DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH
RAPAT DENGAR PENDAPAT PANSUS TATIB
BERSAMA PIMPINAN DPD RI DAN ALAT KELENGKAPAN DPD RI MASA SIDANG I TAHUN SIDANG 2016-2017
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
I. KETERANGAN
1. Hari : Kamis
2. Tanggal : 25 Agustus 2016
3. Waktu : 13.50 WIB – 16.50 WIB
4. Tempat : R. Rapat
5. Pimpinan Rapat : Pimpinan Rapat
1. Dr. H. Ajiep Padindang, S.E., M.M. (Ketua Pansus Tatib) 2. Drs. H. Akhmad Muqowam (Wakil Ketua Pansus Tatib) 3. Fahira Idris, S.E., M.H. (Wakil Ketua Pansus Tatib) 6. Sekretaris Rapat :
7. Acara : RDP Bersama Pimpinan DPD dan Alkel
8. Hadir : Orang
9. Tidak hadir : Orang
II. JALANNYA RAPAT :
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Buka baru kita skorsing sampai mendekati kuorum, bukanya kita skorsing sampai mendekati kuorum anggota Pansus yang hadir sudah 4 ya dengan ucapkan bismillahirahmanirrahim, Rapat Pansus bersama dengan Pimpinan Alat Kelengkapan DPD RI saya nyatakan dibuka dan sekaligus di skorsing.
KETOK 1X
Tadi saya sudah skorsing rapat ini, maka dengan mengucapkan Bismillahirahmanirrahim saya cabut.
KETOK 1X
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang salam sejahtera untuk kita sekalian.
Alhamdulillah wa syukurillah lahaula walakuata illabillah aliyil adzim.
Saya bersama Pak Muqowam, Ibu Fahira, Pimpinan Pansus menyampaikan terima kasih atas kesediaan para anggota Pansus dan lebih khusus kepada Pimpinan Alat Kelengkapan DPD RI yang menurut informasi Pimpinan DPD selaku Pimpinan Alat Kelengkapan juga sebentar akan bergabung dan karena rapat kita sudah, peserta menurut kita sudah memenuhi syarat dari Pansus 9 orang, anggota Pansus 15 orang sudah lebih dari kuorum, pimpinan-pimpinan alat kelengkapan juga sudah terwakili saya nanti pada saatnya juga akan minta izin kepada forum bisa mewakili Komite IV. Begitu pun Pak Muqowam berhubung karena kami sesama Pimpinan Komite IV sedang yang lain ada tugas tapi karena sudah ada Pak Haripinto. Ada Pak Haripinto, ada Pak Gafar, ada Pak Jhon Pieris itu orang Komite IV semua jadi saya pikir kalau hal-hal berkait Komite IV beliau bisa mewakili sekaligus Komite IV sekaligus pimpinan alat kelengkapannya dari sudut tunjangan itu bisa dapat 2 tunjangan. Jadi sekali lagi atas nama Pimpinan Pansus menyampaikan terima kasih kepada bapak/ibu sekalian. Saya ingin menginformasikan bahwa Pansus ini bekerja berdasarkan dengan keputusan Paripurna DPD RI dan dituangkan dalam surat keputusan Pimpinan. Sesuai kesepakatan kami dalam Rapat Pleno Pansus tahap pertama akan bekerja dan menyelesaikan tugas kalau tidak ada halangan itu sampai dengan 20 Oktober 2016 atau Masa Sidang I Tahun Sidang 2016-2017.
Saya pertama-tama menyampaikan juga terima kasih kepada Pimpinan PURT yang Insya Allah tidak akan memangkas lagi anggaran yang dialokasikan kepada Pansus. Mana
RAPAT DIBUKA PUKUL 13.50 WIB
RAPAT DISKORS PUKUL 13.51 WIB
RAPAT DIBUKA KEMBALI PUKUL 14.07 WIB
Pimpinan PURT? Makanya saya begini sedikit dulu karena undangan PURT sebentar sore sesudah rapat ini yang mungkin langsung disambung di ruangan ini akan melakukan penyisiran terhadap pemangkasan alokasi anggaran masing-masing alat kelengkapan dan Pansus ini sudah mendapatkan alokasi anggaran yang memang tersedia dalam APBNP, dalam RAB atau dalam DIPA Sekjen. Saya yakin malah akan di tambah nanti oleh PURT.
Kegiatan Pansus bapak/ibu sekalian antara lain adalah melakukan atau melaksanakan inventarisasi permasalahan yang terkait dengan tugas pokok yang diberikan dan bentuk atau wujud dalam pelaksanaan iventarisasi permasalahan Tatib sesuai tugas Paripurna adalah antara lain mendengarkan atau akan merekam sebagai masukan, kami sudah melakukan dari minggu lalu dari Sekretariat Jenderal DPD RI untuk mengetahui apa kesulitan-kesulitan dalam mengimplementasikan Tatib Nomor 1 Tahun 2016 sekaligus dengan masukan dan saran-sarannya. Kami pun pada sore hari ini Pimpinan Komite I atau anggota Pansus, ini harus diklarifikasi. Harus diklarifikasi sebentar kami mengundang bapak/ibu sekalian yang saya hormati adalah dengan maksud untuk mendapatkan masukan untuk mendengarkan berbagai hal yang terkait dengan pelaksanaan Tatib Nomor 1 Tahun 2016 yang mungkin secara internal bapak-bapak sudah bahas di sini, di meja pimpinan sudah ada catatan-catatan tertulis dari beberapa pimpinan alat kelengkapan yang kemungkinan menurut hasil Sipur dan tugas-tugas Panmus dan berikan kepada Pansus perlu disempurnakan nanti. Kita lebih baik bicara sekarang atau berbicara di Pansus ini apa hal-hal yang mesti kita sempurnakan bersama. Pansus adalah tanda kutip juru tulis, juru rumus sesungguhnya permasalahan itu permasalahan di bapak-bapak, di kita semua karena ini adalah tata tertib kita, tata tertib yang menurut Undang-Undang mengikat internal Dewan perwakilan Daerah. Olehnya itu kami mengundang Bapak-bapak/Ibu Pimpinan alat kelengkapan sore ini, siang ini untuk kita dengar masukan-masukan dan kami di Pansus tidak berdiskusi dengan bapak-bapak tetapi merekam masukkan yang nanti menjadi bahan di dalam pembahasan-pembahasan Anggota Pansus atau pada pembahasan Pansus berikutnya. Pada kesempatan lain nanti kami juga masih akan mendapatkan informasi melalui pakar melalui narasumber karena sesuai dengan alokasi kegiatan yang ada, ada 3 kali kemungkinan berpeluang untuk mengundang narasumber pihak luar untuk memperkaya Pansus bahkan Pansus pun masih punya kewenangan juga untuk melakukan atau merekam masukan diluar atau di luar, kegiatan di luar kantor DPD dalam artian bisa saja dari dari perguruan tinggi atau stake holder yang lain.
Itulah gambaran singkat bapak-bapak/ibu semua ada yang mau ditambahkan Pak Muqowam? Ibu Fahira? Kami di pimpinan Pansus itu berbagi tugas pak, tugas saya hanya memimpin rapat, mengambil keputusan itu dirumuskan oleh Pak Muqowam jadi saya agak enak karena memimpin rapat saja membuka, mengarahkan, dan sudah itu menutup nanti pak jadi kalau ada yang menegur nanti Pak Muqowam yang punya urusan menegur.
Baik bapak/ibu sekalian. Saya tidak akan memberi batasan waktu setiap pimpinan alat kelengkapan karena sekali lagi tergantung di ibu/bapak semua, tinggal kita saling pengertian agar rapat ini bisa berakhir pukul 16.00 WIB. 16.00 WIB ya iya karena ada 16.30 WIB PURT. Pukul 16.00 WIB target kita tapi kalau pun sudah cukup bahan sebelumnya jangan dipaksakan mencapai pukul 16.00 WIB itu kesepakatan awal kita pak ya.
Baik, terima kasih. Baik saya ingin persilakan pertama sesuai kehadiran menurut monitoring Ibu Fahira, Pak Gafar selaku Pimpinan Badan Akuntabilitas Publik DPD RI yang pertama hadir dan menurut teori tunjangan kinerja beliau sebenarnya berhak mendapatkan bonus 10 %, di catat Sekretariat Jenderal itu ya karena itu tidak keberatan saya yakin bapak/ibu semua kalau kita persilakan pertama Pimpinan BAP. Dengan hormat saya persilakan. Mana mejanya. Nah itu tadi karena beliau sebagai Pimpinan BAP bukan pimpinan bukan anggota Pansus. BAP ini butuh 4 jam rapatkan untuk masukan ini kemarin, saya mengikuti rapatnya salah satunya. Mari bu silakan. Terima kasih atas kehadiran Ibu Pimpinan DPD. Iya silakan Pak Gafar Pimpinan BAP.
PEMBICARA: Drs. H. ABDUL GAFAR USMAN, M.M. (KETUA BAP DPD RI)
Iya, terima kasih.
Terima kasih Pimpinan Pansus.
Pimpinan DPD, Pimpinan rekan-rekan semua.
Agenda kita menyampaikan pikiran-pikiran berkembang dalam alat kelengkapan Badan Akuntabilitas Publik Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia secara formal tertulis nanti akan kami sampaikan. Kami atas nama Pimpinan hadir 2 orang seperti melebihi dari separuh karena jumlah pimpinan 3, hadir 2 dan lengkap dengan gendernya ada laki, ada perempuan jadi ini Ibu Novita.
Dari hasil yang berkembang, yang direkam satu sesuai dengan SK Pansus memberikan secara autentik tertulis 341 mengenai masa jabatan pimpinan, masa jabatan pimpinan alat kelengkapan. Kedua laporan kinerja pimpinan, laporan kinerja pimpinan alat kelengkapan. Dari 4 pintu ada pemikiran yang berkembang dari BAP :
1. Diharapkan BAP menyampaikan kepada Pansus Tata Tertib yang sifatnya bertentangan dan tidak sesuai dengan Undang-Undang diusulkan dilakukan perbaikan-perbaikan dan perubahan.
2. Adanya tambahan alat kelengkapan seperti Panitia Pengawas itu perlu dievaluasi efektivitas efisiensi dan nilai guna di dalam tata tertib.
3. Menyangkut masa kerja itu akan disesuaikan dengan aturan dan peraturan yang memang relevan untuk itu.
Itulah pada prinsip disampaikan oleh kawan-kawan pada Rapat BAP kemarin dan sampai jam 10 ini kami masih menunggu dari masing-masing anggota untuk menyampaikan pikiran-pikirannya tapi kami belum menerima secara otentik yuridis. Nah selanjutnya nanti kami akan sampaikan secara tertulis padahal Pansus pikiran aspirasi yang berkembang padahal pada Badan Akuntabilitas Publik.
Saya kira demikian bapak dan ibu. Jika ada tambahan dari Ibu Novita. Ternyata memang apa yang saya sampaikan, rekaman telah kita sampaikan. Nah tertulis akan kami sampaikan jika ada waktu limit dari pimpinan kapan limit terakhir menyampaikan tertulis akan kami sampaikan. Saya kira sekian, terima kasih. Jika ada pertanyaan dan diskusi kami siap untuk menerima itu. Terima kasih.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terima kasih Bapak Ketua BAP, Pimpinan BAP kelihatan kurang cerah Ibu Novita hari ini? Oh tidak juga, iya cuma saya melihatnya dari sini ibu nah itu memancing Ibu Wakil Ketua balik kesana.
Terima kasih Pak Gafar atas masukkannya. Terbuka saja setiap saat masukan- masukan disampaikan oleh Pimpinan alat kelengkapan yang sesungguhnya sudah menugaskan anggotanya menjadi anggota Pansus. Oleh karena itu saya tadi lupa menyampaikan bahwa kesepakatan pleno Pansus ini perlu saya laporkan kepada seluruh Pimpinan alat kelengkapan yang hadir karenakan alat kelengkapan menugaskan anggotanya menjadi anggota Pansus nah tentu kami melaporkan kepada bapak/ibu bahwa kesepakatan Pleno Pansus Tatib Anggota Pansus yang tidak hadir dalam rapat 3 kali berturut-turut tanpa alasan yang sangat kuat maka akan dimintakan penggantian dari Pimpinan alat kelengkapan yang bersangkutan. Itu sudah keputusan pak jadi tidak bisa lagi di gugat. Ya jadi tinggal monitor saja anggotanya Komite II yang ditugaskan di Pansus siapa begitu ya. Maaf Ibu Pimpinan. Tadi kehadiran Pak Lalu sebagai anggota Pansus atau sebagai Pimpinan BK?
Maksud saya kalau di ukur dari kehadiran sebagai Pimpinan BK maka urutan berikutnya adalah Pimpinan BK. Oh Pansus berarti bukan urutan kedua Bu Fahira.
Baik, Pimpinan BK (Badan Kehormatan) silakan mungkin ada masukkan.
PEMBICARA: Drs. H. A. HUDARNI RANI, S.H. (WAKIL KETUA BK DPD RI) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pak Ketua dan Wakil Ketua serta seluruh peserta sidang yang saya hormati.
Saya ingin laporkan bahwa pertama ketua sedang berada di luar dan, diluar daerah lah pokoknya, katanya bersama anggota ini. Jadi saya ditugaskan untuk menyampaikan ini dan kemudian salah satu wakil ketua yang berada di posisi anggota Pansus juga sudah memesan kepada saya untuk yang menyampaikan ini dan yang ingin disampaikan bahwa BK sangat berharap bahwa Pansus ini di dalam melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan kita akan berusaha memberikan masukan-masukan terutama bagi anggota BK yang ada di Pansus yaitu sebanyak 3 orang ya juga menitipkan dan saya ditugaskan belum berani menyampaikan ini karena ini belum dibahas di dalam Pleno BK. Jadi nanti secara tertulis kita akan sampaikan jadi menunggu Pak Ketua Hadir nanti dan kita akan adakan rapat pleno secepatnya untuk memberikan masukan yang konkrit walaupun inventalisir masalah-masalah sudah ada dan ini kalau mau disampaikan bisa misalnya mengenai cara pimpinan alat kelengkapan dapat diberhentikan dari jabatannya apabila dan seterusnya itu ada penegasan- penegasan misalnya untuk pengambilan keputusan itu di situ tadi disebutkan apakah 50% + 1 atau 3/4 anggota, jadi tidak sembarang-sembarang misalnya. BK menegaskan bahwa Tatib ini sangat perlu penting dan harus dapat berfungsi sebagai social enginering dalam kita mencapai tugas pokok daripada DPD ini maka itu sangat penting kita bekerja sebaik-baiknya termasuk beberapa sudah kita siapkan tapi karena ada pesan dari anggota Pansus yang dari BK supaya nanti akan dibahas di dalam rapat Pleno BK yang 17 orang itu saya mohon izin nanti Pak Pimpinan Pansus untuk menyampaikan secara lebih terperinci secara tertulis dan itu nanti kita juga akan sampaikan melalui anggota Pansus yang dari unsur BK itu.
Kita berharap, sangat berharap banyak kepada Pansus ini dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya ya kita akan berikan masukan tapi tadi putusannya tadi tukang rumus dan tukang putus saja kan kita mendukung itu. Terima kasih Pak Ketua.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Jadi yang tertulis yang ada di meja kami belum belum dianggap sah oleh, iya ini baru sifatnya inventalisir begitu pak ya, baik. Terima kasih Bapak Pimpinan Badan Kehormatan atas tanggapannya, informasinya. Dan selanjutnya kita persilakan Komite III tadi berikut kehadirannya, Komite III nanti menyusun Komite II. Silakan Pimpinan Komite III.
PEMBICARA: Pdt. CARLES SIMAREMARE, S.Th., M.Si. (WAKIL KETUA KOMITE III DPD RI)
Terima kasih Ketua dan Pimpinan Pansus yang kami hormati.
Saya di sini mewakili Pimpinan Komite III karena ketua kami berhalangan hadir dan menyampaikan kepada kami berdua Ibu Fahira dan saya untuk menghadiri tetapi Ibu Fahira sudah di tempat untuk memimpin mungkin saya ikut menambahkan saja nanti yang akan disampaikan oleh Bu Fahira memang Komite III secara resminya belum membahas apa yang menjadi masukan kami tetapi karena waktu yang sangat mendesak akhirnya kami mencoba
menjajaki lewat group WA sehingga ada beberapa masukan dan saran dari teman-teman anggota Komite III dari beberapa item yang bisa kami rangkumkan yang pertama adanya permintaan supaya SK alat kelengkapan yang sudah berakhir sebenarnya tanggal 18 Agustus kemarin supaya segera diperbaharui sambil menunggu putusan Tatib yang akan disahkan lewat paripurna yang akan datang. Kemudian adanya muncul masih dua pendapat yang bisa kami irangkum di sini adalah keinginan untuk tetap alat kelengkapan itu 2,5 tahun dan untuk Pimpinan DPD itu 5 tahun nah sedangkan itu pun ada yang ingin menambahkan untuk laporan oleh pimpinan alat kelengkapan supaya tetap disampaikan 2,5 tahun dalam bentuk laporan saja mungkin itu saja yang ingin kami sampaikan garis besar yang sangat penting untuk didalami bersama.
Terima kasih, saya kembalikan.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terima kasih Charles, Pak Pendeta mewakili Komite III. Ibu Fahira ada mau ditambahkan? Cukup. Ada di luar sedikit konteks Pansus yang disampaikan oleh Pimpinan Komite III tapi ini tidak apa-apa kita bicarakan karena forum ini juga untuk kita dan ada Pimpinan DPD yang perlu sekali mendengarkan tentang sebutan tadi adalah berakhirnya bukan hanya SK alat kelengkapan Pimpinan alat kelengkapan tapi keanggotaan alat kelengkapan dan rupanya sudah agak bias dalam 1-2 hari rapat ini dimasing- masing alat kelengkapan, ada yang sudah tidak mendaftarkan di alat kelengkapan awalnya, ada juga yang sudah membuat absen alat kelengkapan baru itu padahal surat keputusan Pimpinan DPD belum terbit sebagai pengesahan, pertukaran atau pergeseran antara anggota maupun selaku pimpinan alat kelengkapan ini. Saya hanya mensitir sedikit Pimpinan Komite III karena itu juga sependapat dengan Pimpinan Komite IV sebenarnya.
Selanjutnya Pimpinan Komite II saya persilakan, Pak Ketuanya langsung.
PEMBICARA: PARLINDUNGAN PURBA, S.H., M.M. (KETUA KOMITE II DPD RI)
Baik, terima kasih Pak Ketua Pansus dan Wakil Ketua.
Bapak dan Ibu, Ibu Ratu Hemas yang saya hormati.
Pertama sekali karena ada berita duka cita atas meninggalnya putra dari sahabat kita Pak Syukur yaitu Sabik Syukur oleh sebab itu mohon kita hening cipta mendoakan semoga kiranya ananda tersebut, sudah lama sakit ini bisa di terima disisi-Nya dan keluarga Syukur teman kita ini diberikan kekuatan. Terima kasih.
Baik, Bapak-bapak/Ibu-ibu yang saya hormati.
Saya hanya menambahkan perkembangan terakhir yang diwakili oleh pertemuan terakhir dengan Ibu Anna Latuconsina, ada 3 hal yang pertama tentang keberadaan anggota Komite pada saat ini tidak memiliki legalitas seperti yang tadi karena berdasarkan keputusan Pimpinan DPD bahwa keanggotaan alat kelengkapan DPD berakhir sejak tanggal 16 Agustus 2016 sementara berdasarkan keputusan Panmus dan Sidang Paripurna ke-I DPD RI Tahun Sidang 2016-2017 telah disepakati bahwa keanggotaan alat kelengkapan tidak perlu diputuskan. Jadi ini memang betul yang kita rasakan di Kkmite masing-masing karena pada saat itu silakan provinsi membuat pergantian tetapi juga akan harus mempunyai keputusan pimpinan tentang ini karena nanti akan berpotensi menimbulkan permasalahan di kemudian hari baik secara administasi dan lain. Yang kedua, masa jabatan Pimpinan Alat Kelengkapan selain Pimpinan DPD sebagaimana diatur dalam Tatib DPD bertentangan dengan Undang- Undang MD3 karena dalam Undang-Undang MD3 masa jabatan anggota dan pimpinan alat
kelengkapan adalah selama 1 tahun. Ini yang lalu, usulan adanya penambahan komponen dalam laporan kinerja pimpinan alat kelengkapan sehingga tidak hanya berisi pelaksanaan tugas alat kelengkapan saja tapi juga berisi tentang kehadiran alat kelengkapan dalam penyelenggaraan rapat-rapat.
Terhadap laporan anggota Pansus terhadap beberapa masukan yang disampaikan anggota Komite II sebagai berikut :
1. Perlu diadakan rapat Panmus agar membahas penetapan keanggotaan alat kelengkapan dengan membatalkan keputusan panmus sebelumnya yang menyatakan tidak perlu adanya penetapan keanggotaan alat kelengkapan pada tahun sidang sekarang. Hal ini dimaksudkan agar semua alat kelengkapan memiliki legalitas dalam melaksanakan kegiatan yang menjadi tugas dan fungsi alat kelengkapan termasuk dalam penggunaan anggaran yang mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi konstitusional yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
2. Secara hukum legalitas anggota maupun pimpinan alat kelengkapan harus ditetapkan dan keputusan Pimpinan DPD. Oleh karena itu, pimpinan DPD perlu menetapkan keputusan untuk memperpanjang masa jabatan anggota alat kelengkapan dan pimpinan alat kelengkapan.
3. Terhadap ketentuan-ketentuan dalam Tatib DPD RI yang berpotensi melanggar peraturan perundang-undangan maka dapat dilakukan permohonan judicial review oleh anggota maupun stake holder terkait.
Terima kasih. Kami Pimpinan Komite II tanggal 25 Agustus 2016. Terima kasih akan kami sampaikan juga. Horas nuwun sewu.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terima kasih Bapak Ketua Komite II tidak diserahkan nanti pak itu
Saya lihat justru sudah lengkap sekali. Memang ini Ibu Wakil Ketua saya laporkan, pimpinan komite yang paling eksis sekarang ini adalah masih Pak Parlindungan Bu, saya harus hormat sama Pak Muqowam itu karena Anggota Komite II paling banyak di PURT jadi terima kasih sekali lagi Bapak Pak Parlindungan Pak Ketua Komite II, mohon maaf Ibu wakil ketua supaya ibu juga mungkin dengarkan sekalian nanti bukan terakhir Bu tapi sesudah teman yang lain kalau boleh. Saya persilakan Pimpinan PPUU kalau begitu yang sudah yang sudah dinyatakan-dinyatakan. Ya silakan.
PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (WAKIL KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Pimpinan ini taat betul sama Purba memang. Mau Parlin, mau Djasarmen, dia taat betul itu saja.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Jadi kita silakan lebih dahulu BKSP Pak Parlindungan, Pak Djasarmen atau PPUU tidak ada masalah. Silakan PPUU tidak ada masalah.
PEMBICARA: DJASARMEN PURBA, S.H. (WAKIL KETUA PPUU DPD RI) Terima kasih Pimpinan dan Ibu Wakil Ketua.
Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang dan salam sejahtera buat kita semua.
Om Swatiastu.
Surat kami dari PPUU ada yang menunjuk saya karena secara resmi pimpinan PPUU 2 orang tidak hadir karena kebetulan saya sebagai anggota pansus makanya saya di sini duduk selaku Pimpinan PPUU. Yang kedua bahwa PPUU ada 3 orang yang diwakili di sini Pak Benny ada dan Pak Guston ada.
Baik memang banyak masukan dan ini saya bacakan secara resmi. Pertama bahwa perubahan Tatib diupayakan sedemikian rupa agar sinkron dan harmonis dengan peraturan Perundang-Undangan atau tidak melanggar UUD 1945 atau Undang-Undang lainnya, seperti Undang-Undang 17 Tahun 2014, Undang-Undang MD3, maupun Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan Undang-Undang. Yang kedua bahwa peraturan DPD RI Nomor 1 Tahun 2016 tentang Tatib sudah mulai berlaku sejak ditetapkan. Yang menjadi tugas utama dalam Pansus perubahan Tatib yang sekarang ini adalah membahas substansi ketentuan peralihan. Ketiga dalam melakukan pembahasan substansi ketentuan peralihan sebagaimana yang dimaksud pada nomor 2 di atas maka perlu diperhatikan pemberlakuan asas nonretroaktif sehingga nantinya tidak terjadi kerancuan hukum dan menimbulkan permasalahan administratif oleh karena itu dalam pembahasan ketentuan peralihan perlu mengundang pakar yang memuja kompetensi terkait pemberlakuan azas nonretroaktif baik itu pakar hukum maupun pakar keuangan. Keempat ini di luar tatib yang sama dengan yang lain hal lain di luar substansi tatib yang perlu disampaikan adalah tentang penetapan keanggotaan alat kelengkapan di Sidang Paripurna awal tahun sidang karena dalam rapat pleno PPUU kemarin masih terjadi perbedaan penafsiran apakah masih menggunakan keanggotaan 2015-2016 atau sudah disesuaikan dengan usulan dari provinsi masing-masing.
Kenapa terjadi perbedaan? Terus terang saja ada sedikit permasalahan di PPUU kemarin bahwa dari pihak Sumatera Selatan sudah terjadi perubahan. Sementara Paripurna belum. Nah sementara yang lain seperti Sulawesi Selatan belum ada perubahan tapi mereka sudah ada pergantian dari provinsi sehingga terjadi semacam dua pandangan, dua beda pendapat. Nah ini perlu segera menurut PPUU segera diselesaikan dengan segera karena apa karena supaya tidak terjadi hal-hal demikian yang juga menyangkut tentang anggaran keuangan. Saya kira itu ya Pak Benny, Pak John ya menyangkut dengan pandangan PPUU dan ini secara resmi saya serahkan kepada pimpinan, terima kasih.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terimakasih Pimpinan PPUU Pak Djasarmen Purba atas masukannya. Sampai-sampai rapat yang kemarin saya dengar 2 absennya. Saya monitor itu Pak, ada 2 absen dibuat PPUU dalam rapatnya. Absen berdasarkan keanggotaan lama dan absen berdasarkan kemungkinan keanggotaan baru, betul itu Pak Djasarmen ya. Ternyata ada ilmu yang lain dari Pak Wakil Ketua Pak Farouk, saya tidak lihat masuk ruangan Pak, saya serius ini. Jadi rupanya ada ilmu khusus. Kita persilakan BKSP.
PEMBICARA: A.M. IQBAL PAREWANGI (KETUA BKSP DPD RI)
Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Saya berdua dengan Pak Haripinto, pimpinan BKSP. Kami datang berdua karena tahu informasi tadi bahwa kursi yang disediakan cuma 2. Sebenarnya kami mau datang bertiga.
Jadi lain kali saya kira pansus tolong untuk pimpinan alat kelengkapan masing-masing disediakan 3 kursi. Siap Bang Ken. Ada 4 hal. Yang pertama, terkait dengan tadi sudah ada brainstorming awal di Pleno BKSP masukan awal. Yang pertama, kita perlu mempercayakan pada Pansus sesuai dengan yang ditugaskan bahwa sebelum pansus ini terbentuk ada keputusan-keputusan di alat kelengkapan lain atau alat kelengkapan tertentu itu sifatnya tidak dalam kondisi mengikat secara rigid Pansus yang ada sekarang.
Jadi yang pertama ini adalah memberikan kepercayaan kepada Pansus sesuai dengan yang ditugaskan. Yang kedua, sebagaimana tradisi yang dikembangkan di BKSP diharapkan dengan tatib nantinya yang dikerjakan oleh Pansus ini terjadi kondisi tegak aturan untuk keteraturan. Contoh konkret kalau nanti ada anggota pansus yang exit dari alat kelengkapannya maka dia berarti otomatis demi keteraturan dia juga diganti di pansus andai Iqbal Parewangi masuk dalam Anggota Pansus lalu rolling Sulsel dan sudah ditetapkan nanti menunjukkan bahwa saya meninggalkan BKSP maka posisi saya di Pansus sebagai perwakilan BKSP diganti oleh yang masih sahih sebagai anggota BKSP. Itu bentuk untuk aturan menegakkan keteraturan. Bentuk lainnya adalah dalam bentuk kajian lintas negara tupoksi Pak Ketua Komite II ya, Pak Ketua Pansus tupoksi kami ada di situ dalam ketatanegaraan masa jabatan tidak dipotong-potong. Yang bisa dipotong itu adalah yang menjabat cuma Ketua Pansus dan Pak Waka, Bu Waka Pansus tolong jangan dimaknai apa- apa tentang yang boleh dipotong adalah yang menjabat gitu ya.
Pak Parlin masa jabatannya tidak bisa diganggu gugat tapi Parlin-nya bisa diberhentikan. Mungkin karena alasan umur atau mungkin karena alasan perundang- undangan. Boleh Pak Parlin berhenti, diberhentikan di tengah jalan tapi masa jabatan itu sendiri tidak dalam posisi dipotong-potong. Yang kedua, ah yang ketiga, kedua tadi menegakkan aturan dan keteraturan. Tiga ada hal-hal spesifik pada BKSP kalau yang terungkap tadi ada satu penguatan tentang komunikasi yang lebih pas, yang lebih cocok, yang lebih bersesuaian dengan tupoksi antara BKSP dengan Pimpinan DPD Republik Indonesia dan yang keempat, secara resmi perlFu disampaikan bahwa karena dipandang ada hal yang urgent oleh BKSP terkait dengan perlunya men-support Pansus tatib ini sesuai dengan pandangan Anggota maka di BKSP masih kami akan lakukan pleno khusus untuk menyerap masukan dan selanjutnya nanti akan disampaikan secara tertulis. Pak Haripinto ada, ada yang mau ditambahkan Pak Hari? Baik, terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terima kasih Bapak Ketua BKSP.
Beberapa masukannya, nanti menyusul melalui Anggotanya yang ditugaskan di Pansus. Selanjutnya kami persilakan Bapak Pimpinan BPKK, Pak Prof. John Pieris.
PEMBICARA: Prof. Dr. JOHN PIERIS, S.H., M.S. (WAKIL KETUA BPKK DPD RI) Terima kasih Pak Ketua.
Yang pertama Pansus harus memperhatikan catatan-catatan penting dalam kesepakatan di Panmus. Kedua menyisir kembali catatan-catatan kritis pada sidang
paripurna. Yang ketiga BPKK belum bisa merumuskan standing ya alat kelengkapan ini karena memang akhir-akhir ini BPKK sangat sibuk dengan kegiatan-kegiatan amandemen.
Jujur saya katakan bahwa hampir semua alat kelengkapan itu terbelah, itu wajar-wajar saja dalam berdemokrasi. Jadi morality saya tidak bisa berbicara atas nama BPKK sekarang karena itu belum dibahas oleh BPKK ya jadi saya minta waktu untuk di lain waktu kita akan menyampaikan itu. Yang keempat Pak Ketua dan Pimpinan, kita mengingatkan lagi bahwa kedudukan BPKK dalam tatib sebagaimana yang disampaikan pada Pansus pertama itu sedikit pun tidak bergeser mengenai tupoksi dari BPKK itu tetapi ada hal yang perlu kita ingatkan kembali dalam rumusan BPKK yang disampaikan tempo hari ya BPKK menginginkan agar tatib itu dapat disempurnakan sebagai misal ya dibentuk 3 sub kelompok Anggota. Semacam "fraksi" sub kelompok Timur, Tengah, dan Barat. Untuk lebih mengefektifkan kinerja kelompok pada 3 wilayah itu ya implikasi politiknya tentunya ada distribusi peran dari Anggota-Anggota selain yang sudah terdistribusi ke alat kelengkapan ketua sub kelompok, sekertaris dan bendahara juga bisa dibentuk. Filosofi yang mendasari ini adalah bahwa frekuensi kegiatan 3 pimpinan itu terlalu besar ya untuk memikirkan Indonesia melalui DPD. Kalau ada pimpinan sub kelompok atau semacam pimpinan fraksi itu dapat dilakukan peran itu katakanlah Tengah bergabung apa sih isu-isu strategis, target-target program untuk kepentingan daerah Tengah yang akan membicarakan itu ya dengan menteri- menteri teknis. Logika yang sama juga Timur dan Barat melakukan hal yang sama. Tidak ada maksud lain dibalik itu Pak Ketua. Nah supaya sub kelompok itu mengagregasi, mereformulasi ya dan merevitalisasi kembali keinginan-keinginan daerah itu untuk dapat diperjuangkan oleh DPD RI dalam level nasional.
Terima kasih Pak Ketua.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terima kasih Bapak John Pieris Ketua BPKK. Selanjutnya saya persilakan Ketua PURT. Ini sangat penting kita dengarkan juga ini. Silakan.
PEMBICARA: H. NOVI CANDRA, S.E. (WAKIL KETUA PURT DPD RI) Terima kasih Pimpinan.
Yang saya hormati, Pimpinan DPD, Pimpinan Pansus, Pimpinan alat kelengkapan dan Anggota pansus hadir pada kesempatan hari ini. Kami dari PURT kemarin sempat membuka wacana ingin membahas masukan terhadap Pansus yang akan dilaksanakan pada rapat hari ini. Jadi karena keterbatasan waktu kami juga belum bisa membahas secara pleno dan secara bersama-sama tapi dari isu yang berkembang dari kawan-kawan sebenarnya sangat berharap pansus tatib ini bisa selesai dengan segera dan dengan baik karena ada 3 hal yang sebenarnya menjadi patokan bagi kita pada hari ini yang mana penyelesaian pansus secara cepat mengenai perencanaan amandemen yang diusung oleh DPD RI dan yang terakhir yang menjadi tugas DPD adalah dan yang menjadi tugas PURT pada hari ini dan menjadi fokus kami di PURT adalah mengenainya pemotongan anggaran terhadap DPD. Mungkin gara- gara ini mungkin kawan-kawan PURT belum mau membahas masukan terhadap Pansus ini.
Terima kasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terima kasih Pimpinan PURT tadi waktu saya buka rapat dan pengantarnya karena Pimpinan PURT tidak hadir, Pansus sudah menyampaikan terima kasih kepada Pimpinan PURT karena pagu anggarannya disiapkan untuk Pansus Insya Allah tidak tergugat bahkan akan ditambah ya kan jadi akan ditambahkan sebentar sore malah. Pimpinan komite 1 Pak Muqowam, boleh kembali ke tempatnya tapi kalau pimpinan peserta rapat mengatakan di depan tidak apa-apa begitu.
PEMBICARA: Drs. H. AKHMAD MUQOWAM (KETUA KOMITE I DPD RI)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pimpinan Tatib, Pimpinan Pansus, kemudian Pimpinan DPD Ibu Bapak sekalian dari pimpinan alat kelengkapan, saya mewakili Komite I banyak sekali anggota yang di pansus Bu Enny, Pak Benny, Pak Kenedy, Guston, ada Pak Gubernur, Pak Aher Ahmad Hudanirani, Pak Iqbal, saya kira karena itu kemudian saya ingin sampaikan bahwa kalau misalnya ada yang kurang mohon nanti dilengkapi dan silakan semua bicara seizin pimpinan rapat.
Pertama di Komite 1 itu Motonya adalah NKRI. Negara Kok Republik Indonesia, kok Republik Indonesia karena dalam semua bidang yang di Komite I itu nggak ada yang benar secara kebijakan. Mau bicara hukum, bicara politik dalam negeri, mau bicara pertanahan, mau bicara ASN, itu nggak ada yang benar semua. Jadi policy mengenai regulasinya nggak ada yang konsisten oleh karena itu kita temukan hal-hal yang kemudian secara parsial diselesaikan oleh pemerintah. Pak Farouk yang terhormat saya kira tadi pun itu menjadi waktu konsultasi Pak Farouk itu bagian yang saya kira nanti juga secara internal akan menjadi pencermatan kami di Komite I. Itu tidak layak untuk kita bicarakan karena itu memang sangat penting untuk Komite I ketika tadi ada ketemu dengan Mendagri.
Lalu yang kedua Ibu Bapak sekalian runtutan meruntutkan antara undang-undang dasar pasal 22D kemudian undangundang 17 kemudian tata tertib itu menjadi suatu rangkaian sebab di pasal 7 Undang-Undang 12 2011 mengenai P3 peraturan perundang undangan ya memang tidak termasuk di domain pasal 7 tapi di Pasal 8 mengenai peraturan- peraturan yang selain sebagaimana pasal 7 maka peraturan-peraturan misalnya MPR DPR DPD sampai dengan peraturan kepala desa itu ada di dalam Pasal 8 apa namanya undang- undang 12 nah jadi karena itu ini saya kira sekali lagi disitu mengenai misalnya adalah apakah tatib bisa di MA kan atau tidak DGR saya ini memang menjadi sesuatu yang deveteble karena memang ruang itu ada di situ hanya memang kemudian soal etika saja nah berkaitan dengan ini Bapak, Ibu sekalian kami Komite berebut ruang dengan komite II, berebut ruang dengan Komite III saya kira.
Jadi dalam hal misalnya kependudukan Dukcapil ini kita ada di Komite I juga ada, di Komite III juga ada ya begitu juga dengan bidang-bidang yang lain ini kenapa karena kita belum menemukan secara pasti sebetulnya misi kita apa toh ruang mohon maaf sebetulnya ruang kita dimana toh. Ya dalam hal Dukcapil kita dengan komisi, Komite 3 saya kira dalam hal perumahan Kite itu berhimpitan dengan Komite II. Ini saya kira pak Parlin sehingga nggak maze antara skup dengan partner ini belum clear di dalam tata tertib nah ini saya kira terjadi distorsi kami juga di Komite I di dalam wacana itu ada 2 hal besar petama karena amanat pansus ini adalah mengenai ayat peralihan ya itu kita akan bicara mengenai yang ideal secara ideal kalau kita bedah adalah tatib itu tidak boleh berhadapan MD3 nah ini nanti barangkali kalau saya duduk di depan saya ingin konfirmasi kepada pimpinan DPD karena ketua DPD ini mohon maaf ketua DPD selalu mengatakan bahwa tatib ini berhadapan dengan undang-Undang 17 ini mana yang di ruang ini saya kira nanti saya kalau didepan
saya ingin minta kepada Pimpinan barangkali Pak Irman selalu mengatakan seperti itu ini berhadapan dengan Undang-Undang 17 MD3. Lalu yang terakhir ibu bapak sekalian berkaitan dengan pasal 22 kemudian Undang-Undang MD3, Komite I memaknai betul ikut membahas Undang-Undang yang berkaitan pemerintah daerah sumber daya alam lalu yang ke dua dapat melakukan apa itu pertimbangan dan sebagainya ini di komite satu ini memang optimum kita lakukan. Jadi dalam hal ini kita laporkan sekaligus kita bicara Undang-Undang Pilkada kita ikut secara efektif Undang-Undang Pemda kita ikut efektif hanya persoalannya Ibu wakil dan Pak wakil yang kita minta itu 11 orang yang datang itu alhamdulillah paling banyak 4 orang Pak kalau di DPR Pak.
Jadi yang minta banyak itu ini saya buka saja diruangan ini 11 orang kita minta yang datang pak Kenedi yang datang itu pak Benny yang datang itu adalah Bu Eni yang lain Alhamdulillah goib semua begitu loh kalau sudah itu ini saya kira yang ingin saya sampaikan dari Komite I kemudian saya mohon forum ini tidak sama dengan panmus jadi jika diperkenankan kita pada waktu Panmus sudah memutuskan, ini merespons saja. Memang bicara mengenai perubahan provinsi itu diperbolehkan. Ketika itu Bu Warotapu kalau Jawa Tengah berubah saya dirubah berubah komite, apakah kemudian pengganti saya itu otomatis jadi ketua komite satu. Saya contohkan pada waktu di Panmus. Nah hari ini terjadi misalnya adalah pak Iqbal mohon maaf pak Iqbal, Pak Iqbal absen tidak ada disini lagi padahal dikomite 4 barangkali juga belum ada namanya belum ada sehingga ini ada steles pak Iqbal ini tidak punya kewarganegaraan. Warga negara Komite I juga bukan, warga negara Komite IV juga bukan 3 jadi ini saya kira perlu diselesaikan persoalannya adalah pertama di dalam Tatib itu adalah 2 setengah tahun lalu yang ke didalam panmus apa keputusan mengenai pansus bahwa tidak ada perubahan di Alkel pimpinan dan alat-alat lain-lain sampai dengan tatib ini selesai tapi kemudian ruang perpindahan anggota itu diperbolehkan karena itu Pak Faroukh pada waktu itu saya melihat Persis bahwa boleh pindah ya tidak perlu ada keputusan di paripurna cukup dilaporkan dan Pak Farouk sudah melakukan di Paripurna waktu itu jadi menurut saya tidak ada di sweet lagi karena di Panmus kita sepakati saya khawatir kalau kemudian yang ikut panmus ini kan banyak ini kemudian ya tertuduhnya itu pimpinan DPD.
Kita semua ikut saya ikut hadir pak Gafar juga ikut hadir pak Iqbal juga ikut hadir waktu di Panmus itu sehingga karena itu mohon untuk tidak bias antara Pansus dengan rapat panmus itu makasih.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terima kasih Pimpinan Pansus Pak Muqowam kembali ke tempat selaku ketua Komite I sudah selesai tugasnya. Makasih Bapak Ketua Komite I kalau Komite IV nanti menyusul tertulis karena memang belum membahas secara lengkap di komite saya kira itu intinya baik bapak ibu sekalian kalau pimpinan alat kelengkapan selain pimpinan DPD saya kira belum saya persihlakan sudah cukup semua saya persilakan pimpinan DPD RI Ibu waka, Ibu Wakil Ketua, tadi sudah saya laporkan bahwa menyusul tertulis saya dengan hormat persdilahkan ibu wakil ketua ibu ratu hemas dengan hormat.
PEMBICARA: GUSTI KANJENG RATU HEMAS (WAKIL KETUA DPD RI) Ya terima kasih.
Assalamu'alaikum Warahmatullohi wabarokatuh.
Salam sejahtera untuk kita sekalian.
Om Swastiastu.
Yang saya hormati Pimpinan Pansus Tatib dan anggota juga yang saya hormati Bapak Waka dan tentu pada hari ini kita berharap kita sudah memenuhi undangan dan yang pada intinya bahwa kita semua dari Pimpinan yang mungkin agak terlambat Pak Irman baru landing dari Sumatera Barat jadi hanya mengingatkan saja bahwa sebetulnya keberadaan lembaga DPD ini merupakan produk hukum karena diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 Undang-Undang MD3, Undang-Undang P3 dan juga peraturan Perundang-Undangan lainnya jadi saya kira peraturan tersebut pun mengatur ruang gerak kita sebagai anggota DPD sejak kita dilantik sebagai anggota maka melekatlah hak dan kewajiban kita sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia sesuai hukum ketentuan yang berlaku maka tentu dari kami pimpinan artinya keputusan politik yang kita hasilkan tentu terdapat koridor hukum yang harus dipatuhi dan dipenuhi sebagai pejabat negara kita-kita semua ini pejabat negara bukan LSM.
Jadi kita harus memberi contoh bahwa dalam menyelenggarakan negara dan membahas kebijakan publik harus sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pendiri bangsa dan pengubah konstitusi telah bersepakat bahwa negara Indonesia adalah negara hukum dalam pasal 1 Ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 tegas dinyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Kketentuan pasal tersebut merupakan landasan konstitusional bahwa Indonesia adalah negara berdasarkan atas hukum, hukum ditempatkan sebagai satu-satunya aturan main dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Maka pembahasan apapun dalam lembaga DPD bukan ruang bebas politik tanpa hambatan namun tetap harus tunduk patuh pada koridor ketentuan Undang-Undang dan Undang-Undang Dasar sebagai salah satu konsekuensi Indonesia adalah negara hukum. Sejatinya pansus ini bertugas menyempurnakan tatib secara komprehensif tidak hanya persoalan masa jabatan pimpinan alat kelengkapan, laporan kinerja pimpinan alat kelengkapan saya ambil contoh pada Pasal 168 tentang kewenangan dan tugas pansus.
Apakah rumusannya seperti itu karena pansus dibentuk memiliki maksud dan tugas yang berbeda-beda belum lagi jika kita lihat pada pasal 179 terkait wewenang dan tugas panitia pengawas mengapa memiliki rumusan yang sama dengan Pansus. Jadi Tatib DPD merupakan salah satu bentuk peraturan Perundang-Undangan sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang P3 dan pengaturannya merupakan delegasi dari Undang-Undang MD3 sebagaimana diamanatkan dalam ketentuan Pasal 280 sampai dengan 300 Undang-Undang tersebut. Oleh sebab itu, sesuai hukum yang berlaku universal, peraturan perundangan tersebut harus dihormati dan hukum yang kita tegakkan dan dilaksanakan sejak diundangkan dan tidak boleh berlaku surut hingga ada pembatalannya secara sah menurut hukum.
Jadi terkait ketentuan berlaku surut, mari kita lihat pengaturan dalam Undang-Undang P3 pada angka 155 lampiran Undang-Undang P3 menyatakan pada dasarnya, mulai berlakunya peraturan perundang-undangan tidak dapat ditentukan lebih awal dari pada saat pengundangannya. Kemudian MK pada persidangan tahun 2003, terkait uji materi Undang- Undang nomor 16 tahun 2003 tentang Perpu nomor 2 tahun 2002 tentang pemberlakuan Perpu nomor 1 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menyatakan bahwa pada dasarnya hukum itu harus berlaku ke depan. Adalah tidak fair jika seorang dihukum karena perbuatan yang pada saat dilakukannya merupakan perbuatan yang sah.
Adalah tidak fair pula jika pada diri seseorang diberlakukan suatu ketentuan hukum yang lebih berat terhadap suatu perbuatan yang ketika dilakukannya diancam oleh ketentuan hukum yang lebih ringan, baik yang berkenaan dengan hukum acara maupun hukum materil.
Yang kedua asas nonretroaktif, lebih mengacu pada filosofi, pemidanaan atas dasar pembalasan, retributif padahal asas ini tidak lagi merupakan acuan utama dari sistem pemidanaan di negara kita yang lebih merujuk kepada asas preventif dan edukatif. Artinya, pemberlakuan prinsip retroaktif merupakan suatu pengecualian yang hanya dibolehkan dan diberlakukan pada perkara pelanggaran HAM, pelanggaran HAM berat sebagai kejahatan
yang serius. Seyogyanya setiap peraturan yang dibuat untuk mengoreksi atau menindak sesuatu kejahatan atau kesalahan yang terjadi haruslah dilakukan dengan menegakkan hukum secara adil dan pasti bukan dengan cara membuat norma hukum baru melalui ketentuan yang baru, apalagi berlaku ke belakang.
Apabila jika ternyata kebijakan legislasi semacam itu didasarkan atas pertimbangan yang bersifat politis, jikalau kesalahan atau kekurangan yang terjadi didepan mata selalu kita hadapi dengan membuat hukum baru maka niscaya tidak akan pernah ada hukum yang kita tegakkan karena hukum yang tersedia selalu dirasakan tidak mencukupi. Preseden semacam itu akan memperlemah upaya perwujudan prinsip negara hukum sebagaimana yang seharusnya ditegakkan sesuai pasal 1 Ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 yang secara tegas menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara hukum.
Menurut Prof.dr. Maria Faria Indarti, S.H. pemberlakuan surut suatu Undang-Undang adalah dilarang karena bertentangan dengan asas legalitas dan bertentangan dengan konstitusi negara Indonesia, khususnya bertentangan dengan Pasal 281 Undang-Undang Dasar 1945.
Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara Republik Indonesia sama sekali menolak pemberlakuan hukum secara surut. Undang-Undang Dasar kita menganut asas nonretroaktif. Hak seseorang untuk tidak dapat dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah merupakan hak yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 281.
Hak ini sama sekali tidak boleh dikurangi.
Laporan kinerja Pasal 261 huruf I Undang-Undang MD3, hanya disebutkan laporan kinerja. Coba bandingkan dengan Pasal 16 Ayat 1 huruf H yang tegas disebutkan laporan kinerja Pimpinan MPR, kemudian pasal 86 ayat 1 terkait laporan kinerja DPR, disebutkan bahwa hanya kata-kata laporan kinerja. Pasal itu diterjemahkan dalam tatib DPR Pasal 32 Ayat 10 bahwa laporan kinerja tersebut adalah laporan kinerja DPR, bukan laporan kinerja pimpinan. Artinya, jika penyusun Undang-Undang MD3 memang bermasuk laporan kinerja adalah laporan kinerja pimpinan maka akan tegas diatur dalam Undang-Undang MD3. Masa jabatan pimpinan DPD, memang pimpinan DPD termasuk rumpun alat kelengkapan DPD, namun jelas disebutkan pada Pasal 264 ayat 2, Undang-Undang MD3 bahwa keanggotaan panitia kerja DPD ditetapkan tiap tahun sidang. Artinya Pimpinan panitia kerja berganti atau tetap tiap tahun sidang.
Beda halnya dengan pimpinan DPD pada Pasal 260 Ayat 6, disebutkan bahwa Pimpinan DPD sebelum menjabat mengucapkan sumpah, dipandu oleh ketua mahkamah agung untuk 5 tahun artinya ada perbedaan penetapan memangku jabatan antara Pimpinan DPD dengan pimpinan alat kelengkapan lain. Sebagai perbandingan, pengaturan tentang masa jabatan Pimpinan lembaga yang anggotanya dipilih secara langsung oleh rakyat melalui pemilu seperti DPR RI, DPRD provinsi dan DPRD kabupaten kota, masa jabatan pimpinan lembaganya adalah 5 tahun, mengikuti praktik ketatanegaraan dan periodesasi pemilu yang dilaksanakan 5 tahun sekali. Bahwa pada lembaga negara seperti MK dan KY yang masa jabatan pimpinannya adalah 2 tahun 6 bulan tetapi hakim MK dan KY tidak dipilih melalui pemilu melainkan melalui mekanisme seleksi sehingga masa jabatan Pimpinan MK dan Pimpinan KY tidak dapat dipersamakan dengan masa jabatan Pimpinan DPD RI.
Maka disimpulkan pengaturan masa jabatan Pimpinan DPD dan laporan kinerja DPD dalam Tatib bertentangan dengan Pasal 8 Ayat 2 Undang-Undang nomor 12 tahun 2011 tentang P3 karena materi tersebut tidak pernah diperintahkan oleh Undang-Undang untuk mengaturnya dan bukan kewenangan DPD untuk mengaturnya lebih lanjut didalam Tatib.
Demikian pandangan secara lengkap dan akan saya sampaikan secara tertulis beserta lampirannya. Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Om shanti shanti shanti om.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Mungkin ada tambahan dari Pak Wakil Ketua, Pak Farouk? Sebelum diserahkan Bu.
PEMBICARA: Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI) Baik terima kasih.
Forum yang sama saya hormati.
Tambahan saya terkait yang diminta masukan dari alat kelengkapan ini ada 2 hal, substansi sama agenda. Saya pikir kalau agenda memang idealnya kita plenokan semua, tapi itu kan hanya usulan isu-isu apa yang didalam Tatib ini yang perlu kita perbaiki, kita sempurnakan begitu. Jadi itu sangat kualitatif sekaligus memberikan kewenangan kepada Pansus, nanti Pansus yang akan membahas. Sedangkan mengenai substansi, bisa saja ada alat kelengkapan yang perlu memplenokan dulu untuk menentukan sikap terhadap suatu substansi tapi mungkin itu secara teknis akan mengalami kesulitan, tapi saya sarankan ya memang substansi itu tetap kita serahkan kepada Pansus saja, sepanjang Pansus ini mendengarkan bukan hanya mendiskusikan, mencari kesepakatan diantara anggota Pansus tapi juga mendiskusikan pemikiran konsep mana yang paling tepat. Jadi itu berarti kita harus mendengar sebagaimana tadi dikemukakan, ya mendengar ahlinya, begitu.
Nah itu yang antara agenda dan substansi ini yang perlu diinikan saya pikir. Tidak selalu alat kelengkapan harus memberi masukan sikapnya terhadap substansi begitu yang pentingkan agenda. Tadi tambahan, kemudian dari segi agenda yang kami usulkan di sini, dicantumkan baik yang bersifat narasi maupun tabel. Baik pertama mengenai masa jabatan pimpinan, masa jabatan pimpinan alat kelengkapan, laporan kinerja, pimpinan, laporan kinerja pimpinan alat kelengkapan, pengaturan tentang agenda sidang paripurna, panmus, tindak lanjut asmas, fungsi representatif dan diplomasi, itu yang hal-hal yang kami usulkan untuk diagendakan didalam Rapat Pansus.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Baik makasih Pak Farouk.
PEMBICARA: Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI)
Sebenarnya intinya itu saja, jadi memang hanya catatan saja ini. Harus perlu ada jalan keluar, ternyata apa yang kita dulu kita sepakati di Panmus kemudaian kita ketok di Paripurna tentang pergantian Anggota ini ternyata ada implikasinya. Silakan nanti apa pemikiran, perlu masukan dari Pansus untuk kita bicarakan kembali ke Panmus mencari jalan keluar, lagi-lagi kita mencari solusi. Terima kasih.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terima kasih Pak Farouk.
Sebenarnya ini juga saya tidak tahu apakah masuk materi Pansus tapi Pimpinan DPD kami butuhkan untuk memberikan komentar terhadap keputusan Pimpinan DPD kepada Pansus, tugas-tugas yang diberikan, lalu kemudian Pimpinan BK, Pimpinan Badan Kehormatan
mengeluarkan surat kepada Pimpinan DPD mensitir poin 5, 6 yang dianggap tidak realevan kira-kira begitu suratnya Badan Kehormatan.
Dari 1,2,3,4,5,6 tugas Pansus oleh BK kepada Pimpinan DPD itu diminta bahkan samapai kepada Sekjen untuk melakukan, apa istilahnya, penyempurnaan surat, perbaikan surat ini. Nah ini kalau pada kesempatan ini belum bisa di, karena kami mohon betul ada sikap Pimpinan DPD terhadap surat BK tersebut yang membuat nanti Pansus tidak, kami tidak secara internal berdebat soal tugas. Artinya tugas kami sudah sesuai dengan SK yang dikeluarkan oleh Pimpinan DPD tapi kemudian BK mengeluarkan surat kepada Pimpinan DPD, saya kira Pak Muqoam itu ada ya, Bu Fahira, kalau pada kesempatan ini memang belum dibicarakan ditingkat Pimpinan DPD tapi ini perlu Pak. Karena nanti terus terang bagi kami di Pansus ini akan menjadi titik kruisial internal ini menerjemahkan tugas Pansus ini.
Saya kira ada komentar Bu soal itu, atau belum? Soal surat BK ini berkait dengan tugas Pansus?
PEMBICARA: Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI)
Iya kita kembali pada waktu Rapat Panmus itu, salah satu yang diangkat kan persoalan yang disampaikan oleh BK itu. Mempersoalkan, nah, itulah puncak dari solusi yang melahirkan kesepakatan, kesepakatan tentang pergantian keanggotaan itu, tapi isi dari keputusan pimpinan itu, Pimpinan hanya menandatangani saja. Pimpinan menandatangani apa yang telah diputuskan pertama dalam panmus tanggal 29 April. Keputusan itu, bahkan rumusan keputannya kita kendalikan bersama, kita koreksi bersama itu yang ditandatangani oleh Pimpinan. Kemudian keputusan Panmus itu dijadikan merupakan isi materi dari keputusan tentang pembentukan Pansus yang diketok di Paripurna gitu.
Jadi kami tidak melihat ada masalah disini dan ini bukan masalah pribadi Pimpinan, apalagi sikap dan perilaku Pimpinan. Ini adalah pimpinan menjalankan amanat yang dibawah Panmus kemudian diketok lagi di Panmus tentang pembentukan Pansus yang tugasnya yaitu itu, kami liat sudah clear itu gak ada masalah lagi. Terima kasih Pak.
PEMBICARA: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terima kasih, Bapak Wakil Ketua, Bapak Farouk.
Bapak-Ibu sekalian secara keseluruhan masukan tanggapan dari pimpinan alat kelengkapan, bahkan secara khusus oleh Pimpinan DPD RI, tertulis lagi diserahkan oleh Ibu Wakil Ketua, kita telah terima. Yang sudah tertulis nanti ini secara formal kita akan bagikan kepada semua Anggota Pansus dan menurut saya sekali lagi masukan-masukan ini belum untuk didiskusikan oleh Anggota Pansus ini akan menjadi bahan, terutama karena sejumlah pimpinan alat kelengkapan belum menyampaikan secara formal sebagaimana penyampaiannya tadi. Pak Benny ada hal? Silakan.
PEMBICARA: BENNY RHAMDANI (SULUT) Terima kasih Pimpinan.
Seluruh Anggota Pansus yang sangat saya hormati, pimpinan alat kelengkapan.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera buat kita sekalian.
Om swastiastu.
Tiga Pimpinan didepan ini mencerminkan kepemimpinan ideal sebetulnya. Pak Ajieb bertugas mengatur lalu lintas rapat-rapat, Pak Muqowam merumuskan, nah jika terjadi distorsi opini diantara kedua ini Ibu Fahira yang mendamaikan keduanya, cocoklah.
Yang kedua ingin saya, saya ingin tunduk, taat, saya tidak ingin masuk pada masalah- masalah yang bersifat materi karena itu menjadi wilayah kerja pansus dan saya akan memanfaatkan wilayah kerja pansus dalam kapasitas sebagai anggota sebaik-baiknya nanti di forum-forum lain. Yang ketiga saya ingin memberikan apresiasi pertama kepada Ibu Hemas mewakili Pimpinan ya baik yang hadir maupun tidak kemudian alat kelengkapan.
Satu hal yang saya tangkap ya, secara jernih dengan kaca mata batin sebetulnya, kita semua punya niat baik terhadap apa yang kita kerjakan hari ini. Bahkan saya garis bawahi pendapat dari Ibu Hemas, selalu berbicara bagaimana menjadikan hukum sebagai panglima ya. Hukum yang harus tidak sekedar dihormati tapi dijalankan secara sungguh-sungguh oleh kita, orang-orang yang menyandang predikat pejabat negara yang berada dalam sistem ketatanegaraan lembaga negara yang disebut DPD, 1000% lah ya tidak hanya 100%
persetujuan saya terhadap pendapat itu Ibu Hemas.
Karena tidak masuk materi, saya ingin menyampaikan 2 hal yang ini sangat filosofis sebetulnya, dengan kaca mata batin kita untuk secara jujur bicara di forum ini. Pertama bahwa kita semua 132 Anggota mereka yang telah diberikan mandat Pansus, Bapak-Ibu yang mewakili alat kelengkapan, bahwa semua kita memiliki niat baik yang berkaitan dengan Tatib ini. Niat baik itu harus dibuktikan, 1) dalam diskusi-diskusi saya selama ini apapun perubahan yang berkaitan dengan Tatib itu tidak boleh diorientasikan atas niat kekuasaan, enggak boleh, termasuk saya pribadi, saya sedang mengontrol diri saya, dan insya allah saya tidak pada posisi, masuk di Pansus melakukan kritik terhadap beberapa hal, memberikan masukan yang berkaitan dengan materi yang tujuannya adalah kekuasaan. Sama sekali tidak ya.
Saya lanjut, mohon izin Pak Irman. Jadi untuk membuktikan bahwa kita semua bertujuan untuk niat baik membangun sistem ideal kelembagaan maka tidak boleh ada diantara kita, perbaikan Tatib ini diorientasikan untuk kekuasaan, apalagi perebutan kekuasaan, itu sikap saya sejak awal. Tapi di sisi lain juga, jika ketaatan hukum ini ingin kita buktikan sebagai niat baik, maka tidak boleh juga ada upaya pihak-pihak tertentu yang menghalangi proses ini atas dasar kekuasaan. Mentang-mentang saya berkuasa ya sudahlah dengan kekuasaan saya coba halangi, saya hambat dan sebagainya, sama, pada posisi yang equal.
Contoh yang paling sederhana adalah ketika Tatib ini dibuat oleh Pansus dulu kemudian diputuskan dalam Paripurna dan disepakati sekalipun melalui proses voting yang kemudian terakhir ditandatangani oleh Pak Irman, maka hal yang kedua secara filosofis diluar niat baik, yaitu saya mengajak kita semua janganlah pernah kita berpikir bahwa kita ini adalah orang-orang yang serba sempurna. Yang seolah-olah product regulasi yang kita buat ini serba sempurna dan tidak ada kekurangan apapun ya, janganlah. Kita ini belum apa-apa dibandingkan mungkin para pengamat, para tokoh, para pakar yang ada di luar. Jadi kesadaran bahwa kita bukan orang yang sempurna maka harus ada kejujuran juga bahwa produk yang kita hasilkan suatu saat bisa digugat, produk yang kita hasikan suatu saat ada kelemahan.
Nah dimana proses kelemahan itu harus digugat dan diperbaiki, kaitan dengan Tatib yang sudah ditandatangani, ini kan prosesnya sudah benar ya, ada BK yang dimandatori oleh Tatib untuk melakukan penyempurnaan, itu sudah benar. Kalau BK tidak selesai, dibentuk Pansus baru, nah Pansus yang sekarang termasuk saya anggotanya ini juga ada koridor yang memang disiapkan oleh Tatib, ini sudah benar. Jadi ini adalah koridor yang memang diatur oleh Tatib dan bukan berdasarkan kekuasaan. Komparasi kamar sebelah saya sering sampaikan, poduk DPR bisa digugat dengan judisial review, berarti mereka juga bukan
orang-orang yang sempurna di sana, bukan orang-orang yang bisa mengklaim seolah-olah mereka representasi intelektual, apalagi sekedar Tatib, itu maksud saya.
Kalau ada pandangan bahwa bertentangan dengan Undang-Undang, bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi, penyelesainnya bukan kekuasaan, penyelesaiannya adalah tadi, ada koridor, BK dimanatori untuk melakukan penyempurnaan. Jika BK tidak mampu bekerja untuk melakukan penyempurnaan dibentuk Pansus baru dan Pansus baru inilah yang sekarang bekerja untuk melakukan penyempurnaan. Sederhananya beginilah Pak Irman, sederhananya ketika Pak Irman tanda tangan, Pak Farouk tandatangan, Ibu Hemas tanda tangan sebagai bentuk ketaatan hukum terhadap keputusan tertinggi Paripurna, kita ketemu minum kopi kemudian kita sadar, aduh, ternyata yang kita tandatangani ini ada kekurangan, ternyata yang kita tandatangani ini, kok rasanya bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi, kan gitu sebetulnya, sederhana kok masalahnya ini.
Dari dulu tidak ada kegaduhan politik apapun. Lah kalau begitu bagaimana ini Pak Irman? Pak Farouk tanya saya, lah kalau begitu pak Benny bagaimana? Ya ada koridornya dong Pak. BK sempurna kah? Nggak selesai BK ya Pansus. Ini koridor, termasuk menempuh judisial review itu dimungkinkan untuk melakukan gugatan atas ketidaksempurnaan dan penolakan.
Nah masuk kepada masalah ini, yang terakhir, saya dikagetkan, tanggal 22 Agustus, ini dokumennya ditangan saya, catatan penting Ketua Pansus. Tanggal 22 Agustus jam 09.00 pagi, saya detail lah kalau kontra intelijen begini, jangan diajari lah. Tanggal 22 Agustus jam 9 pagi beredar sebuah dokumen berlogo DPD RI, berlogo DPD RI, yang dokumen ini judulnya surat kuasa khusus ke beberapa Anggota DPD RI untuk menandatangani dokumen, ini kolom penandatanganannya di belakang, ini surat kuasa untuk memberikan kuasa kepada 5 orang kuasa hukum dalam kaitan melakukan gugatan draf tata tertib DPD RI, mohon maaf, sebagai orang yang ingin taat hukum, yudisial review termasuk kepada MA itu dimungkinkan dan sah, tapi secara etik, saya ingin bicara secara etik, bukankah Pansus sedang bekerja, sekarang kemudian kenapa Pansus bekerja diganggu dengan persoalan ini?
Ini etik loh menurut saya, sekalipun secara hukum dimungkinkan, ini menjadi catatan Pak Ketua Pansus.
Untung beberapa orang yang disodori ini kemudian, aduh Pak Benny kami nggak mau ini, jangan-jangan kita diadu lagi. Ah sudah benar sikap kalian saya bilang, yang orang tua sudah benar sikap Bapak, ada perempuan yang lebih tua saya bilang sudah benar sikap Ibu, ini masalah etik Bu. Jangan-jangan karena masalah ini muncul kegaduhan politik lagi di lembaga kita ya, dokumen ini akan saya serahkan pada Pak Ketua sebagai bukti otentik bahwa telah disebar ya, nanti nama siapa anggota yang tidak mau menandatangani dan menyerahkan dokumen ini saya serahkan secara tertutup, staf siapa yang mengedarkan ini juga akan saya sampaikan secara tertutup ya dokumennya.
Nah maksud saya, tolonglah kita semua menahan diri, Pansus adalah bagian dari koridor yang dijamin oleh tata tertib untuk menyelesaikan masalah kaitan dengan tata tertib yang kemarin dianggap banyak hal yang bertentangan dan sebagainya. Mari kita selesaikan secara kedalam karena kalau ini keluar akan ada perlawanan secara keluar. Saya meyakini itu, maka kalau dua-dua melakukan perlawanan, penyelesaian keluar maka kegaduhan politik baru akan muncul di lembaga ini. Sampai ada istilah, saya dengar, wah kita harakiri politik saja. Harakiri politik itu artinya ya sudah hancur sama-sama toh kalau kita yang hancur kita kan nggak punya kepentingan dengan panggung nasional. Memangnya kita mau jadi presiden? Memangnya kita mau jadi Wapres? Nah ada ini Anggota yang ngomong begitu, kita kan gak punya kepentingan dengan panggung nasional, mau menjadi menteri pun nggak pernah mimpi. Ya hancur, hancur ramai-ramai lah ya.
Kalau ada laporan di KPK, di-shoot oleh media ya sudah, dan sebagainya, dan sebagainya. Nah mudah-mudahan politik harakiri ini tidak menjadi pilihan politik beberapa
orang dan mudah-mudahan kegaduhan politik juga itu tidak jadi keluar dan saya yakin proses kontemplasi kita semua atas apa yang terjadi sebelumnya itu menjadi perenungan kita bahwa kita sebetulnya punya niat baik memperbaiki lembaga ini. Jauhkan kami dari semangat- semangat dan orientasi kekuasaan, kecuali membangun sistem yang ideal.
Saya pikir itu, terima kasih, nanti akan saya serahkan.
Wallahul muwafiq ila aqwamit thoriq.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terima kasih Pak Benny. Mau diserahkan sekarang karena saya juga persis baru tahu, persis, nanti pakai map.
Baik terima kasih, sekali lagi Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati, sesungguhnya substansi rapat kita hari ini sudah selesai. Yaitu mendengarkan masukan, mendengarkan tanggapan dari Bapak-bapak pimpinan alat kelengkapan, Bapak Ketua baru datang dan selamat datang, tapi sudah diwakili tadi oleh Ibu Wakil Ketua, baik secara lisan maupun secara tertulis sudah disampaikan.
Saya pikir menghargai upaya Bapak untuk hadir di Pansus kalau ada yang mau ditambahkan silakan. Tapi bolehkah saya sedikit di luar materi Pansus karena ini berkembang. Maksudnya begini Bapak Ketua, Bapak Pimpinan DPD, ini menyangkut kita semua, kita semua, kita dalam artian kebetulan yang hadir saat ini adalah pimpinan-pimpinan alat kelengkapan termasuk Pimpinan DPD, kalau Pimpinan DPD saya tidak tahu apa diatur di kaitan itu ya. Minggu lalu kami sudah rapat juga, rapat kerja juga dengan sekjen, Pak Sekjen menanyakan atau mendengarkan tanggapan terhadap implementasi dan implikasi administrasi keuangan, penerapan Pansus, penerapan Tatib ini tadi. Bukan itu yang saya mau sampaikan kepada Bapak karena waktu itu juga sedikit keluar dari konteks, yaitu berkait dengan masa keanggotan alat kelengkapan dan masa jabatan pimpinan alat kelengkapan.
Kalau Bapak sepakat, bagaimana kalau sekarang, ya masih ada waktu setengah jam ya khusus, diluar konteks substansi Pansus Pak Muqowam, tapi ini kapan lagi ada forum untuk bicarakan bagaimana status keanggotaan dan pimpinan alat kelengkapan dan ada Pimpinan DPD disini, tapi ini kalau Bapak-bapak setuju, kalau tidak saya tutup rapat karena memang bukan materi rapat. Karena ini dari pada biasanya Pak Ketua sudah, kalau Ibu Hemas tadi sudah dengarkan Pak Faroukh, biasanya sudah mulai terjadi dibeberapa hari terakhir terhadap keanggotaan alat kelengkapan dalam rapat-rapat biasanya.
Begitu pun kemungkinan nanti di segi administrasi keuangan dalam konteks pandangan kesekretariat jenderal. Ya, tapi kalau ini dianggap tidak jangan jadikan substansi rapat saya tidak bermaksud untuk membuka forum, ya, kecuali saran saya, ini secara pribadi kalau memang tidak dikehendaki karena waktu misalnya dan ini. Saran saya kepada bapak pimpinan DPD, segera ada tindak lanjut, segera ada tindak lanjut kepada terhadap dua hal ini keanggotaan alat kelengkapan dan status pimpinan alat kelengkapan. Saran kami adalah rapat pimpinan DPD dan rapat Panmus, tapi ini bukan saran Pansus Pak ya karena sekali lagi bukan materi dari Pansus ya, tidak usah khawatir Pak, suara kita sama Bapak kok, ya tapi kan nanti di apa namanya dibedapendapatkan pimpinan Pansus. Saya kira,
PEMBICARA: Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (WAKIL KETUA DPD RI)
Interupsi Pak Ketua saya rasa tidak apa-apa. Jadi menemukan ada masalah yang konteksnya artinya Pansus kan karena dulu memang keputusannya jadi Pansus. Kita memang
untuk kita menyepakati supaya nanti dari Pansus menyepakati, Panmus dan pimpinan itu membahas lebih lanjut. Jadi masukkan itu di Panmus tetap aja itu.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Baik terima kasih Pak Farouk, Pak Gafar.
PEMBICARA: Drs. H. ABDUL GAFAR USMAN, M.M. (KETUA BAP DPD RI)
Iya pimpinan yang saya hormati, dengan pimpinan Pansus karena ini dibuka sedikit saya hanya informasikan, BAP selaku kelembagaan hasil rapat pleno, telah membuat surat resmi kepada pimpinan DPD selaku pimpinan Panmus untuk menindaklanjuti hal-hal yang disampaikan oleh Pak Ajip tadi. Itu sebagai informasi yang kami sampaikan kepada pimpinan dan juga kepada Pak Ajip, karena ini bukan Pansus agendanya, agenda apa saja terima kasih.
PEMBICARA: AJI MUHAMMAD MIRZA WARDANA, S.T. (KALTIM)
Pimpinan izin bicara,
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Silakan.
PEMBICARA: AJI MUHAMMAD MIRZA WARDANA, S.T. (KALTIM)
Iya terima kasih pimpinan.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Silakan.
PEMBICARA: AJI MUHAMMAD MIRZA WARDANA, S.T. (KALTIM)
Pimpinan DPD pimpinan Pansus anggota dan pimpinan alat kelengkapan yang saya hormati munculnya hal ini kan terus terang karena terkait Pansus, karena terkait surat BK mengritisi diktum ke-5 dan diktum ke-6 terkait Pansus. Muncul kesepakatan ini, jadi kalau menurut saya karena dibuka sedikit. Jadi tidak ada salahnya bagi Pansus untuk memberikan sedikit masukan kepada pimpinan DPD kepada Panmus, karena karena munculnya hal ini terkait Pansus dan di surat kesepakatan menunda Pansus dan di surat pergantian alat kelengkapan itu menunggu hasil Pansus, tapi tidak salahnya kita memberi masukan dan saya pribadi berpendapat bahwa untuk masukan kepada pimpinan tidak masalah menurut saya, pimpinan membuat SK. Ini kan bahasanya terkait SK , SKnya sudah habis dan belum ada SK lanjutan, tidak masalah membuat SK sementara dan belum ada SK lanjutan untuk melanjutkan sementara kepemimpin sampai melanjutkan sementara pimpinan alat kelengkapan dan keanggotaan sampai ada keputusan resmi dari Pansus. Jadi intinya hanya
SK saja dan itu tidak bukan sesuatu yang ribet kok SK saja. Terimakasih pimpinan terimakasih
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Terimaksih Pak Aji Mirza betul sekali bahwa apapun latar belakangnya ini kemudian dari keberadaan Pansus itu setuju, dan bapak pimpinan DPD Bapak Ketua saya laporkan insyaa Allah Pansus ini target tahap pertama sesuai ketersediaan PURT. Ya, itu batas tugas kami targetkan kami punya kesepakatan di Pansus insya Allah kaami akan menyelesaikan tugas sampai dengan 20 Oktober sebelum penutupan masa sidang sehingga kalau Tuhan mengizinkan kami di Pansus akan menyelesaikan tugas yang melaporkan pada paripurna penutupan atau sebelum penutupan masa sidang pertama tahun sidang 2016. Itu target kami dan kami sudah sepakat dengan teman-teman anggota Pansus, bahwa nanti kemudian ada dinamaka itu persoalan lain, tapi namanya target kinerja kami insyaa Allah.
Nah kalau itu ditunggu berartikan Oktober akhir sementara ada hal-hal yang sifatnya mendesak mungkin karena itu tadi saya sekali lagi minta izin kepada forum, bukan substansi inti dari Pansus tapi ada sesuatu yang berkembang yang saya kenakan diharapkan nanti di Pansus kesimpulan Pansus telah menjawab itu, sementara ada persoalan administrasi keuangan yang kemungkinan menjadi menjadi sebuah masalah Pak Beni kemaren pak Beni dikatakannya kalau melanggar kembalikan kan selesai juga persoalan itu juga salah satu ini ya tapi bukan cuma itu ternyata kan bukan cuma administrasi keuangan ini selalu menyangkut perasaan. Ketika ada teman mau rapat dikomite A. Namanya masih ada atau tidak lagi karena sudah dipergeseran dan khusus saya di Komite IV juga ada hal kecil di sana karena hari senin akan melaksanakan fit dan proper test calon anggota BPK, di situ juga ada pergantian anggota Pak ya. Ada juga pergantian anggota Komite IV dan beliau selaku Ketua BK memberi contoh sudah pindah ke Komite I belum ada SK Komite I dari DKI yang ditugaskan ke Komite IV belum mau masuk ruangan Komite IV,karena belum ada SK. Lalu saya bilang ya siapa yang diberikan tugas diberikan tugas, suara DKI tidak boleh hilang dalam seleksi atau fit and proper test tersebut begitu. Saya bilang karena Pak Fatwa sudah ke Komite I beliau kan ketua BK, sudah dijalan yang tepat sudah kasih. Dia harus ikut fit and proper test. Ini bukan cuma saya di Komite IV Pak saya kira. Pak Iqbal silakan.
PEMBICARA: A.M. IQBAL PAREWANGI (KETUA BKSP DPD RI)
Saya mau izin menyampaikan kemungkinan untuk katakanlah istilahnya koreksi, dikoreksilah kalau keliru, semacam SK selah. Surat keputusan selah sehingga aturan di tatib lama maupun tatib baru sebutlah begitu yang menyebutkan penetapan keanggotaan berbasis Sidpur itu juga tidak terlanggar dan berbagai aturan-aturan untuk menjaga keteraturan juga tidak terlanggar. Ada 2 kemungkinan isi SK setelah itu, alternatif yang pertama adalah bahwa keanggotaan yang ada berlanjut sampai selesainya Pansus, atau alternatif yang kedua bahwa keanggotaan yang ada berjalan mulai pada saat keluarnya SK itu. Terimakasih Ketua.
PIMPINAN RAPAT: Dr. H. AJIEP PADINDANG, S.E., M.M. (KETUA PANSUS TATIB DPD RI)
Baik saya kira sependapat tadi nya kalau saya katakan kita sarankan kepada, ini bukan saran Pansus ya, saran individu, tapi karena di rapat Panmus terungkap kepada pimpinan DPD saran kita adalah pimpinan DPD segera rapat baik pimpinan maupun dengan Panmus mungkin mudah-mudahan Panmus bisa menyimpulkan tidak harus