• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V KESIMPULAN DAN SARAN"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

WILLY DESTIANDI SUKMANA, 2015

PENINGKATAN ECOLITERACY SISWA DALAM PENGELOLAAN HALAMAN SEKOLAH MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT TASARANG (TANAM SAYUR PEKARANGAN) PADA PEMBELAJARAN IPS (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-2 SMP Negeri 16 Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini peneliti akan memberikan kesimpulan selama kegiatan penelitian tindakan kelas, pada kelas VII-2 SMPN 16 Bandung. Selain itu dalam bab ini peneliti juga memberikan saran bagi pihak sekolah, guru, dan siswa.

A.Kesimpulan

Penelitian yang dilakukan di kelas VII-2 SMPN 16 Bandung, dalam peningkatan ecoliteracy siswa dalam pengelolaan halaman sekolah melalui model pembelajaran project TASARANG (tanam sayur pekarangan) pada pembelajaran IPS dapat disimpulkan sebagai berikut

Pertama, sebelum melaksanakan tindakan penelitian, untuk meningkatkan

ecoliteracy siswa dalam pengelolaan halaman sekolah melalui project

TASARANG (tanam sayur pekarangan) pada pembelajaran IPS dikelas VII-2 SMPN 16 Bandung. Peneliti melakukan perencanaan terlebih dahulu bersama guru mitra sebelum memulai pembelajaran. Hal yang pertama dilakukan peneliti dan guru mitra yaitu menentukan SK/KD yang sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penentuan SK/KD peneliti bersama guru mitra memilih SK/KD yang sesuai dengan pemahaman ecoliteracy dalam pengelolaan halaman sekolah. Setelah penentuan SK/KD kemudian peneliti mulai menyusun RPP, agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan tujuan penelitian dan penerapan model pembelajaran project TASARANG dapat berjalan dengan baik. Setelah RPP tersusun dengan baik, kemudian hal selanjutnya yang dilakukan peneliti dan guru mitra adalah menyiapkan materi pembelajaran, hal ini dilakukan agar materi yang disampaikan kepada siswa sesuai dengan tujuan penelitian, selain itu agar siswa bisa memahami materi dengan baik. Kemudian perencanaan yang dilakukan dalam melaksanakan project TASARANG (tanam sayur pekarangan) yakni merancang langkah-langkah selama kegiatan project TASARANG, hal ini dilakukan agar pelaksanaan project TASARANG bisa berjalan dengan baik dan dapat meningkat ecoliteracy siswa dalam pengelolaan halaman sekolah. Selain itu

(2)

WILLY DESTIANDI SUKMANA, 2015

PENINGKATAN ECOLITERACY SISWA DALAM PENGELOLAAN HALAMAN SEKOLAH MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT TASARANG (TANAM SAYUR PEKARANGAN) PADA PEMBELAJARAN IPS (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-2 SMP Negeri 16 Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

peneliti beserta guru mitra menyiapkan media pembelajaran sebagai penunjang dalam pelaksanaan model pembelajaran project TASARANG, hal ini dilakukan agar siswa dapat memahami dengan mudah proses pelaksanaan project

TASARANG.

Setelah peneliti melakukan perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran project TASARANG, kemudian peneliti menyiapkan format penilaian yang berupa lembar observasi peningkatan ecoliteracy siswa dalam pengelolaan halaman sekolah melalui model pembelajaran project TASARANG

(tanam sayur pekarangan). Dalam lembar observasi ini akan menunjukan peningkatan sikap siswa dalam memahami ecoliteracy dalam pengelolaan halaman sekolah selama kegiatan project TASARANG berlangsung. Hal ini dilakukan agar peningkatan ecoliteracy siswa dalam pengelolaan halaman sekolah dapat terlihat setelah diterapkanya model pembelajaran project TASARANG. Dalam penilaian lembar observasi proses pengisian nilai diisi oleh guru mitra yang bertindak sebagai observer .

Kedua, langkah-langkah yang dilakukan dalam menerapkan model

pembelajaran project TASARANG untuk peningkatan ecoliteracy siswa dalam pengelolaan halaman sekolah di kelas VII-2 SMPN 16 Bandung diawali dengan memberikan pemahaman tentang ecoliteracy yang dihubungkan dengan materi dalam pembelajaran IPS. Pada pemberian materi ecoliteracy yang dihubungkan dengan materi Atmosfer siswa masih nampak kebingungan karena siswa masih belum mengenal dengan pemahaman ecoliteracy dan dalam penyampaian yang diberikanpun masih kurang bisa dipahami siswa. Dari masih kurangnya pemahaman siswa tentang ecoliteracy dalam pengelolaan halaman sekolah ini nampak terlihat dalam pelaksanaan project TASARANG yang meliputi penanaman, perawatan, dan pertanggung jawaban project ,sikap yang ditunjukan siswa masih rendah. Selain itu dari hasil LKS dan angket masih menunjukan hasil yang masih rendah pula. Agar lebih mudah memahami tentang ecoliteracy dalam pengelolaan halaman sekolah kemudian guru menjelaskan materi tentang penggunaan lahan yang dihubungkan dengan ecoliteracy dalam pengelolaan halaman sekolah. Dalam pemberian materi ini peneliti menghubungkan dengan

(3)

WILLY DESTIANDI SUKMANA, 2015

PENINGKATAN ECOLITERACY SISWA DALAM PENGELOLAAN HALAMAN SEKOLAH MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT TASARANG (TANAM SAYUR PEKARANGAN) PADA PEMBELAJARAN IPS (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-2 SMP Negeri 16 Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

realita yang terjadi dimasyarakat terhadap kerusakan lahan hijau yang beralih fungsi menjadi sebuah bangunan. Dari pemberian materi ini mebuat siswa nampak antusias dan aktif berpendapat mengenai permasalahan lingkungan yang terjadi disekitar lingkungan siswa. Pada pelaksanaan project TASARANG berjalan dengan baik dan sikap yang ditunjukan siswapun sudah menunjukan sikap yang sesuai dengan indikator ecoliteracy dan hasil LKS serta angket mulai meperlihatkan peningkatan yang cukup signifikan. Kemudian pada materi pola kegiatan ekonomi sikap ecoliteracy siswa mulai nampak sangat terlihat, bahwa siswa sangat kritis dalam menanggapi permasalah lingkungan yang terjadi akibat pola perilaku konsumtif manusia. Dari hal ini menunjukan bahwa sikap

ecoliteracy siswa yang ditunjukan sudah baik dan pada pelaksanaan project TASARANG siswa sudah menunjukan sikap sesuai dengan indikator ecoliteracy.

Ketiga, refleksi yang dilakukan dalam peningkatan ecoliteracy siswa dalam pengelolaan halaman sekolah melalui project TASARANG (tanam sayur pekarangan) pada pembelajaran IPS dikelas VII-2 SMPN 16 Bandung. Dalam penelitian yang dilakukan dalam meningkatkan ecoliteracy siswa dalam pengelolaan halaman sekolah banyak menemui kendala yang menghampat. Kendala yang muncul diakibatkan oleh guru yang masih kurang menyampaikan materi dengan baik, siswa yang masih kurang antusias, dan siswa yang masih kurang memahami makna ecolieteracy. Akan tetapi dengan selalu melakukan perbaikan dan melakukan diskusi dengan guru mitra serta wawancara dengan siswa, maka kendala-kendala yang dihadapi dalam penelitian ini dapat teratasi. Selain itu guru juga selalu memberikan motivasi secara terus menerus untuk membangkitkan sikap ecoliteracy yang ada dalam diri siswa.

Keempat, peningkatan ecoliteracy dalam pengelolaan halaman sekolah melalui model pembelajaran project TASARANG (tanam sayur pekarangan) pada setiap siklusnya nampak menunjukan peningkatan pada setiap siklusnya. Pada siklus kesatu nampak hasil yang ditunjukan masih rendah akan tetapi pada hasil siklus kedua menunjukan peningkatan yang signifikan dan perilaku siswa sudah menunjukan sikap yang sesuai dari indikator ecoliteracy. Sedangkan pada siklus ketiga menunjukan hasil peningkatan yang tidak begitu signifikan, akan tetapi

(4)

WILLY DESTIANDI SUKMANA, 2015

PENINGKATAN ECOLITERACY SISWA DALAM PENGELOLAAN HALAMAN SEKOLAH MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT TASARANG (TANAM SAYUR PEKARANGAN) PADA PEMBELAJARAN IPS (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-2 SMP Negeri 16 Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

perilaku yang ditunjukan siswa sudah menunjukan hasil yang optimal. Dari hal ini dapat diketahui bahwa model pembelajaran berbasis project TASARANG dapat meningkatkan ecoliteracy siswa dalam pengelolaan halaman sekolah.

B.Saran

Berdasarkan pengalaman selama pelaksanaan penelitian dalam peningkatan

ecoliteracy siswa dalam pengelolaan halaman sekolah melalui model

pembelajaran project TASARANG (tanam sayur pekarangan) pada pembelajaran IPS di kelas VII-2 SMPN 16 Bandung, ada beberapa saran bagi beberapa pihak yang terkait dengan penelitian, diantaranya sebagai berikut

Bagi pihak sekolah, peneliti berharap agar sikap ecoliteracy harus selalu diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah, karena sikap kepedulian sangatlah penting dimilki oleh masing-masing individu terlebih lagi sekolah yang merupakan sarana dalam pemberian pembelajaran kepada siswa. Selain itu dengan menerapkan sikap ecoliteracy kepada siswa dapat menggembangkan program adiwiyata yang berjalan disekolah.

Bagi pihak guru, melalui penelitian ini peneliti berharap bahwa pembelajaran IPS bukanlah sebuah pembelajaran yang selalu identik dengan hafalan dan sejarah, tetapi pembelajaran IPS adalah pembelajaran yang kaya akan nilai-nilai dalam kehidupan, karena pada dasarnya kajian dalam pembelajaran IPS adalah kehidupan manusia itu sendiri, sehingga sangat penting apabila dalam pelajaran IPS memberikan pembelajaran tentang kepedulian lingkungan seperti ecoliteracy

karena pada akhir-akhir ini kerusakan lingkungan terus terjadi akibat ulah dari perilaku manusia. Dari pembelajaran IPS yang seperti ini maka tujuan dari pembelajaran IPS dapat tercapai yaitu membuat manusia yang dewasa yang mencapai keberhasilan dalam kehidupan bermasyarakat.

Bagi pihak siswa, dengan adanya penelitian ini siswa dapat lebih peduli kepada lingkungan dan berperilaku sesuai dengan ecoliteracy. Selain itu dari penelitian ini peneliti berharap siswa dapat menjadi panutan orang lain dalam berprilaku peduli terhadap lingkungan serta dapat memecahkan berbagai permasalahan lingkungan yang terjadi dimasayarakat.

(5)

WILLY DESTIANDI SUKMANA, 2015

PENINGKATAN ECOLITERACY SISWA DALAM PENGELOLAAN HALAMAN SEKOLAH MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT TASARANG (TANAM SAYUR PEKARANGAN) PADA PEMBELAJARAN IPS (Penelitian Tindakan Kelas di Kelas VII-2 SMP Negeri 16 Bandung)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Bagi penelitian selanjutnya, peneliti berharap akan ada penelitian yang melakukan penelitian untuk meningkatkan ecoliteracy siswa, karena permasalahan lingkungan merupakan permasalahan yang semakin hari semakin parah karena banyak orang mulai tidak memperdulikan lingkunganya. Selain itu saran lain yang ingin diberikan peneliti adalah pada saat melakukan pembelajaran untuk peningkatan ecoliteracy memang perlu perencanaan yang matang dan dalam pemberian pembelajaranya harus dilakukan secara perlahan, karena merubah sikap itu merupakan hal yang sangat sulit sehingga perlu waktu yang lama dan perlahan.

Demikian kesimpulan dan saran yang dapat peneliti sampaikan selama kegiatan penelitian dalam meningkatkan ecoliteracy siswa dalam pengelolaan halaman sekolah melalui model pembelajaran project TASARANG (tanam sayur pekarangan) pada pembelajaran IPS di kelas VII-2 SMPN 16 Bandung. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan menjadi pembelajaran yang bagus dalam peningkatankualitas pendidikan di Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

Laporan Akhir ini berjudul “Aplikasi Sensor Load Cell Sebagai Pengukur Serpihan Cangkir Plastik Air Mineral Untuk Menonaktifkan Motor AC Pada Rancang Bangun Mesin

Banyak perusahaan saat ini yang menggunakan teknologi informasi untuk mengembangkan sistem lintas fungsi perusahaan yang terintegrasi, yang melintasi berbagai batas

Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah meliputi: mengkritik diri sendiri atau orang lain, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain,

Besar gain antena dipole yang telah dibuat adalah sebesar 2,51 dB dan dengan hasil yang didapat dari uji coba dapat disimpulkan bahwa sistem RF energy harvesting

Jika hasil evaluasi terhadap suatu merek, produk, atau jasa yang dipilih memenuhi atau melampaui ekspektasinya, maka pelanggan tersebut kemungkinan akan menunjukkan

Budidaya Tanaman Kakao dan Penguatan Kelembagaan Petani di Dataran Menengah Palopo. Prosiding Seminar Nasioanal Pengembagan Inovasi Pertanian Lahan Marginal dan

Selain dari staff, kami juga meminta bantuan dari para pengajar LTC untuk menjadi pembawa acara sekaligus juga ada yang menjadi pembuka dalam berdoa dan juga ada

Alasan responden tidak bersedia membayar biaya perbaikan lingkungan adalah (1) kondisi lingkungan yang ada saat ini tidak mempengaruhi kenyamanan responden sehingga