Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau sekitar 17.508 pulau dan panjang pantai kurang lebih 81.000 km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat besar, baik hayati maupun nonhayati. Pesisir merupakan wilayah perbatasan antara daratan dan laut, oleh karena itu wilayah ini dipengaruhi oleh proses-proses yang ada di darat maupun yang ada di laut. Wilayah demikian disebut sebagai ekoton, yaitu daerah transisi yang sangat tajam antara dua atau lebih komunitas (Odum, 1983 dalam Kaswadji, 2001). Sebagai daerah transisi, ekoton dihuni oleh organisme yang berasal dari kedua

komunitas tersebut, yang secara berangsur-angsur menghilang dan diganti oleh spesies lain yang merupakan ciri ekoton, dimana seringkali kelimpahannya lebih besar dari dari komunitas yang mengapitnya.

Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain : pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota perairan, serta sebagai pengatur iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya antara lain : penghasil keperluan rumah tangga, penghasil keperluan industri, dan penghasil bibit. Sebagian manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya dengan mengintervensi ekosistem mangrove. Hal ini dapat dilihat dari adanya alih fungsi lahan (mangrove) menjadi tambak, pemukiman, industri, dan sebagainya maupun penebangan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya.

Propinsi Maluku yang sebagian besar wilayahnya adalah laut dengan luas sekitar

(2)

dikonservasi bagi kelangsungan hidup ekosistem maupun kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

2. Tujuan Praktikum

Praktikum yang dilakukan ini bertujuan untuk :

a. Mengetahui teknik-teknik pengumpulan dan analisa kondisi suatu ekosistem terutama mangrove dalam upaya pelestariannya

b. Melakukan identifikasi faktor-faktor oseanografi perairan dalam hubungan dengan konservasi ekosistem mangrove

3. Waktu dan lokasi praktikum

(3)

II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi hutan mangrove dan ekosistem mangrove

Kata mangrove merupakan kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove (Macnae, 1968). Dalam bahasa Inggris kata mangrove digunakan baik untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut maupun untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Sedangkan dalam bahasa Portugis kata mangrove digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan kata mangal untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut.

Menurut Snedaker (1978), hutan mangrove adalah kelompok spesies tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi substrat anaerob. Seperti halnya direkomendasikan oleh FAO (1982), kata mangrove sebaiknya digunakan baik untuk individu spesies tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah pasang surut. Adapun menurut Aksornkoae (1993), hutan mangrove adalah tumbuhan halofit yang hidup di sepanjang areal pantai yang

dipengaruhi oleh pasang tertinggi sampai daerah mendekati ketinggian rata-rata air laut yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis.

Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan yang terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari 8% (Departemen Kehutanan, 1994 dalam Santoso, 2000).

(4)

berbunga : Avicennie, Sonneratia, Rhyzophora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lummitzera, Laguncularia, Aegiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus (Bengen, 2000).

Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas (pasang surut air laut); dan kedua sebagai individu spesies (Macnae, 1968 dalam Supriharyono, 2000). Supaya tidak rancu, Macnae menggunakan istilah “mangal” apabila berkaitan dengan komunitas hutan dan “mangrove” untuk individu tumbuhan. Hutan mangrove oleh masyarakat sering disebut pula dengan hutan bakau atau hutan payau. Namun menurut Khazali (1998), penyebutan mangrove sebagai bakau nampaknya kurang tepat

karena bakau merupakan salah satu nama kelompok jenis tumbuhan yang ada di mangrove.

Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso, 2000).

Dalam suatu paparan mangrove di suatu daerah tidak harus terdapat semua jenis spesies mangrove (Hutching and Saenger, 1987 dalam Idawaty, 1999). Formasi hutan mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekeringan, energi gelombang, kondisi pasang surut, sedimentasi, mineralogi, efek neotektonik (Jenning and Bird, 1967 dalam Idawaty, 1999). Sedangkan IUCN (1993), menyebutkan bahwa komposisi spesies dan karakteristik hutan mangrove tergantung pada faktor-faktor cuaca, bentuk lahan pesisir, jarak antar pasang surut air laut, ketersediaan air tawar, dan tipe substrat.

2. Daya Adaptasi Mangrove Terhadap Lingkungan

Tumbuhan mangrove mempunyai daya adaptasi yang khas terhadap lingkungan. Bengen (2001), menguraikan adaptasi tersebut dalam bentuk :

(5)

untuk mengambil oksigen dari udara; dan (2) bertipe penyangga/tongkat yang mempunyai lentisel (misalnya Rhyzophora spp.).

2. Adaptasi terhadap kadar garam yang tinggi :

 Memiliki sel-sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan

garam.

 Berdaun kuat dan tebal yang banyak mengandung air untuk mengatur

keseimbangan garam.

 Daunnya memiliki struktur stomata khusus untuk mengurangi penguapan.

3. Adaptasi terhadap substrat yang kurang strabil dan adanya pasang surut, dengan cara mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk

jaringan horisontal yang lebar. Di samping untuk memperkokoh pohon, akar tersebut juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan menahan sedimen.

3. Manfaat Ekosistem Hutan Mangrove

Ekosistem hutan mangrove bermanfaat secara ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis dan ekonomis hutan mangrove adalah (Santoso dan H.W. Arifin, 1998) :

a. Fungsi ekologis :

 pelindung garis pantai dari abrasi,

 mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan,  mencegah intrusi air laut ke daratan,

 tempat berpijah aneka biota laut,

 tempat berlindung dan berkembangbiak berbagai jenis burung, mamalia, reptil,

dan serangga,

 sebagai pengatur iklim mikro.

b. Fungsi ekonomis :

 penghasil keperluan rumah tangga (kayu bakar, arang, bahan bangunan, bahan

makanan, obat-obatan),

 penghasil keperluan industri (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik, penyamak

kulit, pewarna),

(6)

Sedangkan menurut Nienhuis (1989); Hutomo dan Azkab (1987), bahwa adanya interaksi yang timbal balik dan saling mendukung, maka secara ekologis mangrove mempunyai peran yang cukup besar bagi ekosistem pantai tropik. Adapun peran mangrove tersebut adalah sebagai berikut :

a. Produsen primer.

Mangrove memfiksasi sejumlah karbon organik dan sebagian besar memasuki rantai makanan di laut, baik melalui pemangsaan langsung oleh herbivora maupun melalui dekomposisi serasah.

b. Sebagai habitat biota.

Mangrove memberi perlindungan dan tempat penempelan hewan dan tumbuh-tumbuhan.

c. Sebagai pendaur zat hara.

d. Sebagai makanan dan kebutuhan lain, seperti bahan baku .

4. Zonasi Hutan Mangrove

Menurut Bengen (2001), penyebaran dan zonasi hutan mangrove tergantung oleh berbagai faktor lingkungan. Berikut salah satu tipe zonasi hutan mangrore di Indonesia :

 Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering

ditumbuhi oleh Avicennia spp. Pada zona ini biasa berasosiasi Sonneratia spp. yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik.

 Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp.

Di zona ini juga dijumpai Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp.  Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera spp.

 Zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa

ditumbuhi oleh Nypa fruticans, dan beberapa spesies palem lainnya.

5. Faktor penyebab kerusakan eksosistem mangrove

(7)

 Perubahan ekosistem mangrove menjadi lahan pertambakan, pemukiman, dsb.

Peningkatan populasi penduduk berarti peningkatan kebutuhan lahan untuk

perumahan, untuk meningkatkan income, dsb. Keterbatasan lahan yang sesuai menyebabkan banyak orng mulai merambvah daerah-daerah mangrove (lahan basah pada umumnya). Sebagai daerah yang tidak dianggap produktif, ekosistem mangrove memiliki nilai jual yang rendah sehingga banyak dicari oleh para pengembang (developer). Biaya untuk reklamasi diperkirakan tetap lebih rendah daripada harga jual substrat di daerah lahan yang bukan ekosistem mangrove, sehingga para pengembang lebih suka mengurug rawa-rawa, pantai, atau danau untuk lahan pemukiman.

 Perubahan sistem hidrologi.

Perubahan sistem hidrologi dapat terjadi karena pengubahan aliran air sungai, pembuatan bendungan, pengambilan air substrat yang berlebihan, dan pembuatan saluran air. Hal ini umumnya untuk meningkatkan irigasi bagi lahan pertanian dan menghasilkan energi. Pembangunan dam ini tentu mengurangi volume partikulat substrat yang ditransportasikan aliran air dari hulu ke hilir. Padahal endapan partikulat tersebut berguna bagi ekosistem mangrove sebagai input hara, terutama bagi dekomposer ekosistem mangrove. Transort hara dari hulu ini juga turut berperan dalam membentuk struktur dan komposisi hutan mangrove.

 Pencemaran air, substrat, dan udara oleh berbagai macam bahan kimia dan

logam berat.

(8)

menurunkan kadar O2 di perairan sehingga membahayakan kehidupan organisme mangrove. Penambahan bahan organik dapat meningkatkan kesuburan perairan akibat dilepaskannya unsur hara sebagai hasil dekomposisi. Proses eutrofikasi ini dapat meningkatkan populasi tumbuhan air dan alga secara pesat sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem.

 Eksploitasi sumberdaya yang melampaui batas

Pemanfaatan sumberdaya dikatakan berlebihan apabila jumlah yang diambil

(9)

III. METODE PRAKTIKUM

Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain: termometer, pHmeter; Refraktometer, stopwatch, camera digital, alat tulis, kamera digital, dll.

Bahan yang digunakan antara lain : akuades, air kran, tisue, kuisioner, buku identifikasi, dll.

Di lapangan dilakukan, pengamatan secara visual terhadap kondisi ekosistem dan selanjutnya di masukan dalam checklist yang disediakan, selain itu dilakukan wawancara dengan masyarakat sekitar ekosistem untuk mengetahui sejauh mana pemanfaatan dan peranan eksosistem tersebut bagi masyarakat sekaligus mengidentifikasi masalah-masalah ekosistem sebagai akibat kegiatan masyarakat sekitar.

Parameter hidroligi diperoleh dengan melakukan pengukuran langsung di lapangan baik parameter fisik maupun kimia. Semua kondisi ekosistem dicatat bahkan didokumentasikan dengan kamera digital.

Data hasil pengamatan dilapangan, kemudian ditabulasikan dan selanjutnya dianalisa dan didiskusikan. Dalam mengkaji lebih lanjut, maka dicari data-data sekunder

(10)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Kondisi ekosistem mangrove

Ekosistem mangrove pada tempat praktikum merupakan kawasan yang telah dilindungi dan ditata dengan cukup rapih oleh Yayasan ARMAN bekerja sama dengan instansi yang terkait di Pemda kota mapun pemda propinsi Maluku. Hal ini terlihat dari sudah dibuatnya jembatan dan rumah panggung sebagai tempat wisata. Dari hasil pengamatan selain tempat ini sudah pernah dikunjungi oleh orang dengan tujuan

beberapa tujuan seperti tujuan wisata maupun tujuan konservasi dalam hal ini penanaman anakan.

Hal-hal yang diamati mengenai kondisi ekosistem mangrove pada saat pengamatan di lapangan antara lain : struktur, fungsi ekosistem mangrove, komposisi dan distribusi spesies serta faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan

mangrove.

a. Keanekaragaman jenis Mangrove

Jenis mangrove yang ditemukan dilokasi praktikum, terdiri dari: Rhizophora, Bruguiera, Sonneratia, Avicennia, dan Nypa. Tomlinson (1984) membagi flora mangrove menjadi tiga kelompok, yakni :

1. Flora mangrove mayor (flora mangrove sebenarnya), yakni flora yang menunjukkan kesetiaan terhadap habitat mangrove, berkemampuan membentuk tegakan murni dan secara dominan mencirikan struktur komunitas, secara morfologi mempunyai bentuk-bentuk adaptif khusus (bentuk akar dan viviparitas) terhadap lingkungan mangrove, dan mempunyai mekanisme fisiologis dalam mengontrol garam. Contohnya adalah Avicennia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Sonneratia, Lumnitzera, Laguncularia dan Nypa.

(11)

Aegialitis, Acrostichum, Camptostemon, Scyphiphora, Pemphis, Osbornia dan Pelliciera.

3. Asosiasi mangrove, contohnya adalah Cerbera, Acanthus, Derris, Hibiscus, Calamus, dan lain-lain.

b. Zonasi Jenis Mangrove

Mangrove di lapangan umumnya tumbuh membentuk zonasi mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman daratan. Zonasi ini mencerminkan tanggapan ekofisiologis tumbuhan mangrove terhadap gradasi lingkungan. Zonasi yang terbentuk berupa zonasi yang sederhana (satu zonasi, zonasi campuran) dan zonasi yang kompleks (beberapa zonasi) tergantung pada kondisi lingkungan mangrove yang bersangkutan. Adanya

zonasi ini sangat dipengaruhi oleh :

1. Pasang surut yang secara tidak langsung mengontrol dalamnya muka air (water table) dan salinitas air dan substrat. Secara langsung arus pasang surut dapat menyebabkan kerusakan terhadap anakan.

2. Tipe substrat yang secara tidak langsung menentukan tingkat aerasi substrat, tingginya muka air dan drainase.

3. Kadar garam substrat dan air yang berkaitan dengan toleransi spesies terhadap kadar garam.

4. Cahaya yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anakan dari spesies intoleran seperti Rhizophora, Avicennia dan Sonneratia.

5. Pasokan dan aliran air tawar

(12)

Dalam pengamatan setiap zonasi, diidentifikasi berdasarkan individu spesies mangrove atau kelompok spesies dan dinamakan sesuai dengan spesies yang dominan atau sangat melimpah. Zonasi di tepian air biasanya tipis dan ditumbuhi oleh spesies pionir, seperti A. alba dan S. caseolaris.

Berdasarkan spesies-spesies pohon yang dominan, komunitas mangrove di Passo dapat berupa konsosiasi atau asosiasi (tegakan campuran). Ada sekitar lima konsosiasi yang ditekuman di hutan mangrove di Passo, yaitu konsosiasi Avicennia, konsosiasi Rhizophora, konsosiasi Sonneratia, konsosiasi Bruguiera, dan konsosiasi nipah. Dalam hal asosiasi mangrove ini, asosiasi antara Bruguiera spp. dan Rhizophora spp. sering ditemukan, terutama di zona lebih dalam. Dari segi keanekaragaman spesies, zona transisi (peralihan antara eksosistem mangrove dan hutan rawa) merupakan zona dengan spesies yang beragam yang terdiri atas spesies-spesies mangrove yang khas dan tidak khas habitat mangrove. Secara umum, sesuai dengan kondisi habitat lokal, tipe komunitas (berdasarkan spesies pohon dominan) mangrove berbeda suatu tempat ke tempat lain.

Adanya zonasi mangrove di Passo juga sangat terkait dengan sdaptasi terhadap konsentrasi garam atau salinitas. Berkaitan dengan adaptasi terhadap kandungan garam, mangrove dikelompokkan Hutching dan Saenger (1987) menjadi:

1.salt-excreting mangrove, seperti spesies Avicennia, dan (2) non-salt excreting mangrove, sperti spesies Rhizophora, Bruguiera, Sonneratia, dan lain-lain. Sehubungan dengan ini Hutching dan Saenger (1987) mengemukakan tiga cara mangrove beradaptasi terhadap garam sebagai berikut:

a. Sekresi garam (salt extrusion/salt secretion), mangrove menyerap air dengan salinitas tinggi kemudian mengekskresikan garam dengan kelenjar

garam yang terdapat pada daun. Mekanisme ini dilakukan oleh Avicennia, Sonneratia, dan Rhizophora (melalui unsur-unsur gabus pada daun).

(13)

c. Akumulasi garam (salt accumulation), mangrove seringkali menyimpan Na dan Cl pada bagian kulit kayu, akar dan daun yang lebih tua. Daun penyimpan garam umumnya sukulen dan pengguguran daun sukulen ini diperkirakan merupakan mekanisme mengeluarkan kelebihan garam yang dapat menghambat pertumbuhan dan pembentukan buah. Mekanisme adaptasi akumulasi garam ini terdapat pada Avicennia, Rhizophora, Sonneratia dan Xylocarpus.

2.Adaptasi terhadap substrat lumpur dan kondisi tergenang untuk menghadapi habitat yang dipengaruhi oleh pasang surut yang berupa lumpur dan selalu tergenang (reaksi anaerob), flora mangrove beradaptasi dengan membentuk akar-akar khusus untuk dapat tumbuh dengan kuat dan membantu mendapatkan oksigen. Bentuk perakaran mangrove tersebut adalah sebagai berikut:

a. Akar pasak (pneumatophore) Akar pasak berupa akar yang muncul dari sistem akar kabel dan memanjang keluar ke arah udara seperti pasak. Akar pasak ini terdapat pada Avicennia, Xylocarpus dan Sonneratia.

b. Akar lutut (knee root) Akar lutut merupakan modifikasi dari akar kabel yang pada awalnya tumbuh ke arah permukaan substrat kemudian melengkung menuju ke substrat lagi. Akar lutut seperti ini terdapat pada Bruguiera spp.

c. Akar tunjang (stilt root) Akar tunjang merupakan akar (cabang-cabang akar) yang keluar dari batang dan tumbuh ke dalam substrat. Akar ini terdapat pada Rhizophora spp.

d. Akar papan (buttress root) Akar papan hampir sama dengan akar tunjang tetapi akar ini melebar menjadi bentuk lempeng, mirip struktur silet. Akar ini terdapat pada Heritiera.

(14)

Gambar 1. Bentuk dari akar-akar mangrove yang ditemukan.

c. Fauna di Ekosistem Mangrove

Sekalipun dalam praktikum didak dilakukan sampling terhadap biota, namun secara visual dan berdasarkan data sekunder yang diperoleh, dapat digambarkan kondisi fauna pada ekosistem mangrove tersebut. Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi

berbagai fauna, yaitu fauna khas mangrove dan fauna yang berasosiasi dengan mangrove. Fauna tersebut menjadikan mangrove sebagai tempat tinggal, mencari makan, bermain atau tempat berkembang biak. Secara garis besar, ekosistem mangrove di Passo menyediakan lima tipe habitat bagi fauna, yakni :

 Tajuk pohon yang dihuni oleh berbagai spesies burung, mamalia dan serangga.  Lobang pada cabang dan genangan air pada cagak antara batang dan cabang

yang merupakan habitat untuk serangga (terutama nyamuk).  Permukaan substrat sebagai habitat keong/kerang dan ikan glodok.

 Lobang permanen dan semi permanen di dalam substrat sebagai habitat kepiting.  Saluran-saluran air sebagai habitat ikan/anakan udang.

(15)

sedangkan golongan Crustaceae didominasi oleh Bracyura. Para peneliti melaporkan bahwa fauna laut tersebut merupakan komponen utama fauna hutan mangrove. Sedangkan fauna air tawar seperti: burung air dengan populasi terbesar pada famili Heron (Ardeidae) dan Cormorant (Phalacrocoracidae). Spesies yang lainnya termasuk ke dalam family Darter (Anhingidae), Stork (Ciconiidae) dan Ibises (Threskiornithidae). Mamalia, terutama dari spesies primata yang terdapat di mangrove adalah biawak (Varanus salvator), kadal (Mabouya multifasciata), berbagai spesies ular seperti Boiga dendrophila.

2. Faktor Oseanografi di ekosistem mangrove

Dalam praktikum ini juga telah diamati beberapa factor lingkungan terutama factor oseanografi yang mempengaruhi keberadaan ekosistem mangrove antara lain :

a. Suhu

Suhu udara pada saat pengamatan sebesar 28,5 0C dan suhu air mencapai 310C. Suhu berperan penting dalam proses fisiologis, seperti fotosintesis dan respirasi. Kusmana (1993) menyatakan bahwa pertumbuhan mangrove yang baik memerlukan suhu rata-rata minimal lebih besar dari 20ºC dan perbedaan suhu musiman tidak melebihi 5ºC.

Berdasarkan hasil penelitian Kusmana (1993) diketahui bahwa hutan mangrove yang terdapat di bagian timur pulau Sumatera tumbuh pada suhu rata-rata bulanan dengan

kisaran dari 26,3 ºC sampai dengan 28,7 ºC. Hutching dan Saenger (1987) mendapatkan kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan beberapa spesies tumbuhan mangrove, yaitu Avicennia marina tumbuh baik pada suhu 18 - 20 ºC, R. stylosa, Ceriops spp., Excoecaria agallocha dan Lumnitzera racemosa pertumbuhan tertinggi daun segar dicapai pada suhu 26-28 ºC, suhu optimum Bruguiera spp. 27 ºC, Xylocarpus spp. berkisar antara 21-26 ºC dan X. granatum 28 ºC. Dengan demikian, kondisi suhu udara pada ekosistem mangrove di Passo masih dalam kondisi yang baik.

b. Pasang surut

Hasil penelitian pasut di teluk Ambon, menunjukan bahwa perbedaan pasang

(16)

substrat mangrove. Salinitas air menjadi sangat tinggi pada saat pasang naik, dan menurun selama pasang surut. Perubahan tingkat salinitas pada saat pasang merupakan salah satu faktor yang membatasi distribusi spesies mangrove, terutama distribusi horisontal. Pada areal yang selalu tergenang hanya R. mucronata yang tumbuh baik, sedang Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp. jarang mendominasi daerah yang sering tergenang. Pasang surut juga berpengaruh terhadap perpindahan massa antara air tawar dengan air laut, dan oleh karenanya mempengaruhi distribusi vertikal organisme mangrove.

Durasi pasang juga memiliki efek yang mirip pada distribusi spesies, struktur vegetatif, dan fungsi ekosistem mangrove. Hutan mangrove yang tumbuh di daerah pasang diurnal memiliki struktur dan kesuburan yang berbeda dari hutan mangrove yang tumbuh di daerah semi-diurnal, dan berbeda juga dengan hutan mangrove yang tumbuh di daerah pasang campuran. Rentang pasang surut merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi, khususnya sistem akar dari mangrove. Di daerah mangrove dengan rentang pasang yang lebar, akar tunjang dari Rhizophora spp. tumbuh lebih tinggi,

sedangkan di daerah yang rentangnya sempit memiliki akar yang lebih rendah. Aegialites rotundifolia dan Sonneratia spp. menunjukkan perilaku yang perakaran yang mirip. Pneumatoforanya yang besar (kuat dan panjang) sangat baik di atas permukaan substrat di zona peralihan pasang lebih luas dan lebih kecil untuk daerah dengan rentang pasang yang sempit.

d. Gelombang dan arus

Gelombang pantai, yang sebagian besar dipengaruhi angin, merupakan penyebab penting abrasi dan suspensi sedimen. Pada pantai berpasir dan berlumpur, gelombang

(17)

gelombang sebesar 0,7340, dan perubahan energi gelombang sebesar 19635,26 Joule, sehingga keberadaan hutan mangrove dapat memperkecil gelombang tsunami yang menyerang daerah pantai.

e. Salinitas

Hasil pengukuran salinitas berkisar antara 30 – 32 ppt dengan densitas 1.023 kg/m3. Lugo (1980) mengatakan bahwa lingkungan asin (bergaram) diperlukan untuk kestabilan ekosistem mangrove, seperti halnya banyak spesies yang kurang bersaing di bawah kondisi air tawar. Salinitas air dan salinitas substrat rembesan merupakan faktor penting dalam pertumbuhan, daya tahan, dan zonasi spesies mangrove. Tumbuhan mangrove tumbuh subur di daerah estuaria dengan salinitas 10 - 30 ppt. Salinitas yang sangat tinggi (hypersalinity) misalnya ketika salinitas air permukaan melebihi salinitas yang umum di laut (± 35 ppt) dapat berpengaruh buruk pada vegetasi mangrove, karena dampak dari tekanan osmotik yang negatif. Akibatnya, tajuk mangrove semakin jauh dari tepian perairan secara umum menjadi kerdil dan berkurang komposisi spesiesnya. Meskipun demikian, beberapa spesies dapat tumbuh di daerah dengan salinitas sangat tinggi, seperti yang dilaporkan oleh Wells (1982) dalam Aksornkoae (1993), bahwa di Australia A. marina dan E. agallocha dapat tumbuh di daerah dengan salinitas maksimum 63 ppt, Ceriops spp. 72 ppt., Sonneratia spp. 44 ppt., R. apiculata 65 ppt dan R. stylosa 74 ppt. Dalam hal ini, Watson (1928), de Haan (1931) dan Chapman (1944) membuat korelasi antara salinitas, frekuensi genangan pasang (kelas genangan) dan spesies pohon

mangrove.

Mangrove merupakan vegetasi yang bersifat salt-tolerant bukan salt-demanding, oleh karenanya mangrove dapat tumbuh secara baik di habitat air tawar. Kebanyakan

mangrove tumbuh di habitat maritim mungkin disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut : (a) penyebaran biji/propagul mangrove terbatas oleh daya jangkau pasang surut, (b) anakan mangrove kalah bersaing dengan tumbuhan darat, dan (c) mangrove dapat mentoleransi kadar garam.

f. Oksigen Terlarut

(18)

Oleh karena itu, konsentrasi oksigen terlarut berperan mengontrol komposisi spesies, distribusi dan pertumbuhan mangrove. Dalam praktikum ini, hasil pengukuran DO menunjukkan nilai antara 1,81 – 2,40 mg/L.

Konsentrasi oksigen terlarut bervariasi menurut waktu, musim, kesuburan substrat, keanekaragaman tumbuhan, dan organisme akuatik. Konsentrasi oksigen terlarut harian tertinggi dicapai pada siang hari dan terendah pada malam hari. Aksornkoae (1978) mendapatkan konsentrasi oksigen terlarut di hutan mangrove 1,7 - 3,4 mg/L, lebih rendah dibanding di luar hutan mangrove yang besarnya 4,4 mg/L.

Substrat pada hutan mangrove yang berlumpur dan jenuh air mengandung oksigen rendah dan bahkan tidak mengandung oksigen (anoksik). Dalam kondisi lingkungan demikian hanya spesies-spesies tumbuhan tertentu saja yang dapat hidup. Sementara pada bagian atas substrat dimungkinkan sedikit teroksidasi dan terlihat berwarna kecoklatan, tetapi bagian bawahnya berwarna abu-abu kebiruan. Untuk mengatasi kondisi tersebut, tumbuhan mangrove beradaptasi melaui sistem perakarannya yang khas (Whitten et al., 1987). Selain adanya sistem perakaran yang khas, kekurangan oksigen juga dapat dipenuhi oleh adanya lubang-lubang dalam substrat yang dibuat oleh hewan-hewan, misalnya kepiting. Lubang-lubang tersebut membawa oksigen ke bagian akar tumbuhan mangrove (Ewusie, 1980).

g. Substrat

Hasil pengamatan terhadap substrat menunjukkan bahwa substrat yang dominan adalah pasir halus, pasir berlumpur dan lumpur berpasir. Lear dan Turner (1977) dalam Soeroyo (1983), mengatakan bahwa mangrove terutama tumbuh pada substrat berlumpur, namun berbagai spesies mangrove dapat tumbuh pula di substrat berpasir, koral, substrat berkerikil, bahkan substrat gambut. Pada umumnya ciri substrat di hutan mangrove selalu basah, mengandung garam, sedikit oksigen dan kaya akan bahan organik. Pembentukan substrat mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu (a) faktor fisik yang mencakup transportasi nutrien oleh arus pasang, aliran air laut, gelombang dan aliran sungai, (b) faktor fisik-kimia, misalnya penggabungan dari beberapa partikel oleh pengumpalan dan

(19)

Substrat tempat tumbuh mangrove dibentuk oleh akumulasi sedimen yang berasal dari sungai, pantai atau erosi substrat yang terbawa dari dataran tinggi sepanjang sungai atau kanal. Sebagian substrat berasal dari hasil akumulasi dan sedimentasi bahan-bahan koloid dan partikel. Sedimen yang terakumulasi di suatu daerah mangrove dengan lainnya memiliki karakterisitik yang berbeda, tergantung pada sifat dasarnya. Sedimen yang berasal dari sungai berupa substrat berlumpur, sedangkan sedimen pantai berupa pasir. Degradasi dari bahan-bahan organik yang terakumulasi sepanjang waktu juga merupakan bagian dari substrat mangrove.

Substrat hutan mangrove merupakan lapisan sedimen, jadi warnanya sesuai dengan asal-usul sedimennya. Umumnya pada kedalaman 0 - 10 m, substrat berwarna kelabu hijau, hijau, hijau kelabu hingga kuning kelabu dan bertekstur berat, dan pada kedalaman 10 cm atau lebih, berupa substrat kelabu berbintik-bintik coklat dan bertekstur berat (Riele, 1937). Sedangkan berdasarkan letaknya, Matondang (1979) menyatakan bahwa substrat mangrove dibagi ke dalam 2 kategori, yaitu (a) daerah dekat laut (halic hydraquent), berupa substrat liat relatif muda, mempunyai nilai N

sebesar 1 atau lebih, mengandung air secara permanen, densitas rendah (0,6), pH lebih dari 5,5, saturasi dasar dan kapasitas kation yang tinggi, dan (b) daerah dekat darat atau berbatasan dengan rawa (halic sulfaquent), yakni berupa substrat liat muda, mengandung air secara permanen, pH hampir netral, mengandung sulfida pada kedalaman sekitar 50 cm lapisan substrat mineral, saturasi dasar dan kapasitas tukar kation yang tinggi.

(20)

Substrat-substrat mangrove umumnya mengadung zat besi dan bahan-bahan organik yang tinggi, ditambah dengan keberadaan sulfat dari fasang air laut membuat substrat menjadi rentan khususnya terhadap asam sulfat karena oksidasi, seperti yang sering terjadi pada saat pembuatan tambak. Pada kondisi anaerob yang berlaku secara umum, sulfat dari air laut direduksi menjadi sulfida (FeS) atau pirit (FeS2) oleh bakteri-bakteri perombak sulfat yang termasuk, paling tidak 2 marga bakteri-bakteri, yaitu Desulfovibrio dan Desulfomaculum. Drainase alami atau buatan dan aerasi sedimen yang mengandung pirit mendorong terjadinya oksidasi dan formasi asam sulfat (H2SO4) yang dilepaskan dalam jumlah besar dalam keadaan tidak ada kalsium karbonat (CaCO3), melalui rekasi kimia sebagai berikut:

2FeS2 + 2H2O + 7O2 2FeSO4 + H2SO4

Ketika reaksi tersebut terjadi - seringkali sebagai akibat dari pembuatan tambak atau dikonversi menjadi lahan pertanian - pH substrat turun menjadi 3 atau kurang. Kondisi ini merupakan masalah yang sangat serius untuk budidaya perairan dan pertanian serta regenerasi hutan mangrove. Ancaman asam sulfat harus dipertimbangkan secara hati-hati dalam konversi mangrove untuk penggunaan lain, begitu juga dengan ancaman kontaminasi asam terhadap lingkungan. Dunn (1975) melaporkan bahwa kematian massal

ikan terjadi saat hujan lebat diakibatkan oleh pencucian asam substrat ke sungai.

3. Dampak kegiatan manusia terhadap ekosistem mangrove

Dari hasil pengamatan visual serta wawancara dengan masyarakat sekitarnya, didapati bahwa telah terjadi perubahan ekosistem baik mangrove akibat kegiatan masyarakat sekitarnya baik sengaja maupun tidak sengaja.

Dampak dari aktivitas manusia terhadap ekosistem mangrove, menyebabkan

(21)

Tabel 1. Beberapa kegiatan masyarakat sekitar dan dampanyak terhadap ekosistem mangrove di desa Passo.

Kegiatan Dampak Potensial

Penebangan untuk kayu bakar

 Berubahnya komposisi tumbuhan; pohon-pohon mangrove akan digantikan oleh spesies-spesies yang nilai ekonominya rendah dan hutan mangrove yang ditebang ini tidak lagi berfungsi sebagai daerah mencari makan (feeding ground) dan daerah pengasuhan (nursery ground) yang optimal bagi

 Penurunan kandungan oksigen terlarut dalah air air, bahkan dapat terjadi keadaan anoksik dalam air sehingga bahan organik yang terdapat dalam sampah cair mengalami dekomposisi anaerobik yang antara lain menghasilkan hidrogen sulfida (H2S) dan aminia (NH3) yang keduanya merupakan racun bagi organisme hewani dalam air. Bau H2S seperti telur busuk yang dapat dijadikan indikasi berlangsungnya dekomposisi anaerobik.

Pembuangan sampah padat (plastic, botol aqua, karung goni, tas kresek, dll)

 Kemungkinan terlapisnya pneumatofora dengan sampah padat yang akan mengakibatkan kematian pohon-pohon mangrove.

 Kematian pohon-pohon mangrove akibat terlapisnya pneumatofora oleh lapisan minyak.

 musnahnya daerah asuhan (nursery ground) bagi larva dan bentuk-bentuk juvenil ikan dan udang yang bernilai ekonomi penting di lepas pantai, dan dengan demikian mengancam regenerasi ikan dan udang tersebut.

4. Pengelolaan ekosistem mangrove di Teluk Ambon

(22)

a. Isu Ekologi dan Isu Sosial Ekonomi

Isu ekologi meliputi dampak ekologis intervensi manusia terhadap ekosistem mangrove. Berbagai dampak kegiatan manusia terhadap ekosistem mangrove harus diidentifikasi, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi di kemudian hari.

Adapun isu sosial ekonomi mencakup aspek kebiasaan manusia (terutama masyarakat sekitar hutan mangrove) dalam memanfaatkan sumberdaya mangrove. Begitu pula kegiatan industri, tambak, perikanan tangkap, pembuangan limbah, dan sebagainya di sekitar hutan mangrove harus diidentifikasi dengan baik.

b. Isu Kelembagaan dan Perangkat Hukum

Di samping lembaga-lembaga lain, Departemen Pertanian dan Kehutanan, serta Departemen Kelautan dan Perikanan, merupakan lembaga yang sangat berkompeten dalam pengelolaan mangrove. Koordinasi antar instansi yang terkait dengan pengelolaan mangrove adalah mendesak untuk dilakukan saat ini.

Aspek perangkat hukum adalah peraturan dan undang-undang yang terkait dengan pengelolaan mangrove. Sudah cukup banyak undang-undang dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah dan instansi-instansi yang terkait dalam pengelolaan mangrove. Yang

diperlukan sekarang ini adalah penegakan hukum atas pelanggaran terhadap perangkat hukum tersebut bahkan diperlukan perangkat hukum sampai tingkat perda disertai dengan sanksi yang tegas dan tepat..

c. Isu Strategi dan Pelaksanaan Rencana

Dalam kerangka pengelolaan dan pelestarian mangrove, terdapat dua konsep utama yang dapat diterapkan. Kedua konsep tersebut pada dasarnya memberikan

(23)

Dalam konteks di atas, berdasarkan karakteristik lingkungan, manfaat dan fungsinya, status pengelolaan ekosistem mangrove dengan didasarkan data Tataguna Hutan Kesepakatan (Santoso, 2000) terdiri atas :

 Kawasan Lindung (hutan, cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman

laut, taman hutan raya, cagar biosfir).

 Kawasan Budidaya (hutan produksi, areal penggunaan lain).

Perlu diingat di sini bahwa wilayah ekosistem mangrove selain terdapat kawasan hutan mangrove juga terdapat areal/lahan yang bukan kawasan hutan, biasanya status hutan ini dikelola oleh masyarakat (pemilik lahan) yang dipergunakan untuk budidaya perikanan, pertanian, dan sebagainya.

Saat ini dikembangkan suatu pola pengawasan pengelolaan ekosistem mangrove partisipatif yang melibatkan masyarakat. Ide ini dikembangkan atas dasar pemikiran bahwa masyarakat pesisir yang relatif miskin harus dilibatkan dalam pengelolaan mangrove dengan cara diberdayakan, baik kemampuannya (ilmu) maupun ekonominya. Pola pengawasan pengelolaan ekosistem mangrove yang dikembangkan adalah pola partisipatif meliputi : komponen yang diawasi, sosialisasi dan transparansi kebijakan, institusi formal yang mengawasi, para pihak yang terlibat dalam pengawasan, mekanisme pengawasan, serta insentif dan sanksi (Santoso, 2000).

5. Strategi pengelolaan ekosistem mangrove

Pembangunan sumberdaya pesisir dan lautan yang optimal dan berkelanjutan dapat dicapai dengan menerapkan strategi pengelolaan wilayah pesisir secara tepat dan terpadu. Ekosistem mangrove di Passo merupakan bagian integral dari sumberdaya pesisir dan lautan Teluk Ambon, maka dalam pembuatan kebijakannya juga tidak terlepas dari arahan kebijakan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu.

(24)

a. Aspek biofisik

Komponen biofisik merupakan komponen utama dari sumberdaya alam yang perlu dikelola dengan baik. Oleh karena jtu, strategi pengelolaan lingkungan kawasan padang mangrove di daerah Passo tidak terlepas dari proses-proses ekologis dan biologis yang berlangsung di dalamnya. Strategi yang diambil diharapkan dapat menjaga keutuhan segenap komponen biofisik, baik biota maupun habitat dan lingkungannya.

Arahan strategi biofisik ditekankan pada keinginan untuk menjaga ekosistem mangrove agar tetap memberikan manfaat ekologis kepada seluruh biota yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem ini. Oleh karena itu, arahan strategi seoptimal mungkin lebih ditekankan pada aspek konservasi, namun demikian tetap memperhatikan pendekatan pemanfaatan lestari.

Adapun arahan kebijakan pengelolaan lingkungan kawasan ekosistem mangrove pada aspek biofisik ini adalah sebagai berikut :

o Menjaga ekosistem mangrove dan biota serta mempertahankan rantai makanan dan aliran energi yang terkandung dalam ekosistem mangrove

o Mencegah kerusakan fisik mangrove dari kegiatan pengerukan,

pengurugan, pembabatan maupun pengerusakan dasar oleh perahu atau jangkar .

o Menjaga kualitas air dari pencemaran seperti sedimentasi, limbah air, limbah padat, logam berat, limbah organik/pertanian, minyak dan lemak.

o Mengatur pemanfaatan sumberdaya hayati yang terkandung dalam

ekosistem mangrove dan sekitamya yang mencakup jumlah individu, ukuran dan frekuensi penangkapan.

o Mengupayakan pengolahan limbah dan mengurangi masuknya limbah ke

laut.

b. Aspek sosial, ekonomi dan budaya

Komponen sosial ekonomi dan budaya merupakan komponen penunjang yang

(25)

terhadap sumberdaya alam. Oleh karena itu, strategi pengelolaan ekosistem mangrove di Passo harus mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan budaya, baik yang terkait langsung maupun tidak langsung.

Arahan strategi sosial, ekonomi dan budaya dalam studi ini ditekankan pada keinginan untuk memberikan penyadaran tentang arti penting nilai ekologis dan ekonomis padang mangrove, sehingga keberadaannya tetap dipertahankan dan tetap memberikan manfaat.

Arahan strategi social, ekonomi dan budaya ditekankan pada keinginan untuk memberikan penyadaran tentang arti penting nilai ekologis dan ekonomis mangrove, sehingga keberadaannya tetap dipertahankan dan tetap memberikan manfaat. Arahan kebijakan pengelolaan lingkungan kawasan ekosistem mangrove pada aspek sosial, ekonomi dan budaya ini adalah sebagai berikut:

o Memberi pengertian kepada masyarakat dan pengusaha setempat tentang

pentingnya fungsi ekosistem mangrove sebagai habitat sumber daya hayati laut.

o Mencari dan meningkatkan nilai ekonomi dari habitat ekosistem mangrove

beserta biota penghuni lainnya.

o Memberikan penyuluhan dan pelatihan pemanfaatan sumberdaya hayati laut yang prinsip-prinsip kelestarian.

o Memberikan bimbingan, modal dan peluang utnuk mengembangkan usaha nelayan, melalui program kemitraan antara pemerintah, instansi terkait, swasta, masyarakat dan stakeholder lainnya.

c. Aspek hukum dan kelembagaan

Arahan strategi hukum dan kelembagaan dalam studi ini ditekankan pada

keinginan untuk menjaga ekosistem mangrove agar tetap memberikan manfaat ekologis

dan ekonomis. Oleh karena itu, arahan kebijakannya lebih ditekankan pada upaya

(26)

Adapun arahan kebijakan pengelolaan lingkungan kawasan ekosistem mangrove di Passo pada aspek hukum dan kelembagaan ini adalah sebagai berikut :

o Menata ruang aktivitas yang bertujuan untuk memperkecil dampak

kerusakan habitat padang mangrove.

o Membuat ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang

mengatur pengolahan dan pembuangan limbah ke laut.

o Membuat peraturan yang mengawasi kegiatan di ekosistem mangrove.

o Menentukan nilai kompensasi pada perusahaan/pabrik yang memberikan

kontribusi pencemaran dan kerusakan pada ekosistem padang mangrove.

(27)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Dari uraian yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa :

 Jenis mangrove yang ditemukan dilokasi praktikum, terdiri dari: Rhizophora,

Bruguiera, Sonneratia, Avicennia, dan Nypa.

 Ekosistem mangrove di Passo merupakan salah satu ekosistem pesisir yang unik

dan khas yang bernilai ekologis dan ekonomis.

 Mengingat aktivitas manusia dalam pemanfaatan mangrove di Passo, maka

diperlukan pengelolaan mangrove yang meliputi aspek perlindungan dan

konservasi.

 Dalam rangka pengelolaan, dikembangkan suatu pola pengawasan pengelolaan

mangrove yang melibatkan semua unsur masyarakat yang terlibat.

2. Saran

Perlu adanya monitoring yang kontinyu terhadap kondisi ekosistem mangrove di Passo, sehingga perubahan dapat dikendalikan ke arah yang lebih baik. Selain itu, perlu dipertimbangkan ulang apakah pelabuhan Angkatan Laut di Halong perlu dipertahankan atau perlu dipindahkan, sehingga tidak memberikan dampak pencemaran minyak dan lainnya terhadap mangrove telah dikonservasi.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Bengen, D.G. 2000. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia. Bengen, D.G. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia.

Dahuri, M., J.Rais., S.P. Ginting., dan M.J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita. Jakarta, Indonesia. Idawaty. 1999. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Lansekap Hutan Mangrove

Di Muara Sungai Cisadane, Kecamatan Teluk Naga, Jawa Barat. Tesis Magister. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor, Indonesia. IUCN - The Word Conservation Union. 1993. Oil and Gas Exploration and Production

in Mangrove Areas. IUCN. Gland, Switzerland.

Kaswadji, R. 2001. Keterkaitan Ekosistem Di Dalam Wilayah Pesisir. Sebagian bahan kuliah SPL.727 (Analisis Ekosistem Pesisir dan Laut). Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB. Bogor, Indonesia.

Khazali, M. 1999. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. Wetland International – Indonesia Programme. Bogor, Indonesia.

Lawrence, D. 1998. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Alih bahasa oleh T. Mack dan S. Anggraeni. The Great Barrier Reef Marine Park Authority. Townsville, Australia.

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Alih bahasa oleh M. Eidman., Koesoebiono., D.G. Bengen., M. Hutomo., S. Sukardjo. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.

Santoso, N., H.W. Arifin. 1998. Rehabilitas Hutan Mangrove Pada Jalur Hijau Di Indonesia. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove (LPP Mangrove). Jakarta, Indonesia.

Santoso, N. 2000. Pola Pengawasan Ekosistem Mangrove. Makalah disampaikan pada Lokakarya Nasional Pengembangan Sistem Pengawasan Ekosistem Laut Tahun 2000. Jakarta, Indonesia.

Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, Indonesia.

(29)
(30)
(31)

Figur

Tabel 1. Beberapa kegiatan masyarakat sekitar dan dampanyak terhadap ekosistem mangrove di desa Passo
Tabel 1 Beberapa kegiatan masyarakat sekitar dan dampanyak terhadap ekosistem mangrove di desa Passo. View in document p.21

Referensi

Memperbarui...