• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Seminar Inovasi Teknologi Pertanian 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Prosiding Seminar Inovasi Teknologi Pertanian 2012"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK PETANI DAN PENDAPATAN USAHATANI KAKAO DI DESA SUROBALI

KABUPATEN KEPAHIANG

Afrizon dan Herlena Bidi Astuti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu

ABSTRAK

Kakao merupakan tanaman perkebunan utama yang diusahakan oleh sebagian besar petani di Desa Surobali kabupaten Kepahiang, teknik budidaya yang sederhana sudah dapat membuat petani mengandalkan usahatani kakao sebagai sumber pendapatan rumah tangga. Data di ambil pada bulan februari-maret 2012 di desa surobali kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara terhadap petani kakao untuk memperoleh informasi dari responden yang dipilih secara acak berjumlah 30 orang dengan menggunakan kuesioner. Penelitian bertujuan untuk melihat karakteristik petani dan menghitung pendapatan serta rasio biaya pendapatan usahatani kakao di desa surobali Kabupaten Kepahiang. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa petani masih mengusahakan perkebunan kakao dengan cara tradisional dan sederhana dengan hasil produksi rata-rata pertahun 845,6 kg ,total biaya yang dikeluarkan oleh petani rata-rata Rp. 3.765.500 pertahun dan pendapatan petani sebesar Rp. 7.989.800 pertahun. Nilai rasio B/C sebesar 2,12 yang artinya usahatani kakao layak untuk menjadi andalan uasahatani perkebunana andalan petani.

Kata kunci : pendapatan. petani, kakao, desa surobali

PENDAHULUAN

Kabupaten Kepahiang merupakan salah satu sentra penghasil kakao di Provinsi Bengkulu. Secara geografis terletak pada 101055’19” sampai dengan 103001’29” bujur timur (BT) dan 02043’07” sampai dengan 03046’48” Lintang Selatan (LS). Luas wilayah Kabupaten Kepahiang adalah 66.500 ha yang terdiri dari 8 Kecamatan dan 120 Kelurahan dan Desa. Sebagian besar wilayah Kabupaten Kepahiang berada pada ketinggian 500-1.000 meter diatas permukaan laut (dpl) dengan jenis tanah kompleks podsolik coklat, padsol dan latosol. Jumlah hari hujan rata-rata pada tahun 2010 adalah 26 hari/bulan dengan jumlah curah hujan 280 mm/bulan. Suhu udara tertinggi di Kabupaten Kepahiang 24,70C dan suhu terendah 20,20C, dengan kelembaban rata-rata 87%/bulan.

Tanaman kakao merupakan salah satu komoditas andalan yang cukup prospektif di Propinsi Bengkulu karena didukung oleh kesesuaian agroekosistim dan kondisi sosial masyarakat petani yang mengusahakannya. Luas areal perkebunan Kakao rakyat di Bengkulu mencapai saat ini seluas 14.363 ha dengan produksi 1.822,60 ton. Dari luasan tersebut 6.040 ha (42,05 %) berada di Kabupaten Kepahiang. Pada tahun 2005 Pemerintah daerah Kabupaten Kepahiang sudah mengembangkan tanaman Kakao sebanyak 4 juta batang untuk petani dengan luas mencapai 2000 ha. Penanaman kakao sudah lama dibudidayakan petani Kepahiang, namun penangan usahatani belum dilakukan secara intensif dan sesuai dengan anjuran dari PUSLIT KOKA sehingga hasil yang didapatkan oleh petani belum maksimal.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat karakteristik dan pendapatan petani perkebunan kakao.

BAHAN DAN METODA

(2)

Data yang di amati meliputi: 1. Identitas responden meliputi :

umur, pendidikan, kepemilikan lahan, dan tanggungan keluarga. 2. Karakteristik usahatani kakao meliputi :

Kepemilikan lahan garapan, dan produktivitas lahan kakao yang dimiliki oleh responden. 3. Pendapatan usahatani kakao yang meliputi :

Biaya produksi (upah tenaga kerja,pupuk,pestisida,), hasil produksi dan harga jual. Untuk mengetahui pendapatan usahatani kakao dihitung dengan persamaan:

∏ = TR – TC TR = Y x PY

Keterangan : ∏ = Pendapatan (Rp/Tahun) TR = Total penerimaan (Rp/Tahun) TC = Total Biaya (Rp/Tahun) Y = produksi (Kg/Tahun) PY = Harga Produksi

4. Rasio biaya pendapatan yang dianalisis dengan rumus : B/C = ∏ /TC

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Petani Kakao a. Identitas responden

Rata-rata umur petani responden adalah 43,73 tahun hal ini menunjukkan bahwa usahatani kakao dilakukan oleh petani pada usia produktif. Pada usia produktif kegiatan usahatani dapat dikerjakan secara optimal dengan curahan tenaga kerja fisik yang tersedia (Nuryanti dan sahara, 2008). Menurut Soekartawi (1988) bahwa makin muda petani biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum mereka ketahui, sehingga mereka berusaha untuk lebih cepat melakukan adopsi inovasi walaupun sebenarnya mereka masih belum berpengalaman dalam soal adopsi inovasi tersebut, begitu pula pendidikan bahwa mereka yang berpendidikan tinggi adalah relatif lebih cepat dalam melaksanakan adopsi teknologi dan sebaliknya mereka yang berpendidikan rendah agak sulit untuk melaksanakan adopsi inovasi dengan cepat.

Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pola pikir dan daya nalar seseorang biasanya seseorang yang mengenyam pendidikan cukup lama akan lebih rasional dalam bertindak dan menjalankan usahanya. pendidikan petani kakao cukup rendah rata-rata 8 tahun artinya rata-rata petani tidak sampai menyelesaikan wajib belajar dari pemerintah yaitu mengenyam pendidikan minimal Sembilan (9) tahun. Jumlah anggota keluarga dominan pada kisaran 3-5 orang yaitu sebanyak 21 petani atau 70 % dari responden. Banyaknya anggota keluarga bisa menjadi tambahan tenaga kerja dalam usahatani.

b. Kepemilikan lahan

Petani responden memiliki berbagai jenis lahan untuk berbagai jenis usaha tani. Semua petani responden (100%) memiliki lahan perkebunan dengan diversifikasi lahan kakao-kopi yang cukup tinggi (93,3%) petani memiliki luasan lahan antara 0,25 – 2 ha dengan rata-rata luasan 1,025 ha; petani yang memiliki lahan perkebunan kopi monokultur (36%); petani yang memiliki lahan tegalan (30%). Sedangkan lahan sawah dengan kepemilikan rata-rata 0,31 ha (26,6%) dimana lahan sawah ini sangat berpengaruh terhadap ketahan pangan dan ketersediaan beras yang merupakan bahan makanan pokok daerah petani responden.

(3)

Produktivitas Kakao

Rata-rata umur tanaman kakao petani responden diatas 5 tahun atau berada pada umur produktif. Bibit yang ditanam oleh petani merupakan klon unggul bantuan Pemerintah Kabupaten Kepahiang, berupa bibit hibrida F1 yang terdiri dari 3 klon yaitu ICS 01, ICS 06, dan ICS 12. Pemeliharaan tanaman kakao yang dilakukan oleh petani di Desa Suro Bali belum optimal sehingga produktivitas juga belum optimal. Produktivitas kakao disajikan pada tabel 1.

Tabel 1. Rata rata produktivitas kakao petani di desa Suro Bali Tahun 2012 (kg/ha/thn)

No Produktivitas No Produktivitas No Produktivitas

1 Panen dilakukan dengan interval 10 - 14 hari secara terus menerus setiap tahunnya. Rata-rata dalam setahun petani melakukan panen selama 8 bulan karena 3 - 4 bulan merupakan bulan kering dan tanaman menunjukan stagnasi pada proses pembungaan dan pembuahan. Hasil ini masih jauh lebih rendah dari potensi produksi tanaman kakao. Pada kondisi optimal dengan kesesuaian lahan dan klon unggul tanaman kakao dapat berproduksi diatas 2 ton/ha/th.

Pendapatan petani kakao

Biaya usahatani terdiri dari biaya tenaga kerja (pemupukan, penyemprotan, pemangkasan, penyiangan, panen dan pengeringan biji ), biaya pembelian pupuk dan pestisida. Pendapatan merupakan nilai keuntungan usahatani petani yang diperoleh dari selisih penerimaan dengan biaya usahatani (Nuryati dan sahara, 2008). Biaya terbanyak yang dikeluarkan oleh petani adalah biaya tenaga kerja sebesar Rp. 3.149.000,- atau 83,62% dari total biaya yang dikeluarkan oleh petani (Tabel 2).

Tabel 2. Rata-rata biaya produksi pertahun usahatani kakao setelah menghasilkan di desa Suro Bali Kepahiang.

2. Biaya pestisida 358.300,-

3. Pembelian pupuk 258.300,-

Total biaya (1+2+3) 3.765.500,- (a)

4. Penerimaan ( Produksixharga) 11.755.200,- (b)

(4)

Harga yang diterima oleh petani berbeda-beda tergantung dengan kualitas biji yang dihasilkan. Kisaran harga adalah Rp 12.000-15.000 banyaknya serangan penyakit terutama hama PBK membuat hasil produksi sangat sedikit dari potensi hasil lebih dari 2 ton perhektar, petani Surobali hanya menghasilkan rata-rata 845,6 kg/hektar selain serangan hama dan penyakit petani juga belum menerapkan teknologi yang tepat dalam usahataninya seperti pemupukan yang hanya dilakukan oleh sebagian kecil petani dan biaya untuk pemupukan cukup rendah yaitu 7,8 % dari total biaya yang dikeluarkan. Rata-rata pendapatan petani dari usahatani kakao adalah sebesar Rp. 7.989.800 jika di hitung B/C ratio dari usahatani kakao didapatkan nilai 2,12 yang artinya usahatani kakao di desa Surobali Kepahiang masih menguntungkan karena masih bisa menjanjikan pendapatan 2,12 kali dari biaya yang dikeluarkan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Usahatani kakao masih dilakukan dengan cara sederhana dan tradisional, pendapatan rata-rata petani Rp. 7.989.716 pertahun dengan B/C 2,12 yang artinya usahatani kakao di desa surobali secara finansial layak untuk di usahakan.

Saran

Masih diperlukan bimbingan dan penyuluhan kepada petani agar penerapan teknologi budidaya kakao bisa lebih baik sehingga hasil yang diterima petani bisa optimal.

DAFTAR PUSTAKA

BPS Prov. Bengkulu. 2009. Provinsi Bengkulu dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. Bengkulu.

Disbun Prov. Bengkulu. 2011. Statistik Perkebunan Provinsi Bengkulu. Dinas Perkebunan Provinsi Bengkulu.

Puslit Koka. 2004. Panduan Lengkap Budi Daya Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Penerbit; Agro Media Pustaka. Jakarta.

Nuryati S dan Sahara dewi. 2008. Analisis Karakteristik Petani dan Pendapatan Usahatani Kakao Di

Sulawesi Tenggara. SOCA 8 :3 halman 318-322.

Gambar

Tabel 1. Rata rata produktivitas kakao petani di desa Suro Bali Tahun 2012 (kg/ha/thn)

Referensi

Dokumen terkait

Setelah dilakukan diseminasi teknologi melalui berbagai media atau Spectrum Diseminasi multi Channel (SDMC) seperti petak percontohan, pertemuan, media cetak, dan

Pengelolaan hara spesifik lokasi atau pemupukan berimbang merupakan alternatif dalam mempertahankan atau meningkatkan produksi beras. Manfaat dan dampak penerapan pupuk

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor produksi yang meliputi luas lahan, pupuk urea, pupuk SP-36, pupuk KCl, tenaga kerja, jenis benih,

Karena zat gizi dan komponen bioaktif yang terkandung dalam ubi jalar, serta produksi ubi jalar yang cukup melimpah, maka ubi jalar berpotensi dikembangkan menjadi pangan

Dari hasil pengamatan di lapangan ditemukan beberapa OPT utama yang menyerang tanaman jeruk RGL, yaitu hama tungau merah, ulat peliang daun, penggerek buah dan lalat buah..

Lebih lanjut Diwyanto dan Priyanti (2009) menyatakan untuk meningkatkan pendapatan peternak upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mengelola hasil ikutan (limbah) ternak menjadi

Sub model ini disusun untuk menganalisis dampak perubahan tataguna lahan terhadap dinamika produksi pakan dalam jangka panjang di Bali. Data-data dan asumsi yang

Selain melakukan praktek budidaya lorong atau tanaman terpadu pada lahan pekarangan, intensifikasi dan kenservasi pada lahan perkebunan, melakukan rehabilitasi