) menganalisis perlakuan akuntansi untuk fasilitas umum bernilai sejarah bagi pemerintah di Australia. Barton (2000) berpendapat bahwa fasilitas umum bernilai sejarah sejatinya tidak diterapkan prinsip akuntansi komersial karena tujuan utamanya dari segi sosial bukan keuangan. Penelitian lainnya oleh Biondi dan Lapsley (2014) menginvestigasi ketidakmampuan organisasi sektor publik di Inggris melakukan transparansi pelaporan keuangan sebagai akibat dari permasalahan pengakuan dan valuasi

heritage assets. Sementara itu, Navrud et al. (2002) meneliti mengenai penerapan

teknik penilaian kepada bangunan bersejarah, monumen dan artefak di delapan negara berbeda. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi metode, pengembangan estimasi nilai serta aplikasinya terhadap benda sejarah dan budaya sesuai dengan kebijakan di masing-masing negara.

Ringkasan penelitian-penelitian yang berkaitan dengan aset bersejarah ditunjukkan pada Tabel 1.1 (Lampiran 1). Riset-riset tersebut cenderung menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif dalam mengkaji perlakuan akuntansi aset bersejarah. Misalnya penelitian Hooper et al. (2005), yang bertujuan untuk menguji argumen konseptual akuntansi aset bersejarah dari laporan tahunan museum di Selandia Baru. Penelitian dilakukan dengan wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian Hooper et al. (2005), menyimpulkan bahwa Institute of Chartered Accountants of New Zealand (ICANZ) kesulitan menetapkan satu ukuran cocok (one-size-fits-all) aplikasi

(15)

6

standar akuntansi untuk dapat mempertanggungjawabkan aset bersejarah dengan cara yang sama dengan aset yang lainnya. Sementara itu, penelitian Aversano dan Johan (2012), menyelidiki sejauh mana International Public Sector Accounting

Standards (IPSAS) No.17 merespon kebutuhan pengguna tentang aset bersejarah

pemerintah di Italia dengan melakukan survei. Penelitian Aversano dan Johan (2012) menghasilkan kesimpulan bahwa IPSAS No.17 dinilai tidak cukup memberikan aturan akuntansi untuk pengakuan, penilaian dan pengungkapan aset bersejarah. Sebuah pengembangan standar akuntansi tertentu untuk aset bersejarah dipandang dapat menjadi solusi yang baik.

Semua penelitian yang telah disebutkan sebelumnya pada hakikatnya merupakan upaya menemukan perlakuan akuntansi yang tepat untuk aset bersejarah. Nilai ekonomi, budaya, seni dan sejarah saling berkaitan. Semakin tinggi nilai budaya, seni dan sejarahnya semakin tinggi pula tuntutan upaya pelestarian dan konservasinya. Oleh sebab itu, peranan akuntansi diperlukan untuk mengetahui aspek ekonomi dari aset bersejarah. Hasil riset-riset tersebut dapat membantu menginformasikan perlakuan akuntansi heritage assets yang sesuai, sehingga memberikan kontribusi dalam merumuskan kebijakan perlakuan akuntansi heritage assets di masa depan. Aset bersejarah yang dikelola oleh entitas sektor publik sebagai amanat untuk kepentingan masyarakat harus dipertanggungjawabkan. Akhirnya, informasi akuntansi yang perlu dirancang oleh manajemen menjadi tantangan dalam praktik akuntansi untuk mencapai transparansi dan akuntabilitas pelaporan keuangan entitas sektor publik (Biondi dan Lapsley, 2014).

(16)

7

Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I Tahun 2016, sejumlah 221 dari 533 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) tahun 2015 masih terdapat kelemahan penyajian sesuai dengan SAP. Kelemahan tersebut terbesar terjadi pada akun Aset Tetap yaitu 30% dari keseluruhan akun-akun yang bermasalah (Gambar 1.1). Permasalahan penyajian aset tetap dalam laporan keuangan meliputi pencatatan aset tetap yang belum didukung dengan daftar aset yang valid dan informatif, aset tetap belum didukung pengamanan fisik yang memadai, dan pencatatan yang tidak didukung dengan perincian informasi yang memadai lainnya, seperti perincian jenis aset, masa manfaat, lokasi aset, dan lain-lain.

Sumber : www.bpk.go.id, IHPS I Tahun 2016 Gambar 1.1

Akun yang Disajikan Tidak Sesuai SAP

Untuk mendapatkan gambaran realitas permasalahan tersebut, maka penelitian ini difokuskan pada perlakuan akuntansi aset bersejarah di Kabupaten Klungkung baik dari segi pengakuan, penilaian, dan pengungkapan dalam laporan keuangan pemerintah daerah dihubungkan dengan SAP. Untuk setting penelitian

(17)

8

dipilih Museum Semarajaya, karena dipandang dapat merepresentasikan bentuk dari pengelolaan aset bersejarah daerah di Kabupaten Klungkung. Benda-benda yang ditampilkan di Museum Semarajaya merupakan hasil karya seni, budaya dan sejarah masyarakat Klungkung. Selain itu, Museum Semarajaya juga memiliki karakteristik yang unik karena berdiri pada bangunan bersejarah peninggalan Belanda. Mengetahui pengelolaan aset bersejarah tersebut dari sisi akuntansi akan memberikan gambaran bagaimana pemerintah daerah menjaga kelestarian

heritage assets dari aspek ekonomi. Oleh sebab itu, penelitian ini diharapkan

dapat menjadi bahan masukan dalam menentukan kebijakan akuntansi aset bersejarah pada pemerintah daerah.

Mundarjito (2006) mengungkapkan kecenderungan mengutamakan aspek ideologis dan akademis telah menyebabkan aspek ekonomis dalam pelestarian budaya belum mendapat perhatian secara wajar. Pengelolaan aset bersejarah merupakan salah satu kewajiban dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam upaya memperkokoh budaya bangsa. Konsekuensinya, mengetahui bagaimana aset tersebut diakui sebagai aset bersejarah dan bagaimana perlakuan akuntansi terhadap aset tersebut sangat diperlukan.

Guna mengungkap realitas yang terjadi terkait perlakuan akuntansi aset bersejarah di Museum Semarajaya, maka penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Pendekatan studi kasus dinilai mampu mengeksplorasi pemahaman para pelaku yang terlibat langsung dalam perlakuan akuntansi aset bersejarah museum, sehingga permasalahan penelitian dapat terjawab dan tujuan penelitian dapat dicapai. Upaya yang dilakukan peneliti adalah dengan penggalian informasi

(18)

9

secara mendalam dari informan kunci melalui pengalaman yang dimiliki selama mengelola aset bersejarah di Museum Semarajaya.

1.2 Rumusan Pertanyaan Penelitian

Munculnya pandangan yang berbeda-beda dalam perlakuan akuntansi aset bersejarah menyebabkan organisasi sektor publik sebagai pihak pengelola mengalami kesulitan dalam menentukan perlakuan akuntansi yang tepat untuk aset tersebut (Aversano dan Christiaens, 2012). Walaupun pada akhirnya standar akuntansi pemerintahan sudah ditetapkan seiring dengan dikeluarkannya PP No.71 Tahun 2010, namun standar ini dirasa hanya bersifat normatif. Artinya standar yang telah ditetapkan belum tentu sesuai dengan praktik yang terjadi di lapangan. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah, bagaimanakah persepsi pihak pengelola terkait perlakuan akuntansi aset bersejarah di Museum Semarajaya?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persepsi pihak pengelola terkait akuntansi heritage assets berdasarkan realitas yang terjadi di lapangan. Sehubungan dengan itu, maka tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengungkap pemahaman para pelaku yang terlibat dalam perlakuan akuntansi aset bersejarah di Museum Semarajaya.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas akuntansi, serta diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai berikut:

(19)

10

1) Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dalam penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama pada bidang akuntansi yang mana hasilnya diharapkan dapat menjelaskan teori stakeholder dalam hubungan antara entitas sektor publik dengan pemangku kepentingan dalam pengelolaan

heritage assets.

2) Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan membuka celah potensi pengembangan standar akuntansi pemerintahan untuk aset bersejarah. Standar Akuntansi Pemerintahan saat ini belum mengatur secara spesifik bagaimana perlakuan akuntansi aset bersejarah. Oleh sebab itu, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai kajian dalam pengembangan standar akuntansi aset bersejarah baik dari segi pengakuan, penilaian, dan pengungkapan dalam laporan keuangan pemerintah. 3) Manfaat Kebijakan

Penelitian ini membahas bagaimana persepsi pihak pengelola museum terkait perlakuan akuntansi aset bersejarah, pengungkapan dan penyajian dalam laporan keuangan. Melalui penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi pihak pemerintah daerah dalam rangka memberikan informasi, sehingga dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan akuntansi aset bersejarah.

Referensi

Dokumen terkait

Pencatatan hasil imunisasi untuk bayi (BCG, DPT, Polio, Campak, Hepatitis B) dibuat oleh petugas imunisasi di buku kuning/kohort bayi. Satu buku biasanya untuk 1 desa.

Tipe sarung tangan yang dianjurkan belum pernah diuji untuk digunakan dengan produk ini. Informasi ini berdasarkan pada

DESKRIPSI UNIT : Unit kompetensi ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang dibutuhkan dalam merekomendasikan kebutuhan benih pada budidaya tanaman

Pemeriksaan kesehatan dilakukan pada ibu dan anak yang sakit dan sehat yang berkunjung ke Puskesmas, Pustu dan Posyandu.. Posyandu diadakan satu kali sebulan

Selanjutnya kita akan mencoba untuk mengubah warna dari layer vegetasi, sekaligus menghilangkan garis-garis diantara jenis vegetasi yang berbeda sehingga fitur yang ada pada peta

Adanya gula yang terikat pada flavonoida (bentuk yang umum ditemukan) cenderung menyebabkan flavonoida lebih mudah larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut yang

Hasil simulasi penurunan subsidi ekspor di negara maju berdasarkan usulan yang diajukan KN-20, AS dan UE serta KTM Hongkong menunjukkan bahwa pemotongan subsidi ekspor

Melalui perhitungan korelasi antara data hasil interpolasi dengan data pengukuran langsung, maka didapatkan bahwa metoda interpolasi spline memiliki tingkat presisi