BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Sistem Perpajakan dengan Self Assessment
Terdapat tiga sistem pemungutan pajak yang ada di Indonesia. Tiga sistem itu adalah official assessment system, self assessment system dan withholding tax system. Sistem – sistem pemungutan pajak tersebut mutlak kita pahami, selain masalah penghitungan pajaknya. Sistem pemungutan pajak ini merupakan salah satu hal yang penting, karena mengatur siapa yang harus memungut pajak, termasuk didalamnya siapa yang harus membayar dan melaporkan pajaknya.
Sistem yang digunakan oleh wajib pajak orang pribadi untuk memenuhi kewajiban perpajakannya adalah self assessment system. Sistem ini mensyaratkan supaya wajib pajak menghitung, menyetor dan melaporkan pajak terutangnya sendiri. Jadi kebalikan dari official assessment system, dalam self assessment system, wajib pajak harus aktif. Fiskus atau petugas pajak disini hanya berperan sebagai pengawas dan pemeriksa. Tapi, sistem ini membutuhkan beberapa syarat supaya bisa berjalan dengan baik. Dikatakan oleh Erly Suandy, dalam bukunya Hukum Pajak (2011, p.128), bahwa jika menggunakan self assessment system harus ada:
1. Kesadaran wajib pajak (tax consciousness).
2. Kejujuran wajib pajak.
3. Kemauan membayar pajak dari wajib pajak (tax mindedness).
4. Kedisiplinan wajib pajak (tax disciplin).
Oleh karena itu, pemerintah melalui Dirjen Pajak berusaha memberikan fasilitas-fasilitas untuk wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya secara self assessment. Dirjen Pajak perlu memberikan fasilitas supaya wajib pajak merasakan kemudahan dalam pembuatan dan pelaporan laporan pajaknya sehingga tidak ada lagi alasan dari wajib pajak untuk tidak memenuhi kewajiban perpajakannya, terutama secara self assessment. Fasilitas yang diberikan Dirjen
2.2. Definisi e-Filing
E-Filing adalah suatu cara penyampaian SPT atau pemberitahuan perpanjangan SPT Tahunan yang dilakukan secara online dan realtime melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) atau Penyedia Jasa Aplikasi atau Application Service Provider (ASP).
Dalam beberapa literatur, disebutkan banyak sekali definisi mengenai e- Filing. Gallant, Culnan dan McLoughlin (2007, p.5) dalam Andri Parwito (2009) mendefinisikan e-Filing dengan “e-Filing is an information system application where the citizen interacts with a complex IT system”. Kemudian, Lai, Obid dan Meera (2004), masih dalam Andri Parwito (2009) mendifinisikan e-Filing dengan arti “The use of internet technology, the World Wide Web and tax software for a wide range of tax administration and compliance purpose”.
E-Filing dibuat untuk memberikan kemudahan bagi wajib pajak dalam pembuatan dan penyerahan laporan SPT kepada Dirjen Pajak dan untuk memenuhi kebutuhan wajib pajak akan pelayanan yang cepat dan berkualitas sekaligus rendah biaya, antara lain biaya pemrosesan laporan pajak, biaya administrasi pajak. Dasar keputusan penyampaian SPT secara elektronik terdapat dalam PER-47/PJ/2008 yang disempurnakan dengan PER-36/PJ/2013.
Untuk saat ini, e-Filing dapat digunakan semua wajib pajak. Layanan e- filing melalui website Dirjen Pajak (www.pajak.go.id) hanya digunakan oleh wajib pajak orang pribadi yang menggunakan jenis SPT:
1. SPT 1770S, yang digunakan oleh wajib pajak yang mempunyai penghasilan dari satu pemberi kerja atau lebih, dari dalam negeri lainnya, yang dikenakan pajak penghasilan final dan/atau yang bersifat final.
2. SPT 1770SS, yang digunakan oleh wajib pajak yang mempunyai penghasilan hanya dari satu pemberi kerja, dengan jumlah penghasilan bruto dari pekerjaan tidak lebih dari Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah) setahun dan tidak mempunyai penghasilan lain (kecuali penghasilan berupa bunga bank dan/atau bunga koperasi).
Sedangkan layanan e-Filing melalui Aplication Service Provider (ASP) atau penyedia jasa aplikasi dapat digunakan oleh semua wajib pajak. Dirjen Pajak
melalui perusahaan penyedia jasa aplikasi sudah menyediakan website yang bisa digunakan wajib pajak untuk melaporkan SPT, yaitu
1. www.pajakku.com 2. www.laporpajak.com 3. www.layanan pajak.com 4. www.spt.co.id
Tujuan utama layanan pelaporan pajak secara e-Filing, sesuai dengan yang tercantum dalam website www.pajakku.com adalah :
1. Membantu para wajib pajak dengan menyediakan fasilitas pelaporan SPT secara elektronik (melalui internet) kepada wajib pajak, sehingga wajib pajak orang pribadi dapat melakukannya dari rumah atau tempatnya bekerja, sedangkan wajib pajak badan dapat melakukannya dari lokasi kantor atau usahanya. Hal ini akan dapat membantu memangkas biaya dan waktu yang dibutuhkan oleh Wajib Pajak untuk mempersiapkan, memproses dan melaporkan SPT ke kantor pajak secara benar dan tepat waktu.
2. Dengan cepat dan mudahnya pelaporan pajak, berarti juga akan memberikan dukungan kepada kantor pajak dalam hal percepatan penerimaan laporan SPT dan perampingan kegiatan administrasi, pendataan, distribusi dan pengarsipan laporan SPT.
3. Saat ini tercatat lebih dari 10 juta Wajib Pajak di Indonesia, dengan cara pelaporan yang manual tidak mungkin akan dapat ditingkatkan pelayanan terhadap para WP tersebut. Maka dengan e-Filing, dimana sistem pelaporan menjadi mudah dan cepat, diharapkan jumlah Wajib Pajak dapat meningkat lagi dan penerimaan negara tercapai.
2.2.1 Keuntungan Layanan e-Filing
Aplikasi e-Filing memiliki beberapa kelebihan karena dapat mempercepat proses pengisian dan pelaporan SPT sekaligus mengurangi biaya dan waktu. Ada beberapa keuntungan yang akan didapatkan wajib pajak yang menggunkan e- Filing seperti disebutkan dalam website www.laporpajak.com, yaitu:
1. Pelaporan SPT tidak perlu dilakukan dengan mendatangi KPP, karena pelaporan dengan e-Filing dapat dilakukan secara real time, 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.
2. Pengguna e-Filing akan menerima konfirmasi untuk laporan-laporan yang telah dilakukan langsung pada saat laporan diterima Dirjen Pajak.
3. Aplikasi yang disediakan untuk pengisian laporan SPT memiliki fasilitas checking yang dapat mengurangi kesalahan.
4. Tidak perlu menyediakan tempat untuk menyimpan berkas-berkas SPT karena sudah disimpan dalam bentuk elektronik.
5. Dari sisi biaya akan menjadi lebih rendah karena akan mengurangi biaya- biaya, seperti biaya transportasi, biaya mencetak dokumen, biaya pemeliharaan data pajak, dll.
6. Dari sisi waktu akan lebih sedikit karena bisa dilakukan kapan saja.
7. Data pelaporan SPT yang terkirim akan mengalami proses acak (encryption), dimana hanya sistem Dirjen Pajak yang dapat menerjemahkan data pelaporan tersebut. Hal ini menjadikan pelaporan SPT lebih aman dan rahasia.
8. Penggunaan e-Filing sangat mudah karena hanya memerlukan sambungan ke internet.
Selain beberapa keuntungan seperti disebutkan di atas, masih ada beberapa kelebihan penggunaan e-Filing seperti disebutkan oleh Wiyoso Hadi, pegawai Dirjen Pajak, yaitu:
1. Dengan menggunakan e-Filing akan menjadi ramah lingkungan karena tidak menggunakan kertas.
2. Dokumen pelengkap (Fotokopi Formulir 1721 A1/A2 atau bukti potong PPh, SSP Lembar ke-3 PPh Pasal 29, Surat Kuasa Khusus, Perhitungan PPh terutang bagi Wajib Pajak Kawin Pisah Harta dan/atau Mempunyai NPWP Sendiri, Fotokopi Bukti Pembayaran Zakat) tidak perlu dikirim lagi kecuali diminta oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) melalui Account Representative (AR).
3. Proses e-Filing juga singkat karena hanya melalui tiga tahapan saja, yaitu mengajukan permohonan e-FIN, mendaftarkan diri sebagai WP e-Filing di
efiling.pajak.go.id dan menyampaikan SPT Tahunan secara e-Filing melalui efiling.pajak.go.id.
2.2.2. Tahap-Tahap Pelaporan SPT Melalui E-Filing
Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan supaya dapat mengisi dan melaporkan SPT dengan e-Filing. Berikut langkah-langkah pelaporan SPT dengan e-Filing untuk SPT 1770S dan 1770SS melalui website Dirjen Pajak (www.pajak.go.id), sesuai penjelasan yang tertera pada leaflet tentang e-Filing yang dikeluarkan Dirjen Pajak pada tahun 2014:
1. Mengajukan permohonan e-FIN, dengan syarat:
Mengisi Formulir Permohonan e-FIN.
Melampirkan fotokopi NPWP atau Surat Keterangan Terdaftar dan Kartu Tanda Penduduk.
Melampirkan surat kuasa khusus dan fotokopi identitas diri Wajib Pajak dalam hal permohonan disampaikan oleh kuasa Wajib Pajak.
Membawa identitas diri asli Wajib Pajak atau kuasanya untuk ditunjukkan kepada petugas pajak.
e-FIN akan diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dalam jangka waktu 1 (satu) hari sejak permohonan diterima dengan lengkap dan benar. Setelah itu e- FIN akan langsung diberikan kepada wajib pajak atau kuasa wajib pajak.
2. Mendaftarkan diri sebagai wajib pajak e-Filing
Buka menu e-Filing di website DJP www.pajak.go.id.
Lakukan registrasi akun e-Filing dengan mengisi Form Registrasi e-Filing.
Pastikan alamat email dan nomor telepon seluler yang dimasukan pada form registrasi valid dan aktif.
Wajib Pajak akan menerima username, password dan tautan aktivasi akun e- Filing melalui email yang telah didaftarkan oleh Wajib Pajak, jika registrasi berhasil.
Klik link tautan aktivasi akun e-Filing atau salin link tersebut ke browser untuk mengaktifkan akun e-Filing.
Lakukan login ke akun e-Filing dengan NPWP sebagai username.
3. Menyampaikan SPT Tahunan secara e-Filing melalui website www.pajak.go.id
Buka menu e-Filing di website DJP www.pajak.go.id.
Login ke akun e-Filing dengan memasukan username (NPWP) dan password.
Pilih menu sesuai dengan jenis SPT yang hendak disampaikan.
Isi SPT menggunakan aplikasi e-SPT dengan benar, lengkap dan jelas.
Jika status SPT kurang bayar, lakukan pembayaran dan masukan kode NTPN (Nomor Transaksi Penerimaan Negara) ke aplikasi e-SPT.
Meminta kode verifikasi untuk penyampaian SPT.
Menerima kode verifikasi melalui email atau SMS.
Menandatangani e-SPT dengan mengisi kode verifikasi.
Mengirim e-SPT melalui menu yang disediakan.
Menerima bukti penerimaan elektronik.
Gambar 2.1. Tahap-Tahap Pelaporan SPT secara e-Filing melalui website Dirjen Pajak
Mengajukan permohonan e-FIN
Melalui KPP terdekat dan membawa persyaratan dengan benar dan lengkap
Mendaftarkan diri sebagai wajib pajak e-Filing
2
Menyampaikan SPT Tahunan melalui website
www.pajak.go.id 3
1
Sedangkan, untuk pelaporan SPT secara e-Filing melalui Aplication Service Provider (ASP) atau perusahaan penyedia jasa aplikasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Mengajukan permohonan e-FIN di KPP terdekat.
2. Melakukan registrasi atau mendaftarkan diri sebagai anggota ke website ASP.
3. Mengisi SPT melalui e-SPT yang disediakan dan mengirimkan secara e- Filing melalui website ASP dan wajib pajak akan menerima tanda bukti, yaitu NTTE (Nomor Tanda Terima Elektronik) dan NTPA (Nomor Transaksi Pengiriman ASP).
2.3. Definisi Compliance Costs
Compliance costs atau biaya kepatuhan, sering disebut juga biaya transaksi mempunyai banyak definisi dan penggolongan. Definisi compliance costs menurut Sandford (1995) seperti disebutkan oleh Chattopadhyay dan Gupta (2002) adalah “Tax compliance costs are the costs incurred by the taxpayers in meeting the requirements laid on them by the tax law and the revenue authorities.
They are costs over and above the actual payment of tax and over and above any distortion costs inherent in the nature of the tax.”
Juga ada definisi lain dari Sandford et al (1981:13) dalam Palil, Ramli, Mustapha, Hassan (2013), yaitu „... costs which are incurred by taxpayers [and]
or by third parties in meeting the requirements of the tax system, over and above the tax liabilities itself and over and above any harmful distortions of consumption or production to which the tax may give rise'.
Ada juga definisi dari Sri Rahayu (2001) dalam Adinur Prasetyo (2008).
Sri Rahayu mendefinisikan biaya transaksi sebagai semua biaya, diluar pajak terhutang, yang dikeluarkan oleh wajib pajak dalam proses pemenuhan kewajiban perpajakannya, mulai dari merencanakan aspek perpajakan dalam investasinya sampai dengan saat menerima putusan banding dan melunasi pajak terhutang.
Dari semua definisi-definisi tersebut didapatkan suatu inti bahwa compliance costs adalah semua biaya yang harus dikeluarkan oleh wajib pajak ketika wajib pajak melakukan semua kewajiban perpajakannya, terkait dengan
ketentuan perpajakan yang diatur oleh pemerintah. Compliance costs menjadi beban/expense tersendiri bagi wajib pajak, di luar pajak yang harus dilunasi.
Compliance costs menjadi suatu hal yang harus mendapat perhatian penting dalam bidang perpajakan. Seperti dikatakan oleh Andri Parwito (2009), biaya kepatuhan menjadi disinsentif bagi wajib pajak dan akan mempengaruhi tingginya high cost economy pada suatu negara. Juga disebutkan dalam literatur review Idawati Ibrahim dan Jeff Pope (2011, p.929) dari Evans & Walpole (1997), Sandford (1995), bahwa compliance costs adalah hal yang sangat penting karena compliance costs mencerminkan kompleksitas dalam sistem perpajakan. Sistem perpajakan yang semakin kompleks dapat menyebabkan penggelapan dan penghindaran pajak. Oleh karena itu harus ada kepedulian dan perhatian dari pemerintah untuk mengetahui ada di level mana biaya kepatuhan itu dan harus ada cara untuk menguranginya.
Sandford (1973), seperti disebutkan oleh Idawati Ibrahim dan Jeff Pope (2011, p.929), mengatakan bahwa compliance costs adalah „hidden cost‟ of taxation. Bahkan menurut Chairman of the US Taxation Committee in Haig (1935), masih dalam Idawati Ibrahim dan Jeff Pope (2011, p.929), compliance costs adalah „Invicible Tax‟.
Jadi dapat disimpulkan dari semua pendapat tersebut betapa pentingnya masalah compliance costs ini. Compliance costs tidak bisa dipandang sebelah mata mengingat hal ini sangat berhubungan dengan tingkat kepatuhan wajib pajak di suatu negara. Tingkat kepatuhan juga akan sangat mempengaruhi kemauan wajib pajak untuk membayar pajak. Juga, yang terpenting wajib pajak harus mempunyai kesadaran untuk bisa mengurangi compliance cost sendiri. Hal ini seperti dikatakan Sapiei dan Abdullah dalam kesimpulannya tentang penelitian
“The Compliance Costs of the Personal Income Taxation in Malaysia” (2008, p.228), bahwa inisiatif untuk mengurangi compliance costs harus berasal dari diri wajib pajak sendiri (taxpayers), karena petugas pajak/departemen pajak lebih berfokus untuk meningkatkan sistem perpajakan dan kepatuhan dari wajib pajak.
2.3.1 Pembagian Compliance Costs
Seperti definisinya, compliance costs juga mempunyai banyak penggolongan. Menurut Sanford, seperti dikatakan Nurmantu (2005, p.161) dalam Andri Parwito (2009), compliance costs dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) jenis biaya, yaitu:
1. Direct Money Costs, yaitu biaya-biaya (uang tunai) yang dikeluarkan wajib pajak dalam rangka memenuhi kewajiban perpajakannya, seperti biaya transportasi ke KPP untuk melaporkan SPT.
2. Time costs, yaitu waktu yang terpakai oleh wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Contohnya, waktu yang digunakan untuk membaca buku petunjuk SPT dan waktu yang digunakan untuk pergi dan pulang ke kantor pajak.
3. Psychic costs atau Psychological costs, yaitu rasa stress, takut dan cemas karena melakukan tax evasion.
Selain itu, dalam melakukan pengukuran compliance costs, seperti disebutkan Hasseldine, Evans, Hansford, lignier, Smulders, Vaillancourt (2012, p.8-9), compliance costs itu sendiri dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) hal yaitu:
1. Internal costs, yaitu tenaga atau waktu yang dipakai untuk melakukan aktivitas perpajakan. Contohnya waktu yang terpakai untuk mengumpulkan data-data supaya dapat mengisi SPT.
2. External costs, yaitu biaya keahlian yang dibeli untuk mendukung selesainya aktivitas perpajakan. Contohnya biaya untuk membayar konsultan pajak profesional.
Talib (1996) dan Chan et al (1999) dalam Chattopadhyay dan Gupta (2002, p.9), menggolongkan compliance costs dalam 2 (dua) kategori, yaitu:
1. Computational costs, yaitu biaya rutin yang dikeluarkan, seperti untuk membeli perlengkapan-perlengkapan (stationery and utilities) dan membayar biaya konsultasi pajak, dalam kaitannya untuk menghitung pajak terhutang.
2. Planning costs, yaitu biaya yang dikeluarkan untuk merencanakan dan mengatur besarnya pajak yang harus dibayar dimasa yang akan datang (future
Talib menambahkan biaya yang ketiga, yaitu advisory costs. Advisory costs adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan keberatan pajak, banding dan pertanyaan-pertanyaan dalam kaitannya dengan perpajakan. Advisory costs dipengaruhi oleh ketidakpastian dalam sistem perpajakan.
Sandford, Godwin dan Hardwick (1989) dan Evans dan Walpole (1997), masih dalam Chattopadhyay dan Gupta (2002, p.9), mengelompokkan compliance costs menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu:
1. Commencement costs, yaitu biaya yang timbul karena ada pengenalan suatu pajak baru atau biaya yang timbul karena ada perubahan besar dalam perpajakan.
2. Temporary costs, yaitu biaya tambahan yang muncul ketika ada pembelajaran mengenai perpajakan dari sisi wajib pajak dan petugas pajak.
3. Regular costs, yaitu biaya yang terus ada dan berlanjut selama menjalankan sistem perpajakan, tanpa ada perubahan dalam sistem perpajakan.
Noor Sharoja Sapiei dan Mazni Abdullah (2008, p.225) membagi compliance costs menjadi 2 (dua), yaitu direct costs dan indirect costs. Indirect costs didasarkan pada banyaknya waktu yang terpakai atau dihabiskan untuk setiap aktivitas, contohnya waktu yang dihabiskan untuk mengikuti seminar perpajakan dan waktu yang dihabiskan untuk mengisi SPT, melaporkan SPT sampai membayar pajak terhutang. Sedangkan direct costs adalah biaya yang dikeluarkan dan bisa dihitung jumlah moneternya, contohnya biaya untuk membeli buku tentang aturan perpajakan, biaya untuk membeli software perpajakan dan biaya untuk membayar jasa konsultan pajak.
Dalam penelitian ini, dari banyak pembagian compliance costs seperti dijelaskan di atas, penulis hanya akan berfokus kepada 3 (tiga) komponen compliance costs, seperti yang dibagi oleh Sandford (1989), yaitu time costs, direct money costs dan psychological costs/psychic costs. Ketiga hal tersebut diambil karena komponen compliance costs tersebut merupakan komponen yang paling umum dalam mengestimasikan compliance costs dan paling banyak dipakai untuk menganalisa compliance costs dalam penelitian yang terkait biaya kepatuhan.
Time costs, seperti dijabarkan dalam penelitian Ibrahim dan Pope (2011, p.931), dapat dibagi menjadi delapan aktivitas. Delapan aktivitas ini nantinya akan menjadi acuan bagi penulis dalam mengukur compliance costs, terutama dari sisi time costs, dan akan disesuaikan dengan keadaan responden penulis dalam penelitian ini. Delapan aktivitas yang menjadi acuan untuk mengukur time costs adalah:
1. Learntime, yaitu waktu yang digunakan untuk mempelajari aturan perpajakan. Dalam penelitian ini learntime dimulai ketika wajib pajak akan mengisi SPT, dimana wajib pajak mempelajari panduan pengisian SPT atau panduan untuk menggunakan e-Filing.
2. Keeptime, yaitu waktu yang digunakan untuk menyimpan dan memperoleh dokumen/catatan terkait kewajiban perpajakan. Dalam penelitian ini yang termasuk keeptime yaitu ketika wajib pajak mencari data/dokumen/SPT tahun sebelumnya untuk mengisi laporan pajak yang akan dibuat.
3. Looktime, yaitu waktu yang digunakan untuk meneliti dan melihat penjelasan dari catatan/buku panduan untuk menyusun laporan pajak. Dalam penelitian ini yang termasuk looktime yaitu ketika wajib pajak mempelajari/meneliti data-data yang akan dimasukkan dalam SPT.
4. Helptime, yaitu waktu yang digunakan untuk meminta bantuan atau bertanya pada petugas pajak/pihak ketiga. Dalam penelitian ini yang masuk dalam helptime adalah ketika wajib pajak datang kepada petugas pajak/menelepon petugas pajak untuk bertanya terkait pengisian SPT.
5. Completetime, yaitu waktu yang digunakan untuk melengkapi laporan pajak/SPT. Dalam penelitian ini yang termasuk dalam completetime adalah ketika wajib pajak mengisi SPT dan melengkapi lampiran-lampiran SPT tersebut.
6. Submittime, yaitu waktu yang digunakan umtuk mengumpulkan/melaporkan SPT. Dalam penelitian ini yang termasuk submittime yaitu ketika wajib pajak menyerahkan SPT yang sudah selesai diisi dengan lengkap kepada petugas pajak.
7. Paytime, yaitu waktu yang digunakan untuk membayar pajak terhutang dan
waktu yang terpakai ketika wajib pajak membayar pajak terhutangnya dan membayar biaya-biaya lain, seperti biaya pos untuk mengirim SPT.
8. Plantime, yaitu waktu yang digunakan untuk merencanakan jumlah pajak yang akan dibayar atau manajemen pajak. Dalam penelitian ini yang termasuk plantime adalah ketika wajib pajak menghitung dan memerinci pendapatannya untuk dilaporkan dalam SPT.
Untuk Money costs, dapat diukur dari biaya-biaya/expense yang dikeluarkan oleh wajib pajak dalam rangka untuk melaporkan SPT. Biaya tersebut diluar jumlah pajak terhutang yang harus dilunasi. Untuk dapat mengukur money costs, seperti dikatakan oleh Ibrahim dan Pope (2011), dapat dilihat dari biaya yang dikeluarkan wajib pajak untuk membayar jasa profesional, seperti konsultan pajak dan biaya lainnya (incidental expenditures). Pada penelitian ini, wajib pajak yang menggunakan jasa profesional dikecualikan, sehingga yang dipakai untuk mengestimasikan money costs hanya biaya lain-lain (incidental expenditures). Biaya-biaya lain tersebut contohnya biaya yang dikeluarkan wajib pajak, seperti biaya pos, telepon, transportasi, dll.
Untuk psychological costs/psychic costs, komponen ini merupakan komponen yang sulit untuk diukur dibandingkan dengan komponen yang lainnya. Hal ini dikarenakan psychological costs/psychic costs sulit untuk dicari parameternya. Ini sejalan dengan yang dikatakan Andri Parwito (2009), dimana psychic costs tidak seperti komponen lain yang relatif lebih mudah dicari parameternya. Selain itu penelitian lain, seperti penelitian Ibrahim dan Pope (2011, p.929), juga mengatakan bahwa psychological costs susah untuk dihitung/diukur.
Namun, menurut Chattopadhyay dan Gupta (2002, p.23), seperti disebutkan oleh Andri Parwito (2009), ada estimasi yang dapat digunakan untuk dapat menghitung psychological costs. Komponen untuk mengitung psychological costs adalah:
1. Tax simplification, yaitu kemudahan dalam pemahaman aturan perpajakan.
2. Tax instability, yaitu seringnya perubahan terhadap aturan perpajakan.
3. Tax ambiguity, yaitu kerancuan dalam penerapan aturan perpajakan.
Selain itu, dalam rangka menyesuaikan variabel-variabel penelitian dengan keadaan obyek penelitian penulis, maka untuk biaya/waktu yang dikeluarkan
wajib pajak untuk membayar jasa profesional dan waktu yang dikorbankan untuk berkonsultasi dengan profesional, seperti konsultan pajak, tidak dimasukkan dalam indikator time costs dan money costs. Hal ini dikarenakan wajib pajak yang menggunakan jasa profesional tidak mungkin melakukan semua aktivitas- aktivitas seperti yang dijelaskan di atas, sehingga tentunya tidak relevan untuk dijadikan sampel. Maka yang diambil menjadi sampel adalah wajib pajak orang pribadi yang menggunakan SPT 1770S dan 1770SS, karena kecil kemungkinan mereka menggunakan jasa profesional, karena SPT tersebut adalah SPT yang sederhana.
2.4. Hasil Penelitian Sejenis Sebelumnya
Peneliti Judul Peneltian Hasil Penelitian Idawati Ibrahim
(College of Business, Universiti Utara Malaysia, Sintok, Kedah, Malaysia) dan Jeff Pope (School of Economics and Finance, Curtin University, Perth, Western Australia, Australia)
Compliance Costs Of Electronic Tax Filing
For Personal
Taxpayers In Malaysia (Paper on ICM 2011)
Compliance costs untuk personal taxpayers berbeda pada beberapa komponen compliance costs anatara pengguna e- Filing dan bukan pengguna e-Filing.
Andri Parwito (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Administrasi Program Pascasarjana,
Kekhususan:
Administrasi dan
Analisis Atas Pengaruh Pemanfaatan Sistem e- Filing Terhadap Cost Of Compliance (Tesis, 2009)
Salah satu kesimpulan dari peneltian ini adalah Implementasi dari sistem e-Filing tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap cost of compliance, ada
Universitas Indonesia) compliance costs yang dikeluarkan sama.
Teni Takariani Sumarna (Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Komputer Indonesia, Bandung)
Pengaruh Kualitas Teknologi Informasi Terhadap Sistem e-
Filing Dan
Implikasinya Terhadap Biaya Kepatuhan (Skripsi, 2013)
Salah satu kesimpulan dari penelitian tersebut adalah sistem e-Filing berpengaruh terhadap biaya kepatuhan, dimana ketika sistem e-Filing semakin baik, biaya kepatuhan semakin rendah.
Tabel 2.1. Hasil Penelitian Sejenis Sebelumnya
2.5. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah kesimpulan atau jawaban yang sifatnya sementara dan harus dibuktikan kebenarannya. Dalam penelitian ini, hipotesis yang dapat disusun adalah:
H0: Tidak terdapat perbedaan time costs antara sebelum dan sesudah menggunakan e-Filing.
H1: Terdapat perbedaan time costs antara sebelum dan sesudah menggunakan e- Filing.
H0: Tidak terdapat perbedaan money costs antara sebelum dan sesudah menggunakan e-Filing.
H2: Terdapat perbedaan money costs antara sebelum dan sesudah menggunakan e- Filing.
H0: Tidak terdapat perbedaan psychological costs antara sebelum dan sesudah menggunakan e-Filing.
H3: Terdapat perbedaan psychological costs antara sebelum dan sesudah menggunakan e-Filing.