IV. KERANGKA PEMIKIRAN
4.1. Tinjauan Umum
Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan perkembangan berdimensi tunggal dan diukur dengan meningkatnya hasil produksi dan pendapatan (Djojohadikusumo, 1994). Sedangkan pembangunan ekonomi mempunyai makna yang lebih luas, tidak hanya menyangkut peningkatan produksi melainkan juga menyangkut perubahan pada komposisi produksi, perubahan pola penggunaan sumberdaya, perubahan pola distribusi kekayaan dan pendapatan diantara pelaku ekonomi serta perubahan pada kerangka kelembagaan dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh.
Pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh paling sedikit tiga hal, yaitu (1) investasi, (2) pengeluaran pemerintah, dan (3) perkembangan ekspor-impor.
Investasi merupakan salah satu bagian penting di dalam pembangunan ekonomi, yaitu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya investasi tidak hanya meningkatkan permintaan agregat seperti dalam model makroekonomi Keynes, tetapi juga meningkatkan penawaran agregat melalui pengaruhnya terhadap kapasitas produksi. Dalam perspektif jangka panjang, investasi meningkatkan stok kapital dan setiap penambahan stok kapital akan meningkatkan pula kemampuan untuk menghasilkan output yang berarti pula meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Salah satu model makroekonomi yang memberikan perhatian pada peranan investasi adalah model Harrod-Domar. Model ini berpendapat bahwa peningkatan investasi tidak hanya meningkatkan permintaan agregat dalam jangka pendek tetapi juga meningkatkan penawaran agregat dalam jangka panjang.
Selain investasi, pengeluaran pemerintah (government expenditure) juga merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, demikian juga dengan ekspor. Balassa (1985) menyatakan bahwa 43 negara sedang berkembang yang melakukan penggalakan ekspor menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi masing-masing negara.
Menurut Azis (1994) terdapat dua kerangka konseptual pembangunan ekonomi regional. Pertama, Konsep Basis Ekonomi. Konsep ini beranggapan bahwa permintaan terhadap input hanya dapat meningkat melalui perluasan permintaan terhadap output yang diproduksi oleh sektor basis (ekspor) dan sektor non basis (lokal). Permintaan terhadap produksi sektor non basis hanya dapat meningkat apabila pendapatan lokal meningkat. Namun, peningkatan pendapatan ini hanya terjadi bila sektor basis (ekspor) meningkat. Dengan demikian menurut Teori Basis, ekspor regional (daerah) merupakan penentu dalam pembangunan ekonomi regional. Kedua, Konsep Tingkat Pengembalian Hasil (Rate of Return).
Konsep ini beranggapan bahwa perbedan tingkat pengembalian hasil (rate of return) lebih disebabkan karena perbedaan lingkungan atau prasarana daripada ketidakseimbangan rasio modal tenaga kerja (capital-labor ratio). Dalam kerangka pikir ini keterbelakangan suatu daerah bukan karena tidak beruntung atau kegagalan pasar, tetapi karena produktifitasanya rendah. Oleh karena itu, investasi dalam prasarana adalah penting sebagai sarana pembangunan daerah.
Ekspor dalam pengertian ekonomi regional adalah menjual produk ke luar wilayah baik ke wilayah lain dalam negeri maupun ke luar negeri. Tenaga kerja yang berdomisili di suatu wilayah, tetapi bekerja dan memperoleh uang dari wilayah lain termasuk dalam pengertian ekspor. Pada dasarnya semua kegiatan
yang mendatangkan uang dari luar wilayah adalah kegiatan basis. Lapangan kerja dan pendapatan di sektor basis adalah fungsi permintaan yang bersifat eksogenus.
Sektor non basis adalah semua kegiatan lain yang bukan kegiatan basis, yang diperuntukkan bagi kebutuhan konsumsi lokal. Dengan demikian permintaan sektor non basis sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan masyarakat setempat.
Berarti sektor ini terikat terhadap kondisi ekonomi setempat dan tidak bisa berkembang melebihi pertumbuhan ekonomi wilayah (tidak bebas tumbuh).
Studi ini berpijak pada kerangka teori basis dengan alasan (1) bahwa yang dikaji dalam studi ini adalah pertumbuhan ekonomi regional dan distribusi pendapatan interregional, (2) ”pertumbuhan produksi per kapita suatu wilayah tidak hanya ditentukan oleh lokasi penduduk dan aktivitas di daerah yang bersangkutan, tetapi juga oleh daerah lain” (Azis, 1994), dan (3) ekspor sebagai sektor basis yang bersifat eksogenus mampu meningkatkan perekonomian regional melebihi pertumbuhan alamiah.
4.2. Dampak Pembangunan Jalan Terhadap Ekonomi Makro
Transportasi merupakan urat-nadi kehidupan politik, ekonomi, sosial- budaya dan pertahanan keamanan nasional yang sangat vital perannya dalam ketahanan nasional. Infrastruktur jalan sebagai bagian dari sistem transportasi diharapkan dapat menciptakan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Jaringan jalan mendukung kelancaran arus orang dan barang antar/intra pusat- pusat produksi,pusat-pusat distribusi, dan pusat-pusat permukiman, serta sekaligus pembentuk struktur ruang wilayah. Manfaat pembangunan jaringan jalan adalah, terwujudnya pertumbuhan ekonomi nasional, pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya serta pengentasan kemiskinan, menciptakan
lapangan kerja langsung dan tidak langsung, menjaga kesatuan dan persatuan nasional.
Infrastruktur jalan di Indonesia mempunyai peran yang vital dalam transportasi nasional dengan melayani lebih dari 85% angkutan penumpang dan angkutan barang. Sejauh ini total nilai kapitalisasi aset infrastruktur jalan nasional saja telah melebihi 200 triliun rupiah, yang perannya sangat strategis dalam menurunkan biaya transportasi. Apabila infrastruktur jalan terus menerus dikembangkan agar semakin handal, maka jalan akan menjadi salah satu faktor yang memberikan pengaruh positif bagi pembangunan ekonomi, sehingga meningkatkan daya saing ekonomi daerah dalam perekonomian nasional dan juga peningkatan daya saing ekonomi nasional terhadap perekonomian internasional.
Pembangunan infrastruktur jalan memperlancar arus distribusi barang dan jasa. Secara ekonomi makro ketersediaan jasa pelayanan infrastruktur jalan mempengaruhi tingkat produktivitas marginal modal swasta, sedangkan secara ekonomi mikro, infrastruktur jalan berpengaruh terhadap pengurangan biaya produksi. Infrastruktur jalan juga berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia, antara lain: peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan akses kepada lapangan kerja, serta peningkatan kemakmuran nyata dan terwujudnya stabilisasi makro ekonomi, yaitu keberlanjutan fiskal, berkembangnya pasar kredit dan pengaruhnya terhadap pasar tenaga kerja.
Dari sisi pasar tenaga kerja, pembangunan infrastruktur jalan dalam menciptakan peluang usaha dan menampung angkatan kerja juga sangat besar dan berpotensi untuk memberikan efek multiplier terhadap perekonomian lokal
maupun kawasan. Sebagai contoh pembangunan jalan tol Cipularang sepanjang 58 km yang menelan biaya sekitar Rp. 1.6 triliun dan 100% dikerjakan oleh tenaga lokal. Proyek pembangunan ini melibatkan 50.000 tenaga kerja, disamping menyerap jumlah tenaga kerja yang banyak pembangunan Jalan Tol Cipularang juga meningkatkan nilai konsumsi dengan menggunakan 500 ribu ton semen, 25 ribu ton besi beton, 1.5 juta m3 agregat dan 500 ribu m3 pasir.
Sumber: Khazanah Nasional (2006), modifikasi sektor
makanan
sektor retail akomodasi
pendidikan dan pelatihan
Potensi Kesempatan Kerja
(Perkiraan Kesempatan KerjaLangsung dan Tidak Langsung)
Konstruksi Jalan Langsung
Tidak Langsung
Tahap Design dan Konstruksi
Tahap Operasi dan Pemeliharaan
profesional (engineer,
mana- gement )
tenaga kerja konstruksi dan penun- jang teknik
Manufactu rer dan Franchiser
Pemasok Material
management penarik toll
dan operasional
Pemeliha- raan jalan
Tahap Design dan Konstruksi
Tahap Operasi dan Pemeliharaan
Gambar 23. Potensi Kesempatan Kerja
Linkage mikro pembangunan jalan dengan sektor industri dan jasa serta potensi
kesempatan kerja seperti yang di ilustrasikan oleh Khazanah Nasional (2006) dalam Proposed Aggregated Trans-Jawa Expressway seperti Gambar 24.
Jaringan jalan sebagai prasarana distribusi dan sekaligus pembentuk struktur ruang wilayah harus dapat memberikan pelayanan transportasi secara efisien (lancar), aman (selamat) dan nyaman. Jaringan jalan juga harus dapat memfasilitasi peningkatan produktivitas masyarakat, sehingga secara ekonomi produk-produk yang dikembangkan menjadi lebih kompetitif.
Sumber: Khazanah Nasional (2006), modifikasi
Gambar 24. Linkage Mikro Pembangunan Jalan dengan Sektor Industri dan Jasa
Pembangunan infrastruktur jalan harus memperhatikan secara bersamaan tiga aspek utama yang sangat penting yaitu: aspek ekonomi, sosial dan lingkungan,
• Air dan listrik
• Bahan Bakar
• Asuransi
• Peralatan Berat Pengangkutan
Umum
• Precast draint dan culvert
• Pasir, agregat
• Semen
• Work farmwork, scafd ding
Drainase/Pengairan
• Ruang kerja
• Ruang Penyimpanan
• Akomodasi lokal
• Konsumsi lokal
Pendukung
• Pembatas jalan
• Marka dan stud Jalan
• Rambu lalu lintas
• Lampu jalan dan Instalasi listrik
• Pagar
Road Furniture
• Cranage
• Farmwork (wood playwood) scafd rental, pasir, aggregate, semen ,reinforcing steel, baja struktur, precast piles, precast bridge beams, precastculverts, produk precast lainya, design bangunan
• M&E plants/equipment
• Tol equipment
Struktur
• Peralatan berat pengangkutan (eskavator, dump truk, compactor)
• Materi bawaan, Engenering fill, pasir, Agregate, batu
• Geotextile
• Solum tanah dan turfing
• landscaping
Earthwork
• Consrtuction plant (paver, compactors, dll)
• Pasir, aggregates, semen, bituminous binders
Perkerasan
Linkage Mikro Pembangunan
Jalan dengan sektor Industri dan
Jasa
karena jaringan jalan merupakan bagian dari interaksi tata ruang dan sistem transportasi (Gambar 25). Sehingga keberadaan jalan tidak memberikan dampak negatif kepada masyarakat maupun lingkungan lainnya yang ada di sekitarnya.
Sumber: Bina Marga, 2009
Gambar 25. Interaksi Tata Ruang dan Sistem Transportasi
Peran infrastrukur jalan dalam menggerakkan roda perekonomian sangat penting, dimana ketersediaan infrastruktur jalan berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi terutama berkaitan dengan PDB. Setiap 1% pertumbuhan ekonomi akan mengakibatkan pertumbuhan lalulintas sebesar 1.5%, sehingga dari sini harus diantisipasi kebutuhan tersebut baik dengan menyediakan penambahan kapasitas fisik maupun melalui bentuk pengaturan dan pengendalian kebutuhan transportasi atau Transport Demand Management (TDM).
Disamping itu dari hasil pengamatan empirik yang ada di lapangan, dengan adanya pembangunan infrastruktur jalan memiliki hubungan yang positif dan efek “saling ketergantungan” dengan harga tanah. Dengan adanya infrastruktur jalan menyebabkan harga tanah di sepanjang koridor yang ada umumnya dapat meningkat hingga 10 kali lipat pada tahun-tahun pertama.
Sehingga di samping manfaat jangka panjang, pembangunan infrastruktur jalan
Tata Ruang
Jaringan Jalan
Sarana Angkutan
Umum Aspek Sosial Aspek Ekonomi
Aspek Lingkungan Interaksi Tata Riang &
Sistem Tansportasi
juga berpotensi untuk dapat menggairahkan dan menggerakkan roda perekonomian secara langsung untuk jangka pendek.
Besarnya kontribusi infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi sangat signifikan, beberapa studi menunjukkan elastisitas infrastruktur terhadap perubahan output (PDB) berkisar antara 0.07 hingga 0.44. Di sisi lain beberapa studi menunjukkan bahwa economic rate of return dari investasi infrastruktur berada disekitar 19-117% jauh di atas biaya hutang yang mungkin berkisar diantara 10% (Easterly and Seeven, 2003 dalam Susantono, 2005).
Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan tidak semata-mata mengandalkan konsumsi saja, akan tetapi dari investasi juga. Pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 6.6% sebagaimana yang diharapkan, akan sulit dicapai tanpa disertai dengan peningkatan ekspor dan investasi. Untuk mendukung pencapaian tersebut investasi yang dilakukan harusnya dimulai dengan investasi di bidang infrastruktur, tetapi dilihat dari keadaan yang ada, maka dapat dikatakan bahwa kondisi infrastuktur Indonesia pada saat ini sudah tidak mendukung pertumbuhan ekonomi yang memadai dan bahkan sudah menjadi penghambat utama perbaikan iklim investasi (Susantono, 2005).
4.3. Peranan Investasi Infrastruktur Jalan
Jika diperhatikan, analisis tentang dampak pembangunan infrastruktur terhadap output perekonomian pada umumnya mengambil kasus infrastruktur jalan termasuk di sini jalan raya (highway), jalan toll ataupun expressway. Hal ini tidaklah mengherankan karena sistem transportasi yang paling dominan di banyak negara dan daerah ditunjang oleh transportasi darat. Infrastruktur jalan yang
merupakan prasarana transportasi jalan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi wilayah. Hal ini dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 26.
Gambar 26. Transportasi Menggerakkan Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Ketika konsumsi dan investasi meningkat, maka akan terjadi pertumbuhan ekonomi, dengan infrastruktur jalan dapat menurunkan biaya distribusi barang dan jasa bagi produk-produk yang dihasilkan oleh maupun yang memanfaatkan sebagai bagian dari sistem pergerakan. Investasi jalan akan menunjukkan dampak ekonomi makro apabila dapat menurunkan marjin transportasi yang kemudian dikonversi menjadi konsumsi, investasi maupun tabungan (yang selanjutnya akan digunakan untuk investasi swasta). Margin transportasi adalah perbedaan antara harga sebuah komoditi ketika di pabrik atau pertanian dan harga yang dibayar pada pelanggan (harga akhir konsumen). Inilah yang nanti akan menggerakkan roda perekonomian dengan prinsip diminishing return. Artinya semakin besar investasi yang diberikan, dampak ekonomi yang timbul akan meningkat dengan
Pertumbuhan Regional GRDP = C + I + G + Nx Sistem Transportasi
Persaingan Daerah
Ekspor
Investasi Tenaga Kerja
Konsumsi
Pendapatan Pemerintah
Belanja Pemerintah
rata-rata yang semakin kecil, karena sifat infrastruktur lebih kepada mendorong rata-rata untuk daerah yang masih belum maju secara ekonomi maupun fasilitasi untuk daerah yang telah maju (Parikesit dan Purwoto, 2003).
Infrastruktur transportasi menurut Lewison Lee Lem dalam Utomo (2008) akan mempengaruhi :
1. Production Cost, infrastruktur transportasi memperbaiki kinerja transportasi, kinerja transportasi yang baik menurunkan biaya produksi. Biaya produksi rendah maka produk kompetitif dan menjadi daya tarik bagi investor.
2. Industrial Location, biaya transportasi mempengaruhi industrial location dan member economic benefits bagi daerah.
3. Regional Productitivity, biaya produksi rendah akan meningkatkan produktifitas daerah.
4. Cost of interregion trade, biaya produksi rendah akan mendorong interregion trade. Daerah yang memiliki banyak industri akan mampu mendominasi interregion trade.
Selain itu, infrastruktur berperan sebagai instrumen bagi pengurangan kemiskinan, pembukaan daerah terisolasi dan juga mempersempit kesenjangan antarwilayah. Untuk menjawab hal tersebut maka program investasi pemerintah di bidang infrastruktur harus lebih berfokus pada kawasan tertinggal, dengan anggapan bahwa untuk daerah yang relatif lebih maju, maka secara ekonomis mereka telah mampu membiayai pembangunannya sendiri melalui keterlibatan peran serta pihak swasta dan juga melalui pengguna yang mampu membayar kualitas pelayanan yang baik. Manfaat investasi infrastruktur jalan adalah sebagai berikut:
1. Manfaat langsung, yaitu panjang jalan dan kondisi jalan yang berupa:
Road User Cost (RUC) berupa: BOK (Biaya Operasi Kendaraan), yakni biaya yang dikeluarkan pengguna jalan sebagai akibat dari kondisi jalan seperti konsumsi BBM, harga kendaraan, harga suku cadang. Manfaat BOK dihitung dari penghematan BOK relatif dengan membandingkan antara BOK pada investasi minimum dan BOK yang dihasilkan dari investasi existing. Time Cost, waktu yang diperlukan pengguna jalan dalam melakukan perjalanan dikonversi ke dalam nilai uang (Rupiah).
2. Manfaat tidak langsung, yaitu: PDRB dan tenaga kerja yang terserap,
peningkatan kualitas struktur jalan berpengaruh terhadap penambahan PDRB dan penyerapan tenaga kerja. Sedangkan untuk linkage mikro pembangunan jalan dengan sektor industri dan jasa sendiri dapat digambarkan dapat dilihat pada Gambar 22.
4.4. Justifikasi Pengunaan Model Interregional Social Accounting Matrix (IRSAM)
Sejalan dengan kerangka teoretis yang digunakan, studi ini akan menggunakan model (IRSAM). Model ini dapat memotret seluruh neraca ekonomi baik yang endogen maupun eksogen, baik yang intraregional maupun interregional. Selain itu model ini juga dapat, (1) menjelaskan keterkaitan antara aktivitas produksi, distribusi pendapatan, konsumsi barang dan jasa, tabungan dan investasi serta perdagangan luar negeri, (2) memberikan suatu kerangka kerja yang bisa menyatukan dan menyajikan seluruh data perekonomian wilayah, (3) dapat dihitung multiplier perekonomian wilayah dan menjelaskan pengaruh dari suatu perubahan terhadap produksi, distribusi pendapatan dan permintaan serta pengaruh interregional, dan (4) menjelaskan struktur ekonomi intra dan
interregional, struktur pendapatan dan pengeluaran rumahtangga intra dan interregional.
Dengan model ini akan dapat dianalisis keterkaitan antarwilayah antara kawasan KBI dengan KTI dalam satu matrik yang konsisten dan kompak. Secara diagramatik analisis ketergantungan antarwilayah dalam model IRSAM KBI-KTI.
Dengan dukungan model tersendiri di luar model IRSAM KBI-KTI akan dibuat beberapa skenario pada neraca eksogen (exogenous projection) yang berdampak kepada neraca-neraca endogen melalui analisis pengganda.
4.5. Kerangka Sederhana Social Accounting Matrix
Secara garis besar, model Social Accounting Matrix (SAM) dibagi atas empat neraca, yaitu (1) neraca faktor produksi, (2) neraca institusi, (3) neraca sektor produksi, dan (4) rest of the world. Neraca 1, 2 dan 3 adalah neraca endogen, yang secara diagramatik disusun dalam bentuk segitiga pada Gambar 25, sedangkan neraca 4 adalah neraca eksogen, berada pada lingkaran luar memagari ketiga neraca endogen. Garis panah pada gambar segitiga tersebut melambangkan arus uang yang mengalir dari neraca sektor (aktivitas) produksi ke neraca faktor produksi, kemudian ke neraca institusi dan selanjutnya ke neraca sektor produksi.
Panah dari neraca sektor produksi 3 ke neraca faktor produksi 1 menyatakan bahwa kenaikan permintaan output oleh blok neraca eksogen 4 akan mengakibatkan kenaikan permintaan input dan sebagai imbalan atas input faktor tersebut mengalirlah uang dari blok neraca sektor produksi ke blok neraca faktor produksi. Selanjutnya bahwa sesungguhnya pemilik faktor-faktor produksi 1 tersebut adalah rumahtangga, perusahaan dan pemerintah 2. Dengan demikian, meningkatnya permintaan input akan meningkatkan pendapatan institusi sesuai
dengan besarnya input yang diserahkannya. Pendapatan institusi dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa. Ini dilambangkan oleh garis panah dari blok neraca institusi 2 ke blok neraca sektor produksi 3.
Secara matematis, keempat neraca tersebut disusun dalam bentuk matrik, yang terdiri atas baris dan kolom. Neraca baris menunjukkan penerimaan dan neraca kolom menggambarkan pengeluaran. Setiap sel (perpotongan antara baris dan kolom) menggambarkan interaksi antara neraca. Makna dari setiap sel seperti yang terdapat di dalam Tabel 20.
Tabel 20 terlihat bahwa SAM dapat menggambarkan keterkaitan antarsektor, distribusi pendapatan (factorial distribution dan income distribution) dan pengaruh dari konsumsi, investasi serta ekspor-impor terhadap pendapatan regional dan kesempatan kerja. Dalam perjalan waktu, Thorbecke (2001) mengembangkan neraca-neraca dalam SAM sederhana menjadi enam tipe neraca, yaitu (1) neraca aktivitas produksi, (2) neraca komoditas, (3) neraca faktor produksi, (4) neraca institusi, (5) neraca modal (kapital), dan (6) neraca Rest of The World. Neraca aktivitas produksi merupakan neraca yang berkaitan dengan transaksi pembelian row material, intermediate goods dan sewa faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa (komoditas). Pada baris neraca aktivitas (penerimaan aktivitas) meliputi hasil penjualan komoditas pada pasar domestik dan pasar luar negeri, serta penerimaan subsidi ekpor dari pemerintah. Pada kolom neraca aktivitas (pengeluaran aktivitas) meliputi pengeluaran untuk impor, biaya- biaya dari jasa perdagangan dan pembayaran pajak tidak langsung.
Neraca institusi oleh Thorbecke (2001) dipecah lagi menjadi tiga neraca, yaitu (1) rumahtangga, (2) perusahaan, dan (3) pemerintah. Baris neraca
rumahtangga meliputi penerimaan atas kompensasi tenaga kerja, keuntungan atas modal, transfer antara rumahtangga, penerimaan transfer dari perusahaan (berupa asuransi), transfer dari pemerintah dan transfer luar negeri. Sedangkan kolom neraca rumahtangga meliputi pengeluaran konsumsi, transfer antarrumahtangga, transfer kepada perusahaan, pembayaran pajak langsung dan tabungan pada neraca modal. Selanjutnya baris neraca perusahaan (penerimaan perusahaan) meliputi laba yang ditahan, transfer dari rumahtangga dan transfer pemerintah.
Tabel 20. Struktur Sederhana Social Accounting Matrix
Pengeluaran
Penerimaan
Faktor
Produksi Institusi Sektor Produksi
Neraca
Eksogen Total
1 2 3 4 5
Faktor
Produksi 1
T11
0
T12
0
T Alokasi nilai
13
tambah ke faktor produksi
X Pendapatan
faktor produksi dari
luar negeri
14 Y
Distribusi pendapatan
faktorial
1
Institusi 2
T Alokasi pendapatan
faktor ke
21
institusi
T22
Transfer antarinstitusi
T23
0
X24
Transfer dari luar negeri
Y Distribusi pendapatan institusional
2
Sektor Produksi
3
T31
0
T Permintaan
domestik
32 T
Permintaan antara
33 X
Ekspor dan
34
Investasi
Y Total outout
3
menurut sektor produksi
Neraca Eksogen
4
X Alokasi pendapatan faktor ke luar
negeri
41 X42
Tabungan
X43
Impor dan pajak tidak langsung
X44
Transfer lainnya
Y4
Total penerimaan
neraca lainnya
Total 5
Y’
Jumlah pengeluaran
faktor produksi
1 Y’
Jumlah pengeluaran
institusi
2 Y’3
Total input
Y’
Jumlah pengeluaran
lainnya
4
Sumber: Thorbecke (1998)
Sedangkan kolom neraca perusahaan (pengeluaran perusahaan) meliputi transfer kepada rumahtangga, pembayaran pajak dan tabungan perusahaan pada
neraca kapital. Baris neraca pemerintah meliputi semua penerimaan pajak, yaitu pajak nilai tambah, pajak tidak langsung, pajak pendapatan, pajak langsung dan pajak keuntungan dari perusahaan. Sedangkan kolom neraca pemerintah meliputi pengeluaran subsidi ekspor, belanja barang dan jasa, transfer kepada rumahtangga dan perusahaan serta tabungan pemerintah. Sisi penerimaan dari neraca kapital meliputi tabungan rumahtangga, tabungan perusahaan dan tabungan pemerintah.
Sedangkan sisi pengeluarannya meliputi pembagian keuntungan kepada rumahtangga dan pembayaran pajak kepada pemerintah.
Dari struktur sederhana SAM Tabel 20, dapat dirumuskan persamaan matrik pendapatan dan pengeluaran neraca endogen secara agregat sebagai berikut:
Y = T + X………..
(4.1)
Distribusi pendapatan neraca endogen dan neraca eksogen dapat dirumuskan sebagai berikut:
Y1 = T13 + X14
Y
……… (4.2)
2 = T21 + T22 + X24
Y
……….……… (4.3)
3 = T32 + T33 + X34 Y
……… (4.4)
4 = X41 + X42 + X43 + X44 ………...
Persamaan (4.2) menunjukkan distribusi pendapatan faktorial. Sedangkan persamaan (4.3) menunjukkan distribusi pendapatan institusional, persamaan (4.4) menunjukkan total output menurut faktor produksi dan persamaan (4.5) menunjukan total pendapatan lainnya (eksogen).
(4.5)
Sedangkan distribusi pengeluaran neraca endogen dan neraca eksogen dirumuskan sebagai berikut:
Y’1 = T21 + X41 ………... (4.6)
Y’2 = T22 + T32 + X42 Y’
…... (4.7)
3 = T13 + T23 + T33 + X43
Y’
………... (4.8)
4 = X14 + X24 + X34 + X44
Persamaan (4.6) menunjukkan total pengeluaran faktor-faktor produksi (factorial).
Sedangkan persamaan (4.7) menunjukkan total pengeluaran institusional, persamaan (4.8) menunjukkan total pembelanjaan input oleh sektor-sektor produksi dan persamaan (4.9) menunjukan total pengeluaran lainnya (eksogen).
……… (4.9)
Sebenarnya model SAM merupakan perluasan dari model I-O. Namun demikian model ini memiliki sejumlah keterbatasan yang melekat pada asumsi- asumsi dari model. Adapun asumsi-asumsi yang digunakan, adalah (1) seluruh produk yang dihasilkan oleh setiap sektor habis dikonsumsi pada periode tertentu, (2) hubungan input-output dalam kegiatan produksi bersifat linier atau constant return to scale, (3) tidak ada substitusi antara faktor produksi yang digunakan, (4) suatu kelompok produk tidak dihasilkan bersama-sama oleh dua perusahaan atau lebih, (5) harga konstan, (6) tidak ada eksternalitas negatif, dan (7) perekonomian dalam keadaan keseimbangan.
Sekalipun SAM memiliki sejumlah keterbatasan namun model ini telah digunakan secara luas, antara lain oleh Marko Nokkala (2000) dalam penelitiannya yang berkaitan dengan kebijakan investasi sektor pertanian di Zambia. Sedangkan Iqbal dan Siddiqui (2000) untuk menganalisis dampak penyesuaian struktural terhadap ketidakmerataan pendapatan (income inequity) di Pakistan, Wagner (1998) untuk menganalisis dampak ecotourism terhadap perekonomian wilayah APA de Guarquechaba Brazil, sedangkan Bautista (2000) untuk menganalisis dampak pembangunan sektor pertanian terhadap perekonomian wilayah Vietnam. Argumentasi umum yang dikemukakan dalam
menggunakan model SAM adalah bahwa model ini dapat memotret keterkaitan aktivitas perekonomian pada suatu wilayah atau interregional dengan disagregasi yang luas sehingga dapat diperoleh obyek yang beragam.
Sumber: Hadi (2001), Achjar et al. ( 2003), dan Alim (2005) modifikasi
Keterangan : = transaksi intraregion, = transaksi interregion al
Gambar 27. Kerangka SAM Interregional Rest of the World
Rest of the World (7)
Wilayah I/KBI
Wilayah II/KTI
Sektor Produksi
(3)
Faktor Produksi
(1)
Sektor Produksi
(6)
Institusi (5)
Faktor Produksi
(4) Institusi
(2)
X71/X17 X71/X17 X71/X17 X71/X17
T36 T63
T35 T62
T32 T65 T46
T13
T51 T24
X73/X37 X76/X67
T23 T52
T54
T21
Wagner (1998) mengemukakan tiga alasan mengapa memakai model SAM, yaitu (1) model SAM dapat menjelaskan keterkaitan antara aktivitas produksi, distribusi pendapatan, konsumsi barang dan jasa, tabungan dan investasi serta perdagangan luar negeri, (2) SAM dapat memberikan suatu kerangka kerja yang bisa menyatukan dan menyajikan seluruh data perekonomian wilayah, dan (3) dengan menggunakan SAM dapat dihitung multiplier perekonomian wilayah yang berguna untuk mengukur dampak dari ecotourism terhadap produksi, distribusi pendapatan dan permintaan, yang juga merupakan gambarandari struktur perekonomian.
Di Indonesia beberapa studi telah menggunakan model Social Accounting Matrix Interregional (SAM Interregional), antara lain oleh Hidayat (1991) dan Hadi (2001). Hidayat membagi Indonesia ke dalam dua wilayah, yaitu wilayah Jawa (inner island) dan wilayah luar Jawa (outer island), kemudian membangun SAM Interregional yang terintegrasi. Hadi membagi wilayah Indonesia menjadi Kawasan Barat Indonesia (KBI) yang meliputi seluruh provinsi di pulau Sumatera dan pulau Jawa dan Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang meliputi provinsi- provinsi di luar pulau Sumatera dan Jawa.
Interregional SAM (IRSAM) memiliki beberapa kelebihan dibanding SAM single region (regional tunggal), dimana Interregional SAM memberikan tambahan informasi interaksi atau hubungan yang terjadi antarwilayah, khususnya dalam aktivitas-aktivitas seperti: (1) arus barang antarwilayah, (2) distribusi pendapatan antarwilayah, dan (3) keseimbangan keragaan ekonomi makro antarwilayah. Gambaran umum tentang IRSAM dapat dilihat pada Gambar 28 dan Tabel 21.
Tabel 21. Struktur IRSAM Pengeluaran
Penerimaan
Wilayah I KBI Wilayah II KTI
Neraca Eksogen
Total Peneri -maan
1 2 3 4 5 6 7 8
Wilayah I KBI
Faktor Produksi 1 T13 X17 Y1
Institusi 2 T21 T22 T24 T25 X27 Y2
Sektor Produksi 3 T32 T33 T35 T36 X37 Y3
Wilayah II KTI
Faktor Produksi
4 T46 X47 Y4
Institusi 5 T51 T52 T54 T55 X57 Y5
Sektor Produksi
6 T62 T63 T65 T66 X67 Y6
Neraca Eksogen 7 X71 X72 X73 X74 X75 X76 X77 Y7
Total Pengeluaran 8 Y’1 Y’2 Y’3 Y’4 Y’5 Y’6 Y’7
Gambar 27 menunjukkan bahwa sektor produksi (3 dan 6) menghasilkan output yang membutuhkan input faktor (1 dan 4). Selanjutnya nilai tambah tersebut dialokasikan kepada institusi sebagai pemilik faktor produksi (T21 dan T54). Hubungan T21 dan T54
Transaksi institusi dalam model SAM antarwilayah tidak hanya dilakukan di dalam wilayah (intrawilayah), tetapi juga lintas wilayah (antarwilayah), yaitu alokasi pendapatan institusi kepada sektor produksi dalam wilayah dan sektor produksi antarwilayah, serta transfer antara institusi di dalam wilayah dan transfer antara institusi antarwilayah. Hubungan atau interaksi ekonomi antara Wilayah I dan Wilayah II ditunjukkan oleh panah putus-putus dengan tanda T
menunjukkan distribusi pendapatan, sebab ada perbedaan pemilikan faktor produksi pada setiap institusi. Selanjutnya, institusi mengalokasikan pendapatan yang diperolehnya kepada sektor produksi baik dalam bentuk konsumsi langsung, investasi, tabungan maupun transfer antara institusi.
24, T25, T35, T36, T51, T52, T62, dan T63 sebagaimana terlihat pada Gambar 24. Transaksi
masing-masing wilayah (Wilayah I dan Wilayah II) dengan luar negeri (termasuk wilayah lain di luar kedua wilayah tersebut) ditunjukkan oleh hubungan masing- masing blok neraca dengan rest of the world.
Tabel 22. Definisi Neraca Transaksi IRSAM
Neraca Definisi
T13; T46 Pendapatan faktor produksi dari sektor produksi setiap wilayah T21; T54 Pendapatan institusi atas pemilikan faktor produksi dalam wilayah T22; T55 Transfer antarinstitusi dalam wilayah
T24; T51 Pendapatan institusi atas pemilikan faktor produksi interregional T25; T52 Transfer antara institusi interregional
T32; T65 Permintaan atas barang dan jasa oleh institusi dalam wilayah T33; T66 Permintaan antara dalam wilayah
T35; T62 Permintaan atas barang dan jasa oleh institusi interregional T36; T63 Permintaan antara interregional
X17; X47 Pendapatan faktor produksi dari transfer luar negeri X27; X57 Transfer luar negeri kepada institusi
X37; X67 Ekspor barang dan jasa setiap wilayah
X71; X74 Permintaan luar negeri atas pemilikan faktor produksi X72; X75 Tabungan institusi
X73; X76 Impor barang dan jasa setiap wilayah X77 Tranfer lainnya
Y18; Y48 Distribusi pendapatan faktorial setiap wilayah Y28; Y58 Distribusi pendapatan institusional setiap wilayah Y38; Y68 Total output sektor produksi setiap wilayah
Y78 Total penerimaan neraca lainnya
Y81; Y84 Distribusi pengeluaran faktorial setiap wilayah Y82; Y85 Distribusi pengeluaran institusional setiap wilayah Y83; Y86 Total input sektor produksi setiap wilayah
Y87 Total pengeluaran neraca lainnya
Hubungan antara blok neraca sektor produksi dengan rest of the world menunjukkan adanya perdagangan langsung dengan luar negeri oleh masing- masing wilayah. Sedangkan, hubungan antara blok neraca faktor produksi dengan rest of the world menunjukkan aliran modal (capital flows) dari dan ke luar negeri.
Kemudian hubungan antara blok neraca institusi dengan rest of the world menunjukkan adanya transfer institusi ke dan dari luar negeri.
Dari Gambar 27 dapat dibangun kembali dalam bentuk tabel (Tabel 21) untuk menunjukkan struktur SAM Interregional secara agregat. Dengan Tabel 21 ini, nampak dengan jelas posisi setiap sel, adapun pengertian dari setiap sel (neraca transaksi) dirumuskan dalam Tabel 22.
4.6. Kerangka Analisis Pengganda SAM
Analisis pengganda di dalam model SAM dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu pengganda neraca (accounting multiplier) dan pengganda harga tetap (fixed price multiplier). Analisis accounting multiplier pada dasarnya sama dengan pengganda dari Leontief Inverse Matrix yang terdapat dalam model I-O. Ini berarti bahwa semua analisis pengganda yang terdapat dalam model I-O seperti own multiplier, other linkage multiplier dan pengganda total dapat digunakan dalam analisis SAM. Sedangkan analisis fixed price multiplier mengarah pada analisis respon rumahtangga terhadap perubahan neraca eksogen dengan memperhitungkan expenditure propensity (Isard et al., 1998).
Selanjutnya apabila diasumsikan bahwa besarnya kecenderungan rata-rata pengeluaran, Aij yang merupakan perbandingan antara pengeluaran sektor ke-j untuk sektor ke-i dengan total pengeluaran ke-j (Yj), maka:
Aij = Tij / Yj
atau dalam bentuk matrik adalah:
………...(4.10)
=
33 32 22 21
13
0
0 0 0
A A A A
A
A ………....…………... (4.11)
Apabila persamaan (4.10) dibagi dengan Y, maka diperoleh:
Y/Y = T/Y + X/Y .………..………(4.12) Selanjutnya persamaan (4.10) disubsitusikan ke persamaan (4.11) menjadi:
I = A + X/Y I – A = X/Y (I – A)Y = X Y = (I – A)-1
Jika, M
X ………...(4.13)
a = (I – A)-1 Y = M
maka:
a
Dimana A adalah koefisien-koefisien yang menunjukkan pengaruh langsung (direct coefficients) dari perubahan yang terjadi pada suatu sektor terhadap sektor lainnya. Sementara itu M
X ... (4.14)
a
Pyatt dan Round (1985) melakukan dekomposisi terhadap pengganda neraca agar mendapatkan dampak langsung dan tidak langsung yang dalam bentuk multiplikatif:
adalah pengganda neraca (accounting multiplier) yang menunjukkan pengaruh perubahan suatu sektor terhadap sektor lainnya dari seluruh SAM.
Ma = Ma3 Ma2 Ma1
atau secara aditif dapat ditulis:
……… (4.15)
Ma = I + Ma1 - I + (Ma2 - I) Ma1 + (Ma3 - I) Ma2 Ma1 ……….(4.16)
Ma1
M
adalah transfer multiplier yang menunjukkan pengaruh dari satu blok neraca terhadap dirinya sendiri, yang dirumuskan sebagai berikut:
a1 = (I – A0 )–1 dimana:
………..…… (4.17)
=
33 22 0
0 0
0 0
0 0 0
A A
A ………(4.18)
sehingga:
−
−
=
−
−
1 33 1
22 1
1 0
0
0 1
0
0 0
0
) A ( ) A (
Ma ……….. (4.19)
Selanjutnya Ma2 adalah open loop multiplier atau cross effect yang menunjukkan pengaruh langsung dari satu blok ke blok lain. Dalam hal ini Ma2
M
dapat dirumuskan:
a2 = (I + A* + A*2 dimana A
) ……… (4.20)
* = (I – A0)-1 (A – A0 Oleh karena:
)
A*13 = A A
13
*21 = (I – A22)-1 A A
21
*32 = (I – A33)-1 A maka M
32
a2
=
1 1
1
32 21
32
13 21 21
13 32
13
2
*
*
*
*
*
*
*
*
*
a
A A
A
A A A
A A
A M
dapat ditulis sebagai berikut:
……… (4.21)
Proses open loop multiplier antara blok nampak pada Gambar 25. Gambar ini menunjukkan bahwa misalnya injeksi awal terjadi pada peningkatan
permintaan ekspor (X3), maka output yang terkait dengan blok aktivitas produksi (Y3) akan meningkat, kemudian memberikan pengaruh berikutnya terhadap pendapatan pada blok faktor produksi (Y1) dengan nilai pengganda sebesar A13.
Sumber : Thorbecke (1998)
Gambar 28. Proses Pengganda Antarneraca Endogen SAM
Selanjutnya, peningkatan pendapatan pada blok faktor produksi akan memberikan pengaruh lanjutan terhadap pendapatan pada blok institusi (Y2) dengan nilai pengganda sebesar A*21, dan selanjutnya akan meningkatkan pendapatan blok produksi dengan nilai pengganda sebesar A*32. Apabila injeksi awal bersumber dari peningkatan pendapatan blok faktor produksi yang berasal dari luar negeri (X1), maka injeksi ini akan berpengaruh terhadap pendapatan pada
Y3 Aktivitas Produksi
(I-A33)-1X3
X3= Permintaan ekspor
A*32=(I-A33)-1A32 A*13=A13
Y1
Distribusi pendapatan faktor produksi Y2
Distribusi pendapatan
institusi
(I-A22)-1X2
X2= pendapatan non-faktor dari luar negeri
X1= pendapatan faktor dari luar negeri A*21=(I-A22)-1A21
blok institusi dengan nilai pengganda sebesar A*21 dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap pendapatan pada blok aktivitas produksi dengan nilai pengganda A*32
Peningkatan pendapatan pada blok aktivitas produksi akan berpengaruh terhadap pendapatan pada blok faktor produksi dengan nilai pengganda sebesar A
.
13. Apabila injeksi berawal dari peningkatan pendapatan blok non faktor produksi yang berasal dari luar negeri (X2), maka injeksi ini akan berpengaruh terhadap pendapatan pada blok aktivitas produksi dengan nilai pengganda sebesar A*32 dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap pendapatan pada blok faktor produksi dengan nilai pengganda A13. Peningkatan pendapatan pada blok faktor produksi akan berpengaruh terhadap pendapatan pada blok institusi dengan nilai pengganda sebesar A*21
Terakhir M .
a3 merupakan closed loop multiplier yang menunjukkan pengaruh dari satu blok ke blok lain, kemudian kembali pada blok semula. Dalam bentuk matrik Ma3
M
dapat ditulis sebagai berikut:
a3 = (I – A*3)-1
Persamaan (4.23) secara rinci dapat ditulis sebagai berikut:
... (4.22)
−
−
−
=
−
−
−
1 32 32 13 1
32 32 13 1
32 32 13
3
1 0
0
0 1
0
0 0
1
) A A A ( ) A A A ( ) A A A ( M
*
*
*
*
*
*
*
*
*
a ... (4.23)
Dekomposisi pengganda neraca tidak hanya dilakukan dengan pendekatan rata-rata, tetapi juga dapat dilakukan dengan pendekatan marjinal. Dekomposisi pengganda neraca dengan pendekatan marjinal memerlukan suatu matrik yang disebut marginal expenditure propensities yang dinotasikan dengan C. Matrik C dibentuk berdasarkan asumsi harga tetap, sehingga pengganda yang diperoleh
dengan cara ini seringkali disebut pengganda harga tetap. Secara matematis matrik C dirumuskan sebagai:
C = ∂T/∂Y ……… (4.24)
Secara rinci ditulis sebagai:
=
33 32 22 21
0
0 0 0 0
C C C C
C ……… ... (4.25)
karena Y = T + X, maka:
∂Y = ∂T + ∂X ……… (4.26) dengan demikian,
∂Y = C∂T + ∂X
∂Y = (I – C)-1 atau,
∂X ... ……… (4.27)
∂Y = Mc
Dimana M
∂X ……… (4.28)
c adalah pengganda harga tetap, yang selanjutnya dapat didekomposisi ke dalam Mc1 (transfer multiplier), Mc2 (open loop mutiplier) dan Mc3
M
(closed loop multiplier), sehingga:
c = Mc3Mc2Mc1
Bentuk matrik M
... (4.29)
c3, Mc2, Mc1
M = M
sama seperti pada matrik dekomposisi sebelumnya, hanya saja yang digunakan disini adalah marjinal pengeluaran, sedangkan untuk interregion SAM, Pyatt dan Round (1985) menunjukkan dekomposisi multiplier sebagai berikut:
r3Mr2Mr1
dimana:
………... (4.30)
Mr3 = closed-loop multiplier effect within region
Mr2 M
= interregional open-loop multiplier effect
r1
Persamaan (4.30) diperoleh dengan penurunan sebagai berikut:
= transfer effect within region
Y1 = B11Y1 + B12Y2 + X1
Y
... (4.31)
2 = B22Y2 + B21Y1 + X2 dimana:
...(4.32)
Y1, Y2 B
= total pengeluaran untuk masing-masing regional
11, B22 B
= koefisien intraregional
12, B21
X
= koefisien interregional
1, X2
Dari persamaan [4.31] dan [4.32], maka:
= neraca eksogen
Y1 = (1 - B11)-1 b12Y2 + (1 - B11)-1 X1
Y
... (4.33)
2 = (1 – B22)-1 b21Y1 + (1 – B22)-1 X2
Persamaan [4.33] dan [4.34] bila ditulis dalam bentuk perkalian matrik adalah:
... (4.34)
[ ]
[ ]
[ ]
[ ]
− + −
−
= −
−
−
−
−
2 1 1 22 1
11
2 1
21 1 22
12 1 11
2 1
0
0 0
0
Χ Χ B I B
I Υ Υ b
B I
b B I Υ
Υ ... (4.35)
Bila didefinisikan bahwa D12 = [I – B11]-1 b12 dan D21 = [I – B22]-1 b21
[ ]
[ ]
.0
0
2 1 1 22 1
11 1
21 12
2
1
−
−
=
−
− −
Χ Χ B
I B
I I D
D I
Υ Υ
, selanjutnya persamaan (4.35) dapat ditulis sebagai berikut:
... (4.36)
Dengan demikian:
[ ]
[ ]
−
= − −
−
1 22 1
11
1 0
0 B I B
Μr I ... (4.37)
sedangkan,
[ ] [ ]
[ ] [ ]
−
−
−
= − −
−
−
1 12 21 21
12 21
12 1 21 12 1
21 12
D D I D D D I
D D D I D
D
Μrx I ... (4.38)
sehingga :
[ ]
[ ]
−
= − −
1 1
0
0
21 12
12 21 1
21 12
D D D
D I D
D
Μrx I ... (4.39)
Dengan demikian, maka:
=
1 1
21 12
2 D
Μr D ... (4.40)
dan,
[ ]
[ ]
−
= − −
−
1 12 21 1
21 12
3 0
0 D D I D
D
Μr I ... (4.41)
4.7. Kompilasi Jaringan Interregional
Dengan mengasumsikan ada dua wilayah, r dan R dan setiap wilayah terdiri dari tiga sub sistem ekonomi (aktivitas produksi, faktor produksi dan insitusi) kompilasi jaringa n interregional, matrik A dapat dinyatakan sebagai ** berikut (Achjar et al., 2003):
=
RR RR Rr
Rr
RR RR Rr
Rr
RR Rr
rR rR rr
rr
rR rR rr
rr
rR rr
A A A
A
A A A
A
A A
A A A
A
A A A
A
A A
A
33 32 33
32
22 21 22
213
13 13
33 31 33
32
22 21 22
21
13 13
*
*
0 0
0 0
0 0 0
0
0 0
0 0
0 0 0
0
... (4.42)
Menggunakan suatu pendekatan dekomposisi untuk membangun Block Structural Path Analysis (BSPA), blok parsial matrik input langsung untuk tiga blok dan invers Leontief parsial dalam setiap wilayah (Sonis et al., 1997a, b, 1998, 2003), sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Pasangan institusi dengan aktivitas:
( )
= *
33
* 23
* 22
* 0
1 A A
A A ... (4.43)
Besaran input-input dalam first layer feedback loop dalam kerangka interregional SAM dinyatakan sebagai:
* 32
* 3
* 13
*
12 A B A
A = ; A13* = A13*
* 12
*
21 A
A = ; A23* = A12A13... (4.44)
* 21
* 2
* 22
*
31 A B A
A = ; A32* = A23* dengan invers Leontief parsial adalah:
( ) [ ( ) ]
=
−
= − *
3
* 2
* 32
* 3
* 1 3
*
* 0
1
1 B A B B
A B I
B ... (4.45)
dimana:
(
22*)
*
2 I A
B = − dan
(
33*)
1* 33
− −
= I A B
2. Pasangan faktor produksi dengan aktivitas:
( )
= *
33
* 13
*
0 2 0
A
A A ... (4.46)
dengan invers Leontief parsial adalah:
( ) [ ( ) ]
=
−
= − *
3
* 3
* 1 13
*
*
2 0
2 B
B A A I
I
B ... (4.47)
3. Pasangan faktor produksi dengan institusi:
( )
= *
22
* 21
* 0 0
3 A A
A ... (4.48)
dengan invers Leontief parsial adalah:
( ) [ ( ) ]
=
−
= − *
2
* 21
* 21
* 1
* 0
3
3 B A B
A I I
B ... (4.49)