34 3.1. Objek Penelitian
Objek penelitian ini berfokus pada Manajemen Sumber Daya Manusia yaitu mengenai pengaruh iklim organisasi dan motivasi terhadap kinerja guru di SMA Kristen Paulus Bandung yang terletak di Jl. Dr. Rajiman No.11, Bandung.
Jumlah guru di sekolah ini ada 19 orang
3.1.1. Sejarah SMA Kristen Paulus Bandung
Yayasan Penyelenggara Sekolah Kristen Paulus (YPSK Paulus) didirikan tanggal 13 Mei 1953. Mulanya bernama Stiching voor Christelijke Scholen Bandung en Omgeving. Sekolah yang diselenggarakan adalah sebagai berikut:
SD Kristen 1-2 Paulus Jl. Dr. Rajiman No.11, berdiri sejak 1953 yang saat itu dikenal dengan nama Helmers School atau Koningen Wilhemina School
SD Kristen 3 Paulus Jl. Lombok No.7, berdiri sejak 1954 dulu dikenal dengan nama Vereniging Christelijke Onderwijs
Taman kanak-kanak Kristen Paulus (TKK Paulus) Jl. Dr. Rajiman No.11 dan Jl. Lombok No.7 didirikan tahun 1956
SMP Kristen Paulus Jl. Dr. Rajiman No.11 didirikan tahun 1963
SMA Kristen Paulus Jl. Dr.Rajiman No.11 didirikan tahun 1979
3.1.2. Visi Dan Misi SMA Kristen Paulus Bandung (a) Visi SMA Krsiten Paulus Bandung
“Menjadi sekolah yang unggul untuk mewujudkan insan yang KASIH dan DESI.”
KASIH adalah singkatan dari Kreativitas dan Kompetitif, Antusiasme, Sehat dan senang, Iman sehingga mampu mandiri untuk mencapai Harapan masa depan yang cerah
DESI adalah singkatan dari Disiplin, Emosi, Spiritual, Intelegensi
(b) Misi SMA Kristen Paulus Bandung
“Memberikan layanan pendidikan Kristen yang berkualitas dan berdaya saing untuk membentuk siswa yang terhormat, ceria, beriman, dan cerdas
3.1.3. Tujuan dan Sasaran SMA Kristen Paulus Bandung Tujuan dan sasaran SMA Kristen Paulus Bandung adalah
Ketuntasan belajar minimal 80%
Kenaikan kelas 100%
Kelulusan Ujian Nasional 100%
3.1.4 Motto SMA Kristen Paulus Bandung
Motto SMA Kristen Paulus Bandung adalah “ Do thebest, get the best, be the best, and let God do the rest.”
3.1.5 Fasilitas SMA Kristen Paulus Bandung
SMA Kristen Paulus Bandung memiliki fasilitas penunjang pembelajaran sebagai berikut:
Ruang kelas permanen (8m x8m)
Ruang Aula dengan kapasitas 400 orang
Lapangan olahraga (outdoor)
Lapangan olahraga (indoor)
Laboratorium bahasa
Laboratorium komputer
Laboratorium IPS
Ruang UKS/PMI
Perpustakaan dengan internet
Kantin
3.1.6 Tugas Pokok di SMA Kristen Paulus Bandung
Berikut ini adalah tugas pokok di SMA Kristen Paulus Bandung:
Kepala Sekolah
Kepala Sekolah SMA Kristen Paulus Bandung mempunyai tugas pokok sebagai berikut:
- Pendidik:
Melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan efisien
- Manajer:
Menyusun perencanaan, mengorganisasikan kegiatan, mengarahkan kegiatan, mengkoordinasikan kegiatan, melaksanakn pengawasan, melakukan evaluasi terhadap kegiatan, menentukan kebijaksanaan, mengadakan rapat, mengambil keputusan, mengatur proses belajar mengajar, mengatur administrasi ketatausahaan, siswa, ketenangan, sarana dan prasarana, keuangan/ RAPBS, mengatur Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), mengatur hubungan sekolah dengan masyarakat dan instasi terkait.
Tata Usaha
Tata Usaha SMA Kristen Paulus Bandung mempunyai tugas pokok sebagai berikut:
- Administrasi kepegawaian:
Mengisi buku induk pegawai, menyusun daftar urut kepangkatan, menerbitkan surat tugas/keputusan, menyusun data kepegawaian, menyusun arsip pegawai, dan mengelola daftar hadir pegawai.
- Administrasi Keuangan:
Membuat laporan penggunaan keuangan, mencatat keuangan berdasarkan sumber keuangan pada buku kas umum.
Urusan Kurikulum
Urusan kurikulum SMA Kristen Paulus Bandung mempunyai tugas pokok sebagai berikut:
- Menyusun dan menjabarkan kalender pendidikan - Menyusun pembagian tugas guru dan jadwal pelajaran - Mengatur penyusunan program pembelajaran (program-
program satuan pembelajaran, dan persiapan mengajar, penjabaran dan penyesuaian kurikulum.
- Mengatur pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstrakurikuler
- Mengatur pelaksanaan program penilaian, kriteria kenaikan kelas, kriteria kelulusan dan laporan kemajuan belajar siswa serta pembagian rapor dan STTB.
- Mengatur pelaksanaan program perbaikan dan pengayaan.
Urusan Kesiswaan
Urusan kesiswaan SMA Kristen Paulus Bandung mempunyai tugas pokok sebagai berikut:
- Mengatur dan membina program kegiatan OSIS
- Mengadakan pemilihan siswa untuk mewakili sekolah dalam kegiatan di luar sekolah
- Mengatur mutasi siswa
- Mengatur program pengembangan diri
- Membuat laporan kegiatan kesiswaan secara berkala
Urusan Humas
Urusan humas SMA Kristen Paulus Bandung mempunyai tugas pokok sebagai berikut:
- Membina hubungan antara sekolah dengan orang tua/wali murid
- Menjalin hubungan dengan lembaga/instansi terkait dalam rangka pengembangan sekolah
- Mewakili Kepala Sekolah apabila berhalangan untuk menghadiri rapat masalah yang bersifat umum
- Menyelenggarakan bakti sosial, karya wisata - Membuat laporan kegiatan secara berkala
Urusan Sarana dan Prasarana
Urusan sarana dan prasarana SMA Kristen Paulus Bandung mempunyai tugas pokok sebagai berikut:
- Merencanakan kebutuhan sarana prasaran untuk menunjang proses belajar mengajar
- Merencanakan program pengadaannya - Mengatur pemanfaatan saran dan prasarana
- Mengelola perawatan/perbaikan sarana dan prasaran - Menyusun laporan
Wali Kelas
Tugas pokok wali kelas SMA Kristen Paulus Bandung adalah sebagai berikut:
- Mengelola kelas
- Menyelenggarakan administrasi kelas yang meliputi : denah tempat duduk siswa, jadwal pelajaran, daftar piket kelas, jurnal kelas, dan tata tertib kelas
- Mengetahui tingkat kemampuan, status sosial/ekonomi anak didik
- Merekapitulasi kehadiran siswa - Mengisi daftar kumpulan nilai siswa - Membuat catatan khusus tentang siswa - Membuat mutasi siswa
- Mengisi buku laporan hasil belajar siswa - Membagikan buku laporan hasil belajar siswa
Guru Mata Pelajaran
Tugas pokok guru mata pelajaran di SMA Kristen Paulus Bandung adalah sebagai berikut:
- Membuat perangkat pembelajaran, meliputi silabus, Program Tahunan dan Program Semester, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, LKS
- Melaksanakan kegiatan pembelajaran
- Melaksanakan kegiatan penilaian proses belajar; ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan semester, ulangan kenaikan kelas, ujian akhir sekolah
- Melaksanakan analisis hasil ulangan harian
- Menyusun dan melaksanakan program remedi dan pengayaan
- Mengisi daftar nilai siswa
- Melaksanakan analisis hasil ulangan harian
- Menyusun dan melaksanakan program remedi dan pengayaan
- Mengisi daftar nilai siswa
- Melaksanakan kegiatan membimbing (pengimbasan pengetahuan) kepada guru lain dalam proses kegiatan belajar mengajar
- Membuat alat peraga/media pembelajaran
- Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar siswa
- Mengisi dan meneliti daftar hadir siswa sebelum memulai pembelajaran
- Mengatur kebersihan ruang kelas dan ruang praktikum
Guru Budi Pekerti
Tugas pokok guru pekerti SMA Kristen Paulus Bandung adalah sebagai berikut:
- Memberikan layanan dan bimbingan kepada anak didik agar lebih berprestasi dalam kegiatan belajar
- Melaksanakan kegiatan analisis hasil evaluasi belajar - Menyusun dan melaksanakan program tindak lanjut
bimbingan dan konseling
- Menyusun laporan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling
3.2. Unit Analisis
Satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian, dapat berupa individu, kelompok, organisasi, benda, wilayah, dan waktu tertentu sesuai dengan fokus permasalahan dalam penelitian. Yang menjadi unit analisis/populasi dalam penelitian ini adalah Guru di SMA Kristen Paulus Bandung
3.3. Populasi dan Teknik Sampling 3.3.1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. (Sugiyono 2010:115).
Populasi dalam penelitian ini adalah para guru di SMA Krsiten Paulus dengan jumlah 19 orang guru
3.3.2. Sampling
Sementara sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sugiyono (2010:120). Untuk menentukan besarnya sampel tersebut bisa dilakukan secara statistic maupu berdasarkan estimasi pnelitian, selain itu juga perlu diperhatikan bahwa sampel yang dipilih harus representative, artinya segala karakteristik populasi hendaknya tercermin dalam sampel yang di pilih.
Karena jumlah populasinya tidak lebih besar dari 100 orang responden, maka penulis mengambil 100% jumlah populasi yang ada di SMA Kristen Paulus yaitu 19 orang guru.
3.4. Jenis dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah Kualitatif dan Kuantitatif. Menurut Riduwan (2014:106) Data kualitatif yaitu data yang berhubungan dengan kategorisasi, karakteristik berwujud pernyataan atau berupa kata-kata. Sedangkan Data kuantitatif yaitu data yang berwujud angka-angka
Menurut Sugiyono (2013:137) yang dimaksud sumber data adalah subjek dari mana data diperoleh. Sumber data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Data Primer
Sumber primer adalah data yang diperoleh secara langsung meliputi dokumen-dokumen perusahaan berupa sejarah perkembangan perusahaan, struktur organisasi dan lain-lain yang berhubungan dengan penelitian.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperlukan untuk mendukung hasil penelitian berasal dari literature, artikel dan berbagai sumber lainnya yang berhubungan dengan penelitian.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer. Dalam hal ini peneliti mendapatkan sumber data primer berdasarkan hasil survey di SMA Kristen Paulus.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data mengenai objek penelitian, peneliti menggunakan teknik sebagai berikut:
1. Wawancara
Sebagai teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada responden untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam.
2. Kuesioner
Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.
3. Observasi
Sebagai teknik pengumpulan data yang tidak terbatas pada orang melainkan juga terhadap objek-objek alam yang lain.
4. Studi Kepustakaan
Mengumpulkan data-data dengan cara membaca, mempelajari dan menganalisa buku-buku yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.
3.6. Operasional Variabel
Definisi opersional variabel adalah sebagai kegiatan atau proses yang dilakukan peneliti untuk mengurangi tingkat abstraksi konsep sehingga konsep tersebut dapat diukur. (Zulganef 2008:84)
Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel yaitu dua variabel independen dan satu variabel dependen. Variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut:
1. Variabel Independen (Variabel X1: Iklim Organisasi dan Variabel X2:
Motivasi Kerja)
Menurut Sugiyono (2004:33) variabel independen disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecendent. Dalam bahasa Indonesia disebut sebagai variabel bebas. Variabel bebas adalah variabel yang
mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).
2. Variabel Dependen (Variable Y:Kinerja Guru)
Menurut Sugiyono (2004:33) variabel dependen merupakan variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.
Tabel 3.1 Tabel Operasionalisasi Penelitian Variabel Konsep
Variabel
Indikator Skala
Ikim Organisas i (X1)
Suatu set dari sifat-sifat terukur (measurable properties) dari
lingkungan kerja yang dirasakan atau dilihat secara langsung atau tidak langsung oleh orang hidup yang bekerja dilingkungan tersebut dan diasumsikan mempengaruhi motivasi dan perilaku mereka Al Shammari dalam Haryanti (2005)
Perlengkapan Kerja
Ordinal
Kondisi Kerja Ordinal
Hubungan Antar Atasan dan Bawahan
Ordinal
Hubungan Antar Karyawan
Ordinal
Motivasi Kerja (X2)
imbalan jasa atau balas jasa yang diberikan oleh
Kebutuhan fisik Ordinal
Kebutuhan rasa aman
Ordinal
Kebutuhan Ordinal
Variabel Konsep Variabel
Indikator Skala
perusahaan kepada para tenaga kerja karena tenaga kerja tersebut telah
memberikan sumbangan tenaga dan pikiran demi kemajuan perusahaan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sastrohadiwir yo dalam Septawan (2014:5)
penghargaan
Kebutuhan sosial Ordinal
Kebutuhan perwujudan diri
Kinerja (Y)
Hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikankepa da karyawan tersebut Mangkunega ra (2009:9)
Pedagogik Ordinal
Kepribadian Ordinal
Sosial Ordinal
Profesional Ordinal
3.7. Metode Penelitian
3.7.1. Metode Penelitian yang Digunakan
Pelaksanaan penelitian pada dasarnya dilakukan untuk menunjukan kebenaran dan pemecahan masalah atas suatu fenomena yang diteliti, untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan suatu metode yang tepat dan relevan untuk tujuan yang diteliti.
Adapun pengertian metode penelitian menurut Sugiyono (2014:2)
“Metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan verikatif dengan pendekatan kuantitatif. Sugiyono (2014:206) metode desktiptif adalah sebagai berikut.
”Metode yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi.”
Sugiyono (2012:147) metode verikatif adalah:
”Metode yang digunakan untuk menguji kebenaran dari suatu hipotesis yang dilaksanakan melalui pengumpulan data dilapangan.”
Dengan demikian, penelitian beranggapan bahwa metode penelitian deskriptif dan verikatif sesuai dengan penelitian yang dilaksanakan oleh penulis.
Karena dalam penelitian ini, penulis mendeskripsikan, kondisi hubungan diantara variable dan menguji kebenaran hipotesis.
3.7.2. Teknik Pengolahan Data
Pada penelitian ini data yang diperoleh bersifat kualitatif dan kuantitatif.
Berikut merupakan pengertian dari dua teknik pengolahan data:
1. Analisis Kualitatif
Penulis mengumpulkan dan mengolah data yang diperoleh dari kuesioner dengan cara memberikan bobot penilaian dari setiap pertanyaan berdasarkan skala likert. Skala likert digunakan untuk
mengukur sikap, pendapat dan persepsi seorang atau sekelompok orang. (Sugiono, 2004:88). Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju, yang dapat berupa kata-kata antara lain:
Sangat Setuju : 5
Setuju : 4
Kurang Setuju : 3
Tidak Setuju : 2
Sangat Tidak Setuju : 1
Untuk pengolahan data digunakan alat bantu statitik dimana dengan alat tersebut dapat memudahkan penafsiran untuk menganalisa apakah ada hubungannya antara vaariabel X dan variable Y, serta seberapa besar pengaruhnya yang pada akhirnya akan diperoleh suatu pedoman untuk menarik penelitian.
Sering kali data yang diperoleh peneliti adalah data yang berskala ordinal (likert) sehingga tidak dapat langsung dianalisis dengan menggunakan statistik parametrik. Oleh karena itu, data ordinal tersebut harus ditransformasikan terlebih dahulu dengan menjadi data yang berskala interval. Cara yang paling banyak digunakan untuk menaikan ordinal ke interval adalah dengan metode succesive interval (MSI), sebelum data tersebut diolah dengan aplikasi SPSS.
2. Analisis Kuantitatif
Analisis Kuantitatif adalah data berbentuk numeric, yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang diajukan. Analisis kuantitatif digunakan peneliti untuk mengetahui hasil jawaban dari responden dengan bantuan alat stastistik melalui program Software SPSS (Statistic Package and Social Science) 16 for Windows.
3.8. Uji Data Statistik 3.8.1. Uji Validitas
Valid berarti instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Validitas yang digunakan dalam penelitian ini menggambarkan kesesuaian sebuah pengukur data dengan apa yang akan diukur Ferdinand (2011; 67).
Rumus uji validitas adalah sebagai berikut :
( )( )
√ *( ) ( )*( ) ( )
Keterangan :
rxy = Menunjukan indeks korelasi antara dua variabel yang dikorelasikan
R = Koefisien validitas item yang dicari, dua variabel yang dikorelasikan
X = Skor untuk pernyataan yang dipilih
Y = Skor total yang diperoleh dari seluruh item
∑X = Jumlah skor dalam distribusi X
∑Y = Jumlah skor dalam distribusi Y
∑X2 = Jumlah kuadrat dalam skor distribusi X
∑Y2 = Jumlah kuadrat dalam skor distribusi Y N = Banyaknya responden
Suatu konstruk atau variabel dikatakan valid jika memberikan nilai cronbach Alpha > 0,138.
3.8.2. Uji Reliabilitas
Hasil penelitian yang reliabel, bila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda Sugiyono (2011:121). Pengujian reliabilitas instrumen dengan rentang skor antara 1- 5 menggunakan rumus Cronbach’s Alpha, dengan rumus sebagai berikut:
(
) ( )
(Arikunto 2010:239) Keterangan:
r11 = Reliabilitas Instrumen k = Banyaknya butir pertanyaan
∑σb2 = Jumlah Varians butir tiap pertanyaan
∑12 = Varians total
Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach Alpha > 0,60 Ghozali (2008:90).
3.8.3. Uji Asumsi Klasik 3.8.3.1.Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Uji t dan uji f mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Jika asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil.
(Ghozali 2016:154).
3.8.3.2.Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas adalah uji yang dilakukan untuk memastikan apakah di dalam sebuah model regresi ada interkorelasi atau kolinearitas antar variabel bebas. Interkorelasi adalah hubungan yang linear atau hubungan yang kuat antara satu variabel bebas atau variabel prediktor dengan variabel prediktor lainnya di dalam sebuah model regresi. Interkorelasi itu dapat dilihat dengan nilai koefisien korelasi antara variabel bebas, nilai VIF dan Tolerance, nilai Eigenvalue dan Condition Index, serta nilai standar error koefisien beta atau koefisien regresi parsial.
3.8.3.3.Uji Heteroskedastisitas
Ghozali (2016:134) menyebutkan bahwa uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Cara yang digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik Scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen yaitu ZPRED dengan SRESID.
Jika dalam grafik Scatterplot titik-titik membentuk suatu pola tertentu yang teratur maka telah terjadi heterokedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas oleh titik-titik dan titik-titik tersebut menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas.
3.9. Analisis Data Statistik
3.9.1. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi ganda digunakan oleh peneliti, bila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen (kriterium), bila dua atau lebih variabel independen sebagai faktor prediktor dimanipulasi (dinaik turunkan nilainya). Jadi analisis regresi ganda akan dilakukan bila jumlah variabel independennya minimal dua. Persamaan regresi untuk dua prediktor adalah:
Y = a + b1X1 + b2X2
Keterangan:
a : Konstanta
b : Koefisien regresi Y : Kinerja Pegawai X1 : Iklim Organisasi X2 : Motivasi Kerja
3.9.2. Koefisien Korelasi
Analisis koefisien korelasi bertujuan untuk mempelajari apakah ada hubungan antara dua variabel atau lebih. Sedangkan analisis regresi memprediksi
seberapa jauh pengaruh tersebut. Koefisien korelasi adalah nilai yang menunjukan kuat/tidaknya hubungan linier antar dua variabel. Koefisien korelasi biasa dilambangkan dengan huruf r dimana nilai r dapat bervariasi dari -1 sampai +1.
Nilai r yang mendekati -1 atau +1 menunjukan hubungan yang antara dua variabel tersebut dan nilai r yang mendekati 0 mengidentifikasi lemahnya hubungan antara dua variabel tersebut. Sedangkan tanda + (positif) dan – (negatif) memberikan informasi mengenai arah hubungan antara dua variabel tersebut. Jika bernilai + (positif) maka kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang searah. Dalam arti lain peningkatan X akan bersamaan dengan peningkatan Y dan begitu juga sebaliknya. Jika bernilai – (negatif) artinya korelasi antara kedua variabel tersebut bersifat berlawanan. Peningkatan nilai X akan dibarengi dengan penurunan Y.
Untuk menentukan tingkat hubungan dari koefisien korelasi dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 3.2 Interpretasi Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0.80-1.000 Sangat Kuat
0.60-0.799 Kuat
0.40-0.599 Cukup Kuat
0.20-0.399 Rendah
0.00-0.199 Sangat Rendah
Sumber: S. Ariswoyo (2011) dalam http://www.Jonathansarwono.info/
3.9.3. Koefisien Determinasi (r2)
Koefisien determinasi merupakan kuadrat dari koefisien korelasi yang sebelumnya telah dicari. Analisis koefisien determinasi (Kd) digunakan untuk melihat seberapa besar variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali 2016:95). Dalam penelitian ini, berarti ingin mengetahui pengaruh Iklim Organisasi (X1) dan Motivasi Kerja (X2) terhadap Kinerja Pegawai (Y) yang dinyatakan dalam persentase.
Besarnya koefisien determinasi (r2) terletak antara 0 sampai dengan 1 atau antara 0% sampai dengan 100%. Berdasarkan hal itu jika r2 = 0, model tersebut tidak menjelaskan sedikitpun pengaruh variabel X terhadap Y. Kecocokan model dikatakan lebih baik jika r2 semakin dekat dengan 1. Jadi untuk batas nilai koefisien determinasi adalah 0 ≤ r2 ≤ 1.
Koefisien determinasi dapat dihitung dengan rumus:
Kd = r2 x 100%
Dimana:
Kd = Koefisien determinasi r = Koefisien korelasi 3.9.4. Uji Hipotesis
Hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini berupa ada atau tidaknya pengaruh yang ditimbulkan variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Untuk pengujian hipotesis ada beberapa uji yang digunakan yaitu:
3.9.4.1.Uji Secara Simultan (Uji F)
Uji F dikenal dengan uji serentak atau uji Anova, yaitu uji untuk melihat bagaimana pengaruh semua variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Melalui uji statistik dengan langkah-langkah sebagai berikut:
H0 : β1,β2 = 0, dimana Iklim Organisasi (X1) dan Motivasi Kerja (X2) tidak berpengaruh terhadap Kinerja Guru (Y).
Ha : β1,β2 ≠ 0, dimana Iklim Organisasi (X1) dan Motivasi Kerja (X2) berpengaruh terhadap Kinerja Guru (Y).
Dari hipotesis tersebut, selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis, yaitu tentang diterima atau ditolaknya suatu hipotesis. Untuk melakukan pengujian digunakan statistik uji F dengan taraf signifikan sebesar 5%.
Bila telah didapatkan nilai dari F hitung maka tahap selanjutnya adalah membandingkannya dengan F tabel dengan ketentuan sebagai berikut:
Jika F hitung ≥ F tabel dan signifikansi < 0.05 maka H0 ditolak (ada pengaruh signifikan).
Jika F hitung ≤ F tabel dan signifikansi > 0.05 maka H0 diterima (tidak ada pengaruh).3.9.4.2.Uji Parsial (Uji t)
Uji t bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian atau untuk melihat pengaruh masing-masing dalam penelitian atau untuk melihat pengaruh masing-masing variabel independen (X) secara individu terhadap variabel dependen (Y). Apabila t hitung < t tabel, dan α hitung > 0.05, maka variabel independen secara individu terhadap dependen tidak berpengaruh secara signifikan. Sebaliknya apabila t hitung > t tabel, dan α hitung < 0.05 maka variabel independen secara individu terhadap variabel dependen berpengaruh signifikan.
Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini berkaitan dengan ada tidaknya pengaruh antara tiap masing-masing variabel independen dengan variabel dependen, maka peneliti melakukan uji t.
Hipotesis Uji t:
1) Menentukan hipotesis penelitian
a) H0 : β1 = 0, dimana Iklim Organisasi (X1) tidak berpengaruh terhadap Kinerja Guru (Y).
b) Ha : β1 ≠ 0, dimana Iklim Organisasi (X1) berpengaruh terhadap Kinerja Guru (Y).
c) H0 : β2 = 0, dimana Motivasi Kerja (X2) tidak berpengaruh terhadap Kinerja Guru (Y).
d) Ha : β2 ≠ 0, dimana Motivasi Kerja (X2) berpengaruh terhadap Kinerja Guru (Y).
2) Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:
Jika t hitung > t tabel, dan α hitung < 0.05, maka H0 ditolak (signifikan).
Jika t hitung < t tabel, dan α hitung > 0.05, maka H0 diterima (tidak signifikan).